Perancangan Buku Informasi Kesenian Khas Betawi

(1)

v ABSTRACT

DESIGN ART BOOK INFORMATION BETAWI

By:

Muhammad Fikri Imannuddin 51911013

Study Programme Visual Communication Design

Betawi is very rich with a variety of traditional art. Betawi art is born from the fusion of various ethnic and tribal elements. The existence of Betawi culture including traditional arts performances in various forms such as dance, music and so on. An exotic tourist asset. It is fitting develop as traditional arts and other ethnic groups. Betawi art also has its own characteristics, so easily remembered by the public. However, as the development of information and communication technology very rapidly, allowing the entry of new cultures from the outside that can affect traditional art especially Betawi art and cause problems for the preservation of Betawi art. in the design of the book contains information about a wide variety of typical Betawi art, created to help Jakarta government programs in an effort to preserve and introduce Betawi art.


(2)

iv ABSTRAK

PERANCANGAN BUKU INFORMASI KESENIAN KHAS BETAWI

Oleh:

Muhammad Fikri Imannuddin 51911013

Program Studi Desain Komunikasi Visual

Betawi sangat kaya dengan beragam kesenian tradisional. Kesenian betawi lahir dari perpaduan berbagai unsur etnis dan suku bangsa. Keberadaan budaya betawi termasuk kesenian tradisionalnya dalam beragam bentuk seperti pertunjukan seni tari, musik dan sebagainya. Merupakan aset wisata yang eksotik. Sudah sepatutnya berkembang sebagaimana kesenian tradisional dan etnis lainnya. Kesenian betawi juga mempunyai ciri khas tersendiri, sehingga mudah diingat oleh masyarakat. Namun, seiring perkembangan teknologi komunikasi dan informasi yang sangat pesat, memungkinkan masuknya kebudayaan-kebudayaan baru dari luar yang dapat mempengaruhi kesenian tradisional khusunya kesenian Betawi dan menimbulkan permasalahan bagi kelestarian kesenian Betawi. dalam perancangan buku informasi ini berisi tentang berbagai macam kesenian khas betawi, dibuat untuk membantu program pemerintah DKI Jakarta dalam upaya melestarikan dan memperkenalkan kesenian Betawi.


(3)

1 BAB I

PENDAHULUAN

1.1Latar Belakang Masalah

Indonesia adalah negara yang memiliki banyak pulau yang di kelilingi oleh lautan dan setiap daerah di Indonesia memiliki kesenian dan kebudayaan yang berbeda-beda. Keragaman budaya di Indonesia adalah sesuatu yang tidak dapat dipungkiri keberadaannya. Dalam konteks pemahaman masyarakat, selain kebudayaan kelompok suku bangsa, masyarakat Indonesia juga terdiri dari berbagai kebudayaan daerah bersifat kewilayahan yang merupakan pertemuan dari berbagai kebudayaan kelompok suku bangsa yang ada di daerah tersebut. Dengan keanekaragaman kebudayaannya Indonesia dapat dikatakan mempunyai keunggulan dibandingkan dengan negara lainnya. Indonesia mempunyai potret kebudayaan yang lengkap dan bervariasi. Dan tak kalah pentingnya, secara sosial budaya masyarakat Indonesia mempunyai jalinan sejarah dinamika interaksi antar kebudayaan yang dirangkai sejak dulu. Interaksi antar kebudayaan dijalin tidak hanya meliputi antar kelompok suku bangsa yang berbeda, namun juga meliputi antar peradaban yang ada di dunia.

Ondel-ondel, lenong Betawi, palang pintu, tari topeng betawi, gambang kromong, tanjidor, wayang betawi, keroncong tugu, rebana biang, tari cokek. yang merupakan kesenian khas betawi menjadi popular di tengah-tengah kesenian daerah lainnya yang juga berkembang di Jakarta. Tetapi setelah kota Jakarta berkembang pesat sebagai ibu kota negara dan seiring perkembangan teknologi komunikasi dan informasi yang sangat pesat, memungkinkan masuknya kebudayaan-kebudayaan baru dari luar yang dapat mempengaruhi kesenian tradisional khusunya kesenian Betawi dan menimbulkan permasalahan bagi kelestarian kesenian Betawi. Salah satu akibat adanya hambatan tersebut mengakibatkan satu persatu kesenian tradisional khususnya betawi mulai sulit di jumpai pementasannnya. Hanya beberapa kesenian saja yang masih mudah ditemui seperti ondel-ondel, lenong Betawi, palang pintu, tari topeng.


(4)

2 Dan sisanya seperti tari cokek, tanjidor, wayang betawi, keroncong tugu, rebana biang sudah jarang dipentaskan. Keadaan ini membuat masyarakat hanya mengenal kesenian betawi yang masih sering dipentaskan saja. minimnya pertunjukan dan sarana media informasi yang memperkenalkan kesenian betawi menyulitkan bagi pihak yang ingin mengenal dan mempelajari kesenian betawi. 1.2 Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah diatas, dapat di identifikasi permasalahan sebagai berikut:

 Kesenian Betawi memiliki ragam yang banyak.  Kesenian Betawi sebagian sudah sulit di jumpai.

 Kesenian Betawi yang bertahan hanya beberapa saja diantaranya Ondel-ondel, Lenong Betawi, Tari Topeng, Palang Pintu.

 Kesenian Betawi sudah jarang dipentaskan.  Informasi Kesenian Betawi sulit ditemukan.

1.3 Rumusan Masalah

Berdasarkan identifikasi masalah diatas, dapat dirumuskan permasalahan dengan:  Bagaimana menyampaikan informasi Kesenian Betawi?

1.4 Batasan Masalah

Agar penelitian lebih fokus dan tidak meluas dari pembahasan yang dimaksud, dalam laporan ini penulis membatasinya pada ruang lingkup penelitian sebagai berikut:

 Dibatasi pada pengenalan jenis-jenis kesenian Betawi seperti Ondel-ondel, Lenong Betawi, Palang Pintu, Tari Topeng Betawi, Gambang Kromong, Tanjidor, Wayang Betawi, Keroncong Tugu, Rebana Biang,Tari Cokek Betawi. alasan mengapa hanya 10 kesenian saja karena untuk mewakili setiap kesenian aliran seni (musik dan Tari-tarian).


(5)

3 1.5 Tujuan dan Manfaat Perancangan

 Tujuan perancangan untuk menyampaikan informasi kepada masyarakat umum tentang kesenian Betawi.

 Manfaat perancangan sebagai ilmu pengetahuan tentang kesenian budaya betawi.


(6)

4

BAB II

PERANCANGAN INFORMASI KESENIAN KHAS BETAWI

II.1 Definisi Kesenian

Seni adalah proses dari manusia, seni bisa dilihat dalam intisari ekspresi dari kreativitas manusia. Seni juga dapat diartikan dengan sesuatu yang diciptakan manusia yang mengandung unsur keindahan. Seni sangat sulit untuk dijelaskan dan juga sulit di nilai. Suatu nilai-nilai yang menentukan apa yang pantas dikirimkan dengan ekspresi untuk menyampaikan baik kepercayaan, gagasan, sensasi, atau perasaan dengan cara se-efektif mungkin. Seni mengungkapkan bermacam-macam parasaan, imajinasi, gambaran, khayalan, dorongan, naluri pikiran yang semuanya berpusat pada nilai estetis yang diungkapkan didalamnya. Seniman didorong oleh nilai keindahan. Keindahan bukan dalam arti dangkal, melainkan keindahan yang tercurahkan atas apa saja yang ada, maka seni mengungkapkan keluhuran dan keindahan manusia, kelucuan, keanehan, kegembiraan, dan kekejaman. (Harold Osborne, 1970 : h. 129).

II.2 Sejarah Kesenian Betawi

Jakarta memiliki banyak kesenian dan kebudayaan yang ada di dalamnya khususnya mereka yang asli berasal dari kota Jakarta atau suku betawi. Jakarta memang sebagai ibu kota dari Negara Indonesia namun Jakarta tidak akan pernah lepas dari kesenian dan kebudayaan yang ada dan menyangkut di dalamnya. Kesenian tersebut lebih dikenal dengan kesenian Khas Betawi, tidak hanya menunjukan dan menonjolkan tradisi dan istiadat masyarakat Betawi. Tetapi sekaligus juga menunjukan nilai-nilai estetika dan etika kehidupan masyarakat betawi. Dari perkembangan kesenian Betawi yang dipengaruhi budaya masyarakat keturunan China, Arab dan terdapat juga ragam dan jenis kesenian Betawi yang terbentuk dari proses percampuran unsur-unsur budaya dari berbagai etnik lain yang sejak berabad-abad lalu sudah menetap menjadi warga Jakarta. Kesenian Betawi yang terpengaruh oleh unsur-unsur budaya etnik lain sudah dikenal publik kemudian berkembang menjadi kesenian khas Betawi. Kesenian Betawi pada awalnya hanya tumbuh dan berkembang dalam lingkungan kelompok masyarakat


(7)

5

terbatas. Setelah kota Jakarta berkembang pesat sebagai ibu kota Negara dan pusat kebudayaan, Kesenian Betawi memiliki keunikan tersendiri, berbeda dengan kesenian daerah lainnya. Dari masa ke masa kesenian Betawi terus berkembang dengan ciri-ciri budaya yang semakin mantap, sehingga mudah dibedakan dengan kesenian dari daerah lain yang ada di Indonesia.

