PENGAWASAN LEMBAGA PERBANKAN OLEH OTORITAS JASA KEUANGAN SETELAH DIBERLAKUKANNYA UNDANG-UNDANG NO. 21 TAHUN 2011 TENTANG OTORITAS JASA KEUANGAN

Bayu Teguh Pranoto

ABSTRAK

PENGAWASAN LEMBAGA PERBANKAN OLEH OTORITAS JASA
KEUANGAN SETELAH DIBERLAKUKANNYA UNDANG-UNDANG NO.
11 TAHUN 2011 TENTANG OTORITAS JASA KEUANGAN
Oleh:
Bayu Teguh Pranoto

Berdasarkan Undang-Undang No.7 Tahun 1992 jo Undang-Undang No.10 Tahun
1998 tentang perbankan, pengawasan dalam sektor moneter termasuk kegiatan
perbankan diawasi oleh Bank Indonesia (BI). BI sebagai lembaga pengawas
perbankan menjalankan fungsi pengawasan secara makro (macro-prudential
supervision) dan secara mikro (micro-prudential supervision). Seiring berjalannya
waktu dengan tugas yang begitu banyak dijalankan oleh BI, pemerintah
membentuk lembaga independen yang terpadu mengawasi kegiatan di sektor
keuangan termasuk lembaga perbankan yaitu Otoritas Jasa Keuangan (OJK). OJK
dibentuk berdasarkan Undang-Undang No.21 Tahun 2011 tentang Otoritas Jasa
Keuangan (UU OJK). Dengan ditetapkannya UU OJK, maka seluruh pengawasan
dalam sektor keuangan termasuk lembaga perbankan diambil alih oleh OJK.
Penelitian ini membahas tentang pengawasan lembaga perbankan sebelum dan
sesudah diberlakukannya UU OJK dan hubungan kelembagaan antara OJK, BI,
Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) dan lembaga otoritas lainnya dalam
pengawasan perbankan.
Penelitian ini adalah penelitian hukum normatif dengan tipe penelitian deskriptif.
Pendekatan masalah yang digunakan adalah pendekatan normatif. Data yang
digunakan data sekunder yang terdiri bahan hukum primer, bahan hukum
sekunder, dan bahan hukum tersier. Pengumpulan data melalui studi pustaka.
Pengolahan data dilakukan dengan cara pemeriksaan data, editing data, dan
sistematis, data yang selanjutnya dianalisis secara deskriptif kualitatif.
Hasil penelitian dan pembahasan menerangkan bahwa sebelum diberlakukannya
UU OJK, sistem pengawasan perbankan di Indonesia secara struktur mengadopsi
sistem traditional model atau multi supervisory model dalam pengawasan
perbankan dilakukan oleh BI selaku Bank Sentral. Untuk itu terdapat penyatuan

Bayu Teguh Pranoto

fungsi pengawasan makro dang fungsi pengawasan mikro pada satu lembaga,
yakni BI. Setelah diberlakukannya UU OJK, sistem pengawasan perbankan
secara struktur berubah menjadi sistem pengawasan terpadu yang berada diluar
BI. Selanjutnya memisahkan fungsi pengawasan makro tetap pada BI dan
pengawasan mikro berada pada OJK. Konsekuensinya, Bank Indonesia sebagai
otoritas moneter, dan otoritas perbankan beralih kepada OJK.
Hubungan BI antara OJK, LPS, dan Kementerian Keuangan diatur dalam UU
OJK. Hubungan antara OJK dan BI adalah koordinasi dalam pembuatan peraturan
pengawasan dibidang perbankan. Sebagian besar koordinasi tersebut berkaitan
dengan kepentingan BI sebagai pengawas makro. Hubungan antara OJK dan LPS
berkaitan dengan pengawasan perbankan sebatas kepentingan LPS dalam
menjalankan fungsinya sebagai penjamin simpanan nasabah perbankan.
Hubungan antara OJK, BI dan LPS adalah membangun dan memelihara sarana
pertukaran informas secara terintegrasi. Sedangkan hubungan antara OJK, BI,
LPS dan Kementerian Keuangan diatur dalam protokol koordinasi dalam
pertukaran informasi dan pengawasan perbankan yang dibentuk berdasarkan UU
OJK.

Kata Kunci : Otoritas Jasa Keuangan, Pengawasan, Koordinasi

PENGAWASAN LEMBAGA PERBANKAN OLEH OTORITAS JASA
KEUANGAN SETELAH DIBERLAKUKANNYA UNDANG-UNDANG
NOMOR 21 TAHUN 2011 TENTANG OTORITAS JASA KEUANGAN

Oleh
Bayu Teguh Pranoto

Skripsi
Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Mencapai Gelar
SARJANA HUKUM
Pada
Bagian Hukum Keperdataan
Fakultas Hukum Universitas Lampung

FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS LAMPUNG
BANDAR LAMPUNG
2015

RIWAYAT HIDUP

Nama lengkap penulis adalah Bayu Teguh Pranoto, penulis
dilahirkan pada tanggal 02 Mei 1992 di Kota Bandar Lampung.
dan merupakan anak kedua dari dua bersaudara pasangan Bapak
Hi. Dwi Pujo Prayitno, S.H., M.Hum. dan Ibu Hj Masni A.
Zerazib.
Penulis mengawali pendidikan di Taman Kanak-kanak Dharma Wanita Bandar
Lampung yang diselesaikan pada tahun 1998, melanjutkan ke Sekolah Dasar Sejahtra
I Sidodadi Kedaton Bandar Lampung diselesaikan pada tahun 2005, Sekolah
Menengah Pertama ditempuh di SMP Xaverius 4 Bandar Lampung diselesaikan pada
tahun 2008, dan menyelesaikan pendidikan di Sekolah Menengah Atas Gajah Mada
Bandar Lampung pada tahun 2011. Penulis terdaftar sebagai mahasiwa Fakultas
Hukum Universitas Lampung pada tahun 2011.

PERSEMBAHAN

Alhamdulilah dengan segala ketulusan dan rasa bersyukur kepada Allah
SWT yang selalu memberikan kemudahan dalam setiap langkahku, ku
persembahkan karya ini kepada :

Ibuku Hj Masni A. Zerazib. dan Bapakku Hi. Dwi Pujo
Prayitno,S.H.,M.Hum
Terimakasih atas segala cinta kasih sayang, doa, pengorbanan, dan
dukungan dalam setiap langkah yang kuambil untuk keberhasilanku

Almamater tercinta Universitas Lampung
Tempatku memperoleh ilmu dan memulai sebagian langkahku menuju
kesuksesan.

MOTO

“Ketidak mungkinan sesungguhnya adalah hal yang belum kita pelajari “
(Charles W. Chesnut)

“All is Well”
(Ajahn Bram)

“Kepuasan itu terletak pada usaha, bukan pada pencapaian hasil. Berusaha keras
adalah kemenangan besar”
(Mahatma Gandhi)

SANWACANA

Alhamdulillahirabbil’alamin, segala puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat
Allah SWT, Tuhan sekalian alam yang maha kuasa atas bumi, langit dan seluruh
isinya, serta hakim yang maha adil di yaumil akhir kelak. Sebab, hanya dengan
kehendak-Nya penulis dapat menyelsaikan penulisan skripsi yang berjudul
“Pengawasan Lembaga Perbankan Oleh Otoritas Jasa Keuangan Setelah
diberlakukannya Undang-Undang Nomor. 21 Tahun 2011 Tentang Otoritas
Jasa Keuangan” sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana
Hukum di Fakultas Hukum Universitas Lampung dibawah bimbingan dari dosen
pembimbing serta atas bantuan dari berbagai pihak lain. Shalawat serta salam
semoga senantiasa tercurahkan kepada baginda Nabi Besar Muhammad SAW
beserta seluruh keluarga dan sahabatnya.

