CITRA PEREMPUAN DALAM NOVEL BIDADARI-BIDADARI SURGA KARYA TERE LIYE DAN TEATRIKAL HATI KARYA RANTAU ANGGUN & BINTA AL MAMBA SERTA IMPLIKASINYA TERHADAP PEMBELAJARAN SASTRA DI SMA

ABSTRAK

CITRA PEREMPUAN DALAM NOVEL BIDADARI-BIDADARI SURGA
KARYA TERE LIYE DAN TEATRIKAL HATI KARYA RANTAU
ANGGUN & BINTA AL MAMBA SERTA IMPLIKASINYA
TERHADAP PEMBELAJARAN SASTRA
DI SMA
Oleh
HANA YAKFI ANINGSIH

Masalah dalam penelitian ini adalah bagaimana citra perempuan dalam novel
Bidadari-Bidadari Surga karya Tere Liye dan Teatrikal Hati karya Rantau
Anggun & Binta Al Mamba serta implikasinya terhadap pembelajaran sastra di
SMA. Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan citra perempuan yang
ditampilkan dalam BBS dan TH, lalu membandingkan citra perempuan yang
terdapat pada kedua novel tersebut serta menentukan implikasinya terhadap
pembelajaran sastra di SMA.
Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif. Sumber
data dalam penelitian ini adalah novel Bidadari-Bidadari Surga karya Tere Liye
dan Teatrikal Hati karya Rantau Anggun & Binta Al Mamba Dalam penelitian
ini, teknik pengumpulan dan analisis data yang digunakan adalah analisis teks.
Berdasarkan hasil penelitian, menunjukkan bahwa citra perempuan yang
ditampilkan dalam novel BBS ditampilkan oleh tokoh Laisa, Yashinta, dan
Mamak Lainuri. Citra perempuan dalam novel TH ditampilkan oleh tokoh Gwen,
Linda, dan Setyani.
Kesamaan citra perempuan yang ditampilkan dalam BBS dan TH adalah keduanya
menampilkan sosok perempuan yang menyayangi keluarga dan sosok perempuan
yang mampu menanamkan nilai-nilai agama pada anak. Perbedaan citra
perempuan yang ditampilkan di dalam BBS dan TH adalah sosok perempuan yang
ditampilkan dalam BBS adalah perempuan yang memiliki cacat secara fisik, rela

berkorban dan bekerja keras, sedangkan di dalam TH sosok perempuan yang
ditampilkan adalah perempuan yang cantik, bertemperamen tinggi, memiliki sikap
antipati pada laki-laki dan pernikahan serta citra sebagai perempuan yang setia,
dan mencintai suami.
Citra perempuan dalam novel BBS dan TH dapat diimplikasikan ke dalam
pembelajaran sastra di SMA. Hal tersebut berdasarkan kriteria pemilihan bahan
ajar yang ditinjau dari aspek bahasa, psikologi, dan latar belakang budaya, serta
Kurikulum 2013 yang diterapkan pada kelas XI, Kompetensi Dasar (KD) 3.9
Menganalisis pelaku, peristiwa, dan latar dalam novel yang dibaca.

CITRA PEREMPUAN DALAM NOVEL BIDADARI-BIDADARI SURGA
KARYA TERE LIYE DAN TEATRIKAL HATI KARYA RANTAU
ANGGUN & BINTA AL MAMBA SERTA IMPLIKASINYA
TERHADAP PEMBELAJARAN SASTRA
DI SMA

Oleh
HANA YAKFI ANINGSIH

Skripsi
Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar
SARJANA PENDIDIKAN
Pada
Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia
Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
BANDARLAMPUNG
2015

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Muhajirun pada tanggal 31 Maret 1992,
sebagai anak sulung dari lima bersaudara dari pasangan Bapak
Anwar Sadar dan Ibu Siti Maryam.
Pendidikan yang telah ditempuh penulis adalah:
1. Taman Kanak-kanak (TK) Al-Fatah Natar, selesai tahun 1998.
2. Madrasah Ibtidaiyah (MI) Al-Fatah Natar, selesai tahun 2004.
3. Madrasah Tsanawiyah (MTs) Al-Fatah Natar, selesai tahun 2007.
4. Madrasah Aliyah (MA) Al-Fatah Natar, selesai tahun 2010.
Pada tahun 2010 penulis diterima menjadi mahasiswa pada Program Studi
Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, Jurusan Pendidikan Bahasa dan Seni,
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP), Universitas Lampung melalui
jalur PKAB.
Selama menjadi mahasiswa, penulis aktif dalam organisasi baik internal maupun
eksternal kampus sebagai berikut.
1. UKM Tapak Suci Universitas Lampung:
a. Tahun 20011/2012 sebagai Wakil Sekretaris Umum.
b. Tahun 2012/2013 sebagai Sekretaris Umum
2. UKM Pencak Silat Universitas Lampung
a. Tahun 2013/2014 sebagai Ketua Umum.
3. Forum Komunikasi Mahasiswa Hizbulloh (FKMH) sebagai pengurus.

Prestasi yang pernah diraih penulis antara lain sebagai berikut.
1. Juara II Seni Ganda Putri pada Kejurda Pencak Silat Unila Open tahun 2012.
2. Juara 1 Seni Ganda Putri pada Kejurnas Pencak Silat Antar Perguruan Tinggi
IV di Universitas Hasanuddin Makassar tahun 2012
3. Lima besar Seni Ganda Putri pada Kejuaraan Tapak Suci of Brawijaya
University International Open di Malang tahun 2012.
Kegiatan-kegiatan yang pernah diikuti penulis antara lain sebagai berikut.
1.

Peserta Pekan Olah Raga Provinsi Lampung (Porprov) VI tahun 2010.

2.

Ketua Pelaksana Kejuaraan Tapak Suci Unila Cup I Se-Lampung tahun 2011.

3.

Sekretaris Pelaksana Kejurda Pencak Silat Unila Open tahun 2012.

4.

Panitia Pengarah pada Kejuaraan Regional Pencak Silat Championship
University of Lampung Se-Jawa Sumatera tahun 2013.

5.

Manajer tim Unila pada Kejuaraan Nasional Antar PPLM dan UKM di
Universitas Negeri Surabaya tahun 2013.

6.

Peserta pada Pekan Olahraga Mahasiswa Nasional (POMNAS) XIII di
Daerah Istimewa Yogyakarta tahun 2013.

7.

Peserta Seminar Nasional dan Diskusi Budaya Pencak Silat Indonesia
“Pencak Silat Road to UNESCO” di Jakarta tahun 2014.

8.

Manajer Tim Unila pada Kejurnas Pencak Silat Antar Perguruan Tinggi V di
UGM Yogyakarta tahun 2014.

9.

Panitia Pelaksana pada Pekan Olah Raga Provinsi (Porprov) VII di Kalianda
tahun 2014.

10. Menjadi salah satu wakil Universitas Lampung pada Forbiminas “Silaturahim
Presiden SBY dengan Mahasiswa Penerima Bidik Misi” di Jakarta tahun
2014.
Pada tahun 2013 penulis melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di Desa
Sekincau, Lampung Barat dan PPL di MA Nurul Iman Sekincau, Lampung Barat.

