Perbandingan Metode Sederhana dengan Metode Activity Based Costing untuk Perhitungan Kos Produk (Studi Kasus Perusahaan X-Bandung).

(1)

vii Universitas Kristen Maranatha

ABSTRAK

Dunia usaha terus mengalami perkembangan. Perkembangan usaha ini diiringi juga dengan meningkatnya kompetisi. Kompetisi dapat berupa kompetisi harga jual yang lebih menarik bagi konsumen. Untuk bertahan dalam kompetisi tersebut, perusahaan harus menentukan harga jual secara tepat. Harga jual yang tepat ditentukan dari perhitungan kos produksi yang akurat. Metode perhitungan kos berbasis aktivitas (metode ABC) dapat membantu perusahaan untuk menetapkan kos produk lebih akurat.

Dari hasil penelitian yang telah dilakukan diketahui bahwa selama ini perusahaan menggunakan metode konvensional, dan dari hasil perhitungan diperoleh hasil bahwa kos produk untuk produk kerupuk putih adalah Rp 34.241,76 dan untuk produk kerupuk bawang sebesar Rp 38.157,95. Sedangkan dengan menggunakan metode ABC, hasil perhitungan menunjukan kos produk kerupuk putih Rp 34.208,25 dan kerupuk bawang sebesar Rp 38.343,90.

Kesimpulan dari perhitungan kos produk dengan menggunakan metode konvensional dan metode ABC menunjukkan bahwa hasil perhitungan kos produk relatif tidak berbeda, sehingga metode konvensional masih dapat mengakomodasi kebutuhan perusahaan karena kos yang dikeluarkan perusahaan untuk menerapkan metode ABC tidak sebesar keuntungan yang akan diperoleh perusahaan.


(2)

viii Universitas Kristen Maranatha

ABSTRACT

The business world continues growth. The development of business is accompanied also by increased competition. Competition can be a selling price competition that more attractive to consumers. To survive in the competition, companies must determine the exact sale price. The right selling price is determined from the accurate calculation of production cost. Activity-based cost calculation method (ABC) can help companies to establish more accurate product cost.

From the research that has been made until now the company is known that companies using the conventional method, and from the calculation that the cost of products results for “kerupuk putih” products is Rp 34,241.76 and for “kerupuk

bawang” products amounted to Rp 38,157.95 . While using the ABC method, the calculation results “kerupuk putih” product cost Rp 34,208.25 and “kerupuk

bawang” Rp 38,343.90.

Conclusion of the product cost calculation using the conventional method and ABC method shows that the calculation of product cost is relatively no different, so that conventional methods can still accommodate the needs of the company because cost to apply the ABC method would not be of benefit to obtained by the company.


(3)

ix Universitas Kristen Maranatha

DAFTAR ISI

Halaman

HALAMAN JUDUL ... i

HALAMAN PENGESAHAN ... ii

SURAT PERNYATAAN KEASLIAN SKRIPSI ... iii

KATA PENGANTAR ... iv

ABSTRACT ... vii

ABSTRAK ... viii

DAFTAR ISI ... ix

DAFTAR GAMBAR ... xiii

DAFTAR TABEL ... xiv

BAB I PENDAHULUAN ... 1

1.1.Latar Belakang Penelitian ... 1

1.2.Identifikasi Masalah ... 3

1.3.Tujuan Penelitian ... 4

1.4.Kegunaan Penelitian... 4

BAB II KAJIAN PUSTAKA DAN KERANGKA PEMIKIRAN ... 6

2.1.Akuntansi Manajemen ... 6

2.1.1. Pengertian Akuntansi Manajemen ... 6

2.1.2. Tujuan Akuntansi Manajemen ... 7

2.1.3. Hubungan Akuntansi Keuangan, Akuntansi Biaya, dan Akuntansi Manajemen ... 9


(4)

