ANALISIS NILAI-NILAI HUMANIS DALAM CERPEN MAJALAH HORISON DENGAN PENDEKATAN PSIKOLOGI SASTRA SEBAGAI BAHAN PEMBELAJARAN APRESIASI SASTRA DI SMA.

DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN ............................................................................................
DAFTAR ISI ................................................................................................................ 1
BAB I PENDAHULUAN ......................................... Error! Bookmark not defined.
1.1.Latar Belakang ................................. Error! Bookmark not defined.
1.2.Identifikasi dan Pembatasan Masalah PenelitianError!

Bookmark

defined.
1.3.Rumusan Masalah Penelitian ........... Error! Bookmark not defined.
1.4.Tujuan Penelitian ............................. Error! Bookmark not defined.
1.5.Manfaat Penelitian ........................... Error! Bookmark not defined.
1.6.Definisi Operasional ........................ Error! Bookmark not defined.
1.7.Asumsi ............................................. Error! Bookmark not defined.
BAB II LANDASAN TEORETIS ............................ Error! Bookmark not defined.
2.1.Hakikat Sastra ................................. Error! Bookmark not defined.
2.2.Hakikat Cerita Pendek ..................... Error! Bookmark not defined.
2.2.1

Sejarah Cerita Pendek......................................................16

2.2.2. Unsur-unsur Cerita PendekError! Bookmark not defined.
2.3.

Konsep Nilai.................................................................................32

2.4.Nilai-nilai Humanis .......................................................................... 34

2.5.Pendekatan Psikologi Sastra ............................................................ 37
2.5.1. Landasan Psikologi Sastra .............................................. 38
2.5.2. Penopang Pendekatan Psikologi Sastra............................ 40
2.5.3. Fokus Penelitian Psikologi Sastra .................................... 40
2.5.Apresiasi .......................................................................................... 42

not

2.6.Pembelajaran Apresiasi Sastra di SMA ........................................... 43
BAB III PROSEDUR PENELITIAN ........................................................................ 45
3.1.Metode Penelitian ............................................................................ 45
3.2.Langkah-langkah Penelitian ............................................................ 45
3.3.Sumber Data .................................................................................... 46
3.4.Teknik Pengumpulan Data dan Instrumen....................................... 47

BAB IV PENELITIAN TENTANG CERITA PENDEK………………………...50
4.1.Data dan Analisis cerpen ................. Error! Bookmark not defined.
4.2.Hasil Analisis ................................................................................. 115
4.2.1. Hasil Analisis Struktur................................................... 116
4.2.2. Hasil Analisis Nilai Humanis..........................................119
4.2.3. Hasil Analisis Psikologis Tokoh…..................................121
4.3.Kesimpulan…………………………………………………….....125
4.4. Pembahasan Hasil analisis...........................................................133
4.3.1. Psikofilosofis dalam Cerpen .......................................... 135
4.3.1.1.

Niveau Human ............................................... 136

4.3.1.2.

Neveau Religius ............................................. 155

4.3.2. Nilai-nilai Humanis ........................................................ 158
4.3.2.1.

Kecerdasan Religius ...................................... 164

4.3.2.2.

Kecerdasan Kultural ...................................... 170

4.3.2.3.

Kecerdasan Sosial .......................................... 173

BAB V PEMBELAJARAN.................................................................................... 177
5.1

Pembelajaran Apresiasi Sastra ....................................................177

5.2

Model Pembelajaran Apresiasi Sastra ..........................................178

5.3

Pelaksanaan Uji Coba Pembelajaran ............................................179

BAB VI SIMPULAN………………………………………………....................188
6.1. Simpulan.................................................................................. 188
6.2. Saran........................................................................................199
DAFTAR PUSTAKA...............................................................................................201

Lampiran - Lampiran................................................................................................203
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran…………..……………..…………………….203
Cerpan - Cerpen………………………..……………..…………………………...210
Contoh Hasil Apresiasi Kerja Kelompok Siswa…………………………………..238
Keterangan Penunjang Penelitian…………………………………………………242
Riwayat Hidup……………………………………………………………………245

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Cerita pendek yang lazim disingkat menjadi cerpen merupakan salah satu genre sastra
Indonesia berbentuk prosa. yang memuat peristiwa-peristiwa kehidupan manusia serta
diperankan oleh tokoh-tokoh imajiner atau tokoh-tokoh faktual di dalamnya, yang telah
melalui perenungan, penghayatan, dan penjiwaan pengarangnya sehingga menjadi nilai-nilai
yang bermakna.
Sejalan dengan pendapat Semi (2010:77), Karya sastra merupakan produk dari suatu
keadaan kejiwaan dan pemikiran pengarang yang berada dalam situasi setengah sadar atau
subconcius setelah mendapat bentuk yang jelas dituangkan ke dalam bentuk tertentu secara
sadar atau concious dalam bentuk penciptaan karya sastra.
Cerpen sebagai cabang dari seni sastra mempunyai fungsi dalam kehidupan manusia
di antaranya menggambarkan situasi dan kondisi kemanusiaan, kepekaan batin, atau sosial,
pendidikan atau kecerdasan, dan kesejahteraan rohani yaitu estetis (memperhalus budi
pekerti). Hal ini sejalan dengan pendapat Sumardjo ( 1988:16) bahwa sebagai cabang
kesenian, sastra berfungsi memperjelas, memperdalam, dan memperkaya penghayatan
manusia terhadap kehidupan mereka. Dengan demikian, dengan penghayatan yang lebih baik
terhadap kehidupannya, manusia dapat berharap untuk menciptakan kehidupan yang lebih
sejahtera.” Endraswara (2008:125) “ Secara sederhana, dapat dinyatakan bahwa sastra
memiliki fungsi bagi kehidupan jiwa. Jiwa manusia akan semakin arif dengan bergumul pada
sastra” Hal itu diakui pula oleh Budianta, dkk ( Endraswara, 2008:125), pasalnya dalam
hidup sehari-hari, sastra bisa digunakan sebagai alat menyatakan perasaan marah, benci,
cinta. Hal ini jelas persoalan psikologis. Sastra menjadi konsumsi penting bagi jiwa.