PERSEMBAHAN

“Bismillahirrahmanirrahim...
Kupersembahkan dengan cinta, karya istimewaku ini kepada
Bapak dan Ibuku terkasih,
Adik-adikku,
Sahabat-sahabatku,
Keluarga Besar Tapak Suci Unila,
Almamaterku,
serta kepada orang-orang yang telah mendidik dan mengajarku dengan ikhlas”

MOTO

Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum, sampai mereka yang
mengubahnya sendiri.
(QS. Ar-Ra’ad: 11)

Barang siapa menempuh suatu jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan
memudahkan baginya jalan ke surga.
(HR. Muslim)

Dengan iman dan akhlak saya menjadi kuat, tanpa iman dan akhlak saya menjadi
lemah.
(Tapak Suci)

SANWACANA

Puji syukur penulis ucapkan kepada Allah SWT atas rahmat dan hidayah-Nya sehingga
penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.
Skripsi dengan judul “Citra Perempuan dalam Novel Bidadari-Bidadari Surga Karya
Tere Liye dan Teatrikal Hati Karya Rantau Anggun & Binta Al Mamba serta
Implikasinya terhadap Pembelajaran Sastra di SMA” adalah salah satu syarat untuk
memperoleh gelar sarjana pendidikan di Universitas Lampung.
Penulis mengucapkan terimakasih pada pihak-pihak berikut.
1. Dr. Munaris, M. Pd., selaku pembimbing I yang telah begitu tulus membimbing
penulis dengan tekun dan sabar.
2. Drs. Kahfie Nazaruddin, M. Hum., selaku pembimbing II dan Ketua Program
Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia yang telah memberikan banyak
masukan, arahan, dan bimbingan kepada penulis.
3. Dr. Muhammad Fuad, M. Hum., selaku penguji utama dan Wakil Dekan Bidang
Kemahasiswaan dan Alumni FKIP Universitas Lampung.
4. Dr. Mulyanto Widodo, M. Pd., selaku Ketua Jurusan Pendidikan Bahasa dan
Seni Universitas Lampung.
5. Dr. Wini Tarmini, M. Hum, selaku Pembimbing Akademik yang telah begitu
baik kepada penulis selama ini.
6. Bapak dan Ibu dosen di Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.
7. Dr. Bujang Rahman, M. Si., selaku Dekan FKIP Universitas Lampung.
8. Kedua orang tuaku, Bapak Anwar Sadar dan Ibu Siti Maryam yang telah
mendidik dan mendoakanku di setiap sepertiga malam mereka.

9. Adik-adikku, Amin Waliyudin, Ridlo Kurniawan, Amalia Mahmudah, dan
Mikail Nabhan Albar, terimakasih telah mau jadi adikku.
10. Keluargaku di UKM Tapak Suci Unila: Kak Asri, Mba Vera, Kak Bagus, Kak
Moko, Mba Andra, Kyay Amiril, Kak Dora, Kak Irfan, Kak Taufik, Kak Roni,
Kak Devi, Mba Itek, Yuber, Ella, Awal, Wawan, Ummu, Mila, Arin, Fahmi, Ali,
Afif, Yui, Egi, Wahyu, Yayi, Irfan Muzaffar, Dahlia, Eka, Eko, Anita, Ferdi,
Dian, Paksi, Iko, dan maaf yang belum tersebut, terimakasih atas hubungan
kekeluargaan ini. Semoga Allah senantiasa menjaga ukhuwah ini sampai ke
surga-Nya.
11. Para sahabatku, Nikmah, Nesiana, Marlin, yang tega-teganya lulus duluan.
Murni, Ania Dz, Umi L, Mutiara Dini, Luthfiana, Dinda, dan Nuhay yang telah
memberi semangat serta terimakasih atas kebaikannya.
12. Teman-teman KKN-PPL, Dinny, Giyah, Rani, Amel, Tika, Nay, Yunita, Perdan,
Rozi, dan Erwin, terimakasih untuk waktu tiga bulan yang kita habiskan
bersama di desa Sekincau.
13. Teman-teman seperjuangan seluruh angkatan 2010.
14. Semua pihak yang telah membantu menyelesaikan skripsi ini, yang tidak dapat
disebutkan satu per satu.
Semoga Alloh SWT membalas amal dan kebaikan dari pihak-pihak yang telah
disebutkan di atas. Semoga usaha keras dan niat baik penulis mendapat rahmat dari
Alloh SWT dan skripsi ini bermanfaat untuk kemajuan pendidikan, khususnya
pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.
Bandarlampung, Februari 2015

Hana Yakfi Aningsih

DAFTAR ISI

................................................................................................................. Halaman
I. PENDAHULUAN ..............................................................................
1.1 Latar Belakang ...........................................................................
1.2 Rumusan Masalah .......................................................................
1.3 Pertanyaan Penelitian ..................................................................
1.4 Tujuan Penelitian.........................................................................
1.5 Manfaat Penelitian.......................................................................
1.6 Ruang Lingkup Penelitian ...........................................................

1
1
5
6
6
7
7

II. KAJIAN PUSTAKA ........................................................................
2.1 Pengertian Novel .........................................................................
2.2 Pengertian Tokoh dan Penokohan ...............................................
2.3 Pengungkapan Citra Perempuan .................................................
2.4 Pembelajaran Sastra di SMA.......................................................

8
8
10
17
20

III. METODE PENELITIAN ..............................................................
3.1 Metode Penelitian ........................................................................
3.2 Sumber Data ................................................................................
3.3 Prosedur Penelitian ......................................................................
3.4 Teknik Pengumpulan dan Analisis Data .....................................

25
25
26
26
27

IV. PEMBAHASAN ..............................................................................
4.1 Citra Perempuan dalam Novel Bidadari-Bidadari Surga Karya
Tere Liye .....................................................................................
4.1.1 Citra Perempuan pada Tokoh Laisa ...................................
4.1.2 Citra Perempuan pada Tokoh Yashinta..............................
4.1.3 Citra Perempuan pada Tokoh Mamak Lainuri ...................

28
28
28
46
49

4.2 Citra Perempuan dalam Novel Teatrikal Hati Karya Rantau
Anggun & Binta Al Mamba ........................................................
4.2.1 Citra Perempuan pada Tokoh Gwen ...............................
4.2.2 Citra Perempuan pada Tokoh Linda ...............................
4.2.3 Citra Perempuan pada Tokoh Setyani .............................

55
55
66
71

4.3 Perbandingan Citra Perempuan dalam Novel Bidadari-Bidadari
Surga Karya Tere Liye dan Teatrikal Hati Karya Rantau Anggun
& Binta Al Mamba ......................................................................
82
4.3.1 Citra Perempuan pada Tokoh Laisa dalam BBS dan pada
Tokoh Gwen dalam TH......................................................
4.3.2 Citra Perempuan pada Tokoh Yashinta dalam BBS dan
pada Tokoh Linda dalam TH .............................................
4.3.3 Citra Perempuan pada Tokoh Mamak Lainuri dalam BBS
dan pada Tokoh Setyani dalam TH ....................................

82
113
121

4.4 Implikasi terhadap Pembelajaran Sastra di SMA........................
1. Aspek Bahasa ........................................................................
2. Aspek Psikologi ....................................................................
3. Aspek Latar Belakang Budaya ..............................................
4. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP)...........................

137
137
139
141
145

V. SIMPULAN DAN SARAN ..............................................................
5.1 Simpulan .....................................................................................
5.2 Saran ...........................................................................................

159
159
161

DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

DAFTAR TABEL

Tabel 1. Citra Perempuan pada Tokoh Laisa dalam BBS dan pada
Tokoh Gwen dalam TH ............................................................

