Komposisi Jaringan Potongan Komersial Karkas Domba Ekor Tipis Jantan Umur Enam Bulan dengan Ransum Penggemukan Mengandung Indigofera sp. dan Limbah Tauge

RINGKASAN
YUANISTI WARUWU. D14080061. 2012. Komposisi Jaringan Potongan
Komersial Karkas Domba Ekor Tipis Jantan Umur Enam Bulan dengan
Ransum Penggemukan Mengandung Indigofera sp. dan Limbah Tauge. Skripsi.
Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan, Institut
Pertanian Bogor.
Pembimbing Utama : Muhamad Baihaqi, S.Pt., M.Sc.
Pembimbing Anggota : Dr. Ir. Rudy Priyanto
Domba ekor tipis pada umur muda mempunyai potensi untuk ditingkatkan
kualitas karkasnya. Asupan nutrisi domba ekor tipis selama pemeliharaan harus
terpenuhi. Tanaman legum Indigofera sp. dan limbah tauge mempunyai potensi
untuk dijadikan sumber protein pada domba, namun belum diketahui pengaruhnya
pada komposisi karkas yang dihasilkan. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari
perbedaan komposisi jaringan dalam potongan-potongan komersial karkas domba
ekor tipis jantan umur enam bulan dengan pemberian ransum penggemukan
mengandung Indigofera sp. dan limbah tauge.
Penelitian ini telah dilaksanakan pada bulan Mei hingga September 2011,
untuk pemeliharaan domba dilakukan di kandang percobaan Laboratorium Ternak
Ruminansia Kecil (Kandang B). Pengujian kualitas karkas dilakukan di
Laboratorium Ternak Ruminansia Besar, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian
Bogor. Penelitian ini menggunakan ternak domba ekor tipis jantan umur tiga bulan
sebanyak delapan ekor dengan rataan bobot awal 9,28±1,38 kg (KK=14,94%).
Domba berasal dari Unit Pendidikan dan Penelitian Peternakan Jonggol (UP3J).
Ternak dikandangkan secara individu dan digemukkan dengan ransum percobaan
selama tiga bulan. Ransum dalam bentuk pelet dan air minum diberikan secara ad
libitum.
Rancangan percobaan yang digunakan pada penelitian ini adalah Rancangan
Acak Lengkap (RAL) dengan dua macam perlakuan pakan dan empat kali ulangan
untuk setiap perlakuan. Perlakuan R1 merupakan pelet yang terdiri dari bahan pakan
Indigofera sp. (30%) dan konsentrat (70%), sedangkan perlakuan R2 merupakan
pelet yang terdiri dari bahan pakan limbah tauge (30%) dan konsentrat (70%).
Peubah yang diamati pada penelitian ini adalah karakteristik karkas (bobot potong,
bobot tubuh kosong, bobot karkas, persentase karkas, bobot karkas kiri dingin, tebal
lemak, dan luas urat daging mata rusuk), komposisi jaringan karkas (daging, lemak,
dan tulang), distribusi jaringan karkas pada potongan komersial, serta perbandingan
antara daging, lemak, dan tulang pada potongan komersial. Data dianalisis
menggunakan Analysis of Covariance (ANCOVA). Data karakteristik karkas
dikoreksi berdasarkan rataan bobot badan awal, sedangkan data komposisi jaringan
karkas dan distribusi jaringan karkas pada potongan komersial dikoreksi berdasarkan
bobot karkas kiri.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa perbedaan perlakuan pakan tidak
berpengaruh nyata terhadap karakteristik karkas dan komposisi jaringan karkas
(P>0,05). Rataan persentase karkas (bobot karkas panas/bobot tubuh kosong) pada
penelitian ini yaitu sebesar 54,53%, sementara itu rataan persentase daging, lemak,
dan tulang terhadap karkas kiri yang dihasilkan adalah 62,23%, 15,01%, dan 22,76%.

ii

Hasil analisis peragam pada distribusi jaringan karkas pada potongan komersial
menunjukkan bobot daging pada bagian rack domba yang diberikan pakan
mengandung limbah tauge nyata lebih tinggi (P<0,05) dibandingkan domba yang
diberikan pakan mengandung Indigofera sp., sementara bobot lemak pada bagian leg
nyata lebih rendah (P<0,05) pada domba yang diberikan pakan mengandung limbah
tauge.
Persentase tulang bagian leg pada domba yang diberikan pakan mengandung
limbah tauge menunjukkan hasil nyata lebih tinggi dibandingkan domba yang
diberikan pakan mengandung Indigofera sp. (P<0,05). Proporsi potongan komersial
yang baik dapat dilihat dari perbandingan daging dengan tulang maupun daging
dengan lemak. Hasil analisis peragam menunjukkan perbandingan daging dengan
tulang bagian leg pada domba yang diberikan pakan mengandung Indigofera sp.
menunjukkan nyata lebih tinggi dibandingkan domba yang diberikan pakan
mengandung limbah tauge (P<0,05).
Kata-kata kunci: domba ekor tipis muda, karkas, potongan komersial, Indigofera sp.,
limbah tauge

iii

ABSTRACT
Tissue Composition in Carcass Commercial Cuts of Thin Tailed Lamb Given
Feed Containing Indigofera sp. and Sprouts Waste
Waruwu, Y., M. Baihaqi, and R. Priyanto
The research aimed to study tissue composition in commercial cuts of the six month
of male thin tailed lamb fattened on ration containing Indigofera sp. and sprouts
waste. This experiment used eight thin tailed lamb raised for three months in
individual cages. The data was analyzed by Analysis of Covariance (ANCOVA).
Characteristics carcass corected with body weight before treatments were conducted,
composition and distribution carcass corrected with chilled carcass weight. The result
showed that the treatment did not significantly affect (P>0,05) carcass characteristics
and composition. However, thin tailed sheep fed on ration with sprouts waste had
significantly (P<0,05) heavier muscle in the rack and significantly lighter of fat in the
leg (P<0,05) compared to those fed on ration contained Indigofera sp. Thin tailed
sheep fed on ration with sprouts waste had significantly (P<0,05) higher percentage
of bone in leg compared to those fed on ration contained Indigofera sp. Leg at thin
tailed sheep fed on ration with Indigofera sp. had the best proportion commercial cut
carcaas.
Keywords: thin tailed lamb, carcass, commercial cuts, Indigofera sp., sprouts waste

