OPTIMALISASI PEREKONOMIAN KOMUNITAS NELAYAN :UPAYA PENDAMPINGAN KOMUNITAS NELAYAN DALAM PENGELOLAAN HASIL NELAYAN DI DESA CAMPOR BARAT KEC AMBUNTEN KAB SUMENEP.

(1)

OPTIMALISASI PEREKONOMIAN KOMUNITAS NELAYAN (Upaya Pendampingan Komunitas Nelayan dalam Pengelolaan Hasil

Nelayan di Desa Campor Barat Kec. Ambunten, Kab. Sumenep)

Diajukan Kepada Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Dalam Menyelesaikan Program

Sarjana Strata Satu (S-1) Pada Program Studi : "Pengembangan Masyarakat Islam"

“SKRIPSI”

Disusun oleh : As’ari B02211014

PROGRAM STUDI PENGEMBANGAN MASYARAKAT ISLAM JURUSAN DAKWAH

FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL SURABAYA 2017


(2)

(3)

(4)

(5)

(6)

ABSTRAK

As’ari. NIM: B02211014. Judul Skripsi: OPTIMALISASI PEREKONOMIAN KOMUNITAS NELAYAN (Upaya Pendampingan Komunitas Nelayan dalam Pengelolaan Hasil Nelayan di Desa Campor Barat Kec. Ambunten, Kab. Sumenep)

Ada satu persoalan yang dikaji dalam skripsi ini, yaitu : bagaimana strategi membangun kesadaran dalam mengelola aset komunitas Bunga Harum sebagai media untuk pemberdayaan ekonomi masyarakat nelayan.

Satu tantangan di atas digali secara mendalam dan mendasar dengan menggunakan metode penelitian ABCD (Asset Bassed Community Development) yang mana dengan menggunakan metode ini diharapkan mampu membangun kesadaran masyarakat dalam mengelola aset. Untuk mencapai hal tersebut diperlukan motivasi dan sistem ekonomi kerakyatan dan ekonomi kreatif agar pola pikir para nelayan dalam pengelolaan aset terbentuk.

Masyarakat Dusun Maroceng Desa Campor Barat pada umumnya adalah petani, dan nelayan, namun dalam pendampingan ini hanya dikhusukan kepada komunitas nelayan. Oleh karena itu untuk meningkatkan pendapatan komunitas nelayan perlu pengelolaan aset yang optimal. Melalui komunitas Bunga Harum yang beranggotakan para nelayan proses pendampingan dilakukan. Fokusnya kepada pengembangan hasil tangkap ikan teri.

Pengelolaan aset secara maksimal dalam tulisan ini menjadi bahasan utama. Mulai dari proses pengenalan aset, pengembangan aset, serta evaluasi hasil pendampingan.

Kata Kunci: (Pendampingan, Komunitas Bunga Harum, Pemberdayaan Komunitas Nelayan)


(7)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... I PERSETUJUAN PEMBIMBING ... II PENGESAHAN SKRIPSI... III MOTTO ... IV PERNYATAAN KEASLIAN ... V PERSEMBAHAN ... VI KATA PENGANTAR ... VII DAFTAR ISI ... X DAFTAR GAMBAR ... XIII DAFTAR TABEL ... XIV ABSTRAK ... XV

BAB I PENDAHULUAN ... 1

A. Latar Belakang Pendampingan ... 1

B. Fokus Pendampingan ... 6

C. Manfaat Pendampingan ... 6

D. Pihak-Pihak yang Terkait ... 7

E. Sistematika Pendampingan ……….. 8

BAB II PRESPEKTIF TEORITIS ... 10

A. Teori Pengembangan ekonomi Kerakyatan…………... 10

B. Implementasi Ekonomi Kerakyatan... 11


(8)

D. Definisi dan Ciri-ciri Kreatif... 16

E. Etos Kerja………... 17

BAB III METODELOGI RISET PENDAMPINGAN ... 20

A. Pendekatan ABCD ……... 20

1. Define (Menentukan)……… 20

2. Discovery (Menemukan)……… 21

3. Dream (Impian)………. 21

4. Design (Merancang)……….. 22

5. Deliver (Lakukan)………. 22

B. Prinsip – Prinsip Pendampingan………... 22

1. Setengah Terisi lebih Berarti………. 22

2. Semua Punya Potensi……… 23

3. Partisipasi………. 23

4. Penyimpangan Positif (Positive Deviance)……….. 25

5. Berawal Dari Masyarakat (Endogenous)……….. 26

C. Teknik – Teknik Pendampingan………... 28

1. Penemuan Apresiatif……… 28

2. Pemetaan Komunitas……….. 29

3. Penelusuran Wilayah (transect)………... 30

D. Langkah – Langkah Pendampingan……… 32

1. Tahap 1: Mempelajari dan Mengatur Skenario……… 32

2. Tahap 2: Menemukan Masa Lampau……… 33


(9)

4. Tahap 4: Memetakan Aset………. 34

5. Tahap 5: Menghubungkan dan Menggerakkan Aset………. 34

6. Tahap 6: Pemantauan, Pembelajaran dan Evaluasi……… 35

E. Strategi Pendampingan……… 36

1. Pendekatan Partisipatif……… 36

2. Psikologi Positif……… 37

3. Modal Sosial………. 38

BAB IV PROFIL LOKASI PENDAMPINGAN ... 41

A. Realitas Desa Campor Barat ... 41

1. Komunitas yang monoton ... 42

2. Keadaan Iklim Campor Barat ... 44

3. Letak Geografis ... 45

4. Keadaan Demografi ... 47

B. Fasilitas Publik ... 48

BAB V PENGENALAN ASET DAN POTENSI PENDAMPINGAN 60 A. Aset-aset dan Potensi ... 60

a. Aset ... 61

1) Aset Budaya... 61

2) Aset Alam Campor Barat ... 63

3) Aset Lingkungan ... 64

4) Kondisi Penduduk Menurut Mata Pencaharian ... 67

5) Pendidikan Masyarakat ... 69


(10)

B. Peluang Dan Hambatan Dalam Pendampingan ... 77

1. Faktor Penghambat... 77

2. Faktor Pendukung... 78

BAB VI DINAMIKA PROSES PENDAMPINGAN ... 80

A. Menyatu bersama masyarakat (Inkulturasi) ... 86

B. Cerita sukses di masa lalu (Discovery) ... 89

C. Meraih Masa Depan Bersama Masyarakat (Dream) ... 92

D. Merencanakan kegiatan untuk meraih masa depan (Design) ... 97

E. Menentukan kekuatan untuk mencapai harapan (Define) ... 100

F. Melaksanakan rencana masyarakat (Destiny) ... 103

G. Hasil Monitoring dan Evaluasi Pendampingan... 105

BAB VII REFLEKSI ... 108

BAB VIII PENUTUP... 111

1. Kesimpulan ... 111

2. Saran ... 112

DAFTAR PUSTAKA ... 114


(11)

1

BAB I

PENDAHULUAN

A.LatarBelakang Pendampingan

Luas wilayah maritim Indonesia diperkirakan mencapai 5,8 juta Km2 (75,3%) dan untuk wilayah daratan mencapai 1,9 juta Km2 (24,7%). Berdasarkan potensi tersebut, sumberdaya kelautan akan menjadi tumpuan harapan bagi bangsa di masa depan. Perlu diketahui bahwa wilayah laut dan pesisir terkandung sejumlah potensi pembangunan yang besar dan beragam, antara lain: (1) sumberdaya yang dapat diperbarui, seperti ikan, udang moluksa, kerang mutiara, kepiting, rumput laut, hutan mangrove, hewan karang, lamun dan biota laut lainnya. (2) sumber daya tak dapat diperbarui, seperti minyak bumi dan gas, bauksit, timah, bijih besi, mangan, fosfor, dan mineral lainnya. (3) energy kelautan, seperti energy gelombang, pasang surut, angin, dan lainnya. (4) jasa-jasa lingkungan, misalnya tempat habitat yang indah untuk lokasi parawisata dan rekreasi, media transportasi dan komunikasi, pengatur iklim, penampung limbah, dan sebagainya.1

Sejalan dengan terlaksananya otonomi daerah berdasarkan Udang-Undang No. 22 dan No. 25 tahun 1999, yang hakikatnya terdapat dua prinsip mendasar, di antaranya: (1) mendorong untuk memberdayakan masyarakat, menumbuhkan prakarsa, dan kreativitas masyarakat, meningkatkan peran serta masyarakat, mengembangkan peran dan fungsi Dewan Perwakilan Rakyat Daerah; (2)

1

Suhartini dkk, Model-Model Pemberdayaan Masyarakat (: Pustaka Pesantren, 2011), Cet ke-IV, ha. 83-84


(12)

penyelenggaraan otonomi daerah yang semula dilakukan dengan pola bertahap sekarang dilakukan dengan penyerahan total, bulat, utuh dan menyeluruh terhadap semua kewenangan pemerintah, kecuali kewenangan di bidang politik luar negeri, pertahanan dan keamanan, peradilan, moneter/fiscal, agama serta bidang-bidang tertentu yang akan ditetapkan dengan peraturan pemerintah.2 Bahkan bidang kelautan dan Desa di era kabinet kerja presiden Jokowi-JK sudah dibentuk menteri kelautan dan perikanan, menteri Desa untuk Desa. Dimana dalam kebijakan menteri Desa, setiap Desa dapat dana segar setiap tahun dari pusat sebesar satu milyar (1 M).

Kebijakan ini tentu berdampak positif bagi keberlangsungan perekonomian masyarakat nelayan. Tapi tidak bisa hanya berhenti di situ, mestinya harus ada keseimbangan dari masyarakat desa dalam menyambut kebijakan pemerintah tersebut, guna terwujudnya cita-cita bersama yaitu mengembangkan pembangunan perekonomian mandiri di Desa.

Sebagaimana Theodore Schultz, dia memperlihatkan dalam penelitiannya

bahwa “mutu” penduduk, yakni kemampuan mereka, baik fisik maupun

psikis-intelektual, jauh lebih penting untuk proses pembangunan ekonomi dari pada modal fisik.3

Memang tugas masyarakat desa adalah mempertahankan, meluaskan dan membetulkan segala bentuk potensi desanya sendiri termasuk hasil lautnya. Bagaimanpun keberpihakan kebijakan pemerintah terhadap masyarakat desa,

2

Moh Ali Aziz, Dakwah Pemberdayaan Masyarakat Paradigma Aksi Metodologi, (Yogyakarta: Pustaka Pesantren, 2005), Cet ke-I, ha. 126

3

Johannes Muller, Perkembangan Masyakat Lintas Ilmu, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2006), hal. 90.


(13)

3

tapi SDM masyarakat desa rendah, maka tidak ada artinya. Malah yang ada penggelapan anggaran yang dilakukan oleh sepihak.

SDM yang diharapkan tentu tidak datang secara simsalabim melainkan butuh proses demi proses. Sebagaimana seseorang yang butuh makan nasi, maka dia memasak beras terlebih dahulu, setelah menjadi nasi atau bubur baru bisa dinikmati. Pada proses inilah manusia dituntut untuk memaksimalkan segala potensinya. Karena setiap manusia di samping mempunyai kelebihan namun juga terselip kekurangan. Hubungan sosial manusia satu sama lain tidak bisa ditinggalkan. Para filosof menjelaskan hal ini, bahwa manusia memiliki tabiat sosial.4

Maka dari sinilah pentingnya membangun pergaulan antara satu dengan lainnya. Sebagaimana dalam peribahasa Yunani pada zaman purbakala, bahwa manusia adalah makhluk sosial. Istilah tersebut menggambarkan bagaimana eratnya hubungan atau pergaulan antara seorang manusia dan manusia lainnya dalam memenuhi kebutuhan hidupnya. Pergaulan ini berawal dari satu orang dengan orang lainnya, kemudian dianjurkan dari suku (kaum, kabilah atau Desa) kepada suku lainnya. Sehingga semakin luaslah pergaulan manusia tersebut pada beberapa ratus tahun terakhir ini. Bukan saja pergaulan dan hubungan antara satu bangsa dan bangsa tetangga saja, tetapi sudah menjadi pergaulan dan hubungan international, yaitu dengan hubungan Negara dengan Negara lain di seluruh dunia.5

4

Ibnu Khaldun, Muqaddimah, (Jakarta Timur: Pustaka al-Kautsar, 2001), hal. 69

5

Kh. Abdullah Zaky Al Kaaf, Ekonomi Dalam Perspektif Islam. Bandung : CV Pustaka Setia, 2002. hal. 11


(14)

Semakin berkembangnya hubungan antar manusia dengan manusia lainnya menjadikan ilmu pengetahuan semakin berkembang. Hal ini menjadi prioritas utama dalam mengejar sebuah ketertinggalan bagi manusia lainnya. Bahkan perkembangan dalam menghadapi kehidupan yang semakin meng-global.

