Pola pengobatan Demam Berdarah Dengue pada pasien dewasa di Rumah Sakit Panti Nugroho Sleman Yogyakarta

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

POLA PENGOBATAN DEMAM BERDARAH DENGUE PADA PASIEN
DEWASA DI RUMAH SAKIT PANTI NUGROHO SLEMAN YOGYAKARTA

SKRIPSI
Diajukan untuk Memenuhi Salah Satu Syarat
Memperoleh Gelar Sarjana farmasi (S.Farm.)
Program Studi Farmasi

Diajukan oleh :
Kadek Ida Krisnadewi
NIM : 138114024

FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS SANATA DHARMA
YOGYAKARTA
2017

i

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

ii

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

iii

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

iv

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

v

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

When I look back on my life, I see pain, mistake and heart ache.
When I look in the mirror, I see strength, learned, lessons, and
pride in myself

vi

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PRAKATA

Puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan, karena atas berkat dan
perlindunganNya penulis

dapat

menyelesaikan

skripsi

yang berjudul “Pola

Pengobatan Demam Berdarah Dengue Pada Pasien Dewasa Di Rumah Sakit Panti
Nugroho Sleman Yogyakarta” sebagai salah satu syarat untuk menyelesaikan
pendidikan di Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta.
Penulis mengucapkan terima kasih kepada semua pihak yang telah
memberikan motivasi, bimbingan, perhatian, saran, kritik, dan bantuan materi
hingga selesainya skripsi ini, terutama kepada:
1. Ibu Aris Widayati M.Si., Ph.D., Apt. selaku Dekan Fakultas Farmasi
Universitas Sanata Dharma dan Dosen Pembimbing skripsi atas perhatian,
kesabaran, bimbingan, masukan dan motivasi kepada penulis dalam proses
penyusunan skripsi.
2. Ibu dr. Fenty, M.Kes., Sp.PK. sebagai dosen penguji yang telah memberikan
kritik dan saran yang membangun selama proses pembuatan skripsi
3. Ibu Dita Maria Virginia, S.Farm, Apt., M.Sc. sebagai dosen penguji yang
telah memberikan kritik dan saran yang membangun selama proses
pembuatan skripsi
4. Bapak, Ibu dan Kakak tersayang atas doa, kasih sayang, semangat dan
dukungan bagi penulis dalam menyelesaikan skripsi ini.
5. Pak Tata dan Ibu Paulin selaku pegawai bagian rekam medik yang sudah
abnyak membantu dalam proses perizinan penelitian di RS. Panti Nugroho.
6. Putri dan Gita teman seperjuangan sekaligus sahabat. Terimakasih untuk
kerjasama, bantuan, semangat serta informasi yang selalu dibagikan dalam
pengerjaan skripsi dari awal hingga akhir.
7. Sahabat-sahabatku Ririn, Ivana, Hesti, Nila, Eko dan Ronny terimakasih
untuk canda, tawa dan semangat yang selalu menyertai selama pengerjaan

vii

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

viii

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL ...................................................................................... i
HALAMAN PERSETUJUAN PEMBIMBING ............................................... ii
HALAMAN PENGESAHAN .......................................................................... iii
PERNYATAAN KEASLIAN KARYA .......................................................... iv
LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBLIKASI............................ v
HALAMAN PERSEMBAHAN ...................................................................... vi
PRAKATA ...................................................................................................... vii
DAFTAR ISI .................................................................................................... ix
DAFTAR TABEL ............................................................................................. x
DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................... xi
ABSTRAK ...................................................................................................... xii
ABSTRACT ..................................................................................................... xiii
PENDAHULUAN ............................................................................................ 1
METODE PENELITIAN .................................................................................. 2
HASIL DAN PEMBAHASAN ......................................................................... 3
KESIMPULAN ............................................................................................... 10
DAFTAR PUSTAKA ..................................................................................... 11
LAMPIRAN .................................................................................................... 14
BIOGRAFI PENULIS .................................................................................... 31

ix

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

DAFTAR TABEL
Tabel 1. Karakteristik Pasien DBD Dewasa ....................................................... 3
Tabel 2. Pola Pengobatan Pasien DBD Dewasa ................................................. 4

x

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

DAFTAR LAMPIRAN
Lampiran 1. Surat Izin Penelitian...................................................................... 14
Lampiran 2. Surat Ethical Clearance................................................................ 15
Lampiran 3. Pola Pengobatan ........................................................................... 16

xi

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

ABSTRAK
Insiden terjadinya kasus demam berdarah di Indonesia cukup tinggi sehingga
membutuhkan perhatian serius. Pada proses pengobatan demam berdarah pada pasien
demam berdarah sangat mungkin ditemukan kesalahan, hal ini dikarenakan pasien
mendapatkan obat lebih dari satu dan pengobatan cenderung berlangsung lama.
Tujuan utama dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan gambaran pola
pengobatan pasien DBD dewasa pada Rumah Sakit Panti Nugroho pada periode JuliDesember 2015.
Jenis penelitian ini bersifat deskriptif yang mendeskripsikan pada pola
pengobatan pasien DBD dewasa. Data diperoleh secara retrospektif berdasarkan pada
pasien dewasa ≥18 tahun dengan diagnosis DBD yang menjalani rawat inap di
Rumah Sakit Panti Nugroho periode Juli-Desember 2015.
Terdapat 43 kasus yang memenuhi kriteria inklusi dan diperoleh hasil yakni
dengan obat yang paling banyak digunakan adalah cairan rehidrasi yakni Ringer
Laktat dan analgesik-antipiretik yakni penggunaan Sanmol®. Pada hasil data
penelitian cukup banyak ditemukan penggunaan NSAID sebagai analgesikantipiretik. Penggunaan NSAID berkontraindikasi dengan kondisi pasien DBD. Oleh
karena itu, tenaga kesehatan perlu memperhatikan penggunaan NSAID sebagai
analgesik-antipiretik pada pasien DBD.

Kata Kunci : Pola Pengobatan, Demam Berdarah Dengue, Pasien Dewasa.

xii

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

ABSTRACT
The incidence of dengue fever cases in Indonesia is high. Many error has been
found in the treatment process of dengue fever. This problem occure because the
patient receive more than one drug and the treatment process is too long. The main
objective in this study is to describe the prescription pattern of dengue fever in
patient at Panti Nugroho Hospital on the period July-December, 2015.
This research describes the prescription pattern of Dengue Haemorrage Fever
(DHF) adult patients. Research data was obtained retrospectively with patient
charactization. The characterization include adult patients ≥18 years old with a
diagnosis of dengue fever that hospitalized in Panti Nugroho Hospital on the period
July-December, 2015.
There are 43 cases that met the inclusion criteria. The drug most widely used
in the treatment was the rehydration fluid (Ringer Lactate) and analgesic-antipyretic
(Sanmol®). On this research, Nonsteroidal Anti-Inflamatory Drugs (NSAIDs) often
used as analgesic-antipyretic. DHF patients condition were contraindicated with
NSAIDs. Therefore, health professionals need to pay attention to using NSAIDs as
analgesic-antipyretic in patients with DHF.
Keywords: Prescription Pattern, Dengue Hemorrhagic Fever, Adult Patients.

xiii

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

PENDAHULUAN
Insiden terjadinya demam berdarah di dunia meningkat 30 kali lipat dalam kurun
waktu 50 tahun (WHO, 2009). Demam berdarah dengue di Indonesia muncul pertama kali
pada tahun 1968. Penyakit demam berdarah dengue merupakan salah satu masalah kesehatan
yang utama di Indonesia. Sejak tahun tersebut terjadi peningkatan persebaran kasus ke-32
provinsi (97%) dan 382 kabupaten/kota (77%). Di Indonesia ditemukan rekor tertinggi terjadi
pada tahun 2007-2009 dengan jumlah kasus berkisar 150.000-160.000 (WHO, 2009 dan
Kementrian Kesehatan RI, 2010).
Pada tahun 2012, jumlah kasus DBD di Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta
sebanyak 1000 kasus dengan jumlah kematian 2 orang di Kota Yogyakarta. Provinsi Daerah
Istimewa Yogyakarta memilki 5 kabupaten,

salah satunya adalah Kabupaten Sleman.

