PENOKOHAN DAN ALUR DALAM NASKAH DRAMA DAPUR KARYA FITRI YANI DAN KELAYAKANNYA SEBAGAI BAHAN AJAR SASTRA DI SEKOLAH MENENGAH ATAS

  

PENOKOHAN DAN ALUR DALAM NASKAH DRAMA DAPUR

KARYA FITRI YANI DAN KELAYAKANNYA SEBAGAI BAHAN AJAR

SASTRA DI SEKOLAH MENENGAH ATAS

(Skripsi)

  

Oleh

DYAN FATHMA DEWI S.

0513041021

  

JURUSAN BAHASA DAN SENI

PROGRAM STUDI BAHASA DAN SASTRA INDONESIA

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS LAMPUNG

2012

  

PENOKOHAN DAN ALUR DALAM NASKAH DRAMA DAPUR

KARYA FITRI YANI DAN KELAYAKANNYA SEBAGAI BAHAN AJAR

SASTRA DI SEKOLAH MENENGAH ATAS

Oleh

DYAN FATHMA DEWI S.

  

Skripsi

Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Mencapai Gelar

SARJANA PENDIDIKAN

  

pada

Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni

Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

  

JURUSAN BAHASA DAN SENI

PENDIDIKAN BAHASA DAN SASTRA INDONESIA

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS LAMPUNG

2012

  

ABSTRAK

PENOKOHAN DAN ALUR DALAM NASKAH DRAMA DAPUR KARYA

FITRI YANI DAN KELAYAKANNYA SEBAGAI BAHAN AJAR SASTRA

DI SEKOLAH MENENGAH ATAS

Oleh

DYAN FATHMA DEWI S.

  Penokohan dan alur merupakan bagian terpenting dalam sebuah drama. Hal tersebut dipandang penting karena penokohan dan alur merupakan substansi yang membangun dialog dalam drama. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan bagaimana penokohan dan alur dalam naskah drama Dapur karya Fitri Yani dan menentukan layak atau tidak naskah drama tersebut dijadikan sebagai alternatif bahan ajar sastra di SMA.

  Metode yang yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif. Hasil yang ditemukan tokoh-tokoh pada naskah drama drama Dapur, yaitu Udin, Romlah, Mak, Bapak, Pak RT dan Nurlela. Tokoh Udin berperan lion (pembawa ide), tokoh Romlah dan tokoh Nurlela berperan moon (penolong lion), tokoh Mak berperan mars (penentang lion) dan tokoh Bapak berperan scale. Udin, Romlah, Pak RT dan Nurlela berwatak datar (memiliki watak tertentu) sedangkan Mak dan bapak berwatak bulat (watak dan tingkah laku bermacam-macam). Alur yang digunakan, yaitu alur kronologis meliputi Naskah drama Dapur karya Fitri Yani layak dijadikan bahan ajar sastra siswa SMA. Hal ini dikarenakan naskah drama Dapur karya Fitri Yani memenuhi ketiga kriteria aspek kelayakan antara lain; pertama, aspek kurikulum yaitu naskah drama Dapur karya Fitri Yani relevan dengan Standar Kompetensi dan Kompetensi Dasar (SK/ KD) yang ditetapkan khususnya pemahaman unsur intrinsik drama; kedua, aspek kesastraan yaitu naskah drama Dapur karya Fitri Yani relevan dengan aspek kebahasaan yang meliputi aspek psikologi dan latar belakang budaya; ketiga, aspek pendidikan karakter yaitu naskah drama Dapur karya Fitri Yani relevan untuk dijadikan inspriasi dan menstimulus para siswa agar memiliki perilaku yang baik dan memiliki mental kepribadian yang baik melalui ciri-ciri tokohnya meskipun ada sifat tokoh yang tidak pantas untuk ditiru. pembacaan teks drama) dengan Kompetensi Dasar 13.1, yaitu mengidentifikasi unsur- unsur intrinsik teks drama yang didengarkan melalui pembacaan. Indikator yang harus dicapai adalah menemukan unsur- unsur intrinsik teks drama yang didengan melalui pembacaan dan mendiskusikan unsur- unsur instrinsik teks drama yang didengar. Berkaitan dengan hal tersebut maka naskah drama Dapur karya Fitri Yani dapat dijadikan bahan belajar siswa mengidentifikasi unsur- unsur drama seperti yang tercantum di dalam silabus.

  1 I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

  Sastra adalah suatu bentuk dan hasil pekerjaan seni kreatif yang objeknya adalah manusia dan kehidupannya dengan menggunakan bahasa sebagai mediumnya (Semi, 1984: 2). Sastra mempunyai berbagai jenis, antara lain drama, prosa dan puisi. Salah satu jenis sastra yang akan di bahas dalam penelitian ini adalah drama. Drama merupakan salah satu bentuk karya sastra yang berbeda dengan novel atau karya fiksi lainnya. Sebuah drama hanya terdiri dari dialog yang terkadang ada penjelasannya tetapi hanya berisi petunjuk pementasan untuk dijadikan pedoman oleh sutradara dan tidak adanya narasi dalam drama digantikan oleh akting pemain di pentas. Drama berasal dari bahasa Perancis, yaitu drane yang pada mulanya untuk menceritakan lakon-lakon kelas menengah. Drama adalah lakon serius yang menggarap satu masalah yang mempunyai arti penting meskipun sering berakhir dengan bahagia atau tidak bahagia tetapi tidak bertujuan mengagungkan tragika. Drama adalah salah satu seni bercerita lewat percakapan dan action tokoh-tokohnya (Soemanto, 2001:3). Pembelajaran drama merupakan bagian yang erat dari pembelajaran bahasa dan sastra Indonesia di Sekolah Menengah Atas (SMA). Hal ini sesuai

  2 kemampuan bersastra. Belajar bersastra pada mata pelajaran Bahasa Indonesia tingkat Sekolah Menengah Atas sama halnya dengan belajar berbahasa yaitu mencakup aspek menyimak, berbicara, membaca dan menulis. Keterampilan menyimak diperoleh pada saat para siswa mendengarkan pembacaan puisi, berdeklamasi, pertunjukan monolog dan pertunjukan drama. Kecermatan keterampilan menyimak ini sangat diperlukan. Salah dengar terhadap salah satu atau dua patah kata saja bisa mengakibatkan salah tangkap apa yang ditampilkan sedangkan keterampilan berbicara terutama diperoleh pada saat siswa membaca puisi, membaca monolog atau berpentas drama di depan kelas. Siswa mendapatkan pengalamaan penciptaan dalam pengajaran sastra. Siswa akan diberi kesempatan unuk mencipta sendiri baik berupa puisi, cerpen dan naskah drama pendek. Kesempatan mencipta ini berguna bagi keterampilan menulis dan berpengaruh bagi pembinaan apresiasinya karena pengalaman penciptaan secara langsung banyak berpengaruh untuk usaha mendapatkan pengalaman puitik (Jabrohim, 1994:9-10).

