Strategi Pengembangan Usaha Pembibitan Domba (Studi Kasus pada Peternakan Tawakkal, Desa Cimande, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor)

STRATEGI PENGEMBANGAN USAHA PEMBIBITAN DOMBA
(Studi Kasus pada Peternakan Tawakkal, Desa Cimande,
Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor)

SKRIPSI
ANDINA AVIKA HASDI

DEPARTEMEN ILMU PRODUKSI DAN TEKNOLOGI PETERNAKAN
FAKULTAS PETERNAKAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2012
i

RINGKASAN
Andina Avika Hasdi. D14080083. 2012. Strategi Pengembangan Usaha Pembibitan
Domba (Studi Kasus pada Peternakan Tawakkal, Desa Cimande, Kecamatan
Caringin, Kabupaten Bogor). Skripsi. Departemen Ilmu Produksi dan Teknologi
Peternakan. Fakultas Peternakan. Institut Pertanian Bogor.
Pembimbing utama : Ir. Dwi Joko Setyono, MS
Pembimbing anggota : Dr. Ir. Moh. Yamin, M.Agr.Sc
Salah satu subsektor peternakan yang berpeluang untuk dikembangkan adalah
peternakan domba. Seiring dengan meningkatnya jumlah populasi manusia maka akan
meningkatkan kebutuhan daging sebagai sumber pangan. Cara untuk mengatasi hal
tersebut yaitu dengan melakukan pembibitan. Salah satu peternakan yang telah
memulai usaha pembibitan adalah peternakan domba Tawakkal. Usaha ini masih
tergolong baru sehingga memerlukan strategi pengembangan usaha pembibitan agar
lebih berkembang dan bertahan. Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah
untuk mengidentifikasi dan menganalisis faktor-faktor lingkungan internal dan
eksternal yang mempengaruhi pengembangan usaha pembibitan domba di Peternakan
Domba Tawakkal dan menyusun strategi yang tepat untuk mengembangan usaha
pembibitan domba di Peternakan Domba Tawakkal.
Penelitian dilaksanakan di Peternakan Domba Tawakkal yang terletak di Desa
Cimande Hilir, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor dengan menggunakan metode
studi kasus. Data yang digunakan adalah data primer diperoleh melalui pengamatan
langsung, wawancara, dan menggunakan kuisioner serta data sekunder yang diperoleh
dari literatur perpustakaan, buku, jurnal, skripsi maupun data lainnya. Metode
pengolahan data yang digunakan adalah dengan menggunakan Analisis Deskriptif,
Matriks IFE dan EFE, dan Matriks SWOT.
Perkawinan dilakukan secara alami tanpa menggunakan inseminasi buatan.
Domba yang tidak birahi tidak bisa dipaksakan kawin sehingga lamanya pejantan
dikandang kawin yaitu 2x siklus birahi atau sekitar 35 hari. Pembibitan yang
dilakukan adalah sekitar 60 hari sesudah induk beranak, induk tersebut akan
dikawinkan kembali sehingga dalam 2 tahun, domba akan beranak 3 kali. Berdasarkan
analisis faktor-faktor internal dan eksternal di usaha pembibitan domba Tawakkal,
Faktor-faktor internal yang menjadi kekuatan terbesar pada usaha pembibitan ini
adalah bibit yang dihasilkan memiliki kualitas yang baik, menggunakan induk dan
pejantan yang bagus, kandang dan lokasi peternakan yang bersih dan tidak bau. Skor
pembobotan untuk masing-masing faktor sama yaitu 0,332. Kelemahan terbesar yang
dimiliki usaha pembibitan ini adalah sistem recording yang tidak teratur (skor
pembobotan 0,332). Faktor eksternal yang menjadi ancaman terbesar pada usaha
pembibitan domba ini adalah penyebaran penyakit dari induk yang dibeli dari Jawa
(skor pembobotan 0,404). Peluang terbesar yang dimiliki usaha pembibitan ini adalah
permintaan bibit domba yang tinggi, persaingan usaha pembibitan masih sedikit, dan
tingkat kepercayaan pelanggan yang tinggi. Skor pembobotan untuk masing-masing
faktor adalah 0,404.
Strategi yang dapat diterapkan untuk pengembangan usaha pembibitan domba
Tawakkal adalah (1) mengadakan kerjasama dalam hal penelitian dan pengembangan
peternakan, (2) meningkatkan kapasitas usaha pembibitan dengan melakukan kerja
sama dengan pihak swasta dalam segi penanaman modal, (3) pengadaaan kandang
i