Penyelsaian penelitian ini tidak lepas dari bantuan, bimbingan, dan saran dari
berbagai pihak, maka pada kesempatan ini penulis mengucapkan terima kasih
kepada:
1.

Bapak Prof. Dr. Heryandi, S.H., M.S. Dekan Fakultas Hukum Universitas
Lampung;

2.

Bapak Dr. Wahyu Sasongko, S.H., M.Hum. Ketua Bagian Hukum
Keperdataan Fakultas Hukum Universitas Lampung yang telah banyak

membantu penulis di dalam menempuh pendidikan sarjana di Fakultas
Hukum Universitas Lampung;
3.

Ibu Aprilianti, S.H., M.H. Sekretaris Bagian Hukum Keperdataan Fakultas
Hukum Universitas Lampung yang telah membantu penulis di dalam
menempuh pendidikan sarjana;

4.

Ibu Ratna Syamsiar, S.H., M.H. Dosen Pembimbing I yang telah
memberikan banyak waktu, ilmu, pemikiran, dan tenaga kepada penulis, serta
memberikan bimbingan dan arahan dengan penuh kesabaran kepada penulis
dalam menyelesaikan skripsi;

5.

Ibu Rilda Murniati, S.H., M.Hum. Dosen Pembimbing II yang telah bersedia
untuk meluangkan waktunya, memberikan perhatian serta mencurahkan
segenap pemikirannya untuk membimbing penulis dengan penuh kesabaran
dalam menyelesaikan skripsi ini;

6.

Ibu Yennie Agustin MR S.H., M.H. Dosen Pembahas I yang telah
memberikan kritik, saran, motivasi, dan masukan yang sangat membangun
terhadap skripsi ini;

7.

Ibu Dianne Eka Rusmawati, S.H., M.H. Dosen Pembahas II yang telah
memberikan kritik, saran, motivasi, dan masukan yang sangat membangun
terhadap penulisan dalam skripsi ini;

8.

Ibu Yusnani Hasyim Zum, S.H., M.H. Pembimbing Akademik, yang telah
memberikan bimbingan, motivasi, serta arahan bagi penulis selama menjadi
mahasiswa di Fakultas Hukum Universitas Lampung;

9.

Seluruh Dosen serta karyawan/i Fakultas Hukum Universitas Lampung yang
tidak bisa disebutkan satu persatu namanya, terima kasih atas bantuan tenaga,
ilmu dan pemikiran yang telah diberikan dengan penuh dedikasi;

10. Teristimewa untuk ibu dan bapak yang tiada hentinya memberikan segala
dukungan, nasihat dan doa untuk kebahagiaan dan kesuksesanku.
Terimakasih

atas

segalanya

semoga

kelak

dapat

membahagiakan,

membanggakan, dan selalu bisa membuat kalian tersenyum bahagia;
11. Untuk Kakakku Irine Handika, S.H.,L.L.M. terimakasih menjadi kakak yang
terhebat dalam hidupku yang selalu mengingatkan, membantuku dikala aku
sedang berada dalam kesulitan, selalu mendoakan dan menyayangiku.
Semoga kita berdua bisa terus membanggakan ibu dan bapak sampai ahir
hayat;
12. Untuk Mas-Bro Adhi Setyo Tamtomo S.IP,M.M. terimakasih untuk semua
dukungan, motivasi dan doa

yang diberikan selama ini, serta selalu

menyemangatiku;
13. keluarga besar Tunas Indonesia Raya (TIDAR), Tidar Shooting Club
terimakasih untuk pengalaman yang tidak saya temukan dalam perkuliahan
dan hanya saya temukan di TIDAR.
14. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu yang telah membantu
dalam penyelesaian skripsi ini, terimakasih atas semua bantuan dan
dukungannya.
Semoga Allah SWT memberikan balasan atas budi baik yang telah diberikan
kepada penulis. Akhir kata, Penulis menyadari skripsi ini masih terdapat
kekurangan dalam penulisan skripsi ini dan masih jauh dari kesempurnaan, akan

tetapi sedikit harapan semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi yang
membacanya, khususnya bagi penulis dalam mengembangkan dan mengamalkan
ilmu pengetahuan.
Bandar Lampung, Desember 2014
Penulis,

Bayu Teguh Pranoto

DAFTAR ISI

ABSTRAK ........................................................................................................i
HALAMAN PERSETUJUAN ...................................................................... ii
HALAMAN PENGESAHAN....................................................................... iii
RIWAYAT HIDUP ....................................................................................... iv
MOTO ..............................................................................................................v
HALAMAN PERSEMBAHAN ................................................................... vi
SANWACANA ............................................................................................. vii
DAFTAR ISI.................................................................................................. xi
I.

PENDAHULUAN..................................................................................1
A. Latar Belakang....................................................................................1
B. Rumusan Masalah ..............................................................................7
C. Ruang Lingkup....................................................................................7
D. Tujuan Penelitian.................................................................................7
E. Kegunaan Penelitian............................................................................8

II.

TINJAUAN PUSTAKA.........................................................................9
A. Dinamika Sistem Pengawasan Perbankan...........................................9
1. Teori Sistem Pengawasan Perbankan.............................................9
2. Sistem Perbankan..........................................................................21
3. Produk Sistem Perbankan..............................................................22
B. Prinsip-Prinsip Kesehatan Bank..........................................................24
1. Pengertian Kesehatan Bank...........................................................24
2. Penilaian Tingkat Kesehatan Bank................................................26
C. Teori Umum Pengawasan Perbankan..................................................28
1. Sistem Pelaksanaan Pengawasan...................................................28
2. Fungsi Pengawasan Lembaga Perbankan......................................31

3. Jenis Pelaksanaan Pengawasan Perbankan....................................33
4. Struktur Pengawasan.....................................................................34
D. Otoritas Jasa Keuangan.......................................................................35
1. Peran Fungsi Tugas dan Wewenang Otoritas Jasa Keuangan......35
2. Wewenang Otoritas Jasa Keuangan..............................................38
E. Kerangka Fikir.....................................................................................43
III.

METODE PENELITIAN...................................................................46
A. Jenis Penelitian.................................................................................46
B. Tipe Penelitian..................................................................................46
C. Pendekatan Masalah.........................................................................47
D. Sumber Data dan Jenis Data…........................................................47
1. Bahan Hukum Primer.................................................................48
2. Bahan Hukum Sekunder............................................................48
3. Bahan Hukum Tersier.................................................................48
E. Metode Pengumpulan Data ............................................................ .49
1. Studi Pustaka..............................................................................49
2. Studi Dokumen...........................................................................49
F. Metode Pengolahan Data..................................................................49
1. Pemeriksaan Data ( Editing )......................................................49
2. Rekonstruksi Data ( Reconstructing ).........................................49
3. Sistem Data ( Sistematizing )......................................................50
G. Analisis Data.....................................................................................50

IV.

