ANALISIS PERMINTAAN DAGING SAPI OLEH KONSUMEN RUMAH TANGGA DI KOTA BANDAR LAMPUNG

  

ANALISIS PERMINTAAN DAGING SAPI

OLEH KONSUMEN RUMAH TANGGA DI KOTA

BANDAR LAMPUNG

  (Skripsi) Oleh :

  

Novi Yeni Eka Susanti

SOSIAL EKONOMI PERTANIAN

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS LAMPUNG

BANDAR LAMPUNG

  

2010

  

ABSTRAK

ANALISIS PERMINTAAN DAGING SAPI

OLEH KONSUMEN RUMAH TANGGA DI KOTA

BANDAR LAMPUNG

Oleh

  1

  2

  2 Novi Yeni Eka S , R. Hanung Ismono , dan Rabiatul Adawiyah

  Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan daging sapi oleh konsumen rumah tangga di Kota Bandar Lampung, tingkat kepekaan (elastisitas) permintaan daging sapi oleh konsumen rumah tangga di Kota Bandar Lampung, dan kontribusi daging sapi yang dikonsumsi terhadap angka kecukupan protein pada konsumen rumah tangga di Kota Bandar Lampung.

  Penelitian dilaksanakan di Kota Bandar Lampung. Lokasi ini dipilih secara segaja ( purposive). Pengambilan sampel dilakukan secara multistage sampling. Responden terdiri dari 76 orang yang merupakan ibu rumah tangga pada kelas menengah atas dan menengah bawah. Pengumpulan data dilaksanakan pada bulan Mei - Juli 2010. Metode analisis data yang digunakan adalah analisis kuantitatif (statistik) dan kualitatif (deskriptif).

  Hasil penelitian menunjukkan bahwa : (1) Faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan daging sapi oleh konsumen rumah tangga di Kota Bandar Lampung adalah harga ayam ras pedaging, harga ayam buras, harga tahu, jumlah anggota rumah tangga, pendapatan rumah tangga dan pengetahuan gizi, (2) Permintaan daging sapi bersifat tidak elastis terhadap perubahan harga daging sapi di tingkat konsumen, permintaan daging sapi terhadap harga ayam ras pedaging, harga ayam buras, dan harga tahu memiliki sifat subtitusi, dan daging sapi merupakan barang normal, (3) Kontribusi protein terhadap angka kecukupan protein pada rumah tangga menengah ke atas tertinggi sebesar 3,74 persen, sedangkan pada rumah tangga menengah kebawah tertinggi sebesar 2,32 persen.

1. Sarjana Jurusan Sosial Ekonomi Fakultas Pertanian Universitas Lampung

  

ABSTRACT

ANALYSIS OF BEEF DEMAND BY HOUSEHOLD

CONSUMERS IN BANDAR LAMPUNG CITY

By

  1

  2

  2 Novi Yeni Eka S , R. Hanung Ismono , and Rabiatul Adawiyah

  This study aimed to analyze the factors that affect consumer demand for beef by households in Bandar Lampung, the level of demand sensitivity (elasticity) for beef by consumer households in Bandar Lampung, and the contribution of the beef consumed on the number of protein adequacy in household consumers in Bandar Lampung. The experiment was conducted in Bandar Lampung. This location is selected purposive. Sampling is done by multistage sampling. Respondents consisted of 76 people who are housewife at the upper middle and lower middle class based on the income. Data was conducted in May-July 2010. Data analysis methods that used in this research are quantitative analysis (statistical) and qualitative analysis (descriptive).

  The results showed that: (1) the factors that affect consumer demand for beef by households in Bandar Lampung is the price of broiler chicken, domestic poultry prices, tofu price, the number of household members, household income and knowledge of nutritious, (2) demand for beef is inelastic to beef price change at the consumer level, demand for beef on broiler price, domestic poultry price, and tofu prices are subtitusions, and beef is a normal good, (3) contribution of protein to protein adeguacy in middle to upper household of 3.74 percent, while the highest medium household of 2.32 per cent.

  Keyword: Beef, Household Consumers, Bandar Lampung

1. Scholar of Social Economics Agriculture Faculty Lampung University

  

ANALISIS PERMINTAAN DAGING SAPI

OLEH KONSUMEN RUMAH TANGGA DI KOTA

BANDAR LAMPUNG

Oleh

Novi Yeni Eka Susanti

  

Skripsi

Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar

SARJANA PERTANIAN

pada

  

Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian

Fakultas Pertanian Universitas Lampung

FAKULTAS PERTANIAN

UNIVERSITAS LAMPUNG

BANDAR LAMPUNG

  

2010 Judul : ANALISIS PERMINTAAN DAGING SAPI OLEH

KONSUMEN RUMAH TANGGA DI KOTA BANDAR LAMPUNG

  Nama : NOVI YENI EKA SUSANTI NPM : 0514021036 Jurusan/P.S : Sosial Ekonomi Pertanian/Agribisnis Fakultas : Pertanian

  MENYETUJUI,

  1. Komisi Pembimbing, Dr. Ir. R. Hanung Ismono, M.P. Ir. Rabiatul Adawiyah, M.Si.

  NIP. 196206231986031003 NIP. 196408251990032002 .

  2. Ketua Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian, Dr. Ir. R. Hanung Ismono, M.P.

  NIP. 196206231986031003

  MENGESAHKAN

  1. Tim Penguji Ketua : Dr.Ir. R. Hanung Ismono, M.P.

  ...........................

  Sekretaris : Ir. Rabiatul Adawiyah, M.Si.

  ........................... Penguji Bukan Pembimbing : Dr. Ir. Dwi Haryono, M.S.

  ...........................

  2. Dekan Fakultas Pertanian Prof. Dr. Ir. Wan Abbas Zakaria, M.S.

  NIP. 19610826 198702 1 001 Tanggal Lulus Ujian Skripsi :

RIWAYAT HIDUP

  Penulis dilahirkan di Tegal pada tanggal 25 November 1986 sebagai anak pertama dari empat bersaudara, pasangan Bapak Hermawan dan Ibu Hartini Budi Wati. Penulis menyelesaikan pendidikan Sekolah Dasar (SD) pada SDN 1 Tanjung Gading Bandar Lampung pada tahun 1999, pendidikan Sekolah Lanjut Tingkat Pertama (SLTP) pada SLTP Katika II-2 Bandar Lampung pada tahun 2002, dan pendidikan Sekolah Menengah Atas (SMA) pada SMA Al-Kautsar Bandar Lampung pada tahun 2005. Penulis terdaftar sebagai mahasiswa Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Lampung pada tahun 2005 melalui jalur Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB).