Situasi

sosial,

kultur

masyarakat

kita

akhir-akhir

ini

memang

semakin

menghawatirkan. Ada berbagai macam peristiwa dalam pendidikan yang semakin
merendahkan harkat dan derajat manusia. Hancurnya nilai-nilai moral, merebaknya
ketidakadilan, tipisnya rasa solidaritas, dll telah terjadi dalam lembaga pendidikan kita. Hal
ini mewajibkan kita untuk mempertanyakan sejauh mana lembaga pendidikan kita telah
mampu menjawab dan tanggap atas berbagai macam persoalan dalam masyarakat kita? Ada
apa dengan pendidikan kita sehingga manusia dewasa yang telah lepas dari lembaga
pendidikan formal tidak mampu menghidupi gerak dan dinamika masyarakat yang lebih
membawa berkah dan kebahagiaan bagi semua orang? ( Koesoemah, 2010 : 112)
Goble (2002 : 149 ) “ Penyakit utama abad kita ialah tidak adanya nilai-nilai...
keadaan ini jauh lebih gawat dari yang pernah terjadi dalam sejarah umat manusia; dan ...
sesuatu dapat dilakukan dengan usaha umat manusia sendiri.”
Memasuki abad ke-21 banyak pendidik ingin menekankan kembali hadirnya
pendidikan budi pekerti, untuk mempromosikan nilai-nilai positif bagi anak-anak muda
dalam kaitannya dengan merebaknya perilaku kekerasan dalam masyarakat. (Koesoema,
2010 :117)
Brooks dan Goble ( Koesoema, 2010: 117) mengidentifikasi bahwa, “... kejahatan dan
bentuk-bentuk lain perilaku tidak bertanggung jawab telah menigkat dengan kecepatan yang
sangat menghawatirkan dan telah merembes menembus berbagai macam aspek kehidupan
sehari-hari dan telah menjadi proses reproduksi sosial. Masyarakat kita sedang berada dalam
ancaman tindak kekerasan,vandalisme, kejahatan di jalan, adanya geng-geng jalanan, anakanak yang kabur dari sekolah/bolos( truancy), kehamilan di kalangan anak-anak muda, bisnis
hitam ( business fraud ), korupsi dan politisi, kehancuran dalam kehidupan rumah tangga,
hilangnya rasa hormat pada orang lain, dan memupusnya etika profesi.”

Pemikir lain West ( Koesoema,2010:117) misalnya, melihat bahwa kemerosotan nilainilai moral yang ada dalam anak-anak muda itu tidaklah hanya berlaku bagi kaum muda
semata. Situasi kemerosotan moral ini sebenarnya telah menjadi semacam ciri khas kultur
abad ke-20. West mengingatkan bahwa kekejaman manusia ( human brutality) abad ini
semestinya membuat kita mempertanyakan tentang kodrat kemanusiaan kita sendiri. Ia
menyatakan bahwa, “ Kita hidup pada penghujung abad yang ditandai dengan brutalitas dan
kekejaman yang tak berkesudahan, sebuah masa di mana lebih dari dua ratus juta umat
manusia telah dibunuh atas nama ideologi yang bersifat jagal ( pernicious ideology ). ...”
“Politik kotor, puisi membersihkannya”, ungkapan tersebut merupakan ungkapan
yang cukup terkenal dari seorang presiden Amerika Serikat yang terkenal, John F. Kennedy.
Lalu mengapa, puisi bagi Kennedy seolah-olah menjadi salah satu obat dalam dunia
politiknya sebagai otoritas dirinya sebagai presiden? Sastra memang salah satu ilmu yang
berbicara tentang nilai-nilai dan estetika, di dalamnya unsur -unsur kehidupan atau realitas
tercermin dalam teks sastra tersebut.
Dalam khasanah sosiologi misalnya, sastra tidak terlepas dan mempertimbangkan
keterlibatannya dengan struktur sosialnya dalam hal ini dunia realitas (masyarakat). Ratna
(2003), menjelaskan bahwa sastra mencoba untuk menjelaskan bahwa eksistensi karya sastra
bukan semata-mata gejala individual, melainkan juga gejala sosial. Lebih jauh, apabila
dikaitkan dengan perkembangan kontemporer, sastra lebih banyak memberikan aksentuasi
pada asumsi-asumsi yang berhubungan dengan masyarakat, yaitu interaksi antarindividu,
bukan individu. Pemahaman aspek-aspek sosial dengan demikian mencoba menjelaskan
eksistensi individu dalam masyarakat, individu sebagai homo sapiens sekaligus homo socius.
Fenomena sekarang dalam era globalisasi ini, kondisi masyarakat sudah terlepas dari
keberfungsian dirinya sebagai homo socius sebagai jalinan antarindividu. Kita lihat faktafakta keretakan cultural dewasa tersebut, sebagai contoh gerakan-gerakan vandalisme dari

sekelompok orang cukup meresahkan masyarakat atau yang lebih mengecewakan banyaknya
tawuran antarpelajar yang seharusnya mereka menjadi tauladan bagi masyarakat. Hal ini
merupakan salah satu contoh dari lepasnya daya etika dan estetika dari kelompok tersebut.
Sebagai penyeimbang dari keretakan cultural tersebut, seyogyanya disiplin ilmu
dalam hal ini sastra harus menjadi penunjang dari keretakan cultural tadi. Bagi Y.B.
Mangunwijaya (1988: 11), Pada Awal Mula, Segala Sastra Adalah Religius. Religius
sebagaimana dijelaskan Mangunwijaya berasal dari kata religio dating dari kata re-ligo yang
berarti menambatkan kembali. Secara umum manusia religiosus dengan aman dapat diartikan
manusia yang berhati nurani serius, saleh, teliti dalam pertimbangan batin dan sebagainya.
Jadi belum menyebut, dia menganut agama manapun.
Sebagaimana telah dijelaskan di muka, karena sastra lebih berbicara mengenai nilainilai dan etika, maka sastra harus menjadi tumpuan pelajaran atau cerminan hidup bagi
masyarakat untuk menciptakan manusia-manusia yang religiosus—manusia-manusia saleh.
Dalam realitas kehidupan, sebagai kondisi riil pendidikan, dapat dilihat adanya
perubahan sosial yang begitu cepat, proses transformasi budaya yang semakin deras dan
dahsyat, juga perkembangan politik universal, kesenjangan ekonomi yang menganga lebar
serta pergeseran nilai kemanusiaan yang fundamental, mau tidak mau mengharuskan
pendidikan memfokuskan bidikannya ke arah ini.
Untuk itu, pendidikan harus senantiasa toleran dan tunduk pada perubahan normatif
dan cultural yang terjadi. Pendidikan sesungguhnya merupakan sebuah lembaga sosial yang
berfungsi sebagai pembentuk insan yang berbudaya dan melakukan proses pembudayaan
nilai-nilai. Maka dari itu, siswa harus dijadikan manusia-manusia saleh. Untuk itu pula sastra
harus menjadi daya tarik tersendiri dalam mengubah paradigma siswa dalam menghadapi
kehidupan yang sudah mengalami perubahan yang cukup signifikan itu. Yaitu perubahanperubahan moral yang sudah di luar batas dari nilai dan etika.