4

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Daging merupakan sumber protein hewani yang banyak dikonsumsi oleh
masyarakat. Salah satu ternak yang memasok kebutuhan daging di dalam negeri ialah
domba. Domba adalah ternak ruminansia yang dapat menyediakan protein hewani
dengan kualitas yang baik, mudah dalam penyediaannya, serta telah dikenal oleh
masyarakat. Berdasarkan data statistik Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan
Hewan (2011), produksi daging domba di Jawa Barat pada tahun 2010 sebesar
27.258 ton/tahun.
Domba ekor tipis termasuk domba lokal yang mampu menghasilkan karkas
dengan baik. Domba lokal merupakan berbagai jenis domba yang sudah lama
dibudidayakan di suatu wilayah dan sudah mampu beradaptasi dengan baik pada
lingkungan tersebut. Daerah penyebaran jenis domba ekor tipis adalah di daerah
Jawa Barat dan Jawa Tengah. Domba ekor tipis pada umur muda dengan pemberian
pakan legum mempunyai komposisi karkas hingga 38,8% (Wiryawan et al., 2009).
Hal tersebut menunjukkan bahwa domba ekor tipis mempunyai potensi untuk
ditingkatkan kualitas karkasnya. Daging domba muda memiliki beberapa keunggulan
yaitu daging lebih empuk, rendah lemak, juiciness, dan bau prengus rendah.
Asupan nutrisi domba ekor tipis selama pemeliharaan harus terpenuhi,
terutama kebutuhan protein dan energi tercerna untuk hidup pokok domba sehingga
dapat menghasilkan karkas yang berkualitas baik. Oleh karena itu, kuantitas dan
kualitas pakan serta manajemen pemberian pakan yang baik menyebabkan produksi
domba baik pula. Tanaman legum Indigofera sp. dan limbah tauge mempunyai
potensi untuk dijadikan sumber protein pakan domba, namun belum diketahui
pengaruhnya pada komposisi karkas yang dihasilkan.
Indigofera sp. dan limbah tauge memberikan peluang yang besar dalam hal
pemenuhan kebutuhan ternak ruminansia terhadap tanaman pakan. Indigofera sp.
merupakan legum pohon yang memiliki kandungan protein sebesar 27% (Abdullah,
2010). Menurut Rahayu et al. (2010), limbah tauge dapat diketahui bahwa
kandungan airnya sebesar 63,35%, lemak 1,17%, protein kasar 13,62%, serat kasar
49,44%, dan kandungan TDN sebesar 64,65 %.

2

Peningkatan kualitas pakan yang diberikan pada domba ekor tipis diharapkan
akan memperbaiki performa produksi, kualitas karkas dan daging seperti
peningkatan keempukan daging, juiciness, penurunan kadar lemak. Berdasarkan hal
tersebut, maka perlu dilakukan penelitian pengaruh pemberian pakan yang
mengandung Indigofera sp. dan limbah tauge terhadap karkas domba ekor tipis,
terutama pada domba umur di bawah satu tahun.
Tujuan
Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari perbedaan komposisi jaringan
dalam potongan-potongan komersial karkas domba ekor tipis jantan umur enam
bulan dengan pemberian ransum penggemukan yang mengandung Indigofera sp. dan
limbah tauge.

2

TINJAUAN PUSTAKA
Domba (Ovies aries)
Domba merupakan salah satu ternak ruminansia sebagai sumber protein
hewani yang tersebar luas di masyarakat. Domba diklasifikasikan dalam filum
Chordata (hewan bertulang belakang), kelas Mammalia (hewan menyusui), ordo
Artiodactyla (hewan berteracak), famili Bovidae (hewan memamah biak), subfamili
Caprinae, genus Ovis dan spesies Ovis aries (Blakely dan Blade, 1992). Ternak
domba dari Asia tersebar ke sebelah barat antar lain, Mediterania, termasuk Eropa
dan Afrika serta ke sebelah timur tersebar ke daerah subkontinen India dan Asia
Tenggara (Davendra dan McLeroy, 1992). Domestikasi ternak domba telah
dilakukan oleh manusia sejak zaman dahulu. Menurut Williamson dan Payne (1993),
domestikasi domba dimulai di daerah Aralo Caspian dan menyebar ke Iran, Asia
Tenggara, Asia Barat dan anak Benua India sampai Eropa dan Amerika.
Berdasarkan data statistik Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan
Hewan (2011), pada tahun 2010 populasi ternak domba di Indonesia mengalami
peningkatan dibandingkan dengan populasi pada tahun 2009 yaitu jumlah ternak
domba mencapai 10,72 juta ekor (peningkatan 5,16%). Tahun 2009 populasi domba
di Indonesia sebesar 10.198.766 ekor dan terjadi peningkatan populasi domba pada
tahun 2010 yaitu mencapai 10.725.488 ekor. Populasi ternak domba tertinggi berada
di daerah Jawa Barat yaitu 5.770.661 ekor pada tahun 2009 dan meningkat menjadi
6.275.299 ekor pada tahun 2010, selain itu produksi daging domba di Jawa Barat
pada tahun 2010 sebesar 27.258 ton/tahun dan merupakan produksi daging tertinggi
di seluruh Indonesia.
Domba Ekor Tipis
Einstiana (2006) menyatakan bahwa jenis domba ekor tipis memiliki tubuh
yang kecil, sehingga disebut domba kacang atau biasa dikenal sebagai domba Jawa.
Ekor relatif kecil dan tipis, bulu badan berwarna putih, kadang-kadang berwarna lain,
belang-belang hitam di sekitar mata, hidung, atau bagian tubuh lain. Domba betina
umumnya tidak memiliki tanduk, sedangkan pada jantan memiliki tanduk kecil dan
melingkar. Davendra dan McLeroy (1992) menyatakan bahwa domba ekor tipis
jantan memiliki tanduk dengan bentuk melingkar, sedangkan betina tidak bertanduk.

3

Bulu berupa wol kasar, berwarna putih dengan bercak hitam ditemukan di sekeliling
mata dan hidung. Daerah penyebaran jenis domba ini adalah di daerah Jawa Barat
dan Jawa Tengah. Domba ekor tipis termasuk penghasil daging yang sangat potensial
(Hudallah, 2007). Tiesnamurti (1992) menyatakan bahwa bobot badan dewasa pada
domba jantan dapat mencapai 30-40 kg dan pada betina sebesar 20-25 kg, dengan
persentase karkas berkisar antara 44%-49%.
Pertumbuhan Domba
Definisi pertumbuhan yang paling sederhana adalah perubahan ukuran yang
meliputi perubahan bobot hidup, bentuk, dimensi linear, dan komposisi tubuh,
termasuk perubahan komponen-komponen tubuh seperti otot, lemak, tulang, dan
organ serta komponen-komponen kimia, terutama air, lemak, protein, dan abu pada
karkas (Soeparno, 2005). Pertumbuhan mempunyai dua aspek, yang pertama diukur
sebagai peningkatan berat persatuan waktu, yang kedua meliputi perubahan dalam
bentuk dan komposisi akibat pertumbuhan diferensiasi bagian komponen tubuh
(Berg dan Butterfield, 1976). Proses perubahan bentuk dan komposisi sebagai akibat
adanya kecepatan pertumbuhan relatif berbeda-beda antar komponen otot, tulang dan
lemak sering juga disebut dengan istilah pertumbuhan-perkembangan (Natasasmita,
1978).
Menurut Anggorodi (1990), domba jantan muda memiliki potensi untuk
tumbuh lebih cepat daripada betina muda, pertambahan bobot badan lebih cepat,
konsumsi pakan lebih banyak dan penggunaan pakan yang lebih efisien untuk
pertumbuhan badan. Sekresi testosteron pada jantan menyebabkan sekresi androgen
tinggi sehingga mengakibatkan pertumbuhan yang lebih cepat, terutama setelah
munculnya sifat-sifat kelamin sekunder pada ternak jantan (Soeparno, 2005).
Pertumbuhan dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain faktor genetik atau faktor
keturunan, faktor lingkungan seperti iklim, hormon, kastrasi, dan jenis kelamin.
Penggemukan Domba
Menurut Ensminger (2002), penggemukan merupakan cara pemberian pakan
yang umum dilakukan pada domba dengan tujuan meningkatkan flavor, keempukan
dan kualitas daging sesuai permintaan konsumen. Penggemukan umumnya dilakukan
lewat pemberian pakan kaya energi, yaitu karbohidrat dan lemak, seperti biji-bijian