x Universitas Kristen Maranatha

2.2.Kos ... 11

2.2.1. Perbedaan Kos dan Beban ... 11

2.2.2. Penetapan Kos dan Alokasi Kos ... 14

2.2.3. Kos Overhead ... 14

2.2.3.1. Karakteristik Overhead ... 14

2.2.3.2. Objek Kos... 15

2.2.3.3. Kelompok Kos ... 16

2.2.3.4. Metode Penelusuran Kos... 17

2.2.3.5. Pemicu Kos ... 19

2.2.4. Klasifikasi Kos Manufaktur ... 20

2.2.5. Kos Produk ... 21

2.3.Activity Based Costing ... 23

2.3.1. Pengertian ... 23

2.3.2. Pemicu Aktivitas ... 24

2.3.3. Kamus Aktivitas ... 24

2.3.4. Tahap-tahap ABC... 25

2.3.5. Hierarki Kos ... 29

2.3.6. Manfaat ABC ... 31

2.3.7. Keterbatasan ABC ... 32

2.4.Kerangka Pemikiran ... 33

BAB III METODE PENELITIAN... 35

3.1. Objek Penelitian ... 35


(5)

xi Universitas Kristen Maranatha

3.2. Metode Penelitian... 35

3.2.1. Metode Pengumpulan Data ... 36

3.2.2. Teknik Pengumpulan Data ... 36

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... 41

4.1. Sistematika Pembahasan ... 41

4.2. Penggolongan Kos pada Perusahaan ... 42

4.2.1. Kos Langsung... 42

4.2.2. Kos Tidak Langsung ... 44

4.3. Perhitungan Kos Overhead pada Perusahaan X ... 46

4.4. Perhitungan Kos Produk pada Perusahaan X ... 49

4.5. Perhitungan Kos Overhead Produk Menggunakan Metode ABC... 50

4.5.1. Klasifikasi Aktivitas ... 51

4.5.2. Penetapan Kos Sumber Daya ke Aktivitas... 54

4.5.3. Penetapan Kos Aktivitas Sekunder ke Aktivitas Primer ... 63

4.5.4. Jumlah Konsumsi Aktivitas ... 65

4.5.5. Perhitungan Anggaran Tarif Aktivitas ... 66

4.5.6. Penetapan Kos Aktivitas ke Objek Kos ... 67

4.6. Perbandingan perhitungan kos yang digunakan pada perusahaan dengan perhitungan kos menggunakan sistem ABC ... 69

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ... 72

5.1. Kesimpulan ... 72


(6)

xii Universitas Kristen Maranatha DAFTAR PUSTAKA ... 75 DAFTAR RIWAYAT HIDUP PENULIS (CURRICULUMVITAE) ... 77


(7)

xiii Universitas Kristen Maranatha

DAFTAR GAMBAR

Halaman

Gambar 1. Model Operasional: Sistem Informasi Akuntansi Manajemen ...8

Gambar 2. Metode Penetapan Kos ...19

Gambar 3. Model Activity Based Costing ...26

Gambar 4. Kerangka Pemikiran ...34


(8)

xiv Universitas Kristen Maranatha

DAFTAR TABEL

Halaman

Tabel I.

Analisis Data dan Teknik Pengumpulan Data ...37

Tabel II. Daftar Penyusutan Mesin ... 46

Tabel III. Kos overhead yang dianggarkan ... 48

Tabel IV. Perhitungan Kos Produk Kerupuk Putih dan Kerupuk Bawang .... 50

Tabel V. Aktivitas dan Tipe Aktivitas ... 53

Tabel VI. Alokasi Kos Tenaga Kerja ... 55

Tabel VII. Alokasi Kos Mandor ... 56

Tabel VIII. Anggaran Jumlah Jam Mesin ... 57

Tabel IX. Alokasi Kos Listrik ... 57

Tabel X. Alokasi Kos Penyusutan Pabrik ... 58

Tabel XI. Alokasi Kos Penyusutan Gudang ... 59

Tabel XII. Alokasi Kos Pemeliharaan Mesin ... 59

Tabel XIII. Penetapan Kos Sumber Daya ke Aktivitas... 60

Tabel XIV. Alokasi Kos Sekunder ke Kos Primer (%) ... 63

Tabel XV. Alokasi Kos Primer ke Kos Sekunder (Rp) ... 64

Tabel XVI. Konsumsi Aktivitas untuk Setiap Produk dalam Satu Tahun ... 66

Tabel XVII. Perhitungan Anggaran Tarif Aktivitas ... 67

Tabel XVIII. Penetapan Kos Aktivitas Ke Produk ... 68

Tabel XIX. Perbandingan perhitungan kos yang digunakan perusahaan dengan metode ABC ... 71