Disinilah pentingnya komonitas berperan. Fungsi komunitas terdiri dari lima bagian yaitu fungsi ekonomi, sosialisasi, pelayanan kesehatan yang baik, kontrol sosial dan interpartisipasi sosial serta dukungan mutualistis. (Sumijatun, dkk, 2005).6 Sehubungan dengan judul tulisan, maka komunitas pengolah ikan sebaiknya mampu melahirkan apa yang menjadi tujuan bersama.

Maka dalam kaitannya dengan SDM Islam sudah lama mendakwahkan agar supaya umat islam terus megasah ilmu pengetahuan, keterampilan, serta etos

kerja yang tinggi. Bahkan Quran menyatakan “sesungguhnya Allah tidak akan

merubah nasib suatu kaum sampai kaum itu sendiri yang merubahnya”, ini

artinya betapa pentinya SDM.

Sedangkan aset di Dusun Maroceng sebenarnya sangat potensial namun belum dimaksimalkan. Sebut saja 3 (tiga) aset dasar yang dimiliki di antaranya: 1.Manusia.

Di Dusun Maroceng aset manusianya sangat potensial, buktinya mereka memiliki komunitas Bunga Harum yang dibentuk dengan tujuan agar para nelayan memiliki wadah untuk mengutarakan aspirasinya. Dan hasil yang sudah dirasakan komunitas ini lumayan banyak, seperti bantuan dari pemerintah, dan semangat kerja bersama. Dan pemudanya selain bersekolah dan nyantri, juga

6

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/45572/5/Chapter%20I.pdf. Diakses pada selasa, 12 Oktober 2016


(15)

5

giat berolah raga bola voli setiap sore dan mereka cukup semangat serta jauh dari penyakit yang mematikan seperti kanker, HIV aid. Alhasil SDM masyarakat maroceng sangat potensial untuk dikembangkan.

2.Finansial

Rata-rata pendapatan mereka sudah cukup untuk kebutuhan sehari-hari. Khusus komunitas Bunga Harum sebenarnya sudah makmur artinya untuk kebutuhan makan sehari-hari sudah ada. Karena dalam komunitas ini rata-rata memiliki sampan atau perahu penangkap ikan, juga mereka bertani serta ada yang kerja ke industri rumahan seperti buat kejingan, dan alat bangunan lainnya. 3.Sosial Ekonomi

Ekonomi merupakan bagian yang sangat berpengaruh bagi pertumbuhan suatu wilayah oleh karena itu di setiap sumber daya alam yang potensial dan dikategorikan sebagai unggulan perlu dikembangkan lebih lanjut dalam sentra-sentra produksi. Adapun unggulan yang potensial dapat dikembangkan di Dusun Maroceng dan menjadi modal dasar pertumbuhan wilayah adalah : pertanian, perdagangan, peternakan, pertambakan garam, perikanan laut dan tambak.

Dalam konteks ini penulis mencoba untuk mengetengahkan apa yang menjadi judul tulisan yaitu ‘optimalisasi perekonomian komunitas nelayan. Dimana komunitas nelayan yang setiap hari kerjanya di laut berdebur dengan ombak untuk mencari ikan, yang jelas taruhannya nyawa, namun setelah ikan didapat mereka menjualanya dengan murah. Dengan harapan agar cepat mendapatkan uang. Padahal andaikan mereka mau mengelolanya menjadi


(16)

barang jadi atau setenagah jadi mungkin akan lebih mahal harganya. Disinilah pentingnya kesadaran akan potensi yang dimiliki.

Sebagaimana yang dijelaskan oleh K Mahalli selaku ketua nelayan ‘Bunga Harum’

Seandainya komunitas nelayan mau mengembangkan apa yang dimiliki dan tidak selalu bergantung kepada pemerintah, mungkin nelayan di sini akan terus berkembang. Di sini banyak nelayan yang sudah mulai bosan. Karena menurut mereka, menjadi nelayan tidak seberapa menguntungkan. Padahal andaikan mereka tidak bergantung kepada tengkulak yang dengan lihainya memberi bantuan jarring namun dengan syarat ikan terinya harus dijual pada mereka dengan harga yang kurang sesuai.7

Paparan di atas menunjukkan bahwa masyarakat nelayan yang ada di maroceng masih bergantung kepada tengkulak. Sehingga segala sesuatunya diatur oleh yang punya modal. Maka dalam hal ini mereka tidak punya kekuatan untuk mengelola apa yang mereka punya yakni ikan hasil tangkap mereka. B. Fokus Pendampingan

Bagaimana strategi pendampingan komunitas nelayan dalam mengelola asset yang dimiliki?

C. Manfaat Pendampingan

Jelas manfaatnya yang akan dirasakan oleh masyarakat khususnya komunitas Bunga Harum sangat banyak.

Mereka akan bertambah ilmu, karena pendampingan bertujuan untuk berbagi cara dan pelatihan-pelatihan yang berkaitan dengan pendampiangan. 1. Mereka akan mendapatkan stimulus atau rangsangan dari apa yang mereka kerjakan.

7

Hasil wawancara dengan K. Mahalli selaku sesepuh komunitas nelayan di Maroceng, Campor Barat pada tanggal 26 Desember 2016


(17)

7

2. Dan insya Allah apa yang mereka kerjakan bermanfaat bagi kehidupan mereka sekarang dan yang akan datang.

D. Pihak Pihak Yang Terkait

Pihak pihak yang terkait dengan upaya pemanfaatan hasil tangkap ikan dalam peningkatan ekonomi masyarakat nelayan Desa Campor Barat Kec. Ambunten Kab. Sumenep sebagaiman berikut;

1. KepalaDesa Campor Barat

Kepala Desa mememiliki peran untuk mengkordinasi masyarakat pemilik lahan perahu atau sampan untuk dimanfaatkan dan dijadikan salah satu peningkatan ekonomi.

2. Masyarakat Nelayan.

Masyarakat merupakan pihak penting yang mampu mensukseskan suatu pendampingan, karena masyarakat adalah objek maupun subjek dalam suatu pemberdayaan secara mandiri. Seperti para prangkat Desa, pengolah ikan kenduy, para tokoh masyarakat yakni Kiai kampung dan lain-lain. Dari masyarakat peneliti memperoleh informasi-informasi yang valid yang bisa dipertanggungjawabkan kebenarannya. Dari masyarakat sendirilah keberhasilan dan kegagalan pendampingan yang dilakukan secara partisipasi aktif.

3. Lembagaorganisasimasyarakat

Dalam pendampingan ini tentu saja membutuhkan bantuan-bantuan dari organisasi masyarakat karena lewat lembaga organisasi itulah proses pendampingan akan lebih mudah dan lebih efektif dari pada berjalan sendiri


(18)

tanpa ada bantuan dari pihak yang lain. Organisasi masyarakat seperti ibu-ibu PKK, remaja masjid dan lain-lain.

4. Tokoh agama

Dalam proses pendampingan ini perlu tokoh yang disegani oleh masyarakat untuk menjalankan pendampingan masyarakat melalui komunitas pengolah ikan kenduy. Oleh karena itu tokoh agama sangat berpengaruh untuk meningkatkan proses pendampingan ekonomi kreatif tersebut.

E. Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan pada penulisan pendampingan upaya pemanfaatan komunitas pengolah ikan kenduy dalam pendapatan ekonomi masyarakat nelayan di Desa Campor Barat Kecamatan Ambunten Kabupaten Sumenep, sebagaimanaberikut:

1. Bab I membahas tentang realitas problematika yang ada pada Desa Campor Barat, Kec. Ambunten Kab. Sumenep, yang meliputi penjelasan tentang pengembangan ekonomi dampingan itu seperti apa, dan fokus pendampingannya serta membahas tentang agenda yang akan dilakukan.

2. Bab II membahas teori–teori yang mengiringi pendampingan ini seperti: teori yang membahas teori ekonomi kerakyatan dan teori ekonomi kreatif sebagai pisau analisis dari fakta yang ada di masyarakat melalui komunitas pengolah ikan teri.

3. Bab III membahas tentang metodologi dan strategi pendampingan berbasis

Aset Bassed Community Development (ABCD) lebih mendalam.


(19)

9

Desa Campor Barat di dalamnya ada letak geografis, iklim, dan demografi. 5. Bab V membahas tentang aset dan potensi yang ada, meliputi: aset fisik, aset

budaya, mata pencaharian, sosial, peluang dan tantangan dampingan.

6. Bab VI membahas lebih banyak proses pendampingan mulai proses

discovery, dream, design, define, dan destiny. Kesemua itu diulas lebih

mendalam dalam bab ini.

7. Bab VII membahas tentang refleksi atas dampingan yang dilakukan mulai dari proses pra-dampingan, saat dampingan, pasca-dampingan serta kesimpulan refleksi atas ketiga sub proses tersebut.

8. Bab VIII membahas tentang penutup dari proses pendampingan yang meliputi kesimpulan akan perubahan proses dampingan ini, adanya saran serta rekomendasiataspendampingan yang dilakukan.


(20)

10

BAB II

PERSPEKTIF TEORITIS

A. Mengembangkan Ekonomi Kerakyatan

Ekonomi adalah ilmu yang mengelola segala sumberdaya baik manusia maupun alam dengan kategori langka untuk tujuan efisiensi dan efektivitas (Samuelson, 2005). Rakyat adalah kumpulan kebanyakan individu dengan ragam ekonomi yang relatif sama (Fredrik Benu, 2002). Sedangkan kerakyatan adalah segala sesuatu hal yang melibatkan rakyat atau publik atau orang banyak (Prof. Mubyarto, 2000).1

Prof. Mubyarto dari UGM danAdi Sasono, mantan Mentri UMKM President Habibie, disepakati bahwa istilah ekonomi kerakyatan berarti upaya memberdayakan (kelompok atau satuan) ekonomi yang mendominasi struktur dunia usaha yang dikelola oleh dan untuk sekelompok masyarakat banyak (rakyat). Terjemahan bebas mengenai ekonomi kerakyatan di Indonesia ini adalah kesatuan besar individu aktor ekonomi dengan jenis kegiatan usaha yang sederhana, manajemen usaha yang belum bersistem dan bentuk kepemilikan usaha secara pribadi. Landasan hukum untuk ekonomi kerakyatan ini ada pada Program Pembangunan Nasional (Propenas) UU No. 25 Tahun 2000.2

Maka dalam kaitannya dengan ‘optimalisasi perekonomian komunitas nelayan

(upaya pendampingan komunitas nelayan dalam pengelolaan hasil nelayan di desa

1

http//EkonomiKerakyatandanPemberdayaanEkonomiRakyatSuatuKajianKonseptual0KumpulanA rtikel20News.html. Diambil pada hari jumat tgl 11 Januari 2016

2


(21)

11

campor barat kec. Ambunten, kab. Sumenep) cocok untuk dijadikan landasan teori.