Kabupaten Sleman memiliki jumlah kasus kejadian DBD cukup tinggi pada tahun tersebut,
dengan angka kejadian 236 kasus (Dinas Kesehatan Yogyakarta, 2012). Menurut data Profil
Kesehatan Indonesia (2014), angka kejadian DBD sudah memenuhi target Renstra 2014
dengan angka target Renstra yakni ≤ 51 per 100.000 penduduk dan realisasi di tahun 2014
yaitu 39.8 per 100.000 penduduk.
Proses penyembuhan penyakit DBD membutuhkan terapi bersifat suportif. Proses
terpai DBD membutuhkan waktu yang panjang dan melibatkan banyak pihak antara lain
dokter, apoteker, perawat, pasien dan keluarga pasien. Penatalaksanaan yang sesuai guna
mendapatkan kualitas terapi yang maksimal. Tenaga kesehatan terutama farmasis wajib untuk
memberikan pelayanan kesehatan dan mutu perawatan kepada pasien untuk mencegah
terjadinya masalah dalam terapi pengobatan pasien. Masalah tekait penggunaan obat terapi
merupakan fokus bagi seorang farmasis dan juga tenaga kesehatan lainnya.
Penyakit demam berdarah dengue memerlukan penelaahan secara seksama
dikarenakan hal-hal adanya beberapa problem sebagai berikut, kecenderungan meningkatnya
jumlah kasus penderita dewasa, perubahan lingkungan yang menyebabkan meningkatnya
jumlah vektor penyakit demam berdarah, dan kemampuan vektor tersebut untuk
menyesuaikan diri dengan lingkungan (Nasronudin, 2007 dan Riskesdas, 2007).
Penelitian dilakukan di rumah sakit Panti Nugroho, Kalasan, Sleman, Yogyakarta.
Berdasarkan penelusuran pustaka, penelitian mengenai DRPs pada pengobatan pengobatan
pasien demam berdarah dewasa di instalasi rawat inap Rumah Sakit Panti Nugroho pada
1

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

periode tahun 2015 belum pernah dilakukan sebelumnya. Tujuan dari penelitian ini adalah
untuk mengetahui karakteristik dan mendeskripsikan pola pengobatan DBD pada pasien
dewasa Rumah Sakit Panti Nugroho periode Juli-Desember 2015.

METODE
Penelitian ini bersifat non ekperimental, dengan jenis penelitian deskriptif yang
memberikan gambaran terkait evaluasi pada pengobatan pasien DBD dewasa. Rancangan
penelitian ini adalah studi kasus. Penelitian dilakukan di Rumah Sakit Panti Nugroho
Kabupaten Sleman, dengan menggunakan data restropektif berupa rekam medik pasien DBD
dewasa periode Juli-Desember 2015.
Kriteria inklusi objek penelitian ini adalah rekam medik pasien dewasa yang
terdiagnosis DBD berdasarkan diagnosis yang ditulis oleh dokter pada rekam medik. Usia
pasien dewasa yaitu ≥18 tahun dan menjalani rawat inap di Rumah Sakit Panti Nugroho.
Menurut Mutiara (2003), usia dewasa adalah usia ≥ 18 tahun. Kriteria eksklusi dari penelitian
ini adalah rekam medik yang tidak lengkap dan pasien yang menmiliki penyakit lain
(komorbiditas).
Pengumpulan data dilakukan dengan menyalin data rekam medik pada lembar form
pengambilan data penelitian. Lembar form kemudian diuji coba sehingga instrumen penelitian
tersebut dapat digunakan untuk mencatat yang benar-benar dibutuhkan. Terdapat populasi
kasus sebanyak 50 kasus rawat inap RS Panti Nugroho periode Juli-Desember 2013. Kasus
yang tidak dimasukan dalam objek penelitian sebanyak 7 kasus, 4 kasus karena dijadikan
sebagai objek uji instrumen dan 3 kasus karena pasien mende rita diabetes, hipertensi dan ISK.
Jadi, total kasus yang dianalisis sejumlah 43 kasus.
Data yang diperoleh diolah dalam bentuk deskriptif meliputi karakteristik pasien dan
pola pengobatan yang ditampilkan dalam bentuk tabel. Wawancara dilakukan ke satu orang
dokter penulis resep untuk bertanya maksud dan tujuan terapi.
Karakteristik pasien dilakukan dengan penggambaran umum dari pasien DBD dewasa
meliputi jenis kelamin, lama perawatan dan usia. Pengelompokan usia pasien dewasa dibagi
sebagai berikut : usia 18-25 tahun dewasa muda (young adult), usia 25-64 tahun (middle
years) (Mutiara, 2003). Gambaran pola pengobatan dilakukan dengan mendeskripsikan
pengobatan yang diberikan pada pasien DBD dewasa yang meliputi golongan obat, jenis obat,
2

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

cara pemberian obat dan bentuk sediaan obat. Pengelompokan golongan obat mengacu pada
ISO Indonesia (2012). Pedoman utama yang digunakan adalah Modul Pengendalian Demam
Berdarah Dengue di Indonesia (2011), Guidelines on Clinical Management of DF dan Dengue
Guidelines For Diagnosis, Treatment, Prevention, And Control (2009).
%�� �



�−





�ℎ �

=

���
�ℎ

� � �
ℎ �

� �



%

HASIL DAN PEMBAHASAN
Karakteristik Pasien DBD Dewasa
Jumlah keseluruhan objek penelitian dalam penelitian ini adalah 43 rekam medik
pasien. Karakteristik pasien dibagi menjadi 3 bagian yakni, jenis kelamin, usia dan lama
perawatan. Karakteristik pasien DBD dewasa disajikan pada Tabel 1.
Pasien DBD dewasa pada penelitian ini lebih banyak laki-laki. Menurut Kemenkes
(2010), angka kejadian DBD tidak tergantung dari jenis kelamin yang artinya resiko untuk
terkena penyakit DBD untuk laki-laki dan perempuan hampir sama.
Tabel 1. Karakteristik Pasien DBD Dewasa
No
1
2

3

Pengolongan Demografi
Jenis Kelamin
Laki-laki
Perempuan
Usia
Dewasa muda (18-25
tahun)
Dewasa penuh (25-64
tahun)
Lama Perawatan
2 hari
3 hari
4 hari
5 hari
6 hari
7 hari
8 hari
9 hari

Jumlah n=43
28
15

Persentase %
65,1
34,9

22

51,2

21

48,8

1
3
7
12
7
9
3
1

2,3
7,0
16,2
28,0
16,2
21,0
7,0
2,3

Usia menurut pembagian Mutiara (2003) yakni, 18-25 tahun dewasa muda (young
adult) sebanyak 51,2% dan usia 25-64 tahun (middle years) sebanyak 48,8% (Mutiara, 2003).
Lama perawatan pasien DBD dewasa didapatkan pasien dengan lama perawatan 5 hari
merupakan jumlah yang paling tinggi dengan persentase 28 % kemudian diikuti dengan lama
perawatan 7 hari dengan persentase 16,2 %. Menurut WHO (2009), perjalanan penyakit DBD
sampai ke fase penyembuhan yakni 10 hari.
3

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Pola Pengobatan Pasien DBD Dewasa
Hasil deskripsi pola pengobatan pasien DBD dewasa dapat dilihat pada Tabel. 2. Jenis
cairan rehidrasi yang diberikan adalah kristaloid yakni ringer laktat. Dosis pemberian cairan
pada pasien DBD dewasa RS Panti Nugroho adalah 500 cc tiap 4-5 jam dengan 40 tetes
permenit. Pemberian dosis ini sudah sesuai dengan Kemenkes (2004) yakni, pemberian cairan
rehidrasi pada orang dewasa adalah 500 cc tiap 4 jam.
Tabel 2. Pola Pengobatan Pasien DBD Dewasa
No
1

Pola Pengobatan
Golongan
Obat

Jenis obat
Rehidrasi

Ringer laktat
Paracetamol
Sanmol®

Antrain®
Analgesikantipiretik
Pethidin®

Analsik®
Procolic®
Sumagesic®
Sistenol®
Curcuma FCT®
Lesichol®
Formuno®
Isprinol®
Vitamin dan
mineral