4

dan umumnya dikombinasikan dengan rumput. Sudarmono dan Sugeng (2007)
menyatakan bahwa tujuan penggemukan domba adalah untuk menghasilkan jumlah
dan kualiatas daging yang baik sebagaimana dikehendaki konsumen. Banyak faktor
yang mempengaruhi kualitas tersebut, salah satunya adalah deposit lemak dalam
karkas (Parakkasi, 1999). Tujuan usaha penggemukan domba antara lain untuk
memperoleh pertambahan bobot badan yang relatif lebih tinggi dengan
memperhitungkan nilai konversi pakan dalam pembentukan jaringan tubuh termasuk
otot, daging, dan lemak, serta menghasilkan karkas dan daging yang berkualitas
tinggi (Anggorodi, 1990).
Penentuan waktu untuk mengakhiri program penggemukan karena sudah
mencapai titik optimum merupakan sesuatu yang tidak mudah, apabila titik tersebut
dapat ditentukan secara baik, maka pengusaha dapat mengurangi bahan-bahan
makanan yang terbuang, mendapatkan karkas yang tidak banyak berlemak (leaner),
dan mempercepat turn-over usaha, yang menentukan lama penggemukan tersebut di
lapangan adalah faktor ekonomi, diantaranya situasi persediaan pangan dan
permintaan kualitas dari konsumen (Parakkasi, 1999).
Karkas
Karkas adalah bagian penting dari tubuh ternak setelah dibersihkan dari
darah, kepala, keempat kaki bagian bawah dari sendi carpal untuk kaki depan dan
sendi tarsal untuk kaki belakang, kulit, organ-organ internal seperti paru-paru,
tenggorokan, saluran pencernaan, saluran urin, jantung, limpa, hati dan jaringanjaringan lemak yang melekat pada bagian-bagian tersebut (Lawrie, 2003). Karkas
sebagai satuan produksi yang dinyatakan dalam bobot dan persentase. Parwoto
(1995) menyatakan karkas sebagai satuan produksi yang bernilai ekonomi tinggi dan
secara praktis dapat digunakan sebagai satuan produksi yang komposisi dan
proporsinya dapat digunakan sebagai kriteria keberhasilan usaha ternak.
Faktor yang mempengaruhi produksi karkas seekor ternak adalah bangsa,
umur, jenis kelamin, laju pertumbuhan, bobot potong, dan nutrisi (Oberbauer et al.,
1994). Persentase karkas dipengaruhi oleh bobot ternak, bangsa, proporsi bagianbagian non karkas, ransum, umur, dan jenis kelamin (Berg dan Butterfield, 1976).
Bangsa ternak yang mempunyai bobot potong besar menghasilkan karkas yang besar.
Bobot potong yang semakin meningkat menghasilkan karkas yang semakin
5

meningkat pula, sehingga dapat diharapkan bagian dari karkas yang berupa daging
menjadi lebih besar (Soeparno, 2005). Menurut Speedy (1980), bertambahnya umur
ternak sejalan dengan penambahan bobot hidupnya, maka karkas akan bertambah.
Jenis kelamin menyebabkan perbedaan laju pertumbuhan, ternak jantan biasanya
tumbuh lebih cepat daripada ternak betina pada umur yang sama (Soeparno, 2005).
Bobot Potong
Bobot potong adalah bobot tubuh ternak sebelum dilakukan pemotongan.
Bobot potong domba jantan lebih tinggi dibandingkan bobot potong domba betina.
Hal ini disebabkan domba jantan lebih efisien dalam mengubah makanan bahan
kering menjadi bobot tubuh dibandingkan ternak domba betina (Sugana dan
Duldjaman, 1983). Penelitian Sumira (2010) menunjukkan hasil bahwa domba lokal
jantan umur enam bulan yang diberikan pakan berupa rumput, legum pohon, dan
konsentrat memiliki bobot potong sebesar 17,40 kg. Bobot potong domba ekor tipis
tipis jantan umur 18 bulan pada genotipe gen calpastatin yang berbeda sebesar 19,85
kg (Satriawan, 2011). Bobot potong domba dengan sistem pemberian pakan secara
grazing sebesar 21,6 kg (Carrasco et al., 2009).
Bobot Karkas
Karkas merupakan bagian tubuh domba atau kambing sehat yang telah
disembelih secara halal sesuai CAC/GL 24-1997, telah dikuliti, dikeluarkan jeroan,
dipisahkan kepala dan kaki mulai dari tarsus atau karpus ke bawah, organ reproduksi
dan ambing, ekor, serta lemak yang berlebih (Badan Standardisasi Nasional
Indonesia, 2008). Karkas domba dapat dibedakan berdasarkan berat, umur domba,
jenis kelamin, dan tingkat perlemakan.
Komponen karkas terdiri atas tulang, otot, lemak, dan jaringan ikat.
Perkembangan otot, lemak, dan tulang yang berbeda-beda menyebabkan berubahnya
proporsi dan komposisi tubuh ternak dan karkas. Sebagai satuan produksi dinyatakan
dalam bobot dan persentase karkas. Persentase karkas dipengaruhi oleh bobot karkas,
bobot dan kondisi ternak, bangsa, proporsi bagian-bagian non karkas dan ransum
serta umur, jenis kelamin, dan pengebirian (Davendra, 1983).
Bobot karkas dapat dibagi menjadi dua yaitu berdasarkan karkas panas dan
karkas dingin. Penelitian Carrasco et al. (2009) menunjukkan bobot karkas panas

6

lebih tinggi dibandingkan bobot karkas dingin. Sistem pemberian pakan dapat
mempengaruhi bobot karkas. Bobot karkas panas pada domba yang digemukkan
dengan sistem pemberian pakan grazing sebesar 10,5 kg dan bobot karkas dingin
sebesar 10,2 kg. Domba yang digemukkan dengan sistem pemberian pakan grazing
dan diberikan pakan tambahan suplemen memiliki bobot karkas panas sebesar 11,7
dan bobot karkas dingin sebesar 11,4 kg.
Menurut Sunarlim dan Setiyanto (2005), bobot karkas domba lokal jantan
pada umur dua tahun adalah 12,53 kg dengan persentase karkas sebesar 44,18%,
sedangkan ternak betina memiliki bobot karkas 11,7 kg dengan persentase karkas
sebesar 43,01%. Penelitian Alwi (2009) menunjukkan hasil bahwa domba ekor tipis
jantan umur satu tahun yang diberikan pakan penambahan kulit singkong memiliki
rataan bobot karkas sebesar 8,07 kg dengan rataan persentase karkas sebesar 40,81%.
Domba lokal jantan umur enam bulan yang diberikan pakan rumput, legum pohon,
dan konsentrat memiliki bobot karkas sebesar 5,94 kg dengan persentase karkas
sebesar 33,96% (Sumira, 2010).
Potongan Komersial Karkas
Karkas dalam pemasarannya biasa dijual dalam bentuk potongan-potongan
karkas yang disebut dengan potongan karkas komersial. Menurut Kempster et al.
(1982), nilai komersial dari karkas pada umumnya tergantung pada ukuran, struktur,
dan komposisinya, dimana sifat-sifat struktural karkas yang utama untuk kepentingan
komersial tersebut meliputi bobot, proporsi jaringan-jaringan karkas, ketebalan
lemak, komposisi, serta penampilan luar dari jaringan tersebut serta kualitas
dagingnya.
Cara pemotongan karkas ditentukan oleh spesies ternak dan selera konsumen.
Namun umumnya, setelah karkas dibagi menjadi dua potongan melalui tulang rusuk
ke-10 dan ke-11 atau ke-12 dan ke-13 yaitu seperempat bagian depan (forequarter)
dan seperempat bagian belakang (hindquarter). Standar potongan karkas domba atau
kambing dibagi ke dalam tiga golongan (kelas) yaitu kelas satu, dua, dan tiga.
Masing-masing potongan karkas tersebut ialah paha (leg), pinggang (loin),
tenderloin, punggung rusuk (rack), bahu (shoulder), dada (breast), lipatan paha
(flank), dan lengan (shank) (Badan Standardisasi Nasional Indonesia, 2008).