1. Implementasi Ekonomi Kerakyatan

Ekonomi rakyat tumbuh secara natural karena adanya sejumlah potensi ekonomi di sekelilingnya. Mulanya mereka tumbuh tanpa adanya insentif apapun atau dengan kata lain hanya mengandalkan naluri usaha dan kelimpahan sumber daya alam, sumberdaya manusia, serta peluang pasar. Namun pada saat perekonomian Indonesia dilanda krisis moneter mulai pada pertengahan tahun 1997 lalu, terbukti ekonomi rakyat yang tidak mengandalkan sistem moneter terutama terhadap US $, sebagian besar usaha rakyat tersebut mampu bertahan dan melanjutkan usahanya hingga saat ini.

Namun seringkali ekonomi kerakyatan ini kurang diberi ruang gerak oleh sistem monopoli disempitkan, sama sekali didesak dan dipadamkan (Soekarno, Indonesia Menggugat, 1930: 31)3 Jika kita mengacu pada Pancasila dasar negara atau pada ketentuan pasal 33 UUD 1945, maka memang ada kata kerakyatan tetapi harus tidak dijadikan sekedar kata sifat yang berarti merakyat. Kata kerakyatan sebagaimana bunyi sila ke-4 Pancasila harus ditulis lengkap yaitu kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan atau perwakilan, yang artinya tidak lain adalah demokrasi ala Indonesia. Jadi ekonomi kerakyatan adalah (sistem) ekonomi yang demokratis. Pengertian demokrasi ekonomi atau (sistem) ekonomi yang demokratis termuat lengkap dalam penjelasan pasal 33 UUD 1945 yang berbunyi:

3


(22)

“Produksi dikerjakan oleh semua untuk semua dibawah pimpinan atau penilikan anggota-anggota masyarakat. Kemakmuran masyarakatlah yang diutamakan bukan kemakmuran orang-seorang. Sebab itu perekonomian disusun sebagai usaha bersama berdasar atas asas kekeluargaan. Bangun perusahaan yang sesuai dengan itu ialah koperasi.

Perekonomian berdasar atas demokrasi ekonomi, kemakmuran bagi semua orang! Sebab itu cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hidup orang banyak harus dikuasai oleh negara. Kalau tidak, tampuk produksi jatuh ke tangan orang-orang yang berkuasa dan rakyat yang banyak ditindasinya.

Hanya perusahaan yang tidak menguasai hajat hidup orang banyak boleh ada di tangan orang-seorang.

Bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalam bumi adalah pokok-pokok kemakmuran rakyat. Sebab itu harus dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat.

Hasil penelitian Laica Marzuki (Unhas, 1999), menjelaskan bahwa ekonomi kerakyatan saat ini adalah sistem ekonomi yang berbasis pada kekuatan ekonomi rakyat, dimana ekonomi rakyat sendiri adalah kegiatan ekonomi yang dilakukan oleh rakyat kebanyakan yang secara swadaya mengelola sumberdaya ekonomi apa saja yang dapat diusahakan yang selanjutnya disebut usaha mikro, kecil dan menengah (UMKM).

Maka dari itulah ekonomi kerakyatan layak diperjuangkan, dan terus dikembangkan. System ekonomi kerakyatan ini merupakan subuah konsep yang


(23)

13

memberdayakan. Namun hal itu belum cukup, harus ada teori lain yang bisa menopang atau menjadi turunan yang bisa dikompromikan. Maka penulis mengajukan teori ekonomi kreatif sebagai turunannya.

B. Pengembangan Ekonomi Kreatif

Ekonomi merupakan sebuah kegiatan manusia memanivestasikan sesuatu dalam berbagai bentuk. Tidak hanya dalam bentuk uang, pada zaman dahulu terkenal dengan sistem barter dikarenakan dahulu belum ada pendidikan yang tinggi dan persaingan yang ketat. Maka nenek moyang dalam berkehidupan masyarakat sedikit terjadi gesekan.4

Dewasa ini dalam perkembangannya ekonomi bermertamorfosis, dalam dunia ekonomi ada beberapa pos yang memiliki peran masing – masing dan membuat ekonomi sangat kompleks, dan rentan sekali akan praktik penyelewengan baik itu brerasal dari ekonom maupun pemerintah itu sendiri.5 Pada tahun 2015, perokonomian dunia mengalami lesu akibat Amerika Serikat yang adigdaya mengalami kerusuhan rasis selama 6 bulan terakhir, dan PHK besar – besaran. Kedigdayaan Negara Amerika Serikat ini berkat agresi politik, budaya dan ekonomi ke negara - negara berkembang serta miskin. Negara – negara berkembang sendiri sekitar 60% di Asia-Afrika yang berarti mangsa pasar basah bagi produsen yakni negara maju 15 tahun terakhir terutama AS. 6

Ekonomi kreatif merupakan cabang ekonomi yang 40 tahun terakhir sangat digalakkan dan menjadi konsen petinggi negara atau bangsa. Dikarekana ekonomi

4

Kwik Kian Gie, Kebijakan Ekonomi Politik dan Hilangnya Nalar, (Jakarta: Kompas. 2009), hal. 30.

5

Ibid

6


(24)

kreatif lahir tidak serta merta ada namun dikarenakan akibat revolusi perancis dan sistem kapitalis yang sangat merajalela. Kreatif itu sendiri berasal dari sesuatu yang sederhana, dan bahan yang digunakan sudah ada disekitarnya. Seperti: bank sampah.7

Istilah Ekonomi Kreatif pertama kali diperkenalkan oleh tokoh bernama John Howkins, penulis buku "Creative Economy, How People Make Money from Ideas". Jhon Howkins adalah seorang yang multi profesi. Selain sebagai pembuat film dari Inggris ia juga aktif menyuarakan ekonomi kreatif kepada pemerintah Inggris sehingga dia banyak terlibat dalam diskusi-diskusi pembentukan kebijakan ekonomi kreatif dikalangan pemerintahan negara-negara Eropa. Menurut definisi Howkins, Ekonomi Kreatif adalah kegiatan ekonomi dimana input dan outputnya adalah Gagasan. Benar juga, esensi dari kreatifitas adalah gagasan. Bayangkan hanya dengan modal gagasan, seseorang yang kreatif dapat memperoleh penghasilan yang sangat layak. Gagasan seperti apakah yang dimaksud? Yaitu gagasan yang orisinil dan dapat diproteksi oleh HKI. Contohnya adalah penyanyi, bintang film, pencipta lagu, atau periset mikro biologi yang sedang meneliti farietas unggul padi yang belum pernah diciptakan sebelumnya ( Nenny, 2008)8 Unsur – unsur yang ada pada ekonomi dasar sendiri memiliki beberapa, antara lain: 1) Barang, 2) Orang, dan 3) Akad. Barang disini ada 2 dimensi yakni barang yang akan di tukar / barter seperti pada zaman dahulu dan sekarang diganti dengan uang sebagai barang barometer yang memiliki nilai dalam menukarkan barang keperluan sehari – hari baik itu primer, sekunder, dan tersier. Faktor dari

7Deni Harianto, “Fenomena Bank Sampah”, Jawa Pos (13 Nopember, 2014), hal. 6

8 Chairul Huda, “Indonesia dalam Menghadapi MEA 2015”, Harian Kompas (14 Maret 2015), hal


(25)

15

unsur ekonomi yakni orang dan akad merupakan hal yang urgent daripada barang. Diketahui bersama faktor orang ini memiliki varibel yang mengiringi baik itu latarbelakang pendidikan, dan budaya.9

Di dalam ekonomi konvensional dan ekonomi kreatif tidak ada perbedaan yang terpaut jauh, yang mencolok hanya penekanan ekonomi kreatif berawal dari hal yang sederhana, barang yang mudah didapat dan tercetus atas pemikiran radikal atas sebuah problematik ayang dihadapi seseorang atau kelompok pada tempat tinggalnya.10 Tidak ada yang mengejutkan lagi dari ekonomi kreatif, yang berbeda hanyalah munculya pada tahun 1970-an eksak dari revolusi perancis dan perang duina II, banyak sekali ahli menuding kalau ekonomi kreatif hanya kedok menutupi sejarah kelam yang mengiringi dua peristiwa tersebut. Banyak sekali ketimpangan, penyimpangan dan hal yang tidak terduga timbul setelah konflik. Pengembangan ekonomi kreatif pada dasarnya sama dengan ekonomi reguler, namun ekonomi kreatif menekankan kepada produk kearifan lokal yang ada di suatu tempat sebagai khazanah keilmuan dan sebagai icon tempat tersebut yang mendatangkan para turis baik domestik maupun manca negara.11 Ekonomi kreatif sendiri di Indonesia telah diatur sedemikian rupa dan diproteksi langsung oleh pemerintah baik dari jajaran legislatif maupun eksekutif serta yudikatif.

9

Ibid

10

http://m.netmedia.co.id/program/index/episodes/113/dSIGN, di akses 12 Mei 2016, pukul 20.00 WIB.

11


(26)

1. Definisi dan Ciri-ciri Kreatif

Definisi Kreatif adalah memiliki daya cipta, mempunyai kemampuan untuk mencipatakan, atau mampu menciptakan sesuatu yang baru, baik berupa gagasan maupun kenyataan yang relatif berbeda dengan apa yang telah ada sebelumnya. Menurut Wollfolk, kreativitas adalah kemampuan individu untuk menghasilkan sesuatu (hasil) yang baru atau asli atau pemecahan suatu masalah. Cony Seniman menyatakan bahwa kreativitas adalah kemampuan untuk menghasilkan atau mencipatakan suatu produk baru.12 Sedangkan ciri-ciri kreatif diantaranya ialah : a. Mereka tak pernah berhenti belajar

b. Mereka memandang kegagalan sebagai satu langkah maju untuk mendekati kesuksesan

c. Imajinatif

d. Rasa ingin tahu yang lebih e. Menemukan relasi-relasi f. Kolaborasi

g. Memiliki pertanyaan yang besar h. Berani mengatakan tidak

i. Meluangkan waktu j. Mencari pengalaman baru k. Selalu mencoba hal-hal baru l. Mengikuti impian dan harapan

12

http://Temukan Pengertian Pengertian Kreatif.html. diakses pada di akses 12 Mei 2016, pukul 20.00 WIB.


(27)

17

2. Etos Kerja

Etos yang berasal dari kata Yunani, dapat mempunyai arti sebagai sesuatu yang diyakini, cara berbuat, sikap serta persepsi terhadap nilai bekerja. Dari kata ini lahirlah apa yang disebut dengan “ethic” yaitu, pedoman, moral dan prilaku, atau dikenal pula etiket yang artinya cara bersopan santun. Sehingga dengan kata etik ini, dikenalah istilah etika bisnis yaitu cara atau pedoman prilaku dalam menjalankan suatu usaha dan sebagainya.13

Di sisi yang lain makna “bekerja” bagi seorang muslim adalah suatu upaya yang sungguh-sungguh, dengan mengarahkan seluruh aset, fikir, dan dzikirnya untuk mengaktualisasikan atau menampakkan arti dirinya sebagai hamba Allah yang harus menundukkan dunia dan menempatkan dirinya sebagai bagian dari masyarakat yang terbaik (khoiroummah) atau dengan kata lain dapat juga kita katakan bahwa hanya dengan bekerja manusia itu memanusiakan dirinya.14

Dengan pendekatan ABCD, setiap orang didorong untuk memulai proses perubahan dengan menggunakan aset mereka sendiri. Harapan yang timbul atas apa yang mungkin terjadi dibatasi oleh apa yang bisa mereka sendiri tawarkan, yaitu sumber daya apa yang mereka bisa identifikasi dan kerahkan. Mereka kemudian menyadari bahwa jika sumber daya ini ada atau bisa didapatkan, maka bantuan dari pihak lain menjadi tidak penting. Komunitas bisa memulainya sendiri besok. Proses ini membuat mereka menjadi jauh lebih berdaya.15

Oleh karena itu, untuk menciptakan kuasa masyarakat atas milik, kelola dan manfaat aset mereka harus dilakukan pemberdayaan. Yang mana arti

13

Toto Tasmara, Etos Kerja Pribadi Muslim, (Jakarta: Dana Bhakti Wakaf, 1995), hal. 25.

