UPAYA MENGURANGI PERILAKU AGRESIF DENGAN MENGGUNAAN LAYANAN KONSELING KELOMPOK PADA SISWA KELAS XI SMK 2 SWADHIPA NATAR TAHUN PELAJARAN 2013/2014

(1)

UPAYA MENGURANGI PERILAKU AGRESIF DENGAN

MENGGUNAAN LAYANAN KONSELING KELOMPOK PADA SISWA KELAS XI SMK 2 SWADHIPA NATAR TAHUN PELAJARAN 2013/2014

(Skripsi)

Oleh

NOVITA AYU GUSTARI

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS LAMPUNG

BANDAR LAMPUNG 2014


(2)

MENGGUNAAN LAYANAN KONSELING KELOMPOK PADA SISWA KELAS XI SMK 2 SWADHIPA NATAR TAHUN PELAJARAN 2013/2014

Oleh

NOVITA AYU GUSTARI

Masalah penelitian ini adalah perilaku agresif siswa. Permasalahannya adalah apakah perilaku agresif siswa dapat dikurangi dengan menggunakan layanan konseling kelompok?. Tujuan penelitian untuk mengurangi perilaku agresif siswa dengan menggunakan layanan konseling kelompok.

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode quasi eksperimen dengan desain one-group pretest-posttest. Subjek penelitian ini sebanyak 10 siswa kelas XI yang memiliki perilaku agresif. Teknik pengumpulan data dalam penelitian ini dengan menggunakan Observasi.

Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini menunjukkan bahwa terjadi penurunan perilaku agresif siswa setelah diberikan layanan konseling kelompok, hal ini ditunjukkan dari hasil analisis data dengan menggunakan uji-t , dari hasil pretest dan posttest yang diperoleh thitung > ttabel (9,400 > 1,833) maka, Ha diterima dan Ho ditolak, yang artinya terjadi penurunan perilaku agresif setelah mengikuti layanan konseling kelompok. Penelitian ini dapat disimpulkan bahwa perilaku agresif dapat dikurangi dengan menggunakan layanan konseling kelompok pada siswa kelas XI SMK 2 SWADHIPA Natar Lampung Selatan tahun ajaran 2013/2014. Saran yang diberikan adalah (1) Kepada Siswa yang memiliki perilaku agresif, hendaknya mengikuti kegiatan layanan konseling kelompok yang diselenggarakan oleh guru bimbingan dan konseling (2) Kepada guru bimbingan dan konseling, dapat menggunakan konseling kelompok untuk mengurangi perilaku agresif siswa disekolah. (3) Kepada para peneliti selanjutnya, hendaknya dapat melakukan penelitian mengenai masalah yang sama tetapi dengan subjek yang berbeda. Kata kunci : bimbingan dan konseling, konseling kelompok, perilaku agresif


(3)

(4)

(5)

(6)

(7)

MOTO

“Sesungguhnya

sesudah kesulitan itu ada kemudahan, maka apabila kamu

telah selesai (dari suatu urusan), kerjakanlah dengan sungguh-sungguh

(urusan) yang lain, dan hanya kepada Tuhan-mulah hendaknya kamu

berharap” (Alam Nasroh, ayat 6

-8)

Jangan menunggu bahagia untuk tersenyum, namun tersenyumlah agar

engkau bahagia

(Novita Ayu Gustari).

.


(8)

PERSEMBAHAN

Dengan penuh rasa syukur kepada Alloh Swt atas terselesaikannya penulisan

skripsi ini, dengan kerendahan hati, aku persembahkan Skripsi ini kepada:

Bapak dan ibuku tercinta, Ir.Subagiono DM dan Siti Rahayu yang

selalu mendoakanku dalam setiap sujudnya, terima kasih telah

membesarkanku dan mendidikku dengan penuh rasa kasih sayang,

kesabaran dan ketulusan, serta tak pernah putus berhenti memberikan doa

dan dukungan yang luar biasa kau berikan untukku sehingga kau menjadi

motivasi terbesarku dalam menyelesaikan skripsi ini.

Bapak Yusmansyah dan Ibu Ranni Rahmayanthi yang telah sabar

membimbingku serta memberikan motivasi kepadaku.


(9)

RIWAYAT HIDUP

Novita Ayu Gustari lahir di Bandar Lampung tanggal 14 November 1991, merupakan putri keempat dari empat bersaudara, dari pasangan Bapak Ir. Subagiono DM dan Ibu Siti Rahayu.

Penulis menempuh pendidikan formal yang diawali dari : Taman Kanak-Kanak (TK) Bumi Sari Natar, lulus tahun 1997; SD Negeri 2 Palapa, lulus tahun 2004; SMP Negeri 4 Bandar Lampung, lulus tahun 2007; kemudian melanjutkan ke SMA Negeri 3 Bandar Lampung, lulus tahun 2010. Pada tahun 2010, penulis terdaftar sebagai mahasiswa Program Studi Bimbingan dan Konseling, Jurusan Ilmu Pendidikan, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan, Universitas Lampung melalui jalur Ujian Mandiri (UM). Selanjutnya, pada tahun 2013 penulis melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) dan Praktik Layanan Bimbingan dan Konseling di Sekolah (PLBK-S) di SMP Negeri 1 Sumber Jaya, kedua kegiatan tersebut dilaksanakan di Pekon Suka Pura, Kecamatan Sumber Jaya, Kabupaten Lampung Barat, Lampung.


(10)

SANWACANA

Bismillahirrahmanirrahim

Alhamdulillahirrabbil’aalamin, segala puji dan syukur penulis persembahkan kehadirat Allah Swt yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya serta kekuatan lahir dan batin sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.

Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan skripsi ini tidak sedikit hambatan rintangan serta kesulitan yang dihadapi, namun berkat bantuan dan motivasi serta bimbingan yang tidak ternilai dari berbagai pihak, akhirnya penulis dapat menyelesaikan skripsi yang berjudul “Upaya mengurangi perilaku agresif dengan menggunaan layanan konseling kelompok pada siswa kelas XI SMK 2 SWADHIPA Natar Tahun Pelajaran 2013/2014”. Oleh karena itu, penulis menyampaikan ucapan terima kasih yang tidak terhingga kepada :

1. Bapak Dr. Bujang Rahman, M.Si. Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung yang telah memberikan ijin bagi penulis untuk mengadakan penelitian.

2. Bapak Drs. Baharudin Risyak, M.Pd. selaku Ketua Jurusan Ilmu Pendidikan FKIP Universitas Lampung.

3. Bapak. Drs. Yusmansyah, M.Si selaku ketua Program Studi Bimbingan dan Konseling FKIP Universitas Lampung serta selaku Pembimbing Utama yang telah memberikan bimbingan, masukan dan arahan demi terselesaikannya skripsi ini.

4. Ari Sofia, S.Psi.MA.,Psi selaku pembahas yang telah membimbing dan membantu dalam menyelesaikan skripsi ini.

5. Ibu Ranni Rahmayanthi Z, S.Pd., M.A. selaku Pembimbing Kedua yang telah memberikan bimbingan, masukan dan arahan demi terselesaikannya skripsi ini.


(11)

Psi., Diah Utaminingsih, S.Psi., M.A., Psi. Drs. Muswardi Rosra M.Pd., Drs. Syaifudin Latif, M.Pd., Dr. Syarifuddin Dahlan, M.Pd., Citra Abriani Maharani, M.Pd., Kons., Yohana Oktariana, M.Pd dan semuanya) terima kasih untuk semua bimbingan dan pelajaran yang begitu berharga yang telah kalian berikan untukku selama perkuliahan.

7. Bapak Purwadi, ST sebagai kepala SMK 2 SWADHIPA NATAR yang telah berkenan memberikan ijin kepada penulis untuk melakukan penelitian.

8. Bapak Drs.Tholhatul Badri dan Ibu Euis Laila Hidayati, S.Pd.I. selaku guru bimbingan dan konseling, serta seluruh dewan guru, staf tata usaha dan siswa-siswi SMK 2 SWADHIPA Natar yang telah bersedia membantu penulis dalam mengadakan penelitian ini.

9. Kedua orang tuaku tercinta yang telah mencurahkan seluruh waktu dan tenaganya serta membesarkanku dengan penuh kasih sayang.

10. Mamas-mamasku tersayang M Sudarmaji SP, ST dan Ari Atmaja SP, SE yang selalu memotivasi aku, serta adik tersayangku Junia Martha Ningrum yang selalu setia mendengarkan keluk kesahku dalam mengerjakan skripsi ini dan selalu memotivasiku, juga keluarga besarku, terima kasih atas kasih sayang, doa dan dukungan yang telah diberikan selama ini.

11. Sahabat-sahabatku Fiki Fernando yang sudah memberi motivasi, dukungan serta mendengarkan keluk kesah aku selama mengerjakan skripsi ini juga sahabatku, Mitha, Nissa, dan Devi yang telah mewarnai perjalanan hidupku serta selalu memberi motivasi.

12. Buyan-buyanku tersayang trinkelball wella, barbie mbul, princes nces, sopia dewi, meylin, emil, dan eva terimakasih atas bantuan dan dukungannya serta telah memberikan warna dalam perjalanan perkuliahanku selama ini.

13. Sahabat-sahabat seperjuangan BK 2010, nyenil, nita, bebet, diah, desfi, dina, bunda, jelita, ayu, kak boy, nanang, noprita, natali, lulu, mamah, bebi, uni, ika, aan pur, mbak dita, nailul, mami, amel, wiwit, mpus, mbak desi, febri, lusi, desti, ivana, mega, putri, dan semuanya terima kasih untuk kebersamaannya selama ini.


(12)

atas canda tawa kalian, kekeluargaan dan kebersamaan itu membuat KKN dan PLBK begitu menyenangkan dan berarti dalam pengalam hidup.

15. Keluarga SMK 2 SWADHIPA Natar yang telah memberikan dukungan dan semangatnya dan selalu mengingatkan ketika saya sedang lalai.

16. Teman – teman mahasiswa Bimbingan dan Konseling (2007-2013) yang tidak dapat disebutkan satu persatu, terima kasih banyak atas masukan, saran, motivasi, serta semangatnya.

17. Semua pihak yang telah membantu dalam penulisan skripsi ini yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu. Terima kasih.

Hanya harapan dan doa semoga Allah Swt memberikan balasan yang berlipat ganda kepada semua pihak yang telah berjasa dalam membantu penulis menyelesaikan skripsi ini.

Akhirnya kepada Allah Swt jualah penulis serahkan segalanya dalam mengharapkan keridhaan, semoga skripsi ini bermanfaat bagi masyarakat umumnya dan bagi penulis khususnya, anak dan keturunan penulis kelak. Aamiin. Bandar Lampung, Desember 2014

Penulis


(13)

DAFTAR ISI

DAFTAR ISI ...i

DAFTAR TABEL ...ii

DAFTAR GAMBAR ...iii

LAMPIRAN ...ix

I.PENDAHULUAN ...1

A. Latar Belakang dan Masalah ...1

1. Latar Belakang ...1

2. Identifikasi Masalah ...5

3. Pembatasan Masalah ...6

4. Rumusan Masalah ...6

B. Tujuan dan Kegunaan Penelitian ...6

1. Tujuan Penelitian ...6

2. Kegunaan Penelitian...7

C. Kerangka Pikir ...7

D. Hipotesis ...11

II. TINJAUAN PUSTAKA ...12

A. Bimbingan Sosial dan Peilaku Agresif Remaja ...12

1. Bimbingan Sosial ...12

2. Definisi Perilaku Agresif ...14

3. Faktor-Faktor Penyebab Terbentuknya Perilaku Agresif ...18

4. Ciri-ciri Perilaku Agresif ...22

5. Dampak Perilaku Agresif ...24

6. Macam-macam Bentuk Perilaku Agresif ...25

7. Cara Mengatasi Perilaku Agresi ...28

B. Konseling Kelompok ...30

1. Pengertian Konseling Kelompok ...30

2. Tujuan Konseling Kelompok ...33

3. Teknik Konseling Kelompok ...35

4. Komponen Dalam Konseling Kelompok ...36

5. Tahap-Tahap Penyelenggara Konseling Kelompok...39

C. Keterkaitan antara perilaku agresif dengan konseling kelompok ...47

III. METODOLOGI PENELITIAN ...52


(14)

