PENGARUH PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE THINK PAIR SHARE (TPS) TERHADAP PENINGKATAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA PADA MATERI POKOK SISTEM PEREDARAN DARAH (Studi Eksperimen pada Siswa Kelas XI Semester Ganjil SMA Negeri 1 Natar Kab. Lampu

PENGARUH PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF
TIPE Think Pair Share (TPS) TERHADAP PENINGKATAN
KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA PADA
MATERI POKOK SISTEM PEREDARAN
DARAH
(Studi Eksperimen Pada Siswa Kelas XI IPA Semester
Ganjil SMA Negeri 1 Natar Kab. Lampung Selatan
Tahun Pelajaran 2012/2013)

Oleh
SEPTIAN NURRACHMAN

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
BANDAR LAMPUNG
2013

SEPTIAN NURRACHMAN

ABSTRAK

PENGARUH PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF
TIPE THINK PAIR SHARE (TPS) TERHADAP PENINGKATAN
KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA PADA MATERI
POKOK SISTEM PEREDARAN DARAH
(Studi Eksperimen pada Siswa Kelas XI IPA Semester Ganjil
SMA Negeri 1 Natar Kab. Lampung Selatan
Tahun Pelajaran 2012/2013)

Oleh
SEPTIAN NURRACHMAN

Hasil observasi proses pembelajaran biologi selama ini yang disampaikan kurang
menarik siswa untuk berpikir karena hanya disuguhi materi tanpa melibatkan
proses penemuan yang meraka lakukan sendiri, sehingga siswa kurang
mengaitkan fakta yang terjadi dilapangan dengan konsep-konsep sains.
Sehubungan dengan itu dilakukan penelitian dengan menggunakan model
pembelajaran Think Pair Share (TPS) pada proses pembelajaran dalam upaya
meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis (KBK) siswa.Tujuan penelitian ini
untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran TPS terhadap peningkatan
Kemampuan Berpikir Kritis (KBK) dan aktivitas belajar siswa pada materi pokok
Sistem Peredaran Darah pada kelas XI IPA SMA Negeri 1 Natar Kab. Lampung
Selatan.

ii

SEPTIAN NURRACHMAN

Desain penelitian ini adalah pretes-postes kelompok non equivalen. Sampel pada
penelitian ini adalah siswa kelas XI IPA2 dan XI IPA4 yang dipilih secara acak
dengan teknik purposive sampling. Data kuantitatif berupa data kemampuan
berpikir kritis siswa pada materi pokok sistem peredaran darah yang diperoleh
dari rata-rata nilai pretes dan postes yang dianalisis secara statistik menggunakan
uji u dengan bantuan program SPSS 11. Data kualitatif berupa data aktivitas
belajar siswa selama proses pembelajaran yang dianalisis secara deskriptif.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan model pembelajaran TPS dapat
meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis (KBK) siswa, ini terlihat pada kelas
eksperimen rata-rata nilai N-gain sebesar 47,8 dan rata-rata nilai N-gain kelas
kontrol sebesar 21,5. Peningkatan tertinggi yaitu pada indikator melakukan
deduksi dan indikator terendah yaitu pada aspek memberikan argumen. Selain itu,
rata-rata aktivitas siswa juga menunjukkan peningkatan sebesar 71,8. Aktivitas
tersebut meliputi aktivitas bekerja sama dengan teman, mengungkapkan ide atau
gagasan, dan mempresentasikan hasil diskusi. Skor tertinggi terdapat pada aspek
aktivitas mempresentasikan hasil diskusi dan skor terendah terdapat pada aspek
mengungkapkan pendapat. Berdasarkan hasil penelitian disimpulkan bahwa
penggunaan model pembelajaran TPS meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis
(KBK) siswa kelas XI IPA SMA Negeri 1 Natar Kab. Lampung Selatan materi
pokok Sistem Peredaran Darah.

Kata kunci: TPS, Kemampuan Berpikir Kritis (KBK), Sistem Peredaran Darah.

iii

PENGARUH PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF
TIPE THINK PAIR SHARE (TPS) TERHADAP PENINGKATAN
KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA PADA MATERI
POKOK SISTEM PEREDARAN DARAH
(Studi Eksperimen pada Siswa Kelas XI IPA Semester Ganjil
SMA Negeri 1 Natar Kab. Lampung Selatan
Tahun Pelajaran 2012/2013)

Oleh
SEPTIAN NURRACHMAN

Skripsi
Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Mencapai Gelar
SARJANA PENDIDIKAN

pada
Program Studi Pendidikan Biologi
Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
BANDARLAMPUNG
2013

Judul Skripsi

: PENGARUH PENGGUNAAN MODEL
PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE
THINK PAIR SHARE (TPS) TERHADAP
PENINGKATAN KEMAMPUAN BERPIKIR
KRITIS SISWA PADA MATERI POKOK
SISTEM PEREDARAN DARAH
(Studi Eksperimen pada Siswa Kelas XI
Semester Ganjil SMA Negeri 1 Natar Kab.
Lampung Selatan Tahun Pelajaran 2012/2013)

Nama Mahasiswa

: Septian Nurrachman

Nomor Pokok Mahasiswa

: 0743024047

Program Studi

: Pendidikan Biologi

Jurusan

: Pendidikan MIPA

Fakultas

: Keguruan dan Ilmu Pendidikan

MENYETUJUI
1. Komisi Pembimbing

Dr. Tri Jalmo, M.Si.
NIP 196109101986031005

Rini Rita T. Marpaung, S.Pd.,M.Pd.
NIP 197707152008012020

2. Ketua Jurusan Pendidikan MIPA

Dr. Caswita, M.Si.
NIP 196710041993031004

MENGESAHKAN
1. Tim Penguji
Ketua

: Dr. Tri Jalmo, M.Si.

………………..

Sekretaris

: Rini Rita T. Marpaung, S.Pd., M.Pd.

………….........

Penguji
Bukan Pembimbing : Drs. Darlen Sikumbang, M. Biomed

2. Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan

Dr. Hi. Bujang Rahman, M.Si.
NIP. 196003151985031003

Tanggal Lulus Ujian Skripsi : 3 Mei 2013

……………….

PERNYATAAN SKRIPSI MAHASISWA

Yang bertanda tangan di bawah ini:
Nama

: Septian Nurrachman

NPM

: 0743024047

Program Studi : Pendidikan Biologi
Jurusan

: P. MIPA

Dengan ini menyatakan bahwa dalam skripsi ini tidak terdapat karya yang telah
diajukan memperoleh gelar kesarjanaan di suatu perguruan tinggi dan
sepengetahuan saya juga tidak terdapat karya atau pendapat yang pernah ditulis
atau diterbitkan oleh orang lain, kecuali yang secara tertulis diacu dalam naskah
ini dan disebut dalam daftar pustaka.

Bandar Lampung, Februari 2013
Menyatakan

Septian Nurrachman
NPM. 0743024047

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Kotabumi pada tanggal 3 September
1989, yang merupakan anak pertama dari dua bersaudara
pasangan Bapak Haryanto dan Ibu Eti Yuliani.

Pendidikan formal yang ditempuh penulis adalah Sekolah
TK Tunas Harapan Kotabumi diselesaikan tahun 1996,
Sekolah Dasar (SD) Negeri 6 Kelapa Tujuh Kotabumi diselesaikan tahun 2002,
Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP) Negeri 7 Kotabumi diselesaikan tahun
2004, Sekolah Menengah Atas (SMA) Negeri 3 Kotabumi diselesaikan tahun
2007. Pada tahun 2007 penulis terdaftar sebagai mahasiswa Jurusan Pendidikan
MIPA Program Studi Pendidikan Biologi, Fakultas Keguruan dan Ilmu
Pendidikan, Universitas Lampung melalui jalur Non-Reguler.
Pada tahun 2011 penulis melaksanakan Program Pengalaman Lapangan (PPL) di
SMA YP Unila Bandar Lampung dan pada tahun 2012 penulis melakukan
penelitian di SMA Negeri 1 Natar Kab. Lampung Selatan untuk meraih gelar
Sarjana Pendidikan (S.Pd.).

