SUMBER POKOK AJARAN ISLAM

BAB II SUMBER POKOK AJARAN ISLAM

2.1. Al-Quran

Sumber asli dari semua ajaran dan syariat Islam ialah Kitab suci yang lazim disebut Al-Quran. Kata Quran berulang-ulang disebutkan dalam Kitab itu sendiri, diantaranya : 2:185; 10:37, 61; 17:106 dan sebagainya. Kata Quran adalah isim masdar bentuk infinitive dari akar kata qoroa yang arti aslinya adalah mangumpulkan barang-barang menjadi satu LL. Quran berarti pula membaca, karena dalam membaca, huruf dan kata-kata dihubungkan satu sama lain menjadi susunan kalimat R. Jadi dengan demikian, secara harfiah kata Al- Quran lazimnya diartikan dengan bacaan, karena pada kenyataannya Kitab itu yang paling luas dibaca di seluruh dunia. Sedangkan menurut istilah Al-Quran adalah kumpulan Wahyu Allah yang diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. Melalui malaikat Jibrlil sebagai podoman hidup manusia sepanjang jaman. Oleh karena itu seluruh ayat-ayat yang terdapat didalamnya adalah berbentuk Wahyu Matluww, artinya Wahyu yang dibacakan oleh Malaikat. Al-Quran pertama kali diturunkan oleh Allah swt. Pada suatu malam nan Agung 97:1, yang diberkahi 44:3 dengan menggunakan bahasa Arab 44:58; 43:3. Al-Quran diturunkan secara berangsur-angsur, dan setelah penggalan- penggalan itu diturunkan segera ditulis dan dihafalkan. Adapun lamanya Al- Quran diturunkan selama kenabian Muhammad saw. adalah duapuluhtiga tahun, yang selama itu beliau sibuk memperbaiki dunia yang dilanda kegelapan 17:106. Al-Quran adalah Firman Allah yang dibawa oleh Ruh suci atau malaikat Jibril dan disampaikan dalam bentuk kata-kata yang diucapkan Matluww, Kepada Nabi Muhammad saw, untuk disampaikan kepada umat manusia 26:192 – 195; 2:97; 16:102. Walaupun Al-Quran itu diturunkan secara berangsur-angsur, akan tetapi seluruh wahyu Al-Quran adalah satu kesatuan yang bulat, disampaikan oleh Allah dengan cara yang sama, yaitu diturunkan melalui Ruh Suci atau Malaikat Jibril. Seluruh kandungan Al-Quran adalah merupakan satu kesatuan yang utuh dan tidak bisa dipisah-pisahkan satu dengan yang lain, sebagai bentuk wahyu Allah swt yang paling tinggi derajatnya dibandingkan bentuk-bentuk Wahyu Allah yang lain untuk sekalian umat manusia 42:51.