  Pada tahun 2008 penulis juga mengikuti Kuliah Kerja Lapang (KKL) selama 8 hari ke Malang, Bali dan Yogyakarta. Pada tahun 2009 penulis melaksanakan Praktik Umum selama 40 hari di PT. Juang Jaya Abdi Alam. Dalam kegiatan kemahasiswaan, penulis pernah menjadi anggota Sosek English Club (SEC) periode 2005

  • – 2006, anggota Himpunan Mahasiswa Sosial Ekonomi Pertanian (Himaseperta) periode 2005
  • – 2006, dan anggota Unit Kegiatan Mahasiswa Taekwondo periode 2005-2006.

  

SANWACANA

Bismillahirrohmanirrohim

Alhamdullilahirobbil ‘alamin, segala puji hanya kepada Allah SWT, atas segala

  rahmat dan karunia sehingga penulis dapat dapat menyelesaikan skripsi ini. Sholawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada Baginda Rasulullah Muhammad SAW, teladan bagi seluruh umat manusia.

  Banyak pihak yang telah memberikan bantuan, nasehat, serta saran yang membangun dalam penyelesaian skripsi ini, yang berjudul

  “Analisis Permintaan Permintaan Daging Sapi Oleh Konsumen Rumah Tangga Di Kota Bandar Lampung”. Oleh karena itu, dengan rendah hati penulis mengucapkan terima

  kasih yang tak terhingga kepada :

  1. Dr. Ir. R. Hanung Ismono, M.P., sebagai Pembimbing Pertama, Pembimbing Akademik, serta Ketua Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian Fakultas Pertanian Universitas Lampung, atas bimbingan, arahan dan nasehatnya.

  2. Ir. Rabiatul Adawiyah, M.Si., sebagai Pembimbing Kedua, atas bimbingan, arahan dan nasehatnya.

  3. Dr. Ir. Dwi Haryono, M.S., sebagai Dosen Penguji Skripsi atas masukan, arahan dan nasehatnya.

  4. Dr. Ir. Wan Abbas Zakaria, M.S., sebagai Dekan Fakultas Pertanian Universitas Lampung.

  5. Karyawan-karyawan di Jurusan Sosial Ekonomi Pertanian, Mba Iin, Mba Ayi, Mas Bo, Mas Kardi, dan Mas Boim atas bantuannya.

  6. Mama dan papa tercinta, yang selalu memberikan dukungan dan semangat, doa yang tiada henti, kasih sayang yang tidak berujung, atas pengorbanan, serta cucuran keringat. Skripsi ini nanda persembahkan untuk mama.

  7. Nenek Surini dan Om Welly Budiman yang telah memberikan dukungan moril dan materil.

  8. Adik-adikku tersayang, Rendi Pratama Putra, M. Maulana Khoirul Azmi dan Bayu Prasetyo, atas doa, canda tawa, dan pelajaran berharga bagaimana menjadi seorang kakak.

  9. Ahmad Ade Guardo, S.Pt, yang telah memberikan dukungan dan semangat

  10. Sahabat dan Teman-teman AGB 05; Elvita, Della, Shinta, Ganis, Anggun, Resti, Hanum, Eni, Dayang,Yuli, Friska, Fitri, Ade, Mary, April, Twe, Aty, Nining, Mitha, Resi, Kombe, Ninda, Dita, Ocha, Tio, Koko, Ari, Budi, Deni, Indra, Arif, Iqbal, Sutris, Niko, Oki, Awang, Angga, dan yang senantiasa memberikan bantuan dan semangat kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini serta atas kebersamaan dan keceriaaan yang kita lalui bersama.

  11. Teman-teman PKP 05; Taufik, Hengki, Helian, Erwin, Vidi, Teteh Amel, Naris, Wayan, Dewi, Mela, Dora, Andika, Hovani, dan teman-teman lain yang atas bantuan serta kebersamaan dan keceriaan yang kita lalui bersama.

  12. Teman-teman 06; Eka lia, Saleh, Tiar, Amoy, Asima, Ayu, Dina I, Dina S, Erni, Hendra, Lidiya, Lidiya W, Rini, Tari, Eliya dan teman-teman atas bantuan dan semangat kepada penulis dalam menyelesaikan skripsi ini serta atas kebersamaan dan keceriaaan yang kita lalui bersama.

  13. Buat teman-teman Sosek angkatan 2003, 2004, 2005, 2006, 2007, 2008 dan 2009 yang tidak dapat disebutkan satu persatu, atas dukungan dan doanya.

  14. Untuk semua orang yang telah hadir dalam hidup penulis dan memberi makna di setiap langkah yang tidak mampu penulis sebutkan satu persatu.

  Semoga Allah SWT memberikan balasan terbaik atas segala bantuan yang telah diberikan. Penulis meminta maaf jika ada kesalahan dan kepada Allah SWT penulis mohon ampun. Bandar Lampung, November 2010 Penulis, Novi Yeni Eka Susanti

  

DAFTAR ISI

  Halaman

  DAFTAR TABEL ................................................................................. i DAFTAR GAMBAR ............................................................................. ii I. PENDAHULUAN .........................................................................

  1 A. Latar Belakang dan Masalah ....................................................

  1 B. Tujuan Penelitian .....................................................................

  6 C. Kegunaan Penelitian ................................................................

  7 II. TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN, DAN HIPOTESIS ........................................................................

  8 A. Tinjauan Pustaka .....................................................................

  8 1 . Sapi Potong ................................................................

  8 2 . Angka Kecukupan Gizi ...............................................

  11 3. Pola Konsumsi Pangan ......................................................

  11 4. Faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat konsumsi .......

  12 5. Teori Permintaan ..............................................................

  17 6. Konsep Elastisitas .............................................................

  27 7. Hasil Penelitian Terdahulu ................................................