Pembelajaran sastra dalam hal ini apresiasi terhadap cerpen-cerpen, menjadi penting
untuk dilakukan. Cerpen merupakan cerminan dari sebagian realitas. Untuk itu apresiasi
cerpen bagi siswa sangat begitu penting dalam mempelajari tahapan-tahapan mengenai etika
dan nilai-nilai. Sebagaimana Taufik Ismail mengatakan bahwa tujuan siswa mempelajari
sastra bukan untuk menjadi seorang sastrawan, melainkan siswa dituntut kritis untuk
membaca kehidupannya dalam kehidupan sehari-hari. Maka dari itu kegiatan berapresiasi dan
berpengalaman sastra sangat penting dilakukan di sekolah.
Terlebih melakukan proses apresiasi berdasarkan konteks humanistik. Humanistik ini
berarti membentuk insan manusia yang memiliki komitmen humaniter sejati, yaitu insan
manusia yang memiliki kesadaran, kebebasan, dan tanggung jawab sebagai insan manusia
individual, namun tidak terangkat dari kebenaran faktualnya bahwa dirinya hidup di tengah
masyarakat.
Pola apresiasi berdasarkan konteks humanistik ini sesuai dengan pengertian
pendidikan (Islam) humanistik (Baharudin, 2009: 23) bahwa:
“Pendidikan (Islam) humanistik adalah pendidikan yang mampu memperkenalkan
apresiasinya yang tinggi kepada manusia sebagai makhluk Allah yang mulia dan
bebas serta dalam batas-batas eksistensinya yang hakiki, dan juga sebagi khalifatullah
(Q.S. Al-Baqarah: 30). Pendidikan (Islam) humanistik adalah pendidikan yang
memandang manusia sebagai manusia, yakni makhluk hidup ciptaan Tuhan dengan
fitrah-fitrah tertentu untuk dikembangkan secara maksimal dan optimal.”
Agar dapat memilih bahan pembelajaran sastra yang tepat, beberapa aspek perlu
dipertimbangkan dengan baik. Menurut Rahmanto (1993: 27), ada tiga aspek yang tidak
boleh dilupakan dalam memilih bahan pengajaran sastra, yaitu aspek bahasa, aspek psikologi,
dan aspek latar belakang budaya. Dalam pendekatan pendidikan humanistik, ketiga aspek
tersebut dijelaskan dan diperhatikan dengan seksama.
Analisis karya sastra di Indonesia dengan pendekatan psikologi sastra masih sangat
langka hal ini masih dapat disebut yaitu M.S. Hutagalung dan Boen S. Oemarjati yang
menerapkan pendekatan “psikoanalisa” terhadap Jalan Tak Ada Ujung karya Muchtar Lubis,

dan Atheis-nya Akhdiyat Kartamiharja. Harjana 1985 (Endraswara 2008) Jika direnungkan
dari pembahasan, hal itu merupakan peta buram kritik psikologi di Indonesia. Contoh yang
dipaparkan dari sastra asing. Hal itu berarti sastra asing telah berkembang pesat wawasan
psokologi sastranya.
Penelitian semacam ini penting dilakukan karena analisis karya sastra merupakan
salah satu bagian bidang sastra yang penting baik bagi pemahaman karya sastra,
perkembangan sastra, maupun bagi keilmuan sastra. Di samping itu pula, analisis terhadap
karya sastra masih sedikit, lebih-lebih analisis terhadap karya sastra berupa cerpen yang
dikontribusikan terhadap pendidikan humanis dengan pendekatan psikologi sastra.
Berdasarkan latar belakang di atas, maka fokus penelitian ini, akan memfokuskan
pada penelitian atau analisis terhadap cerpen majalah Horison berdasarkan nilai-nilai
humanis dengan pendekatan psikologi

sebagai bahan pembelajaran . Berangkat dari

kerangka konseptual itu, maka penulis dalam penelitian ini, memberi kerangka judul
“Analisis Cerpen Nilai-Nilai

Humanis

dalam Cerpen Pada Majalah Horison Dengan

Pendekatan Psikologi Sastra Sebagai Bahan Pembelajaran ApresiasiSastradi SMA”.

1.2. Identifikasi dan Pembatasan Masalah Penelitian
Dalam penelitian ini, penulis perlu membatasi masalah supaya penelitian ini lebih
jelas

yang akan ditelitinya, sehingga tidak mengaburkan peneliti dan memudahkan

berjalannya sebuah penelitian. Di samping itu dapat membantu dalam mempersiapkan segala
sesuatu yang diperlukan untuk pelaksanaannya, seperti tenaga, kesiapan, waktu dan
dukungan lainnya.
Kajian penelitian ini memfokuskan pada analisis cerpen-cerpen dari majalah Horison,
dan cerpen Horison dengan berdasarkan monumental peristiwa tsunami di Aceh. Cerpencerpen tersebut yaitu Si Kakkek dan Burung Dara ( karya M.Fodoli Zaini, !966 ), Kadis (

karya Mohammad Diponegoro, 1984), Ada Api di Atas Atap ( karya Kontowijoyo, 1998),
yaitu cerpen Tsunami (karya

Putu Wijaya, 2005), Cut ( karya Asma Nadia, 2005),

Pernikahan Gelombang ( karya A.Rahim Qahhar,2005 ) Ibu Berperahu Sajadah ( karya
Isbedy Stiawan ZS, 2005 ), Dan Perempuan Sunyi Bersama Arwah Burung-burung, 2010).
Adapun unsur yang akan dianalisis perkembangan unsur cerpen, nilai-nilai humanis, karakter
para tokoh yang ada dalam cerpen dengan pendekatan psokologi sastra.

1.3.

Rumusan Masalah Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah di atas, penulis merumuskan masalah sebagai berikut:

1. apakah cerpen dalam majalah Horison mengalami perkembangan dari segi unsurunsurnya.
2. karakter apa sajakah yang ada pada tokoh-tokoh dalam cerpen-cerpen majalah
Horison itu?
3. apakah cerpen-cerpen dalam majalah Horison tokoh-tokohnya memiliki nilai-nilai
humanis?
4. apakah cerpen dalam majalah Horison dapat dijadikan bahan pembelajaran apresiasi
sastra di SMA?

1.4.

Tujuan Penelitian
Secara umum penelitian ini bertujuan untuk menganalisis cerpen-cerpen majalah

Horison dan penerapan nilai-nilainya.
Secara khusus penelitian ini bertujuan:
1. memperoleh gambaran perkembangan unsur cerpen dalam majalah Horison.
2. memperoleh gambaran karakter pada tokoh-tokoh cerita pendek dalam majalah
Horison.

3. memperoleh gambaran nilai-nilai humanis yang ada pada cerita pendek dalam
majalah Horison.
4. mengaplikasikan nilai-nilai humanis yang terdapat dalam cerita pendek sebagai bahan
pembelajaran apresiasi sastra.

1.5. Manfaat Penelitian
a. Segi keilmuan
1. Hasil penelitian diharapkan dapat menambah dan memperluas wawasan peneliti
dan pihak lain yang berminat dalam bidang sastra khususnya cerpen.
2. Hasil penelitian dari menganalisis cerpen berdasarkan karakter yang didasarkan
pada nilai-nilai humanis dengan pendekatan psikologi sastra diharapkan dapat
bermanfaat bagi kehidupan yaitu manfaat estetis, pendidikan, kepekaan batin
atau sosial, kesejahteraan rohani, menambah wawasan, pengembangan jiwa dan
kepribadian.
b. Segi Praktis
Dari segi praktis, hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagi bahan dalam
pembelajaran apresiasi sastra.

1.6.