(9)

Bab I Pendahuluan

1 Universitas Kristen Maranatha

BAB I

PENDAHULUAN

1.1Latar Belakang Penelitian

Di era masa kini, dunia usaha terus mengalami perkembangan. Perkembangan usaha tersebut diiringi juga dengan meningkatnya kompetisi dalam menarik konsumen. Kompetisi ini mengakibatkan adanya perusahaan-perusahaan yang berhenti beroperasi. Perusahaan yang mampu bertahan dalam persaingan adalah perusahaan yang terus melakukan perbaikan-perbaikan. Persaingan dapat terjadi pula dengan kompetisi harga jual yang lebih menarik bagi konsumen. Untuk bertahan dalam kompetisi tersebut, perusahaan harus menentukan harga jual secara tepat. Harga jual yang tepat ditentukan dari perhitungan kos produksi yang akurat.

Perhitungan kos produk merupakan bagian penting dalam suatu perusahaan. Seringkali terjadi salah hitung dalam penentuan kos produk. Salah hitung kos produk tersebut menyebabkan penetapan harga jual yang kurang tepat Kesalahan hitung dapat disebabkan besarnya kos overhead. Kos overhead termasuk kos tidak langsung yang tidak dapat ditelusuri secara mudah dan akurat ke objek kos (Hansen Mowen, 2006:36).

Perusahaan X adalah sebuah perusahaan yang berlokasi di Bandung, dan beroperasi memproduksi makanan ringan, yaitu kerupuk mentah. Perusahaan X ini memiliki dua macam produk. Produk tersebut adalah kerupuk ikan dan kerupuk bawang. Dalam perhitungan kos produksinya, perusahaan X masih menggunakan metode sederhana.


(10)

Bab I Pendahuluan 2

Universitas Kristen Maranatha Dalam penggunaan metode sederhana ini, perusahaan X menetapkan kos produk dengan penelusuran langsung dan alokasi kos overhead. Penelusuran langsung dilakukan dengan proses mengidentifikasi dan menetapkan kos secara khusus dan secara fisik terkait dengan objek kos. Penelusuran langsung dapat dilakukan dengan pengamatan fisik. (Hansen, 2005:38). Perusahaan X melakukan penetapan kos overhead ke produk dengan perhitungan menggunakan metode alokasi. Metode alokasi ini dilakukan berdasarkan jumlah produksi yang dihasilkan. Metode alokasi dilakukan dengan estimasi berdasarkan kemudahan. Metode alokasi dapat menyebabkan terjadinya ketidakakuratan dalam penetapan kos produk.

Ketidakakuratan perhitungan kos produk yang selama ini digunakan pada perusahaan X dapat saja mengakibatkan kesalahan menetapkan kos produk. Kesalahan penetapan kos produk ini mungkin terjadi pada produk yang mengkonsumsi sumber daya di tingkat yang tinggi tetapi dilaporkan memiliki kos per unit yang rendah (over costing) atau produk mengkonsumsi sumber daya di tingkat yang rendah dilaporkan memiliki kos per unit yang tinggi (under costing) (Horngren, 2006: 132).

Sistem perhitungan kos berbasis aktivitas (Activity Based Costing system-Sistem ABC) merupakan sistem kos yang penelusuran kos pertamanya dilakukan ke aktivitas, lalu menelusuri kos dari aktivitas ke produk (Hansen, 2005:122). Sistem perhitungan kos ini memperbaiki sistem perhitungan kos dengan menekankan pada aktivitas sebagai objek kos dasar (Horngren, 2006:136). Dasar perhitungan kos ini adalah bahwa produk atau jasa perusahaan merupakan hasil dari aktivitas dan aktivitas tersebut menggunakan sumber daya yang menyebabkan timbulnya kos (Blocher, 2005:165).


