Akad Perjanjian Dalam Islam. pdf

LAMPIRAN:
Keputusan Ketua Bapepam dan LK
Nomor
: Kep- ………./BL/……….
Tanggal
: ………………
DRAFT PERATURAN NOMOR IX.A.14 :

AKAD-AKAD YANG DIGUNAKAN DALAM
PENERBITAN EFEK SYARIAH DI PASAR MODAL

1. Definisi
a. Ijarah adalah perjanjian (akad) antara pihak pemberi sewa/pemberi jasa (mu’jir) dan pihak
penyewa/pengguna jasa (musta’jir) untuk memindahkan hak guna (manfaat) atas suatu
objek Ijarah dalam waktu tertentu dengan pembayaran sewa (ujrah) tanpa diikuti dengan
pemindahan objek Ijarah itu sendiri.
b. Istishna adalah perjanjian (akad) antara pihak pemesan/pembeli (mustashni’) dan pihak
pembuat/penjual (shani’) untuk membuat objek Istishna dengan kriteria dan persyaratan
yang telah disepakati kedua belah Pihak.
c.

Kafalah adalah perjanjian (akad) antara pihak penjamin (kafiil/guarantor) dan pihak yang
dijamin (makfuul ‘anhu/ashiil/orang yang berutang) untuk menjamin kewajiban pihak yang
dijamin kepada Pihak lain (makfuul lahu/orang yang berpiutang).

d. Mudharabah (qiradh) adalah perjanjian (akad) antara pihak penyedia dana (shahib al-mal)
dan pihak pengelola usaha (mudharib) untuk menyerahkan dana dalam rangka pengelolaan
usaha.
e. Musyarakah adalah perjanjian (akad) antara dua Pihak atau lebih (syarik) untuk
menyerahkan modal baik dalam bentuk uang maupun bentuk aset lainnya dalam rangka
pengelolaan usaha.
f.

Wakalah adalah perjanjian (akad) antara pihak pemberi kuasa (muwakkil) dan pihak
penerima kuasa (wakil) untuk memberikan kuasa dalam melakukan tindakan atau perbuatan
tertentu.

2. Ijarah
a. Persyaratan Pihak yang terlibat dalam Ijarah
Pihak pemberi sewa/pemberi jasa dan pihak penyewa/pengguna jasa wajib memiliki
kecakapan dan kewenangan untuk melakukan perbuatan hukum menurut ketentuan dan
peraturan perundang-undangan yang berlaku.
b. Hak dan kewajiban Pihak yang terlibat dalam Ijarah
1) Hak dan kewajiban pihak pemberi sewa/pemberi jasa adalah:
a) menerima pembayaran harga sewa atau upah sesuai yang disepakati dalam Ijarah;
b) menyediakan barang yang disewakan atau jasa yang diberikan sesuai yang
disepakati dalam Ijarah;
c) menanggung biaya pemeliharaan barang yang disewakan;
d) bertanggung jawab atas kerusakan barang yang disewakan yang bukan disebabkan
oleh pelanggaran dari penggunaan yang dibolehkan atau bukan karena kelalaian
pihak penyewa;
e) menjamin bahwa barang yang disewakan atau jasa yang diberikan dapat digunakan
sesuai dengan maksud dan tujuan penyewaan;
f)

menyatakan secara tertulis bahwa pihak pemberi sewa/pemberi jasa menyerahkan
hak penggunaan atau pemanfaatan atas suatu barang dan atau memberikan jasa
yang dimilikinya kepada pihak penyewa/pengguna jasa (pernyataan ijab).

2) Hak dan kewajiban pihak penyewa/pengguna jasa adalah:
a) membayar harga sewa atau upah sesuai yang disepakati dalam Ijarah;

b) menerima dan memanfaatkan barang dan atau jasa sesuai yang disepakati dalam
Ijarah;
c) menanggung biaya pemeliharaan barang yang sifatnya ringan (tidak material) sesuai
yang disepakati dalam Ijarah;
d) bertanggung jawab untuk menjaga keutuhan barang serta menggunakannya sesuai
yang disepakati dalam Ijarah;
e) bertanggung jawab atas kerusakan barang yang disewakan yang disebabkan oleh
pelanggaran dari penggunaan yang dibolehkan atau karena kelalaian pihak
penyewa; dan
f)

c.

menyatakan secara tertulis bahwa pihak penyewa atau penerima jasa menerima hak
penggunaan atau pemanfaatan atas suatu barang dan atau memberikan jasa yang
dimiliki pihak pemberi sewa/pemberi jasa (pernyataan qabul).

