Pertumbuhan ekonomi 5 3 serta (5)

MAKALAH EKONOMI
“Pertumbuhan ekonomi”
H. RUSMIN NURYADIN.,SE,M.Si

NAMA : DANG VIANKA AZHARI AULIA
NPM : C1021511RB1005
PRODI : ILMU KOMUNIKASI
FAKULTAS : FAKULTAS ILMU KOMUNIKASI DAN ADMINISTRASI

Bab 1
Pendahuluan
Latar belakang
Dari jaman dahulu sampai sekarang, perekonomian terus dan terus mengalami perubahan dan
perkembangan. Diharapkan perkembangan itu menjadi lebih baik, namun dalam realitanya
perkembangan ekonomi tidak bisa berjalan semulus yang diharapkan. Ada banyak faktor yang
mempengaruhi pengembangan perekonomian, hal tersebutlah yang kadang menjadi kendala dalam
menciptakan perekonomian yang lebih bagus. Selain karena perekonomian sifatnya sangat mengglobal
dan perekonomian satu daerah kedaerah lain maupun dari satu negara ke negara lain saling
mempengaruhi maka tidak hanya satu atau dua negara saja yang memikirkan bagaimana cara
mengembangkan perekonomian menuju arah yang lebih baik, bahkan seluruh dunia memikirkannya.
Berbicara masalah ekonomi, dari periode satu ke periode berikutnya perkembangan ekonomian

senantiasa menjadi pokok pembicaraan yang menarik. Oleh karena itu munculah berbagai tokoh-tokoh
ekonomi yang mengemukakan berbagai pendapat, dari generasi ke generasi munculah tokoh-tokoh
ekonomi baru yang membawa pemikiran yang berbeda dengan tokoh-tokoh ekonomi generasi
sebelumnya.
Pemikiran tersebut biasanya merupakan penyempurnaan pemikiran tokoh sebelumnya atau
pembenahan apabila ada pemikiran tokoh yang setelah diuji ada suatu kesalahan. Walaupun berbagai
pemikiran bermunculan, namun pada dasarnya pemikiran-pemikiran tersebut merngharapkan adanya
pengembangan perekonomian menuju yang lebih baik. Dan dari berbagai macam pemikiran dan teoriteori dari para tokoh inilah kita bisa mengambil suatu tindakan ekonomi yang tepat guna meningkatkan
perekonomian. Sebelum kita bisa mengambil tindakan itu, timbul pertanyaan baru yaitu bagaimana
awal dari teori-teori pengembangan ekonomi itu dan bagaimanakah proses perkembangan teori-teori
itu?.

Bab 2
Teori

Pembahasan mengenai pembangunan ekonomi ini akan saya rumuskan sebagai berikut :

Rumusan masalah
Berdasarkan latar belakang yang telah dikemukakan di atas, maka yang menjadi masalah pokok dan
penelitian ini adalah sebagai berikut:

1.

Berapa besar tingkat pertumbuhan ekonomi daerah pertanian dan industri di Indonesia

2.

Berapa besar tingkat produktivitas tenaga kerja pada sektor industri di Indonesia.
Dan disini juga saya akan menjabarkan tujuan mengapa saya mengambil pembahasan tentang

pembangunan ekonomi ini.

Tujuan dan manfaat
Adapun tujuan dan kegunaan penelitian ini adalah sebagai berikut:
1.

Tujuan
1.

Untuk


mengukurdan

menganalisis

produktivitas pertumbuhan

ekonomi

daerah

pertanian dan industri di Indonesia
2.

Untuk mengukur dan menganalisis produktivitas tenaga kerja sektor industri
di Indonesia.

2.

Kegunaan
1.


Sebagai

bahan

referensi

dan

perbandingan

bagi

penulis lain

yang

menulis makalah pembangunan ekonomi daerah pertanian dan industri
2.


Sebagai bahan referensi dan perbandingan bagi penulis lain yang meneliti masalah
produktivitas dan elastisitas kesempatan kerja.