  33 B. Kerangka Pemikiran ................................................................

  34 C. Hipotesis ..................................................................................

  37 III. METODE PENELITIAN ..............................................................

  39 A. Konsep Dasar dan Batasan Operasional .................................

  39 B. Lokasi Penelitian, Responden, dan Waktu Penelitian .............

  41 C. Metode Pengumpulan Data .....................................................

  45 D. Metode Analisis dan Pengujian Hipotesis ..............................

  45

  E. Perhitungan Elastisitas .............................................................

  48 IV. GAMBARAN UMUM WILAYAH PENELITAN ...................

  52 A. Kota Bandar Lampung .............................................................

  52 B. Gambaran umum kelurahan yang menjadi daerah Penelitian ..................................................................................

  57 1. Kelurahan Kedamaian.................................................... ....

  57 2. Kelurahan Tanjung Gading............................................ ....

  58 3. Kelurahan Garuntang ........................................................

  59 4. Kelurahan Way Lunik ........................................................

  60 ............... ...................................

  61 V. HASIL DAN PEMBAHASAN A. Keadaan Umum Responden ....................................................

  61 1 . Umur .........................................................................

  61 2 . Tingkat Pendidikan ......................................................

  62 3. Jumlah Anggota Keluarga ..................................................

  63 4. Pendapatan...................................................................... ...

  64 5. Pengeluaran Rumah Tangga .............................................

  65 6 Jenis pekerjaan ...................................................................

  68 B. Pola Konsumsi ........................................................................

  69 C. Pengetahuan Gizi ....................................................................

  70 D. Faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan daging sapi oleh konsumen rumah tangga di Kota Bandar Lampung .......

  71 E. Elastisitas Permintaan Daging Sapi .........................................

  80 F. Kontribusi konsumsi protein daging sapi terhadap angka kecukupan protein ....................................................................

  82 VI. KESIMPULAN DAN SARAN ....................................................

  87 A. Kesimpulan ..............................................................................

  87 B. Saran ........................................................................................

  88 DAFTAR PUSTAKA ............................................................................

  89

  

DAFTAR TABEL

  Tabel Halaman

  1. Populasi dan produksi sapi potong di Propinsi Lampung berdasarkan Kabupaten/Kota tahun 2008 .......................................

  3

  2. Konsumsi, jumlah penduduk, dan konsumsi per kapita per tahun daging sapi potong berdasarkan Kabupaten/Kota di Propinsi Lampung tahun 2007.........................................................................

  4

  3. Perkembangan tingkat produksi dan konsumsi daging sapi potong di Kota Bandar Lampung tahun 2004

  • – 2008 .................................. 5

  4. Perincian penentu tempat penelitian analisis permintaan daging sapi oleh konsumen rumah tangga di Kota Bandar Lampung .........

  42

  5. Luas wilayah, jumlah penduduk dan kepadatan per kecamatan di Kota Bandar Lampung tahun 2008 ............................................

  54

  6. Tingkat pendidikan penduduk Kota Bandar Lampung tahun 2008 ..................................................................................

  55

  7. Penyebaran penduduk yang bekerja menurut lapangan usaha di Kota Bandar Lampung ...........................................................

  56

  8. Sebaran umur dan jumlah konsumsi daging sapi oleh konsumen rumah tangga di Kota Bandar Lampung .....................................

  61

  9. Sebaran tingkat pendidikan dan jumlah konsumsi daging sapi oleh konsumen rumah tangga di Kota Bandar Lampung ....................

  62

  10. Jumlah anggota keluarga dan konsumsi daging sapi oleh konsumen rumah tangga di Kota Bandar Lampung .....................................

  63

  11. Jumlah konsumsi daging sapi oleh konsumen berdasarkan penggolongan kelas rumah tangga di Kota Bandar Lampung ....

  64

  12. Rata-rata pengeluaran rumah tangga berdasarkan penggolongan kelas di Kota Bandar Lampung tahun 2010 ................................

  66

  13. Jenis pekerjaan, jumlah, pendapatan, dan konsumsi daging sapi oleh konsumen rumah tangga di Kota Bandar Lampung ....................

  68 14. Alasan pembelian daging sapi .....................................................

  69

  15. Hasil analisis regresi pendugaan model permintaan daging sapi ..................................................................................

  73 16. Hasil pengujian Multikolinieritas ................................................

  74

  17. Konsumsi protein daging sapi serta kontribusinya terhadap angka kecukupan protein hewani pada konsumen rumah tangga di Kota Bandar Lampung ........................................................................

  83

  

DAFTAR GAMBAR

  Gambar Halaman 1. Pergeseran kurva permintaan ........................................................

  20 2. Kurva permintaan ..........................................................................

  22

  3. Paradigma kerangka pemikiran analisis permintaan daging sapi oleh konsumen rumah tangga di Kota Bandar Lampung ..............

  38

BAB I. PENDAHULUAN A. Latar Belakang dan Masalah Peningkatan ketahanan pangan Nasional pada hakekatnya mempunyai arti

  strategis bagi pembangunan Nasional. Ketersediaan pangan yang cukup, aman, merata, harga terjangkau dan bergizi merupakan pilar pembangunan sumberdaya manusia. Pembangunan sumberdaya manusia yang berkualitas sebagai faktor kunci peningkatan produktivitas dalam memacu pembangunan Nasional ( Suryana, 2000). Pemerintah mempunyai komitmen untuk mewujudkan ketahanan pangan nasional, termasuk menanggulangi kerawanan pangan dan kekurangan gizi. Komitmen tersebut tertuang dalam program utama Departemen Pertanian yaitu Program Peningkatan Ketahanan Pangan, sedangkan di bidang peternakan tertuang dalam suatu program terobosan yaitu Program Kecukupan Pangan Hewani Asal Ternak, khususnya daging sapi (Dinas Peternakan Propinsi Lampung, 2009). Daging sapi merupakan salah satu sumber bahan pangan hewani, mengandung unsur gizi yang cukup tinggi berupa protein dan energi. Permintaan terhadap produk pangan hewani ini cenderung terus meningkat setiap tahun sejalan dengan bertambahnya jumlah penduduk, peningkatan pendapatan dan kesejahteraan masyarakat. Selain faktor tersebut, faktor yang turut mendorong meningkatnya dari bahan pangan sumber protein nabati ke bahan pangan sumber protein hewani (Erwidodo, 1997). Fenomena ini diperkirakan akan terus berlanjut kedepan.

