Hubungan kecerdasan emosional dengan hasil belajar pada mata pelajaran ekonomi di kelas X SMA Darussalam Ciputat Tangerang Selatan

HUBUNGAN KECERDASAN EMOSIONAL DENGAN HASIL
BELAJAR PADA MATA PELAJARAN EKONOMI DI KELAS
X SMA DARUSSALAM CIPUTAT TANGERANG SELATAN

Skripsi
Diajukan Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana
Pendidikan IPS Pada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan

Oleh:
WAHYU NUR RAMADHONA
107015001379

JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2014

HUBUNGAN KECERDASAN BMOSIONAL DENGAN HASIL
BELAJAR PADA MATA PBLAJARAN EKONOMI DI KELAS
X SMA DARUSSALAM CIPUTAT TANGERANG SELATAN

Skripsi
Diajukan Untuk Mpmenuhi Salah Satu Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana
Pendidikan IPS Pada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan

Oleh:

WahyuNur Ramadhona

NIM: 107015001379

Pembimbing

Dr. Iwan Purwanto, M. Pd
NrP. 19730424 200801

t 0l2

JURUSAN PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL

FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SYARIF HIDAYATULLAH

JAKARTA
2014

LEMBAR PENGESAHAI\ SKRIPSI

Skripsi yang berjudul Hubungan Kecerdasan Emosional Dengan
Hasil Belajar Pada Mata Pelajaran Ekonomi Di Kelas X SMA
Darussalam Ciputat Tangerang Selatan, MM. 107015001379,
Jurusan Pendidikan IPS Ekonomi, Fakultas Ilmu Tarbiyah darr
Keguruan, Universiyas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
Telah melalui bimbingan dan dinyatakan sah sebagai karya ilmiah
yang berhak untuk diajukan pada siding munaqosah sesuai ketentuan
yang ditetapkan oleh fakultas.

Jakarta,2T Marct 20t4

Yang mengesahkan
Pembimbing

I

Dr. Iwan Purwanto. M. Pd

NIP : 197342008011012

LEMBAR PENGESAHAN

Skripsi berjudul Hubungan Kecerdasan Emosional Dengan Hasil
Belajar Pada Mata Pelajaran Bkonomi Di Kelas X SMA Darussalam
Ciputat Tangerang Selatan disusun oleh WAHYU NUR RAMADHONA, NIM:
107015001379 diajukan kepada Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan (FITK) UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta, dan telah dinyatakan lulus dalam Ujian Munaqasyah pada 24 Maret
2014 di hadapan dewan penguji. Karena itu, penulis berhak memperoleh gelar Sarjana S1
(S.Pd) dalam bidang Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial.

Jakarta,24 Marct2014
Panitia Uj ian Munaqasyah
Ketua Sidang (Ketua Jurusan Pendidikan IPS)

Tanggal

-'t.'--r/
{fi-n\q
...t....".....

Dr. Iwan Purwanto. M.Pd
NIP. 1 973042420080110T2
Sekretaris Sidang

l/{:

Drs. Syaripulloh. M.Si
NrP. 1 96709092007 011033

.?.4

Penguji I

Drs. Syaripulloh. M.Si
NIP. 19670909200701 1033
Penguji

II

te

/- nv

1s

Anissa Widiarti. M.Si
NrP. I 9820802201 1 012005

Mengetahui:
Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

)
I

TandaTangan

{

17

_-

{?_q1a_:alqf&:-:'tr1'

SURAT PERNYATAAN KARYA SENDIRI
Yang bertandatangan di bawah ini
Nama

Wahyu Nur Ramadhona

NIM

r070t500t379

Jurusan

Pendidikan IPS/ Ekonomi-Akuntansi

Angkatan Tahun

2007

Alamat

JL. Lenteng Agung Timur No. 58 Rt.05 Rw. 02 Jakarta
Selatan

MENYATAKAN DENGAN SESUNGGUHNYA
Bahwa skripsi yang berjudul "Hubungan Kecerdasan Emosional Dengan Hasil

Belajar Pada Mata Pelajaran Ekonomi Di Kelas X SMA Darussalam Ciputat
Tangerang Selatan" adalah benar hasil karya sendiri di bawah bimbingan dosen:
Nama

:

Dr. Iwan Purwanto, M. Pd

NIP

:

197 30424200801

Dosen Jurusan

:

Pendidikan IPS

I

012

Demikian surat pernyataan ini saya buat dengan sesungguhnya dan saya siap
menerima segala konsekuensi apabila terbukti bahwa skripsi ini bukan hasil karya
sendiri.
Jakarta, Januari 2014

Wahyu Nur Ramadhona

ABSTRAK

Wahyu Nur Ramadhona (107015001379). Hubungan Kecerdasan Emosional
Dengan Hasil Belajar Siswa Pada Mata Pelajaran Ekonomi Di Kelas X SMA
Darussalam Ciputat Tangerang Selatan. Skripsi. Jakarta: Jurusan Pendidikan Ilmu
Pengetahuan Sosial Konsentrasi Ekonomi. Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta, 2014.
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan kecerdasan emosional
dengan hasil belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi. Penelitian ini dilaksanakan
di SMA Darussalam Ciputat Tangerang Selatan dari bulan mei sampai bulan
september 2013. Yang dijadikan sampel dalam penelitian ini adalah siswa kelas X-I
sebanyak 20 orang dan siswa kelas X-III sebanyak 20 orang di SMA Darussalam
Ciputat Tangerang Selatan dengan jumlah total 40 siswa. Ini merupakan sebagian
populasi yang jumlahnya 120 orang siswa dari kelas X-I, X-II, X-III SMA
Darussalam Ciputat Tangerang Selatan. Data tentang kecerdasan emosional diperoleh
berdasarkan angket yang diisi oleh siswa SMA Darussalam Ciputat Tangerang
Selatan. Sedangkan hasil belajar diperoleh melalui nilai raport. Metode analisis data
yang digunakan adalah Korelasi Product Moment dari Pearson dengan taraf 5%
adalah 0,758, berarti r hitung lebih besar daripada r tabel. Dengan demikian hipotesis
nol yang menyatakan tidak adanya hubungan kecerdasan emosional dengan hasil
belajar ditolak dan sebaliknya hipotesis alternatif yang menyatakan adanya hubungan
antara kecerdasan emosional dengan hasil belajar siswa diterima.
Dari koefisien Product Moment sebesar 0,758%, menghasilkan nilai adjusted
r square 56,4%. Ini berarti hubungan kecerdasan emosional siswa dengan hasil
belajar siswa pada mata pelajaran ekonomi memberikan kontribusi sebesar 56,4%.
Sedangkan 43,6% hasil belajar ekonomi dipengaruhi faktor-faktor lain seperti
kemampuan Intelektual, minat dan bakat siswa.