Bab 3
Pembahasan
Pengertian Pembangunan Ekonomi Daerah
Pembangunan ekonomi daerah adalah suatu proses dimana pemerintah daerah dan masyarakat
mengelola sumber daya yang ada dan membentuk suatu pola kemitraan antara pemerintah daerah
dengan sektor swasta untuk menciptakan suatu lapangan kerja baru dan merangsang perkembangan
kegiatan ekonomi (pertumbuhan ekonomi) dalam wilayah tersebut. (Lincolin Arsyad, 1999)
Masalah pokok dalam pembangunan daerah adalah terletak pada penekanan terhadap kebijakankebijakan pembangunan yang berdasarkan pada kekhasan daerah yang bersangkutan (endogenous
development) dengan menggunakan potensi sumberdaya manusia, kelembagaan, dan sumberdaya fisik
secara lokal (daerah). Orientasi ini mengarahkan kita kepada pengambilan inisiatif - inisiatif yang
berasal dari daerah tersebut dalam proses pembangunan untuk menciptakan kesempatan kerja baru dan
merangsang kegiatan ekonomi.
Pembangunan ekonomi daerah suatu proses yaitu proses yang mencakup pembentukan pembentukan institusi baru, pembangunan industri - industri alternatif, perbaikam kapasitas tenaga
kerja yang ada untuk menghasilkan produk dan jasa yang lebih baik, identifikasi pasar-pasar baru, alih
ilmu pemngetahuan, dan pengembangan perusahaan-perusahaan baru.
Setiap upaya pembangunan ekonomi daerah mempunyai tujuan utama untuk meningkatkan jumlah
dan jenis peluang kerja untuk masyarakat daerah. Dalam upaya untuk mencapai tujuan tesebut,

pemerintah daerah dan masyarakat harus secara bersama - sama mengambil inisiatif pembangunan
daerah. Oleh karena itu, pemerintah daerah beserta daerah beserta partisipasi masyarakatnya dan
dengan menggunakan sumber daya yang ada harus menafsir potensi sumber daya yang diperlukan
untuk merancang dan membangun perekonomian daerah. (Lincolin Arsyad, 1999)

Perencanaan Pembangunan Ekonomi Daerah
Perencanaan pembangunan ekonomi daerah bisa dianggap sebagai perencanaan untuk
memperbaiki penggunaan sumber daya publik yang tersedia didaerah tersebut dan untuk memperbaiki
kapasitas sektor swasta dalam menciptakan nilai sumber daya swasta secara bertanggung
jawab. Pembangunan ekonomi yang efisien membutuhkan secara seimbang perencanaan yang lebih

teliti mengenai penggunaan sumber daya publik dan sektor swasta : petani, pengusaha kecil, koperasi,
pengusaha besar, organisasi sosial harus mempunyai peran dalam proses perencanaan.
Ada tiga (3) impilikasi pokok dari perencanaan pembangunan ekonomi daerah:
Pertama, perencanan pembangunan ekonomi daerah yang realistik memerlukan pemahaman tentang
hubungan antara daerah dengan lingkungan nasional dimana daerah tersebut merupakan bagian
darinya, keterkaitan secara mendasar antara keduanya, dan konsekuensi akhir dari interaksi tersebut.
Kedua, sesuatu yang tampaknya baik secara nasional belum tentu baik untuk daerah dan
sebaliknya yang baik di daerah belum tentu baik secara nasional.
Ketiga, Perangkat kelembagaan yang tersedia untuk pembangunan daerah, misalnya administrasi,

proses pengambilan keputusan, otoritas biasanya sangat berbeda pada tingkat daerah dengan yang
tersedia pada tingkat pusat. Selain itu, derajat pengendalian kebijakan sangat berbeda pada dua tingkat
tersebut. Oleh karena itu perencanaan darah yang efektif harus bisa membedakan apa yang seyogyanya
dilakukan dan apa yang dapat dilakukan, dengan menggunakan sumber daya pembangunan sebaik
mungkin yang benar-benar dapat dicapai, dan mengambil manfaat dari informasi yang lengkap yang
tersedia pada tingkat daerah karena kedekatan para perencananya dengan obyek perencanaan. (Lincolin
arsyad, 1999)

