PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE THINK PAIR SHARE (TPS) TERHADAP AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI PENCEMARAN LINGKUNGAN (Kuasi Eksperimen pada Siswa Kelas X Semester Genap SMA Negeri 12 Bandar Lampung Tahun Pelajaran 2012/2013)

PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE THINK
PAIR SHARE (TPS) TERHADAP AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR
SISWA PADA MATERI PENCEMARAN LINGKUNGAN
(Kuasi Eksperimen pada Siswa Kelas X Semester Genap SMA Negeri 12
Bandar LampungTahun Pelajaran 2012/2013)
Oleh
FINA CITHA KASIH

Skripsi
sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar
SARJANA PENDIDIKAN
Pada
Program Studi Pendidikan Biologi
Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
BANDARLAMPUNG
2013

Fina Citha Kasih

ABSTRAK
PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE THINK
PAIR SHARE (TPS) TERHADAP AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR
SISWA PADA MATERI PENCEMARAN LINGKUNGAN
(Kuasi Eksperimen pada Siswa Kelas X Semester Genap SMA Negeri 12
Bandar Lampung Tahun Pelajaran 2012/2013)
Oleh
FINA CITHA KASIH

Hasil observasi di kelas X SMA Negeri 12 Bandar Lampung, diketahui bahwa
hasil belajar siswa masih rendah. Oleh karena itu, diperlukan solusi untuk
meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa, salah satunya dengan
menggunakan model Think Pair Share (TPS). Penelitian ini bertujuan untuk
mengetahui penggunaan model pembelajaran TPS terhadap aktivitas dan hasil
belajar siswa.

Penelitian ini merupakan kuasi eksperimental dengan desain pretes postes nonequivalen. Sampel penelitian adalah siswa kelas X1 dan X2 yang dipilih secara
purposive sampling. Data penelitian ini berupa data kuantitatif dan kualitatif.
Data kuantitatif berupa hasil belajar yang diperoleh dari rata-rata nilai pretes,
postes dan N-gain yang dianalisis secara statistik menggunakan uji-t dan uji U.
Data kualitatif berupa aktivitas belajar siswa, dan tanggapan siswa terhadap
penggunaan model TPS yang dianalisis secara deskriptif.

ii

Fina Citha Kasih

Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas belajar siswa rata-rata berkriteria
baik. Pada aspek interaksi siswa dengan pasangan (82%); mengerjakan tugas
secara mandiri (81,50%); dan kecakapan komunikasi siswa (74,50%). Hasil
belajar juga mengalami peningkatan dengan rata-rata nilai pretes (46,38); postes
(68,7); N-gain (40,17). Peningkatan hasil belajar juga terjadi pada indikator aspek
kognitif (C4) dengan rata-rata N-gain (40,19). Selain itu, semua siswa
memberikan tanggapan positif terhadap penggunaan model TPS. Dengan
demikian dapat disimpulkan bahwa model TPS berpengaruh terhadap peningkatan
aktivitas dan hasil belajar siswa.

Kata kunci : aktivitas belajar, hasil belajar, TPS, pencemaran lingkungan.

iii

DAFTAR ISI

Halaman
DAFTAR TABEL .........................................................................................
xv
DAFTAR GAMBAR ....................................................................................

xvii

I. PENDAHULUAN
A.
B.
C.
D.
E.
F.
G.

Latar Belakang Masalah ....................................................................
Rumusan Masalah .............................................................................
Tujuan Penelitian ..............................................................................
Manfaat Penelitian ............................................................................
Ruang Lingkup Penelitian .................................................................
Kerangka Pikir ...................................................................................
Hipotesis ............................................................................................

1
4
4
4
5
6
7

II. TINJAUAN PUSTAKA
A. Model Pembelajaran TPS ..................................................................
B. Hasil Belajar Siswa ............................................................................
C. Aktivitas Belajar Siswa ......................................................................

9
13
16

III. METODE PENELITIAN
A.
B.
C.
D.
E.
F.

Tempat dan Waktu Penelitian ...........................................................
Populasi dan Sampel .........................................................................
Desain Penelitian ...............................................................................
Prosedur penelitian .............................................................................
Jenis dan Teknik Pengambilan Data .................................................
Teknik Analisis Data .........................................................................

20
20
20
21
26
28

IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian .................................................................................
B. Pembahasan .......................................................................................

xiii

37
42

V. SIMPULAN DAN SARAN
A. Simpulan ...........................................................................................
B. Saran .................................................................................................

51
52

DAFTAR PUSTAKA ...................................................................................

53

LAMPIRAN
1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.

Silabus ................................................................................................
Rencana Pelaksanaan Pembelajaran ..................................................
Lembar Kerja Siswa ..........................................................................
Soal Pretes dan Postes .......................................................................
Data Hasil Penelitian .........................................................................
Analisis Uji Statistik Data Hasil Penelitian ......................................
Foto-Foto Penelitian ..........................................................................

xiv

56
60
74
93
101
111
118

1

I.

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan adalah salah satu bentuk perwujudan kebudayaan manusia yang
dinamis dan sarat perkembangan. Oleh karena itu, perubahan atau perkembangan pendidikan adalah hal yang memang seharusnya terjadi sejalan dengan
perubahan budaya kehidupan. Perubahan dalam arti perbaikan pendidikan
pada semua tingkat perlu terus-menerus dilakukan sebagai antisipasi kepentingan masa depan (Trianto, 2009 : 1).

Usaha peningkatan mutu pendidikan di Indonesia terus menerus dilaksanakan.
Hal tersebut dilaksanakan antara lain melalui penyempurnaan kurikulum yang
telah ada. KTSP memiliki kelebihan, yakni guru diberikan kebebasan untuk
mengembangkan pembelajaran sesuai dengan kondisi sekolah dan siswa.
Salah satunya adalah dalam menentukan metode pembelajaran yang tepat dan
sesuai, untuk membantu siswa memahami konsep-konsep yang dipelajari
secara utuh dan benar (Mulyasa, 2008 : 222).

Salah satu hal yang terpenting dalam pendidikan adalah proses pembelajaran.
Melihat kenyataan yang terjadi saat ini bahwa proses pembelajaran yang dilakukan di sekolah belum maksimal. Proses pembelajaran yang belum maksimal bila guru belum dapat menciptakan suasana kelas yang dapat

2

meningkatkan aktivitas dan hasil belajar oleh siswa. Kemungkinan siswa
dalam pembelajaran kurang aktif, serta cenderung pasif saat mengikuti
kegiatan belajar. Siswa diharapkan dapat menjadi lebih aktif dalam pembelajaran dengan membangkitkan aktivitas belajar. Dengan meningkatnya
aktivitas belajar siswa maka hasil belajar dapat meningkat (Anonim, 2011 : 2).

Hasil observasi yang dilakukan di SMA N 12 Bandar Lampung aktivitas
belajar siswa masih rendah. Hal ini tampak dari siswa yang mengantuk,
menopang dagu, bersandar di meja, berbicara dengan temannya, dan bersikap
pasif, tidak berani mengemukakan pendapat maupun mengajukan pertanyaan
mengenai segala sesuatu yang belum dimengerti, siswa yang pemalu dan
penakut cenderung untuk lebih banyak diam dan berperan sebagai pendengar.
Seharusnya menurut Sardiman (2003 : 95) aktivitas siswa tidak hanya mendengarkan dan mencatat saja tetapi pendidikan sekarang lebih menitikberatkan
pada aktivitas dalam pembelajaran, misalnya menyatakan pendapat, bertanya,
menggambar, memecahkan masalah, dapat mengambil keputusan dan lainlain.