Elkana®
Imunos®
Sanfuliq®
Proza®
Kalipar®

Antibiotik

Cefriaxon

4

Dosis Obat

Jumlah

500 cc/4-5 jam
3x1 tablet/hari
(500 mg)
2x1/hari (1g/100
ml)
3x1/hari (1g/100
ml)
3x1 tablet/hari
(500mg)
1 ampul/hari
(1g/2ml)
1x1 tablet/hari
(500 mg)
1 ampul/hari
(50mg)

43

Persentase
(%)
100

12

28

18

41,8

6

14

1

2,3

3x1 tablet/hari
2x1 tablet/hari
1x1 tablet/hari
(600mg)
3x1 kaplet/hari
4x1 kaplet/hari
3x1 tablet/hari
3x1 kapsul/hari
(300mg)
1x1 kaplet/hari
3x1 tablet/hari
(500mg)
3x2 sendok
teh/hari
1x1 tablet/hari
2x1 kaplet/hari
2x1 kaplet/hari
3x1 tablet/hari
(300mg)

4
1

9,3
2,3

1

2,3

5

11,6

9

21

5

11,6

7

16,2

3

7

3

7

1
4
7

2,3
9,3
16,2

1

2,3

3

7

1x1 vial/hari(500
mg)

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Thiampenicol

2x1 vial/hari
(250mg)
3x1 kapsul/hari

4,6
2

Lanjutan Tabel 1

(500 mg)
1.Antitukak
Omeprazole

Pumpisel®

Panloc®

Pantozol®
Pumpitor®
Acran®
Obat untuk
Saluran Cerna

Ranitidin

Episan®

1x1 ampul/hari
(40mg)
1 ampul/12 jam
(40mg)
2x1 vial/hari
(40mg)
1x1 vial/hari
(40mg)
1 ampul/24 jam
(40 mg/hari)
1 ampul/12 jam
(40mg)
1x1 tablet/hari
(40mg)
2x1 kapsul/hari
(20mg)
1 ampul/hari
(50mg/2ml)
2x1 tablet/hari
(150mg)
2x1 ampul/hari
(25mg/ml)
sediaan 2 ml
3x1 sendok
teh/hari
(500mg/5ml)

2

4,6

5

11,6

5

11,6

2

4,6

3

7

3

7

12

28

5

11,6

15

34,8

1

2,3

4

9,3

4

9,3

3

7

2.Antiemetik
Ondansentron

Lametic®

Kliran®

Kortikosteroid

Diuretik

Metilprednisolon

Lasix®

5

3x1 ampul/hari
(4mg)
2x1 ampul/hari 4
mg
1 ampul/12 jam
(2mg/ml)
sediaan 4 ml
2x1 ampul/hari
(4mg)
2x1 vial/hari
(125mg)
3x1 tablet/hari
(4mg)
2x1
ampul/hari(20mg
/2ml)
1 ampul/hari
(20mg/2ml)

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

1x1 tablet/hari
(20mg)
2

Cara

Oral
43

100

Parenteral

43

100

Kaplet
Tablet
Sirup
Kapsul
Injeksi
Infus

1
3
7
12
7
9

2,3
7,0
16,2
28,0
16,2
21,0

Lanjutan Tabel 1

3

Pemberian
Obat
Bentuk
Sediaan

Oral

Parenteral

A. Golongan dan Jenis Obat
1.

Analgesik-Antipiretik
Pada penelitian ini analgesik-antipiretik digunakan pada kasus (69,8%). Kasus DBD

biasanya diawali dengan fase demam, fase demam akan berlangsung 2-7 hari. Pemberian
analgesik-antipiretik diberikan untuk mengatasi demam, sakit kepala dan nyeri perut yang
sering muncul pada pasien DBD. Penggunaan analgesik-antipiretik yang direkomendasikan
paling tepat adalah Paracetamol (Kementrian Kesehatan RI, 2011).
Dari data hasil penelitian antipiretik dana analgesik digunakan yakni, Paracetamol,
Sanmol®, Antrain®, Analsik®, Procolic®, Sumagesic®, dan Sistenol®. Sumagesic® dan
Sanmol® adalah analgesik antipiretik dengan zat aktif Paracetamol. Paracetamol merupakan
obat analgesik yang paling aman bagi pasien DBD, karena analgesik lain seperti asetosal dan
ibuprofen yang bersifat antiplatelet berkontraindikasi dengan pasien DBD.
Sistenol® merupakan analgesik-antipiretik dengan kombinasi antara Paracetamol dan
n-acetylcysteine. Pemberian kombinasi Parcetamol pada pengobatan DBD tidak sesuai dengan
protokol penatalaksanaan DBD, karena antipiretik yang digunakan seharusnya adalah obat
tunggal, tanpa adanya campuran dengan zat aktif lain (Setyoputranto, 2005).
Antrain®, Analsik® dan Procolic® merupakan obat analgesik-antipiretik dengan zat
aktif golongan dipiron (NSAID). Antrain® adalah obat dengan komposisi zat aktif yakni
Metamozole HCl. Analsik® adalah obat analgesik dengan kombinasi Methampyrone,
diazepam, Echinacea purpurea, Phyllanthus niruri, Black elderberry, Zn picolinate dan
vitamin C. Procolic® adalah obat analgesik dengan zat aktif yakni Metamizole, hyoscine-Nbutylbromide (MIMS, 2017).

6

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Pethidin® merupakan obat analgesik kuat golongan opioid dengan zat aktif meperidine
untuk mengatasi nyeri sedang hingga berat. Analgesik ini biasa digunakan apabila pemberian
analgesik biasa tidak menunjukan respon. Dosis penggunaan dapat ditingkatkan apabila terjadi
toleransi. Pada tatalaksana DBD tidak dicantumkan penggunan analgesik opioid sebagai
pilihan mengatasi nyeri yang dirasakan pasien DBD (MIMS,2017).
Metampyron dan metamizole merupakan obat dipiron yang termasuk golongan obat
NSAID, penggunaan NSAID diindikasikan untuk mengatasi nyeri pasien dan sebagai
antipiretik. Penggunaan NSAID dari data yang diperoleh paling banyak menggunakan
Analsik® dan Antrain®. Penggunaan obat dipyron pada pasien DBD dapat menyebabkan
penurunan jumlah platelet dan meningkatkan resiko dari penyakit DBD (Quijano et al., 2005).
Pasien DBD sebaiknya dihindarkan dari penggunaan NSAID, karena penderita DBD
umumnya terjadi trombositopenia dan hal ini kontraindikasi dengan penggunaan NSAID
(Ministry of Health, 2009).
Mekanisme dari NSAID adalah menghambat enzim siklooksigenase 1 (COX-1) dan
siklooksigenase 2 (COX-2). Enzim COX-1 dapat menginduksi tromboksan A2. Fungsi
tromboksan A2 yakni memperkuat agregasi trombosit untuk mencegah terjadinya perdarahan.
Penggunaan obat NSAID pada pasien DBD, sebaiknya dihindarkan karena dapat
memperparah kondisi pendarahan yang dialami pasien (Kotter et al., 2014 dan Patterson et al,
2016).
2. Vitamin dan Mineral
Bedasarkan data penelitian vitamin yang diberikan yakni Curcuma FCT®, Formuno®,
Elkana®, Imunos®, Sanfuliq®, Proza® dan Lesichol®. Pemberian vitamin untuk pasien DBD
bersifat suportif untuk memulihkan kondisi pasien (Kalayanarooj, 2011). Pemberian vitamin
dan mineral pada pasien DBD juga untuk membantu memelihara fungsi hati. Pasien DBD
cendrung mengalami hepatomegali (pembesaran hati), pembesaran hati pada umumnya dapat
ditemukan pada permulaan penyakit. Derajat pembesaran hati tidak sejajar dengan beratnya
penyakit, namun nyeri saat ditekan pada daerah hati berhubungan dengan adanya pendarahan
(Kemenkes, 2004).
3. Obat untuk Saluran Cerna
Terapi kedua yang paling banyak diberikan pada pasien adalah obat untuk saluran
cerna (88,3%) meliputi obat antitukak dan antiemetik (Lihat Tabel 2). Dari hasil penelitian
7

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

didapatkan obat anti tukak yanng diberikan yakni, Omeprazole, Pumpisel®, Panloc®,
Pantozol®, Pumpitor®, Episan® dan Ranitidin.