PERSEMBAHAN

Aku bersyukur kepadamu ya Allah atas izin Mu lah
kebahagiaan ini dapat kuraih.
Aku persembahkan kebahagiaan ini
kepada:


Ayahandaku Haryanto dan Ibundaku Eti Yuliani yang telah mendidik dan
membesarkanku dengan segala do’a terbaik mereka, kesabaran dan
limpahan kasih sayang.



Adikku Mayvena Lizora dan Achmad Dwi Wijaya yang amat sangat
kucintai, terima kasih atas kasih sayang dan doa tulus untuk
keberhasilanku.



Semua teman-temanku satu angkatan Biologi Non Reg 07 yang selalu
menyemangatiku.



Almamater tercinta Universitas Lampung.

MOTTO
”Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum (kecuali) bila
mereka sendiri mengubah keadaannya...”
(Q.S. Ar-Ra’d, 13:11)

"Seorang pemenang tidak pernah menyerah, dan orang yang menyerah tidak
pernah menang."
(Septian Nurrachman)

SANWACANA

Puji syukur pada Allah SWT, atas segala nikmat dan kehendak-Nya sehingga
skripsi ini dapat diselesaikan sebagai salah satu syarat dalam meraih gelar Sarjana
Pendidikan pada Program Studi Pendidikan Biologi Jurusan Pendidikan MIPA,
FKIP Unila. Skripsi ini berjudul “Pengaruh Penggunaan Model Pembelajaran
Kooperatif Tipe Think Pair Share (TPS) Terhadap Peningkatan Kemampuan
Berpikir Kritis Siswa Pada Materi Pokok Sistem Peredaran Darah” (Studi
Eksperimen pada Siswa Kelas XI IPA Semester Ganjil SMA Negeri 1 Natar Kab.
Lampung Selatan Tahun Pelajaran 2012/2013).

Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan skripsi ini tidak terlepas dari peranan
dan bantuan berbagai pihak. Untuk itu penulis mengucapkan terima kasih kepada:
1. Dr. Hi. Bujang Rahman, M.Si., selaku Dekan FKIP Universitas Lampung;
2. Dr. Caswita, M.Si., selaku Ketua Jurusan PMIPA FKIP Universitas Lampung;
3. Pramudiyanti, S.Si., M.Si., selaku Ketua Program Studi Pendidikan Biologi;
4. Dr. Tri Jalmo, M.Si., selaku Pembimbing I atas kesabaran, bimbingan, dan
masukannya kepada penulis;
5. Rini Rita T. Marpaung, S.Pd, M.Pd., selaku Pembimbing II dan Pembimbing
Akademik atas bimbingan, motivasi, dan kasih sayangnya;
6. Drs. Darlen Sikumbang, M. Biomed., selaku pembahas atas saran-saran
perbaikan, dan dukungan semangatnya;

xi

7. Dra. Hj. Hastutiningsih, selaku guru mitra yang telah banyak memberikan
bantuan dan arahan selama penelitian;
8. Ayahku tercinta Haryanto dan Ibuku tercinta Eti Yuliani terima kasih untuk
perhatian, doa dan kasih sayang yang tak terhingga selama ini. Adikku
tersayang Mayvena Lizora dan Achmad Dwi Wijaya serta seluruh keluarga
yang sangat kucintai, terima kasih atas dukungan moril, materil, dan semangat
yang diberikan bagi penulis;
9. Sahabat-sahabatku Lamudin, Fery Ardianto, I Gede Suliwan, S.Pd, Ana
Septiana, S.Pd, Ulpayani, Eli Suryani, Nuris Mukhton, Antun Sutarya, S.Pd ,
Adhitian, S.Pd, Aria Seprinda, S.Pd, Wening Sudrajad, S.Pd, Ahmad Fauzi,
S.Pd, dan I Komang Suthawijaya, S.Pd terimakasih atas bantuan dan
dukungan yang selama ini kalian berikan kepada penulis;
10. Sahabat-sahabatku yang lain di Biologi Nr ’07, kakak serta adik tingkat 08,
09,10. dan 2011 pendidikan biologi, terima kasih motivasi dan kebersamaan
selama ini;
11. Almamater tercintaku, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas
Lampung;

Bandar Lampung, Februari 2013
Penulis

Septian Nurrachman

xii

I.

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Istilah pendidikan mengandung fungsi yang luas dari pemelihara dan
perbaikan kehidupan suatu masyarakat, terutama membawa warga masyarakat
yang baru mengenal tanggung jawab bersama di dalam masyarakat. Jadi
pendidikan adalah suatu proses yang lebih luas daripada proses yang
berlangsung di dalam sekolah saja. Pendidikan adalah suatu aktivitas sosial
yang memungkinkan masyarakat tetap ada dan berkembang. Di dalam
masyarakat yang kompleks, fungsi pendidikan ini mengalami spesialisasi dan
melembaga dengan pendidikan formal yang senantiasa tetap berhubungan
dengan proses pendidikan informal di luar sekolah (Brameld, 1992:2).

Biologi termasuk dalam rumpun Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Biologi
memiliki peran penting dalam peningkatan mutu pendidikan, khususnya di
dalam menghasilkan peserta didik yang berkualitas, yaitu manusia yang
mampu berpikir kritis, kreatif, logis, dan berinisiatif dalam menanggapi isu di
masyarakat yang diakibatkan oleh dampak perkembangan Ilmu Pengetahuan
Alam (BSNP, 2006:4).

Biologi adalah bidang ilmu yang menarik dan penting untuk dipelajari.
Dengan mempelajari Biologi kita tidak saja memperoleh pengetahuan tentang

2

makhluk hidup, namun juga pengetahuan tentang metode memperoleh ilmu
pengetahuan tersebut. Pengetahuan tentang makhluk hidup dimanfaatkan
untuk memecahkan berbagai masalah guna meningkatkan kesejahteraan hidup
manusia (Aryulina Diah, Dkk. 2004:6).

Melihat pentingnya biologi dan peranannya tersebut, maka salah satu upaya
meningkatan mutu pembelajaran adalah dengan menggembangkan kecakapan
hidup (life skill) melalui proses pendidikan salah satunya yaitu keterampilan
berpikir. Berpikir adalah salah satu kecakapan hidup yang harus dimiliki oleh
setiap manusia, sehingga siswa yang memiliki kecakapan hidup (life skill)
berani menghadapi problema kehidupan dan mampu memecahkannya (Tim
BBE, 2002:2).

Salah satu kemampuan berpikir yang termasuk ke dalam kemampuan berpikir
tingkat tinggi adalah kemampuan berpikir kritis. Kemampuan berpikir kritis
merupakan kemampuan yang diperlukan oleh setiap orang untuk menyikapi
setiap permasalahan dalam semua aspek kehidupan. Dengan berpikir kritis,
seseorang dapat mengatur, menyesuaikan, mengubah, atau memperbaiki
pikirannya dalam mengambil suatu keputusan yang tepat (Ennis, 1985).
Berpikir kritis merupakan suatu kemampuan yang dapat dimiliki manusia
melalui proses latihan dan pembelajaran. Hal ini sejalan dengan pendapat
Filsaisme (2008) yang menyatakan bahwa berpikir kritis, bisa diperkirakan,
dan bisa diajarkan.

Penerapan proses belajar mengajar di Indonesia kurang mendorong pada
pencapaian kemampuan berpikir kritis (Sanjaya, 2009:1). Karena proses di

3

dalam kelas diarahkan kepada kemampuan siswa untuk menghafal informasi.
Padahal keterampilan berpikir kritis merupakan salah satu modal dasar atau
modal intelektual yang sangat penting bagi setiap orang dan merupakan
bagian fundamental dan kematangan manusia. Oleh karena itu, pengembangan
keterampilan berpikir kritis menjadi sangat penting bagi siswa di setiap
jenjang pendidikan. Dua faktor penyebab tidak berkembangnya kemampuan
berpikir kritis selama ini adalah kurikulum yang umumnya dirancang dengan
target materi yang luas sehingga pengajaran lebih terfokus pada penyelesaian
materi dan kurangnya pemahaman pengajar tentang metode pembelajaran
yang dapat meningkatkan kemampuan berpikir kritis (Sudaryanto, 2008:1).