2.2. Al-Hadits

Al-Hadits atau As-Sunnah adalah sumber pokok syariat Islam yang kedua sesudah Al-Quran. Kata Hadits artinya adalah ucapan yang disampaikan kepada manusia, sedangkan kata Sunnah artinya adalah laku, aturan, cara bertindak atau tingkah laku. Dalam ajaran Islam dua istilah itu dimaksudkan semua ucapan atau sabda, perbuatan dan ketetapan Nabi Muhammad saw semasa kenabiannya. Sehingga kita mengenal adanya Hadits atau Sunnah qauli, fili dan taqriri. Dari 7 istilah Hadits dan Sunnah tersebut dalam perkembangannya yang sangat popular adalah kata Hadits atau Al-Hadits kata marifat. Setiap orang yang mempelajari Al-Quran pasti tahu bahwa pada umumnya ayat-ayatnya membehas asas-asasnya atau aturan-aturan secara garis besar dan jarang dibahas sampai pada yang sekecil-kecilnya. Pada umumnya penjelasan yang sekecil-kecilnya tentang pembahasan yang terdapat dalam Al-Qura itu didapatkan dalam Al-Hadits, baik berupa contoh tentang bagaimana melaksanakan suatu perintah, maupun penjelasan secara lisan atau kata-kata. Maka disinilah arti pertingnya Al-Hadits sebagai dasar pokok ajaran Islam setelah Al-Quran. Al-Hadits bukan saja sangat dibutuhkan setelah Nabi Muhammad saw wafat, akan tetapi dibutuhkan pula ketika beliau masih hidup. Misalnya perintah shalat dan zakat adalah dua perintah yang sering diulang dalam Al-Quran, berarti perintah yang sangat penting dan tidak ada keterangan yang detail menjelaskan tentang perintah itu. Perintah itu hanya disampaikan dalam Al-Quran dengan kalimat Aqiimus-Shalaata wa-atuz-Zakaata artinya : Tegakkanlah oleh kalian semua, Shalat dan tunaikanlah Zakat, disampaikan berkali-kali akan tetapi tidak ada penjelasan rinci dalam ayat-ayat yang lain dan akan didapatkan penjelasan dan contoh-contohnya hanyalah dalam Al-Hadits, baik dalam tata-cara menegakkan Shalat maupun tata-cara menunaikan Zakat. Ini adalah sekedar contoh, tetapi karena ajaran Al-Quran adalah mencakup segala aspek kehidupan manusia, maka beratus atau beribu persoalan yang harus dijelaskan dan diberikancontoh oleh Nabi Muhammad saw. Untuk itu dalam segala hal beliau dijadikan oleh Allah swt sebagai suri tauladan bagi umat Islam 33:12. Karena begitu pentingnya Al-Hadits sebagai juru penjelas dari setiap ajaran Al-Quran, maka Al-Hadits harus dibersihkan dari campur tangan Tarikh Nabi, Israiliyat, Nashraniyat dan dari Juru Cerita yang mencoba menyisipkan itu kedalamnya. Jika Al-Hadits tercemari oleh itu semua, digunakan untuk menjelaskan Al-Quran maka akan terjadi kesalahan yang fatal. Oleh sebab itu Syah Abdul Aziz telah menyimpulkan aturan penilaian Hadits dalam kitabnya yang berjudul Ujalah Nafiah, menyebutkan bahwa Hadits tidak boleh diterima jika keadaannya sebagai berikut : 1. Bertentangan dengan fakta sejarah 2. Diriwayatkan oleh orang yang tidak adil dan tidak dikuatkan oleh kesaksian orang yang tidak memihak. 3. Mewajibkan kepada semua orang untuk mengetahuinya dan mengamalkannya, dan hanya diriwayatkan oleh satu orang. 4. Saat dan kejadian diriwayatkannya Hadits itu membuktikan bahwa Hadits itu dibikin-bikin. 5. Bertentangan dengan akal, atau bertentangan dengan ajaran-ajaran Islam yang terang. 6. Menjelaskan peristiwa yang secara wajar seharusnya diriwayatkan oleh banyak orang, akan tetapi ternyata hanya oleh seorang saja. 8 7. Kalimatnya menjelaskan hal-hal yang tidak idium dengan bahasa Arab, atau tidak pantas dilakukukan oleh Nabi Muhammad saw. 8. Berisi ancaman dan hukuman yang berat untuk perbuatan dosa kecil, dan menjanjikan pahala besar bagi amal yang tak seberapa. 9. Menjanjikan pemberian pahala oleh Nabi atau Rasulullah kepada orang yang berbuat baik. 10. Ada pengakuan langsung dari perowi bahwa dia yang membuat-buat Hadits itu. Aturan penilaian Hadits yang sama juga disampaikan oleh Mullah Ali Qari dalam kitabnya yang berjudul Maudluat, oleh Ibnu Al-Jauzi dalam kitabnya Fathul Mughits, dan oleh Ibnu Hajar dalam kitabnya Nuzatun-Nazar. Selain aturan-aturan tersebut, sebenarnya ada batu uji yang ampuh untuk menetapkan keshahihan Al-Hadits, bahkan batu uji itu pemakaiannya diperintahkan oleh Nabi saw. sendiri. Diriwayatkan bahwa beliau bersabda sebagai berikut : Banyak orang yang meriwayatkan Hadits dari saya; maka ujilah itu dengan Al- Quran; jika suatu Hadits cocok dengan Al-Quran, maka terimalah itu; tetapi jika tidak cocok, maka tolaklah itu. Ada lagi pengakuan dari Beliau : Aku hanyalah manusia biasa, jika aku memerintahkan sesuatu kepada kamu tentang agama, terimalah itu; dan jika aku memerintahkan tentang perkara dunia, aku hanyalah manusia biasa MM. 1:6 – i.