E. Variabel Penelitian dan Definisi Operasional ...55

F. Teknik Pengumpulan Data ...57

G. Uji Instrument ...58

H. Teknik Analisis Data ...60

IV HASIL DAN PEMBAHASAN ...62

A. Hasil Penelitian ...62

1. Gambaran Hasil Pra Konseling Kelompok ...62

2. Deskripsi Data ...64

3. Kegiatan Layanan Konseling Kelompok ...65

4. Pelaksanaan Kegiatan Layanan Konseling Kelompok ...66

5. Data Hasil Penelitian ...86

6. Analisis Data Hasil Penelitian ...88

7. Uji Hipotesis ...89

B. Pembahasan ...90

V. KESIMPULAN DAN SARAN ...124

A. Kesimpulan ...124

1. Kesimpulan Statistik ...124

2. Kesimpulan Penelitian ...124

B. Saran ...125

1. Kepada Siswa yang Memiliki Perilaku Agresif ...125

2. Kepada Guru ...125

3. Kepada Para Peneliti Selanjutnya ...126

DAFTAR PUSTAKA ...130


(15)

DAFTAR GAMBAR

Gambar

Halaman

1.1 Kerangka Pikir Penelitian ... 10

2.1 Tahap Pembentukan dalam Konseling Kelompok ... 42

2.2 Tahap Peralihan dalam Konseling Kelompok ... 43

2.3 Tahap Kegiatan dalam Konseling Kelompok ... 44

2.4 Tahap Pengakhiran dalam Konseling Kelompok ... 45

4.1 Grafik Penurunan Perilaku Agresif Sebelum dan Sesudah mengikuti layanan konseling kelompok ... 86

4.2 Grafik penurunan periku agresif FH ... 95

4.3 Grafik penurunan periku agresif AP ... 98

4.4 Grafik penurunan perilaku BA ... 102

4.5 Grafik penurunan perilaku SE ... 105

4.6 Grafik penurunan perilaku VA ... 108

4.7 Grafik penurunan perilaku BY ... 111

4.8 Grafik penurunan perilakuMJ ... 115

4.9 Grafik penurunan perilaku RA ... 118

4.10 Grafik penurunan perilaku MA ... 121


(16)

DAFTAR TABEL

Tabel

Halaman

3.1 Kisi-kisi Cheklist Observasi ... 58

4.1 Daftar Subjek Perilaku Agres ... 63

4.2 Kategori Observasi Perilaku Agresif Siswa ... 65

4.3 Hasil Pretest Sebelum Pemberian Layanan Konseling Kelompok ... 65

4.4 Hasil Posttest Setelah Pemberian Layanan Konseling Kelompok ... 86

4.5 Hasil Pretest dan Posttest ... 86

4.6 Data Perilaku Agresif siswa sebelum dan setelah mengikuti layanan konseling kelomp ... 87


(17)

LAMPIRAN

Lampiran

1. Kisi-kisi observasi penelitian ... 133

2. Lembar Observasi Ceklist ... 135

3. Uji Coba Realibilitas ... 137

4. Hasil Uji Coba Ekspert Judgment ... 141

5. Tahap Pelaksanaan Penelitian ... 143

6. Hasil Observasi Pretest ... 144

7. Hasil Observasi Posttest ... 145

8. Satuan Layanan Konseling ... 146

9. Tabel Uji t ... 162


(18)

BAB I PENDAHULUAN

A.Latar Belakang dan Masalah 1.Latar Belakang

Sekolah merupakan pendidikan kedua setelah lingkungan keluarga, manfaat dari sekolah bagi siswa ialah melatih kemampuan akademis siswa, mengembangkan kedisiplinan siswa, memperkenalkan tanggung jawab siswa, membangun jiwa sosial dan jaringan pertemanan, sarana mengembangkan kreativitas, dan sebagai mengenal identitas diri namun kenyataannya di Indonesia ini perilaku siswa masih banyak yang mengalami kegagalan karena bagi anak remaja, selama mereka masih menempuh pendidikan formal di sekolah akan terjadi interaksi antara remaja dengan sesamanya, suka berkelahi dengan teman sebayanya, suka menghina individu lain dan juga menyakitkan perasaan orang lain keadaan ini termasuk interaksi antara remaja dan pendidikan. Interaksi yang mereka lakukan di sekolah sering menimbulkan akibat yang negatif bagi perkembangan mental anak remaja seperti uraian di atas. Baru-baru ini juga terdapat pemberitaan bahwa dua peristiwa tawuran pelajar terjadi di Jakarta selatan (liputan 6,18 Desember 2013). Itu merupakan salah satu contoh kekerasan dikalangan pelajar yang terdapat di Indonesia.


(19)

Remaja adalah masa tumbuhnya seseorang dalam masa transisi dari kanak-kanak ke masa dewasa. Remaja juga sering disebut individu yang sedang dalam masa perkembangan, di mana mereka senang dengan penjelajahan yaitu senang dengan mencari sesuatu yang baru sebagai bahan pertimbangan dalam mencari jati dirinya. Dalam masa pencarian jati diri tidak jarang mereka menemukan permasalahan atau persoalan dimana permasalahan tersebut dapat mereka selesaikan sendiri yang membuat dirinya semakin banyak pengalaman hidup, namun kadang permasalahan itu juga tidak dapat mereka selesaikan sendiri yang membuat dirinya terbebani dan menghambat tugas-tugas perkembangan dirinya biasanya mempengaruhi dalam hubungan sosialnya, mengingat manusia adalah mahluk individu dan juga mahluk sosial.

Maka dari itu tidak heran jika di sekolah siswa SMK 2 Swadhipa kelas XI ada yang memiliki perilaku agresif seperti memukul teman, menendang teman, berkelahi. Kejadian tersebut terlihat dari observasi awal yang dilakukan oleh peneliti dan berdasarkan hasil wawancara dengan guru bimbingan dan konseling. Agresif merupakan perilaku yang diarahkan dengan tujuan untuk membahayakan orang lain baik secara verbal ataupun nonverbal (fisik) (Baron dan Byrne, 2002).

Perilaku agresif muncul karena kegagalan individu untuk mendapatkan sesuatu yang diinginkannya atau keinginannya yang terhalang sehingga dapat timbul luapan emosi dalam bentuk verbal seperti menghina, memaki, marah, dan mengumpat, sedangkan perilaku agresif nonverbal atau bersifat fisik langsung adalah perilaku memukul, mendorong, berkelahi, menendang dan


(20)

menampar. Perilaku agresif suatu bentuk kekerasan yang dapat membahayakan orang lain pendapat ini diperkuat oleh Antasari (2006) mengatakan bahwa perilaku agresif merupakan tindakan yang bersifat kekerasan, yang dilakukan oleh manusia terhadap sesamanya, dimana dalam agresif terdapat maksud untuk membahayakan atau mencederai orang lain, dan diindikasikan antara lain oleh tindakan untuk menyakiti, merusak, baik secara fisik, psikis, maupun sosial. Secara khusus perilaku-perilaku tersebut menunjukkan gangguan-gangguan yang disebabkan oleh proses belajar yang tidak semestinya, seperti gangguan mempelajari jenis-jenis kemampuan yang diperlukan seperti mencintai lawan jenis, memiliki konsep diri yang positif, atau telanjur mempelajari bentuk-bentuk perilaku yang maladaptif, misalnya anak yang tumbuh menjadi remaja agresif karena meniru perilaku orangtua dan tekanan keadaan didalam keluarga atau lingkungan yang tidak harmonis. Perilaku agresif yang terjadi di lingkungan sekolah jika tidak segera ditangani dapat menimbulkan gangguan dalam proses belajar mengajar dan akan menyebabkan siswa yang memiliki perilaku agresif cenderung beradaptasi dengan kebiasaan buruknya.

Perilaku agresif merupakan bentuk tindakan dengan maksud melukai dengan merugikan orang lain yang dapat menimbulkan dampak bagi korban. Menurut Handayani (2004) dampak perilaku agresif antara lain: Dampak bagi pelaku, yaitu individu tersebut akan dijauhkan oleh teman sebayanya, dibenci dan dicap nakal oleh teman-temannya, anak juga akan memiliki konsep diri yang buruk, dan sulit memfokuskan diri untuk mengikuti pelajaran pada saat jam


(21)

pelajaran. Dampak bagi korban (Lingkungan), yaitu dapat menimbulkan ketakutan bagi anak-anak lain (teman sebaya yang lain) dan akan tercipta hubungan sosial yang kurang sehat. Juga dapat mengganggu ketenangan didalam lingkungan karena biasaanya anak yang berperilaku agresif juga cenderung suka merusak benda-benda disekitarnya.

Dapat di simpulkan bahwa individu yang memiliki perilaku agresif akan mengalami kesulitan dalam berhubungan sosial dengan teman sebaya mereka, karena sifat agresif seperti memukul, menendang, berkelahi, dan menghina, atau merusak barang-barang orang lain akan membuat individu tersebut dapat dijauhkan dan dicap sebagai anak yang nakal. Sedangkan bagi orang lain sebagai korban akan menimbulkan rasa ketakutan dan mengganggu ketenangan lingkungan, korban juga mempunyai ketidak mampuan untuk mempercayai orang lain dan ketidak mampuan untuk berteman dekat (relasi baik) dengan orang lain, keterpakuan dengan pikiran tindakan agresif atau kriminal.

Menurut Sukardi (2000), dalam pelayanan BK terdapat bidang bimbingan sosial yaitu membantu siswa mengenal dan berhubungan dengan lingkungan sosialnya yang dilandasi budi pekerti luhur, tanggung jawab kemasyarakatan dan kenegaraan.

Tohirin (2007) mengungkapkan bahwa hal-hal yang menghambat atau mengganggu hubungan sosial dan komunikasi siswa dapat diungkapkan melalui layanan konseling kelompok sehingga perilaku siswa dapat berkembang dengan baik dan potensi yang dimiliki dapat berkembang secara


(22)

optimal. Dari beberapa pendapat dapat di simpulkan dalam hal ini peranan guru bimbingan dan konseling mempunyai posisi yang strategis untuk melaksanakan kegiatan konseling kelompok, karena pemberian konseling kelompok ditunjukan untuk membantu peserta didik yang mengalami kesulitan, mengalami hambatan dalam mencapai tugas-tugas perkembangannya.

Salah satu cara untuk mengetahui bagaimana siswa dapat menyelesaikan permasalahannya dengan cara konseling kelompok, penemuan alternatif pemecahan masalah dan pengambilan keputusan secara lebih tepat dan dapat mengurangi perilaku-perilaku bermasalah termasuk perilaku agresifnya. Dalam layanan konseling kelompok terdapat dinamika kelompok yang dapat digunakan untuk mengurangi perilaku agresif yaitu, mereka dapat mengembangkan berbagai keterampilan yang pada intinya meningkatkan kepercayaan diri dan kepercayaan orang lain seperti berani mengemukakan atau percaya diri dalam berprilaku terhadap orang lain, cintai diri yang dapat dilihat dari dalam berprilakunya dan gaya hidupnya untuk memelihara diri, memiliki pemahaman yang tinggi terhadap segala kekurangan dan kemampuan dan belajar memahami orang lain dan menerima kritik dan keterampilan diri dalam penampilan dirinya serta dapat mengendalikan perasaan dengan baik.

2. Identifikasi Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, penulis menemukan masalah-masalah yang ada dalam penelitian ini dapat diidentifikasikan sebagai berikut:


(23)

b. Ada beberapa siswa yang sering mendorong temannya c. Ada beberapa siswa yang sering memukul temannya d. Terdapat beberapa siswa yang sering menendang temannya e. Ada beberapa siswa yang sering berkelahi di sekolah, 3. Pembatasan Masalah

Untuk lebih memperjelas arah dalam penelitian ini, selain karena keterbatasan kemampuan peneliti serta keterbatasan waktu, maka masalah dalam penelitian ini hanya terbatas pada Upaya Mengurangi Perilaku Agresif Dengan Menggunaan Layanan Konseling Kelompok Pada Siswa Kelas XI di SMK 2 Swadhipa Tahun Pelajaran 2013/2014.

4. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas dan identifikasi masalah dalam penelitian ini maka masalahnya adalah “adanya perilaku agresif pada siswa” dan peneliti lebih spesifik ingin meneliti perilaku agresif fisik. Adapun

permasalahannya adalah ”Apakah perilaku agresif pada siswa kelas XI SMK 2 SWADHIPA Natar dapat dikurangi dengan layanan konseling kelompok?” B. Tujuan dan Kegunaan Penelitian

1. Tujuan Penelitian

Adapun tujuan penelitian ini adalah untuk menurunkan perilaku agresif siswa dengan cara menggunakan layanan konseling kelompok.


(24)

2. Kegunaan Penelitian

Penelitian ini memiliki kegunaan sebagai berikut: a. Kegunaan Teoritis

Secara teoritis, hasil penelitian ini dapat memberikan sumbangan ilmu pengetahuan khususnya Bimbingan dan Konseling dalam menangani prilaku agresif siswa.

b. Kegunaan Praktis

Hasil penelitian ini diharapkan berguna untuk memberikan sumbangan pemikiran kepada guru pembimbing dan tenaga kependidikan lainnya dalam mengatasi perilaku agresif siswa dengan menggunakan layanan konseling kelompok.

C. Kerangka Pemikiran

Kerangka pemikiran atau kerangka berpikir adalah dasar pemikiran dari penelitian yang disentesiskan dari fakta-fakta dari hasil observasi dan kepustakaan yang memuat teori, konsep-konsep yang akan dijadikan dasar dalam penelitian.

Mappiare (1982) Perilaku agresif adalah tingkah laku yang dilakukan individu dengan maksud untuk melukai atau mencelakakan individu lain dengan maksud tertentu.

Perilaku agresif dalam kelompok sosial tidak bisa dibiarkan saja, siswa yang sering melakukan perilaku agresif perlu mendapatkan bantuan untuk


(25)

mengatasi masalah yang mereka hadapi karena perilaku agresif dapat mengganggu perkembangan sosial mereka. Individu yang sering melakukan perilaku agresif dibantu oleh peneliti dengan menggunakan layanan konseling kelompok, dengan konseling kelompok yang diberikan perilaku agresif individu dapat dikurangi, hal ini sesuai dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Kursin (2005) penelitiannya menyimpulkan bahwa “Layanan Konseling Kelompok dapat digunakan dalam menurunkan perilaku agresif”. Perilaku agresif itu sendiri adalah salah satu bentuk perilaku sosial yang menyimpang karena ciri-cirinya yang cenderung merusak, menyerang dan melanggar peraturan. Hal ini diungkapkan dari pendapat Mappiare (1982) yang menyebutkan bahwa perilaku agresif merupakan bentuk-bentuk tingkah laku sosial yang menyimpang dengan menujukkan ciri-ciri cenderung merusak, melanggar peraturan dan menyerang. Berdasarkan ciri-ciri yang disampaikan oleh Mappiare perilaku agresif memberikan dampak yang negatif bagi siswa yang berperilaku agresif dan juga bagi lingkungannya. Handayani (2004), mengungkapkan dampak-dampak perilaku agresif pada siswa yaitu:

a. Dampak bagi pelaku, yaitu anak akan dijauhi teman-temannya dan akan memilki sedikit teman bahkan biasa sama sekali tidak memilki teman.

b. Anak juga akan memiliki konsep diri yang buruk, dan anak akan dicap sebagai anak yang nakal oleh teman-temannya sehingga membuatnya merasa kurang aman dan kurang bahagia

c. Dampak bagi korban (lingkungan), yaitu dapat menimbulkan ketakutan bagi anak-anak lain dan akan tercipta hubungan sosial yang kurang sehat. Selain dari pada itu juga dapat mengganggu ketenangan lingkungan karena biasaanya anak yang cenderung berprilaku agresif cenderung untuk merusak benda-benda disekitarnya.

Jadi berdasarkan pendapat yang disampaikan oleh Handayani, bahwa perilaku agresif dapat merugikan orang lain dan dirinya sendiri sehingga


(26)

secara tidak langsung perilaku agresif ini dapat menimbulkan masalah sosialisasi pada diri siswa itu sendiri seperti rasa ketidak nyamanan, dijauhi oleh teman-teman, dan dapat mempengaruhi kegiatan pembelajaran. Perilaku tersebut tentunya harus diminimalisir agar siswa dapat mengembangkan perilaku mereka dengan baik.

Pendapat ini juga didukung oleh Tohirin (2007), mengatakan bahwa melalui layanan konseling kelompok, hal-hal yang menghambat atau mengganggu berkembangnya kemampuan sosialisasi dan komunikasi siswa dapat diungkap sehinga siswa dapat berkembang secara optimal. Pengertian konseling kelompok itu sendiri menurut Warner dan Smith (dalam Wibowo, 2005) menyatkan bahwa: konseling kelompok merupakan cara yang baik untuk menangani konflik-konflik antar pribadi dan untuk membantu individu dalam mengembangkan kemampuan pribadi mereka.

Adapun dalam memberikan bantuan dalam mengatasi perilaku agresif, peneliti menggunakan layanan konseling kelompok. Layanan konseling kelompok digunakan untuk mengatasi perilaku agresif siswa dikarenakan dalam konseling kelomok memanfaatkan dinamika kelomok untuk mengatasi permasalahan anggotanya, layanan konseling kelompok merupakan layanan bimbingan dan konseling yang memungkinkan peserta memperoleh kesempatan untuk membahas dan mengentaskan permasalahan yang dialami siswa melalui dinamika kelompok.


(27)

Sukardi dan Kusumawati (2008:79) menyatakan bahwa “ Konseling

kelompok merupakan konseling yang diselenggarakan dalam kelompok, dengan memanfaatkan dinamika yang terjadi didalam kelompok itu. Masalah-masalah yang dibahas merupakan masalah perorangan yang muncul di dalam kelompok itu, yang meliputi berbagai masalah dalam segenap bidang bimbingan ( pribadi, belajar, social, dan karier). Seperti dalam konseling perorangan, setiap angggota kelompok dapat menampilkan masalah yang dirasakannya. Masalah-masalah tersebut dilayani melalui pembahasan yang intensif oleh seluruh anggota kelompok, masalah demi masalah satu persatu tanpa terkecuali sehingga

semua masalah terbicarakan.”

Berdasarkan pendapat tersebut maka konseling kelompok diperkirakan tepat digunakan sebagai salah satu bentuk layanan untuk mengatasiperilaku agresif siswa. Perilaku agresif siswa mencakup masalah pada bidang bimbang sosial. Tujuan dari konseling kelompok itu sendiri adalah terkembangnya perasaan, pikiran, wawasan dan sikap terarah pada tingkah laku khususnya dan bersosialisasi dan berkomunikasi; terpecahnya masalah individu yang bersangkutan dan diperolehnya imbasan pemecahan masalah tersebut bagi individu- individu lain yang menjadi peserta layanan. (Prayitno,1995) Melalui konseling kelompok diharapkan siswa dapat mengurangi perilaku agresif yang dihadapinya dan memecahkan masalah tersebut secara bersama-sama.

Berikut ini adalah kerangka pikir dari penelitian ini

Gambar 1.1 Kerangka pikir penelitian Perilaku agresif siswa Layanan Konseling Kelompok Perilaku agresif siswa yang berkurang


(28)

D. Hipotesis

Hipotesis adalah suatu jawaban yang bersifat sementara terhadap permasalahan penelitian seperti terbukti melalui data yang terkumpul (dalam Arikunto, 2006).

Hipotesis yang penulis ajukan adalah bahwa penggunaan layanan konseling kelompok dapat digunakan untuk mengurangi perilaku agresif siswa kelas XI SMK 2 SWADHIPA Natar Tahun Pelajaran 2013/2014.

Sesuai dengan hipotesis penelitian, maka dapat dirumuskan hipotesis statistik sebagai berikut:

Ha : Perilaku agresif dapat dikurangi dengan menggunakan layanan konseling kelompok pada siswa kelas XI SMK 2 SWADHIPA Natar Tahun Pelajaran 2013/2014.

Ho : Perilaku agresif tidak dapat dikurangi dengan menggunakan layanan konseling kelompok pada siswa kelas XI SMK 2 SWADHIPA Natar Tahun Pelajaran 2013/2014.


(29)

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

Tinjauan pustaka dalam penelitian ini digunakan untuk menerangkan tentang variabel yang akan diteliti. Tinjauan pustaka berisi teori-teori relevan yang dapat digunakan untuk menjelaskan variabel yang akan diteliti, sebagai dasar untuk memberi jawaban sementara terhadap rumusan masalah serta penyusunan instrument. Dalam tinjauan pustaka akan diuraikan lebih jelas tentang: a) Perilaku Agresif, meliputi: definisi perilaku agresif, faktor-faktor penyebab terbentuknya perilaku agresif, ciri-ciri perilaku agresif, Dampak perilaku agresif, cara mengatasi perilaku agresif. b) konseling kelompok meliputi: pengertian konseling kelompok, tujuan konseling kelompok, teknik konseling kelompok, komponen dalam konseling kelompok, dan tahap-tahap penyelenggara konseling kelompok.

A. Bimbingan Sosial dan Perilaku Agresif

1. Bimbingan Sosial

Perilaku agresif memberikan dampak negatif bagi siswa dalam berhubungan sosial dengan lingkungannya seperti siswa yang dijauhi oleh teman-temannya karena dicap nakal, siswa yang memiliki konsep diri yang buruk dan tidak memiliki hubungan yang harmonis dengan teman sebayanya dan lingkungan


(30)

di sekolahnya. Sehingga perilaku agresif harus dikurangi salah satu cara untuk mengurangi perilaku agresif ialah melalui layanan konseling kelompok dalam bidang bimbingan sosial. Menurut Sukardi (2000) adalah layanan konseling dalam bimbingan sosial untuk membantu siswa dalam mengenal dan berhubungan dengan lingkungan sosial yang dilandasi dengan budi perkerti luhur, tanggung jawab kepada kemasyarakatan dan kenegaraan. Menurut Sukardi (2000) berikut ini pokok-pokok bidang bimbingan sosial: 1. Membantu siswa memahami kelemahan diri dan usaha

penanggulangannya.

2. Membantu siswa memahami kemampuan mengambil keputusan.

3. Membantu siswa memahami kemampuan mengarahkan diri sesuai dengan keputusan yang telah diambilnya.

4. Membantu siswa dalam merencanakan dan penyelenggaraan hidup sehat, baik secara rohaniah maupun jasmaniah.

5. Membantu siswa menetapkan kemampuan berkomunikasi, baik melalui ragam lisan, tulisan secara efektif.

6. Membantu siswa menetapkan kemampuan bertingkah laku dan berhubungan sosial, baik di rumah, di sekolah, maupun di masyarakat luas.

7. Membantu siswa menetapkan kemampuan menerima dan menyampaikan pendapat serta beragumentasi secara dinamis, kreatif, dan produktif. 8. Membantu siswa menetapkan pemahaman kondisi dan peraturan sekolah

serta upaya pelaksanaannya secara dinamis dan bertanggung jawab. 9. Orientasi tentang hidup berkeluarga.


(31)

Berdasarkan pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa bimbingan sosial merupakan suatu bimbingan yang diberikan oleh seorang ahli kepada individu atau kelompok, dalam membantu individu menghadapi masalah-masalah sosial, seperti penyesuaian diri, menghadapi konflik, pergaulan dan kemudahan dalam beradaptasi dengan lingkungannya.

2. Definisi Perilaku Agresif

Istilah “Agresif” sering diartikan dalam percakapan sehari-hari untuk menerangkan sebagian besar perilaku kasar atau keras. Didalam istilah yang digunakan tersebut kebanyakan didalamnya mengandung akibat ataupun kerugian bagi orang lain. Erat hubungannya dengan kemarahan karena kemarahan dapat terjadi jika orang tidak memperoleh apa yang mereka inginkan. Emosi marah akan berkembang jika orang mendapat ancaman bahwa mereka tidak akan mendapatkan apa yang mereka kehendaki dan kemungkinan pula akan terjadi pemaksaan kehendak atas orang atau objek lain dari kemarahan dan berkembang menuju agresif.