  Kegiatan mengapresiasi sastra drama yang dilakukan oleh para siswa diharapakan mampu membina kepribadian dan perilaku budi pekerti siswa agar mereka memiliki sikap positif terhadap hasil karya sastra yang diciptakan oleh orang lain dan mampu mengambil sikap dengan bijaksana atas suatu drama yang mereka saksikan. Hal tersebut tidak luput dari peran

  3 adalah sebagai informator, fasilitator dan moderator. Seorang guru hanya sebagai penunjuk jalan bagi para siswa yang sedang bertamasya di taman sarinya karya sastra (Suharianto dalam Jabrohim, 1994:21).

  Guru dan siswa bersama-sama menelusuri dan menjelajahi karya sastra sesuai dengan taraf masing-masing di dalam pengajaran sastra termasuk drama.

  Sesuai dengan tugasnya sebagai penunjuk jalan, seorang guru harus tahu lika- liku jalan dan menguasai berbagai obyek yang menjadi perhatian siswa.

  Seorang guru harus benar-benar mempunyai pengalaman, pendidikan dan keterampilan yang lebih dibandingkan siswanya.

  Proses dan metode pengajaran sastra mempunyai peranan penting. Seorang guru tidak hanya mampu menjabarkan atau menjelaskan pengertian sastra, macam-macam sastra, nama pengarang sastra dan lain-lain. Metode seperti itu terkesan monoton sehingga murid kurang tertarik untuk mempelajari sastra.

  Guru harus dapat membantu mengembangkan akal siswa dengan mengapresiasi sebuah karya sastra sehingga siswa dapat memahami dan lebih menghargai sebuah karya sastra. Tujuan pembelajaran sastra bukan membentuk siswa menjadi sastrawan atau ahli sastra melainkan hanya membimbing siswa agar dapat memahami, menikmati dan menulis karya sastra serta mengapresiasi karya sastra (Wiyanto, 2005 : viii).

  Kegiatan mengapresiasi karya sastra adalah kegiatan yang membutuhkan keterlibatan hati secara serius terhadap objek yang dinikmati. Usaha untuk menumbuhkan keseriusan dan pemahaman dalam mengapresiasi sebuah

  4 menganggapnya sebagai suatu kerja yang menyenangkan. Kegiatan mengapresiasi drama sebagai salah satu karya sastra diharapakan mampu meningkatkan kesenangan siswa dalam pembelajaran sastra di sekolah.

  Memberikan apresiasi terhadap sebuah drama penting untuk terlebih dahulu mengetahui unsur-unsur intrinsik drama. Unsur-unsur intrinsik drama meliputi tema, penokohan, alur, latar, gaya bahasa, tema dan amanat. Salah satu naskah drama yang dapat dikaji adalah naskah drama berjudul

  

Dapur karya Fitri Yani. Naskah drama Dapur merupakan naskah drama satu

  babak. Bahasa yang dipakai dalam naskah ini adalah bahasa harian sehingga untuk kalangan siswa tidak sulit untuk memahami dialog antartokohnya.

  Drama ini mengisahkan tentang dapur yang bagi sebagian masyarakat merupakan tempat yang sakral dan simbol eksistensi sebuah rumah tangga.

  Seperti pepatah “jika perempuan jauh dari dapur, ia tak akan bisa membangkitkan selera lahir dan batin dalam rumah tangga”, maka naskah ini mencoba menggambarkan bagaimana dapur memiliki makna yang begitu penting pada kehidupan keluarga dan perempuan. Dapur bukanlah tempat perempuan tak berdaya. Banyak kekuatan yang dimiliki perempuan dengan menjadi menejer di dapur dan menjadi pemimpin dalam mempersiapkan hidangan bagi keluarga. Tokoh utama dalam naskah drama diangkat dengan melihat fenomena sekarang. Wilayah perempuan sudah banyak diambil alih oleh laki-laki begitu pun sebaliknya. Hal tersebut sebenarnya sudah menjadi konsekuensi dari kehidupan modern. Tidak ada salahnya jika laki- laki menjadi koki karena

  5 koki pun sekedar profesi sama seperti dosen, pegawai, tukang becak dan lain- lain. Naskah Dapur menjelaskan tentang pekerjaan wanita yang bisa dikerjakan oleh seorang laki- laki sedangkan di dalam rumah tangga sendiri wanita yang menjadi sorotan utama urusan dapur. Naskah Dapur berbicara tentang emansipasi wanita yang masih menjadi perbincangan hangat bangsa Indonesia di desa maupun di kota. Naskah ini menceritakan tentang kakak Udin yang memilih menjadi wanita karir dan memberikan efek domino bagi kondisi rumah tangganya. Di akhir naskah drama ini ditunjukkan bagaimana kehidupan rumah tangga yang tidak harmonis karena adanya disfungsionalisasi wilayah perempuan. Secara keseluruhan naskah ini ingin menekankan bahwa jika wanita tidak berada di dapur (berada di wilayahnya), rumah tangga tidak berjalan dengan baik.

  Beberapa alasan peneliti memilih naskah drama Dapur sebagai objek penelitian adalah sebagai berikut. Naskah drama Dapur terpilih menjadi naskah yang dipentaskan pada acara Kala Sumatera 2009 yang didanai HIVOS Founding dari Belanda. Naskah drama dapur mengisahkan cerita sosial kehidupan dalam satu keluarga. Ada kisah percintaanya, cerita antara ibu dan ayah atau ayah dan anak semuanya ada di dalam naskah ini. Setiap tokoh punya perbedaan watak yang menonjol dan bahasa yang dipakai tidak berat sehingga cocok jika naskah drama Dapur dipakai untuk sarana pembelajaran sastra di SMA. Naskah ini menceritakan tentang isu yang sensitif dan masih terus hangat di kalangan perempuan bahkan kebanyakan masyarakat, yaitu tentang emansipasi perempuan dan peran- peran sakralnya.

  6 merupakan hasil dari sastrawan nasional maka peneliti memilih sastrawan dari daerah sendiri, yaitu Lampung. Naskah ini ditulis oleh sastrawan yang merupakan putra daerah Lampung yang perlu diapresiasi sebagai bentuk penghargaan atas karyanya yang turut mengangkat nama daerah di bidang sastra nasional.

