RIZKY PRATAMA PUTRA MAKALAH PENDIDIKAN K

MAKALAH PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN
RULE OF LAW & HAM

Diajukan untuk memenuhi tugas mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan
Dosen Pengajar: Anwar Aulia, M.Pd

Disusun oleh :

Disusun Oleh:
RIZKY PRATAMA PUTRA
NIM: P27903117091
TINGKAT 1B

JURUSAN TEKNOLOGI LABORATORIUM MEDIK
POLITEKNIK KESEHATAN KEMENTRIAN KESEHATAN BANTEN
2018

KATA PENGANTAR

Puji dan Syukur kami ucapkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan
hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini. Tidak lupa kami haturkan shalawat
serta salam kepada junjungan nabi besar Muhammad SAW yang telah mengantarkan kita dari
zaman kegelapan hingga zaman yang terang benderang seperti sekarang ini.
Makalah ini memuat tentang “Rule Of Law & HAM”. Saya ingin mengucapkan terima
kasih kepada semua pihak yang secara langsung maupun tidak langsung telah membantu dalam
penyusunan makalah ini. Berkat bantuan serta dorongan mereka kami dapat menyelesaikan
makalah ini.
Saya sadar bahwa makalah ini masih jauh dari kata sempurna, dan banyak sekali
kekurangan dan kesalahan didalamnya. Maka dari itu, kritik maupun saran yang sifatnya
membangun dari berbagai pihak sangat diperlukan demi menyempurnakan makalah ini. Saya
berharap makalah ini dapat bermanfaat bagi pembaca.

Tangerang, 21 Maret 2018

Penyusun,

2

DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR ................................................................................................................................. 2
BAB I ............................................................................................................................................................ 4
PENDAHULUAN ....................................................................................................................................... 4
1.1 LATAR BELAKANG ..................................................................................................................... 4
1.2 RUMUSAN MASALAH .................................................................................................................. 4
1.3 TUJUAN ........................................................................................................................................... 4
BAB II .......................................................................................................................................................... 5
PEMBAHASAN .......................................................................................................................................... 5
2.1

PENGERTIAN RULE OF LAW ............................................................................................... 5

2.2

PRINSIP-PRINSIP RULE OF LAW ........................................................................................ 7

2.3

PENGERTIAN HAM ................................................................................................................. 8

2.4

SEJARAH PERKEMBANGAN HAM ................................................................................... 10

2.5

PENGELOMPOKKAN HAM ................................................................................................. 15

2.6

HAM DI INDONESIA .............................................................................................................. 16

2.7

CONTOH PELANGGARAN HAM ........................................................................................ 17

BAB III....................................................................................................................................................... 21
PENUTUP.................................................................................................................................................. 21
3.1

KESIMPULAN ......................................................................................................................... 21

3.2

SARAN ....................................................................................................................................... 21

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................................................................ 22

3

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 LATAR BELAKANG
Dalam kehidupan sehari-hari kita tidak terlepas dari hukum, mulai dari norma, nilai, tata
krama, hingga hukum perundang-undangan dalam peradilan. Sayangnya hukum di Negara
Indonesia masih kurang dalam proses penegakkannya, terutama penegakkan hukum di kalangan
pejabat-pejabat dibandingkan dengan penegakkan hukum dikalangan menengah ke bawah. Hal ini
terjadi karena di Negara kita, hukum dapat dibeli dengan uang. Siapa yang memiliki kekuasaan,
dia yang memenangkan peradilan.
Rule of Law adalah suatu doktrin yang mulai muncul pada abad ke 19, bersamaan dengan
kelahiran Negara konstitusi dan demokrasi. Rule of Law merupakan konsep tentang common law
dimana segenap lapisan masyarakat dan Negara beserta seluruh kelembagaannya menjungjung
tinggi supremasi hukum yang dibangun diatas prinsip keadilan dan egalitarian. Ada tidaknya Rule
of Law dalam suatu Negara ditentukan oleh kenyataan apakah rakyatnya benar-benar menikmati
keadilan, dalam arti perlakuan yang adil baik sesama warga Negara maupun pemerintah
1.2 RUMUSAN MASALAH
1. Apa pengertian Rule of Law?
2. Apa saja prinsip-prinsip Rule of law?
3. Apa pengertian HAM?
4. Bagaimana sejarah perkembangan HAM?
5. Bagaimana pengelompokkan HAM?
6. Bagaimana HAM di Indonesia?
1.3 TUJUAN
1. Mengetahui pengertian Rule of Law
2. Mengetahui prinsip-prinsip Rule of Law
3. Mengetahui pengertian HAM
4. Mengetahui sejarah perkembangan HAM
5. Mengetahui pengelompokkan HAM
6. Mengetahui HAM di Indonesia
4

BAB II
PEMBAHASAN
2.1

PENGERTIAN RULE OF LAW
Rule of law dapat diartikan ke dalam bahasa Indonesia dengan “aturan” (Rule) dan

“hukum” (law).

