Analisis Faktor Keterlambatan Proyek Terhadap Pembengkakan Biaya Proyek Bangunan Gedung Di Surakarta

PEMBENGKAKAN BIAYA PROYEK BANGUNAN GEDUNG DI SURAKARTA

The Analysis of Project Delay Factors Against The Cost Overruns of Buildings Project

in Surakarta

SKRIPSI

Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar Sarjana Teknik Pada Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret Surakarta

Oleh :

BAYU ADI NUGROHO NIM I 0107055 JURUSAN TEKNIK SIPIL FAKULTAS TEKNIK UNIVERSITAS SEBELAS MARET SURAKARTA 2012

commit to user

Bayu Adi Nugroho, 2012. Analisis Faktor Keterlambatan Proyek Terhadap Pembengkakan Biaya Proyek Bangunan Gedung di Surakarta. Tugas Akhir. Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Masalah keterlambatan dalam industri konstruksi merupakan fenomena nasional dan tidak terkecuali di Surakarta. Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi faktor-faktor keterlambatan proyek dan pengaruhnya terhadap pembengkakan biaya proyek bangunan gedung di Surakarta.

Penelitian ini dimulai dengan survei pra analisis yang disebarkan kepada 30 responden. Dari 30 Faktor keterlambatan yang diambil dari penelitian sebelumnya didapat 5 faktor keterlambatan yang paling berpengaruh yaitu (1) Identifikasi, durasi, dan rencana urutan kerja yang tidak lengkap dan tersusun dengan baik, (2) Kesulitan finansial, (3) Kurangnya pengalaman kontraktor, (4) Keterlambatan penyediaan material, (5) Dana dari pemilik yang tidak mencukupi. Kemudian dilakukan survei analisis yang disebarkan kepada 40 responden. Kelima faktor keterlambatan dianalisis untuk mengetahui pengaruhnya terhadap pembengkakan biaya proyek. Penelitian ini menggunakan analisis regresi linier berganda menggunakan program SPSS.

Dari hasil analisis dapat diketahui bahwa: (1) Identifikasi, durasi, dan rencana urutan kerja yang tidak lengkap dan tersusun dengan baik tidak berpengaruh signifikan terhadap pembengkakan biaya proyek. (2) Kesulitan finansial berpengaruh signifikan terhadap pembengkakan biaya proyek. (3) Kurangnya pengalaman kontraktor berpengaruh signifikan terhadap pembengkakan biaya proyek. (4) Keterlambatan penyediaan material berpengaruh signifikan terhadap pembengkakan biaya proyek. (5) Dana dari pemilik yang tidak mencukupi tidak berpengaruh signifikan terhadap pembengkakan biaya proyek.

Kata kunci: Faktor keterlambatan, Pembengkakan biaya, Industri konstruksi, dan Analisis regresi linier berganda.

commit to user

Bayu Adi Nugroho, 2012. The Analysis of Project Delay Factors Against the Cost Overruns of Buildings Project in Surakarta. Final Task of Civil Engineering. Department of Engineering Faculty of Sebelas Maret University. Surakarta.

The problem of delay in the construction industry is a national phenomenon and not the exception in Surakarta. The main objective of this study was to identify the impact of project delay factors against the cost overruns of buildings project in Surakarta.

The study begin with a survey of pre-analysis, distributed to 30 respondents. from the 30 factors of delay is taken from a previous study, obtained 5 factors most influential delay: (1) identification, duration, and the bad planing of working order (2) financial trouble, (3) lack of contractor experience, (4) Delays in the supply of materials, (5) budgets from the owner is not sufficient. Then, the survey of analysis distributed to 40 respondents. The five delays factors were analyzed to obtain the effect on project cost overruns. This study use multiple linear regression analysis by using SPSS.

From the analysis, the conclusions: (1) Identification, duration, and the bad planing of working order no significant effect on project cost overruns. (2) Financial trouble significant effect on project cost overruns. (3) Lack of contractor experience significant effect on project cost overruns. (4) ) Delays in the supply of materials significantly effect on project cost overruns. (5) Budgets from the owner is not sufficient no significant effect on project cost overruns.

Keywords: Delay factor, cost overruns, construction industry, and multiple linear regression analysis.

commit to user

Salam Sejahtera. Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang selalu melimpahkan berkat-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi dengan judul “Analisis Faktor

Keterlambatan Proyek Terhadap Pembengkakan Biaya Proyek Bangunan Gedung Di

Surakarta” guna memenuhi syarat memperoleh gelar Sarjana Teknik dari Fakultas Teknik Universitas Sebelas Maret Surakarta.

Meskipun jauh dari kesempurnaan penulis berharap semoga skripsi ini dapat menambah wawasan dan mengembangkan pengetahuan dalam bidang manajemen konstruksi proyek bangunan gedung khususnya pengaruh faktor-faktor keterlambatan terhadap pembengkakan biaya proyek terutama pengembangan penelitian selanjutnya di Jurusan Teknik Sipil UNS.

Dalam penulisan skripsi ini, penulis mendapat bantuan dari berbagai pihak, baik secara langsung maupun tidak langsung. Untuk itu, Penulis ingin menyampaikan ucapan terimakasih kepada :

1. Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan nikmat sehat selama pelaksanaan skripsi.

2. Widi Hartono, ST, MT, selaku Dosen Pembimbing I.

3. Ir. Sugiyarto, MT, selaku Dosen Pembimbing II.

4. Ir. Suyatno K, MT, selaku Dosen Penguji I.

5. Ir. Delan Soeharto, MT, selaku Dosen Penguji II.

6. Wibowo, ST, DEA, selaku Dosen Pembimbing Akademis.

7. Segenap pimpinan Fakultas Teknik UNS.

8. Segenap Pimpinan Jurusan Teknik Sipil Fakultas Teknik UNS.

9. Kedua Orang Tuaku atas semua pengorbanan, doa, kasih sayang dan dukungannya

selama ini.

10. Teman terdekatku Yohana, Seto, Fathir, Alfian dan Didit yang telah memberikan

dorongan dan dukungannya dalam penulisan skripsi ini.

11. Teman skripsiku Herry dan Hasoloan yang telah membantu dalam penulisan skripsi ini.

12. Teman-teman kost wisma indri Bimo, Chandra, Sheiza, Dewangga, Dinar, Andi, terima

kasih atas dukungannya.

commit to user

Penulis menyadari bahwa skripsi ini masih jauh dari sempurna. Oleh karena itu, saran dan kritik yang membangun sangat penulis harapkan untuk kesempurnaan skripsi ini dan semoga

skripsi ini dapat berguna bagi pihak-pihak yang membutuhkan. Tuhan memberkati.