  Pembahasan tentang unsur penokohan dan alur drama terdapat dalam silabus pembelajaran Bahasa dan Sastra Indonesia di SMA kelas XII Semester 2 pada standar kompetensi memahami pembacaan teks darama pada poin kompetensi dasar (13.1) menemukan unsur-unsur instrinsik teks drama yang didengar melalui pembacaan meliputi penokohan, alur, latar, tema dan amanat. Pada penelitian ini peneliti hanya membatasi pada unsur penokohan dan alur saja. Penelitian mengenai penokohan dan alur dalam naskah drama merupakan hal yang dianggap penting karena dalam sebuah karya sastra terutama genre drama mempunyai karakteristik tersendiri bila dibandingkan dengan genre fiksi dan puisi. Unsur-unsur pembangun di dalam drama sebagai genre sastra itu lebih tajam, lebih lugas dan lebih detil terutama pada unsur penokohannya. Selain itu, peneliti menyandingkan alur sebagai bahan penelitian karena alur merupakan salah satu unsur pembangun drama yang sangat erat kaitannya dengan penokohan. Alur merupakan rangkaian peristiwa yang saling berhubungan secara kausalitas dan peristiwa di dalam drama tersebut terjadi karena didukung oleh tokoh. Perubahan tingkah laku tokoh di dalam cerita bisa berubah seiring dengan berjalannya alur. Oleh

  7 sebab itu, peneliti menganggap unsur penokohan dan alur adalah dua hal yang penting untuk dikaji lebih dalam. Penelitian tentang penokohan dan alur pada sebuah karya sastra sudah ada yang melakukan sebelumnya. Berikut ini beberapa hasil penelitian terdahulu yang berkaitan dengan analisis unsur- unsur intristik dalam drama, antara lain penelitian tentang tokoh Wayan dalam naskah drama Bila Malam Bertambah

  

Malam karya Putu Wijaya oleh Herzon (2004). Penelitian yang dilakukakan

  Herzon hanya meneliti satu tokoh dari beberapa tokoh yang ada dalam naskah drama tersebut dan tidak ada kaitannya dengan kelayakan sebagai bahan ajar sastra di SMA. Selain Herzon, ada Ferri Gunadi yang sama melakukan penelitian terhadap naskah drama. Ferri Gunadi dengan judul skripsinya “Unsur-unsur Intrinsik dalam Naskah Drama Dorr karya Putu Wijaya dan Kelayakannya dalam Pembelajaran Sastra di SMA” lebih meluas cakupannya. Ia meneliti keseluruhan unsur intrinsik yang ada dalam naskah drama. Berbeda dengan penelitian yang dilakukan Herzon dan Ferri Gunadi, peneliti akan meneliti unsur intrinsik naskah drama yang mencakup dua hal saja yakni penokohan dan alur. Peneliti akan mengarahkan penelitian ini pada usaha untuk mengkaji kelayakan naskah drama Dapur sebagai bahan ajar sastra di SMA yaitu menitikberatkan pada upaya pembuktian apakah dengan diapresiasinya naskah drama Dapur oleh siswa dalam hal penokohan dan alur drama tersebut dapat meningkatkan semangat belajar siswa terhadap pembelajaran sastra.

  8 Berdasarkan uraian latar belakang masalah tersebut, peneliti ingin meneliti

  p

  tentang enokohan dan alur dalam naskah drama Dapur karya Fitri Yani dan kelayakannya sebagai bahan ajar sastra di SMA.

  1.2 Rumusan Masalah

  Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana penokohan dan alur dalam naskah drama Dapur karya Fitri Yani dan kelayakan sebagai bahan ajar sastra di SMA?

  1.3 Tujuan Penelitian

  Berdasarkan rumusan masalah, tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan penokohan dan alur dalam naskah drama Dapur karya Fitri Yani dan kelayakannya sebagai bahan ajar sastra di SMA.

  1.4 Manfaat Penelitian Manfaat penelitian ini adalah sebagai berikut.

  a. Manfaat teoretis Penelitian ini diharapkan dapat menjadi bahan acuan bagi calon peneliti selanjutnya yang akan melakukan penelitian tentang unsur-unsur intrinsik drama khususnya penokohan dan alur.

  9

  b. Manfaat praktis Penelitian ini diharapkan dapat memberikan alternatif bahan ajar sastra kepada guru dalam rangka menumbuhkembangkan kepekaan siswa terhadap kesastraan di Indonesia.

1.5 Ruang Lingkup Penelitian

  Penelitian ini dibatasi pada dua unsur intrinsik naskah drama saja yaitu penokohan dan alur dalam naskah drama Dapur karya Fitri Yani dan kelayakannya sebagai bahan ajar sastra di SMA. Sumber data penelitian diperoleh dari sebuah naskah drama Dapur karya Fitri Yani.

II. LANDASAN TEORI

2.1 Drama

  Pada umumnya drama menampilkan beberapa tokoh yang saling berhubungan antara satu dengan yang lainnya sehingga membentuk kisah atau alur cerita. Tokoh-tokoh dalam cerita tersebut digambarkan pengarang sebagai manusia hidup di dunia nyata artinya tokoh-tokoh tersebut digambarkan hidup dalam masyarakat yang memiliki tatanan hidup bermasyaraka bisa diwujudkan dengan berbagai media seperti di atas panggung, film dan televisi. Drama sering dikombinasikan dengan musik dan tarian seperti sebuah opera.

  Beberapa ahli mendefinisikan drama dengan berbagai penalaran sebagai berikut.

  Drama berasal dari bahasa Perancis yaitu drane yang pada mulanya untuk menceritakan lakon-lakon kelas menengah. Dalam istilah yang lebih kuat drama adalah lakon serius yang menggarap satu masalah yang punya arti penting meskipun mungkin berakhir dengan bahagia atau tidak bahagia- tapi tidak bertujuan mengagungkan tragika. Drama adalah salah satu seni bercerita lewat percakapan dan action tokoh- tokohnya (Soemanto, 2001:3).

  Definisi tersebut lebih menekankan drama sebagai proses bercerita secara langsung melalui gerak tubuh dan dialog lisan dengan lakon serius dari para tokohnya untuk menyampaikan secara langsung tentang suatu pesan.

  Drama adalah salah satu bentuk seni yang bercerita lewat percakapan atau dialog dan action tokoh-tokohnya tetapi percakapan atau dialog itu sendiri bisa juga dipandang sebagai pengertian action (Soemanto, 2001:1). Pernyataan lain dikemukakan bahwa adrama sebagai genre sastra yang ditulis dalam bentuk dialog-dialog dengan tujuan untuk dipentaskan sebagai seni pertunjukan (Hassanuddin, 1996:7).

  Definisi tersebut lebih menekankan drama sebagai cerita dalam bentuk dialog verbal dan non verbal untuk sebuah pertunjukan seni.

  Drama merupakan salah satu bentuk kesusastraan namun cara penyajian drama berbeda dari bentuk kesusastraan lainnya seperti novel, cerpen dan balada masing-masing menceritakan kisah yang melibatkan tokoh- tokoh lewat kombinasi antara dialog dan narasi. Sebuah drama hanya terdiri atas dialog-dialog dan ada penjelasan sedikit untuk dijadikan pedoman oleh sutradara bila drama tersebut dipentaskan (Soemanto, 2001:3-4).