Jadi konsep ini dikaitkan dengan Negara adalah Negara yang dalam tata

pemerintahannya menggunakan aturan hukum untuk menjaga ketertiban masyarakat yang tertuang
dalam konstitusinya. Friedman (1959) membedakan pengertian rule of law menjadi 2, yaitu
pengertian secara formal (in the formal sense) dan pengertian secara hakiki/materil (ideological
sense). Secara formal, Rule of Law diartikan sebagai kekuasaan umum yang terorganisasi
(organized public power), misalnya Negara. Sedangkan secara hakiki Rule of Law,karena
menyangkut ukuran hukum yang baik dan buruk (just and unjust law).
Rule of Law merupakan doktrin dalam hukum yang mulai muncul pada abad ke-19,
bersamaan dengan kelarihan negara konstitusi dan demokrasi. Kehadirannya boleh disebut sebagai
reaksi dan koreksi terhadap terhadap Negara absolute yang telah berkembang sebelumnya. Negara
Absolut sebagai perkembangan Negara di eropa, yaitu Negara yang terdiri dari wilayah-wilayah
otonom. Negara absolute (sebagai Negara modern) menyerap kekuasaan yang semula ada pada
wilayah-wilayah ke dalam satu tangan, yaitu tangan raja. Muncullah negara modern dengan
atribut-atributnya, yaitu kedaulatan dan berdaulat (Soegito, 2006).
Rule of Law merupakan konsep tentang common law, dimana segenap lapisan masyarakat
dan negara beserta seluruh kelembagaannya menjunjung tinggi supremasi hukum yang dibangun
diatas prinsip keadilan dan egalitarian. Rule of Law adalah rule by the way dan bukan rule by the
men. Ia lahir mengambil alih dominasi yang dimiliki kaum gereja, ningrat, dan kerajaan,
menggeser negara kerajaan dan memunculkan negara konstitusi dari mana doktrin rule of law ini
lahir. Ada tidaknya rule of law dalam suatu Negara ditentukan oleh kenyataan apakah rakyatnya
benar-benar menikmati keadilan dalam arti perlakuan yang adil, baik sesame warga negara,
maupun pemerintah. Oleh karena itu, pelaksanaan kaidah-kaidah hukum yang berlaku di suatu
hukum Negara merupakan suatu premise, bahwa kaidah-kaidah yang dilaksanakan itu merupakan
hukum yang adi, artinya kaidah hukum yang menjamin perlakuan yang adil bagi masyarakat.
5

Istilah Negara hukum secara terminologis terjemahan dari kata rechtsstaat, sementara
tradisi Angol osaxon menggunakan istilah rule of law. Di Indonesia, istilah rechtsstaat dan rule of
law biasa diterjemahkan dengan istilah “Negara hukum” (Winarno, 2007). Akan tetapi ada
perbedaannya, dimana Negara hukum lahir dari suatu perjuangan menentang absolutism, yaitu dari
kekuasaan raja yang sewenang-wenangnya. Artinya, Negara hukum dicapai melalui proses
revolusi, seperti gerakan revolusi prancis dan pejuangan rakyat inggris yang menghasilkan Magna
Charta. Sementara Negara dengan system rule of law diperoleh melalui proses evolusi (perubahan)
yang bertahap,tanpa adanya kekerasaan. Negara hukum bersumber dari pengalaman demokrasi
konstitusional di eropa abad ke 19 dan abad ke 20. Negara demokrasi pada dasarnya adalah aplikasi
dari Negara hukum.
Gerakan masyarakat yang menghendaki bahwa kekuasaan raja maupun penyelenggaraan
negara harus dibatasi dan diatur melalui suatu peraturan perundang-undangan dan pelaksanaan
dalam hubungannya dengan segala peraturan perundang-undangan itulah yang sering diistilahkan
dengan Rule of Law. Misalnya gerakan revolusi Perancis serta gerakan melawan absolutisme di
Eropa lainnya, baik dalam melawan kekuasaan raja, bangsawan maupun golongan teologis. Oleh
karena itu menurut Friedman, antara pengertian negara hukum atau rechtsstaat dan Rule of Law
sebenarnya saling mengisi (Friedman, 1960: 546). Berdasarkan bentuknya sebenarnya Rule of
Law adalah kekuasaan publik yang diatur secara legal.
Negara Indonesia pada hakikatnya menganut prinsip “Rule of Law, and not of Man”, yang
sejalan dengan pengertian nomocratie, yaitu kekuasaan yang dijalankan oleh hukum atau nomos.
Dalam negara hukum yang demikian ini, harus diadakan jaminan bahwa hukum itu sendiri
dibangun dan ditegakkan menurut prinsip-prinsip demokrasi. Karena prinsip supremasi hukum
dan kedaulatan hukum itu sendiri pada hakikatnya berasal dari kedaulatan rakyat. Oleh karena itu
prinsip negara hukum hendaklah dibangun dan dikembangkan menurut prinsip-prinsip demokrasi
atau kedaulatan rakyat atau democratische rechstssaat. Hukum tidak boleh dibuat, ditetapkan,
ditafsirkan dan ditegakkan dengan tangan besi berdasarkan kekuasaan belaka atau machtsstaat.
Karena itu perlu ditegaskan pula bahwa kedaulatan berada di tangan rakyat yang dilakukan
menurut Undang-Undang Dasar atau constitutional democracy yang diimbangi dengan penegasan
bahwa negara Indonesia adalah negara hukum yang berkedaulatan rakyat atau demokratis
(democratische rechtsstaat) Asshid diqie, 2005: 69-70).