Surakarta, Oktober 2012

Penulis

commit to user

2.2.4.1. Non Excusable Delays ……………………… 14

2.2.4.2. Compensable Delays …………………………… 18

2.2.4.3. Excusable Delays …………………………... 21

2.2.5. Pembengkakan Biaya Proyek ......................................

23

2.2.5.1. Penyebab Pembengkakan yang Diakibatkan oleh Kontraktor …………………………….. 21

2.2.5.2. Penyebab Pembengkakan yang Diakibatkan oleh Pemilik ………………………………… 26

2.2.5.3. Penyebab Pembengkakan yang Diakibatkan Diluar Kemampuan Kontraktor dan Pemilik

28

2.2.6. Analisis Regresi Linier Berganda ……………………. 29

2.2.7. Uji Korelasi …………………………………………... 30

2.2.8. Uji Hipotesis ………………………………………..... 31

2.2.8.1. Uji Ketepatan Model (Uji F dan R 2 ) ............

32

2.2.8.2. Uji t Statistik (Uji Parameter Penduga/Estimate)34

2.2.9. Cara Pemilihan Sampling ……………………………. 35

2.2.9.1. Probabilty Sampling ……………………….. 35

2.2.9.2. Non Probaility Sampling ………………..

36

2.2.10. Program dan Cara Kerja SPSS (Statistical Product and Service Solutions ) ............................................................. 37

2.2.11. Rancangan Kuesioner ...................................................... 38

2.2.12. Kerangka Pikiran Penelitian ............................................ 39

2.2.13. Perumusan Hipotesis Penelitian....................................... 40

BAB III. METODELOGI PENELITIAN ................................................. 41

3.1. TAHAP PENELITIAN ................................................................. 42

3.2. JENIS PENELITIAN .................................................................... 43

3.3. POPULASI, SAMPEL, DAN TEKNIK SAMPLING ................ 44

3.3.1. Populasi .............................................................................. 44

3.3.2. Sampel ............................................................................... 44

commit to user

4.7.3. Kurangnya pengalaman kontraktor berpengaruh terhadap pembengkakan biaya pembangunan proyek .................. 64

4.7.4. Keterlambatan penyediaan material berpengaruh terhadap pembengkakan biaya pembangunan proyek .................... 64

4.7.5. Dana dari pemilik yang tidak mencukupi berpengaruh terhadap pembengkakan biaya pembangunan proyek ..... 64

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN ........................................................ 66

5.1. KESIMPULAN ................................................................................ 66

5.2. SARAN-SARAN.............................................................................. 67

5.2.1. Bagi Pihak Pengembang ................................................ 67

5.2.2. Bagi Peneliti Selanjutnya ............................................... 67

DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................... 69 LAMPIRAN ................................................................................................... xvix

commit to user

PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Setiap proyek konstruksi lazimnya mempunyai rencana pelaksanaan dan jadwal pelaksanaan yang tertentu, kapan pelaksanaan proyek tersebut harus dimulai, kapan harus diselesaikan dan bagaimana proyek tersebut akan dikerjakan, serta bagaimana penyediaan sumber dayanya. Pembuatan rencana dan jadwal pelaksanaan proyek selalu mengacu pada kondisi anggapan- anggapan dan prakiraan yang ada pada saat rencana dan jadwal tersebut dibuat, karena itu masalah akan timbul apabila terjadi ketidaksesuaian antara prakiraan dan anggapan dengan kenyataan yang sebenarnya. Dampak umum yang sering terjadi adalah keterlambatan waktu pelaksanaan proyek, disamping meningkatnya biaya pelaksanaan proyek.

Proses pelaksanaan suatu proyek terdiri dari banyak aktivitas yang saling berkaitan antara yang satu dengan yang lainnya. Keterlambatan yang terjadi pada salah satu atau beberapa aktivitas tersebut dapat menyebabkan keterlambatan proyek secara keseluruhan. Keterlambatan proyek pada akhirnya dapat menimbulkan banyak sisi negatif, misalnya perselisihan antara kontraktor dengan pemilik dan menurunnya kredibilitas kontraktor maupun pembengkakan biaya (Alifen, et al, 1999). Pada kenyataannya hal ini sering terjadi, sehingga perlu untuk dilakukan suatu analisis yang lebih mendalam sebagai langkah antisipasi.

Sering kali dalam pelaksanaan proyek terjadi keterlambatan yang tidak diinginkan dan tidak di ketahui sebelumnya. Keterlambatan tersebut sangat merugikan pihak-pihak terkait, kontraktor maupun pemilik proyek itu sendiri. Keppres No. 61 tahun 2004 menyebutkan bahwa denda (sanksi finansial) dapat dikenakan penyedia jasa bila tidak dapat melaksanakan proyek sesuai waktu yang tersedia dalam kontrak.

Keterlambatan proyek bisa berasal dari penyedia jasa (kontraktor), pengguna jasa maupun pihak lain yang berdampak penambahan waktu dan

commit to user

kontraktor bisa di kenai denda, begitu juga bila keterlambatan berasal dari pengguna jasa, maka pengguna jasa akan membayar kerugian yang di

tanggung penyedia jasa, yang jumlahnya ditetapkan dalam kontrak sesuai perundang-undangan yang berlaku. Banyak penelitian yang sudah di lakukan untuk mengetahui faktor-faktor penyebab keterlambatan penyelesaian proyek.

Kondisi Proyek konstruksi di pemerintah Kota Surakarta tidak jauh berbeda, yang setiap tahun selalu terjadi keterlambatan proyek konstruksi. Dibawah ini contoh proyek yang mengalami keterlambatan.

Tabel 1.1 Contoh Proyek yang Mengalami Keterlambatan

(Sumber : Data Proyek Grand Orchid Solo dan DPU Surakarta)

Dalam suatu proyek konstruksi, biaya merupakan salah satu komponen yang sangat berpengaruh terhadap kelangsungan suatu proyek. Secara garis besar biaya dalam proyek itu sendiri meliputi biaya material, tenaga kerja serta biaya peralatan. Untuk menjaga kelancaran jalannya suatu

Penyebab Keterlambatan

1 Proyek Hotel Grand Orchid Solo(extension)

180

200

Perubahan gambar/detail, keterlambatan material yang didatangkan, cuaca buruk.

2 Proyek Pasar Kleco

135

150

Bertepatan bulan puasa, waktu minim, pedagang pindah ke pasar darurat setelah Lebaran, proyek dimulai pasca Lebaran.

commit to user

dikeluarkan agar tidak melebihi dari anggaran yang telah ditentukan.

Dalam kenyataan di lapangan banyak sekali ditemukan proyek yang mengalami keterlambatan. Pada umumnya proyek yang mengalami

keterlambatan mengakibatkan biaya yang dikeluarkan semakin meningkat.