82

Tabel 2. Citra Perempuan pada Tokoh Yashinta dalam BBS dan pada
Tokoh Linda dalam TH ............................................................

114

Tabel 3. Citra Perempuan pada Tokoh Mamak Lainuri dalam BBS dan
pada Tokoh Setyani dalam TH ................................................

121

DAFTAR PETA KONSEP

4.1.1 Peta Konsep Citra Perempuan pada Tokoh Laisa .........................

28

4.1.2 Peta Konsep Citra Perempuan pada Tokoh Yashinta ....................

46

4.1.3 Peta Konsep Citra Perempuan pada Tokoh Mamak Lainuri ..........

49

4.2.1 Peta Konsep Citra Perempuan pada Tokoh Gwen ........................

55

4.2.2 Peta Konsep Citra Perempuan pada Tokoh Linda ........................

66

4.2.3 Peta Konsep Citra Perempuan pada Tokoh Setyani ......................

71

I. PENDAHULUAN

Pada bab ini, peneliti akan menyajikan latar belakang masalah, rumusan masalah,
pertanyaan penelitian, tujuan penelitian, manfaat penelitian, dan ruang lingkup
penelitian dari penelitian mengenai citra perempuan dalam novel BidadariBidadari Surga karya Tere Liye dan Teatrikal Hati karya Rantau Anggun & Binta
Al Mamba serta implikasinya terhadap pembelajaran sastra di SMA.
1.1 Latar Belakang
Karya sastra merupakan hasil karya salah satu cabang kebudayaan, yakni
kesenian. Seperti hasil kesenian umumnya, karya sastra mengandung unsur
keindahan yang menimbulkan rasa senang, nikmat, terharu, menarik perhatian,
dan meyegarkan perasaan penikmatnya (Kusdiratin dkk, 1985:1).
Berbicara tentang karya sastra berarti berbicara tentang kata-kata yang berbalut
keindahan. Ia merupakan sarana penyampaian aspirasi sastrawan, baik berupa ide,
dukungan, harapan, penolakan, bahkan tuntutan tentang manusia dan
kehidupannya dengan menggunakan bahasa sebagai medianya. Karya sastra
merupakan cerminan kehidupan suatu masyarakat, ia juga menjadi lambang
kemajuan peradaban suatu masyarakat. Oleh karena itu, karya sastra selalu
berubah dari zaman ke zaman sesuai dengan kondisi sosial masyarakat yang
melatarinya.

2

Penelitian tentang karya sastra dilakukan untuk mengetahui relevansinya terhadap
kenyataan yang ada dalam masyarakat. Nilai-nilai yang terkandung dalam karya
sastra sejatinya mengandung pesan moral yang dapat memberikan pengaruh
terhadap masyarakat.
Sastra merupakan produk sosial, untuk itu apa yang tergambar dalam karya sastra
adalah sebuah potret dari wujud masyarakat yang bergerak, baik yang berkaitan
dengan pola, struktur, fungsi, maupun aktivitas dan kondisi sosial budaya sebagai
latar belakang kehidupan masyarakat pada saat karya itu diciptakan (Fananie
dalam Handayani, 2011: 2). Karya sastra (novel) juga merupakan bahan dalam
pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah.
Dalam dunia pendidikan, kurikulum yang berlaku saat ini adalah kurikulum 2013.
Kurikulum 2013 dianggap sebagai kurikulum yang memartabatkan bahasa
Indonesia dalam penggunaannya pada proses pembelajaran di sekolah. Karena
pada kurikulum ini, pembelajaran berbasis teks sehingga menempatkan bahasa
sebagai posisi yang sentral untuk menggali ilmu pengetahuan. Salah satu teks
yang digunakan adalah teks sastra. seperti yang tertuang pada silabus kelas XII,
KI 3 (memahami, menerapkan, menganalisis pengetahuan, konseptual,
prosedural, berdasarkan rasa ingin tahu tentang bahasa dan sastra Indonesia
serta menerapkan pengetahuan prosedural pada bidang kajian bahasa dan sastra
yang spesifik sesuai dengan bakat dan minatnya untuk memecahkan masalah ilmu
pengetahuan, teknologi, dan seni).
Novel sebagai salah satu karya sastra dapat digunakan untuk pembelajaran Bahasa
Indonesia yang menggunakan teks sastra. Novel adalah jenis prosa yang

3

mengandung unsur tokoh, alur, latar rekaan yang menggelarkan kehidupan
manusia atas dasar sudut pandang pengarang, dan mengandung nilai hidup, diolah
dengan teknik kisahan dan ragaan yang menjadi dasar konvensi penulisan (Zaidan
dkk, 1994: 136).
Unsur yang menggerakkan jalannya cerita dalam sebuah novel disebut tokoh.
Pembicaraan mengenai tokoh dengan segala perwatakan dengan berbagai citra
dirinya akan banyak menarik perhatian pembaca. Karena melalui tokoh-tokoh
dalam novel, pengarang berimaji, merefleksikan sikap dan tingkah manusia di
masyarakat ke dalam karya sastra.
Penokohan dalam suatu novel bergantung pada seorang pengarang untuk
memberikan jiwa pada setiap tokoh dalam karyanya. Salah satu tokoh yang
ditampilkan dalam karya sastra adalah tokoh perempuan. Dalam penelitian ini,
penggambaran tentang sosok perempuan diarahkan pada pandangan bahwa
perempuan sebagai cerita fiksi merupakan hasil pembayangan realitas kehidupan
yang dihadapi pengarang meskipun dapat pula berbeda sama sekali dengan
realitas kehidupan tersebut.
Permasalahan tentang perempuan selalu hangat dan menarik untuk diungkap
secara tuntas, baik dari sisi kodratnya, aktivitasnya, maupun peranannya. Semua
hal tersebut difokuskan pada citra diri perempuan di berbagai aspek
kehidupannya. Berbagai citra diri yang ditampilkan oleh seorang perempuan juga
menunjukkan bahwa selain sebagai seorang pribadi, ia juga merupakan makhluk
sosial yang membutuhkan orang lain dalam kehidupannya.

4

Novel Bidadari-Bidadari Surga (BBS) karya Tere Liye dan Teatrikal Hati (TH)
karya Rantau Anggun & Binta Al Mamba adalah novel yang dipilih oleh penulis
sebagai objek penelitian pada skripsi ini. Kedua novel tersebut menampilkan
perempuan sebagai tokoh utamanya.
Novel BBS merupakan hasil karya seorang penulis pria bertangan dingin bernama
Darwis Tere Liye. Novel ini mengisahkan tentang tokoh perempuan bernama
Laisa yang merupakan kakak tiri dari Dalimunte, Ikanuri, Wibisana dan Yashinta.
Tokoh Laisa digambarkan memiliki fisik yang jelek, namun ia memiliki karakter
yang kuat sebagai seorang kakak yang menyayangi adik-adiknya. Ia rela berhenti
sekolah untuk bekerja demi membantu ibunya membiayai adik-adiknya sekolah.
Laisa digambarkan memiliki sifat pantang menyerah dan pekerja keras. Selain itu,
terdapat juga tokoh perempuan yaitu Yashinta dan Mamak Lainuri yang. Banyak
nilai-nilai hidup yang bisa dipetik dari membaca novel BBS; nilai edukasi, moral,
dan agama. Novel ini juga merupakan novel dengan predikat Best Seller dan
memiliki rating tinggi dari sebuah lembaga survei pembaca Good Readers.
Novel Teatrikal Hati merupakan karya duet penulis perempuan Rantau Anggun
dan Binta Al Mamba. Novel ini menceritakan tentang Zahra, Linda, Gwen, dan
Setyani. Tokoh Zahra merupakan tokoh yang mengantarkan pembaca pada kisah
ketiga tokoh lainnya, Linda yang dikisahkan sebagai seorang perempuan yang
penyayang, Gwen seorang perempuan yang memiliki sikap antipati pada laki-laki
dan pernikahan, dan Setyani seorang perempuan yang sangat mencintai suami dan
anak-anaknya. Tokoh-tokoh perempuan tersebut dikisahkan secara selang-seling
dalam cerita dengan menarik benang merah yang manis antara mereka. Novel
dengan tokoh utama perempuan ini menyajikan kepada pembaca tentang

