Performa Domba Jonggol dan Domba Garut Jantan dengan Ransum Komplit Mengandung Indigofera sp. dan Limbah Tauge.

PERFORMA DOMBA JONGGOL DAN DOMBA GARUT
JANTAN DENGAN RANSUM KOMPLIT MENGANDUNG
INDIGOFERA sp. DAN LIMBAH TAUGE

SKRIPSI
ABDUL FARID

DEPARTEMEN ILMU PRODUKSI DAN TEKNOLOGI PETERNAKAN
FAKULTAS PETERNAKAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2012

RINGKASAN
ABDUL FARID. D14096000. 2012. Performa Domba Jonggol dan Domba Garut
Jantan dengan Ransum Komplit Mengandung Indigofera sp. dan Limbah
Tauge. Skripsi. Program Studi Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas
Peternakan, Institut Pertanian Bogor.
Pembimbing Utama
: Ir. Sri Rahayu, M.Si
Pembimbing Anggota : Prof. Dr. Ir. Dewi Apri Astuti, MS.

Domba Jonggol dan domba Garut merupakan domba lokal yang telah
berkembang dan beradaptasi yang baik terhadap lingkungan sekitar. Pakan utama
domba adalah hijauan, namun untuk pertumbuhan yang baik pemberian hijauan saja
belum dapat mencukupi kebutuhan nutrisi domba sehingga harus ditambahkan pakan
penguat seperti konsentrat. Konsentrat memiliki kelemahan yaitu harganya yang
relatif mahal. Bahan pakan yang kemungkinan dapat digunakan sebagai bahan pakan
alternatif sumber serat dan protein adalah Indigofera sp. dan limbah tauge.
Indigofera sp. adalah hijauan legum yang mempunyai kandungan protein yang tinggi
(25,99%), sedangkan limbah tauge mengandung serat kasar (38,50%) dan protein
(14,42%). Penelitian ini bertujuan mengkaji performa domba Jonggol dan domba
Garut jantan yang diberi pakan berbasis legum Indigofera sp. dan limbah tauge.
Penelitian ini dilaksanakan selama 6 bulan (bulan April s.d. September) pada
tahun 2011 di Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor. Ternak yang digunakan
sebanyak 32 ekor domba yang terdiri dari 16 ekor domba Jonggol (8 ekor berumur 3
bulan (balibu) dan 8 ekor berumur 8 bulan (Sepubu) dengan masing-masing rataan
bobot badan 9,9±1,4 kg dan 13,6±0,6 kg) dan 16 ekor domba Garut (8 ekor berumur
3 bulan (balibu) dan 8 bulan (Sepubu) dengan masing-masing rataan bobot badan
9,8±1,1 kg dan 14,9±1,1 kg). Pakan yang diberikan dalam bentuk pellet dengan
sumber hijauan berasal dari limbah tauge dan legum Indigofera sp., masing-masing
diberikan 30%. Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap pola faktorial
2x2x2. Faktor pertama adalah bangsa domba (domba Jonggol dan domba Garut),
faktor kedua adalah umur domba (Balibu dan Sepubu) dan faktor ketiga adalah jenis
ransum (Indigofera sp. dan limbah tauge). Peubah yang diamati yaitu Pertambahan
Bobot Badan Harian (PBBH), konsumsi bahan kering ransum, konsumsi air minum,
efisiensi ransum, suhu dan kelembaban, dan IOFC. Data dianalisis dengan sidik
ragam (ANOVA), jika perlakuan berpengaruh nyata terhadap peubah yang diamati
maka dilakukan uji banding dengan menggunakan Uji Duncan.
Pertambahan Bobot Badan Harian (PBBH) dan konsumsi Bahan Kering (BK)
ransum memiliki interaksi yang nyata (P<0,05). Pertambahan bobot badan harian
domba Garut Sepubu dengan ransum limbah tauge (153,57±24 g/e/h) dan domba
Jonggol Balibu dengan ransum limbah tauge (145±19 g/e/h) memiliki PBBH yang
tinggi dan berbeda nyata dengan domba garut Sepubu dengan ransum Indigofera sp.
(99±38 g/e/h), namun tidak berbeda dengan domba Jonggol Balibu dengan ransum
Indigofera sp. (123±16 g/e/h), domba Jonggol Sepubu dengan ransum Indigofera sp.
(136±12 g/e/h) maupun ransum limbah tauge (127±21 g/e/h), domba Garut Balibu
dengan ransum Indigoferasp. (138±5,3 g/e/h) maupun ransum limbah tauge (127±21
g/e/h). Konsumsi BK ransum domba Garut Sepubu dengan ransum limbah tauge
memiliki konsumsi yang paling tinggi (873,93±132,67 g/e/h), namun berbeda dengan
konsumsi BK ransum domba Jonggol Balibu dan domba Jonggol Sepubu dengan

ransum Indigofera sp. (484,93±81,50 g/e/h dan 668,13±40,72 g/e/h) maupun limbah
tauge (629,92±71,21 g/e/h dan 753,09±57,24 g/e/h) dan domba garut Balibu dengan
ransum Indigofera sp. (629,99±15,76 g/e/h) maupun limbah tauge (678,15±53,47
g/e/h). Efisiensi ransum nyata dipengaruhi faktor jenis domba dan umur domba,
namun faktor ransum dan interaksinya tidak berbeda nyata. Nilai efisiensi ransum
pada domba Jonggol memiliki nilai yang tinggi yaitu 0,19±0,03 daripada nilai
efisiensi ransum pada domba Garut (0,16±0,03). Pada domba Balibu memiliki
efisiensi ransum yang lebih tinggi yaitu 0,19±0,03 daripada domba Sepubu
(0,16±0,03). Konsumsi air minum sangat nyata dipengaruhi oleh faktor jenis domba,
faktor ransum dan faktor umur domba, namun interaksinya tidak berpengaruh nyata.
Konsumsi air minum domba yang diberi ransum limbah tauge (2104,91±365,97 ml)
lebih tinggi daripada domba yang diberi ransum Indigofera sp. (1645,81±249,93 ml).
Konsumsi air minum pada domba Garut (2032,32±338,84 ml) lebih tinggi daripada
konsumsi air minum domba Jonggol (1718,40±376,09 ml). Domba Sepubu
mengkonsumsi air minum (2017,78±359,36 ml) lebih banyak dibandingkan domba
Balibu (1732,95±369,33 ml).
Dari hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa domba Jonggol dengan
domba Garut dan domba Balibu dengan domba Sepubu menghasilkan pertambahan
bobot badan harian (PBBH) yang sama. Domba Jonggol dan domba Balibu lebih
efisiensi dalam penggunaan ransum yang dikonsumsi menjadi bobot badan.
Konsumsi ransum limbah tauge lebih tinggi daripada ransum Indigofera sp. hal ini
menunjukkan bahwa ransum limbah tauge lebih palatabel, selain palatabel limbah
tauge mudah didapatkan.
Kata-kata kunci : Performa, domba Jonggol, domba Garut, Indigofera sp., limbah
tauge

