ANALISIS POLA KONSUMSI DAGING SAPI OLEH RUMAH TANGGA DI KOTA BANDAR

ABSTRACT
THE CONSUMPTION PATERN ANALYSIS OF BEEF BY HOUSEHOLD
IN BANDAR LAMPUNG
By
Joni Parulian

The study aims to know: (1) the pattern of consumption of beef, (2) factors that
affect the demand of beef, (3) elasticity of the demand of beef. Location of the
research conducted in the city of Bandar Lampung was determined on purpose,
based on the class of Prasejahtera households to Sejahtera III +, namely upper
class in the District Kemiling at Kemiling Permai Village, middle class in the
District Kedaton at Labuhan Ratu Village and lower classes in the District of
Southern Teluk Betung at Pesawahan Village. The sample in the study was 54
housewives. Data collection was carried out from October-November 2013. Data
analysis included qualitative analysis using the tabulation, multiple linear
regression and analysis of the elasticity of demand. The results showed as
follows. (1) The greatest amount of beef demand in the period of July–September
2013 was 0.5-3 kg / for 3 month, pieces of beef that was being the most widely
consumed was chuck of 43.61 kg / for 3 month, frequency of beef consumption as
much as 1-3 times in the period of July to September 2013, and a total of 76.64%
of households chose the traditional market to buy beef. (2) Factors affecting beef
demand by households in the city of Bandar Lampung were chicken prices, level
of education, income and place of purchase. (3) Cross elasticity between broiler
chicken and domestic chickens was positive, it meant that beef was substitution
stuff; and income elasticity of the demand of beef worth positive; so that beef was
normal stuff.

Keywords: beef, consumption patterns, elasticity, factor demand

ABSTRAK
ANALISIS POLA KONSUMSI DAGING SAPI OLEH RUMAHTANGGA
DI KOTA BANDAR LAMPUNG
Oleh
Joni Parulian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui : (1) pola konsumsi daging sapi. (2)
Faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan daging sapi, dan (3) elastisitas
permintaan daging sapi. Lokasi penelitian dilakukan di Kota Bandar Lampung
yang ditentukan secara sengaja, berdasarkan kelas rumahtangga prasejahtera
sampai dengan sejahtera III+. Kecamatan Kemiling Kelurahan Kemiling Permai
mewakili kelas atas, kelas menengah di Kecamatan Kedaton Kelurahan Labuhan
Ratu dan kelas bawah di Kecamatan Teluk Betung Selatan Kelurahan Pesawahan.
Jumlah responden penelitian ini 54 ibu rumahtangga. Pengumpulan data
dilaksanakan pada bulan Oktober-November 2013. Analisis data menggunakan
tabulasi, regresi linear berganda, dan analisis elastisitas permintaan. Penelitian
menunjukkan hasil sebagai berikut. (1) Jumlah terbesar konsumsi daging sapi
dalam periode Juli-September rata-rata 0,5-3 kg/per 3 bulan, jenis potongan
daging sapi yang paling banyak dikonsumsi adalah daging paha depan sebesar
43,61 kg/per 3 bulan, frekuensi konsumsi daging sapi sebanyak 1-3 kali dalam
periode Juli-September, serta sebanyak 76,64% rumahtangga memilih pasar
tradisional untuk membeli daging sapi. (2) Faktor-faktor yang mempengaruhi
permintaan daging sapi oleh rumahtangga di Kota Bandar Lampung adalah harga
ayam ras, harga ayam kampung, pendidikan, pendapatan dan tempat pembelian.
(3) Elastisitas silang ayam ras dan ayam kampung bertanda positif sehingga ayam
ras dan ayam kampung bersifat barang subtitusi terhadap daging sapi dan
elastisitas pendapatan atas permintaan daging sapi bernilai positif sehingga daging
sapi bersifat barang normal.

Kata kunci : daging sapi, elastisitas, faktor permintaan, pola konsumsi.

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Sekincau, Lampung Barat, pada tanggal 11 November 1990,
sebagai anak ke dua dari 5 bersaudara, pasangan M. Sinaga dan L. Br Marbun
Banjarnahor.

Pendidikan Sekolah Dasar (SD) diselesaikan di SDN I Sekincau Lampung Barat
tahun 2002, Sekolah Menengah Pertama (SMP) di SMPN 16 Bandar Lampung
pada tahun 2005, dan Sekolah Menengah Atas (SMA) di SMAK BPK Penabur
Bandar Lampung tahun 2008, secara akademik penulis lulus lewat jalur ujian
Paket-C (setara SMA) di PKBM Al-Jauhar Bandar Lampung. Penulis diterima di
Jurusan Agribisnis, Fakultas Pertanian, Universitas Lampung melalui jalur Ujian
Mandiri pada tahun 2008.

Penulis melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) selama 40 hari di Desa Rebang
Tinggi Kecamatan Banjit Kabupaten Way Kanan pada tahun 2012. Praktik Umum
pada tahun 2011 (PU) selama 30 hari dilakukan di PT. GGL Terbanggi Besar
Lampung Tengah. Selama masa perkuliahan, penulis pernah menjadi asisten dosen
mata kuliah Teknologi Informatika dan Multimedia (TIM), dan aktif dalam
organisasi kemahasiswaan Himpunan Mahasiswa Sosial Ekonomi Pertanian
(Himaseperta) periode 2009-2010, aktif dalam Persekutuan Oikumene Mahasiswa
Kristen Pertanian (POMPERTA), dan aktif dalam Paduan Suara Mahasiswa Unila.

SANWACANA

Puji syukur hormat pujian kepada Allah Bapa Yang Maha Kuasa yang telah
mencurahkan kasih karunia dan damai sejahtera sehingga penulis mampu
menyelesaikan penulisan skripsi berjudul “Analisis Pola Konsumsi Daging Sapi
Oleh Rumahtangga di Kota Bandar Lampung”.

Pada kesempatan ini penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih yang
setulus-tulusnya kepada:
1. Allah Bapa yang memberikan kekuatan, kesehatan rohani maupun jasmani
untuk dapat menyelesaikan skripsi.
2. Dr.Ir. Dyah Aring H.L, M.Si. selaku Dosen Pembimbing utama atas bimbingan,
saran, serta motivasi yang telah diberikan.
3. Ir. Rabiatul Adawiyah, M.Si. selaku Dosen Pembimbing kedua atas bimbingan,
saran, serta motivasi yang telah diberikan.
4. Dr. Ir. R. Hanung Ismono, M.P. selaku Dosen Pembahas atas saran, bahasan,
dan arahan yang diberikan untuk kesempurnaan skripsi ini.
5. Dr. Ir. Wan Abbas Zakaria, M.S. selaku Dekan Fakultas Pertanian Universitas
Lampung.
6. Dr.Ir. F. Erry Prasmatiwi, M.S. selaku Ketua Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian
Fakultas Pertanian Universitas Lampung.
7. Ir. Suarno Sadar selaku pembimbing akademik.

8.