Berdasarkan latar belakang tersebut, maka faktor keterlambatan merupakan faktor yang menyebabkan pembengkakan biaya.

1.2. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang serta batasan masalah, maka dirumuskan rumusan masalah yang akan diteliti dalam penelitian ini adalah:

1. Apakah Identifikasi, durasi, dan perencanaan urutan kerja yang tidak lengkap dan tidak tersusun dengan baik dapat menjadi penyebab pembengkakan biaya pembangunan proyek?

2. Apakah kesulitan finansial dapat menjadi penyebab pembengkakan biaya pembangunan proyek?

3. Apakah kurangnya pengalaman kontraktor dapat menjadi penyebab pembengkakan biaya pembangunan proyek?

4. Apakah keterlambatan penyediaan material dapat menjadi penyebab pembengkakan biaya pembangunan proyek?

5. Apakah dana dari pemilik yang tidak mencukupi dapat menjadi penyebab pembengkakan biaya pembangunan proyek?

commit to user

Untuk membatasi pokok permasalah yang akan dikaji dalam penelitian ini, maka akan difokuskan dengan uraian-uraian sebagai berikut:

1. Proyek yang diteliti adalah proyek-proyek konstruksi bangunan gedung di lingkungan Surakarta.

2. Menggunakan 5 faktor keterlambatan sebagai variabel bebas dalam melihat pengaruh terhadap pembengkakan biaya proyek.

3. Penelitian dilakukan pada 40 responden, yaitu individu yang berpengalaman sebagai pelaksana proyek-proyek konstruksi dilingkungan Surakarta, dan pernah memegang jabatan sebagai manajer proyek atau manajer lapangan.

1.4. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah:

1. Untuk mengetahui pengaruh identifikasi, durasi, dan perencanaan urutan kerja yang tidak lengkap dan tersusun dengan baik terhadap pembengkakan biaya pembangunan proyek.

2. Untuk mengetahui pengaruh kesulitan finansial terhadap pembengkakan biaya pembangunan proyek.

3. Untuk mengetahui pengaruh kurangnya pengalaman kontraktor terhadap pembengkakan biaya pembangunan proyek.

4. Untuk mengetahui pengaruh keterlambatan penyediaan material terhadap pembengkakan biaya pembangunan proyek.

5. Untuk mengetahui pengaruh dana dari pemilik yang tidak mencukupi terhadap pembengkakan biaya pembangunan proyek.

commit to user

1. Adanya dugaan pengaruh identifikasi, durasi, dan perencanaan urutan kerja yang tidak lengkap dan tersusun dengan baik terhadap

pembengkakan biaya broyek.

2. Adanya dugaan pengaruh kesulitan finansial terhadap pembengkakan biaya pembangunan proyek.

3. Adanya dugaan pengaruh kurangnya pengalaman kontraktor terhadap pembengkakan biaya pembangunan proyek.

4. Adanya dugaan pengaruh keterlambatan penyediaan material terhadap pembengkakan biaya pembangunan proyek.

5. Adanya dugaan pengaruh dana dari pemilik yang tidak mencukupi terhadap pembengkakan biaya pembangunan proyek.

1.6. Manfaat Penelitian

1. Penelitian ini diharapkan bermanfaat terutama bagi para pengguna jasa, para penyedia jasa serta pihak-pihak yang terkait langsung dengan pengelolaan proyek konstruksi, agar mengetahui dengan jelas cara pengendalian penyebab keterlambatan penyelesaian proyek secara keseluruhan sehingga waktu penyelesaian proyek tersebut dapat sesuai sesuai dengan biaya yang telah direncanakan.

2. Studi ini diharapkan dapat memberikan metode yang mempunyai keunikan yang berbeda dari studi – studi yang terdahulu terkait dengan kespesifikan obyek studi yang dipilih yaitu faktor-faktor penyebab keterlambatan proyek terhadap pembengkakan biaya proyek bangunan gedung di Surakarta, serta aplikasi Statistical Product and Service Solutions (SPSS) dalam menguji pengaruh dari variabel yang diteliti. Hal ini diharapkan dapat memberikan pemahaman pada studi mendatang terkait dengan pengukuran variabel yang dikembangkan dan prosedur pengujian yang dilakukan. Dengan demikian studi mendatang diharapkan dapat menggeneralisasi metode riset yang didesain dalam studi ini dan mengembangkannya pada konteks yang berbeda.

commit to user

LANDASAN TEORI

2.1 Tinjauan Pustaka

Menurut sebuah survey yang dilakukan oleh Mezher et al, 2009 mengenai faktor penyebab keterlambatan proyek konstruksi di Libya dari persepsi owner, kontraktor dan perusahaan konsultan/arsitektur menemukan bahwa owner lebih berfokus pada persoalan keuangan sedangakan kontraktor dengan permasalahan kesepakatan kontrak dan konsultan menjadikan manajemen proyek sebagai persoalan yang paling penting.

Keterlambatan dari penyelesaian proyek konstruksi berpengaruh terhadap biaya langsung proyek. Dalam kasus proyek pembangunan gedung dan fasilitas, kesulitan meningkat ketika owner berasal dari pihak pemerintah. Dampak keterlambatan dalam kasus ini termasuk dalam kekacauan peraturan rencana pengembangan umun, gangguan terhadap rencana pencairan anggran dana pada pemerintah dan ketidaknyamanan yang disebabkan oleh keterlambatan proyek terhadap masyarakat. Keterlambatan yg terjadi dari sisi kontraktor menyebabkan waktu penyelesaian proyek menjadi lebih lama, meningkatnya biaya overhead dan menyebabkan kontraktor terjebak dalam proyek tersebut. (Al-Kharashi dan Skitmore, 2009)

Menurut Alifen et al, 2000 (Dalam I.A.Rai Widhiawati, 2009), keterlambatan proyek seringkali menjadi sumber perselisihan dan tuntutan antara pemiik dan kontraktor, sehingga akan menjadi sangat mahal nilainya baik ditinjau dari sisi kontraktor maupun pemilik. Kontraktor akan terkena denda penalti sesuai dengan kontrak, disamping itu kontraktor juga akan mengalami tambahan biaya overhead selama proyek masih berlangsung. Dari sisi pemilik, keterlambatan proyek akan mambawa dampak pengurangan pemasukan karena penundaan pengopersian fasilitasnya.

Beberapa penelitian sejenis yang sudah dilakukan yaitu oleh Budiman Praboyo, 1999 ; I.A. Rai Widhiawati, 2009 ; Suyatno, 2010.

commit to user

menemukan faktor-faktor yang sangat berperan atau mendominasi sebagai penyebab keterlambatan penyelesaian proyek konstruksi di

wilayah Surabaya, dengan maksud agar proses perencanaan dan penjadwalan proyek konstruksi dapat dilakuakan dengan lebih lengkap dan cermat, sehingga keterlambatan sedapat mungkin dihindarkan atau dikendalikan.