(11)

Bab I Pendahuluan 3

Universitas Kristen Maranatha Sistem ABC menggunakan pemicu kos berdasarkan aktivitas. Pemicu kos bersifat variabel, seperti tingkat dari aktivitas atau volume, yang secara kausal mempengaruhi kos lebih dari satu rentang waktu tertentu (Horngren,2006:30). Dengan menggunakan pemicu kos berdasarkan aktivitas, maka perhitungan kos produk dapat lebih akurat karena kos ditelusuri ke produk berdasarkan penggunaan aktivitasnya.

Oleh karena itu, penulis hendak membantu dengan menawarkan sistem perhitungan biaya produk yang didasarkan atas aktivitas yang dilakukan selama proses produksi atau dikenal dengan activity based costing system dengan judul : “Perbandingan Metode Konvensional dengan Metode Activity Based Costing

untuk Perhitungan Kos Produk (Studi Kasus Perusahaan X-Bandung).”

1.2Identifikasi Masalah

Perhitungan kos produk berperan penting dalam suatu perusahaan. Perusahaan dapat melakukan kesalahan dalam penentuan kos produknya disebabkan karena kos overhead yang ditetapkan pada masing-masing produk dihitung berdasarkan alokasi dalam penetapan kos produknya. Hal ini akan mengakibatkan penetapan kos produk tidak akurat, sehingga terdapat produk yang mengkonsumsi sumber daya di tingkat yang tinggi tetapi dilaporkan memiliki kos per unit yang rendah atau produk mengkonsumsi sumber daya di tingkat yang rendah dilaporkan memiliki kos per unit yang tinggi (Horngren, 2006: 132). Ketidakakuratan tersebut dapat menyebabkan kesalahan dalam pengambilan keputusan penentuan harga jual berdasarkan kos produk.


(12)

Bab I Pendahuluan 4

Universitas Kristen Maranatha Ketidakakuratan dalam penetapan kos produk ini dapat diatasi dengan perhitungan kos produk menggunakan sistem ABC. Sistem ABC melakukan perhitungan kos produk berdasarkan aktivitas yang ada dalam perusahaan. Sistem ABC menggunakan pemicu kos berdasarkan aktivitas sehingga dapat lebih akurat dalam penentuan kos produknya.

Berdasarkan uraian diatas, maka penulis membuat rumusan masalah sebagai berikut:

1. Bagaimana penetapan kos produk yang saat ini digunakan perusahaan X.

2. Bagaimana perhitungan kos produk menggunakan sistem ABC di perusahaan X.

1.3Tujuan Penelitian

Tujuan dari penelitian yang diadakan oleh penulis adalah untuk:

1. Mendeskripsikan bagaimana penetapan kos produk yang saat ini digunakan perusahaan X.

2. Menghitung kos produk menggunakan sistem ABC di perusahaan X.

1.4Kegunaan Penelitian

Manfaat yang dapat diberikan dari hasil penelitian yang dilakukan adalah: 1. Bagi perusahaan

Mengetahui dan memperoleh hasil dari penerapan sistem ABC dalam perhitungan kos produksi. Selain itu perusahaan juga dapat


(13)

Bab I Pendahuluan 5

Universitas Kristen Maranatha mengetahui keunggulan apa saja yang dapat diperoleh dari penerapan sistem ABC.

2. Bagi pihak-pihak lain khususnya rekan mahasiswa

Memberikan gambaran dan wawasan yang lebih luas mengenai penerapan sistem ABC dalam penetapan harga pokok produksi yang lebih akurat.

3. Bagi penulis

Menambah wawasan dan memperoleh kesempatan untuk memperdalam tentang sistem ABC dan penerapannya di suatu perusahaan.


(14)

Bab V Kesimpulan dan Saran

72 Universitas Kristen Maranatha

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1.Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dalam menghitung kos produk dengan menggunakan metode yang digunakan perusahaan dibandingkan dengan menggunakan metode ABC, maka dapat diperoleh kesimpulan sebagai berikut:

1. Perusahaan selama ini menggunakan sistem kos yang bersifat konvensional yaitu menggunakan jumlah unit sebagai pemicu kosnya, memperoleh hasil perhitungan produk untuk produk kerupuk putih Rp 34.241,76 dan untuk produk kerupuk bawang Rp 38.157,95.