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ................................ .51
A. Pengawasan Perbankan Sebelum di Berlakukannya UndangUndang No 21 Tahun 2011 Tentang Otoritas Jasa Keuanga ......... 51
1. Sistem Pengawasan Perbankan Setelah Pembentukan
Otoritas Jasa Keuangan .......................................................... 56
B. Hubungan Kelembagaan Antara Otoritas Jasa Keuangan dan
Lembaga Otoritas Lain dalam Pengawasan Perbankan ................. 62

1. Koordinasi Antara Otoritas Jasa Keuangan dan Bank
Indonesia .................................................................................. 67
2. Koordinasi Antara Otoritas Jasa Keuangan dan Lembaga
Penjamin Simpanan.................................................................. 69
3. Koordinasi Antara Otoritas Jasa Keuangan, Bank Indonesia,
dan Lembaga Penjami Simpanan...............................................70

V.

KESIMPULAN....................................................................................71

DAFTAR PUSTAKA

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Perbankan adalah segala sesuatu yang berkaitan dengan bank, mencakup
kelembagaan, kegiatan usaha, serta cara dan proses dalam melaksanakan kegiatan
usahanya. Perbankan Indonesia dalam menjalankan fungsinya berasaskan
demokrasi ekonomi dan menggunakan prinsip kehati-hatian. Perbankan memiliki
kedudukan yang strategis, yakni sebagai penunjang kelancararan sistem
pembayaran, pelaksaan kebijakan moneter dan pencapaian stabilitas sistem
keuangan.1

Pengertian tentang bank secara sederhana dapat dikemukakan disini, bank adalah
suatu badan usaha berbadan hukum bergerak di bidang jasa keuangan, yang dapat
menghimpun dana dari masyarakat secara langsung dan menyalurkan kembali
kemasyarakat. Mengingat Bank sebagi lembaga jasa keuangan yang secara
langsung dapat menarik dana dari masyarakat perlu pengaturan secara khusus, hal
ini dibutuhkan agar bank dalam menjalankan aktivitasnya harus selalu mengacu
kepada peraturan perundang-undangan yang mengatur tentang bank sebagai jasa

1

Abdurrachman, Ensiklopedia Ekonomi Keuangan Perdagangan Inggris Indonesia. Pradnya
Paramita : Jakarta, 1991,hlm.86.

2

keuangan.2 Bank Sentral disuatu negara, pada umumnya adalah sebuah instansi
yang bertanggung jawab atas kebijakan moneter diwilayah negaranya. Bank
Sentral berusaha untuk menjaga stabilitas nilai mata uang, stabilitas sektor
perbankan, dan sistem finansial secara keseluruhan. Fungsi Bank Sentral di
Indonesia diselenggarakan oleh Bank Indonesia (BI). Bank sentral adalah suatu
institusi yang bertanggung jawab untuk menjaga stabilitas nilai suatu mata uang
yang berlaku dinegaranya, dalam hal ini dikenal dengan istilah inflasi atau
naiknya harga-harga yang dalam arti lain turunnya suatu nilai uang. Bank sentral
menjaga agar tingkat inflasi terkendali dan selalu berada pada nilai yang serendah
mungkin atau pada posisi yang optimal bagi perekonomian dengan mengontrol
keseimbangan jumlah uang dan barang menggunakan instrumen dan otoritas yang
dimilikinya. BI memiliki peran vital dalam menciptakan kinerja lembaga
keuangan yang sehat, khususnya perbankan. Penciptaan kinerja lembaga
perbankan dilakukan melaui mekanisme pengawasan dan regulasi, sektor
perbankan memiliki pangsa yang dominan dalam sistem keuangan, oleh sebab itu
kegagalan disektor ini dapat menimbulkan ketidakstabilan keuangan dan
mengganggu perekonomian.3

BI memiliki fungsi sebagai pengaman sistem keuangan melalui fungsi bank
sentral dalam mengelola krisis guna menghindari terjadinya ketidakstabialan
sistem keuangan. Bank Indonesia mempunyai satu tujuan, yaitu mencapai dan
memelihara kestabilan nilai rupiah dan nilai tukar yang wajar merupakan sebagian
dari prasyarat bagi tercapainya pertumbuhan ekonomi yang berkesinambungan
2

Rachmadi Usman, Aspek-Aspek Hukum Perbankan di Indonesia, Gramedia pustaka Utama :
Jakarta, 2001, hlm.2.
3
Widjanarto.Hukum dan Ketentuan Perbankan di Indonesia. Cetakan Ketiga. Jakarta:Grafit, 2003.
Hlm,98.

3

yang pada gilirannya akan meningkatkan kesejahtraan rakyat. Dinamisnya
perkembangan perbankan tentunya memerlukan suatu pengawasan struktural,
guna mencegah keadaan yang berdampak pada kestabilan keuangan negara,
pengawasan dalam perkembangan perbankan menjadi bagian dari tugas bank
sentral.

Kewenangan BI di bidang perbankan salah satunya adalah kewenangan
melakukan pengawasan bank baik secara langsung maupun tidak langsung, tugas
mengawasi bank itu penting tidak saja untuk mendukung kelancaran sistem
pembayaran, tetapi juga untuk meningkatkan efektivitas kebijakan moneter dalam
mempengaruhi perkembangan ekonomi dan inflasi. Hal itu mengingat lembaga
perbankan berfungsi sebagai lembaga kepercayaan masyarakat dalam mobilisasi
dana dan penyaluran kredit perbankan ataupun dalam peredaran uang didalam
perekonomian.

BI mempunyai tugas dalam hal pembinaan dan pengawasan bank. Pembinaan
adalah upaya-upaya yang dilakukan dengan cara menetapkan peraturan yang
menyangkut aspek kelembagaan, kepemilikan, pengurusan, kegiatan usaha,
pelaporan serta aspek lain yang berhubungan dengan kegiatan oprasional bank.4
Meliputi pengawasan tidak langsung yang terutama dalam bentuk pengawasan
dini melalui penelitian, analisis, dan evaluasi laporan bank, dan pengawasan
langsung dalam bentuk pemeriksaan yang disusul dengan tindakan-tindakan
perbaikan.

4

Dahlan Siamat.Manajemen Lembaga Keuangan Kebijakan Moneter dan Perbankan. Edisi Kelima
Jakarta: Lembaga Penerbit Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, 2005. Hlm.42.

4

Pengawasan yang dilakukan BI atau pihak lain yang ditunjuk atas namanya
meliputi pengawasan langsung dan tidak langsung. BI berwenang mewajibkan
bank untuk menyampaikan laporan, keterangan dan penjelasan sesuai tatacara
yang ditetapkannya. Apabila diperlukan, kegiatan penyampaian laporan ini dapat
dikenakan terhadap perusahaan induk, perusahaan anak, pihak terkait, dan pihak
terafiliasi dari bank.5

Seiring berjalannya waktu timbullah keresahan dari beberapa pihak dalam hal
fungsi pengawasan Bank Indonesia. Krisis pada 1997-1998 yang melanda
Indonesia mengakibatkan banyaknya bank yang mengalami koleps sehingga
banyak yang mempertanyakan pengawasan BI terhadap bank-bank. Salah satu
alasan rencana pembentukan Otoritas Jasa Keuangan (0JK) adalah karena
pemerintah beranggapan BI sebagai Bank Sentral telah gagal dalam mengawasi
sektor perbankan khususnya pada saat krisis ekonomi melanda Indonesia pada
tahun 1997-1998 sejumlah bank pada saat itu dilikuidasi. Alasan lain
pembentukan OJK, antara lain adalah makin berwariasinya produk jasa keuangan,
munculnya gejala konglomerasi perusahaan jasa keuangan, dan globalisasi
industri jasa keuangan.