Kata Kunci: Kecerdasan Emosional, Hasil Belajar Ekonomi

v

ABSTRACT
Wahyu Nur Ramadhona (107015001379).
The Relationship Between
Emotional Intellegence and Economy Achievement At SMA Darussalam
Ciputat Tangerang,s Cities South. Thesis. Jakarta: Department of Social
Science Education Economic Concentration. Faculty of Tarbiya and Teacher’s
Training Syarif Hidayatullah State Islamic University Jakarta, 2014.
The aim of this research is to know significant relationship between
students emotional intellegence and the students achievement in learning
economy.
This research is carried out at SMA Darussalam Ciputat Tangerang,s
Cities South starting from may until september 2013. The sample of this research
is the students of X-I involve 20 student and X-III involve 20 student class of SMA
Darussalam Ciputat Tangerang,s South totally involving 40 students. That sample
is taken out from the population which involves 120 students of three class X-I, XII, X-III SMA Darussalam Ciputat Tangrang,s Cities South. The data of this
research were gathered through questionnaire related to emotional intellegence.
The questionnaire is filled by students of SMA Darussalam Ciputat Tangerang,s
Cities South. Meanwhile the students achievement gained from the result of the
report. In analyzing the data the writer used Product Moment Correlation from
person the significance 5% is 0,758, it means that rxy is bigger than t table. So the
null hypothesis that state there is no relation between students emotional
intellegence and the students achievement is rejected in the other hand alternative
hypothesis that there is a relation between students emotional intellegence and
students achievement is accepted.
From the Product Moment coefisien is 0,758 is resulted Adjusted r square
is 56,4%. It means that the students emotional intellegence and the students
achievement in studying economy give contribution is about 56,4% meanwhile
43,6% of students achievement in economy is affected by other factors like
Students intellectual, Interest and Talent.

Keyword: Emotional Intellegence, Economy Achievement

vi

KATA PENGANTAR

Alhamdulillah, segala puji dan syukur hanya bagi Allah Swt berkat rahmat
dan karunia-Nya, penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Hubungan
kecerdasan emosional dengan hasil belajar pada mata pelajaran ekonomi di kelas
X SMA Darussalam Ciputat” dengan baik dan lancar. Shalawat dan salam semoga
selalu tercurah pada baginda alam, Rasulullah dan junjungan Nabi besar
Muhammad Saw, beserta keluarga, sahabat, dan umatnya.
Dalam penyelesaian skripsi ini tentunya penulis tidak terlepas dari bantuan
berbagai pihak yang tanpa lelah memberikan dorongan baik moril maupun
materil. Pada kesempatan ini penulis ingin mengucapkan terima kasih yang
sebesar-besarnya kepada:
1. Ibu Nurlena Rifa’I, M.A Ph. D selaku Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan
Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
2. Bapak. Dr. Iwan Purwanto, M. Pd selaku Ketua Jurusan Pendidikan IPS UIN
Syarif Hidayatullah Jakarta dan sebagai dosen pembimbing penulis yang telah
membimbing penulis dalam mengerjakan skripsi dalam keadaan sibuk
maupun santai dan memberikan inspirasi bagi penulis untuk meraih mimpi
dan cita-cita serta kesabaran yang tinggi dalam memberikan pelajaran.
Bersamamu selalu ada jalan dan kemudahan dalam setiap problema. Sungguh
beruntung PIPS memiliki ketua jurusan seperti bapak. Semoga Allah Swt
senantiasa memberikan perlindungan dan kemudahan serta keberhasilan bagi
bapak Iwan Purwanto.
3. Bapak Prof. Dr. Rusmin Tumanggor sebagai dosen penasehat akademik yang
begitu baik dan selalu mengerti kesulitan mahasiswa yang mencari dosen
namun begitu bertemu dengan bapak, bapak sangat mudah memberi kita ACC.
4. Seluruh dosen Jurusan Pendidikan IPS yang telah mengajarkan dan
memberikan ilmunya kepada penulis selama kuliah. Semoga Allah membalas
dengan segala kebaikan dan keberkahan.

vii

5. Pimpinan Perpustakaan, para staf dan para karyawan, baik perpustakaan utama
Syarif Hidayatullah maupun perpustakaan Fakultas Tarbiyah dan Keguruan
yang telah memberikan kemudahan dalam penggunaan sarana perpustakaan.
6. Bapak Marul Waid, S.Ag, Kepala Sekolah SMA Darussalam Ciputat terima
kasih telah mengizinkan dan memudahkan penulis dalam

melakukan

penelitian.
7. Ibu Nur Asma, S.E M.M yang telah memberikan bantuan dan kesempatan
kepada penulis untuk melakukan penelitian di kelas X SMA Darussalam
Ciputat Tangerang Selatan.
8. Orang Tua tercinta terutama seorang Ibu Fatimah yang dengan penuh kasih
sayang, perhatian dan ketulusan yang selalu diberikan kepada penulis.
Memberikan dorongan moril maupun materiil dan doa yang selalu diberikan
demi kesuksesan dan tercapainya cita-cita penulis.
9. Adikku tersayang Annisa Dwi Pangestuti terima kasih atas motivasi dan
doanya.
10. Teman-teman seperjuangan Nur Arifin,

Maulana Sulthon Amsyirvan,

Lukman Efendi, Imam Fathoni, Hendra Iryanto, Fitri Azma, Abdul Hafidz,
Fitri cremen yang selalu memberikan motivasi dan bantuan kepada penulis,
terima kasih kawan sukses selalu untuk kalian.

Penulis juga mengucapkan terima kasih untuk semua pihak yang tak bisa
penulis sebutkan satu per satu, yang telah membantu dalam penyelesaian skripsi
ini. Ungkapan kata memang takkan cukup untuk kebaikan kalian semua. Semoga
Allah membalasnya dengan segala kebaikan dan pahala yang berlipat.
Penulis mengakui dan menyadari bahwa penulisan skripsi ini masih jauh
pada kesempurnaan, baik dari segi isi, sususnan kalimat dan sistematika
penulisannya. Maka dari itu penulis mengharapkan kritik dan saran yang
membangun demi perbaikan selanjutnya agar tidak terjadi kesalahan-kesalahan
yang terdahulu. Segala kesempurnaan, penulis kembalikan kepada Allah SWT,
mudah-mudahan Allah senantiasa memberkahi segala amal usaha kita.

viii

Akhirnya penulis berharap semoga skripsi yang sekiranya jauh dari
sempurna ini dapat memberikan sepercik manfaat bagi penulis khususnya dan
bagi pembaca umumnya. Semoga kita semua senantiasa dipelihara dalam jalan
lurus ridho Allah Swt dan di akhirat kelak mendapatkan tempat yang layak di
sisi-Nya. Amin.

Jakarta, 21 maret 2014
Penulis

Wahyu Nur Ramadhona

ix

DAFTAR ISI

Halaman
LEMBAR PERSETUJUAN PEMBIMBING
LEMBAR PENGESAHAN PEMBIMBING
SURAT PERNYATAAN KARYA SENDIRI
ABSTRAK ……………………………………………………………… ….

v

ABSTRACT .........................................................................................................

vi

KATA PENGANTAR ...........................................................................................

vii

DAFTAR ISI ................................................................................................................

x

DAFTAR TABEL ……………………………………………………………..

xiii

DAFTAR BAGAN …………………………………………………………………….

xiv

DAFTAR GAMBAR …………………………………………………………………..

xv

DAFTAR LAMPIRAN ………………………………………………………………..

xvi

BAB I

PENDAHULUAN …………………………………………………….

1

A. Latar Belakang Masalah …………………………………………..

1

B. Identifikasi Masalah ………………………………………………. 5
C. Pembatasan Masalah ……………………………………………… 5

BAB II

D. Rumusan Masalah ………………………………………………...

5

E. Tujuan dan Manfaat Penelitian ………………………………. ….

6

1. Tujuan Penelitian ................................................................ ….

6

2. Manfaat Penelitian ............................................................... ….

6

Kajian Teoritis, Kerangka Berfikir, dan Perumusan
Hipotesis ............................................................................... ….