2.3. Ijtihad

Ijtihad adalah sumber syariat islam yang nomor tiga.kata ijtihad berasal dari kata jahd yang artinya berusaha keras atau berusaha sekuat tenaga; kata ijtihad yang secara harfiah mengandung arti yang sama, ini secara teknis diterapkan bagi seorang ahli hukum yang dengan kemampuan akalnya berusaha keras untuk menentukan pendapat dilapangan hukum mengenai hal yang pelik dan meragukan. Ada beberapa metode dalam berijtihad, yaitu: 1. Qias Qias makna aslinya, mengukur atau membandingkan atau menimbang dengan membandingkan sesuatu. Para fukaha menerapkan Qias itu pada proses deduksi, yang dengan ini teks undang-undang itu diterapkan pada suatu perkara, yang walaupun tak dijelaskan oleh bahasa undang-undang itu, tetapi dipengaruhi oleh kesimpulan teks itu. Singkatnya, Qias itu dapat dirumuskan, menarik kesimpulan dengan analogi. 9 2. Istihsan Istihsan yang makna aslinya menganggap baik suatu barang atau menyukai barang itu, itu menurut teknologi pada ahli hukum, berarti menjalankan keputusan pribadi, yang tak didasarkan atas Qias, melainkan didasarkan atas kepentingan umum atau kepentingan keadilan. 3. Istidlal Istidlal makna aslinya menarik kesimpulan suatu barang dari barang lain. Dua sumber utama yang diakui untuk ditarik kesimpulannya ialah adat dan kebiasaan; demikian pula undang-undang agama yang diwahyukan sebelum islam. Diakui bahwa adat dan kebiasaan yang lazim di tanah arab pada waktu datangnya islam yang tak dihapus oleh islam, ini mempunyai kekuasaan hukum. Demikian pula, adat dan kebiasaan yang lazim dimana-mana, jika ini tidak bertentangan dengan jiwa ajaran Qur’an, atau tak terang-terangan dilarang oleh Qur’an, ini juga diperbalehkan; karena, menurut peribahasa para ahli hukum yang sudah terkenal, diizinkannya sesuatu adalah prinsip asli , oleh karena adat itu diakui oleh sebagian besar rakyat, maka adat ini mempunyai kekuatan ijmak dengan demikian, adat mempunyai prioritas di atas tertib hukum yang diambil dari analogi. 4. Ijmak Kata Ijmaa’ di-Indonesiakan menjadi ijmak berasal dari kata Jam”, artinya menghimpun atau mengumpulkan, Ijmak mempunyai dua makna, yaitu, menyusun dan mengatur suatu hal yang tak teratur, oleh sebab itu berarti menetapkan dan memutuskan suatu perkara, dan berarti pula sepakat atau bersatu dalam pendapat. Menurut istilah ulama fikih, Ijmak berarti kesepakatan pendapat diantara mujtahid, atau persetujuan pendapat diantara ulama fikih dari abad tertentu mengenai masalah hukum. Persetujuan pendapat ini disimpulkan dengan tiga cara, pertama, dengan qoul ucapan, yaitu pendapat tentang suatu masalah yang dikeluarkan oleh para mujtahid yang diakui sah. Kedua, dengan fi’il perbuatan, yaitu apabila ada kesepakatan dalam praktek. Ketiga, dengan sukuut diam, yaitu apabila para mujtahid tak membantah suatu pendapat yang dikeluarkan oleh salah satu atau beberapa mujtahid. Pada umumnya ulama berpendapat, bahwa Ijmak berarti kesepakatan pendapat diantaranya para mujtahid saja; jadi orang yang tak alim dalam hukum, tak boleh mengambil bagian dalam Ijmak, tetapi sebagian ulama berpendapat bahwa Ijmak berarti persetujuan pendapat diantara kaum muslimin; hanya anak kecil dan orang gila sajalah yang tak diikutsertakan dalam Ijmak. Ada berbagai pendapat tentang apakah ijmak itu hanya terbatas pada suatu tempat, atau terbatas pada satu atau beberapa generasi. Imam Malik mendasarkan Ijtihad beliau atas kesepakatan pendapat orang-orang madinah. Secara teori, pembatasan semacam itu tak dapat dibenarkan. Jika diingat bahwa orang terpelajar itu tak hanya terbatas di Madinah saja, bahkan di zaman Nabi Muhammad saw, mereka dikirim ke tempat-tempat yang jauh di luar jazirah. Pendapat yang paling dapat diterima ialah bahwa Ijmak Ahlus Sunnah wal Jamaah tak mengikutsertakan kaum Syiah dalam rencana Ijmak 10 bagitu pula sebaliknya. Kaum Syiah berpendapat bahwa hanya keturunan Sayyidina Ali dan Siti Fatimah sajalah yang pantas melakukan ijtihad. Diantara golongan Ahlus Sunnah wal jamaah, ada sebagian yang berpendapat bahwa ijmak itu hanya terbatas bagi para Sahabat nabi, sedang sebagian yang lain berpendapat bahwa ijmak itu meliputi generasi berikutnya, yaitu generasi Tabiin, tetapi pendapat yang paling umum adalah bahwa ijmak itut tidak terbatas pada suatu generasi, atau pada suatu Negara; oleh sebab itu, ijmak yang sebenarnya ialah kesepakatan pendapat diantara sekalian mujtahid dari semua Negara dalam abad apa saja, tetapi ini adalah sesuatu yang hampir-hampir tak mungkin. Ada perbedaan pendapat yang cukup besar tentang apakah hukum ijmak itu dibentuk dengan suara terbanyak diantara para mujtahid, ataukan dengan kesepakatan pendapat dari seluruh mujtahid itu. BAB III 11 HAKEKAT MANUSIA MENURUT ISLAM 3.1. Konsep Manusia dalam Berbagai Perspektif Manusia adalah ciptaaan Allah sebagai makhluk yang sempurna QS. Ath- Thin 95 : 4 dibandingkan dengan makhluk lainnya. Dengan demikian Al-Qur’an memandang manusia sebagai makhluk biologis, psikologis dan social. Manusia sebagai basyar tunduk kepada taqdir Allah, sama dengan makhluk yang lain. Manusia sebagai insan dan An-Nas bertalian dengan hembusan Ilahi atau Roh Allah yang memiliki kebebasan dalam memilih untuk tunduk atau menentang Taqdir Allah. Menurut pandangan Murtadlo Mutahhari manusia adalah makhluk serba dimensi. Dimensi pertama, secara fisik manusia hampir sama dengan hewan, membutuhkan makan, minum, istirahat dan kawin, supaya dia bisa hidup, tumbuh dan berkembang. Dimensi kedua, manusia memiliki sejumlah emosi yang bersifat etis, yaitu ingin memperoleh keuntungan dan menghindari kerugian. Dimensi ketiga, manusia mempunyai perhatian terhadap keindahan. Dimensi keempat, manusia manusia memiliki kemampuan untuk menyembah Tuhan. Dimensi kelima, manusia memiliki kemampuan dan kekuatan yang berlipat ganda, karena dia dikaruniai akal, fikiran dan kehendak bebas, sehingga dia mampu menahan hawa nafsu dan dapat menciptakan keseimbangan dalm hidupnya. Dimensi keenam, manusia mampu mengenal dirinya sendiri. Jika dia sudah mengenal dirinya, maka dia akan mencari dan ingin mengetahui siapa penciptanya, mengapa dia diciptakan, dari apa dia diciptakan, bagaimana proses penciptaannya, dan untuk apa dia diciptakan.