14

Ibid, hal. 27.

15


(28)

pemberdayaan disini berarti proses menciptakan masyarakat agar mampu dan memiliki kuasa atas miliknya, kelola atas miliknya, dan memanfaatkan miliknya untuk sebesar-besarnya demi kesejahteraan mereka.16

Berikut ini adalah berbagai bentuk dimensi pemberdayaan yang ditawarkan oleh Gaventa.

a. Pemberdayaan Ekonomi, konteks ini adalah bentuk upaya untuk memastikan bahwa individu memiliki skill yang tepat, kemampuan sumber daya akses pendapatan dan penghidupan yang tepat dan berkelanjutan.

b. Pemberdayaan individu dan sosial pemberdayaan sebagai proses social multidimensi yang membantu individu mendapatkan control atas kehidupan yang mereka hadapi. Konteks kekuatan ini lebih mengarah pada kemauan, keahlian dan relasi yang sifatnya individu dan social

c. Pemberdayaan politik adalah suatu kemampuan untuk menganalisa, mengatur dan memobilisasi dirinya agar bisa berubah secara positif.

d. Pemberdayaan budaya adalah kemampuan mendefinisikan kembali aturan atau norma yang menciptakan praktik-praktik budaya dan simbolik yang bisa membelenggu diri manusia.

16

Agus Afandi,dkk, Dasar-Dasar Pengembangan Masyarakat Islam. (Surabaya: IAIN Sunan Ampel Press. 2013), hal. 137


(29)

19

BAB III

METODELOGI RISET PENDAMPINGAN A. Pendekatan

Dalam tahap pendekatan, pendamping menggunakan metode wawancara dengan komunitas Bunga Harum, sampai memperoleh data akurat. Dari hasil wawancara itu penulis, mengadakan pendampingan. Dalam proses pendampingan, pendamping memakai metode ABCD. Metode ini yang ditekankan adalah penggalian asset bukan masalah. Sebab itulah tulisan ini memuat beberapa asset yang dimiliki masyarakat, khususnya komunitas Bunga Harum (komunitas nelayan).

Asset Bassed Community Development atau (ABCD) menurut R.M. Brown ialah:

Bila anda mencari masalah, anda akan menemukan lebih banyak masalah; Bila anda mencari sukses, anda akan menemukan lebih banyak sukses Bila anda percaya pada mimpi, anda akan merengkuh keajaiban maka motto kami adalah

“mencari akar penyebab sukses” dan bukan “akar penyebab masalah.1

Sedangkan dalam Metode ABCD memiliki lima langkah kunci untuk melakukan proses riset pendampingan, diantaranya:2

1. Define (Menentukan)

Ketua komunitas Bunga Harum bersama anggotanya di Dusun Maroceng menentukan ‘memilih topik positif’: tujuan dari proses pencarian atau deskripsi mengenai perubahan yang diinginkan.

1

Christopher Dureau, Pembaru dan kekuatan lokal untuk pembangunan, (Australian Community Development and Civil Society Strengthening Scheme (ACCESS) Tahap II, Agustus 2013), hal 59.

2


(30)

Pendamping dengan para anggota komunitas tahlilan terlibat dalam FGD. Pada Proses FGD pendamping anggota komunitas tahlilan dan bersama ketua bersama tokoh agama menetukan fokus pembahasan. Fokus pembahasan yang akan dibahas merupakan hal yang positif dan memotivasi dari setiap anggota komunitas tahlilan.

2. Discovery (Menemukan)

Proses menemukan kembali kesuksesan dilakukan lewat proses percakapan atau wawancara kepada Key-People yakni K. Mahalli, Syaifullah dan Jauhari dan harus menjadi penemuan personal tentang apa yang menjadi kontribusi individu yang memberi hidup pada sebuah kegiatan atau usaha. Pada tahap discovery, dimulai memindahkan tanggung jawab untuk perubahan kepada para individu yang berkepentingan dengan perubahan tersebut yaitu entitas lokal.

Pendamping melakukan wawancara kepada masyarakat Dusun Maroceng tentang kondisi Dusun. Wawancara tersebut dapat digiring untuk mengetahui potensi desa yang ada. Wawancara ini bersifat cerita antara masyarakat dengan pendamping sehingga yang banyak berbicara nantinya adalah Masyarakat Dusun Maroceng.

3. Dream (Impian)

Kreatif dan kolektif adalah salah satu cara melihat masa depan yang mungkin terwujud, apa yang sangat dihargai dikaitkan dengan apa yang paling diinginkan. Pada tahap ini, setiap orang Warga Dusun Maroceng mengeksplorasi harapan dan impian mereka baik untuk diri mereka sendiri maupun untuk organisasi. Sebuah mimpi atau visi bersama terhadap masa depan yang bisa terdiri dari gambar, tindakan, kata-kata, lagu, dan foto di lingkungan mereka berada.


(31)

21

Setelah melakukan wawancara kepada masyarakat Dusun Maroceng pendamping mulai mengetahui impian atau keinginan masyarakat Dusun Maroceng. Setelah mengetahui keinginan atau impian maka langkah selanjutnya yaitu merancang sebuah kegiatan untuk memenuhi impian masyarakat.

4. Design (Merancang)

Proses ini seluruh anggota komunitas (atau kelompok tahlilan) Dusun Maroceng harus terlibat langsung dalam proses belajar tentang kekuatan atau aset yang dimiliki agar bisa memulai memanfaatkan dengan cara yang konstruktif, inklusif, dan kolaboratif untuk mencapai aspirasi dan tujuan seperti yang sudah ditetapkan sendiri di atas.

Proses merencanakan ini merupakan proses cara mengetahui aset – aset yang ada pada masyarakat Dusun Maroceng. Aset yang terlihat di Dusun Maroceng adalah organisasi masyarakat yang berbentuk tahlilan. Aset ini akan dimanfaatkan untuk memenuhi impian masyarakat Maroceng.

5. Deliver (Lakukan)

Serangkaian tindakan inspiratif yang mendukung proses belajar terus menerus dan inovasi tentang “apa yang akan terjadi.” Hal ini merupakan fase akhir yang secara khusus fokus pada cara-cara personal dan organisasi untuk melangkah maju.

B. Prinsip – Prinsip Pendampingan 1. Setengah Terisi lebih Berarti

Salah satu modal utama dalam program pengabdian masyarakat Dusun Maroceng berbasis aset adalah merubah cara pandang komunitas terhadap dirinya. Tidak hanya


(32)

terpaku pada kekurangan dan masalah yang dimiliki. Tetapi memberikan perhatian kepada apa yang dipunyai dan apa yang dapat dilakukan.3

2. Semua Punya Potensi

Dalam konteks ABCD, prinsip ini dikenal dengan istilah “Semua punya potensi”. Setiap manusia terlahir dengan kelebihan masing-masing. Tidak ada yang tidak memiliki potensi, walau hanya sekedar kemampuan untuk tersenyum dan melihat air. Semua berpotensi dan semua bisa memiliki kontribusi terhadap sesuatu.

Dengan demikian, tidak ada alasan bagi setiap masyarakat Dusun Maroceng untuk tidak berkontribusi secara konkrit untuk mengubah hidup yang baik. Bahkan, keterbatasan fisikpun tidak menjadi alasan untuk tidak berkontribusi. Ada banyak kisah dan inspirasi orang-orang sukses yang justru berhasil membalikkan keterbatasan dirinya menjadi sebuah berkah, sebuah kekuatan. 4

3. Partisipasi

Partisipasi adalah suatu keterlibatan mental dan emosi seseorang kepada pencapaian tujuan dan ikut bertanggung jawab di dalamnya. Banyak ahli memberikan pengertian mengenai konsep partisipasi.5 Partisipasi berarti peran serta seseorang atau kelompok masyarakat Dusun Maroceng dalam proses pembangunan baik dalam bentuk pernyataan maupun dalam bentuk kegiatan dengan memberi masukan pikiran,

3

Ibid, 14.

4

Ibid,, hal. 17.

5


(33)

23

tenaga, waktu, keahlian, modal dan atau materi, serta ikut memanfaatkan dan menikmati hasil-hasil pembangunan.6

Pengertian tentang partisipasi dapat juga berarti bahwa pembuat keputusan menyarankan kelompok atau masyarakat Dusun Maroceng ikut terlibat dalam bentuk penyampaian saran dan pendapat, barang, keterampilan, bahan dan jasa. Partisipasi dapat juga berarti bahwa kelompok mengenal masalah mereka sendiri, mengkaji pilihan mereka, membuat keputusan, dan memecahkan masalahnya. 7

a. Kemitraan

Partnership merupakan salah satu prinsip utama dalam pendekatan

pengembangan masyarakat berbasis aset (Asset Based Community Development).

Partnership merupakan modal utama yang sangat dibutuhkan dalam memaksimalkan

posisi dan peran masyarakat Dusun Maroceng dalam pembangunan yang dilakukan. Hal itu dimaksudkan sebagai bentuk pembangunan dimana yang menjadi motor dan penggerak utamanya adalah masyarakat itu sendiri (community driven development).

Karena pembangunan yang dilakukan dalam berbagai variannya seharusnya masyarakatlah yang harus menjadi penggerak dan pelaku utamanya, tidak menjadi penonton di tempat mereka tinggali. Sehingga diharapkan akan terjadi proses pembangunan yang maksimal, berdampak empowerment secara masif dan terstruktur. Hal itu terjadi karena dalam diri masyarakat telah terbentuk rasa memiliki (sense of

6

Ibid

7


(34)

belonging) terhadap pembangunan yang terjadi di sekitarnya.8 Didalam proses pendampingan ini kemitraan yang dibangun adalah bersinerginya antar komunitas tahlilan masyarakat untuk memberdayakan petani cabe jamu serta keikutsertaan

steakholder didalamnya.

4. Penyimpangan Positif (Positive Deviance)

Positive Deviance atau (PD) secara harfiah berarti penyimpangan positif. Secara

terminologi positive deviance (PD) adalah sebuah pendekatan terhadap perubahan perilaku individu dan sosial yang didasarkan pada realitas bahwa dalam setiap masyarakat Dusun Maroceng - meskipun bisa jadi tidak banyak- terdapat orang-orang yang mempraktekkan strategi atau perilaku sukses yang tidak umum, yang memungkinkan mereka untuk mencari solusi yang lebih baik atas masalah yang dihadapi daripada rekan-rekan mereka itu sendiri.9

Praktek tersebut bisa jadi, seringkali atau bahkan sama sekali keluar dari praktek yang pada umum dilakukan oleh Masyarakat Dusun Maroceng. Realitas tersebut mengisyaratkan bahwa sering kali terjadi pengecualian - pengecualian dalam kehidupan masyarakat Dusun Maroceng dimana seseorang atau beberapa orang mempraktekkan perilaku dan strategi berbeda dari kebanyakan masyarakat pada umumnya. Strategi dan perilaku tersebut yang membawa kepada keberhasilan dan kesuksesan yang lebih dari yang lainnya. Realitas ini juga mengisyaratkan bahwa

8

Ibid. hal. 20.

9

Edi Suharto, Membangun Masyarakat Memberdayakan Masyarakat, (Bandung: Refika Aditama, 2010), hal. 25.


(35)

25

pada dasarnya masyarakat (anggota Masyarakat Dusun Maroceng) memiliki aset atau sumber daya mereka sendiri untuk melakukan perubahan-perubahan yang diharapkan. Positive deviance merupakan modal utama dalam pengembangan Masyarakat Dusun Maroceng dalam memberdayakan petani cabe melalui komunitas tahlilan yang dilakukan dengan menggunakan pendekatan berbasis aset-kekuatan. Positive deviance menjadi energi alternatif yang vital bagi proses pengembangan dan pemberdayaan masyarakat yang dilakukan. Energi itu senantiasa dibutuhkan dalam konteks lokalitas masing-masing komunitas.10

5. Berawal Dari Masyarakat (Endogenous)

Endogenous dalam konteks pembangunan memiliki beberapa konsep inti yang

menjadi prinsip dalam pendekatan pengembangan dan pemberdayaan komunitas - masyarakat Dusun Maroceng berbasis aset-kekuatan.11 Beberapa konsep inti tersebut adalah sebagai berikut:

a. Memiliki kendali lokal atas proses pembangunan Dusun Maroceng. b. Mempertimbangkan nilai-nilai dakwahnya secara sungguh-sungguh. c. Mengapresiasi cara pandang.

d. Menemukan keseimbangan antara sumber daya lokal dan eksternal.