Pengertian dan Penggolongan Industri
Banyak ahli dan lembaga yang memberikan pengertian dan definisi yang berbeda-beda mengenal
industri, baik secara umum maupun secara khusus, tetapi pada dasarnya sama dalam mengartikannya.
Untuk lebih jelasnya kita dapat memperhatikan beberapa pendapat tentang industri yaitu industri adalah
suatu kumpulan dan perusahaan yang menghasilkan barang yang homogen, adalah barang yang
mempunyai sifat saling mengganti yang sangat erat (Hasibuan, 1994:12).
Selanjutnya Winardi (1992), mengemukakan bahwa industri diartikan sebagai usaha produktif,
terutama dalam bidang produksi atau perusahaan tertentu, yang menyelenggarakan jasa-jasa misalnya
transportasi dan perhubungan - perhubungan yang menggunakan modal dan tenaga kerja dalam jumlah
yang relatif besar.
Istilah tersebut sering pula digunakan untuk mengidentifikasi suatu produksikhusus dan usaha
produktif, misalnya industri baja.

Sementara menurut Saleh (1990:25) pengertian industri dapat dilihat dari dua sisi yaitu: Industri
dalam arti sempit yaitu kumpulan beberapa perusahaan yang menghasilkan produk sejenis, misalnya

perusahaan tekstil, perusahaan rokok, perusahaan sepatu dan lain sebagainya. Sedangkan dalam arti
luas yaitu kumpulan dan beberapa perusahaan pada umumnya yang menghasilkan produk yang
sejenis,misalnya industri di kota besar meliputi berbagai macam industri seperti pabrik makanan dan
minuman, obat-obatan, perabot rumah tangga dan lain sebagainya. Dengan melihat batasan pengertian
industri yang dikemukakan oleh beberapa ahli, memberikan pengertian industri sebagai kesatuan usaha
produktif yang menghasilkan barang-barang yang sejenis atau barang substitusi melalui suatu proses
produksi sehingga menjadi barang jadi yang sifatnya lebih baik atau mempunyai nilai yang tinggi dan
lebih bermanfaat bagi konsumen akhir. Penggolongan industri ditinjau dan segi penggunaan tenaga
kerja dianggap belum memenuhi syarat sehingga pada tahun 1992 pemerintah menetapkan
penggolongan industri dalam tiga kategori yang terutama ditujukan untuk pemberian kredit.
Pendekatan pada penggolongan ini ditinjau dari segi pemilik modal industri yang bersangkutan dalam
hubungannya dengan kredit investasi.Adapun penggolongan industri berdasarkan modal yang dimiliki
ada tiga. Pertama, golongan industri kecil dengan modal investasi kurang dari Rp. 200 juta. Kedua,
golongan industri sedang dengan modal investasi antara Rp. 200 juta sampai dengan Rp. 500 juta.
Ketiga, golongan industri besar dengan modal investasi di atasRp. 500 juta.
International Standard of Industry Classification (ISIC), memiliki standar klasifikasi yang digunakan
oleh dunia internasional, juga Badan Pusat Statistik dan lembaga-lembaga lainnya termasuk

Departemen Perindustrian dengan menggunakan istilah Kelompok Lapangan Usaha Industri (KLUI).
Adapun klasifikasi industri menurut ISIC yaitu sebagai berikut Industri makanan, minuman, dan
tembakau; Industri tekstil, kulit dan pakaian jadi, Industri kayu; Industri kertas dan barang darikertas
termasuk percetakan; Industri kimia, karet dan plastik; Industri galian bukan logam; Industri logam
dasar; Industri barang - barang dari logam dan industri pengolahan lainnya.
Berdasarkan eksistensi dinamisnya industri Indonesia dapat dibagi ke dalam tiga kelompok kategori.
Pertama, industri lokal adalah kelompok jenis industri yang menggantungkan kelangsungan hidupnya
kepada pasar setempat yang terbatas.Skala usaha kelompok ini umumnya sangat kecil dan
mencerminkan suatu pola pengusaha yang bersifat subsistem. Dengan target pemasaran yang sangat
terbatas telah menyebabkan kelompok ini menggunakan sarana transportasi yang sederhana misalnya
sepeda, gerobak dan lain - jam. Kedua, Industri sentra adalah kelompokjenis industri yang dari segi
satuan usahanya mempunyai skala kecil tetapi membentuk suatu kelompok atau kumpulan unit usaha
yang menghasilkan barang sejenis. Apabila ditinjau dari segi target pemasarannya, kategori yang kedua
ini umumnya menjangkau pasar yang lebih luas daripada kategori yang pertama, sehingga peranan
pedagang perantara atau pengumpul menjadi menonjol. Ketiga, industri mandiri pada dasarnya dapat

dideskripsikan sebagai kelompok jenis industri yang masih mempunyai sifat-sifat industri sentra namun
telah berkemampuan menggunakan teknologi industri yang telah cukup canggih. Pemasaran hasil
produksi kelompok ini relatif tergantung kepada peran pedagang perantara.