ABSTRACT
The Performance of Jonggol Sheep and Garut Sheep with Complete Feed on
Indigofera sp. and Bean Sprout Waste
Farid, A., S. Rahayu, and D. A. Astuti
Sheep is one of the potential livestock as meat producer. The performance of local
sheep is still low caused by lag of nutrition. The aim of this research was to increase
performance production of local sheep through improvement of feed management
using Indigofera sp and bean sprout waste. This research used 32 local sheep
consisted of 16 Jonggol sheep : 8 fat lamb (9.9±1.4 kg) and 8 yearling (13.6±0.6 kg)
and 16 Garut sheep : 8 fat lamb (9.8±1.1 kg) and yearling (14.9±1.1 kg). The rations
were pellet of complete feed containing 30% of Indigoferasp. (R1) and 30% of bean
sprout waste (R2).The experimental design was Completely Randomized Design
with factorial 2x2x2. First factor was breed (Jonggol and Garut), second factor was
age (fat lamb and yearling) and third factor was ration (Indigofera sp. as R1 and
bean sprout waste as R2). Parameter measured were ADG, DM consumption, water
consumption, feed eficiency, and income over feed cos (IOFC). The result showed
that ADG and DM consumption have interaction effect among the main factors. That
ADG of mature Garut sheep fed by bean sprout waste (153.57±24 g/d) and fat lamb
Jonggol sheep fed by Indigofera sp. (145±19 g/d) were the highest, while the lowest
one was in yearling fed by Indigofera sp. (99±38 g/d). Dry matter consumption of
yearling Garut sheep with R2 (873±132.67 g/d) was the highest (P<0.05), while the
lowest one was in fat lamb Jonggol sheep with R1 (484.93±81.50 g/d). Feed
eficiency of Jonggol sheep (0.19±0.03) was significant higher than Garut sheep and
fat lamb sheep were (0.19±0.03) was significant higher than yearling sheep. Water
consumption significantly (P<0.01) effect by breed, age and ration. Water consumed
sheep with R2 (2,104.91±365.97 ml/d) was higher than sheep with R1
(1,645.81±249.93 ml/d). Water consumed of Garut sheep (2,032.32±338.84 ml/d)
was higher than Jonggol sheep (1,718.40±376.09 ml/d), while water consumed
yearling sheep (2,017.78±359.36 ml/d) was higher than fat lamb sheep
(17,132.95±369,33 ml/d). the highest value of IOFC was in mature Garut sheep with
R2 (Rp. 1,642,700), while the lowest one was in yearling Jonggol with R1 (Rp.
876,400).
Keywords: Perfomance, Jonggol sheep, Garut sheep, feed, Indigofera sp., bean
sprout waste,

PERFORMA DOMBA JONGGOL DAN DOMBA GARUT
JANTAN DENGAN RANSUM KOMPLIT MENGANDUNG
INDIGOFERA sp. DAN LIMBAH TAUGE

ABDUL FARID
D14096000

Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk
memperoleh gelar Sarjana Peternakan pada
Fakultas Peternakan
Institut Pertanian Bogor

DEPARTEMEN ILMU PRODUKSI DAN TEKNOLOGI PETERNAKAN
FAKULTAS PETERNAKAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2012

Judul

: Performa Domba Jonggol dan Domba Garut Jantan dengan
Ransum Komplit Mengandung Indigofera sp. dan Limbah
Tauge.

Nama

: Abdul Farid

NIM

: D14096000

Menyetujui,
Pembimbing Utama

Pembimbing Anggota

Ir. Sri Rahayu, M.Si
NIP. 19570611 198703 2 001

Prof. Dr. Ir. Dewi Apri Astuti, MS
NIP. 19611005 198503 2 001

Mengetahui,
Ketua Departemen
Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan

Prof. Dr. Ir. Cece Sumantri, M.Agr.Sc
NIP. 19591212 198603 1 004

Tanggal Ujian : 30 April 2012

Tanggal Lulus :

RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan di Kota Kediri pada tanggal 09 Juni 1988.Penulis
merupakan anak kedua dari tiga bersaudara dari pasangan Bapak Abdul Rochim dan
Ibu Zulaichah. Penulis melaksanakan pendidikan dasar di SDN 1 Pare dan berhasil
menyelesaikan pada tahun 2000, kemudian melanjutkan sekolah ditingkat pertama
yaitu SMPN 4 Pare dan lulus pada tahun 2003. Penulis melanjutkan sekolah
menengah atas di SMAN 1 Pare dan lulus pada tahun 2006. Pada tahun 2006 penulis
diterima sebagai mahasiswa Diploma Institut Pertanian Bogor (IPB) pada program
keahlian Teknologi dan Manajemen Ternak melalui jalur USMI dan lulus pada tahun
2009. Penulis melanjutkan pendidikan Sarjana di IPB pada program Alih Jenis
Peternakan dengan jurusan Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan (IPTP),
Fakultas Peternakan, Institut Pertania Bogor.
Selama menjadi mahasiswa, penulis pernah mengikuti Praktik Kerja Lapang I
selama 1,5 bulan di PT. Intertama Trikencana Bersinar, Jakarta Timur yang bergerak
di bidang ayam broiler, dan Praktik Kerja Lapang II selama 3 bulan di PT.
Greenfields Indonesia, Malang yang bergerak di bidang sapi perah.

KATA PENGATAR
Bismillahirrahmannirrahim
Alhamdulillahi rabbil’alamin, puji syukur penulis panjatkan kepada Tuhan
semesta alam Allah SWT atas karunia dan rahmat-Nya sehingga penulis dapat
menyelesaikan studi, penelitian, seminar dan penyusunan skripsi ini. Skripsi yang
berjudul “Performa Domba Jonggol dan Domba Garut Jantan dengan Ransum
Komplit Mengandung Indigoferasp. dan Limbah Tauge” ditulis berdasarkan hasil
penelitian yang dilakukan penulis mulai bulan April hingga September 2011 di
Laboratorium Lapang Ruminansia Kecil blok B kampus IPB Darmaga.
Domba Jonggol dan domba Garut merupakan sumber daya ternak yang
dimiliki bangsa Indonesia, yang sangat berpotensi sebagai penghasil daging yang
baik, namun kendalanya adalah ketersediaan dan kualitas pakan hijauan yang
terbatas. Salah satu bahan pakan yang kemungkinan dapat digunakan sebagai pakan
alternatif sumber serat dan protein yang murah adalah Indigofera sp. dan limbah
tauge.
Indigofera sp. adalah salah satu hijauan makanan ternak yang mempunyai
kualitas yang cukup tinggi. Legum Indigoferasp. memiliki kandungan protein yang
tinggi (25,99%) dan serat kasar (30,51%). Limbah tauge mengandung serat kasar
(38,40%) yang tinggi dengan kandungan protein kasar (14,42%) dengan harga yang
lebih murah dan mudah didapatkan. Potensi limbah tauge di Kota Bogor berkisar
antara 1,5 ton/hari. Oleh sebab itu penulis ingin meneliti dari hijauan tersebut.
Penulis menyadari masih banyak kekurangan dalam penyusunan skripsi ini.
Penulis sangat mengharapkan kritik dan saran atas skripsi ini. Penulis juga
mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah terlibat. Semoga
skripsi ini dapat memberikan manfaat dan informasi bagi pembaca.