Seluruh Dosen dan Karyawan (Mba Iin, Mba Ai, Mas Bukhari, Mas Kardi, dan
Mas Boim) di Jurusan Agribisnis Fakultas Pertanian, atas semua bimbingan,
pengajaran, dan pelayanan yang telah diberikan.

9.

Kedua orangtuaku tercinta, Bapak M. Sinaga dan Mama L. Marbun
Banjarnahor atas doa, kasih sayang, dukungan, baik moril maupun materiil,
serta kesabarannya yang senantiasa diberikan kepada penulis.

10. Teman-teman AGB 2008, AGB 2009, AGB 2010 yang telah memberikan
bantuan, saran, kritik dan motivasi dalam menyelesaikan skripsi ini.
11. Sahabat Altersingers : Mas Christian Astho Nugroho, Kak Ina Hotria Sitompul,
Theo. Teman sejawat : Febe, Toni, Merry, Patrick, Martha, Shari, Anggy,
Ruth, Ikha, Nico, Torang, Tofer, Rivan. Sahabat NHKBP TanKa :
Neilmansyah, Tiar, Selly, Ina, Judika, Rere, Choky, Jurec, Merry, Kak Juli,
M.R Sagala. Teman-teman BnF : Hendra Swarsof, Boy, Beber, Evan, Ardul,
Rully, Nelian NATW Seluruh jemaat GJKI Bethania dan HKBP TANKA atas
doa dan semangat yang diberikan.
12. Seluruh pihak yang telah membantu penulis selama ini. Semoga Allah Bapa
senantiasa memberkati kalian selama ini.

Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi kita semua.
Bandar Lampung, 16 Oktober 2014

Joni Parulian

DAFTAR ISI

Halaman
DAFTAR TABEL ....................................................................................

iii

DAFTAR GAMBAR .................................................................................

iv

I.

PENDAHULUAN ............................................................................

1

A.
B.
C.
D.

Latar Belakang .............................................................................
Perumusan Masalah ......................................................................
Tujuan Penelitian...........................................................................
Kegunaan Penelitian .....................................................................

1
10
11
11

TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN, DAN
HIPOTESIS.......................................................................................

12

A. Tinjauan Pustaka ..........................................................................
1. Daging Sapi ...............................................................................
2. Pola Konsumsi Pangan .............................................................
3. Perilaku Konsumen dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya
4. Permintaan dan Konsep Elastisitas ............................................

12
13
19
24
28

B. Kajian Penelitian Terdahulu .........................................................
C. Kerangka Pikir ...............................................................................
D. Hipotesis ........................................................................................

34
38
39

III. METODE PENELITIAN ................................................................

41

A. Konsep Dasar dan Definisi Operasional .....................................
B. Lokasi, Waktu, dan Responden ....................................................
C. Jenis Data dan Metode Pengambilan Data ....................................

41
45
49

II.

ii

IV.

V.

D. Metode Analisis Data ....................................................................
1. Analisis Konsumsi ...................................................................
2. Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi Jumlah Daging
yang dikonsumsi ....................................................................
3. Analisis Elastisitas ...................................................................

50
50
50
56

GAMBARAN UMUM LOKASI PENELITIAN ..........................

57

A Gambaran Umum Kota Bandar Lampung ......................................
B. Keadaan Ekonomi Secara Umum ..................................................
C. Kelurahan Kemiling Permai Kecamatan Kemiling .......................
C. Kelurahan Labuhan Ratu Kecamatan Kedaton ..............................
D. Kelurahan Pesawahan Kecamatan Teluk Betung Selatan .............

57
61
65
67
68

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ...............................

70

A. Karakteristik Umum Responden ...................................................
1. Umur ........................................................................................
2. Pendidikan ...............................................................................
3. Pekerjaan .................................................................................
4. Pendapatan dan Pengeluaran Rumah Tangga..........................
5. Jumlah Anggota Keluarga .......................................................

70
70
71
72
73
75

B. Pola Konsumsi Daging Sapi Segar dan Produk Olahan ................
1. Jenis Potongan Daging Segar ..................................................
2. Jumlah Daging Sapi ................................................................
3. Tempat Pembelian ...................................................................
4. Frekuensi Pembelian Daging Sapi...........................................
5. Jenis Masakan Olahan .............................................................
6. Perilaku Konsumsi Daging Sapi ..............................................

77
77
79
81
82
83
84

C. Faktor-faktor yang Mempengaruhi Permintaan Daging Sapi di Kota
Bandar Lampung ......................................................................... 87
D. Elastisitas Permintaan Daging Sapi ..............................................

97

KESIMPULAN DAN SARAN .........................................................

101

A. Kesimpulan....................................................................................
B. Saran ..............................................................................................

101
102

DAFTAR PUSTAKA ................................................................................

103

LAMPIRAN ...............................................................................................

107

VI.

iii

DAFTAR TABEL

Tabel

1.

Halaman

Rata-rata konsumsi ikan, daging, dan telur per kapita sehari di
Indonesia (gram) tahun 2009-2012 ................................................

4

Produksi daging sapi di kabupaten dan kota Provinsi Lampung
(kg) tahun 2010-2012 .......................................................................

5

Rata-rata konsumsi ikan, daging, telur dan susu per kapita sehari
(gram) tahun 2010-2011 di Provinsi Lampung ...............................

6

Rata-rata konsumsi ikan, daging, telur dan susu per kapita sehari
(gram) menurut golongan pengeluaran per kapita sebulan
(Rupiah) 2011di Provinsi Lampung .................................................

7

5.

Jumlah penduduk Kota Bandar Lampung tahun 2011 .....................

9

6.

Komposisi daging sapi per 100 gram bahan yang dimakan ............. 12

7.

Komposisi nutrisi daging sapi berdasarkan letak karkasnya ............ 14

8.

Ciri-ciri dan karakteristik daging sapi berdasarkan golongan .......... 16

9.

Luas wilayah, jumlah penduduk dan kepadatan penduduk perkecamatan di Kota Bandar Lampung tahun 2011 ............................ 59

2.

3.

4.

10. Bagian wilayah Kota Bandar Lampung berdasarkan fungsinya
(BWK) .............................................................................................. 60
11. Daftar nama pasar tradisional di Kota Bandar Lampung ................. 63
12. Daftar nama supermarket yang ada di Kota Bandar Lampung ........ 64