(2) I.A. Rai Widhiawati bertujuan untuk mengetahui penyebab utama dari faktor-faktor penyebab keterlambatan penyelesaian proyek konstruksi yang berada di Kotamadya Denpasar.

(3) Suyatno bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor penyebab keterlambatan penyelesaian proyek yang berada di Kotamadya Surakarta dan untuk mengetahui peringkat (rangking) menurut persepsi penyedia jasa terhadap faktor-faktor penyebab keterlambatan penyelesaian proyek.

2.2 Dasar Teori

Setiap proyek mempunyai rencana pelaksanaan proyek dan anggaran biaya proyek yang dibuat sebelum pelaksanaan proyek. Dengan tujuan agar proyek dapat dilaksanakan sesuai dengan acuan yang direncanakan oleh kontraktor Pelaksanaan proyek yang tidak sesuai dengan rencana dapat mengakibatkan keterlambatan proyek yang pada umumnya akan menyebabkan pembengkakan biaya proyek.

"Time is money", hal inilah yang melandasi faktor waktu dan uang merupakan faktor yang penting dalam merencanakan dan melaksanakan suatu proyek. Waktu dan uang mempunyai keterkaitan satu sama lain, yang artinya setiap penambahan waktu yang diperlukan dalam pelaksanaan proyek mengakibatkan biaya yang dikeluarkan akan semakin meningkat.

Keberhasilan melaksanakan proyek tepat waktu dan biaya adalah salah satu tujuan terpenting, baik bagi pemilik maupun kontraktor. Kunci utama keberhasilan melaksanakan proyek tepat waktu adalah perencanaan dan penjadwalan proyek yang lengkap dan tepat.

commit to user

Rencana pelaksanaan proyek merupakan tulang punggung keseluruhan proses konstruksi, sehingga harus dibuat berdasarkan pada

sasaran dan pencapaian target yang jelas. Penjadwalan bertujuan untuk menetapkan urutan kerja dan estimasi waktu yang dibutuhkan setiap aktivitas dalam pelaksanaan proyek Associated General Contractors (AGC of America, 1994). Tujuan lain dibuatnya jadwal pelaksanaan proyek agar tidak terjadi keterlambatan proyek. Keterlambatan proyek terjadi apabila realisasi pelaksanaan proyek lebih lambat daripada rencana yang telah dibuat.

2.2.1.1 Alasan Penyusunan jadwal proyek

Empat alasan kontraktor melakukan penyusunan jadwal proyek (AGC of America, 1994):

1) Mengkomunikasikan perencanaan

Komunikasi adalah kunci awal bagi keberhasilan kerja tim dalam pelaksanaan proyek konstruksi. Komunikasi merupakan salah satu komponen yang penting dalam suatu proyek konstruksi karena komunikasi yang baik sangat dibuluhkan scbagai sarana koordinasi. Koordinasi memerlukan komunikasi yang baik agar masing-masing kelompok tidak terjadi pekerjaan yang tumpang tindih. Tanpa adanya koordinasi yang baik antar masing-masing pihak yang terlibat, suatu proyek konstruksi tidak akan dapat berjalan dengan baik. Dengan adanya jadwal proyek, kontraktor dapat berkomunikasi dengan sub kontraktor sedangkan manajer proyek dapat berkomunikasi dengan manajer lapangan.

2) Mencapai target produktivitas

Pelaksanaan proyek konstruksi haruslah mempnuyai target produktivitas.

commit to user

keseluruhan tim kerja dari proyek yang tujuannya adalah menyelesaikan keseluruhan proyek tepat waktu.

3) Memonitor dan mengukur kemajuan yang telah dicapai Dalam memonitor dan mengukur kcemajuan yang telah dicapai, harus ada suatu batasan atau tolak ukur. Jadwal proyek yang telah dibuat dapat digunakan sebagai batasan/acuan penentuan status proyek, yaitu proyek terlambat, tepat waklu, atau terlalu cepat.

4) Mengantisipasi perubahan

Kegiatan proyek mempunyai sifat dinamis, karena dalam pelaksanaannya sering terjadi penyimpangan atau perubahan, sehingga suatu proyek sulit untuk dapat berjalan sesuai dengan jadwal. Selalu ada hal-hal yang tidak diharapkan terjadi dalam tiap tahapan kostruksi, yang pada akhirnya dapat menyebabkan keterlambatan proyek. Untuk itu perlu dibuat jadwal proyek sebagai acuan waktu.

5) Menghitung eskalasi

Eskalasi adalah penyesuaian harga satuan pekerjaan (price adjustment ) yang disebabkan kenaikan harga-harga dasar bahan, upah dan peralatan. Penyesuaian harga satuan diberlakukan sesuai dengan jadwal pelaksanaan yang tercantum dalam kontrak. Bagian kontrak atau pekerjaan yang terlambat dilaksanakan karena kesalahan rekanan, penyesuaian harga satuan dan nilai kontrak menggunakan indeks harga sesuai jadwal pelaksanaan pekerjaan yang ditetapkan pada kontrak awal (Keppres 18 Tahun 2000).

2.2.1.2 Tahap tahap Penyusunan Jadwal Proyek

Dalam menyusun jadwal proyek haruslah realistis/masuk akal, artinya berdasarkan pada data-data yang ada dan informasi yang akurat sehingga jadwal tersebut dapat diterapkan di proyek.

commit to user

proyek (Gambar 2.1), yang meliputi:

1) Tahap identifikasi aktivitas proyek

Tahap ini merupakan langkah awal dalam penyusunan jadwal yang bertujuan untuk mendapatkan identifikasi jenis jenis aktivitas yang ada agar proyek dapat dilaksanakan. Langkah ini memerlukan informasi lengkap yang diperoleh dari pemahaman dan analisa yang cermat.

2) Tahap estimasi durasi aktivitas

Tahap ini bertujuan untuk mengestimasi durasi yang dibutuhkan dalam penyelesaian masing masing aktivitas. Durasi tersebut harus masuk akal dan dapat menggambarkan keadaan sebenarnya di proyek sehingga dapat dilaksanakan sesuai dengan rencana. Pengalaman-pengalaman yang lalu dapat juga dapat dipakai sebagai bahan pertimbangan dalam penentuan durasi masing- masing aktivitas.

3) Tahap penyusunan urutan aktivitas

Tujuan tahap ini adalah merencanakan proses pelaksanaan, untuk menunjukkan urutan aktivitas yang perlu dilakukan terlebih dahulu sebelum aktivitas lain dapat dimulai dan menentukan aktivitas berikulnya setelah aktivitas pendahulu selesai ataupun aktivitas yang dapat dilakukan secara bersamaan sehingga proyek terlaksana efektif dan efisien.