Salah satu wahana untuk melatih kemampuan berpikir kritis adalah melalui
pembelajaran sains yang melibatkan keterampilan proses dan proses berpikir
melalui metode ilmiah. Namun, pada kenyataannya dewasa ini pembelajaran
sains yang diharapkan untuk melatih kemampuan berpikir kritis siswa masih
didominasi oleh penggunaan metode ceramah dan kegiatan yang berpusat
pada guru. Hal ini disebabkan pembelajaran yang disampaikan kurang
menarik siswa untuk berpikir karena hanya disuguhi materi tanpa melibatkan
proses penemuan yang meraka lakukan sendiri, sehingga siswa kurang
mengaitkan fakta yang terjadi dilapangan dengan konsep-konsep sains.
Alasan lain rendahnya kemampuan siswa dalam belajar adalah kurang
tepatnya metode yang digunakan guru dalam mengajar (Oleyede, 2004:2).
Metode merupakan salah satu strategi atau cara yang digunakan oleh guru
dalam proses belajar mengajar yang bertujuan hendak dicapai. Semakin tepat

4

metode yang digunakan oleh seorang guru maka pembelajaran semakin baik.
(Ulih Bukit Karo-Karo, 1985:7).

Hasil observasi di SMA Negeri 1 Natar Kab. Lampung Selatan didapatkan
bahwa hasil belajar masih rendah dan guru masih kurang mengembangkan
keterampilan berpikir kritis siswa. Hal tersebut dapat terjadi karena rendahnya
kompetensi guru terhadap materi yang dibelajarkan, kurang tepatnya metode
pembelajaran, pembelajaran masih berpusat pada guru, siswa kurang berperan
aktif dalam proses pembelajaran untuk membangun dan menemukan sendiri
pengetahuannya, sehingga siswa hanya menghafal fakta-fakta dari buku. Dan
rendahnya keterampilan berpikir kritis siswa yang dapat terlihat dari kualitas
pertanyaan dan jawaban siswa. Siswa juga kurang mampu menggunakan daya
nalar dalam menanggapi informasi yang diterimanya. Hal ini mengakibatkan
nilai rata-rata ujian harian kelas XI IPA SMA Negeri 1 Natar Kab. Lampung
Selatan untuk materi pokok sistem peredaran darah belum memenuhi standar
KKM (Kriteria Ketuntasan Minimum) yakni 68 berbeda yang ditentukan oleh
sekolah yaitu ≥ 72.
Dari permasalahan yang dijelaskan di atas, maka di butuhkan tindakan yang
mampu menjadi jalan keluarnya. Salah satu solusinya adalah penggunaan
metode yang tepat, yaitu metode yang mampu membuat seluruh siswa terlibat
dalam suasana pembelajaran. Metode mengajar merupakan salah satu cara
yang dipergunakan guru dalam membelajarkan siswa. Oleh karena itu,
peranan metode mengajar sebagai alat untuk menciptakan proses belajar
mengajar (Suryasubroto, 1997:47).

5

Salah satu alternatif yang dapat dilakukan oleh seorang guru guna menjawab
dari permasalahan-permasalahan pembelajaran tersebut untuk lebih
mengaktifkan pembelajaran di kelas adalah dengan menerapkan pembelajaran
kooperatif dengan model pembelajaran Think-Pair-Share (TPS). Model
pembelajaran Think-Pair-Share (TPS) adalah salah satu tipe model
pembelajaran kooperatif yang pada pelaksanaannya mengutamakan siswa
dalam berbuat untuk menemukan sendiri konsep-konsep materi dalam
pembelajaran dengan jalan berpikir (Think), berpasangan (Pair), dan
mengemukakan pendapat (Share) (Ibrahim dkk, 2000:26).

Model pembelajaran kooperatif tipe think-pair-share ini dapat merangsang
siswa untuk berpikir secara mandiri, berpasangan dan secara kelompok
dengan bimbingan dari guru mata pelajaran. Oleh karena itu cara tersebut
sangat tepat dalam mendorong siswa untuk menganalisis dan mengevaluasi
suatu informasi data atau argumen, sehingga keterampilan berpikir kritisnya
akan meningkat. Dan diharapkan juga siswa dapat menjadi lebih aktif dalam
pembelajaran sehingga dapat membangkitkan aktivitas, semangat belajar, dan
keterampilan berpikir kritis siswa.

B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka rumusan masalah dalam
penelitian ini adalah:
1. Apakah penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe TPS dapat
meningkatkan secara signifikan kemampuan berpikir kritis siswa pada

6

materi pokok sistem peredaran darah kelas XI IPA SMA Negeri 1 Natar
Kab. Lampung Selatan tahun pelajaran 2012/2013?
2. Apakah penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe TPS dapat
meningkatkan aktivitas siswa pada materi pokok sistem peredaran darah
kelas XI IPA SMA Negeri 1 Natar Kab. Lampung Selatan tahun pelajaran
2012/2013?

C. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan:
1. Mengetahui peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa dengan
penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TPS pada materi pokok
sistem peredaran darah kelas XI IPA SMA Negeri 1 Natar Kab. Lampung
Selatan tahun pelajaran 2012/2013.
2. Mengetahui peningkatan aktivitas siswa dengan penerapan model
pembelajaran kooperatif tipe TPS pada materi pokok sistem peredaran
darah kelas XI IPA SMA Negeri 1 Natar Kab. Lampung Selatan tahun
pelajaran 2012/2013.

D. Kegunaan Penelitian
Dengan dilakukannya penelitian ini diharapkan dapat berguna bagi:
1.

Siswa yaitu untuk menciptakan suasana baru yang dapat meningkatkan
kemampuan berpikir kritis siswa.

2.

Guru yaitu sebagai sumbangan pemikiran dan alternatif pembelajaran
dalam usaha untuk meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa.

7

3.

Peneliti yaitu untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman sebagai
calon guru tentang penggunaan model pembelajaran khususnya model
pembelajaran kooperatif tipe TPS dalam meningkatkan kemampuan
berpikir kritis siswa.

4.

Sekolah yaitu memberikan sumbangan pemikiran untuk meningkatkan
pembelajaran biologi disekolah melalui pemilihan model pembelajaran
biologi yang tepat dan sesuai.

E. Ruang lingkup Penelitian
Ruang lingkup penelitian ini adalah:
1.

Pembelajaran kooperatif (cooperative learning) adalah pembelajaran
yang secara sadar dan sistematis menggabungkan interaksi antar sesama
siswa sebagai latihan hidup di masyarakat nyata.

2.

Model pembelajaran kooperatif tipe TPS merupakan suatu strategi diskusi
kooperatif dengan cara memproses informasi dengan mengembangkan
cara berpikir dan komunikasi. Siswa diberi kesempatan untuk berpikir
(Thinking) atas informasi yang diberikan guru, berpasangan (Pairing)
dengan teman sebangku untuk berdiskusi, dan berbagi (Sharing) dengan
seluruh kelas atas hasil diskusinya.

3.

Kemampuan keterampilan berpikir kritis yang diamati dalam penelitian
ini adalah (1) memberikan penjelasan sederhana, (2) membangun
keterampilan dasar, (3) membuat kesimpulan, (4) membuat penjelasan
lebih lanjut, dan (5) membuat strategi dan taktik

8

4.

Pengukuran kemampuan berpikir kritis diperoleh dari hasil rata-rata
pretes dan postes pada materi pokok sistem peredaran darah.

5.

Siswa yang menjadi subjek penelitian ini adalah siswa kelas XI IPA2 dan
XI IPA4 semester ganjil di SMA Negeri 1 Natar Kab. Lampung Selatan
tahun pelajaran 2012/2013.