7

Penelitian Satriawan (2011) menunjukkan hasil rataan bobot dan persentase
pada potongan komersial domba yaitu neck dan shoulder sebesar 1.164,4 gram
(29,81%), rack sebesar 313,60 gram (8,04%), shank dan breast sebesar 400,72 gram
(10,32%), loin sebesar 369,25 gram (9,48%), leg sebesar 1.225,50 gram (31,32%)
dan flank sebesar 93,70 gram (2,39%). Penelitian tersebut menggunakan domba lokal
jantan umur 18 bulan pada genotipe gen calpastatin yang berbeda. Penelitian Sumira
(2010) menunjukkan bobot potongan komersial pada domba lokal jantan umur enam
bulan yang diberikan pakan rumput, legum pohon, dan konsentrat memilki rataan
bobot shoulder sebesar 787,24 gram, shank sebesar 277,8 gram, flank sebesar 131,22
gram, loin sebesar 246,13 gram, rack sebesar 236,49 gram, breast sebesar 257,71
gram, dan leg sebesar 994,92 gram.
Ghita et al. (2009) melakukan penelitian terhadap kualitas karkas pada jenis
domba lokal yang berbeda di negara Romania yaitu domba Carabash, domba Tsigai
dan domba Tsurcana. Hasil penelitian menunjukkan masing-masing proporsi dari
bagian karkas domba yaitu leg sebesar 1,5 kg (35,15%), loin sebesar 0,340 kg
(7,86%), rack sebesar 0,55 kg (12,65%), shoulder sebesar 0,85 kg (19,86%), flank
sebesar 0,66 kg (15,29%), dan neck sebesar 0,41 kg (9,42%). Penelitian Zgur et al.
(2003) menunjukkan persentase potongan komersial pada domba jantan yaitu neck
sebesar 7,00%, chuck sebesar 7,98%, shoulder sebesar 17,59%, rack sebesar 6,76%,
loin sebesar 7,20%, dan hindleg sebesar 31,58%.
Komposisi Fisik Karkas
Karkas dan potongan karkas dapat diuraikan secara fisik menjadi komponen
jaringan daging tanpa lemak (lean), lemak, tulang, dan jaringan ikat (fascia)
(Davendra dan McLeroy, 1992). Komposisi karkas bervariasi pada karkas-karkas
yang beratnya berbeda. Natasasmita (1978) menyatakan perubahan komposisi karkas
sebanding dengan bertambahnya bobot karkas tersebut, bobot badan yang semakin
tinggi diikuti dengan pertambahan persentase lemak dan menurunnya persentase
daging, dan tulang. Tulang sebagai kerangka tubuh merupakan komponen yang
tumbuh dan berkembang paling dini kemudian disusul oleh daging atau otot dan
yang paling akhir yaitu jaringan lemak (Soeparno, 2005).

8

Daging
Daging didefinisikan sebagai semua jaringan hewan dan semua produk hasil
pengolahan yang sesuai untuk dimakan serta tidak menimbulkan gangguan kesehatan
bagi yang memakannya (Soeparno, 2005). Menurut Forrest et al. (1975), komponen
utama daging terdiri dari otot, lemak dan sejumlah jaringan ikat (kolagen, retikulin
dan elastin), serta adanya pembuluh syaraf. Komposisi daging diperkirakan terdiri
atas air 75%, protein 19%, substansi non protein yang larut 3,5%, dan lemak 2,5%
(Lawrie, 2003).
Menurut Muzarmis (1982), daging domba memiliki serat yang lebih halus
dibandingkan dengan daging lainnya, jaringannya sangat padat, berwarna merah
muda, konsitensinya cukup tinggi, lemaknya terdapat di bawah kulit yaitu antara otot
dan kulit, serta dagingnya sedikit berbau amonial (prengus). Daging domba
mengandung protein 17,1% dan lemak 14,8%. Penelitian Sumira (2010)
menunjukkan bahwa domba lokal jantan umur enam bulan memiliki rataan bobot
daging sebesar 1.811,98 gram dengan persentase 60,74%. Rataan bobot daging
domba lokal jantan umur 18 bulan sebesar 2.334,5 gram dengan persentase sebesar
59,54% (Satriawan, 2011). Domba yang digemukkan dengan sistem pemberian
pakan grazing memiliki persentase daging sebesar 59,5%, sedangkan domba yang
digemukkan dengan sistem pemberian pakan grazing dan penambahan suplemen
memiliki persentase daging sebesar 57,8% (Carrasco et al., 2009).
Tulang
Tulang adalah jaringan pembentukan kerangka tubuh yarng mempunyai
peranan penting bagi pertumbuhan ternak. Menurut Pulungan dan Rangkuti (1981),
pertumbuhan tulang relatif lebih kecil dibandingkan dengan bobot karkas dengan
perkembangan yang lebih kecil atau dengan kata lain persentase tulang berkurang
dengan meningkatnya bobot karkas. Tulang akan bertambah selama hidup ternak dan
pada ternak tua terjadi pembentukan tulang yang berasal dari tulang rawan yang
mempertautkan tulang dengan tendon atau ligementum (Pulungan dan Rangkuti,
1981). Penelitian Sumira (2010) menunjukkan bahwa domba lokal jantan umur enam
bulan memiliki rataan bobot tulang sebesar 862,98 gram dengan persentase 29,21%.
Rataan bobot tulang domba lokal jantan umur 18 bulan sebesar 893,15 gram dengan
persentase sebesar 23,10% (Satriawan, 2011). Domba yang digemukkan dengan
9

sistem pemberian pakan grazing memiliki persentase tulang sebesar 21,8%,
sedangkan domba yang digemukkan dengan sistem pemberian pakan grazing dan
penambahan suplemen memiliki persentase tulang sebesar 20,6% (Carrasco et al.,
2009).
Lemak
Lemak adalah salah satu sumber energi yang memberikan kalori paling
tinggi. Lemak mempunyai pola pertumbuhan yang berbeda, pertumbuhan lemak
sangat lambat, tetapi pada saat fase penggemukan, pertumbuhannya meningkat dan
cepat (Berg dan Butterfield, 1976). Menurut Forrest et al. (1975), perlemakan mulamula terjadi disekitar organ-organ internal, ginjal, dan alat pencernaan kemudian
lemak disimpan pada jaringan ikat sekitar urat daging di bawah kulit, sebelum urat
daging dan antara urat daging. Jaringan lemak yang terdapat diantara urat daging
tidak hanya memperlunak daging, tetapi juga memperlezat rasa. Permatasari (1992)
menyatakan bahwa timbunan lemak daging domba putih lebih padat dari pada
timbunan lemak daging kambing. Faktor yang mempengaruhi pertumbuhan
perlemakan pada karkas yaitu komposisi pakan yang diberikan, faktor genetik ternak
atau keterkaitan antara kedua faktor tersebut (Leat, 1976).
Soeparno (2005) menyatakan lemak pada karkas dibagi menjadi dua bagian
yaitu lemak subkutan dan lemak intermuskular. Lemak subkutan adalah jaringan
tubuh yang ditempatkan dengan baik untuk meningkatkan bentuk luar. Lemak
subkutan berfungsi sebagai pelindung karkas dari proses pendinginan dan akan
mempengaruhi kualitas daging. Lemak intermuskular adalah lemak yang berada di
antara otot atau daging. Lemak ini berfungsi untuk merekatkan otot, sehingga dapat
menghasilkan konformasi tubuh yang baik dan otot dapat melakukan kerja dengan
optimal.
Penelitian Sumira (2010) menunjukkan bahwa domba lokal jantan umur
enam bulan memiliki rataan bobot lemak sebesar 262,50 gram dengan persentase
8,75%. Penelitian Satriawan (2011) yang menggunakan domba lokal jantan umur 18
bulan memiliki rataan bobot lemak subkutan sebesar 194,3 gram dengan persentase
sebesar 5,05% dan rataan bobot lemak intermuskular sebesar 278,7 gram dengan
persentase 7,23%. Domba yang digemukkan dengan sistem pemberian pakan grazing
memiliki persentase lemak sebesar 17,9%, sedangkan domba yang digemukkan
10