4) Tahap penyusunan jadwal proyek

Penyusunan jadwal proyek harus mencantumkan tanggal dimulai dan selesainya suatu aktivitas, serta urutan aktivitas yang direncanakan. Jadwal yang didapat nantinya akan dipakai scbagai acuan untuk mengontrol dan memonitor pengerjaan aktivitas di proyek.

commit to user

Jadwal yang telah tersusun perlu ditinjau dan dianalisa ulang untuk mengetahui kelengkapannya, Apabila didapati kesalahan-

kesalahan. maka hasil estimasi durasi dan rencana urutan proyek harus ditinjau ulang.

6) Tahap pelaksanaan dan penerapan jadwal

Jika masing-masing pihak yang berkepentingan telah yakin bahwa jadwal telah tersusun dengan lengkap dan dapat dilaksanakan, maka langkah selanjutnya adalah menerapkan jadwal tersebut pada proyek. Proses penyusunan jadwal proyek dapat dilihat di bawah ini:

1. Identifikasi Aktivitas Proyek

2. Estimasi Durasi Aktivitas

3. Penyusunan Urutan Aktivitas

4. Analisa dan Peninjauan Ulang

5. Pelaksanaan dan Penerapan Jadwal

Gambar 2.1 Proses Penyusunan Jadwal Proyek (Sumber : AGC of America. I994)

commit to user

2.2.2 Biaya Proyek

Biaya merupakan salah satu aspek yang terpenting pada manajemen suatu proyek. dimana biaya yang mungkin timbul harus dikendalikan seminimal mungkin. Pengendalian biaya juga harus disertai dengan pengendalian waktu, karena terdapat hubungan yang erat antara waktu dan biaya. Hubungan antara waktu dan biaya sangat penting dalam perencanaan suatu proyek konstruksi. Biaya proyek secara garis besar dapat dibagi menjadi dua, yakni:

1. Biaya Langsung (direct cost)

Biaya langsung adalah biaya untuk segala sesuatu yang akan menjadi komponen permanen hasil akhir proyek. Biaya langsung meliputi biaya bahan/material, upah buruh, biaya peralatan, biaya sub-kontraktor.

2. Biaya Tidak Langsung (indirect cost)

Biaya tidak langsung adalah pengeluaran untuk manajemen, jasa untuk pengadaan bagian proyek yang tidak akan menjadi instalasi atau produk permanen, tetapi diperlukan dalam rangka proses pembangunan proyek. Biaya tidak langsung meliputi biaya overhead , biaya tak terduga (contigencies), dan keuntungan/profit.

Biaya langsung dan tidak langsung secara keseluruhan membentuk biaya proyek. Baik biaya langsung dan biaya tidak langsung akan berubah sesuai dengan waktu dan kemajuan proyek. Meskipun tidak dapat diperhitungkan dengan rumus tertentu, makin lama proyek berjalan maka makin tinggi kumulatif biaya tidak langsung yang diperlukan.

2.2.2.1 Estimasi Biaya Proyek

Estimasi biaya proyek adalah perkiraan tentang kemungkinan biaya yang akan digunakan pada aktivitas konstruksi. Pembuatan estimasi biaya ini memerlukan pengetahuan mengenai semua tahapan proyek konstruksi.

commit to user

sangat bergantung pada keterampilan, penilaian dan pengalaman dari estimator.

1) Unsur-Unsur Estimasi Biaya Ada lima unsur penting yang perlu diperhatikan dalam estimasi biaya proyek, yaitu:

1. Bahan atau material: menghitung banyaknya bahan yang dipakai dan harganya.

2. Tenaga kerja: menghitung jumlah tenaga kerja, jam kerja yang diperlukan, dan jumlah biayanya. Besarnya upah tenaga kerja ini tergantung dari panjangnya jam kerja, keadaan tempat pekerjaan, keterampilan dan keahlian tenaga keja itu sendiri.

3. Peralatan: menghitung jumlah dan waktu pemakaian peralatan serta biayanya.

4. Overhead: menghitung biaya-biaya tidak terduga yang perlu diadakan.

5. Profit: menghitung persentase keuntungan yang akan didapat

2) Kegunaan Estimasi Biaya Proyek. Kegunaan dari estimasi biaya proyek bagi masing-masing professional adalah sebagai berikut:

1. Bagi Pemilik Untuk mempelajari kelayakan proyek, kelanjutan investasi, mendapatkan nilai ekonomis dari proyek, dan menetapkan arus kas masuk dan keluar.

2. Bagi kontraktor Estimasi biaya ini akan sangat berpengaruh terutama untuk menentukan besarnya nilai tender dan keuntungan yang akan didapat.

commit to user

Biaya merupakan salah satu aspek yang terpenting pada manajemen suatu proyek, dimana biaya yang mungkin timbul harus dikendalikan

seminimal mungkin. Pengendalian biaya juga harus disertai dengan pengendalian waktu, karena terdapat hubungan yang erat antara waktu dan biaya. Hubungan antara waktu dan biaya sangat penting dalam perencanaan suatu proyek kontruksi.

Gambar 2.2. Hubungan Antara Waktu dan Biaya

(Sumber : Soeharto, 1995)

2.2.4 Variabel Keterlambatan Proyek Menurut Beberapa Peneliti

Keterlambatan proyek dapat terjadi apabila terjadi ketidaksesuaian waktu yang dijadwalkan dengan pelaksaaan di lapangan (melebihi waktu yang telah direncanakan). Dalam pelaksanaan proyek konstruksi, ada banyak hal yang menyebabkan proyek tidak berjalan sesuai rencana sehingga mengakibatkan keterlambatan dalam pelaksanaan proyek. Kraiem dan Dickman (1987) mengatakan keterlambatan dapat dibagi menjadi 3 jenis utama, yaitu: compensable , excusable, dan non excusable.

2.2.4.1 Non Excusable Delays Keterlambatan yang tidak dapat dimaafkan (non excussble delays ) adalah keterlambatan yang diakibatkan oleh tindakan,

commit to user

termasuk dalam jenis keterlambatan ini adalah:

1) Identifikasi, durasi dan rencana urutan kerja yang tidak lengkap dan tidak tersusun dengan baik (Kraiem and Dickman, I987).

Kunci utama keberhasilan melaksanakan proyek tepat waktu adalah perencanaan dan penjadwalan proyek yang lengkap dan tepat. Identifikasi aktivitas proyek merupakan tahap awal dari penyusunan jadwal proyek. Identifikasi yang tidak lengkap akan mempengaruhi durasi proyek secara keseluruhan dan mengganggu urutan kerja aktivitas. Estimasi mengenai identifikasi, durasi, dan rencana urutan kerja setiap jenis pekerjaan harus dibuat dengan jelas dan teliti sehingga proyek dapat diselesaikan tepat waktu.