  Permintaan daging sapi di Indonesia saat ini 6,5 kg/kapita/tahun (Direktorat Jendral Peternakan, 2009) dan cenderung mengalami peningkatan setiap tahunnya, namun peningkatan tersebut belum diimbangi dengan penambahan produksi yang memadai. Pada tahun 2007 permintaan daging sapi tercatat sebanyak 453.844 ton sedangkan produksi daging sapi dalam negeri hanya mampu memenuhi kebutuhan 418.210 ton (Subagyo, 2009). Hal ini berarti terdapat kesenjangan yang cukup besar antara produksi daging sapi dengan permintaan sebesar 35.634 ton. Besarnya kesenjangan tersebut dipasok dari impor (Direktorat Jenderal Bina Produksi Peternakan, 2008).

  Provinsi Lampung merupakan salah satu lumbung ternak Nasional, hal ini ditunjukkan dengan produksi daging sapi pada tahun 2008 yang cukup besar yaitu 10.670,05 ton (Dinas Peternakan Propinsi Lampung, 2009). Kebutuhan konsumsi penduduk Propinsi Lampung sebesar 7.368.796 jiwa untuk daging secara keseluruhan adalah 57.391, 821 ton, sedangkan sumber daging yang berasal dari sapi potong tersedia 10.670 ton sehingga kontribusi daging yang berasal dari sapi potong lebih kurang 18 persen dari kebutuhan daging secara keseluruhan (Dinas Peternakan Propinsi Lampung, 2009).

  Sentra produksi terbesar sapi potong di Propinsi Lampung adalah Kota Bandar Lampung yaitu sebesar 31,5 % dari total produksi (Dinas Peternakan Propinsi Lampung, 2009), akan tetapi sebagai sentra produksi daging sapi, Kota Bandar populasi sapi potong yang terdapat di Propinsi Lampung. Populasi dan produksi sapi potong di Propinsi Lampung berdasarkan Kabupaten/Kota tahun 2008 dapat dilihat pada Tabel 1. Tabel 1. Populasi dan produksi sapi potong di Propinsi Lampung berdasarkan kabupaten/kota tahun 2008

  

No Kabupaten/Kota Populasi Sapi Potong (ekor) Produksi Daging Sapi (Kg)

  1 Lampung Barat 15.492 601.910

  2 Tanggamus 15.436 667.510

  3 Lampung Selatan 48.337 739.890

  4 Pesawaran 9.450 317.090

  5 Lampung Timur 75.171 949.270

  6 Lampung Tengah 140.579 824.410

  7 Lampung Utara 19.892 811.740

  8 Way Kanan 26.566 260.150

  9 Tulang Bawang 70.892 1.867.240

  10 Bandar Lampung 1.334 3.364.360

  11 Metro 2.377 266.480 Jumlah 425.526 10.670.050

  Sumber : Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Propinsi Lampung, 2009.

  Kota Bandar Lampung merupakan pusat kegiatan pemerintah, sosial, politik, pendidikan, dan kebudayaan, juga merupakan pusat kegiatan perekonomian di Propinsi Lampung. Oleh karena itu, tidak heran jika wilayah Kota Bandar Lampung merupakan wilayah permintaan daging sapi terbanyak di Propinsi Lampung. Konsumsi, jumlah penduduk, dan konsumsi per kapita per tahun daging sapi potong berdasarkan kabupaten/kota di Propinsi Lampung tahun 2007 dapat dilihat pada Tabel 2.

  Tabel 2. Konsumsi, jumlah penduduk, dan konsumsi per kapita per tahun daging sapi potong berdasarkan kabupaten/kota di Propinsi Lampung tahun 2007

  No. Kabupaten/Kota Konsumsi (Kg/tahun) Jumlah Penduduk

  (jiwa) Konsumsi/kapita/tahun (Kg/kap/tahun)

  1 Lampung Barat 542.984,00 380.824,00 1,43

  2 Tanggamus 602.066,40 825.766,00 0,73

  3 Lampung Selatan 953.690,40 1.326.893,00 0,72

  4 Lampung Timur 856.336,00 932.947,00 0,92

  5 Lampung Tengah 743.672,80 1.153.190,00 0,64

  6 Lampung Utara 732.430,40 560.743,00 1,31

  7 Way Kanan 234.894,40 362.280,00 0,65

  8 Tulang Bawang 1.684.685,60 768.813,00 2,19

  9 Kota Bandar Lampung 3.035.208,80 808.028,00 3,76

  10 Kota Metro 240.635,20 131.196,00 1,83

Jumlah 9.626.604,00 7.250.680,00 14,17

Rata-rata 962.660,40 725.068,00 1,42

  Sumber : Data diolah dari Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Propinsi Lampung, 2009

  Berdasarkan Tabel 2, dapat dilihat bahwa meskipun jumlah penduduk di Kota Bandar Lampung menempati urutan kelima di Propinsi Lampung, setelah Lampung Selatan, Lampung Tengah, Lampung Timur dan Tanggamus, namun konsumsi daging sapi oleh konsumen rumah tangga di Kota Bandar Lampung menempati urutan pertama di propinsi, yaitu sebesar 3,76 kg/kapita/tahun. Perkembangan produksi dan konsumsi daging sapi di Kota Bandar Lampung tahun 2004-2008 disajikan pada Tabel 3.

  Tabel 3. Perkembangan tingkat produksi dan konsumsi daging sapi potong di Kota Bandar Lampung tahun 2004

  • –2008 Konsumsi Protein

    Tahun Produksi Konsumsi Konsumsi/kapita/tahun daging sapi

    (Kg) (Kg) (Kg/kapita/tahun) (gram/kapita/hari) 2004 2.134.150,00 2.134.382,00 2,72 1,33 2005 2.244.510,00 2.159.258,40 2,73 1,44 2006 2.452.740,00 2.359.468,80 2,95 1,23 2007 3.035.360,00 3.035.208,80 3,76 1,56 2008 3.364.360,00 3.364.257,60 4,14 1,73 Sumber : Data diolah dari Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan Propinsi Lampung, 2009.