6

Syarat-syarat dasar untuk terselenggaranya pemerintahan yang demokrasi menurut rule of law
adalah :
1.

Adanya perlindungan konstitusional

2.

Badan kehakiman yang bebas dan tidak memihak.

3.

Pemilihan umum yang bebas.

4.

Kebebasan untuk menyatakan pendapat

5.

Kebebasan untuk berserikat/berorganisasi dan beroposisi

6.

Pendidikan kewarganegaraan

Ada tidaknya rule of law pada suatu negara ditentukan oleh “kenyataan”, apakah rakyat menikmati
keadilan, dalam arti perlakuan adil, baik sesama warga Negara maupun pemerintah. Untuk
membangun kesadaran di masyarakat maka perlu memasukkan materi instruksional Rule of Law
sebagai salah satu materi di dalam mata kuliah Pendidikan Kewarganegaraan (PKn).

2.2

PRINSIP-PRINSIP RULE OF LAW
Prinsip-prinsip rule of law secara formal tertera dalam pembukaan UUD 1945 yang
menyatakan:

a.

Bahwa kemerdekaan itu adalah hak segala bangsa,…karena tidak sesuai dengan peri
kemanusiaan dan ”peri keadilan”;

b.

…kemerdekaan Indonesia, yang merdeka, bersatu, berdaulat, ”adil” dan makmur;

c.

…untuk memajukan ”kesejahteraan umum”,…dan ”keadilan social”;

d.

…disusunlah kemerdekaan kebangsaan Indoensia itu dalam suatu ”Undang-Undang Dasar
Negara Indonesia”;

e.

”…kemanusiaan yang adil dan beradab”;

7

f.

…serta dengan mewujudkan suatu ”keadilan sosial” bagi seluruh rakyat Indonesia.
Dengan demikian inti rule of law adalah jaminan adanya keadilan bagi masyarakat
terutama keadilan sosial.

Menurut Dicey (dalam Kaelan dan achmad zubaidi, 2007:97),terdapat tiga unsure yang
fundamental dalam rule of law, yaitu:
a. Supremasi aturan-aturan hukum,tidak adanya kekuasaan sewenang-wenangnya, dalam
artis seorang hanya boleh dihukum jika memang melanggar hukum.
b. Kedudukan yang sama di hadapan hukum. Hal ini berlaku baik bagi masyarakat biasa
maupun pejabat Negara.
c. Terjaminnya hak-hak asasi manusia oleh undang-undang dan keputusan-keputusan
pengadilan.
Berdasarkan prinsip di atas, terlihat bahwa Negara dengan system rule of law terbatas dalam arti
pengertian Negara hukum formal, yaitu pengertian Negara hukum dalam arti sempit. Dalam
konsep ini, yaitu Negara yang dikonsepsikan sebagai system penyelenggaraan kekuasaan
pemeerintahan Negara yang didasarkan atas hukum.
Tidak bisa dipungkiri bahwa dalam decade abad ke-20,konsep Negara dengan system rule of law
mengarah pada pengembangan Negara hukum dalam arti material. Arah tujuannya memperluas
peran pemerintah terkait dengan tuntunan dan dinamika perkembangan zaman. Konsep Negara
dengan system rule of law yang dikembangkan di abad ini sedikitnya memiliki sejumlah cirri yang
melekat pada Negara hukum atau rechtsstaat, Yaitu sebagai berikut:
a.

Peradilan yang bebas dari pengaruh kekuasaan atau kekuatan lain dan tidak memihak.

b.

Supremasi hukum(menjunjung tinggi hukum).

c.

2.3

Pemilihan umum yang bebas.

PENGERTIAN HAM
HAM merupakan terjemahan dari “human right” (hak manusia) dan dalam Bahasa
Belanda disebut dengan mensen rechten. Secara definitif “hak” merupakan unsur normatif
8

yang berfungsi sebagai pedoman berperilaku , melindungi kebebasan , kekebalan, serta
menjamin adanya peluang bagi manusia dalam menjaga harkat dan martabatnya.
Sementara asasi diambil dari istilah “leges fundamentalis” ( hukum dasar ) di mana dalam
bahasa Belanda disebut dengan “gron recthen”, bahasa jerman disebut