8

A. Deskripsi Teoritik ...................................................... ….

8

1. Hakikat Kecerdasan Emosional ..............................

8

a. Pengertian Emosi ............................................................. 8

x

b. Pengertian Kecerdasan ................................................ . 10
c. Hakikat Kecerdasan Emosional ..........................

13

B. Hasil Belajar Siswa …………………………………………

19

a. Konsep Hasil Belajar …………………………………….

19

b. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Hasil Belajar ……..

22

c. Sasaran Dan Obyek Penilaian ……………………………

27

d. Jenis Alat Penilaian Hasil Belajar ……………………….

28

e. Fungsi Dan Tujuan Penilaian Hasil Belajar ……………..

29

C. Hakikat Belajar Ekonomi ......................................................... 30

BAB III

D. Kerangka Berpikir …………………………………………..

33

E. Hipotesis Penelitian …………………………………………

33

METODOLOGI PENELITIAN ……………………………………..

34

A. Tempat dan Waktu Penelitian ……………………………….. 34
B. Metode Penelitian …………………………………………… 34
C. Populasi Dan Sampel ………………………………………..

35

D. Variabel Penelitian ………………………………………….. 35
1. Kecerdasan Emosional …………………………………… 36
2. Hasil Belajar Ekonomi ……………………………………. 36
E. Teknik Pengumpulan Data ………………………………….. 37
1. Metode dan Instrumen Penelitian ………………………..

37

F. Teknik Analisis Data ………………………………………… 40
BAB IV

DESKRIPSI, ANALISIS DATA, INTERPRETASI
HASIL ANALISIS DAN PEMBAHASAN …………………… 47
A. Gambaran Umum Sekolah ………………………………….. 47
B. Deskripsi Data ………………………………………………. 53
1. Deskripsi Data Kecerdasan Emosional ………………… 53
2. Deskripsi Data Hasil Belajar …………………………...

57

C. Pengujian Hipotesis dan Pembahasan ………………………

60

xi

D. Pembahasan ………………………………………………….. 62
BAB V

PENUTUP ……………………………………………………….. 64
A. Kesimpulan …………………………………………………… 64
B. Saran ………………………………………………………….. 65

DAFTAR PUSTAKA
LEMBAR UJI REFERENSI
LAMPIRAN-LAMPIRAN

xii

DAFTAR TABEL

Tabel
Tabel 3.1

Skala Kecerdasan Emosional

Tabel 3.2

Skala Hasil Belajar

Tabel 3.3

Skor Butir Angket

Tabel 3.4

Kaidah Reliabilitas Guilford

Tabel 3.5

Interpretasi Nilai r

Tabel 4.1

Jenis Ekstrakulikuler SMA Darussalam

Tabel 4.2

Prestasi Siswa Bidang Akademik dan Non Akademik

Tabel 4.4

Deskripsi Data Kecerdasan Emosional

Tabel 4.6

Frekuensi Kecerdasan Emosional

Tabel 4.7

Indek Tingkat Kecerdasan Emosional

Tabel 4.9

Deskripsi Data Hasil Belajar Ekonomi

Tabel 4.10

Frekuensi Skor Hasil Belajar

Tabel 4.11

Indek Tingkat Hasil Belajar

Tabel 4.15

Hasil Perhitungan Korelasi Antara Kecerdasan Emosional Dan Hasil
Belajar

xiii

DAFTAR BAGAN

Bagan 2.1

Kerangka Berpikir

Bagan 4.3

Struktur Organisasi SMA Darusslam Tahun Pelajaran 2010/2011

xiv

DAFTAR GAMBAR

Gambar

Halaman

Gambar 1.

Histogram Distribusi Frekuensi Pengelolaan Kelas (X)

Gambar 2.

Histogram Distribusi Frekuensi Hasil Belajar Ekonomi (Y)

xv

DAFTAR LAMPIRAN

LAMPIRAN 1

Kuesioner Variabel Kecerdasan Emosional

LAMPIRAN 2

Instrumen Skala Kecerdasan Emosional

LAMPIRAN 3

Nilai Rapor Hasil Belajar Siswa

LAMPIRAN 4

Wawancara Guru

LAMPIRAN 5

Wawancara Murid

LAMPIRAN 6

Uji Validitas Butir Kecerdasan Emosional

LAMPIRAN 7

Uji Referensi

LAMPIRAN 8

Lembar Pengesahan Judul Skripsi

LAMPIRAN 9

Surat Bimbingan Skripsi

LAMPIRAN 10

Surat Keterangan Riset

xvi

BAB I
PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang
Pendidikan memiliki peranan penting dalam rangka memelihara eksistensi

setiap bangsa di dunia sepanjang masa. Pendidikan sangat menentukan bagi
terciptanya peradaban masyarakat yang lebih baik. Untuk itulah perwujudan
masyarakat yang berkualitas tersebut menjadi tanggung jawab pendidikan,
terutama dalam mempersiapkan peserta didik menjadi subjek yang makin
berperan menampilkan keunggulan dirinya yang tangguh, kreatif, mandiri, dan
berdaya saing dengan bangsa-bangsa di dunia.
Dalam Undang-undang Sistem Pendidikan Nasional Nomor 20 tahun 2003,
menyatakan tentang pentingnya proses belajar mengajar untuk menjadikan
masyarakat yang baik sesuai dengan tujuan undang-undang tersebut.
Pernyataan tersebut tertuang pada pasal 1 ayat (1), BAB Ketentuan Umum:
Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana
belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif
mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual
keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta
keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan negara.1
Tujuan utama pendidikan ialah mengembangkan pengetahuan, sikap dan
keterampilan secara simultan dan seimbang. Sehingga terjadi suatu hubungan baik
antara masing-masing kecakapan yang menjadi tujuan dari pendidikan tersebut.
1

Anwar Arifin, Memahami Paradigma Baru Pendidikan Nasional Dalam Undang-Undang
Sisdiknas, (Jakarta: Departemen Agama RI Direktorat Jenderal Kelembagaan Agama Islam, 2003)
h. 34

1

2

Dunia pendidikan kita telah memberikan porsi yang sangat besar untuk
pengetahuan, namun disisi lain mengesampingkan pengembangan sikap atau nilai
dan perilaku dalam pembelajarannya. “Penyelenggaraan pendidikan dewasa ini
terlihat lebih menekankan pada segi pengembangan intelektual peserta didik, dan
masyarakat kita pada umumnya beranggapan bahwa hanya dengan kecerdasan
intelektual seorang anak mampu menghadapi tantangan era globalisasi di masa
depan”.2
Masalah-masalah emosional kurang mendapatkan perhatian serius dari para
konseptor pendidikan dan pemerhati pendidikan lainnya selama ini, bahkan hal ini
berdampak pada rendahnya kecerdasan emosional siswa. Para tokoh dan
akademisi pendidikan cenderung meremehkan dan memarjinalkan pengaruh
emosional dalam kehidupan belajarnya, kaum akademisi saat ini seakan-akan
meyakini otaknya sebagai satu-satunya kekuatan yang paling dominan dalam
belajar. Padahal itu juga belum tentu yang terbaik. “Banyak contoh disekitar kita
membuktikan bahwa orang yang memiliki gelar tinggi belum tentu sukses
berkiprah di dunia pekerjaan. Seringkali mereka yang berpendidikan formal lebih
rendah, ternyata lebih berhasil di dunia pekerjaan”.3
Proses belajar di sekolah adalah proses yang sifatnya kompleks dan
menyeluruh. Banyak orang yang berpendapat bahwa untuk meraih prestasi yang
tinggi dalam belajar, seseorang harus memiliki Intelligence Quotient (IQ) yang
tinggi, karena intelegensi merupakan bekal potensial yang akan memudahkan
dalam belajar dan pada gilirannya akan menghasilkan hasil belajar yang optimal.
Kenyataannya, dalam proses belajar mengajar di sekolah sering ditemukan
siswa yang tidak dapat meraih hasil belajar yang setara dengan kemampuan
intelegensinya. Ada siswa yang mempunyai kemampuan intelegensi tinggi tetapi
memperoleh hasil belajar yang relatif rendah, namun ada siswa yang walaupun
kemampuan intelegensinya relatif rendah, dapat meraih hasil belajar yang relatif