Rendahnya aktivitas siswa memberikan dampak terhadap hasil belajarnya.
Ini ditunjukkan dari nilai rata-rata kelas X IPA SMA N 12 Bandar Lampung
untuk materi pencemaran lingkungan yaitu < 65. Hal tersebut menunjukkan
bahwa sekitar 60% siswa tidak tuntas karena belum memenuhi standar KKM
(Kriteria Ketuntasan Minimum) yang ditentukan oleh sekolah pada mata
pelajaran biologi yaitu ≥ 68. Ketidaktuntasan belajar siswa tersebut terjadi
karena cara penyampaian pembelajaran seperti ceramah dan diskusi yang

3

digunakan guru kurang sesuai dengan materi pencemaran lingkungan yang
diajarkan.

Berdasarkan uraian di atas, maka diperlukan model pembelajaran yang dapat
meningkatkan aktivitas siswa dalam belajar dan juga dapat meningkatkan
solidaritas sosial siswa yang dapat memberikan dampak positif terhadap hasil
belajar siswa. Model pembelajaran kooperatif tipe TPS merupakan salah
satu model pembelajaran kooperatif yang pada pelaksanaannya mengutamakan siswa dalam berbuat untuk menemukan sendiri konsep-konsep materi
dalam pembelajaran dengan jalan berfikir (Think), berpasangan (Pair), dan
mengemukakan pendapat (Share) (Ibrahim dkk., 2000 : 26).

Pramudiyanti (dalam Wulandari, 2009 : 5) menyimpulkan bahwa penggunaan
model pembelajaran kooperatif tipe TPS dapat meningkatkan hasil belajar
siswa. Penelitian yang dilakukan oleh Ariansyah (2009 : 37) bahwa pembelajaran TPS memberikan pengaruh signifikan terhadap penguasaan materi
pokok Sistem Reproduksi Manusia. Hal yang sama juga diungkapkan oleh
Wulandari (2011 : 48) bahwa model TPS dapat meningkatkan penguasaan
konsep dan siswa lebih aktif dalam pembelajaran. Berdasarkan latar belakang
tersebut, maka perlu dilakukan penelitian mengenai pengaruh model pembelajaran kooperatif tipe TPS terhadap aktivitas dan hasil belajar siswa.

4

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka rumusan masalah dalam
penelitian ini adalah:
1. Apakah penggunaan model pembelajaran TPS berpengaruh terhadap
peningkatan aktivitas belajar siswa pada materi pencemaran lingkungan?
2. Apakah penggunaan model pembelajaran TPS berpengaruh signifikan
terhadap peningkatan hasil belajar siswa pada materi pencemaran
lingkungan?

C. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui peningkatan:
1.

aktivitas belajar siswa dengan penggunaan model pembelajaran TPS pada
materi pencemaran lingkungan kelas X SMA N 12 Bandar Lampung
Tahun Pelajaran 2012/2013, dan

2.

hasil belajar siswa dengan penggunaan model pembelajaran TPS pada
materi pencemaran lingkungan kelas X SMA N 12 Bandar Lampung
tahun pelajaran 2012/2013.

D. Kegunaan Penelitian

Dengan dilakukannya penelitian ini diharapkan dapat berguna bagi:
1.

siswa, yaitu untuk menciptakan suasana baru yang dapat meningkatkan
aktivitas siswa pada materi Pencemaran Lingkungan,

5

2.

guru, yaitu dengan model pembelajaran kooperatif tipe TPS diharapkan
dapat menjadikan salah satu alternatif bagi guru dalam memilih model
pembelajaran sebagai upaya meningkatkan hasil belajar Pencemaran
Lingkungan,

3.

peneliti, yaitu untuk meningkatkan pengetahuan dan pemahaman sebagai
calon guru tentang penggunaan model pembelajaran khususnya model
pembelajaran kooperatif tipe TPS dalam meningkatkan aktivitas siswa,
dan

4.

sekolah, yaitu memberikan sumbangan pemikiran untuk meningkatkan
pembelajaran biologi di sekolah melalui pemilihan metode pembelajaran
biologi yang tepat.

E. Ruang lingkup Penelitian

Ruang lingkup penelitian ini adalah:
1.

Model TPS merupakan suatu strategi diskusi kooperatif dengan cara
memproses informasi dengan mengembangkan cara berfikir dan komunikasi. Adapun langkah model TPS yaitu, (1) Thinking (berpikir) siswa
memikirkan jawabannya secara mandiri terhadap permasalahan yang
diberikan guru, (2) Pair (berpasangan) jawaban yang telah dipikirkan
secara mandiri, kemudian disampaikan kepada pasangannya masingmasing (teman sebangkunya), (3) Share (berbagi) guru membimbing
kelompok untuk menyampaikan hasil diskusi secara bergantian.

2.

Hasil belajar yang diukur dalam penelitian ini adalah ranah kognitif yang
diperoleh dari hasil pretes, postes dan skor N-gain dan aktivitas belajar

6

siswa diperoleh dari lembar observasi aktivitas belajar yaitu bekerjasama
dengan teman, mengungkapkan ide atau gagasan, melakukan kegiatan
diskusi, dan mempersentasikan kegiatan kelompok.
3.

Materi pada penelitian ini yaitu KD. 4.2 “Menjelaskan keterkaitan antara
kegiatan manusia dengan masalah perusakan /pencemaran lingkungan
dan pelestarian lingkungan”.

4.

Sampel penelitian adalah siswa kelas X1 sebagai kelas eksperimen dan
kelas X2 sebagai kelas kontrol di SMA N 12 Bandar Lampung.

F. Kerangka Pikir

Proses pembelajaran dapat menciptakan suasana belajar siswa yang mampu
mengingat informasi dari suatu sumber, dapat aktif dalam kegiatan pembelajaran serta dapat mengaitkan pelajaran yang sudah dipelajari dengan pengetahuan yang sudah dimiliki. Pembelajaran dengan menggunakan model TPS
merupakan salah satu dari model kooperatif yang menggunakan struktur
kelompok berpasangan. Meskipun termasuk dalam model kooperatif,
struktur ini memberikan kesempatan meningkatkan aktivitas siswa. Model
pembelajaran kooperatif TPS berpusat pada aktivitas belajar siswa sehingga
dapat meningkatkan hasil belajar siswa.

Selain itu model pembelajaran TPS juga memberikan kesempatan bagi siswa
untuk mengembangkan kemampuan berpikir (think), berpasangan (pair), dan
berbagi (share) sehingga kemampuan siswa baik secara individu maupun
kelompok dapat berkembang. Pada saat think, guru menyediakan waktu
berpikir untuk meningkatkan kualitas respon siswa dan siswa menjadi lebih

7

aktif dalam berpikir mengenai konsep pada mata pelajaran. Saat pair, siswa
dapat belajar dari siswa lain dan lebih memahami tentang konsep topik pelajaran selama diskusi. Saat share, setiap siswa dalam kelompoknya mempunyai
kesempatan untuk berbagi atau menyampaikan idenya dan meningkatkan kemungkinan masing-masing siswa terlibat dengan setiap pertanyaan. Penyajian
masalah dalam pembelajaran TPS yang kontekstual melatih siswa secara bertahap dibimbing untuk lebih aktif yang dapat membangkitkan aktivitas
siswa, sehingga hasil belajar siswa akan lebih meningkat.

Penelitian ini terdapat dua variabel, yaitu variabel bebas dan terikat . Variabel
bebasnya adalah penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TPS sedangkan
variabel terikatnya adalah aktivitas belajar siswa dan hasil belajar siswa.
Y1
X
Y2
Gambar 1.Hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikat
Keterangan:
X = Model TPS
Y1 = Hasil belajar siswa.
Y2 = Aktivitas belajar siswa

G. Hipotesis Penelitian
Hipotesis dalam penelitian ini adalah :
1. Penggunaan model pembelajaran TPS berpengaruh terhadap aktivitas
belajar siswa pada materi pencemaran lingkungan.