Persyaratan objek Ijarah
Objek Ijarah dapat berupa manfaat barang dan atau jasa yang memenuhi ketentuan sebagai
berikut:
1) manfaat barang atau jasa harus dapat dinilai dengan uang;
2) manfaat atas barang atau jasa dapat diserahkan kepada pihak penyewa atau pengguna
jasa;
3) manfaat barang atau jasa harus yang bersifat tidak dilarang oleh syariah Islam (tidak
diharamkan);
4) manfaat barang atau jasa harus ditentukan dengan jelas; dan
5) spesifikasi barang atau jasa harus dinyatakan dengan jelas, antara lain melalui
identifikasi fisik, kelaikan, dan jangka waktu pemanfaatannya.

d. Persyaratan penetapan harga sewa atau upah
Penetapan harga sewa atau upah wajib memenuhi ketentuan sebagai berikut:
1) besarnya harga sewa atau upah dan cara pembayarannya ditetapkan secara tertulis
dalam Ijarah; dan
2) alat pembayaran harga sewa atau upah adalah dalam bentuk uang.
e. Ketentuan lain yang dapat diatur dalam Ijarah
Selain wajib memenuhi ketentuan di atas, dalam Ijarah dapat disepakati antara lain hal-hal
sebagai berikut:
1) para Pihak dapat menentukan harga sewa atau upah untuk periode waktu tertentu dan
meninjau kembali harga sewa atau upah yang berlaku untuk periode berikutnya;
2) para Pihak dapat menyepakati adanya uang muka Ijarah; dan atau
3) penunjukan Pihak lain untuk menyelesaikan perselisihan antara pihak pemberi
sewa/pihak pemberi jasa dan pihak penyewa/pengguna jasa.

3. Istishna
a. Persyaratan Pihak yang terlibat dalam Istishna
Pihak pemesan/pembeli dan pihak pembuat/penjual wajib memiliki kecakapan dan
kewenangan untuk melakukan perbuatan hukum menurut ketentuan dan peraturan
perundang-undangan yang berlaku.
b. Hak dan kewajiban Pihak yang terlibat dalam Istishna
1) Hak dan kewajiban pihak pemesan/pembeli adalah:
a) melakukan pembayaran (pokok dan/atau biaya lain) atas objek Istishna sesuai
dengan kesepakatan;
b) mengetahui secara jelas objek Istishna;
c) menerima objek Istishna dalam keadaan baik dan siap dioperasikan sesuai
spesifikasi yang diperjanjikan;

d) menerima objek Istishna sesuai dengan waktu dan tempat yang disepakati;
e) pihak pemesan/pembeli memiliki hak memilih (khiyar) untuk melanjutkan atau
membatalkan akad apabila terdapat cacat atau barang yang tidak sesuai dengan
kesepakatan.
2) Hak dan kewajiban pihak pembuat/penjual adalah:
a) memperoleh pembayaran dengan jumlah dan cara sesuai yang diperjanjikan;
b) mengetahui secara jelas objek Istishna;
c) menyediakan objek Istishna sesuai dengan spesifikasi yang disepakati;
d) menjamin objek Istishna tidak cacat dan/atau tidak berfungsi;
e) menyediakan objek Istishna sesuai dengan waktu yang diperjanjikan.
c.

Persyaratan objek Istishna
Objek Istishna adalah barang yang memenuhi ketentuan sebagai berikut :
1) tidak bertentangan dengan prinsip syariah;
2) ciri dan spesifikasi harus jelas dan dapat diakui sebagai utang serta wajib dituangkan
secara tertulis dalam akad;
3) penyerahan barang baik seluruh maupun sebagian dari pihak pembuat/penjual kepada
pihak pemesan/pembeli wajib dituangkan secara tertulis dalam akad meliputi waktu,
tempat dan cara penyerahan. Penyerahan dimaksud dilakukan setelah waktu akad
berdasarkan kesepakatan;
4) pihak pemesan/pembeli tidak boleh menukar barang kecuali dengan barang sejenis
sesuai kesepakatan;
5) dalam hal terdapat cacat atau barang tidak sesuai dengan kesepakatan, pihak
pemesan/pembeli memiliki hak memilih (khiyar) untuk melanjutkan atau membatalkan
akad;
6) harga jual objek Istishna ditetapkan secara tertulis dalam akad Istishna dan tidak boleh
berubah selama masa Istishna.