Perilaku agresif adalah tindakan yang bersifat kekerasan, yang dilakukan oleh individu terhadap individu lainnya. Dalam agresi terkandung maksud untuk membahayakan atau mencederai orang lain. Bahaya atau pencederaan yang diakibatkan perilaku agresif bisa berupa bahaya atau pencederaan verbal, namun pula bisa bahaya atau pencederaan nonverbal (fisik), yang terjadi sebagai akibat agresif verbal (agresif lewat kata-kata tajam yang menyakitkan) contoh lain dari agresif yang tidak secara langsung menimbulkan bahaya atau pencenderaan nonverbal (fisik) adalah pemaksaan,


(32)

intimidasi (penekanan), dan pengucilan atau pun pengasingan sosial. Perilaku agresif (suka menyerang) lebih menekankan pada suatu perilaku yang bertujuan untuk menyakiti hati orang lain, secara sosial tidak dapat diterima dalam kehidupan bermasyarakat.

Agresif sering sekali diartikan sebagai perilaku yang dimaksudkan untuk melukai orang lain baik secara fisik (nonverbal) atau pun psikis (verbal). Definisi hampir sama juga disampaikan oleh Baron dan Byrne (2002) mendefinisikan agresif sebagai perilaku yang diarahkan dengan tujuan untuk membahayakan orang lain. Seperti yang dikatakan oleh Sears (Wahyudi, 2010) menyatakan bahwa dalam situasi tertentu orang akan melakukan perilaku agresif atau tidak melakukan perilaku agresif dipengaruhi oleh tiga variabel:

1. Intensitas marah seseorang yang sebagian ditentukan oleh taraf frustasi atau serangan yang menimbulkannya, dan sebagian ditentukan oleh taraf frustasi yang menimbulkan rasa marah.

2. Kecenderungan untuk mengekspresikan marah yang pada umumnya ditentukan oleh apa yang dipelajari seseorang tentang agresifitas dan pada umumnya ditentukan oleh situasi.

3. Kadang-kadanng kekerasan dilakukan karena alasan lain yang bersifat instrumental.

Pendapat dari Sears ini menunjukan bahwa taraf frustasi seseorang individu mempengaruhi seseorang untuk bertindak agresif, tindakan yang dilakukan tergantung dengan apa yang dipelajari seseorang tentang tindakan agresif tersebut.

Ketiga pendapat diatas didukung oleh pendapat yang disampaikan Antasari (2006) yang menyatakan bahwa perilaku agresif merupakan tindakan yang


(33)

bersifat kekerasan, yang dilakukan oleh manusia terhadap sesamanya, dimana dalam agresi terdapat maksud untuk membahayakan atau mencederai orang lain, dan diindikasikan antara lain oleh tindakan untuk menyakiti, merusak, baik secara fisik, psikis, maupun sosial. Sasaran orang yang berprilaku agresif tidak hanya ditunjukan kepada musuh saja tetapi juga kepada benda-benda yang ada dihadapannya untuk merusak.

Sedangkan menurut Berkowitz (Kursin, 2009) perilaku agresif “mengacu pada pemakaian kekerasan yang dapat melanggar hak-hak seseorang dan

tindakan yang menyakitkan hati.” Berkowitz membagi agresif menjadi dua

bagian yaitu “agresif instrumental (agresi untuk mencapai tujuan, misalnya

mendapatkan kembali objek, hak ataupun kekuasaan) dan agresif permusuhan yaitu agresi untuk melampiaskan kebencian dengan melukai, menyakiti atau

merusak”.

Breakwell, (Wahyudi,2010) memberikan pendapat tentang perilaku agresif yaitu:

“agresifitas selalu menunjuk pada tingkah laku kasar, menyerang dan

melukai. Tingkah laku agresif secara sosial adalah tingkah laku menyerang orang lain baik penyerangan secara verbal maupun fisik. Penyerangan secara verbal misalnya mencaci, mengejek, atau memperolok, sedangkan agresif secara fisik seperti mendorong, memukul, dan berkelahi, melampiaskan kebencian dengan cara melukai, menyakiti atau merusak orang lain.”

Pendapat serupa dikemukakan oleh Mappiare (1982) yang mengatakan bahwa perilaku agresif ialah tingkah laku yang dilakukan individu dengan maksud untuk melukai atau mencelakakan orang individu lain dengan maksud tertentu.


(34)

Pendapat tersebut diperkuat dari pendapat Abidin (2005), bahwa agresif mempunyai beberapa karakteristik. Karakteristik yang pertama, agresif merupakan tingkah laku yang bersifat membahayakan, menyakitkan, dan melukai orang lain. Kedua, agresif merupakan suatu tingkah laku yang dilakukan seseorang dengan maksud untuk melukai, menyakiti dan membahayakan orang lain. Ketiga, agresif dilakukan untuk melukai korban secara fisik, psikis (psikologinya) seperti menghina orang lain.

Sehingga dapat disimpulkan bahwa perilaku agresif itu tidak hanya merupakan suatu tindakan dengan maksud melukai, menyakiti orang lain, tetapi juga dapat membahayakan orang lain dengan maksud tertentu, dan perilaku agresif tidak hanya ditampakkan dalam bentuk fisik, psikis sosial, tetapi juga dalam bentuk merusak benda-benda yang ada di sekitar individu tersebut dengan sengaja.

Menurut pendapat Baron (Koeswara, 1998) mengartikan bahwa perilaku agresif sebagai perilaku individu yang ditunjukkan untuk melukai atau mencelakakan individu lainnya yang tidak diinginkan datangnya perilaku tersebut. Dalam agresifitas terdapat unsur ketidak inginan korban menerima perilaku agresif, adanya usaha menghindar pada diri korban yang disakiti, dilukai, atau dicelakakan.

Perilaku agresif juga disebabkan karena adanya luapan emosi akibat kegagalan individu mendapatkan kebutuhannya, sehingga diekspresikan dalam bentuk agresif fisik atau verbal, pengertian ini dapat dilihat menurut para ahli seperti Scheneiders (1964), mengatakan bahwa agresif merupakan


(35)

luapan emosi sebagai reaksi terhadap kegagalan individu yang ditempatkan dalam bentuk pengerusakan terhadap orang ataupun benda dengan unsur kesengajaan yang diekspresikan dengan kata-kata ataupun perilaku.

Berdasarkan pendapat-pendapat para ahli dapat disimpulkan bahwa perilaku agresif adalah bentuk tindakan tingkah laku sosial yang menyimpang, dengan maksud untuk menyakiti orang lain baik sengaja maupun tidak sengaja dalam bentuk verbal ataupun fisik. Perilaku ini muncul karena suatu bentuk terhadap rasa kecewa karena tidak terpenuhinya rasa kebutuhan juga keinginannya. 3. Faktor-faktor Penyebab Terbentuknya Perilaku Agresif

Dalam teori insting-ganda, Freud (dalam Barbara 2005) mengusulkan bahwa perilaku individu didorong oleh dua kekuatan dasar yang menjadi bagian tak terpisahkan dari sifat manusiawi; insting kehidupan (eros) dan insting kematian (thanatos) dan diarahkan pada destruksi-diri. Perilaku agresif pada anak sepertinya cukup meresahkan apabila dilihat dari akibat yang mungkin ditimbulkan. Perilaku agresif pada umumnya dipahami sebagai perilaku yang ingin melukai orang lain. Perilaku ini termasuk salah satu perilaku yang tidak dapat diterima oleh lingkungan sosial. Tindakan agresif ini muncul karena ada beberapa faktor pemicu yaitu baik dalam diri individu maupun dari luar diri individu.

Menurut Sears, Taylor dan Peplau (dalam Koeswara, 1998), perilaku agresif remaja disebabkan oleh faktor utama yaitu adanya serangan serta frustasi. Serangan merupakan salah satu faktor yang paling sering menjadi penyebab agresif dan muncul dalam bentuk serangan verbal atau serangan fisik. Faktor


(36)

penyebab agresi selanjutnya adalah frustasi. Frustasi terjadi bila seseorang terhalang oleh suatu hal dalam mencapai suatu tujuan, kebutuhan, keinginan, penghargaan atau tindakan tertentu. Sedangkan Berkowitz (dalam Baron, 2002) berpandangan bahwa agresif muncul terutama dari suatu dorongan untuk menyakiti orang lain. Teori ini dikenal dengan teori dorongan, yang mengemukakan bahwa frustasi membangkitkan motif yang kuat untuk menyakiti orang lain. Perilaku agresif berawal dari rasa frustasi atau kondisi lingkungan yang tidak menyenangkan, dengan kondisi yang tidak menyenangkan itu maka munculah emosi yang tidak menyenangkan pula, seperti marah dan kesal sehingga timbul suatu dorongan untuk menyakiti orang lain, dan akhirnya terlampiaskan dalam bentuk agresif yang nyata dengan melukai orang lain baik secara verbal ataupun fisik.

Menurut Koeswara (1998), faktor penyebab remaja berperilaku agresif bermacam-macam, sehingga dapat dikelompokkan menjadi faktor sosial, faktor lingkungan, faktor situasional, faktor hormon, alkohol, obat-obatan (faktor yang berasal dari luar individu) dan kepribadian (faktor-faktor yang berasal dari dalam individu).

Sedangkan Sears (2002) menjelaskan faktor-faktor pencetus perilaku agresif antara lain:

1. Penguatan

Penguatan merupakan perubahan perilaku yang diinginkan dengan cara menarik konsekuensi yang tidak menyenangkan apabila dilakukan secara terus menerus maka individu akan merasa bahwa dirinya benar dan suatu


(37)

ketika individu itu diberi hukuman maka individu itu merasa bahwa dirinya sangat diatur dan akan memunculkan emosi, akibat emosi yang tidak terkontrol maka menjadi agresif.

2. Imitasi

Termasuk dalam salah satu faktor pencetus dari agresif karena proses imitasi merupakan proses peniruan yang utuh kepada siapa saja seperti tokoh, orang tua, bintang film, dan sebagainya. Apabila tokoh atau bintang film melakukan sesuatu maka individu itu berusaha untuk menirunya tanpa mempertimbangkan baik dan buruknya.

3. Norma Sosial

Perilaku agresif yang dikendalikan oleh norma sosial sangat komplek biasanya berasal dari pengaruh kelompok sebaya. Misalnya gerombolan anak muda mungkin merasa bahwa membunuh untuk membalas dendam merupakan tindakan yang dapat dibenarkan sedang anggota masyarakat lain tidak menyetujui.

4. Deindividualis

Setiap individu menyelesaikan tugas dalam perkembangannya itu berbeda-beda ada yang secara cepat dapat menyelesaikan masalah ada juga lambat dalam menyelesaikan, biasanya iri dan dapat menimbulkan emosi yang berlebihan dan akan menimbulkan emosi.

5. Agresi Instrumental

Jenis agresi ini terjadi karena pelaku agresif hanya ingin memperoleh tujuan-tujuan tertentu. Misalnya pembunuh bayaran mereka membunuh


(38)

karena ada imbalan uang bukan semata-mata ada dendam atau sedang marah.

Menurut Soubur (dalam Kursin, 2005) menjelaskan ada dua macam faktor pencetus agresif yaitu:

1. Tingkah laku agresif yang dilakukan untuk menyerang atau melawan orang lain

2. Tingkah laku agresif yang dilakukan sebagai sikap mempertahankan diri terhadap kesenangan dari luar. Dari uraian diatas pencetus agresifitas dapat dituangkan data skema berikut:

Faktor internal agresif diantaranya adalah deindividualis karena individu memiliki identitas yang berbeda-beda sehingga antara satu individu dengan individu yang lain ada yang dapat menyelesaikan tugas perkembangan dengan sempurna dan ada yang tidak dapat menyelesaikan tugas perkembangan. Individu yang tidak dapat menyelesaikan tugas perkembangan dengan sempurna akan merasa iri dengan individu yang lain dan memicu munculnya perilaku agresif. Faktor eksternal lebih banyak dipengaruhi oleh adanya interaksi antara individu dengan individu yang lain sehingga besar kemungkinan terjadi persinggungan-persinggungan atau konflik. Misalnya adanya profokasi dari individu kepada individu lain yang dapat menimbulkan agresif kepada satu atau sekelompok individu.

Faktor Eksternal

Agresifitas Faktor Internal


(39)

Dari pendapat para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa, faktor-faktor penyebab terjadinya agresifitas pada siswa dapat berasal dari luar individu dan dari dalam individu adapun faktor dari luar individu yaitu, adanya peniruan terhadap tokoh, bintang film yang dilihat melalui media televisi, dan juga terdapat pola asuh orangtua yang otoriter, juga terdapatnya pengaruh teman sebaya.