II.2.1 Jenis-jenis Kesenian Betawi

Ondel-ondel bentuk pertunjukan rakyat Betawi yang sering ditampilkan dalam pesta-pesta rakyat ataupun khitanan. Ondel-ondel yang berupa boneka besar itu tingginya sekitar 2,5 meter dengan diameter lubang bagian bawah kurang lebih 80 cm, dibuat dari anyaman bambu yang disiapkan begitu rupa sehingga mudah dipikul dari dalamnya. Bagian wajah berupa topeng atau kedok, dengan rambut kepala dibuat dari ijuk. Wajah ondel-ondel laki-laki biasanya dicat dengan warna merah, sedangkan yang perempuan warna putih.

Gambar II.1 Ondel-ondel

Sumber: http://kabarinews.com/ondel-ondel-seni-betawi-yang-tak-lekang-zaman/61932 (22 Februari 2014)

Konon, bentuk Ondel-ondel adalah personifikasi dari leluhur masyarakat Betawi yang senantiasa menjaga keturunannya dari gangguan roh halus. Tidak heran kalau bentuk Ondel-ondel jaman dulu berkesan sangat menyeramkan. Berbeda dengan ondel-ondel yang dapat dilihat saat ini, yang lebih berkesan seperti sepasang ibu dan bapak.Meski terjadi pergeseran fungsi, unsur ritual tak sepenuhnya lepas dari tradisi Ondel-ondel. Pada proses pembuatan ondel-ondel


(8)

6

dilakukan secara tertib, ada waktu khusus untuk membuat Ondel-ondel. Baik waktu membentuk wajahnya demikian pula ketika menganyam badannya dengan bambu.

Gambar II.2 Pertunjukan Kesenian Lenong Betawi Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Lenong (23 April 2015)

Lenong Betawi mulai berkembang akhir abad ke 19. Lenong bukan cuma sekadar hiburan saja, tetapi juga sarana ekspresi perjuangan dan protes sosial. Lakonnya mengandung pesan moral, menolong yang lemah, membenci kerakusan dan perbuatan tercela. Hampir dalam semua lakonnya selalu muncul seorang yang berjiwa kesatria untuk membela rakyat kecil yang tertindas.

Lenong ada dua jenis: preman dan denes. Lenong denes menyajikan cerita-cerita kerajaan dalam pementasannya, antara lain: Indra Bangsawan, Jula-Juli Bintang Tujuh, dan cerita Cerita 1001 Malam. Pementasan lenong denes menggunakan bahasa Melayu tinggi. Contoh kata-kata yang sering digunakan antara lain: tuanku, baginda, kakanda, adinda, beliau, daulat tuanku, syahdan, hamba. Dialog dalam lenong denes sebagian besar dinyanyikan. Adegan-adegan perkelahian dalam lenong denes tidak menampilkan silat, tetapi tinju, gulat, dan main anggar (pedang). Lenong preman kebalikan dari lenong denes. Lenong preman membawakan cerita drama rumah tangga sehari-hari dan suka disebut juga lenong jago. Disebut demikian kerena cerita yang dibawakan umumnya kisah para jagoan, antara lain : Si Pitung, Jampang Jago Betawi, Mirah Dari Marunda, Si Gobang, Pendekar Sambuk Wasiat, Sabeni Jago Tenabang, dan lain-lain. Dengan


(9)

7

begitu diketahui cerita tentang kepahlawanan dan kriminal menjadi tema utama lakon lenong.

Gambar II.3 Tradisi Palang Pintu

Sumber: http://sanggarbetawifm.blogspot.com/2013_06_01_archive.html (17 Juni 2013)

Palang pintu adalah upacara yang dilaksanakan sebelum akad nikah. Upacara ini dahulu disebut nyapun. Nyapun artinya berkomunikasi dengan bahasa yang sopan dan santun. Bahasa yang sopan dan santun ini dimaksudkan untuk memelihara tali silaturahim yang sudah terjalin dengan baik. Oleh karena itu bahasa yang sopan dan santun disimbolkan dengan penggunaan pantun dalam dialong antar kedua belah pihak (pihak calon mempelai perempuan dan pihak calon mempelai laki-laki). Istilah nyapun kemudian berubah menjadu Buka Palang Pintu pada sekitar tahun 1970-an. Di beberapa wilayah budaya Betawi dikenal juga dengan upacara berebut dandang.

Ada tiga inti yang ingin disampaikan dalam upacara Buka Palang Pintu. Pertama, komunikasi yang sopan dan santun yang disimbolkan dengan pantun. Juru bicara kedua belah pihak berdialog dengan menggunakan pantun tidak dengan dialog sehari-hari. Hal ini untuk menghindari kata-kata yang fulgar atau kasar. Kedua, silat atau maen pukulan. Ini mensimbolkan kesiapan seorang calon penganten (khususnya penganten laki-laki) secara fisik. Seorang laki-laki Betawi yang ingin membangun rumah tangga, harus mampu melindungi istri, rumah tangga, lingkungan, bahkan negara dari kemungkinan kejahatan yang dilakukan oknum tertentu. Ketiga sike. Ini mensimbolkan kesiapan mental seorang lekaki Betawi jika ingin berumah tangga. Sike adalah salah satu jenis nagham atau irama dalam


(10)

8

qiraat Quran yang sangat indah dan merdu. Namun dalam upacara Buka Palang Pintu, bacaan atau teks sike dapat berupa shalawat atau syair indah yang dibaca dengan suara merdu mendayu-dayu.

Gambar II.4 Tari Topeng Betawi

Sumber:

http://www.pixoto.com/images-photography/news-and-events/entertainment/tari-topeng-betawi-6124394069884928 (9 November 2013)

Tari topeng Betawi salah satu tarian yang lahir dari gambang keromong, merupakan jenis tarian yang penarinya mengenakan topeng. Topeng telah ada sejak abat ke 20. Secara luas digunakan dalam tari yang menjadi bagian dari upacara adat atau penceritaan kembali cerita-cerita kuno dari para leluhur. Makna topeng dalam keseharian masyarakat Indonesia, khususnya Betawi dipercaya memiliki kekuatan magis yang dapat menjauhkan dari petaka. Dan untuk menarikan Tari Topeng Betawi penari harus memenuhi tiga persyaratan yaitu gandes (luwes), ajar (ceria), lincah tanpa beban saat menari. Dengan begitu penari akan menghasilkan gerakan yang tepat, estetis dan harmonis. Penarinya menggunakan topeng yang terbuat dari kayu. Topeng yang dikenakan penari, agar dapat menempel dengan wajah dipakai dengan cara menggigit bagian dalam topengnya. Pertunjukan Tari Topeng Betawi ini terdiri atas tiga babak. Babak pertama seorang penari bergantian mengenakan tiga topeng, topeng kesatria panji berwarna putih, topeng sanggah berwarna jambon (merah muda) dan topeng berwarna merah. Saat mengenakan topeng panji sang penari menari dengan lemah gemulai, saat mengenakan topeng sanggah gerakan penari bertambah cepat seiring irama musik yang bertambah cepat. Dan saat penari mengenakan topeng warna merah, kecepatan gerakan penari dan kegaduhan musik mencapai puncaknya.


(11)

9 Gambar II.5 Pementasan Gambang Kromong

Sumber: http://karyabetawi.com/sewa-gambang-kromong-musik-tradisional-betawi-jakarta/ (20 Desember 2014)

Gambang kromong adalah seni tradisi Betawi yang berakar dari seni tradisional Cina dengan menggunakan instrumen berbentuk gambang yang terbuat dari bilah-bilah kayu berjumlah 18 bilah-bilah, serta kromong merupakan instrumen pukul Alat musik dari gamelan Jawa atau Sunda terdiri dari 10 buah sumber suara yang berbentuk seperti mangkok dan terdiri dari dua deret belanga sejumlah 10 buah yang terbuat dari perunggu, dengan setiap deret berisi limas lendro sebagaimana dalam gamelan, dan dimainkan oleh seorang penabuh dengan mempergunakan dua potong kayu penabuhnya. Seni ini dahulu berfungsi untuk menjamu serta menghormati tamu Cina yang datang ke Jakarta dan juga dimainkan saat menyambut tahun baru serta hari besar masyarakat Cina yang ada di Batavia. Seni ini pun berkembang pada masyarakat Betawi. Sekarang menjadi musik hiburan yang dimainkan pada acara pernikahan serta perayaan lain. Selain bisa dimainkan sebagai musik yang mandiri atau biasa disebut Phobin, gambang kromong digunakan pula untuk mengiringi tari Cokek dan Teater Lenong kesenian Betawi lainnya. Hal yang menarik dari gambang kromong adalah lagu-lagu yang dibawakan biasanya lagu-lagu-lagu-lagu bersifat humor, penuh gembira, dan kadangkala bersifat ejekan atau sindiran. Pembawaan (Performance) lagu dinyanyikan secara bergilir antara laki-laki dan perempuan sebagai lawannya.