Pumpisel®, Panloc®, Pumpitor® dan

Pantozol® merupakan obat antitukak golongan Proton Pump Inhibitor (PPI) sedangkan
Episan® merupakan antitukak denganz at aktif sucralfat. Pasien paling banyak mendapatkan
obat antitukak golongan H2RA yakni Ranitidin.
Pertimbangan pemberian antitukak yakni manifestasi klinis yang paling sering muncul
pada pasien DBD adalah terjadinya pendarahan pada gastrointestinal (Wulandari, 2009). Oleh
sebab itu, obat antitukak diperlukan untuk melindungi lambung dari asam yang dapat
menimbulkan tukak lambung parah, akibat kondisi mukus lambung yang rusak akibat
pendarahan serta untuk mengatasi keluhan nyeri lambung (Rajapakse et al, 2014). Pemberian
antitukak yang direkomendasikan adalah Ranitidin IV atau PPI yakni Pantoprazol (Ministry of
Health, 2009).
Pasien juga mengkonsumi antiemetik untuk mengatasi mual, antiemetik yang paling
sering digunakan adalah Ondansentron (Lihat Tabel 2). Pertimbangan pemberian antiemetik
ialah pasien DBD cendrung sering merasa mual dan rasa tidak nyaman di perut. Pemberian
antiemetik yang direkomendasikan oleh Ministry of Health, (2009) adalah Domperidon.
4. Antibiotik
Antibiotik biasanya digunakan untuk mengatasi infeksi bakteri. Pada kasus terdapat
penggunaan antibiotik sebanyak 11,6 %. Pada pasien DBD pertahanan tubuh menurun dan
dapat terjadi leukopenia, pada kondisi tersebut tubuh cendrung rentan terkena infeksi bakteri
(profilaksis). Obat antibiotik yang digunakan pasien rawat inap RS. Panti Nugroho adalah
Thiampenicol dan Cefriaxon (Lihat Tabel 2).
5. Kortikosteroid
Penggunaan kortikosteroid pada pasien DBD di RS. Panti Nugroho sebesar 9,3%.
Kortikosteroid yang digunakan di RS Panti Nugroho adalah metilprednisolon. Pemberian
metilprednisolon ada secara oral dan parenteral.
Kortikosteroid biasanya digunakan untuk menangani edema otak pada enselopati
dengue yang merupakan manifestasi syok berkepanjangan, tetapi kontraindikasi pada DSS
dengan pendarahan masif (Lardo, 2013). Hasil wawancara dengan dokter, kortikosteroid
diberikan ke pasien di hari ke-7 yang biasanya ditandai dengan adanya syok. Penggunaan

8

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

kortikosteroid juga biasanya untuk mengatasi reaksi alergi misal gatal-gatal dan kemerahan
dikulit akibat injeksi ataupun transfusi (Wulandari, 2009).
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Tham et al., (2012), pemberian kortikosteroid
pada pasien DBD tidak lebih efektif daripada tanpa pemberian kortikosteroid dalam
memperbaiki manifestasi klinis, hasil pemeriksaan laboratorium, lama perawatan, kebutuhan
transfusi darah, serta kejadian mual muntah. Kortikosteroid juga dikatakan tidak efektif untuk
menangani syok pada DBD dan dapat menyebabkan pendarahan gastrointestinal (Ministry of
Health, 2009). Pada kasus pasien tidak mengalami edema otak ataupun reaksi alergi, hal ini
mungkin karena pencatatkan data rekam medik yang tidak lengkap.
6.

Diuretik
Diuretik yang digunakan adalah Lasix®, penggunaan diuretik di RS. Panti Nugroho

sebesar 9,3%. Pemberian diuretik pada pasien ada secara oral dan parenteral (Lihat Tabel 2).
Penggunaan Lasix® sebagai diuretik pada kasus 6 dan 16 tidak diperlukan. Hasil
wawancara dengan dokter, pemberian diuretik karena pasien DBD mengalami kebocoran
plasma sehingga terjadi pembengkakkan dan biasa ditandai dengan rasa sesak pada pasien.
Diuretik biasanya digunakan untuk mengatasi tanda-tanda kelebihan cairan seperti, asites
(pengumpulan cairan di rongga abdomen) dan udem paru (pengumpulan cairan dalam
pleura). Diuretik digunakan untuk segera mengeluarkan cairan tersebut agar tidak timbul
komplikasi lain yang membahayakan seperti sesak nafas (Kalayanarooj, 2011). Pada kasus
tidak dijelaskan pasien mengalai sesak atau pembengkakkan, hal ini mungkin karena informasi
data rekam medik yang tidak lengkap.
B. Cara Pemberian dan Obat Bentuk Sediaan Obat
Cara pemberian obat pada pasien DBD dewasa di Instalasi Rawat Inap RS. Panti
Nugroho 100% kasus mendapatkan obat yang diberikan secara oral dan 100% secara
parenteral. Bentuk sediaan yang diberikan pada pasien DBD dewasa adalah sediaan oral yang
meliputi kaplet sebesar 2,3 %, tablet 7,0%, sirup 16,2% dan kapsul 28,0%, disamping itu
pasien mendapatkan sediaan parenteral yang meliputi injeksi 16,2% dan infus 21,0%.
Pemberian obat oral yang paling banyak digunakan adalah tablet. Pemberian obat parenteral
didapat bentuk sediaan yang paling banyak digunakaan adalah infus (Lihat Tabel 2).

9

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Pemberian obat secara oral mempunyai segi keuntungan yakni mudah digunakan, tidak
memerlukan peralatan tertentu dalam penggunaannya, pasien merasa lebih nyaman dalam
penggunaannya karena tidak ada rasa sakit, efektif dan praktis. Kekurangan pemberian obat
secara oral adalah respon yang lambat jika dibandingkan dengan parenteral dan tidak
memungkinkan diberikan pada pasien dalam kedaaan tidak sadar (Sanjoyo, 2015).
Pemberian obat secara parenteral mempunyai segi keuntungan yakni, kecepatan efek
obat jika dibandingkan dengan pemberian secara oral lebih cepat kemudian dapat diberikan
pada pasien bisa dalam keadaan tidak sadar. Kerugian dari cara pemberian parenteral adalah
pemberiannya memberikan rasa tidak nyaman pada pasien dalam hal ini nyeri saat pemberian
obat (Ningrum, 2015 dan Sanjoyo, 2015).
KESIMPULAN
Dari penelitian mengenai “Pola Pengobatan Demam Berdarah Dengue Pada Pasien
Dewasa Di Rumah Sakit Panti Nugroho Sleman Yogyakarta” obat yang paling banyak
digunakan adalah cairan rehidrasi yakni Ringer Laktat dan analgesik-antipiretik yakni
penggunaan Sanmol®. Pada hasil data penelitian cukup banyak ditemukan penggunaan
NSAID sebagai analgesik-antipiretik. Penggunaan NSAID berkontraindikasi dengan kondisi
pasien DBD. Oleh karena itu, tenaga kesehatan perlu memperhatikan penggunaan NSAID
sebagai analgesik-antipiretik pada pasien DBD.