Beberapa aspek diatas merupakan kekuatan pokok yang sangat penting dalam pembangunan masyarakat. Sehingga dalam aplikasinya, konsep “pembangunan

endogen” kemudian mengakuinya sebagai aset-kekuatan utama yang bisa

10

Ibid, hal. 25.

11

Suntoyo Usman, Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009), hal. 28.


(36)

dimobilisasi untuk digunakan sebagai modal utama dalam pengembangan Masyarakat Dusun Maroceng. Aset komunitas tahlilan ini secara tidak sadar bahwa sebenarnya kekuatan tersebut bisa jadi sebelumnya terabaikan atau bahkan seringkali dianggap sebagai penghalang dalam pembangunan. Aset-aset tersebut terintrodusir dalam kelompok aset spiritual, sistem kepercayaan, cerita, dan tradisi yang datang dari adat istiadat masyarakat Dusun Maroceng dan hal itu sangat mempengaruhi kehidupan sehari-hari komunitas. Pembangunan Endogen mengubah aset-aset tersebut menjadi aset penting yang bisa dimobilisasi untuk pembangunan sosial dan ekonomi kerakyatan. Metode ini menekankan dan menjadikan aset-aset tersebut sebagai salah satu pilar pembangunan. Sehingga dalam kerangka pembangunan endogen, aset-aset tersebut kemudian menjadi bagian dari prinsip pokok dalam pendekatan ABCD yang tidak boleh dinegasikan sedikitpun. 12

6. Menuju Sumber Energi

Energi dalam pengembangan bisa beragam. Diantaranya adalah mimpi besar yang dimiliki oleh komunitas, proses pengembangan yang apresiatif, atau bisa juga keberpihakan anggota komunitas yang penuh totalitas dalam pelaksanaan program. sumber energi ini layaknya keberadaan matahari bagi tumbuhan.13 Terkadang bersinar dengan terang, mendung, atau bahkan tidak bersinar sama sekali. Sehingga energi dalam komunitas ini harus tetap terjaga dan dikembangkan.

12

Edi Suharto, Membangun Masyarakat Memberdayakan Masyarakat, (Bandung: Refika Aditama, 2010), hal. 28.

13

Christopher Dureau, Pembaru dan kekuatan lokal untuk pembangunan, Australian Community Development and Civil Society Strengthening Scheme (ACCESS) Tahap II, (agustus 2013), hal. 29.


(37)

27

Masyarakat Dusun Maroceng juga seharusnya mengenali peluang-peluang sumber energy lain yang mampu memberikan penyegaran kekuatan baru dalam proses pengembangan. Sehingga tugas komunitas tidak hanya menjalankan program saja, melainkan secara bersamaan memastikan sumber energy dalam kelompok mereka tetap terjaga dan berkembang. 14

C. Teknik – Teknik Pendampingan

Metode dan alat menemukenali dan memobilisasi aset untuk pemberdayaan masyarakat melalui Asset Based Community Development (ABCD), antara lain: 1. Penemuan Apresiatif

Appreciative Inquiry (AI) adalah cara yang positif untuk melakukan perubahan

organisasi di Dusun Maroceng berdasarkan asumsi yang sederhana yaitu bahwa setiap organisasi memiliki sesuatu yang dapat bekerja dengan baik, sesuatu yang menjadikan organisasi hidup, efektif dan berhasil, serta menghubungkan organisasi tersebut dengan komunitas dan stakeholdernya dengan cara yang sehat.15

AI dimulai dengan mengidentifikasi hal-hal positif dan menghubungkannya dengan cara yang dapat memperkuat energi dan visi untuk melakukan perubahan untuk mewujudkan masa depan organisasi yang lebih baik.

AI melihat isu dan tantangan organisasi dengan cara yang berbeda. Berdeda dengan pendekatan yang fokus pada masalah, AI mendorong anggota organisasi untuk fokus

14

Ibid, hal 29.

15


(38)

pada hal-hal positif yang terdapat dan bekerja dengan baik dalam organisasi. AI tidak menganalisis akar masalah dan solusi tetapi lebih konsen pada bagaimana memperbanyak hal-hal positif dalam organisasi.

Proses AI terdiri dari 4 tahap yaitu Discovery, Dream, Design dan Destiny atau sering disebut Siklus 4-D. AI ini diwujudkan dengan adanya Forum Group

Discussion (FGD) yang dilakukan pada jenjangnya masing– masing.

2. Pemetaan Komunitas

Pendekatan atau cara untuk memperluas akses ke pengetahuan lokal. Community map merupakan visualisasi pengetahuan dan persepsi berbasis masyarakat mendorong pertukaran informasi dan menyetarakan kesempatan bagi semua anggota masyarakat Dusun Maroceng untuk berpartisipasi dalam proses yang mempengaruhi lingkungan dan kehidupan mereka.16

Daftar lengkap aset di Dusun Maroceng yang bisa dipetakan adalah: a. Aset personal atau masyarakat Dusun Maroceng

b. Asosiasi atau aset social Dusun Maroceng c. Institusi

d. Aset Alam e. Aset Fisik

f. Aset Spiritual dan Kultural 3. Penelusuran Wilayah (transect)

16


(39)

29

Transect adalah garis imajiner sepanjang area Dusun Maroceng untuk menangkap

keragaman sebanyak mungkin. Dengan berjalan sepanjang garis itu dan mendokumentasikan hasil pengamatan, penilaian terhadap berbagai aset dan peluang dapat dilakukan. Misalnya, dengan berjalan dari atas bukit ke lembah sungai dan di sisi lain, maka akan mungkin untuk melihat berbagai macam vegetasi alam, penggunaan lahan, jenis tanah, tanaman, kepemilikan lahan, dan lain sebagainya. Penelusuran wilayah dilakukan berbarengan dengan pemetaan komunitas (community mapping) yang dilakukan pada 25 Desember 2016 pukul 20.00wib. 17

a. Pemetaan Asosiasi dan Institusi

Asosiasi merupakan proses interaksi yang mendasari terbentuknya lembaga-lembaga sosial di Dusun Maroceng yang terbentuk karena memenuhi faktor-faktor sebagai berikut : (1) kesadaran akan kondisi yang sama, (2) adanya relasi sosial, dan (3) orientasi pada tujuan yang telah disepakati bersama.18

b. Pemetaan Aset Individu (Individual Inventory Skill)

Metode/alat yang dapat digunakan untuk melakukan pemetaan individual asset antara lain kuisioner, interview dan focus group discussion.19 Manfaat dari Pemetaan Individual Aset antara lain:

1) Membantu membangun landasan untuk memberdayakan masyarakat Dusun Maroceng dan untuk saling ketergantungan dalam masyarakat,

17

Suntoyo Usman, Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009), hal. 38.

18

Soetomo, Pembangunan Masyarakat, (Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009), hal. 41.

19


(40)

2) Membantu membangun hubungan dengan masyarakat Dusun Maroceng, dan 3) Membantu warga Dusun Maroceng mengidentifikasi keterampilan dan bakat mereka sendiri.

a) Sirkulasi Keuangan (Leaky Bucket)

Perputaran ekonomi yang berupa kas, barang dan jasa merupakan hal yang tidak terpisahkan dari warga Dusun Maroceng atau komunitas dalam kehidupan mereka sehari-hari. Seberapa jauh tingkat dinaminitas dalam pengembangan ekonomi lokal mereka dapat dilihat, seberapa banyak kekuatan ekonomi yang masuk dan keluar. Untuk mengenali, mengembangkan dan memobilisir asset-asset tersebut dalam ekonomi komunitas atau warga lokal diperlukan sebuah analisa dan pemahaman yang cermat. Salah satu pendekatan yang digunakan dalam pendekatan ABCD [Asset Based Community Development] adalah melaluil Leacky Bucket. 20

Leaky bucket atau biasa dikenal dengan istilah wadah bocor atau ember bocor

merupakan salah satu cara untuk mempermudah masyarakat Dusun Maroceng, terutama pada anggota komunitas tahlilan agar dapat mengenali, mengidentifikasi dan menganalisa berbagai bentuk aktivitas atau perputaran keluar dan masuknya ekonomi lokal komunitas/warga di Dusun Maroceng. Lebih singkatnya, leaky bucket adalah alat yang berguna untuk mempermudah warga Dusun Maroceng atau komunitas untuk mengenal berbagai perputaran asset ekonomi lokal yang mereka miliki.

20

Christopher Dureau, Pembaru dan kekuatan lokal untuk pembangunan, Australian Community Development and Civil Society Strengthening Scheme (ACCESS) Tahap II, (agustus 2013), hal. 44.


(41)

31

Hasilnya bisa dijadikan untuk meningkakan kekuatan secara kolektif dan membangunnya secara bersama.

b) Skala Prioritas (Low hanging fruit)

Setelah masyarakat Dusun Maroceng mengetahui potensi, kekuatan dan peluang yang mereka miliki dengan melalui menemukan informasi dengan santun, pemetaan aset, penelusuran wilayah, pemetaan kelompok/ institusi dan mereka sudah membangun mimpi yang indah maka langkah berikutnya, adalah bagaimana mereka bisa melakukan semua mimpi-mimpi diatas, karena keterbatasan ruang dan waktu maka tidak mungkin semua mimpi mereka diwujudkan. Skala prioritas adalah salah satu cara atau tindakan yang cukup mudah untuk diambil dan dilakukan untuk menetukan manakah salah satu mimpi mereka bisa direalisasikan dengan menggunakan potensi masyarakat di Dusun Maroceng itu sendiri tanpa ada bantuan dari pihak luar.21

D. Langkah – Langkah Pendampingan

1. Tahap 1: Mempelajari dan Mengatur Skenario

Dalam Appreciative Inquiry (AI) terkadang disebut ‘Define’. Dalam Asset Based Community Development (ABCD), terkadang digunakan frasa “Pengamatan dengan Tujuan/Purposeful Reconnaissance’. Pada dasarnya terdiri dari dua elemen kunci memanfaatkan waktu untuk mengenal orang-orang dan tempat di mana perubahan

21


(42)

akan dilakukan, dan menentukan fokus program. 22 Ada empat langkah terpenting di tahap ini, yakni menentukan:

a. Tempat b. Orang

c. Fokus Program

d. Informasi tentang Latar Belakang 2. Tahap 2: Menemukan Masa Lampau

Kebanyakan pendekatan berbasis aset dimulai dengan beberapa cara untuk mengungkap (discovering) hal – hal yang memungkinkan sukses dan kelentingan di komunitas sampai pada kondisi sekarang ini. 23 Kenyataannya bahwa masyarakat di Dusun Maroceng masih berfungsi sampai saat ini membuktikan bahwa ada sesuatu dalam masyarakat yang harus dirayakan. Tahap ini terdiri dari:

a. Mengungkap (discover) sukses – apa sumber hidup dalam komunitas. Apa yang memberi kemampuan untuk tiba di titik ini dalam rangkaian perjalanannya. Siapa yang melakukan lebih baik.

b. Menelaah sukses dan kekuatan – elemen dan sifat khusus apa yang muncul dari telaah cerita – cerita yang disampaikan oleh komunitas.

3. Tahap 3: Memimpikan Masa Depan

Memimpikan masa depan atau proses pengembangan visi (visioning) adalah kekuatan positif luar biasa dalam mendorong perubahan. Tahap ini mendorong

22

Ibid, hal. 123.