  Beberapa pengertian drama di atas terlihat bahwa drama tidak hanya menjadi sebuah karya seni yang dapat dijadikan hiburan atau tontonan semata tetapi drama memang berisi masalah kehidupan dan kemanusiaan yang tidak terlepas dari aspek-aspek sosial masyarakat dalam hubungan manusia dengan manusia lainnya. Drama menyajikan aspek-aspek perilaku manusia terhadap jenisnya dalam kaitannya dengan nilai-nilai kemanusiaan seperti perasaan sayang, cinta, benci, dendam, ketulusan, kesetiaan, kesucian dan lain-lain. Drama merupakan alat komunikasi sosial dalam masyarakat. Manusia dapat menemukan masalah-masalah yang terjadi di lingkungannya kemudian menjadikannya sebagai bahan pertimbangan, perbandingan dan pengetahuan untuk berbuat sesuatu secara lebih baik melalui sebuah drama. Hal ini merupakan salah satu fungsi dan peranan drama meskipun ada juga masyarakat tertentu yang memahami arti suatu karya seni. Anggapan seperti itu tidaklah benar karena karya seni dalam bentuk apapun hendaknya dirasakan sebagai milik masyarakat. Ia memerlukan interpretasi dan apresiasi sehingga nilai-nilai kehidupan yang ada di dalamnya dapat dipahami dan menjadi pedoman. Ada satu hal yang tetap menjadi ciri drama yaitu penyampaiannya yang dilakukan dalam bentuk dialog atau action yang dilakukan para tokohnya. Hal ini sejalan dengan tujuan penelitian saya tentang penokohan dan alur yang akan digali dari percakapan para tokoh dalam naskah drama Dapur karya Fitri Yani.

2.2 Dialog

  Secara universal dialog sebagai sarana primer di dalam drama yang berfungsi sebagai wadah bagi pengarang untuk menyampaikan informasi, menjelaskan fakta atau ide-ide utama. Dialog memberikan kejelasan watak dan perasaan tokoh atau pelaku. Kalimat-kalimat atau kata-kata yang diujarkan oleh para pelaku akan memberikan gambaran-gambaran tentang watak, sifat ataupun perasaan masing-masing tokoh. Seseorang yang berwatak bengis, kasar, baik, sabar dan sebagainya bisa diketahui melalui dialog. Kondisi psikis seperti senang, sedih, gembira, cemburu juga bisa diketahui melalui dialog (Hasanuddin 1996 : 21-22). Dialog harus berupaya melukiskan suasana, perwatakan, konflik dan klimaks drama. Dialog inilah yang membedakan karya sastra drama dengan karya sastra lainnya yang berbentuk prosa. Berdasarkan dialog atau cakapan antartokoh tersebut cerita dirangkai, konflik ditumbuhkan dan perwatakan dikembangkan. Peneliti bisa meneliti dan mendeskripsikan penokohan dan alur dalam naskah drama Dapur karya Fitri Yani melalui dialog tersebut.

2.3 Penokohan Salah satu unsur penting dalam karya naratif adalah tokoh dan penokohan.

  Istilah tokoh menunjuk pada orangnya. Tokoh cerita atau karakter adalah orang-orang yang ditampilkan dalam suatu karya naratif atau drama yang ditafsirkan memiliki kualitas moral dan kecenderungan tertentu seperti yang diekspresikan dalam ucapan dan apa yang dilakukan dalam tindakan (Abrams dalam Nurgiyantoro, 1981:20). Penokohan menunjuk pada penempatan tokoh-tokoh tertentu dengan watak- watak tertentu dalam sebuah cerita adalah pelukisan gambaran yang jelas tentang seseorang yang ditampilkan dalam sebuah cerita (Jones dalam Nurgiyantoro, 1968:33).

  Istilah penokohan lebih luas pengertiannya daripada tokoh sebab dalam penokohan mencakup masalah siapa tokoh cerita, bagaimana perwatakan dan bagaimana penempatan pelukisannya dalam sebuah cerita sehingga sanggup memberikan gambaran yang jelas kepada pembaca.

  Hal-hal yang berkaitan dengan penokohan yakni penamaan, pemeranan, serta karakter tokoh ini saling berhubungan dalam upaya membangun permasalahan-permasalahan atau konflik kemanusiaan yang merupakan syarat utama sebuah drama (Hasanuddin:75-76). Di dalam sebuah drama aspek-aspek ini terkesan lebih jelas dan tegas dibandingkan dengan fiksi.

  1) Penamaan Penamaan yaitu pemberian nama pada tokoh-tokoh yang terlibat dalam drama. Nama tokoh merupakan suatu sistem di dalam drama oleh karena itu ia membatasi ruang gerak dan perilaku, sikap, peran para tokoh dalam melakukan motif-motif untuk membangun peristiwa, kejadian serta konflik-konflik.

  2) Pemeranan Tokoh dalam drama memiliki peran tertentu. Ada enam kategori peran dalam drama yang dapat diwakili para tokoh untuk membangun dan membentuk konflik.

  a. Peran Lion (Singa) Peran lion yaitu tokoh atau tokoh-tokoh pembawa ide (istilah lain dapat disebut tokoh protagonis). Tokoh ini memperjuangkan sesuatu, mungkin kebenaran, kekuasaan, perdamaian, cinta dan lain-lain.

  b. Peran Mars (Mars) Peran mars yaitu tokoh yang menentang dan menghalangi peran lion dalam mencapai keinginan dan tujuan yang diperjuangkan tokoh peran

  

lion tersebut. Peran mars ini dalam istilah lain disebut tokoh antagonis. c. Peran Sun (Matahari) Peran sun yaitu tokoh atau apa pun yang menjadi sasaran perjuangan lion dan ingin didapatkan mars.

  d. Peran Earth (Bumi) Peran earth yaitu tokoh yang menerima hasil perjuangan lion atau mars.

  e. Peran Scale (Neraca) Peran scale yaitu peran yang menghakimi, memutuskan, menengahi atau menyelesaikan konflik dan permasalahan yang terjadi di dalam drama.

  f. Peran Moon (Bulan) Peran moon yaitu peran yang bertugas sebagai penolong.

  3) Keadaan Fisik Keadaan fisik dalam hal ini perlu dikenal apakah tokoh itu seorang laki- laki atau perempuan, berapa usianya, bentuk badannya, warna kulitnya dan sebagainya.

  4) Keadaan Sosial Keadaan sosial ini menyangkut apa pekerjaannya, agamanya, keluarganya, keadaan ekonominya dan keadaan lingkungannya.

  5) Karakter/Watak Karakter atau watak adalah sifat-sifat yang dimiliki oleh tokoh dalam drama. Berdasarkan perwatakannya tokoh dapat dibedakan menjadi dua yakni tokoh pipih (simple character) dan tokoh bulat (round character) (Nurgiyantoro, 1998:181).

  a. Tokoh pipih adalah tokoh yang mencerminkan watak yang sederhana, memiliki satu kualitas pribadi tertentu dan satu sifat watak yang tertentu saja. Ia tidak memiliki sifat dan tingkah laku yang dapat memberikan efek kejutan bagi pembaca.

  b. Tokoh bulat adalah tokoh yang dinamis dan banyak sekali mengalami perubahan. Tokoh ini mencerminkan watak yang kompleks. Tokoh yang berwatak bulat dapat saja memiliki watak tertentu yang dapat diformulasikan. Ia dapat pula menampilkan watak dan tingkah laku bermacam-macam bahkan mungkin bertentangan dan sulit diduga. Perwatakannya pun pada umumnya sulit dideskripsikan secara tepat. Watak bulat lebih menyerupai kehidupan manusia yang sesungguhnya karena di samping memiliki berbagai kemungkinan sikap dan tindakan, ia juga sering memberi kejutan (Nurgiyantoro, 2005 : 183).