2) Gambar rencana proyek yang tidak jelas (Soeharto, 1995) Gambar rencana proyek memiliki pengaruh yang sangat penting di lapangan karena sebagai pedoman dalam bekerja. Ketidakjelasan gambar rencana dapat menimbulkan kesalahan penjadwalan proyek dan persepsi dari tim proyek yang akan berakibat pada pengulangan pekerjaan Hal ini tentunya akan memerlukan tambahan waktu pengerjaan proyek secara keseluruhan.

3) Ketidaktepatan perencanaan tenaga kerja (Arditi and Patel, 1989). Jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan dalam tiap tahapan pelaksanaan proyek berbeda-beda, salah satunya tergantung pada besar dan jenis pekerjaannya. Perencanaan yang tidak sesuai kebutuhan di lapangan dapat menimbulkan persoalan karena tenaga kerja adalah sumber daya yang seringkali tidak mudah didapat dan mahal harganya.

4) Kualitas tenaga kerja yang buruk (Ahuja, 1984). Kegiatan proyek mempunyai sifat dinamis dan kontraktor dituntut menyediakan tenaga kerja yang berkualitas di bidangnya dalam melaksanakan pekerjaan. Kurangnya keterampilan dan keahlian

commit to user

cacat produk dan produktivitas tenaga kerja yang dihasilkan menjadi rendah sehingga diperlukan waktu yang lebih lama untuk

menyelesaikan proyek.

5) Keterlambatan penyediaan alat/material (Ardiri and Patel, 1989). Salah satu faktor yang sangat mendukung dalam pelaksanaan proyek secara langsung adalah tersedianya peralatan dan material yang akan digunakan. Keterlambatan penyediaan alat dan material di proyek dapat dikarenakan keterlambatan pengiriman oleh supplier, kesulitan untuk mendapatkannya. Dan kekurangan material itu sendiri. Penyediaan alat dan material yang tidak sesuai dengan kebutuhan dan waktu yang direncanakan, akan membuat produktivitas pekerja menurun karena banyaknya jam nganggur sehingga menghambat laju pekerjaan.

6) Penanganan keberadaan dan kualitas dari alat/material yang buruk (Chuette And Liska, 1994). Keberadaan alat/material yang tidak strategis menyebabkan mobilisasi pekerja menjadi lambat. Sedangkan kualitas alat yang buruk dapat menghambat penyelesaian proyek karena rendahnya produktivitas pekerja dan pengulangan pekerjaan karena kualitas material.

7) Jenis peralatan yang digunakan tidak sesuai dengan proyek (Ahuja, 1984). Peralatan merupakan salah satu sumber daya yang digunakan secara langsung di dalam pengerjaan proyek. Perencanaan jenis peralatan harus disesuaikan dengan karakteristik dan besarya proyek sehingga tujuan dari pengerjaan proyek dapat tercapai.

8) Mobilisasi sumber daya yang lambat (Arditi and Patel, 1989). Lalu lintas merupakan suatu proses mengenai pergerakan dari setiap bagian, khususnya alat dan material. Mobilisasi yang

commit to user

proyek, antar lokasi dalam proyek dan dari dalam lokasi ke luar lokasi proyek. Hal ini sangat dipengaruhi oleh penyediaan jalan

proyek dan waktu pengiriman alat/material.

9) Banyak hasil pekerjaan yang harus diulang/diperbaiki karena cacat/salah (Arditi and Patel, l989). Faktor ini lebih mengarah pada masalah mutu/kualitas pelaksanaan pekerjaan, baik secara struktur atau penyelesaian akhir yang dipengaruhi gambar proyek, penjadwalan proyek, dan kualitas tenaga kerja. Pada dasarnya semua pengulangan/perbaikan akibat cacat/salah memerlukan tambahan waktu dan itu berarti pekerjaan tersebut terlambat diselesaikan.

10) Kesulitan finansial (Arditi and Patel, 1989). Perputaran arus uang dalam proyek, baik arus masuk maupun arus keluar harus direncanakan dengan baik pengalokasian dan penggunaannya, agar tidak menimbulkan kesulitan untuk proyek itu sendiri. Kesulitan pembiayaan oleh kontraktor ini, terutama yang berkaitan dengan kewajiban pembayaran ke pemasok material dan pembayaran upah tenaga kerja. Hal itu akan menyebabkan tersendatnya dukungan sumber daya yang ada dan membuat pelaksanaan pekerjaan menjadi terhambat.

11) Kurangnya pengalaman kontraktor (Nundakumar, 1985). Kontraktor berpengaruh pada penanganan masalah dalam bekerja bisa mengakibatkan keterlambatan proyek, misalnya dalam hal menangani masalah-masalah di dalam proyek. Kontraktor yang sudah berpengalaman dengan mudah mengatasi permasalahan yang timbul, lain halnya dengan kontraktor yang kurang pengalaman, akan membutuhkan waktu yang lebih banyak.

commit to user

kontraktor (Ahuja, 1984). Komunikasi adalah kunci awal bagi keberhasilan kerja tim. Dalam

pelaksanaan proyek konstruksi, koordinasi memerlukan komunikasi yang baik agar masing-masing kelompok tidak teradi pekerjaan yang tumpang tindih. Sebagai contoh pengulangan pekerjaan atau kesalahan dalam spesifikasi material sehingga dapat menyebabkan keterlambatan proyek.

13) Metode konstruksi/teknik pelaksanaan yang salah/tidak tepat (Ahuja, 1984). Kesalahan atau ketidaktepatan memilih metode konstruksi, walaupun mungkin tidak sampai menimbulkan kegagalan penyelesaian struktur, seringkali berdampak lebih lamanya waktu penyelesaian yang diperlukan. Untuk mengatasi hal ini memang diperlukan tidak hanya keperluan teknis dan manajemen yang kuat tetapi juga pengalaman kerja yang baik.

14) Kecelakaan kerja yang terjadi pada pekerja/pengunjung (Ritz,

1994). Kurangnya kontrol keselamatan kerja yang ada di dalam proyek dapat mengakibatkan terjadinya kecelakaan kerja baik terhadap pengunjung ataupun pekerja itu sendiri. Hal ini dapat berdampak pada penderita secara fisik, hilangnya semangat kerja, dan trauma akibat kecelakaan yang pada akhirnya dapat mengakibatkan turunnya produktivitas kerja.

2.2.4.2 Compensable Delays Keterlambatan yang layak mendapatkan ganti rugi (Compensable delays) adalah keterlambatan yang diakibatkan oleh tindakan, kelalaian atau kesalahan pemilik. Pada kejadian ini, kontraktor biasanya mendapatkan kompensasi berupa perpanjangan waktu dan tambahan biaya operasional yang perlu selama

commit to user

termasuk dalam jenis keterlambatan ini adalah:

1) Penetapan pelaksanaan jadwal proyek yang amat ketat (Kraiem and Dickmann, 1987).