iv

13. Daftar trayek angkutan dalam kota yang beroperasi di Kota
Bandar Lampung .............................................................................. 66
14. Sebaran ibu rumahtangga menurut umur di Kota Bandar
Lampung ......................................................................................... 71
15. Sebaran ibu rumahtangga menurut tingkat pendidikan di Kota
Bandar Lampung .............................................................................. 66
16. Sebaran ibu rumahtangga menurut pekerjaan di Kota Bandar
Lampung........................................................................................... 67
17. Sebaran ibu rumahtangga berdasarkan pendapatan rumahtangga
di Kota Bandar Lampung ................................................................. 68
18. Sebaran ibu rumah tangga menurut jumlah anggota keluarga di
Kota Bandar Lampung ..................................................................... 69
19. Sebaran ibu rumah tangga berdasarkan etnis di Kota Bandar
Lampung........................................................................................... 77
20. Jenis dan jumlah potongan daging sapi segar berdasarkan kelas
sosial ekonomi ibu rumahtangga per Juli-September 2013 ............. 78
21. Jumlah daging sapi yang dikonsumsi rumahtangga per JuliSeptember 2013 (Kg) ....................................................................... 80
22. Rata-rata dan jumlah pembelian daging sapi menurut kelas tiap
rumahtangga periode Juli-September 2013 ...................................... 81
23. Sebaran ibu rumahtangga berdasarkan tempat pembelian dan
kelas sosial ekonomi per Juli-September 2013 ................................ 82
24. Sebaran ibu rumahtangga berdasarkan frekuensi pembelian
daging sapi dalam periode Juli-September 2013.............................. 83
25. Sebaran ibu rumahtangga berdasarkan jenis masakan yang dipilih
di Kota Bandar Lampung ................................................................. 84
26. Sebaran ibu rumahtangga berdasarkan perilaku mengkonsumsi
daging sapi........................................................................................ 85
27. Harga rata-rata daging sapi dan barang lainnya periode Bulan
Juli-September 2013 ......................................................................... 88

v

28. Hasil analisis regresi faktor-faktor yang mempengaruhi
permintaan daging sapi pada ibu rumahtangga di Kota Bandar
Lampung........................................................................................... 89
29. Hasil pengujian multikolinieritas ..................................................... 92
30. Hasil uji White dengan Eviews ......................................................... 93
31. Harga rata-rata daging sapi periode Juli-September ........................ 107
32. Harga rata-rata ikan periode Juli-September.................................... 108
33. Harga rata-rata ayam ras periode Juli-September ............................ 109
34. Harga rata-rata telur ayam periode Juli-September.......................... 110
35. Harga rata-rata ayam kampung periode Juli-September .................. 111
36. Hasil jawaban kuisioner pola konsumsi daging sapi ........................ 112
37. Jenis masakan ................................................................................... 113
38. Jenis potongan daging sapi............................................................... 114
39. Variabel dalam regresi ..................................................................... 115
40. Pengeluaran pangan dan nonpangan rumahtangga di Kota Bandar
Lampung........................................................................................... 116
41. Hasil Uji White ................................................................................. 117
42. Hasil analisis Eviews ........................................................................ 118

iii

DAFTAR GAMBAR

Gambar

Halaman

1. Bagian karkas sapi .............................................................................. 13
2. Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen ..................... 21
3. Kerangka pikir analisis faktor-faktor yang mempengaruhi
konsumsi daging sapi tingkat rumah tangga di Kota
Bandar Lampung ..............................................................................

37

4. Banyaknya pentahapan keluarga sejahtera di Kota
Bandar Lampung 2011. ...................................................................... 45
5. Kurva Engel antara pendapatan terhadap jumlah permitaan
daging sapi .......................................................................................... 96

1

I. PENDAHULUAN

A.

Latar Belakang
Kesejahteraan masyarakat adalah tujuan utama suatu negara, tingkat
kesejahteraan masyarakat serta merta akan menjadi satu tolak ukur dalam
menilai keberhasilan pembangunan. Pola konsumsi suatu masyarakat
mencerminkan tingkat kesejahteraan masyarakat tersebut, terutama bidang
perekonomian yang mengakibatkan perbedaan pola konsumsi antar masyarakat
secara umum dan tingkat rumahtangga secara khusus. Perbedaan kuantitas dan
kualitas konsumsi antar rumahtangga dikarenakan berbedanya pendapatan,
jumlah tanggungan, jabatan, kebutuhan tiap-tiap rumahtangga.

Konsumsi rumahtangga yang besar sejalan dengan pendapatan tinggi terhadap
pemenuhan kebutuhan konsumsi tersebut, bila kebutuhan rumahtangga dalam hal
ini konsumsi tidak didukung dengan pendapatan , maka akan terjadi kemunduran
ekonomi dan penurunan konsumsi suatu rumahtangga. Tingkat pendapatan yang
tinggi mempengaruhi keragaman bahan pangani, semakin beragam susunannya
serta proporsi pangan hewani yang lebih tinggi.

2

Persediaan bahan pangan akan mempengaruhi perubahan konsumsi yang
ditentukan oleh faktor demografi dan sosial ekonomi, ketersediaan yang sesuai
dengan permintaan akan membuat pilihan pangan yang utuh untuk masyarakat
atau rumah tangga dalam membeli dan mengkonsumsi. Faktor sosial ekonomi
akan menekan distribusi dari sentra produksi saat konsumsi menjadi budaya dan
secara ekonomi tingkat rumah tangga mampu untuk membeli (Suhardjo, 2003).

Rumahtangga secara alami akan memilih dan mengkonsumi jenis pangan sebagai
respon dari proses pemenuhan kebutuhan. Memilih dan mengkonsumsi jenis
pangan dengan melalui berbagai proses menentukan pilihan adalah kegiatan
individu atau kelompok dalam memenuhi kebutuhan pangannya yang didasarkan
kepada faktor-faktor sosial dan budaya (Guthe dan Mead, 1945 dalam Sayuti dan
Efendi 2004).

Mengkonsumsi daging dan ikan dalam upaya mencukupi kebutuhan protein
hewani dalam tubuh manusia secara tidak langsung akan membentuk pola
konsumsi, oleh karena kegemaran atau sadar gizi. Kebiasaan mengkonsumsi
daging dapat terbentuk oleh gaya hidup yang berkaitan dengan pembentukan
kebiasaan makan. Beberapa faktor yang menyusun gaya hidup yang berkaitan
dengan pembentukaan kebiasaan makanan dan pola konsumsi adalah : (1)
Pendapatan, (2) Pendidikan Lingkungan hidup Perkotaan atau Perdesaan, (3)
Susunan keluarga, (4) Pekerjaan, (5) Suku Bangsa, (6) Kepercayaan dan Agama,
(7) Pengetahuan tentang kesehatan, (8) Pengetahuan akan Gizi, (9) Produksi
pangan (10) Sistem distribusi, (11) Sosial dan Politik (Suhardjo, 1989).

3

Menurut Harper dkk, (1986) proses pemenuhan kebutuhan protein hewani erat
kaitannya dengan pola konsumsi pangan, dimana pola konsumsi pangan adalah
upaya seseorang atau sekelompok manusia memilih makanan dan memakannya
sebagai tanggapan terhadap pengaruh fisiologis, psikologis, budaya, dan sosial.
(Sayuti dan Efendi 2004 ).

Jenis dan jumlah pangan secara mikro dipengaruhi produksi, ketersediaan pangan
secara nasional dan domestik, ketersediaan pasar, alur distribusi yang memadai,
kesukaan, pendidikan, nilai sosial dan budaya yang berlaku di masyarakat.
Secara riil pendapatan rumahtangga adalah salah satu faktor yang menentukan
konsumsi tiap-tiap rumahtangga. Bahan pangan yang akan dikonsumsi juga
dipengaruhi oleh harga, karena fluktuatif harga pangan yang terjadi akan
mempengaruhi perilaku konsumsi tiap-tiap rumahtangga, terutama masyarakat
miskin (Soekirno,1991 dalam Ariani 1993).