2.4 Alur

  Alur merupakan rangkaian peristiwa atau sekelompok peristiwa yang saling berhubungan secara kausalitas dan akan menunjukkan sebab akibat. Apabila hubungan kausalitas peristiwa terputus dengan peristiwa yang lain maka dapat dikatakan alur tersebut kurang baik. Alur yang baik adalah alur yang memiliki kausalitas sesama peristiwa yang ada di dalam naskah (Hasanuddin, 1996 : 60).

  Alur merupakan suatu keseluruhan peristiwa di dalam naskah. Alur adalah rangkaian peristiwa yang sambung menyambung dalam sebuah cerita berdasarkan logika sebab akibat. Dalam sebuah cerita terdapat berbagai peristiwa. Peristiwa-peristiwa itu berkaitan satu sama lain. Rangkaian peristiwa itulah yang membentuk alur atau jalan cerita (Wiyanto, 2005:79). Alur adalah urutan peristiwa yang berhubungan secara kausalitas. Hubungan antarperistiwa yang dikisahkan itu harus bersebab akibat dan tidak hanya secara kronologis saja (Forster dalam Soemanto, 1972 : 48-50). Pendapat lain mengatakan bahwa alur adalah cerita yang berisi urutan kejadian namun kejadian itu hanya dihubungkan secara sebab akibat, peristiwa yang satu disebabkan atau menyebabkan peristiwa lain (Stanton dalam Nurgiyantoro, 1965:14).

2.4.1 Kaidah Pengaluran

  Di dalam usaha pengembangan suatu alur pengarang juga memiliki kebebasan kreativitas, tetapi kebebasan itu tetap mempunyai sebuah aturan atau kaidah. Kaidah-kaidah pengaluran yang dimaksud meliputi masalah plausabilitas (plausability), adanya kejutan (surprise), rasa ingin tahu (suspense) dan kepaduan (unity) (Kenny dalam Nurgiyantoro, 1966:19-22). 1) Plausabilitas (plausibility)

  Alur dalam sebuah cerita harus memiliki sifat plausibel, yakni dapat dipercaya oleh pembaca atau penikmat karya sastra. Plausabilitas dikaitkan dengan realitas kehidupan atau sesuatu yang ada dan terjadi di dunia nyata, jadi sebuah cerita yang mencerminkan realitas kehidupan sesuai atau tidak bertentangan dengan sifat-sifat dalam kehidupan nyata.

  2) Rasa ingin tahu (suspense) Sebuah cerita yang baik pasti memiliki kadar suspense yang tinggi dan terjaga atau mampu membangkitkan rasa ingin tahu di hati pembaca.

  Apabila rasa ingin tahu pembaca mampu dibangkitkan dan terus terjaga di dalam sebuah cerita itu artinya cerita tersebut menarik perhatiannya.

  3) Kejutan (surprise) Alur sebuah cerita yang menarik tidak hanya mampu membangkitkan rasa ingin tahu pembaca akan tetapi juga harus mampu memberikan surprise atau kejutan. Alur sebuah karya sastra dikatakan memberikan kejutan jika sesuatu yang dikisahkan itu menyimpang atau bertentangan dengan harapan si pembaca (Abrams dalam Nurgiyantoro, 1981:138). 4) Kesatupaduan (unity)

  Kesatupaduan atau keutuhan dalam sebuah karya mengandung pengertian bahwa berbagai unsur yang ditampilkan khususnya peristiwa- peristiwa fungsional, kaitan dan acuan yang mengandung konflik seluruhnya memiliki keterkaitan satu dengan yang lain. Ada benang- benang merah yang menghubungkan berbagai aspek cerita tersebut sehingga seluruhnya dapat dirasakan sebagai satu kesatuan yang utuh dan padu.

2.4.2 Penahapan Alur

  Alur dalam sebuah cerita harus bersifat padu (unity). Untuk memperoleh keutuhan sebuah alur cerita, Aristoteles mengemukakan bahwa sebuah alur haruslah terdiri dari tahap awal (beginning), tahap tengah (midle) dan tahap akhir (end) (Nurgiyantoro, 1998:142-145).

  1) Tahap Awal Tahap awal sebuah cerita biasanya disebut sebagai tahap perkenalan.

  Tahap perkenalan pada umumnya berisi sejumlah informasi penting yang berkaitan dengan berbagai hal yang akan dikisahkan pada tahap-tahap berikutnya. Fungsi pokok tahap awal adalah untuk memberikan informasi dan penjelasan seperlunya khususnya yang berkaitan dengan pelataran dan penokohan. 2) Tahap Tengah

  Tahap tengah cerita dapat disebuut tahap pertikaian yang menampilkan pertentangan atau konflik. Konflik yang dikisahkan dapat berupa konflik internal, konflik eksternal, konflik atau pertentangan yang terjadi antartokoh cerita, antara tokoh protagonis dengan tokoh antagonis.

  3) Tahap Akhir Tahap akhir sebuah cerita disebut juga tahap peleraian. Pada bagian ini berisi bagaimana kesudahan cerita atau menyaran pada hal bagaimanakah akhir sebuah cerita.

  Penahapan alur mengalami perkembangan sebagai berikut.

  a. Eksposisi b. Konflik Tahap konflik berarti pemain drama sudah terlibat dalam persoalan pokok.

  Pada tahap ini mulai ada insiden. Insiden inilah yang memulai plot drama.

  c. Komplikasi Pada tahap komplikasi, insiden kemudian berkembang menimbulkan konflik-konflik yang semakin banyak dan ruwet. Banyak persoalan yang kait-mengait tetapi semuanya masih tanda tanya.

  d. Krisis Pada tahap ini berbagai konflik sampai pada puncaknya (klimaks)

  e. Resolusi Pada tahap ini dilakukan penyelesaian konflik-konflik.

  (Wiyanto , 2002:25)

2.4.3 Pembedaan Alur

  Alur dapat dikategorikan ke dalam beberapa jenis yang berbeda berdasarkan sudut-sudut tinjauan pada kriteria urutan waktu, jumlah, kepadatan dan kriteria isi. 1) Berdasarkan Kriteria Urutan Waktu

  a. Alur Lurus (progresif) Apabila peristiwa-peristiwa yang dikisahkan bersifat kronologis atau runtut. Alur progresif biasanya menunjukkan kesederhanaan dalam penceritaan, tidak berbelit-belit dan mudah diikuti. b. Alur Sorot Balik (flashback) Alur ini disebut juga alur regresif yaitu urutan kejadian yang dikisahkan tidak bersifat kronologis. Cerita mungkin dimulai dari tahap tengah atau akhir baru kemudian tahap awal cerita.

  c. Alur Campuran Apabila dalam sebuah cerita kedua alur baik progresif dan regresif digunakan secara bergantian.