Konsep Tenaga Kerja
Tenaga kerja merupakan salah satu faktor penunjang penggunaan faktor-faktor produksi lainnya, yang
akan digunakan dalam proses produksi. Tenaga kerja merupakanfaktor terpenting dibanding yang lain
karena manusia merupakan penggerak dari seluruh faktor-faktor produksi tersebut.
Tenaga kerja biasa pula disebut sebagai “manpower”. Ada beberapa pendapat mengenai tenaga kerja
oleh ahli-ahli tenaga kerja seperti yang dikemukakan oleh Djoyohadikusumo (1995: 146), tenaga kerja
adalah orang-orang yang bersedia dan sanggup bekerja untuk diri sendiri atau anggota keluarga yang
tidak menerima upah serta mereka yang bekerja untuk upah. Golongan tenaga kerjapun meliputi
mereka yang menganggur dengan terpaksa karena tidak ada kesempatan kerja.
Sedang menurut Simanjuntak (1998: 2 - 3), memberikan pengertian tenaga kerja (manpower)
adalah penduduk dalam usia kerja, dimana hanya mampu bekerja atau melakukan kegiatan bernilai
ekonomis dalam menghasilkan barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.
Di Indonesia, tenaga kerja dipilih batas umur minimum 15 tahun tanpa batas maksimum. Sebab umur
15 tahun tersebut adalah sudah banyak terlibat dalam kegiatan produksi, terutama di daerah
pedesaan. Jadi Indonesia tidak menganut batas umur maksimum, alasannya karena Indonesia belum
mempunyai jaminan sosial nasional. Hanya sebagian kecil penduduk Indonesia yang menerima
tunjangan di hari tua yaitu pegawai negeri dan sebagian pegawai swasta. Bagi golongan ini pun,
pendapatan yang mereka terima tidak mencukupi kebutuhan sehari-hari. Oleh karena itu, mereka yang
telah mencapai usia pensiun biasanya masih tetap harus kerja.


Angkatan Kerja dan Bukan Angkatan Kerja
Penduduk dalam suatu negara dibedakan antara angkatan kerja dan bukan angkatan kerja. Angkatan
kerja merupakan bagian dan tenaga kerja, dibedakan antara bekerja dan tidak bekerja, sedangkan
mencari pekerjaan lebih dikenal sebagai pengangguran terbuka. Berikut beberapa pengertian angkatan
kerja yang dikemukakan oleh beberapa ahli, Kusumowhindho (1980: 194), memberikan pengertian
bahwa angkatan kerja adalah bagian dan tenaga kerja yang sesungguhnya terlibat dalam kegiatan
produktif yaitu memproduksi barang dan jasa. Yang tergolong dalam angkatan kerja tersebut ada