Faktor dari dalam individu yaitu adanya dorongan dari dalam individu untuk berperilaku agresif seperti meluapkan emosi sebagai bentuk rasa frustasi dari ketidak tercapainya sesuatu yang diharapkan atau yang diinginkan. Contohnya saja seorang siswa perempuan yang berkelahi dan menjabak teman sebayanya dikarenakan menuduh teman sebayanya merebut kekasihnya. Penelitian ini hanya berfokus terhadap perilaku agresif fisik siswa yang berasal dari dalam diri individu yaitu adanya rasa emosi dan frustasi atau kegagalan.

4. Ciri-Ciri Perilaku Agresif

Perilaku agresif dapat dikategorikan sebagai bentuk gangguan emosional. Untuk menilai siswa yang memiliki kecenderungan memiliki perilaku agresif atau tidak, guru atau konselor dapat mengidentifikasikan dan melihat ciri-ciri sebagai berikut: siswa sering sekali berbohong walaupun dia seharunya terus terang untuk mengatakannya, menyontek walaupun seharusnya tidak perlu menyontek, Suka mencuri atau mengatakan ia kecurian bila barangnya tidak ada. Suka merusak barang orang lain, atau barangnya sendiri, melakukan kekejaman, menyakiti orang lain, berbicara kasar, menyinggung perasaan orang lain, tidak peduli pada orang lain yang membutuhkan pertolongannya,


(40)

dan suka mengganggu siswa lain yang lebih kecil atau lebih lemah. Serta sering kali marah-marah, uring-uringan, melukai anggota tubuhnya, menangis dan menjerit.

Ciri-ciri perilaku agresif menurut Gunarsa (1983) ialah:

“cenderung menguasai keadaan, selalu mau menang sendiri, melakukan

segala hal untuk memperoleh kekuasaan. Misalnya: memukul menendang, menggigit, meludah, melempar benda-benda mati, berteriak.”

Menurut Antasari (2006), ciri-ciri perilaku agresif antara lain:

1. Perilaku menyakit atau merusak diri sendiri, orang lain, atau objek-objek penggantiannya

perilaku agresif termasuk yang dilakukan anak, pasti menimbulkan adanya bahaya berupa kesakitan yang dapat dialami oleh dirinya sendiri atau orang lain. Bahaya kesakitan dapat berupa kesakitan fisik, misalnya karena pemukulan dilempar benda keras. Selain itu yang perlu dipahami juga adalah sasaran perilaku agresif sering kali ditujukan seperti benda mati. Contoh: memukul meja saat marah

2. Perilaku yang tidak diinginkan orang yang menjadi sasarannya

Perilaku agresif pada umumnya juga memiliki sebuah ciri yaitu tidak diinginkan oleh orang yang menjadi sasarannya. Contoh: tindakan menghindari pukulan teman yang sedang jengkel.

3. Perilaku yang melanggar norma sosial

perilaku agresif pada umumnya selalu dikaitkan dengan pelanggaran terhadap norma-norma sosial.

Kesimpulan yang dapat ditulis oleh penulis dari beberapa uraian diatas adalah ciri-ciri perilaku agresif yaitu: perilaku menyakiti atau merusak diri


(41)

sendiri, perilaku yang tidak diinginkan orang yang menjadi sasarannya, dan perilaku melanggar norma sosial sehingga menjadikan sikap bermusuhan terhadap orang lain, dan kerugian pihak yang menjadi korban perilaku agresif

5. Dampak Perilaku Agresif

Perilaku agresif merupakan bentuk tindakan dengan maksud melukai dan dapat merugikan orang lain yang dapat menimbulkan dampak dari individu tersebut juga korban (orang lain). Menurut Handayani (2004) dampak perilaku agresif antara lain:

a. Dampak bagi korban (llingkungannya), yaitu dapat menimbulkan ketakutan bagi anak-anak lain dan akan teciptanya hubungan sosial yang kurang sehat. Selain itu juga dapat mengganggu ketenangan dilingkungannya karena biasanya anak yang mempunyai perilaku agresif juga sering merusak benda-benda berada disekitarnya.

b. Dampak bagi pelaku, yaitu akan dijauhi, dicap nakal dan dibenci oleh teman sebayanya. Anak juga dapat memiliki konsep diri yang buruk, dan sulit untuk memfokuskan diri untuk mengikuti pelajaran dikelas.

Siswa yang memiliki perilaku agresif akan mengalami kesulitan dalam berhubungan sosial dengan teman-teman sebayanya, dikarenakan tindakan agresif yang suka memukul, menendang, berkelahi, menghina. Perbuatan tersebut membuat orang lain atau teman-teman sebayanya menjauhinya dan akan dicap sebagai anak yang nakal. Sedangkan bagi orang lain sebagai


(42)

korban akan dapat menimbulkan rasa ketakutan dan dapat mengganggu ketenangan lingkungan.

6. Macam-macam Bentuk Perilaku Agresif

Ada berbagai bentuk agresif yang terjadi pada diri individu salah satu diantaranya adalah seperti yang dikemukakan oleh Murry dan Bellak (Sugiyarta,1990) bahwa agresifitas meliputi: agresifitas emosional verbal, agresifitas fisik sosial, agresifitas destruktif dan agresifitas sosial.

Agresif emosional verbal dapat ditampakkan dengan perilaku mudah marah atau membenci orang, akan tetapi tidak secara fisik, contohnya menghina perang mulut, mengutuk, menertawakan dan lain-lain, Agresifitas fisik sosial dapat ditampakkan dengan perilaku berkelahi, membunuh membalas dendam. Agresifitas fisik sosial ini sangat berbahaya kalau terus menerus dibiarkan tanpa adanya penanganan karena bias mengakibatkan jatuhnya korban jiwa dan harta benda. Agresifitas fisik soslal dapat ditampakan dengan perilaku merusak benda-benda disekitarnya hanya untuk membalas dendam tanpa adannya perang fisik karena orang yang dihadapi pejabat atau aparat. Individu tidak berani berhadapan langsung, cara untuk membalas dendam adalah dengan merusak harta benda yang dimiliki orang yang bersangkutan. Sedangkan agresifitas destruktif dapat ditampakan dengan perilaku menyerang binatang, memukul diri sendiri dan bunuh diri. Ini disebabkan karena individu merasa kesal dengan dirinya sendiri dan frustasi. Contohnya individu menderita penyakit yang bertahun-tahun dan tidak sembuh-sembuh akibatnya


(43)

menjadi tanggungan keluarga, dan individu itu memutuskan untuk bunuh diri supaya tidak menjadi tanggungan keluarga lagi.

Perilaku agresif terdiri dari beberapa jenis berdasarkan bentuknya, seperti menurut Buss (dalam Dayakisni, 2003) yang mengelompokkan agresif manusia dalam beberapa jenis yaitu:

1. Agresif fisik aktif langsung, tindakan agrersi fisik yang dilakukan individu atau kelompok dengan cara berhadapan secara langsung dengan individu atau kelompok lain yang menjadi targetnya dan menjadi kontak secara fisik langsung, seperti memukul, mendorong,menembak dan lain-lain 2. Agresif fisik pasif langsung yaitu tindakan agresif fisik yang dilakukan

oleh individu atau kelompok dengan cara berhadapan dengan individu atau kelompok lain yang menjadi targetnya, namun tidak terjadi kontak fisik secara langsung seperti: demonstrasi, aksi mogok,aksi diam.

3. Agresi fisik aktif tidak langsung, tindakan agresi fisik yang dilakukan oleh individu atau kelompok lain dengan cara tidak berhadapan secara langsung dengan individu atau kelompok lain yang menjadi targetnya, seperti: merusak harta korban, membakar rumah, menyewa tukang pukul dan lain-lain.

4. Agresi fisik tidak langsung tindakan agresi fisik yang dilakukan oleh individu atau kelompok lain dengan cara tidak berhadapan dengan individu atau kelompok lain yang menjadi targetnya dan tidak terjadi kontak fisik secara langsung sepert: tidak peduli, apatis dan masa bodoh.


(44)

5. Agresi verbal pasif langsung yaitu tindakan agersif verbal yang dilakukan oleh individu atau kelompok dengan cara berhadapan secara langsung seperti: menghina, memaki, marah, dan mengumpat

6. Agresi verbal pasif tidak langsung, yaitu tindakan agresi verbal yang, dilakukan oleh individu/kelompok dengan individu atau kelompok lain namun tidak terjadi kontak verbal secara langsung seperti, menolak bicara, bungkam

7. Agresi verbal aktif tidak langsung, yaitu tindakan agresi verbal vang dilakuka oleh individu atau kelompok dengan cara tidak berhadapan secara langsung dengan individu atau kelompok lain yang menjadi targetnya,seperti: menyebar fitnah, mengadu domba.

8. Agresi verbal pasif tidak langsung, Yaitu tindakan agersi verbal yang dilakukan oleh individu/kelompok dengan cara tidak berhadapan dengan individu atau kelompok lain yang menjadi targetnya dan tidak terjadi kontak verbal secara langsung seperti: tidak memberi dukungan, tidak menggunakan hak suara

Sedangkan menurut Moore dan Fine (Koeswara, 1998) yang membagi perilaku dalam dua bentuk yaitu secara fisik dan secara verbal, antara lain: a) Agresif verbal yaitu dilakukan dengan cara menyerang secara verbal

seperti mengejek, membentak, menghina, dan lain-lainnya

b) Agresif fisik yaitu agresif yang dilakukan dengan menggunakan kemampuan fisik seperti menendang, menggigit, mencubit, melempar dan lain-lainnya.


(45)

Dari berbagai macam pendapat diatas peneliti menggunakan bentuk perilaku agresif fisik langsung yang menjadi indikator dalam penelitian ini. Karena perilaku agresif fisik ini lebih mudah untuk peneliti dalam mengamati perilaku yang terjadi.

7. Cara Mengatasi Perilaku Agresif

Ada beberapa cara untuk dapat mengatasi agresifitas, Menurut Cormier dan Cormier 1985 (dalam Abimanyu 1996) menjelaskan tentang modeling kognitif, yaitu suatu prosedur dimana konselor menunjukkan apa yang dikatakan pada diri mereka sendiri sambil melakukan suatu tugas.

Langkah-langkah pelaksanaan modeling kognitif ada tiga tahap pelaksanaan modeling dan latihan istruksional diri sendiri yaitu:

1. Model tugas dan verbalisasi diri

Dalam tahap ini dilakukan hal-hal (a) konselor menginstruksikan klien untuk mendengar apa yang dikatakan konselor, (b) konselor melakukan modeling seperti verbalisasi bimbingan diri sendiri dengan keras (c) bimbingan diri yang didemonstrasikan konselor itu meliputi lima komponen. Pertanyaan tentang tuntutan-tuntutan dari tugas, menjawab pertanyaan melalui tugas rencana yang akan dikerjakan, memusatkan tugas-tugas dan bimbingan diri selama bertugas, menangani evaluasi diri jika perlu memperbaiki kesalahan, dan penguatan diri sendiri bagi penyelesaian tugas.

2. Bimbingan eksternal yang terlihat

Dalam tahap ini dilakukan kegiatan-kegiatan yang meliputi, (a) konselor menginstruksikan klien untuk melakukan tugas-tugas dan konselor melatih untuk membimbingnya, (b) klien melaksanakan tugas-tugas sedangkan konselor melatih dengan verbalisasi bimbingan diri sendiri verbalisasi itu meliputi lima komponen bimbingan diri yaitu, pertanyaan tentang tugas, menjawab pertanyaan memusatkan perhatian pada tugas dan bimbingan selama tugas, melakukan evaluasi diri dan pembetulan kesalahan dalam pemberian penguatan.

3. Pekerjaan rumah

Pada tahap terakhir ini konselor menginstruksikan klien untuk melaksanakan pekerjaan rumah. Instuksi itu meliputi apa yang dikerjakan seberapa banyak atau sering tugas itu dikerjakan kapan dan dimana melakukannya, dan cara melakukan monitoring diri selama mengerjakan pekerjaan rumah. Disamping itu konselor juga merencanakan pertemuan


(46)

face to face atau lewat telepon untuk menindak lanjuti pekerjaan rumah itu.