Kelemahan kelembagaan dan pengaturan yang tidak mendukung diharapkan dapat
diperbaiki sehingga tercipta kerangka sistem keuangan yang lebih tangguh.
Reformasi di bidang hukum perbankan diharapkan menjadi penyelamat krisis
ekonomi dan sekaligus menjadi penangkal dalam pemikiran permasalahan di masa
depan.

5.

Adrian Sutedi, Aspek Hukum Otoritas Jasa Keuangan,Raih Asa Sukses : Jakarta, 2014, hlm. 40.

5

Gagasan untuk membentuk lembaga khusus pengawasan perbankan telah
dimunculkan sejak diundangkannya Undang-Undang No.23 Tahun 1999
sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang No. 3 tahun 2004 tentang BI,
dalam undang-undang tersebut dijelaskan bahwa tugas pengawasan terhadap bank
akan dilakukan oleh lembaga pengawasan sektor jasa keuangan yang independen
dan dibentuk dengan undang-undang. Hal tersebut yang dijadikan landasan dasar
bagi pembentukan suatu lembaga independen untuk mengawasi sektor jasa
keuangan.

OJK adalah lembaga negara yang dibentuk berdasarkan Undang-undang Nomor
21 Tahun 2011 mulai berlaku pada tanggal 31 Desember 2013 yang berfungsi
menyelenggarakan sistem pengaturan dan pengawasan yang terintegrasi terhadap
keseluruhan kegiatan didalam sektor jasa keuangan. OJK adalah lembaga yang
independen dan bebas dari campur tangan pihak lain, mempunyai fungsi, tugas,
dan wewenang pengaturan, pengawasan, pemeriksaan, dan penyidikan. OJK
didirikan untuk menggantikan peran Bapepam-LK dalam pengaturan dan
pengawasan pasar modal dan lembaga keuangan, dan menggantikan peran Bank
Indonesia dalam pengaturan dan pengawasan bank.

Tujuan OJK dibentuk agar keseluruhan kegiatan sektor jasa keuangan
terselenggara secara teratur, adil, transparan, akuntabel, mampu mewujudkan
sistem keuangan yang tumbuh secara berkelanjutan dan sabil serta mampu
melindungi kepentingan konsumen dan masyarakat.6 OJK kedudukannya berada
diluar pemerintah, Dewan Komisioner adalah pimpinan tertinggi OJK yang
6

Zainul Amina, Kajian Pembentukan Otoritas Jasa KeuanganDi Indonesia : Melihat Dari
Pengalaman di Negara Lain, Universitas Negeri Surabaya : Surabaya, 2012, hlm.8.

6

bersifat kolektif dan kolegal. Dewan Komisioner beranggotakan 9 (sembilan)
orang anggota yang ditetapkan dengan keputusan Presiden. OJK berkewajiban
menyampaikan laporan kepada Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) dan Dewan
Perwakilan Rakyat (DPR) Namun demikian, dalam pelaksaan tugas dan
wewenangnya Otoritas Jasa Keuanganbertanggung jawab kepada Presiden.

Pihak OJK telah membuka kantor perwakilan sebanyak 35 terdiri 29 didaerah
(provinsi) dan 6 untuk wilayah regional, pembukaan kantor tersebut merupakan
amanat Undang-undang No.21 Tahun 2011 tentang OJK yang diresmikan oleh
sejumlah anggota komisioner OJK. Dengan beroperasinya kantor OJK di daerah
atau pada tingkat regional akan memudahkan pengawasan seluru industri jasa
keuangan yang ada di daerah maupun pelayanan nasional.

Sesuai dengan Undang-undang OJK, kantor-kantor perwakilan OJK akan
menjalankan fungsi pengaturan dan pengawasan terhadap industri keuangan
bukan bank dan pasar modal, termasuk fungsi perlindungan konsumen. Untuk itu,
kantor OJK di daerah utamanya diharapkan sebagai pusat informasi dan
pengaduan masyarakat. Dengan pendirian kantor-kantor itu maka tingkat literasi
masyarakat akan menjadi lebih tinggi sehingga pada akhirnya masyarakat lebih
yakin dalam berinvestasi dan berhubungan dengan lembaga keuangan. Dengan
seperti ini industri keuangan akan menjadi kuat dan bisa memberikan kontribusi
besar pada perekonomian negara.

Berdasarkan uraian latar belakang di atas, penulis tertarik untuk mengkaji lebih
mendalam tentang pengawasan lembaga perbankan kedalam bentuk skripsi yang
berjudul “Pengawasan Lembaga Perbankan Oleh Otoritas Jasa Keuangan

7

(OJK) Setelah diberlakukannya Undang-Undang No.21 Tahun 2011 tentang
Otoritas Jasa Keuangan”.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang masalah, maka dalam penelitian ini ada
beberapa masalah yang dirumuskan dan dicari penyelsaiannya secara ilmiah.
Beberapa masalah tersebut sebagai berikut :
1. Bagaimana sistem pengawasan perbankan sebelum dan sesudah di berlakukanya
Undang-Undang No. 21 Tahun 2011 tentang Otoritas Jasa Keuangan?
2. Bagaimana hubungan kelembagaan antara Otoritas Jasa Keuangan dan lembaga
otoritas lainnya dalam pengawasan perbankan?

C. Ruang Lingkup

Ruang lingkup dalam penelitian ini adalah mengenai sistem pengawasan dan
hubungan Otoritas Jasa Keuangan terhadap pelaksanaan pengawasan lembaga
perbankan. Adapun lingkup keilmuan dalam penelitian ini adalah hukum
keperdataan ekonomi, khususnya perbankan.

D. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian yaitu ;
1. Memperoleh deskripsi lengkap, rinci dan sistematis mengenai sistem pengawasan
perbanbankan sebelum dan sesudah di berlakukanya Undang-Undang No. 21
Tahun 2011 tentang Otoritas Jasa Keuangan;

8

2. Memperoleh deskripsi lengkap, rinci dan sistematis mengenai hubungan
kelembagaan antara Otoritas Jasa Keuangan dan lembaga-lembaga otoritas
lainnya dibidang pengawasan perbankan;

E. Kegunaan Penelitian

Kegunaan penelitian ini mencakup kegunaan teoritis, praktis, sebagai berikut ;
1. Kegunaan Teoritis
Kegunaan penelitian ini adalah sebagai dasar pemikiran dalam upaya
pengembangan keilmuan dengan disiplin ilmu khususnya ilmu dibidang hukum
ekonomi yang berkenaan dengan hukum perbankan, juga sekaligus memperluas
pengetahuan bagi pihak yang membutuhkan.
2. Kegunaan Praktis
Secara praktis kegunaan penelitian ini adalah :
a. Sebagai upaya menambah perbendaharaan karya ilmiah pada Fakultas Hukum
Universitas Lampung.
b. Sebagai bahan informasi maupun literatur bagi pihak yang memerlukan,
khususnya mahasiswa Bagian Hukum Keperdataan Fakultas Hukum Universitas
Lampung.
c. Sebagai salah satu syarat bagi penulis dalam menyelsaikan pendidikan tinggi pada
Fakultas Hukum Universitas Lampung, khususnya bagian Hukum Keperdataan
Ekonomi.