  Pada Tabel 3, terlihat bahwa konsumsi daging sapi di Kota Bandar Lampung mengalami peningkatan yang signifikan. Peningkatan konsumsi daging sapi di Kota Bandar Lampung telah dapat diimbangi dengan produksi daging sapi yang memadai, baik dari segi mutu maupun jumlahnya. Apabila dilihat dari konsumsi daging sapi di Kota Bandar Lampung pada tahun 2008, maka daging sapi memberikan kontribusi konsumsi sebesar 43 % dari total konsumsi daging yaitu 9,61 kg/kapita/tahun (Dinas Peternakan Propinsi Lampung, 2009). Hal ini berarti, daging sapi di Kota Bandar Lampung mempunyai peranan yang penting dalam memenuhi kebutuhan permintaan pangan hewani dan perbaikan gizi masyarakat. Akan tetapi, dalam mengkonsumsi protein berasal dari daging sapi, Kota Bandar Lampung masih belum memenuhi angka kecukupan protein dari hasil ternak yang dianjurkan menurut WKNPG yaitu sebesar 6 gram/kapita/hari (Dinas Peternakan Propinsi Lampung, 2008). Ditinjau dari angka kecukupan gizi tersebut, pada tahun 2008, pemenuhan konsumsi protein daging sapi di Kota Bandar Lampung hanya 29 % dibandingkan dengan konsumsi protein daging yang dianjurkan.

  Hal ini berarti konsumsi protein daging sapi di Kota Bandar Lampung masih sangat rendah.

  Berdasarkan uraian latar belakang tersebut di atas, maka dapat dirumuskan permasalahan yang akan diteliti sebagai berikut :

  1. Faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi permintaan daging sapi oleh konsumen rumah tangga di Kota Bandar Lampung?

  2. Berapakah tingkat kepekaan (elastisitas) permintaan daging sapi oleh konsumen rumah tangga di Kota Bandar Lampung akibat perubahan masing- masing faktor?

  3. Berapakah kontribusi daging sapi yang dikonsumsi terhadap angka kecukupan protein pada konsumen rumah tangga di Kota Bandar Lampung?

B. Tujuan Penelitian

  Berdasarkan latar belakang dan masalah yang ada, maka tujuan penelitian adalah :

  1. Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi permintaan daging sapi oleh konsumen rumah tangga di Kota Bandar Lampung.

  2. Mengetahui tingkat kepekaan (elastisitas) permintaan daging sapi oleh konsumen rumah tangga di Kota Bandar Lampung akibat perubahan masing- masing faktor.

  3. Mengetahui kontribusi daging sapi yang dikonsumsi terhadap angka kecukupan protein pada konsumen rumah tangga di Kota Bandar Lampung.

C. Kegunaan Penelitian

  Penelitian ini diharapkan berguna bagi :

  1. Dinas atau instansi terkait sebagai bahan informasi dalam pengambilan keputusan untuk perencanaan, pengelolaan, peningkatan dan pengembangan produksi sapi potong di Propinsi Lampung.

  2. Peternak untuk menentukan target produksi daging sapi potong, kualitas, dan kuantitas yang dapat memenuhi permintaan pasar serta merencanakan strategi pemasaran daging sapi potong.

  3. Peneliti-peneliti lain yang sejenis sebagai bahan referensi.

II. TINJAUAN PUSTAKA, KERANGKA PEMIKIRAN, DAN HIPOTESIS A.

   Tinjauan Pustaka

1. Sapi Potong

  Menurut Susanto (2001), jenis-jenis sapi potong yang terdapat di Indonesia saat ini adalah sapi asli Indonesia dan sapi yang diimpor. Dari jenis-jenis sapi potong itu, masing-masing mempunyai sifat-sifat yang khas, baik ditinjau dari bentuk luarnya (ukuran tubuh, warna bulu) maupun dari genetiknya (laju pertumbuhan).

  Sapi-sapi Indonesia yang dijadikan sumber daging adalah sapi Bali, sapi Ongole, sapi PO (peranakan ongole) dan sapi Madura. Selain itu juga sapi Aceh yang banyak diekspor ke Malaysia (Pinang). Dari populasi sapi potong yang ada, yang penyebarannya dianggap merata masing-masing adalah: sapi Bali, sapi PO, Madura dan Brahman. Memelihara sapi potong sangat menguntungkan, karena tidak hanya menghasilkan daging dan susu, tetapi juga menghasilkan pupuk kandang dan sebagai tenaga kerja. Sapi juga dapat digunakan meranih gerobak, kotoran sapi juga mempunyai nilai ekonomis, karena termasuk pupuk organik yang dibutuhkan oleh semua jenis tumbuhan. Kotoran sapi dapat menjadi sumber hara yang dapat memperbaiki struktur tanah sehingga menjadi lebih gembur dan subur. Semua organ tubuh sapi dapat dimanfaatkan antara lain: 1) Kulit, sebagai bahan industri tas, sepatu, ikat pinggang, topi, jaket.

  2) Tulang, dapat diolah menjadi bahan bahan perekat/lem, tepung tulang dan barang kerajinan 3) Tanduk, digunakan sebagai bahan kerajinan seperti: sisir, hiasan dinding dan masih banyak manfaat sapi bagi kepentingan manusia.

  Menurut Susanto (2001), Daging kualitas pertama adalah daging di daerah paha (round) kurang lebih 20%, nomor dua adalah daging daerah pinggang (loin), lebih kurang 17%, nomor tiga adalah daging daerah punggung dan tulang rusuk (rib) kurang lebih 9%, nomor empat adalah daging daerah bahu (chuck) lebih kurang 26%, nomor lima adalah daging daerah dada (brisk) lebih kurang 5%, nomor enam daging daerah perut (frank) lebih kurang 4%, nomor tujuh adalah daging daerah rusuk bagian bawah sampai perut bagian bawah (plate & suet) lebih kurang 11%, dan nomor delapan adalah daging bagian kaki depan (foreshank) lebih kurang 2,1%. Persentase bagian-bagian dari karkas tersebut di atas dihitung dari berat karkas (100%).