10

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Daftar Pustaka
American Pharmacists Association and the National Association of Chain Drug Stores
Foundation, 2008. Medication therapy management in pharmacy practice: Core
elements of an MTM service model (version 2.0), Journal of the American
Pharmacists Association. (3), p.348.
Badan Pengawasan Obat dan Makanan Republik Indonesia, 2006, Tentang Obat Tradisional
Mengandung Bahan Kimia Obat, BPOM Indonesia, Jakarta.
Cipolle,R.J., Strand,L.M., and Morley,P.C., 2012. Pharmaceutical Care Pratice: The Patientcentered Approach to Medication Management Service. Third Edition, McGraw-Hill
Education, pp.178-179.
Departemen Kesehatan RI, 2004. Pengobatan Demam Berdarah Dengue di Indonesia.
Departemen Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta, hal. 51.
Dinas Kesehatan Daerah Istimewa Yogyakarta, 2012. Profil Kesehatan Daerah Istimewa
Yogyakarta Tahun 2012. Yogyakarta, hal.114.
Kalayanarooj,S., 2011. Clinical Manifestation and Management of Dengue/DHF/DSS,
Tropical Medical and Health. (39). pp. 83-87.
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, 2010. Profil Kesehatan Indonesia 2009.
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta, hal. 47.
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, 2010. Buletin Jendela Epidemiologi Topik Utama
Demam Berdarah Dengue. Pusat Data dan Surveilans Epidemiologi Kementrian
Kesehatan Republik Indonesia, Jakarta, hal. 1-4.
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, 2011. Modul Pengendalian Demam Berdarah
Dengue. Kemenkes RI Direktorat Jendral Pengendalian Penyakit dan Penyehatan
Lingkungan, Jakarta, hal.73-75.
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, 2014. Profil Kesehatan Indonesia 2014.
Kementrian Kesehatan Republik Indonesia.
Kotter,T., Costa,B.R., Fassler,M., Blozik,E., Linde,K., Juni,P., et al, 2015. MetamizoleAssociated Adverse Events: A Systematic Review and Meta-Analysis, Plos One. pp 118
11

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Lardo,S., 2013. Penatalaksaan Demam Berdarah Dengue dengan Penyulit, CDK, (40). hal.
656-650
Maher,R.,L., Hanlon,J., and Hajjar,E.,R., 2013. Clinical Consequences of Polypharmacy in
Eldery, Expert Opinion Drug Safety. (9). hal 1-9
MIMS, 2017. Search Drug Information, MIMS (online), http://www.mims.com/indonesia
diakses 3 April 2017
Ministry of Health, 2009., Guideline on Clinical Management of Dengue Fever/Dengue
Haemorrhagic Fever, Epidemiological Unit, India, pp. 10-11
Mutiara,E., 2003. Karakteristik Penduduk Lanjut Usia Di Provinsi Sumatera Utara Tahun
1990, USU Digital Library. hal. 2
Ningrum, R.,A., 2015. Sekali Merengkuh Interferon, Tiga Aktivitas Terlampaui, BioTrends,
(1). Hal 22-25
Patterson,J., Sammon,M., and Garg,M., 2016. Dengue, Zika and Chikungunya: Emerging
Arboviruses in the New World, Western Journal of Emergency Medicine. (17). pp.
671-679
Quijano,D., Centeno,V., and Vega, 2005. Effectiveness of Early Dipyrone Administration on
Severityof Dengue Virus Infection in A Propective Cohort, Enferm Infecc Microbiol
Clinic (10) hal. 59-68
Rajapakse,S., Rodrigo,C., Maduranga,S., and Rajapakse, A.C., 2014. Corticosteroids in the
Treatment of Dengue Shock Syndrome, Infection and Drug Resistance. (7). pp. 137143.
Rizky,Z., Mukaddas,A., dan Faustine,I., 2011. Identifikasi Drug Related Problem (DRPs)
pada Pasien Anak Demam Berdarah Dengue (DBD) di Instalasi Rawat Inap RSUD
Undeta Palu Tahun 2011, Online Jurnal of Natural Science. (3). hal. 99-107.
Sanjoyo, R., 2015. Obat (Biomedik Farmakologi), Web UGM
http://yoyoke.web.ugm.ac.id/download/obat.pdf, diakses 3 April 2017

(Online),

Setyoputranto,N.,P.,W., 2005. Pola Peresepan Pasien Demam Berdarah Dengue Dewasa Non
Komplikasi Di Instalasi Rawat Inap Rumah Sakit Dr.Sardjito Yogyakarta Tahun 2002,
Skripsi, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.
12

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Singhi,S., Kissoon,N., and Bansal,A., 2007. Dengue and Dengue Hemorrhagic Fever:
Management Issues in an Intensive Care Unit, Jornal de Pediatria. (83). p. 25.
Tam,D.T.H., Ngoc,T.V., Tien,N.T.H., Kieu,N.T.T., Thuy,T.T.T., Thanh,L.T.C., et al, 2012.
Effect of Short-Course Oral Corticosteroid Therapy in Early Dengue Infection in
Vietnames Patients: A Randomized, Placebo-Controlled Trial, Clinical Infection
Disease. Pp. 1-9
Wulandari,B.,A., 2009. Evaluasi Drug Related Problem (DRPs) pada Pasien Anak Dengue
Shock Syndrome (DSS) Di Instalasi Rawat Inap RSUP.DR. Sardjito Yogyakarta Tahun
2008, Skripsi, Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta.
World Health Organization, 2009., Dengue Guidelines For Diagnosis, Treatment, Prevention,
And Control, WHO Press, France, pp. 3-5.
Yasin,N.M., Sunowo,J., dan Supriyanti,E.,2009, Drug Related Problem (DRP) dalam
Pengobatan Dengue Hemoraggic Fever (DHF) pada Pasein Pediatrik, Majalah
Farmasi Indonesia. (20), hal. 27, 33.

13

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Lampiran 1. Surat Izin Penelitian

14

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Lampiran 2. Surat Ethical Clearance

15

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

No

No.
RM

U

JK

Diagnosis
Utama

L
P

Nama Obat

1

174
607

26

L

DF

7

Ringer laktat
Analsik®
Formuno®

2

3

174
349

171
184

42

38

L

P

DF

DF

8

7

Injeksi
Pumpisel®
Ringer laktat
Paracetamol

Injeksi
Ondansentron
Ringer laktat
Paracetamol
Injeksi
Ondansentron
Procolic®

4

152
731

37

L

DHF

5

Komposisi

Methampyrone 500 mg, diazepam 2mg
Echinacea purpurea dry extr 250 mg,
Phyllanthus niruri dry extr 50 mg,
Black elderberry dry extr 300 mg, Zn
picolinate 10 mg, vit C 100 mg
Pantoprazole

Dosis

Range

500 cc/tiap 4-5 jam
3x1 tablet/hari
1x1 kaplet/hari

1-4 kaplet/hari
1-3 kaplet/hari

2x1 vial/hari (40mg)

Paracetamol

500 cc/tiap 4-5 jam
3x1 tablet/hari (500
mg)

Ondansentron

3x1 ampul/hari (4mg)

Paracetamol

500 cc/tiap 4-5 jam
3x1 tablet/hari (500
mg)

Ondansentron
Metamizole 250 mg, hyoscine-Nbutylbromide 10 mg

3x1 ampul/hari (4mg)
2x1 tablet/hari

Antasida Doen®
Ranitidin

Ranitidin

Pumpitor®

Omeprazole

2x1 kapsul/hari
(20mg)

Injeksi
Omeprazole

Omeprazole

1 ampul/12 jam

Pantoprazole

500 cc/tiap 4-5 jam
1x1 vial/hari (40mg)

Ringer laktat
Injeksi
Pumpisel®
Injeksi Sanmol®

3x1 tablet/hari
2x1 tablet/hari
(150mg)

Paracetamol

2x1/hari (1g/100 ml)

16

1 vial (40 mg) IV
per hari
500 mg –1000
mg/ hari.
Maksimal 4g/hari
4-8 mg/hari.
500 mg –1000
mg/ hari.
Maksimal 4g/hari
4-8 mg/hari.
1-2 tablet 3x
3-4 tablet/hari
150 mg 2x sehari,
300mg/hari.
Maksimal 300mg
Dosis awal
20mg/hari,
selanjutnya bisa
ditingkatkan bila
belum membaik
40mg/hari

1 vial (40 mg) IV
per hari
500mg-4g/hari

Bentuk
sediaa
n
Infus
Tablet
Kaplet

Cara
Pemberia
n
Parenteral
Oral
Oral

Injeksi

Parenteral

Infus
Tablet

Parenteral
Oral

Injeksi

Parenteral

Infus
Tablet

Parenteral
Oral

Injeksi
Tablet

Parenteral
Oral

Tablet
Tablet

Oral
Oral

Tablet

Oral

Injeksi

Parenteral

Infus
Injeksi

Parenteral
Parenteral

Injeksi

Parenteral

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Formuno®

Isprinol®
5

6

174
809

175
529

55

36

L

P

DF

DF

4

7

Ringer laktat
Analsik®

Echinacea purpurea dry extr 250 mg,
Phyllanthus niruri dry extr 50 mg,
Black elderberry dry extr 300 mg, Zn
picolinate 10 mg, vit C 100 mg
Methisoprinol