Bogor, Mei 2012

Penulis

vii

DAFTAR ISI
Halaman
RINGKASAN ..................................................................................................

i

ABSTRACT.....................................................................................................

iii

RIWAYAT HIDUP .........................................................................................

vii

KATA PENGATAR ........................................................................................

vii

DAFTAR ISI....................................................................................................

viii

DAFTAR TABEL............................................................................................

x

DAFTAR GAMBAR .......................................................................................

xi

DAFTAR LAMPIRAN....................................................................................

xii

PENDAHULUAN ...........................................................................................

1

Latar Belakang .......................................................................................
Tujuan .....................................................................................................

1
1

TINJAUAN PUSTAKA ..................................................................................

2

Domba Lokal ..........................................................................................
Domba Jonggol.......................................................................................
Domba Garut ..........................................................................................
Pertumbuhan Domba ..............................................................................
Pertambahan Bobot Badan .....................................................................
Pakan ......................................................................................................
Limbah Tauge ...............................................................................
Legume Indigofera sp. ..................................................................
Konsumsi Pakan .....................................................................................
Konsumsi Air Minum .............................................................................
Efisiensi Pakan .......................................................................................
Income Over Feed Cost (IOFC) .............................................................

2
3
3
3
4
6
6
8
9
10
10
11

MATERI DAN METODE ...............................................................................

12

Lokasi dan Waktu ...................................................................................
Materi .....................................................................................................
Ternak ...........................................................................................
Pakan .............................................................................................
Kandang dan Peralatan .................................................................
Prosedur ..................................................................................................
Persiapan Pemeliharaan ................................................................
Pemeliharaan .................................................................................
Rancangan dan Analisa Data ..................................................................
Model ............................................................................................
Analisis Data .................................................................................
Peubah yang Diamati ....................................................................

12
12
12
12
13
13
13
14
14
14
15
15

HASIL DAN PEMBAHASAN .......................................................................

17

viii

Keadaan Umum Penelitian .....................................................................
Pertambahan Bobot Badan Harian (PBBH) ...........................................
Konsumsi Bahan Kering Ransum ..........................................................
Efisiensi Ransum ....................................................................................
Konsumsi Air Minum .............................................................................
Income Over Feed Cost (IOFC) .............................................................

17
18
20
21
23
24

KESIMPULAN DAN SARAN .......................................................................

26

Kesimpulan .............................................................................................
Saran .......................................................................................................

26
26

UCAPAN TERIMA KASIH ...........................................................................

27

DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................

28

LAMPIRAN.....................................................................................................

32

ix

DAFTAR TABEL
Nomor

Halaman

1. Kandungan Nutrisi Limbah Tauge ......................................................

7

2. Kandungan Nutrisi Legum Indigofera sp. ..........................................

8

3. Hasil Analisa Proksimat Ransum Penelitian. ......................................

12

4. Rataan Suhu dan Kelembaban Udara di Lokasi Kandang blok B ..... .

17

5. Rataan Pertambahan Bobot Badan Harian Domba. ............................

18

6. Rataan Konsumsi Bahan Kering Ransum ...........................................

20

7. Rataan Efisiensi Ransum.....................................................................

22

8. Rataan Konsumsi Air Minum .............................................................

23

9. Rataan Perhitungan IOFC Domba Selama Penggemukan ..................

25

x

DAFTAR GAMBAR
Nomor

Halaman

1. Limbah Tauge Segar (kiri) dan Limbah Tauge Kering (kanan) .........

7

2. Indigofera sp. segar (kiri) dan Indigofera sp. kering (kanan) .............

9

3. Pellet Indigofera sp. (kiri) dan Pellet Limbah Tauge (kanan) ............

13

4. Kandang Individu ................................................................................

13

5. Grafik Perkembangan PBBH Domba .................................................

19

6. Grafik Rataan Konsumsi Bahan Kering Ransum ................................

21

xi

DAFTAR LAMPIRAN
Nomor

Halaman

1.

Hasil Sidik Ragam PBBH Domba .......................................................

33

2.

Hasil Sidik Ragam Konsumsi BK Domba ...........................................

33

3.

Hasil Sidik Ragam Efisiensi Ransum Domba......................................

33

4.

Hasil Sidik Ragam Konsumsi Air Minum Domba ..............................

34

5.

Penempatan Ternak di Kandang Individu ............................................

35

xii

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Domba Jonggol dan domba Garut merupakan domba lokal yang telah
berkembang dan mempunyai tingkat daya adaptasi yang baik terhadap lingkungan
sekitar. Domba di Indonesia pada umumnya memiliki produktivitas yang rendah, hal
ini disebabkan diantaranya yang terpenting adalah pakan yang diberikan kualitas dan
kuantitasnya masih rendah.
Pada umumya peternak memelihara ternaknya masih sederhana, yaitu dengan
digembalakan atau dipelihara dikandang dengan memberikan pakan rumput atau
hijauan lainnya. Pemberian rumput saja belum dapat mencukupi kebutuhan ternak
secara maksimal, sehingga ternak diberi pakan penguat seperti konsentrat. Pemberian
konsentrat dapat meningkatkan produktivitas domba.
Penggunaan pakan konsentrat pada umumnya menghasilkan pertumbuhan
bobot badan harian (PBBH) domba yang optimal, jika dibandingkan dengan
penggunan hijauan Konsentrat memiliki kelemahan yaitu harganya yang relatif
mahal. Salah satu bahan pakan yang kemungkinan dapat digunakan sebagai pakan
alternatif sumber serat dan protein yang murah adalah Indigofera sp. dan limbah
tauge.
Indigofera sp adalah salah satu hijauan makanan ternak yang mempunyai
kualitas yang tinggi. Legum Indigofera sp. memiliki kandungan protein yang tinggi
(24,17%), dan serat kasar (30,51%) toleran terhadap musim kering, genangan air,
dan tahan terhadap salinitas (Hassen et al.,2007). Limbah tauge merupakan limbah
pasar dari produksi tauge yang terbuang. Limbah tauge mengandung protein kasar
(14,42%) serat kasar (38,50%), limbah tauge tersebut mudah didapat dan harganya
yang murah. Potensi limbah tauge di Kotamadya Bogor berkisar antara 1,5ton/hari
(Rahayu et al, 2010). Dengan demikian perlu pengkajian tentang penggunaan
Indigofera sp. dan limbah tauge terhadap performa domba Jonggol dan domba Garut.
Tujuan
Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengkaji performa (PBBH, konsumsi
BK, konsumsi air minum, efisiensi ransum, IOFC) domba Jonggol dengan domba
Garut, domba Balibu dengan domba Sepubu jantan dan penggunaan Indigofera sp.
dengan limbah tauge dalam ransum komplit.
1