Definisi Operasional
Untuk menghindari kesalahan dalam penafsiran makna pada judul penelitian ini

peneliti perlu menjelaskan istilah yang digunakan.
a. Cerpen, akronim dari cerita pendek.
b. Cerpen-cerpen Horison, cerpen-cerpen yang diambil dari majalah-majalah Horison
yang lahir Juli 1966.

c. Nilai adalah keyakinan seseorang akan sesuatu kebaikan atau keburukan untuk di
ukur.
d. Nilai-nilai Humanis, nilai humanis yaitu nilai-nilai kemanusiaan yang menjunjung
harkat dan martabat manusia, tingkatan jiwa yang hanya dicapai oleh manusia, berupa
perasaan belas kasihan, gotong-royong, saling bantu-membantu, rasa simpatik,
renungan-renungan moral dan sebaginya.
e. Pendekatan, adalah cara-cara atau jalan menghampiri objek.
f. Psikologi Sastra, adalah cabang ilmu sastra yang mendekati karya sastra dari sudut
karakter tokoh-tokoh dalam cerita.
g. Bahan Pembelajaran, sarana belajar mengajar yang digunakan oleh siswa dan guru.
h. Apresiasi sastra
Apresiasi sastra adalah penghargaan atas karya sastra

sebagai hasil pengenalan,

pemahaman, penafsiran, penghayatan, dan penikmatan yang didukung oleh kepekaan
batin terhadap nilai-nilai yang terkandung dalam karya sastra itu.

1.7.

Asumsi
Cerpen merupakan suatu produk dari suatu kejiwaan dan pemikran pengarang yang

berisi nilai-nilai humais, menjunjung harkat dan martabat manusia, dan menggambarkan
situasi dan kondisi kemanusiaan, nilai-nilai kebenaran dan kebaikan yang sangat berguna
untuk membangun kesejahteraan rohani.

BAB III
PROSEDUR PENELITIAN

3.1. Metode Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah dan tujuan yang telah dipaparkan di atas, penelitian ini
akan menggunakan metode deskriptif analisis. Yang menjadi dasar penentuannya

pada

masalah yaitu menganalisis cerpen-cerpen dalam majalah Horison berdasarkan nilai-nilai
humanis dengan pendekatan psikologi sastra. Peneliti melakukan eksplorasi dan analisis
terhadap data yang didapat, hasil analisis diinterpretasikan berdasarkan teori yang ada dan
disimpulkan.

3.2. Langkah-langkah Penelitian
Langkah kerja pendekatan psikologi sastra menurut Semi ( 2010:79-80) yang telah
dimodifikasi penulis sesuai dengan kebutuhan penelitian sebagai berikut.
(1) Pendekatan psikologi menekankan analisis terhadap cerpen baik intrinsik maupun
ekstrinsik. Namun tekaanan diberikan pada segi intrinsik. Dari segi intrinsik yang ditekankan
adalah penokohan atau perwatakannya.(2) Segi ekstinsik yang dipentingkan untuk dibahas
adalah

menyangkut masalah kejiwaannya tokoh-tokoh dalam cerita cita-cita, aspirasi,

keinginan, falsafah hidup, obsesi, dan lain-lain. (3) Di samping menganalisis penokohan dan
perwatakan dilakukan pula analisis yang lebih tajam tentang tema utama karya sastra, karena
pada masalah perwatakan dan tema ini pula pendekatan psikologis ini sangat tepat
diterapkan, sedangkan aspek lain lebih cocok digunakan pendekatan lain. (4) Analisis
perwatakan mencari nalar tentang perilaku tokoh. Apakah perilaku tokoh tersebut dapat
diterima ditinjau dari psikologi. Juga menjelaskan motif dan niat yang mendukung tindakan
tersebut. Kalau ada berubah tajam pada tokoh, misalnya brutal kemudian menjadi kalem,

maka peneliti atau penelaah menalarnya dengan mencari data-data yang diperkirakan dapat
mendukung tersebut. Peneliti secara jeli mengikuti tingkah laku tokoh dari satu peristiwa ke
peristiwa lain. (5) Konflik kaitannya dengan perwatakan dan alur cerita mendapat kajian.
Bahkan bila perlu dijelaskan perwatakan yang dihinggapi gejala penyakit neurosis, psikosis,
dan halusinasi. Dalam menganalisis konflik akan dilihat apakah konflik itu terjadi dalam diri
tokoh, atau konflik dengan tokoh lain atau situasi yang berada di luar dirinya. (6) Analisis
dapat diteruskan kepada analisis pengaruh karya sastra terhadap pembaca.

3.3. Sumber Data
Penelitian ini bersifat kualitatif. Data penelitian berupa dokumentasi literatur yang
diterbitkan berupa cerpen-cerpen majalah Horison. Dengan mengambil peristiwa yang
bersifat monumental ( peristiwa tsunami Aceh ) dari pengarang yang berbeda.
Dalam penelitian psikologi satra agar tepat sasaran perlu memperhatikan dokumen,
monumen, dan struktur psikologi. Hal ini sejalan dengan pendapat Fokkema (Endraswara,
2008:67-68) bahwa sastra adalah sebuah dukumen, monumen, dan tanda (struktur indah).
Ketiga hal ini dalam studi psikologi sastra perlu dipegang teguh agar fokus penelitian tidak
meleset. Dengan hal tersebut populasi dalam penelitian ini adalah didasarkan pada dokumen
hasil karya sastra berupa cerpen dalam majalah Horison dengan monumen, peristiwa tsunami
di Aceh. Sampel penelitian ini empat cerpen dari majalah Horison yaitu: Tsunami (karya Putu
Wijaya), Cut ( karya Asma Nadia), Pernikahan Gelombang ( karya A. Rahhim Qahhar), Ibu
Berperahu Sajadah ( karya Isbedy Stiawan ZS ), ditambah cerpen lain yang tidak merupakan
peristiwa monumental Si Kakek dan Burung Dara ( karya M. Fudoli Zaini), Kadis ( karya
Mohammad Diponegoro), Ada Api di Atas Atap ( karya Kuntowijoyo), Perempuan Sunyi
Bersama Arwah Burung-burung ( Karya Indra Trenggono) dengan struktur kejiwaan berupa
nilai-nilai humanis.

Sampel yang peneliti gunakan adalah sampel purposif

(purposive sampling).

Moleong ( 2001: 164) mengatakan” ... pada penelitian kualitatif, tidak ada sampel acak, tetapi
sampel bertujuan ( puposive sampling).”
Sampel bertujuan dapat ditandai dengan hal-hal berikut:
Rancangan sampel tidak dapat ditentukan atau ditarik terlebih dahulu, pemilihan
sampel secara beurutan, penambahan sampel dipilih untuk memperluas informasi dari sampel
sebelumnya. Penyesuaian berkelanjutan dari sampel-sampel dipilih atas dasar fokus
penelitian, dan pemilihan berakhir jika sudah terjadi pengulangan-pengulangan informasi
yang dibutuhkan.

3.4. Teknik Pengumpulan Data dan Instrumen
Tekinik Pengumpulan data dalam penelitian ini terdiri atas studi pustaka, penelusuran
online, angket.
1) Studi Pustaka
Teknik ini diguakan untuk menggali teori yang relevan dengan hal-hal yang akan
dikaji dalam penelitian ini, diantaranya teori tentang analisis cerpen, nilai-nilai
humanis, pendekatan psikologi sastra, apresiasi, dan bahan ajar.
2) Penelusuran Online
Teknik penelusuran data online adalah tata cara melakukan penelusuran data
melalui media internet ( Bungin,2009: 125). Teknik ini digunakan untuk
menemukan karya sastra (cerpen) yang telah diteliti dengan pendekatan psikologi
sastra.
3) Angket
Untuk mengumpulkan data mengenai resepsi siswa SMA mengenai nilai-nilai
humanis dalam cerpen pada majalah Horison.