  2) Berdasarkan Kriteria Jumlah

  a. Alur Tunggal Alur tunggal sering digunakan jika pengarang ingin memfokuskan dominasi seorang tokoh tertentu sebagai pahlawan.

  b. Alur Subplot Sesuai dengan namanya yaitu subplot, yakni hanya merupakan bagian dari alur utama. Subplot berisi cerita kedua yang ditambahkan dan bersifat memperjelas, memperluas pandangan kita terhadap alur utama dan mendukung efek keseluruhan cerita (Nurgiyantoro dalam Abrams, 1981:138).

  3) Berdasarkan Kriteria Kepadatan

  a. Alur Padat Alur padat dijumpai pada cerita yang memiliki pelaku lebih sedikit sehingga hubungan antar pelaku erat tiap-tiap rinciannya, tiap-tiap tokoh, lakuan dan peristiwanya merupakan bagian vital dan integral. b. Alur Longgar Hubungan tokoh longgar karena banyak pelaku, selain itu hubungan peristiwa-peristiwa longgar seolah-olah peristiwa itu berdiri sendiri. Bila salah satu peristiwa hilang cerita pokoknya masih dapat dipahami.

  4) Berdasarkan Kriteria Isi

  a. Alur Peruntungan Alur peruntungan berhubungan dengan cerita yang mengungkapkan nasib atau peruntungan yang menimpa tokoh (utama) cerita yang bersangkutan.

  b. Alur Tokohan Alur tokohan menyaran pada adanya sifat pementingan tokoh, tokoh yang menjadi fokus perhatian. Alur tokohan lebih banyak menyoroti keadaan tokoh daripada kejadian-kejadian yang ada.

  c. Alur pemikiran Alur pemikiran mengungkapkan sesuatu yang menjadi bahan pemikiran, keinginan dan perasaan.

2.5 Pemilihan Bahan Ajar Sastra di SMA

  Pembelajaran sastra di sekolah merupakan bagian dari mata pelajaran Bahasa Indonesia. Tujuan pokok pembelajaran sastra di sekolah adalah membina apresiasi anak didik yaitu membina agar anak memiliki kesanggupan untuk memahami, menikmati dan menghormati suatu cipta sastra (Jabrohim, 1994:158-160). Salah satu upaya untuk meningkatkan daya apresiasi siswa terhadap karya sastra adalah dengan menghadapkan siswa secara langsung pada bentuk-bentuk karya sastra, misalnya drama.

  Pembelajaran drama di Sekolah Menengah Atas (SMA) selayaknya penting karena didalamnya banyak mengandung nilai-nilai yang dapat diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat. Penilaian terhadap pengajaran drama terkadang disepelekan oleh kalangan awam padahal kemampuan penghayatan mereka terhadap sastra yang terlalu sempit. Mereka beralasan bahwa drama sebagai milik sekelompok masyarakat tertentu yang memahami arti suatu karya seni. Sebagai seorang pengajar dalam menyampaikan materi mengenai sastra seorang guru seharusnya tidak hanya memberikan teori-teori tentang sastra tetapi juga memberikan hal-hal yang mengarah pada pembinaan apresiasi sastra yang mencakup adanya pemberian kesempatan untuk mencoba sendiri menciptakan sastra. Hal itu harus diperhatikan guru karena mempelajari sastra dengan tepat dapat memberi manfaat bagi siswa seperti membantu keterampilan berbahasa, meningkatkan pengetahuan sosial dan budaya, mengembangkan cipta dan karsa serta menunjang pembentukan watak (Rahmanto, 1993:16).

  Pengapresiasian sastra bisa berupa menganalisis unsur-unsur intrinsik yang terdapat dalam drama terutama mengenai penokohan. Melalui penokohan para siswa memperoleh pemahaman tentang bagaimana cara pengarang dihadapinya hingga menampilkan citra tokoh tersebut sehingga siswa sebagai pembaca akan memperoleh suatu pelajaran yang berharga dalam menyikapi kehidupan sehari-hari. Guru diharapkan mampu memilih naskah drama yang sesuai dan mendukung proses pengapresiasian tersebut demi tercapainya tujuan pembelajaran sastra di sekolah. Dalam penelitian ini peneliti akan menganalisis kelayakan naskah drama Dapur karya Fitri Yani sebagai bahan ajar sastra ditinjau dari tiga aspek, yaitu (1) aspek kurikulum, (2) aspek kesastraan dan (3) aspek pendidikan karakter.

2.5.1 Aspek Kurikulum

  Pada praktiknya dalam memilih bahan pembelajaran, penentuan jenis dan kandungan materi sepenuhnya terletak di tangan guru namun ada beberapa hal yang perlu diperhatikan sebagai pertimbangan dalam memilihnya berkaitan dengan pembinaan apresiasi siswa yang salah satunya adalah pemilihan naskah drama sebagai bahan ajar. Di dalam proses pemilihan itu sendiri ada beberapa hal yang harus dipertimbangkan sebagai tolok ukur kelayakannya terutama kesesuaiannya dengan kurikulum yang berlaku saat ini.

  Kurikulum yang berlaku saat ini adalah Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP). Secara otomatis dalam proses pemilihan bahan ajar sastra harus disesuaikan dengan KTSP. Hal ini berarti bahwa kriteria pokok pemilihan bahan ajar atau materi pembelajaran harus sesuai dengan standar isi yang tercantum dalam mata pelajaran Bahasa Indonesia. Standar isi mata kompetensi untuk mencapai kompetensi lulusan yang tertuang dalam silabus pembelajaran (Mulyasa, 2009:21). Berdasarkan hal tersebut, materi pembelajaran yang dipilih untuk diajarkan pada siswa hendaknya berisi materi atau bahan ajar yang benar-benar menunjang tercapainya standar kompetensi dan kompetensi dasar. Artinya, pemilihan bahan ajar harus mengacu atau merujuk pada standar kompetensi.

  Pada silabus KTSP SMA program pembelajaran Bahasa Indonesia yang terkait dengan analisis penokohan dan alur terdapat pada kelas XII semester kedua dengan standar kompetensi memahami pembacaan teks drama pada poin kompetensi dasar (13.1) yakni menemukan unsur-unsur intrinsik teks drama yang didengar melalui pembacaan. Pada silabus ini siswa diharap mampu menemukan unsur-unsur intrinsik teks drama meliputi penokohan, alur, latar, tema dan amanat.

2.5.2 Aspek Sastra

  Pada prinsipnya pembelajaran sastra yang disajikan kepada para siswa harus sesuai dengan kemampuannya pada suatu tahapan pembelajaran tertentu.