(12)

10 Gambar II.6 Tanjidor

Sumber: http://jakarta.panduanwisata.id/headline/tanjidor-seni-musik-khas-betawi/ (13 Februari 2015)

Tanjidor merupakan salah satu kesenian budaya betawi, kesenian tanjidor ini sudahdimulai sejak abad ke-19. Alat-alat yang digunakan biasanya terdiri dari penggabungan alat-alat musik tiup, alat-alat musik gesek dan alat-alat perkusi seperti klarinet (alat music tiup), piston (alat musik tiup), trombon (alat musik tiup), saksofon tenor (alat musik tiup), membranofon (gendang/drum). Kesenian tanjidor umumnya dipakai dalam musik jalanan tradisional atau pesta cap gomeh dikalangan cina betawi. dan biasanya musik ini juga digunakan untuk mengantar pengantin atau dalam acara pawai daerah, tapi pada umumnya kesenian ini diadakan di suatu tempat yang akan dihadiri oleh masyarakat betawi secara luas seperti sebuah orkes.

Gambar II.7 Wayang Betawi

Sumber: http://www.touchtalent.com/photography/art/BANG-JAMPANG-1-Wayang Betawi-240972 (27 Mei 2014)

Wayang Lenong Betawi Dari segi pertunjukan, Wayang Lenong Betawi menggunakan gambang kromong sebagai musik pengiring. Tema ceritanya dari


(13)

11

kisah-kisah legenda Betawi seperti Si Pitung, Si Jampang atau Si Manis Jembatan Ancol. Wayang Lenong Betawi juga tidak menjadikan dalang sebagai pemain tunggal, seluruh kru bahkan para pemain musik bisa saja melempar celetukan di tengah pertunjukkan. PertunjukanWayang Lenong Betawi biasanya memakan waktu dua jam. Jumlah krunya mencapai sepuluh hingga lima belas orang. Bahasa

tuturnya menggunakan bahasa Betawi ‘elu-gue’ yang kental.

Gambar II.8 Tari cokek Betawi

Sumber: http://sanggartari.com/wp-content/uploads/2013/08/lenggang-nyai.jpg (15 Desember 2008)

Tari cokek adalah seni pertunjukan yang berkembang pada abad ke 19 M di Kabupaten Tangerang, Provinsi Banten. Tarian ini dimainkan oleh sepuluh orang penari wanita pertunjukan tarian khas betawi yang mempertunjukan kepiawaian menari dan Ciri khasnya yang lain adalah goyang pinggul yang geal-geol. dan tujuh orang laki-laki pemegang gamang kromong, alat musik yang mengiringinya. Alunan musik gamang kromong merupakan hasil kombinasi suara yang ditimbulkan oleh rebab dua dawai, suling, kempul, gong, kendang dan kecrek.

Sejarah munculnya Tari Cokek berawal dari adanya pentas hiburan yang diadakan oleh para tuan tanah Tionghoa yang tinggal di Tangerang. Dalam pentas seni itu, Tan Sio Kek, yang merupakan salah satu tuan tanah di Tangerang, mempersembahkan tiga orang penari sebagai wujud partisipasinya dalam pesta hiburan rakyat itu. Pada awalnya, dia menyisipkan tarian para gadis cantik tersebut sebagai pertunjukan tambahan. Namun, berawal dari pertunjukan tambahan itulah, kemudian para penari ini menjadi terkenal dan berdiri sendiri sebagai kelompok penari yang kemudian tariannya dinamakan Tari Cokek. Kata


(14)

12

cokek diambil dari tuan tanah yang bernama Tan Sio Kek, orang pertama yang mengilhami pertunjukan tarian ini.

Gambar II.9 Sejumlah seniman Keroncong Tugu Sumber: http://www.tjroeng.com/?p=221 (3 Desember 2008)

Keroncong tugu digemari oleh masyarakat Tugu di Jakarta Utara. Jenis musik inilah yang menjadi cikal bakal keroncong asli Betawi, yang kemudian dikenal dengan sebutan Keroncong Tugu. Di tengah para pemukim Tugu, keroncong memang menemukan bentuk yang khas, dibandingkan dengan kroncong Jawa, dari segi tempo keroncong Tugu lebih cepat dan dinyanyikan lebih bersemangat. Karena itu, keroncong Tugu mudah dipakai untuk mengiringi dansa. Perbedaan lainnya, gitar Tugu lain dari yang lain. Ukurannya lebih kecil dari gitar biasa. Senarnya lima. Dan di kalangan penduduk Tugu, gitar mini ini disebut"jitera"yang dibuat dati batang pohon waru yang dibobok.

Gambar II.10 Rebana biang Sumber:

http://4.bp.blogspot.com/-EDwSFv6uY6U/UPoH5qH223I/AAAAAAAAGMw/pVv4svp55eY/s1600/IMG_7538.JP G


(15)

13

Rebana Biang salah satu rebananya berbentuk besar. Rebana biang terdiri dari tiga buah rebana. Ketiga rebana mempunyai nama. Yang kecil bergaris tengah 30 cm diberi nama gendung. Yang berukuran sedang bergais tengah 60 cm dinamai kotek. Yang paling besar bergaris tengah 60–80 cm dinamai biang. Karena bentuknya yang besar, rebana biang sukar dipegang. Untuk memainkannya para pemain duduk sambil menahan rebana. Dalam membawakan sebuah lagu, ketiga reban itu mempunyai fungsi sendiri-sendiri. Biang berfungsi gong. Gendung dipukul secara rutin untuk mengisi irama pukulan sela dari biang. Kotek lebih kepada improvisasi dan pemain kotek biasanya paling mahir.

II.2.2 Undang-Undang Dasar 1945

Pelestarian kebudayaan merupakan amanat konstitusi yang dibebankan kepada pemerintah. Sesuai dengan amandemen Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 32

ayat (1) mengamanatkan bahwa “Negara memajukan kebudayaan nasional

Indonesia di tengah peradaban dunia dengan menjamin kebebasan masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budayanya”. Selain itu Pemerintah Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga mendapat amanat untuk pelestarian dan pengembangan budaya lokalnya dalam hal ini Budaya Betawi. Seperti tercermin dari Undang-Undang No. 29 Tahun 2007 tentang Pemerintah Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta sebagai Ibu kota Negara Kesatuan Republik Indonesia Pasal 26 ayat 6 yang menyatakan bahwa “Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melestarikan dan mengembangkan budaya masyarakat Betawi serta melindungi berbagai budaya masyarakat lain yang ada di daerah

Provinsi DKI Jakarta”.

Berbagai upaya dilakukan oleh pemerintah DKI Jakarta dengan bekerja sama dengan LKB (Lembaga Kebudayaan Betawi) terus digalakkan untuk melestarikan kesenian Betawi yaitu dengan melakukan pementasan-pementasan seni dan rencana pengadaan fasilitas yang dapat mewadahi para seniman kesenian Betawi untuk mengekspresikan diri. Lembaga Kebudayaan Betawi yang secara substansial bertugas melakukan kajian-kajian dan apresiasi terhadap berbagai khazanah budaya Betawi. Kini, terencana menerbitkan buku-buku tentang


(16)

14

berbagai aspek kehidupan masyarakat Betawi dan Jakarta berdasarkan riset para peneliti yang mempunyai perhatian terhadap Betawi. Semua pihak itu telah menunjukkan perhatian dan apresiasinya terhadap masyarakat dan budaya Betawi.

II.2.3 Mandatory

Lembaga kebudayaan betawi (LKB) dibentuk berdasarkan usul dan pemikiran dari kalangan masyarakat Betawi, yang diselenggarakan oleh dinas kebudayaan Betawi. tujuan berdirinya lembaga ini adalah untuk membantu program Pemerintah Daerah Khusus Ibu Kota Jakarta dalam penelitian, penggalian, pengembangan dan pemeliharaan nilai-nilai budaya tradisional Betawi.

Gambar II.11 Lembaga Kebudayaan Betawi (LKB) Sumber: lembagakebudayaanbetawi.com

II.2.4 Perkembangan Kesenian Betawi saat ini

Seiring berjalannya waktu, dan faktor sudah jarangnya beberapa kesenian betawi yang jarang dipentaskan selama ini seni budaya tradisional Betawi makin tersisih dan mulai terlupakan dikarenakan regulasi pelaku seni hanya mengandalkan sanggar yang berjalan lamban bahkan boleh dibilang miskin kader karena minimnya partisipasi masyarakat. Oleh karena itu berakibat saat ini banyak masyarakat umum hanya mengenal beberapa kesenian saja seperti ondel-ondel, Gambang kromong, lenong yang memang sampai saat ini masih sering dipentaskan.