8

2. H0 = Penggunaan model pembelajaran TPS tidak berpengaruh signifikan
terhadap peningkatan hasil belajar siswa pada materi pencemaran
lingkungan.
H1 = Penggunaan model pembelajaran TPS berpengaruh signifikan
terhadap peningkatan hasil belajar siswa pada materi pencemaran
lingkungan.

9

II.

TINJAUAN PUSTAKA

A. Model Pembelajaran kooperatif tipe TPS
TPS adalah suatu struktur yang dikembangkan pertama kali oleh Profesor
Frank Lyman di Universitas Meryland pada tahun 1981 dan diadopsi oleh
banyak penulis sebagai bagian dari pembelajaran kooperatif. Model pembelajaran TPS merupakan salah satu model pembelajaran kooperatif sederhana.
Teknik ini memberi kesempatan pada siswa untuk bekerja sendiri serta bekerja sama dengan orang lain. Dalam kegiatan saat think, pair, dan share
diharapkan terjadi tanya jawab yang mendorong pada pengontruksian pengetahuan secara integratif. Peserta didik dapat menemukan struktur dari pengetahuan yang dipelajarinya menurut Agus (dalam Indarwanti, 2010 : 30)

Ada empat prinsip kerja dari TPS yang sesuai dengan pembelajaran
kooperatif. Empat prinsip kerja itu adalah sebagai berikut :
1.

Saling ketergantungan positif di antara siswa sehingga siswa mampu
belajar dari siswa lain.

2.

Tanggung jawab individual.
Setiap siswa bertanggung jawab pada gagasannya karena akan dipaparkan pada pasangannya dan pada seluruh kelas.

10

3.

Partisipasi yang seimbang.
Setiap siswa akan mempunyai kesempatan yang sama untuk berbagi
(mengemukakan pendapatnya) dengan pasangannya dan pada seluruh
kelas.

4.

Interaksi bersama
Semua siswa akan aktif dalam mengemukakan pendapat dan mendengarkan sehingga menciptakan interaksi. Hal ini akan menciptakan
pembelajaran yang aktif jika dibandingkan dengan cara tanya jawab
yang sudah biasa dilakukan oleh guru, dan biasanya hanya satu atau dua
siswa saja yang aktif (Anonim, 2001 : 1).

TPS adalah salah satu tipe model pembelajaran kooperatif yang pada pelaksanaannya mengutamakan siswa dalam berbuat untuk menemukan sendiri
konsep-konsep materi dalam pembelajaran dengan jalan berfikir (think), berpasangan (pair), dan mengemukakan pendapat (share) (Ibrahim dkk., 2000 :
26). Model pembelajaran TPS juga dapat meningkatkan keaktifan siswa di
dalam kelas. Karena siswa akan berdiskusi dengan pasangannya (pairs) untuk
memecahkan masalah yang diberikan oleh guru, kemudian siswa juga berbagi
(share) kepada teman-teman sekelasnya dengan mempresentasikan hasil diskusinya dengan pasangannya. Selain itu dengan penerapan metode ini siswa
akan lebih menguasi materi, karena siswa harus berpikir (think) untuk menyelesaikan masalah yang ditugaskan kepadanya.

TPS merupakan jenis pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa agar tercipta suatu pembelajaran yang koo-

11

peratif yang dapat meningkatkan penguasaan akademik dan keterampilan
siswa. Prosedur pembelajaran yang digunakan dalam TPS ini dapat memberikan lebih banyak waktu kepada siswa untuk berfikir, untuk merespon dan
saling membantu satu sama lain. TPS memiliki keunggulan dibanding dengan
metode tanya jawab, karena TPS mengedepankan aspek berfikir secara mandiri, tanggung jawab terhadap kelompok, kerjasama dengan kelompok kecil,
dan dapat menghidupkan suasana kelas (Nurhadi dan Senduk, 2004 : 67).

TPS dapat mengoptimalisasikan partisipasi siswa. Siswa diberi kesempatan
untuk bekerja sendiri serta bekerjasama dengan orang lain. Waktu berfikir
akan memungkinkan siswa untuk mengembangkan jawaban. Siswa akan
dapat memberikan jawaban yang lebih panjang dan lebih berkaitan. Jawaban
yang dikemukakan juga telah difikirkan dan didiskusikan. Siswa akan lebih
berani mengambil resiko dan mengemukakan jawabannya di depan kelas dan
karena mereka telah “mencoba” dengan pasangannya. Proses pelaksanaan
TPS akan membatasi munculnya aktivitas siswa yang tidak relevan dengan
pembelajaran karena siswa harus mengemukakan pendapatnya, minimal pada
pasangannya (Lyman, 2002 : 2)

Menurut Nurhadi dan Senduk (2004 : 67) tahapan-tahapan dalam TPS dapat
dijabarkan sebagai berikut :
1. Thinking (berfikir)
Guru mengajukan pertanyaan/permasalahan yang berkaitan dengan materi
yang baru dipelajari, kemudian memberi kesempatan kepada seluruh siswa
untuk memikirkan jawabannya secara mandiri dalam 1 menit;

12

2. Pairing (berpasangan)
Jawaban yang telah difikirkan secara mandiri, kemudian disampaikan
kepada pasangannya masing-masing (teman sebangkunya). Pada tahap
ini, siswa dapat menuangkan idenya, menambahkan gagasan, dan berbagi
jawaban dengan pasangan. Tahap ini berlangsung dalam 4 menit;
3. Sharing (berbagi)
Guru membimbing kelompok untuk menyampaikan hasil diskusi secara
bergantian. Sampai sekitar seperempat kelompok menyampaikan pendapat. Pada tahap ini seluruh kelompok dapat mendengarkan pendapat
yang akan disampaikan oleh perwakilan tiap kelompok. Kelompok yang
menyampaikan pendapatnya harus bertanggung jawab atas jawaban dan
pendapat yang disampaikan. Pada akhir diskusi guru memberi tambahan
materi yang belum terungkapkan oleh kelompok diskusi.

Tahapan pelaksanaan TPS tersebut efektif dalam membatasi aktivitas siswa
yang tidak relevan dengan pembelajaran, serta dapat memunculkan kemampuan dan keterampilan siswa yang positif. Pada akhirnya TPS akan mengembangkan kemampuan siswa untuk berfikir secara terstruktur dalam diskusi
mereka dan memberikan kesempatan untuk bekerja sendiri ataupun dengan
orang lain melalui keterampilan berkomunikasi. Model TPS menye-babkan
siswa aktif dalam pembelajarannya, karena siswa belajar ber-komunikasi
dengan baik, memiliki tanggung jawab, berinteraksi dengan siswa lain, serta
turut berpartisipasi dalam pembelajaran.

13

B. Hasil Belajar

Hasil belajar merupakan hal kompleks yang terjadi sehari-hari dan merupakan
suatu proses perubahan bagi siswa dalam menghadapi bahan ajar. Bahan ajar
dapat berupa keadaan alam, belajar tumbuhan dan manusia. Penilaian hasil
belajar adalah proses pemberian nilai terhadap hasil-hasil belajar yang di capai
oleh siswa dengan kriteria tertentu. Hasil belajar siswa pada hakikatnya adalah perubahan tingkah laku. Tingkah laku sebagai hasil belajar dalam pengertian yang cukup luas mencakup bidang kognitif, afektif, dan psiko-motor
sehingga dengan belajar seseorang akan mengalami perubahan berpikir, sikap
dan alam kehidupan sehari-hari (Gunawan, 2010 : 5). Interaksi tindak belajar
dan tindak mengajar merupakan suatu hasil dari belajar. Dari sisi guru tindakan mengajar diakhiri dengan proses evaluasi belajar, sedangkan dari sisi
siswa hasil belajar merupakan puncak proses belajar (Dimyati dan Mujiono,
2002 : 3).