6.

Materi pelajaran dalam penelitian ini adalah Sistem peredaran darah
dengan kompetensi dasar menjelaskan keterkaitan antara struktur, fungsi,
dan proses serta kelainan / penyakit yang dapat terjadi pada sistem
peredaran darah (KD 3.2).

F. Kerangka Pikir
Biologi memiliki peran penting dalam peningkatan mutu pendidikan,
khususnya di dalam menghasilkan peserta didik yang berkualitas. Salah
satunya yaitu manusia yang mampu berpikir kritis. Kemampuan berpikir kritis
merupakan sesuatu yang perlu dilatih secara bertahap. Kemampuan dalam
berpikir kritis memberikan arahan yang tepat dalam berpikir dan bekerja, dan
membantu dalam menentukan keterkaitan sesuatu dengan yang lainnya
dengan lebih akurat. Oleh sebab itu kemampuan berpikir kritis sangat
dibutuhkan dalam pemecahan masalah / pencarian solusi, dan pengelolaan
proyek.

Pengembangan kemampuan berpikir kritis merupakan integrasi beberapa
bagian pengembangan kemampuan, seperti pengamatan (observasi), analisis,
penalaran, penilaian, pengambilan keputusan, dan persuasi. Semakin baik
pengembangan kemampuan-kemampuan ini, maka kita akan semakin dapat

9

mengatasi masalah-masalah/proyek komplek dan dengan hasil yang
memuaskan. Kemampuan berpikir kritis itu sendiri memiliki lima jenis
kemampuan yaitu seperti kemampuan memberikan penjelasan sederhana,
membangun keterampilan dasar, membuat kesimpulan, membuat penjelasan
lebih lanjut, dan membuat strategi dan taktik.
Dilihat dari kemampuan berpikir kritis di atas, guru mempunyai peran
tanggung jawab yang besar dalam meningkatkan keterampilan berpikir kritis
siswa. Keterampilan ini muncul tidak secara maksimal apabila tidak diberikan
suatu permasalahan atau rangsangan terlebih dahulu. Pada proses
pembelajaran guru perlu memberikan masalah-masalah yang dapat
merangsang siswa agar menjadi lebih aktif, sehingga siswa dapat mengatasi
persoalan yang diberikan oleh guru. Untuk mencapai tujuan tersebut maka
aktifitas belajar memegang peranan penting. Sehingga dapat memperlancar
proses pembelajaran dan pembelajaran yang optimal dapat tercapai.

Oleh karena itu, guru harus menggunakan model pembelajaran yang dapat
memberikan kondisi yang tepat dan sesuai dalam proses pembelajaran.
Kemudian cara yang tepat untuk menciptakan kondisi yang sesuai sehingga
dapat mengembangkan keterampilan berpikir kritis siswa adalah yaitu dengan
menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe Think-Pair-Share (TPS).
Metode pembelajaran kooperatif tipeThink-Pair-Share (TPS) merupakan salah
satu strategi dalam pembelajaran kooperatif yang dapat memberikan waktu
kepada siswa untuk berpikir sehingga strategi ini punya potensi kuat untuk
memberdayakan kemampuan berpikir siswa. Peningkatan kemampuan

10

berpikir siswa akan meningkatkan hasil belajar atau prestasi belajar siswa dan
kecakapan akademiknya.

Siswa dilatih bernalar dan dapat berpikir kritis untuk memecahkan masalah
yang diberikan oleh guru. Guru juga memberikan kesempatan siswa untuk
menjawab dengan asumsi pemikirannya sendiri, kemudian berpasangan untuk
mendiskusikan hasil jawabannya kepada teman sekelas untuk dapat
didiskusikan dan dicari pemecahannya bersama-sama sehingga terbentuk
suatu konsep.

Proses kegiatan pembelajaran dengan menggunakan model kooperatif tipe
TPS ini diharapkan dapat mengembangkan pemikiran siswa secara individu
karena adanya berpikir, sehingga kualitas juga dapat meningkat. Selain itu,
dalam kegiatan pembelajaran menjadi lebih menarik dan menyenangkan
karena banyak siswa yang antusias saat proses belajar berlangsung.

Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah variabel X dan variabel
Y. Variabel X adalah variabel bebas yaitu model pembelajaran kooperatif tipe
TPS dan variabel Y adalah variabel terikat yaitu kemampuan berpikir kritis
siswa.
Hubungan antara variabel tersebut digambarkan dalam diagram dibawah ini:

X

Y

Keterangan : X = Model pembelajaran kooperatif tipe TPS.
Y = Kemampuan berpikir kritis siswa.
Gambar 1. Hubungan antara variabel bebas dan variabel

11

G. Hipotesis Penelitian
1.

Ho: Tidak ada pengaruh yang signifikan pengaruh penggunaan model
pembelajaran kooperatif tipe TPS terhadap peningkatan
kemampuan berpikir kritis siswa pada materi pokok sistem
peredaran darah kelas XI IPA SMA Negeri 1 Natar Kab. Lampung
Selatan tahun pelajaran 2012/2013.

H1:

Ada pengaruh yang signifikan pengaruh penggunaan model
pembelajaran kooperatif tipe TPS terhadap peningkatan
kemampuan berpikir kritis siswa pada materi pokok sistem
peredaran darah kelas XI IPA SMA Negeri 1 Natar Kab. Lampung
Selatan tahun pelajaran 2012/2013.

2.

Penggunaan model pembelajaran kooperatif tipe TPS dapat
meningkatkan aktivitas siswa pada materi pokok sistem peredaran
darah.

12

II.

TINJAUAN PUSTAKA

A. Pembelajaran Kooperatif Tipe Think-Pair-Share (TPS)

Model pembelajaran Think-Pair-Share (TPS) merupakan salah satu model
pembelajaran kooperatif. Model pembelajaran ini berbasis pembelajaran
diskusi kelas. Metode ini memperkenalkan ide “waktu berpikir atau waktu
tunggu” yang menjadi faktor kuat dalam meningkatkan kemampuan siswa
dalam merespon pertanyaan. Pembelajaran kooperatif model Think-Pair-Share
ini relatif lebih sederhana karena tidak menyita waktu lama untuk mengatur
tempat duduk ataupun mengelompokkan siswa. Pembelajaran ini melatih
siswa untuk berani berpendapat dan menghargai pendapat teman. (Sa’dijah,
2006:12)

Think Pair Share (TPS) dikembangkan oleh Frank Lyman dan rekan-rekannya
dari Universitas Maryland. Think Pair Share (TPS) memiliki prosedur yang
secara ekplisit dapat memberi siswa waktu lebih banyak untuk berpikir,
menjawab, saling membantu satu sama lain (Ibrahim dalam Estiti, 2007:10).
Melalui cara seperti ini diharapkan siswa mampu bekerja sama, saling
membutuhkan dan saling bergantung pada kelompok-kelompok kecil secara
kooperatif.

13

Think Pair Share (TPS) merupakan suatu teknik sederhana dengan
keuntungan besar. Think Pair Share (TPS) dapat meningkatkan kemampuan
siswa dalam mengingat suatu informasi dan seorang siswa juga dapat belajar
dari siswa lain serta saling menyampaikan idenya untuk didiskusikan sebelum
disampaikan di depan kelas. Selain itu, Think Pair Share (TPS) juga dapat
memperbaiki rasa percaya diri dan semua siswa diberi kesempatan untuk
berpartisipasi dalam kelas. Think Pair Share (TPS) sebagai salah satu metode
pembelajaran kooperatif yang terdiri dari 3 tahapan, yaitu thinking, pairing,
dan sharing. Guru tidak lagi sebagai satu-satunya sumber pembelajaran
(teacher oriented), tetapi justru siswa dituntut untuk dapat menemukan dan
memahami konsep-konsep baru (student oriented).