Pedoman Analisis Cerpen
Identitas Cerpen :
Judul

:

Pengarang

:

No.
1

Pokok Analisis

Penjelasan

Tujuan

Unsur Intrinsik

Menafsirkan karakter tokoh

Untuk mengethui tokoh

-

Penokohan/

atau sesuatu yang menjdi

cerita, watak yang dimilik

perwatakan

pelaku

tokoh, teknik melukiskan
tokoh.

2.

Unsur Ekstrinsik

Perubahan kejiwaan tokoh

Psikologi tokoh
3

perubahan kejiwaan tokoh

Tema Cerita

4

Sesuatu yang mendasari

Untuk mengetahui

cerita

gagasan(ide) cerita.

Nalar

Logiskah perilaku tokoh

Untuk mengetahui

-

Nalar perilaku

berdasarkan psikologi

kelogisan perilaku tokoh

tokoh

Dorongan untuk bertindak

berdasarkan

5

Untuk mengetahui

Motif dan minat

Konflik

psikologi.
Pertentangan yang dialami

Untuk mengetahui

tokoh

pertentangan tokoh dgn
dirinya, dengan tokoh lain,
dengan Tuhan.

Pedoman Analisis Nilai-nilai Humanis
No
1

Pokok Masalah
Nilai-nilai Humanis

Pejelasan
-

-

Tujuan

Hubungan manusia

Ingin memetik hikmah dari

dengan dirinya.

pesan moral yang

Hubungan manusia

diamatkan untuk

dengan manusia lain

diaplikasikan dalam

dalam lingkungan sosial

pembelajaran apresiasi

termasuk dengan

sastra.

lingkungan alam.

-

Hubungan manusia
dengan Tuhannya.

BAB V
PEMBELAJARAN
5.1. Pembelajaran Apresiasi Sastra
Pembelajaran sastra saebagai bagian dari sistem pendidikan nasional berperan untuk
mengembangkan kemampuan serta meningkatan kwalitas kehidupan dan martabat manusia.
Peran pembelajaran sastra dalam mencapai tujuan pendidikan nasional, yaitu
mencerdaskan kehidupan bangsa dan mengembangkan manusia Indonesia

seutuhnya,

melalui kegiatan menghayati dan memahami sastra. Dengan menghayati dan memahami
sastra kita dapat memahami dan menghargai nilai-nilai yang terdapat dalam karya sastra.
Sejalan dengan Rusyana (1999:7) “ Melalui sastra, kita dapat menemukan makna
kehidupan, sesuatu yang dalam kenyataan sehari-hari jarang terjadi, sebab dalam kenyataan,
hidup itu kita jalani serpih demi serpih, sedangkan dalam sastra hidup tersaji sebagai suatu
yang lebih utuh.”
Tujuan pembelajaran sastra di Sekolah Menengah Atas berdasarkan Kurikulum 2004
dapat dibagi sebagai berikut.
-

Memperoleh pengalaman sastra, yaitu pengalaman mengapresiasi hasil karya sastra,
dan pengalaman berekspresi sastra.

-

Memperoleh pengetahuan sastra, seperti teori sastra, sejarah sastra, dan kritik sastra.

Pembelajaran sastra di sekolah akan bermakna dengan baik apabila bertolak dari hasil
sastra untuk dihayati. Penghayatan itu semakin mendalam apabila diperoleh pemahaman
nilai-nilai dari apa yang dibacanya.
Sejalan dengan Rusyana ( 1999:7) “ Tujuan beroleh pengetahuan sastra dapat terjadi
secara sesungguhnya apabila dilandasi oleh pengalaman sastra, tanpa itu, yang ada
hanyalah ‘tahayul’ tentang sastra.”

Berdasarkan hal di atas, berikut ini penulis tampilkan pembelajaran apresiasi sastra
yang didasarkan pada pengungkapan nilai-nilai yang terdapat pada hasil sastra berupa
cerita pendek.

5.2 Model Pembelajaran Apresiasi Sastra
Kegiatan pembelajaran apresiasi sastra melalui tahapan berikut.
- Tahap pertama, siswa membaca hasil karya sastra.
Tahap ini bertujuan memberikan pengalaman sastra yaitu, pengalaman mengapresiasi hasil
sastra, memberikan kesempatan kepada siswa untuk berkembang sesuai dengan
kemampuannya, penyajian informasi dan bahan secara lebih kongkrit, mengurangi
kesenjangan antara pembelajaran yang bersifat verbal dan abstrak dengan realitas yang
bersifat kongkrit, memberikan pengetahuan yang bersifat langsung, penyajian informasi
yang mampu menembus batas geografis.
-

Tahap kedua, menceritakan kembali hasil sastra yang telah dibaca. Tahap ini

bertujuan memberikan pengalaman berekspresi sastra dari pengindraan, pendengaran,
daya tanggap, daya bayang, daya pikir, daya rasa dan lainnya.
- Tahap ketiga, siswa dengan bimbingan guru menentukan unsur-unsur pembengun
karya sastra.Tahap ini bertujuan, memperoleh pengetahuan sastra seperti teori sastra,
sejarah sastra, dan kritik sastra. Pengetahuan sastra diberikan setelah mendapatkan
pengalaman sastra, dimaksudkan pengetahuan sastra dikaitkan dengan pengalaman
bersastra, agar pengalaman bersastra, agar pengalaman itu lebih mendalam dan lebih luas.
- Tahap keempat, siswa mengaplikasikan pengalaman dan pengetahuan sastra pada hasil
sastra lainnya dengan membaca hasil sastra. Tujuan tahap ini, untuk menanamkan rasa
percaya diri dan menghargai hasil sastra.

-

Tahap kelima, siswa mengkaji hasil sastra secara berkelompok dan membacakannya

hasil kajian di depan kelas. Pada tahap ini diharapkan pengkajian terhadap hasil sastra
lebih jelas, lebih mendalam dan lebih luas.
-