Proses pembelajaran antara guru dan siswa merupakan bukti dari hasil belajar.
Hasil belajar yang bisa diperoleh siswa setelah pembelajaran dapat berupa
informasi verbal, keterampilan intelek, keterampilan motorik, sikap, dan siasat
kognitif. Kelima hasil belajar tersebut merupakan kapabilitas siswa.

Kapabilitas siswa tersebut berupa:
1. Informasi verbal adalah kapabilitas untuk mengungkapkan pengetahuan
dalam bentuk bahasa, baik lisan maupun tertulis. Pemilihan informasi
verbal memungkinkan individu berperanan dalam kehidupan.

14

2. Keterampilan intelektual adalah kecakapan yang berfungsi untuk berhubungan dengan lingkungan hidup serta mempresentasikan konsep dan
lambang. Keterampilan intelek ini terdiri dari diskriminasi jamak, konsep
konkret, definisi, dan prinsip.
3. Strategi kognitif adalah kemampuan menyalurkan dan mengarahkan
aktivitas kognitifnya sendiri. Kemampuan ini meliputi penggunaan konsep dan kaidah dalam memecahkan masalah.
4. Keterampilan motorik adalah kemampuan melakukan serangkaian gerak
jasmani dan koordinasi, sehingga terwujud otomatisme gerak jasmani.
5. Sikap adalah kemampuan menerima atau menolak obyek berdasarkan
penilaian terhadap obyek tersebut (Gagne dalam Dimyati dan Mujiono,
2002 : 10)

Anderson dkk (2000 : 67-68), menyatakan ranah kognitif mempunyai hirarki
atau tingkatan. Tingkatan tersebut terdiri dari 6 jenis perilaku yaitu:
1) Remember, mencakup kemampuan ingatan tentang hal yang telah
dipelajari dan tersimpan dalam ingatan. Pengetahuan itu meliputi fakta
peristiwa, pengertian, kaidah, teori, prinsip, dan metode.
2) Understand, mencakup kemampuan menangkap arti dan makna hal yang
dipelajari.
3) Apply, mencakup kemampuan menerapkam metode dan kaidah untuk
meghadapi masalah yang nyata dan baru.
4) Analyze, mencakup kemampuan merinci suatu kesatuan kedalam bagian
bagian sehingga struktur keseluruhan dapat dipahami dengan baik.
Misalnya mengurai masalah menjadi bagian yang lebih kecil.

15

5) Evaluate, mencakup kemampuan membentuk pendapat tentang beberapa
hal berdasarkan kriteria tertentu.
6) Create, mencakup kemampuan membentuk suatu pola baru.

Untuk menilai dan mengukur keberhasilan siswa dipergunakan tes hasil belajar. Terdapat beberapa tes yang dilakukan guru, diantaranya: uji blok,
ulangan harian, tes lisan saat pembelajaran berlangsung, tes mid semester dan
tes akhir semester. Hasil dari tes tersebut berupa nilai-nilai yang pada akhirnya digunakan sebagai tolak ukur keberhasilan proses pembelajaran yang
terjadi. Tes ini dibuat oleh guru berkaitan dengan materi yang telah diajarkan. Setiap kegiatan belajar akan berakhir dengan hasil belajar. Hasil
belajar setiap siswa di kelas terkumpul dalam himpunan hasil belajar kelas.
Bahan mentah hasil belajar terwujud dalam lembar-lembar jawaban soal ulangan atau ujian dan yang berwujud karya atau benda. Semua hasil belajar
tersebut merupakan bahan yang berharga bagi guru dan siswa.

Bagi guru, hasil belajar siswa di kelasnya berguna untuk melakukan perbaikan tindak mengajar atau evaluasi. Bagi siswa, hasil belajar tersebut berguna untuk memperbaiki cara-cara belajar lebih lanjut. Hasil belajar juga
dapat dicapai antara lain apabila kegiatan mengajar atau menyampaikan mata
pelajaran sesuai dengan gaya belajar siswa, keefektifan belajar akan semakin
tinggi bila kegiatan mengajar sesuai dengan faktor intern (intelegen, kemampuan, motivasi, emosional, kebutuhan, dan gaya belajar), maupun faktor
ekstern (lingkungan, dan keluarga) sehingga dapat dikatakan bahwa mengajar
yang efektif adalah mengajar yang sesuai bagi setiap siswa. Terciptanya

16

proses belajar yang efektif dan efisien akan menjadikan hasil belajar lebih
berarti, lebih bermakna serta berdaya guna pada diri individu yang belajar
(Susanto dalam Gunawan, 2010 : 5).

C. Aktivitas Belajar
Bidang pendidikan termasuk rumpun ilmu perilaku, suatu rumpun ilmu yang
mengkaji aktivitas manusia. Lingkup kajian aktivitas manusia sangatlah luas,
mencakup aktivitas manusia sebagai individu atau kelompok menurut
(Sukmadinata dalam Parlina, 2010 : 26).

Aktivitas belajar merupakan rangkaian kegiatan yang dilakukan siswa dalam
proses pembelajaran. Semakin banyak aktivitas yang dilakukan siswa dalam
belajar maka semakin baik proses pembelajaran yang terjadi. Dengan demikian belajar yang berhasil harus melalui berbagai macam aktivitas, baik aktivitas fisik maupun psikis (Holt dalam Wardani, 2007 : 9).

Aktivitas fisik adalah suatu kegiatan yang melibatkan fisik peserta didik giat
aktif pada anggota badan seperti mata, membuat sesuatu, bermain atau bekerja,
peserta didik tidak hanya duduk dan mendengarkan, melihat atau hanya pasif.
Aktivitas psikis (kejiwaan) adalah jika daya jiwanya bekerja sebanyakbanyaknya atau banyak berfungsi dalam rangka pembelajaran. Seluruh peranan dan kemauan dikerahkan dan diarahkan supaya daya itu tetap aktif untuk
mendapatkan hasil pembelajaran yang optimal sekaligus mengikuti proses pengajaran secara aktif. Siswa mendengarkan, mengamati, menyelidiki, mengingat, menguraikan, mengasosiasikan ketentuan satu dengan lainnya dan

17

sebagainya (Rohani, 2004 : 6-7). Menurut Diedrich (dalam Rohani, 2004 : 9)
terdapat macam-macam kegiatan peserta didik yang meliputi aktivitas jasmani
dan aktivitas jiwa sebagai berikut:
1. Visual activities, membaca, memperhatikan gambar, demonstrasi, percobaan, pekerjaan orang lain dan sebagainya.
2. Oral activities, menyatakan, merumuskan, bertanya, memberi saran, mengeluarkan pendapat, mengadakan interview, diskusi, interupsi, dan sebagainya.
3. Listening activities, mendengarkan : uraian, percakapan, diskusi,musik,
pidato dan sebagainya.
4. Writing activities, menulis : cerita, karangan, laporan, tes angket, menyalin
dan sebagainya.
5. Drawing activities, menggambar, membuat grafik, peta, diagram, pola dan
sebagainya.
6. Motor activities, melakukan percobaan, membuat konstruksi, model, mereparasi, bermain, berkebun, memelihara binatang dan sebagainya.
7. Mental activities, menganggap, mengingat, memecahkan masalah, menganalisis, melihat hubungan, mengambil keputusan, dan sebagainya.
8. Emotional activities, menaruh minat, merasa bosan, gembira, berani tenang,
gugup dan sebagainya.
Aktivitas-aktivitas tersebut tidaklah terpisah satu sama lain. Dalam setiap
aktivitas motoris terkandung aktivitas mental disertai oleh perasaan tertentu
dan pada setiap pelajaran terdapat berbagai aktivitas yang dapat diupayakan.