Masyarakat dalam hal ini rumahtangga memilih pangan terlebih dahulu
mempertimbangkan salah satu atau lebih diantara aspek berikut ini : aspek teknis,
aspek ekonomis, aspek gizi dan kesehatan, aspek sosial budaya, dan aspek
agama. Berbagai aspek tersebut bisa dikombinasi berdasarkan hal-hal yang
mendukung dan menjadi acuan dalam memilih pangan (Aritonang, 2000 dalam
Nairah 2007).

4

Pencapaian konsumsi protein hewani secara nasional masih jauh dari standar
yang ditetapkan, untuk protein hewani perhari yaitu sebanyak 6,5 gram. Ratarata tingkat konsumsi protein hewani di Indonesia hanya mencapai 4,7 gram/
orang/hari, sedangkan di Malaysia, Thailand dan Philipina rata-rata telah di atas
10 gram/orang/hari, sementara di negara maju seperti Jepang, Australia, dan New
Zealand konsumsi rata-rata telah mencapai di atas 20 gram/kapita/hari. (LIPI,
2004)

Tabel 1. Rata-rata konsumsi ikan, daging dan telur perkapita sehari di Indonesia
(gram) Tahun 2009-2012.
Tahun
Komoditi
Ikan
Daging
Telur dan susu
Jumlah

2009
7.28
2.22
2.96
12.46

2010
7.63
2.55
3.27
13.45

2011
8.02
2.75
3.25
14.02

2012 Rata-rata
8.12
7.76
2.64
2.54
3.22
3.17
13.98
13.47

Sumber : Data Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2012.

Konsumsi protein hewani khususnya daging mengalami perubahan naik dan
turun tiap tahun. Jumlah konsumsi rata-rata protein hewani yang berasal dari
daging dalam 4 tahun sebanyak 2.54 gram dan jumlah rata-rata konsumsi protein
hewani untuk keseluruhan dalam 4 tahun terakhir sebanyak 13.47 gram perhari.
Konsumsi ini menunjukan rendahnya tingkat konsumsi terhadap daging
dibandingkan telur, susu dan ikan. Ikan menempati konsumsi paling tinggi

5

dengan jumlah 7.76 gram perhari serta telur dan susu sebanyak 3.17 gram
perhari.
Ketersediaan daging sapi secara umum tidak ada masalah, untuk semua daerah
kabupaten dan kota di Provinsi Lampung. Produksi daging sapi di Provinsi
Lampung secara terperinci dijelaskan dalam Tabel 2.

Tabel 2. Produksi daging sapi per kabupaten dan kota di Provinsi Lampung
tahun 2010-2012

1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13
14

Kabupaten/Kota

Produksi Daging Sapi (kg)

Lampung Barat
Tanggamus
Lampung selatan
Lampung Timur
Lampung Tengah
Lampung Utara
Way Kanan
Tulang Bawang
Pesawaran
Pringsewu
Mesuji
Tulang Bawang Barat
Bandar Lampung
Metro
Jumlah

2010
2011
2012*
505.118
519.851
488.240
3.395.893 2.136.024 2.295.413
2.086.882 3.669.075 3.768.372
3.085.229 4.854.424 4.933.082
14.308.935 7.269.114 7.344.845
4.496.636 5.963.237 6.088.062
2.115.856 2.664.727 2.689.159
1.351.345 1.197.837 1.227.973
9.446.245 9.637.298 9.800.570
2.086.575 3.889.536 3.971.935
2.426.877 4.014.983 4.086.853
811.866 1.443.856 1.455.539
19.058.475 11.284.198 11.473.904
2.002.260 2.379.950 2.395.174
67.161.314 60.909.377 62.050.732

Sumber : Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan

Kota Bandar Lampung memiliki produksi daging sapi tertinggi tahun 20102012, produksi mengalami penurunan pada tahun 2011 disebabkan oleh berbagai
faktor salah satunya pembatasan impor daging sapi dari Australia.

6

Konsumsi akan protein hewani khususnya daging di perkotaan dan perdesaan
berbeda, dan untuk Provinsi Lampung masih tergolong rendah, Besaran
konsumsi protein hewani di Provinsi Lampung dapat di lihat di Tabel. 3

Tabel 3. Rata-rata konsumsi ikan, daging, telur dan susu perkapita sehari (gram)
tahun 2010- 2011 di Provinsi Lampung.
Jenis Makanan

1 Ikan
2 Daging
3 Telur dan Susu
Jumlah

Perkotaan
2010
2011

Perdesaan
2010
2011

6.88
2.76
3.84
13.48

6.58
1.74
2.48
10.8

6.88
2.71
4.29
13.88

6.44
2.00
2.68
11.12

Perkotaan + Perdesaan

2010

2011

6.66
2.01
2.84
11.51

6.56
2.18
3.10
11.48

Sumber : Badan Pusat Statistik 2012

Konsumsi protein hewani di Provinsi Lampung pada tahun 2010-2011 untuk
wilayah perkotaan dan perdesaan mengalami perbuhan naik turun untuk kategori
ikan, daging, telur dan susu. Berdasarakan Tabel.3 konsumsi daging pada
perkotaan mengalami penurunan sebanyak 0.05 gram, sedangkan di perdesaan
konsumsi daging mengalami kenaikan sebanyak 0.26 gram. Penurunan yang
dialami tidak begitu besar sehingga diasumsikan masyarakat mengubah kuantitas
konsumsi daging dengan bahan pangan subtitusi lainnya. Dengan berbagai
faktor masyarakat Lampung akan memutuskan untuk memilih dan
mengkonsumsi bahan pangan protein hewani berupa daging khususnya daging
sapi.

7

Kemampuan membeli daging akan dipengaruhi oleh besarnya pengeluaran yang
dialokasikan terhadap bahan pangan. Rata-rata konsumsi pangan hewani
berdasarkan golongan pengeluaran yang digunakan untuk membeli jenis pangan
protein hewani dijelaskan pada Tabel.4 terhadap ikan, daging, telur dan susu.

Tabel 4. Rata-rata konsumsi ikan, daging, telur dan susu per kapita sehari (gram)
menurut golongan pengeluaran per kapita sebulan (Rupiah) tahun 2011
di Provinsi Lampung

Jenis
1
2
3

Ikan
Daging
Telur dan
Susu
Jumlah

1000
1.8 3.2 4.77 6.95
8.6 8.75
9.32
5.85875
0.11 0.72 1.55 4.02 5.64
5.96
2.25

3.48

0.31 1.06 1.74 2.99 4.34 5.52
2.11 4.37 7.23 11.49 16.96 19.91

6.51
21.79

2.80875
10.9175

Sumber : Badan Pusat Statistik 2011
Pengeluaran tiap-tiap rumah tangga diasumsikan dipengaruhi oleh pendapatan
dan banyaknya kebutuhan, banyaknya kebutuhan akan mempengaruhi besarnya
pengeluaran. Berdasarkan Tabel.4 dijelaskan bahwa masyarakat di Provinsi
Lampung akan mengkonsumsi daging bila pengeluaran diatas Rp 150.000.