Tahap keenam, perwakilan kelompok membacakan hasil kajian di depan kelompok

lain. Tujuan tahap ini siswa mampu mengekpresikan hasil kajian dan bertukar pengalaman
hasil apresiasi dari kajian hasil sastra yang sama.
5.3 Pelaksanaan Uju Coba Pembelajaran
Penelitian ini menerapkan metode deskripsi analisis dengan tujuan memperoleh
gambaran pemahaman siswa akan nilai-nilai yang terdapat pada karya sastra yang
dibacanya. Pada tahap akhir penelitian ini penulis melakukan uji coba pembelajaran yang
disusun sebagai bentuk pemanfaatan hasil penelitian. Akan tetapi fokus penelitian ini tidak
ditunjukan pada eksperimen model pembelajaran melainkan pada kajian nilai-nilai yang
terkandung pada karya satra (cerpen) secara kualitatif. Uji coba ini dilakukan untuk
mendapatkan masukan tentang keefektifan penggunaan bahan pembelajaran berupa cerpen
untuk mengungkapkan nilai-nilai luhur dalam cerpen khususnya nilai-nilai humanis
selama pembelajaran berlangsung.
Uji coba pembelajaran peneliti lakukan di SMA Negeri I Susukan Kabupaten Cirebon
kelas X pada tanggal 23 dan 24 Mei 2011. Jumlah siswa yang diuji coba berjumlah 40
siswa. Uji coba dilaksanakan pada mata pelajaran Bahasa Indonesia pada standar
kompetensi Membaca ( Memahami wacana sastra puisi dan cerpen ). Pembelajaran
apresiasi sastra melalui enam tahapan kegiatan. Berikut peneliti paparkan tahap
pembelajaran yang telah dikakukan.
Tahap pertama, pembelajaran diawali dengan siswa membaca pemahaman karya sastra
berupa cerpen “ Si Kakek dan Burung Dara” karya M. Fudoli Zaini dalam langkah
pertama ini diharapkan siswa beroleh pengalaman apresiasi sastra, berupa pengetahuan

unsur-unsur cerpen dari hasil karya berupa cerpen yang dibacanya. Dari hasil pengamatan
siswa bersunguh-sungguh untuk memahami cerpen tersebut; hasil dari kesungguhan akan
terlihat pada kegiatan berikutnya.
Tahap kedua, menceritakan kembali hasil membaca cerpen “ Si Kakek dan Burung
Dara” . Siswa ditujuk secara acak menceritakan kembali, pada umumnya siswa dapat
menceritakan dengan lancar mengungkapkan jalan cerita, tokoh, latar dengan tepat.dari
hasil cerpen “ Si Kakek dan Burung Dara” yang diceritakan siswa sebagai berikut. Cerpen
iti menceritakan ziarah Si Kakek ke kubur istri dan anaknya. Dalam perjalanan ziarah itu,
direncanakan bahwa esok, Si Kakek dan cucunya, akan mengadu burung dara. Ternyata,
pagi harinya diketahui, bahwa burung dara kecintaan kakek itu, hilang dibawa musang. Si
kakek tentu marah. Tetapi kemarahan itu dapat ditahan ketika mengetahui bahwa
hilangnya burung dara itu semata-mata akibat kelalaian cucunya.
Tahap kegiatan ketiga, siswa dengan bimbingan guru menentukan unsur-unsur
pembangun cerpen.
-

Guru bertanya kepada siswa, “Siapa tokoh utama dalam cerpen’Si Kakek dab Burung
Dara’?”

-

Siswa menjawab, “ Kakek dan Cucu” .

-

Kemudian siswa bertanya,” Mengapa dalam cerita itu yang menjadi tokoh utama
bukan bapak dan anak?”

-

Dari hasil jawaban siswa dengan bimbingan guru bahwa,” Tokoh Kakek dan Cucu
merupakan simbolik dari generiasi tua yang akan berakhir dan genersi muda yang
masih panjang dalam menempuh kehidupan. Dalam cerpen ‘si Kakek dan Burung
Dara’ ini banyak simbol dan pelajaran yang dapat di tarik.”

-

“Silakan beri contoh yang lain?”

-

Seorang siswa mencoba memahami simbol dari kutipan berikut.

-

Ia menanam duluan

-

Aku ingin jagung bakar.

-

Jagung itu enak dan manis

-

“ Kaliamat kutipa tersebut merupakan simbol bahwa siapa yang melakukan kerja
dengan baik akan memetik hasilnya dengan manis”

-

Siswa lain pun memberi contoh, dengan mengutip kaliamat berikut.

-

Ajianmu sekarang sudah sampe mana?

-

‘bismilah’ jawab anak itu.

-

‘Alhamdulillah belum?

-

‘Belum’

-

“Kutipan tersebut menunjukan bahwa cucunya masih perlu belajar banyak tentang
ilmu, dan kakeknya (genersi tua) berharap cucunya ( generasi muda) menjadi orang
yang pandai.”

-

Guru, “ Banyak lagi simbol dan pelajaran yang dapat diungkap dari cerpen tersebut
kalian dapat menggali lebih dalam lagi.”

-

“ Apakah tema dari cerpen ‘ Si Kakek dan Burung Dara’ ?” tanya guru.

-

Siswa menjawab, “Ziarah kubur, duka sepi seorang kakek, ke-Tuhanan,...”

-

Mencari arti sebuah cerpen pada dasarnya adalah mencari tema yang terkandung
dalam karya sastra (cerpen) tersebut, harus menentukan apa kekuatan dan kepentingan
utama yang ada pada cerpen tersebut. Dari sekian tema yang dapat ditarik, ia memiliki
tema besar yang dikandungnya.

-

Guru bertanya,” Apakah pelajaran yang dapat dipetik dari dari cerita” Si Kakek dan
Burung Dara’?”

-

Siswa memberikan beberapa jawaban,” Hari esok harus lebih baik dari hari ini,
Carilah ilmu selagi masih muda, kita harus menyayangi orang lain, berbuat baik
supaya tidak menyesal dikemudian hari,...”
Tahap kegiatan keempat ( Tahap Kegiatan Pertemuan II), siswa mengaplikasikan

pengetahuan sastra untuk mengapresiasi cerpen “Tsunami” karya Putu Wijaya. Pada
tahap ini siswa mengapresiasi cerpen dengan penuh kesungguhan menikmati karya sastra
yang dibacanya sebanyak tujuh halaman dengan membaca, menghayati unsur-unsur
intrinsik, menghayati nilai-nilai yang terdapat pada cerpen, selama 30 menit, sebagai
persiapan dalam kegiatan pembelajaran diskusi kelompok.
Selama siswa menikmati cerpen, peneliti mengamati aktivitas siswa. Berdasarkan
pemantauan peneliti, setelah siswa mendapatkan pengalaman sastra dan penegtahuan
sastra kesungguhan siswa dalam mengapresiasi lebih cermat, sehingga waktu yang
disediakan selama 30 menit dirasakan oleh siswa masih kurang.
Tahap kegiatan selanjutnya, siswa mengkaji cerpen “ Tsunami” dengan berdiskusi
kelompok (ada 8 kelompok) dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan yang telah
disediakan guru, dan menuliskan jawaban pada lembar jawaban yang telah disediakan.
Hasil kerja kelompok dibacakan di depan kelompok lain secara bergantian. Hasil kerja
kelompok sebagai berikut. Pada pertanyaan yang belum menyentuh apresiasi sastra
dengan pertanyaan,

- “ Apakah judul dan siapa pengarang cerpen tersebut?”

Semuanya dapat menjawab dengan jawaban yang sama dan benar.
-

“ Apakah tema dari cerita pendek ‘Tsunami’?”

Jawaban dari tiap kelompok bervariasi seperti, “ Kisah sejarah tsunami 30 tahun lalu,
Tragedi tsunami, tsunami yang menimpa Nangro Aceh Darussalam,...”
-

Pada pertanyaan berikutnya, “ Siapakah tokoh cerita dalam cerpen ‘Tsunami’?”