Menurut Hamalik (dalam Parlina, 2010 : 28) upaya untuk meningkatkan
aktivitas dalam pembelajaran dapat dilakukan guru dengan tiga alternatif

18

pemberdayaan, yaitu :
1. Pelaksanaan aktivitas pembelajaran dalam kelas.
Asas aktivitas dapat dilakukan dalam setiap kegiatan tatap muka dalam
kelas yang terstruktur, baik dalam bentuk komunikasi langsung kegiatan
kelompok, kegiatan kelompok kecil, belajar independen.
2. Pelaksanaan aktivitas pembelajaran sekolah masyarakat.
Dalam pelaksanaan pembelajaran dilakukan dalam bentuk membawa kelas
ke dalam masyarakat, melalui metode karyawisata, survey, kerja
pengalaman, pelayanan masyarakat, berkemah, dan berproyek. Cara lain
adalah mengundang narasumber dari luar.
3. Pelaksanaan aktivitas pembelajaran dengan pendekatan CBSA (cara belajar
siswa aktif).
Pembelajaran dilaksanakan dengan titik berat pada keaktifan siswa dan
guru bertindak sebagai fasilitator dan nara sumber yang memberikan
kemudahan bagi siswa untuk belajar.

Memes (dalam Andra 2007 : 39) menyatakan bahwa, untuk mengetahui tingkat
keaktifan siswa, pedoman yang digunakan sebagai berikut: bila rata-rata
nilai

75,6 maka dikategorikan aktif. Bila 59,4 ≤ rata-rata nilai < 75,6 maka

dikategorikan cukup aktif. Bila rata-rata nilai < 59,4 maka dikategorikan
kurang aktif. Seseorang dikatakan aktif belajar jika dalam pembelajarannya
mengerjakan sesuatu yang sesuai dengan tujuan belajar, memberi tanggapan
terhadap suatu peristiwa yang terjadi dan mengalami atau turut merasakan
sesuatu dalam proses belajarnya. Dengan melakukan banyak aktivitas yang

19

sesuai dengan pembelajaran, maka siswa mampu mengalami, memahami,
mengingat dan mengaplikasikan materi yang telah diajarkan. Adanya peningkatan aktivitas belajar maka akan meningkatkan hasil belajar (Hamalik,
2004 : 12).

20

III.

METODE PENELITIAN

A. Waktu dan Tempat

Penelitian ini telah dilaksanakan di SMA N 12 Bandar Lampung pada bulan
Mei 2013.

B. Populasi dan Sampel

Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X semester genap
SMA N 12 Bandar Lampung tahun pelajaran 2012/2013. Sampel dalam penelitian ini adalah siswa kelas X1 sebagai kelompok eksperimen dan kelas X2
sebagai kelompok kontrol yang dipilih secara acak dengan teknik pengambilan sampel yang digunakan, yaitu purposive sampling.

C. Desain Penelitian

Desain yang digunakan dalam penelitian ini adalah desain pretes-postes
kelompok tak ekuivalen. Kelas eksperimen diberi perlakuan dengan model
pembelajaran TPS, sedangkan kelas kontrol menggunakan metode diskusi.
Hasil tes awal dan tes akhir pada kedua kelompok subyek lalu dibandingkan.

21

Struktur desainnya adalah sebagai berikut:

Kelompok
I
II

Pretes
O1
O1

Perlakuan
X
C

Postes
O2
O2

Gambar 2 . Desain penelitian tak ekuivalen
Keterangan :
I= Kelompok eksperimen ; II = Kelompok kontrol, O1 = Pretes
O2 = Postes ; X = model pembelajaran TPS ; C = metode diskusi
(dimodifikasi dari Riyanto, 2001 : 43)

D. Prosedur Penelitian

Penelitian ini terdiri atas dua tahap, yaitu prapenelitian dan pelaksanaan
penelitian. Adapun langkah-langkah dari tahap tersebut yaitu sebagai berikut:
1. Prapenelitian
Kegiatan yang dilakukan pada prapenelitian adalah sebagai berikut :
a. Pembuatan surat izin untuk penelitian pendahuluan ke SMA N 12
Bandar Lampung, tempat diadakannya penelitian.
b. Observasi ke SMA N 12 Bandar Lampung, untuk mendapatkan informasi tentang keadaan kelas yang diteliti.
c. Penetapan sampel penelitian
d. Pembuatan perangkat pembelajaran yang terdiri atas Silabus, Rencana
Pelaksanaan Pembelajaran (RPP), Lembar Kerja Siswa (LKS), soal
pretes dan postes
e. Pembuatan lembar observasi aktivitas belajar siswa

22

f. Pembuatan angket tanggapan siswa terhadap model pembelajaran
kooperatif tipe TPS
2. Pelaksanaan Penelitian
Mengadakan kegiatan pembelajaran dengan model TPS untuk kelas eksperimen dan dengan metode diskusi untuk kelas kontrol. Penelitian ini
dirancang sebanyak dua kali pertemuan. Pretes diberikan sebelum pembelajaran dan postes diberikan setelah pembelajaran.

Langkah-langkah pembelajaran kelas eksperimen dengan menggunakan
model TPS sebagai berikut:
a. Kegiatan awal
1) Siswa mengerjakan soal pretes pada pertemuan 1
2) Siswa diberi apersepsi :
(Pertemuan I) : Guru menggali pengetahuan awal siswa dengan
contoh polusi yang disebabkan kendaraan.
Kemudian memberikan pertanyaan ”apakah dampak
yang ditimbulkan dari kegiatan tersebut”?
(Pertemuan II) : Guru menggali pengetahuan awal siswa dengan
contoh orang yang sedang bersepeda dijalan raya.
Kemudian memberikan pertanyaan ”apakah manfaat
dari kegiatan tersebut”?
3) Guru memberikan motivasi :
(Pertemuan I)

: Memberikan motivasi kepada siswa bahwa
dengan mempelajari materi ini kita dapat mengetahui salah satu penyebab pencemaran udara yang

23

ditimbulkan dari polusi kendaraan, maka dari itu
kita perlu menjaga lingkungan sekitar misalnya
dengan menanam pohon.
(Pertemuan II)

: Memberikan motivasi kepada siswa dengan mempelajari materi ini kita dapat mengetahui salah
satu upaya pelestarian lingkungan terutama lingkungan udara.

b. Kegiatan Inti
 Guru menginformasikan kepada siswa bahwa pada pembelajaran
ini mereka berdiskusi berpasangan.
 Mejelaskan tahapan pembelajaran dengan menggunakan model
TPS.
 Guru memberikan uraian materi.
 Guru membagikan LKS kepada setiap siswa kemudian meminta
siswa untuk berfikir (thinking) selama 2 menit untuk setiap soal.
 Guru meminta siswa untuk berpasangan (pairing) dengan teman
sebangkunya untuk saling mengutarakan hasil pemikirannya,
jawaban, atau gagasan atas pertanyaan yang ada dalam LKS
selama 5 menit untuk tiap soal.
 Guru menunjuk beberapa pasang siswa untuk mengemukakan
(sharing) hasil diskusinya dengan seluruh kelas.
 Guru mempersilahkan kepada siswa yang lain untuk menanggapi
hasil diskusi.

24

 Guru memberikan respon terhadap jawaban siswa dengan menambahkan materi yang belum diungkapkan siswa, serta mengarahkan
diskusi untuk mengambil kesimpulan.
 Guru bertanya kepada siswa tentang pemahaman materi yang telah
disampaikan.
 Guru membimbing siswa untuk menyimpulkan materi pelajaran.
c. Penutup
1) Guru membimbing siswa untuk menyimpulkan materi pelajaran.
2) Guru memberikan postes pertemuan akhir.
3) Guru menugaskan siswa untuk mengulangi materi pelajaran.
4) Guru menutup kegiatan pembelajaran dengan salam.