Perilaku agresif dapat dikurangi sesuai dengan teori yang disampaikan di atas, yaitu melalui layanan konseling kelompok. Karena didalam layanan konseling kelompok terdapat beberapa metode dan teori itu seperti menguatkan diri secara positif, memanipulasi kondisi emosional, melakukan respon-respon lain dan mengubah kondisi stimulus.

Pendapat lain juga mengemukakan, cara mengatasi perilaku agresif pada anak dapat dilakukan dengan cara memberi empati, dorongan untuk mencurahkan perasaannya, menanggapi dengan bijak, jangan terlalu melindungi, tumbuhkan rasa percaya diri dan kembangkan kemampuannya, lakukan pengamatan juga dapat melakukan diskusi dengan guru (Antasari, 2006).

Perilaku agresif dapat dikurangi dengan cara memberikan atau mengajari siswa untuk dapat berlatih empati, dorongan anak untuk dapat mencurahkan perasaanya, menanggapi dengan bijak suatu masalah, tumbuhkan rasa percaya diri dan kembangkan kemampuan yang dimilikinya.

Layanan konseling kelompok yaitu layanan bimbingan dan konseling yang memungkinkan peserta didik untuk memperoleh kesempatan untuk pembahasan dan pengentasan permasalahan yang dialaminya melalui dinamika kelompok. Dinamika kelompok adalah suasana yang hidup, yang berdenyut, yang bergerak, yang berkembang, yang ditandai dangan adanya, interaksi antara sesama anggota kelompok. Layanan konseling kelompok merupakan layanan konseling yang diselenggarakan dalam suasana kelompok (Sukardi, 2000).

Dalam layanan konseling kelompok terdapat dinamika kelompok yang dapat digunakan untuk mengurangi perilaku agresif yaitu, mereka dapat


(47)

mengembangkan berbagai keterampilan yang pada intinya meningkatkan kepercayaan diri dan kepercayaan orang lain seperti berani mengemukakan atau percaya diri dalam berprilaku terhadap orang lain, cinta diri yang dapat dilihat dari dalam berperilaku dan gaya hidupnya untuk memelihara diri, memiliki pemahaman yang tinggi terhadap segala kekurangan dan kemampuan, dapat belajar memahami orang lain, ketegasan dalam menerima kritik juga dalam memberi kritik dan keterampilan diri dalam penampilan dirinya serta dapat mengendalikan perasaan dengan baik.

B. Konseling Kelompok

1. Pengertian Konseling Kelompok

Konseling adalah sebuah profesi yang sifatnya membantu (helping profession), membantu individu untuk meningkatkan pemahaman tentang diri sendiri dan interaksinya dengan orang lain. Corey dan corey; Gazda, Ginter, dan Horne (dalam Edi, 2013) mengatakan bahwa program konseling kelompok dapat memberikan individu berbagai macam pengalaman kelompok yang membantu mereka belajar berfungsi secara efektif, mengmbangkan toleransi terhadap stres dan kecemasan, dan menemukan kepuasan dalam bekerja dan hidup bersama orang lain. Natawidjaja (dalam Wibowo, 2005) mengartikan konseling sebagai usaha bantuan untuk mencapai pengertian tentang dirinya sendiri dalam interaksinya dengan masalah-masalah yang dihadapinya saat ini dan saat yang akan datang.

Konseling kelompok dapat membicarakan beberapa masalah, seperti kemampuan dalam membangun hubungan dan komunikasi, pengembangan


(48)

harga diri, dan keterampilan-keterampilan untuk menyelesaikan suatu masalah. Pengertian tersebut juga sejalan dengan pendapat Junitka Nurihsan (dalam Edi, 2013) yang mengatakan konseling kelompok adalah suatu bantuan kepada individu dalam situasi kelompok yang bersifat pencegahan dan penyembuhan, serta diarahkan pada pemberian kemudahan dalam perkembangan dan pertumbuhannya.

Teori tersebut diperkuat oleh pendapat Supriatna (2004) bahwa layanan konseling kelompok adalah suatu upaya bantuan kepada individu dalam suasana kelompok yang bersifat pencegahan dan penyembuhan, dan diarahkan kepada pemberian kemudahan dalam rangka perkembangan pertumbuhan. Pendapat yang sama diungkapkan oleh Sukardi (2000) bahwa layanan konseling kelompok yaitu layanan bimbingan dan konseling yang memungkinkan peserta didik memperoleh kesempatan untuk pembahasan dan pengentasan permasalahan yang dialaminya melalui dinamika kelompok, dimana layanan tersebut diberikan untuk membantu pemecahan masalah siswa dengan menggunakan dinamika kelompok, dimana layanan tersebut diberikan untuk membantu pemecahan masalah siswa dengan menggunakan dinamika kelompok.

Dari beberapa pendapat para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa layanan konseling kelompok adalah layanan konseling yang dilaksanakan dalam suasana kelompok dimana dalam kegiatan konseling tersebut diberikan kepada peserta didik untuk membantu pemecahan masalah siswa secara bersama-sama atau dalam dinamika kelompok.


(49)

Menurut, Warner dan Smith (dalam Wibowo, 2005) menyatakan bahwa: konseling kelompok merupakan cara yang baik untuk menangani konflik-konflik antar pribadi dan membantu individu dalam pengembangan kemampuan pribadi mereka. Pandangan tersebut dipertegas oleh Natawidjaja (dalam Wibowo, 2005) menyatakan bahwa:

“Konseling kelompok merupakan upaya bantuan kepada individu dalam suasana kelompok yang bersifat pencegahan dan penyembuhan, dan diarahkan pada pemberian kemudahan dalam rangka perkembangan dan pertumbuhannya”.

Menurut Corey (dalam Wibowo, 2005) menyatakan bahwa: masalah-masalah yang dibahas dalam konseling kelompok lebih berpusat pada pendidikan, pekerjaan, sosial dan pribadi.

Dalam konseling kelompok perasaan dan hubungan antar anggota sangat ditekankan di dalam kelompok ini. Jadi anggota akan belajar tentang dirinya dalam interaksinya dengan anggota yang lain ataupun dengan orang lain. Selain itu, di dalam kelompok, anggota dapat pula belajar untuk memecahkan masalah berdasarkan masukan dari orang lain.

Kegiatan konseling kelompok mendorong terjadinya Komunikasi yang dinamis. Suasana dalam konseling kelompok dapat menimbulkan komunikasi yang akrab, terbuka dan bergairah sehingga memungkinkan terjadinya saling memberi dan menerima, memperluas wawasan dan pengalaman, harga menghargai dan berbagai rasa antara anggota kelompok. Suasana dalam konseling kelompok mampu memenuhi kebutuhan psikologis individu dalam kelompok, yaitu kebutuhan untuk dimiliki dan diterima orang lain, serta


(50)

kebutuhan untuk melepaskan atau menyalurkan emosi-emosi negatif dan menjelajahi diri sendiri secara psikologis.

Menurut Mahler, Dinkmeyer dan Munro (dalam Wibowo, 2005) menyatakan bahwa:

Kemampuan yang dikembangkan melalui konseling kelompok yaitu:

a. pemahaman tentang diri sendiri yang mendorong penerimaan diri dan perasaan diri berharga,

b. interaksi sosial, khususnya interaksi antarpribadi serta menjadi efektif untuk situasi-situasi sosial,

c. pengambilan keputusan dan pengarahan diri,

d. sensitivitas terhadap kebutuhan orang lain dan empati, e. perumusan komitmen dan upaya mewujudkannya.

Dari pemaparan di atas dapat disimpulkan bahwa konseling kelompok adalah upaya pemberian bantuan kepada siswa melalui kelompok untuk mendapatkan informasi yang berguna agar mampu menyusun rencana, membuat keputusan yang tepat, serta untuk memperbaiki dan mengembangkan pemahaman terhadap diri sendiri, orang lain, dan lingkungannya dalam menunjang terbentuknya perilaku yang lebih efektif. 2. Tujuan Konseling kelompok

Prayitno (1995) menjelaskan tujuan konseling kelompok, adalah sebagai berikut:

a. Tujuan Umum b. Tujuan Khusus

Tujuan umum kegiatan konseling kelompok adalah berkembangnya kemampuan sosialisasi siswa, khususnya kemampuan komunikasi peserta layanan. Dalam kaitan ini, sering menjadi kenyataan bahwa kemampuan bersosialisasi/berkomunikasi seseorang sering terganggu perasaan, pikiran,


(51)

persepsi, wawasan, dan sikap yang tidak objektif, sempit dan terkekang serta tidak efektif.

Secara khusus, konseling kelompok bertujuan untuk membahas topik-topik tertentu yang mengandung permasalahan aktual (hangat) dan menjadi perhatian peserta. Melalui dinamika kelompok yang intensif, pembahasan topik-topik itu mendorong pengembangan perasaan, pikiran, persepsi, wawasan, sikap yang menunjang diwujudkanya tingkah laku yang lebih efektif.

Sedangkan menurut Winkel (dalam Edi, 2013) tujuan dari konseling kelompok yaitu,

1. Masing-masing anggota memahami dirinya dengan baik dan menemukan dirinya sendiri.

2. Para anggota kelompok mengembangkan kemampuan berkomunikasi satu sama lain sehingga mereka dapat saling memberikan bantuan dalam menyelesaikan tugas-tugas perkembangan yang khas pada fase perkembangan mereka.

3. Para anggota kelompok memperoleh kemampuan mengatur dirinya sendiri dan mengarahkan hidupnya sendiri.

4. Para anggota kelompok menjadi lebih peka terhadap kebutuhan orang lain dan mampu menghayati perasaan orang lain.

5. Masing-masing anggota kelompok menetapkan suatu sasaran yang ingin mereka capai.

6. Para anggota kelompok lebih berani melangkah maju dan menerima resiko yang wajar dalam bertindak

7. Para anggota kelompok lebih menyadari dan menghayati makna dan kehidupan manusia sebagai kehidupan bersama,

8. Masing-masing anggota kelompok semakin menyadari bahwa hal-hal yang memprihatinkan bagi dirinya sendiri kerap juga menimbulkan rasa prihatin dalam hati orang lain.

9. Para anggota kelompok belajar berkomunikasi dengan anggota-anggota yang lain secara terbuka, dan saling menghargai dan menaruh perhatian. Secara singkat tujuan kegiatan konseling kelompok merupakan proses belajar yang baik bagi petugas bimbingan maupun bagi individu yang dibimbing.


(52)

Konseling kelompok juga bertujuan untuk membantu individu menemukan dirinya sendiri, mengarahkan dirinya sendiri dan dapat berfikir kreatif, dan dapat menyesuaikan diri dengan lingkungannya.

3. Teknik Konseling Kelompok

Pendekatan dalam konseling kelompok ini dengan pendekatan Behavioral, karena yang menjadi perhatian dalam penelitian ini adalah perilaku agresif atau tingkah laku. Menurut Rosjidan (1994), konseling behavioral adalah salah satu pendekatan konseling yang bertujuan untuk pengubahan tingkah laku. Menurut Krumboltz dan Thoresen (dalam Edi, 2013) penekanan pendekatan ini terhadap upaya melatih atau mengajar konseli tentang pengelolaan diri yang dapat digunakan untuk mengendalikan kehidupannya, untuk menangani masalah masa kini dan masa datang, dan mampu berfungsi dengan memadai tanpa terapi yang terus menerus. Natawidjaja (2009) menyebutkan bahwa asumsi pokok dari pendekatan ini ialah perilaku, kognisi, perasaan bermasalah itu semuanya terbentuk karena dipelajari, dan oleh karena itu. Semua dapat diubah dengan proses belajar yang baru atau belajar kembali. Asumsi lain adalah perilaku yang dinyatakan oleh konseli adalah masalah itu sendiri, jadi bukan semata-mata gejala dari masalahnya. Dalam konseling behavioral terdapat beberapa teknik konseling kelompok:

a. Rileksasi

Menurut Chalpin (dalam Abimanyu,1996) Relaksasi adalah kembalinya otot pada saat keadaan istirahat setelah atau relaksasi mengajarkan klien untuk dapat rileks dengan asumsi bahwa keadaan otot yang relaks akan membantu


(53)

mengurangi ketegangan kejiwaan. Dalam penelitian ini peneliti menggunakan teknik relaksasi agresivitas karena menurut Morgen dan Peaget (dalam Abimanyu, 1996) cara mengurangi kemarahan dan menumbuhkan rasa toleransi terhadap sesama adalah dengan relaksasi.

b. Proses Mediasi

Dalam proses mediasi diperlukan adanya contoh perilaku yang menarik. Contoh perilaku ini dapat berupa video tape, film, contoh hidup ataupun tulisan. Setelah anggota kelompok diberikan perilaku, seluruh anggota kelompok diberikan tugas untuk mendiskusikan mengenai contoh perilaku tersebut. Mengimplementasikan macam perilaku yang ditampilkan oleh model. Teknik ini baik untuk memecahkan masalah personal-sosial.