dengan sistem pemberian pakan grazing dan penambahan suplemen memiliki
persentase lemak sebesar 20,8% (Carrasco et al., 2009).
Pakan Ternak
Pakan ternak dapat dikelompokkan menjadi dua jenis secara garis besarnya
yaitu hijauan dan konsentrat. Hijauan ditandai dengan kandungan serat kasar yang
relatif tinggi pada bahan keringnya. Hijauan pakan adalah bahan makanan yang
berupa rumput lapang, beberapa dari jenis limbah hasil pertanian, rumput jenis
unggul yang telah diperkenalkan, dan beberapa leguminosa atau kacang-kacangan.
Konsentrat mengandung serat kasar yang lebih sedikit dibandingkan hijauan serta
mengandung karbohidrat, protein, dan lemak yang relatif lebih tinggi jumlahnya
tetapi bervariasi dengan kandungan air yang relatif sedikit (Williamson dan Payne,
1993).
Indigofera sp.
Tanaman Indigofera adalah genus besar dari sekitar 700 jenis tanaman
berbunga milik keluarga Fabaceae (Schrire, 2005). Di Indonesia, Indigofera banyak
dikenal mirip dengan tarum, nila, atau indigo (Indigofera, suku polong-polongan atau
Fabaceae) yang merupakan tumbuhan penghasil warna biru alami yang digunakan
sebagai zat pewarna pakaian terutama dilakukan dalam pembuatan batik atau tenun
ikat tradisional dari Nusantara. Bangsa Indigofera yang besar tersebar di seluruh
wilayah tropika dan subtropika di Asia, Afrika, dan Amerika, sebagian besar
jenisnya tumbuh di Afrika dan Himalaya bagian selatan. Indigofera sp. secara umum
termasuk dalam divisi Magnoliophyta, kelas Magnoliopsida, ordo Fabales, famili
Fabaceae, bangsa Indigofereae, dan genus Indigofera.
Indigofera memberikan peluang yang menjanjikan dalam hal pemenuhan
kebutuhan ternak ruminansia terhadap tanaman pakan. Beberapa spesies di Afrika
dan Asia telah dilaporkan dapat digunakan sebagai hijauan (I. hirsute, I. pilosa, I.
schimperi Syn, I. oblongifolia, I. spicata, I. subulata Syn, dan I. trita). Spesies lain
seperti I. arrecta Hochst.ex A. rich., I. articulate Gouan, I. suffruticosa Mill. dan I.
tinctoria L., juga digunakan sebagai bahan pewarna, pakan ternak, pelindung tanah,
tanaman penutup humus, kontrol erosi, dan tanaman hias (Schrire, 2005).

11

Ciri-ciri Indigofera adalah daunnya berseling, biasanya bersirip ganjil,
kadang-kadang beranak daun tiga, atau tunggal. Bunganya tersusun dalam suatu
tandan diketiak daun, daun kelopaknya berbentuk genta bergerigi lima, daun
mahkotanya berbentuk kupu-kupu. Secara umum tipe buahnya polong, berbentuk
pita (pada beberapa jenis hampir bulat), lurus atau bengkok, berisi 1-20 biji yang
kebanyakan bulat sampai jorong. Semainya dengan perkecambahan epigeal, keping
bijinya tebal, cepat rontok, dan memiliki akar tunggang (Schrire, 2005). Sekitar 50%
jenis Indigofera sp. yang ada beracun dan hanya 30% yang palatable untuk ternak,
namun jenis yang palatable memiliki potensi yang besar sebagai hijauan pakan.
Produktivitas Indigofera sp. mencapai 2,6 ton bahan kering/ha/panen (Hassen
et al., 2008). Hal yang mempengaruhi produktivitas Indigofera sp. antara lain waktu
pemanenan dan pemupukan. Produksi Indigofera sp. mencapai 4.096 kg bahan
kering/ha saat dipanen pada hari ke-88 (Abdullah dan Suharlina, 2010). Abdullah
(2010) menyatakan produksi bahan kering Indigofera sp. dapat mencapai 6,8 ton/ha
dengan perlakuan pupuk daun dosis 30 gram/10 liter. Tanaman ini dapat
dimanfaatkan sebagai pakan ternak yang kaya akan nitrogen, fosfor, dan kalsium.
Kandungan nutrisi Indigofera sp. dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Kandungan Nutrisi Indigofera sp.
Nutrisi

Komposisi

Bahan Kering (%)

93,21

Abu (%)

11,66

Protein Kasar (%)

25,99

Serat Kasar (%)

30,51

Lemak Kasar (%)

1,38

Beta-N (%)

23,67

Ca (%)

0,06

P (%)

0,54

Keterangan: Laboratorium Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan (2011). Departemen Ilmu Nutrisi dan
Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor.

Legum Indigofera sp. memiliki kandungan protein yang tinggi, toleran
terhadap musim kering, genangan air dan tahan terhadap salinitas (Hassen et al.,
2007). Tarigan (2009) menyebutkan bahwa kandungan protein kasar, kalsium, dan
12

fosfor semakin menurun seiring dengan meningkatnya interval pemotongan,
sedangkan kandungan bahan organik, NDF, ADF semakin tinggi dengan
meningkatnya interval pemotongan.
Penelitian Apdini (2011) menunjukkan hasil bahwa pertambahan bobot badan
kambing Peranakan Etawah yang diberikan pakan rumput lapang 40% dan pelet
Indigofera sp. 60% sebesar 166,7 gram/ekor/hari, hasil ini lebih tinggi dibandingkan
kambing Peranakan Etawah yang diberikan pakan rumput lapang 40% dan
konsentrat 60% (tanpa Indigofera sp.) yaitu sebesar 100 gram/ekor/hari. Produksi
susu kambing PE dengan penambahan pakan Indigofera sp. juga lebih tinggi yaitu
sebesar 660 ml/ekor/hari dibandingkan kambing PE yang tidak diberikan pakan
penambahan Indigofera sp. menghasilkan produksi susu sebesar 539 ml/ekor/hari.
Hal ini menunjukkan nutrisi Indigofera sp. dapat dicerna dengan baik sehingga
menghasilkan pertambahan bobot badan dan produksi kambing PE yang tinggi.
Limbah Tauge
Penanganan limbah pertanian pasca panen masih belum mendapat perhatian
yang selayaknya. Sebagian besar dari limbah yang dihasilkan alam baik melalui
proses pertanian, perkebunan, peternakan, dan perikanan setelah dimanfaatkan hasil
utamanya terpaksa harus dibuang dalam bentuk limbah yang tidak dimanfaatkan
dengan baik (Winarno, 1985). Limbah adalah produk sisa yang hampir tidak
digunakan dari suatu kegiatan pertanian (Judoamidjojo et al., 1989) dalam arti luas
definisi ini relatif sama dengan yang dikemukakan oleh Winarno (1985) bahwa
limbah adalah bahan buangan dari proses perlakuan atau pengolahan untuk
memperoleh hasil utama dan hasil samping.
Limbah tauge merupakan sisa dari produksi tauge yang terdiri dari kulit
kacang hijau atau angkup tauge dan pecahan-pecahan tauge yang diperoleh pada saat
pengayakan atau ketika pemisahan untuk mendapatkan tauge yang dapat dikonsumsi.
Limbah tauge biasanya dibuang begitu saja di pasar atau oleh para pengrajin tauge,
sehingga berpeluang untuk mencemari lingkungan. Potensi limbah tauge dalam
sehari sangat banyak dilihat dari produksi tauge yang tidak mengenal musim
terutama untuk pengrajin tauge di daerah Bogor. Sebagai contoh, total produksi tauge
di daerah Bogor sekitar 6,5 ton/hari dan berpeluang untuk menghasilkan limbah
tauge sebesar 1,5 ton/hari (Rahayu et al., 2010). Limbah tauge dihasilkan dari kacang
13