dengan

“grundrechte”, dan dalam bahasa inggris disebut dengan “basic right”.
Antara human right dan basic right terdapat perbedaan yang cukup mendasar.
Human right merupakan perlindungan terhadap seseorang dari penindasan oleh negara atau
bukan negara. Sementara basic right merupakan perlindungan terhadap seseorang warga
Negara/penduduk dari penindasan negara. Artinya , konsep human right lebih luas
cakupannya jika dibandingkan dengan basic right.
Beberapa ahli mendefinisikan HAM dari berbagi sudut pandang masing-masing,
seperti John Locke yang memberikan pengertian bahwa HAM adalah hak yang dibawa
sejak lahir yang kodrati melekat pada setiap manusia dan tidak dapat diganggu gugat atau
bersifat mutlak (Budiyanto, 2002: 66). Selain itu, Darji Darmodiharjo (2006) mengatakan,
bahwa hak-hak asasi manusia adalah hak dasar atau hak-hak pokok yang dibawa manusia
sejak lahir sebagai anugrah Tuhan Maha Esa. Koentjoro poerbapranoto (1976, dalam Darji
Damodiharjo, 2006) menyatakan, b ahwa hak asasi manusia adalah hak yang bersifat asasi.
Artinya, hak-hak yang dimiliki manusia menurut kodratbahnya yang tidak dapat
dipisahkan dari hakikatnya sehingga sifatnya suci. Semantara UU No. 39 Tahun 1999
tentang HAM menyatakan , bahwa HAM merupakan seperangkat hak yang melekat
pada hakikat dan keberadaan manusia sebagai makhluk Tuhan Y.M.E dan merupakan
anugerah-Nya yang wajib dihormati, dijunjung tinggi dan dilindungi oleh Negara ,
pemrintah, dan setiap orang demi kehormatan serta perlindungan harkat dan martabat
manusia.
Berdasarkan definisi dan uraian tentang HAM diatas, dapat ditarik suatu
kesimpulan mengenai beberapa ciri pokok HAM,antara lain sebagai berikut:
a. Inheren atau kodrati artinya HAM tidak perlu diberikan, dibeli atau diwarisi. HAM adalah
bagian dari manusia secara otomatis yang diberikan oleh Tuhan Y.M.E ( yang telah
dianugerahkan sejak manusia masih dalam kandungan).

9

b. Bersifat universal , artinya HAM berlaku untuk semua orang tanpa memandang jenis
kelamin, ras, agama, etnis, pandangan politik atau usul-usul social dan bangsa.
c. Bersifat particular di mana setiap warga negara memiliki hak yang sama dalam kehidupan
bernegara.
d. Tidak dapat diingkari dan dilanggar atau bersifat supralegal.
e. Tidak dapat dibagi. Semua orang berhak mendapatkan semua hak, apakah iyu hak sipil,
politik, ekonomi, dan social budaya.
f. Saling tergantung. Artinya , penikmatan satu hak dipengaruhi oleh penikmatan hak-hak
lainnya.
g. Transcendental, dimana hak itu merupakan sesuatu yang teramat sangat penting, sehingga
tidak untuk disepelekan

2.4

SEJARAH PERKEMBANGAN HAM
HAM muncul karena insiatif manusia terhadap harga diri dan martabatnya sebagai
akibat tindakan sewenang-wenangnya dari penguasaan, penjajahan, perbudakan,
ketidakadilan, dan kezaliman ( tirani ). HAM sebagai gagasan, paradigm, serta kerangka
konseptual tidak lahir secara tiba-tiba langsung tercantum dalam Universal Declaration Of
Human Rights tanggal 10 Desember 1948. Akan tetapi, HAM lahir dalam suatu proses
yang teramat sangat panjang dalam sejarah peradapan manusia yang mncapai puncaknya
melalui deklarasi HAM PBB tersebut.
Perkembangan pengakuan HAM ini berjalan secara perlahan dan beraneka ragam,
yang dapat kita lihat secara berurutan sebagai berikut:


Perkembangan HAM pada masa lampau.



Perkembangan HAM di Inggris.



Perkembangan HAM di Amerika Serikat.



Perkembangan HAM di Prancis.



Atlantic charter Tahun 1941.pengakuan HAM oleh PBB ( dengan
dicetuskan Universal Declaration Of Hman Rights)



Hasil-hasil siding majelis Umum PBB Tahun 1966 tentang HAM.
10

A. Perkembangan Ham Pada Masa Lampau
Perkembangan HAM pada masa lampau sebagai berikut:
1. Perjuangan Nabi Musa dalam membebasakan umat yahudi dari perbudakan pada masa
pemerintahan Fir’aun di Mesirn( Tahun 6000 SM).
2. Piagam Hammurabi di Babylonia yang memberi jaminan keadilan bagi warga negaranya (
tahun 2100 SM).
3. Socrates (469-399 SM), plato (429-347) dan Aristoteles ( 384-322 SM) sebagai filsufi
Yunani peletak dasar diakuinya HAM.
4. Perjungan Nabi Muhammad Saw. Yang awalnya untuk membebaskan para bayi wanita
dari penindasan bangsa Quraisy serta banyak hak lagi yang di atur di dalam Al-Quran dan
Haddist ( Tahun 600 Maseni).

B. Perkembangan HAM di Inggris
Lahirnya HAM di kawasa Eropa dimulai dengan Magna Charta atau Piagam Agung
di Inggris pada tahun 1215, pada masa pemerintahan Raja John Lackland yang bertindak
sewenang-wenangnya terhadap rakyat dan kelompok bangsawan. Tindakan Raja John ini
mengakibatkan rasa tidak puas rakyat dan kaum bangsawan yang kemudian mengadakan
pemberontakan. Pemberontakan ini berhasil memaksa Raja John untuk mendatangani
suatau perjanjian yang disebut Magna Charta. Terdapat dua prinsip yang sangat mendasar
dalam Magna Charta yaitu (1) adanya pembantasan kekuasaan raja dan (2) HAM lebih
memilih penting daripada kedaulatan raja. Pada tahun 1628, di Inggris keluar piagam
“petition of rights” yang ditandatangani oleh Raja Charles I. Dokumen ini berisi pernyataan
hak-hak rakyat beserta jaminannya. Hak-hak tersebut adalah: (1) Pajak dan pungutan
istimewa harus disertai persetujuan, (2) Warga Negara tidak boleh dipaksakan menerima
tentara di rumahnya, (3) Tentara tidak boleh menggunakan hokum perang dalam keadaan
damai.
Tahun 1679, muncul “Habeas Corpus Act”. Dokumen ini merupakan UU bang mengatur
tentang penahanan seseorang. Isinya adalah :