d. Pembayaran objek Istishna
1) pembayaran objek Istishna dapat dilakukan secara tunai dan atau cicilan sejak akad
ditandatangani atau dengan cara pembayaran lain sesuai kesepakatan;
2) pembayaran tidak boleh dalam bentuk pembebasan utang;
3) pembayaran harus diketahui jumlah dan bentuknya, baik dalam bentuk uang, barang
atau manfaat sesuai dengan kesepakatan.
e. Ketentuan lain yang dapat diatur dalam akad Istishna
Selain wajib memenuhi ketentuan di atas, dalam Istishna dapat disepakati antara lain hal-hal
sebagai berikut:
1) dalam memenuhi kewajibannya kepada pihak pemesan/pembeli , pihak pembuat/penjual
dapat melakukan Istishna lagi dengan Pihak lain pada objek yang sama, dengan
ketentuan:
a) syarat Istishna pertama tidak bergantung (mu’allaq) pada Istishna kedua;
b) pihak pemesan/pembeli tidak diperkenankan untuk memungut MDC (margin during
construction) dari pihak pembuat/penjual karena hal ini tidak sesuai dengan prinsip
syariah.
2) ketentuan mengenai biaya-biaya yang ditanggung oleh masing-masing Pihak apabila
terdapat kerusakan, kehilangan atau tidak berfungsinya objek Istishna;
3) ketentuan mengenai jaminan dan asuransi;
4) ketentuan mengenai pengakhiran transaksi yang belum jatuh tempo;
5) penunjukan Pihak lain untuk menyelesaikan perselisihan antara para Pihak dalam
Istishna.

4. Kafalah
a. Persyaratan Pihak yang terlibat dalam Kafalah
pihak penjamin dan pihak yang dijamin wajib memiliki kecakapan dan kewenangan untuk
melakukan perbuatan hukum menurut ketentuan dan peraturan perundang-undangan yang
berlaku.
b. Kewajiban Pihak yang terlibat dalam Kafalah
1) kewajiban pihak penjamin adalah sebagai berikut:
a) memiliki harta yang cukup untuk menjamin kewajiban pihak yang dijamin kepada
Pihak lain;
b) memiliki kewenangan penuh untuk menggunakan hartanya sebagai jaminan atas
pemenuhan kewajiban pihak yang dijamin kepada Pihak lain; dan
c) menyatakan secara tertulis bahwa pihak penjamin menjamin kewajiban pihak yang
dijamin kepada Pihak lain (pernyataan ijab).
2) kewajiban pihak yang dijamin adalah sebagai berikut:
a) menyerahkan kewajibannya (utangnya) kepada pihak penjamin; dan
b) menyatakan secara tertulis bahwa pihak yang dijamin telah menerima jaminan dari
pihak penjamin (pernyataan qabul).
c.

Bentuk penjaminan dalam Kafalah
Penjaminan dalam Kafalah dapat berupa jaminan kebendaan dan atau jaminan umum,
seperti jaminan perusahaan (corporate guarantee) dan jaminan pribadi (personal guarantee).

d. Persyaratan objek Kafalah
Objek Kafalah adalah kewajiban (utang) pihak yang dijamin kepada Pihak lain yang
memenuhi ketentuan sebagai berikut:
1) kewajiban dimaksud dapat berupa kewajiban pembayaran sejumlah uang, penyerahan
barang, dan atau pelaksanaan pekerjaan;
2) kewajiban dimaksud harus jelas nilai, jumlah, dan spesifikasinya;
3) kewajiban dimaksud bukan merupakan kewajiban yang timbul dari hal-hal yang
bertentangan dengan syariah Islam; dan
4) harus merupakan piutang mengikat (lazim) yang tidak mungkin hapus kecuali setelah
dibayar atau dibebaskan.
e. Ketentuan lain yang dapat diatur dalam Kafalah
Selain wajib memenuhi ketentuan di atas, dalam Kafalah dapat disepakati antara lain hal-hal
sebagai berikut:
1) para Pihak dapat menetapkan besarnya imbalan (fee) atas penjaminan yang dilakukan
oleh pihak penjamin. Dalam hal para Pihak menyepakati adanya imbalan (fee)
sebagaimana tersebut di atas, maka Kafalah tersebut bersifat mengikat dan tidak dapat
dibatalkan secara sepihak;
2) penunjukan Pihak lain untuk menyelesaikan perselisihan antara para Pihak dalam
Kafalah; dan atau
3) jangka waktu penjaminan dalam Kafalah.