5

memuliakan wanita, ibu, dan juga istri. Selain itu, ada banyak juga nilai-nilai
kehidupan yang bisa dipetik dari novel ini; nilai moral, agama, dan budaya.
Penelitian mengenai citra perempuan ini merujuk pada penelitian yang pernah
dilakukan sebelumnya oleh Hana Riana dengan judul Citra Perempuan dalam
Novel Kasidah-Kasidah Cinta Karya Muhammad Muhyidin dan Kelayakannya
sebagai Bahan Ajar Sastra di SMA. Kesamaan penelitian yang penulis teliti saat
ini dengan penelitian yang dilakukan sebelumnya oleh Hana Riana adalah samasama menggunakan karya sastra berupa novel sebagai objek penelitian.
Perbedaan penelitian yang dilakukan oleh Hana Riana adalah penelitian
sebelumnya hanya menggunakan satu novel sebagai objek penelitian, sedangkan
pada penelitian yang dilakukan penulis ada dua novel yang dijadikan objek
penelitian yaitu novel Bidadari-Bidadari Surga karya Tere Liye dan Teatrikal
Hati karya Rantau Anggun & Binta Al Mamba serta menilai implikasinya
terhadap pembelajaran sastra di SMA. Selain itu, penelitian yang dilakukan
penulis bertujuan untuk membandingkan citra perempuan yang ada pada kedua
novel tersebut. Berbeda dengan penelitian sebelumnya yang hanya bertujuan
mendeskripsikan citra perempuan yang ada pada novel serta menilai kelayakannya
sebagai bahan ajar sastra di SMA.
1.2 Rumusan Masalah
Dalam penelitian ini, penulis merumuskan masalah “Bagaimanakah citra
perempuan dalam novel Bidadari-Bidadari Surga karya Tere Liye dan Teatrikal
Hati karya Rantau Anggun & Binta Al Mamba serta implikasinya terhadap
pembelajaran sastra di SMA?”

6

1.3 Pertanyaan Penelitian
1. Bagaimanakah citra perempuan dalam novel Bidadari-Bidadari Surga karya
Tere Liye?
2. Bagaimanakah citra perempuan dalam novel Teatrikal Hati karya Rantau
Anggun & Binta Al Mamba?
3. Bagaimanakah perbandingan citra perempuan dalam novel Bidadari-Bidadari
Surga karya Tere Liye dan Teatrikal Hati karya Rantau Anggun & Binta Al
Mamba?
4. Bagaimanakah implikasi novel Bidadari-Bidadari Surga karya Tere Liye dan
Teatrikal Hati karya Rantau Anggun & Binta Al Mamba terhadap
pembelajaran sastra di SMA?

1.4 Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan sebagai berikut.
1.

Mendeskripsikan citra perempuan yang ditampilkan dalam novel BidadariBidadari Surga karya Tere Liye dan Teatrikal Hati karya Rantau Anggun &
Binta Al Mamba.

2.

Membandingkan citra perempuan yang ditampilkan dalam novel BidadariBidadari Surga karya Tere Liye dan Teatrikal Hati karya Rantau Anggun &
Binta Al Mamba.

3.

Mendeskripsikan implikasi novel Bidadari-Bidadari Surga karya Tere Liye
dan Teatrikal Hati karya Rantau Anggun & Binta Al Mamba dalam
pembelajaran sastra di SMA.

7

1.5 Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat. Manfaat penelitian ini
terbagi menjadi dua, yaitu manfaat teoretis dan praktis.
1. Manfaat teoretis
Manfaat teoretis dari penelitian ini yaitu.
a. Dapat memberikan gambaran tentang citra perempuan yang terdapat dalam
novel Bidadari-Bidadari Surga karya Tere Liye dan novel Teatrikal Hati
karya Rantau Anggun & Binta Al Mamba.
b. Dapat memperkaya wawasan bagi pengembangan ilmu dalam bidang sastra
terutama tentang citra perempuan.

2. Manfaat praktis
Manfaat praktis dalam penelitian ini yaitu dapat dijadikan sebagai salah
satu bahan alternatif dalam pembelajaran sastra di SMA.

1.6 Ruang Lingkup Penelitian
Ruang lingkup pembahasan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.
1.

Citra perempuan yang ditampilkan dalam novel Bidadari-Bidadari Surga
karya Tere Liye dan Teatrikal Hati karya Rantau Anggun & Binta Al
Mamba.

2.

Implikasi novel Bidadari-Bidadari Surga karya Tere Liye dan Teatrikal Hati
karya Rantau Anggun & Binta Al Mamba terhadap pembelajaran sastra di
SMA.

II. KAJIAN PUSTAKA

Pada bab ini, peneliti akan menyajikan kajian pustaka terkait dengan penelitian
tentang citra perempuan dalam novel Bidadari-Bidadari Surga karya Tere Liye
dan Teatrikal Hati karya Rantau Anggun & Binta Al Mamba serta implikasinya
terhadap pembelajaran sastra di SMA.

2.1 Pengertian Novel
Novel adalah salah satu hasil karya sastra. Novel merupakan bentuk karya sastra
yang sangat populer dan digemari oleh masyarakat lantaran daya komunikasinya
yang luas dan daya imajinasinya yang menarik. Istilah novel berasal dari kata latin
novellus yang diturunkan pula dari kata noveis yang berarti “baru”. Dikatakan
baru karena bila dibandingkan dengan jenis-jenis sastra lainnya seperti puisi,
drama, dan lain lain, maka jenis novel ini muncul kemudian (Tarigan, 2011:167).
Sementara itu, Abrams (dalam Purba, 2010:62) mengemukakan istilah novel
dalam bahasa Indonesia berasal dari istilah novel dalam bahasa Inggris.
Sebelumnya istilah novel dalam bahasa Inggris berasal dari bahasa Itali, yaitu
novella (yang dalam bahasa Jerman novelle). Novella diartikan sebuah barang
baru yang kecil, kemudian diartikan sebagai cerita pendek dalam bentuk prosa.

9

Novel merupakan cerminan relitas sosial yang terjadi dalam masyarakat. Cerita
yang terdapat dalam novel memuat permasalahan manusia dengan manusia,
manusia dengan lingkungannya serta dengan pencipta-Nya. Sebagai hasil karya
sastra, novel mengandung nilai keindahan yang dapat menimbulkan rasa senang,
terharu, penasaran, menarik simpati, serta memberikan pengalaman jiwa kepada
pembaca.

Dalam The American College Dictionary (dalam Tarigan 2011:167), dapat kita
jumpai keterangan bahwa “novel adalah suatu cerita prosa yang fiktif dalam
panjang yang tertentu, yang melukiskan para tokoh, gerak serta adegan kehidupan
nyata yang representatif dalam suatu alur atau suatu keadaan yang agak kacau
atau kusut”.