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Dinamika Sistem Pengawasan Perbankan Di Indonesia

1. Teori Sistem Pengawasan Perbankan

Segi terminologi sistem perbankan terdiri dari kata sistem dan perbankan, dimana
“sistem” adalah perangkat unsur yang secara terstruktur saling berkaitan sehingga
membentuk suatu totalitas, sedangkan “perbankan” adalah segala sesuatu
mengenai bank.1 Berdasarkan terminologi tersebut dapat dipahami bahwa sistem
perbankan adalah sebuah sistem yang menyangkut segala sesuatu mengenai bank.
Sistem perbankan juga senantiasa dinamis mengikuti arah ekonomi global.

Demikian pula sistem perbankan yang ada di Indonesia, beberapa kali mengalami
perubahan yang ditandai dengan peralihan rezim undang-undang perbankan yang
berlaku di masanya. Dimulai jaman penjajahan, setelah kemerdekaan Republik
Indonesia, hingga sekarang, Indonesia telah mengalami beberapa kali perubahan
sistem perbankan. pengawasan perbankan dilatar belakangi oleh beberapa faktor,
diantaranya: pertama, bank menghimpun dana masyarakat dengan dasar
kepercayaan. Kedua, bank merupakan bagian penting dalam kerangka sistem
pembayaran dan efektivitas transmisi kebijakan moneter. Ketiga, sektor

1

Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional, 2008, Op. cit., hlm. 1362.

10

perbankan menyumbang peran besar dalam pembangunan ekonomi. Dan keempat,
bank sangat rentan terhadap berbagai macam risiko.2 Kepercayaan masyarakat
menjadi faktor utama mengapa bank harus diawasi. Bank adalah unit usaha yang
khusus dimana jalannya kegiatan operasional bank tergantung pada sumber dana
dari masyarakat. Maka kelangsungan hidup suatu bank ditentukan oleh
kepercayaan masyarakat terhadap lembaga tersebut. Dari pengertian inilah timbul
istilah bank sebagai lembaga kepercayaan. Merosotnya kepercayaan masyarakat
terhadap bank dapat mengakibatkan kegagalan suatu bank.3

Kegagalan suatu bank, khususnya yang bersifat sistemik, dapat mengakibatkan
terjadinya krisis perbankan yang dapat mengganggu kegiatan suatu perekonomian
terlebih jika negara tersebut menganut sistem keuangan yang berbasis bank,
dimana bank memegang peran dominan dalam pergerakan ekonominya, seperti di
negara-negara berkembang yang industri perbankannya mendominasi total aset
industri keuangan. Dalam kondisi demikian, apabila lembaga perbankan tidak
sehat dan tidak dapat berfungsi secara optimal, maka dapat dipastikan akan
berakibat pada terganggunya kegiatan ekonomi negara secara luas. Dari deskripsi
di atas, dapat dipahami bahwa bank adalah lembaga keuangan yang sangat rentan
terhadap risiko. Bagaimanapun baik atau sehatnya bank, apabila terjadi krisis
kepercayaan yang mengakibatkan penarikan dana dari masyarakat secara besarbesaran, maka dapat dipastikan bank tersebut akan hancur.4 Sistem pengawasan
2

Tim Kerjasama Penelitian FEB UGM dan FE UI, 2010, Op. cit., hlm. 26.
Andrew Crockett, “Why Is Financial Stability a Goal of Public Policy?”, Makalah, Federal
Reserve Bank of Kansas City’s Symposium, “Maintaining Financial Stability in a Global
Economy”, Wyoming, 28-30 Agustus 1997, hlm. 7.
4
Suseno dan Piter Abdullah, 2003, Sistem dan Kebijakan Perbankan di Indonesia
(SeriKebanksentralan No. 7), Pusat Pendidikan dan Studi Kebanksentralan Bank Indonesia,
Jakarta, hlm. 9.
3

11

perbankan di Indonesia cukup dinamis, mengalami beberapa kali perubahan
seiring bergantinya rezim peraturan perundang-undangan yang mengatur bidang
perbankan, adalah sebagai berikut:

a.

Periode 1953 – 1959
Pada periode inilah Bank Indonesia (BI) resmi menjadi bank sentral, dan diberi
kewenangan-kewenangan selayaknya bank sentral modern. Melalui UndangUndang Nomor 11 Tahun 1953 Tentang Penetapan Undang-Undang Pokok Bank
Indonesia (UU BI 1953).

Salah satu kewenangan tersebut adalah kewenangan pengawasan perbankan
sebagaimana diatur dalam Pasal 7 ayat (4) dan (5) Undang-Undang tersebut.
(1) Bank melakukan pengawasan terhadap urusan kredit;
(2) Menunggu terlaksananya suatu peraturan Undang-Undang tentang pengawasan
terhadap urusan kredit maka dengan Peraturan Pemerintah dapat diadakan
peraturan-peraturan lebih lanjut bagi Bank untuk menjalankan pengawasan
termaksud guna kepentingan kemampuan membayar (solva-biliteit) dan
kelanjutan keuangan (liquiditeit) badan-badan kredit, begitu juga untuk pemberian
kredit secara sehat dan berdasarkan asas-asas kebijaksanaan bank yang tepat yang
menjadi fokus dalam kewenangan pengawasan ini adalah pengawasan kredit.
Dalam rangka tugasnya BI berhak menetapkan peraturan-peraturan umum yang

12

berlaku terhadap bank-bank mengenai jalannya perusahaan bank dan perkreditan,
serta meminta dari bank segala keterangan dan angka-angka yang dianggap perlu.5

Namun dalam pelaksanaannya, khususnya mengenai ketentuan yang berkaitan
dengann pengaturan kelembagaan, yaitu tentang pendirian bank, pengawasan
bank dilakukan dengan tetap membedakan aspek pemilikan seperti sebelum
keluarnya peraturan pemerintah tersebut, yaitu menurut kelompok bank
pemerintah, bank swasta nasional, dan bank asing6.

b.

Periode 1959 – 1966
Pada periode ini kebijakan pengawasan perbankan tetap didasarkan pada PP No. 1
Tahun 1955 yang merupakan kewenangan BI (Bank Negara Indonesia Unit I)
untuk mengatur operasi bank berdasarkan prinsip-prinsip pengawasan perbankan
yang sehat, baik dilihat dari aspek likuiditas, solvabillitas, kebijakan pemberian
kredit maupun kepatuhannya terhadap ketentuan-ketentuan yang berlaku.
Pelaksanaan tugas pengawasan bank telah mulai dipisahkan secara tegas sehingga
pemeriksa bank hanya mengkhususkan pada tugas pemeriksaan bank, dan
pengawasan tidak langsung dilaksanakan oleh petugas yang terpisah dari
pemeriksaan bank. Hasil pengawasan perbankan yang dilakukan oleh BI dalam
periode ini menjadi bahan yang mendorong otoritas pengawasan perbankan untuk
mengeluarkan

ketentuan-ketentuan

yang

berkaitan

dengan

pengaturan

kelembagaan atau kegiatan operasional bank. Otoritas pengawasan perbankan

5

Unit Khusus Museum Bank Indonesia, “Sejarah Bank Indonesia: Perbankan, Periode 19531959”, http://www.bi.go.id/NR/rdonlyres/A6011CBA-1B4E-49B1-9DDC-CB01AB6C60D0/19383/
SejarahPerbankanPeriode19531959.pdf, Diakses tanggal 11Oktober.2014.
6
Unit Khusus Museum Bank Indonesia, “Sejarah Bank Indonesia: Perbankan, Periode
1959-1966”, http://www.bi.go.id/NR/rdonlyres/A6011CBA-1B4E-49B1-9DDC-CB01AB6C60D0,
diunduh pada 13 September 2014