karantina untuk domba yang baru datang dari perjalanan jauh, (4) melakukan sistem
kontrak yang jelas dengan pihak pemasok induk, dan (5) melakukan kerjasama dengan
masyarakat dalam pengadaan hijauan. Strategi yang dapat diterapkan dalam waktu
dekat (jangka pendek) adalah mengadakan kerjasama dalam hal penelitian dan
pengembangan peternakan. Sehingga usaha pembibitan domba memiliki potensial
untuk dikembangkan dengan strategi dan manajement yang benar dan tepat.
Kata-kata kunci : Strategi, pembibitan, SWOT

ii

ABSTRACT
Development Strategy of Breeding Sheep Farming (Case Study at Tawakkal
Farm, Cimande Village, Caringin Subdistrict, Bogor District)
Hasdi, A. A, D. J. Setyono, M. Yamin
Sheep breeding becomes a key factor in the development to increase sheep population.
Nowadays, the sheep breeding is still rarely developed because it is considered as a
less profitable and more complicated business, therefore, it is very important to make
sheep breeding business development strategy. The research was aimed to identify
and analyze internal and external environments factors that influence the development
of breeding sheep in Tawakkal Sheep Farm to formulate appropriate of sheep breeding
business. This research was conducted at Tawakkal sheep farm to identify internal and
external factors of the business and by using SWOT analysis. The results showed that
sheep mating program was done naturally without the use of artificial insemination.
Breeding program was applied 3 times pregnancy in 2 years, consisting 3 periods of 8
month (5 month of pregnancy, 2 months of lactation and 1 month of mating. Based on
the SWOT analysis, the results showed that there were five steps which can be applied
for developing sheep breeding in Tawakkal Farm. Firstly, collaboration for research
and development of farm. Secondly, increase the breeding capacity by developing the
private business relation in terms of capital investment. Thirdly, devolepment a
quarantine cage for new arrival sheep. Forthly, clear contract system with the supplier.
Lastly, collaboration with public people in supplying animal feed. In conclusion,
sheep breeding business could be potential to develop with the right management
system and strategy.
Keywords: strategy, breeding, SWOT

iii

STRATEGI PENGEMBANGAN USAHA PEMBIBITAN DOMBA
(Studi Kasus pada Peternakan Tawakkal, Desa Cimande, Kecamatan
Caringin, Kabupaten Bogor)

ANDINA AVIKA HASDI
D14080083

Skripsi ini merupakan salah satu syarat untuk
memperoleh gelar Sarjana Peternakan pada
Fakultas Peternakan
Institut Pertanian Bogor