TINJAUAN PUSTAKA
Domba Lokal
Ternak domba merupakan salah satu ruminansia kecil yang banyak dipelihara
oleh masyarakat di Indonesia terutama di daerah pedesaan dan umumnya berupa
domba-domba lokal. Domba lokal merupakan berbagai jenis domba yang sudah lama
dibudidayakan secara turun-temurun di suatu wilayah dan sudah beradaptasi dengan
baik pada lingkungan setempat. Domba lokal memiliki ukuran yang relatif kecil,
warna bulu yang seragam, ekor kecil dan tidak terlalu panjang, domba mempunyai
perdagingan sedikit (Sumoprastowo 1987).
Jenis domba yang terdapat di Indonesia menurut Iniguez et al. (1991)
berjumlah tiga jenis yaitu jawa ekor tipis, jawa ekor gemuk dan Sumatra ekor tipis.
Inounu dan Diwyanto (1996) mengemukakan bahwa terdapat dua tipe domba yang
paling menonjol di Indonesia yaitu domba ekor tipis dan domba ekor gemuk dengan
perbedaan galur dari masing-masing tipe. Domba lokal terdiri dari atas dua bagian
yaitu domba ekor tipis dan domba ekor gemuk (Subandriyo dan Djajanegara, 1996).
Domba lokal yang terdapat dalam Sumoprastowo (1987) mempunyai
perdagingan sedikit dan disebut juga domba kampung atau domba negeri.
Karakteristik domba lokal diantaranya bertubuh kecil, lambat dewasa, berbulu kasar,
warna bulunya bermacam-macam dan hasil daging relatif sedikit (Murtidjo, 1993),
dengan rata-rata bobot potong 20 kg (Edey, 1983). Pendapat lain menyatakan bahwa
bobot badan dewasa dapat mencapai 30-40 kg pada jantan dan betina 20-25 kg
dengan persentase karkas 44-49% (Tiesnamurti, 1992).
Sifat lain dari domba lokal tampak dari warna bulu umumnya putih dengan
bercak hitam sekitar mata, hidung dan bagian lainnya (Edey, 1983; Mulyaningsih,
1990; Devendra dan McLeroy, 1982). Selain memiliki bentuk tubuh yang ramping,
pola warna bulu sangat beragam dari bercak putih, coklat, hitam atau warna polos
putih dan hitam (Tiesnamurti, 1992). Ekor pada domba lokal umumnya pendek
(Devendra dan McLeroy, 1982), bentuk tipis dan tidak menimbulkan adanya
timbunan lemak (Mulyaningsih, 1990). Ukuran panjang ekor rata-rata 19,3 cm, lebar
pangkal ekor 5,6 cm dan tebal 2,7 cm (Tiesnamurti, 1992). Domba lokal jantan
mempunyai tanduk yang kecil sedangkan betina biasanya tidak bertanduk (Edey,
1983; Devendra dan McLeroy, 1982).

2

Domba Jonggol
Domba Jonggol dapat dikatagorikan kedalam salah satu jenis domba lokal
karena sudah dibudidayakan di Lingkungan Unit Pendidikan dan Penelitian
Peternakan Jonggol (UP3J) sejak tahun 1980. Domba Jonggol merupakan hasil
persilangan secara acak domba ekor tipis setempat dengan domba Garut atau
priangan dan dipelihara dengan sistem penggebalaan. Domba Jonggol sudah
terseleksi untuk lingkungan panas dan kering (Sumantri et al. 2007).
Domba Jonggol rata-rata mempunyai performa produksi yang lebih baik
dibandingkan domba lokal lainnya. Sumantri et al. (2007) melaporkan bahwa domba
Jonggol mempunyai bobot tubuh dewasa sebesar 34,9 kg untuk jantan dan 26,1 kg
untuk betina, namun bobot tubuh tersebut hampir sama dengan bobot dewasa domba
Sumbawa (jantan 33,8 kg dan betina 26,9 kg). Bobot tubuh dewasa domba Jonggol
tersebut lebih tinggi bila dibandingkan dengan bobot tubuh dewasa sejumlah domba
lokal lainnya, seperti : Domba Donggala (jantan 24,0kg dan betina 25,3 kg), domba
Kisar (jantan 25,8 kg dan betina 18,9 kg), dan domba Rote (jantan 27,9 kg dan
betina18,9 kg).
Domba Garut
Domba Garut adalah nama lain yang lebih populer dari domba Priangan
(Natasasmitha et al. 1986) yang diperkirakan berasal dari persilangan antara domba
lokal, domba Merino, dan domba ekor gemuk dari Afrika Selatan (Sosroamidjojo
dan Saeradji, 1990). Domba Garut banyak terdapat di daerah Jawa Barat, terutama di
daerah Garut sehingga disebut juga domba Garut. Domba Garut betina umumnya
tidak bertanduk sedangkan yang jantan bertanduk.
Hardjosubroto (1994) menyatakan domba Garut mempunyai ciri-ciri
berbadan agak besar, lebar dengan leher yang kuat, biasa digunakan sebagai domba
aduan, domba Garut juga merupakan salah satu domba yang mempunyai angka
produktivitas yang tinggi
Pertumbuhan Domba
Pertumbuhan adalah perubahan ukuran yang meliputi perubahan berat
hidup,bentuk, dimensi linier dan komposisi tubuh, termasuk perubahan komponenkomponen tubuh seperti otot, lemak, protein dan abu pada karkas (Soeparno, 1992).
Faktor genetik dan lingkungan mempengaruhilaju pertumbuhan. Mulliadi (1996)

3

melaporkan bahwa keragaman ukuran tubuh pada ternak dapat disebabkan kondisi
pemeliharaan, pengaruh pemberian pakan, kondisialat pencernaan dan keragaman
genetik. Soeparno (1992) menyatakan bahwa faktor lingkungan yang dapat
mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan hewan antara lain nutrisi, suhu,
kelembaban, keracunan, polusi dan penyakit.
Pertumbuhan semua hewan pada awalnya lambat dan meningkat dengan
cepat kemudian lambat pada saat hewan mendekati dewasa tubuh. Pertumbuhan
dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain faktor genetis atau faktor keturunan dan
faktor lingkungan seperti iklim dan manajemen pelaksanaan. Faktor keturunan lebih
membatasi kemungkinan pertumbuhan dan besarnya tubuh yang dapat dipakai.
Faktor lingkungan yaitu seperti pemberian pakan, pencegahan atau pemberantasan
penyakit serta tata laksana akan menentukan tingkat pertumbuhan dalam mencapai
kedewasaan (Sugeng, 2002). Aberle et al. (2001) menyatakan bahwa pertumbuhan
dapat dinilai sebagai peningkatan tinggi, panjang, ukuran lingkar dan bobot yang
terjadi pada seekor ternak muda yang sehat serta diberi pakan, minum dan mendapat
tempat berlindung yang layak.
Pertumbuhan umumnya diukur dengan berat dan tinggi. Domba muda
mencapai 75% bobot dewasa pada umur satu tahun dan 25% lagi setelah enam bulan
kemudian yaitu pada umur 18 bulan dengan pakan yang sesuai dengan
kebutuhannya. Tingkat pertumbuhan domba berkisar antara 20-200 gram/ hari.
Faktor-faktor penting yang mempengaruhi pertumbuhan domba antara lain tingkat
pakan, genetik, jenis kelamin, kesehatan, dan manajemen (Gatenby, 1991).
Pertumbuhan kambing dan domba adalah suatu hal yang kompleks, banyak faktor
yang mempengaruhinya antara lain genetik dan lingkungan. Faktor genetik lebih
membatasi kemungkinan pertumbuhan dan besarnya tubuh yang dicapai. Faktor
lingkungan seperti iklim, pakan, pencegahan atau pemberantasan penyakit serta tata
laksana akan menentukan tingkat pertumbuhan dalam pencapaian dewasa (Devendra
dan Burn, 1983).
Pertambahan Bobot Badan
Pertambahan bobot badan merupakan salah satu kriteria yang dapat
digunakan untuk mengevaluasi kualitas bahan makanan ternak, karena pertumbuhan
yang diperoleh dari suatu percobaan merupakan salah satu indikasi pemanfaatan zat–