5. Mudharabah
a. Persyaratan Pihak yang terlibat dalam Mudharabah
Pihak penyedia dana dan pihak pengelola usaha wajib memiliki kecakapan dan kewenangan
untuk melakukan perbuatan hukum menurut ketentuan dan peraturan perundang-undangan
yang berlaku.
b. Hak dan kewajiban Pihak yang terlibat dalam Mudharabah
1) Hak dan kewajiban pihak penyedia dana adalah:

a) menerima bagian laba tertentu sesuai yang disepakati dalam Mudharabah;
b) meminta jaminan dari pihak pengelola usaha atau pihak ketiga yang dapat
digunakan apabila pihak pengelola usaha melakukan pelanggaran atas akad
Mudharabah. Jaminan tersebut dapat berupa jaminan kebendaan dan atau jaminan
umum, seperti jaminan perusahaan (corporate guarantee) dan jaminan pribadi
(personal guarantee);
c) mengawasi pelaksanaan kegiatan usaha yang dilakukan oleh pihak pengelola
usaha;
d) menyediakan seluruh modal yang disepakati;
d) menanggung seluruh kerugian usaha yang tidak diakibatkan oleh kelalaian,
kesengajaan dan atau pelanggaran pengelola usaha atas Mudharabah; dan
f)

menyatakan secara tertulis bahwa pihak penyedia dana menyerahkan modal kepada
pihak pengelola usaha untuk dikelola oleh pihak pengelola usaha sesuai dengan
kesepakatan (pernyataan ijab).

2) Hak dan kewajiban pihak pengelola usaha adalah:
a) menerima bagian laba tertentu sesuai yang disepakati dalam Mudharabah;
b) mengelola kegiatan usaha untuk tercapainya tujuan Mudharabah tanpa campur
tangan pihak penyedia dana;
c) mengelola modal yang telah diterima dari pihak penyedia dana sesuai dengan
kesepakatan, dan memperhatikan syariah Islam serta kebiasaan yang berlaku;
d) menanggung seluruh kerugian usaha yang diakibatkan oleh kelalaian, kesengajaan
dan atau pelanggaran pihak pengelola usaha atas Mudharabah; dan
e) menyatakan secara tertulis bahwa pihak pengelola usaha telah menerima modal dari
pihak penyedia dana dan berjanji untuk mengelola modal tersebut sesuai dengan
kesepakatan (pernyataan qabul).
c.

Persyaratan modal yang dapat dikelola dalam Mudharabah
Modal yang dapat dikelola dalam Mudharabah wajib memenuhi ketentuan sebagai berikut:
1) berupa sejumlah uang dan atau aset, baik berupa benda berwujud maupun tidak
berwujud, yang dapat dinilai dengan uang;
2) jika modal yang diberikan dalam bentuk selain uang, maka nilai benda tersebut harus
disepakati pada waktu akad;
3) tidak berupa piutang atau tagihan, baik tagihan kepada pihak pengelola usaha maupun
kepada Pihak lain; dan
4) dapat diserahkan kepada pihak pengelola usaha dengan cara seluruh atau sebagian
pada waktu dan tempat yang telah disepakati.

d. Persyaratan kegiatan usaha dalam Mudharabah
Kegiatan usaha yang dapat dijalankan dalam Mudharabah wajib memenuhi ketentuan
sebagai berikut:
1) tidak bertentangan dengan ketentuan Peraturan Nomor IX.A.13 tentang Penerbitan Efek
Syariah; dan
2) dilarang dikaitkan (mu’allaq) dengan sebuah kejadian di masa yang akan datang yang
belum tentu terjadi.
e. Pembagian keuntungan dalam Mudharabah
Pembagian keuntungan dalam Mudharabah wajib memenuhi ketentuan sebagai berikut:
1) keuntungan Mudharabah adalah selisih lebih dari kekayaan Mudharabah dikurangi
dengan modal Mudharabah dan kewajiban kepada Pihak lain yang terkait dengan
kegiatan Mudharabah;
2) keuntungan Mudharabah merupakan hak pihak penyedia dana dan pihak pengelola
usaha dimana besarnya bagian sesuai dengan kesepakatan; dan

3) besarnya bagian keuntungan masing-masing Pihak wajib dituangkan secara tertulis
dalam bentuk persentase (nisbah).
f.