Model pembelajaran Think-Pair-Share diharapkan siswa dapat
mengembangkan keterampilan berpikir dan menjawab dalam komunikasi
antara satu dengan yang lain, serta bekerja saling membantu dalam kelompok
kecil. Hal ini sesuai dengan pengertian dari model pembelajaran Think-PairShare itu sendiri, sebagaimana yang dikemukakan oleh Lie (2002:57) bahwa,
“Think-Pair-Share adalah pembelajaran yang memberi siswa kesempatan
untuk bekerja sendiri dan bekerjasama dengan orang lain. Dalam hal ini, guru
sangat berperan penting untuk membimbing siswa melakukan diskusi,
sehingga terciptanya suasana belajar yang lebih hidup, aktif, kreatif, efektif
dan menyenangkan. Dengan demikian jelas bahwa melalui model
pembelajaran Think-Pair-Share, siswa secara langsung dapat memecahkan
masalah, memahami suatu materi secara berkelompok dan saling membantu

14

antara satu dengan yang lainnya, membuat kesimpulan (diskusi) serta
mempresentasikan di depan kelas sebagai salah satu langkah evaluasi terhadap
kegiatan pembelajaran yang telah dilakukan.

Menurut Muslimin (2001: 26) langkah-langkah Think-Pair-Share ada tiga
yaitu : Berpikir (Thinking), berpasangan (Pair), dan berbagi (Share):
1.

Thinking (berpikir)
Guru mengajukan pertanyaan yang berhubungan dengan topik
pelajaran. Kemudian siswa diminta untuk memikirkan pertanyaan
tersebut secara untuk beberapa saat.Dalam tahap ini siswa dituntut lebih
mandiri dalam mengolah informasi yang dia dapat.

2.

Pairing (berpasangan)
Pada tahap ini guru meminta siswa duduk berpasangan dengan siswa
lain untuk mendiskusikan apa yang telah difikirkannya pada tahap
pertama. Interaksi pada tahap ini diharapkan dapat membagi jawaban
dengan pasangannya.Biasanya guru memberikan waktu 4-5 menit untuk
berpasangan.

3.

Sharing (berbagi)
Pada tahap akhir guru meminta kepada pasangan untuk berbagi jawaban
dengan seluruh kelas tentang apa yang telah mereka diskusikan. Ini
efektif dilakukan dengan cara bergiliran pasangan demi pasangan dan
dilanjutkan sampai sekitar seperempat pasangan telah mendapat
kesempatan untuk melaporkan.

15

Tahapan pelaksanaan TPS tersebut efektif dalam membatasi aktifitas siswa
yang tidak relevan dengan pembelajaran, kemudian siswa dapat memunculkan
kemampuan dan keterampilan siswa yang positif karena mereka belajar dari
satu sama lain. Mampu menjunjung akuntabilitas individu karena mereka
saling berbagi ide dalam kelompok maupun antar kelompok atau seluruh
kelas, lalu mempunyai kesempatan yang sama untuk berpartisipasi dan
seyogyanya tidak ada siswa yang mendominasi. Dan pada akhirnya TPS akan
mengembangkan kemampuan siswa untuk berpikir secara terstruktur dalam
diskusi mereka dan memberikan kesempatan untuk bekerja sendiri ataupun
dengan orang lain melalui keterampilan berkomunikasi.

B. Kemampuan Berpikir Kritis
Berpikir merupakan kegiatan penggabungan antara persepsi dan unsur –
unsur yang ada dalam pikiran untuk menghasilkan pengetahuan. Berpikir
dapat terjadi pada seseorang bila pada dirinya mendapatkan rangsangan dari
luar dan melalui berpikir inilah seseorang mengatasi masalah yang
dihadapinya.

Dalam Arifin (2000), keterampilan berpikir dikelompokkan menjadi dua
golongan besar yaitu : keterampilan dasar dan keterampilan berpikir tingkat
tinggi. Menurut Costa dalam Arifin (2000), yang termasuk keterampilan
berpikir dasar meliputi : kualifikasi, klasifikasi, hubungan variabel,
transformasi, dan hubungna sebab akibat. Sementara itu, ketrampilan berpikir
tingkat tinggi meliputi pemecahan masalah, pengambilan keputusan, berpikir

16

kritis dan berpikir kreatif. Keterampilan berpikir kritis termasuk salah satu
keterampilan berpikir tingkat tinggi.

Keterampilan berpikir kritis secara esensial merupakan keterampilan
menyelesaikan masalah (Problem Solving) (Costa, 1985). Sedangkan menurut
Scriven dan Paul (1992) mendefinisikan berpikir kritis sebagai suatu proses
intelektual dalam pembuatan konsep, mengaplikasikan, menganalisis,
mensitesis, dan mengevaluasi berbagai informasi yang didapat dari hasil
observasi, pengalaman, refleksi, dimana hasil dari proses ini digunakan
sebagai dasar untuk mengambil tindakan.

Halpen (dalam Arief Achmad, 2007) menyebutkan bahwa berpikir kritis
adalah memberdayakan keterampilan atau strategi kognitif dalam menentukan
tujuan. Proses tersebut dilalui setelah menentukan tujuan,
mempertimbangkan, dan mengacu langsung kepada sasaran-merupakan
bentuk berpikir yang perlu dikembangkan dalam rangka memecahkan
masalah, merumuskan kesimpulan, mengumpulkan berbagai kemungkinan,
dan membuat keputusan ketika menggunakan semua keterampilan tersebut
secara efektif dalam konteks dan tipe yang tepat. Berpikir kritis juga
merupakan kegiatan mengevaluasi-mempertimbangkan kesimpulan yang
akan diambil manakala menentukan beberapa faktor pendukung untuk
membuat keputusan.

Dengan demikian, berpikir kritis adalah sebuah kemampuan berpikir dalam
menilai sebuah informasi sebelum ia menjadi pikiran dan tersimpan menjadi
memori. Seorang pemikir kritis diharapkan mampu untuk menyimpulkan

17

informasi yang diketahuinya setelah sebelumnya ia mengurai informasi
tersebut berupa peristiwa, berita, dan pikiran yang semula utuh, lalu menjadi
satuan-satuan kecil, kategori-kategori, kelompok-kelompok, serta memahami
detil dari satuan, kategori, atau kelompok tersebut. Mengetahui cara
memanfaatkan informasi untuk memecahkan masalah, dan mencari sumbersumber informasi yang relevan untuk dirinya.

Menurut Ennis (dalam Costa, 1988: 54-57), indikator kemampuan berpikir
kritis dibagi menjadi 5 kelompok yaitu:
1.

Kemampuan memberikan penjelasan sederhana, meliputi:
a. Memfokuskan pertanyaan
b. Menganalisis pertanyaan
c. Bertanya dan menjawab pertanyaan tentang suatu penjelasan atau
tantangan

2.

Kemampuan membangun keterampilan dasar, meliputi:
a. Mempertimbangkan kriteria dan keabsahan informasi
b. Mengamati dan mempertimbangkan suatu laporan hasil observasi

3.

Kemampuan membuat kesimpulan, meliputi:
a. Mendeduksi dan mempertimbangkan hasil deduksi
b. Menginduksi dan mempertimbangkan hasil induksi
c. Membuat dan menentukan nilai pertimbangkan

4.

Kemampuan memberi penjelasan lebih lanjut, meliputi:
a. Mendefinisikan istilah dan definisi pertimbangan dalam tiga dimensi
b. Mengidentifikasi asumsi

5.

Kemampuan mengatur strategi dan taktik, meliputi:
a. Menentukan tindakan
b. Berinteraksi dengan orang lain

18

III. METODE PENELITIAN

A. Waktu dan Tempat
Penelitian ini telah dilaksanakan di SMA Negeri 1 Natar Kab. Lampung
Selatan pada bulan November 2012.

B. Populasi dan Sampel
Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XI IPA semester
ganjil SMA Negeri 1 Natar Kab. Lampung Selatan 2012/2013. Sampel dalam
penelitin ini adalah siswa kelas XI IPA2 yang berjumlah 38 siswa sebagai
kelas eksperimen dan siswa kelas XI IPA4 sebagai kelas kontrol yang
berjumlah 40 siswa. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik purposive
sampling.