4

zat makanan dari pakan yang diberikan. Dari data pertambahan bobot badan harian
akan diketahui nilai suatu bahan pakan ternak (Church and Pond 1995).
Thalib et al. (2000), menyatakan bahwa pertambahan bobot badan ternak
ruminansia sangat dipengaruhi oleh kualitas dan kuantitas pakan, maksudnya
penilaian pertambahan bobot badan ternak sebanding dengan ransum yang
dikonsumsi. Berat badan merupakan suatu kriteria pengukuran yang penting pada
seekor hewan dalam menetukan perkembangan pertumbuhannya, dan juga
merupakan salahsatu dasar pengukuran untuk produksi disamping jumlah anak yang
dihasilkan dalam menentukan nilai ekonominya (Jaya, 1981).
Pertambahan berat badan dipengaruhi oleh beberapa faktor yaitu total protein
yang diperoleh setiap harinya, jenis kelamin, umur, keadaan genetis, lingkungan,
kondisi setiap individu dan manajemen tata laksana. Bobot tubuh berfungsi sebagai
salah satu kriteria ukuran yang penting dalam menentukan pertumbuhan dan
perkembangan ternak. Selain itu, bobot tubuh juga berfungsi sebagai ukuran
produksi dan penentu ekonomi. Bobot tubuh seekor ternak dipengaruhi oleh bangsa
ternak, jenis kelamin, umur, jenis kelahiran, dan jenis pakan (National Research
Council, 1985).
Domba jantan muda mempunyai potensi untuk tumbuh lebih cepat daripada
domba betina muda, pertambahan bobot hidup lebih cepat, konsumsi pakan lebih
banyak dan penggunaan ransum lebih efisien untuk pertumbuhan badan (Anggorodi,
1990). Goodwin (1974) menyatakan bahwa pada semua hewan pertumbuhan pada
awalnya berlangsung lambat dan meningkat dengan cepat, kemudian kembali lebih
lambat pada saat hewan mendekati dewasa tubuh. Beberapa hasil penelitian
penggemukan domba dengan berbagai macam pakan yang berbeda dapat dilihat pada
Tabel 1.

5

Table 1. Pertambahan Bobot Badan Harian (PBBH) dari Berbagai Program
Penggemukan

Priangan Jantan

PBBH
(g/e/h)
64,99a
47b
89,28c
126,99d
117,86e

Waktu
(Minggu)
8
12
8
8
8

DEG
DEG Jantan
DEG Betina

90,16a
145,83f
28,2g

8
12
12

Domba
Domba Lokal
(DET)
DET Jantan

Keterangan :
a. Baliarti (1985)
b. Elia (2005)
c. Purnomo (2006)
d. Hasanah (2006)

Perlakuan
Rumput Lapang dan Bekatul
Brachiaria humidicola
50% Rumput Lapang+50% Ampas
Tahu
50% Rumput Lapang+50% Rumput
Gajah
Rumput Lapang dan Bekatul
50% Konsentrat + 50% Limbah Tauge
1,5 kg Rumput Alam + 0,5 kg Gamal
(Gliricidia sepium) + 0,2 kg dedak

e. Setyowati (2005)
f. Wandito (2011)
g. Munier et al., (2004)

Pakan
Pakan ternak ruminansia secara umum dapat dikelompokkan dalam dua jenis,
yaitu hijauan dan konsentrat.Hijauan adalah bahan makanan ternak yang berupa
rumpu-rumputan dan leguminosa. Hijauan memiliki kandungan serat kasar yang
tinggi pada bahan keringnya. Konsentrat adalah suatu bahan makanan dipergunakan
bersama bahan makanan lain untuk meningkatkan keserasian gizi dari keseluruhan
makanan dan dimaksudkan unuk disatukan dan dicampur sebagai suplemen
(pelengkap) atau makanan pelengkap (Hartadi et al., 1980).
Limbah Tauge
Limbah adalah produk sisa yang hampir tidak digunakan dari suatu kegiatan
pertanian (Judoamidjojoet al, 1989). Limbah tuge merupakan hasil sampingan dari
kacang hijau, kacang hijau memiliki kandungan nutrisi yang cukup tinggi dan
susunan asam aminonya mirip dengan asam amino kedelai. Kacang hijau memiliki
antinutrisi yang relatif tinggi. Salah satu pengurangan antinutrisi tersebut dengan cara
perendaman, perkecambahan, dan pemanasan (Belinda, 2009). Limbah tauge adalah
sisa produksi tauge terdiri dari kulit kacang hijau dan pecahan-pecahan tauge yang
dibawa dalam cucuian akhir pembuatan tauge segar yang tidak mempunyai nilai

6

ekonomi dan dapat mencemari lingkungan. Limbah tauge yang digunakan dalam
ransum dapat dilihat pada Gambar 1.

Gambar 1. Limbah Tauge Segar (kiri) dan Limbah Tauge Kering (kanan)
Limbah tauge pada umumnya menjadi limbah di pasar-pasar tradisional.
Belum banyak orang yang memanfaatkan kulit kecambah tauge, hanya sebagian
kecil orang yang memanfaatkan kulit kecambah tauge untuk campuran pakan itik.
Limbah tauge terdiri dari 70 % kulit kacang hijau (tudung tauge) sekitar dan 30%
pecahan-pecahan tauge yang diperoleh saat pengayakan. Potensi limbah tauge di
Kota Bogor berkisar antara 951-1426 kg/hari (Rahayu et al, 2010). Dari berbagai
jenis limbah organik pasar yang pernah digunakan dalam pengkajian tepung limbah
organik pasar, kulit tauge merupakan jenis limbah yang paling berpotensi untuk
dibuat menjadi tepung limbah. Kandungan nutrisi limbah tauge dapat dilihat pada
Tabel 1.
Tabel 1. Kandungan Nutrisi Limbah Tauge
Nutrisi
Bahan kering (%)
Abu (%)
Protein kasar (%)
Serat Kasar (%)
Lemak Kasar (%)
Beta-N (%)
Ca (%)
P (%)

Komposisi
87,94
2,64
14,42
38,50
0,21
32,17
0,86
0,41

Keterangan :Laboratorium Ilmu dan Teknologi Pakan (2011). Departemen Ilmu Nutrisi dan teknologi
Pakan, Institut Pertanian Bogor

Pengeringan dengan menggunakan sinar matahari hanya membutuhkan waktu
rata-rata 3 hari, limbah tauge memiliki kandungan nutrisi yang cukup tinggi. Kadar
air limbah tauge adalah 65-70% dan kandungan energi metabolis sebesar 3737