Langkah-langkah pembelajaran kelas kontrol dengan menggunakan
metode diskusi sebagai berikut:
a. Kegiatan awal
1) Siswa mengerjakan soal pretes pada pertemuan 1
2) Siswa diberi apersepsi :
(Pertemuan I)

: Guru menggali pengetahuan awal siswa
dengan contoh polusi yang disebabkan
kendaraan. Kemudian memberikan pertanyaan
”apakah dampak yang ditimbulkan dari
kegiatan tersebut”?

(Pertemuan II)

: Guru menggali pengetahuan awal siswa dengan
contoh orang yang sedang bersepeda di jalan

25

raya. Kemudian memberikan pertanyaan
”apakah manfaat dari kegiatan tersebut”?
3) Guru memberikan motivasi :
(Pertemuan I)

: Memberikan motivasi kepada siswa bahwa
dengan mempelajari materi ini kita dapat
mengetahui salah satu penyebab pencemaran
udara yang ditimbulkan dari polusi kendaraan,
maka dari itu kita perlu menjaga lingkungan
sekitar misalnya dengan menanam pohon.

(Pertemuan II)

: Memberikan motivasi kepada siswa dengan
mempelajari materi ini kita dapat mengetahui
salah satu upaya pelestarian lingkungan
terutama lingkungan udara.

b. Kegiatan Inti
1) Guru menjelaskan materi pokok pencemaran lingkungan. Pertemuan pertama membahas mengenai keterkaitan antara kegiatan
manusia dengan masalah kerusakan/pencemaran lingkungan.
Pertemuan kedua membahas keterkaitan antara kegiatan manusia
dalam upaya pelestarian lingkungan.
2) Guru memberikan kesempatan pada siswa untuk bertanya mengenai materi yang belum dipahami.
3) Guru mengadakan penguatan dengan menjelaskan materi yang
belum dipahami oleh siswa.

26

c. Penutup
1. Guru bersama siswa mengulas materi yang telah dipelajari.
2. Guru bersama siswa menarik kesimpulan setiap pertemuan.
3. Guru mengadakan postes untuk pertemuan terakhir.
4. Guru memberikan informasi tentang materi yang akan dibahas
pertemuan selanjutnya.

E. Jenis Data dan Teknik Pengambilan Data

1. Jenis Data
Jenis data pada penelitian ini adalah :
1.

Jenis Data
a. Data Kuantitatif
Data kuantitatif yaitu berupa data hasil belajar yang diperoleh dari nilai
pretes dan postes pada materi pokok pencemaran lingkungan. Kemudian dihitung selisih antara nilai pretes dengan postes. Nilai selisih
tersebut disebut sebagai skor N-gain, lalu dianalisis secara statistik.
b. Data Kualitatif
Data kualitatif berupa data aktivitas siswa yang relevan pada model
pembelajaran kooperatif tipe TPS dan angket tanggapan siswa terhadap
model pembelajaran kooperatif tipe TPS.

27

2. Teknik Pengambilan Data
Teknik pengambilan data pada penelitian ini adalah:

a. Lembar Observasi Aktivitas Belajar Siswa
Lembar observasi aktivitas belajar siswa berisi semua aspek kegiatan
yang diamati pada saat proses pembelajaran. Setiap siswa diamati
poin kegiatan yang dilakukan dengan cara memberi tanda (√ ) pada
lembar observasi sesuai dengan aspek yang telah ditentukan. Aspek
yang diamati yaitu: bekerjasama dengan teman, mengungkapkan ide
atau gagasan, melakukan kegiatan diskusi, dan mempersentasikan
kegiatan kelompok.
b. Pretes dan Postes
Data hasil belajar berupa nilai pretes dan postes. Nilai pretes diambil
pada pertemuan pertama setiap kelas, baik eksperimen maupun kontrol, sedangkan nilai postes diambil di akhir pembelajaran pada pertemuan kedua setiap kelas, baik eksperimen maupun kontrol dengan
bentuk dan jumlah soal yang sama. Soal tes berbentuk uraian
Teknik penskoran nilai pretes dan postes yaitu :

Keterangan : S = nilai yang diharapkan (dicari); R = jumlah skor dari
item atau soal yang dijawab benar; N = jumlah skor maksimum dari tes
tersebut (Purwanto, 2008 : 112).
c. Angket Tanggapan Siswa
Angket ini berisi pendapat siswa tentang model pembelajaran kooperatif tipe TPS yang telah dilaksanakan. Angket ini berupa 10 pernyataan, terdiri dari 6 pernyataan positif dan 4 pernyataan negatif.

28

Setiap siswa memilih jawaban yang menurut mereka sesuai dengan
pendapat mereka pada lembar angket yang telah diberikan. Angket
tanggapan siswa ini memiliki 2 pilihan jawaban yaitu setuju dan tidak
setuju.

F.

Teknik Analisis Data
a) Data Kualitatif
1. Pengolahan Data Aktivitas belajar siswa
Data aktivitas belajar siswa selama proses pembelajaran berlangsung
merupakan data yang diambil melalui observasi. Data tersebut dianalisis dengan menggunakan indeks aktivitas siswa.
Langkah-langkah yang dilakukan yaitu:
1) Menghitung persentase aktivitas menggunakan rumus:
X

xi
n

x100 %

Ket: X
Xi

n

= Rata-rata skor aktivitas siswa
= Jumlah skor aktivitas yang diperoleh
= Jumlah skor aktivitas maksimum
(Sudjana, 2002 : 69).

Tabel 1. Lembar observasi aktivitas belajar siswa

No

Nama
1

A
2

Aspek yang diamati
B
3
1
2
3
1

C
2

3

1
2
3
dst
Jumlah (Xi)
Skor maks (n)
Rata-rata ( )

Berilah tanda checklist (√) pada setiap item yang sesuai (dimodifikasi
dari Arikunto, 2009 : 183)

29

Keterangan kriteria penilaian aktivitas siswa:
A. Mengerjakan tugas pada tahap Thinking
1. Tidak menyelesaikan tugas secara mandiri dan mengganggu
teman sebangkunya.
2. Menyelesaikan tugas secara mandiri tetapi mengganggu teman
sebangkunya.
3. Menyelesaikan tugas secara mandiri dan tidak mengganggu
teman sebangkunya.
B. Interaksi siswa dengan pasangannya pada tahap Pairing
1. Tidak menuangkan idenya, tidak menambahkan gagasan, dan
tidak berbagi jawaban dengan pasangannya.
2. Menuangkan idenya, menambahkan gagasan, dan berbagi jawaban dengan pasangan tetapi tidak mengarah pada permasalahan
pada materi pokok Pencemaran Lingkungan.
3. Menuangkan idenya, menambahkan gagasan, dan berbagi jawaban dengan pasangan dan sesuai dengan permasalahan pada
materi pokok Pencemaran Lingkungan.
C. Kecakapan komunikasi siswa pada tahap Sharing
1. Tidak menggunakan bahasa yang mudah dipahami, penyampain
pendapat atau pertanyaan tidak sesuai dengan materi dan tidak
mampu mempertahankan pendapat.
2. Menggunakan bahasa yang mudah dipahami, penyampain pendapat atau pertanyaan tidak sesuai dengan materi dan tidak
mampu mempertahankan pendapat.
3. Menggunakan bahasa yang mudah dipahami, penyampaian pendapat atau pertanyaan sesuai dengan materi dan mampu mempertahankan pendapat.
Cara mengukurnya : Guru dan observer mengukur aktivitas belajar
siswa dalam lembar observasi aktivitas belajar
siswa sesuai indikator.
2) Menafsirkan atau menentukan kategori Persentase Aktivitas Siswa
sesuai kriteria pada tabel 2.
Tabel 2. Kriteria aktivitas siswa
Kriteria