Ketentuan lain yang dapat diatur dalam Mudharabah
Selain wajib memenuhi kektentuan di atas, dalam Mudharabah dapat disepakati antara lain
hal-hal sebagai berikut:
1) jangka waktu tertentu untuk masa berlakunya Mudharabah;
2) pihak pengelola usaha menyediakan biaya operasional sesuai kesepakatan dalam
Mudharabah; dan atau
3) penunjukan Pihak lain untuk menyelesaikan perselisihan antara pihak penyedia dana
dengan pihak pengelola usaha.

6. Musyarakah
a. Persyaratan Pihak yang terlibat dalam Musyarakah
Pihak yang terlibat dalam Musyarakah wajib memiliki kecakapan dan kewenangan untuk
melakukan perbuatan hukum menurut ketentuan dan peraturan perundang-undangan yang
berlaku.
b. Hak dan kewajiban Pihak yang terlibat dalam Musyarakah
Setiap Pihak yang terlibat dalam Musyarakah memiliki hak dan kewajiban yang sama, yaitu:
1) wajib menyediakan modal sesuai dengan tujuan akad, baik dalam porsi yang sama atau
tidak sama dengan Pihak lainnya;
2) wajib menyediakan tenaga dalam bentuk partisipasi dalam kegiatan usaha Musyarakah.
Dalam hal satu atau lebih Pihak tidak dapat berpartisipasi dalam kegiatan usaha
Musyarakah, maka hal ini wajib disepakati dalam akad;
3) berhak menerima bagian laba tertentu sesuai dengan rasio (nisbah) yang disepakati
dalam akad;
4) wajib menanggung kerugian secara proporsional berdasarkan kontribusi modal masingmasing Pihak;
5) berhak mengusulkan bahwa jika keuntungan melebihi jumlah tertentu, maka kelebihan
dimaksud dapat diberikan kepada satu atau lebih Pihak;
6) berhak meminta jaminan kepada Pihak yang lain untuk menghindari terjadinya
penyimpangan.
c.

Persyaratan modal dalam Musyarakah
Modal yang disetorkan dalam Musyarakah wajib memenuhi ketentuan sebagai berikut:
1) berupa sejumlah uang dan/atau aset lainnya, baik berupa benda berwujud maupun tidak
berwujud yang dapat dinilai dengan uang;
2) jika modal yang diberikan dalam bentuk aset selain uang, maka aset tersebut harus
dinilai oleh penilai independen dan nilai aset tersebut harus disepakati para Pihak pada
waktu akad;
3) jika modal yang diberikan dalam bentuk aset selain uang, maka aset tersebut tidak
sedang dijaminkan, tidak dalam status sengketa atau tidak dalam status sitaan;
4) tidak berupa piutang atau tagihan semata di antara para Pihak dan atau kepada Pihak
lain.

d. Persyaratan kegiatan usaha dan cara pengelolaan dalam Musyarakah
1) kegiatan usaha yang dapat dijalankan dalam Musyarakah tidak bertentangan dengan
ketentuan Peraturan Nomor IX.A.13 tentang Penerbitan Efek Syariah;
2) kewajiban pengelolaan aset Musyarakah sesuai dengan akad;
3) pihak yang mengelola Musyarakah dilarang antara lain untuk menginvestasikan,
meminjam, meminjamkan, menyumbangkan atau menghadiahkan modal Musyarakah di
luar tujuan akad, kecuali atas dasar kesepakatan.