7

kcal/kg (Saenab, 2010). Potensi produksi tauge di daerah Bogor mencapai sekitar 6,5
ton/hari, sehingga potensi limbah tauge cukup tinggi yaitu sekitar 1,5 ton/hari
(Rahayu et al, 2010). Dengan melihat kandungan nutrisi dan potensi limbah tauge
yang cukup relatif tinggi, maka limbah tauge kemungkinan digunakan sebagai salah
satu bahan pakan ternak domba. Wandito (2011) menyatakan penggunaan 50%
limbah tauge dalam ransum domba dengan kandungan protein kasar (PK) sebesar ±
13.63%, serat kasar (SK) 49.44% dan TDN sebesar 64.65% dapat meningkatkan
pbbh sebesar 145,83±21,59 g/e/hr.
Legume Indigofera sp.
Indogofera sp. merupakan tanaman dari kelompok leguminosa (family
Fabaceae) dengan genus Indigofera dan memiliki 700 spesies yang tersebar di benua
Afrika, Asia, Australia dan Amerika Utara, Indigofera sp. masuk ke Indonesia sekitar
tahun 1900. Legume Indigofera sp.yang digunakan dalam penelitian dapat dilihat
pada Gambar 2. Tanaman ini dapat dimanfaatkan sebagai pakan ternak yang kaya
akan nitrogen, fosfor dan kalsium. Legum Indigofera sp.toleran terhadap musim
kering dan genangan air. Indigofera sp. dapat diberikan ke domba sebanyak 1-2
kg/ekor/hari (Departemen Pertanian, 2010). Kandungan nutrisi legume Indigofera sp.
dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2.Kandungan Nutrisi Legum Indigofera sp.
Nutrisi
Bahan kering (%)
Abu (%)
Protein kasar (%)
Serat Kasar (%)
Lemak Kasar (%)
Beta-N (%)
Ca (%)
P (%)

Komposisi
93,21
11,66
25,99
30,51
1,38
23,67
0,06
0,54

Keterangan : Laboratorium Ilmu dan Teknologi Pakan (2011). Departemen Ilmu Nutrisi dan teknologi
Pakan, Institut Pertanian Bogor

Menurut Suharlina (2010) pertumbuhan legum Indigofera sp. sangat cepat,
adaptif terhadap tingkat kesuburan rendah, mudah dan murah pemeliharaannya.
Indigoferafera sp. sangat baik dimanfaatkan sebagai hijauan pakan ternak karena
kandungan bahan organik hijauan ini dapat meningkat dengan adanya pemberian
pupuk organik sehingga nilai kecernaan juga dapat meningkat. Dari hasil penelitian

8

Tarigan (2009) menyatakan rataan penggunaan Indigofera sp. dalam pakan pada
kambing Boerka menghasilkan pertambahan bobot badan harian berkisar antara
28.25±52.38 gr/ekor/hari.

Gambar 2.Indigofera sp. segar (kiri) dan Indigofera sp. kering (kanan)
Konsumsi Pakan
Konsumsi pada umumnya diperhitungkan sebagai jumlah makanan yang
dimakan oleh ternak, yang kandungan zat makanan didalamnya digunakan untuk
mencukupi kebutuhan hidup pokok dan untuk keperluan produksi ternak tersebut
(Tillman et al, 1998). Tingkat konsumsi ternak dipengaruhi oleh beberapa faktor
yaitu faktor hewan, faktor makanan yang diberikan dan faktor lingkungan (suhu dan
kelembaban). Jumlah konsumsi pakan merupakan salah satu tanda terbaik bagi
produktivitas ternak (Arora, 1989). Konsumsi pakan sangat dipengaruhi oleh jenis
kelamin, besarnya tubuh, keaktifan dan kegiatan pertumbuhan atau produktivitas
lainnya yaitu suhu dan kelembaban udara. Suhu udara yang tinggi maka konsumsi
pakan akan menurun karena konsumsi air minum yang tinggi berakibat penurunan
konsumsi energi (Siregar, 1984).
Konsumsi juga sangat dipengaruhi oleh palatabilitas yang tergantung pada
beberapa hal yaitu penampilan dan bentuk makanan, bau, rasa, tekstur, dan suhu
lingkungan (Church dan Pond, 1995) konsumsi pakan secara umum akan meningkat
seiring dengan meningkatnya berat badan, karena pada umumnya kapasitas saluran
pencernaan meningkat dengan semakin meningkatnya berat badan.
Ternak ruminansia mempunyai keistimewaan, salah satunya adalah dapat
makan dengan cepat dan menampung makanan dalam jumlah yang banyak.
Kemampuan mengkonsumsi pakan ini dapat dipengaruhi oleh beberapa hal yaitu
kapasitas tampung alat pencernaan ternak, bobot badan, bentuk dan kandungan zat-

9

zat makanan ransum, kebutuhan ternak akan zat-zat makanan, status fisiologi ternak
dan genotip ternak. Makin baik kualitas bahan pakan semakin tinggi konsumsi pakan
dari seekor ternak.
Konsumsi Air Minum
Air merupakan senyawa kimia yang sangat penting bagi kehidupan manusia
dan makhluk hidup lainnya. Fungsi komponen ini tidak akan dapat digantikan oleh
senyawa lainnya. Beberapa peranan air di dalam tubuh, antara lain : pelarut zatzatgizi, pembawa zat gizi dan oksigen ke dalam sel, katalisator reaksi-reaksi kimia
yang berlangsung di dalam tubuh, penjaga kestabilan suhu tubuh, penyeimbang
elektrolit dalam tubuh, mediator untuk membuang racun dari dalam tubuh, pelindung
organ dan jaringan tubuh vital, pemeliharaan volume darah, dan pelumas organorgan tubuh (sendi, otot, air mata, mukus, dan saliva) (Parker, 2003).
Air memiliki duafungsi dasar yaitu sebagai komponen utama dalam
metabolisme dan sebagai zat yang mengontrol temperatur tubuh (Church dan Pond,
1995). Menurut Parakkasi (1999) kebutuhan air minum dipengaruhi oleh konsumsi
bahan kering ransum, jenis bahan makanan, kelembaban, angin dan temperatur.
Menurut Devendra dan Burns (1994) kebutuhan air dipengaruhi oleh faktor
lingkungan, jumlah bahan kering yang dikonsumsi, keadaan makanan, kondisi
fisioligis, temperatur air minum, temperatur lingkungan, kekerapan minum dan
genotipe ternak.
Tillman et al. (1998) menyatakan bahwa kebutuhan air minum domba yang
sedang tumbuh pada suhu lebih dari 200C adalah 3 liter/kg bahan kering terkonsumsi.
Menurut Church (1971) konsumsi air minum dipengaruhi oleh beberapa faktor antara
lain tingkat konsumsi ransum, tingkat produksi hewan, tingkat pertumbuhan dan
bobot badan hewan.
Efisiensi Pakan
Efisiensi pakan adalah perbandingan pertambahan bobot badan dibagi dengan
jumlah konsumsi bahan kering. Faktor yang mempengaruhi efisiensi pakan antara
lain laju perjalanan pakan dalam saluran pencernaan, bentuk fisik, bahan makanan,
dan komposisi nutrisi ransum (Anggorodi, 1990).