Persentase (%)
87,50 – 100

Sangat baik

75,00 – 87,49

Baik

50,00 – 74,99

Cukup

0 – 49,99

Kurang

Sumber: Dimodifikasi dari Hidayati (2011 : 17)

30

2. Pengolahan Data Angket Tanggapan Siswa Terhadap Penerapan
Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TPS
Data tanggapan siswa terhadap pembelajaran dikumpulkan melalui
penyebaran angket. Angket tanggapan berisi 10 pernyataan yang terdiri
dari 6 pernyataan positif dan 4 pernyataan negatif.
1. Item pernyataan
Tabel 3. Pernyataan angket tanggapan siswa
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9
10

Pilihan
S
TS

Pernyataan
Saya senang mempelajari materi pokok ekosistem melalui model
pembelajaran yang diberikan oleh guru (think, pair,share)
Saya lebih mudah memahami materi yang dipelajari melalui model
pembelajaran yang diberikan oleh guru.
Saya bingung dalam menyelesaikan masalah melalui model
pembelajaran yang diberikan oleh guru.
Saya lebih mudah mengerjakan soal-soal setelah belajar dengan
model pembelajaran yang diberikan oleh guru.
Saya merasa bosan dalam proses belajar melalui model
pembelajaran yang diberikan oleh guru.
Model pembelajaran yang diberikan kepada saya dapat
meningkatkan semangat/motivasi belajar saya .
Saya belajar menggunakan kemampuan sendiri melalui model
pembelajaran yang diberikan oleh guru.
Saya merasa sulit berinteraksi dengan teman dalam proses
pembelajaran yang berlangsung.
Saya merasa sulit mengerjakan soal-soal di LKS melalui model
pembelajaran diberikan oleh guru.
Saya dapat berinteraksi dengan teman dalam proses pembelajaran
melalui model pembelajaran yang diberikan oleh guru.

2. Skor angket
Tabel 4. Skor tiap pernyataan tanggapan siswa terhadap model
pembelajaran kooperatif tipe TPS
No. Item Soal

Sifat Pernyataan

1.
2.
3.
4.
5.
6.
7.
8.
9.
10.

Positif
Positif
Negatif
Positif
Negatif
Positif
Positif
Negatif
Negatif
Positif

Skor
1
S
S
TS
S
TS
S
S
TS
TS
S

0
TS
TS
S
S
TS
TS
TS
S
S
TS

S = setuju; TS = tidak setuju (dimodifikasi dari Rahayu, 2010 : 29).

31

3. Menghitung persentase skor angket dengan menggunakan rumus
sebagai berikut:

X in

S
S maks

100%

Keterangan: X in = Persentase jawaban siswa;

S = Jumlah skor

jawaban; Smaks = Skor maksimum yang diharapkan
(Sudjana, 2002 : 69).
4. Melakukan tabulasi data temuan pada angket berdasarkan klasifikasi
yang dibuat, bertujuan untuk memberikan gambaran frekuensi dan
kecenderungan dari setiap jawaban berdasarkan pernyataan angket.
Tabel 5. Tabulasi angket tanggapan siswa terhadap model
pembelajaran kooperatif tipe TPS
No.
Pertanyaan
Angket

Pilihan
Jawaban

Nomor Responden (Siswa)
1

2

3

4

5

dst.

Persentase

S
TS
S
2
TS
S
3
TS
S
4
TS
S
5
TS
S
dst.
TS
Sumber: dimodifikasi dari Rahayu (2010 : 31)
1

5. Menafsirkan persentase angket untuk mengetahui tanggapan siswa
yang pembelajarannya menggunakan model pembelajaran kooperatif
tipe TPS.

32

Tabel 6. Kriteria persentase angket tanggapan siswa terhadap
penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TPS
Persentase
Kriteria
(%)
100
Semuanya
76 – 99
Sebagian besar
51 – 75
Pada umumnya
50
Setengahnya
26 – 49
Hampir setengahnya
1 – 25
Sebagian kecil
0
Tidak ada
Sumber: Hendro dalam (Hastriani, 2006 : 43)
b) Data Kuantitatif
Data penelitian kuantitatif berupa nilai pretes, postes, dan skor N-gain.
Untuk mendapatkan skor N-gain menggunakan rumus Hake (1999 : 1)
yaitu:

Keterangan: Spost = skor postes; Spre = skor pretes; Smax = skor maksimum

Sedangkan untuk mengukur persen (%) peningkatan hasil belajar siswa
digunakan rumus sebagai berikut.

% Peningkatan =

Skor akhir – Skor awal

x 100%

Skor maksimum – Skor awal
Nilai pretes, postes, dan skor N-gain pada kelompok kontrol dan
eksperimen dianalisis menggunakan uji t dengan program SPSS versi 17,
yang sebelumnya dilakukan uji prasyarat berupa:

33

1. Uji normalitas data
Uji normalitas data dihitung menggunakan uji Lilliefors dengan
menggunakan softwere SPSS versi 17.
a. Rumusan hipotesis
H0 = data berdistribusi normal
H1 = data tidak berdistribusi normal
b. Kriteria pengujian
Terima H0 jika Lhitung < Ltabel atau p-value > 0,05, tolak H0 untuk
harga yang lainnya (Pratisto, 2004:5).
2. Uji Kesamaan Dua Varians
Apabila masing masing data berdistribusi normal, maka dilanjutkan
dengan uji kesamaan dua varian dengan dengan menggunakan program
SPSS versi 17.
a. Hipotesis
Ho : Kedua sampel mempunyai varians sama
H1 : Kedua sampel mempunyai varians berbeda
b. Kriteria Uji
- Jika F hitung < F tabel atau probabilitasnya > 0,05 maka Ho diterima
- Jika F hitung> F tabel atau probabilitasnya < 0,05 maka Ho ditolak
(Pratisto, 2004:13).
3. Pengujian Hipotesis
Untuk menguji hipotesis digunakan uji kesamaan dua rata-rata dan uji
perbedaan dua rata-rata dengan menggunakan program SPSS versi 17,

34

namun untuk data yang tidak berdistribusi normal pengujian hipotesis
di lakukan dengan uji Mann-Whitney U.
1) Uji Kesamaan Dua Rata-rata
a. Hipotesis
H0 = Rata-rata N-gain kedua sampel sama
H1 = Rata-rata N-gain kedua sampel tidak sama
b. Kriteria Uji
- Jika –t tabel< t hitung< t tabel, maka Ho diterima
- Jika t hitung< -t tabel atau t hitung> t tabel maka Ho ditolak
(Pratisto, 2004 : 13).
2) Uji Perbedaan Dua Rata-rata
a. Hipotesis
H0 = Rata-rata N-gain pada kelompok eksperimen sama dengan
kelompok kontrol.
H1 = Rata-rata N-gain pada kelompok eksperimen lebih tinggi
dari kelompok kontrol.
b. Kriteria Uji :
- Jika –t tabel < t hitung< t tabel, maka Ho diterima
- Jika t hitung< -t tabel atau t hitung> t tabel, maka Ho ditolak
(Pratisto, 2004 : 10).
3) Uji Mann-Whitney U
1) Hipotesis
Ho = Tidak terdapat perbedaan nilai rata-rata antara kelas
eksperimen dengan kelas kontrol
H1 = Terdapat perbedaan nilai rata-rata antara kelas eksperimen
dengan kelas kontrol

35

2) Kriteria Uji :
Ho ditolak jika sig < 0,05 Dalam hal lainnya Ho diterima

Hasil belajar merupakan kemampuan menyerap arti dari materi suatu bahan
yang dipelajari. Penguasaan materi bukan hanya sekedar mengingat
mengenai apa yang dipelajari tetapi menguasai lebih lebih dari itu, yakni
melibatkan bebagai proses kegiatan mental sehingga lebih bersifat dinamis
(Arikunto, 2003 : 131). Hasil belajar siswa dapat digambarkan melalui
indikator C4 dengan langkah-langkah sebagai berikut :
1. Memberi skor sesuai rubrik pada lembar penilaian hasil belajar kemudian
dimasukkan pada tabel berikut.
Tabel 7. Lembar penilaian hasil belajar
No

Nama

Skor pada aspek hasil belajar
C4
No soal
No soal

1
2
3
4
5
dts.
R
N
S
Kriteria
Keterangan : C4 = Analyze
(sumber: modifikasi dari Anderson, 2000 : 67-68)

2. Menjumlahkan skor (R) setiap siswa.

36

3. Menentukan nilai (S) pada setiap indikator hasil belajar (penguasaan
materi) dengan menggunakan rumus:

R
S=

N

x 100

Keterangan:
S = Nilai penguasaan materi yang diharapkan (dicari); R = Jumlah skor
penguasaan materi yang diperoleh; N = Jumlah skor penguasaan materi
maksimum (dimodifikasi dari Purwanto, 2008 : 112).