11

1. Seseorang yang ditahan segera diperiksa dalam waktu 2 hari setelah penahanan.
2. Alasan penahanan seseorang harus disertai bukti yang sah menurut hukum.
Tahun 1689, keluar “Bill of rights” yang merupakan UU diterima parlemen
Inggris dan ditandatangani oleh raja willem III, sebagian hasil dari pergolakan politik yang
sangat dahsyat yang disebut the Gloriusos Revolution. Peristiwa ini bukan saja sebagai
symbol kemenangan parlemen atas raja, melainkan juga kemenangan rakyat dalam
pergolakan selama 60 tahun. Bill of Rights berisi antara lain sebagai berikut:
1. Kebebasan dalam pemilihan anggota parlemen.
2. Kebebasan berbicara dan mengeluarkan pendapat.
3. Pajak, UU, dan pembentukan tentara tetap harus seizin parlemen.
4. Hak warga Negara untuk memeluk agama dan kepercayaan masing-masing.
5. Parlemen berhak untuk mengubah keputusan raja.

C. Perkembangan HAM di Amerika Serikat
Perjuangan penegakan HAM di Amerika Serikat didasari pemikiran John lock
tentang hak-hak alam seperti: hak hidup (life), kebebasan (liberty), dan hak milik
(property). John Locke berpendapat bahwa manusia tidaklah secara absolut menyerahkan
hak-hak individu kepada penguasa. Hak yang diserahkan pada penguasa adalah hak yang
berkaitan dengan perjanjian tentang Negara, sementara hak lainnya tetap berada pada
individu masing-masing.
Dasar pemikiran John Locke inilah yang kemudian dijadikan landasan bagi
pengakuan HAM yan terlihat dalam Declaratio of Independence of The united States pada
tanggal 4 Juli 1776. Perjuangan HAM di Amerika serikat disebabkan karena rakyat AS
(emigran eropa) merasa tertindas oleh pemerintah Inggris sebagai Negara penjajah.
Akhirnya rakyat Amerika Serikat dan di bawah pimpinan George Washington, Amerika.
Deklarasi kemerdekaan Amerika menumbangkan kolonialisme dengan prinsip: 1)
Manusia itu dilahirkan sama, dan 2) Tuhan pencinta alam semesta menganugerahkan
kepada maunsia beberapa hak yang tidak dapat dirampas daripadanya, yaitu hak hidup, hak
merdeka, dan hak mengejar kebahagian. Untuk menjamin hak-hak tersebut maka
12

pemerintahan dibentuk dengan kekuasaan berdasarkan konsensus rakyat. Dengan
demikian mulai dipertegas, bahwa manusia merdeka sejak di dalam perut ibunya, sehingga
tidaklah logis bila sesudah lahir ia dibelenggu.
D. Perkembangan HAM di Prancis
Perjuangan HAM di Prancis sudah dimulai sejak zaman Rousseau, dan
perjuangannya memuncak dalam Revolusi Prancis yang berhasi menetapkan hak-hak asasi
manusia yang dirumuskan dalam suatu naskah Declaration des Droits L’homme et du
citoyen ( pernyataan mengenai hak-hak asasi manusia dan warga Negara) yang ditetapkan
oleh Assemblee Nationale tanggal 24 Agustus 1789 ( Jimmly Asshiddiqie, 2006: 90).
Naskah ini keluar sebagai reaksi atas ketidakpuasan kaum borjuis dan rakyat terhadap
kesewenang-wenangan Raja Louis XIV ada awal Revolusi Prancis tahun 1789.
E. Atlantic Charter Tahun 1941
Atlantic Charter adalah sebuah deklarasi bersama yang dikeluarkan oleh Perdana
Menteri Inggris yang bernama Winston Churchill dan Presiden Amerika Serikat yang
bernama Franklin D Roosevelt pada tanggal 14 Agustus 1941 di atas kapal perang Kerajaan
Inggris dengan merk HMS Prince of Wales di perairan Samudera Atlantik, tepatnya di
Teluk Plancentia, Argentina. Dalam Piagam Atlantik terdapat delapan poin penting
mengenai:
1. Tidak ada lagi wilayah yang dicari oleh Amerika Serikat atau Inggris
2. Pengaturan sebuah wilayah harus sesuai dengan kehendak masyarakat bersangkutan
3. Hak untuk menentukan nasib sendiri;
4. Pengurangan rintangan perdagangan;
5. Memajukan kerja sama ekonomi dunia dan peningkatan kesejahteraan social;
6. Kebebasan berkehendak dan bebas dari kekhawatiran ;
7. Menciptakan kebebasan di laut lepas; dan
8. Pelucutan senjata di seluruh dunia pasca perang.
Sebelumnya, Frankin D Roosevelt dalam amanat tahunannya kepada Kongres AS
pada tanggal 6 Januari 1941 telah mencetuskan sebuah doktrin yang dikenal dengan The
four freedom (4 kebebasan), yaitu:
13