3.2. Eksistensi dan Martabat Manusia

Al-Qur’an menggambarkan manusia sebagai makhluk pilihan Tuhan, sebagai Khalifah-Nya di muka bumi, serta sebagai makhluk yang semi-samawi, yang dalm dirinya ditanamkan sifat mengakui Tuhan, bebas, terpercaya, rasa tanggung jawab terhadap dirinya maupun alam semesta; serta dikaruniai keunggulan atas alam semesta, langit dan bumi. Manusia dipusakai dengan kecenderungan ke arah kebaikan maupun kejahatan. Kemaujudan manusia dimulai dari kelemahan dan ketidak mampuan, yang kemudian bergerak kearah kekuatan, tetapi hal itu tidak menghapuskan kegelisahan, kecuali manusia dekat dengan Tuhan dan mengingat-Nya. Kapasitas manusia tidak terbatas, baik dalm kemampuan belajar maupun dalam menerapkan ilmu. Manusia mempunyai keluhuran dan martabat naluriah. Motivasi dan pendorong manusia, dalam banyak hal tidak bersifat kebendaan. Manusia dapat secara leluasa memanfaatkan rahmat dan karunia yang dilimpahkan kepada dirinya, namun pada saat yang sama, manusia harus menunaikan kewajiban kepada Tuhan. 12

3.3. Tanggung Jawab Manusia sebagai Hamba dan Khalifah Allah

Sebagai makhluk Allah, manusia mendapat amanat yang harus dipertanggung jawabkan dihadapan-Nya. Tugas hidup yang dipikul manusia dimuka bumi adalah tugas kekhalifahan, yaitu tugas kepemimpinan; wakil Allah di muka bumi untuk mengelola dan memelihara alam. Khalifah berarti wakil atau pengganti yang memegang kekuasaan. Manusia menjadi khalifah, berarti manusia memperoleh mandate Tuhan untuk mewujudkan kemakmuran di muka bumi. Kekuasaan yang diberikan kepada manusia bersifat kreatif, yang memungkinkan dirinya mengolah dan mendayagunakan apa yang ada di muka bumi untuk kepentingan hidupnya sesuai dengan ketentuan yang ditetapkan oleh Allah. Agar manusia bisa menjalankan kekhalifahannya dengan baik, Allah telah mengajarkan kepadanya kebenaran dalam segala ciptaan-Nya dan melalui pemahaman serta panguasaan terhadap hukum-hukum yang terkandung dalam ciptaan-Nya, manusia bias menyusun konsep-konsep serta melakukan rekayasa membentuk wujud baru dalam alam kebudayaan. Disamping peran manusia sebagai khalifah Allah di muka bumi yang memiliki kebebasan, dia juga sebagai hamba Allah ‘abdullah. Seorang hamba harus taat dan patuh kepada perintah Allah. Kekuasaan manusia sebagai khalifah Allah dibatasi oleh ketentuan- ketentuan yang telah digariskan oleh yang diwakilinya, yaitu hukum-hukum Tuhan baik yang tertulis dalam kitab suci al-qaul, maupun yang tersirat dalam kandungan pada setiap gejala alam semesta al-kaun. Seorang wakil yang melanggar batas ketentuan yang diwakili adalah wakil yang mengingkari kedudukan dan peranannya serta mengkhianati kepercayaan yang diwakilinya. Oleh karena itu dia diminta pertanggungjawaban terhadap penggunaan kewenangannya dihadapan yang diwakilinya, sebagaimana firman Allah dalam surat father : 39. Makna yang esensial dari kata ‘abdun hamba adalah ketaatan, ketundukan, dan kepatuhan. Ketaatan, ketundukan dan kepatuhan mnusia hanya layak diberikan kepada Allah yang dicerminkan dalam ketaatan, kepatuhan, dan ketundukan pada kebenaran dan keadilan. Dua peran yang dipegang manusia dimuka bumi, sebagai khalifah dan ‘abdun merupakan keterpaduan tugas dan tanggung jawab yang melahirkan dinamika hidup yang sarat dengan kreatifitas dan amaliyah yang selalu berpihak pada nilai-nilau kebenaran. 13 Berdasarkan pemahaman ayat tersebut dapat dipahami, bahwa kwalitas kemanusia sangat tergantung pada kwalitas komunikasinya dengan Allah melalui ibadah dan kwalitas interaksi sasialnya dengan sesame manusia melalui muamalah. Berbicara tentang ibadah dalam Islam kita mengenal istilah ibadah mahdlah, yaitu setiap bentuk ibadah yang sudahditentukan baik syarat maupun rukun dalam menunaikannya, dan ibadah ghairu mahdlah, yaitu setiap perbuatan baik manusia yang senantiasa memperhatikan nilai-nilai kebenaran baik dalam Al- Qur’an maupun Al-Hadits. BAB IV 14 ETIKA, MORAL, DAN AKHLAK 4.1. Pengertian Etika, Moral, dan Akhlak Etika adalah sebuah tatanan perilaku berdasarkan suatu sestem tata nilai suatu msyarakat tertentu. Etika lebih banyak dikaitkan dengan ilmu atau filsafat, karena itu yang menjadi standar baik dan buruk adalah akal manusia. Moral secara lughawi berasal bahasa latin “mores” kata jamak dari kata “mos” yang berarti adapt kebiasaan, susila. Yang dimaksud adat kebiasaan dalam hal ini adalah tindakan manusia yang sesuai dengan ide-ide umum yang diterima oleh masyarakat, mana yang baik, dan wajar. Jadi bias juga dikatakan moral adalah prilaku yang sesuai dengan ukuran-ukuran tindakan yang oleh umum diterima meliputi kesatuan social atau lingkungan tertentu. Sementara kata “akhlak” merupakan bentuk jamak dari kata khuluk secara etimologis artinya adalah budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabi’at. Sedangkan secara terminologis akhlak adalah ilmu yang menentukan batas antara baik dan buruk, antara yang terbaik dan tercela, tentang perkataan atau perbuatan manusia lahir dan batin. Dalam definisi yang agak panjang Ahmad amin menjelaskan bahwa akhlak adalah ilmu yang menjelaskan baik dan buruk, menerangkan apa yang seharusnya dilakukan oleh sebagian manusia kepada yang lainnya. Menyatakan tujuan yang harus dituju manusia dalam perbuatan mereka dan menunjukkan jalan untuk melakukan apa yang seharusnya diperbuat.