  Menurut Sugeng (2003), sapi potong merupakan salah satu sumber daya penghasil bahan makanan berupa daging yang memiliki nilai ekonomi yang tinggi dan penting artinya bagi masyarakat. Sebab seekor atau kelompok ternak sapi bisa menghasilkan berbagai macam kebutuhan terutama bahan makanan berupa daging, disamping itu hasil lainnya berupa pupuk kandang, kulit, tulang, dan lain sebagainya. Daging sangat besar manfaatnya bagi pemenuhan gizi berupa protein hewani. Beberapa bangsa sapi yang terdapat di Indonesia , yaitu : (1) sapi Bali, (3) sapi Madura, (4) sapi ongol, dan (5) American Brahman Menurut Triana (2009), daging sapi yang dianggap bagus untuk dikonsumsi adalah yang berasal dari sapi jantan daripada sapi betina muda. Daging sapi dikategorikan termasuk sebagai daging merah. Daging merah adalah daging (sapi atau lembu) yang berwarna merah dalam kondisi mentah. Daging merah dari sapi memang merupakan salah satu bahan makanan dengan sumber protein yang paling tinggi. Selain kaya protein, daging merah juga merupakan salah satu sumber zat besi tertinggi. Daging merah dari sapi juga mengandung beberapa jenis creatine dan beberapa jenis mineral seperti zinc dan fosfor. Kandungan zinc dalam daging merah terutama pada bagian antara leher dan bahu (chuck) dan kaki bagian atas (shank). Daging merah dari sapi juga mengandung beberapa jenis vitamin seperti niacin, vitamin B

  12 , thiamin, dan riboflavin. Bahkan juga merupakan sumber terbanyak Alpha Lipoic Acid (sejenis antioksidan yang kuat).

  Menurut Pane (1986), sapi merupakan hewan ternak terpenting dari jenis-jenis hewan ternak yang dipelihara oleh manusia sebagai sumber daging, susu, tenaga kerja, dan kebutuhan manusia lainnya. Ternak sapi menghasilkan sekitar 50 % kebutuhan daging di dunia, 95 % kebutuhan susu, dan kulitnya menghasilkan sekitar 85 % kebutuhan kulit untuk sepatu.

  2. Angka Kecukupan Gizi (AKG)

  Menurut Muhilal, dkk (2004), angka kecukupan gizi (AKG) adalah nilai yang menunjukkan jumlah zat gizi diperlukan tubuh untuk hidup sehat setiap hari bagi hampir semua populasi menurut kelompok umur, jenis kelamin, dan kondisi fisiologis tertentu seperti kehamilan dan menyusui. Angka kecukupan gizi berguna sebagai rujukan yang digunakan untuk perencanaan dan penilaian konsumsi makanan dan asupan gizi bagi orang sehat, agar tercegah dari defisiensi/kekurangan ataupun kelebihan asupan gizi. Angka kecukupan gizi dibagi dalam beberapa jenis, salah satunya adalah angka kecukupan protein (AKP). Angka kecukupan protein (AKP) adalah rata-rata konsumsi protein untuk menyeimbangkan protein yang hilang ditambah sejumlah tertentu, agar mencapai hampir semua populasi sehat di suatu kelompok umur, jenis kelamin dan ukuran tubuh tertentu pada tingkat aktivitas sedang. Angka kecukupan protein yang dianjurkan dalam Widyakarya Nasional Pangan dan Gizi VIII tahun 2004 adalah 52 gram/kapita/hari (Karmini dan Biawan. 2004).

  3. Pola Konsumsi Pangan

  Konsumsi pangan merupakan banyaknya atau jumlah pangan, secara tunggal maupun beragam, yang dikonsumsi seseorang atau sekelompok orang yang bertujuan untuk memenuhi kebutuhan fisiologis, psikologis dan sosiologis. Ketersediaan pangan suatu daerah, akses, preferensi masyarakat, dan adanya interaksi beragam faktor yang mempengaruhinya yang sudah terakumulatif menyebabkan pola konsumsi suatu daerah berbeda dengan yang lainnya.

  Menurut Almatsier (2002), pola pangan adalah cara seseorang atau sekelompok orang memanfaatkan pangan yang tersedia sebagai reaksi terhadap tekanan ekonomi dan sosio budaya yang dialaminya, dimana pola pangan erat kaitannya dengan kebiasaan. Konsumsi pangan adalah susunan dari berbagai pangan dan hasil olahannya yang biasa dimakan oleh seseorang yang dicerminkan dalam jumlah, jenis, frekuensi dan sumber bahan makanan ( Suhardjo, dkk. 1986).

  Menurut Suhardjo, dkk (1986) terdapat tiga faktor utama yang mempengaruhi pola konsumsi pangan sebagian besar penduduk yaitu : (1) Produksi pangan untuk keperluan rumah tangga, (2) pengeluaran untuk keperluan rumah tangga, dan (3) pengetahuan gizi dan ketersediaan pangan.

  Menurut Hardiansyah (1986) dalam Rangga, dkk (2002), hukum-hukum dasar yang mengawali analisis gizi adalah Hukum Engel dan Hukum Bennet. Menurut Engel, adalah persentase pengeluaran rumah tangga yang dibelanjakan untuk pangan akan semakin berkurang dengan meningkatnya pendapatan sedangkan Hukum Bennet adalah persentase bahan pangan pokok berpati dalam konsumsi pangan rumah tangga semakin berkurang dengan meningkatnya pendapatan rumah tangga dan cenderung beralih pada pangan yang berenergi lebih mahal.

4. Faktor-faktor yang mempengaruhi tingkat konsumsi

  Menurut Rahardja, dan Mandala (2000) banyak faktor yang mempengaruhi besarnya pengeluaran konsumsi rumah tangga.