Episan®

Methampyrone 500 mg, diazepam 2
mg
Sucralfat

Injeksi Sanmol®
Pumpitor®

Paracetammol
Omeprazole

Ringer laktat
Paracetamol

Injeksi
Ondansentron
Injeksi Panloc®
Injeksi
Metilprednisolon
Lesichol®

Kalipar®
Proza®

Lasix®20mg/ml

1x1 kaplet/hari

1-3 kaplet/hari

Injeksi

Parenteral

3x1 tab/hari (500mg)

50mg/kgBB/hari

Tablet

Oral

500 cc/tiap 4-5 jam
3x1 tablet/hari

1-4 tablet/hari

Infus
Tablet
Sirup

Parenteral
Oral
Oral
Oral

Injeksi

Oral

3x1 sendok teh/hari
(500mg/5ml)
2x1/hari 1 g/100 ml
2x1 kapsul/hari

Paracetamol

500 cc/tiap 4-5 jam
3x1 tablet/hari (500
mg)

Ondansentron

3x1 ampul/hari (4mg)

Pantoprazol

1 ampul/24 jam
(40mg)
2x1 vial/hari (125mg)

Pure lecithin (PPC 95%) 175 mg (300
mg for Lesichol-300 & 600 mg for
Lesichol-600), vit B1 6 mg, vit B2 6
mg, vit B6 6 mg, vit B12 6 mcg, vit E 10
mg, nicotinamide 30 mg
K-I Aspartat
Echinacea extr (polinacea) 250 mg, vit
C 250 mg, Zn picolinate 10 mg. Per 5
mL syr Echinacea extr (polinacea) 125
mg, Zn picolinate 5 mg
Furosemid

17

10ml 4 kali sehari
(4g)
500mg-4g/hari
Dosis awal
20mg/hari,
selanjutnya bisa
ditingkatkan bila
belum membaik

Kapsul

Infus
Tablet

Parenteral
Oral

Injeksi

Parenteral

40 mg/hari

Injeksi

Parenteral

10-500 mg/hari

Injeksi

Parenteral

3x1 kapsul/hari
(300mg)

1-2 kap 3 kali
sehari (300mg)

Kapsul

Oral

3x1 tablet/hari
(300mg)
2x1 kaplet/hari

1-3 tablet/hari

Tablet

Oral

1-3 kaplet/hari

Kaplet

Oral

1 ampul/12 jam

Edema : 20-80mg

Injeksi

Parenteral

500 mg –1000
mg/ hari.
Maksimal 4g/hari
4-8 mg/hari.

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

(20mg/2ml)

Pethidine

7

8

172
909

159
406

50

18

P

P

DF

DF

4

5

Ringer laktat
Proza®

Opioid

1 ampul/hari (50mg)

Echinacea extr (polinacea) 250 mg, vit
C 250 mg, Zn picolinate 10 mg. Per 5
mL syr Echinacea extr (polinacea) 125
mg, Zn picolinate 5 mg

Injeksi
Ondansentron
Sanmol®

Paracetamol

Ringer laktat
Sanmol®

Paracetamol

Injeksi
Ondansentron
Thiampenicol
9

172
491

18

P

DF

5

Paracetamol

Episan®

Sucralfat

Sanfuliq®

Curcuma longa rhizome extr
(Curcuminoid 95%) 150 mg, silybin
phospholipids 140 mg, Schizandrae
fructus extr 135 mg, choline Lbitartrate 150 mg, vit B1 1 mg, B2 1.2
mg, B6 2 mg, B12 2.4 mcg, vit E 15 mg
Ondansentron

Kliran®

18

Injeksi

Parenteral

500 cc/tiap 4-5 jam
2x1 kaplet/hari

1-3 kaplet/hari

Infus
Kaplet

Parenteral
Oral

2x1 ampul/hari 4 mg

4-8 mg/hari.

Injeksi

Parenteral

3x1 tablet/hari
(500mg)

500mg-4g
tablet/hari

Tablet

Oral

500 cc/tiap 4-5 jam
3x1 tablet/hari
(500mg)
3x1 ampul/hari (4mg)

500mg-4g
tablet/hari
4-8 mg/hari.

Infus
Tablet

Parenteral
Oral

Injeksi

Parenteral

Kapsul

Oral

Infus
Tablet

Parenteral
Oral

Sirup

Oral

1 kaplet/hari

Kaplet

Oral

4-8mg/hari

Kaplet

Oral

3x1 kapsul/hari (500
mg)
500 cc/tiap 4-5 jam
3x1 tablet/hari

Ringer laktat
Sanmol®

single dose
Edema otak : 2040mg 3x sehari
Nyeri : 25-50mg
tiap 4 jam

3x1 sendok teh/hari
(500mg/5ml)
2x1 kaplet/hari

2x1 kaplet/hari (4mg)

1,5g/dosis terbagi

500mg-4g
tablet/hari
500mg-4g/hari

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

10

170
826

20

P

DF

8

Ringer laktat
Panloc®

Pantoprazole

Proza®

Sanmol®

Echinacea extr (polinacea) 250 mg, vit
C 250 mg, Zn picolinate 10 mg. Per 5
mL syr Echinacea extr (polinacea) 125
mg, Zn picolinate 5 mg
Pure lecithin (PPC 95%) 175 mg (300
mg for Lesichol-300 & 600 mg for
Lesichol-600), vit B1 6 mg, vit B2 6
mg, vit B6 6 mg, vit B12 6 mcg, vit E 10
mg, nicotinamide 30 mg
Paracetamol

Inpepsa®

Sucralfatt

Lesichol®

11

175
280

36

L

DF

3

Ringer laktat
Proza®

Lesichol®

Sistenol®
Injeksi Panloc® 1
ampul/24 jam
12

170
610

48

L

DF

6

Echinacea extr (polinacea) 250 mg, vit
C 250 mg, Zn picolinate 10 mg. Per 5
mL syr Echinacea extr (polinacea) 125
mg, Zn picolinate 5 mg
Pure lecithin (PPC 95%) 175 mg (300
mg for Lesichol-300 & 600 mg for
Lesichol-600), vit B1 6 mg, vit B2 6
mg, vit B6 6 mg, vit B12 6 mcg, vit E 10
mg, nicotinamide 30 mg
Paracetamol 500 mg, n-acetylcysteine
200 mg
Pantoprazol

Ringer laktat
Injeksi
Ondansentron
Sanmol®

Ondansentron
Paracetamol

Thiampenicol

Thiampenicol

500 cc/tiap 4-5
jam
40 mg/hari

Infus

Parenteral

Injeksi

Parenteral

1-3 kaplet/hari

Kaplet

Oral

3x1 kapsul/hari

1-2 kap 3 kali
sehari (300mg)

Kaplet

Oral

3x1 tablet/hari
(500mg)
3x1 sendok teh/hari
(500mg/5ml)

500mg-4g
tablet/hari
500mg-4g/hari

Tablet

Oral

Sirup

Oral

Infus
Kaplet

Parenteral
Oral

1 ampul/12 jam
(40mg)
2x1 kaplet/hari

500 cc/tiap 4-5 jam
2x1 kaplet/hari

3x1 kapsul/hari

1-2 kap 3 kali
sehari (300mg)

Kaplet

Oral

3x1 kaplet/hari

3x1 kaplet/hari

Kaplet

Oral

1 ampul/24 jam
(40mg)

40mg/hari

Injeksi

Parenteral

4-8mg/hari

Infus
Injeksi

Parenteral
Parenteral

Tablet

Oral

Kapsul

Oral

500 cc/tiap 4-5 jam
3x1 ampul/hari (4mg)
3x1 tablet/hari
(500mg)
3x1 kapsul/hari (500
mg)

19

1-3 kaplet/hari

500mg-1000mg
Maksimal 4g/hari
1,5mg/ dosis

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

terbagi

13

171
487

24

P

DF

8

Ringer laktat
Paracetamol

Proza®

Lesichol®

14

170
591

16

L

DF

5

500 cc/tiap 4-5 jam
3x1 tablet/hari (500
mg)