Pengeluaran tiap-tiap rumahtangga terhadap daging juga dipengaruhi oleh
ketersedian daging itu sendiri. Ketersediaan daging sapi pada kwartal pertama
tahun 2013 mengalami mengalami penurunan. Pasokan daging sapi yang
tersedia secara ideal seharusnya 300 kg per hari, namun di lapangan hanya
tersedia 150 kg per hari menurut Menteri Perekonomian Hatta Rajasa (Kompas,

8

2013). Penurunan pasokan daging mengakibatkan kenaikan harga dasar daging
segar di pasaran.

Bandar Lampung sebagai Ibu Kota Provinsi Lampung merupakan pusat kegiatan
bisnis dan aktivitas ekonomi dengan jumlah penduduk sekitar 881.801 jiwa pada
Sensus Penduduk tahun 2010 ( BPS, 2012). Keadaan ekonomi dan taraf hidup
yang lebih beragam dibandingkan kabupaten dan kota lainnya, menjadikan Kota
Bandar Lampung sangat memadai untuk dikaji atau dipelajari dalam mejawab
faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi pola konsumsi daging sapi. Selain
ekonomi, tingkat pendidikan yang bermacam-macam dan informasi yang begitu
cepat, diduga masyarakat Kota Bandar Lampung akan memiliki lebih banyak
faktor yang mempengaruhi dalam menkonsumsi daging sapi.

Berdasarkan capaian Dinas Pertanian, Peternakan dan Kehutanan Kota Bandar
Lampung tahun 2013, konsumsi daging sapi di Kota Bandar Lampung pada
tahun 2009 sebesar 1,2 kg/perkapita, tahun 2010 sebesar 1.06 kg/perkapita, tahun
2011 sebesar 1,45 kg/perkapita dan pada tahun 2012 sebesar 1.66 kg/kapita. Kota
Bandar Lampung mengalami konsumsi daging sapi tertinggi pada tahun 2012.
(Dinas Pertanian, Peternakan dan Kehutanan, 2013)

9

Kota Bandar Lampung memiliki 13 kecamatan sebagai infrastruktur jalannya
pemerintahan di Kota Bandar Lampung. Badan Pusat Statistik mendata jumlah
penduduk di Kota Bandar Lampung pada tahun 2011 pada Tabel 5.
Tabel 5. Jumlah penduduk Kota Bandar Lampung tahun 2011 (jiwa).
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10
11
12
13

Kecamatan

Jumlah Penduduk

Teluk Betung Barat
Teluk Betung Selatan
Panjang
Tanjung Karang Timur
Teluk Betung Utara
Tanjung Karang Pusat
Tanjung Karang Barat
Kemiling
Kedaton
Rajabasa
Tanjung Seneng
Sukarame
Sukabumi
Jumlah

60,041
93,156
64,194
90,295
63,342
73,169
64,439
72,248
89,273
43,727
41,672
71,530
64,288
881.801

Sumber : Badan Pusat Statistik, 2012
Secara statistik penduduk terbanyak berada di Kecamatan Teluk Betung
Selatan, yaitu sebanyak 93.156 jiwa, dan penduduk yang paling sedikit di Kota
Bandar Lampung berada di Kecamatan Tanjung Seneng yaitu sebanyak 41.672
jiwa.

10

B. Perumusan Masalah

Ketersediaan daging sapi di Kota Bandar Lampung secara umum tidak ada
masalah, namun tingkat konsumsi yang masih rendah secara garis besar
dipengaruhi oleh harga sapi yang relatif mahal. Daging sapi segar menjadi
alternatif yang paling baik dibanding daging sapi olahan, secara tidak langsung
berhubungan dengan tingkat pendidikan dan Informasi gizi yang berkembang di
masyarakat secara umum dan ibu rumahtangga secara khusus. Besaran konsumsi
yang dilakukan merupakan respon dari pendidikan gizi dan kemampuan untuk
membeli masyarakat guna mengkonsumsi dalam jenis, frekuensi, jumlah dan
tempat dimana daging sapi diperoleh.

Pola konsumsi adalah kebiasaan masyarakat untuk mengkonsumsi dalam jenis,
frekuensi, jumlah dan tempat dimana daging sapi diperoleh. Pola konsumsi yang
akan di teliti adalah pola konsumsi daging sapi pada rumahtangga yang ada di
Kota Bandar Lampung. Faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan daging
sapi dan elastisitas permintaan daging sapi. Oleh karena itu, penelitian ini
mempunyai batasan permasalahan untuk mengetahui :

1) Bagaimana pola konsumsi daging sapi dan produk olahan daging sapi pada
rumahtangga di Kota Bandar Lampung ?
2) Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi permintaan daging sapi pada
rumahtangga di Kota Bandar Lampung?

11

3) Bagaimana elastisitas permintaan untuk daging sapi pada rumahtangga di
Kota Bandar Lampung ?

C. Tujuan Penelitian

Berdasarkan latar belakang dan perumusan masalah yang ada, maka penelitian
ini bertujuan :
1) Menganalisis pola konsumsi daging sapi dan produk olahan daging sapi pada
rumahtangga di Kota Bandar Lampung
2) Menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan daging sapi pada
rumahtangga di Kota Bandar Lampung
3) Mengetahui elastisitas permintaan daging sapi pada rumahtangga di Kota
Bandar Lampung

D. Kegunaan Penelitian

Penelitian ini diharapkan berguna bagi :

1) Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat untuk menambah wawasan dan
pengetahuan informasi sehingga dapat menjadi pertimbangan dalam
menentukan kebijakan harga khususnya harga daging sapi bagi ibu
rumahtangga

2) Peniliti lain, sebagai referensi untuk penelitian yang berkaitan dengan pola
konsumsi dan permintaan daging sapi.

12

II. TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA PIKIR DAN HIPOTESIS

A. Tinjauan Pustaka

1. Daging Sapi

Daging adalah sekumpulan sejumlah otot yang melekat pada tulang atau
kerangkanya. Biasanya daging berasal dari hewan ternak yang sudah
disembelih, istilah daging berbeda dengan karkas, daging adalah bagian yang
tidak mengandung tulang sedangkan karkas adalah daging-daging yang
belum dipisahkan dari tulang kerangka. Daging sapi merupakan salah satu
sumber bahan pangan protein hewani, mengandung unsur gizi yang cukup
tinggi berupa protein dan energi.