13

pada periode ini mengalami perubahan. Dengan dinonaktifkannya Dewan
Moneter, fungsi Dewan Moneter dialihkan kepada dua menteri yaitu Menteri
Urusan Bank Sentral (MUBS) untuk kebijakan terhadap bank pemerintah dan
bank pembangunan daerah, serta Menteri Urusan Penerbitan Bank dan Modal
Swasta (MUPBMS) untuk kebijakan terhadap bank swasta termasuk bank asing.
Bank Indonesia merupakan aparat pelaksana dari kedua menteri tersebut. Dalam
menjalankan tugas di bidang pengawasan bank, BI tetap menggunakan PP No. 1
Tahun 1955 sebagai landasan kerja.

c.

Periode 1966 – 1983
Pada awal periode ini, Menteri Urusan Penertiban Bank dan Modal Swasta
(MUPBMS) dan Menteri Urusan Bank Sentral (MUBS) dihapuskan. Sehingga
permohonan izin untuk mendirikan bank dan izin membuka cabang bank serta
penutupan bank dan cabang bank ditujukan kepada Menteri Keuangan. Pada
tanggal yang sama Menteri Keuangan juga mengumumkan bahwa izin mendirikan
bank baru atau membuka cabang bank baru diberikan oleh Menteri Keuangan.
Menteri Keuangan memberikan izin usaha atas dasar pertimbangan BI. Disamping
penghapusan MUPBMS dan MUBS, terdapat perkembangan regulasi dalam
industri perbankan yang ditandai dengan lahirnya Undang-Undang Nomor 14
Tahun 1967 Tentang Pokok-Pokok Perbankan (Undang-UPerbankan 1967) pada
akhir tahun 1967. Undang – undang baru tersebut mencabut Peraturan Pemerintah
Nomor 1 Tahun 1955 Tentang Pengawasan Terhadap Urusan Kredit. Dalam
Undang-Undang ini ditegaskan bahwa pendirian bank-bank milik Pemerintah
masing – masing dilakukan dengan Undang – Undang , sedangkan untuk
pembukaan cabang dan kantor perwakilan harus dengan izin Menteri Keuangan

14

setelah mendengar pertimbangan BI. Dalam Undang-Undang Perbankan 1967,
diatur pula tugas BI dalam bidang pengawasan dan pembinaan bank yang
tercantum dalam Pasal 30-35. Dari ketentuan-ketentuan pasal tersebut dapat
dipahami bahwa tugas dan wewenang Bank Indonesia mencakup segala yang
berhubungan dengan penetapan regulasi, pengawasan dan pemeriksaan,
pembinaan, serta penetapan sanksi atas pelanggaran kewajiban yang harus
dipenuhi oleh bank-bank. Kemudian melalui Undang-Undang Nomor 13 Tahun
1968 Tentang Bank Sentral (UU BI 1968), Undang-Undang Bank Indonesia 1953
dicabut. Dalam Undang-Undang Bank.

Indonesia baru ini dilengkapi kewenangan pengawasan dan pembinaan yang lebih
lengkap dibandingkan undang-undang sebelumnya. Hal ini dapat dilihat dalam
pengaturan Pasal 29-33 Undang-Undang BI 1968 tersebut. Sebagai kelanjutan
dari usaha penertiban bank sekunder, yang meliputi bank desa, bank pasar, dan
bank sejenis lainnya, dan dalam rangka penyesuaian dengan perundang-undangan
yang berlaku, sejak September 1977 secara bertahap BI menyerahkan pelaksanaan
pengawasan dan pembinaan terhadap bank-bank tersebut kepada Bank Rakyat
Indonesia, tetapi penetapan ketentuan umum masih tetap dilakukan oleh BI.

d. Periode 1983 – 1997
Dari awal periode ini hingga awal tahun 1992, BI dalam menjalankan fungsi
pengawasan dan pembinaan bank tetap berpijak pada Undang-Undang Perbankan
1967. Setelah pembentukan undang-undang perbankan yang baru, yaitu UndangUndang Nomor 7 Tahun 1992 Tentang Perbankan (Undang-Undang Perbankan
1997), yang kemudian mencabut Undang-Undang perbankan lama (Undang-

15

Undang Perbankan 1992), tugas pengawasan dan pembinaan bank tetap melekat
pada BI, bahkan dipertegas. Hal ini diatur dalam Pasal 29-37 Undang-Undang
Perbankan 1992. Secara umum tugas dan wewenang ini terdapat dalam Pasal 29
yang berbunyi:
(1) Pembinaan dan pengawasan bank dilakukan oleh BI.
BI menetapkan ketentuan tentang kesehatan bank dengan memperhatikan aspek
permodalan,

kualitas

asset,

kualitas

manajemen,

rentabilitas,

likuiditas,

solvabilitas, dan aspek lain yang berhubungan dengan usaha bank.
(2) Bank wajib memelihara kesehatan bank sesuai dengan ketentuan sebagaimana
dimaksud dalam ayat (2) dan wajib melakukan usaha sesuai dengan prinsip
kehati-hatian.
Dalam memberikan kredit dan melakukan kegiatan usaha lainnya, bank wajib
menempuh cara-cara yang tidak merugikan bank dan kepentingan nasabah yang
mempercayakan dananya kepada bank.
(3) Untuk kepentingan nasabah, bank menyediakan informasi mengenai kemungkinan
timbulnya risiko kerugian bagi transaksi nasabah yang dilakukan melalui bank.

Tugas dan wewenang BI mencakup fungsi regulasi, pengawasan, pemeriksaan dan
pembinaan, serta penerapan sanksi atas pelanggaran yang dilakukan bank. Selain
dalam pasal-pasal tersebut, terdapat pula kewenangan BI dalam mengatur dan
mengawasi hal-hal yang dilakukan bank seperti dalam Pasal 7 tentang kegiatan
dalam valuta asing, penyertaan modal, serta bertindak sebagai pendiri dan
pengurusan dana pensiun. Perbedaan fundamental dalam pelaksanaan tugas BI
berdasarkan kedua undang-undang tersebut adalah dari segi pendekatan dan pola
pelaksanaan dengan menerapkan kebijakan deregulasi.

16

e.

Periode 1997 – 1999
Periode ini adalah periode krisis moneter yang dipicu oleh krisis perbankan yang
dialami oleh Indonesia. Sehingga terdapat banyak perubahan di bidang perbankan.
Hal ini ditunjukkan pada perubahan Undang-Undang Perbankan 1992 menjadi
Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 Tentang Perubahan Atas Undang-Undang
Nomor 7 Tahun 1992 Tentang Perbankan (Undang-Undang Perbankan 1998).
Perubahan signifikan dalam sistem pengawasan perbankan dalam undang-undang
ini adalah pengalihan perizinan di bidang perbankan, yang semula dari Menteri
Keuangan beralih kepada Pimpinan BI.