Paracetamol

Echinacea extr (polinacea) 250 mg, vit
C 250 mg, Zn picolinate 10 mg. Per 5
mL syr Echinacea extr (polinacea) 125
mg, Zn picolinate 5 mg
Pure lecithin (PPC 95%) 175 mg (300
mg for Lesichol-300 & 600 mg for
Lesichol-600), vit B1 6 mg, vit B2 6
mg, vit B6 6 mg, vit B12 6 mcg, vit E 10
mg, nicotinamide 30 mg

2x1 kaplet/hari

2x1 kapsul/hari

Ringer laktat
Injeksi
Ondansentron
Injeksi Antrain

Metamizole Na

1 ampul/hari (1g/2ml)

Injeksi Acran

Ranitidin HCl

Sanmol®

Paraceamol

Lesichol®

Pure lecithin (PPC 95%) 175 mg (300
mg for Lesichol-300 & 600 mg for
Lesichol-600), vit B1 6 mg, vit B2 6
mg, vit B6 6 mg, vit B12 6 mcg, vit E 10
mg, nicotinamide 30 mg
Pantoprazol

1 ampul/hari
(50mg/2ml)
3x1 tablet/hari
(500mg)
3x1 kapsul/hari

Injeksi Panloc®
Proza®

500 cc/tiap 4-5 jam
3x1 ampul/hari (4mg)

Echinacea extr (polinacea) 250 mg, vit
C 250 mg, Zn picolinate 10 mg. Per 5
mL syr Echinacea extr (polinacea) 125

20

1 ampul/24 jam
(40mg)
2x1 kaplet/hari

Infus
Tablet

Parenteral
Oral

Kaplet

Oral

Kaplet

Oral

Infus
Injeksi

Parenteral
Parenteral

500mg tiap 6-8
jam
50 mg 6-8 jam

Injeksi

Parenteral

Injeksi

Parentteral

500-1000mg/hari.
Maksimal 4g/hari
1-2 kap 3 kali
sehari (300mg)

Tablet

Oral

Kaplet

Oral

40 mg/hari

Injeksi

Parenteral

1-3 kaplet/hari

Kaplet

Oral

500 mg –1000
mg/ hari.
Maksimal 4g/hari
1-3 kaplet/hari

1-2 kap 3 kali
sehari (300mg)

4-8mg/hari

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

mg, Zn picolinate 5 mg

15

174
995

25

L

DHF

7

Ringer laktat
Sanmol®
Lesichol®

Injeksi
Ondansentron
Sumagesic®

16

172
887

16

L

DHF

6

Ringer laktat
Injeksi
Ondansentron
Sanmol®

Paracetamol
Pure lecithin (PPC 95%) 175 mg (300
mg for Lesichol-300 & 600 mg for
Lesichol-600), vit B1 6 mg, vit B2 6
mg, vit B6 6 mg, vit B12 6 mcg, vit E 10
mg, nicotinamide 30 mg
Ondansenttron
Paracetamol

500 cc/tiap 4-5 jam
3x1 tablet/hari
(500mg)
2x1 kapsul/hari

Parenteral
Oral

Kaplet

Oral

4-8mg/hari

Injeksi

Parenteral

1x1 tablet/hari
(600mg)

3-4 kali/hari

Tablet

Oral

4-8mg/hari

Infus
Injeksi

Parenteral
Parenteral

Tablet

Oral

Tablet

Oral

Injeksi

Parenteral

Tablet

Oral

Paracetamol

3x1 tablet/hari
(500mg)

Antrain®

Metamizole Na

1x1 tablet/hari (500
mg)

Lasix®

Furosemid

1 ampul/hari
(20mg/2ml)

Theragran®

Vit A 10,000 IU, vit B1 10 mg, vit B2
10 mg, vit B6 5 mg, vit B12 5 mcg, vit C
200 mg, vit D 400 IU, Ca pantothenate
20 mg, niacinamide 100 mg, K iodide
150 mcg, Fe 12 mg, Mg 65 mg,
manganese 1 mg, copper 2 mg, Zn 1.5
mg

1x1 tablet/hari

21

Infus
Tablet

3x1 ampul/hari (4mg)

500 cc/tiap 4-5 jam
2x1 ampul/hari

Ondansentron

500-1000mg/hari.
Maksimal 4g/hari
1-2 kap 3 kali
sehari (300mg)

500mg1000mg/hari.
Maksimal 4g
1 tablet/hari. Bila
rasa nyyeri masih
ada 1 tab 6-8 jam
Edema : 20-80mg
single dose
Edema otak : 2040mg 3x sehari
1x1 tablet/hari

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Elkana®

17

18

170
624

171
989

37

18

L

P

DF

DHF

4

6

Metilprednisolon

Vitamin A 2.400 IU, Vitamin B1 4 mg,
Vitamin B2 1,2 mg, Vitamin B6 1,2
mg, Vitamin B12 4 mcg, Vitamin C 60
mg, Vitamin D 400 IU, Nikotinamid 16
mg, Kalcium Pantotenat 6 mg, Kolin
12 mg, Inositol 12 mg, Kalsium
Glukonat 300mg, Kalsium Hipofosfit
20mg, Natrium Hipofosfit 20mg, I –
Lisina HCl 200mg.
Metilprednisolon

Ringer laktat
Paracetamol

Paracetamol

Curcuma FCT®

Curcuma xanthorrhiza 20 mg

500 cc/tiap 4-5 jam
3x1 tablet/hari
(500mg)
3x1 tablet/hari

Ranitidin

Ranitidin

2x1 tablet/hari

500-1000mg/hari.
Maksimal 4g/hari
3 kali sehari 1-2
tablet
3-4 tablet/hari

Ringer laktat
Paracetamol

Paracetamol

500 cc/tiap 4-5 jam
3x1 tablet/hari (500
mg)
3x1 ampul/hari (4mg)

500-1000mg/hari.
Maksimal 4 g
4-8 mg/hari

Injeksi
Ondansentron
Injeksi Omeprazol
19

174
744

23

L

DF

4

Ringer laktat
Paracetamol
Analsik®
Injeksi
Ondansentron
Injeksi Cefriaxon

Ondansentron
Omeprazole

Paracetamol
Methampyrone 500 mg, diazepam 2mg

Cefriaxon

22

3x2 sendok teh/hari

1-2 sendok/2 kali
sehari

Sirup

Oral

3x1 tablet/hari (4mg)

4-24mg/hari

Teblet

Oral

Infus
Tablet

Parenteral
Oral

Tablet

Oral

Tablet

Oral

Infus
Tablet

Parenteral
Oral

Injeksi

Parenteral

Injeksi

Parenteral

Infus
Tablet

Parenteral
Oral

Tablet
Injeksi

Oral
Parenteral

Injeksi

Parenteral

1x1 ampul/hari
(40mg)
500 cc/tiap 4-5 jam
3x1 tablet/hari (500
mg
3x1 tablet/hari
2x1 ampul/hari (4mg)

40mg/hari

1x1 vial/hari (500
mg)

1g/hari

500-1000mg/hari.
Maksimal 4 g
1-4 tablet/hari
4-8 mg/hari

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

20

142
264

43

L

DF

6

Ringer laktat
Injeksi Acran®

Ranitidin HCl

500 cc/tiap 4-5 jam
2x1 ampul/hari
(50mg/2ml)
2x1 ampul/hari (4mg)
2x1/hari (1g/100ml)

Injeksi Kliran®
Injeksi Sanmol®

Ondansentron
Paracetamol

Episan®

Sucralfat

Sanfuliq®

Curcuma longa rhizome extr
(Curcuminoid 95%) 150 mg, silybin
phospholipids 140 mg, Schizandrae
fructus extr 135 mg, choline Lbitartrate 150 mg, vit B1 1 mg, B2 1.2
mg, B6 2 mg, B12 2.4 mcg, vit E 15 mg
Methisoprinol

Isprinol®
Injeksi Cefriaxon

3x1 sendok teh/hari
(500mg/5ml)
2x1 kaplet/hari

3x1 tablet/hari
1x1 vial/hari (500
mg)

23

Infus
Injeksi

Parenteral
Parenteral

4-8mg/hari
500-1000mg/hari.
Maksimal 4 g
10ml 4 kali sehari
(4g)
1 kaplet/hari

Injeksi
Injeksi

Parenteral
Parenteral

Sirup

Oral

Kaplet

Oral

50mg/kgBB/hari
1g/hari

Tablet
Injeksi

Oral
Parenteral

50 mg 6-8 jam

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

21

152
522

16

L

DF

6

Ringer laktat
Sanmol®
Ondansentron
Imunos®

Paracetamol

500 cc/tiap 4-5 jam
3x1 tablet/hari
(500mg)
2x1 tablet/hari (4 mg)
1x1 tablet/hari