1) Hak kebebasan untuk berbicara dan menyatakan pendapat (freedom of speech)
2) Hak kebebasan untuk memeluk agama dan beribadah sesuai dengan ajaran agama
yang dipeluknya (freedom of religion)
3) Hak kebebasan dari kemiskinan dalam pengertian setiap bangsa berusaha
mencapai tingkat kehidupan yang damai dan sejahtera bagi penduduknya
(freedom from want)
4) Hak kebebasan dari ketakutan, yang meliputi usaha, pengurangan persenjataan,
sehingga tidak satupun bangsa (negara) berada dalam posisi berkeinginan untuk
melakukan serangan terhadap Negara lain (freedom from fear)
Doktrin inilah yang kemudian menjadi inspirasi dari Universal Declaration of human
Right tahun 1948.
F. Pengakuan Ham Oleh PBB
Pada tanggal 10 Desember 1948, PBB telah berhasil merumuskan naskah yang
dikenal dengan The Universal Declaration of Human Right (pernyataan se-dunia tentang
HAM). Pasal 1 piagam ini berbunyi:
“sekalian orang dilahirkan mereka dan memounyai martabat dan hak-hak yang
sama. Mereka dikaruniai akal dan budi, dan hendaknya bergaul satu sama lain dalam
persaudaraan”. Deklarasi itu melambangkan komitmen moral dunia internasional pada
HAM serta merupakan pedoman dan standar Negara-negara anggota organisasi PBB untuk
dituangkan dalam konstitusi masing-masing
Universal Declaration of Human Right diumumkan sebagai “suatu standar
pencapaian yang berlaku umum untuk semua rakyat dan semua Negara”. Hak-hak yang
disuarakannya disebarkan lewat “pengajaran dan pendidikan” serta lewat “langkahlangkah progresif, secara nasional dan internasional, guna menjamin pengakuan, dan
kepatuhan yang bersifat universal dan efektif terhadapnya”.
Hal yang terlihat menonjol dalam Deklarasi Universal HAM ini antara lain adalah:
1. Hak asasi manusia adalah hak.

14

2. Hak-hak ini disebut universal, yang dimiliki oleh manusia semata-mata karena ia adalah
manusia.
3. HAM dipandang sebagai norma-norma yang penting. Meski tidak seluruhnya bersifat
mutlak.
4. Hak-hak ini mengimplikasikan kewajiban bagi individu maupun pemerintah.
Hasil Sidang Majelis Umum PBB Tahun 1996
Hasil Sidang Majelis Umum PBB Tahun 1996 menghasilkan beberapa piagam yang berkaitan
dengan HAM, antara lain:
1. The International on Civil and Political Right, yaitu tentang hak sipil dan politik.
2. The International Covenant on Economic, Social and Cultural Right, yaitu berisi syaratsyarat dan nilai-nilai bagi system demokrasi ekonomi, social dan budaya.
3. Optional Protocol, yang berisi adanya kemungkinan seorang warga Negara yang
mengadukan pelanggaran HAM kepada The Human Right Committee PBB setelah melalui
upaya pengadilan di negaranya.

2.5

PENGELOMPOKKAN HAM
a. Hak – hak asasi pribadi (personal rights) meliputi kebebasan menyatakan pendapat,
kebebasan memeluk agama, dan kebebasan bergerak.
b. Hak – hak asasi ekonomi (property rights) meliputi hak untuk memiliki sesuatu,
hak untuk membeli dan menjual serta memanfaatkannya.
c. Hak – hak asasi politik (political rights) hak untuk ikut serta dalam pemerintahan,
hak pilih (dipilih dan memilih dalam pemilu) dan hak untuk mendirikan partai
politik.
d. Hak asasi untuk mendapatkan perlakuan yang sama dalam hukum dan
pemerintahan (rights of legal equality).
e. Hak – hak asasi social dan kebudayaan (social and culture rights). Misalnya hak
untuk memilih pendidikan dan hak untuk mengembangkan kebudayaan.

15

f. Hak asasi untuk mendapatkan perlakuan tata cara peradilan dan perlindungan
(procedural rights). Misalnya peraturan dalam hal penahanan, penangkapan,
penggeledahan, dan peradilan.

2.6

HAM DI INDONESIA
Untuk mencapai tujuan melindungi HAM setiap warga negara, negara Indonesia
telah memiliki produk hukum yang mengatur tentang HAM, yakni sebagai berikut :
a. Pembukaan UUD 1945, tentang hak untuk merdeka, hak untuk hidup sejahtera, hingga hak
memperoleh pendidikan.
b. UU RI Nomor 26 Tahun 2000 tentang pengadilan HAM
c. UU Nomor 39 Tahun 1999 tentang HAM yang juga mengatur tentang berbagai macam hak
yang harus dimiliki oleh warga Negara Indonesia.
Khusus membahas tentang UU no.39 tahun 1999, terdapat macam-macam HAM yang
diatur dalam peraturan perundang-undangan ini, antara lain:
1. Hak berkeluarga dan melanjutkan keturunan, yaitu hak untuk membentuk suatu keluarga
melalui perkawinan yang sah.
2. Hak untuk hidup, yang meliputi : (1) hak untuk hidup dan meningkatkan taraf kehidupan
(2) hak untuk hidup tentram, aman dan damai, dan (3) lingkungan hidup yang layak.
3. Hak mengembangkan diri yang meliputi: hak untuk pemenuhan kebutuhan dasar,(2) hak
pengembangan pribadi, (3) ha katas manfaat IPTEKS, dan (4) ha katas komunikasi dan
informasi
4. Hak memperoleh keadilan, meliputi : (1) hak perlindungan hukum, (2) hak atas keadilan
dalam proses hukum, dan (3) hak katas hukuman yang adil.
5. Hak kebebasan pribadi, meiputi : (1) hak untuk bebas dari perbudakan, (2) ha katas
keutuhan pribadi, (3) kebebasan memeluk agama dan keyakinan politik, (4) kebebasan
untuk berserikat dan berkumpul, (5) kebebasan untuk menyampaikan pendapat, (6) ha
katas status kewarganegaraan, dan (7) hak kebebasan untuk bergerak.