2. Setelah dilakukan perhitungan kos produk menggunakan metode ABC, diperoleh hasil kos produk per unit untuk produk kerupuk putih Rp 34.208,25 dan kerupuk bawang Rp 38.343,90

3. Perhitungan kos produk yang dilakukan dengan menggunakan metode sederhana dan metode ABC, menghasilkan selisih untuk kedua produk. Untuk produk kerupuk putih terdapat selisih Rp 33,51 dan untuk kerupuk bawang Rp 185,95. Hasil perhitungan dari produk kedua jenis produk dengan metode sederhana dibandingkan metode ABC relatif tidak berbeda. Hal ini dikarenakan keterbatasan data yang diperoleh penulis sehingga hasil yang diperoleh tidak bisa mencerminkan secara keseluruhan perhitungan kos produk.


(15)

Bab V Kesimpulan dan Saran 73

Universitas Kristen Maranatha 4. Metode perhitungan sederhana yang digunakan perusahaan masih dapat

mengakomodasi kebutuhan perusahaan dalam mengambil keputusan. Selain itu, perhitungan sederhana yang digunakan perusahaan lebih mudah untuk diterapkan dibandingkan metode ABC.

5. Penggunaan metode sederhana yang digunakan perusahaan dapat menyebabkan penetapan kos yang terlalu tinggi atau terlalu rendah sehingga dapat mempengaruhi pengambilan keputusan bagi perusahaan karena pemicu kos yang digunakan kurang mewakili kos overhead secara keseluruhan. Sedangkan perhitungan kos dengan metode ABC mengasilkan penetapan kos yang lebih akurat karena kos overhead dialokasikan berdasarkan hubungan sebab akibat antara kos dengan aktivitas selama proses produksi. Selain itu, penetapan kos overhead sesuai dengan konsumsi sumber daya sehingga dapat meminimalkan terjadinya penetapan kos yang terlalu tinggi atau terlalu rendah.

5.2.Saran

Dari penelitian yang dilakukan, penulis menyampaikan beberapa saran yang dapat dipertimbangkan Perusahaan X, yaitu:

1. Metode sederhana yang digunakan perusahaan masih dapat mengakomodasi perusahaan dalam pengambilan keputusan untukkedua jenis produk, sehingga penerapan metode ABC masih belum dibutuhkan.

2. Jika Perusahaan X akan menerapakan perhitungan kos menggunakan metode ABC, harus mempertimbangkan manfaat yang diperoleh dibandingkan dengan kos yang harus dikeluarkan karena metode ABC membutuhkan


(16)

Bab V Kesimpulan dan Saran 74

Universitas Kristen Maranatha keterlibatan para tenaga kerja untuk pelatihan dalam memahami metode ABC.

3. Untuk penelitian selanjutnya disarankan untuk mengamati aktivitas perusahaan dengan lebih teliti agar hasil yang diperoleh dapat lebih akurat dari penelitian sebelumnya.


(17)

Daftar Pustaka

75 Universitas Kristen Maranatha

DAFTAR PUSTAKA

Blocher, Edward J., Chen, Kung H., Lin, Thomas W., (2005). Manajemen Biaya. Edisi 3. Jakarta: Salemba Empat.

Carter, K., William, Milton F. Usry. (2006). Cost Accounting 13th ed. Jakarta: Penerbit Salemba Empat

Djoni. T. (2010). Alokasi Biaya Berbasis Aktivitas, diakses dari

http://xa.yimg.com/kq/groups/22472209/919387308/name/6.+ALOKASI+BIAYA+

BERBASIS+AKTIVITAS.pdf pada tanggal 18 Desember 2010.

Erlina. (2002). Kalkulasi Biaya Berdasarkan Aktivitas, diakses dari

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/1203/1/akutansi-erlina6.pdf pada tanggal 10 April 2011

Hansen, Don R and Maryanne M Mowen. (2004). Aluntansi Manajemen. Edisi 7. Jakarta: Salemba Empat.

Horngren, C. T., George Foster, dan Srikant M. Datar. (2006). Cost Accounting: A Managerial Emphasis. 12th Edition. Prentice-Hall, Inc. New Jersey.