  Tujuan pembelajaran itu sendiri adalah menuntut anak didik untuk dapat memahami, menangkap makna dan mengambil nilai-nilai positif pada suatu karya sastra yang diajarkan, yakni drama. Beberapa aspek perlu dipertimbangkan agar dapat memilih bahan pembelajaran berupa naskah drama dengan tepat. Ada tiga aspek yang harus dipertimbangkan untuk dijadikan bahan pembelajaran, yaitu: aspek bahasa, a. Aspek kebahasaan Aspek kebahasaan dalam sastra tidak hanya ditentukan oleh masalah-masalah yang dibahas melainkan juga ditentukan oleh faktor-faktor lain seperti cara penulisan yang dipakai pengarang, ciri-ciri karya sastra pada waktu penulisan karya itu dan kelompok pembaca yang ingin dijangkau pengarang.

  Penguasaan suatu bahasa tumbuh dan berkembang melalui tahap-tahap yang tampak jelas pada setiap individu. Guru kiranya perlu mengembangkan keterampilan khusus untuk memilih bahan pembelajaran sastra yang bahasanya sesuai dengan tingkat penguasaan bahasa siswa agar pembelajaran sastra dapat lebih berhasil. Dalam segi kebahasaan pemilihan bahan pembelajaran sastra harus memiliki kriteria-kriteria tertentu yaitu harus sesuai dengan tingkat penguasaan bahasa siswa, harus diperhitungkan kosa kata yang baru, memperhatikan segi ketatabahasaan serta cara pengarang menuangkan ide-idenya dalam wacana itu sehingga pembaca dapat memahami kata-kata kiasan yang digunakan.

  b. Aspek psikologis Perkembangan psikologis dari taraf anak menuju kedewasaan melewati tahap-tahap yang dapat dipelajari. Dalam memilih bahan pembelajaran sastra, tahap-tahap ini harus diperhatikan. Tahap perkembangan psikologis anak sangat besar pengaruhnya terhadap minat dan keengganan anak didik dalam banyak hal. Tahap ini pun berpengaruh terhadap daya ingat, kemauan mengerjakan tugas, kesiapan bekerja sama dan kemungkinan memahami perkembangan psikologis yang penting diperhatikan oleh guru untuk memahami psikologi anak-anak sekolah dasar dan menengah (Rahmanto, 1993:30). Empat tahap perkembangan psikologis tersebut adalah sebagai berikut.

  a) Tahap pengkhayal (8 sampai 9 tahun) Pada tahap ini imajinasi anak-anak belum banyak diisi dengan hal-hal yang nyata tetapi masih penuh dengan fantasi kekanak-kanakan.

  b) Tahap romantik (10 sampai 12 tahun) Anak mulai meninggalkan fantasi dan berpikir mengarah ke realitas.

  Meski pandangan ke dunia ini masih sangat sederhana. Anak-anak mulai menyenangi cerita kepahlawanan, petualangan bahkan kejahatan.

  c) Tahap realistik (13 sampai 16 tahun) Pada tahap ini anak mulai terlepas dari dunia fantasi. Mereka sangat berminat pada realitas atau apa yang benar-benar terjadi. Mereka terus berusaha mengetahui dan siap mengikuti dengan teliti fakta-fakta untuk memahami masalah-masalah dalam kehidupan nyata.

  d) Tahap generalisasi (16 tahun ke atas) Pada tahap ini anak mulai tidak lagi hanya berminat pada hal-hal yang praktis saja tetapi juga berminat untuk menemukan konsep-konsep abstrak dengan menganalisis suatu fenomena yang ada. Mereka berusaha menemukan dan merumuskan penyebab utama fenomena itu dan terkadang mengarah kepada pemikiran filsafat untuk menentukan keputusan-keputusan moral.

  Karya sastra dipilih untuk diajarkan hendaknya sesuai dengan tahap antara tahap realistik dan generalisasi. Tentu saja tidak semua siswa dalam satu kelas mempunyai tahap psikologis yang sama. Walaupun demikian guru harus berusaha untuk menyajikan karya sastra yang setidak-tidaknya secara psikologis dapat menarik minat sebagian besar siswa dalam kelas itu.

  c. Aspek latar belakang budaya Aspek latar belakang budaya meliputi hampir semua faktor kehidupan manusia dan lingkungan geografi, seni, olahraga, legenda, moral dan etika.

  Biasanya siswa akan mudah tertarik pada karya-karya sastra yang berlatar belakang budaya yang erat dengan kehidupan mereka. Karya sastra yang disajikan hendaknya tidak terlalu menuntut gambaran di luar jangkauan kemampuan pembayangan yang dimiliki para siswa. Banyak hal tuntutan semacam ini baik tuntutan itu mencerminkan adanya kesadaran bahwa karya sastra hendaknya menghadirkan sesuatu yang erat berhubungan dengan kehidupan siswa. Selain itu, pemahaman terhadap budaya sendiri mutlak dilakukan sebelum kita mengenal dan memahami budaya luar (Rahmanto, 1993: 32).

2.5.3 Aspek Pendidikan Karakter

  Karya sastra (drama) yang akan digunakan sebagai bahan ajar hendakanya melalui proses pemilihan. Perkembangan drama banyak menunjukkan peningkatan dari segi kuantitatif dan segi kualitatif dengan beragam tema yang diangkat. Guru memegang peranan penting dalam pemilihan bahan ajar beberapa hal, yakni dari segi diksi, latar belakang budaya dan perkembangan psikologi siswa SMA. Selain itu, materi yang diajarkan harus mampu memberikan pembelajaran dan pengalaman yang bermanfaat bagi peserta didik. sehingga pembelajaran sastra tidak hanya membentuk kecerdasan peserta didik dalam mengapresiasi sastra akan tetapi juga membentuk siswa yang berkarakter.

  UU Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas)

  Pasal 3 menyatakan bahwa pendidikan berfungsi mengembangkan kemampuan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermartabat dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa bertujuan mengambangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab (Aqib, 2011:40). Tercapainya tujuan dibuatnya undang-undang tersebut sangat erat hubungannya dengan tugas guru sebagai pendidik. Seorang guru membantu para peserta didik agar membentuk karakter dalam dirinya yang mempersyaratkan adanya pendidikan moral dan pendidikan nilai. Sejak tahun 2010, pemerintah melalui Kementerian Pendidikan Nasional mencanangkan penerapan pendidikan karakter bagi semua tingkat pendidikan, baik sekolah dasar sampai perguruan tinggi. Pendidikan karakter adalah sebuah sistem yang menanamkan nilai-nilai karakter pada peserta didik yang mengandung tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai, baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan, maupun bangsa sehingga akan terwujud insan kamil (Aunillah, 2011:18).

  Dunia pendidikan dinilai hanya mampu melahirkan lulusan-lulusan dengan tingkat intelektualitas yang memadai. Kurikulum pendidikan sekarang ini hamper tidak memberi porsi penanaman empati, rasa dan pengolahan hati di kalangan siswa. Semua cenderung mementingkan akademik (Kompas, 28 September 2012). Banyak lulusan sekolah dan sarjana yang piawai dalam menjawab soal ujian, berotak cerdas tetapi penakut dan mentalnya lemah serta berprilaku tidak terpuji diakses pada 4 Oktober 2012).