dua.Pertama, mereka yang selama seminggu sebelum pencacahan melakukan suatu pekerjaan dengan
maksud memperoleh atau membantu penghasilan atau keuntungan dan lamanya bekerja sedikitnya dua
hari. Kedua, mereka yang selama seminggu sebelum pencacahan tidak melakukan pekerjaan atau
bekerja kurang dan dua hari, tetapi mereka adalah: pekerja tetap, pegawai - pegawai pemerintah atau
swasta yang sedang tidak masuk karena cuti, sakit, mogok, dan sebagainya. Petani - petani yang
mengusahakan tanah pertanian yang tidak bekerja karena menunggu panenan atau menunggu hujan
untuk menggarap sawah, dan sebagainya. Orang - orang yang bekerja dalam bidang keahlian seperti
dokter, tukang cukur, dan sebagainya, diperhitungkan sebagai bekerja.
Sedangkan yang digolongkan pencari kerja diantaranya yaitu: mereka yang pada saat pencacahan
sedang berusaha mencari atau mendapatkan pekerjaan, termasuk juga mereka yang pada saat
pencacahan sedang menganggur dan berusaha mendapat pekerjaan, dan mereka yang dibebastugaskan
dan sedang berusaha mendapat pekerjaan.
Suroto (1992: 18) mendefinisikan angkatan kerja yaitu sebagian dari jumlah penduduk dalam usia kerja
yang mempunyai pekerjaan dan yang tidak mempunyai pekerjaan tetapi secara aktif atau pasif mencari
pekerjaan. Dengan kata lain dapat dikatakan bahwa angkatan kerja adalah bagian penduduk yang
mampu dan bersedia melakukan pekerjaan dimana angkatan kerja atau labor force terdiri dari golongan
yang bekerja dan golongan yang menganggur dan mencari pekerjaan.
Kelompok bukan angkatan kerja menurut Simanjuntak (1998:6), terdiri dari tiga golongan. Pertama,
golongan yang masih bersekolah yaitu mereka yang kegiatannya hanya bersekolah atau terutama
bersekolah. Kedua, Golongan yang mengurus rumah tangga yaitu mereka yang mengurus rumah tangga
tanpamemperoleh upah. Ketiga, Golongan lainnya yang terdiri dua yaitu penerima pendapatan yakni
mereka yang tidak melakukan sesuatu kegiatan ekonomi tetapi memperoleh pendapatan, seperti
tunjangan pensiun, bunga atas simpanan atau sewa atas hak milik dan mereka yang hidupnya
tergantung dari orang lain misalnya karena lanjut usia, cacat, dalam penjara, atau sakit kronis.
Pada dasarnya mereka yang termasuk bukan angkatan kerja, kecuali yang terakhir yaitu mereka yang
hidupnya tergantung pada orang lain, sewaktu-waktu dapat terjun untuk bekerja. Oleh sebab itu,
kelompok ini dapat juga disebut sebagai angkatan kerja potensial. Termasuk dalam angkatan kerja
potensial ini merupakan yang menarik diri dari pasar. Misalnya setelah cukup lama tidak berhasil
memperoleh pekerjaan yang diharapkan, seseorang dapat mengurungkan niatnya mencari pekerjaan
yang dimaksud. Mereka yang sebenarnya masih ingin bekerja akan tetapi tidak aktif mencari pekerjaan.

Mereka disebut discouraged workers, yang sementara keluar dari pasar karena tidak berhasil
memperoleh pekerjaan yang diharapkan.
Produksi dan Produktivitas Tenaga Kerja
1. Pengertian Produksi
Secara umum produksi selalu berkaitan dengan usaha suatu perusahaan untuk menciptakan barang
dan jasa sehingga akan memiliki nilai tambah. Swastha (1997:280), mengemukakan bahwa
Produksi adalah suatu proses yang mengubah suatu bahan menjadi beberapa bentuk tersebut dapat
dilakukan dengan menggunakan mesin, pengepresan dan sebagainya.
Menurut Assauri (1993:2), menjelaskan bahwa Produksi adalah suatu kegiatan dalam menciptakan
dan menambah kegunaan atau utility sesuatu barang danjasa, untuk kegunaan yang membutuhkan
faktor-faktor produksi yang dalam ilmu ekonomi berupa tanah, modal, tenaga kerja, dan teknikal
skill.
Menurut Ahyari (1998: 67) bahwa atas dasar wujud dan proses yang dilaksanakan, maka proses
produksi tersebut dibagi menjadi beberapa jenis, diantaranya yaitu proses produksi kimiawi
merupakan suatu proses produksi yang menitikberatkan pada adanya proses analisa atau sintesa
serta senyawa kimia, proses produksi perubahan bentuk merupakan suatu proses produksi yang
menitikberatkan pada perubahan bentuk dan input menjadi output, proses produksi assembling
merupakan proses produksi yang mengutamakan proses penggabungan (assembling) dan
komponen - komponen produk. Dan proses produksi transportasi merupakan suatu proses
produksi yang menciptakan jasa pemindahan tempat dan barang atau manusia, sehingga
mempunyai kegunaan atau memperoleh manfaat tambahan.