Jackson, Steve, Gregory Jenkins, Roby B. Sawyers. (2009). Managerial Accounting: A Focus on Ethical Decision Making 5th ed. South-Western College Pub. Cangage Learning.

L. Jade Faliany. (2008). Faktor-faktor Penentu Penerapan Sistem Biaya Berbasis Aktivitas, diakses dari http://jurnal.pdii.lipi.go.id/admin/jurnal/13208396407.pdf pada tanggal 20 November 2010.

Mulyadi. (1999). Akuntansi Biaya. Edisi Lima. Yogyakarta: Aditya Media. Muttaqin, Hadi. (2009). Activity Based Costing, diakses dari

http://muttaqinhasyim.wordpress.com/2009/05/21/activity-based-costing/ pada tanggal 10 November 2010.

Nurhayati. (2004). Perbandingan Sistem Biaya Tradisional dengan Sistem Biaya ABC, diakses dari http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/1456/1/industri-nurhayati3.pdf pada tanggal 5 Mei 2011.

Raharja, Made Agung. (2010). Activity Based Costing., diakses dari

http://dueeg.blogspot.com/2010/11/activity-based-costing-abc.html pada tanggal 18 Desember 2010.


(18)

Daftar Pustaka

76 Universitas Kristen Maranatha Suwardjono. (2005). Teori Akuntansi: Perekayasaan Pelaporan Keuangan. Yogyakarta: BPFE.

Warren, Carl S., James M. Reeve. (2006). Pengantar Akuntansi. Edisi 21. Jakarta: Salemba Empat.


(1)

Bab I Pendahuluan 5

Universitas Kristen Maranatha mengetahui keunggulan apa saja yang dapat diperoleh dari penerapan sistem ABC.

2. Bagi pihak-pihak lain khususnya rekan mahasiswa

Memberikan gambaran dan wawasan yang lebih luas mengenai penerapan sistem ABC dalam penetapan harga pokok produksi yang lebih akurat.

3. Bagi penulis

Menambah wawasan dan memperoleh kesempatan untuk memperdalam tentang sistem ABC dan penerapannya di suatu perusahaan.


(2)

Bab V Kesimpulan dan Saran

72 Universitas Kristen Maranatha

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

5.1.Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian dalam menghitung kos produk dengan menggunakan metode yang digunakan perusahaan dibandingkan dengan menggunakan metode ABC, maka dapat diperoleh kesimpulan sebagai berikut:

1. Perusahaan selama ini menggunakan sistem kos yang bersifat konvensional yaitu menggunakan jumlah unit sebagai pemicu kosnya, memperoleh hasil perhitungan produk untuk produk kerupuk putih Rp 34.241,76 dan untuk produk kerupuk bawang Rp 38.157,95.

2. Setelah dilakukan perhitungan kos produk menggunakan metode ABC, diperoleh hasil kos produk per unit untuk produk kerupuk putih Rp 34.208,25 dan kerupuk bawang Rp 38.343,90

3. Perhitungan kos produk yang dilakukan dengan menggunakan metode sederhana dan metode ABC, menghasilkan selisih untuk kedua produk. Untuk produk kerupuk putih terdapat selisih Rp 33,51 dan untuk kerupuk bawang Rp 185,95. Hasil perhitungan dari produk kedua jenis produk dengan metode sederhana dibandingkan metode ABC relatif tidak berbeda. Hal ini dikarenakan keterbatasan data yang diperoleh penulis sehingga hasil yang diperoleh tidak bisa mencerminkan secara keseluruhan perhitungan kos produk.


(3)

Bab V Kesimpulan dan Saran 73

Universitas Kristen Maranatha 4. Metode perhitungan sederhana yang digunakan perusahaan masih dapat

mengakomodasi kebutuhan perusahaan dalam mengambil keputusan. Selain itu, perhitungan sederhana yang digunakan perusahaan lebih mudah untuk diterapkan dibandingkan metode ABC.