2

Lawrence E. Shapiro, Kiat-kiat Mengajarkan Kecerdasan Emosional Anak, (Jakarta:
gramedia, 1997) h. 7
3
Ary Ginanjar Agustian, Rahasia Sukses Membangun Kecerdasan Emosional Dan
Spiritual ESQ Emotional Spiritual Quotient Berdasarkan 6 Rukun Iman Dan 5 Rukun Islam,
(Jakarta: Arga Publishing, 2001) h. 8

3

tinggi. Itu sebabnya taraf intelegensi bukan merupakan satu-satunya faktor yang
menentukan

keberhasilan

seseorang,

karena

ada

faktor

lain

yang

mempengaruhinya. Menurut Goleman dalam bukunya emotional intellegence
mengungkapkan bahwa “kecerdasan (IQ) hanya menyumbang 20 % bagi
kesuksesan, sedangkan 80 % adalah sumbangan faktor-faktor kekuatan lain,
diantaranya adalah kecerdasan emosional atau Emotional Quotient (EQ) yakni
kemampuan memotivasi diri sendiri, mengatasi frustasi, mengontrol desakan hati,
mengatur suasana hati (mood), berempati serta kemampuan bekerja sama”.4
Dalam proses belajar siswa kecerdasan itu sangat diperlukan. IQ tidak dapat
berfungsi dengan baik tanpa partisipasi penghayatan emosional terhadap mata
pelajaran yang disampaikan di sekolah. Namun biasanya kedua intelegensi itu
saling melengkapi. Keseimbangan antara IQ dan EQ merupakan kunci
keberhasilan belajar siswa di sekolah. Pendidikan di sekolah bukan hanya perlu
mengembangkan rational intelligence yaitu model pemahaman yang lazimnya
dipahami siswa saja, melainkan juga perlu mengembangkan emotional
intellegence siswa.
Hasil beberapa penelitian di University of Vermont mengenai analisis
struktur neurologis otak manusia dan penelitian perilaku oleh LeDoux
menunjukkan bahwa ”dalam peristiwa penting kehidupan seseorang, EQ selalu
mendahului intelegensi rasional. EQ yang baik dapat menentukan keberhasilan
individu dalam hasil belajar, membangun kesuksesan karir, mengembangkan
hubungan suami-istri yang harmonis dan dapat mengurangi agresivitas, khususnya
dalam kalangan remaja”.5 Dalam kalangan remaja masa kini dimana arus
globalisasi membuat kemajuan dalam segala aspek sekaligus membawa potensipotensi yang dapat membahayakan perkembangan emosional. Pergaulan yang
sudah semakin bebas dikalangan remaja ini disebabkan karena kurangnya
kecerdasan emosional di kalangan remaja. Kenakalan remaja masa kini dapat
berbentuk seperti perkelahian antar pelajar, penyebaran narkotika, pemakaian obat
bius, minuman keras, meningkatnya kasus kehamilan di kalangan remaja putri
4
5

Daniel Goleman, Emotional Intellegence, (Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 1997) h. 44
Ibid.

4

merupakan bentuk bentuk kenakalan remaja yang disebabkan oleh kurangnya
kecerdasan emosional yang terbenyuk pada diri remaja-remaja masa kini. Selain
itu dalam proses terbentuknya kecerdasan emosional ini juga berasal dari
beberapa faktor seperti pengetahuan atau informasi positif serta arahan dari orang
tua yang diberikan kepada siswa, orang tua harus memperhatikan tumbuh
kembang anak secara periodik dan tetap fokus kepada segala perkembangan kecil
yang dialami anak agar memahami siswa tersebut.
Memang harus diakui bahwa mereka yang memiliki IQ rendah dan
mengalami keterbelakangan mental akan mengalami kesulitan, bahkan mungkin
tidak mampu mengikuti pendidikan formal yang seharusnya sesuai dengan usia
mereka. Namun fenomena yang ada menunjukkan bahwa tidak sedikit orang yang
dengan IQ tinggi yang hasil belajarnya rendah, dan ada banyak orang dengan IQ
sedang yang dapat mengungguli hasil belajar orang yang dengan IQ tinggi. Hal ini
menunjukkan bahwa IQ tidak selalu dapat memperkirakan hasil belajar seseorang.
Kemunculan istilah kecerdasan emosional dalam pendidikan, bagi sebagian
orang mungkin dianggap sebagai jawaban atas kejanggalan tersebut. Teori Daniel
Goleman, sesuai dengan judul bukunya, memberikan definisi baru terhadap kata
cerdas. Walaupun EQ merupakan hal yang relatif baru dibandingkan IQ, namun
beberapa penelitian telah mengisyaratkan bahwa kecerdasan emosional tidak
kalah penting dengan IQ.
Menurut Goleman, kecerdasan emosional adalah kemampuan seseorang
mengatur kehidupan emosinya dengan intelegensi (to manage our emotional life
with intelligence); menjaga keselarasan emosi dan pengungkapannya (the
appropriateness of emotion and its expression) melalui keterampilan kesadaran
diri, pengendalian diri, motivasi diri, empati dan keterampilan sosial.
Orang-orang yang murni hanya memiliki kecerdasan akademis tinggi atau
ber-IQ tinggi, mereka cenderung memiliki rasa gelisah yang tidak beralasan,
terlalu kritis, rewel, cenderung menarik diri, terkesan dingin dan cenderung sulit
mengekspresikan kekesalan dan kemarahannya secara tepat. Bila didukung
dengan rendahnya taraf kecerdasan emosionalnya, maka orang-orang seperti ini
sering menjadi sumber masalah. Karena sifat-sifatnya di atas, bila seseorang