Daging sebagai sumber protein hewani memiliki nilai hayati (biological
value) yang tinggi, mengandung 19 % protein, 5%lemak, 70% air, 3,5 % zatzat non protein dan 2,5% mineral dan bahan-bahan lainnya (Forrest et al.
1992). Komposisi daging menurut Lawrie (1991) dalam Suhairi (2007) terdiri
atas 75% air, 18% protein, 3,5 % lemak dan 3,5% zat-zat non protein, 9 %
lemak dan 1% abu. Jumlah ini akan berubah bila hewan digemukan yang
akan menurunkan presentasi air dan protein serta meningkatkan presentase
lemak (Romans et al. 1994 dalam Suhairia, 2007)

13

Protein daging terdiri dari protein sederhana dan protein terkonjugasi.
Berdasarkan asalnya protein dapat dibedakan dalam 3 kelompok yaitu protein
sarkoplasma, protein miofibril, dan protein jaringan ikat. Protein
sarkoplasam adalah protein larut air karena pada umumnya dapat diekstrak
oleh air dan larutan garam encer. Protein myofibril terdiri atas aktin dan
myosin, serta jumlah sejumlah kecil troponin dan aktinin. Protein jaringan
ikat ini memiliki sifat larut dalam larutan garam. Protein jaringan ikat
merupakan fraksi protein yang tidak larut, terdiri atas kalogen, elastin, dan
retikulin (Muchtadi dan Sugiono 1992 dalam Suhairi 2007). Komposisi 100
gram daging sapi dan jumlah kandungan didalamnya akan dijelaskan dalam
Tabel. 6

Tabel 6. Komposisi daging sapi per 100 gram bahan yang dapat dimakan.
Komposisi
Kalori (Kal)
Protein(gram)
Air (gram)
Lemak (gram)
Kalsium (mg/gram)
Fosfor (mg/gram)
Besi (mg/gram)
Vitamin A (µg/gram)
Vitamin B (µg/gram)

Kandungan
207
18,8
66
14,0
11,0
170
3,0
30
0,08

Sumber : Bahan Makanan Departemen Kesehatan RI, 2012

Air merupakan senyawa yang paling berlimpah sistem kehidupan dan
mencakup 70 % atau lebih dari bobot tubuh. Menurut Winanrno (1997),
bahwa kadar air yang dimiliki oleh semua bahan bangan berbeda-beda.
Kebutuhan protein bagi manusia digolongkan berdasarkan umur. Rata-rata
untuk anak yang berumur 0-9 tahun memerlukan 27 g per orang per hari,

14

sedangkan rata-rata kebutuhan orang dewasa yang berumur 10-60 tahun
membutuhkan 49 gr per-orang per-hari.

Gambar 1. Bagian karkas sapi
Sumber : Badan Informasi Pertanian DKI Jakarta 1993

Keterangan :
1. Daging punuk (blade)
2. Daging paha depan (chuck)
3. Daging lemusir (cub roll)
4. Has luar (sirloin)
5. Has dalam (fillet)
6. Penutup + tanjung (top slide + rump)
7. Pendasar + gandik (Silver side)
8. Daging kelapa (inside)
9. Sengkel (shank)
10. Samcan (flank)
11. Daging iga (rib meat)
12. Sanding lamur (brisket)

15

Tiap-tiap bagian karkas memiliki kandungan nutrisi yang berbeda-beda
sehingga harga dari tiap-tiap bagian akan berbeda-beda karkas, dapat
diklasifikasikan berdasarkan nutrisi, dan tekstur daging. Daging sapi
merupakan bagian dari karkas sapi, secara garis besar kasrkas sapi dibagi
menjadi 6 kelompok daging utama. Berikut di jelaskan pada Tabel 7.

Tabel 7. Komposisi nutirisi daging sapi berdasarkan letak karkasnya
Jenis
Potongan
Chuck
Flank
Loin
Rib
Roun
Rump

Komposisi Nutrisi Daging
Protein Air Lemak Abu Kalsium
(%)
(%) (mg/100g)
(%)
(%)
18,6
65
16
0,9
11
19,9
61
18
0,9
12
16,7
57
25
0,8
10
17,4
59
23
0,8
10
19,5
69
11
1,0
11
16,2
55
28
0,8
9

Fosfor
(mg/100g)
167
186
182
149
180
131

Sumber : Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan, 2010

Lemak dan minyak merupakan zat makanan yang penting menjaga tubuh
manusia. Selain itu lemak juga merupakan sumber energy yang lebih efektif
dibanding dengan karbonhidrat dan protein. Satu gram lemak atau minya
dapat menghasilkan 9 kkal, sedangkan karbohidrat dan protein hanya
menghasilkan 4 kkal/gram. (Winarno, 1997)

Menurut Winarno (1997), tubuh kita mengandung lebih banyak kalsium
daripada mineral lain. Diperkirakan 2% berat badan orang dewasa atau
sekitar 1,0-1,4 kg terdiri dari kalsium. Kebutuhan tubuh akan kalsium atau
zat kapur adalah 0,8 gram sehari bagi orang dewasa normal.

16

Berdasarkan Standar Perdagangan (SP) 144-1982 dalam BIP DKI Jakarta
(1993) yang ditetapkan Departemen Perdagangan Indonesia, penggolongan
daging sapi menurut kelasnya adalah sebagai berikut :

Golongan (kelas) I, meliputi daging bagian
1. Has dalam (fillet)
2. Tanjung (rump)
3. Has luar (sirloin)
4. Lemusir (cube roll)
-

Kelapa (inside)

-

Penutup

-

Pendasar + gandik (silver side)

Golongan (kelas) II, meliputi daging bagian
1. Paha depan
-

Sengkel (shank)

-

Daging paha depan (chuck)

2. Daging iga (rib meat)
3. Daging punuk (blade)
Golongan (kelas) III, meliputi daging lainnya yang tidak termasuk golongan I
dan golongan II, yaitu :
1. Samsan (flank)
2. Shandung lamur (brisket)
3. Daging bagian lainnya
Penggolongan daging sapi secara visual memiliki karakteristik yang tidak
jauh berbeda. Tabel.8 akan menjelaskan karakteristik visual dari daging sapi
berdasarkan golongan atau kelasnya.

17

Tabel 8. Ciri-ciri dan karakteristik daging sapi berdasarkan golongan.
Karakteristik
Warna
Bau
Penampakan
kekenyalan

Golongan I
merah khas
daging segar
khas daging
segar
kering kenyal

Ciri-ciri
Golongan II
merah khas
daging segar
khas daging
segar
lembab kurang
kenyal

Golongan III
merah khas
daging segar
khas daging
segar
basah lembek

Sumber : Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan, 2010

Produk-produk olahan yang berasal dari daging sapi banyak tersebar, yaitu
berupa baso, abon, cornet, dan sosis. Macam-macam produk olahan ini telah
mengalami perubahan dan penambahan dari bentuk aslinya yaitu daging sapi.
(Wikipedia. 2013).

Tubuh sangat membutuhkan protein, karena protein berfungsi menyediakan
bahan-bahan yang penting dimana bahan-bahan yang tersedia dari protein
dapat memelihara jaringan tubuh. Protein bekerja sebagai pengatur
kelangsungan proses didalam tubuh serta memberikan tenaga bila
korbonhidrat dan lemak tak mampu mencukupi kebutuhan.

Protein sebagai zat pembangun, yaitu merupakan bahan pembangun jaringan
baru. Dengan demikian protein amatlah penting bagi semua taraf kehidupan
mulai dari masa anak-anak, remaja yang sedang bertumbuh, juga pada masa
hamil dan menyusui pada wanita dewasa, kondisi masa penyembuhan,
demikian juga untuk orang yang lanjut usia. Tubuh yang menerima cukup
makanan bergizi akan mempunyai simpanan-simpanan protein untuk
digunakan dalam keadaan darurat. Tetapi bila keadaaan tidak menerima

18

menu seimbang atau mencukupi kebutuhan tubuh berlanjut terus, maka
gejala-gejala kurang protein akan timbul.

