Pengaruh mutu mengajar guru terhadap prestasi belajar siswa bidang ekonomi di SMA Negeri 14 Tangerang

Pengaruh Mutu Mengajar Guru Terhadap Prestasi Belajar Siswa
Bidang Studi Ekonomi di SMA Negeri 14 Tangerang
SKRIPSI
Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan
Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan (S.Pd)

Oleh :

Ahmad Fadhil
104015000574

PROGRAM STUDI ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
JURUSAN TADRIS IPS (EKONOMI)
FAKULTAS ILMU TARBIYAH DAN KEGURUAN
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI (UIN) SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
1432 H/ 2011 M

ABSTRAKS
Ahmad Fadhil (104015000574), Jurusan Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial,
Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Pengaruh
Mutu Mengajar Guru Terhadap Prestasi Belajar Siswa Bidang Studi Ekonomi di
SMAN 14 Tangerang. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui apakah terdapat
pengaruh yang signifikan antara mutu mengajar terhadap prestasi belajar siswa
pada bidang studi ekonomi di SMA Negeri 14 Tangerang. Responden dalam
penelitian ini sebanyak 45 siswa. Mutu mengajar guru mengetahui bagaimana
usaha-usaha guru dalam meningkatkan kualitas dan profesionalisme dalam
mengajar, sedangkan prestasi belajar siswa mengetahui hasil yang dicapai oleh
siswa selama satu semester yaitu semester satu (ganjil) yang diakumulasikan
dalam nilai raport. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode
survey dengan teknik deskriptif analisis. Data mutu mengajar guru diperoleh
melalui koesioner yang terdiri dari 25 item pertanyaan, dari hasil perhitungan
didapat rxy Product Moment sebesar 0,417 yang berkisar 0,40-0,70. Hasil
membandingkan nilai rh dengan rt maka Ha diterima dan Ho ditolak setelah
diketahui df sebesar 43 (0,417 > 0,294). Koefisien determinasi sebesar 17,38 %
menunjukkan bahwa mutu mengajar guru sebagian kecil mempengaruhi prestasi
belajar siswa, ini berarti 82,62% lagi dipengaruhi faktor lain seperti minat dan
bakat siswa.

KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT Tuhan semesta alam, salawat dan salam semoga
terlantun bagi kekasihNya, Rasulullah Muhammad SAW, beserta keluarganya,
sahabatnya dan orang-orang yang mengikuti sunnahnya hingga hari kebangkitan.
Alhamdulillah

ucapan

syukur

yang tiada

henti-hentinya

penulis

dapat

menyelesaikan skripsi ini dengan judul “Pengaruh Mutu Mengajar Guru
Terhadap Prestasi Belajar Siswa Bidang Studi Ekonomi di SMAN 14
Tangerang“. Penulis menyadari sepenuhnya bahwa pembuatan skripsi ini tidak
terlepas dari bantuan pihak lain. Oleh karena itu, dengan segala kerendahan hati
penulis mengucapkan terima kasih sebesar-besarnya kepada semua pihak yang
telah membantu dan mendukung penulis baik secara langsung maupun tidak
langsung karena skripsi ini yang tidak akan mendekati kesempurnaan tanpa
bantuan semua. Penulis secara khusus mengucapkan terima kasih yang tak
terhingga kepada :
1. Dekan Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri
Syarif Hidayatullah Jakarta, Bapak Prof. Dr. H. Dede Rosyada, M.A.
2. Ketua

Jurusan

Pendidikan

Ilmu

Pengetahuan

Sosial,

Bapak Drs. H. Nurochim, M.M beserta jajarannya.
3. Dosen pembimbing Bapak Drs. Banadjid, terima kasih banyak atas
bimbingan, arahan dan nasehat kepada penulis dalam menyelesaikan
penyusunan skripsi ini.
4. Bapak dan Ibu Dosen Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan yang telah
memberikan ilmunya selama penulis kuliah.
5. Kepada seluruh staf Perpustakaan Utama dan Perpustakaan Fakultas Ilmu
Tarbiyah dan Keguruan Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah
Jakarta, yang telah membantu menyediakan fasilitas perpustakaan.
6. Kepala Sekolah SMA Negeri 14 Tangerang, Bapak Drs. H.M. Bay Masruri,
MM dan guru bidang studi Ekonomi kelas XI, Ibu Eva Yurina, SE. Dan tak

lupa kepada siswa-siswi kelas XI IPS SMA Negeri 14 Tangerang yang
sudah membantu penulis dalam melakukan penelitian ini.
7. Keluarga tercinta, khususnya kedua orang tua penulis Ayahanda Muslih
H. Abdul Hadi dan Ibunda Masiah H. Micang yang selalu semangat
mendo’akan tiada henti dan senantiasa memberikan dukungan baik moriil
maupun materiil kepada penulis, kakak-kakakku tersayang Yayah Luthfiah
&Suami, Ati Kurniati & Suami, Muthoharoh, Nuril Anwar & Istri, dan
adikku M. Mamduh. Terima kasih untuk semua cinta dan kasih sayang yang
telah kalian berikan.
8. Teman-teman seperjuangan di IPS angkatan 2004 Faisal Aceh, Sainan
Bangka Belitung, Hardi Lampung, Aries Lampung, Mahfudz Bumiayu,
Bambang Ponorogo, Ade Ciamis, Lukman Tasikmalaya, Reni Sukabumi,
Yuli Sukabumi, Solahudin/Coink Bogor, Adi Bekasi, Sarah Bekasi, Dede
Depok, Gilang Jakarta, Dwi Tangerang, Khasanah Tangerang, Uci
Tangerang, Ifay Tangerang, Suharto Tangerang, I love U full......
9. Teman-teman Pelajar Islam Indonesia (PII) Jakarta. Zaki, Deden, Fasya,
Ruhyat, Cecep, Irwan, Musa, Basori, Ridwan, Ferly, Eka, Dian, Zahro,
Yayah, Ulfa, Khusnul.

Serta kepada semua pihak yang telah turut membantu yang tidak dapat penulis
sebutkan semuanya. Penulis mendo’akan semoga Allah SWT membalas dengan
kebaikan yang sepadan. Amin
Dan akhirnya penulis berharap semoga skripsi ini bermanfaat bagi penulis
khususnya dan pembaca pada umumnya, serta benar-benar menjadi langkah awal
bagi kelahiran keilmuan yang lebih baik.

Tangerang, 8 November 2010

Penulis

DAFTAR ISI
Kata Pengantar…………………………………………………………………..i
Daftar Isi…………………………………………………………………..….....iii
Daftar Tabel……………………………………………………………….……iv
Daftar Lampiran………………………………………………………………..v
BAB I

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah……………………………………………..1
B. Identifikasi Masalah…………………………………………………5
C. Pembatasan Masalah………………………………………………....5
D. Perumusan Masalah………………...………………………………..6
E. Tujuan Penelitian…………………………………………………….6
F. Manfaat Penelitian…………………………………………………...6

BAB II

KAJIAN TEORITIS, KERANGKA BERPIKIR DAN HIPOTESIS
A. Mutu Mengajar Guru………………………………………………..7
1. Pengertian Mutu Mengajar Guru………………………………..7
2. Kedudukan, Peran dan Tugas Guru.............................................10
3. Kompetensi Guru........................................................................16
4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Mutu Mengajar Guru dan
Usaha Dalam Meningkatkannya.................................................25
B. Prestasi Belajar……………………………………………………..29
1. Pengertian Prestasi Belajar……………………………………..29
2. Cara Mengetahui Prestasi Belajar Siswa………………………30
3. Indikator Prestasi Belajar……………………………………....32
4. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Prestasi Belajar...................32
5. Usaha-usaha Peningkatan Prestasi Belajar..................................33
C. Kerangka Berfikir…………………………………………………..35
D. Pengajuan Hipotesis………………………………………………..36

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN
A. Tempat dan Waktu Penelitian…………………………………....37
B. Variabel Penelitian………………………………………………37
C. Populasi, Sampel…………………………………………………38
D. Teknik Pengumpulan Data……………………………………….38
E. Teknik Pengolahan dan Analisis Data...........................................40
F. Interpretasi data.............................................................................42

BAB IV

HASIL PENELITIAN
A. Gambaran Umum SMA Negeri 14 Tangerang…………………...45
B. Deskripsi Data……………………………………………………53
C. Pengolahan dan Analisis Data........................................................68
D. Interpretasi Data.............................................................................72

BAB V

PENUTUP
A. Kesimpulan……………………………………………………….75
B. Saran……………………………………………………………...76

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN-LAMPIRAN

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Di era globalisasi ini setiap negara di dunia saling berlomba dalam
mencapai kemajuan bangsanya. Bangsa-bangsa yang maju dan modern ialah
bangsa

yang benar-benar

memperhatikan

dan

mengutamakan

aspek

pendidikan. Pendidikan merupakan salah satu kunci utama bagi kemajuan
bangsa dan negara. Pendidikan mempunyai posisi yang strategis dalam
memperlancar dan menyukseskan program pembangunan nasional, karena
pendidikan tidak hanya meningkatkan pengetahuan dan keterampilan tetapi
juga ikut membentuk kepribadian bangsa.
Pendidikan merupakan sarana mutlak yang dipergunakan untuk
mewujudkan masyarakat madani yang mampu menguasai, mengembangkan,
mengendalikan dan memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Output
pendidikan belum mampu berjalan seimbang dengan tuntutan zaman, hal ini
disebabkan minimnya penguasaan terhadap disiplin ilmu yang diperoleh
melalui proses pendidikan. Keadaan ini menjadi tantangan bagi para pendidik
untuk mempersiapkan peserta didiknya dalam memasuki masa depan.
Pendidikan

pada

dasarnya

diselenggarakan

dalam

rangka

membebaskan manusia dari berbagai macam persoalan kehidupan yang pada
intinya untuk mencapai kesempurnaan hidup, dan untuk menjadi makhluk
yang bermartabat.1
Hal ini sesuai dengan fungsi dan tujuan pendidikan nasional,
berdasarkan Undang-undang Republik Indonesia No. 20 Tahun 2003 tentang
Sistem Pendidikan Nasional (SISDIKNAS), Bab II Pasal 3, dinyatakan bahwa:
Pendidikan nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan
membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka
mencerdaskan kehidupan bangsa. bertujuan untuk berkembangnya potensi
1

Yunus M. Firdaus, Pendidikan Berbasis Realitas Sosial, (Yogyakarta: Logung
Pustaka, 2004), Cet.Ke-1, h. 1

peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada
Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif,
mandiri, dan menjadi warga negara yang demokratis serta
bertanggungjawab.2
Agar dapat mewujudkan pendidikan nasional maka peranan orang tua,
masyarakat, instansi pemerintah dan guru sangatlah penting. Guru sebagai
pendidik dan pengajar merupakan faktor penentu kesuksesan setiap usaha
pendidikan. Itulah sebabnya perbincangan mengenai pembaruan kurikulum,
pengadaan alat-alat belajar sampai pada kriteria sumber daya manusia yang
dihasilkan oleh pendidikan selalu bermuara pada guru. Hal ini menunjukkan
betapa signifikan peran guru dalam dunia pendidikan.3
Kualitas sumber daya guru atau guru profesional sangat diperlukan
dalam kegiatan belajar mengajar. Secara umum guru itu memenuhi dua
kategori yaitu capability dan loyality. Capability yang dimaksud adalah guru
itu harus memiliki kemampuan dalam bidang ilmu yang diajarkannya,
memiliki kemampuan teoritik tentang mengajar yang baik, dari mulai
perencanaan, implementasi dan evaluasi. Dan yang dimaksud loyality adalah
memiliki loyalitas keguruan, yakni loyal terhadap tugas-tugas yang tidak
semata di dalam kelas, tapi pre servis atau out servis. Gilbert H. Hunt dalam
bukunya “Effektive Teacing” sebagaimana dikutif oleh Dede Rosyada,
menyatakan guru yang baik harus memiliki kriteria-kriteria sebagai berikut:
a.

b.

Guru yang baik harus memiliki sifat-sifat antusias, stimulatif,
mendorong siswa untuk maju, berorientasi pada tugas dan pekerja keras,
toleran, sopan, dan bijaksana memiliki pengetahuan yang memadai
dalam mata pelajaran yang diampunya, mampu memberikan jaminan
bahwa materi yang disampaikannya mencakup semua unit bahasa yang
diharapkan siswa secara maksimal.
Mampu menjelaskan berbagai informasi secara jelas dan terang
memberi layanan yang variatif, menggunakan kelompok kecil secara
efektif, mendorong semua siswa untuk berpartisipasi, memonitor
bahkan sering mendatangi siswa.
2

Undang-Undang RI, Sistem Pendidikan Nasional, (Jakarta: CV. Tamita Utama, 2004),

h. 7
3

Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, (Bandung: PT.
Remaja Rosdakarya, 2002), h. 223

c.

d.

Mampu memberikan harapan pada siswa, mampu membuat siswa
akuntabel dan mendorong partisipasi orang tua dalam memajukan
kemampuan akademik siswa.
Biasa menerima berbagai masukan, risiko dan tantangan, selalu
memberikan dukungan pada siswanya, konsisten dalam kesepakatan
dengan siswa, mampu memajukan keahlian dalam perencanaan,
memiliki kemampuan mengorganisasi kelas sejak hari pertama
bertugas.4
Sedangkan dalam meningkatkan kualitas dalam mengajar hendaknya

guru mampu merencanakan program pengajaran dan mampu menggunakan
metode pembelajaran yang sesuai dengan materi pelajaran serta mampu pula
melakukannya dalam bentuk interaksi belajar mengajar. Guru pun harus dapat
menjadi suri tauladan yang baik sehingga dapat memberikan bimbingan sikap
kepada murid-muridnya.
Pada ruang lingkup kehidupan pendidik sebagai individu tiap guru
terikat dengan kewajiban untuk mengembangkan mutu kinerja melalui
kegiatan belajar, meningkatkan penguasaan ilmu pengetuan dan keterampilan
terbaik dalam meningkatkan potensi siswa. Hal tersebut penting agar
kewibawaan diri terpelihara. Juga sebagai anggota komunitas guru wajib
membangun kerja sama meningkatkan kompetensi, melakukan pengukuran,
meningkatkan

kapasitas

diri

dalam

pengelolaan

pembelajaran,

mengembangkan pengalaman terbaik dalam mengelola pembelajaran, dan
mengembangkan kompetensi profesi mapun kompetensi pedagogik.
Dalam meningkatkan mutu kinerja guru memiliki kewajiban untuk
memenuhi mutu materi pelajaran, mengelola proses pembelajaran agar
meningkatkan minat siswa untuk belajar

baik melalui peningkatan

kemampuan individu dalam kerja sama kelompok. Potensi diri siswa
dikembangkan melalui kerja sama. Menggunakan teknologi sesuai dengan
tingkat

perkembangan

siswa dan kemampuan sekolah menyediakan

sarananya. Menggunakan bahasa pengantar bahasa Indonesia mapun bahasa

4

Dede Rosyada, Paradigma Pendidikan Demokratis, (Jakarta: Prenada Media, 2004),
Cet. Ke-1, h. 112-114

asing dalam rangka meningkatkan mutu pembelajaran dalam kelas setaraf
dengan mutu pembelajaran di sekolah-sekolah unggul di dunia.
Pendidikan mempunyai peranan yang sangat strategis dan signifikan
dalam pembentukan moral, akhlaq dan etika peserta didik yang sekarang ini
sedang berada pada titik terendah dalam perkembangan masyarakat indonesia.
Kegagalan pendidikan untuk membuat dan menciptakan peserta didik yang
berkarakter atau berkepribadian tidak lepas dari kelemahan aktor utama dalam
proses pendidikan di kelas, yakni kelemahan guru dalam mengemas dan
mendesain serta membawakan mata pelajaran ini kepada peserta didik.
Ditambah lagi disebabkan ketiadaan penguasaan manajemen modern bagi
guru pendidikan dalam melaksanakan proses pembelajaran disekolah sehingga
sampai saat ini sulit sekali dikontrol dan di evaluasi keberhasilan dan
kegagalannya.
Dan hal ini diperparah dengan para lulusan perguruan tinggi yang
mengajar di sekolah tidak memenuhi standar mengajar, dan ada juga terjadi
ketidak sesuaian antara kompetensi yang dimiliki dengan bidang studi yang
diajarkan, maka akan berakibat ketidakpuasan oleh peserta didik dalam proses
belajar mengajar, kemungkinan akan terjadi gejala-gejala negatif seperti acuh
tak acuh terhadap materi pelajaran, mengobrol pada saat guru menjelaskan
materi pelajaran, bolos sekolah bahkan sampai sikap tidak menghargai guru.
Seandainya dalam proses belajar mengajar seperti ini, maka sangat
menjadi kendala untuk mencapai tujuan yang ingin dicapai bahkan akan
berdampak pada prestasi belajar siswa. Oleh karena itu, sudah menjadi
keharusan bagi guru untuk memiliki kualitas mengajar yang baik.
Guna mengungkapkan hal tersebut apakah ada pengaruh dari mutu
mengajar guru terhadap prestasi belajar, maka diperlukan penelitian. Oleh
karena itu, penulis mengadakan penelitian skripsi dengan judul: “Pengaruh
Mutu Mengajar Guru Terhadap Prestasi Belajar Siswa Bidang Studi
Ekonomi di SMA Negeri 14 Tangerang”.

B. Identifikasi Masalah

Dengan memperhatikan uraian pada latar belakang diatas, penulis
dapat diidentifikasi beberapa masalah yang mempengaruhi mutu pendidikan,
diantaranya:
1. Bagaimana mutu mengajar pada guru bidang studi ekonomi di SMA
Negeri 14 Tangerang?
2. Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi prestasi belajar siswa?
3. Apakah mutu mengajar dapat meningkatkan prestasi belajar siswa?
4. Apa terdapat pengaruh antara mutu mengajar guru dengan prestasi belajar
siswa bidang studi ekonomi di SMA Negeri 14 Tangerang?
5. Seberapa besar korelasi antara mutu mengaja guru dengan prestasi belajar
siswa bidang studi ekonomi di SMA Negeri 14 Tangerang?

C. Pembatasan Masalah
Sesuai dengan identifikasi masalah yang telah diuraikan di atas, maka
untuk lebih memfokuskan penelitian ini. Maka penulis hanya membatasi
masalah kedalam hal berikut ini:
1. Mutu mengajar guru di SMA Negeri 14 Tangerang.
2. Prestasi belajar siswa bidang studi ekonomi.
3. Pengaruh mutu mengajar guru terhadap prestasi belajar siswa bidang studi
ekonomi.

D. Perumusan Masalah
Dari pembatasan masalah di atas, penulis merumuskan masalah
sebagai berikut: “Apakah terdapat pengaruh antara mutu mengajar guru
terhadap prestasi belajar siswa bidang studi ekonomi di SMA Negeri 14
Tangerang?

E. Tujuan Penelitian
Tujuan penelitian ini adalah:

1. Untuk mengetahui mutu mengajar guru, khususnya guru Ekonomi SMA
Negeri 14 Tangerang.
2. Untuk mengetahui prestasi belajar siswa bidang studi Ekonomi SMA
Negeri 14 Tangerang.
3. Untuk mengetahui pengaruh mutu mengajar guru terhadap prestasi belajar
siswa SMA Negeri 14 Tangerang.

F. Manfaat Penelitian
Manfaat penelitian ini adalah:
1. Hasil penelitian diharapkan dapat memberikan kontribusi pemikiran
khususnya bagi para guru dan para tenaga kependidikan pada umumnya.
2. Memberikan masukan bagi sekolah dalam meningkatkan mutu pendidikan,
khususnya mengenai mutu mengajar guru dalam meningkatkan prestasi
belajar siswa

BAB II
KAJIAN TEORITIS, KERANGKA BERPIKIR DAN
HIPOTESIS
A. Mutu Mengajar Guru
1. Pengertian Mutu Mengajar Guru
Dalam Standar Nasional PP.RI.No.19 Tahun 2005, Pasal 1 ayat 1,2
dan 3. Mengenai penjaminan mutu dan tujuannya yang berbunyi : “ Setiap
satuan pendidikan pada jalur formal maupun non formal wajib melakukan
penjaminan mutu pendidikan yang bertujuan untuk memenuhi dan
melampaui standar nasional yang dilakukan secara bertahap, sistematis
dan terencana dalam suatu program penjaminan mutu yang memiliki
target dan kerangka waktu yang jelas”.5
Kamus Besar Bahasa Indonesia menyatakan bahwa “mutu adalah
(ukuran) baik buruk sesuatu benda, kualitas, taraf, kadar, atau derajat
(kepandaian, kecerdasan, dan sebagainya)”.6 Menurut Jerome S. Arcaro,
“mutu adalah sebuah proses terstruktur untuk memperbaiki keluaran yang
dihasilkan”.7
Menurut Nurhasan, pengertian secara umum kata mutu dapat
diartikan kualitas, “suatu gambaran yang menjelaskan mengenai baik
buruknya hasil yang dicapai para siswa dalam proses pendidikan yang
sedang dilaksanakan”.8 Jadi dapat disimpulkan bahwa mutu adalah ukuran
untuk menyatakan esensi semua benda atau hal berupa standar ideal yang
ingin dicapai oleh suatu proses.
5

Peraturan Pemerintah, Republik Indonesia, No. 19 tahun 2005, Tentang Standar
Nasional Pendidikan,( Bandung: Lekdis, 2005 ), Cet. Ke-3, h. 27
6

Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia, ( Jakarta: Balai
Pustaka, 2002 ), Edisi III, Cet. Ke-2, h. 768
7

Jeorme S. Arcaro, Pendidikan Berbasis Mutu, ( Yogyakarta: Pustaka Pelajar, 2007 ),
Cet. Ke-4, h. 75
8
Nurhasan, Konvensi Nasional Pendidikan Indonesia II: kurikulum Untuk Abad Ke-21,
(Jakarta: PT. Grasindo, 1994), h. 390

Menurut

Oemar

Hamalik,

“Mengajar

merupakan

usaha

mengorganisasi lingkungan sehingga menciptakan kondisi belajar bagi
siswa”.9
Menurut Bohar Suharto yang dikutip oleh Pupuh Fathurrohman
dan M. Sobri Sutikno mengungkapkan bahwa “mengajar adalah suatu
aktivitas mengorganisasi atau mengatur (mengelola) lingkungan sehingga
tercipta suasana yang sebaik-baiknya dan menghubungkannya dengan
peserta didik sehingga terjadi proses belajar yang menyenangkan”.10
Menurut Tyson dan Caroll yang dikutip oleh Muhibbin Syah
mengungkapkan “bahwa mengajar adalah sebuah cara dan sebuah proses
hubungan timbal balik antara siswa dengan guru yang sama-sama aktif
melakukan kegiatan”.11
Jadi dapat disimpulkan bahwa mengajar adalah sebuah aktivitas
dimana guru dan peserta didik memainkan peranan terdapat interaksi
edukatif sehingga terciptanya kondisi belajar yang baik dan dibantu
dengan sistem lingkungan yang mendukung.
Pengertian guru menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia edisi
kedua 1991, yang dikutip oleh Muhibbin Syah adalah “orang yang
pekerjaannya (mata pencahariannya) mengajar”.12 Menurut Balnadi
Sutadipura yang dikutip oleh Syafruddin Nurdin mengungkapkan bahwa
“guru adalah orang yang layak digugu dan ditiru”.13

9

Oemar Hamalik, Proses Belajar Mengajar, ( Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2005 ), Cet.

Ke-5, h. 48
10

Pupuh Fathurrohman & M. Sobri Sutikno, Strategi Belajar Mengajar: Strategi
Mewujudkan Pembelajaran Bermakna Melalui Penanaman Konsep Umum & Konsep Islam,
( Bandung: PT. Refika Aditama, 2007), Cet. Ke-1, h. 7
11

Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, ( Bandung: PT.
Remaja Rosda Karya, 2000 ), Cet. Ke-5, h. 182
12

13

Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, h. 222

Syafruddin Nurdin, Guru Profesional & Implementasi Kurikulum, ( Jakarta: Ciputat
Pers, 2002 ), Cet. Ke-1, h. 7

Menurut Moh. Uzer Usman, “Guru merupakan profesi/jabatan atau
pekerjaan yang memerlukan keahlian khusus sebagai guru”.14
Sedangkan menurut Undang-undang Republik Indonesia No. 14
Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen, Pasal 1 ayat 1, yang dikutip oleh
Martinis Yamin bahwa definisi guru adalah ”Pendidik profesional dengan
tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih,
menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini
jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah”.15
Guru merupakan faktor yang sangat penting dalam pendidikan
formal pada umumnya, karena bagi siswa guru sering dijadikan tokoh
teladan. Maka setiap guru harus memiliki perilaku, pengetahuan dan
wawasan yang cukup dan selalu mengikuti perkembangan kemajuan
teknologi untuk mengembangkan siswa dengan baik.
Mengajar merupakan suatu perbuatan yang memerlukan tanggung
jawab moril yang cukup berat. Berhasilnya pendidikan pada siswa sangat
bergantung pada pertanggungjawaban guru dalam melaksanakan tugasnya.
Apabila guru berhasil melaksanakan tugasnya dengan baik maka akan
tampak perubahan yang berarti pada diri siswa, seperti sikap positif dalam
belajarnya dan prestasi belajar akan semakin meningkat.
Berdasarkan beberapa pengertian diatas, maka dapat ditarik
kesimpulan tentang definisi mutu mengajar yaitu keadaan atau ukuran baik
buruk dari hasil kegiatan orang yang memberikan ilmu pengetahuan
kepada peserta didik dengan tingkat keunggulan yang tinggi seperti
memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sehat jasmani dan rohani serta
memiliki kemampuan untuk mewujudkan pendidikan nasional.

2. Kedudukan, Peran dan Tugas Guru
14

Moh. Uzer Usman, Menjadi Guru Profesional, ( Bandung: PT. Remaja Rosda Karya,
2006 ), Cet. Ke-19, h. 5
15

Martinis Yamin, Sertifikasi Profesi keguruan di Indonesia, ( Jakarta: Gaung Persada
Press, 2006 ), Cet. Ke-1, h. 209-210

Dalam Sabda Rasulullah SAW berbunyi “Pendidik dalam ajaran
agama Islam kedudukannya sangat dihargai”. Dan menurut Hadits
Riwayat Abu Daud & Tirmidzi bersabda “Tinta para ulama lebih tinggi
nilainya dari pada darah para syuhada”.16 Menggambarkan tingginya
kedudukan orang yang mempunyai ilmu pengetahuan (gulu/ulama),
penghormatan dan kedudukan yang tinggi ini amat logis diberikan
kepadanya, karena dilihat dari jasanya yang demikian besar dalam
membimbing dan mengarahkan, membentuk akhlak, dan memberikan
pengetahuan sehingga anak didik siap menghadapi hari depan dengan
penuh rasa percaya diri dan dapat melaksanakan fungsinya sebagai
Abdullah dan Khalifatu Fil Ard.
Guru menempati kedudukan yang terhormat di masyarakat.
Masyarakat percaya bahwa gurulah yang dapat mendidik anak mereka
agar menjadi orang yang memiliki pribadi yang mulia.
Dengan kepercayaan yang diberikan masyarakat, maka pundak
guru diberikan tugas yang berat. Namun lebih berat lagi mengemban
tanggung jawab, sebab tanggung jawab itu tidak hanya terbatas di
lingkungan sekolah tapi juga di luar sekolah. Pembinaan yang harus
diberikan guru tidak hanya secara kelompok tapi juga secara individual.
Hal ini menuntut guru agar selalu memperhatikan sikap, tingkah laku dan
perbuatan peserta didiknya tidak hanya di sekolah tapi juga di luar
sekolah.
Keberhasilan guru melaksanakan peranannya dalam bidang
pendidikan sebagian besar terletak pada kemampuannya melaksanakan
berbagai peranan yang bersifat khusus dalam situasi belajar mengajar.
Berdasarkan studi literatur terhadap pandangan Adam & Dickey dalam
bukunya “Basic Principles of Student Teaching”, yang dikutip oleh Oemar
Hamalik dapat ditarik kesimpulan bahwa paling tidak terdapat 12 peranan
16

Pupuh Fathurrohman & M. Sobri Sutikno, Strategi Belajar Mengajar: Strategi
Mewujudkan Pembelajaran Bermakna Melalui Penanaman Konsep Umum & Konsep Islam,
h. 122

guru di dalam kelas (dalam situasi belajar mengajar). Tiap peranan
menuntut berbagai kompetensi atau keterampilan yang dipandang “inti”
untuk masing-masing peranan tersebut adalah sebagai berikut:
a) Guru sebagai pengajar, menyampaikan ilmu pengetahuan, perlu
memiliki keterampilan memberikan informasi kepada kelas
b) Guru sebagai pemimpin kelas, perlu memiliki keterampilan cara
memimpin kelompok-kelompok murid
c) Guru sebagai pembimbing, perlu memiliki keterampilan cara
mengarahkan dan mendorong kegiatan belajar siswa
d) Guru sebagai pengatur lingkungan, perlu memiliki keterampilan untuk
mempersiapkan dan menyediakan alat dan bahan pelajaran
e) Guru sebagai partisipan, perlu memiliki keterampilan cara
memberikan saran, mengarahkan pemikiran kelas dan memberikan
penjelasan
f) Guru sebagai ekspeditur, perlu memiliki keterampilan cara
menyelidiki sumber-sumber masyarakat yang akan digunakan
g) Guru sebagai perencana, perlu memiliki keterampilan cara memilih,
dan meramu bahan pelajaran secara profesional
h) Guru sebagai supervisor, perlu memiliki keterampilan mengawasi
kegiatan anak dan ketertiban kelas
i) Guru sebagai motivator, perlu memiliki keterampilan mendorong
motivasi belajar kelas
j) Guru sebagai perannya, perlu memiliki keterampilan cara bertanya
yang dapat merangsang kelas berpikir dan cara memecahkan masalah
k) Guru sebagai pengganjar, perlu memiliki keterampilan cara
memberikan penghargaan terhadap anak-anak yang berprestasi
l) Guru sebagai evaluator, perlu memiliki keterampilan cara menilai
anak-anak secara obyektif, kontinue dan komprehensif
m) Guru sebagai konselor, perlu memiliki keterampilan cara membantu
anak-anak yang mengalami kesulitan tertentu.17
Peranan guru menurut kajian Pullias dan Young (1988), Manan
(1990), serta Yelon dan Weinstein (1997), yang dikutip oleh E. Mulyasa
dapat diidentifikasikan sedikitnya 19 peran guru, yakni guru sebagai
pendidik,

pengajar,

pembimbing,

pelatih,

penasehat,

pembaharu

(innovator), model dan teladan, pribadi, peneliti, pendorong kreativitas,

17

Oemar Hamalik, Pendidikan Guru; Berdasarkan Pendekatan Kompetensi, (Jakarta:
PT. Bumu Aksara, 2004 ), Cet. Ke-4, h. 48-49

pembangkit pandangan, pekerja rutin, pemindah kemah, pembawa cerita,
aktor, emansipator, evaluator, pengawet, dan sebagai kulminator.18
Yang akan penulis kemukakan di sini adalah peranan yang
dianggap paling dominan dan diklasifikasikan sebagai berikut:
a. Guru Sebagai Demonstrator
Melalui peranannya sebagai demonstrator, lecturer, atau pengajar,
guru hendaknya senantiasa menguasai bahan atau materi pelajaran
yang akan diajarkannya serta senantiasa mengembangkannya dalam
arti meningkatkan kemampuannya dalam hal ilmu yang dimilikinya
karena hal ini akan sangat menentukan hasil belajar yang dicapai oleh
siswa.19
b. Guru Sebagai Pengelola Kelas
Dalam peranannya sebagai pengelola kelas (learning manager), guru
hendaknya mampu mengelola kelas sebagai lingkungan belajar serta
merupakan aspek dari lingkungan sekolah yang perlu diorganisasi.
Lingkungan ini diatur dan diawasi agar kegiatan-kegiatan belajar
terarah kepada tujuan-tujuan pendidikan. Pengawasan terhadap belajar
lingkungan itu turut menentukan sejauh mana lingkungan tersebut
menjadi lingkungan belajar yang baik. Lingkungan yang baik ialah
yang bersifat menantang dan merangsang siswa untuk belajar,
memberikan rasa aman dan kepuasan dalam mencapai tujuan.
Kualitas dan kuantitas belajar siswa di dalam kelas bergantung pada
banyak faktor, antara lain ialah guru, hubungan pribadi antara siswa di
dalam kelas, serta kondisi umum dan suasana di dalam kelas.20
c. Guru Sebagai Mediator dan Fasilitator

18

E. Mulyasa, Menjadi Guru Profesional; Menciptakan Pembelajaran Kreatif dan
Menyenangkan, ( PT. Remaja Rosda Karya, 2006 ), Cet. Ke-4, h. 37
19

Moh. Uzer Usman, Menjadi Guru Profesional, h. 9

20

Moh. Uzer Usman, Menjadi Guru Profesional, h. 10

Sebagai mediator guru hendaknya memiliki pengetahuan dan
pemahaman yang cukup tentang media pendidikan karena media
pendidikan merupakan alat komunikasi untuk lebih mengefektifkan
proses belajar mengajar. Dengan demikian media pendidikan
merupakan dasar yang sangat diperlukan yang bersifat melengkapi dan
merupakan bagian integral demi berhasilnya proses pendidikan dan
pengajaran di sekolah.21
Sedangkan sebagai fasilitator guru hendaknya mampu mengusahakan
sumber belajar yang berguna serta dapat menunjang pencapaian tujuan
dan proses belajar mengajar, baik yang berupa nara sumber, buku teks,
majalah, ataupun surat kabar.
d. Guru Sebagai Evaluator
Sebagai evaluator guru hendaknya mampu dan terampil melaksanakan
penilaian karena, dengan penilaian, guru dapat mengetahui prestasi
yang dicapai oleh siswa setelah ia melaksanakan proses belajar.22

21

Moh. Uzer Usman, Menjadi Guru Profesional, h. 11

22

Moh. Uzer Usman, Menjadi Guru Profesional, h. 12

Sumber
Belajar
Evaluator

Fasilitator

PERAN
GURU

Organisator

Manager

Demonstrator

Motivator

Administrator

Bagan. 1
Peran Guru23
Pada dasarnya terdapat seperangkat tugas yang harus dilaksanakan
oleh guru berhubungan dengan profesinya sebagai pengajar. Tugas guru
ini sangat berkaitan dengan kompetensi profesionalnya. Secara garis besar,
tugas guru dapat ditinjau dari tugas-tugas yang langsung berhubungan
dengan tugas utamanya, yaitu menjadi pengelola dalam proses
pembelajaran

dan

tugas-tugas

lain

yang

tidak

secara

langsung

berhubungan dengan proses pembelajaran, tetapi akan menunjang
keberhasilannya menjadi guru yang andal dan dapat diteladani.
Menurut Uzer Usman yang dikutip oleh Hamzah B. Uno terdapat
tiga jenis tugas guru, yakni tugas dalam bidang profesi, tugas
kemanusiaan, dan tugas dalam bidang kemasyarakatan.24
23

Wina Sanjaya, Pembelajaran dalam Implementasi Kurikulum Berbasis Kompetensi,
( Jakarta: Kencana, 2008 ), Cet. Ke-3, h. 147

Tugas guru sebagai suatu profesi meliputi mendidik dalam arti
meneruskan

dan

mengembangkan

nilai

hidup.

Mengajar

berarti

meneruskan dan mengembangkan iptek, sedangkan melatih berarti
mengembangkan keterampilan pada peserta didik.
Tugas guru dalam bidang kemanusiaan meliputi bahwa guru di
sekolah harus dapat menjadi orang tua kedua, dapat memahami peserta
didik dengan tugas perkembangannya mulai dari sebagai makhluk bermain
(homoludens), sebagai makhluk remaja/berkarya (homopither), dan
sebagai makhluk berpikir/dewasa (homosapiens). Membantu peserta didik
dalam mentransformasikan dirinya sebagai upaya pembentukan sikap dan
membantu peserta dalam mengidentifikasikan diri peserta itu sendiri.
Tugas
memberikan

guru
ilmu

dalam

bidang

pengetahuan.

masyarakat

Ini

berarti

diharapkan
guru

dapat

berkewajiban

mencerdaskan bangsa Indonesia seutuhnya berdasarkan pancasila.
Secara umum tugas guru sebagai pengelola pembelajaran adalah
menyediakan dan menggunakan fasilitas kelas yang kondusif bagi
bermacam-macam kegiatan belajar mengajar agar mencapai hasil yang
baik. Lingkungan belajar yang kondusif adalah lingkungan yang bersifat
menantang dan meransang peserta untuk mau belajar, memberikan rasa
aman dan kepuasan dalam mencapai tujuan.
Secara khusus tugas guru sebagai pengelola proses pembelajaran
sebagai berikut:
a. Menilai kemajuan program pembelajaran
b. Mampu menyediakan kondisi yang memungkinkan peserta didik
belajar sambil bekerja ( learning by doing )
c. Mampu mengembangkan kemampuan peserta didik dalam
menggunakan alat-alat belajar
d. Mengkoordinasi, mengarahkan, dan memaksimalkan kegiatan kelas
e. Mengomunikasikan semua informasi dari dan/atau ke peserta didik
f. Membuat kaputusan instruksional dalam situasi tertentu
g. Bertindak sebagai manusia sumber
h. Membimbing pengalaman peserta didik sehari-hari
24

Hamzah B. Uno, Profesi Kependidikan; Problema, Solusi, dan Repormasi
Pendidikan di Indonesia, ( Jakarta: PT. Bumi Aksara, 2008 ), Cet. Ke-3, h. 20

i. Mengarahkan peserta didik agar mandiri (memberi kesempatan pada
peserta
didik
untuk
sedikit
demi
sedikit
mengurangi
ketergantungannya pada guru)
j. Mampu memimpin kegiatan belajar yang efektif dan efisien untuk
mencapai hasil yang optimal.25
Sedangkan menurut Roestiyah N. K bahwa guru dalam mendidik
anak didik bertugas untuk:
1) Menyerahkan kebudayaan kepada anak didik berupa kepandaian,
kecakapan, dan pengalaman-pengalaman
2) Membentuk kepribadian anak yang harmonis
3) Menyiapkan anak menjadi warga Negara yang baik sesuai Undangundang pendidikan yang merupakan keputusan MPR No. II Tahun
1983
4) Sebagai perantara dalam belajar
5) Guru adalah sebagai pembimbing, untuk membawa anak didik ke arah
kedewasaan
6) Guru sebagai penghubung antara sekolah dan masyarakat
7) Sebagai penegak disiplin
8) Guru sebagai administrator dan manajer
9) Pekerjaan guru sebagai profesi
10) Guru sebagai perencana kurikulum
11) Guru sebagai pemimpin
12) Guru sebagai sponsor dalam kegiatan anak-anak.26
Tugas dan peran guru tidaklah terbatas di dalam masyarakat,
bahkan guru pada hakikatnya merupakan komponen strategis yang
memilih peran yang penting dalam menentukan gerak maju kehidupan
bangsa. Bahkan keberadaan guru merupakan faktor condisio sine quanon
yang tidak mungkin digantikan oleh komponen mana pun dalam
kehidupan bangsa sejak dulu, terlebih-lebih pada era kontemporer ini.

3. Kompetensi Guru
Menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia, kata kompetensi berarti
kewenangan atau hak kekuasaan untuk menentukan dan memutuskan
25

Hamzah B. Uno, Profesi Kependidikan; Problema, Solusi, dan Repormasi
Pendidikan di Indonesia, h. 21-22
26

Roestiyah, N.K, Didaktik Metodik, ( Jakarta: Bumi Aksara, 1994 ), h. 32

sesuatu hal, dan secara kebahasaan mengandung arti (1) cakap mengetahui
pekerjaan atau persoalan, (2) berhak, berwenang menentukan sesuatu.27
Menurut pendapat W. Robert Houston yang dikutip oleh Roestiyah
N.K mengemukakan pengertian kompetensi sebagai berikut: “competence
ordinarily is defined as adequancy for a task or as possession of require
knowledge, skill and abilities”.28 Yang dapat diartikan sebagai suatu tugas
yang memadai atau memiliki pengetahuan, keterampilan dan kemampuan
yang dituntut pada jabatan seseorang.
Adapun menurut Broke and Stone (1975) sebagaimana yang telah
diterjemahkan oleh Moh. Uzer Usman menyatakan bahwa “Kompetensi
merupakan gambaran hakikat kualitatif dari perilaku guru yang tampak
sangat berarti”.29 Sedangkan menurut Zakiyah Darajat bahwa kompetensi
adalah kewenangan atau kecakapan untuk menentukan atau memutuskan
suatu hal.30
Menurut Moh. Uzer Usman mengungkapkan bahwa kompetensi
guru merupakan “Kemampuan dan kewenangan guru dalam melaksanakan
profesi keguruannya”.31 Artinya bahwa guru yang piawai dalam
melaksanakan profesinya dapat disebut guru yang kompeten dan
profesional.
Sesuai dengan yang diungkapkan oleh Saman. A, bahwa
“Seseorang dikatakan berkompeten dalam bidang tertentu apabila orang
tersebut menguasai kecakapan kerja atau keahlian sesuai dengan tuntutan

27

J. S. Badudu, et. Al., Kamus Umum Bahasa Indonesia, ( Jakarta: Pustaka Sinar
Harapan, 1994 ), Cet. Ke-5, h. 518
28

Roestiyah, N.K, Masalah-masalah Ilmu Keguruan, ( Jakarta: PT. Bina Aksara,
1989), Cet. Ke-3, h. 4
29

Moh. Uzer Usman, Menjadi Guru Profesional, h. 14

30

Zakiyah Darajat, Pendidikan Islam Dalam Keluarga dan Sekolah, ( Jakarta: Ruhama,
1995 ), Cet. Ke-2, h. 95
31

Moh. Uzer Usman, Menjadi Guru Profesional, h. 14

bidang yang bersangkutan, dengan demikian ia mempunyai kewenangan
dalam pelayanan sosial”.32
Menurut Barlow (1985) yang dikutip dan diartikan oleh Muhibbin
Syah menyatakan bahwa “Kompetensi guru merupakan kemampuan
seorang guru dalam melaksanakan kewajiban-kewajibannya secara
bertanggung jawab dan layak”.33
Dari beberapa pendapat yang dikemukakan oleh para ahli, maka
dapat disimpulkan bahwa kompetensi guru merupakan kecakapan atau
kemampuan dasar yang harus dimiliki setiap guru dalam melaksanakan
tugas dan kewajibannya secara baik dan bertanggung jawab sehingga
kegiatan belajar mengajar dapat terlaksana dengan efektif dan efisien.
Kompetensi yang dimiliki oleh setiap guru akan menunjukkan
kualitas guru dalam mengajar. Kompetensi tersebut akan terwujud dalam
bentuk penguasaan pengetahuan dan profesional dalam menjalankan
fungsinya sebagai guru. Artinya guru bukan saja harus pintar, tetapi juga
harus pandai mentransfer ilmunya kepada peserta didik.
Adapun menurut Muhibbin Syah yang dikutip oleh Pupuh
Fathurrohman dan M. Sobri Sutikno mengklasifikasikan ada sepuluh
kompetensi dasar yang harus dimiliki guru dalam upaya peningkatan
keberhasilan belajar mengajar yaitu:
1. Menguasai bahan, yang meliputi:
a) Menguasai bahan bidang studi dalam kurikulum sekolah
b) Menguasai bahan pendalaman/aplikasi bidang studi
2. Mengelola program belajar mengajar, yang meliputi:
a) Merumuskan tujuan instruksional
b) Mengenal dan dapat menggunakan metode mengajar
c) Memilih dan menyusun prosedur instruksional yang tepat
d) Melaksanakan program belajar mengajar
e) Mengenal kemampuan (entry behavior) anak didik
f) Merencanakan dan melaksanakan pengajaran remedial
3. Mengelola kelas, meliputi:
32

Saman. A, Profesionalisme Keguruan, ( Yogyakarta: Kanisius, 1994 ), Cet. Ke-1,

33

Muhibbin Syah, Psikologi Pendidikan dengan Pendekatan Baru, h. 229

h. 94

a) Mengatur tata ruang kelas untuk pengajaran
b) Menciptakan iklim belajar mengajar yang serasi
4. Menggunakan media atau sumber belajar, yang meliputi:
a) Mengenal, memilih dan menggunakan media
b) Membuat alat-alat bantu pelajaran sederhana
c) Menggunakan dan mengelola laboratorium dalam rangka proses
belajar mengajar
d) Mengembangkan laboratorium
e) Menggunakan perpustakaan dalam proses belajar mengajar
f) Menggunakan micro-teaching unit dalam program pengalaman
lapangan
5. Mengusai landasan-landasan kependidikan
6. Mengelola interaksi belajar mengajar
7. Menilai prestasi siswa untuk pendidikan dan pengajaran
8. Mengenal fungsi dan program pelayanan bimbingan dan penyuluhan,
meliputi:
a) Mengenal fungsi dan program pelayanan bimbingan konseling di
sekolah
b) Menyelenggarakan program layanan dan bimbingan di sekolah
9. Mengenal dan menyelenggarakan administrasi sekolah, meliputi:
a) Mengenal penyelenggaraan administrasi sekolah
b) Menyelenggarakan administrasi sekolah
10. Memahami prinsip-prinsip dan menafsirkan hasil-hasil pendidikan
guna keperluan pengajaran.34
Menurut Moh. Uzer Usman mengemukakan bahwa kompetensi
dapat dibagi menjadi beberapa jenis, yaitu:
1. Kompetensi pribadi, yaitu meliputi:
a. Mengembangkan kepribadian
1) Bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa
2) Berperan dalam masyarakat sebagai warga negara yang berjiwa
pancasila
3) Mengembangkan sifat-sifat terpuji yang dipersyaratkan sebagai
guru
b. Berinteraksi dan berkomunikasi
1) Berinteraksi dengan teman sejawat untuk meningkatkan
kemampuan profesional
2) Berinteraksi dengan masyarakat dalam penunaian misi
pendidikan
c. Melaksanakan bimbingan dan penyuluhan
1) Membimbing siswa yang mengalami kesulitan belajar
2) Membimbing murid yang berkelainan dan berbakat khusus
34

Pupuh Fathurrohman & M. Sobri Sutikno, Strategi Belajar Mengajar: Strategi
Mewujudkan Pembelajaran Bermakna Melalui Penanaman Konsep Umum & Konsep Islam, h. 45

d. Melaksanakan administrasi sekolah
1) Mengenal pengadministrasian kegiatan sekolah
2) Melaksanakan kegiatan administrasi sekolah
e. Melaksanakan penelitian sederhana untuk keperluan pengajaran
1) Mengkaji konsep dasar penelitian ilmiah
2) Melaksanakan penelitian
2. Kompetensi profesional, yaitu meliputi:
a. Menguasai landasan kependidikan
1) Mengenal tujuan pendidikan untuk mencapai tujuan pendidikan
nasional
2) Mengenal fungsi sekolah dalam masyarakat
3) Mengenal prinsip-prinsip psikologi pendidikan yang dapat
dimanfaatkan dalam proses belajar mengajar
b. Menguasai bahan pengajaran
1) Menguasai bahan pengajaran kurikulum pendidikan dasar dan
menengah
2) Menguasai bahan pengayaan
c. Menyusun program pengajaran
1) Menetapkan tujuan pembelajaran
2) Memilih dan mengembangkan bahan pembelajaran
3) Memilih dan mengembangkan strategi belajar mengajar
4) Memilih dan mengembangkan media pengajaran yang sesuai
5) Memilih dan memanfaatkan sumber belajar
d. Melaksanakan program pengajaran
1) Menciptakan iklim belajar mengajar yang tepat
2) Mengatur ruangan belajar
3) Mengelola interaksi belajar mengajar
e. Menilai hasil dan proses belajar mengajar yang telah dilaksanakan
1) Menilai prestasi murid untuk kepentingan pengajaran
2) Menilai proses belajar mengajar yang telah dilaksanakan.35
Demikian tentang tugas, peranan dan kompetensi guru yang
merupakan landasan dalam mengabdikan profesinya. Guru yang
profesional tidak hanya mengetahui, tetapi betul-betul melaksanakan apaapa yang menjadi tugas dan perannya.
Sedangkan menurut Nana Sudjana membagi kompetensi kedalam
tiga bidang, yaitu:
1) Kompetensi bidang kognitif
2) Kompetensi bidang sikap (afektif)

35

Moh. Uzer Usman, Menjadi Guru Profesional, h. 16-19

3) Kompetensi bidang perilaku (psikomotorik).36
Penjelasan mengenai tiga bidang kompetensi yang telah disebutkan
diatas adalah, sebagai berikut:
1) Kompetensi bidang kognitif
Kompetensi bidang kognitif yaitu kemampuan intelektual yang
dimiliki oleh guru. Seperti penguasaan mata pelajaran, pengetahuan
metode mengajar, pengetahuan mengenal belajar dan tingkah laku
individu,

pengetahuan

tentang

bimbingan

dan

penyuluhan,

pengetahuan tentang menilai hasil belajar siswa, pengetahuan tentang
masyarakat, serta pengetahuan umum lainnya.
2) Kompetensi bidang afektif
Kompetensi bidang sikap (afektif) yaitu kesediaan dan kesiapan guru
terhadap berbagai hal yang berkenaan dengan tugas profesinya.
Misalnya sikap mencintai dan memiliki perasaan senang terhadap mata
pelajaran yang dibinanya, sikap toleransi terhadap sesama teman
profesinya
3) Kompetensi bidang psikomotorik
Kompetensi bidang perilaku (psikomotorik) yaitu segala kemampuan
guru dalam berbagai keterampilan atau perilaku yang bersifat
jasmaniah yang pelaksanaannya berhubungan dengan tugasnya selaku
pendidik, seperti keterampilan mengajar, membimbing, menilai,
menggunakan media pengajaran, keterampilan komunikasi dan lainlain.
Berdasarkan penjelasan di atas, sudah tentu ketiga bidang
kompetensi tersebut tidak dapat berdiri sendiri, saling berhubungan dan
saling mempengaruhi satu sama lain.
Sedangkan secara yuridis pemerintah menetapkan Undang-undang
tentang pendidikan, dalam Undang-undang Republik Indonesia Nomor 14
Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen dalam Bab IV Pasal 8 bagian kesatu
36

Nana Sudjana, Dasar-dasar Proses Belajar Mengajar, ( Bandung: Algesindo, 2002),
Cet. Ke-6, h. 18

mengenai kualifikasi, kompetensi, dan sertifikasi yang berbunyi: “guru
wajib memiliki kualifikasi akademik, kompetensi, sertifikasi pendidikan,
sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan
tujuan pendidikan nasional.37 Adapun kompetensi yang harus dimiliki oleh
guru sebagaimana dimaksud dalam pasal 8 tersebut diperjelas lagi pada
pasal 10 ayat 1 yaitu meliputi kompetensi pedagogik, kompetensi
kepribadian, kompetensi profesional, kompetensi sosial yang diperoleh
melalui pendidikan profesi.
Selanjutnya dalam Peraturan Pemerintah tentang Standar Nasional
Pendidikan Bab VI pasal 28 ayat (1) dan (3) tentang Standar Nasional
Pendidik dan Tenaga Kependidikan. Ayat (1) bahwa pendidik harus
memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran,
sehat jasmani dan rohani, serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan
tujuan pendidikan nasional. Ayat (3) menyatakan bahwa kompetensi
sebagai agen pembelajaran pada jenjang pendidikan dasar dan menengah
serta pendidikan anak usia dini meliputi kompetensi pedagogik,
kompetensi kepribadian, kompetensi profesional, kompetensi sosial.38
Penjelasan

mengenai

kompetensi-kompetensi

yang

telah

disebutkan undang-undang di atas adalah sebagai berikut:
a. Yang dimaksud dengan kompetensi pedagogik adalah kemampuan
mengelola pembelajaran peserta didik yang meliputi pemahaman
terhadap peserta didik, perencanaan dan pelaksanaan pembelajaran,
evaluasi hasil belajar, dan pengemabangan peserta didik untuk
mengaktualisasikan berbagai potensi yang dimilikinya.

37

Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Departemen Agama RI. 2006, Undang-undang
dan Peraturan Pemerintah RI tentang Pendidikan, h. 88
38

Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Departemen Agama RI. 2006, Undang-undang
dan Peraturan Pemerintah RI tentang Pendidikan, h. 168

b. Yang dimaksud dengan kompetensi kepribadian adalah kemampuan
kepribadian yang mantap, stabil, dewasa, arif, dan berwibawa, menjadi
teladan bagi peserta didik, dan berakhlak mulia.39
Kompetensi kepribadian secara nyata diungkapkan dalam
bentuk sikap kedewasaan, disiplin, dinamis, terbuka, fleksibel,
bertanggungjawab dan lain-lain. Disamping itu kompetensi personal
juga menunjukan pada kemampuan dasar guru untuk dapat
mentransformasikan nilai-nilai yang ada pada dirinya kepada peserta
didik.
Adapun kompetensi pribadi, antara lain sebagai berikut:
1)
2)
3)
4)
5)
6)

Bersikap terbuka terhadap hal-hal yang baru
Peka terhadap perkembangan anak
Penuh pengertian
Mempunyai sikap toleransi
Mempunyai kreatifitas tinggi
Bersikap ingin tahu.40

c. Yang dimaksud dengan kompetensi profesional adalah kemampuan
penguasaan materi pembelajaran secara luas dan mendalam yang
memungkinkannya membimbing peserta didik memenuhi standar
kompetensi yang ditetapkan dalam Standar Nasional Pendidikan.41
Kompetensi profesional merupakan kemampuan dasar yang
berkaitan langsung dengan jabatan pekerjaan seseorang. Istilah
profesional berasal dari bahasa inggris yaitu “profession” yang
mengandung arti pekerjaan yang membutuhkan keahlian khusus yang
diperoleh melalui pendidikan atau latihan. Secara umum istilah profesi
diartikan sebagai “suatu bidang pekerjaan yang dilandasi keahlian”.

39

Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Departemen Agama RI. 2006, Undang-undang
dan Peraturan Pemerintah RI tentang Pendidikan, h. 230
40

Oteng Sutisna, Administrasi Pendidikan Dasar teoritis untuk praktek Profesional,
( Bandung: PT. Angkasa, 1985 ), h. 61
41

Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Departemen Agama RI. 2006, Undang-undang
dan Peraturan Pemerintah RI tentang Pendidikan, h. 230

Oteng Sutisna mengemukakan bahwa persyaratan profesional
atau pendidikan antara lain:
1)
2)
3)
4)

Sudah berpengalaman mengajar
Menguasai berbagai teknik dan model belajar mengajar
Bijaksana dan kreatif mencari berbagai akal atau cara
Mempunyai kemampuan mengelola kegiatan belajar secara
individual kelompok disamping secra klasikal
5) Mengutamakan standar prestasi yang tinggi dalam stiap
kesempatan
6) Menguasai berbagai teknik dan model penilaian.42
d. Yang dimaksud dengan kompetensi sosial adalah kemampuan pendidik
sebagai dari masyarakat untuk berkomunikasi dan bergaul secara
efektif dengan peserta didik, sesama pendidik, tenaga kependidikan,
orangtua/wali peserta didik, dan masyarakat sekitar.43
Seorang guru tidak hanya bertanggungjawab di dalam kelas,
tetapi juga harus mewarnai perkembangan anak didik di luar kelas.
Bukanlah seorang yang berdiri di depan kelas untuk menyampaikan
materi pengetahuan tertentu tetapi juga anggota masyarakat yang harus
ikut aktif dan berjiwa bebas serta kreatif dalam mengarahkan
perkembangan anak didik untuk menjadi anggota masyarakat sebagai
orang dewasa.
Dalam kehidupan sosial guru juga merupakan figur sentral
yang menjadi ukuran bagi masyarakat untuk mengambil keteladannya.
Hal ini menuntut guru untuk berperan serta profesional dalam
masyarakat akan menjadi tuntutan bagi anak didik.
Adapun persyaratan hubungan sosial antara lain:
1) Suka dan pandai bergaul dengan anak-anak
2) Dapat menyesuaikan diri

42

Oteng Sutisna, Administrasi Pendidikan Dasar teoritis untuk praktek Profesional, h.

61
43

Direktorat Jenderal Pendidikan Islam Departemen Agama RI. 2006, Undang-undang
dan Peraturan Pemerintah RI tentang Pendidikan, h. 230

3) Mudah bergaul dan memahami dengan cepat tingkah laku orang
lain.44
Berdasarkan yang dikemukakan di atas dapat disimpulkan bahwa
pada prinsipnya guru difungsikan sebagai subyek yang membimbing dan
memberi pelajaran dalam proses kegiatan belajar mengajar perlu
memenuhi kriteria tertentu diantaranya kompetensi dan profesionalitas.
Oleh karena itu, guru tidak saja mendidik fungsi sebagai orang dewasa
yang bertugas secara profesional memindahkan ilmu pengetahuan
( transfer of knowledge ) atau penyalur ilmu pengetahuan ( transmitter of
knowledge ) yang dikuasai kepada anak didik, melaikan lebih dari itu, ia
menjadi pemimpin, pendidik, dan pembimbing di kalangan anak didiknya.
Demikian kompetensi dasar yang harus dimiliki oleh seorang guru
dan juga

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

64 1374 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

23 370 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

24 327 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

6 210 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

18 306 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

27 408 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

21 374 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

8 226 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

13 378 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

21 430 23