2. Produktivitas
Secara terminologi, produktivitas berasal dan Bahasa Inggris, yaitu “productivity” yang dapat
diartikan sebagai kekuatan yang menghasilkan. S. P Siagian memberikan pengertian bahwa
Produktivitas adalah kemampuan memperoleh manfaat sebesar-besarnya dari sarana dan
prasarana yang tersedia dengan menghasilkan luaran (output) yang optimum, bahkan kalau
mungkin maksimum. Bila pengertian produktivitas di atas disimak lebih jauh, akan tampak

bahwa produktivitas dan produksi mempunyai pengertian mendasar yang sama, produksi dapat
diartikan sebagai suatu kegiatan atau proses mengubah bahan mentah menjadi bahan jadi,
sedangkan produktivitas adalah kombinasi dari tingkat efisiensi dan efektivitas dan sumbersumber yang digunakan dalam produksi.Peningkatan produksi tidak selalu disebabkan oleh
produktivitas. Peningkatan produksi menunjukkan pertambahan hasil yang dicapai, sedangkan
peningkatan produktivitas mengandung pertambahan hasil dan perbaikan cara pencapaian
produksi tersebut.
Faktor-faktor yang mempengaruhi produktivitas tenaga kerja:
·

Keahlian (skill) adalah kemampuan teknis yang dimiliki seseorang untuk mampu menangani
pekerjaan yang dipercayakan. Makin tinggi jabatan seseorang, keahlian yang dibutuhkan
semakin tinggi karena itu gaji dan upahnya semakin tinggi.

·

Mutu modal manusia (human capital) adalah kapasitas pengetahuan, keahlian dan kemampuan
yang dimiliki seseorang, baik karena bakat bawaan (inborn) maupun hasil pendidikan dan
pelatihan.

·

Kondisi kerja (working condition) adalah lingkungan dimana seseorang bekerja. Bila resiko
kegagalan atau kecelakaan makin tinggi, maka upah atau gaji makin besar, walaupun tingkat
keahlian yang dibutuhkan tidak jauh berbeda.

Pengaruh Pendidikan terhadap Produktivitas Tenaga Kerja
Pendidikan merupakan salah satu bentuk investasi dalam sumber daya manusia. Pendidikan
memberikan sumbangan langsung terhadap pertumbuhan pendapatan nasional melalui peningkatan
keterampilan dan produktivitas kerja. Pendidikan diharapkan dapat mengatasi keterbelakangan
ekonomi lewat efeknya pada peningkatan kemampuan manusia dan motivasi manusia untuk
berprestasi. Pendidikan berfungsi menyiapkan salah satu input dalam proses produksi, yaitu tenaga
kerja, agar dapat bekerja dengan produktif karena kualitasnya.
Hal ini selanjutnya akan mendorong peningkatan output yang diharapkan bermuara pada
kesejahteraan penduduk. Kombinasi antara investasi dalam modal manusia dan modal fisik diharapkan
akan semakin mempercepat pertumbuhan ekonomi. Titik singgung antara pendidikan dan pertumbuhan
ekonomi adalah produktivitas tenaga kerja (labor productivity). Dengan asumsi bahwa semakin tinggi