Protein sebagai pengatur, yaitu pemeliharaan serta pengaturan proses-proses
yang berlangsung di dalam tubuh. Hormon yang mengatur proses pencernaan
dalam tubuh adalah terdiri dari protein. Protein membantu mengatur keluar
masuknya cairan, nutrient (zat gizi) dan metabolit dari jaringan masuk ke
saluran darah. Protein sebagai bahan bakar, karena protein mengandung unsur
karbon. Protein menyediakan energy bagi kelangsungan aktifitas tubuh,
protein akan dibakar sebagai sumber energi (Suhardjo dan Kusharto, 1992).

Kebutuhan protein dalam tubuh sangatlah penting, karena protein adalah
sumber energi dalam tubuh serta sumber kalori yang relatif sangat mahal
dibandingkan dengan karbonhidrat dan lemak. Sebanyak 4 kkalori energi
dapat dihasilkan dari 1 gram protein. Protein dibagi menjadi dua yaitu
protein nabati dan protein hewani. Protein nabati dapat dihasilkan dari
kacang-kacangan dan protein hewani didapat dari bahan makanan berupa
daging, ikan , telur dan organ hewan.

Kebutuhan protein dalam tubuh sangatlah penting, karena protein adalah
sumber energi dalam tubuh serta sumber kalori yang relatif sangat mahal
dibandingkan dengan karbonhidrat dan lemak. Sebanyak 4 kkalori energi
dapat dihasilkan dari 1 gram protein. Protein dibagi menjadi dua yaitu
protein nabati dan protein hewani. Protein nabati dapat dihasilkan dari
kacang-kacangan dan protein hewani didapat dari bahan makanan berupa
daging, ikan , telur dan organ hewan.

19

Pada umunya bahan makanan yang menghasilkan protein nabati mengandung
asam amino yang kurang lengkap, sedangkan protein hewani mengandung
asam amino yang lengkap. Apabila bahan makanan terdiri dari berbagai
macam, maka kekurangan salah satu asam amino dalam suatu bahan makanan
akan ditutupi oleh kelebihan asam amino yang sama dari bahan makanan
lainnya (Indriani, 2007).

Protein berdasarkan asam amino pembentuknya, dikelompokkan manjadi
protein sempurna, protein tidak sempurna, dan protein kurang sempurna.
Kasein pada susu, albumin pada telur merupakan protein sempurna.
Berdasarkan sumber pangannya, protein dibedakan atas protein hewani dan
protein nabati. Protein hewani banyak terdapat pada daging, telur, ikan dan
susu yang merupakan protein sempurna berasal dari sumber pangan protein
hewani (Tejasari, 2005).

2. Pola Konsumsi Pangan

Konsumsi pangan merupakan banyaknya atau jumlah pangan, secara tunggal
maupun beragam, yang dikonsumsi seseorang atau sekelompok orang yang
bertujuan untuk memenuhi kebutuhan fisiologis, psikologis dan sosiologis.
Tujuan fisiologis adalah upaya untuk memenuhi keinginan makan atau untuk
memperolah zat-zat gizi yang diperlukan tubuh. Tujuan psikologis adalah
untuk memenuhi kepuasan emosional atau selera, sedangkan tujuan
sosiologis adalah untuk memelihara hubungan manusia dalam keluarga dan
masyarakat. (Sediaoetama, 1996)

20

Konsumsi, jumlah dan jenis pangan dipengaruhi oleh banyak faktor. Menurut
Harper et al (1986), faktor-faktor yang sangat mempengaruhi konsumsi
pangan adalah jenis, jumlah produksi dan ketersediaan pangan. Untuk tingkat
konsumsi (Sediaoetama, 1996), lebih banyak ditentukan oleh kualitas dan
kuantitas pangan yang dikonsumsi. Kualitas pangan mencerminkan adanya
zat gizi yang dibutuhkan oleh tubuh yang terdapat dalam bahan, sedangkan
kuantitas pangan mencerminkan jumlah setiap gizi dalam suatu bahan
pangan. Untuk mencapai gizi yang baik, maka unsur kualitas dan kuantitas
harus terpenuhi.

Pola pangan adalah suatu kegiatan mengkonsumsi pangan yang dilakukan
sebagai bentuk respon dari pengaruh fisiologis, psikhologis, sosial dan
budaya. Pola pangan indentik sama dengan pola makan dan kebiasaan
pangan. Pola konsumsi pangan adalah susunan beragam pangan dan hasil
olahannya yang dimakan dengan berpola dan bersiklus oleh orang dan
dicerminkan dalam jumlah, jenis, dan sumber bahan makanan (Harper dkk,
1986).

Pola konsumsi pangan yang dinilai secara kualitatif secara garis besar
meliputi jenis, jumlah, frekuensi yang dimakan. Pangan dalam aspek
kebutuhan hidup seseorang menjadi sangat penting dalam mempertahankan
hidup, dan pangan menjadi kebutuhan pokok yang wajib untuk dipenuhi.
Berbeda dengan kebutuhan hidup lainnya, kebutuhan pangan harus terpenuhi
secara cukup. Terpenuhi secara cukup ialah terpenuhi sesuai kebutuhan dan
sesuai yang dianjurkan, sebab bila dalam taraf yang berlebih maupun dalam

21

taraf yang kurang akan menimbulkan masalah gizi dan penyakit (Suhardjo,
1989).

Rumahtangga merupakan naungan didalam proses pola konsumsi pangan.
BPS mendefinisikan rumahtangga sebagai seorang atau kelompok orang yang
mendiami sebagian atau seluruh bangunan fisik atau bangunan sensus, dan
biasanya tinggal bersama serta makan bersama dari satu dapur. Rumahtangga
yang umumnya didiami oleh bapak, ibui, anak disebut rumahtangga biasa.
Kepala rumah tangga adalah seorang seseorang atau sekelompok anggota
rumahtangga yang bertanggung jawab terhadap kebutuhan sehari-hari atau
konsumsi rumahtangga atau orang yang ditunjuk untuk bertanggung jawab.
Anggota rumahtangga adalah orang yang umumnya mendiami rumahtangga
(BPS, 2008). Rumahtangga merupakan akumulasi dari berbagai keputusan
yang lahir dari berbagai aspek yang mempengaruhi rumahtangga dalam
menkonsumsi.

Seseorang akan mengkonsumsi suatu pangan karena di sebabkan dengan dua
faktor, yaitu faktor yang berasal dari dalam dirinya (intrinsik) dan faktor yang
berasal dari luar dirinya (ekstinsik). Faktor sosial dan budaya masuk kedalam
faktor ekstrinsik dan faktor instrinsik meliputi hal-hal yang berasal dari
pribadi yang menkonsumsi.

22

Menurut Indriani (2007), pola konsumsi yang dipengaruhi oleh dua faktor :

1.