  Faktor-faktor tersebut dapat di klasifikasikan menjadi tiga besar yaitu :

  1) Faktor-faktor ekonomi Empat faktor ekonomi yang menentukan tingkat konsumsi adalah :

  a. Pendapatan rumah tangga Pendapatan rumah tangga amat besar pengaruhnya terhadap tingkat konsumsi. Biasanya makin tinggi tingkat pendapatan, tingkat konsumsi makin tinggi, karena ketika pendapatan meningkat, kemampuan rumah tangga untuk membeli aneka kebutuhan konsumsi menjadi makin besar atau mungkin juga pola hidup menjadi konsumtif, setidak-tidaknya semakin menuntut kualitas yang baik.

  b. Kekayaan rumah tangga Kekayaan rumah tangga adalah kekayaan riil (rumah, tanah, dan mobil) dan finansial (deposito berjangka panjang, saham, dan surat-surat berharga). Kekayaan tersebut dapat meningkatkan konsumsi, karena menambah pendapatan.

  c. Perkiraan tentang masa depan Jika rumah tangga memperkirakan masa depannya makin baik, mereka akan merasa lebih leluasa untuk melakukan konsumsi. Karenanya pengeluaran konsumsi cenderung meningkat. Jika rumah tangga memperkirakan masa depannya makin jelek, mereka pun mengambil ancang-ancang dengan menekan pengeluaran konsumsi.

  2) Faktor-faktor demografi Menurut Sumarwan (2003), ada beberapa faktor demografi yang mempengaruhi konsumsi masyarakat, yaitu : a. Jumlah anggota rumah tangga Jumlah anggota rumah tangga akan menentukan jumlah dan pola konsumsi suatu produk atau jenis makanan tertentu. Rumah tangga dengan jumlah anggota yang lebih banyak akan membeli dan mengkonsumsi beras, daging, sayuran, buah-buahan, dan kacang-kacangan yang lebih banyak dibandingkan dengan rumah tangga yang memiliki anggota lebih sedikit.

  b. Usia Perbedaan usia juga akan mengakibatkan perbedaan selera dan kesukaan terhadap jenis makanan tertentu. Anak-anak akan memiliki selera yang berbeda dari orang dewasa, sehingga para ibu akan lebih banyak menyajikan makanan sesuai dengan selera anggota rumah tangga.

  Semakin banyak jenis yang harus dihidangkan, maka tingkat konsumsi suatu rumah tangga akan semakin tinggi.

  c. Pendidikan dan pekerjaan Pendidikan dan pekerjaan adalah dua karakteristik konsumen yang saling berhubungan. Pendidikan akan menentukan jenis pekerjaan yang dilakukan oleh seorang konsumen. Profesi dan pekerjaan seseorang akan mempengaruhi pendapatan yang diterima. Pendapatan dan pendidikan tersebut kemudian akan mempengaruhi pola konsumsi seseorang.

  3) Faktor-faktor non ekonomi Faktor-faktor non ekonomi yang paling berpengaruh terhadap besarnya konsumsi adalah faktor sosial budaya masyarakat. Misalnya, berubahnya pola kelompok masyarakat lain yang dianggap lebih hebat. Menurut Suhardjo (2003), untuk mengetahui pola makan sseorang dapat dilihat dari dua segi salah satunya segi sosial budaya. Segi sosial budaya dibagi menjadi :

  a. Budaya pangan Budaya suatu rumah tangga mempunyai pengaruh yang kuat terhadap pola makan seseorang. Budaya juga dapat mempengaruhi seseorang dalam memilih bahan makanan, hal ini juga mempengaruhi jenis, cara, dan bagaimana makanan tersebut disajikan. Pada umumnya kebiasaan makan sesesorang tidak didasarkan atas keperluan fisik akan zat gizi yang terkandung dalam pangan. Kebiasaan ini berasal dari pola pangan yang diterima budaya kelompok dan diajarkan seluruh anggota rumah tangga. Sehingga masing-masing anggota rumah tangga mempunyai selera yang berbeda untuk tiap jenis pangan tertentu.

  b. Pola makanan Jumlah jenis makanan serta banyaknya bahan makanan dalam pola pangan suatu daerah tertentu, biasanya berkembang dari pangan yang telah ditanam di tempat tersebut untuk jangka waktu panjang. Disamping itu kelangkaan pangan dan kebiasaan bekerja dari rumah tangga berpengaruh pula tehadap pola pangan.

  c. Pembagian makan dalam rumah tangga Secara tradisional, ayah mempunyai prioritas utama atas jumlah dan jenis makanan tertentu dalam rumah tangga. Jika kebiasaan budaya tersebut diterapkan, maka setelah kepala rumah tangga dan anak pria dilayani, biasanya dimulai dari yang tertua. Wanita, anak wanita dan anak yang masih kecil boleh makan bersama anggota rumah pria, tetapi beberapa lingkungan budaya, mereka terpisah pada meja lain atau bahkan setelah anggota pria selesai makan.

  d. Besar rumah tangga Hubungan antara laju kelahiran yang tinggi dan kurang gizi, sangat nyata pada masing-masing rumah tangga. Sumber pangan rumah tangga terutama mereka yang sangat miskin, akan lebih mudah memenuhi kebutuhan makanannya yang harus diberi makanan jumlahnya sedikit.

  Pangan yang tersedia untuk suatu rumah tangga yang besar mungkin cukup untuk rumah tangga yang besarnya setengah dari rumah tangga tersebut, tetapi tidak cukup untuk mencegah gangguan gizi pada rumah tangga yang besar tersebut.

  e. Faktor pribadi Faktor pribadi dan kesukaan mempengaruhi jumlah dan jenis makanan yang dikonsumsi penduduk. Beberapa diantaranya adalah : (1) banyaknya informasi yang dimiliki seseorang tentang kebutuhan tubuh akan gizi selama beberapa masa dalam perjalanan hidupnya, (2) kemampuan seseorang untuk menerapkan pengetahuan gizi dalam pemilihan pangan dan pengembangan cara pemanfaatan yang sesuai, (3) hubungan keadaan kesehatan seseorang dengan kebutuhan akan pangan untuk pemeliharaan kesehatan dan pengobatan penyakit.

  f. Pengetahuan gizi Suatu hal yang meyakinkan tentang pentingnya pengetahuan gizi didasarkan pada tiga kenyataan : (1) status gizi yang cukup adalah penting bagi kesehatan dan kesejahteraan, (2) setiap orang hanya akan cukup gizi jika makanan yang dimakannya mampu menyediakan zat gizi yang diperlukan untuk pertumbuhan tubuh yang optimal, pemeliharaan dan energi, (3) ilmu gizi memberikan fakta-fakta yang perlu sehingga penduduk dapat belajar menggunakan pangan dengan baik bagi perbaikan gizi. Kurangnya pengetahuan dan salah konsepsi tentang kebutuhan pangan dan nilai pangan adalah umum dijumpai setiap negara di dunia.