DEPARTEMEN ILMU PRODUKSI DAN TEKNOLOGI PETERNAKAN
FAKULTAS PETERNAKAN
INSTITUT PERTANIAN BOGOR
2012
iv

vi

RIWAYAT HIDUP
Penulis dilahirkan pada tanggal 13 Desember 1990 di Pontianak, Kalimantan
Barat. Penulis adalah anak kedua dari dua bersaudara, dari pasangan bapak Ery Hasdi
Ahmad dan ibu Lusfiani.
Penulis mengawali pendidikan dasar pada tahun 1997 di SD Muhammadiyah 2
Pontianak dan pindah ke SD Islam Masyithah Bukittinggi dan diselesaikan pada tahun
2003. Pendidikan lanjutan tingkat pertama dimulai pada tahun 2003 dan diselesaikan
pada tahun 2005 di Sekolah Menengah Pertama Negeri 1 Bukittinggi. Penulis
melanjutkan pendidikan di Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Bukittingi pada tahun
2005 dan diselesaikan pada tahun 2008.
Penulis diterima di Institut Pertanian Bogor pada tahun 2008 melalui jalur
Undangan Seleksi Masuk IPB (USMI) dan diterima di Departemen Ilmu Produksi dan
Teknologi Peternakan, Fakultas Peternakan pada tahun 2009. Selama kuliah penulis
aktif dalam berbagai kegiatan organisasi mahasiswa diantaranya, Staf Kementerian
Sosial Lingkungan dan Kemasyarakatan Badan Eksekutif Mahasiswa Keluarga
Mahasiswa IPB 2010-2011, staf Kewirausahaan Ikatan Senat Mahasiswa Peternakan
Seluruh Indonesia (ISMAPETI) Wilayah 2, staf Biro Public Relation BEM Fakultas
Peternakan 2009-2010, Tim Advertising Majalah Emulsi 2009-2010 dan Anggota
Paduan Suara Agriaswara. Prestasi yang pernah diraih yaitu sebagai Duta Lingkungan
Fakultas Peternakan 2010-2011, Program Kreatifitas Mahasiswa (PKM) bidang
pengabdian masyarakat didanai dikti pada tahun 2010. Penulis berkesempatan menjadi
penerima Djarum Beasiswa Plus pada tahun 2010-2011.

vi

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur penulis panjatkan kehadirat Allah SWT yang telah
mencurahkan rahmat dan karunia-Nya kepada penulis sehingga penulis dapat
menyelesaikan skripsi yang berjudul “Strategi Pengembangan Usaha Pembibitan
Domba (Studi Kasus pada Peternakan Tawakkal, Desa Cimande, Kecamatan Caringin,
Kabupaten Bogor)” ini dengan baik. Shalawat beserta salam semoga selalu tercurah
kepada Nabi Muhammad SAW. Penelitian ini dilakukan atas dasar ketertarikan yang
besar dari penulis terhadap strategi pengembangan usaha bidang peternakan
mengingat masih besarnya peluang untuk mengembangkan sektor usaha peternakan
khususnya pembibitan domba. Penelitian ini menganalisis faktor internal dan eksternal
yang mempengaruhi kegiatan usaha pembibitan domba untuk selanjutnya menyusun
strategi pengembangan usaha yang tepat. Hasil penelitian ini diharapkan dapat
memberikan manfaat bagi semua pihak terutama pada usaha pembibitan domba di
peternakan Tawakkal agar lebih berkembang.
Penulis menyadari bahwa dalam penyusunan skripsi ini masih banyak
kekurangan mengingat keterbatasan dan kendala yang dihadapi. Oleh karena itu kritik
dan saran yang membangun sangat diharapkan guna penyempurnaan skripsi ini.
Semoga skripsi ini dapat memperkaya ilmu pengetahuan serta menjadi karya terindah
yang bermanfaat bagi kehidupan.

Bogor, April 2012

Andina Avika Hasdi

vii

DAFTAR ISI
halaman
RINGKASAN ................................................................................................

i

ABSTRACT ...................................................................................................

iii

LEMBAR PERNYATAAN …………………………………………………

iv

LEMABAR PENGESAHAN………………………………………………..

v

RIWAYAT HIDUP…………………………………………………………..

vi

KATA PENGANTAR………………………………………………………..

vii

DAFTAR ISI………………………………………………………………....

viii

DAFTAR TABEL……………………………………………………………

x

DAFTAR GAMBAR………………………………………………………...

xi

DAFTAR LAMPIRAN………………………………………………………

xii

PENDAHULUAN .........................................................................................

1

Latar Belakang ...................................................................................
Tujuan Penelitian ...............................................................................

1
2

TINJAUAN PUSTAKA .................................................................................

3

Domba ..................................................................................................
Usaha Ternak Domba...........................................................................
Usaha Pembibitan.....................................................................
Usaha Penggemukan ...............................................................
Strategi Pengembangan Usaha ...........................................................
Analisis Lingkungan Internal ...................................................
Analisis Lingkungan Eksternal ................................................
Analisis SWOT ........................................................................

3
5
6
7
8
9
10
12

MATERI DAN METODE .............................................................................

14

Lokasi dan Waktu ..............................................................................
Materi .................................................................................................
Prosedur .............................................................................................
Desain Penelitian......................................................................
Rancangan dan Analisis Data ..............................................................