(17)

15

II.2.5 Respon Masyarakat

Untuk mendapatkan data yang diinginkan, dengan tujuan untuk mengetahui berapa persen masyarakat umum dari usia 12-20 tahun (Remaja) hingga 20-24 tahun (dewasa) yang megenal kesenian Betawi, maka dilakukan teknik pengumpulan data dengan cara menyebarkan kuisioner kepada target sasaran. Kuisioner tersebut berisikan tahu atau tidak kenalnya macam-macam kesenian Betawi.

II.2.6 Hasil Wawancara

Tabel II.1 Hasil Wawancara

Miftahudin Lenong, Gambang Kromong

Susana Dewi Gambang Kromong, Lenong, Tari Topeng, Ondel-ondel

Siti Maimunah Tari topeng, Gambang Kromong, Ondel-ondel

Santi Lenong Betawi, Tari Topeng

Tatang Lenong Betawi, Ondel-ondel,

Tanjidor

Dewi Fitria Lenong, Gambang Kromong

Anggit Sutowo Ondel-ondel, Lenong, Palang Pintu

Alfian Tari Topeng, Ondel-ondel, Lenong


(18)

16

Ida Tari Topeng, Gambang Kromong

Dady M Ondel-ondel, Tari Topeng, Gambang

Kromong

Wulan Lenong, Gambang Kromong, Tari

Topeng

Tia Tari Topeng, Tanjidor

Andes Lenong Betawi, Gambang Kromong

Hendri Lenong, Gambang Kromong,

Tanjidor

Soleh Gambang Kromong, Lenong,

Ondel-ondel

Moh Ilyas Lenong, Tari Topeng

Rohima Gambang Kromong, Tanjidor,

Lenong

Mei Mei Lenong

Selviyanti Lenong, Ondel-ondel

M Djazuli Lenong, Tanjidor, Ondel-ondel


(19)

17

Onih Lenong, Tari Topeng, Tanjidor

Sumber: Dokumen Pribadi

Dengan melihat hasil dari wawancara di lapangan dan melihat jawaban dari para target sasaran yaitu masyarakat umum banyak yang mengenal kesenian betawi. hanya sebatas ondel-ondel, lenong betawi, tanjidor, dan gambang kromong, tari topeng.

II.2.7 Program pemerintah untuk kesenian Betawi.

Pelestarian kebudayaan merupakan amanat konstitusi yang dibebankan kepada pemerintah. Sesuai dengan Amandemen Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 32

ayat (1) mengamanatkan bahwa “Negara memajukan kebudayaan nasional Indonesia di tengah peradaban dunia dengan menjamin kebebasan masyarakat dalam memelihara dan mengembangkan nilai-nilai budayanya”. Selain itu, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga mendapat amanat untuk pelestarian dan pengembangan budaya lokalnya dalam hal ini Budaya Betawi. Seperti tercermin dari Undang-Undang No. 29 Tahun 2007 tentang Pemerintah Provinsi Daerah Khusus Ibukota Jakarta sebagai Ibu kota Negara Kesatuan Republik Indonesia Pasal 26 ayat 6 yang menyatakan bahwa “Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melestarikan dan mengembangkan budaya masyarakat Betawi serta melindungi

berbagai budaya masyarakat lain yang ada di daerah Provinsi DKI Jakarta”.

Berbagai upaya dilakukan oleh pemerintah DKI Jakarta dengan bekerja sama dengan LKB (Lembaga Kebudayaan Betawi) terus digalakkan untuk melestarikan kesenian Betawi yaitu dengan melakukan pementasan-pementasan seni dan rencana pengadaan fasilitas yang dapat mewadahi para seniman kesenian Betawi untuk mengekspresikan diri. Lembaga Kebudayaan Betawi yang secara substansial bertugas melakukan kajian-kajian dan apresiasi terhadap berbagai khazanah budaya Betawi. Kini, terencana menerbitkan buku-buku tentang berbagai aspek kehidupan masyarakat Betawi dan Jakarta berdasarkan riset para peneliti yang mempunyai perhatian terhadap Betawi. Semua pihak itu telah


(20)

18

menunjukkan perhatian dan apresiasinya terhadap masyarakat dan budaya Betawi.

II.2.8 Media.

II.2.9 Pengertian Media.

Cangara (2014) menjelaskan “media adalah alat atau sarana yang digunakan untuk menyampaikan pesan dari komunikator kepada khalayak” ( h.137).

Dengan kata lain, media adalah alat saluran komunikasi yang bertindak sebagai perantara sumber dengan penerima pesan yang telah diolah menjadi sebuah bentuk yang memiliki arti atau maksud tertentu.

II.2.2. Macam-Macam Media.

Menurut Cangara dalam bukunya PENGANTAR ILMU KOMUNIKASI. Adapun macam-macam media informasi dan kelebihan serta kekurangannya sebagai berikut: (h.137-141).

 Media elektronik:

Media elektronik adalah media informasi yang dibuat (diproduksi) dan disampaikan kepada khalayak sasaran (pembaca) melalui barang elektronik.

Media elektronik terbagi dalam 2 kelompok besar yaitu media yang hanya bisa didengar (audio) contohnya adalah radio, dan media yang selain bisa didengar juga dilihat (audio-visual) contohnya televisi, internet dan komputer.

Jenis media ini isinya disebarluaskan melalui suara atau gambar dengan menggunakan teknologi elektro.

Kelebihan media informasi elektronik: sudah dikenal masyarakat, mengikutsertakan semua panca indera, bias menampilkan gerak dan suara, sebagai alat diskusi dapat diulang-ulang.


(21)

19

Kekurangan media informasi elektronik : biaya lebih tinggi, sedikit rumit, perlu listrik, perlu alat canggih untuk produksinya, perlu persiapan matang, peralatan selalu berkembang dan berubah, perlu keterampilan penyimpanan, perlu terampil dalam pengoperasiannya.

 Media cetak:

Media cetak adalah kumpulan berbagai media informasi yang dibuat (diproduksi) dan disampaikan kepada khalayak sasaran (pembaca) melalui tulisan (cetakan) dan seringkali disertai gambar sehingga dapat dilihat dan dibaca. Contoh media informasi cetak adalah flyer (selebaran), surat kabar, majalah, tabloid, jurnal, poster, brosur, foto, buku dll.

Kelebihan media informasi cetak adalah tahan lama, mencakup banyak orang, biaya tidak mahal, tidak perlu listrik, dapat dibawa kemana-mana, dapat mengungkit rasa keindahan, menambah keinginan belajar.

Kekurangan media informasi cetak: media ini tidak dapat menggunakan efek suara dan gerak, mudah terlipat.

II.2.3. Fungsi Media.

Ada empat fungsi media: (sanjaya, 2012, h.88-89).  Fungsi menjelaskan

 Fungsi menjual gagasan  Fungsi pembelajaran  Fungsi administratif

II.3 Analisa Permasalahan

Metode analisa yang digunakan dalam masalah ini adalah 5W + 1H yang

ditemukan oleh Rudyard Kipling menurut situs,


(22)

20

Tabel II.2 Analisis Data Menggunakan 5W1H

What Kesenian Khas Betawi

Who Masyarakat umum usia 12-20 tahun

(Remaja) hingga 20-24 tahun (Dewasa)

Where DKI Jakarta

When Seiring dengan terus berkembangnya zaman. Satu per satu kesenian betawi mulai terlupakan.

Why Kurangnya pementasan dan minimnya

informasi mengenai macam-macam kesenian betawi, membuat masyarakat umum hanya mengenal kesenian betawi sebatas ondel-ondel, gambang kromong, Tanjidor dan palang pintu dan tari topeng.

How Membantu program pemerintah untuk

menerbitkan buku-buku tentang berbagai aspek kehidupan masyarakat Betawi. yang bertujuan untuk

memperkenalkan kesenian betawi kepada masyarakat umum.

Sumber: Dokumen Pribadi

Dari hasil analisa 5W1H untuk mengatasi fenomena kesenian Betawi yang mulai terlupakan oleh masyarakat umum yang tinggal di wilayah DKI Jakarta,


(23)

21

pemerintah menggalakan program untuk melakukan upaya pengenalan kesenian betawi dengan menerbitkan buku-buku tentang aspek kehidupan kesenian dan budaya Betawi yang bekerja sama dengan lembaga LKB (Lembaga kebudayaan Betawi).