Faktor dari luar (ekstrinsik)

a. Ketersediaan pangan

Ketersediaan pangan yang beragam akan cenderung menstimulan orang
dalam melakukan pilihan pangan. Ketersedian mencakup jumlah, jenis dan
waktu dalam penyediaan bahan pangan, sangat erat kaitannya dengan sektor
penyediaan dan jalur distribus. Jarak dari kumpulan produsen menuju areal
konsumen. Kondisi jalan dan fasilitas transportasi yang memadai.
Ketersediaan juga dipengaruhi oleh bahan pangan itu sendiri, apakah
diproduksi sendiri dalam hal ini ikan telur daging dan susu untuk kajian
protein hewani, apaka di impor, hal ini akan berdampak pada harga
komoditas atau bahan pangan di konsumen.

b. Pola sosial dan budaya

Pola sosial budaya yang berkembang dari adat istiadat setempat dapat
mempengaruhi cara makan seseorang. Pola sosial merupakan suatu tatanan
(pola) mengenai kehidupan masyarakat. Adapun kata budaya mengandung
arti pikiran, yang merupakan hasil budi manusia. Sehingga menurut Suhardjo
(1989), budaya merupakan cara hidup manusia, yang mengajarkan bagaimana
orang bertingkah laku dalam memenuhi kebutuhan dasar biologisnya.

Budaya membentuk cara makan seseorang dalam hal : (1) apa yang
digunakan sebagi makan, (2) dalam keadaan bagaimana makanan disajikan,

23

(3) siapa yang menyiapkan makanan, siapa yang menyajikan dan prioritas
anggota tertentu dalam pola pembagian pangan, (4) hubungan antara besarnya
keluarga dan umur anggota keluarga dengan pola pangan dan status gizi, (5)
larangan keagamaan yang berhubungan dengan konsumsi pangan, (6) kapan
seorang boleh atau tidak memakannya, (7) apa saja yang dianggap tabu.
Pada kenyataan budaya dapat mengkaji sesuatu yang dianggap tabu dan
berimbas pada keputusan untuk tidak memakannya.

2.

Faktor dari dalam (instrinsik)

Dalam memilih berbagai pangan untuk dikonsumsi, apabila memungkinkan
secara pribadi seseorang akan memilih pangan yang sudah dikenal dan
disukai. Dengan istilah kesukaan, seseorang akan emberi nilai berbeda untuk
merespon pangan tersebut. Perkembangan mental dan pengetahuan
seseorang yang di pengaruhi sosial dan budaya, akan mencoba memilih diluar
dari apa yang sudah dibentuk didalam budaya keluarga seperti warna, bentuk,
dan komposisi pangan.

Di samping, reaksi indra perasa terhadap makanan sangat berbeda dari tiaptiap orang. Faktor dari dalam juga mencakup pengetahuan gizi dan status
kesehatan yang didapat dan dipahami, dengan taraf pengetahuan akan gizi
yang baik akan memperngaruhi keputusan dalam mengkonsumsi sebuah
bahan pangan.

Menurut Suhardjo (1989) terdapat tiga faktor utama yang mempengaruhi pola
konsumsi pangan sebagian besar penduduk yaitu : (1) produksi pangan untuk

24

keperluan rumah tangga, (2) pengeluaran untuk keperluan rumah tangga, dan (3)
pengetahuan gizi dan ketersediaan pangan.

3.

Perilaku Konsumen dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya

A. Perilaku Konsumen
Perilaku konsumen memiliki kepentingan khusus bagi konsumen yang ingin
merubah perilakunya. Kepentingan khusus tersebut meliputi pemasaran,
pendidikan, dan perlindungan konsumen serta kebijakan umum. Pemasar
harus mengkaji apa yang menjadi sasaran pelanggan, maka tugas pemasar
adalah memahami perilaku konsumen (Kotler, 2000).

Menurut Engel et’al (1994), perilaku konsumen adalah respon langsung yang
dilakukan konsumen dalam mendapatkan, mengkonsumsi, dan menghabiskan
produk dan jasa, termasuk proses keputusan yang mendahului tindakan
tersebut. Tindakan membeli dilihat dari pilihan konsumen terhadap merek,
jumlah produk, tempat, dan frekuensi pembelian.

Menurut Robert East dalam Hady (2008), secara garis besar keputusan
konsumen dalam membeli beragam, maka jenis-jenis konsumsi dapat
digolongkan menjadi pembelian penting, konsum rutin, konsumsi karena
terpaksa dan konsumsi group.

a). Pembelian penting, jenis konsumsi biasanya hanya terjadi sekali saja
dalam pengambilan keputusan karena kurangnya pengalaman sebagai
dasar pembuatan keputusan.

25

b). Konsumsi rutin, pembelian yang dilakukan secara berulang, yaitu jika
seseorang yang berbelanja ke pasar dan membeli kembali produk yang
sama pada saat kunjungan terkahir di pasar tersebut.

c). Konsumsi karena terpaksa, jenis konsumsi yang dilakukan konsumen
karena tidak ada pilihan selain membeli dan mengkonsumsi.

d). Konsumsi grup, jenis konsumsi yang dilakukan secara individual dan
secara berkelompok.

B. Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen
Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen menurut Kotler (2000)
adalah pengaruh internal dan pengaruh eksternal dari konsumen yang
melakukan pembelian.
Eksternal






Budaya
Kultur
Subkultur
Kelas
sosial
Etnis






Internal

Sosial
Kelompok
acuan
Keluarga
Peran dan
status
Pemasaran







Pribadi
Usia
Pekerjaan
Keadaan
ekonomi
Gaya Hidup
Kepribadian






Psikologi
Motivasi
Presepsi
Pengetahuan
Keyakinan
dan
Pendirian

Pembelian
Gambar 2. Faktor-faktor yang mempengaruhi perilaku konsumen
Sumber : Kotler. (2000)

26

(1) Faktor Ekternal
a. Budaya
Budaya adalah faktor penentu keinginan perilaku yang paling mendasar.
Menurut Engel at’al (1994) budaya mengacu pada serangkaian nilai, gagasan,
sikap dan simbol lain sebagai media komunikasi, membuat tafsiran dan
mengevaluasi sebagian anggota masyrakat.

Menurut Stanton, (1996) dalam Hady, (2008) menjelaskan kultur atau
kebudayaan adalah simbol dan fakta yang kompleks, yang diciptakan oleh
manusia sebagai penentu dan pengatur tingkah laku manusia dalam
bermasyarakat. Etnis adalah suatu kelompok masyarakat yang hidup dengan
budaya dari leluhurnya yang merupakan batasan-batasan spiritual, bercocok
tanam, serta hidup bermasyarakat. Kelas sosial adalah pembagian
masyarakat yang relative homogen dan permanen, yang tersususn secara
hirarki dan memiliki anggota dengan nilai-nilai, minat, dan perilaku yang
sama. Kelas sosial tidak hanya mence

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

103 3194 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

37 803 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

36 714 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

16 465 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

25 618 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

53 1063 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

53 969 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

15 586 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

24 851 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

35 1056 23