14
14
14
15
15

HASIL DAN PEMBAHASAN ......................................................................

18

Kondisi Umum Usaha ........................................................................
Lokasi Usaha ............................................................................
Status Usaha .............................................................................
Kandang ...................................................................................
Pakan ........................................................................................
Tenaga Kerja ............................................................................
Pencegahan dan Perwatan Kesehatan ......................................

18
18
18
18
19
19
19
viii

Bibit ..........................................................................................
Sistem Perkawinan ...................................................................
Produktivitas ............................................................................
Analisis keuntungan .................................................................
Analisis Lingkungan Internal .............................................................
Manajemen SDM .....................................................................
Manajemen Pembibitan............................................................
Pemasaran ................................................................................
Analisis Lingkungan Eksternal ............................................................
Potensi Pasar ............................................................................
Ekonomi ...................................................................................
Persaingan Usaha .....................................................................
Sosial Budaya ...........................................................................
Kebijakan Pemerintah Daerah..................................................
Kekuatan Tawar Menawar .......................................................
Penyusunan Strategi Pengembangan ...................................................
Matriks IFE ..............................................................................
Matriks EFE .............................................................................
Analisis SWOT ........................................................................

20
20
21
23
24
24
26
31
33
33
34
35
36
37
38
39
40
43
45

KESIMPULAN DAN SARAN .......................................................................
Kesimpulan .........................................................................................
Saran.....................................................................................................

50
50
51

UCAPAN TERIMA KASIH ...........................................................................

52

DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................

53

LAMPIRAN …………………………………………………………………..