II.4 Target Audience

Teori Erik Erikson tentang perkembangan manusia dikenal dengan teori perkembangan psiko-sosial. Salah satu elemen penting dari teori tingkatan psikososial Erikson adalah perkembangan persamaan ego. Persamaan ego adalah perasaan sadar yang dikembangkan melalui interaksi sosial. Menurut Erikson, perkembangan ego selalu berubah berdasarkan pengalaman dan informasi baru yang kita dapatkan dalam berinteraksi dengan orang lain.

Erikson juga percaya bahwa kemampuan memotivasi sikap dan perbuatan dapat membantu perkembangan menjadi positif, inilah alasan mengapa teori Erikson disebut sebagai teori perkembangan psikososial.

Erikson memaparkan teorinya melalui konsep polaritas yang bertingkat/bertahapan. Ada 8 (delapan) tingkatan perkembangan yang akan dilalui oleh manusia:

1. Trust >< Mistrust (usia 0-1 tahun)

Tahap pertama adalah tahap pengembangan rasa percaya diri. Fokus terletak pada Panca Indera, sehingga mereka sangat memerlukan sentuhan dan pelukan.

2. Otonomi/Mandiri >< Malu/Ragu-ragu (usia 2-3 tahun)

Tahap ini bisa dikatakan sebagai masa pemberontakan anak atau masa 'nakal'-nya. sebagai contoh langsung yang terlihat adalah mereka akan sering berlari-lari dalam Sekolah Minggu. Namun kenakalannya itu tidak bisa dicegah begitu saja, karena ini adalah tahap dimana anak sedang mengembangkan kemampuan motorik (fisik) dan mental (kognitif), sehingga yang diperlukan justru mendorong dan memberikan tempat untuk mengembangkan motorik dan mentalnya. Pada saat


(24)

22

ini anak sangat terpengaruh oleh orang-orang penting di sekitarnya (Orang Tua - Guru Sekolah Minggu)

3. Inisiatif >< Rasa Bersalah (usia 4-5 tahun)

Dalam tahap ini anak akan banyak bertanya dalam segala hal, sehingga berkesan cerewet. Pada usia ini juga mereka mengalami pengembangan inisiatif/ide, sampai pada hal-hal yang berbau fantasi. Mereka sudah lebih bisa tenang dalam mendengarkan Firman Tuhan di Sekolah Minggu.

4. Industri/Rajin >< Inferioriti (usia 6-11 tahun)

Anak usia ini sudah mengerjakan tugas-tugas sekolah - termotivasi untuk belajar. Namun masih memiliki kecenderungan untuk kurang hati-hati dan menuntut perhatian.

5. Fidelity-Identitas><KebingunganPeran (12-20 tahun)

Mempertanyakan diri. Siapa aku, bagaimana saya cocok? Di mana aku akan hidup?Erikson percaya, bahwa jika orang tua membiarkan anak untuk mengeksplorasi, mereka akan menyimpulkan identitas mereka sendiri. Namun, jika orang tua terus mendorong dia untuk menyesuaikan diri dengan pandangan mereka, para remaja akan menghadapi kebingungan identitas.

6. Keintiman><Isolasi (20-24 tahun)

Ini adalah tahap pertama dari pembangunan dewasa. Perkembangan ini biasanya terjadi pada dewasa muda, yaitu antara usia 20 sampai Kencan, pernikahan, keluarga dan persahabatan yang penting selama tahap dalam hidup mereka. Dengan berhasil membentuk hubungan penuh kasih dengan orang lain, individu dapat mengalami cinta dan keintiman. Mereka yang gagal untuk membentuk hubungan yang langgeng mungkin merasa terisolasi dan sendirian.

7. Generativitas><stagnasi (25-64 tahun)

Ini adalah tahap kedua dari masa dewasa dan terjadi antara usia 25-64. Selama ini orang biasanya menetap dalam hidup mereka dan tahu apa yang penting bagi


(25)

23

mereka. Seseorang baik membuat kemajuan dalam karir mereka atau menginjak ringan dalam karir mereka dan tidak yakin apakah ini adalah apa yang mereka ingin lakukan selama sisa hidup mereka bekerja. Juga selama waktu ini, seseorang menikmati membesarkan anak-anak mereka dan berpartisipasi dalam kegiatan, yang memberikan mereka rasa tujuan. Jika seseorang tidak nyaman dengan cara hidup mereka mengalami kemajuan, mereka biasanya menyesal tentang keputusan dan merasakan rasa tidak berguna.

8. Egointegritas><putus asa (65 tahun > )

Tahap ini mempengaruhi kelompok usia 65 dan, selama waktu ini individu telah mencapai bab terakhir dalam hidup mereka dan pensiun mendekati atau telah terjadi. Banyak orang, yang telah mencapai apa yang penting bagi mereka, melihat kembali kehidupan mereka dan merasa prestasi besardan rasa integritas. Sebaliknya, mereka yang memiliki waktu sulit selama pertengahan masa dewasa mungkin melihat ke belakang dan merasakan perasaan putus asa.

Berdasarkan Teori Erik H. Erikson mengenai fase-fase dewasa dalam perkembangan jiwa manusia dalam psikologi perkembangan, target audiens untuk perancangan. Informasi ini adalah sebagai berikut:

Demografis:

Target utama yaitu masyarakat umum, Namun jika dipersempit untuk masa remaja dengan rentang usia 12-20 tahun sampai dewasa dengan rentang usia 20-24 tahun.

Jenis kelamin : Laki-Laki dan Perempuan Pendidikan : SMP, SMA, Perguruan Tinggi

Psikografis:

Masa remaja dengan usia 12-20 tahun telah memlai rasa mengeksplorasi, menyimpulkan identitas mereka sendiri, sementara usia dewasa 20-24 tahun masa-masa pembangunan dewas.


(26)

24

Geografis:

Masa remaja dengan ruang lingkup di pendidikannya ataupun keluarganya. Sementara orang dewasa di pekerjaan di wilayah DKI Jakarta.

II.5 Solusi Permasalahan

Sesuai dengan adanya peraturan Pelestarian kebudayaan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga mendapat amanat untuk pelestarian dan pengembangan budaya lokalnya dalam hal ini Budaya Betawi. Seperti tercermin dari Undang-Undang No. 29 Tahun 2007 tentang Pemerintah Provinsi Daerah Khusus Ibu kota Jakarta sebagai Ibu kota Negara Kesatuan Republik Indonesia Pasal 26 ayat 6 yang

menyatakan bahwa “Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melestarikan dan

mengembangkan budaya masyarakat Betawi serta melindungi berbagai budaya

masyarakat lain yang ada di daerah Provinsi DKI Jakarta”.

Dengan adanya program pemerintah DKI Jakarta yang bekerja sama dengan LKB (Lembaga Kebudayaan Betawi) dalam memperkenalkan kebudayaan dan kesenian khas Betawi dengan melakukan pementasan-pementasan seni dan rencana pengadaan fasilitas yang dapat mewadahi para seniman kesenian Betawi untuk mengekspresikan diri. Dan secara terencana menerbitkan buku-buku tentang berbagai aspek kehidupan masyarakat Betawi dan Jakarta berdasarkan riset para peneliti yang mempunyai perhatian terhadap Betawi. Semua pihak itu telah menunjukkan perhatian dan apresiasinya terhadap masyarakat dan budaya Betawi.

Diharapkan dengan adanya buku “Betawi Punya Seni” ini akan ikut membantu program pemerintah untuk memperkenalkan kesenian betawi untuk masyarakat umum khususnya yang tinggal di wilayah DKI Jakarta.


(27)

25

BAB III

STRATEGI PERANCANGAN DAN KONSEP VISUAL

III.1 Strategi Perancangan

Strategi komunikasi dapat dilakukan dengan berbagai cara, salah satunya adalah melalui buku bergambar. karena media buku bergambar merupakan salah satu media yang disukai dan menarik untuk dibaca oleh masyarakat umum. selain itu juga media buku bergambar dapat membuat target sasaran dapat berimajinasi dan dapat memahami maksud dari gambar tersebut. Agar komunikasi lebih jelas dan lancar, maka diberikan sedikit tulisan dengan gaya bahasa yang cocok dan mudah dipahami.

III.1.1 Tujuan Komunikasi

Tercipta suatu perancangan desain buku tentang kesenian betawi ini bertujuan untuk menyampaikan informasi tentang kesenian betawi seperti: ondel-ondel, lenong betawi, palang pintu, tari topeng, gambang kromong, tanjidor, wayang betawi, keroncong tugu, rebana biang, tari cokek betawi.

III.1.2 Pendekatan Komunikasi

Pendekatan komunikasi merupakan suatu perencanaan untuk mengkomunikasikan suatu informasi agar tepat sasaran dengan bahasa yang sesuai dan dapat diterima dengan baik oleh penerima. Media yang di komunikasikan kepada khalayak sasaran harus menarik, komunikatif, dan informatif. Sehingga pendekatan komunikasi yang dilakukan adalah dengan cara pendekatan verbal dan pendekatan visual. Dalam perancangan buku informasi ini, gambar dan narasi visual disesuaikan dengan khalayak sasaran.