Sementara Kusdiratin dkk (1985: 14) mengungkapkan bahwa sebuah novel tidak
mempunyai persyaratan-persyaratan mengenai panjang, pokok persoalan atau cara
pengarang menyampaikan ceritanya. Novelis menulis cerita seperti yang
disenanginya. Ia bisa menulis buku yang panjang atau yang pendek. Tulisannya
mungkin bersifat anggun dan formal atau mungkin bernada seolah-olah ia seorang
pribadi biasa yang sedang berbicara kepada seorang tetangga.

Novel merupakan cerita fiktif dan imajinatif yang didalamnya terdapat unsurunsur pembangun, yaitu unsur intrinsik dan unsur ekstrinsik. Novel merupakan
sebuah cerita yang panjang dan dibangun oleh suatu alur yang menceritakan
kehidupan laki-laki dan perempuan secara imajinatif. Hal ini sesuai dengan

10

pendapat yang tertuang dalam The Advanced Learner’s Dictionary of Current
English yang menyatakan bahwa novel adalah suatu cerita dengan suatu alur,
cukup panjang mengisi satu buku atau lebih yang menganggap kehidupan pria dan
wanita bersifat imajinatif (Purba, 2010:62).

2.2 Pengertian Tokoh dan Penokohan
Dalam karya sastra, tokoh merupakan unsur yang sangat penting karena tokoh
adalah pelaku yang mengemban bergeraknya jalan cerita dan peristiwa dalam
suatu cerita rekaan. Sedangkan penokohan dalam teori sastra sering disebut
dengan perwatakan atau karakteristik yang menunjuk pada penempaan tokohtokoh tertentu dengan watak-watak dan peran tertentu dalam suatu cerita. Atau
seperti dikatakan oleh Jones (dalam Nurgiyantoro, 1998: 165), penokohan adalah
pelukisan gambaran yang jelas tentang seseorang yang ditampilkan dalam sebuah
cerita, sedangkan tokoh cerita adalah orang-orang yang ditampilkan dalam suatu
karangan naratif atau drama yang oleh pembaca ditafsirkan memiliki kualitas
moral dan kecenderungan tertentu seperti yang diekspresikan dalam ucapan dan
apa yang dilakukan dalam tindakan.
Tokoh cerita (character), menurut Abrams (dalam Nurgiyantoro, 1998: 165)
adalah orang-orang yang ditampilkan dalam suatu karya naratif, atau drama, yang
oleh pembaca ditafsirkan memiliki kualitas moral dan kecenderungan tertentu
seperti yang diekspresikan dalam ucapan dan apa yang dilakukan dalam tindakan.
Dengan demikian, istilah penokohan lebih luas pengertiannya daripada “tokoh”
dan “perwatakan” sebab ia sekaligus mencakup masalah siapa tokoh cerita,

11

bagaiman perwatakan, dan bagaiman penempatan dan pelukisannya dalam sebuah
cerita sehingga sanggup memberikan gambaran yang jelas kepada pembaca.
Achyar (1980/1981: 16) mengungkapkan bahwa fungsi tokoh dalam cerita ialah
untuk memberikan gambaran tentang watak atau karakter manusia berdasarkan
imajinasi pengarang. Dalam lingkungan para tokoh itu pula persoalan yang
dijadikan tema cerita muncul dan berkembang. Bagaimana perkembangan
persoalan atau tema itu, tampak dalam alur cerita yang ditentukan oleh watak dan
perilaku para tokohnya.
Meskipun tokoh cerita hanya merupakan hasil rekaan atau imajinasi
pengarangnya, tapi tokoh tersebut haruslah hidup seperti wajarnya manusia yang
memiliki perasaan dan pikiran sehingga tokoh dan pencitraan yang ditampilkan
menjadi lebih kuat. Melalui citra yang ditampilkan, tokoh dalam suatu cerita juga
menempati posisi strategis sebagai penyampai pesan, moral, kritik, maupun hal
lainnya yang sengaja ingin disampaikan pengarang kepada pembaca.
Untuk memberikan gambaran tentang perwatakan para tokoh cerita, Nurgiyantoro
(1998: 194 - 201) mengungkapkan bahwa secara garis besar teknik pelukisan
tokoh dalam suatu karya dapat dibedakan ke dalam dua cara. Cara-cara tersebut
sebagai berikut.
1. Teknik ekspositori/teknik analitis/secara langsung, ialah pelukisan tokoh
cerita dilakukan dengan memberikan deskripsi, uraian, atau penjelasan
secara alngsung. Tokoh cerita hadir dan dihadirkan oleh pengarang ke
hadapan pembaca secara tidak berbelit-belit, melainkan begitu saja dan

12

langsung disertai deskripsi kediriannya, yang mungkin berupa sikap, sifat,
watak, tingkah laku, atau bahkan juga ciri fisiknya.
2. Teknik dramatik (secara tak langsung), ialah pengarang tidak
mendeskripsikan secara eksplisit sifat dan sikap serta tingkah laku tokoh.
Pengarang membiarkan (baca: menyiasati) para tokoh cerita untuk
menunjukkan kediriannya sendiri melalui berbagai aktivitas yang
dilakukan, baik secara verbal lewat kata maupu nonverbal lewat tindakan
atau tingkah laku, dan juga melalui peristiwa yang terjadi.

Adapun Minderop (2005: 6 – 22) mengungkapkan bahwa dalam menyajikan dan
menentukan karakter (watak) para tokoh, pada umumnya pengarang
menggunakan dua cara atau metode dalam karyanya. Pertama, metode langsung
(telling) dan kedua, metode tidak langsung (showing).
1. Metode Langsung (Telling)
Metode langsung (telling) pemaparan dilakukan secara langsung oleh si
pengarang. Metode ini biasanya digunakan oleh kisah-kisah rekaan jaman
dahulu sehingga pembaca hanya mengandalkan penjelasan yang dilakukan
pengarang semata.
2. Metode Tidak Langsung (Showing)
Metode tidak langsung (showing) adalah dengan metode dramatik yang
mengabaikan kehadiran pengarang, sehingga para tokoh dalam karya sastra
dapat menampilkan diri secara langsung melalui tingkah laku mereka.

13

Berdasarkan segi peranan atau tingkat pentingnya tokoh dalam suatu cerita,
Nurgiyantoro (1998: 176 - 177) membagi tokoh jadi dua, yakni tokoh utama
cerita (central character, main character) dan tokoh tambahan (peripheral
character). Tokoh utama adalah tokoh yang diutamakan penceritaannya dalam
novel yang bersangkutan. Ia merupakan tokoh yang paling banyak diceritakan,
baik sebagai pelaku kejadian maupun yang dikenai kejadian. Karena tokoh utama
paling banyak diceritakan dan sering berhubungan dengan tokoh-tokoh lain, ia
sangat menentukan perkembangan alur dalam suatu cerita. Selain tokoh utama,
terdapat pula tokoh tambahan untuk mendukung peranan tokoh utama. Tokoh
tambahan adalah tokoh yang tidak sentral dalam suatu cerita, pemunculannya
dalam suatu cerita juga lebih sedikit dan kehadirannya hanya jika ada
keterkaitannya dengan tokoh utama secara langsung atau pun tak langsung, namun
kehadiran tokoh tambahan sangat berguna untuk menunjang dan mendukung
tokoh utama.
Berdasarkan perwatakannya, Foster (dalam Nurgiyantoro, 1994: 181-188)
membagi tokoh cerita ke dalam tokoh sederhana (simple atau flat character) dan
tokoh kompleks atau tokoh bulat (complex atau round character).
1. Tokoh Sederhana.
Tokoh sederhana adalah tokoh yang hanya memilki suatu kualitas pribadi
tertentu, satu sifat watak yang tertentu saja, bersifat statis, jarang berubah
karakternya sehingga hanya nampak sebagai tokoh berwatak baik atau jahat.
Sebagai seorang tokoh, ia tak diungkap berbagai kemungkinan sisi
kehidupannya.