Sebagai otoritas pengawasan bank dimasa krisis, BI menjalankan wewenangnya
untuk mengatasi kesulitan yang membahayakan kelangsungan usaha bank yang
diatur dalam Pasal 37 Undang-Undang Perbankan 1992, yang kemudian dirubah
dalam Undang-Undang Perbankan 1998 sehingga berbunyi:
a. Dalam hal suatu bank mengalami kesulitan yang membahayakan kelangsungan
usahanya, BI dapat melakukan tindakan agar:
(1) Pemegang saham menambah modal;
(2) Pemegang saham mengganti dewan komisaris dan atau direksi bank;
(3) Bank menghapusbukukan kredit atau pembiayaan berdasarkanyang macet
memperhitungkan kerugian bank dengan modalnya;
(4) Bank melakukan merger atau konsolidasi dengan bank lain;
(5) Bank dijual kepada pembeli yang bersedia mengambil alih seluruh kewajiban;
(6) Bank menyerahkan pengelolaan seluruh atau sebagian kegiatan bank;

17

(7) Bank menjual sebagian atau seluruh harta dan/atau kewajiban bank kepada bank
atau pihak lain.
b. Apabila:
(1) Tindakan sebagaimana dimaksud dalam ayat (1) belum cukup untuk mengatasi
kesulitan yang dihadapi bank; dan/atau
(2) Menurut penilaian BI keadaan suatu bank dapat membahayakan sistem
perbankan, Pimpinan BI dapat mencabut izin usaha bank dan memerintahkan
direksi bank untuk segera menyelenggarakan Rapat Umum Pemegang Saham
guna membubarkan badan hukum bank dan membentuk tim likuidasi.
c. Dalam hal direksi bank tidak menyelenggarakan Rapat Umum Pemegang Saham
sebagaimana dimaksud dalam ayat (2), Pimpinan BI meminta kepada pengadilan
untuk mengeluarkan penetapan yang berisi pemb ubaran badan hukum bank,
penunjukan tim likuidasi, dan perintah pelaksanaan likuidasi sesuai dengan
peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Dalam rangka penanggulangan krisis perbankan, Pemerintah pada tanggal 26
Januari 1998 membentuk Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) yang
bertugas melakukan penyehatan perbankan, menyelesaikan aset bermasalah dan
mengupayakan pengembalian uang negara yang telah tersalur pada sektor
perbankan. Sesuai dengan Undang-Undang No. 10 Tahun 1998 Tentang
Perbankan, program penyehatan yang dilakukan oleh BPPN adalah khusus
terhadap bank-bank yang ditetapkan dan diserahkan oleh BI kepada BPPN.
Sedangkan di luar itu, seluruh otoritas perbankan masih tetap berada di BI.

18

f.

Periode 1999 – 2004
Penyesuaian sistem keuangan, perbankan dan pengawasan perbankan terhadap
iklim crises recovery berlanjut hingga periode ini. Diawali dengan lahirnya
undang-undang Bank Indonesia baru yang mencabut Undang-Undang Bank
Indonesia 1968, yakni Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999 Tentang Bank
Indonesia (Undang-Undang Bank Indonesia 1999), dan munculnya kewenangankewenangan yang berkaitan dengan pengawasan perbankan yang dilakukan oleh
lembaga selain BI secara terbatas.

Banyak perubahan yang signifikan dalam Undang-Undang Bank Indonesia 1999
ini, khususnya ketentuan mengenai pengawasan perbankan. Prudential supervision
atau prinsip kehati-hatian dalam pengawasan sudah dikenal dalam undang-undang
ini, sebagaimana disebutkan dalam Pasal 25 ayat (1): “Dalam rangka
melaksanakan tugas mengatur Bank, BI berwenang menetapkan ketentuanketentuan perbankan yang memuat prinsip kehati-hatian”. Pengawasan langsung
dan pengawasan tidak langsung juga diperkenalkan dalam fungsi pengawasan BI,
sebagaimana disebutkan pula dalam Pasal 27: “Pengawasan Bank oleh BI
sebagaimana dimaksud dalam Pasal 24 adalah pengawasan langsung dan tidak
langsung”.

Dalam Undang-Undang Bank Indonesia 1999 ini juga terdapat rencana
pembentukan lembaga pengawas sektor jasa keuangan (LPSJK) yang independen
untuk melaksanakan tugas pengawasan lembaga keuangan, termasuk bank yang
sebelumnya merupakan objek kewenangan pengawasan BI. Hal ini diamanatkan
dalam Pasal 34: (1) Tugas mengawasi Bank akan dilakukan oleh lembaga

19

pengawasan sektor jasa keuangan yang independen, dan dibentuk dengan
Undang-undang. (2) Pembentukan lembaga pengawasan sebagaimana dimaksud
pada ayat (1), akan dilaksanakan selambat-lambatnya 31 Desember 2002. Dari
ketentuan Pasal 34 tersebut, dapat diketahui bahwasanya pembentukan LPSJK,
yang sekarang kita kenal dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), mulai diinisiasi
pada tahun 1999, tepatnya pada saat Undang-Undang Bank Indonesia 1999
disahkan undang-undang tersebut mengamanatkan pembentukan LPSJK selambat
lambatnya 31 Desember 2002.

g.

Periode 2004 – Sekarang
Tidak banyak perubahan dalam sistem pengawasan perbankan pada awal periode
ini, hanya saja lahir perubahan pertama Undang-Undang Nomor 3 Tahun 2004
Tentang Perubahan Atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1999 Tentang Bank
Indonesia . Terkait pengawasan perbankan, hanya terdapat perubahan dalam batas
waktu pembentukan LPSJK, sebagaimana disebutkan dalam Pasal 34:

(1) Tugas mengawasi Bank akan dilakukan oleh lembaga pengawasan
(2) Sektor jasa keuangan yang independen, dan dibentuk dengan undangundang.
(3) Pembentukan lembaga pengawasan sebagaimana dimaksud pada ayat (1), akan
dilaksanakan selambat-lambatnya 31 Desember 2010.

Wacana pembentukan lembaga pengawas independen tersebut mundur menjadi 31
Desember 2010 yang semula dijadwalkan 31 Desember 2002 dalam undangundang sebelumnya. Karena berbagai persoalan yang sama seperti yang dihadapi
sebelumnya, rencana pembentukan LPSJK kembali mundur untuk ketiga kalinya.
Undang- Undang Nomor 11 Tahun 2011 Tentang Otoritas Jasa Keuangan

20

(Undang-Undang OJK) disahkan dan pembentukan LPSJK, yang dalam undangundang ini diberi nama OJK, ditunda kembali dan diberi batas waktu hingga akhir
2012 sudah beroperasi, untuk pengawasan lembaga keuangan bukan bank dan
akhir 2013 untuk pengawasan lembaga keuangan bank. Hal ini disebutkan dalam
Pasal 55 Undang-Undang OJK :
(1) Sejak tanggal 31 Desember 2012, fungsi, tugas, dan wewenang pengaturan dan
pengawasan kegiatan jasa keuangan di sektor Pasar Modal, Perasuransian, Dana
Pensiun, Lembaga Pembiayaan, dan Lembaga Jasa Keuangan Lainnya beralih dari
Menteri Keuangan dan Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan ke
OJK.
(2) Sejak tanggal 31 Desember 2013, fungsi, tugas, dan wewenang pengaturan dan
pengawasan kegiatan jasa keuangan di sektor Perbankan beralih dari BI ke OJK.