5

memiliki IQ tinggi namun taraf kecerdasan emosionalnya rendah maka cenderung
akan terlihat sebagai orang yang keras kepala, sulit bergaul, mudah frustasi, tidak
mudah percaya kepada orang lain, tidak peka dengan kondisi lingkungan dan
cenderung putus asa bila mengalami stress.
Kondisi sebaliknya, dialami oleh orang-orang yang memiliki taraf IQ ratarata namun memiliki kecerdasan emosional yang tinggi. Secara sosial mantap,
mudah bergaul dan jenaka, tidak mudah takut atau gelisah. Mereka
berkemampuan

besar

untuk

melibatkan

diri

dengan

orang-orang

atau

permasalahan, untuk memikul tanggung jawab, dan mempunyai pandangan moral;
mereka simpatik dan hangat dalam hubungan-hubungan mereka, bersikap tegas
dan mengungkapkan perasaan mereka secara langsung, memandang dirinya
sendiri secara positif, mudah bergaul, ramah serta mereka mampu menyesuaikan
diri dengan beban stress.
Berdasarkan fenomena di atas penulis tertarik untuk menyelidiki dalam
bentuk

karya

ilmiah

dengan

judul

”HUBUNGAN

KECERDASAN

EMOSIONAL DENGAN HASIL BELAJAR PADA MATA PELAJARAN
EKONOMI DI KELAS X SMA DARUSSALAM CIPUTAT TANGERANG
SELATAN”
B. Identifikasi Masalah
Dari uraian yang telah dipaparkan di atas, ada beberapa masalah yang dapat
diidentifikasi diantaranya yaitu:
1. Kecerdasan emosional yang masih belum menjadi prioritas utama dalam
tujuan pendidikan
2. Hasil belajar dalam mata pelajaran ekonomi kurang maksimal.
C. Pembatasan Masalah
Untuk menghindari timbulnya salah penafsiran terhadap judul, maka
diberikan batasan masalahnya yaitu sebagai berikut:
1. Kecerdasan emosional yang mencakup dimensi mengenali emosi diri,
mengelola emosi, memotivasi diri sendiri, mengenali emosi orang lain

6

dan membina hubungan dengan orang lain. Kecerdasan emosional yang
masih belum menjadi prioritas utama dalam tujuan pendidikan.
2. Hasil belajar dalam mata pelajaran ekonomi yang kurang maksimal.

D. Perumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang permasalahan di atas, maka dapat dirumuskan
masalah dalam penelitian ini adalah apakah ada hubungan yang signifikan antara
kecerdasan emosional dengan hasil belajar siswa semester ganjil di kelas X
SMA Darussalam Ciputat Tangerang Selatan tahun pelajaran 2013-2014?

E. Tujuan Penelitian
Berdasarkan masalah yang telah di rumuskan, maka kegiatan penelitian ini
bertujuan untuk menganalisis bagaimana hubungan kecerdasan emosional dengan
hasil belajar siswa semester ganjil di kelas X SMA Darussalam Ciputat Tangerang
Selatan tahun pelajaran 2013-2014.

F. Manfaat Penelitian
Hasil dari penelitian ini diharapkan bisa memberikan kontribusi dalam upaya
meningkatkan mutu pendidikan khususnya dalam meningkatkan prestasi di SMA
Darussalam Ciputat. Adapun secara detail manfaat yang diharapkan dari
penelitian ini diantaranya:
1. Manfaat atau kegunaan teoritis
a. Sebagai suatu karya ilmiah, hasil penelitian ini diharapkan dapat
memberikan masukan atau informasi bagi perkembangan ilmu
pengetahuan mengenai hubungan kecerdasan emosional siswa dengan
hasil belajar ekonomi.
b.

Penelitian ini diharapkan dapat memberikan sumbangan bagi
psikologi pendidikan dan memperkaya hasil penelitian yang telah ada
serta

dapat

memberi

gambaran

mengenai

hubungan

tingkat

kecerdasan emosional dengan hasil belajar siswa SMA.
c.

Hasil penelitian ini dapat digunakan sebagai pedoman untuk kegiatan

7

penelitian berikutnya yang sejenis.
2. Manfaat atau kegunaan praktis
a.

Bagi peneliti, mendapatkan informasi secara mendalam tentang
hubungan kecerdasan emosional dengan hasil belajar terutama dalam
pembelajaran ekonomi.

b. Bagi guru, menumbuhkan kesadaran kepada guru bahwa kecerdasan
emosional bagi peserta didik sangatlah penting karena merupakan
salah satu faktor yang mempengaruhi hasil belajar siswa.
c. Bagi institusi sekolah, agar menjaga kualitas prestasi belajar siswa
dalam meningkatkan mutu pendidikan di sekolah tersebut.
d. Bagi jurusan pendidikan IPS, menambah pengetahuan dan wawasan
dalam bidang pendidikan IPS.
e. Bagi peneliti lain, diharapkan penelitian tentang hubungan kecerdasan
emosional dengan hasil belajar siswa bisa berguna serta dipahami
oleh peneliti lain.

BAB II
KAJIAN TEORI

A. Deskripsi Teoritik
1. Hakikat Kecerdasan Emosional
a. Pengertian Emosi
Emosi sejak

lama dianggap memiliki kedalaman dan kekuatan sehingga

dalam bahasa latin, misalnya, emosi dijelaskan sebagai motus anima yang arti
harfiahnya berarti “jiwa yang menggerakkan

kita”.6 Akar kata emosi adalah

movere, kata kerja bahasa latin yang berarti “menggerakkan, bergerak”.7
Emosi mempunyai peran dalam peningkatan proses konstruksi pikiran dalam
berbagai bentuk pengalaman kehidupan manusia. Salovey dan

Mayers

mendefinisikan emosi sebagai ”respon terorganisasi, termasuk sistem fisiologis,
yang melewati berbagai batas sub-sistem psikologis, misalnya kognisi, motivasi,
dan pengalaman”.8 Pengertian ini menunjukkan bahwa emosi merupakan respon

6

Robert K.Cooper dan Ayman Sawaf, Executive EQ, penerjemah Alex Tri Kantjono Widodo
(Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, 2002), h. xiv
7

Daniel Goleman, Emotional Intellegence, Penerjemah T. Hermaya (Jakarta: Gramedia
Pustaka Utama, 2000), h. 7
8

Tekad Wahyono, memahami kecerdasan emosi melalui kerja sistem limbic, (Surabaya:
Universitas Wangsa Manggala, Anima, Indonesian Psychological Journal, 2001, vol. 17, No.1), h.37

8

9

atas stimulus yang diperoleh dari lingkungan sekitar yang terorganisasi dengan
baik yang melewati sub-sistem psikologis.
Cow dan Crow dalam Hartati menyebutkan bahwa ”emosi merupakan suatu
keadaan yang bergejolak pada diri individu yang berfungsi sebagai inner
adjustment terhadap lingkungan untuk mencapai kesejahteraan dan keselamatan
individu”.9 Emosi pada definisi ini berperan dalam pengambilan keputusan yang
menentukan kesejahteraan dan keselamatan individu.
Ibda menyebutkan bahwa ”emosi merupakan suatu perasaan dan pikiranpikiran khasnya –suatu keadaan biologis dan psikologis- dan serangkaian
kecenderungan untuk bertindak”.10 Sedangkan Sarlito Wirawan Sartono dalam
Syamsu berpendapat bahwa ”emosi merupakan setiap keadaan pada diri seseorang
yang disertai warna afektif baik pada tingkat lemah maupun pada tingkat yang luas
(mendalam)”.11
Dari beberapa pendapat di atas, maka emosi merupakan suatu respon atas
rangsangan yang diberikan –baik dari lingkungan maupun dari dalam diri individu
sendiri- sehingga individu dapat menentukan pilihan dalam hidup yang
menentukan kehidupannya.
Emosi sebagai suatu peristiwa psikologis mengandung ciri-ciri sebagai
berikut; “pertama, lebih bersifat subyektif daripada peristiwa psikologis lainnya,
seperti pengamatan dan berpikir. Kedua, bersifat fluktuatif (tidak tetap), dan
ketiga, banyak bersangkut paut dengan peristiwa pengenalan panca indera”.12