hijau yang mengalami perubahan secara fisik dan kimia menjadi tauge, kemudian
dilakukan pengayakan tauge di pasar sebelum dijual ke konsumen.
Menurut Belinda (2009), kacang hijau mempunyai kandungan protein yang
tinggi dan susunan asam amino yang mirip dengan susunan asam amino kedelai.
Salah satu kekurangan kacang hijau adalah adanya kandungan antinutrisi yang relatif
tinggi. Cara untuk mengurangi kandungan antinutrisi pada kacang hijau, salah
satunya dengan memberikan perlakuan pada kacang tersebut seperti perendaman,
perkecambahan, dan pemanasan. Kacang hijau mempunyai nilai daya cerna protein
yang cukup tinggi yaitu sebesar 81%, namun daya cerna protein ini dipengaruhi oleh
adanya inhibitor tripsin. Aktivitas enzim tripsin dapat pula dipengaruhi oleh adanya
tanin atau polifenol. Salah satu upaya untuk menginaktifkan zat-zat antigizi tersebut
adalah dengan membuat kacang-kacangan tersebut berkecambah menjadi tauge
(Bressani et al., 1982). Komposisi Nutrisi limbah tauge dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Komposisi Nutrisi Limbah Tauge
Nutrisi

Komposisi

Bahan Kering (%)

87,94

Abu (%)

2,64

Protein Kasar (%)

14,42

Serat Kasar (%)

38,50

Lemak Kasar (%)

0,21

Beta-N (%)

32,17

Ca (%)

0,86

P (%)

0,41

Keterangan: Laboratorium Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan (2011). Departemen Ilmu Nutrisi dan
Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor.

Limbah tauge sering kali dianggap tidak berguna dan dapat mencemari
lingkungan, namun melihat kandungan gizi yang terdapat dalam limbah tauge, maka
limbah tauge tesebut kemungkinan dapat dimanfaatkan sebagai salah satu pakan
ternak diantaranya sebagai pakan ternak domba. Selain memberikan nilai ekonomis
dan mengurangi pencemaran lingkungan, pemanfaatan dan pendaurulangan limbah
pertanian menjadi komoditas baru dapat memberikan keuntungan lain seperti

14

penyerapan tenaga kerja dan dihasilkannya produk baru yang berguna sehingga
meningkatkan pendapatan dan keuntungan petani atau produsen.
Penelitian Wandito (2011) menunjukkan bahwa rataan pertambahan bobot
badan harian domba dengan penambahan pakan limbah tauge berkisar antara 96,30145,83 gram/ekor/hari, dengan rataan umumnya adalah 114,97 gram/ekor/hari. Hal
tersebut dapat dinyatakan bahwa pemanfaatan limbah tauge ini dapat meningkatkan
bobot badan domba dengan baik karena mampu menghasilkan pertambahan bobot
badan harian yang sama dengan penggunaan konsentrat saja. Konsumsi pakan segar
pada domba yang diberikan pakan 25% konsentrat dan 75% limbah tauge sebesar
1669,9 gram/ekor/hari, hal ini lebih tinggi dibandingkan konsumsi pakan segar pada
domba yang hanya diberikan 100% konsentrat yaitu sebesar 645,6 gram/ekor/hari.
Banyaknya kandungan limbah tauge dalam campuran pakan menyebabkan tekstur
pakan menjadi lebih lembut karena hanya sedikit mengandung konsentrat yang
berbentuk crumble dan mash, selain itu warna pakannya cerah (berwarna hijau) dan
baunya lebih segar.
Pelet
Pelet merupakan bentuk bahan pakan yang dipadatkan sedemikian rupa dari
bahan konsentrat atau hijauan dengan tujuan untuk mengurangi sifat keambaan
pakan. Proses pembuatan pelet dapat mengurangi biaya produksi dari sisi transportasi
dan penyimpanan karena dapat meningkatkan kerapatan tumpukan. Bagi hewan
ternak, pelet dapat meningkatkan nilai nutrisi pakan karena bentuk pelet yang
kompak mengurangi kemungkinan ternak untuk memilih bahan pakan dan
memungkinkan penambahan imbuhan pakan secara lebih merata. Pelet juga dapat
meningkatkan level asupan pakan dan mengurangi jumlah pakan yang terbuang siasia (McElhiney, 1994).
Proses pembuatan pelet merupakan mekanis yang menggunakan kombinasi
moisture/uap air, panas, dan tekanan. McElhiney (1994) menyatakan bahwa pelet
merupakan hasil proses pengolahan bahan baku secara mekanik yang didukung oleh
faktor kadar air, panas dan tekanan, selain itu dua faktor yang mempengaruhi
kekuatan pelet. Faktor-faktor yang mempengaruhi ketahanan serta kualitas fisik pelet
adalah karakteristik dan ukuran partikel bahan (Balagopalan et al., 1988). Pati bila
dipanaskan dengan air akan mengalami gelatinisasi yang berfungsi sebagi perekat
15

sehingga mempengaruhi kekuatan pelet. Serat berfungsi sebagai kerangka pelet dan
lemak berfungsi sebagai pelicin selama proses pembentukan pelet dalam mesin pelet
sehingga mempermudah pembentukan pelet.
Kestabilan pelet juga dipengaruhi oleh kandungan kadar air bahan baku,
ukuran partikel dan suhu sebelum pengolahan, selain itu untuk menghasilkan pelet
yang berkualitas dengan biaya operasional yang rendah perlu diperhatikan beberapa
hal diantaranya ukuran ketebalan die (cetakan), diameter die, kecepatan putaran die
dan ukuran pemberian ransum (Balagopalan et al., 1988). Pembuatan pelet terdiri
dari proses pencetakan, pendinginan, dan pengeringan. Perlakuan akhir terdiri dari
proses sortasi, pengepakan, dan pergudangan. Menurut Pfost (1976), proses penting
dalam pembuatan pelet adalah pencampuran (mixing), pengaliran uap (conditioning),
pencetakan (extruding) dan pendinginan (cooling).