  Kemiskinan dan kekurangan persediaan makanan yang bergizi merupakan faktor penting dalam masalah kurang gizi.

a. Teori Permintaan

  Kegunaaan yang dimiliki oleh suatu barang untuk memenuhi kebutuhan manusia mengakibatkan barang tersebut dikonsumsi. Konsumsi seseorang terhadap suatu barang dalam jangka waktu tertentu dengan harga tertentu menunjukkan kuantitas (jumlah) barang yang diminta. Bila harga barang dihubungkan dengan dimensi waktu, maka harga barang dapat berubah-ubah sepanjang waktu. Perubahan tersebut dimungkinkan karena adanya perubahan dalam biaya produksi, persaingan, keadaan perekonomian dan pengaruh lainnya. Dengan demikian harga suatu barang dapat berbeda-beda pada jangka waktu tertentu. Kuantitas barang yang diminta pada tingkat harga pada jangka waktu tertentu disebut sebagai pemintaan. Menurut Wijaya (1991), pemintaan menunjukkan berbagai jumlah suatu produk mungkin selama suatu periode tertentu. Menurut Suhartati, dkk (2003), permintaan adalah berbagai jumlah barang dan jasa yang diminta pada berbagai tingkat harga pada suatu waktu tertentu. Menurut Winardi (1988), permintaan merupakan jumlah barang yang sanggup dibeli oleh para pembeli pada saat tertentu dengan harga yang berlaku pada saat itu. Definisi lain mengatakan permintaan dalam terminology ekonomi adalah jumlah yang diinginkan dan dapat dibeli konsumen dari pasar pada berbagai tingkat harga. Menurut Leftwich (1984), permintaan atas barang adalah berbagai jumlah barang yang akan dibeli oleh konsumen di pasar pada berbagai tingkat harga. Menurut Winardi (1976) dalam Soekartawi (2002) menyatakan bahwa pengertian permintaan adalah jumlah barang yang sanggup dibeli oleh para pembeli pada tempat dan waktu tertentu dengan harga yang berlaku pada saat itu. Menurut Kardariah (1994), jika orang menyatakan permintaan, maka yang dimaksud adalah permintaan yang disertai daya beli terhadap suatu benda.

  Dalam menganalisis suatu fungsi pemintaan harus dibedakan antara pemintaan dan jumlah yang diminta. Permintaan menggambarkan keadaan keseluruhan daripada hubungan diantara harga dan jumlah permintaan. Sedangkan jumlah barang yang diminta dimaksudkan sebagai banyaknya permintaan pada suatu tingkat harga tertentu (Sukirno, 2000). Menurut Sugiarto, dkk (2005), permintaan seseorang atau masyarakat terhadap suatu komoditas ditentukan oleh banyak faktor yaitu :

  1. Harga komoditas itu sendiri

  3. Pendapatan rumah tangga dan pendapatan rata-rata masyarakat

  4. Corak distribusi pendapatan mayarakat

  5. Citarasa masyarakat

  6. Jumlah penduduk

  7. Ramalan mengenai keadaan dimasa yang akan datang ,dll Menurut Lipsey ( 1995), banyaknya barang yang akan dibeli semua rumah tangga pada periode waktu tertentu dipengaruhi oleh : (1) Harga barang itu sendiri, (2) Harga barang yang berkaitan, (3) Rata-rata penghasilan rumah tangga, (4) Selera, (5) Distribusi pendapatan di antara rumah tangga, dan (6) Besarnya populasi atau jumlah penduduk. Untuk mengetahui masing-masing faktor diasumsikan faktor- faktor yang lain tetap (ceteris paribus). Secara matematis dapat dirumuskan sebagai berikut : Dx = f (Px,Py,Y,T,u) Keterangan : Dx = Jumlah barang yang diminta Px = Harga barang itu sendiri Py = Harga barang yang berkaitan Y = Pendapatan konsumen T = Selera u = faktor lainnya Selanjutnya Lipsey (1995), mengatakan bahwa perubahan faktor-faktor diatas akan mempengaruhi kurva permintaan. Kurva permintaan menggambarkan hubungan fungsional antara harga dan jumlah yang diminta. Perubahan harga barang itu sendiri akan menyebabkan perpindahan sepanjang kurva permintaan, kenaikan harga menyebabkan keatas kearah kiri sepanjang kurva permintaan, dengan demikian kuantitas yang diminta akan menurun. Sedangkan perubahan pendapatan, perubahan harga barang yang berkaitan, perubahan selera, perubahan jumlah penduduk atau perubahan distribusi pendapatan akan menggeser seluruh kurva permintaan kearah kiri atau kearah kanan.

  Pergeseran kurva permintaan kearah kiri menunjukkan adanya penurunan permintaan sedangkan pergeseran kurva kearah kanan menunjukkan adanya kenaikan permintaan berarti bahwa banyak yang diminta pada setiap tingkat harga. Proses tersebut dapat dijelaskan melalui Gambar 1.

  Y

  IC

3 IC

  ICC

  2 IC

  1 BL BL BL

  1

  2

  3

  0 x

  1 x 2 x

3 X

  P D

  3 D

  1 D

  2

  x x x

  X

  1

  2

  3 Gambar 1. Pergeseran kurva permintaan

  Hubungan antara harga dengan jumlah yang diminta adalah berbanding terbalik (negatif). Jika harga barang naik maka jumlah yang diminta akan turun dan sebaliknya jika harga turun maka jumlah yang diminta akan naik dengan faktor ini dapat dijelaskan oleh dua keadaan, pertama jika harga suatu barang naik konsumen akan mencari barang pengganti, hal ini dilakukan jika konsumen menginginkan tingkat kepuasan yang lebih tinggi dari setiap rupiah yang dimiliki. Kedua harga naik, pendapatan merupakan kendala (pembatas) bagi pembelian yang lebih banyak (Arsyad, 1987).

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

103 3194 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

37 803 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

36 714 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

16 465 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

25 618 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

53 1063 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

53 969 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

15 586 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

24 851 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

35 1056 23