9

Netty Hartati, M.Si. Dkk, Islam dan Psikologi (Jakarta; Raja Grafindo Persada, 2004), h.90

10

Fatimah Ibda, Emotional Intellegence Dalam Dunia Pendidikan (Banda Aceh: Fakultas
Tarbiyah, IAIN Ar-Raniry, Jurnal Didaktika, Vol. 2 No. 2, 2000), h. 132
11

Syamsu Yusuf, Psikologi Perkembangan Anak Dan Remaja, (Bandung: Rosda Karya,
2004), h. 115
12

Ibid, h. 116

10

Terdapat dua macam pendapat tentang terjadinya emosi yaitu pendapat
navistik dan pendapat empiristik. “Pendapat navistik beranggapan bahwa emosi
pada dasarnya merupakan bawaan sejak lahir, sementara pendapat empiristik
beranggapan bahwa emosi dibentuk oleh pengalaman dan proses belajar”.13
Sebagian orang menganggap bahwa perasaan dan emosi adalah sama. Namun
Sabri dalam bukunya mengungkapkan bahwa antara perasaan dan emosi adalah
berbeda. “Pada perasaan terdapat kesediaan kontak dengan situasi luar (baik
positif maupun negatif), sedangkan pada emosi kontak itu seolah-olah menjadi
retak atau terputus (misalnya terkejut, ketakutan, mengantuk, dan lain
sebagainya)”.14

b. Pengertian Kecerdasan
Kecerdasan merupakan suatu kemampuan tertinggi dari jiwa makhluk hidup
yang hanya dimiliki oleh manusia. Kecerdasan ini diperoleh manusia sejak lahir,
dan sejak itulah potensi kecerdasan ini mulai berfungsi mempengaruhi tempo dan
kualitas perkembangan individu, dan manakala sudah berkembang, maka
fungsinya akan semakin berarti lagi bagi manusia yaitu akan mempengaruhi
kualitas penyesuaian diri dengan lingkungannya.
Kemampuan kecerdasan dalam fungsinya yang disebutkan terakhir bukanlah
kemampuan genetis yang dibawa sejak lahir, melainkan merupakan kemampuan
hasil pembentukan atau perkembangan yang dicapai oleh individu.
Kecerdasan merupakan kata benda yang menerangkan kata kerja atau
keterangan. “Seseorang menunjukkan kecerdasannya ketika ia bertindak atau
berbuat dalam suatu situasi secara cerdas atau bodoh; kecerdasan seseorang dapat

13

Abdul Rahman Shaleh dan Muhbib Abdul Wahab, Psikologi Suatu Pengantar Dalam
Perspektif Islam, (Jakarta: Kencana, 2004), h. 168
14

M Alisuf Sabri, Pengantar Psikologi Umum dan Perkembangan, (Jakarta: Pedoman Ilmu
Jaya, 2001), h. 74

11

dilihat dalam caranya orang tersebut berbuat atau bertindak”.15 “Kecerdasan juga
merupakan istilah umum untuk menggambarkan kepintaran atau

kepandaian

orang”.16 Beberapa ahli mencoba merumuskan definisi kecerdasan diantaranya
adalah:
Suharsono menyebutkan bahwa ”kecerdasan adalah kemampuan untuk
memecahkan masalah secara benar, yang secara relatif lebih cepat dibandingkan
dengan usia biologisnya”.17
Gardner dalam rose mengemukakan bahwa ”kecerdasan adalah kemampuan
untuk memecahkan masalah atau menciptakan suatu produk yang bernilai dalam
satu latar belakang budaya atau lebih”.18
Definisi dari Suharsono dan Gardner menyebutkan bahwa kecerdasan
merupakan suatu kemampuan individu untuk memecahkan masalahnya. Jika
Suharsono menilai kecerdasan dari sudut pandang waktu, sementara Gardner
menilainya dari sudut pandang tempat.
Amstrong berpendapat bahwa kecerdasan merupakan kemampuan untuk
menangkap situasi baru serta kemampuan untuk belajar dari pengalaman masa lalu
seseorang. Kecerdasan bergantung pada konteks, tugas serta tuntunan yang
diajukan oleh kehidupan kita dan bukan tergantung pada nilai IQ, Gelar dari
perguruan tinggi atau reputasi bergengsi.
Sedangkan Super dan Cites dalam Dalyono mengemukakan definisi
kecerdasan sebagai kemampuan menyesuaikan diri dengan lingkungan atau belajar
dari pengalaman. “Hal ini didasarkan bahwa manusia hidup dan berinteraksi di
dalam lingkungannya yang kompleks. Untuk itu ia memerlukan kemampuan untuk
15

Alisuf Sabri, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Pedoman Ilmu Jaya, 1996), h. 115

16

Munandir, Ensiklopedia Pendidikan, (Malang: Um Press, 2001), h. 122

17

Suharsono, Mencerdaskan Anak, (Depok: Inisiasi Press, 2003), h. 43

18

Colin Rose dan Malcom J. Nicholl, Cara Belajar Cepat Abad XXI, penerjemah Dedy
Ahimsa (Bandung: Nuansa, 20020, h. 58

12

menguasai diri dengan lingkungannya demi kelestarian hidupnya. Hidupnya bukan
hanya untuk kelestarian pertumbuhan, tetapi juga untuk perkembangan pribadinya.
Karena itu manusia harus belajar dari pengalamannya”.19
Definisi di atas, oleh Garret dipandang terlalu luas, umum dan kurang
operasional. Dengan mempelajari definisi itu orang mungkin masih dapat
mengalami kesulitan dalam mengaplikasikan konsep itu. Oleh karena itu, Garret
memberi definisi bahwa ”kecerdasan setidak-tidaknya mencakup kemampuan
yang diperlukan untuk pemecahan masalah-masalah yang memerlukan pengertian
serta menggunakan symbol-simbol”.20
Dari beberapa pengertian kecerdasan yang telah dikemukakan maka dapat
ditarik kesimpulan bahwa kecerdasan adalah kemampuan seseorang untuk
memberikan solusi terbaik dalam penyelesaian masalah yang dihadapinya sesuai
dengan kondisi ideal suatu kebenaran.
Gardner membagi kecerdasan menjadi tujuh macam yaitu, ”kecerdasan
linguistik, kecerdasan logis matematis, kecerdasan visual-spasial, kecerdasan
musikal, kecerdasan kinestetik-tubuh, kecerdasan interpersonal dan kecerdasan
intrapersonal”.21
Kecerdasan-kecerdasan tersebut dapat dijabarkan sebagai berikut : kecerdasan
linguistik yaitu kemampuan membaca, menulis dan berkomunikasi dengan katakata atau bahasa. Kecerdasan logis-matematis yaitu kemampuan berfikir (menalar)
dan menghitung, berfikir logis dan sistematis. Kecerdasan visual-spasial yaitu
kemampuan berfikir menggunakan gambar, memvisualisasikan hasil masa depan.
Kecerdasan musikal yaitu kemampuan mengubah atau mencipta music, dapat
bernyanyi dengan baik atau memahami dan mengapresiasi musik serta menjaga
ritme. Kecerdasan kinestetik-tubuh yaitu kemampuan menggunakan tubuh secara
19

M. Dalyono, Psikologi Pendidikan, (Jakarta: Rineka Cipta, 1997), h. 182

20

Ibid, h. 183

21

Collin Rose dan Malcom J. Nicholl, ibid, h. 59-60

13

terampil

untuk

memecahkan masalah, menciptakan barang serta

dapat

mengemukakan gagasan dan emosi. Kecerdasan interpersonal yaitu kemampuan
bekerja secara efektif dengan orang lain dan berempati. Kecerdasan intrapersonal
yaitu kemampuan menganalisis diri sendiri, membuat rencana dan menyusun
tujuan yang akan dicapai.
Kecerdasan dikemukakan oleh Gardner ini dikenal juga sebagai multiple
intelligence. Pembagian kecerdasan oleh gardner ini telah membuka paradigma
baru

dari

sebuah

kata

kecerdasan.