Dengan demikian setelah OJK beroperasi, maka terjadi perubahan besar dalam
sistem pengawasan perbankan di Indonesia, khususnya dalam hal struktur
pengawasannya yang semula struktur pengawasan lembaga keuangan bank
dilakukan oleh BI selaku bank sentral, dan lembaga keuangan bukan bank
dilakukan oleh Badan Pengawas Pasar Modal dan Lembaga Keuangan (Bapepam-

2. Sistem Perbankan

Sistem perbankan adalah sebuah sistem yang menyangkut segala sesuatu
mengenai bank, serta cara dan proses pelaksanaan kegiatan usaha yang
memungkinkan bank melaksanakan fungsinya dengan baik. Dengan demikian,
sistem

perbankan

merupakan

bagian

dari

sistem

keuangan

mencakup

21

permasalahan mengenai: a. asas, fungsi, dan tujuan; b. jenis-jenis usaha bank; c.
perizinan, pemilikan, dan bentuk-bentuk hukum bank; dan d. persyaratan dan
prosedur pendirian bank. Sehingga, berbicara mengenai sistem perbankan harus
melihat perspektif mana yang akan dibahas karena sangat luas cakupannya.

Berbagai perspektif dalam sistem perbankan, Robert Hauswald berpendapat
bahwasanya lembaga keuangan, khususnya perbankan, sangat bervariasi
berlakunya di suatu Negara. Pemberlakuan tersebut menyesuaikan dengan kondisi
dan karakteristik ekonomi di negara tersebut7. Variasi tersebut dapat dilihat dari
berbagai perspektif. Dilihat dari perspektif produknya, sistem perbankan di dunia
secara umum dibedakan menjadi dua jenis, yaitu universal banking dan
specialized banking8 Sistem perbankan juga senantiasa dinamis mengikuti arah
ekonomi global. Demikian pula sistem perbankan yang ada di Indonesia, beberapa
kali mengalami perubahan yang ditandai dengan peralihan rezim Undang-Undang
perbankan yang berlaku dimasanya. Perkembangan usaha perbankan tidak hanya
berkembang dari segi kuantitas lembaganya saja, namun dari aspek yang paling
luas, terkait sistem perbankan hingga hal yang paling teknis dari usaha perbankan
tersebut. Semakin maju dan berkembang perekonomian global, semakin kuat
tekanan dan arus global terhadap sektor ekonomi nasional, khususnya perbankan.
Sehingga aspek keamanan dan kestabilan sektor keuangan perlu ditingkatkan.

7

Robert Hauswald, Financial Contracting, Reorganization and Mixed Finance: ATheory of
Banking Systems, University of Maryland Press, College Park,1996, hlm.1.
8
Richard Tilly, “Universal Banking in Historical Perspective”, Journal of Institutional and
Theoretical Economics, Vol. 154, Maret 1998, hlm. 1.

22

3. Produk Sistem Perbankan

Produk sistem perbankan di Indonesia termasuk kategori specialized banking,
dimana lembaga perbankan yang beroperasi di Indonesia hanya terbatas pada
kegiatan usaha perbankan saja dan tidak diperbolehkan melakukan usaha diluar
itu. Hal ini tercermin dalam Pasal 10 Undang-Undang Perbankan 1992
sebagaimana diubah dalam Undang-Undang Perbankan 1998.Menurut Pasal 6
Undang-Undang Perbankan 1992, usaha perbankan di Indonesia terbatas pada;
a. Menghimpun dana dari masyarakat dalam bentuk simpanan berupa giro, deposito
berjangka, sertifikat deposito, tabungan, dan/atau bentuk lainnya yang
dipersamakan dengan itu;
b. Memberikan kredit;
c. Menerbitkan surat pengakuan hutang;
d. Membeli, menjual atau menjamin atas risiko sendiri maupun untuk kepentingan
dan atas perintah nasabahnya:
e. Surat-surat wesel termasuk wesel yang diakseptasi oleh bank yang masa
berlakunya tidak lebih lama daripada kebiasaan dalam perdagangan surat-surat
dimaksud;
(1) Surat pengakuan hutang dan kertas dagang lainnya yang masa berlakunya tidak
lebih lama dari kebiasaan dalam perdagangan suratsurat dimaksud;
(2) Kertas perbendaharaan negara dan surat jaminan pemerintah;
(3) Sertifikat bank indonesia (sbi);
(4) Obligasi;
(5) Surat dagang berjangka waktu sampai dengan 1 (satu) tahun;
(6) Instrumen surat berharga lain yang berjangka waktu sampai dengan 1 (satu) tahun;

23

(7) memindahkan uang baik untuk kepentingan sendiri maupun untuk kepentingan
nasabah;
(8) Menempatkan dana pada, meminjam dana dari, atau meminjamkan dana kepada
bank lain, baik dengan menggunakan surat, sarana telekomunikasi maupun
dengan wesel unjuk, cek atau sarana lainnya;
(9) Menerima pembayaran dari tagihan atas surat berharga dan melakukan
perhitungan dengan atau antar pihak ketiga;
(10) Menyediakan tempat untuk menyimpan barang dan surat berharga;
(11) Melakukan kegiatan penitipan untuk kepentingan pihak lain berdasarkan suatu
kontrak;
(12) Melakukan penempatan dana dari nasabah kepada nasabah lainnya dalam bentuk
surat berharga yang tidak tercatat di bursa efek;
(13) Melakukan kegiatan anjak piutang, usaha kartu kredit dan kegiatan wali amanat;
(14) Menyediakan pembiayaan bagi nasabah berdasarkan prinsip bagi hasil sesuai
dengan ketentuan yang ditetapkan dalam peraturan pemerintah; dan
(15) Melakukan kegiatan lain yang lazim dilakukan oleh bank sepanjang tidak
bertentangan dengan undang-undang ini dan peraturan perundang-undangan yang
berlaku.
Selain melakukan kegiatan usaha sebagaimana dimaksud dalam Pasal 6 di atas,
Bank Umum dapat pula:
a. Melakukan kegiatan dalam valuta asing dengan memenuhi ketentuan yang
ditetapkan oleh BI;
b. Melakukan kegiatan penyertaan modal pada bank atau perusahaan lain dibidang
uangan, seperti sewa guna usaha, modal ventura, perusahaan efek, asuransi, serta

24

lembaga kliring penyelesaian dan penyimpanan, dengan memenuhi ketentuan
yang ditetapkan oleh BI;
c. Melakukan kegiatan penyertaan modal sementara untuk mengatasi akibat
kegagalan kredit atau kegagalan pembiayaan berdasarkan Prinsip Syariah, dengan
syarat harus menarik kembali penyertaannya, dengan memenuhi ketentuan yang
ditetapkan oleh BI; dan
d. Bertindak sebagai pendiri dana pensiun dan pengurus dana pensiun sesuai dengan
ketentuan dalam peraturan perundang-undangan dana pensiun yang berlaku.
Fenomena-fenomena di atas dapat

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

98 2991 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

36 763 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

34 657 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

15 428 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

25 585 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

49 979 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

49 895 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

14 546 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

21 801 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

33 969 23