III.1.2.1 Pendekatan Visual

Visual yang akan digunakan dalam buku informasi ini dengan menggunakan penggabungan vector. Adanya vector untuk menarik minat masyarakat


(28)

26

untuk melihat dan membacanya. Kelebihan dengan menggunakan ilustrasi vector yaitu:

 Memperoleh gambaran objek sebenarnya dengan proporsi yang dapat diatur baik warna, maupun detail-nya.

 Pengaruh sangat kuat untuk menarik minat masyarakat umum sehingga tertarik untuk membaca.

 Menunjang kebutuhan informasi dalam bentuk visual dalam media cetak.

Adapun alasan pemilihan visual menggunakan vector. Adapun alasan untuk menggunakan visual vector untuk menarik untuk dilihat dan akan langsung menggugah perasaan khalayak sasaran untuk membaca.

III.1.2.2 Pendekatan Verbal

Pendekatan verbal yang digunakan dalam buku informasi ini dengan menggunakan bahasa Indonesia yang tidak baku yang digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

III.1.3 Materi Pesan

Materi pesan yang ingin disampaikan dalam perancangan media ini berupa menerangkan tentang sejarah dan bentuk gambaran pertunjukan dari berbagai jenis kesenian khas Betawi (ondel-ondel, lenong betawi, palang pintu, tari topeng, gambang kromong, tanjidor, wayang betawi, keroncong tugu, rebana biang, tari cokek betawi).

III.1.4 Gaya Bahasa

Pendekatan bahasa dalam perancangan media ini menggunakan bahasa Indonesia yang sederhana dan ringan sesuai dengan keseharian. Supaya mudah dipahami oleh khalayak sasaran.


(29)

27

III.1.5 Khalayak Sasaran Perancangan III.1.5.1 Consumer Insight

Geografis

Wilayah pemasaran di toko buku Gramedia seluruh wilayah DKI Jakarta.

Demografis

Target utama yaitu masyarakat umum, Namun jika dipersempit untuk masa remaja dengan rentang usia 12-20 tahun sampai dewasa dengan rentang usia 20-24 tahun.

Jenis kelamin : Laki-Laki dan Perempuan Pendidikan : SMP, SMA, Perguruan Tinggi

Wilayah : DKI Jakarta

Target Market

Remaja dengan rentang usia 12-20 tahun sampai Dewasa dengan rentang usia 20-24 tahun.

Jenis kelamin : Laki-Laki dan Perempuan Pendidikan : SMP, SMA, Perguruan Tinggi

Wilayah : DKI Jakarta

Status Ekonomi Sosial : Kalangan menengah.

Psikografis

Gaya hidup : Aktif dan Ceria


(30)

28

III.1.5.2 Consumer Journey

Tabel III.1 Consumer Journey

Waktu Aktifitas Konsumen

Tempat Point Of Contact 05.00 06.15 06.30 06.40 06.00 Bangun Tidur Mandi Siap-Siap Sarapan Berangkat Kamar Tidur Kamar Mandi Kamar Tidur Ruang Makan Jalan

Kasur, Bantal, Guling,

Selimut, Meja Rias, Lemari Baju, Jam Alarm

Bak Mandi, Air, Sabun, Sikat Gigi, Pasta Gigi, Cermin

Cermin, Baju, Tas, Sepatu

Gelas, susu, piring, roti, nasi, meja makan, kursi, serbet, sendok, garpu.

Mobil, Motor, Jalan Raya, Tukang Koran.


(31)

29 07.00 7.30 09.00 10.00 12.00 13.00 Tiba Di Sekolah Proses belajar berlangsung Istirahat Proses pembelajaran kembali Pulang sekolah Sampai Dirumah sekolah Ruang kelas Kantin Ruang kelas Jalan Rumah

Meja Belajar, Kursi, Map, Alat Tulis, Buku Tulis,

Guru Meja, Papan tulis, Rekan Belajar, Air Minum.

Makanan, Minuman, Meja Kantin, Penjual

Makanan, Rekan Belajar,

Guru Meja, Papan tulis, Rekan Belajar, Air Minum.

Mobil, , Lampu Merah,

Pedagang Asongan, Jalanan.

Sofa, Televisi, air putih, Keluarga.


(32)

30 14.00 15.00 17.00 19.00-21.00 21.30 Santai Bersama Keluarga Bermain Mandi Mengerjakan tugas sekolah tidur Ruang Keluarga Rumah teman/ berkumpul Disuatu tempat Kamar mandi Kamar Kamar Sofa, Televisi Bermain sambil belajar

Bak Mandi, Air, Sabun, Sikat Gigi, Pasta Gigi

Alat tulis, Buku

Orang tua

Kasur,Jam alarm,lampu kamar, selimut.

Sumber: Dokumen Pribadi

III.1.6 Strategi Kreatif

Strategis kreatif merupakan ide yang dikeluarkan untuk menunjang perancangan yang telah direncanakan, strategi kreatif dalam merancang media informasi membuat penggabungan isi materi beraneka ragam kesenian betawi dalam 1 buku yang di sertakan dengan gambar ilustrasi vector dan serta diberi sedikit penjelasan mengenai informasi tersebut.

III.1.7 Strategi Media

Strategi media berfungsi sebagai pembatasan media-media yang akan digunakan dalam perancangan buku informasi tentang kesenian Betawi


(33)

31

sesuai dengan target yang dituju. Dalam perancangan buku informasi kesenian Betawi sebagai media utama.

III.1.7.1 Media Pendukung

Media pendukung berguna untuk menarik minat target sasaran dan memberikan identitas kepemilikan media utama. Bersifat membujuk dan mempengaruhi target sasaran untuk memiliki media utama. beberapa media pendukung yang digunakan:

 Media utama

Media utama yang akan dibuat berupa buku informasi mengenai sejarah singkat dan pengenalan macam-macam ragam kesenian Betawi. pengambilan media buku dipilih karena media ini mudah untuk ditemui dan praktis dalam penggunaanya.

 Media Pendukung

Media pendukung berfungsi sebagai pelengkap media utama dengan tujuan supaya penyampaian dari media utama dapat diaplikasikan dengan media pendukung. Media pendukung yang dipilih adalah sebagai berikut:

 Baju

Baju dalam penyampaian informasina dapat mencangkup banyak target sasaran karena dilihat oleh masyarakat umum.

 Mug

Mug merupakan media pendukung yang efektif karena dapat digunakan dalam kehidupan sehari-hari dan media ini mudah dibawa kemana saja.

 Pembatas Buku

Dengan adanya pembatas buku, pembaca akan terbantu. Terutama ketika berhenti pada halaman tertentu saat membaca buku.


(34)

32

 Stiker

Stiker, kertas tempelan yang dapat ditempel dimana saja sesuai keinginan.

X-Banner, penyampaian informasi berbentuk banner dengan penyangga x. Akan ditempatkan bersama dengan keberadaan buku dan memberikan informasi yang lebih jelas mengenai kegiatan promosi buku yang dilakukan.

III. 1.8 Strategi Distribusi

Strategi distribusi untuk menyalurkan produk kepada konsumen dan memaksimalkan promosi yang dilakukan melalui beberapa cara penjualan:

Target dalam pendistribusian buku “Betawi Punya Seni” ini yaitu dengan cara ditempatkan di toko buku besar seperti toko buku Gramedia sehingga buku “Betawi Punya Seni” ini bisa dibeli dan dibaca oleh target sasaran yang sudah ditetapkan di seluruh Indonesia khususnya di kota Jakarta. Penerbit yang akan dipilih yaitu Erlangga. Erlangga ini merupakan salah satu penerbit yang mempunyai dasar dalam menerbitkan buku-buku yang mempunyai latar belakang dalam ilmu pengetahuan dan mengkhususkan buku-buku ilmu pengetahuan.

Jadwal penyebaran media dilakukan selama 5 bulan terhitung dari bulan Juli 2015 sampai dengan November 2015. Penyebaran dibagi menjadi 2 periode. Penyebaran dilakukan dengan tahapan penyebaran rincian sebagai berikut:

Tabel III.2 Jadwal Penyebaran Media

Jadwal Penyebaran Media


(35)

33

Periode Pertama Juli – Agustus 2015

Poster Toko Buku Gramedia,

Periode Kedua

September - November 2015

Media Utama, Poster, Pembatas buku, Stiker, Poster, Mug, X-Banner, kaos

Toko Buku Gramedia,

Sumber: Dokumen Pribadi

III.1.8.1 Pertimbangan Dasar Distribusi

Atas dasar perimbangan distribusi dengan pihak dan istansi yang terkait, maka kebijakan penyebaran diserahkan kepada pihak yang terkait, demi kelancaran dan efektifitas penyebaran pada target sasaran dan target market. Media utama ini seharga Rp. 50.000,00 perhitungan yang disesuaikan dengan biaya produksi, biaya promosi dan daya beli target market.