Karena

berdasarkan

pembagian-

pembagian.kecerdasan menurutnya, ternyata cerdas bukan semata dapat memiliki
skor tinggi sewaktu ujian namun cerdas itu beranekaragam.
Kecerdasan orang banyak ditentukan oleh struktur otak. Otak besar dibagi
dalam dua belahan otak yang disambung oleh segumpal serabut yang disebut
corpus callosum. belahan otak kanan menguasai belahan kiri badan dan
sebaliknya belahan otak kiri menguasai belahan kanan badan. Belahan otak
kiri bertugas utuk mersepon hal-hal yang sifatnya linier, logis dan teratur
sementara otak belahan kanan bertugas untuk imaginasi dan kreativitas.22
c. Hakikat Kecerdasan Emosional
Setiap individu memiliki emosi. Emosi mempunyai ranah tersendiri dalam
bagian hidup individu. Seseorang yang dapat mengelola emosinya dengan baik
artinya emosinya cerdas hal ini lebih dikenal dengan suatu istilah “kecerdasan
emosional”. Beberapa ahli mencoba merumuskan definisi dari kecerdasan
emosional. Diantaranya Arief Rahman yang menyebutkan bahwa ”kecerdasan
emosional adalah metability yang menentukan seberapa baik manusia mampu
menggunakan keterampilan-keterampilan lain yang dimilikinya, termasuk
intelektual yang belum terasah”.23

22

Conny R. Semiawan, Belajar dan Pembelajaran Dalam Taraf Pendidikan Usia Dini,
(Jakarta: Prenhallindo, 2002), h. 11-12
23

Pusat Pengembangan Tasawuf Positif, Menyinari Relung-relung Ruhani, (Jakarta: Hikmah,
2002), h. 157-158

14

Bar-On seperti dikutip oleh Stein dan Book mengemukakan bahwa
”kecerdasan emosional adalah serangkaian kemampuan, kompetensi dan
kecakapan non-kognitif, yang mempengaruhi kemampuan seseorang untuk
berhasil mengatasi tuntutan dan tekanan lingkungan”.24
Dua definisi tentang kecerdasan emosional yang dikemukakan oleh Rahman
dan dan Bar-On lebih menekankan pada hasil yang didapat oleh individu jika
menggunakan kemampuan emosionalnya secara optimal.
Salovey dan Mayer dikutip oleh Stein dan Book mengemukakan bahwa
”kecerdasan emosional adalah kemampuan untuk mengenali perasaan, meraih dan
membangkitkan perasaan untuk membantu fikiran, memahami perasaan dan
maknanya serta mengendalikan perasaan secara mendalam sehingga membantu
perkembangan emosi dan intelektual”.25
Goleman dalam Nggermanto mengatakan bahwa kecerdasan emosional adalah
”kemampuan untuk mengenali perasaan kita sendiri dan perasaan orang lain,
kemampuan memotivasi diri sendiri dan kemampuan mengelola emosi dengan
baik pada diri sendiri dan dalam hubungan dengan orang lain”.26
Dari beberapa definisi para ahli di atas dapat ditarik kesimpulan bahwa
kecerdasan emosional adalah suatu kemampuan yang dimiliki oleh individu untuk
dapat menggunakan perasaaannya secara optimal guna mengenali dirinya sendiri
dari lingkungan sekitarnya.
Kecerdasan emosional yang dimaksudkan oleh peneliti adalah kemampuan
individu untuk mengenali perasaannya sehingga dapat mengatur dirinya sendiri
dan menimbulkan motivasi dalam dirinya untuk meningkatkan kualitas hidupnya.

24

Steven J. Stein & Howard E. Book, Ledakan EQ, penerjemah Trinanda Rainy Januarsari,
(Bandung: Kaifa, 2002), h. 157-158
25

Ibid, h. 159

26

Agus nggermanto, Quantum Quotient, (Bandung: Nuansa, 2002), h. 98

15

Sementara di lingkungan sosial dia mampu berempati dan membina hubungan
baik terhadap orang lain.
Emosi manusia dikoordinasi oleh otak. Bagian otak yang mengatur emosi
adalah sistem limbiks. Struktur-struktur dalam sistem limbic mengelola
beberapa aspek emosi, yaitu pengenalan emosi melalui ekspresi wajah,
tendensi berperilaku dan penyimpanan memori emosi. Folkerts menjelaskan
bahwa sistem limbic terdiri atas empat struktur, yaitu: thalamus dan
hiphotalamus, amigdala, hipokamus dan lobus frontalis.27
Thalamus menerima informasi dari lingkungan sekitar yang ditangkap oleh
indera, sedang hypothalamus mengambil informasi dari bagian tubuh yang
lain. Amigdala menginterpretasikan dan sekaligus menyimpannya sebagai arti
emosi. Hipokamus mendukung kerja amigdala dalam menyimpan memori
emosi, mengkonsolidasi memori non-emosi secara detail dan menyampaikan
memori tersebut ke jaringan memori yang berbeda di otak. Lobus frontalis
bertanggung jawab dalam pengaturan emosi sehingga memunculkan emosi
yang tepat.28
Kinerja otak sebagai pusat koordinasi dapat dijabarkan sebagai berikut;
informasi-informasi yang diterima alat indera akan dibawa oleh thalamus melewati
sinapsis tunggal menuju amigdala, sedang sebagian besar lainnya dikirim ke
neokorteks. Percabangan tersebut memungkinkan amigdala dapat memberikan
respon emosi tanpa pengolahan informasi dan analisis dari neokorteks. Kasus
tersebut disebut Goleman sebagai “pembajakan emosi”.29
Terdapat beberapa hal yang dapat dicatat pada pembahasan tentang anatomi
pembajakan emosi, yaitu:30
1) Amigdala berperan sebagai sumber emosi.
Hipocampus dan amigdala merupakan bagian penting dalam ingatan dan
pembelajaran otak. Amigdala sendiri merupakan spesialis masalah-masalah
emosional yang jika dipisahkan dari otak maka seseorang tidak dapat menangkap
27