16

MATERI DAN METODE
Lokasi dan Waktu
Penelitian ini telah dilaksanakan di kandang percobaan Laboratorium Ternak
Ruminansia Kecil (Kandang B) dan Laboratorium Ternak Ruminansia Besar,
Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor. Analisis proksimat pakan dilakukan di
Laboratorium Ilmu Nutrisi dan Teknologi Pakan, Fakultas Peternakan, Institut
Pertanian Bogor. Penelitian ini dilaksanakan selama lima bulan dari bulan Mei
hingga September 2011.
Materi
Ternak
Ternak yang digunakan dalam penelitian ini adalah domba ekor tipis jantan
umur tiga bulan sebanyak delapan ekor dengan rataan bobot awal 9,28±1,38 kg
(KK=14,94%). Domba berasal dari Unit Pendidikan dan Penelitian Peternakan
Jonggol (UP3J). Ternak dikandangkan secara individu dan digemukkan selama tiga
bulan. Domba yang digunakan pada penelitian dapat dilihat pada Gambar 1.

Gambar 1. Domba Penelitian.
Pakan dan Minum
Pakan diberikan dalam bentuk pelet. Perlakuan R1 merupakan pelet yang
terdiri dari bahan pakan Indigofera sp. (30%) dan konsentrat (70%), sedangkan
perlakuan R2 merupakan pelet yang terdiri dari bahan pakan limbah tauge (30%) dan

17

konsentrat (75%). Konsentrat yang digunakan terdiri atas onggok, jagung , bungkil
kelapa, dan bungkil kedelai. CaCO3, molases, dan NaCl juga digunakan dalam
pembuatan pelet. Kadar zat makanan dalam pakan disesuaikan dengan kebutuhan
domba selama masa pertumbuhan (NRC, 2007). Komposisi nutrisi dan bahan ransum
penelitian dapat dilihat pada Tabel 3.
Tabel 3. Komposisi Nutrisi dan Bahan Ransum Penelitian
Bahan Pakan
Indigofera sp.
Limbah Tauge
Onggok
Jagung
Bungkil Kelapa
Bungkil Kedelai
CaCO3
Molases
NaCl
Jumlah
Komposisi Nutrisi
Bahan Kering
Protein Kasar
Serat Kasar
Lemak Kasar
Ca
P
TDN

Perlakuan
R1
R2
---------------------------------%-------------------------------30
0
0
30
12
10
10
10
32
32
8
10
2,5
2,5
5
5
0,3
0,3
100
100
100,00
18,00
12,07
5,44
0,80
0,84
73,82

100,00
18,00
22,60
5,70
0,83
0,10
72,22

Limbah tauge yang digunakan dalam penelitian ini diperoleh dari pedagangpedagang tauge yang berada di pasar Bogor dan sekitarnya. Limbah tauge adalah sisa
dari hasil pengayakan tauge, sehingga diperoleh limbah kulit kacang hijau (angkup
tauge) yang tercampur dengan beberapa bagian dari potongan tauge yang terbawa
ketika pengayakan. Pengayakan tauge dilakukan dengan menggunakan ayakan yang
terbuat dari anyaman bambu dan limbah tauge dapat terpisah dengan mudah dari
taugenya sendiri. Limbah tauge yang didapatkan kemudian dijemur atau dipanaskan
di bawah sinar matahari selama satu hingga dua hari.

18

Indigofera sp. yang digunakan dalam penelitian ini didapatkan dari Unit
Pendidikan dan Penelitian Peternakan Jonggol (UP3J). Indigofera sp. merupakan
legum pohon dan Indigofera sp. yang digunakan dalam penelitian ini sudah dalam
bentuk kering. Limbah tauge dan Indigofera sp. dalam bentuk kering bertujuan agar
memudahkan dalam proses pembuatan pelet. Indigofera sp. dan limbah tauge dapat
dilihat pada Gambar 2.

(a)

(b)

(c)

(d)

Gambar 2. (a) Indigofera sp., (b) Indigofera sp. yang Kering, (c) Limbah Tauge yang
Dijemur, (d) Limbah Tauge yang Kering.
Masing-masing domba diberikan pelet dan air minum secara ad libitum.
Pemberian pelet pada domba diawali pada pagi hari sebanyak 1.000 gram/ekor/hari,
apabila pelet tersebut telah habis, maka ditambahkan pelet pada siang atau sore hari
sebanyak 500-1.000 gram/ekor/hari dan air minum diberikan dengan awal pemberian
air di pagi hari sebanyak dua liter/ekor/hari, kemudiaan pada keesokan harinya
dilakukan pengukuran sisa pakan dan air minum. Pelet dan air minum dapat dilihat
pada Gambar 3.

19

(b)

(a)
Gambar 3. (a) Pelet, (b) Air Minum.
Obat-Obatan

Obat-obatan ternak yang digunakan selama penelitian ini terdiri atas obat
Kalbazen (obat cacing), obat suntik “Intermectin” (obat kulit, obat kutu), obat tetes
mata “Cendo”, obat ektoparasit, dan obat herbal.
Kandang dan Peralatan
Kandang panggung yang digunakan dalam penelitian ini adalah kandang
individu dengan ukuran 1,5 x 0,75 meter. Kandang dilengkapi dengan tempat pakan
dan tempat air minum. Peralatan yang digunakan antara lain timbangan, karung
(penopang domba pada saat ditimbang), sapu, serokan, dan sikat (membersihkan
kandang), karung untuk pelet, ember, suntikan, kertas label, alat tulis, kantong
plastik, termometer, pisau, gunting, gergaji karkas, penggantung karkas domba,
chiller, dan kamera digital. Peralatan yang digunakan selama penelitian dapat dilihat
pada Gambar 4.

20

(a)

(b)

(c)
(d)
Gambar 4. (a) Termometer, (b) Timbangan Pakan, (c) Peralatan Potong, (d)
Timbangan Digital.
Prosedur
Persiapan
Persiapan yang dilakukan sebelum penelitian adalah persiapan kandang,
peralatan, dan pakan. Kandang panggung yang digunakan adalah kandang individu
yang terbuat dari besi, dimana alas kandang terbuat dari bambu yang disekat.
Sebelum domba didatangkan, kandang dibersihkan terlebih dahulu dengan cara
membersihkan kotoran pada atap, dinding, dan jendela kandang, kemudian kandang
individu dibersihkan dengan cara disapu sehingga kotoran yang terdapat di dalamnya
tidak ada. Bagian bawah kandang yaitu kolong kandang juga dibersihkan dari
kotoran maupun rumput-rumput kering yang telah ada sebelumnya. Setelah kandang
bersih, keesokan harinya dilakukan desinfektan dengan cara pengapuran hingga
kering.
Peralatan yang digunakan selama penelitian sudah disiapkan sesuai
kebutuhan selama pemeliharaan domba. Bahan dasar pakan berupa Indigofera sp.
21