Pada umumnya dapat menjawan dengan benar,” Ibu (Mama), Anak, dan Bapak.”

-

“ Bagaimanakah karakter tokoh tersebut?” jawaban siswa bervariasi diantaranya.

-

“Ibu, seorang ibu yang berjuang agar menjadi seorang yang berarti, ketika sudah
mapan dapat memberikan bantuan kepada yang terkena bencana tsunami, ketika
orang sudah mulai melupakannya.”

-

“ Anak, tokoh anak digambarkan anak kecil yang kritis yang selalu bertanya
menanggapi cerita tsunami ibunya, anak ini pun bertekad menjadi pintar dan merebut
kedudukan seperti harapan ibunya.”

-

“ Bapak, tokoh Bapak digambarkan seorang yang dulu berjuang untuk negeri ini
sekarang telah lupa akan niat luhurnya, setelah ia memiliki jabatan dan kedudukan, ia
yang seharusnya memenuhi kewajibannya, tetapi sekarang menyalahkan keadaan.”

Berdasarkan pengamatan peneliti pengungkapan karakter tokoh dari cerpen “Tsunami”
yang disusun siswa masih sangat sederhana dengan hanya mengungkap hal-hal yang luar
dari yang tertulis dalam naskah belum mengungkap sisi dalam dari karakter para tokoh.
Peneliti memaklumi hal tersebut sebab siswa masih belum mampu mengapresiasi sisi
dalam kejiwaan tokoh serta waktu yang disediakan juga sangat sempit.
Nilai- nilai humanis yang dapat diungkapkan siswa dari cerpen “Tsunami”
diantaranya, saling tolong-menolong sesama manusia, ikut berpartisipasi jika ada saudara
kita yang mendapatkan musibah, tidak hanya mempunyai rasa empati saja tetapi kita
harus terjun untuk membantu saudara-saudara kita yag terkena musibah.
Tahap akhir pembelajaran tanya- jawab dan evaluasi hasil dari penyampaian tiap
kelompok, tiap kelompok dibatasi satu pertanyaan, kelompok yang mendapatkan
pertanyaan, menjawab pertanyaan.
Setelah kelompok menjawab pertanyaan kelompok lain, guru melakukan kegiatan
akhir pembelajaran dengan menarik simpulan atas pembelajaran yang telah dilaksanakan.

Apresiasi itu bersifat personal karena karya sastra itu fiktif, tidak ada satupun interpretasi
yang benar secara mutlak dan tidak satu pun apresiasi dianggap paling baik.
Setelah pembelajaran berakhir, peneliti berupaya memperoleh tanggapan dari siswa
atas bahan pembelajaran apresiasi satra berupa respon siswa. Respon siswa tersebut
dilaksanakan dengan bertanya secara lisan di dalam kelas dan ditunjuk secara suka rela.
Umumnya siswa menyatakan tertarik dengan pembelajaran apresiasi sastra dengan bahan
cerpen. Selain itu siswa diminta mengisi kuesioner.

Tabel 5.1
Hasil Angket Evaluasi Dalam Implementasi Bahan Belajar
No.
1.

Pertanyaan

Ya

Dapatkah cerpen majalah Horison digunakan meningkatkan 39

Tidak

1

kemampuan apreiasi sastra?
2.

Apakah cerpen “Tsunami” majalah Horison dapat dimanfaatkan 26

14

secara efektif sebagai bahan ajar apresiasi sastra?
3.

Apakah isi dari cerpen ”Tsunami” majalah Horison memenuhi 31

9

syarat dalam menjelaskan unsur-unsur cerpen?
4.

Apakah penggunaan cerpen majalah Horison menarik perhatian 21

19

Anda dalam implementasi proses belajar mengajar apresiasi
sastra?
5.

Apakah cerpen “ Tsunami “ majalah Horison memuat contoh 27

13

secara detail unsur-unsur cerpen?
6.

Apakah cerpen “Tsunami”

majalah Horison telah memuat 38

2

informasi ( menambah pengetahuan) melalui apresiasi sastra?
7.

Pengetahuan

nilai-nilai

mengapresiasi cerpen?

humanis

dapat

dicari

dengan 35

5

Tabel 5.2
Hasil Angket Evaluasi Dalam Implementasi Bahan Belajar
No.
1.

Pertanyaan

Ya %

Dapatkah cerpen majalah Horison digunakan meningkatkan 97,5%

Tidak%

2,5%

kemampuan apreiasi sastra?
2.

Apakah cerpen “Tsunami” majalah Horison dapat dimanfaatkan 65 %

35%

secara efektif sebagai bahan ajar apresiasi sastra?
3.

Apakah isi dari cerpen ”Tsunami” majalah Horison memenuhi 77,5%

22,5%

syarat dalam menjelaskan unsur-unsur cerpen?
4.

Apakah penggunaan cerpen majalah Horison menarik perhatian 52,5%

47,5%

Anda dalam implementasi proses belajar mengajar apresiasi
sastra?
5.

Apakah cerpen “ Tsunami “ majalah Horison memuat contoh 67,5%

32,5%

secara detail unsur-unsur cerpen?
6.

Apakah cerpen “Tsunami”

majalah Horison telah memuat 95%

5%

informasi ( menambah pengetahuan) melalui apresiasi sastra?
7.

Pengetahuan

nilai-nilai

mengapresiasi cerpen?