10

Efisiensi penggunaan pakan erat kaitannya dengan konsumsi pakan dan
produksi (pertambahan bobot badan). Efisiensi penggunaan pakan adalah rasio antara
pertambahan bobot badan dengan jumlah pakan yang dikonsumsi. Efisiensi
penggunaan pakan menggukur efisiensi hewan dalam mengubah pakan menjadi
produk. Crampton dan Harris (1969), menyatakan bahwa efisiensi penggunaan
makanan tergantung pada kebutuhuan ternak akan energi dan protein yang digunakan
untuk pertumbuhan, hidup pokok dan fungsi lainnya, kemampuan ternak dalam
mencerna zat makanan, jumlah zat makanan yang hilang dalam proses metabolisme,
serta jenis makanan yang dikonsumsi.
Nilai efisiensi yang semakin tinggi menunjukkan bahwa ransum yang
dikonsumsi semakin baik yang diubah menjadi hasil produk pada ternak
(pertambahan bobot badan). Campbell et al. (2003) menyatakan bahwa efisiensi
ransum dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain kemampuan ternak dalam
mencerna bahan pakan, kecukupan zat pakan untuk hidup pokok, pertumbuhan dan
fungsi tubuh serta jenis pakan yang digunakan.
Income Over Feed Cost (IOFC)
Analisis ekonomi sangat penting dalam usaha penggemukan domba, karena
tujuan akhir dari penggemukan adalah untuk mendapatkan keuntungan. Salah satu
perhitungan yang dapat digunakan adalah Income Over Feed Cost (IOFC), yaitu
pendapatan dari pemeliharaan setelah dikurangi biaya pakan selama pemeliharaan.
Ada beberapa faktor yang berpengaruh penting dalam penghitungan IOFC yaitu
pertambahan bobot tubuh selama pemeliharaan, konsumsi dan harga pakan.
Wahju (1997) mengemukakan bahwa pertumbuhan yang baik belum tentu
menjamin keuntungan maksimum, tetapi pertumbuhan yang baik dan diikuti dengan
konversi pakan yang baik serta biaya pakan yang minimum akan mendapatkan
keuntungan yang maksimum.

11

MATERI DAN METODE
Lokasi dan Waktu
Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Lapang Ilmu Produksi Ternak
Ruminansia Kecil Blok B, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor. Waktu
penelitian dilaksanakan pada bulan April sampai September 2011.
Materi
Ternak
Ternak yang digunakan dalam penelitian ini adalah 32 ekor domba yang
terdiri dari 16 ekor domba Jonggol (8 ekor Balibu (bawah lima bulan) berumur 2-3
bulan dan 8 ekor Sepubu (sepuluh bulan) berumur 7-8 bulan dengan masing-masing
rataan bobot badan 9,9±1,4 kg dan 13,6±0,6 kg) dan 16 ekor domba Garut(8 ekor
berumur 3 bulan (balibu) dan 8 bulan (muda)dengan masing-masing rataan bobot
badan 9,8±1,1 kg dan 14,9±1,1 kg).
Pakan
Pakan yang diberikan adalah dua macam ransum dalam bentuk pellet dengan
sumber hijauan berasal dari limbah tauge dan legum Indigofera sp. yang masingmasing diberikan 30%. Kandungan ransum yang digunakan dalam penelitian ini
dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Hasil Analisa Proksimat Ransum Penelitian.
Ransum
R1
R2

BK
87,32
87,65

Abu
8,23
6,51

PK
18,13
16,66

SK
15,39
24,51

LK
3,14
3,71

Beta-N
42,43
36,26

Ca
1,75
1,39

P
0,26
0,23

Sumber: Laboratorium Ilmu dan Teknologi Pakan (2011). Departemen Ilmu Nutrisi dan teknologi
Pakan, Institut Pertanian Bogor. R1=Ransum Indigofera sp., R2=Ransum limbah tauge.

Limbah tauge yang digunakan diperoleh dari pedagang-pedagang tauge yang
berada di Pasar Bogor dan sekitarnya. Limbah tauge yang digunakan adalah sisa dari
hasil pengayakan tauge, sehingga diperoleh limbah kulit kacang hijau atau dikenal
dengan angkup tauge yang tercampur dengan beberapa bagian dari potongan tauge
yang terbawa ketika pengayakan. Ransum yang digunakan selama penelitian adalah
bentuk pellet. Pellet Indigofera sp. dan pellet limbah tauge dapat dilihat pada
Gambar 3.

12

Gambar 3. Pellet Indigofera sp. (kiri) dan Pellet Limbah Tauge (kanan)
Kandang dan Peralatan
Kandang yang digunakan adalah kandang individu berukuran 1,5 x 0,75 m
yang dilengkapi dengan tempat pakan dan air minum. Peralatan yang digunakan
adalah thermometer, timbangan domba, timbangan pakan, gunting, label, dan obat
cacing. Kandang individu dalam penelitian ini dalam dilihat pada Gambar 3.

Gambar 4. Kandang Individu
Prosedur
Persiapan Pemeliharaan
Sebelum penelitian dimulai dilakukan persiapan penelitian, yang meliputi :
Persiapan tempat dan peralatan, pengadaan pakan dan obat-obatan. Obat-obatan yang
digunakan saat ternak datang adalah obat cacing, obat tetes mata, dan betadine.
Domba yang digunakan terlebih dahulu dilakukan pencukuran, pemandian
dan pemberian obat cacing. Pengacakan dilakukan dengan mengundi setiap domba
yang akan diberikan perlakuan.

13

Pemeliharaan
Sebelum dilakukan pengambilan data terlebih dahulu domba diberi masa
adaptasi pakan dan lingkungan hingga domba terbiasa pakan perlakuan dan
lingkungan sekitar. Adaptasi pakan dan lingkungan dilakukan selama ± 20 hari.
Setelah masa adaptasi selesai, domba mulai diberikan pakan sesuai dengan
perlakuan, yaitu Indigofera sp. dan limbah tauge dan diberi secara ad libitum.
Penimbangan sisa pakan dan air minum dilakukan pada keesokan harinya dan
dicatat. Penimbangan bobot badan domba dilakukan dua minggu sekali selama
pemeliharaan, hal ini untuk menghindari stress pada domba. Selama pemeliharaan
dilakukan pencatatan temperatur dan kelembaban didalam kandang maupun diluar
kandang.
Rancangan dan Analisa Data
Model
Percobaan ini dilaksanakan dengan Rancangan Acak Lengkap pola faktorial
2x2x2. Faktor pertama perlakuan adalah bangsa domba (Jonggol dan Garut), faktor
kedua adalah beda umur (Balibu dan Sepubu), dan faktor ketiga adalah jenis ransum
(berbasis Indigofera sp. dan limbah tauge). Ulangan dilakukan sebanyak 4 kali.
Model rancangan yang digunakan menurut Mattjik dan Sumertajaya (2002) adalah:

Yijk = µ + Ai + Bj + Ck + (AB)ij+ (AC)ik + (BC)jk + (ABC)ijk + ɛijk
Keterangan:
Yijk

:nilai pengamatan perlakuan ke-i, ke-j dank e-k

µ

: nilai tengah

Ai

: pengaruh perlakuan jenis domba (Jonggol dan Garut) ke-i

Bj

: pengaruh perlakuan umur domba (Balibu dan Sepubu) ke-j

Ck

: pengaruh perlakuan jenis ransum (berbasis Indigofera sp. dan limbah
tauge) ke-k