16

6. Hak atas rasa aman, meliputi: (1) hak untuk mencari suaka, dan (2) hak perlindungan diri
pribadi.
7. Hak atas kesejahteraan, meliputi: (1) hak milik, (2) hak atas pekerjaan, (3) hak untuk
bertempat tinggal secara layak, (4) hak jaminan sosial, (5) perlindungan bagi kelompok
rentan.
8. Hak turut serta dalam pemerintahan, meliputi: (1) hak pilih dalam pemilu, (2) hak untuk
berpendapat
9. Hak wanita, meliputi: (1) hak pengembangan pribadi dan persamaan dalam hukkum, dan
(2) hak perlindungan reproduksi.
10. Hak anak, meliputi: (1) hak hidup anak, (2) status warga Negara anak, (3) hak anak yang
rentan, (4) hak pengembangan pribadi dan perlindungan hokum, dan (5) hak jaminan sosial
anak.
Selanjutnya UU RI No.26 Tahun 2000 tentang pengadilan HAM menyatakan, bahwa
“Pengadilan HAM merupakan pengadilan khusus yang berada di lingkungan peradilan umum
di daerah kabupaten atau daerah kota yang daerah hukumnya meliputi pengadilan negeri yang
bersangkutan”.
Pengadilan HAM bertugas dan berwenang memeriksa dan memutus perkara pelanggaran
HAM yang berat, yang meliputi:
a. Kejahatan genosida yaitu setiap perbuatan yang dilakukan dengan maksud untuk
menghancurkan atau memusnahkan seluruh atau sebagian kelompok bangsa, ras,
kelompok etnis, dan kelompok agama.
b. Kejahatan terhadap kemanusiaan yaitu salah satu perbuatan yang dilakukan sebagai bagian
dari serangan yang meluas atau sistematik yang siketahuinya bahwa serangan tersebut
ditujukan secara langsung terhadap penduduk sipil.

2.7

CONTOH PELANGGARAN HAM
a. Pelanggaran HAM yang dilakukan oleh musollini di Itali

17

Pelanggaran HAM di Negara italia tahun 1924 ergolong pelanggaran HAM terberat di
dunia. Aktor utamanya adalah benito Mussolini, yang memimpin paham fasisme di italia.
Mussolini memerintah di italia dalam periode 1943. Selama 19 tahun masa
pemerintahannya, ia dikenal sebagai seorang pemimpin yang otoriter, dan tidak segan
membunuh orang-orang yang tidak sepaham dengannya. Benito Mussolini juga termasuk
salah satu pencetus Perang Dunia II. Ia turut berkoalisi dengan Adolf Hitler dari Jerman
untuk elawan sekutu pada Perang Dunia II.
b. Pelanggaran HAM yang dilakukan oleh Adolf Hitler di Jerman
Adolf Hitler yang merupakan pimpinan Nazi di Jerman pada periode 1930-an. Ia
melakukan banyak kejahatan kemanusiaan, sepertimenangkap tokoh-tokoh politik yang
menentangnya dan melakukan pembasmian ada orang-orang Yahudi. Hitler sendiri
memang dikenal sebagai anti-Yahudi. Hitler sendiri memang dikenal sebagai antiYahudi. Ia juga menjadi salah satu penyebab utama terjadinya Perang Dunia II.
c. Pelanggaran HAM yang dilakukan Israel terhadap Palestina
Masalah sengketa antara Israel dan Palestina menjadi salah satu contoh pelanggaran
HAM internasional yang lainnya. Hal ini bermula ketika Israel memperluas wilayahnya
dengan menguasai sebagian besar wilayah Palestina. Hasilnya, kini wilayah Palestina
hanya tersisa sedikit saja.
Dalam perspektif regional, perjuangan HAM di Indonesia dimulai dari siding
BPUPKI dan PPKI pada saat menyusun UUD 1945 yang membicarakan tentang hak dasar
manusia sehingga menetapkan 37 pasal dalam UUD1945. Walaupun demikian, dalam
perkembangannya kasus pelanggaran HAM tetap terjadi di Indonesia, seperti:
1. Pelanggaran HAM yang dilakukan oleh Gerakan 30 September/PKI
Diantara kasus-kasus pelanggaran berat HAM, perkara seputar peristiwa
G30 S/PKI patut dikemukakan. Peristiwa ini dikenang sebagai peristiwa
pembantaian terhadap umat islam dan pembantaian terhadap 7 orang jenderal
di Indonesia.