Jadwal proyek seringkali ditentukan oleh pemilik untuk kepentingan pemakaian yang mendesak. Kesalahan-kesalahan akan timbul karena adanya tekanan waktu, sehingga memerlukan perbaikan-perbaikan. Akibatnya jadwal yang direncanakan akan berubah dan perlu tambahan waktu.

2) Persetujuan ijin kerja yang lama (Kraiem and Dickmann, 1987). Persetujuan ijin kerja merupakan hal yang lazim dalam melaksanakan suatu aktivitas pekerjaan, terutama bagian-bagian pekerjaan yang penting seperti gambar kerja dan contoh bahan. Proses persetujuan ijin kerja ini akan menjadi kendala yang bisa memperlambat proses pelaksanaan pekerjaan, apabila untuk mendapatkan ijin tersebut diperlukan waktu yang lama untuk mengambil keputusan.

3) Perubahan lingkup pekerjaan/detail konstruksi (Arditi and Patel, l989). Permintaan pemilik untuk mengganti lingkup pekerjaan saat proyek sudah terlaksana akan berakibat pembongkaran ulang dan perubahan jadwal yang telah dibuat kontraktor. Secara normal, setiap pembongkaran ulang dalam pelaksanaan proyek memerlukan tambahan waktu penyelesaian.

4) Sering terjadi penundaan pekerjaan (Uchechukwu,1993). Kondisi finansial pemilik yang kurang baik dari pemilik dapat berakibat penundaan/penghentian proyek yang bersifat sementara, yang secara langsung berakibat pada mundurnya jadwal proyek.

5) Keterlambatan penyediaan material (Arditi and Patel, 1989). Dalam pelaksanaan proyek, sering terjadi adanya beberapa material yang disiapkan oleh pemilik. Masalah akan timbul apabila pemilik

commit to user

telah dijadwalkan. Proyek tidak dapat dilanjutkan, produktivitas pekerja rendah karena mengganggur, yang mengakibatkan

keterlambatan proyek.

6) Dana dari pemilik yang tidak mencukupi (Clough, 1994). Proyek dapat berhenti dan mengalami keterlambatan karena dana dari pemilik proyek yang tidak cukup. Sebagai contoh pemilik yang sekaligus pengembang beranggapan bahwa dana proyek diperoleh dari pembeli/pemakai rumah kepada pengembang. Tidak adanya pertimbangan dari pengembang bahwa pembayaran dari pembeli rumah sendiri, juga bisa mengalami hambatan sehingga dana ke kontraktor pun ikut berhenti.

7) Sistem pembayaran pemilik ke kontraktor yang tidak sesuai kontrak (Majalah Konstruksi, 1996). Pelaksanaan pembangunan proyek konstruksi membutuhkan biaya terus menerus sepanjang waktu pelaksanaannya, yang menuntut kontraktor sanggup menyediakan dana secara konsisten agar kelancaran pekerjaan tetap terjaga. Pembayaran termyn dari pemilik yang tidak sesuai kontrak dapat merugikan pihak kontraktor karena akan mengacaukan semua sistem pendanaan proyek tersebut dan mempengaruhi kelancaran pekerjaan kontraktor. Hal ini akan berpengaruh pada penyediaan material dan peralatan proyek tidak dapat didatangkan tepat waktu karena kondisi keuangan kontraktor yang kurang baik.

8) Cara inspeksi/kontrol pekerjaan birokratis oleh pemilik (Kraiem and Dickmann, 1987). Cara inspeksi dan kontrol yang terlalu birokratis dapat membuat keleluasaan kontraktor dalam bekerja menjadi lebih terbatas. Keterbatasan inilah yang pada akhimya akan menyebabkan pelaksanaan pekerjaan berjalan dengan lambat.

commit to user

Keterlambatan yang dapat dimaafkan (Excusable delays) adalah keterlambatan yang disebabkan oleh kejadian-kejadian diluar kendali

baik pemilik maupun kontraktor. Keterlambatan jenis ini dikenal dalam kontrak dengan nama Force Majeur (Arditi and Patel, 1989.) Pada kejadian ini, kontraktor hanya mendapatkan kompensasi berupa perpanjangan waktu saja. Penyebab-penyebab yang termasuk dalam jenis keterlambatan ini adalah:

1) Terjadinya hal-hal yang tak terduga seperti banjir, badai, gempa bumi, tanah Longsor, cuaca buruk (Arditi and Patel, l989). Pada saat bekerja, cuaca sangat mempengaruhi produktivitas pekerja. Cuaca yang sangat buruk menyebabkan turunya stamina para pekerja yang berarti menurunnya produktivitas. Produknvitas pekerja yang rendah dan tidak sesuai yang direncanakan akan mengakibatkan mundurnya jadwal proyek. Selain itu faktor Force Majeur seperti gempa bumi, longsor, kebakaran dapat menyebabkan proyek terhenti sementara dan membutuhkan waktu lebih.

2) Lingkungan sosial politik yang tidak stabil (Vanegas and Alarcon, 1997). Aspek sosial politik seperti huru-hara/kerusuhan, perang, keadaan sosial yang buruk dapat mengakibatkan hambatan dalam pelaksanaan proyek baik bersifat sementara atau permanen. Perbaikan-perbaikan pekerjaan akibat kerusakan yang terjadi memerlukan tambahan waktu yang akan memperpanjang jadwal proyek secara keseluruhan.

3) Respon dari masyarakat sekitar yang kurang mendukung dengan adanya proyek (Soeharto, 1995). Respon masyarakat sekitar proyek yang berbeda-beda, ada yang setuju dan tidak jarang pula ada yang menolak. Dengan adanya respon negatif dari masyarakat sekitar menyebabkan adanya demo

commit to user

mundurnya jadwal pelaksanaan proyek. Tabel 2.1. Faktor-Faktor yang Menyebabkan Keterlambatan Proyek

(Sumber : Chandra Indra Yono dan Riswanto Wahyudi, 2006)

commit to user

Sama halnya dengan kondisi yang berhubungan dengan durasi, proyek mempunyai beberapa kondisi yang berhubungan dengan biaya,

yaitu biaya lebih murah, biaya sesuai rencana, dan adanya pembengkakan biaya. Pembengkakan biaya proyek yang dimaksnd dalam hal ini adalah apabila biaya yang dikeluarkan untuk pelaksanaan proyek melebihi jumlah yang diperkirakan. Semakin besar ukuran proyek semakin besar potensi terjadi pembengkakan biaya.