e. Pembagian keuntungan dan kerugian
Pembagian keuntungan dan kerugian dalam Musyarakah wajib memenuhi ketentuan
sebagai berikut:
1) keuntungan Musyarakah adalah selisih lebih dari kekayaan Musyarakah setelah
dikurangi dengan modal Musyarakah dan kewajiban kepada Pihak lain yang terkait
dengan kegiatan Musyarakah;
2) untuk kepentingan pembagian keuntungan secara periodik, maka keuntungan
Musyarakah dihitung berdasarkan selisih lebih dari kekayaan Musyarakah akhir periode
setelah dikurangi dengan modal Musyarakah awal periode dan kewajiban akhir periode
kepada Pihak lain yang terkait dengan kegiatan Musyarakah;
3) seluruh keuntungan Musyarakah harus dibagikan kepada para Pihak secara
proporsional dan tidak diperkenankan menentukan jumlah nominal keuntungan atau
persentase tertentu dari modal bagi satu atau lebih Pihak pada awal kesepakatan;
4) dalam hal terdapat satu atau lebih Pihak yang memberikan kontribusi lebih dalam
pengelolaan, maka Pihak tersebut dapat menerima bagi hasil tambahan sesuai dengan
kesepakatan;
5) besarnya bagian keuntungan masing-masing Pihak wajib dituangkan secara tertulis
dalam bentuk persentase (nisbah); dan
6) kerugian Musyarakah harus dibagi di antara para Pihak secara proporsional berdasarkan
kontribusi modal.
f.

Ketentuan lain yang dapat diatur dalam Musyarakah
Dalam Musyarakah dapat disepakati antara lain hal-hal sebagai berikut:
1) biaya operasional dibebankan pada modal bersama;
2) jangka waktu tertentu untuk masa berlakunya Musyarakah.

7. Wakalah
a. Persyaratan Pihak yang terlibat dalam Wakalah
Pihak pemberi kuasa dan pihak penerima kuasa wajib memiliki kecakapan dan kewenangan
untuk melakukan perbuatan hukum menurut ketentuan dan peraturan perundang-undangan
yang berlaku.
b. Kewajiban Pihak yang terlibat dalam Wakalah
1) kewajiban pihak pemberi kuasa adalah sebagai berikut:
a) memiliki kewenangan untuk melakukan perbuatan hukum terhadap hal-hal yang
boleh dikuasakan; dan
b) menyatakan secara tertulis bahwa pihak pemberi kuasa memberikan kuasa kepada
pihak penerima kuasa untuk melakukan perbuatan hukum tertentu (pernyataan ijab).
2) kewajiban pihak penerima kuasa adalah sebagai berikut:
a) memiliki kemampuan untuk melaksanakan perbuatan hukum yang dikuasakan
kepadanya;
b) melaksanakan perbuatan hukum yang dikuasakan kepadanya serta dilarang
memberi kuasa kepada Pihak lain kecuali atas persetujuan pihak pemberi kuasa;
dan
c) menyatakan secara tertulis bahwa pihak penerima kuasa telah menerima kuasa dari
pihak pemberi kuasa untuk melakukan perbuatan hukum tertentu (pernyataan qabul).
c.

Persyaratan objek Wakalah
Objek Wakalah adalah perbuatan hukum yang memenuhi syarat sebagai berikut:
1) diketahui dengan jelas jenis perbuatan hukum yang
melaksanakan perbuatan hukum yang dikuasakan tersebut;
2) tidak bertentangan dengan syariah Islam; dan

dikuasakan

serta

cara

3) dapat dikuasakan menurut syariah Islam.
d. Ketentuan lain yang dapat diatur dalam Wakalah
Selain wajib memenuhi ketentuan di atas, dalam Wakalah dapat disepakati antara lain halhal sebagai berikut:
1) para Pihak dapat menetapkan besarnya imbalan (fee) atas pelaksanaan perbuatan
hukum yang dikuasakan. Dalam hal para Pihak menyepakati adanya imbalan (fee),
maka Wakalah tersebut bersifat mengikat dan tidak dapat dibatalkan secara sepihak;
2) penunjukan Pihak lain untuk menyelesaikan perselisihan antara para Pihak dalam
Wakalah; dan atau
3) jangka waktu pemberian kuasa.

Ditetapkan di : Jakarta
Pada tanggal : ………………….
Ketua Badan Pengawas Pasar Modal
dan Lembaga Keuangan

Nurhaida
NIP 19590627 198902 2 001

Dokumen yang terkait

Dokumen baru