23


(43)

33

komunitas menggunakan imajinasinya untuk membuat gambaran positif tentang masa depan mereka. Proses ini menambahkan energi dalam mencari tahu “apa yang

mungkin.” 24

4. Tahap 4: Memetakan Aset

Tujuan pemetaan aset adalah agar komunitas belajar kekuatan yang sudah mereka miliki sebagai bagian dari kelompok. Apa yang bisa dilakukan dengan baik sekarang dan siapa di antara mereka yang memiliki keterampilan atau sumber daya Dusun Maroceng. Mereka ini kemudian dapat diundang untuk berbagi kekuatan demi kebaikan seluruh kelompok atau komunitas. 25

Pemetaan dan seleksi aset dilakukan dalam 2 tahap:

a. Memetakan aset komunitas atau bakat, kompetensi dan sumber daya yang ada. b. Seleksi mana yang relevan dan berguna untuk mulai mencapai mimpi komunitas. 5. Tahap 5: Menghubungkan dan Menggerakkan Aset/Perencanaan Aksi

Tujuan penggolongan dan mobilisasi aset adalah untuk langsung membentuk jalan menuju pencapaian visi atau gambaran masa depan. Hasil dari tahapan ini harusnya adalah suatu rencana kerja yang didasarkan pada apa yang bisa langsung dilakukan diawal, dan bukan apa yang bisa dilakukan oleh lembaga dari luar. Walaupun lembaga dari luar dan potensi dukungannya, termasuk anggaran pemerintah adalah juga aset yang tersedia untuk dimobilisasi, maksud kunci dari tahapan ini adalah untuk membuat seluruh masyarakat yang ada di Dusun Maroceng

24

Ibid, hal. 138.

25


(44)

menyadari bahwa mereka bisa mulai memimpin proses pembangunan lewat kontrol atas potensi aset yang tersedia dan tersimpan.26

6. Tahap 6: Pemantauan, Pembelajaran dan Evaluasi

Pendekatan berbasis aset juga membutuhkan studi data dasar (baseline), monitoring perkembangan dan kinerja outcome. Tetapi bila suatu program perubahan menggunakan pendekatan berbasis aset, maka yang dicari bukanlah bagaimana setengah gelas yang kosong akan diisi, tetapi bagaimana setengah gelas yang penuh dimobilisasi. Pendekatan berbasis aset bertanya tentang seberapa besar anggota organisasi atau masyarakat Dusun Maroceng mampu menemukenali dan memobilisasi secara produktif aset mereka mendekati tujuan bersama.

Empat pertanyaan kunci Monitoring dan Evaluasi dalam pendekatan berbasis aset adalah:

a. Apakah komunitas sudah bisa menghargai dan menggunakan pola pemberian hidup dari sukses mereka di masa lampau?

b. Apakah komunitas sudah bisa menemukenali dan secara efektif memobilisasi aset sendiri yang ada dan yang potensial (keterampilan, kemampuan, sistem operasi dan sumber daya?)

c. Apakah komunitas sudah mampu mengartikulasi dan bekerja menuju pada masa depan yang diinginkan atau gambaran suksesnya?

26


(45)

35

d. Apakah kejelasan visi komunitas dan penggunaan aset dengan tujuan yang pasti telah mampu memengaruhi penggunaan sumber daya luar (pemerintah) secara tepat dan memadai untuk mencapai tujuan bersama?

E. Strategi Pendampingan

Di dalam pendampingan penguatan ekonomi kreatif berbasis pertanian pohon cabe yang ada di Dusun Maroceng ialah merupakan tempat yang belum pernah tersentuh dampingan, berikut adalah strategi pendampingan sebagaimana berikut:

1. Pendekatan Partisipatif

Pendekatan partisipatif bertujuan melibatkan penerima manfaat dalam pengumpulan data awal serta dalam perancangan kegiatan yang sesuai.27 Pendekatan partisipatif berkembang dari riset aksi dan proses refleksi aksi yang terkenal pada tahun 1970-an. Pada pertengahan tahun 1990-an pendekatan partisipatif diterapkan secara luas di berbagai proyek yang berhubungan dengan komunitas. Namun pada saat yang sama beberapa kritikus menyatakan bahwa alat bantu untuk memastikan partisipasi menjadi lebih penting ketimbang tujuan awalnya. Alat bantu proses partisipatif menjadi tujuan akhir dan bukan sarana bagi komunitas untuk mengendalikan proses masyarakat tetap menjadi obyek proses pengumpulan informasi bukan subyek proses pembangunan seperti yang diharapkan. Kritikus pendekatan ini berargumentasi bahwa alat bantu yang digunakan masih membebani komunitas, dan kekuasaan tetap di tangan donor atau organisasi perantara.

27


(46)

Pada saat yang sama, serangkaian pendekatan yang berpotensi untuk mengembalikan kekuasaan kembali ke tangan warga mulai berkembang. Pendekatan-pendekatan ini bagian dari ‘keluarga’ Pendekatan-pendekatan berbasis aset. Kebanyakan dari pendekatan berbasis aset berkembang dari harapan yang sama, yaitu meningkatkan peluang terwujudnya pembangunan yang dipimpin oleh warga Dusun Maroceng. Alat bantu yang digunakan untuk meningkatkan partisipasi masih relevan dalam pendekatan berbasis aset ini. Namun, pemilihan alat ditentukan oleh apa yang paling bisa memberdayakan komunitas untuk mengelola aset mereka sendiri. Alat bantu partisipatif digunakan untuk membantu komunitas menemukan apa yang bisa mereka bawa ke dalam proses pemberdayaan. 28

2. Psikologi Positif

Para psikolog merujuk psikologi positif sebagai sebuah cara di mana manusia dan organisasi didorong untuk menghasilkan energi dan antusiasme yang lebih besar demi mewujudkan perubahan yang diinginkan.29 Psikologi positif lahir dari beberapa eksperimen terkenal seperti Placebo Effect dan Pygmalion Effect untuk menguji bagaimana manusia bereaksi terhadap umpan balik positif dan negatif.30 Beberapa eksperimen sosial tersebut mendemonstrasikan bagaimana seseorang secara utuh bisa mengubah pola perilaku untuk memenuhi harapannya. Jika sebuah kelompok memiliki harapan pribadi yang kuat tentang kesuksesan, maka pola perilaku kelompok tersebut kemungkinan besar akan merefleksikan harapan tersebut.

28

Ibid, hal.35.

29

, Solichun Abdul Wahab, Pengantar Kebijakan Publik, (Malang: UMM Press, 2013), hal. 38.

30


(47)

37

Sebaliknya, jika gambaran yang dominan adalah tentang kegagalan, maka perilaku kelompok juga akan mendukung gambaran tersebut. Visualisasi positif dan membayangkan visi sukses juga banyak diterapkan dalam psikologi olah raga serta penciptaan lingkungan belajar yang mendukung dengan focus pada apa yang membangun rasa percaya diri dan gambaran kuat sebagai seorang pemenang.

3. Modal Sosial

Modal sosial mengacu kepada hasil atau modal yang didapatkan oleh masyarakat ketika dua atau lebih warganya bekerja untuk kebaikan bersama – membantu warga lain di Dusun Maroceng tanpa tujuan mencari keuntungan. Modal sosial dalam konteks ini mengacu pada aset yang didapat oleh sebuah komunitas ketika beberapa orang membentuk asosiasi atau kelompok untuk keswadayaan atau untuk kebaikan bersama. Modal sosial merupakan bagian penting dari pendekatan Penghidupan Berkelanjutan. Namun demikian peran pentingnya sebagai aset pembangunan teridentifikasi lebih jelas pada pendekatan berbasis aset yang lebih baru. 31

Modal sosial sebagai kumpulan:

a. Keyakinan (rasa saling percaya) antar-anggota sebuah masyarakat atau komunitas di Dusun Maroceng,

b. Kelompok-kelompok di dalam komunitas,

c. Norma sosial yang diterapkan kelompok-kelompok tersebut

d. Jejaring sosial atau relasi antar kelompok dan individu dalam kelompok

31

Edi Suharto, Membangun Masyarakat Memberdayakan Masyarakat, (Bandung: Refika Aditama, 2010), hal. 45.


(48)

e. Organisasi atau kelompok lebih formal yang bekerja untuk kebaikan bersama masyarakat Dusun Maroceng Tengah lebih luas, tidak hanya untuk anggotanya.


(49)

39 BAB IV

PROFIL LOKASI PENDAMPINGAN

A. Realitas Desa Campor Barat

Di bab ini, penulis bermaksud untuk mendiskripsikan secara umum mengenai kondisi sosial, budaya, keagamaan, pendidikan, politik dan sumber daya manusia (SDM) serta sumber daya alam (SDA), yang menjadi objek penelitian, yaitu di Dusun Maroceng Desa Campor Barat Kec. Ambunten Kab. Sumenep. Hal ini dibutuhkan karena dalam meneliti sesuatu yang ada korelasinya dengan masyarakat secara umum, perlu diketahui letak demografis dan geografisnya serta kondisi daerah, kekayaan-kekuatan yang ada, termasuk juga unsur lokasi, luas dan batas setempat. Selanjutnya penduduk yang meliputi jumlah pertumbuhan, dan yang terakhir adalah pola hidup yang menyangkut dengan kehidupan masyarakat pedesaan.

Tujuan meneliti di Dusun Maroceng adalah mengembangkan ekonomi kreatif yang ada di masyarakat melalui komunitas nelayan adalah satu unsur dalam penelitian yaitu sebagai data penunjang yang dikonfirmasikan dengan sebuah hasil, maupun dalam rangka mengungkap sebuah teori dan metodologi ABCD yang relevan dengan kondisi perubahan ekonomi masyarakat Dusun Maroceng Desa Campor Barat Kec. Ambunten Kab. Sumenep.


(50)

Komunitas Bunga Harum berdiri pada tahun 1993. Komunitas ini beranggotakan para nelayan yang jumlahnya kurang lebih 50 orang. Dan yang terlibat dalam komuntas ini rata-rata orang yang memiliki perahu penangkap ikan. Adapun kegiatannya di antaranya; tahlilan, yasinan dan rembuk bersama mengenai nelayan dan bantuan dari pemerintah atau instransi. Komunitas ini diketuai sekaligus didirikan oleh K. Mahalli salah satu tokoh masyarakat di Dusun Maroceng Desa Campor Barat.

Gambar 4.1 K. Mahalli di kediamannya

Komunitas ini diberi nama “Bunga Harum”. Dan perkumpulannya sebulan sekali tepatnya pada akhir bulan. Komunitas ini semakin lama semakin merosot, karena menurut K. Mahalli diakibatkan banyaknya orang yang merasa bosan, ditambah tidak menentunya perolehan nelayan.

Sebenarnya komunitas ini sudah lama, namun perkembangannya tidak ada karena para nelayan yang diungkit-ungkit terus hanya bantuan, bahkan mereka mau berkumpul kalau ada pembahasan tentang bantuan dari pemerintah. Oleh


(51)

41

sebab itu komunitas Bunga Harum semakin lama semakin mengeci dan tidak menentu.1

Kita jarang berpikir bahkan tidak pernah berpikir, betapa besar jasa para nelayan dalam menyediakan kebutuhan hidup kita. Sektor perikanan pada akhir-akhir ini belum sepenuhnya mendapatkan perhatian. Buktinya di Dusun Maroceng Desa Campor Barat ini salah satunya. Oleh karenanya rasa untuk mencari ikan sedikit demi sedikit mulai luntur apabila tidak adanya pemerhatian. Seharusnya sektor perikanan merupakan titik sentral pembangunan. Negeri ini hendaknya jangan melupakan jati dirinya sebagai negara yang luas wilayah maritimnya diperkirakan mencapai 5,8 juta Km2 (75,3%) dan untuk wilayah daratan mencapai 1,9 juta Km2 (24,7%).