4.2. Karakteristik Etika Islam Akhlak

Jika dicermati etika Islam itu mempunyai karakteristik sebagai berikut : a. Mengajarkan dan menuntun manusia kepada tingkah laku yang baik dan menjauhkan diri dari tingkah laku yang buruk. b. Menetapkan bahwa yang menjadi sumber moral, ukuran baik buruknya perbuatan, didasarkan kepada ajaran Allah swt. c. Bersifat universal dan komprehensip, dapat diterima dan dijadikan pedoman oleh seluruh umat manusia di segala waktu dan tempat. d. Mengatur dan mengarahkan fitrah manusia ke jenjang akhlak yang luhur dan meluruskan perbuatan manusia.

4.3. Tingkatan-Tingkatan Akhlak

15 Dalam ajaran Islam tentang tingkatan akhlak dalam kehidupan manusia itu ada tiga macam : a. Akhlak Radzilah b. Akhlak Fadlilah c. Akhlak Karimah

4.4. Hubungan Tasawuf dengan Akhlak

Tasawuf adalah tingkat pendekatan diri manusi kepada Tuhan dengan cara mensucikan hati sesuci-sucinya. Tuhan yang Maha Suci tidak dapat didekati kecuali oleh orang suci hatinya. Adapun cara bagaimana mensucikan hati dijelaskan dalam ilmu tasawuf. Dalam pengamalannya tasawuf tidak bisa terlepas dari fiqih atau syariat, sebab fiqih merupakan aspek dhahir ajaran Islam sementara tasawuf merupakan aspek bathinnya. Islam yang sebenarnya adalah paduan aspek dhahir dan bathin secara seimbang. Orang yang suci hatinya akan tercermin dari air muka dan perilakunya yang baik akhlak karimah. Akhlak yang baik sebenarnya merupakan gambaran dari hati yang suci, sebaliknya perilaku yang buruk adalah merupakan gambaran hati yang kotor dan busuk. Dengan demikian, agar seorang mukmin memiliki akhlak yang baik adalah dengan melaksanakan tasawuf secara sistematis. Yaitu melaksanakan semua kewajiban al-wajibaat, melaksanakan yang sunnah-sunnah an-nafilah dan melaksanakan latihan spiritual al-riyadlah. Inti al-riyadlah dalam Islam adalah ingat akan kebesaran Allah dzikir.