  Pada hakikatnya pendidikan dilaksanakan bukan sekedar untuk mengejar nilai-nilai melainkan memberikan pengarahan kepada peserta didik agar dapat bertindak dan bersikap benar sesuai dengan kaidah-kaidah dan spirit keilmuan yang dipelajarai (Syafinuddin dalam Aunillah, 2011:10). Berdasarkan hal tersebut dapat disimpulkan bahwa pendidikan dilaksanakan tidak hanya untuk melahirkan generasi-generasi cerdas namun sekaligus generasi yang berbudi luhur yang merupakan cerminan dari kecerdasan itu sendiri. Untuk itu pendidikan karakter sangat dibutuhkan untuk membentuk kepribadian dan watak peserta didik hingga menjadi pribadi yang bermoral. Pendidikan karakter adalah sebuah sistem yang menanamkan nilai-nilai kesadaran individu, tekad serta adanya kemauan dan tindakan untuk melaksanakan nilai-nilai, baik terhadap Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia, lingkungan maupun bangsa sehingga akan terwujud insan kamil (Aunillah, 2011:18). Pendidikan karakter merupakan upaya yang dilakukan oleh guru yang mampu menstimulus karakter peserta didik. Guru membantu membentuk watak peserta didik agar memiliki budi pekerti luhur.

  Pendidikan karakter memiliki esensi yang sama dengan pendidikan moral atau akhlak. Dalam penerapan pendidikan karakter faktor yang harus dijadikan sebagai tujuan adalah terbentuknya kepribadian peserta didik supaya menjadi manusia yang baik.

  Seseorang dianggap memiliki karakter baik apabila ia mempunyai pengetahuan yang mendalam tentang potensi dirinya serta mampu mewujudkan potensi itu dalam sikap dan tingkah lakunya. Adapun ciri yang dapat dicermati pada seseorang yang mampu memanfaatkan potensi dirinya adalah terpupuknya sikap-sikap terpuji, seperti jujur, percaya diri, bersikap kritis, analitis, peduli, kreatif-inovatif, mandiri, bertanggung jawab, sabar, berhati-hati, tegas, rela berkorban, berani, rendah hati, bekerja keras, disiplin, mampu mengendalikan diri, sportif, tekun, ulet, berhati lembut. Para peserta didik yang disebut berkarakter baik adalah mereka yang selalu berusaha melakukan hal-hal yang terbaik terhadap Tuhan Yang Maha Esa, diri sendiri, sesama manusia dan lingkungan dengan mengoptimalkan potensi (pengetahuan) dirinya disertai dengan kesadaran, emosi dan motivasi (perasaan) (Aunillah, 2011:21).

  Berdasarkan hal yang telah diuraikan di atas, secara garis besar karya sastra (drama) yang hendak dijadikan bahan ajar bagi peserta didik hendaknya berisikan pengetahuan, keterampilan dan sikap atau nilai yang harus dipelajari siswa. Dalam hal ini peran guru SMA dalam pemilihan bahan ajar sastra akan menentukan pencapaian keberhasilan siswa. Keberhasilan yang dimaksud bukan hanya keberhasilan membentuk kecerdasan peserta didik dalam mengapresiasi sastra akan tetapi juga membentuk karakter/watak peserta didik sehingga menjadi pribadi yang bermoral. Kejelian guru dalam memilih naskah drama yang akan dijadikan bahan ajar sastra sangatlah dibutuhkan.

  Naskah drama Dapur ini diharapkan dapat menggugah semangat dan memotivasi siswa melalui penokohannya. Melalui penokohan ini, siswa diharapkan dapat meneladani ciri-ciri tokoh yang bernilai moral baik (positif) dan tidak mengikuti watak tokoh yang bernilai moral tidak baik (negatif) yang digambarkan melalui sikap dan tingkah laku tokoh dalam berinteraksi dengan lingkungan disekitarnya maupun dalam menghadapai masalah dalam kehidupannya. Begitu pula dengan pengaluran dalam naskah drama. Melalui pengaluran naskah drama, para siswa dapat memperoleh pemahaman tentang alur yang baik yang dipakai pengarang untuk menceritakan isi dari drama tersebut. Alur yang baik adalah alur yang memiliki kausallitas sesama peristiwa yang ada di dalam naskah.

III. METODE PENELITIAN

  3.1 Metode Penelitian

Dokumen yang terkait

PENOKOHAN DAN ALUR DALAM NASKAH DRAMA DAPUR KARYA FITRI YANI DAN KELAYAKANNYA SEBAGAI BAHAN AJAR SASTRA DI SEKOLAH MENENGAH ATAS

3 52 52

CIRI-CIRI KAPITALISTIK PADA NOVEL TANAH TABU KARYA ANINDITA S. THAYF DAN KELAYAKANNYA TERHADAP BAHAN AJAR SASTRA DI SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA)

2 10 12

KONFLIK DALAM NOVEL 5 CM KARYA DONNY DHIRGANTORO DAN KELAYAKANNYA SEBAGAI BAHAN AJAR SASTRA INDONESIA DI SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA)

9 122 151

KONFLIK DALAM NOVEL DAUN PUN BERZIKIR KARYA TAUFIQURRAHMAN AL AZIZY DAN KELAYAKANNYA SEBAGAI BAHAN AJAR SASTRA DI SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA)

14 136 51

NILAI-NILAI PENDIDIKAN KARAKTER NOVEL PADANG BULAN KARYA ANDREA HIRATA DAN KELAYAKANNYA SEBAGAI BAHAN AJAR SASTRA INDONESIA DI SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA)

3 47 21

KONFLIK DALAM NOVEL 5 CM KARYA DONNY DHIRGANTORO DAN KELAYAKANNYA SEBAGAI BAHAN AJAR SASTRA INDONESIA DI SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA)

25 597 37

CITRA PEREMPUAN DALAM ROMAN GADIS PANTAI KARYA PRAMOEDYA ANANTA TOER DAN KELAYAKANNYA SEBAGAI BAHAN AJAR SASTRA DI SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA)

4 43 54

GAYA BAHASA RETORIS DAN KIASAN DALAM NOVEL NEGERI DI UJUNG TANDUK KARYA TERE LIYE DAN KELAYAKANNYA SEBAGAI BAHAN AJAR SASTRA INDONESIA DI SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA)

21 166 81

CITRA PEREMPUAN DALAM NOVEL IBUK KARYA IWAN SETYAWAN DAN KELAYAKANNYA SEBAGAI BAHAN AJAR SASTRA DI SMA

4 20 51

NASKAH DRAMA SENJA DENGAN DUA KELELAWAR KARYA KRIDJOMULYO: KAJIAN PSIKOLOGI SASTRA DAN RELEVANSINYA SEBAGAI BAHAN AJAR APRESIASI DRAMA DI SEKOLAH MENENGAH ATAS

0 2 18

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

103 3194 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

37 803 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

36 714 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

16 465 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

25 618 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

53 1063 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

53 969 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

15 586 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

24 851 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

35 1056 23