14

Tokoh sederhana tidak memberikan kejutan apa-apa dalam suatu cerita
karena ia hanya memiliki satu karakter saja. Sifat dan tingkah laku seorang
tokoh sederhana bersifat datar, monoton, hanya mencerminkan satu watak
tertentu. Tokoh sederhana dapat saja melakukan tindakan, namun semua
tindakannya itu akan dapat dikembalikan pada perwatakan yang dimiliki dan
yang telah diformulakan itu. Dengan demikian, pembaca akan dengan mudah
memahami watak dan tingkah laku tokoh sederhana. Ia mudah dipahami ,
lebih familiar, dan cenderung stereotip. Hal ini sejalan dengan pendapat
Kenny (dalam Nurgiyantoro, 1998: 182) bahwa tokoh sebuah fiksi yang
bersifat familiar, sudah biasa, atau yang stereotip, memang dapat digolongkan
sebagai tokoh-tokoh yang sederhana.

2. Tokoh Bulat
Tokoh bulat adalah tokoh yang memiliki dan diungkap berbagai
kemungkinan sisi kehidupannya, sisi kepribadian dan jati dirinya. Ia dapat
saja memiliki watak tertentu yang dapat diformulasikan, namun ia pun dapat
pula menampilkan watak dan tingkah laku bermacam-macam, bahkan
mungkin seperti bertentangan dan sulit diduga. Oleh karena itu,
perwatakannya pun pada umumnya sulit dideskripsikan secara tepat.
Dibandingkan dengan tokoh sederhana, Abrams (dalam Nurgiyantoro, 1998:
183) mengemukakan bahwa tokoh bulat lebih menyerupai kehidupan manusia

15

yang sesungguhnya, karena disamping memiliki berbagai kemungkinan sikap
dan tindakan, ia juga sering memberikan kejutan.

Berdasarkan fungsi penampilan tokoh, Nurgiantoro (1998: 178) membedakan ke
dalam tokoh antagonis dan tokoh protagonis. Tokoh protagonis ialah tokoh yang
berkarakter positif dan membawa nilai-nilai yang positif pula. Altendbert & Lewis
(dalam Nurgiyantoro, 1998: 178) mengemukakan bahwa dalam membaca sebuah
novel, pembaca sering mengidentifikasikan diri dengan tokoh (-tokoh) tertentu,
memberikan simpati dan empati, melibatkan diri secara emosional terhadap tokoh
tersebut. Tokoh yang disikapi demikian oleh pembaca disebut sebagai tokoh
protagonis. Sedangkan tokoh antagonis berkebalikan dengan protagonis. Tokoh
antgonis digambarkan berkarakter negatif dan membawa nilai-nilai negatif pula.
Biasanya tokoh antagonis adalah penyebab suatu konflik dalam sebuah novel.
Berdasarkan kriteria, Nurgiyantoro (2009: 188-190) membagi penokohan menjadi
dua, yakni statis dan berkembang (tokoh dinamis).
1. Tokoh Statis
Tokoh statis adalah tokoh cerita yang secara esensial tidak mengalami
perubahan atau perkembangan perwatakan sebagai akibat adanya peristiwaperistiwa yang terjadi (Altenbernd & Lewis dalam Nurgiyantoro, 2009: 188).
Tokoh jenis ini tampak seperti kurang terlibat dan tak pengaruh oleh adanya
hubungan antarmanusia. Jika diibaratkan, tokoh statis adalah bagaikan batu
karang yang tak tergoyahkan walau tiap hari dihantam dan disayang ombak.

16

Tokoh statis memiliki sikap dan watak yang relatif tetap, tak berkembang,
sejak awal sampai akhir cerita.

2. Tokoh dinamis
Tokoh dinamis adalah tokoh cerita yang mengalami perubahan dan
perkembangan perwatakan sejalan dengan perkembangan peristiwa dan plot
yang dikishakan. Ia secara aktif berinteraksi dengan lingkungannya, baik
lingkungan sosial, alam, mupun yang lain, yang kesemuanya itu akan
memenagruhi sikap, watak, dan tingkah lakunya. Adanya perubahanperubahan yang terjadi di luar dirinya, dan adanya hubungan antarmanusia
yang bersifat saling memengaruhi yang dapat menyentuh kejiwaannya dan
dapat menyebabkan terjadinya perubahan dan perkembangan sikap dan
wataknya.
Karya sastra menyajikan para tokoh dengan latar belakang tertentu yang
mengalami suatu kejadian, peristiwa, atau konflik dalam suatu cerita. Pengarang
menggambarkan bagaiman para tokoh menyikapi dan bisa keluar dari konflik
tersebut dengan cara-cara yang mencirikan watak tokoh sehingga melahirkan citra
diri tokoh. Novel sebagai suatu karya sastra juga dibangun atas tokoh dan
penokohan.

17

2.3 Pengungkapan Citra Perempuan
Karakter tokoh yang ditampilkan pengarang dalam karya sastra tidak hanya
diterima pembaca sebagai sebuah wacana saja, tetapi juga merupakan sarana
pengimajian yang dibuat oleh pengarang untuk mengungkapkan citra yang
menyerupai gambaran yang dihasilkan oleh tafsiran pembaca terhadap suatu
objek. Oleh karena itu, sebuah pencitraan yang dilakukan pembaca terhadap karya
sastra berkaitan erat dengan karakter tokoh yang ditampilkan pengarang. Semakin
kuat karakter tokoh yang ditampilkan pengarang maka akan mengantarkan
pembaca pada pencitraan yang kuat pula.
Studi perempuan dalam sastra merupakan penelaahan tokoh perempuan sebagai
manusia dalam kaitannya dengan manusia dan kelompok masyarakat lain secara
lebih luas. Pemahaman kaitan itu terarah pada kaitan antarunsur yang berdasarkan
pola dan tatanan nilai budaya tertentu. Latar belakang yang bervariasi pantas
dipertimbangkan (Sugihastuti, 2010: 22).
Citra adalah kesan mental atau bayangan visual yang ditimbulkan oleh sebuah
kata, frasa atau kalimat yang menjadi unsur dasar yang khas dalam karya prosa
dan puisi (Zaidan dkk, 2004: 52). Citra dapat dimaknai juga sebagai sebuah
refleksi, bayangan, pantulan atau pun cerminan. Citra merupakan sebuah
pengandaian dan penggambaran yang dihantarkan melalui bahasa berupa kalimatkalimat yang tertuang dalam karya sastra.
Citra adalah gambaran rekaan yang ditimbulkan oleh daya khayal seorang
seniman pada khususnya dan setiap orang pada umumnya. Daya khayal tersebut
tidak terbatas hanya pada kesan sensoris, tapi juga kesan mental dari tanda yang