4.5.1. Aktualisasi Akhlak dalam Kehidupan Masyarakat

Kata Islam berarti damai, selamat, sejahtera, penyerahan diri, taat, dan patuh. Pengertian tersebut menunjukkan bahwa agama Islam adalah ajaran yang mengandung nilai-nilai untuk menciptakan kedamaian, keselamatan, dan kesejahteraan kehidupan manusia pada khususnya dan semua makhluk Allah pada umumnya, serta penyerahan diri, mentaati, dan mematuhi ketentuan-ketentuan Allah. Menurut ajaran, Mnusia yang diberikan amanat oleh Allah untuk menjadi khalifah-Nya di bumi, harus dapat menciptakan kemaslahatan bagi sekalian makhluk Allah. Artinya bahwa setiap perbuatan yang dilakukan manusia harus memberikan kebaikan dan tidak boleh merugikan atau menyakiti pihak lain dengan cara menegakkan aturan-aturan Allah. Itulah wujud rahmat dari agama Islam sebagaimana dinyatakan oleh Allah dalam QS. Al-Anbiya’ 21 : 107 Adapun diantara implementasi dari ajaran tersebut bisa di aktualisasikan dalam bentuk-bentuk kerukunan hidup bermasyarakar berbangsa dan bernegara, yang secara garis besar ada dua bentuk penjelasan dalam hal itu, yaitu : 1. Ukhwah Islamiyah dan ukhwah Insaniyah. 16 Kata Ukhwah berarti persaudaraan, maksudnya perasaan simpati dan empati antar dua orang atau lebih. Masing-masing pihak memiliki satu kondisi yang sama, baik suka maupun duka, baik senang maupun sedih. Jalinan perasaan itu menimbulkan sikap timbal balik untuk saling membantu jika pihak lain mengalami kesulitan, dan sikap untuk berbagi kesenangan kapada pihak lain jika salah satu pihak menemukan kesenangan. Ukhwah ini jika berlaku oleh sesame ummat Islam maka disebut Ukhwah Islamiyah, dan berlaku untuk sekalian umat manusia yang tidak membedakan agama, suku, dan aspek-aspek kekhususan lainnya, yang disebut ukhwah insaniyah. Konsep ukhwah insaniyah dilandasi oleh ajaran bahwa manusia adalah makhluk Allah. Meskipun Allah telah memberikan petunjuk kebanaran melalui ajaran Islam, tetapi Allah juga memberikan kebebasan kepada setiap manusia untuk memilih jalan hidup berdasarkan pertimbangan rasionya. 2. Kebersamaan Umat beragama dalam Kehidupan Sosial Umat manusia mempunyai tanggangjawab barsama untuk menciptakan harmoni kehidupan sosial. Masing-msing elemen masyarakat berkewajiban melaksanakan peran sosial sesuai dengan bidang tugas dan kemampuannya. Kontribusi social yang ditekankan oleh Islam adalah kebaikan dan tidak berbuat kerusakan QS. Al-Qashash : 77 Prinsip tolong menolong sesama manusia memberi makna universalisme nilai-nilai kebaikan yang diinginkan oleh setiap manusia. Nilai-nilai itu dalam Al- Qur’an diformulasikan dengan amar ma’ruf nahi munkar.

4.5.2. Etika Kewajiban terhadap Diri Sendiri

Menurut abu Bakar Al-Jaziri, bahwa etika terhadap diri sendiri meliputi : a. Al-Taubah, yaitu melaksanakan upaya insaf terhadap setiap kesalahan dan berusaha mencapai pengampunan b. Al-Muraqabah, yaitu berusaha mendekatkan diri kepada sang Khaliq dengan mentaati perintah dan meninggalkan larangan-Nya. c. Al-Muhasabah, yaitu berusaha intruspeksi dan evaluasi terhadap amaliyah yang sudah dilakukannya. d. Al-Mujahadah, yaitu berusaha dengan sungguh-sungguh melakukan upaya mensucikan ruhani atau jiwa dengan peningkatan intensitas ibadah-ibadah nafilah sunnah disamping ibadah-ibadah maktubah wajib. BAB V 17 HUKUM, HAK ASASI MANUSIA HAM, DAN DEMOKRASI DALAM ISLAM 5.1. Konsep Hukum, HAM dam Demokrasi 5.1.1. Hukum Islam: pengertian, ruang lingkup dan tujuannya Hukum Islam adalah hukum yang ditetapkan oleh Allah melalui wahyu- Nya yang kini terdapat dalam al-Qur’an dan dijelaskan oleh Nabi Muhammad sebagai Rasul-Nya melalui sunnah beliau yang kini terhimpun dengan baik dalam kitab-kitab hadis. Dalam masyarakat Indonesia berkembang berbagai macam istilah, di mana istilah satu dengan lainnya mempunyai persamaan dan sekaligus juga mempunyai perbedaan. Istilah-istilah dimaksud adalah syari’at islam, fikih islam dan hukum islam. Di dalam keputusan hukum islam berbahasa inggeris, syari’at islam diyerjemahkan dangan Islamic Law, sedang fikih islam diterjemahkan dengan Islamic Jurisprudence. Di dalam bahasa Indonesia, untuk syari’at islam sering dipergunakan istilah hukum syari’at atau hukum syara’, untuk fikih islam dipergunakan hukum fikih atau kadang-kadang hukum islam. Dalam praktek seringkali, ke dua istilah itu dirangkum dalam kata hukum islam, tanpa menjelaskan apa yang dimaksud. Hal ini dapat dipahami karena keduanya sangat erat hubungannya, dapat dibedakan tapi tidak dapat dipisahkan. Kedua syari’at merupakan landasan fikih, dan fikih merupak pemahaman orang yang memenuhi syarat tentang syari’at. Oleh karena itu seseorang yang akan memahami hukum islam dengan baik dan benar harus dapat membedakan antara syari’at islam dengan fikih islam. Hukum islam baik dalam pengertian syari’at maupun fikih dibagikan ke dalam dua bagian besar, yakni bidang ibadah dan bidang mu’alamah. Mohammad Daud Ali, 1999: 49. Hukum islam itu sangat luas, bahkan luasnya hukum islam tersebut masih dapat dikembangkan lagi sesuai dengan aspek-aspek yang berkembang dalam masyarakat yang belum dirumuskan oleh para fukaha para yuris islam di masa lampauseperti hukum bedah mayat, hukum bayi tabung, keluarga berencana, hukum bungan bank, eutanasia dan lain sebagainya. Adapun tujuan hukum islam secara umum adalah untuk mencegah kerusakan pada manusia dan mendatangkan kemasalahan bagi mereka; mengarahkan mereka kepada kebenaran untuk mencapai kebahagian hidup manusia di dunia ini dan di akhirat kelak, dengan jalan mengambil segala manfaat dan mencegah dan menolak yang madlarat yakni yang tidak berguna bagi hidup dan kehidupan manusia, Abu Ishaq al-Shatibi merumuskan lima tujuan hukum islam, yakni memelihara 1 Agama, 2 Jiwa, 3 Akal, 4 keturunan, dan 5 harta yang disebut “maqashid al-khamsah. Kelima tujuan ini kemudian disepakati oleh ahli para ahli hukum islam. 18 Jika diperhatikan dengan sungguh-sungguh hukum Islam ditetapkan oleh Allah adalah untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia itu sendiri, baik keperluan hidup yang bersifat primer, sekunder maupun tertier. Oleh karena itu apabila seorang muslim mengikuti ketentuan-ketentuan yang ditetapkan oleh Allah, maka ia akan selamat baik dalam hidupnya di dunia maupun diakhirat kelak.