(AB)ij

: interaksi antara bangsa dan umur domba

(AC)ik

: interaksi antara bangsa domba dan jenis ransum

(ABC)ijk : interaksi antara perlakuan bangsa, umur domba, dan jenis ransum
ɛijk

: pengaruh galat percobaan

14

Analisis Data
Data yang diperoleh dianalisis dengan sidik ragam (Analysis of Variance)
untuk mengetahui pengaruh perlakuan terhadap peubah yang diamati. Jika perlakuan
berpengaruh nyata terhadap peubah yang diukur maka dilanjutkan dengan uji lanjut
Duncan untuk mengetahui perbedaan di antara perlakuan tersebut.
Peubah yang Diamati
1. Pertambahan Bobot Badan (gram/hari)
Pertambahan bobot badan diperoleh dari bobot badan akhir penggemukan
dikurangi bobot badan awal ketika domba akan digemukkan, dibagi dengan
lamanya penggemukan.
PBBH =

Bobot akhir-Bobot awal
Lama penggemukan

2. Konsumsi Bahan Kering (gram/hari)
Jumlah konsumsi bahan kering dihitung dari konsumsi pakan dikali zat makanan
dibagi 100.
3. Konsumsi Air Minum
Air minum diberikan secara ad libitum tetapi terukur, setiap pemberian diberikan
sebanyak 2 liter. Air yang tersisa ditimbang keesokan harinya. Penimbangan sisa
air dilakukan setiap pagi. Konsumsi air dihitung dari selisih antara air yang
diberikan dengan sisa air.
4. Efisiensi Pakan
Efisiensi pakan dihitung dengan membandingkan pertambahan bobot badan
selama penggemukan dan konsumsi pakan dikali 100%.
Efisiensi Pakan =

PBBH
x 100%
Konsumsi Pakan

5. Suhu dan kelembaban
Suhu dan kelembaban diukur pada pagi (07.00) hari, siang (13.00) hari, dan sore
(16.00) hari. Pengukuran dengan menggunakan termometer bola basah-bola
kering.

15

6. Income Over Feed Cost(IOFC).
Pendapataan yang diperoleh setelah dikurangi biaya pakan selama pemeliharan.
IOFC = (Harga jual – Harga beli) – Biaya pakan
Keterangan : IOFC = Income Over Feed Cost (Rp)
Harga jual domba Jonggol

= Rp. 40.000,-/kg Bobot Hidup

Harga jual domba Garut

= Rp. 45.000,-/kg Bobot Hidup

Harga beli domba Jonggol

= Rp. 40.000,-/kg Bobot Hidup

Harga beli domba Garut

= Rp. 45.000,;/kg Bobot Hidup

Harga ransum

= Rp

2.000,-/kg

16

HASIL DAN PEMBAHASAN
Keadaan Umum Penelitian
Penelitian ini dilakukan di laboratorium lapang ruminansia kecil blok B
kampus IPB Darmaga dengan rata-rata temperatur udara (300C) dan kelembaban
udara (83%). Selama penelitian temperatur dan kelembaban udara dari bulan Juli
hingga September yang diamati di dalam kandang dan luar kandang yang dapat
dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4. Rataan Suhu dan Kelembaban Udara di Lokasi Kandang blok B.
Lokasi
Dalam Kandang

Luar Kandang

Waktu
Pagi
Siang
Sore
Pagi
Siang
Sore

Suhu (0C)
24±0,80B
32±1,26A
31±1,80A
26±1,10
36±0,45
34±0,90

Kelembaban (%)
91±2,14A
77±7,22B
81±8,56A
85±1,73
72±3,08
75±3,08

Keterangan : Superskrip yang berbeda pada baris atau kolom yang sama menunjukkan perbedaan
sangat nyata (P<0,01).
Pagi (07.00) WIB, Siang (13.00) WIB, Sore (16.00) WIB

Produktivitas domba sangat dipengaruhi oleh faktor genetika dan lingkungan.
Kedua faktor tersebut berkaitan erat dan saling mempengaruhi ternak, karena genetik
yang baik tanpa didukung oleh lingkungan yang baik, maka tidak akan tercapai
produksi yang tinggi. Kondisi dan kelembaban udara selama penelitian dapat
berpengaruh terhadap konsumsi pakan dan pertumbuhan domba. Selama penelitian
dapat diketahui bahwa keadaan cuaca (suhu dan kelembaban) di kandang blok B di
dalam kandang berbeda sangat nyata (P<0,01) pada pagi, siang dan sore hari. Suhu di
dalam kandang pada pagi hari lebih rendah yaitu 240C±0,80 sedangkan suhu siang
(320C±1,26) dan sore (310C±1,80) relarif tinggi, yang artinya semakin tinggi
temperatur suhu akan menyebabkan peningkatan laju respirasi, suhu tubuh, konsumsi
air dan penurunan konsumsi bahan kering, hal ini sesuai dengan Marai et al. (2007).

Kelembaban di dalam kandang pada pagi hari paling tinggi (91%±2,14)
dibandingkan dengan siang (72%±3,08) dan sore (75%±3,08). Kelembaban di dalam
kadang yang tinggi menunjukkan bahwa udara di dalam kandang mengandung uap
air yang tinggi dihasilkan dari proses respirasi ternak.

17

Kartasudjana (2001) menyatakan suhu optimal di daerah tropis berkisar
antara 24-260C, dengan kelembaban dibawah 75% (Yousef, 1985). Hal ini
menunjukkan bahwa suhu pada pagi hari sudah sesuai dengan suhu optimal domba
di daerah tropis, sedangkan pada siang dan sore hari diatas suhu optimal. Sehingga
upaya untuk memberikan suhu yang nyaman bagi ternak dapat ditambahkan kipas
angin atau blower. Ramdan (2007) mengemukakan bahwa peningkatan suhu dan
kelembaban lingkungan dapat menyebabkan penurunan terhadap konsumsi pakan
sehingga semakin tinggi suhu dan kelembaban udara cenderung akan menurunkan
produktivitas ternak, sehingga akan menghambat pertambahan bobot badan yang
disebabkan tidak efisiennya penggunaan pakan untuk pertumbuhan ternak.
Hewan membutuhkan lingkungan yang cocok untuk kebutuhan fisiologisnya,
jika tidak sesuai dengan lingkungannya, misalnya dengan kondisi terlalu panas atau
terlalu

dingin

maka

akan

menyebabkan

stres

dan

berakibat

terhadap

produktivitasnya, sehingga pertumbuhan, perkembangan atau produksi ternak akan
menurun (Johnston, 1983). Secara fisiologis tubuh ternak akan bereaksi terhadap
rangsangan yang mengganggu fisiologis normal. Sebagai ilustrasi ternak akan
mengalami cekaman panas jika jumlah rataan produksi panas tubuh dan penyerapan
radiasi panas dari sekelilingnya lebih besar daripada rataan panas yang dikeluarkan
dari tubuh (Devendra dan Burns, 1994).
Pertambahan Bobot Badan Harian (PBBH)
Pertambahan

bobot

badan

harian

merupakan

indikator

kecepatan

pertumbuhan seekor ternak selama pemeliharaan. Rataan pertambahan bobot badan
harian domba balibu dan Sepubudapat dilihat pada Tabel 5.
Tabel 5.Rataan Pertambahan Bobot Badan Harian Domba.
Umur
Balibu
Sepubu

Ransum
R-1
R-2
R-1
R-2

Jenis Domba
Jonggol
Garut
..............................gram/ekor/hari..............................
123±16AB
138±5,3AB
145±19A
127±21AB
AB
136±12
99±38B
127±21AB
153±24A

Ket: Superskrip yang be

Dokumen yang terkait

Dokumen baru