III.2 Konsep Visual

Pada konsep pembuatan buku ini dengan adanya ilustrasi vector dan pengolahan penampilan tata letak gambar vector dan tulisan, serta menggunakan warna-warna yang berbeda yang bertujuan supaya tidak terkesan membosankan saat target membaca buku ini.

III.2.1 Format Desain

Format Desain pada media yang dipakai salah satunya adalah buku. Buku sebagai media utama dengan menggunakan ukuran 20 cm x 20 cm. alas an mengapa memilih ukuran 20x20 cm adalah supaya mudah dibawa kemana-mana.


(36)

34

Gambar III.1 Referensi format desain

Sumber: http://www.instagram24.com/tag/dongenganak.jpg (2 Juni 2015)

III.2.2 Tata Letak (Layout)

Dalam desain tata letak tidak dikenal aturan-aturan yang berlaku secara menyeluh atau yang bersifat universal, diarenakan tujuan dan target sasaran yang berbeda beda. (Adi Kusrianto, 2007,276).

Penempatan gambar dan penempatan narasi visual disesuaikan dengan menggunakan tipografi 12 point, agar mudah terlihat saat dibaca.

Gambar III.2 Referensi layout


(37)

35

III. 2.3 Huruf

Jenis huruf yang akan digunakan pada buku ini berbeda-beda. Hal ini menyesuaikan dengan kebutuhan dan tingkat keterbacaan dan dipilih sesuai konsep visual yaitu kesenian Betawi.

 Script MT Bold digunakan pada judul buku. karena tidak terlalu formal dengan bentuk huruf yang tidak kaku. Dirasa tepat untuk menggambarkan tentang kesenian yang mengandung unsur keindahan dan banyak gerak.

Gambar III.3 Huruf judul buku Sumber: Dokumen Pribadi

ABCDEFGHIJKLMNOPQRSTUVWXYZabcdefg

hijklmnopqrstuvwxyz0123456789.,;:/?&[]!#$%()*

<>

 Pristina, digunakan pada bagian judul pengenalan kesenian Betawi pada halaman buku.

ABCDEFGHIJKLMNOPQRSTUVWXYZabcdefghijklmn

opqrstuvwxyz 0123456789

Calibri Light, digunakan pada bagian penjelasan konten gambar pada halaman buku.

ABCDEFGHIJKLMNOPQRSTUVWXYZ


(38)

36

III.2.4 Ilustrasi

Illustrasi menurut definisinya adalah seni gambar yang dimanfatkan untuk memberi atas suatu tujuan secara visual. Illustrasi dapat digunakan untuk menapilkan banyak hal secara fungsi antara lain (Adi Kusrianto, 2007, 110)  memberikan gambaran tokoh atau karakter.

 menampilkan beberapa contoh bentuk yang diterangkan dalam suatu buku.

 menampilkan langkah demi langkah pada sebuah instruksi dalam panduan teknik.

Ilustrasi karakter digunakan dalam buku informasi ini berupa hasil vector yang di proses melalui tracing beberapa foto yang memperlihatkan beberapa gerakan kesenian betawi. alasan pemilihan ilustrasi vector untuk menarik minat masyarakat umum untuk membaca buku ini.

Gambar III.4 Hasil illustrasi vector Sumber: Dokumen Pribadi

III. 2.5 Warna

Molly E. Holzschlag (seperti dikutip Kusrianto, 2007) masing-masing warna mampu memberikan respons secara psikologis kepada pemirsanya sebagai berikut:


(39)

37

Warna Respons Psikologis yang mampu ditimbulkan Merah Kekuatan, bertenaga, kehangatan

Biru Kepercayaan, keamanan, teknologi Hijau Alami, kesehatan, pembaruan Kuning Optimis, harapan, filosofi

Ungu Spiritual, misteri, keagungan, galak, arogan Orange Energi, keseimbangan, kehangatan

Coklat Bumi, dipercaya, nyaman, bertahan Abu-abu intelek, futuristic, kesedihan, merusak Putih suci, bersih, kecermatan, tanpa dosa

Hitam kekuatan, kemewahan, ketakutan, keanggunan

Gambar III.5 Warna Sumber: Dokumen Pribadi


(40)

38

Gambar III.6 Referensi warna

Sumber: myphotographyindonesia.com (2 Juni 2015)

Warna yang digunakan pada media ini banyak menggunakan warna yang cerah. Maksud penggunaan warna ini terinspirasi dari setiap pertunjukan kesenian betawi yang penuh dengan warna yang memberikan suasana meriah dan bersahabat.


(41)

39

BAB IV

TEKNIS PRODUKSI DAN APLIKASI MEDIA

IV.1 Teknis Produksi

Media utama berupa buku informasi bergambar. Ini pada buku informasi berjudul Betawi Punya Seni Buku ini memiliki 10 halaman.

IV.1.1 Struktur Informasi

Dalam pembuatan buku informasi ini, proses pertama dalam pembuatan adalah penentuan isi halaman dalam buku informasi Betawi Punya Seni. Berikut urutan halaman buku:

0. pendahuluan 1. Ondel-ondel 2. Tari topeng 3. Tari Cokek

4 Wayang lenong betawi 5. Palang Pintu

6. Lenong betawi 7. Gambang kromong 8. Tanjidor

9. Kroncong tugu 10. Rebana biang

IV.1.2 Proses Digitalisasi

Visual dikerjakan secara digital, dengan awalan menyiapkan sebuah foto kemudian di tracing yang kemudian diletakan pada halaman buku. Proses tracing dilakukan dengan menggunakan Software Adobe Illustrator CS6, untuk layout menggunakan Software Adobe Indesign CS6, dan untuk bagian cover depan, belakang, samping, dan dalam menggunakan Software Adobe Photoshop CS6.


(42)

40

Gambar IV.1 Proses tracing foto tari topeng di Software Adobe Illustrator CS6 Sumber: Dokumen Pribadi

Gambar IV.2 Proses pembuatan cover bukudi Software Adobe Photoshop CS6 Sumber: Dokumen Pribadi

Gambar IV.3 Proses pembuatan halaman buku di Software Adobe Indesign CS6 Sumber: Dokumen Pribadi


(43)

41

IV.1.3 Media Utama

Gambar IV.4 Cover buku depan dan belakang Sumber: Dokumen Pribadi

Gambar IV.5 Beberapa tampilan Halaman buku Sumber: Dokumen Pribadi


(44)

42

Ukuran : 20 x 20 cm

Teknis cetak : Jilid Hard Cover Dop

Bahan : Cover (Art Paper 150 gr) Halaman buku (Linen). Teknis Produksi : Digital Printing

IV.1.4 Media Pendukung

Poster dapat diletakan dekat buku yang dijual di toko buku Gramedia sebagai informasi bahwa buku Betawi Punya Seni sudah terbit.

Gambar IV. 6 Poster Sumber: Dokumen Pribadi

Ukuran : 42cm x 29,7cm (A3) Bahan : Art Paper 210gr Teknis : Print Digital


(45)

43

IV.1.5 X-Banner

Media X-Banner adalah media yang ditempatkan disamping buku, yang berfungsi mengajak target sasaran dan memberikan informasi keberadaan buku.

Gambar IV.7 X-banner Sumber: Dokumen Pribadi

Ukuran : 120cm x 60m

Bahan : Flexi Frontlite Korea Teknis : Digital Print


(46)

44

IV.1.6 Stiker

Stiker media yang bisa didapatkan secara gratis pada saat target sasaran membeli buku.

Gambar IV.8 Stiker Sumber: Dokumen Pribadi

Ukuran : 9 cm

Bahan : Sticker Cromo Teknis : Digital Print


(47)

45

IV.1.7 T-Shirt

T-shirt bisa dibeli saat membeli buku.

Gambar IV.9 Kaos Sumber: Dokumen Pribadi

Ukuran : S

Bahan : Cottton Combat 30s


(48)

46

IV.1.8 Mug

Media ini digunakan sebagai keperluan sehari target sasaran.

Gambar IV.10 Mug Sumber: Dokumen Pribadi

Ukuran : Atas 83mm x Tinggi 96mm Teknis : Digital Print


(49)

47

IV.1.9 Pembatas Buku

Pembatas buku ini bisa didapatkan dalam satu paket pada saat target sasaran membeli buku.