dan limbah tauge telah disiapkan sebelumnya, terutama limbah tauge yang jauh-jauh
hari sebelum penelitian sudah dikumpulkan yang diperoleh dari pasar Bogor. Domba
yang datang ditimbang bobot badannya, kemudian dilakukan pencukuran bulu
domba dan pengguntingan kuku, setelah itu domba dimandikan dengan diberikan
obat ektoparasit, dibersihkan, dan dikeringkan. Domba juga diberikan obat cacing.
Sebelum perlakuan pakan diberikan, domba terlebih dahulu dilakukan proses
adaptasi pakan selama satu bulan. Adaptasi pakan dilakukan untuk mengurangi
kemungkinan turunnya nafsu makan ternak akibat pergantian jenis pakan, dimana
domba sebelumnya diberikan pakan biasa berupa rumput dan akhirnya diberikan
pakan berupa pelet. Domba diberikan pakan dengan rumput dan tambahan pelet
secara bertahap sesuai dengan perlakuan yang akan diberikan. Pemberian minum
pada saat proses adaptasi pakan sudah dilakukan secara ad libitum. Hal ini
dikarenakan air minum tidak menjadi faktor peubah yang diamati.
Pemeliharaan Domba
Pemeliharaan domba pada penelitian ini dilaksanakan di kandang percobaan
Laboratorium Ternak Ruminansia Kecil (Kandang B), Departemen Ilmu Produksi
dan Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan, Institut Pertanian Bogor. Bentuk
kandang berupa kandang monitor dengan dinding tertutup, selain itu kandang
dilengkapi dengan pintu dan ventilasi udara pada keempat sisi dindingnya. Kandang
monitor merupakan kandang yang mempunyai atap dua bidang. Ventilasi udara
berguna untuk menjaga sirkulasi udara di dalam kandang agar ternak tetap terasa
nyaman. Ventilasi udara bagian belakang kandang pada sore hari ditutup dengan
terpal yang terbuat dari plastik karena suhu udara pada malam hari mulai rendah dan
kondisi lingkungan seperti ini tidak baik untuk kesehatan ternak.
Dinding kandang monitor yang tertutup berguna untuk melindungi ternak dari
gangguan predator dari luar. Kandang monitor tersebut terdiri dari beberapa kandang
panggung individu yang terbuat dari tralis besi dan alas kandang berasal dari bambu.
Kandang panggung individu dilengkapi dengan tempat pakan berupa bak pakan dan
tempat minum berupa ember. Kandang yang digunakan selama penelitian dapat
dilihat pada Gambar 5.

22

(a)

(b)

Gambar 5. (a) Kandang Tampak Luar, (b) Kandang Tampak Dalam.
Domba digemukkan selama tiga bulan, setelah domba dapat beradaptasi,
dilakukan pemberian pakan dan air minum secara ad libitum. Pemberian awal pelet
pada domba sebanyak 1.000 gram/ekor/hari pada pagi hari, apabila pelet tersebut
telah habis maka ditambahkan pelet pada siang atau sore hari sebanyak 500-1.000
gram/ekor/hari dan air minum diberikan dengan awal pemberian air di pagi hari
sebanyak dua liter/ekor/hari, kemudiaan pada keesokan harinya dilakukan
pengukuran sisa pakan dan air minum. Penimbangan pertambahan bobot badan
domba dilakukan setiap dua minggu sekali selama pemeliharaan, dengan tujuan
menghindari stress pada domba. Selama pemeliharaan juga dilakukan pengukuran
suhu dan kelembaban kandang setiap harinya, baik di dalam kandang maupun di luar
kandang.
Pemotongan Hewan (Herman, 1993)
Domba yang dipotong dipuasakan terlebih dahulu selama 12 jam untuk
mengurangi jumlah digesta dalam saluran pencernaan. Sebelum dilakukan
pemotongan, domba ditimbang untuk mengetahui bobot potongnya. Pemotongan
dilakukan secara halal dengan memotong bagian leher dekat tulang rahang bawah,
sehingga semua pembuluh darah, oesophagus dan trachea terpotong untuk
mendapatkan pendarahan sempurna. Darah ditampung dan ditimbang sebagai darah
tertampung. Ujung oesophagus diikat untuk mencegah cairan rumen mengalir keluar
dan menyebabkan penyusutan lebih besar.

23

Kepala dilepaskan dari tubuh pada sendi occipito-atlantis, kemudian
ditimbang sebagai bobot kepala. Kaki depan dan kaki belakang dilepaskan pada
sendi carpo-metacarpal dan sendi tarso-metatarsal. Keempat kaki tersebut
ditimbang sebagai bobot kaki depan dan belakang. Untuk melepaskan kulit, hewan
digantung pada kaki belakang di tendo Achilles. Kulit dituris dari anus sampai leher
di bagian-bagian perut dan dada, kemudian dari arah kaki belakang dan kaki depan
menuju irisan tadi. Kulit setelah dilepaskan, kemudian ditimbang sebagai bobot kulit.
Untuk mengeluarkan organ tubuh dari rongga perut dan rongga dada, dilakukan
penyayatan pada dinding abdomen sampai dada. Sebelumya, rectum dibebaskan dan
diikat untuk mencegah feces keluar, mengotori karkas, dan mengurangi penyusutan.
Semua organ tubuh, terdiri atas hati, limpa, ginjal, jantung, paru-paru, dan
trachea, dikeluarkan dan dibebaskan dari lemak dan ditimbang dan dicatat bobotnya.
Alat pencernaan dengan isinya dibersihkan dari lemak dan dibagi menjadi
perut+oesophagus dengan isi dan usus dengan isi, ditimbang bobotnya. Setelah
dibersihkan dan dikeringkan, maka bobot+oesophagus kosong dan bobot usus
kosong dapat diperoleh. Bobot empedu dan urin ditimbang. Lemak yang berasal dari
rongga dada ditimbang sebagai bobot lemak rongga abdomen dan rongga dada.
Lymphoglandula dari rongga abdomen ditimbang sebagai bobot offal rongga
abdomen, begitu pula dengan offal dari rongga dada. Pancreas ditimbang sebagi
bobot pancreas. Karkas segar ditimbang bobotnya sebagai bobot karkas segar,
kemudian dibungkus dalam kantong plastik yang diikat erat, lalu disimpan dalam alat
pendingin (chiller) 4°C untuk diuraikan keesokan harinya. Proses pemotongan ternak
dapat dilihat pada Lampiran 3.
Penguraian Karkas
Karkas yang telah disimpan dalam alat pendingin (chiller), dikeluarkan dan
ditimbang bobotnya, kemudian dicatat sebagai bobot karkas dingin. Karkas dibelah
sepanjang tulang belakangnya dari leher (Ossa vertebrae cervicalis) sampai sacral
(Ossa vertebrae sacralis). Masing-masing separuh karkas ditimbang sebagai bobot
karkas sebelah kiri dan sebelah kanan.
Bagian karkas sebelah kiri diuraikan menjadi tujuh potongan komersial yaitu
paha belakang (leg), pinggang (loin), rusuk dada (rack), bahu (shoulder), perut dada
(breast), shank dan lipatan paha (flank). Setelah didapatkan potongan komersial,
24

masing-masing bagian ditimbang dan dipisahkan antara daging, tulang, dan lemak.
Proses penguraian karkas dapat dilihat pada Lampiran 4.
Rancangan dan Analisis Data
Rancangan
Penelitian ini menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Perlakuan
pada penelitian ini yaitu perbedaan jenis pakan yang diberikan berupa Indigofera sp.
dan limbah tauge terhadap produktivitas karkas domba ekor tipis umur enam bulan.
Masing-masing perlakuan diulang sebanyak empat ulangan sehingga terdapat
delapan unit percobaan. Model matematika rancangan percobaan ini menurut
Gasperz (1992) adalah:
Yij = µ + Pi + Xij + εij
dengan :
Yij

= Produktifitas karkas domba umur enam bulan berdasarkan perbedaan pakan
ke-i dan ulangan ke-j

µ

= Nilai rata-rata komposisi jaringan karkas domba umur enam bulan

Pi

= Pengaruh perbedaan pakan ke-i (Indigofera sp. dan limbah tauge)

Xij

= Pengukuran kovariat yang dihasilkan pakan ke-i pada ulangan ke-j yang
berkaitan dengan Yij

εij

= Pengaruh galat percobaan pada taraf perbedaan pakan ke-i pada ulangan
ke-j

Analisis Data
D

Dokumen yang terkait

Dokumen baru