C. Desain Penelitian
Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah desain pretes-postes
kelompok ekuivalen. Kelompok eksperimen maupun kontrol menggunakan
kelas yang ada dengan kondisi yang homogen. Kelas eksperimen diberi
perlakuan dengan model pembelajaran TPS, sedangkan kelas kontrol
menggunakan metode diskusi kelompok.

19

Struktur desainnya sebagai berikut:
I
II

O1

X
O1

O2
C

O2

Keterangan: I= kelas eksperimen;
II= kelas kontrol;
O1= pretest;
O2 = post test;
X = perlakuan model Think Pair Share;
C= metode diskusi;
(dimodifikasi dari Riyanto, 2001:43)
Gambar 2. Desain pretes postes kelompok non ekuivalen

D. Prosedur Penelitian
Penelitian ini terdiri atas dua tahap, yaitu prapenelitian dan pelaksanaan
penelitian. Adapun langkah-langkah dari tahap tersebut yaitu sebagai berikut:
1. Prapenelitian
Kegiatan yang dilakukan pada prapenelitian adalah sebagai berikut :
a. Menetapkan waktu penelitian;
b. Mengurus surat penelitian pendahuluan (observasi) ke fakultas untuk
sekolah;
c. Mengadakan observasi ke sekolah tempat diadakannya penelitian, untuk
mendapatkan informasi tentang keadaan kelas yang akan diteliti;
d. Menetapkan sampel penelitian untuk kelas eksperimen dan kelas
kontrol;
e. Membuat perangkat pembelajaran yang terdiri dari silabus, Rencana
Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dan Lembar Kerja Siswa (LKS);

20

f. Membuat instrumen evaluasi yaitu soal pretes/postes untuk setiap
pertemuan untuk mengukur kemampuan berpikir kritis siswa;
2. Pelaksanaan Penelitian
Mengadakan kegiatan pembelajaran dengan model TPS untuk kelas
eksperimen dan dengan metode diskusi biasa untuk kelas kontrol.
Penelitian ini dirancang sebanyak dua kali pertemuan. Pretes diberikan
sebelum pembelajaran dan postes diberikan setelah pembelajaran.
Langkah-langkah pembelajaran kelas eksperimen sebagai berikut:
a.

Pendahuluan
1. Siswa menerima lembar soal pretes untuk mengukur kemampuan
berpikir kritis awal (pertemuan I).
2. Siswa mendengarkan informasi mengenai tujuan pembelajaran
yang disampaikan guru.
3. Siswa diberi apersepsi
Pertemuan pertama: Menyajikan gambar sel darah merah “Jika
dilihat dengan mata telanjang darah kita berwarna merah. Apakah
darah hanya tersusun oleh komponen-komponen yang berwarna
merah?”
Pertemuan kedua: Menyajikan gambar pembuluh vena dan arteri
“dari gambar tersebut, apakah kalian tahu fungsi dari masingmasing gambar dan perbedaannya?”
4. Siswa diberi motivasi

21

Pertemuan pertama: “Di dalam tubuh kita terdapat berbagai macam
sel darah diantaranya sel darah merah dan sel darah putih. Dari
kedua sel darah tersebut memiliki peran yang sangat penting bagi
tubuh kita. Untuk itu siswa harus mengetahui peranan dari masingmasing sel darah tersebut”.
Pertemuan kedua: “Sering kali terjadi gangguan pada sistem
peredaran darah. Dari ke semua gangguan tersebut memiliki
penyebab yang berbeda-beda, untuk itu siswa harus mengetahui
apa penyebab dari setiap gannguan yang terjadi agar dapat
menghindarinnya”.
b.

Kegiatan Inti
1.

Siswa mendengarkan penjelasan tahapan pembelajaran dengan
menggunakan model TPS yang disampaikan oleh guru.

2.

Siswa mendengarkan penjelasan materi yang disampaikan secara
singkat oleh guru.

3.

Siswa menerima LKS kemudian diberi waktu berpikir (thinking)
selama 2 menit untuk setiap pertanyaan LKS.

4.

Siswa berpasangan (pairing) untuk saling mengutarakan hasil
pemikirannya, jawaban, atau gagasan atas pertanyaan yang ada
dalam LKS selama 5 menit untuk tiap pertanyaan.

5.

Siswa mengemukakan (sharing) hasil diskusinya di depan kelas.

6.

Siswa yang lain menanggapi hasil diskusi.

7.

Guru memberikan respon terhadap jawaban siswa dengan
menambahkan materi yang belum diungkapkan siswa.

22

8.

Guru mengecek pemahaman siswa terhadap materi yang telah
disampaikan.

c.

Penutup
1.

Siswa dibimbing oleh guru untuk menyimpulkan materi yang
telah dipelajari.

2.

Siswa mengerjakan postes (pertemuan II).

Langkah-langkah pembelajaran kelas kontrol sebagai berikut:
a. Pendahuluan
1. Siswa menerima lembar soal pretes untuk mengukur kemampuan
awal (pertemuan I).
2. Siswa diberi penjelasan mengenai tujuan pembelajaran.
3. Siswa diberi apersepsi
Pertemuan pertama: Menyajikan gambar sel darah merah. “Jika
dilihat dengan mata telanjang darah kita berwarna merah. Apakah
darah hanya tersusun oleh komponen-komponen yang berwarna
merah?”
Pertemuan kedua: Menyajikan gambar pembuluh vena dan arteri
“Dari gambar tersebut, apakah kalian tahu fungsi dari masingmasing gambar dan perbedaannya?”
4. Siswa diberi motivasi

23

Pertemuan pertama: “Di dalam tubuh kita terdapat berbagai macam
sel darah diantaranya sel darah merah dan sel darah putih. Dari
kedua sel darah tersebut memiliki peran yang sangat penting bagi
tubuh kita. Untuk itu kita harus mengetahui peranan dari masingmasing sel darah tersebut”.
Pertemuan kedua: “sering kali terjadi gangguan pada sistem
peredaran darah. Dari kesemua gangguan tersebut memiliki
penyebab yang berbeda-beda, untuk itu kita harus mengetahui apa
penyebab dari setiap gannguan yang terjadi agar kita dapat
menghindarinnya ”.
5. Siswa menerima informasi dari guru bahwa pada pembelajaran ini
akan dilakukan dengan metode diskusi kemudian akan
dipresentasikan di depan kelas.
b) Kegiatan Inti
1. Siswa mendengarkan penjelasan materi secara singkat yang
disampaikan oleh guru.
2. Siswa dibagi menjadi 6 kelompok.
3. Setiap kelompok menerima LKS yang diberikan oleh guru dan
menjawab pertanyaan yang ada pada LKS.
4. Siswa mempresentasikan hasil kerja kelompoknya.
5. Guru memberikan penguatan dengan menjelaskan materi yang
belum dipahami siswa.
6. Siswa mengumpulkan hasil diskusi kelompoknya.
c) Penutup

24

1. Siswa dibimbing oleh guru untuk menyimpulkan materi yang telah
dipelajari.
2. Siswa menjawab soal postes (pertemuan II).

E. Jenis Data dan Teknik Pengambilan Data
1. Jenis Data
Jenis dan teknik pengambilan data pada penelitian ini adalah:
a. Data Kuantitatif
Data kuantitatif yaitu berupa data kemampuan berpikir kritis siswa pada
materi pokok sistem peredaran darah yang diperoleh dari nilai pretes
dan postes.
b. Data Kualitatif
Data kualitatif berupa data aktivitas siswa selama proses pembelajaran.
2. Teknik Pengambilan Data
Teknik pengumpulan data pada penelitian ini adalah sebagai berikut:
a.