18

dihadapi (tokoh). Kesan yang kita peroleh mengenai karakter, sikap, cara bepikir
tokoh, juga cara tokoh menanggapi masalah juga merupakan citra dari suatu tanda
(Handayani, 2011: 24). Berikut contoh kutipan citra yang dapat dilihat dari sikap
yang ditampilkan tokoh.
Sekarang kami telah resmi bercerai. Meski demikian, hubungan
kami masih baik. Kami tidak saling membenci. Bahkan, saat
menuju bandara, mantan suamiku itu dan anak-anak mengantarku.
“Terima kasih Mas. Aku titip anak-anak,” ujarku di dekat pintu
check-in (Nazara dkk, 2010: 38).
Berdasarkan kutipan tersebut dapat dilihat citra tokoh aku dari sikap yang
ditampilkan. Meskipun telah terjadi peceraian antara tokoh aku dan suaminya,
tokoh aku tetap bersikap baik dan tidak saling membenci satu sama lain. Tokoh
aku juga sempat menitipkan anak-anak pada mantan suaminya sebelum ia pergi.
Abrams (dalam Sofia, 2009:24) mengemukakan bahwa citra merupakan sebuah
gambaran pengalaman indra yang diungkapkan lewat kata-kata, gambaran
berbagai pengalaman sensoris yang dibangkitkan oleh kata-kata. Sementara itu,
pencitraan merupakan kumpulan citra (the collection of image) yang dipergunakan
untuk melukiskan objek dan kualitas tanggapan indra yang dipergunakan dalam
karya sastra, baik dengan deskripsi harfiah maupun secara kias. Citra diartikan
sebagai buah dari hasil pengindraan, pengamatan, kesan dan daya khayal yang
dipadukan secara tepat. Berikut contoh yang mengungkapkan pengalaman berupa
penglihatan.
Namun, begitu turun dari panggung, datang seorang wanita cantik,
berkulit putih, bertubuh langsing, dengan busana begitu mewah
langsung memeluk Mas Pram. Aku sih biasa saja. Aku menyangka
dia adalah teman Mas Pram (Nazara dkk, 2010: 74).

19

Berdasarkan kutipan tersebut dapat dilihat bahwa citra dapat muncul dari
penglihatan. Citra yang muncul dari kutipan tersebut adalah kehadiran seorang
perempuan cantik, berkulit putih, bertubuh langsing dibalut dengan gaun yang
sangat mewah.
Perlu kita garis bawahi, bahwa citra adalah refleksi, bukan hal yang sebenarnya,
tapi hanyalah reproduksi hal tersebut dalam bentuk yang berbeda. Dalam hal ini
reproduksi itu dilakukan melalui bahasa berupa kalimat-kalimat yang tertuang
dalam karya sastra. Kata citra dalam judul penelitian ini mengacu pada makna
setiap gambaran pikiran. Gambaran pikiran adalah sebuah efek dalam pikiran
yang sangat menyerupai gambaran yang dihasilkan oleh penangkapan pembaca
terhadap sebuah objek yang dapat dilihat dengan mata, saraf penglihatan, dan
daerah-daerah otak yang berhubungan atau yang bersangkutan (Pradopo dalam
Sofia, 2009: 24).
Effendi (dalam Handayani, 2011: 22) menyatakan bahwa semua yang terlihat,
terdengar, dan terasakan seakan-akan dalam kehidupan nyata disebut imaji atau
citra. Berdasarkan kutipan tersebut segala hal yang berkenaan dengan citra dapat
berkaitan dengan aspek indrawi sensoris maupun mental. Berikut contoh kutipan
dalam novel yang dapat dibayangkan, digambarkan dan terasa seakan-akan dalam
kehidupan nyata.
Bunga terlihat sendirian duduk dibangku tunggu penumpang
stasiun kereta api, Tugu. Entah apa yang akan dilakukan, dirinya
pun tidak tahu. Hari juga sudah malam. Jam yang melingkar di
pergelangan tangan kirinya telah menunjukkan pukul sembilan

20

malam. Stasiun sudah kelihatan sepi. Semua kereta keberangkatan
ke Jakarta telah habis (Khotimah, 2012: 7).
Dari kutipan cerita tersebut dapat dibayangkan dan dirasakan suasana dan kondisi
yang terdapat dalam kutipan yang menunjukkan keadaan dalam stasiun pada
malam hari yang sepi.

Pencitraan dapat dilakukan dengan berbagai model, salah satunya penelitian
mengenai citra perempuan dengan menggunakan pendekatan kritik sastra feminis.
Djajanegara (2003:28) mengungkapkan bahwa kritik sastra feminis yang paling
banyak dipakai adalah kritik ideologis. Kritik sastra feminis ini melibatkan
wanita, khususnya kaum feminis sebagai pembaca. Yang menjadi pusat perhatian
pembaca wanita adalah citra serta stereotip wanita dalam karya sastra.

Dari beberapa pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa citra perempuan adalah
refleksi tentang perempuan yang tersaji melalui penokohan perempuan dalam
karya sastra. Pengungkapan citra perempuan tidak dapat dilakukan hanya dengan
melihat kepada perempuan, akan tetapi harus dilakukan dalam hubungannya
dengan laki-laki, keluarga dan dan anggota masyarakat disekitarnya.

2.4 Pembelajaran Sastra di SMA
Dalam pembelajaran bahasa Indonesia di sekolah ada dua ranah pembelajaran.
Yaitu pembelajaran bahasa dan pembelajaran sastra. Penyajian keduanya haruslah
proporsional atau seimbang. Karena dalam pembelajaran bahasa Indonesia siswa

21

diharapkan mampu berkomunikasi menggunakan bahasa Indonesia dengan baik
dan benar, serta dapat berapresiasi terhadap karya sastra anak bangsa.
Pembelajaran sastra menjadi penting dilaksanakan di sekolah karena sastra
merupakan warisan budaya bangsa. Sebagai sebuah warisan, sastra harus di jaga
dan dilestarikan dengan cara diapresiasi oleh bangsanya. Hal tersebut dapat
dimulai dari jenjang sekolah di SMA. Dengan membelajarkan sastra di sekolah,
guru diharapkan mampu menanamkan kecintaan terhadapa sastra serta mampu
mengarahkan siswa untuk mengapresiasi karya sastra dengan baik. Selain itu, di
dalam karya sastra siswa juga dapat mempelajari nilai-nilai hidup dan kehidupan
baik yang tersurat maupun yang tersirat.
Agar pembelajaran sastra di SMA berjalan dengan baik, maka diperlukan faktor
pendukung yang baik pula, salah satunya adalah penentuan bahan ajar yang
digunakan. B. Rahmanto dalm bukunya Metode Pengajaran Sastra menyatakan
bahwa ada tiga aspek yang perlu diperhatikan dalam pemilihan bahan ajar sastra,
yaitu aspek bahasa, psikologi, dan latar belakang budaya.
1. Bahasa
Aspek bahasa dalam sastra tidak hanya ditentukan oleh masalah-masalah yang
dibahas, tetapi juga faktor-faktor lain seperti cara penulisan yang dipakai, cirri-ciri
karya sastra pada wktu penulisan karya itu, dan kelompok pembaca yang ingin
dijangkau pengarang. Oleh karena itu, agar pembelajaran sastra di SMA dapat
berjalan dengan baik, maka guru harus memilih bahan ajar sastra yang sesuai
dengan tingkat pengusaan bahasa siswa di SMA.