4. Komponen dalam Konseling Kelompok

Prayitno (1995) menjelaskan bahwa dalam konseling kelompok terdapat tiga komponen yang berperan, yaitu pemimpin kelompok, peserta atau anggota kelompok dan dinamika kelompok.

a. Pemimpin kelompok

Pemimpin kelompok adalah komponen yang penting dalam konseling kelompok. Dalam kegiatan konseling kelompok, pemimpin kelompok memiliki peranan. Prayitno (1995), menjelaskan peranan pemimpin kelompok adalah memberikan bantuan, pengarahan ataupun campur tangan langsung terhadap kegiatan konseling kelompok, memusatkan perhatian pada suasana perasaan yang berkembang dalam kelompok, memberikan tanggapan (umpan balik) tentang berbagai hal yang terjadi dalam kelompok, baik yang bersifat isi


(54)

maupun proses kegiatan kelompok, dan sifat kerahasian dari kegiatan kelompok itu dengan segenap isi dan kejadian-kejadian yang timbul di dalamnya menjadi tanggung jawab pemimpin kelompok.

b. Anggota kelompok

Keanggotaan merupakan salah satu unsur pokok dalam kehidupan kelompok. Tanpa anggota tidaklah mungkin ada kelompok, tidak semua kumpulan orang atau individu dapat dijadikan anggota konseling kelompok. Untuk terselenggaranya konseling kelompok seorang konselor perlu membentuk kumpulan individu menjadi sebuah kelompok yang memiliki persyaratan sebagaimana seharusnya. Besarnya kelompok (jumlah anggota kelompok), dan homogenitas atau heterogenitas anggota kelompok dapat mempengaruhi kinerja kelompok. Sebaiknya jumlah anggota kelompok tidak terlalu besar dan juga tidak terlalu kecil.

c. Dinamika kelompok

Selain pemimpin kelompok dan anggota kelompok, komponen konseling kelompok yang tidak kalah penting adalah dinamika kelompok. Dalam kegiatan konseling kelompok dinamika konseling kelompok sengaja ditumbuh kembangkan, karena dinamika kelompok adalah interaksi interpersonal yang ditandai dengan semangat, kerja sama antar anggota kelompok, saling berbagi pengetahuan, pengalaman dan mencapai tujuan kelompok. Interaksi yang interpersonal inilah yang nantinya akan mewujudkan rasa kebersamaan di antara anggota kelompok, menyatukan kelompok untuk dapat lebih menerima satu sama lain, lebih saling mendukung dan cenderung untuk membentuk interaksi yang berarti dan bermakna di dalam kelompok.


(55)

Cartwright dan Zander (dalam Wibowo, 2005) mendeskripsikan dinamika kelompok sebagai suatu bidang terapan yang dimaksudkan untuk peningkatan pengetahuan tentang sifat/ciri kelompok, hukum perkembangan, interelasi dengan anggota, dengan kelompok lain, dan dengan anggota yang lebih besar. Menurut Prayitno (1995), faktor-faktor yang mempengaruhi kualitas kelompok antara lain :

“tujuan dan kegiatan kelompok, jumlah anggota, kualitas pribadi masing-masing anggota kelompok; kedudukan kelompok, dan kemampuan kelompok dalam memenuhi kebutuhan anggota untuk saling berinteraksi sebagai kawan, kebutuhan untuk diterima, kebutuhan

akan rasa aman, serta kebutuhan akan bantuan moral.”

Kehidupan kelompok dijiwai oleh dinamika kelompok yang akan menentukan gerak dan arah pencapaian tujuan kelompok. Dinamika kelompok ini dimanfaatkan untuk mencapai tujuan konseling kelompok. Konseling kelompok memanfaatkan dinamika kelompok sebagai media dalam upaya membimbing anggota kelompok dalam mencapai tujuan. Dinamika kelompok unik dan hanya dapat ditemukan dalam suatu kelompok yang benar-benar hidup. Kelompok yang hidup adalah kelompok yang dinamis, bergerak dan aktif berfungsi untuk memenuhi suatu kebutuhan dan mencapai suatu tujuan.

Melalui dinamika kelompok, setiap anggota kelompok diharapkan mampu tegak sebagai perorangan yang sedang mengembangkan kemandiriannya dalam interaksi dengan orang lain. Dinamika kelompok akan terwujud dengan baik apabila kelompok tersebut, benar-benar hidup, mengarah kepada tujuan


(56)

yang ingin dicapai, dan membuahkan manfaat bagi masing-masing anggota kelompok, juga sangat ditentukan oleh peranan anggota kelompok.

5. Tahap-tahap penyelenggara konseling kelompok

Konseling kelompok sebagai salah satu jenis layanan bimbingan dan konseling, didalam pelaksanaannya melalui tahapan-tahapan kegiatan. Corey (dalam Edi 2013) mengelompokkan tahapan konseling kelompok menjadi empat tahapan, yaitu: (a) tahap orientasi; (b) tahap transisi; (c) tahap kerja, (d) tahap konsolidasi. Sementara itu Jacobs, Harvill dan Masson (dalam Edi, 2013) mengelompokan tahapan proses konseling kelompok menjadi tiga tahap, yaitu: tahap pemulaan, tahap kerja, dan tahap penutupan. Begitu juga Prayitno (dalam Edi, 2013) membagi menjadi empat tahap yaitu: (a) pembukaan, (b) peralihan, (c) kegiatan, dan (d) penutupan.

a) Tahap Pembentukan

Tahap pembentukan merupakan tahap awal yang sangat berpengaruh dalam proses konseling selanjutnya yaitu tahap pengenalan, karena tahap ini mempunyai pengaruh besar terhadap berlangsungnya proses konseling, maka sebelum pembentukan kelompok dilakukan ada beberapa persiapan yang harus dilakukan oleh seorang konselor. Tahap pembentukan ini tahap pelibatan diri atau tahap memasukkan diri dalam kehidupan suatu kelompok. Pada tahap ini umumnya para anggota saling memperkenalkan diri dan juga mengungkapkan tujuan ataupun harapan-harapan yang ingin dicapai baik oleh peneliti maupun yang diteliti setelah proses konseling kelompok selesai.


(57)

Prayitno (1995) mengemukakan kegiatan yang dilakukan pada tahap pembentukan ini yaitu:

1) Pengenalan dan pengungkapan tujuan 2) Membangun kebersamaan

3) Keaktifan pemimpin kelompok

4) Beberapa Teknik yang dapat dilakukan pemimpin kelompok (a) Teknik pertanyaan dan jawaban

(b) Teknik perasaan dan tanggapan

(c) Teknik permainan kelompok

Pada tahap ini, dilakukannya pengenalan antar anggota kelompok dan membangun keakraban sehingga dapat menciptakan suasana yang hangat dan bersahabat sebelum memasuki kegiatan kelompok

.

b) Tahap Peralihan

Tahap peralihan ini merupakan “ jembatan” antara tahap pertama dan tahap ketiga. Adapun tujuan dari tahap peralihan adalah terbebaskannya anggota dari perasaan atau sikap enggan, ragu, malu atau saling tidak percaya untuk memasuki tahap berikutnya, makin mantapnya suasana kelompok dan kebersamaan, makin mantapnya minat untuk ikut serta dalam kegiatan kelompok. Pada tahap ini tugas dari konselor atau pemimpin kelompok adalah dapat membantu para anggota untuk menerima suasana yang ada secara sabar dan terbuka, tidak mempergunakan cara-cara yang bersifat langsung, dan membuka diri. Menurut Prayitno (dalam Edi, 2013) kegiatan-kegiatan yang harus dilakukan pada tahap ini, adalah:

1. Menjelaskan kegiatan yang akan ditempuh pada tahap berikutnya.

2. Menawarkan atau mengamati apakah para anggota sudah siap menjalani kegiatan pada tahap selanutnya (tahap ketiga)


(58)

3. Membahas suasana yang terjadi.

4. Meningkatkan kemampuan keikutsertaan anggota.

5. Kalau perlu kembali kebeberapa aspek tahap pertama (tahap pembentukan).

c) Tahap Kegiatan

Tahap kegiatan merupakan tahap inti dari kegiatan konseling kelompok dengan suasana yang ingin dicapai, yaitu terbahasanya secara tuntas permasalahan yang dihadapi oleh anggota kelompok dan terciptanya suasana untuk mengembangkan diri, baik yang menyangkut pengembangan kemampuan berkomunikasi maupun menyangkut pendapat yang dikemukakan oleh kelompok. Dalam konseling behavioristik, pengukuran (assessment), pemantauan dan penilaian merupakan kegiatan yang berkesinambungan.

d) Tahap Pengakhiran

Pada tahap pengakhiran terdapat dua kegiatan yaitu penilaian (evaluasi) dan tindak lanjut (follow up). Tahap ini merupakan tahap penutup dari serangkaian kegiatan konseling kelompok dengan tujuan telah tuntasnya topik yang dibahas oleh kelompok tersebut. Dalam kegiatan kelompok berpusat pada pembahasan dan penjelasan tentang kemampuan anggota kelompok untuk menetapkan hal-hal yang telah diperoleh melalui layanan konseling kelompok dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu pemimpin kelompok berperan untuk memberikan penguatan


(59)

(reinforcement) terhadap hasil-hasil yang telah dicapai oleh kelompok tersebut.


(60)

Tahap 1: Pembentukan

Gambar 2.1. Tahap Pembentukan dalam Konseling Kelompok

Gambar 2.1. Tahap Pembentukan dalam Konseling Kelompok TAHAP 1

PEMBENTUKAN

Tema: - Pengenalan - Pelibatan diri - Pemasukan diri

Kegiatan:

1. Mengungkapkan pengertian dan kegiatan kelompok dalam rangka pelayanan konseling kelompok. 2. Menjelaskan (a) cara-cara, dan

(b) asas-asas kegiatan kelompok. 3. Saling memperkenalkan dan

mengungkapkan diri. 4. Teknik khusus

5. Permainan penghangatan/ pengakraban

Tujuan:

1. Anggota memahami pengertian dan kegiatan kelompok dalam rangka konseling kelompok.

2. Tumbuhnya suasana kelompok. 3. Tumbuhnya minat anggota

mengikuti kegiatan kelompok. 4. Tumbuhnya saling mengenal,

percaya, menerima dan membantu diantara para anggota.

5. Tumbuhnya suasana bebas dan terbuka.

6. Dimulainya pembahasan tentang tingkah laku dan perasaan dalam kelompok

PERANAN PEMIMPIN KELOMPOK 1. Menampilkan diri secara utuh dan terbuka

2. Menampilkan penghormatan kepada orang lain, hangat, tulus, bersedia membantu dan penuh empati


(61)

Tahap II: Peralihan

Gambar 2.2. Tahap Peralihan dalam Konseling Kelompok

Gambar 2.2. Tahap Peralihan dalam Konseling Kelompok TAHAP II

PERALIHAN

Tema: Pembangunan jembatan antara tahap pertama dan tahap ketiga

Tujuan:

1. Terbebaskannya anggota dari perasaan atau sikap enggan, ragu atau saling tidak percaya untuk memasuki tahap berikutnya.

2. Makin mantapnya suasana kelompok dan kebersamaan. 3. Makin mantapnya minat untuk

ikut serta dalam kegiatan kelompok.

Kegiatan:

1. Menjelaskan kegiatan yang akan ditempuh pada tahap berikutnya. 2. Menawarkan atau mengamati

apakah para anggota sudah siap menjalani kegiatan pada tahap selanjutnya (tahap ketiga). 3. Membahas suasana yang terjadi. 4. Meningkatkan kemampuan

keikutsertaan anggota.