5. Penggunaan metode sederhana yang digunakan perusahaan dapat menyebabkan penetapan kos yang terlalu tinggi atau terlalu rendah sehingga dapat mempengaruhi pengambilan keputusan bagi perusahaan karena pemicu kos yang digunakan kurang mewakili kos overhead secara keseluruhan. Sedangkan perhitungan kos dengan metode ABC mengasilkan penetapan kos yang lebih akurat karena kos overhead dialokasikan berdasarkan hubungan sebab akibat antara kos dengan aktivitas selama proses produksi. Selain itu, penetapan kos overhead sesuai dengan konsumsi sumber daya sehingga dapat meminimalkan terjadinya penetapan kos yang terlalu tinggi atau terlalu rendah.

5.2.Saran

Dari penelitian yang dilakukan, penulis menyampaikan beberapa saran yang dapat dipertimbangkan Perusahaan X, yaitu:

1. Metode sederhana yang digunakan perusahaan masih dapat mengakomodasi perusahaan dalam pengambilan keputusan untukkedua jenis produk, sehingga penerapan metode ABC masih belum dibutuhkan.

2. Jika Perusahaan X akan menerapakan perhitungan kos menggunakan metode ABC, harus mempertimbangkan manfaat yang diperoleh dibandingkan dengan kos yang harus dikeluarkan karena metode ABC membutuhkan


(4)

Bab V Kesimpulan dan Saran 74

Universitas Kristen Maranatha keterlibatan para tenaga kerja untuk pelatihan dalam memahami metode ABC.

3. Untuk penelitian selanjutnya disarankan untuk mengamati aktivitas perusahaan dengan lebih teliti agar hasil yang diperoleh dapat lebih akurat dari penelitian sebelumnya.


(5)

Daftar Pustaka

75 Universitas Kristen Maranatha

DAFTAR PUSTAKA

Blocher, Edward J., Chen, Kung H., Lin, Thomas W., (2005). Manajemen Biaya. Edisi 3. Jakarta: Salemba Empat.

Carter, K., William, Milton F. Usry. (2006). Cost Accounting 13th ed. Jakarta: Penerbit Salemba Empat

Djoni. T. (2010). Alokasi Biaya Berbasis Aktivitas, diakses dari http://xa.yimg.com/kq/groups/22472209/919387308/name/6.+ALOKASI+BIAYA+ BERBASIS+AKTIVITAS.pdf pada tanggal 18 Desember 2010.

Erlina. (2002). Kalkulasi Biaya Berdasarkan Aktivitas, diakses dari http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/1203/1/akutansi-erlina6.pdf pada tanggal 10 April 2011

Hansen, Don R and Maryanne M Mowen. (2004). Aluntansi Manajemen. Edisi 7. Jakarta: Salemba Empat.

Horngren, C. T., George Foster, dan Srikant M. Datar. (2006). Cost Accounting: A Managerial Emphasis. 12th Edition. Prentice-Hall, Inc. New Jersey.

Jackson, Steve, Gregory Jenkins, Roby B. Sawyers. (2009). Managerial Accounting: A Focus on Ethical Decision Making 5th ed. South-Western College Pub. Cangage Learning.

L. Jade Faliany. (2008). Faktor-faktor Penentu Penerapan Sistem Biaya Berbasis Aktivitas, diakses dari http://jurnal.pdii.lipi.go.id/admin/jurnal/13208396407.pdf pada tanggal 20 November 2010.

Mulyadi. (1999). Akuntansi Biaya. Edisi Lima. Yogyakarta: Aditya Media. Muttaqin, Hadi. (2009). Activity Based Costing, diakses dari

http://muttaqinhasyim.wordpress.com/2009/05/21/activity-based-costing/ pada tanggal 10 November 2010.

Nurhayati. (2004). Perbandingan Sistem Biaya Tradisional dengan Sistem Biaya ABC, diakses dari http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/1456/1/industri-nurhayati3.pdf pada tanggal 5 Mei 2011.

Raharja, Made Agung. (2010). Activity Based Costing., diakses dari

http://dueeg.blogspot.com/2010/11/activity-based-costing-abc.html pada tanggal 18 Desember 2010.


(6)

Daftar Pustaka

76 Universitas Kristen Maranatha Suwardjono. (2005). Teori Akuntansi: Perekayasaan Pelaporan Keuangan. Yogyakarta: BPFE.

Warren, Carl S., James M. Reeve. (2006). Pengantar Akuntansi. Edisi 21. Jakarta: Salemba Empat.