Pada zaman nenek moyang kita, khusunya perikanan yang dilakukakan oleh masyarakat nelayan Desa terdahulu memiliki keunggulan. Sehingga dengan hasil tangkap ikan itu bisa mencukupi kebutuhan hidup keluarganya. Ini menunjukkan bahwa ikan-ikan yang ada di laut itu sangat memadahi. Hal ini disebabkan karena kondisi laut yang masih terjaga ke alamiahannya, yang terletak di daerah khatulistiwa yang kaya akan sumber daya hayatinya. Dengan kekayaan ikan yg melimpah, maka perlu adanya wadah yang mampu mewadahi komunitas nelayan khususnya terkait kesejahtraannya. Sebab, meski ikannya melimpah namun pengelolaannya tidak mendukung maka hasilnya tidak akan maksimal, bahkan cendrung merugi.

1

Hasil wawancara dengan K. Ketua komunitas Bunga Harum di Dusun Maroceng pada tanggal 26 Desember 2016, Jam 007 pagi hari


(52)

salah satu cara untuk masuk kepada masyarakat dengan melalui komunitas tersebut. Dengan pendekatan komunitas yang masih berjalan sampai sekarang ini fasilitator bisa memberikan pendapat-pendapat yang bisa di terima oleh para anggota komunitas. Agar nantinya masyarakat dapat merubah pola pikirnya dengan adanya diskusi-diskusi yang dilakukan di setiap ada kumpulan komunitas nelayan.

Dengan demikian masyarakat bisa melakukan penggunaan komunitas dalam mengembangkan sector perikanan dan sector yang lain. Selama ini masyarakat masih kurang kreatif dalam mengelola hasil tangkap ikannya. Dan fasilitator mengharapkan bisa melakukan pendampingan mengarah pada pengelolaan yang kreatif tersebut. Salah satunya yang bersifat jangka panjang, supaya pendapatan masyarakat dapat bertambah.

2. Keadaan Iklim Campor Barat

Dusun Maroceng Desa Campor Barat, suhu tropisnya sama dengan daerah lainya di Indonesia yang merupakan daerah tropis yang mempunyai dua musim yaitu musim panas (kemarau) dan musim penghujan. Pada umumnya Desa Campor Barat sama dengan daerah lainya di Madura yang cenderung panas karena curah hujan yang relatif rendah dan mempunyai lautan yang luas, dimana kadar garamnya sangat tinggi. Sehingga hal itu berpengaruh terhadap kondisi iklim daerah tersebut. Dimana pada malam hari udara terasa dingin karena udara datang dari arah selatan (pegunungan) berhembus ke Desa Campor.


(53)

43

Namun cuaca semacam itu sudah biasa di Desa Campor Barat. Dan tidak mengganggu aktivitas warga. Biasanya musim hujan (Nimbara’) jatuh pada bulan November sampai Maret. Sedangkan untuk musim kemarau (Nemor) berlangsung mulai bulan April sampai bulan Oktober di setiap tahunnya.

3. Letak Geografis Desa Campor Barat

Desa Campor Barat adalah desa yang memiliki luas wilayah 225.8 ha, dengan jumlah penduduk ± 2.349 jiwa yang terdiri dari laki-laki 1.029 orang dan perempuan sebanyak ± 1.320 orang. Jumlah penduduk miskin 389 KK.

Desa Campor Barat berbatasan dengan desa Bukabu (bagian selatan), sebelah timur berbatasan dengan Campor Timur , sebelah utara berbatasan dengan laut Jawa dan sebelah barat berbatasan dengan desa Tambaagung Tengah.

Ketinggian desa Campor Barat 25 meter dari permukaan laut (dpl), sedangkan curah hujan 35 º C, musim penghujan dari bulan Desember sampai bulan April dan musim kemarau dari bulan April sampai dengan bulan Desember. Hamparan tanah desa Campor Barat tergolong teratur tidak berbukit dan dikelilingi persawahan yang membentang luas.

Secara Administrasi Desa Campor Barat terletak sekitar 25 Km dari ibu kota Kecamatan Ambunten, kurang lebih 26 Km dari Kabupaten Sumenep, dengan dibatasi oleh wilayah desa-desa tetangga diantaranya di Sebelah Utara berbatasan dengan laut jawa, Sebelah Timur berbatasan dengan Desa Campor Timur. Disebelah Selatan berbatasan dengan Tamba angung ares dan Bukabu sedangkan disebelah Barat berbatasan dengan Desa Tamba Agung Tengah.


(54)

Sumber:Data Dokumentasi Desa Campor Barat

Adapun pembagian wilayah pemerintahan Desa Campor Barat terdiri atas 3 Dusun yaitu meliputi :

a. Dusun Kolpoh. b. Dusun Tana Mira. c. Dusun Campor.

Kabupaten Sumenep merupakan salah satu Kabupaten yang terletak di Pulau Madura diantaranya Kab. Bangkalan, Sampang dan Pamekasan. Kabupaten Sumenep terletak di paling timur pulau madura. Sebelah utara berbatasan dengan Laut Jawa, sebelah barat berbatasan dengan Kab. Pamekasan, sebelah selatan berbatasan dengan selat Madura, Secara umum wilayah Kab. Sumenep berupa daratan, dan terdiri dari anyak pulau yang terpisah dari daratan bernama Pulau Ra’as, gili labak, talangoh, sapeken, masa lembu, dan masih banyak lagi.

No Batas Wilayah

1 Sebelah Utara Laut Jawa

2 Sebelah Timur Desa Campor Timur

3 Sebelah Barat Desa Tambaagung & Bukabu


(55)

45

4. Keadaan Demografi

Keadaan demografis merupakan aspek yang sangat penting dalam usaha mencapai tujuan pembangunan dan peningkatan ekonomi yang berencana. Karena aspek demografis ini berkenalan langsung dengan penduduk dan berbagi komposisinya serta segala kekayaan dalam alamnya yakni aset.

Oleh sebab itu, keadaan demografi suatu daerah akan sangat menentukan bagi kemajuan atau keterbelakangan di Desa Campor Barat . Pada akhirnya, keadaan demografi ini memiliki nilai potensial yang sangat tinggi bagi masyarakat Desa Campor Barat untuk pertumbuhan ekonomi, baik dalam jangka pendek maupun jangka panjang.

Pada umumnya penduduk Desa Campor Barat adalah merupakan penduduk asli, hanya ada beberapa saja yang bersal dari luar yakni kaitan perkawinan. Dari hasil sensus monografis, jumlah penduduk Desa Campor Barat laki-laki 1029 perempuan 1320.

Desa ini sampai akhir tahun 2015, sedangkan mengenai jumlah kepala keluarga (KK) hingga sekarang tercatat kepala keluarga 2349 kesemuanya termasuk warga negara Indonesia (WNI). Sebagaiman yang tertera dalam tabel berikut:

4.2 Jumlah Penduduk Berdasarkan Struktur Usia Desa Campor Barat Tahun 2015

No Usia ( Tahun) Laki-Laki Perempuan Jumlah Prosentase

1 0 – 4 53 63 116 6.18 %

2 5 – 9 65 86 151 8,85 %

3 10 – 14 84 94 178 8,45 %


(56)

5 20 – 24 70 82 152 8,54 %

6 25 – 29 82 107 189 9,34 %

7 30 – 34 83 93 176 10,19 %

8 35 – 39 82 86 168 8,54 %

9 40 – 44 89 107 196 7,12 %

10 45 – 49 76 101 177 4,85 %

11 50 – 54 71 103 174 5,69 %

12 55 – 59 53 83 136 3,87 %

13  60 159 232 391 10,36 %

Jumlah 1029 1320 234

9

100,00 %

Sumber : Data Dari Dokumentasi Kantor Desa Campor Barat

Berdasarkan penyajian data diatas, jumlah penduduk secara keseluruhan adalah 2349 penduduk, yang terbagi menurut jenis kelamin laki-laki 1029 sedangkan perempuan 1320 Desa Campor Barat ini termasuk Desa yang memiliki penduduk terbanyak di Kec. Ambunten.

B. Fasilitas Publik

Adapun sarana segala jenis peralatan, perlengkapan kerja dan fasilitas yang berfungsi sebagai alat utama untuk pembantu dalam pelaksanaan pekerjaan yang digunakan dalam suatu proses kegiatan. Sarana umum yang ada di sekitar harus dirawat dan dijaga agar tetap dapat digunakan dengan baik. Sarana umum yang tidak baik menjadi masalah sosial karena sarana umum digunakan bersama oleh masyarakat sehingga apabila rusak masyarakat juga yang akan mengalami kesulitan karena tidak bisa menggunakan sarana tersebut. Berikut ini beberapa sarana umum yang ada di Desa Campor Barat diantaranya:


(57)

47

1. Tempat pendidikan

Pendidikan adalah satu hal penting dalam memajukan tingkat kesejahteraan pada umumnya dan tingkat perekonomian pada khususnya. Dengan tingkat pendidikan yang tinggi maka akan mendongkrak tingkat kecakapan yang mendorong tumbuhnya ketrampilan kewirausahaan. Dan pada gilirannya mendorong munculnya lapangan pekerjaan baru dengan sendirinya dan akan membantu program pemerintah untuk pembukaan lapangan pekerjaan baru guna mengatasi pengangguran. Pendidikan biasanya akan dapat mempertajam sistematika sosial dan pola sosial individu, selain itu mudah menerima informasi yang lebih maju. Di lihat dari Tabel 2.3. yang menunjukkan tingkat rata-rata pendidikan warga Desa Campor Barat.

4.3 Jumlah Penduduk Tamat Sekolah Berdasarkan Jenis Kelamin Desa Campor Barat Tahun 2015.

No Pendidikan Jumlah Prosentase (%)

1 Belum/Tidak Sekolah 1.664 36,57%

2 Tamat SD 277 22,06%

3 Tamat SLTP 194 14,32%

4 Tamat SLTA 155 9,25%

5 Diploma I/II 32 0,18%

6 Akademi/Diploma III - -

7 Diploma IV/Strata I 26 1,65%

8 Strata II 1 0,04%

Jumlah 2349 100%

Sumber : Data survey sekunder Desa Campor Barat Kecamatan Ambunten, Januari Tahun 2015


(58)

Gambar 4.2 Sekolah MI dan SMPI Dusun Maroceng

2. Agama

Dalam perspektif agama, masyarakat di Desa Campor Barat termasuk dalam kategori masyarakat yang homogeny. Hal ini dikarenakan sebagian besar masyarakat Campor Barat beragama Islam. Secara cultural, pegangan agama ini didapat dari hubungan kekeluargaan ataupun kekerabatan yang kental diantara mereka. Selain itu perkembangan agama berkembang berdasarkan turunan orang tua ke anak ke cucu. Hal inilah membuat Islam mendominasi agama di Dusun-Dusun Campor Barat.

Informasi yang diperoleh melalui wawancara mendalam dari tokoh-tokoh tua, bahwa selama ini pola-pola hubungan antar masyarakat masih banyak dipengaruhi oleh kultur organisasi Islam, Seperti Nahdatul Ulama (NU).

4.4 Jumlah Penduduk Berdasarkan Agama Desa Campor Barat Tahun 2015

No Agama L P Jumlah Prosentase

(%)

1 Islam 1029 1320 2.349 100%

2 Katholik


(59)

49

4 Hindu

5 Budha

Jumlah 1029 1320 2.349 100%

Sumber : Data Dari Dokumentasi Kantor Desa Campor Barat

Dari atas menunjukan bahwa jumlah masyarakat Campor Barat 100% menganut agama Islam, mulai dari dulu agama Islam adalah salah satu agama yang dianut masyarakat Madura. Agama Islam yang di terima

langsung oleh masayarakat dengan ajaran-ajarannya sampai saat ini masih sangat kental sistem religiusnya, dari jumlah penduduk yang berada di Desa Campor Barat tidak ada satupun masyarakatnya yang memiliki langsung oleh masayarakat dengan ajaran-ajarannya sampai saat ini masih sangat kental sistem religiusnya, dari jumlah penduduk yang berada di Desa Campor Barat tidak ada satupun masyarakatnya yang memiliki langsung oleh masayarakat dengan ajaran-ajarannya sampai saat ini masih sangat kental sistem religiusnya, dari jumlah penduduk yang berada di Desa Campor Barat tidak ada satupun masyarakatnya yang memiliki keyakinan lain kecuali Islam.