18

2. Kasus Pembunuhan Munir
Munir Said Thalib adalah aktivis HAM yang pernah menangani kasuskasus pelanggaran HAM. Munir pernah menangani kasus pelanggaran HAM di
Indonesia seperti kasus pembunuhan Marsinah, kasus Timor-Timur dan masih
banyak lagi. Munir meninggal pada tanggal 7 September 2004 di dalam pesawat
Garuda Indonesia ketika ia sedang melakukan perjalanan menuju Amsterdam,
Belanda.
3. Peristiwa pembunuhan Aktivis Buruh Wanita, Marsinah
Marsinah merupakan salah satu buruh yang bekerja di PT.Catur Putra Surya
(CPS) yang terletak di Porong, Sidoarjo, Jawa Timur. Masalah muncul ketika
Marsinah bersama dengan teman-teman sesama buruh dari PT.CPS menggelar
unjuk rasa, mereka menuntut untuk menaikkan upah buruh pada tanggal 3 dan
4 Mei 1933. Masalah memuncak ketika Marsinah menghilang dan tidak
diketahui oleh rekannya, dan sampai akhirnya pada tanggal 8 Mei 1933
Marsinah ditemukan meninggal dunia. Mayatnya ditemukan di sebuah hutan di
Dusun Jegong, Kecamatan Wilangan, Nganjuk, Jawa Timur dengan tandatanda bekas penyiksaan berat. Menurut hasil otopsi, diketahui, bahwa Marsinah
meninggal karena penganiayaan berat.
4. Kasus Penembakan Mahasiswa Trisakti
Kasus Trisakti merupakan salah satu kasus penembakan kepada para
mahasiswa Trisakti yang sedang berdemonstrasi oleh para anggota polisi dan
militer. Bermula ketika mahasiswa-mahasiswa Universitas Trisakti sedang
melakukan demonstrasi setelah Indonesia mengalami Krisis Finansial Asia
pada tahun 1997 menuntut Presiden Soeharto mundur dari jabatannya.
Peristiwa ini di kenal dengan Tragedi Trisakti.
Semenjak reformasi telah ada peraturan perundang - undangan yang
memberikan jaminan dan petunjuk dalam penyelesaian masalah yang sehubungan
dengan HAM di antaranya adalah Undang - undang No.39 tahun 1999 Hak Asasi
Manusia, UU No.9 Tahun 1998 tentang Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat di
Muka Umum.

19

Pada prinsipnya, baik secara global maupun regional, dalam rangka
menegakkan dan melindungi HAM sesuai dengan prinsip Negara. Jadi, dalam
menjalankan hak dan kebebasannya, setiap orang wajib tunduk terhadap ; (a)
pembatasan yang ditetapkan oleh UU, dan (b) pengakuan dan kebebasan orang lain
dan nilai – nilai agama, ketertiban dan keamanan umum dalam masyarakat yang
demokratis.
Selain itu, satu lagi upaya yang sangat menentukan perlindungan terhadap
pelanggaran HAM adalah melalui peradilan. Peradilan yang kuat akan memberikan
perlindungan yang terbaik terhadap HAM dan berdampak positif terhadap tindakantindakan yang menjurus kepada pelanggaran HAM.

20

BAB III
PENUTUP

3.1

KESIMPULAN
Ada tidaknya Rule of Law pada suatu Negara ditentukan oleh “Kenyataan”.
Apakah rakyat dapat menikmati keadilan, dalam arti perlakuan yang adil didalam hukum,
baik sesama warga Negara maupun pemerintah. Prinsip-prinsip rule of law secara formal
tertera dalam pembukaan UUD 1945. Penjabaran prinsip-prinsip rule of law secara formal
termuat di dalam pasal-pasal UUD 1945. Agar kita dapat menikmati keadilan maka seluruh
aspek Negara harus bersih, jujur, mentaati undang-undang, juga bertanggung jawab, dan
menjalankan UU 1945 dengan baik.

3.2

SARAN
Sebagai seorang warga negara yang baik memiliki kewajiban untuk menjunjung
tinggi hukum serta kaidah-kadiah agar tercipta keamanan, ketentraman, dan kenyamanan.
Mempelajari Undang-Undang 1945 berserta butir-butir nilainya dan menjalankan apa yang
menjadi tuntutannya agar terjadi kehidupan yang stabil dan taat hukum. Dalam suatu
penegakkan hukum di suatu Negara seperti Indonesia, maka seluruh aspek kehidupan harus
dapat merasakan dan diharapkan aspek-aspek tersebut dapat mentaati hukum, maka akan
terciptalah pemerintahan dan kehidupan Negara yang harmonis, selaras, makmur, damai,
serta taat hukum.

21

DAFTAR PUSTAKA
-

Kaelan. 2007. Pendidikan Kewarganegaraan.Yogyakarta. Paradigma

-

Zaelani, Endang Sukaya. 2010. Pendidikan Kewarganegaraan.Yogyakarta. Paradigma

-

Herdiawanto, Hery. 2010. Pendidikan Kewarganegaraan. Jakarta. Erlangga

22

Dokumen yang terkait

Dokumen baru