51

V.

SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan, maka dapat disimpulkan bahwa:
1.

Penggunaan model pembelajaran TPS berpengaruh terhadap peningkatan
aktivitas belajar siswa pada materi pencemaran lingkungan.

2.

Penggunaan model pembelajaran TPS berpengaruh signifikan terhadap
peningkatan hasil belajar siswa pada materi pencemaran lingkungan.

B. Saran
Berdasarkan hasil penelitian dan simpulan, penulis menyampaikan saran sebagai
berikut:
1. Bagi guru atau peneliti yang akan menerapkan model pembelajaran TPS
hendaknya meminta siswa agar mengumpulkan lembar jawaban masingmasing siswa pada saat tahapan Thinking untuk mengetahui kemampuan awal
siswa sebelum siswa melakukan tahapan Pairing.
2. Model pembelajaran kooperatif tipe TPS memerlukan waktu yang cukup
lama, sehingga guru hendaknya sebelum melaksanakan proses pembelajaran

52

sebaiknya terlebih dahulu merancang kesesuaian waktu dengan materi pokok
agar pembelajaran dapat berjalan dengan efektif dan efisien.

53

DAFTAR PUSTAKA

Anderson, L. W., D. R. Krathwohl, K. A. Cruikshank, P. R. Pintrich, J. Raths,
dan M. C. Wittrock. 2000. A Taxonomy for Learning, Teaching, and
Assesing, (A Revision of Bloom Taxonomy of Educational Objectives,
Abridged Edition). Longman.Newyork.
Andra, D. 2007. Penerapan Mastery Learning Melalui discovery untuk
Meningkatkan Aktivitas dan Pencapaian Kompetensi Belajar Siswa Materi
Gerak (PTK pada Siswa Kelas VIIB SMP Negeri 8 Bandar Lampung
Tahun Pelajaran 2006/2007. Unila. Bandar Lampung
Anonim. 2001. Think Pair Share. Google.Networked Learning Community.
http://www.eazhul.org.uk/nlc/think,pair,share.htm.13 desember 2012.
Anwar. 2006. Pendidikan Kecakapan Hidup. Bandung: Alfabeta.
Arikunto, S. 2003. Dasar-Dasar Evaluasi pendidikan. Bumi Aksara. Jakarta
Ariansyah. 2009. Penguasaan Materi Pokok Sistem Reproduksi Manusia oleh
Siswa pada Penggunaan Animasi Multimedia Melalui Pembelajaran
Kooperatif Tipe Think Pair Share (TPS). FKIP Universitas Lampung.
Bandar Lampung.
Dimyati dan Mujiono. 2002. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.
Gunawan, I. 2010. Metode Kooperatif Model Think Pair Share.
http://masimamgun.blogspot.com/2010/06/metode-kooperatif-model-thinkpair.html. (29 Desember 2012)
Hake, R.R. 1999. Analizing Change/Gain Scores. Indiana University. USA.
http://physics. Indiana.edu/~sdi/AnalizingChange_Gain.pdf (21 Desember
2012; 09:05 WIB).
Hamalik, O. 2004. Pendidikan Guru Berdasarkan Pendekatan Kompetensi. Bumi
Aksara. Jakarta.
Hastriani, A. 2006. Penerapan Model Pembelajaran Pencapaian Konsep dalam
Upaya Meningkatkan Prestasi Belajar Matematika Siswa SMP.
Universitas Pendidikan Indonesia. Bandung.

54

Hidayati, A. N., N. Rustaman, S. Redjeki, dan Munandar. 2011. Training o

Dokumen yang terkait

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE THINK PAIR SHARE (TPS) TERHADAP PENINGKATAN KECAKAPAN BERPIKIR RASIONAL SISWA PADA MATERI POKOK EKOSISTEM (Studi Eksperimen pada Siswa Kelas X Semester Genap SMA Gajah Mada Bandar Lampung Tahun Pelajaran 2011/20

0 7 54

EFEKTIVITAS MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE THINK PAIR SHARE (TPS) DALAM MENINGKATKAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA (Studi pada Siswa Kelas VIII Semester Ganjil SMP Negeri 12 Bandarlampung Tahun Pelajaran 2012/2013)

0 6 60

PENGGUNAAN MEDIA KARTU BERGAMBAR MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE THINK PAIR SHARE (TPS) TERHADAP KEMAMPUAN BERPIKIR KREATIF SISWA PADA MATERI POKOK KEANEKARAGAMAN HAYATI (Kuasi Eksperimen pada Siswa Kelas X SMA Negeri 1 Kotagajah Semester Genap

0 7 57

PENGARUH PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE SNOWBALL THROWING TERHADAP AKTIVITAS BELAJAR SISWA DAN PENGUASAAN MATERI BIOLOGI PADA MATERI POKOK KINGDOM PLANTAE (Kuasi Eksperimen pada Siswa Kelas X SMA Bina Mulya Bandar Lampung Semester Genap Tah

4 58 52

PENGARUH PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF GROUP INVESTIGATION (GI) TERHADAP AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI PENCEMARAN DAN PELESTARIAN LINGKUNGAN (Kuasi Eksperimen pada Siswa Kelas X Semester Genap SMA Negeri 2 Kotaagung Tahun Pelajar

1 10 49

PENGGUNAAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE THINK PAIR SHARE (TPS) TERHADAP AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI PENCEMARAN LINGKUNGAN (Kuasi Eksperimen pada Siswa Kelas X Semester Genap SMA Negeri 12 Bandar Lampung Tahun Pelajaran 2012/2013)

0 2 49

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE THINK PAIR SHARE (TPS) TERHADAP PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIS SISWA (Studi Terhadap Siswa Kelas VIII SMP Negeri 7 Bandar Lampung Semester Genap Tahun Pelajaran 2012/2013)

0 5 38

PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE Think Pair Share (TPS) TERHADAP AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI POKOK EKOSISTEM ( Kuasi Eksperimen Pada Siswa Kelas X Semester Genap SMA Gajah Mada Bandar Lampung Tahun Pelajaran 2012/2013)

1 6 48

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN PROBLEM BASED LEARNING (PBL) TERHADAP AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA MATERI PENCEMARAN LINGKUNGAN (Studi Eksperimen pada Siswa Kelas X Semester Genap SMA Negeri 14 Bandar Lampung T.P 2014/2015)

0 6 59

PENGARUH MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE THINK PAIR SHARE (TPS) TERHADAP PEMAHAMAN KONSEP MATEMATIS SISWA (Studi pada Siswa Kelas VII Semester Genap SMP Negeri 8 Bandar Lampung Tahun Pelajaran 2013/2014)

0 20 44

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

104 3204 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

37 806 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

37 721 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

16 467 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

25 621 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

54 1067 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

55 973 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

15 587 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

24 856 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

36 1063 23