Antrain®

Ondansentron
Echinacea (EFLA 894) 500 mg, Zn
picolinate 10 mg, selenium 15 mcg,
ascorbic acid 50 mg.
Metamizole Na

Lasix®

Furosemid

1 ampul/hari
(20mg/2ml)

Elkana®

Vitamin A 2.400 IU, Vitamin B1 4 mg,
Vitamin B2 1,2 mg, Vitamin B6 1,2
mg, Vitamin B12 4 mcg, Vitamin C 60
mg, Vitamin D 400 IU, Nikotinamid 16
mg, Kalcium Pantotenat 6 mg, Kolin
12 mg, Inositol 12 mg, Kalsium
Glukonat 300mg, Kalsium Hipofosfit
20mg, Natrium Hipofosfit 20mg, I –
Lisina HCl 200mg
Metilprednisolon

3x2 sendok teh/hari

Metilprednisolon

24

1x1 tablet/hari

3x1 tablet/hari (4mg)

Infus
Tablet

Parenteral
Oral

Tablet
Tablet

Oral
Oral

1 tablet/hari. Bila
rasa nyeri masih
ada 1 tab 6-8 jam
Edema : 20-80mg
single dose
Edema otak : 2040mg 3x sehari
1-2 sendok/2 kali
sehari

Tablet

Oral

Injeksi

Parenteral

Sirup

Oral

4-24mg/hari

Tablet

Oral

500-1000mg/hari.
Maksimal 4g
4-8mg/hari
1 tablet/hari

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

22

153
136

18

L

DF

5

Ringer laktat
Injeksi Sanmol®
3x1/hari
Sanfuliq®

Pumpitor®

23

152
565

30

P

DF

4

Ringer laktat
Injeksi
Pumpisel®
Episan®
Formuno®

Sanfuliq®

24

151
818

62

L

DF

4

Ringer laktat
Injeksi Acran®

500 cc/tiap 4-5 jam
3x1/hari (1g/100 ml)

Paracetamol
Curcuma longa rhizome extr
(Curcuminoid 95%) 150 mg, silybin
phospholipids 140 mg, Schizandrae
fructus extr 135 mg, choline Lbitartrate 150 mg, vit B1 1 mg, B2 1.2
mg, B6 2 mg, B12 2.4 mcg, vit E 15 mg
Omeprazole

2x1 kaplet/hari

2x1 kapsul/hari
(20mg)

500 cc/tiap 4-5 jam
2x1 vial/hari (40mg)

Pantoprazole
Sucralfat
Echinacea purpurea dry extr 250 mg,
Phyllanthus niruri dry extr 50 mg,
Black elderberry dry extr 300 mg, Zn
picolinate 10 mg, vit C 100 mg
Curcuma longa rhizome extr
(Curcuminoid 95%) 150 mg, silybin
phospholipids 140 mg, Schizandrae
fructus extr 135 mg, choline Lbitartrate 150 mg, vit B1 1 mg, B2 1.2
mg, B6 2 mg, B12 2.4 mcg, vit E 15 mg

Injeksi Antrain
®
Injeksi Panloc®

Metamizole Na

Lesichol®

Pure lecithin (PPC 95%) 175 mg (300
mg for Lesichol-300 & 600 mg for
Lesichol-600), vit B1 6 mg, vit B2 6

Pantoprazole

25

Dosis awal
20mg/hari,
selanjutnya bisa
ditingkatkan bila
belum membaik

Infus
Injeksi

Parenteral
Parenteral

Kaplet

Oral

Kapsul

Oral

Infus
Injeksi

Parenteral
Parenteral

Sirup

Oral

Kaplet

Oral

3x1 sendok teh/hari
(500mg/5ml)
1x1 kaplet/hari

1 vial (40 mg) IV
per hari
10ml 4 kali sehari
(4g)
1-3 kaplet/hari

2x1 kaplet/hari

1 kaplet/hari

Kaplet

Oral

50 mg 6-8 jam

Infus
Injeksi

Parenteral
Parenteral

500mg tiap 6-8
jam
40mg/hari

Injeksi

Parenteral

Injeksi

Parenteral

1-2 kap 3 kali
sehari (300mg)

Kapsul

Oral

500 cc/tiap 4-5 jam
1 ampul/hari
(50mg/2ml)
1 ampul/hari (1g/2ml)

Ranitidin HCl

500-1000mg/hari.
Maksimal 4 g
1 kaplet/hari

1 ampul/24 jam
(40mg)
3x1 kapsul/hari
(300mg)

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

Proza®

Pantozol®
25

120
954

57

P

DF

2

mg, vit B6 6 mg, vit B12 6 mcg, vit E 10
mg, nicotinamide 30 mg
Echinacea extr (polinacea) 250 mg, vit
C 250 mg, Zn picolinate 10 mg. Per 5
mL syr Echinacea extr (polinacea) 125
mg, Zn picolinate 5 mg
Pantoprazole

Ringer laktat
Paracetamol
Injeksi
Ondansentron

26

27

28

132
417

136
979

136
979

56

20

20

L

P

P

DHF

DF

DF

7

5

5

Ringer laktat
Lasix®

Furosemid

Sanmol®

Paracetamol

Injeksi Antrain®

Metamizole

Formuno®

Echinacea purpurea dry extr 250 mg,
Phyllanthus niruri dry extr 50 mg,
Black elderberry dry extr 300 mg, Zn
picolinate 10 mg, vit C 100 mg

Ringer laktat
Sistenol®
Pantozol®

Paracetamol 500 mg, n-acetylcysteine
200 mg
Pantoprazol

Injeksi Lametic®

Ondansentron HCl

Ringer laktat
Injeksi Ranitidin

Ranitidin

Injeksi
Ondansentron

26

2x1 kaplet/hari

1-3 kaplet/hari

Kaplet

Oral

1x1 tablet/hari
(40mg)
500 cc/tiap 4-5 jam
3x1 tablet/hari (500
mg)

20-40 mg/hari

Tablet

Oral

Infus
Tablet

Parenteral
Oral

3x1 ampul/hari
(4mg/2ml) sediaan
2ml
500 cc/tiap 4-5 jam
1x1 tablet/hari
(20mg)
3x1 tablet/hari
(500mg)
1 ampul/hari (1g/2ml)

4-8 mg/hari.

Injeksi

Parenteral

20-80mg/hari

Infus
Tablet

Parenteral
Oral

Tablet

Parenteral

Injeksi

Parenteral

Kaplet

Oral

500-1000mg/hari.
Maksimal 4 g

1x1 kaplet/hari

500-1000mg/hari.
Maksimal 4g
500mg tiap 6-8
jam
1-3 kaplet/hari

500 cc/tiap 4-5 jam
3x1 kaplet/hari

3x1 kaplet/hari

Infus
Kaplet

Parenteral
Oral

20-40 mg/hari

Tablet

Oral

IV: 8mg 2x sehari

Injeksi

Parenteral

50mg/hari

Infus
Injeksi

Parenteral
Parenteral

4-8mg/hari

Injeksi

Parenteral

1x1 tablet/hari
(40mg)
1 ampul/12 jam
(2mg/ml) sediaan 4
ml
500 cc/tiap 4-5 jam
2x1 ampul/hari
(25mg/ml) sediaan 2
ml
2x1 ampul/hari
(4mg/2ml) sediaan

PLAGIAT MERUPAKAN TINDAKAN TIDAK TERPUJI

2ml
29

30

31

32

151
735

19

172
677

23

175
626

21

171
923

45

L

L

L

P

DF

DF

DF

DF

7

3

5

5

Ringer laktat
Curcuma FCT ®

Ranitidin
Injeksi Antrain®

Metamizole HCl

2x1 tablet/hari
(150mg)
1 ampul/hari (1g/2ml)

Ringer laktat

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

76 1855 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

28 486 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

28 431 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

9 258 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

19 380 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

31 569 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

25 501 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

10 319 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

15 491 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

26 582 23