5.1.2. Hak asasi Manusia menurut Islam

Manusia sebagai makhluk Tuhan Yang Maha Esa secara kodrati dianugrahi hak dasar yang disebut hak asasi, tanpa perbedaan antara satu dengan lainnya. Dengan hak asasi tersebut manusia dapat mengembangkan diri pribadi, peranan dan sumbangannya bagi kesejahteraan hidup manusia. Hak Asasi Manusia HAM sebagai suatu hak dasar yang melekat pada diri setiap manusia. Ada perbedaan prinsip antara HAM dilihat dari sudut pandangan Barat dan Islam. HAM menurut pandangan barat semata-mata bersifat antroposentris, artinya segala sesuatu berpusat kepada manusia. Dengan demikian manusia sangat dipentingkan. Sebaliknya HAM ditilik dari sudut pandangan Islam bersifat teosentris, artinya segala sesuatu berpusat pada Tuhan. Dengan demikian Tuhan sangat dipentingkan. Dalam hal ini A.K. Brohi menyatakan : “Berbeda dengan hak-hak asasi dan kemerdekaan dasar manusia sebagai sebuah aspek kualitas dari kesadaran keagamaan yang terpatri di dalam hati, pikiran, dan jiwa penganut- penganutnya. Perspektif Islam sungguh-sungguh bersifat teosentris”. Pemikiran Barat menempatkan manusia pada posisi bahwa manusialah yang menjadi tolok ukur segala sesuatu, maka didalam Islam melalui Firman-Nya Allahlah yang menjadi tolok ukur segala sesuatu, sedangkan manusia adalah ciptaan Allah untuk mengabdi kepada-Nya. Disini letak perbedaan yang fundamental antara HAM menurut pola pemikiran Barat dengan HAM menurut pola ajaran Islam. Makna teosentris menurut umat Islam adalah manusia pertama- tama harus meyakini ajaran pokok Islam yang dirumuskan dalam dua kalimat syahadat yakni pengakuan bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Utusan-Nya. Barulah setelah itu umat Islam melakukan perbuatan-perbuatan yang baik, menurut isi keyakinannya itu. Dari uraian tersebut, sepintas lalu nampak bahwa seakan-akan dalam Islam manusia tidak mempunyai hak asasi. Dalam konsep Islam seseorang hanya mempunyai kewajiban-kewajiban atau tugas-tugas kepada Allah karena ia harus mematuhi hukum-hukum-Nya. Namun secara paradoks, didalam tugas-tugas inilah terletak semua hak dan kemerdekaannya. Menurut ajaran Islam, manusia mengakui hak-hak dari manusia yang lain, karena hal ini merupakan sebuah kewajiban yang ditintukan oleh hukum agama untuk mematuhi Allah. Oleh karena itu, HAM dalam Islam tidak semata-mata menekankan kepada hak asasi manusia saja, akan tetapi hak-hak itu dilandasi kewajiban asasi manusia untuk mengabdi kepada Allah sebagai penciptanya. 19 Kewajiban yang diperintahkan kepada ummat manusia dapat dibagi ke dalam dua kategori, yaitu haqqullah dan haqqul ‘ibad. Haqqullah hak Allah adalah keawajiban-kewajiban manusia terhadap Allah swt yang diwujudkan dalam berbagai ritual ibadah, sedangkan haqqul ‘ibad hak-hak manusia merupakan kewajiban-kewajiban manusia terhadap sesamanya dan terhadap makhluk- makhluk Allah lainnya. Hak-hak Allah tidak berarti bahwa hak-hak yang diminta oleh Allah karena bermanfaat bagi Allah, akan tetapi hak-hak Allah itu bersesuaian dengan hak-hak makhluk-Nya.