Pretes dan Postes
Data berupa nilai pretes yang diambil pada pertemuan awal dan nilai
postes pada pertemuan terakhir. Nilai pretes diambil sebelum
pembelajaran, sedangkan nilai postes diambil setelah pembelajaran
baik pada kelas eksperimen maupun kelas kontrol. Bentuk soal yang

25

diberikan berupa soal essay yang mengandung indikator kemampuan
berpikir kritis. Indikator berpikir kritis yang diamati yaitu: 1) memberi
penjelasan dasar, 2) membangun keterampilan dasar, 3) membuat
kesimpulan, 4) memberi penjelasan lanjut, 5) membuat strategi dan
taktik. Masing-masing indikator berpikir kritis memiliki skor yang
tertera pada rubrik p
enilaian soal Pretes dan Postes.
Teknik penskoran nilai pretes dan postes yaitu :
= � �100

Keterangan :

S = Nilai yang diharapkan (dicari);
R = jumlah skor dari item atau soal yang dijawab benar;
N = jumlah skor maksimum dari tes tersebut; (Purwanto,
2008:112).

26

Tabel 1.Kemampuan Berpikir Kritis Siswa

No
.

Nama

Aspek Kecakapan Berpikir Kritis
memberikan membang
membuat
memberi
penjelasan
un
kesimpula penjelasan
sederhana
keterampil
n
lanjut
an dasar
Skor per
Skor per
Skor per
Skor per
soal
soal
soal
soal

membuat
strategi dan
taktik
Skor per
soal

1
2
3
4
5
Dst
No. Soal
Jumlah
Poin (P)
Kriteria
Catatan : Isilah skor yang diperoleh pada kolom yang disediakan.
(dimodifikasi dari Arief, 2009:9).

b.

Lembar observasi aktivitas siswa
Berisi kegiatan yang diamati pada saat proses pembelajaran. Setiap
siswa diamati poin kegiatan yang dilakukan dengan cara memberi
tanda (√ ) pada lembar observasi sesuai dengan aspek yang telah
ditentukan.

27

Tabel 2. Lembar Observasi Aktivitas Siswa

No

Nama

Aspek yang diamati
A

B

C

Xi



1 2 3 1 2 3 1 2 3
1
2
3
4
5
6
\dst
Jumlah (n)

Catatan : Berilah tanda checklist (√) pada setiap item yang sesuai.
Keterangan : � = Persentase aktivitas siswa;

∑Xi= Jumlah skor yang diperoleh;
n= Jumlah skor maksimum; (dimodifikasi dari Belina,
2008:133)

Keterangan Kriteria penilaian aktivitas siswa:
A. Mengungkapkan ide atau gagasan
1. Tidak mengungkapkan ide atau gagasan.
2. Mengungkapkan ide atau gagasan namun tidak sesuai dengan permasalahan.
3. Mengungkapkan ide atau gagasan sesuai dengan permasalahan.

28

B. Bekerjasama dengan teman
1. Tidak bekerjasama dengan teman (diam saja).
2. Bekerjasama tetapi tidak sesuai dengan permasalahan.
3. Bekerjasama baik dengan teman.

C. Mempresentasikan kegiatan kelompok
1. Siswa dalam kelompok kurang dapat mempresentasikan hasil diskusi
kelompok dan tidak menjawab pertanyaan.
2. Siswa dalam kelompok kurang dapat mempresentasikan hasil diskusi
kelompok, tetapi menjawab pertanyaan dengan benar.
3. Siswa dalam kelompok dapat mempresentasikan hasil diskusi kelompok dan
menjawab pertanyaan dengan benar.
Rubrik variabel, sub variabel, indikator, jenis data dan alat ukur data secara rinci
dapat dilihat pada tabel 1 di bawah ini:

Tabel 3. Hubungan antara variabel, instrumen, jenis data, dan analisis Data.
No

Variabel

Instrumen

Jenis data dan
Alat ukur

Analisis
Data

1

kemampuan
berpikir kritis

Tes

Nominal dan tes
tertulis

Uji t

Interval

Persentase

kemampuan
berpikir kritis
2

Aktivitas
siswa selama
proses
pembelajaran

siswa
Lembar observasi
aktivitas siswa

29

F. Teknik Analisis Data
1. Kemampuan berpikir kritis
Data kemampuan berpikir kritis siswa diperoleh dari rata-rata skor pretes
postes. Untuk memperoleh skor tiap indikator kemampuan berpikir kritis
dicari dengan menggunakan rumus sebagai berikut:

P=

f  100
N

Keterangan :`P = Poin yang dicari;
F = Jumlah poin kemampuan berpikir kritis yang diperoleh;
N = Jumlah total poin kemampuan berpikir kritis tiap
indikator.

Setelah data diolah dan diperoleh poinnya, maka kemampuan
berpikir kritis siswa tersebut dapat dilihat dari kriteria sebagai berikut :
Tabel 4.Kriteria kemampuan berpikir kritis siswa
Interval

Kriteria

80,1-100

Sangat tinggi

60,1-80

Tinggi

40,1-60

Sedang

20,1-40

Rendah

0,0-20

Sangat rendah

(dimodifikasi dari Arikunto, 2010:245)

30

Kemudian dihitung selisih antara nilai pretest dan postest dengan
menggunakan rumus N-gain lalu dianalisis secara statistik.
Untuk mendapatkan skor N-gain menggunakan formula Hake (modifikasi
dalam Loranz, 2008:3) sebagai berikut:

N  Gain 

X Y
X 100
Z Y

Keterangan : X = Nilai rata-rata postes
Y = Nilai rata-rata pretes
Z = Skor maksimum

Selanjutnya, maka N-gain berpikir kritis siswa dapat dilihat dari kriteria
sebagai berikut:
Tabel 5. Kriteria N-gain yang diperoleh dari siswa.
Nilai rata-rata Ngain (g)

Kriteria

g>70

Tinggi

30 x2tab sehingga Ho ditolak (Pratisto, 2004:71)

3) Pengujian Hipotesis
Untuk menguji hipotesis digunakan uji kesamaan dua rata-rata dan uji
perbedaan dua rata-rata dengan menggunakan program SPSS 17.
a. Uji Kesamaan Dua Rata-rata
1. Hipotesis
Ho = Rata-rata N-gain kedua sampel sama

32

H1 = Rata-rata N-gain kedua sampel tidak sama
2. Kriteria Uji
- Jika –ttabel< thitung< ttabel, maka Ho diterima
- Jika thitung< -ttabel atau thitung>ttabel maka Ho ditolak (Pratisto,
2004:13)
b. Uji Perbedan Dua Rata-rata
1. Hipotesis
Ho= rata-rata N-gain pada kelompok eksperimen sama dengan
kelompok kontrol.
H1 = rata-rata N-gain pada kelompok eksperimen lebih tinggi
dari kelompok kontrol.
2. Kriteria Uji
- Jika –ttabel < thitung < ttabel, maka Ho diterima
- Jika thitung< -t tabel atau thitung> t tabel, maka Ho ditolak
(Pratisto, 2004:10).

c. Uji hipotesis dengan uji U
1. Hipotesis
H0 = Rata-rata N-gain kedua sampel sama
H1 = Rata-rata N-gain kedua sampel tidak sama
2. Kriteria Uji
- Jika –Ztabel < Zhitung < Ztabel atau p-value > 0,05, maka Ho
diterima

33

- Jika Zhitung < -Ztabel atau Zhitung > Ztabel atau p-value < 0,05, maka
Ho ditolak (Martono, 2010:158).

G. Pengolahan Data Aktivitas Siswa
Data aktivitas siswa selama proses pembelajaran berlangsung merupakan data
yang diambil melalui observasi. Data tersebut dianalisis dengan menggunakan
indeks aktivitas siswa.
Langkah–langkah yang dilakukan untuk yaitu:
Menghitung rata–rata skor aktivitas dengan menggunakan rumus:
X =

∑Xi
n

x 100%

Keterangan: X = Rata-rata skor aktivitas siswa;
∑xi = Jumlah skor yang diperoleh;
n

= Jumlah skor maksimun; (dimodifikasi dari Sudjana,
2002:67).