2.2.5.1 Penyebab Pembengkakan yang Diakibatkan oleh Kontraktor:

1) Ketidaktepatan estimasi proyek (Sold A Ward, 1992). Dasar dari keuangan proyek adalah estimasi biaya yang meliputi perhitungan biaya untuk tenaga kerja, material, peralatan overhead. dan profil. Hambatan yang dapat terjadi dalam proses estimasi biaya proyek yaitu: ketidaklengkapan gambar, data kontsruksi, dan pengalaman estimator. Ketidaktepatan estimasi ini akan mengakibatkan terjadinya pembengkakan biaya. Sebagai contoh harga beli material atau sewa peralatan yang lebih mahal dari yang direncanakan.

2) Kontrol kualitas material yang buruk (Uchechukwu, 1993). Dalam pelaksanaan proyek, material perlu dikontrol kualitasnya agar sesuai dengan permintaan pemilik ke kontraktor dan kontraktor ke supplier. Tidak adanya kontrol kualitas material dapat menyebabkan peningkatan frekuensi pekerjaan ulang karena tidak sesuai dengan spesifikasi material. Dalam hal ini, pekerjaan ulang yang diakibatkan kesalahan pemakaian material akan rnemerlukan lambahan biaya baik untuk tenaga kerja, material maupun biaya tidak langsung.

3) Informasi proyek yang kurang lengkap (Harrison, 1981). Informasi proyek yang berupa kondisi lapangan, gambar, dan spesifikasi sangat menunjang ketelitian estimasi. Kondisi lapangan dapat berupa keadaan dan sifat tanah, bangunan dan fasilitas

commit to user

elektrik, maupun mekanik. Informasi yang kurang lengkap akan menimbulkan ketidaktepatan estimasi biaya proyek sehingga

berpeluang menimbulkan pembengkakan biaya proyek.

4) Ketidaktepatan perencanaan tenaga kerja (Arditi and Patel, 1989). Jumlah tenaga kerja yang dibutuhkan dalam tiap tahapan pelaksanaan proyek berbeda-beda, salah satunya tergantung pada besar dan jenis pekerjaannya. Perencanaan yang tidak sesuai dapat menimbulkan persoalan karena tenaga kerja adalah sumber daya yang seringkali tidak mudah didapat dan mahal harganya.

5) Banyak hasil pekerjaan yang harus diulang/diperbaiki karena cacat/salah (Kraiem uml Dickmann, 1987). Faktor ini lebih mengarah pada masalah mutu/kualitas pelaksanaan Pekerjaan, baik secara struktur atau penyelesaian akhir yang dipengaruhi gambar proyek, penjadwalan proyek, dan kualitas tenaga kerja. Pada dasarnya semua pengulangan/perbaikan akibat cacat/salah memerlukan tambahan biaya baik nntuk material maupun tenaga kerja. Itu berarti proyce tersebut mengalami pembengkakan biaya.

6) Koordinasi dan komunikasi yang buruk dalam organisasi kontraktor (Ahuja, 1984). Komunikasi adalah kunci awal bagi keberhasilan kerja tim. Dalam pelaksanaan proyek konstruksi, koordinasi memerlukan komunikasi yang baik agar masing-masing kelompok tidak terjadi pekerjaan yang tumpang tindih. Sebagai contoh pengulangan pekerjaan atau kesalahan dalam spesifikasi material sehingga dapat menyebabkan pembengkakan biaya proyek.

commit to user

1993). Perencanaan keuangan untuk tiap-tiap sumber daya proyek

seharusnya sudah diatur di awal proyek. Sedangkan pada waktu pelaksanaan tinggal mengontrol berapa perbedaan biaya yang terjadi dibandingkan dengan rencana keuangan awal. Perputaran arus uang dalam proyek baik arus masuk maupun keluar dan pengontrolan penggunaan uang yang digunakan untuk membiayai proyek harus dikendalikan dengan baik agar tidak terjadi pembengkakan biaya proyek

8) Manajer proyek yang tidak kompeten/cakap (Soeharto, 1995). Manajer proyek sangat berpengaruh pada proses perencanaan, organisasi, dan memimpin serta mengendalikan pelaksanaan pekerjaan. Untuk itu diperlukan manajer yang memiliki pengetahuan yang mendalam mengenai lingkup proyek yang menjadi tanggung jawabnya dan ditunjang dengan keterampilan tenaga kerja yang akan melaksanakan pekerjaan. Manajer harus memiliki kecakapan dalam mengatur pekerjaan dan penggunaan tenaga kerja, yang mempengaruhi produktivitas pekerja. Produktivitas yang rendah rnenyebabkan biaya proyek akan bertambah.

9) Kualitas yang buruk dari personil-personil dalam organisasi kerja kontraktor (Arditi and Patel, 1989). Kontraktor dituntut menyediakan personil-personil yang berkualitas di bidangnya dalam melaksanakan pekerjaan. Personil ini sekiranya berkemampuan teknis, berpengalaman, dan memiliki manajemen yang baik karena berhadapan langsung dengan masalah perencanaan, pengaturan, dan pengendalian sumber daya yang ada. Tanpa dukungan kemampuan ini, maka pemahaman mengenai pekerjaan tidak mungkin dapat diketahui atau dikuasai dengan tepat dan benar.

commit to user

(Soeharto, 1995). Contigencies adalah cadangan biaya dari suatu perkiraan biaya/anggaran untuk dialokasikan dalam estimasi biaya untuk menanggulangi adanya kemungkinan kesalahan perhitungan. Sebagai contoh kesalahan perhitungan untuk harga dan kuantitas material.

11) Tidak memperhatikan faktor resiko pada lokasi proyek (Soeharto, l995). Faktor ini bertujuan menutup kemungkinan adanya resiko yang dapat terjadi selama proses konstruksi, seperti terjadinya kecelakaan kerja. Kecelakaan kerja dapat terjadi selama pelaksanaan proyek yang mengakibatkan cacat secara fisik, hilangnya semangat kerja, dan trauma. Hal ini akan memerlukan tambahan biaya untuk semua yang berhubungan dengan pengobatan. Tidak diperhitungkannya faktor resiko pada estimasi biaya akan mengakibatkan pembengkakan biaya apabila resiko benar-benar terjadi di lapangan.

12) Tidak memperhitungkan pengaruh inflasi dan eskalasi (Soeharto, 1995). Pada estimasi biaya proyek perlu diperhitungkan faktor inflasi dan eskalasi untuk mengantisipasi adanya perubahan harga karena waktu, terutama jika jangka waktu penyelesaian proyek cukup lama. Inflasi dan eskalasi berdampak terhadap biaya proyek yang rnenyangkut harga material, tenaga kerja, dan peralatan.

2.2.5.3 Penyebab Pembengkakan yang Diakibatkan oleh Pemilik: