Masa Perkembangan Keterampilan Anak Anak

Masa Perkembangan Keterampilan Anak, Materi Belajar Menari dan
Konsep-Konsep Koreografi.
Masa perkembangan kemampuan anak dalam belajar menari: Anak didik sebagai sasaran
utama dalam proses pelaksanaan pendidikan drama tari, unsur yang ada pada siswa haruslah
dipergunakan sebagai bahan yang mendasari kegiatan pendidikan drama tari. Untuk
memahami karakteristik gerak siswa SD, kita harus memahami tingkat perkembangan siswa
SD menurut tingkat usianya.
Secara umum sifat siswa SD antara lain :
1. Mempunyai sifat patuh terhadap peraturan
2. Kecenderungan untuk memuji diri sendiri
3. Suka membandingkan diri dengan orang lain
4. Jika tidak dapat menyelesaikan tugas maka tugas tersebut dianggap tidak penting
5. Realistis dan rasa ingin tahu yang besar
6. Kecenderungan melakukan kegiatan yang praktis dan nyata.
Ciri / karakteristik gerak anak :
1. Menirukan Apabila ditunjukkan kepada anak didik suatu action yang dapat diamati
(observable) maka ia akan membuat tiruan itu pada sampai tingkat otot-ototnya dan dituntun
oleh dorongan kata hati untuk menirukannya.
2. Manipulasi Pada tingkat ini anak menampilkan suatu action seperti diajarkan dan tidak
hanya seperti yang diamati. Anak mulai dapat membedakan antara satu set action dengan
yang lain, menjadi mampu memilih action yang diperlukan dan mulai memiliki ketrampilan
dalam manipulasi implementasi.
3. Kesaksamaan atau precision Kemampuan anak didik dalam penampilan yang telah sampai
pada tingkat perbaikan yang lebih tinggi dan memproduksi suatu kegiatan tertentu.
4. Articulation Anak didik telah dapat mengkoordinasi serentetan action dengan menetapkan
urutan atau sikuen tepat diantara action yang berbeda-beda.
5. Naturalisasi Tingkat terakhir dari kemampuan psikomotorik adalah apabila anak telah
mengalami satu action atau sejumlah action yang urut ketrampilan penampilan ini telah
sampai pada kemampuan yang paling tinggi dan action tersebut ditampilkan dengan
pengeluaran energy yang minimum.
( sunaryo : 1984) Dibawah ini tingkat perkembangan siswa SD menurut tingkat usianya:
1. Usia bermain Pada usia 4 – 6 tahun, anak masuk dalam kelompok bermain, maka
kemampuan dalam menyerap materi tari juga masih juga bersifat bermain-main, belum dapat
berlatih secara serius dan bersungguh-sungguh. Maka syarat materinya harus sederhana,
praktis dan dinamis. Sederhana maksudnya adalah materi tari diambil dari gerak-gerak yang
biasa dilakukan anak-anak sehari-hari, seperti bertepuk tangan, melonjak-lonjak, merangkak,
berjalan, berlari, melambaikan tangan, mengangguk-angguk, berguling-guling dan
sebagainya. Praktis maksudnya adalah materi tari dipilih dari gerak-gerak yang mudah (tidak
rumit, tidak sulit), murah (tidak perlu mengeluarkan biaya kursus/latihan tersendiri), aman
(tidak beresiko bahaya), umum (bisa dilakukan oleh siapa saja, tua, muda, laki-laki,
perempuan), fleksibel (pantas dilakukan dimana saja, kapan saja, sopan/tidak mengandung
resiko etika). Dinamis, artinya gerak-gerak yang disusun harus bervariasi, tidak
membosankan, karena pada usia bermain anak belum bisa peka terhadap irama dengan ritmeritme yang sulit, iringan tarinya biasanya monoton, maka geraknya dipilih yang berubah-ubah
(meskipun berangkat dari pengulangan tetapi ditata dengan penambahan atau perubahan arah,
sehingga tidak kentara pengulangannya).

2. Usia Transisi Usia transisi dalam belajar menari pada umumnya jatuh pada saat anak
berusia 7 hingga 9 tahun. Pada saat ini anak tidak lagi main-main dalam belajar menari.
Mereka sudah mulai bertanggungjawab dan bisa lebih berdisiplin atau tertib dalam berlatih
atau belajar. Kemampuan anak pada usia inipun sudah setingkat di atas anak usia bermain,
sudah dapat menghafal dan sudah mulai peka terhadap musik iringan tari. Oleh karena itu
syarat materi tari untuk anak usia transisi ini sudah boleh mengabaikan kesederhanaan, tetapi
syarat praktis dan dinamis masih harus diperhatikan, dan muncul satu syarat lagi yaitu ritmis.
Artinya materi tari sudah dituntut adanya permainan ritme atau tehnik ritmika tertentu, baik
ritmik gerak maupun ritme irama musik pengiring tarinya.
3. Usia belajar Anak berusia 10 hingga 12 tahun masuk ke dalam kelompok usia belajar.
Pada kelompok ini anak-anak sudah mampu menghafal, sudah peka terhadap iringan tari,
juga sudah dapat membentuk diri/tubuhnya dengan sadar (dapat merasakan dan menjiwai)
tentang keindahan gerak yang dibawakannya. Dengan kemampuan mereka ini, syarat materi
tarinya haruslah ditambahkan syarat estetis, yaitu syarat materi tari dengan tehnik
keindahannya. Syarat ini ditambahkan setelah syarat praktis, dinamis, dan ritmis telah
terpenuhi. Dengan ditambahkannya syarat estetis pada materi tari bagi kelompok usia belajar
ini maka kebutuhan akan ekspresi anak dapat terpenuhi karena dilayani dalam latihan yang
merangsang pertumbuhan kemampuan ekspresinya. Untuk selanjutnya, hanya akan dibahas
pembelajaran menari pada usia bermain saja. Pembelajaran menari pada usia bermain
Mengingat anak usia 4-6 tahun temperamennya masih polos dan apa adanya, guru
mempersiapkan banyak hal untuk dapat berhasil dalam proses pembelajaran dengan
memuaskan.
1. Persiapan mental guru.
a. Yakin mampu: artinya guru harus yakin dan percaya diri bahwa guru pasti bisa
mempengaruhi anak-anak belajar menari mengikuti semua ajakan guru dengan semua
kemampuan yang dimiliki oleh guru.
b. Kreatif: artinya guru dapat/ mampu menciptakan sendiri gerakan-gerakan sederhana tetapi
praktis dan dinamis untuk diperagakan oleh anak-anak. Tidak hanya menjiplak karya tari
orang lain.
c. Inovatif: artinya guru dapat mencari sesuatu (ide, gagasan, model, gaya) yang baru, yang
belum pernah dimunculkan orang sebelumnya. Hal-hal semacam ini seringkali berhasil minat
anak karena anehnya, lucunya atau ingin ikut merasakan pengalaman baru itu.
d. Variatif: artinya guru mampu mengeksplorasi gerak-gerak musik iringan tari, atau gayagaya yang lain lagi asalkan kelihatan bermacam-macam, banyak ragam (beraneka), ini dapat
mengatasi kebosanan anak. Guru dapat membuat variasi dengan arah hadap atau level yang
berbeda misalnya, sehingga terjadi pengalaman yang berlainan.
e. Motivatif: artinya guru harus dapat mendorong semangat anak agar mau berpartisipasi
secara suka rela, atas kemauannya sendiri, tidak terpaksa, tidak karena pertimbangan lain
kecuali keinginan untuk ikut serta dalam kegiatan menari dan bergembira bersama temantemannya yang lain. Ini juga merangsang ekspresi anak.
f. Simpatik: guru dapat menarik perhatian anak, baik dari peringai guru, sikap, cara berbusana
(dengan bau/aroma mewangi/harum/segar tubuh guru), atau hal-hal kecil lainnya yang
menarik perhatian anak, sehingga guru dapat leluasa mengajak/mempengaruhi anak untuk
berbuat sesuatu sesuai dengan tujuan belajar menari, terutama dalam hal merangsang
kebersamaan, kesetiakawanan dan kedisiplinan anak.
g. Improvisatif: artinya guru dapat mengangkat kejadian-kejadian atau perilaku-perilaku anak
yang muncul tiba-tiba atau sewaktu-waktu sebagai bahan atau sesuatu yang bisa dijadikan
materi atau pengalaman yang dapat dipelajari. Diangkat, dibahas, didiskusikan, dicari jalan
penyelesaiannya dan diperoleh suatu pengalaman lagi.

2. Persiapan fisik pembelajaran Pembelajaran tari meliputi pembelajaran jasmani dan
pembelajaran seni. Sangat berbeda dengan bidang studi yang lain. Oleh karena itu, guru perlu
mempersiapkan hal-hal sebagai berikut:
a. Materi Materi tari harus dipilih sesuai dengan syarat materi untuk usia bermain (sederhana,
praktis dan dinamis), dan sesuai dengan tujuan pembelajaran.
b. Media Guru juga dapat mempersiapkan media belajar yang dipergunakan untuk menarik
perhatian anak ke arah/sasaran tema yang diharapkan oleh tujuan belajar.
c. Metode Artinya guru perlu memakai metode yang beraneka secara serasi, proporsional dan
dapat mendukung proses belajar yang menyenangkan.
d. Fasilitas Guru harus bisa memfasilitasi ataupun menjadi fasilitator bagi pembelajaran tari,
bukan sebaliknya guru malah menuntut sarana/prasarana yang tidak mungkin dikabulkan oleh
pihak sekolah.
e. Organisasi pembelajaran Untuk mengatasi kemungkinan tempat, waktu, dan tenaga yang
terbatas, dengan jumlah anak yang cukup besar, maka guru perlu mengorganisasi
pembelajaran menari.
f. Fleksibel Sebaiknya guru dapat mengelola kelas menari secara fleksibel, yang dimaksud
adalah bahwa guru tidak perlu terlalu mencermati pelaksanaan kegiatan belajar secara mutlak
pada satuan acara atau skenario pembelajaran hingga tampak kaku, tetapi fleksibel saja,
apabila ada kemungkinan munculnya improvisasi belajar, atau kondisi-kondisi mendadak
yang lain, maka acara dapat disesuaikan sebagaimana mestinya, asalkan anak-anak tidak
merasa terpaksa atau terkejut.
3. Prinsip-prinsip pembelajaran tari anak
a. Atur/kendalikan emosi Guru harus benar-benar mengendalikan emosinya sendiri, sekaligus
emosi atas sebab akibat perilaku anak. Hal ini untuk mengatasi ketakutan anak.
b. Ajakan/informasi jelas Informasi atau ajakan yang diberikan oleh guru harus jelas, kalimat
harus jelas, bahasa yang komunikatif, tatap mata yang terarah, jelas dan rata (semua anak
merasa ditatap dengan akrab, tidak ada yang terlewati yang membuat anak merasa tidak
diperhatikan).
c. Demonstrasi menarik Guru harus bisa demonstrasi memperagakan materi belajar menari
saat proses pembelajaran berlangsung secara total dan ekspresif, tidak terhambat oleh
perasaan tertentu.
d. Penguatan Memberikan pujian penyemangat secara adil dan progresif untuk memotivasi
anak.
4. Beberapa kemungkinan kondisi anak dalam belajar menari
Pemilihan materi belajar menari berdasarkan 3 kelompok tujuan.
1. Tujuan Pembinaan Harian Artinya adalah pembelajaran tari dilaksanakan untuk kegiatan
harian (per-pertemuan). Kegiatan ini dilaksanakan karena anak-anak perlu rutinitas yang
menggembirakan, membuat mereka bersemangat, bebas berskspresi. Apabila kegiatan ini
dilaksanakan sebaik-baiknya maka anak akan berperilaku secara total yang memungkinkan
terjadinya dampak posistif pada anak, seperti badan menjadi segar, berkeringat dan sehat,
atau tersenyum-senyum puas karena kebutuhan jiwanya terpenuhi. Pembelajaran tari yang
dilaksanakan dengan tujuan pembinaan harian, meliputi latihan-latihan sebagai berikut: a.
Latihan Motorik Corbin dalam buku Model Pengembangan Ketrampilan Motorik Anak Usia
Dini mendefinisikan pengertian perkembangan motorik sebagai perubahan kemampuan gerak
dari bayi sampai dewasa yang melibatkan berbagai aspek perilaku dan kemampuan gerak
(Sumantri, 2005: 48). Dalam mengembangkan kemampuan gerak anak, anak dilatih untuk
mengenali anatomi tubuhnya. Misalkan, melatih kakinya untuk berjalan maju atau mundur,

mengenal sebelah kiri dan kanan tubuhnya, bergerak memutar dan sebagainya.
b. Latihan Imajinasi Maksudnya adalah anak-anak diajak berimajinasi atau membayangkan
berbagai perilaku binatang, berbagai permainan, suasana alam dan sebagainya. Ini berarti
bahwa kegiatan menari dapat merangsang juga daya pikir dan fantasi anak. Hal ini sesuai
dengan pernyataan Sal Murgiyanto bahwa tari harus mampu merangsang pengembangan
imajinasi dan memberikan kebebasan bagi anak-anak untuk menemukan sesuatu
(Murgiyanto, 1993).
c. Latihan Mental Dalam pembelajaran tari untuk tujuan pembinaan harian ini anak-anak
dilatih mental dan spiritualnya. Bagaimana mereka belajar tertib melakukan urutan gerakan
yang sudah disepakati, belajar bergerak bersama-sama temannya, belajar menari dengan
berekspresi (tersenyum, bersedih, dsb), dan semuanya dilakukan dengan sadar dan senang
hati. Dari latihan-latihan dapat kita lihat adanya pembelajaran sikap bertanggungjawab,
disiplin, dan rasa seni yang terpancar dari jiwa anak-anak.
d. Pemupukan Minat dan Bakat (Kemampuan) Dengan adanya latihan tari ini, kita dapat
mengukur tingkat respon anak, sensifitas anak hingga minat anak. Biasanya dapat kita lihat
pada raut muka, tatap mata dan perilaku anak saat latihan ini berlangsung. Akan tetapi
penelitian ini akan memerlukan waktu tertentu karena ekspresi anak bersifat temporal, tak
menentu, tergantung pada kondisi emosionalnya.
2. Tujuan pentas Insidental Maksudnya adalah pembelajaran tari dilaksanakan untuk
mempersiapkan anak-anak dalam mengikuti dan memeriahkan acara tertentu. Pada tujuan ini,
materi pembelajaran sebaiknya menyesuaikan pada tema acara insidentalnya. Pemilihan anak
adalah berdasarkan minat dan bukan berdasarkan pada kualitas koreografinya. Untuk durasi
pertunjukan disesuaikan dengan kebutuhan acara pertunjukan, tetapi perlu diingat akan
kualitas pertunjukan itu sendiri (membosankan atau tidak). Sehingga harus diatur sedemikian
rupa agar pertunjukan tersebut tetap menarik atau berkualitas. Rias dan busana disesuaikan
dengan tema pertunjukan dengan tidak mengesampingkan kondisi keuangan yang ada. Akan
lebih baik jika guru mendayagunakan seoptimal mungkin benda-benda inventaris sekolah.
Yang perlu dicermati dalam persiapan pentas ini adalah tentang pendanaan. Guru perlu
meninjau dengan teliti kondisi, situasi dan kebutuhan acara sehingga pementasan akan sesuai
dengan tujuan kegiatan atau acara dan tentu saja tidak menjadi beban dari sekolah.
3. Tujuan Kompetisi/Evaluasi Maksudnya adalah pemilihan materi pembelajaran tari
dilakukan dengan pertimbangan nilai-nilai tertentu mengingat adanya persaingan dari
kelompok-kelompok yang lain. Kualitas kelompok hanya akan terbangun oleh adanya
dukungan anak-anak yang aktif, kuat, dalam kualitas gerak, pribadinya tegar, disiplin,
berpikir cepat, berkemampuan fisik maupun psikis (bakat), serta berpotensi ekspresif maupun
improvisatif. Materi yang dipilih adalah materi yang memungkinkan adanya semua dukungan
agar tidak terjadi tekanan pada anak.
Ada tiga bentuk penyajian lomba-lomba kesenian jasmani yang perlu diketahui
perbedaannya:
1. Lomba tari Unsur penilaiannya diutamakan pada gerak dan koreografinya.
2. Lomba Senam Irama Unsur penilaiannya adalah unsur olahraga dan seni, dan mencakup
tiga bagian: pemanasan, inti dan pendinginan. Gerak utamanya adalah gerakan olah raga
(melatih kekuatan otot-otot tubuh) dengan diberi sedikit sentuhan estetika.
3. Lomba Gerak dan Lagu Unsur penilaiannya adalah pada gerak dan lagu yang dilakukan
oleh anak. Wujud kegiatannya adalah menyanyi sambil menari. Gerak biasanya bukan
merupakan presentasi dari lagu, sehingga gerak tidak dibuat dengan beban estetis yang terlalu
tinggi yang akan mengganggu kualitas suara anak tersebut.

Konsep-konsep Koreografi Koreografi disebut juga sebagai komposisi tari merupakan seni
membuat/merancang struktur ataupun alur sehingga menjadi suatu pola gerakan-gerakan.
Istilah komposisi tari bisa juga berarti navigasi atau koneksi atas struktur pergerakan. Hasil
atas suatu pola gerakan terstruktur itu disebut pula sebagai koreografi. Orang yang
merancang koreografi disebut sebagai koreografer. Istilah koreografi pertama dikenal dalam
kamus bahasa Inggris Amerika seputar tahun 1950-an. Sebelum istilah ini muncul, penamaan
yang umum digunakan di film-film menyebutkannya sebagai "Ensembel pementasan oleh",
"Tarian", "Pengarah Tari", "Pementasan tarian oleh", "Musical Numbers Directed by", atau
"Musical Numbers Staged and Directed by".
Koreografer seringkali melakukan improvisasi untuk mencari hal-hal (gerakan maupun
aksesori) yang paling sesuai dengan musik yang dimainkan. Meskipun biasanya digunakan di
bidang seni tari, koreografi juga digunakan dalam berbagai bidang lain seperti: •Aksi tarung
di panggung •Gimnastik •Ski •Pemandu sorak •Marching band •Opera Dan banyak aktivitas
lain yang melibatkan aksi pergerakan manusia juga memanfaatkan koreografi. Berdasarkan
pengalaman stimulus tingkatan perkembangan yang ada selanjutnya dijadikan orientasi
garapan dan memunculkan ide sehingga gambaran konsep (hasil pengalaman masa lalu,
pengalaman yang ada, ide kreatif) ke dalamannya dikaji secara benar sehingga maksud tari
yang dibuat jelas dan konstruktif. Selanjutnya, berdasarkan pemetaan konsep dan ide garapan
yang sudah dimatangkan disinkronisasikan ke dalam pemetaan lanjut dengan cara
memperhatikan beberapa hal dibawah ini sebagai berikut: • Gagasan dasar dan latar
belakang/tema tari sehingga tujuan yang digarap jelas. • Mengerti tentang keadaan,
kebutuhan, penonton/lapangan kerja, • Gagasan dibuat artistik, orisionalitas, terutama dapat
menimbulkan tanggapan emosional dan membangkitkan rasa, • Mempertimbangkan isi gerak,
ruang, waktu, tenaga dan elemen komposisi • Mempertimbangkan pola garapan sebagai seni
pertunjukan, • Mempertimbangkan koreografi Tunggal atau Kelompok.
Dalam menata tari, sangat banyak istilah yang perlu diketahui. Diantaranya yang sering kita
dengar adalah: a)Eksplorasi Proses pencarian, termasuk berpikir, berimajinasi, merasakan dan
merespon. Di dalam koreografi, proses eksplorasi biasanya digunakan untuk menyebut
kegiatan pencarian gerak.
b)Improvisasi Ditandai dengan adanya spontanitas. Gerakan yang dihasilkan mengalir begitu
saja terjadi dengan mudah, dan setiap gerakan baru dapat menimbulkan gerakan lain yang
dapat memperluas dan mengembangkan pengalaman. Gerakan yang dihasilkan dari
improvisasi biasanya tidak dapat diulang kembali.
c)Komposisi Proses pemilihan, pengintegrasian, serta penyatuan dari gerak-gerak yang telah
dihasilkan menjadi sebuah bentuk. Kesatuan yang terbentuk ini disebut tari.
d)Forming (Pembentukan) Membuat komposisi berarti kalian menata bagian-bagian yang
saling berhubungan menjadi bentuk kesatuan yang utuh. Kemampuan dalam merangkai gerak
tari ke dalam satu komposisi tidak dapat dipisahkan dengan kreativitas yan melalui tahapan
seperti improvisasi dan eksplorasi, yang kemudian dipadukan dengan unsur-unsur yang
terkait dengan pengetahuan tari dan artistic srta tingkah laku kreativitas maupun
perkembangannya dan mempunyai tujuan. Menyusun atau mengkomposisi tari, memerlukan
penekanan unsur tari dengan desain, irama, motivasi, ide. Dengan demikian unsur materi
komposisi perlu dihayati dan dimengerti, metode penyusunan dan pengkombinasian berbagai
unsur harus dipelajari dan dipraktekan. Sebagaimana yang sering dijabarkan bahwa materi
dasar tari adalah gerak, maka belajar menari adalah belajar menguasai keterampilan
psikomotorik dengan mengaitkan serta mengkoordinasikan gerakan-gerakan dari anggota
tubuh. Dengan demikian pembelajaran gerak tari harus disesuaikan dengan kemampuan
motorik siswa, yang bergantung pada kematangan otot.

e)Koreografi Lingkungan Hakekat seni sesungguhnya adalah memanusiakan manusia.
Koreografi sebagai salah satu bidang seni, tentunya tidak bisa dilepaskan dari keberadaan
manusia. Artinya adalah, proses penciptaan tari harus dikembalikan kepada fungsinya bagi
manusita itu sendiri. Sebuah karya koreografi adalah sebuah produk ciptaan manusia yang
digunakan untuk berinteraksi baik dalam hubungannya dengan Tuhannya, dengan alam
sekitar, dan manusia lainnya. Jadi sebuah keprihatinan apabila sebuah karya koreografi hanya
berfungsi sebagai tontonan semata dan mengabaikan hakekatnya seperti yang kita dapati
dalam berbagai pertunjukan. Berdasarkan uraian di atas, muncul sebuah konsep baru di dalam
penciptaan seni pertunjukan. Konsep baru ini disebut dengan koreografi lingkungan.
Koreografi lingkungan adalah proses penciptaan tari yang menitikberatkan pada kepedulian
terhadap lingkungan, hasil akhirnya adalah sebuah karya seni yang dapat kita jadikan berisi
nilai-nilai tentang lingkungan yang dapat kita jadikan renungan dan penyadaran. Konsep ini
dikemukakan pertama kali oleh Prof. Sardono W. Kusumo, salah satu maestro tari Indonesia,
yang karya-karyanya diakui oleh dunia. Dan sekarang konsep ini banyak dipelajari, dipakai
dan dikembangkan oleh beberapa Perguruan Tinggi Seni di Indonesia. Materi yang diangkat
menjadi tema pada koreografi lingkungan ini bisa keindahan alam sebagai pendukung dari
nilai estetis karya koreografinya, ada yang berupa keprihatinan terhadap masalah-masalah
dan kerusakan yang terjadi di lingkungan, ada juga yang menitikberatkan pada nilai historis
dari sebuah tempat, atau juga ada yang berangkat dari adat turun-temurun di suatu tempat.
Salah satu contoh bentuk koreografi lingkungan adalah “Hutan Plastik” karya Sardono W.
Kusumo. Karya ini mengangkat isu tentang penggundulan hutan sekaligus juga isu tentang
serbuan barang-barang yang terbuat dari plastic di sekitar kita. Plastic adalah barang yang
tidak bias didaur ulang oleh alam. Sehingga melalui karya ini koreografer mengajak kita
untuk berpikir, membayangkan hutan yang gundul yang kemudian digantikan oleh tumpukan
plastik. Karya lainnya adalah “Tatto Totem Parangtritis” oleh Bernadhetta ‘Kinting’ Sri
hanjati. Koreografi ini mengangkat keindahan alam pantai Parangtritis untuk mengangkat
estetika tat arias dan busana juga body painting yang disajikan. Dipentaskan tanggal 27 & 28
Juni 2004 di pantai Parangtritis. Contoh yang lain adalah “Asmaradana Sendang Kasihan”
oleh Hendro Martono. Dipentaskan pada Sabtu (11/12) dan Minggu (12/12) pukul 19.30
WIB. Sendang kasihan adalah sebuah sumber mata air di Yogyakarta yang kini setiap harinya
digunakan untuk mandi, mencuci, dan berenang bagi masyarakat sekitarnya. Latar belakang
legenda sejarah sendang Kasihan merupakan awal gagasan menyusun koreografi ini.
Sehingga pertunjukannya adalah rekonstruksi Sekar Pembayun pada waktu melakukan tapa
kungkum di sendang Kasihan ini, lalu bersalin rupa menjadi penari ledhek (tayub). Gagasan
tersebut berkembang dan berinteraksi dengan keruangan dan ketubuhan yang telah
ditawarkan oleh sendang Kasihan. Melalui pendekatan koreografi lingkungan yang
memanfaatkan unsur-unsur alam sebagai penopang aspek estetitis. Diharapkan terjadi
simbiosis mutualisme antara sendang dengan koreografinya. Selain contoh di atas, masih
banyak contoh-contoh karya dengan konsep koreografi lingkungan. Singkatnya, dengan
menciptakan karya-karya koreografi lingkungan, maka kita akan melakukan sesuatu yang
berguna bagi diri kita sendiri, orang lain dan lingkungan kita
v

Dokumen yang terkait

Dokumen baru