Tekad Wahyono, op.cit, h. 38-39

28

Ibid, h, 39

29

Ibid,h. 40

30

Daniel Goleman, Emotional Intellegence, op.cit, h. 17-39

16

makna emosional atau mengalami kebutaan afektif. Le Doux adalah orang pertama
yang menemukan peran amigdala dalam otak emosional, yang menjelaskan bahwa
amigdala mampu mengambil alih kendali apa yang kita kerjakan bahwa sewaktu
otak sedang berpikir. Hal ini menumbangkan gagasan lama tentang sistem limbic
dengan menempatkan amigdala pada pusat tindakan dan struktur limbic lainnya
pada peran yang amat berbeda.
2) Inti kecerdasan emosi.
Amigdala bereaksi berdasarkan kognitif bawah sadar, yaitu menangkap
stimulus dari lingkungan sehingga mengetahui identitas apa yang diterima serta
memutuskan menyukai atau tidak baru kemudian memberi pendapat tentangnya.
Hal ini dapat menjelaskan mengapa emosi begitu penting bagi nalar yang efektif di
dalam pengambilan keputusan. Adanya pengaruh dari fungsi amigdala terhadap
neokorteks inilah yang merupakan inti kecerdasan emosional.
3) Mekanisme kerja kecerdasan emosi.
Lobus prefrontal bagian kanan yang terletak pada ujung lain dari sirkuit
prefrontal merupakan tempat perasaan-perasaan negatif (takut, marah, benci dan
sebagainya.) lobus prefrontal bagian kiri merupakan bagian yang berfungsi untuk
mematikan atau mengatur emosi-emosi yang tidak menyenangkan. Oleh karena
itu, dapat dikatakan bahwa lobus prefrontal merupakan saklar peredam ledakan
amigdala atau menjadi manajer emosi dengan tugas menghambat sinyal-sinyal
yang telah dikirim amigdala dan pusat-pusat limbic lainnya.
4) Dinamika IQ dikalahkan EI
Korteks prefrontal merupakan wilayah yang bertanggung jawab terhadap
“ingatan kerja”, yaitu kemampuan atensi untuk menyimpan fakta-fakta penting
dalam pikiran yang berguna untuk penyelesaian masalah. Lobus prefrontal ini
terkait dengan sirkuit otak limbic. Kaitan antara sirkuit prefrontal amigdala inilah
yang merupakan titik temu antara nalar dan emosi. Dengan demikian kemurungan
emosional yang terus menerus dapat mengganggu kemampuan kerja intelektual
seseorang sehingga dalam pengambilan keputusan dapat menimbulkan bencana.

17

Kecerdasan rasional saja tidak menyediakan kemampuan untuk menghadapi
gejolak yang ditimbulkan oleh kesulitan hidup.
“Kecerdasan emosilah yang memotivasi kita untuk mencari manfaat dan
potensi unik kita dan mengaktifkan aspirasi dan nilai-nilai yang paling dalam,
mengubahnya dari apa yang kita fikirkan menjadi apa yang kita jalani”.31
Kecerdasan emosional Reuvan Bar On dibagi menjadi lima, yaitu:32
1) Ranah intrapribadi memiliki lima skala yaitu; kesadaran diri, sikap asertif,
kemandirian, penghargaan diri dan aktualisasi diri.
2) Ranah antarpribadi memiliki 3 skala yaitu; empati, tanggung jawab social
dan hubungan antar pribadi.
3) Ranah penyesuaian diri/orientasi kognitif memiliki tiga skala yaitu; uji
realitas, sikap fleksibel dan pemecahan masalah.
4) Ranah pengendalian stress memiliki dua skala yaitu; ketahanan
menanggung stress dan pengendalian impuls.
5) Ranah suasana hati/afeksi memiliki dua skala yaitu; optimism dan
kebahagiaan.
Hal ini serupa dengan pendapat Segal bahwa wilayah EQ adalah ”hubungan
pribadi dan antarpribadi; EQ bertanggung jawab atas harga diri, kesadaran diri,
kepekaan social dan kemampuan adaptasi sosial”.33
Salovey memperluas kecerdasan emosional menjadi lima wilayah utama,
yaitu :

31

Robert K. Cooper dan Ayman Sawaf, Executive EQ, Loc.cit.

32

A. V. Aryaguna Setiadi, Hubungan Antara Kecerdasan Emosional Dengan Keberhasilan
Bermain Game, (Surabaya: Universitas Surabaya, Anima, Indonesia Psychological Journal, 2001, Vol.
17, No, 1), h. 44-45
33

Jeanne Segal, Melejitkan Kepekaan Emosional, penerjemah Ary Nilandari, Bandung: Kaifa,
2000), h. 26-27

18

1) Empati
Merasakan yang dirasakan oleh orang lain dan memahami perspektif,
menumbuhkan hubungan saling percaya serta menyelaraskan diri dengan
berbagai macam orang.
2) Kesadaran diri
Mengetahui apa yang kita rasakan dan mengunakannya untuk
memandu pengambilan keputusan diri sendiri serta memiliki tolok ukur
yang realistis atas kemampuan dan kepercayaan diri yang kuat.
3) Pengaturan diri
Menangani

emosi

kita

sehingga

berdampak

positif

terhadap

pelaksanaan tugas; peka terhadap kata hati dan sanggup menunda
kenikmatan sebelum tercapainya suatu sasaran, mampu pulih kembali
dari tekanan emosi.
4) Motivasi
Menggunakan hasrat untuk menggerakkan dan menuntun menuju
sasaran, membantu mengambil inisiatif dan bertindak sangat efektif
serta bertahan menghadapi kegagalan dan frustasi.
5) Keterampilan Sosial
Menangani emosi dengan baik ketika berhubungan dengan orang lain
dan dengan cermat membaca situasi, jaringan sosial dan berinteraksi
dengan lancar serta menggunakan keterampilan ini untuk mempengaruhi
orang lain.
Senada dengan pendapat di atas, Shapiro juga menyebutkan kualitas-kualitas
kecerdasan emosional, diantaranya; “empati, mengungkapkan dan memahami
perasaan, mengendalikan amarah, kemandirian, kemampuan menyesuaikan diri,

19

disukai,

kemampuan

memecahkan

masalah

kesetiakawanan, keramahan, dan sikap hormat”.

antar-pribadi,

ketekunan,

34

Ketika berbicara mengenai urgensitas kecerdasan emosional yang dimiliki
seseorang dalam kehidupan, Suharsono mengungkapkan beberapa keuntungan
kecerdasan emosional sebagai berikut:
pertama, kecerdasan emosional jelas mampu menjadi alat untuk pengendalian
diri, sehingga seseorang tidak terjerumus ke dalam tindakan-tindakan bodoh
yang merugikan dirinya sendiri maupun orang lain. Kedua, kecerdasan
emosional bias diimplementasikan sebagai cara yang sangat baik untuk
memasarkan atau membesarkan ide, konsep atau bahkan sebuah produk.
Ketiga, kecerdasan emosional adalah modal penting bagi seseorang untuk
mengembangkan bakat kepemimpinan dalam bidang apapun. Karena setiap
model kepemimpinan sesungguhnya membutuhkan visi, misi, konsep,
program dan yang tak kalah pentingnya adalah dukungan dan partisipasi dari
para anggota.35
B. Hasil Belajar Siswa
1. Konsep Hasil Belajar
Hasil belajar dapat dijelaskan dengan memahami dua kata yang
membentuknya, yaitu “hasil” dan “belajar”. Pengertian hasil (Product) menunjuk
pada suatu perolehan akibat dilakukannya aktivitas atau proses yang
mengakibatkan berubahnya input secara fungsional. Sedangkan pengertian
belajar menurut beberapa pakar pendidikan sebagai berikut:

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

117 3864 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 1026 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 924 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

20 616 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

26 772 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

60 1320 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

65 1213 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

20 802 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

31 1084 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

41 1315 23