mutu pendidikan, semakin tinggi produktivitas tenaga kerja, dan semakin tinggi pula pengaruhnya
terhadap pertumbuhan ekonomi suatu masyarakat.
Peningkatan kualitas pekerja yang dicerminkan oleh tingkat pendidikan rata - rata yang semakin
baik, memberi dampak positif terhadap produktivitas tenaga kerja. Begitu pula dengan upaya
peningkatan keterampilan dan pelatihan tenaga kerja yang disertai dengan penerapan teknologi yang
sesuai, berdampak pula terhadap peningkatan produktivitas tenaga kerja.
1. Kesempatan Kerja
Kesempatan kerja mengandung pengertian adanya waktu yang tersedia atau waktu luang, yang
membawa kesempatan atau kemungkinan dilakukan aktivitas yang dinamakan bekerja.
Elastisitas kesempatan kerja merupakan angka yang menunjukkan tingkat hubungan fungsional
antara pertumbuhan kesempatan kerja dengan laju pertumbuhan ekonomi.
Suatu fenomena yang menarik di Indonesia adalah adanya pertumbuhan ekonomi yang
tinggi, tetapi tidak/kurang mampu menciptakan kesempatan kerja, Hal ini disebabkan karena
pencapaian pertumbuhan ekonomi yang terjadi kurang bisa menyerap tenaga kerja yang ada
karena faktor yang tidak mendukung. Kebijaksanaan yang mestinya dilakukan
untuk mendorong tercapainya tingkat kesempatan kerja yang tinggi, yaitu penanaman modal di
sektor tertentu seperti industri pertanian.
Tingkat kesempatan kerja yang tinggi merupakan hasil berbagai bentuk kebijakan
pembangunan. Kebijakan pembangunan dapat mengacu kepada kebijakan-kebijakan yang
meliputi penentuan harga sebagian sumber daya tertentu yang pada akhirnya mempengaruhi
penyerapan tenaga kerja oleh industri. Menurut Simanjuntak (1985:80), mengemukakan bahwa
besarnya permintaan perusahaan akan tenagakerja tergantung pada besarnya permintaan
masyarakat terhadap barang dan jasa yang dihasilkan perusahaan tersebut. Fungsi permintaan
biasa didasarkan pada Teori Neo Klasik mengenai Marginal Physical Product of Labor,
permintaan terhadap tenaga kerja berkurang apabila tingkat upah naik.
Besarnya elastisitas tersebut tergantung pada kemungkinan substitusi tenaga kerja dengan faktor
produksi yang lain, elastisitas permintaan terhadap barang yang dihasilkan, proporsi biaya
karyawan terhadap seluruh biaya lain, elastisitas persediaan faktor produksi pelengkap lainnya.

2. Sektor Industri dalam Hubungannya dengan Penyerapan Tenaga Kerja
Sektor industri merupakan sektor ekonomi yang mengalami peningkatan yang pesat dari tahun
ke tahun, baik dilihat dan segi jumlah industri, investasi di sektor industri, produktivitas
maupun persebarannya. Dalam sektor industri dilakukan beberapa pemerataan antara lain yaitu
pemerataan perluasan kesempatan kerja, pemerataan perluasan penyerapan tenaga kerja,
pemerataan pembangunan dan hasil - hasilnya, pemerataan peningkatan pendapatan
masyarakat.
Pembangunan sektor industri ditujukan untuk memperluas kesempatan kerja, kesempatan
berusaha, peningkatan pendapatan masyarakat, pendapatan daerah dalam rangka meningkatkan
ekspor serta mengurangi impor agar menghemat devisa negara.
Salah satu yang mesti diperhatikan dalam pembangunan industri agar terjadi hubungan
positif antara pertumbuhan industri dengan penyerapan tenaga kerja adalah bagaimana agar
pembangunan industri dapat memberikan kontribusi yang nyata dalam penyerapan tenaga kerja
dan dalam mengatasi pengangguran.
Oleh karena itu, pemerintah dan pihak terkait lainnya agar dapat menentukan jenis industri atau
jenis usaha apa yang cocok dikembangkan. Salah satunya adalah sektor industri padat karya,
karena disamping tidak terlalu besar investasi yang dibutuhkan juga dapat menyerap tenaga
kerja yang besar. Disamping itu industri kerajinan perlu mendapat perhatian dari pemerintah
karena sektor ini tidak membutuhkan modal yang besar juga teknologi yang digunakan adalah
teknologi sederhana.
Untuk lebih memahami industri padat karya, terlebih dahulu diketahui cirri - cirinya
diantaranya yaitu peranan atau faktor manusia sangat menonjol dalam industri padat
karya. Porsi atau perbandingan antara tenaga kerja dengan modal dimana tenaga kerja lebih
dominan, tidak terlalu membutuhkan modal yang besar, teknologi yang digunakan masih rendah
atau sederhana, tidak menimbulkan ketimpangan sosial karena keterlibatan masyarakat dalam
produksi yang besar, hasil produksi yang dapat dijangkau oleh masyarakat.
Bertolak dari pengertian itu maka pemerintah harus mengupayakan agar pembangunan industri
dapat memberikan kontribusi dalam hal penyerapan tenaga kerja secara optimal sehingga