humanis

dapat

dicari

dengan 87,5%

12,5%

DAFTAR PUSTAKA

Aminuddin.(1995) Pengantar Apresiasi Karya Sastra, Bandung, Sinar Baru, Algesindo.
Bungin, B. (2009) Penelitian Kualitatif, Jakarta: Kencana Prenada Group, Cetakan ketiga
Campbel,T. (1994) Tujuh Teori Sosial Sketsa, Penilaian, Perbandingan. Terjemahan F.Budi
Hardiman. Yogyakarta: Kanisius
Damaianti,V.S (Ed).(2011) Riksa Bahasa 4 Pendidikan Karakter dalam Bahasa dan Sastra
Indonesia. Bandung: Rizqi
Endraswara, S. (2008) Metodologi penelitian sastra, Yogyakarta, Medpress, Cetakan
keempat ( Edisi Revisi),
Endraswara, S. (2008) Metode Penelitian Psikologi Sastra. Teori Langkah dan
Penerapannya,
Esten, M. (1978) Kesusastraan Pengantar Teori dan Sejarah,Bandung, Angkasa
Gani, R. (1988) Pengajaran Sastra Indonesia Respon dan Analisis, Jakarta,Depdiknas
Goble, F.G. (1987) Mazhab ketiga Psikologi Humanistik Abraham Maslow. Terjemahan Drs.
A. Supratinyo. Yogyakarta: Kanisius,
Ismail, T. dkk . (2002) Horison Sastra Indonesia 2 Kitab Cerita Pendek, Horison Kaki
Langit. Jakarta. The Ford Foundation.
Jassin, H.B. (1965) Tifa Penyair dan Daerahnya, Jakarta: Gunung Agung, Cetakan keempat.
Junus,U. (1985) Dari Peristiwa Imajinasi: Wajah Sastra dan Budaya Indonesia,
P.T.Gramedia, Jakarta Cetakan ketiga.
Kementrian Pendidikan Nasional, (2010) Desain Induk, Pembangunan Karakter Bangsa,
Jakarta. Rapat Kordinator Tingkat Mentri Kementrian Kordinator Bidang
kesejahteraan Rakyat.
Luxemberg, J.V. dkk.(1984) Pengantar Sastra, Jakarta,Gramedia, terjemahan Dick Hartoko.
Majalah Sastra, (1998) Horison, Jakarta:Yayasan indonesia,XXXII, 13
Majalah Sastra, (1999) Horison, Jakarta: Yayasan Indonesia,XXXIII, No.4
Majalah Sastra, (2005) Horison, Jakarta: PT Gramedia, Tahun XXXIX, No.1
Majalah Sastra, (2005) Horison, Jakarta: PT Gramedia, Tahun XXXIX, No.3
Majalah Sastra, (2010) Horison, Jakarta: Pusat Bahasa kementrian Pendidikan Nasional,edisi
VIII
Mangunwijaya, Y.B. (1986) Ragawidya Religiositas Hal-hal Sehari-hari. Yogyakarta:
Penerbit Kanisius.
Mangunwijaya, (1986) Sastra dan Religiusitas, Yogyakarta: Kanisius.
Minderop, A. (2005) Metode Karakterisasi Telaah Fiksi, Jakarta: Yayasan Obor Indonesia,
Cetakan Pertama.
Minderop, A. (2010) Psikologi Sastra Karya Sastra, Metode, teori dan Contoh Kasus.
Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.
Nurgiantoro, B. (2010) Teori Pengkajian Fiksi, Gajah Mada University Press, Yogyakarta,
Cetakan kedelapan.
Pradopo, R.D. (2007) Prinsip- prinsip Kritik Sastra, Yogyakarta: Gajah Mada University
Press, Cetakan keempat ( revisi ) .
Ratna, N.K. (2010) Metode Penelitian Kajian Budaya dan Ilmu Sosial Humaniora Pada
Umumnya, Yogyakarta, Pustaka Pelajar, Cetakan I.
Ratna, N.K. (2003) Paradigma Sosiologi Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar,
Rusyana, Y.1984 Metode Pengajaran Sastra, Bandung, C.V. Gunung Larang,
Rusyana, Y. (1999) Mengolah Lahan Untuk Menyuburkan Pengajaran Sastra di Indonesia,
Jakarta Majalah Horison Juli.

Sarwono, S.W. (1995) Teori-teori Psikologi Sosial. Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada,
Cetakan ketiga.
Saryono, J. (2009) Dasar Apresiasi Sastra,Yogyakrta: Elmatera Publishing, cetakan Pertama.
Siswantoro, (2010) Metode Penelitian Sastra, Yoyakarta: Pustaka Pelajar, Cetakan 1
Stanton, R. (2007) Teori Fiksi, Yogyakarta, Pustaka Pelajar,Cetakan 1,
Sukmadinata, N.S. (2007) Metode Penelitian Pendidikan, Bandung, PT Remaja Rosdakarya,
Cetakan ketiga.
Sumardjo, J. (1980) Seluk Beluk Cerita Pendek, Bandung, Mitra Kencana.
Sumarjo, J. dan Saini K.M. (1988) Apresiasi Kesusastraan, Jakarta: PT Gramedia.
Syamsuddin A.R. dan Vismaia S.D. (2007) Metode Penelitian Pendidikan Bahasa, Bandung:
PT Remaja Rosdakarya, Cetakan kedua.
Teeuw, A. (1983) Membaca dan Menilai Sastra, Jakarta: PT Gramedia, Cetakan kesatu.
Wellek, R dan Austin W, (1985) Teori Kesusastraan, diterjemahkan ke dalam bahasa
Indonesia oleh Melani Budianta, Ph.D., Jakarta: Gramedia, Cetakan keempat.
Zuchdi, D. (2010) Humanisasi Pendidikan Menemukan kembali pendidikan Yang Manusiawi.
Jakarta: Penerbit Bumi Aksara, cetakan ketiga.


Dokumen yang terkait

KAJIAN TEMA DALAM ANTOLOGI CERPEN BANTEN SUATU KETIKA DAN PEMANFAATANNYA SEBAGAI MATERI PEMBELAJARAN APRESIASI SASTRA DI SMP

1 49 51

KRITIK SOSIAL DALAM KUMPULAN CERPEN BAPAK PRESIDEN YANG TERHORMAT KARYA AGUS NOOR DAN KELAYAKANNYA SEBAGAI BAHAN PEMBELAJARAN SASTRA INDONESIA DI SMA

1 17 29

KRITIK SOSIAL DALAM KUMPULAN CERPEN BAPAK PRESIDEN YANG TERHORMAT KARYA AGUS NOOR DAN KELAYAKANNYA SEBAGAI BAHAN PEMBELAJARAN SASTRA INDONESIA DI SMA

1 31 13

KONFLIK DALAM CERPEN PADA KUMPULAN CERPEN LAKI-LAKI PEMANGGUL GONI DAN IMPLIKASINYA TERHADAP PEMBELAJARAN SASTRA DI SMA

3 49 47

NILAI PENDIDIKAN KARAKTER PADA CERPEN-CERPEN KARYA SISWA SMP DALAM MAJALAH HORISON DAN IMPLIKASINYA SEBAGAI BAHAN AJAR SASTRA DI SMP

2 32 89

ANALISIS NILAI-NILAI HUMANIS DALAM CERPEN MAJALAH HORISON DENGAN PENDEKATAN PSIKOLOGI SASTRA SEBAGAI BAHAN PEMBELAJARAN APRESIASI SASTRA DI SMA

0 0 11

ASPEK KEPRIBADIAN TOKOH UTAMA DALAM CERPEN CERITA PENDEK YANG PANJANG KARYA HASTA INDRIYANA, KAJIAN PSIKOLOGI SASTRA, DAN IMPLEMENTASINYA SEBAGAI BAHAN AJAR SASTRA DI SMA

0 0 12

NOVEL JOKOWI SI TUKANG KAYU KARYA GATOTKOCO SUROSO SEBAGAI MATERI AJAR APRESIASI SASTRA DI SMA: KAJIAN PSIKOLOGI SASTRA DAN NILAI KARAKTER

0 0 16

NOVEL ATHEIS KARYA ACHDIAT KARTA MIHARDJA SEBAGAI MATERI PEMBELAJARAN SASTRA : ANALISIS PSIKOLOGI SASTRA DAN NILAI PENDIDIKAN

0 0 10

NASKAH DRAMA SENJA DENGAN DUA KELELAWAR KARYA KRIDJOMULYO: KAJIAN PSIKOLOGI SASTRA DAN RELEVANSINYA SEBAGAI BAHAN AJAR APRESIASI DRAMA DI SEKOLAH MENENGAH ATAS

0 0 18

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

69 1649 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

26 427 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

27 388 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

8 240 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

19 350 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

28 500 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

22 441 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

9 282 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

13 449 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

23 520 23