5.1.3. Demokrasi dalam Islam

Kedaulatan mutlak dan keesaam Tuhan yang terkandung dalam konsep tauhid dan peranan manusia yang terkandung dalam konsep khilafah memberikan kerangka yang dengannya para cendikiawan belakangan ini mengembangkan teori politik yang dianggap demokratis. Di dalamnya tercakup definisi khusus dan pengakuan terhadap kedaulatan rakyat, tekanan pada kesamaan derajat manusia, dan kewajiban rakyat sebagai pengemban pemerintah. Penjelasan mengenai demokrasi dalam kerangka konseptual Islam, banyak memberikan perhatian pada beberapa aspek khusus dari ranah sosial dan politik. Demokrasi Islam dianggapsebagai system yang mengukuhkan konsep-konsep Islami yang sudah lama berakar, yaitu musyawarah syura., persetujuan ijma’, dan penilaian interpretative yang mandiri ijtihad. Seperti banyak konsep dalam tradisi politik Barat, istilah-istilah ini tidak selalu dikaitkan dengan pranata demokrasi dan mempunyai banyak konteks dalam wacana muslim dewasa ini. Namun, lepas dari konteks dan pemakaian lainnya, istilah-istilah ini sangat penting dalam perdebatan menyangkut demokratisasi di kalangan masyarakat muslim. Perlunya musyawarah merupakan konsekwensi politik kekhalifahan manusia. Masalah musyawarah ini dengan jelas juga disebutkan dalam QS. 42 : 28, yang isinya berupa perintah kepada para pemimpin dalan kedudukan apapun untuk menyelesaikan urusan mereka yang dipimpinnya dengan cara musyawarah. Dengan demikian, tidak akan terjadi kewenangan-kewenangan dari seorang pemimpin terhadap rakyat yang dipimpinnya jika tidak didasari atas konsep-konsep tersebut. Oleh karena itu “Perwakilan Rakyat” dalam sebuah Negara Islam tercermin terutama dalam doktrin musyawarah syura. Dalam bidang politik, umat Islam mendelegasikan kekuasaan mereka kepada penguasa dan pendapat mereka harus diperhatikan dalam menangani masalah Negara. Di samping musyawarah ada hal lain yang sangat penting dalam maslah demokrasi, yakni konsensus atau ijma’. Konsensus memainkan peranan yang menentukan dalah perkembangan hukum Islam dan memberikan sumbangan sangat besar pada korpus hukum atau tafsir hukum. Namun hamper sepanjang sejarah Islam, konsensus sebagai salah satu sumber hukum Islam cenderung dibatasi pada consensus para cendikiawan, sedangkan konsensus rakyat 20 kebanyakan mempunyai makna yang kurang begitu penting dalam kehidupan umat Islam. Namun dalam pemikiran muslim modern, potensi flesibilitas yang terkandung dalam konsep konsensus akhirnya mendapat saluran yang lebih besar untuk mengembangkan hukum Islam untuk mengembangkan hukum Islam dan menyesuaikannya dengan kondisi yang terus berubah. Dalam pengertian yang lebih luas, consensus dan musyawarah sering dipandang sebagai landasan yang efektif bagi demokrasi Islam modern. Konsep konsensus memberikan dasar bagi penerimaan system yang mengakui suara mayoritas. Disamping konsep syura dan ijma’ ada satu konsep lagi yang tidak kalah pentingnya, yaitu Ijtihad. Bagi para pemikir muslim, upaya ini merupakan langkah kunci menuju penerapan perintah Tuhan di suatu tempat dan waktu. Musyawarah, konsensus, dan ijtihad merupakan konsep-konsep yang sangat penting bagi artikulasi demokrasi Islam dalam kerangka Keesaan Tuhan dan kewajiban-kewajiban manusia sebagai khalifah-Nya. Meskipun istilah-istilah ini banyak diperdebatkan maknanya, namun lepas dari ramainya perdebatan maknanya di dunia Islam, istilah-istilah ini memberikan landasan yang efektif untuk memahami antara Islam dan demokrasi di dunia kontemporer.

5.2. Kontribusi Umat Islam dalam Perumusan dan Penegakan Hukum

Kontribusi umat Islam khususnya di Indonesia dalam perumusan dan penegakan hukum pada akhir-akhir ini semakin nampak jelas dengan diundangkannya beberapa peraturan perundang-undangan yang berkaitan dengan hukum Islam, seperti misalnya UURI. No. 1 tahun 1974 tentang Perkawinan; PP. No. 28 Tahun 1977 tentang Perwakafan tanah milik; UURI. No. 7 tahun1989 tentang Peradilan Agama; INPRES. No. 1 tahun 1991 tetang Kompilasi Hukum Islam; UURI. No. 38 tahun 1999 tentang Pengelolaan Zakat; UURI. No. 17 tahun 1999 tantang penyelenggaraan Ibadah Hajji; dan masih banyak lagi yang lainnya. Adapun upaya yang harus dilakukan untuk menegakkan hukum Islam dalam praktik bermasyarakat dan bernegara memang harus melalui proses, yakni proses cultural dan dakwah. Apabila Islam sudah memasyarakat, maka sebagai konsekwensinya hukum harus ditegakkan. Di dalam Negara yang mayoritas penduduknya beragama Islam, kebebasan mengeluarkan pendapat atau kebebasan berfikir harus di kembangkan. Kebebasan mengeluarkan pendapat ini diperlukan untuk mengembangkan pemikiran hukum Islam yang betul-betul teruji, baik dari segi pemahaman maupun dalam segi pengembangnnya. Dalam ajara Islam ditetapkan bahwa umat Islam mempunyai kewajiban untuk mentaati hukum yang ditetapkan Allah. Masalahnya kemudian. Bagaimanakah sesuatu yang wajib menurut hukum Islam menjadi wajib pula menurut perundang-undangan. Hal ini jelas diperlukan proses, perjuangan, dan waktu untuk merealisasikannya. 21

BAB VI MASYARAKAT MADANI DAN KESEJAHTERAAN UMMAT