22

2. Psikologi
Dalam memilih bahan pengajaran sastra, tahap-tahap perkembangan psikologis
siswa hendaknya diperhatikan karena tahap-tahap ini sangat besar pengaruhnya
terhadap minat dan keengganan anak didik dalam banyak hal. Oleh karena itu,
guru hendaknya menyajikan bahan ajar sastra yang dapat menarik minat siswa
terhadap terhadap karya sastra yang dijadikan bahan ajar tersebut. Berikut tahaptahap untuk membantu guru untuk memahami tingkatan perkembangan psikologi
anak didik.
a. Tahap penghayalan (8 sampai 9 tahun)
Pada tahap ini majinasi anak belum banyak diisi hal-hal nyata, tetapi masih
penuh dengan berbagai macam fantasi kekanakan.
b. Tahap romantik (10 sampai 12 tahun)
Pada tahap ini anak mulai meninggalkan fantasi dan mengarah ke realitas.
Meski pandangannya pada tahap ini masih sederhana, tetapi di tahap ini
anak mulai menyenangi cerita-cerita kepahlawanan, petualangn, bahkan
kejahatan.
c. Tahap realistik (13 sampai 16 tahun)
Sampai tahap ini anak sudah terlepas dari dunia fantasi dan sangat berminat
pada realitas atau apa yang benar-benar terjadi. Mereka berusaha mengikuti
fakta-fakta dalam menghadapi masalah dalam kehidupan

23

d. Tahap generalisasi (16 tahun dan selanjutnya)
Pada tahap ini anak sudah tidak lagi hanya berminat pada hal-hal praktis
saja tetapi juga berminat untuk menemukan konsep-konsep abstrak dengan
menganalisis suatu fenomena.

3. Latar Belakang Budaya
Latar belakang budaya meliputi hampir semua faktor kehidupan manusia dan
lingkungannya, seperti: geogarfis, sejarah, topografi, iklim, mitologi, legenda,
pekerjaan, kepercayaan, cara berfikir, nilai-nilai masyarakat, seni, olah raga,
moral, etika dan sebagainya. Biasanya siswa akan mudah tertarik pada karyakarya sastra dengan latar belakang yang erat hubungannya dengan latar belakang
kehidupan mereka. Terutama bila karya sastra itu menghadirkan tokoh yang
berasal dari lingkungan mereka atau dengan orang-orang sekitar mereka. Dengan
demikian, secara umum guru hendaknya memilih bahan pengajaran dengan
menggunakan prinsip mengutamakan karya-karya sastra yang latar ceritanya
dikenal oleh para siswa. Guru hendaknya memahami apa yang diminati oleh para
siswa sehingga dapat menyajikan suatu karya sastra yang tidak terlalu menuntut
gambaran di luar jangkauan kemampuan pembayangan yang dimiliki oleh para
siswanya (Rahmanto, 1998:31).
Berdasarkan pendapat di atas, Rahmanto membatasi pemilihan bahan ajar ditinjau
dari aspek latar belakang budaya pada dua hal yaitu (1) guru harus memerhatikan
karya sastra yang erat hubungannya dengan latar belakang peserta didik dengan
tujuan agar peserta didik mudah tertarik dan (2) guru hendaknya memilih bahan
pengajaran yang latar ceritanya dikenal oleh para siswa sehingga tidak menuntut

24

gambaran di luar jangkauan kemampuan pembayangan yang dimiliki oleh para
siswanya.
Pembatasan yang dilakukan Rahmanto dalam pemilihan bahan ajar sastra
berdasarkan aspek latar belakang budaya tersebut dirasa memiliki kekurangan
oleh peneliti, terutama bila diterapkan di negara Indonesia. Hal tersebut karena
budaya yang ada di Indonesia memiliki keanekaragaman, oleh karena itu peneliti
memberikan poin tambahan dalam pemilihan bahan ajar sastra ditinjau dari aspek
latar belakang budaya yaitu (1) karya sastra dapat memberikan pengetahuan dan
wawasan baru mengenai budaya yang belum peserta didik ketahui dan (2) dapat
membantu melestarikan budaya yang ada.
Terkait implikasinya terhadap pembelajaran sastra di SMA, penelitian mengenai
citra perempuan dalam novel BBS karya Tere Liye dan Teatrikal Hati karya
Rantau Anggun & Binta Al Mamba adalah diharapkan dapat memberikan
gambaran yang utuh kepada siswa mengenai peranan perempuan masa kini di
dalam masyarakat. Dengan demikian siswa dapat mengambil nilai-nilai positif
dari citra yang ditampilkan oleh tokoh perempuan dalam novel.

III. METODE PENELITIAN

Pada bab ini, peneliti akan menyajikan metode penelitian, sumber data, prosedur
penelitian, dan teknik pengumpulan dan analisis data dalam penelitian mengenai
citra perempuan dalam novel Bidadari-Bidadari Surga karya Tere Liye dan
Teatrikal Hati karya Rantau Anggun & Binta Al Mamba.

3.1

Metode Penelitian

Pada hakikatnya sebuah penelitian dilakukan untuk mencari jawaban dari
pertanyaan peneliti dengan menggunakan metode. Metode yang digunakan dalam
penelitian ini adalah metode deskriptif kualitatif komparatif. Penelitian komparatif
adalah penelitian yang bersifat membandingkan. Sudjud (dalam Arikunto, 2010:
310) mengungkapkan bahwa penelitian komparasi akan dapat menemukan
persamaan-persamaan dan perbedaan-perbedaan tentang benda-benda, tentang
orang, tentang prosedur kerja, tentang ide-ide, kritik terhadap orang, kelompok,
terhadap suatu ide atau prosedur kerja.
Bodgan dan Taylor (dalam Soewadji, 2012: 51 - 52) mengemukakan bahwa
penelitian deskriptif kualitatif diartikan sebagai salah satu prosedur penelitian
yang menghasilkan data deskriptif berupa ucapan atau tulisan dan perilaku orangorang yang diamati.

26

Dengan pendekatan kualitatif ini diharapkan mampu menghasilkan uraian yang
mendalam tentang ucapan, tulisan, dan atau perilaku yang dapat diamati dari suatu
individu, kelompok, masayarakat, dan atau organisasi tertentu dalam suatu setting
konteks tertentu yang dikaji dari sudut pandang yang utuh, komprehensif, dan
holistik (Soewadji, 2012: 52). Dengan penelitian deskriptif kualitatif tersebut
peneliti melakukan penelitian berlandaskan citra perempuan yang diidentifikasi
dari novel BBS karya Tere Liye dan novel Teatrikal Hati karya Rantau Anggun &
Binta Al Mamba berdasarkan dialog-dialog yang dilakukan tokoh perempuan
serta bagaimana cara berpikir tokoh perempuan tersebut, kemudian menilai
implikasinya terhadap pembelajaran Sastra di SMA.

3.2 Sumber Data
Sumber data adalah subjek dari mana data diperoleh (Arikunto, 2010:172).
Sumber data dalam penelitian ini adalah novel yang berjudul Bidadari-Bidadari
Surga karya Tere Liye, cetakan XIII terbitan Republika tahun 2013 dengan tebal
buku 362 halaman dan novel Teatrikal Hati karya Rantau Anggun dan Binta Al
Mamba terbitan PT Elex Media Komputindo tahun 2013 dengan tebal buku 337

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

98 2947 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

36 752 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

33 650 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

15 422 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

24 578 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

49 969 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

49 881 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

14 536 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

21 792 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

33 955 23