masyarakat tidak merasa diabaikan dalam pembangunan dalam memberikan kedudukan yang
dominan dalam proses produksi. Namun bukan berarti bahwa pemerintah tidak memperhatikan
subsektor industri yang lain atau sektor ekonomi yang lain. Hanya yang penting bagaimana agar
terjadi pemanfaatan sumber daya alam yang dengan melibatkan masyarakat dalam kegiatan
produksi. Sehingga tenaga kerja atau masyarakat juga mempunyai peranan yang besar dalam
usaha mencapai pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan pemerataan pembangunan
dan hasil - hasilnya. Dari penjelasan tersebut dapat ditarik kesimpulan bahwa pembangunan
sektor industri tidak saja merupakan usaha membuka lapangan kerja dalam hubungannya
dengan upaya pemerintah mengatasi masalah pengangguran, akan tetapi juga dapat
menghindari adanya kecemburuan dan ketimpangan sosial di masyarakat, khususnya di
daerah - daerah atau pedesaan.
Untuk mendukung hal tersebut, dibutuhkan sumbangan dan peran yang optimal dari
masyarakat, dan diperlukan pembinaan yang lebih intensif terhadap industriawan pada
khususnya dan masyarakat pada umumnya.Untuk memudahkan pembinaan dan pengarahan
serta pemberian bantuan atau fasilitas, agar sesuai dengan dunia usaha, maka diperlukan
pengorganisasian unit - unit produksi. Dengan demikian akan memudahkan pengontrolan dan
mengetahui hal-hal yang menjadi kendala dalam pengembangan industri, dan faktor-faktor yang
dapat menopang sektor industri tersebut.

BAB IV
PENUTUP
Kesimpulan
Berdasarkan hasil dari pembahasan di atas maka dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut:
1.

Masalah kemiskinan dan kesenjangan sosial merupakan masalah yang sangat penting untuk
dicermati dalam tatanan masyarakat yang beradab. Secara normatif hal tentang penghapusan
ihwal kemiskinan dan kesenjangan adalah termasuk hal yang harus dicermati dalam perencanaan
pembangunan Ekonomi.

2.

Metode penghitungan kemiskinan dalam perkembangannya juga mengalami banyak
penyempurnaan dalam teorinya. Hal ini karena masalah tentang kemiskinan juga ternyata
melibatkan banyak aspek yang multidimensional. Selain itu juga masalah kemiskinan dihadapkan
dengan karakteristiknya yang spesifik pada berbagai jenis masyarakat, seperti masyarakat desa,
kota, ataupun golongan gender wanita. Dalam jenis - jenis masyarakat yang berbeda, kemiskinan
dapat ditafsirkan sesuai konteks sosial yang dihadapi. Dalam strategi pembangunan, diperlukan
strategi pertumbuhan yang inklusif. Inklusif berarti bahwa "trickle down effect" dari pertumbuhan
juga harus dapat dinikmati oleh mereka yang berada dalam golongan income rendah. Dengan
strategi itu diharapkan kemiskinan dan kesenjangan bisa dihilangkan.

Saran
1.

Pemerintah diharapkan mengoptimalkan peranan investasi dengan cara meyakinkan para investor
dengan melakukan promosi tentang potensi daerah dan memberikan kepastian hukum serta
keamanan sehingga para investor tertarik untuk menanamkan modalnya di Sulawesi Selatan,
terutama di sektor industri, sehingga membuka lapangan pekerjaan bagi tenaga kerja.

2.

Pemerintah diharapkan lebih mengembangkan industri padat karya, karena disamping tidak
terlalu besar investasi yang dibutuhkan juga dapat menyerap tenaga kerja yang besar sehingga
dapat menyerap tenaga kerja yang lebih banyak.

3.

Agar pemerintah membantu meningkatkan kemampuan pembinaan industri yang ada di daerah
untuk bersaing melalui pelatihan keterampilan bagi calon tenaga kerja, penggunaan teknologi
yang lebih mengutamakan peningkatan mutu, efisien dan peningkatan produktivitas yang
dikaitkan dengan upaya perluasan pemasaran produk di dalam dan luar negeri.