(60)

Gambar 4.3 Masjid Dusun Maroceng

Gambar diatas adalah salah satu tempat peribadatan masyarakat Campor Barat yang berada di Dusun Maroceng, telah lama di dirikan oleh masyarakat. Realitas masyarakat Campor Barat jarang beribadah di masjid di karenakan semua warga memiliki tempat ibadah tersendiri (langgar) di rumah masing-masing. Hanyawarga yang dekat dengan masjid saja yang mengisi dan merawat tempat tersebut. Masjid ini hanya aktif ketika sholat jumat saja, dan bukan berarti tidak ada yang mengurusi, setiap waktu selalu berkumandang suara adzan dari masjid tersebut. Alasan yang lain juga jarak warga yang terlalu jauh dari masjid begitulah orang Desa dan menjadi budaya.

4.5: Sarana Peribadatan

No Sarana peribadatan Jumlah


(61)

51

2 Mushalla 15

3 Gereja -

4 Pura -

Sumber : Data Dari Dokumentasi Kantor Desa Campor Barat

Tabel diatas menunjukan tempat peribadatan yang ada di Desa Campor Barat, ada 4 masjid yang terletak di Desa Campor Barat. Sedangkan untuk mushollah dekitar 15 yang ada di Dusun Maroceng, sedangkan gereja dan pura tidak ada, hal ini menunjukkan masyarakat Desa Campor Barat mayoritas Islam.

a. Tempat kesehatan

Kesehatan sebagai tolok ukur utama terhadap keberhasilan pembangunan taraf hidup masyarakat Desa Campor Barat. Berdasarkan data yang ada dimana sarana prasarana kesehatan yang dimiliki oleh Desa Campor Barat terdiri atas 1 tenaga bidan yang dibantu oleh 10 kader kesehatan Posyandu. Mengingat kondisi geografis dan mulai memahaminya masyarakat Desa Campor Barat terhadap aspek kesehatan, terutama yang berkaitan langsung dengan fisik mereka yang menyangkut kebersihan, dan minimnya fasilitas air bersih maka beberapa penyakit sering terjangkit dimasyarakat dapat ditekan diantaranya : Diare, Gatal-gatal.


(1)

100

Pasca pendampingan

Pendampingan yang sudah dilakukan tidak hanya sekedar pendampingan ceremonial semata tetapi juga bagaimana kedepannya tetap berkelanjutan dan berkembang. oleh karena itu fasilitator memililki Local leader selanjutnya yang akan menggerakkan masayarakat khususnya anggota komunitas Bunga Harum, hal ini akan adanya keberlanjutan program yang diberikan pendampingan yang bisa berkerja sama nantinya dalam musyawarah dengan masyarakat lainnya.

Merubah gaya berfikir masyarakat Maroceng dalam peningkatan ekonomi melalui aset yang dimiliki, sudah direalisasikan oleh pemiliknya yang nantinya akan dirasakan sendiri pemanfaatan yang sudah dilakukam dari hasil tangkap ikannya. Berdasarkan dalam FGD pendapat yang sudah dikemukakan dalam kesepakatan bersama yakni ingin membuat kerupuk polo rasa ikan teri.

Semua pendampingan ini bukan akhir dari proses yang telah dilakukan melainkan awal dari proses yang baru dilakukan, sebelum masyarakat nantinya betul-betul merasakan apa yang dilakukan ini membuahkan hasil keuntungan yang akan dirasakan oleh dirinya sendiri. Pada intinya dari proses pendampingan yakni mereka mengetahui akan aset yang dimilikinya untuk tidak mengabaikannya, dan bisa memanfaatkan dengan sebaik mungkin untuk merubah kehidupan yang lebih progresif.


(2)

101 BAB VIII PENUTUP

A. Kesimpulan

Kesimpulan dari hasil pendampingan di Dusun Maroceng Desa Campor Barat di antaranya :

1. Masyarakat mulai menyadari tentang aset yang mereka miliki setelah melihat adanya proses pendampingan bersama komunitas Bunga Harum di Dusun Maroceng. Ini adalah modal awal untuk membangkitkan semangat masyarakat khususnya komunitas nelayan ‘Bunga Harum’ yang semakin hari semakin lessu. Mereka akan lebih berdaya dengan karya dan kreatifitas.

2. Melalui pembuatan krupuk polo rasa ikan teri, pendapatan ekonominya masyarakat akan meningkat. Walaupun produksi krupuk polo rasa ikan teri itu masih tahap percobaan namun komunitas yakin produksi krupuk di Dusun Maroceng tersebut akan terus berjalan dan meningkat. Dan warga insya Allah bisa menikmati hasilnya dan otomatis pendapatan ekonominya akan bertambah. Produk krupuk polo rasa ikan teri ini hanya sebagai pekerjaan sampingan. Namun dengan itu mereka bisa menambah pundi keuangan dan pengetahuan baru, kreativitas baru serta pola pikir positif tentang asset yang mereka miliki.


(3)

102

B. Saran

Dengan adanya pendampingan ini, fasilitator berhak memberikan saran kepada: 1. Komunitas Bunga Harum (para nelayan)

Dengan adanya pendampingan ini diharapkan komunitas Bunga Harum bisa menjaga dan melestarikan nilai-nilai kesalehan yang ada di Dusun Maroceng dan bisa memanfaatkan potensi yang dimiliki. Dan kemudian bisa bermafaat dan menjadi untuk komunitas dan masyarakat luas dalam berbagai bidang sosial, budaya, agama, dan ekonomi. Serta bisa menyadari hal yang sederhana bisa menjadi sangat luar biasa dengan kreatifitas. Sebagaimana pembuatan kerupuk polo rasa ikan teri ini, yang sebelumnya tidak terpikirkan oleh mereka. Hal itu mungkin terlihat sederhana karena bahannya menggunakan ikan teri yang disisihkan dari hasil nelayan.

2. Kepala Desa

Sebaiknya Kepala Desa menjaga dan mengembangkan hasil proses pendampingan yang telah dilakukan fasilitator di Dusun Maroceng. Dan selalu melakukan koordinasi dengan komunitas masyarakat khususnya ‘Bunga Harum’ yang kondisinya semakin hari semakin melemah, untuk terus dimotivasi dan selalu didampingi. Juga diharapkan kepala Desa memberikan pelatihan-pelatihan yang sesuai dengan potensi mereka, guna menunjang kreatifitas yang dimilikinya. Karena dengan itu mereka akan lebih semangat dan lebih percaya diri dengan kelebihan yang dimilikinya. Serta mencintai alam sekitarnya.


(4)

103

DAFTAR PUSTAKA

BUKU

Suhartini, dkk, Model-model Pemberdayaan Masyarakat, Jogjakarta: Pustaka Pesantren, 2011

Ali Aziz Moh, Dakwah Pemberdayaan Masyarakat Paradigma Aksi Metodologi, Yogyakarta: Pustaka Pesantren, 2005

Muller, Johannes, Perkembangan Masyakat Lintas Ilmu, Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2006

Khaldun Ibnu, Muqaddimah, Jakarta Timur: Pustaka al-Kautsar, 2001

Al Kaaf Zaky Abdullah, Ekonomi Dalam Perspektif Islam. Bandung : CV PUSTAKA SETIA, 2002.

Asror Khozinatul, Pencarian Peluang Pengembangan Perdagangan Sawo Dusun Bunut Desa Bringin Kecamatan Badas Kabupaten Kediri, Surabaya: UIN Sunan Ampel Surabaya, 2014.

Aw Suranto, Komunikasi Sosial Budaya, Yogyakarta: Graha Ilmu, 2009.

Chambers, Robert, Pembangunan Desa Mulai Dari Belakang, Jakarta: LP3ES, 1987.

Dureau Christopher. Pembaru dan Kekuatan Lokal Untuk Pembangunan, Australian Community Development and Civil Society Strengthening Scheme (ACCESS) Tahap II, Agustus 2013.

Ibrahim Subandy Idy, Kritik Budaya Komunikasi, Yogyakarta: Jalan Sutra, 2011. Kasmadi Budhita dan Munggoro Wahyu Dani, Panduan Fasilitator, Indonesia

Australia partnership: IDSS Acces Phase II, 2008.

Muller, Johannes, Perkembangan Masyakata Lintas Ilmu, Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2006.

Gie, Kwik Kian, Kebijakan Ekonomi Politik dan Hilangnya Nalar, Jakarta: Kompas, 2006,

Kementrian agama RI, Al-Quran Tajwid dan Terjemahannya, (Bandung : Syamil Quran, 2010).

Salahuddin Nadhir, dkk, Panduan KKN ABCD UIN Sunan Ampel Surabaya, LPPM IAIN Sunan Ampel Surabaya, 2015.


(5)

104

Sharraden, michel, Aset Untuk Orang Miskin Perspektif Baru Usaha Pengentasan Kemiskinan. Jakarta : PT RAJAGRAFINDO PERSADA, 2006

Soetomo, Pembangunan Masyarakat, Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2009.

Suhandang, Kustadi, Ilmu Dakwah, Bandung: PT Remaja Rosdakarya, Cetakan Pertama 2013.

Suharto Edi. Membangun Masyarakat Memberdayakan Rakyat. Bandung: Refika Aditama. 2010.

Tasmara, Toto, Etos Kerja Pribadi Muslim Jakarta: Dana Bhakti Wakaf, 1995. Usman Suntoyo, Pembangunan dan Pemberdayaan Masyarakat, Yogyakarta:

Pustaka Pelajar, 2009.

Undang - Undang No. 9 Tahun 1990 Tentang Kepariwisataan (Jakarta: Artamas, 1990)

Wahab Abdul Solichun, Pengantar Kebijakan Publik, Malang: UMM Press, 2013.

Widjaja H.A.W, Komunikasi dan Hubungan Masyarakat, Jakarta: Bumi Aksar, 1997.

Yusuf Yunan, Manajemen Dakwah, Jakarta : Kencana, 2006.

Zubaedi, Pengembangan Masyarakat Wacana & Praktik, Jakarta; Kencana Prenadamedia Group, 2013.

INTERNET

http://repository.usu.ac.id/bitstream/123456789/45572/5/Chapter%20I.pdf. Diakses pada selasa, 12 Oktober 2016

Ekonomi Kerakyatan dan Pemberdayaan Ekonomi Rakyat, Suatu Kajian Konseptual, Kumpulan Artikel News.html. Diambil pada hari jumat tgl 11 Januari 2016

Chairul Huda, “Indonesia dalam Menghadapi MEA 2015”, Harian Kompas (14

Maret 2016)

Deni Harianto, “Fenomena Bank Sampah”, Jawa Pos (13 Nopember, 2014)

http://bromotenggersemeru.org/kawasan/sejarah diakses pada di akses 12 Mei 2016, pukul 20.00 WIB.


(6)

http://m.netmedia.co.id/program/index/episodes/113/dSIGN, di akses 12 Mei 2016, pukul 20.00 WIB.

http://Temukan Pengertian Pengertian Kreatif.html. diakses pada di akses 12 Mei 2016, pukul 20.00 WIB.

WAWANCARA

Hasil wawancara dengan K. Mahalli selaku sesepuh komunitas nelayan di Maroceng, Campor Barat pada tanggal 26 Desember 2016

Hasil wawancara dengan Supardi salah satu masyarakat pada tanggal 25 Desember 2016.

Hasil wawancara Syaiful Bahri, pada tanggal 25 Desember 2016. Pukul 15.00 Hasil wawancara dengan Syubki salah satu masyarakat pada tanggal 26

Desember 2016

Hasil wawancara dengan Masyhadi salah satu masyarakat pada tanggal 26 Desember 2016

Hasil wawancara dengan Ustad Syaifullah Miftah kepala sekolah pada tanggal 27 Desember 2016

Hasil Wawancara dengan bapak Jauhari salah satu nelayan pada tanggal 31 Desember 2016. 18.00