5. Kalau perlu kembali kebeberapa aspek tahap pertama (tahap pembentukan)

PERANAN PEMIMPIN KELOMPOK 1. Menerima suasana yang ada secara sabar dan terbuka.

2. Tidak mempergunakan cara-cara yang bersifat langsung atau mengambil alih kekuasaannya.

3. Mendorong dibahasnya suasana perasaan. 4. Membuka diri, sebagai contoh dan penuh empati.


(62)

Tahap III: Kegiatan v

Gambar 2.3. Tahap Kegiatan dalam Konseling Kelompok TAHAP III

KEGIATAN

Tema: Kegiatan pencapaian tujuan

Kegiatan:

1. Masing-masing anggota secara bebas mengemukakan masalah atau topik bahasan.

2. Menetapkan masalah atau topik yang akan dibahas terlebih dahulu.

3. Anggota membahas masing-masing topik secara mendalam dan tuntas.

4. Kegiatan selingan. Tujuan:

1. Terungkapnya secara bebas masalah/ topik dirasakan, dipikirkan dan dialami oleh anggota kelompok.

2. Terbahasnya masalah dan topik yang dikemukakan secara mendalam dan tuntas. 3. Ikut sertanya seluruh anggota

secara aktif dalam pembahasan, baik yang menyangkut unsur-unsur tingkah laku, pemikiran ataupun perasaan.

PERANAN PEMIMPIN KELOMPOK 1. Sebagai pengatur lalu lintas yang sabar dan terbuka 2. Aktif tetapi tidak banyak bicara


(63)

Tahap IV: Pengakhiran

Gambar 2.4. Tahap Pengakhiran dalam Konseling Kelompok TAHAP IV

PENGAKHIRAN

Tema: Penilaian dan Tindak Lanjut

Tujuan:

1. Terungkapnya kesan-kesan anggota kelompok tentang pelaksanaan kegiatan.

2. Terungkapnya hasil kegiatan kelompok yang telah dicapai yang dikemukakan secara mendalam dan tuntas.

3. Terumuskannya rencana kegiatan lebih lanjut.

4. Tetap dirasakannya interaksi kelompok dan rasa kebersamaan meskipun kegiatan diakhiri.

Kegiatan:

1. Pemimpin kelompok mengemukanan bahwa kegiatan akan segera diakhiri.

2. Pemimpin dan anggota kelompok mengemukaan kesan dan hasil-hasil kegiatan.

3. Membahas kegiatan lanjutan.

4. Mengemukakan pesan dan harapan.

PERANAN PEMIMPIN KELOMPOK 1. Tetap mengusahakan suasana hangat, bebas dan terbuka.

2. Memberikan pernyataan dan mengucapkan terima kasih atas keikutsertaan anggota.

3. Memberikan semangat untuk kegiatan lebih lanjut. 4. Penuh rasa persahabatan dan empati.


(1)

124

BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil penelitian di SMK 2 SWADHIPA Natar Lampung Selatan, maka dapat diambil kesimpulan, yaitu:

1. Kesimpulan Statistik

Berdasarkan hasil yang diperoleh dalam penelitian ini menunjukkan bahwa layanan konseling kelompok dapat mengatasi perilaku agresif di sekolah. Hal ini terbukti dari hasil analisis data observasi pretest perilaku agresif dan posttest perilaku agresif thitung = 9,400 dan ttabel 0,05 = 1,833. Karena thitung > ttabel maka Ha diterima dan H0 di tolak, artinya terjadi penurunan perilaku agresif dengan menggunakan layanan konseling kelompok pada siswa kelas XI SMK 2 SWADHIPA Natar Lampung Selatan tahun ajaran 2013/2014.

2. Kesimpulan Penelitian

Konseling kelompok dapat mengurangi perilaku agresif siswa kelas XI SMK 2 SWADHIPA Natar. Hal ini ditunjukkan dari adanya perubahan perilaku dari sepuluh subyek dalam penelitian ini, yang sebelumnya memiliki perilaku agresif, dan setelah diberikan perlakuan dengan layanan


(2)

konseling kelompok kepada sepuluh subyek tersebut, perilaku agresifnya mengalami penurunan atau berkurang. Layanan konseling kelompok digunakan untuk mengatasi perilaku agresif siswa dikarenakan dalam konseling kelomok memanfaatkan dinamika kelomok untuk mengatasi permasalahan anggotanya, layanan konseling kelompok merupakan layanan bimbingan dan konseling yang memungkinkan peserta memperoleh kesempatan untuk membahas dan mengentaskan permasalahan yang dialami siswa melalui dinamika kelompok.

B. Saran

Adapun saran yang dikemukakan dari penelitian yang telah dilakukan di SMK 2 SWADHIPA Natar Lampung Selatan adalah:

1. Kepada Siswa yang memiliki perilaku agresif hendaknya mengikuti kegiatan layanan konseling kelompok yang diselenggarakan oleh guru bimbingan dan konseling disekolah agar siswa dapat berlatih menyelesaikan masalah yang sedang dihadapinya.

2. Kepada guru BK

Guru pembimbing hendaknya dapat menggunakan konseling kelompok untuk mengurangi perilaku agresif siswa di sekolah dan membantu siswa mengatasi permasalahan lainnya pada umumnya. Karena melalui layanan konseling kelompok guru BK dapat menanamkan nilai moral, mengembangkan kemampuan individu dalam berempati, tolong-menolong, dan memaafkan dengan sesama. Selain itu guru BK juga dapat mengenal siswa dan dapat mengetahui


(3)

126

permasalahan dan kesulitan yang sedang dialami oleh siswa dan juga mengetahui potensi yang dimiliki siswa sehingga dapat menyalurkan siswa dalam kegiatan yang lebih positif.

3. Kepada para peneliti selanjutnya

Kepada para peneliti hendaknya dapat melakukan penelitian mengenai masalah yang sama tetapi dengan subjek yang berbeda.


(4)

DAFTAR PUSTAKA

Abidin, Z. 2005. Penghakiman Massa. Jakarta : Erlangga

Abimanyu dan Marinhu. 1996 Teknik dan Laboraturium Konseling. Jakarta :Dekdikbud Direktorat jenderal Pendidikan Tinggi

Antasari. 2006. Menyikapi Perilaku Agresif Anak. Yogyakarta : Kanisius.

Arikunto, S. 2006. Prosedur Penelitian Suatu Pendekatan dan Praktek. Jakarta: Rieneka Cipta.

Agus, A.R. 2013. Psikologi Sosial. Jakarta: Rajawali Pers

Baron, R dan Byrne, D. 2002. Psikologi Sosial. Jakarta: Erlangga Barbara K, 2005. Perilaku Agresif. Yogyakarta: Pustaka Pelajar Dayakisni, 2003. Psikologi Sosial. Malang : UMM.

Edi K.D. 2013. Konseling Kelompok. Bandung: Alfabeta

Hanito, C., dkk. 2008. Makalah Perkembangan Sosial Anak. Bandung: FIP UPI Handayani, S. 2004. Meredukasi Perkembangan Perilaku Agresif Anak Melalui

Permainan. Semarang: UNNES

Koeswara, E. 1998.Agresi Manusia. Bandung: PT Erasco.

Kursin. 2005. Efektifitas Layanan Konseling Kelompok dalam Mengurangi Perilaku Agresif Siswa Panti Permadi Putra Mandiri Semarang th

2004/2005 Online (Skripsi). UNNES (http//lib.unnes.ac.id/3430/

diaskes pada 1 maret 2014)


(5)

128

Mighwar, M.2006. Psikologi Remaja. Bandung; Pustaka Setia.

Novi K (2010). Pengaruh Layanan Konseling Kelompok Terhadap Perilaku Agresif pada siswa kelas VIII MTs At-Taqwa Jatingarang Bodeh Pemalang Tahun 2010/2011. Skripsi, IKIP PGRI Semarang. (andynuriman.files.wordpress.com/2011/10/novi-kristina.pdf, diunduh pada 1 maret 2014)

O. Sears, D., dkk.2002. Psikologi Sosial Jilid II. Jakarta: Erlangga Pidarta, M. 2000. Landasan Kependidikan. Jakarta: Rineka Cipta

Prayitno. 1995. Layanan Bimbingan dan Konseling Kelompok. Jakarta : Ghalia Indonesia.

Rosjidan, M.A. 1994. Modul Pendekatan-Pendekatan Konseling Kelompok. Malang: IKIP Malang

Sarwono, S. W. 2009. Psikologi Sosial. Jakarta: Humanika Salemba.

Scheneiders, A.A. 1964. Personal Adjusment and Mental Helath. New York; Holt Rinehart & Winston.p

Suci,A.T 2012. Upaya Mengurangi Perilaku Agresif dengan menggunakan

Layanan Konseling Kelompok Pada Siswa Kelas VIII SMP NEGERI 3

Natar Lampung Selatan th 2011/2012. (Skripsi). UNILA

Sugiyono. 2012. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif, Kualitatif, dan Riset & Development. Bandung : Alfabeta.

Sobur, 2003. Psikologi Umum. Bandung: Pustaka Setia

Sukardi, DK. 2000. Pengantar Pelaksanaan Program BK di Sekolah. Jakarta: Rineka Cipta.

Supriatna, M. 2004. Konseling Kelompok. Bandung: Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Pendidikan Indonesia Departemen Pendidikan Nasional. Tohirin. 2007. Bimbingan dan Konseling di Sekolah dan Madrasah (berbasis


(6)

Wahyudi, A. 2010. Penggunaan Layanan Konseling Kelompok dalam Mengurangi Perilaku Agresif Pada Anggota Pramuka SMAN 1 Gunung Lanbuhan Kabupaten Way Kanan th 2010/2011. (Skripsi). UNILA Wibowo, E. 2005. Konseling Kelompok Perkembangan. Semarang : UNNES


Dokumen yang terkait

MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR BAHASA INGGRIS DENGAN MENGGUNAAN LAYANAN BIMBINGAN KELOMPOK PADA SISWA KELAS XI SMA NEGERI 5 BANDAR LAMPUNG TAHUN PELAJARAN 2011/2012

0 10 82

MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR BAHASA INGGRIS DENGAN MENGGUNAAN LAYANAN BIMBINGAN KELOMPOK PADA SISWA KELAS XI SMA NEGERI 5 BANDAR LAMPUNG TAHUN PELAJARAN 2011/2012

0 12 76

MENINGKATKAN PERILAKU DISIPLIN BERLALU LINTAS DENGAN MENGGUNAKAN LAYANAN KONSELING KELOMPOK PADA SISWA KELAS XI SMA BINA MULYA KOTA BANDAR LAMPUNG TAHUN PELAJARAN 2012/2013

3 55 56

UPAYA MENGATASI KESULITAN BELAJAR SISWA DENGAN MENGGUNAKAN LAYANAN KONSELING KELOMPOK PADA SISWA KELAS X SMA NEGERI 1 KOTAGAJAH LAMPUNG TENGAH TAHUN PELAJARAN 2013/2014

0 46 70

UPAYA MENGURANGI PERILAKU BULLYING DI SEKOLAH DENGAN MENGGUNAKAN LAYANAN KONSELING KELOMPOK

5 35 71

PENURUNAN TINGKAH LAKU MENYIMPANG DENGAN MENGGUNAKAN LAYANAN KONSELING KELOMPOK PADA SISWA KELAS XI SMK NEGERI 1 METRO TAHUN PELAJARAN 2013 / 2014

0 11 63

UPAYA MENGURANGI PERILAKU AGRESIF DENGAN MENGGUNAAN LAYANAN KONSELING KELOMPOK PADA SISWA KELAS XI SMK 2 SWADHIPA NATAR TAHUN PELAJARAN 2013/2014

0 57 84

PENGARUH MEDIA KOMIK TERHADAP HASIL BELAJAR SEJARAH SISWA KELAS XI IPS 1 DI SMA SWADHIPA NATAR TAHUN PELAJARAN 2013/2014

5 33 68

PENINGKATAN INTERAKSI SOSIAL DENGAN LAYANAN KONSELING KELOMPOK PADA SISWA KELAS VIII DI SMP NEGERI 3 NATAR TAHUN PELAJARAN 2014/2015

0 18 81

PENGARUH LAYANAN KONSELING KELOMPOK DALAM MENGATASI PERILAKU AGRESIF SISWA MTsN MOJOSARI MOJOKERTO

0 0 18