Gambar IV.11 Pembatas Buku

Ukuran : Tinggi 9cm Bahan : Kertas Tik 210gr Teknis : Digital Print


(50)

Laporan Pengantar Tugas Akhir

PERANCANGAN BUKU INFORMASI KESENIAN KHAS BETAWI

DK 38315/Tugas Akhir Semester II 2014/2015

Oleh:

Muhammad Fikri Imannuddin 51911013

Program Studi Desain Komunikasi Visual

FAKULTAS DESAIN

UNIVERSITAS KOMPUTER INDONESIA

BANDUNG


(51)

vi DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN ... i

LEMBAR PERNYATAAN ORISINALITAS ... ii

KATA PENGANTAR ... iii

ABSTRAK ... iv

ABSTRACT ... v

DAFTAR ISI ... vi

DAFTAR GAMBAR ... vii

DAFTAR TABEL ... viii

DAFTAR LAMPIRAN ... ix

BAB I PENDAHULUAN ... 1

I.1 Latar Belakang ... 1

I.2 Identifikasi Masalah ... 2

I.3 Rumusan Masalah ... 2

I.4 Batasan Masalah ... 2

I.5 Tujuan Perancangan ... 3

BAB II PERANCANGAN INFORMASI KESENIAN KHAS BETAWI ... 4

II.1 Definisi Kesenian ... 4

II.2 Sejarah Kesenian Betawi ... 4

II.2.1 Jenis-Jenis Kesenian Betawi ... 5

II.2.2 Undang-Undang 1945 ... 13

II.2.3 Mandatory ... 14

II.2.4 Perkembangan Kesenian Betawi Saat ini ... 14

II.2.5 Respon Masyarakat ... 15

II.2.6 Hasil Wawancara ... 15

II.2.7 Program Pemerintah... 17

II.2.8 Media ... 18

II.2.9 Pengertian Media ... 18


(52)

vii

II.2.11 Fungsi Media Informasi ... 19

II.3 Analisis 5W1H ... 20

II.4 Target Audience ... 21

II.5 Solusi Permasalahan ... 24

BAB III STRATEGI PERANCANGAN DAN KONSEP VISUAL ... 26

III.1 Strategi Perancangan ... 26

III.1.1 Tujuan Komunikasi ... 26

III.1.2 Pendekatan Komunikasi... 26

III.1.2.1 Pendekatan Visual ... 26

III.1.2.2 Pendekatan Verbal ... 27

III.1.3 Materi Pesan... 27

III.I.4 Gaya Bahasa... 27

III.1.5 Khalayak Sasaran Perancangan ... 28

III.1.5.1 Consumer Insight ... 28

III.1.5.2 Consumer Journey ... 29

III.1.6 Strategi Kreatif ... 31

III.1.7 Strategi Media ... 31

III.1.7.1 Media Pendukung ... 32

III.1.8 Strategi Distribusi ... 33

III.1.8.1 Pertimbangan Dasar Distribusi ... 34

III.2 Konsep Visual ... 34

III.2. 1 Format Desain ... 34

III.2. 2 Tata Letak (Layout)... 35

III.2. 3 Huruf ... 36

III.2. 4 Ilustrasi ... 37

III.2. 5 Warna ... 37

BAB IV TEKNIS PRODUKSI DAN APLIKASI MEDIA ... 40

IV.1 Teknis Produksi ... 40

IV.1.1 Struktur Informasi ... 40


(53)

viii

IV.1.3 Media Utama ... 42

IV.1.4 Media Pendukung Poster ... 43

IV.1.5 X-Banner ... 44

IV.1.6 Stiker ... 45

IV.1.7 T-Shirt ... 46

IV.1.8 Mug ... 47

IV.1.9 Pembatas Buku... 48

DAFTAR PUSTAKA ... 49


(54)

48

DAFTAR PUSTAKA

Buku

Cangara, Hafied. 2014. Pengantar Ilmu Komnikasi. Jakarta. PT Raja Grafindo Persada

Kusrianto, Adi. (2007). Pengantar Desain Komunikasi Visual. Yogyakarta. Ninuk, K.P. (1987). Teater Lenong betawi. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Osborne, Harold. Aesthetics and Art Theory, An Historical Introduction, London

& New York: E. P. Dutton & Co., In., 1970.

Sanjaya, Wina. 2012. Media Komunikasi Pembelajaran. Jakarta. Kencana Prenadamedia Group

Sejarah Jakarta (Dinas Museum dan Pemugaran, Pemprof DKI Jakarta,2011). Windoro, A. (1990). Batavia 1740: Menyisir Jejak Betawi. Jakarta: PT Gramedia

Pustaka Building.

Internet

Khanty, D. 2013 (9 Agustus). Kesenian dan Budaya Jakarta Betawi. Tersedia

http://lembagakebudayaanbetawi.com/headline/multikultur-budaya-betawi.html [18 April 2015]

Portal Resmi Provinsi DKI Jakarta. Ensiklopedi Jakarta, Tersedia www.jakarta.go.id/web/encyclopedia. [3 juli 2015]


(55)

53 DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama : Muhammad Fikri Imannuddin

Tempat, Tanggal Lahir : Jakarta, 07 Januari 1993 Jenis Kelamin : Laki Laki

Agama : Islam

Kewarganegaraan : Indonesia

Alamat : Jl.Cimanuk vi No.365 Kel.Baktijaya Kec. Sukmajaya Kota Depok

Telepon : 085777656071

E-mail : muhammadfikhrii@gmail.com

Latar Belakang Pendidikan

1. 2004 – 2005 SDN Baktijaya 3 Depok 2. 2007 – 2008 MTS Nuruzzahroh Depok 3. 2010 – 2011 MA Arrahmaniyah Depok


(56)

iii KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-NYA, sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan pengantar Tugas Akhir yang berjudul “Perancangan Buku Kesenian khas Betawi”. Penulisan ini merupakan salah satu syarat untuk memenuhi jumlah sks pada Universitas Komputer Indonesia (UNIKOM) Bandung.

Penulis sadar bahwa laporan pengantar Tugas Akhir ini masih jauh dari kata

‘sempurna’ tetapi dengan usaha dan doa, akhirnya penulis bisa menyelesaikan laporan ini dengan hasil maksimal. Laporan ini tidak akan terwujud tanpa adanya bantuan dari pihak lain baik secara langsung maupun tidak langsung. Oleh karena itu melalui tulisan ini penulis menyampaikan rasa terimakasih sebesar-besarnya kepada bapak Irwan Tarmawan, M.Ds selaku pembimbing.

Bandung, Agustus 2015


(57)

(58)

(59)

(1)

48 DAFTAR PUSTAKA

Buku

Cangara, Hafied. 2014. Pengantar Ilmu Komnikasi. Jakarta. PT Raja Grafindo Persada

Kusrianto, Adi. (2007). Pengantar Desain Komunikasi Visual. Yogyakarta. Ninuk, K.P. (1987). Teater Lenong betawi. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia. Osborne, Harold. Aesthetics and Art Theory, An Historical Introduction, London

& New York: E. P. Dutton & Co., In., 1970.

Sanjaya, Wina. 2012. Media Komunikasi Pembelajaran. Jakarta. Kencana Prenadamedia Group

Sejarah Jakarta (Dinas Museum dan Pemugaran, Pemprof DKI Jakarta,2011). Windoro, A. (1990). Batavia 1740: Menyisir Jejak Betawi. Jakarta: PT Gramedia

Pustaka Building.

Internet

Khanty, D. 2013 (9 Agustus). Kesenian dan Budaya Jakarta Betawi. Tersedia

http://lembagakebudayaanbetawi.com/headline/multikultur-budaya-betawi.html [18 April 2015]

Portal Resmi Provinsi DKI Jakarta. Ensiklopedi Jakarta, Tersedia www.jakarta.go.id/web/encyclopedia. [3 juli 2015]


(2)

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama : Muhammad Fikri Imannuddin

Tempat, Tanggal Lahir : Jakarta, 07 Januari 1993 Jenis Kelamin : Laki Laki

Agama : Islam

Kewarganegaraan : Indonesia

Alamat : Jl.Cimanuk vi No.365 Kel.Baktijaya Kec. Sukmajaya Kota Depok

Telepon : 085777656071

E-mail : muhammadfikhrii@gmail.com

Latar Belakang Pendidikan

1. 2004 – 2005 SDN Baktijaya 3 Depok 2. 2007 – 2008 MTS Nuruzzahroh Depok 3. 2010 – 2011 MA Arrahmaniyah Depok


(3)

iii KATA PENGANTAR

Segala puji dan syukur penulis panjatkan kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah melimpahkan rahmat dan karunia-NYA, sehingga penulis dapat menyelesaikan laporan pengantar Tugas Akhir yang berjudul “Perancangan Buku Kesenian khas Betawi”. Penulisan ini merupakan salah satu syarat untuk memenuhi jumlah sks pada Universitas Komputer Indonesia (UNIKOM) Bandung.

Penulis sadar bahwa laporan pengantar Tugas Akhir ini masih jauh dari kata ‘sempurna’ tetapi dengan usaha dan doa, akhirnya penulis bisa menyelesaikan laporan ini dengan hasil maksimal. Laporan ini tidak akan terwujud tanpa adanya bantuan dari pihak lain baik secara langsung maupun tidak langsung. Oleh karena itu melalui tulisan ini penulis menyampaikan rasa terimakasih sebesar-besarnya kepada bapak Irwan Tarmawan, M.Ds selaku pembimbing.

Bandung, Agustus 2015


(4)

(5)

(6)