Setelah data diolah dan diperoleh poinnya, maka kemampuan berpikir kritis
siswa tersebut dapat dilihat dari kriteria sebagai berikut :
Tabel 6. Kriteria Persentase Aktivitas Siswa

Persentase
Kriteria
87,50-100
Sangat baik
75,00-87,49
Baik
50,00-74,99
Cukup
0-49,99
Kurang
(dimodifikasi dari Hidayati, dkk, 2011:17)

43

V.

SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka dapat disimpulkan
bahwa:
1.

Penggunaan model pembelajaran Think Pair Share (TPS) berpengaruh
signifikan terhadap peningkatan kemampuan berpikir kritis siswa kelas
XI IPA SMA Negeri 1 Natar Kab. Lampung Selatan pada materi pokok
Sistem Peredaran Darah.

2.

Penggunaan model pembelajaran Think Pair Share (TPS) berpengaruh
dalam meningkatkan aktivitas belajar siswa kelas XI IPA SMA Negeri 1
Natar Kab. Lampung Selatan pada materi pokok Sistem Peredaran Darah.

B. Saran
Berdasarkan hasil penelitian dan simpulan, penulis menyampaikan saran
sebagai berikut:
1. Model pembelajaran kooperatif tipe TPS erat berhubungan dengan waktu
untuk setiap tahapan pembelajaran. Maka dari itu guru hendaknya
memperhatikan alokasi waktu, karakteristik bahan ajar, dan pengelolaan

44

kelas yang baik pada saat akan menggunakan model pembelajaran
kooperatip tipe TPS.
2. Bagi peneliti diharapkan mempunyai pengetahuan dan kemampuan yang
cukup untuk memilih metode atau teknik pembelajaran yang tepat dan
sesuai dengan materi yang akan diajarkan sehingga diharapkan dapat
meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa.
3. Dalam proses pembelajaran dengan model pembelajaran kooperatif tipe
TPS, dimana terdapat banyak kelompok dibutuhkan pengawasan dan
observer yang lebih banyak untuk dapat menilai aktivitas belajar siswa.

DAFTAR PUSTAKA

Anwar. 2006. Pendidikan Kecakapan Hidup. Bandung: Alfabeta.
Arends, R.I. 2004. Learning to Teach. Sixth Edition. New York: Mcgraw Hill.
Arifin , M. 2000. Strategi Belajar Mengajar Kimia. Bandung: Jurusan Pendidikan
Kimia UPI.
Arief Achmad , 2007, Memahami Berpikir Kritis, diambil dari http://researchengines.com/1007arief3.html; 13 April 2010; 20:23 wib.
Arikunto, S. 2010. Dasar-Dasar Evaluasi pendidikan.Jakarta: Bumi Aksara.
Ariyanti, M. 2012.Pengaruh Penggunaan Bahan Ajar Leaflet Dengan Model
Pembelajaran Kooperatif Tipe TPS ( Think Pair Share) Terhadap
Penguasaan Konsep Siswa Pada Materi Pokok Sistem Pernapasan.
FKIP Universitas Lampung. Bandar Lampung.
Aryulina, D, Muslim, C. Manaf, S & Widiwinarsih, E. 2004.Biologi SMA dan MA
untuk kelas X. Surabaya: Erlangga.
Belina, W.W. 2008. Peningkatan Kecakapan Berpikir Rasional Siswa Dalam
Pembelajaran Fisika di SMP Pada Pokok Bahasan Pemantulan Cahaya
Melalui Model Pembelajaran PBI (Penelitian eksperimen pada siswa
kelas VIII di salah satu SMP Swasta di kota Bandung). (Skripsi) Jurusan
Pendidikan Fisika UPI Bandung. Tidak diterbitkan.
Brameld. T. 1992. Dasar Konsep Pendidikan Moral. Alfabeta
BSNP. 2006. Petunjuk Teknis Pengembangan Silabus dan Contoh/Model Silabus
SMA/MA. Departemen Pendidikan Nasional. Jakarta.
Bukit Karo-Karo. Ulih. 1985. Suatu Pengantar Metodologi Pengajaran. Salatiga :
CV. Saudara.
Costa, A. L. (ed). 1988. Developing Minds: A Resource Book For Teaching
Thinking. Virginia: ASCD.

46

Crawford, M.L. 2001. Teaching Contextually: Research, Rationale, and
Techniques for Improving Student Motivation and Achievement in
Mathematics and Science. Texas: CCI Publishing, Inc.p.18.
Ennis, R.H & Weir, E. 1985. The Ennis-Weir Critical Thinking Essay Test. Test
Manual,

Dokumen yang terkait

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE THINK PAIR SHARE (TPS) TERHADAP PENINGKATAN KECAKAPAN BERPIKIR RASIONAL SISWA PADA MATERI POKOK EKOSISTEM (Studi Eksperimen pada Siswa Kelas X Semester Genap SMA Gajah Mada Bandar Lampung Tahun Pelajaran 2011/20

0 7 54

PENGGUNAAN MEDIA KARTU BERGAMBAR MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE THINK PAIR SHARE (TPS) TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF SISWA PADA MATERI POKOK KEANEKARAGAMAN HAYATI (Kuasi Eksperimen pada Siswa Kelas X SMA Negeri 1 Kotagajah Semester Genap

0 6 57

PENGARUH PENGGUNAAN MULTIMEDIA INTERAKTIF MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE THINK PAIR SHARE (TPS) TERHADAP KETERAMPILAN BERPIKIR KRITIS SISWA PADA MATERI POKOK SISTEM PENCERNAAN (Kuasi Eksperimental pada Siswa Kelas XI IPA Semester Genap SMA Neg

0 19 70

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE THINK PAIR SHARE (TPS) TERHADAP PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIS SISWA (Studi Pada Siswa Kelas VIII SMP Negeri 1 Pagelaran Semester Ganjil Tahun Pelajaran 2012/2013)

0 7 54

PENGARUH PENGGUNAAN MODEL PROBLEM BASED LEARNING (PBL) TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA PADA MATERI POKOK SISTEM PEREDARAN DARAH (Studi Eksperimen Pada Siswa Kelas XI Semester Ganjil SMA Negeri 7 Bandar Lampung T.P 2012/2013)

1 5 55

PENGARUH PENGGUNAAN MODEL PROBLEM BASED LEARNING (PBL) TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA PADA MATERI POKOK SISTEM PEREDARAN DARAH (Studi Eksperimen Pada Siswa Kelas XI Semester Ganjil SMA Negeri 7 Bandar Lampung Tahun Pelajaran 2012/2013)

0 7 56

PENGGUNAAN BAHAN AJAR LEAFLET DENGAN MODEL PEMBELAJARAN THINK PAIR SHARE (TPS) TERHADAP AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI POKOK SISTEM GERAK MANUSIA (Studi Quasi Eksperimen pada Siswa Kelas XI IPA1 SMA Negeri 1 Bukit Kemuning Semester Ganjil T

47 273 59

PENGARUH PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE THINK PAIR SHARE (TPS) TERHADAP PENINGKATAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA PADA MATERI POKOK SISTEM PEREDARAN DARAH (Studi Eksperimen pada Siswa Kelas XI Semester Ganjil SMA Negeri 1 Natar Kab. Lampu

3 9 54

PENGARUH PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE THINK PAIR SHARE (TPS) TERHADAP PENINGKATAN KEMAMPUAN BERPIKIR KRITIS SISWA PADA MATERI POKOK SISTEM PEREDARAN DARAH (Studi Eksperimen pada Siswa Kelas XI Semester Ganjil SMA Negeri 1 Natar Kab. Lampu

0 5 54

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE THINK PAIR SHARE (TPS) TERHADAP PENINGKATAN KEMAMPUAN REPRESENTASI MATEMATIS SISWA (Studi pada Siswa Kelas VIII Semester Genap SMP Negeri 1 Pringsewu Tahun Pelajaran 2013/2014)

0 5 54

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

98 2979 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

36 758 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

34 656 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

15 428 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

25 583 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

49 977 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

49 893 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

14 542 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

21 800 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

33 966 23