56

ix

DAFTAR TABEL
Nomor

halaman

1. Data Teknis Reproduksi Ternak Domba ............................................

4

2. Model Matriks IFE …………………………………………………..

16

3. Model Matriks EFE………………………………………………......

16

4. Data Koefisien Teknis dan Reproduksi………………………………

21

5. Keuntungan Usaha Pembibitan……………………………………….

23

6. Karakteristik Sumber daya Manusia …………………………………

24

7. Komposisi Ampas Tahu ……………………………………………..

27

8. Kegiatan Manajemen Pembibitan Domba …………………………..

30

9. Usaha Peternakan Domba di Wilayah Bogor ……………………….

35

10. Hasil Matriks Internal Factor Evaluation …………………………..

43

11. Hasil Matriks Internal Factor Evaluation …………………………..

45

x

DAFTAR GAMBAR
Nomor

halaman

1. Matriks Analisis SWOT...................................................................

17

2. Siklus Reproduksi Domba ...............................................................

22

3. Hasil Analisis Matriks SWOT……………………………………

49

xi

DAFTAR LAMPIRAN
Nomor

Halaman

1. Data Kuantitatif Bibit Domba………………………………………

57

2. Analisis Matriks EFE ………………………………………………..

58

3. Analisis Matriks IFE…………………………………………………

59

4. Kata Kunci Pertanyaan Terbuka dalam Indentifikasi Faktor Internal

60

5. Kata Kunci Pertanyaan Terbuka dalam Indentifikasi Faktor Eksternal

61

6. Rekapan Pembobotan dan Peringkat pada Faktor Internal………….

62

7. Rekapan Pembobotan dan Peringkat pada Faktor Eksternal………..

63

xii

PENDAHULUAN
Latar Belakang
Peternakan merupakan sektor yang berpeluang untuk dikembangkan sebagai
sebuah usaha. Salah satu subsektor peternakan yang berpeluang untuk dikembangkan
adalah peternakan domba. Usaha peternakan domba termasuk salah satu jenis usaha
yang harus mendapat perhatian untuk dikembangkan. Populasi domba di Indonesia
tahun 2011 adalah 11.372.000 ekor (Direktorat Jenderal Peternakan, 2012). Jumlah
populasi manusia Indonesia tahun 2010 adalah 237.641.326 jiwa (Badan Pusat
Statistik Republik Indonesia, 2012). Seiring dengan meningkatnya jumlah populasi
manusia maka akan meningkatkan kebutuhan daging sebagai sumber pangan yang
salah satunya berasal dari daging domba. Peternakan domba di Indonesia saat ini
belum berkembang dengan baik dan masih dikembangkan dengan skala kecil yaitu
peternakan rakyat padahal domba memiliki kelebihan mudah dalam beradaptasi
dengan lingkungan dan lebih mudah dalam pemeliharaan.
Populasi domba terbesar berada di wilayah Jawa Barat yang mana pada tahun
2011 berjumlah 6.768.735 ekor yang hampir 50% dari jumlah populasi nasional.
Kabupaten Bogor merupakan wilayah yang memiliki jumlah domba yang cukup
banyak. Populasi ternak domba tahun 2010 di kabupaten Bogor adalah 280.798 ekor
(Dinas Peternakan Provinsi Jawa Barat, 2012). Salah satu peternakan yang telah
melakukan usaha ternak domba adalah peternakan Tawakkal yang berada di Desa
Cimande, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor. Usaha Peternakan yang dilakukan
pada awalnya bergerak dibidang penggemukan domba. Usaha penggemukan domba
ini dirintis sejak tahun 1993. Usaha penggemukan pun berkembang dan mengalami
peningkatan permintaan domba. Permintaan domba yang semakin bertambah,
mengakibatkan peternakan Tawakkal kesulitan untuk mendapatkan bakalan untuk
digemukkan sehingga pemilik peternakan berkeinginan untuk dapat menyediakan
bakalan sendiri yang berkualitas maka peternakan ini memulai untuk melakukan
usaha pembibitan domba. Peternakan Domba Tawakkal pun melakukan pembibitan
domba pada tahun 2010.
Pembibitan domba adalah salah satu usaha untuk memperbanyak produksi
domba yang bertujuan untuk menghasilkan keturunan sehingga jumlah ternaknya
bertambah banyak serta mutunya pun meningkat (Sugeng, 2007). Usaha pembibitan
1

domba ini dilakukan untuk dapat terus menyediakan ternak domba yang berkualitas,
namun masih sedikit peternak yang mau mencoba dan memulai untuk pembibitan
domba karena dinilai rumit dan sulit untuk dilakukan. Keberhasilan usaha
pembibitan ternak domba tidak bisa dipisahkan dengan pemilihan induk atau
pejantan yang memiliki sifat-sifat yang baik.
Pembibitan domba yang dilakukan di peternakan Tawakkal masih tergolong
baru sehingga perlu dilakukan suatu strategi khusus. Salah satu kendala
berkembangnya usaha pembibitan ini adalah keterbatasan modal serta jumlah
kandang yang digunakan. Strategi merupakan alat untuk mencapai tujuan (Rangkuti,
1997), yang merupakan rencana yang disatukan, luas dan terintegrasi yang
menghubungkan keunggulan perusahaan dengan tantangan lingkungan dan dirancang
untuk memastikan bahwa tujuan utama perusahaan dapat dicapai melalui
pelaksanaan yang tepat oleh organisasi (Jauch dan Glueck, 1995). Usaha pembibitan
domba di peternakan

Tawakkal membutuhkan strategi

yang tepat untuk

mengembangkan usaha pembibitannya sehingga perlu dilakukan penyusunan strategi
pengembangan usaha pembibitan domba di peternakan Tawakkal.
Tujuan Penelitian
Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah untuk :
1. Mengidentifikasi dan menganalisis faktor-faktor lingkungan internal dan
eksternal yang mempengaruhi pengembangan usaha pembibitan domba di
Peternakan Domba Tawakkal.
2. Penyusunan strategi yang tepat untuk mengembangan usaha pembibitan
domba di Peternakan Domba Tawakkal.

2

TINJAUAN PUSTAKA
Domba
Menurut Tomaszewska et al. (1993) domba berasal dari Asia, yang terdiri
atas 40 varietas. Domba-domba tersebut menyebar hampir di setiap negara. Ternak
domba merupakan hasil domestikasi domba Argali (Ovis ammon), domba Urial (Ovis
vignei) yang berasal dari Asia Tengah dan domba Moufflon (Ovis muimon) yang
berasal dari Asia kecil dan Eropa. Semua domba mempunyai karakteristik yang sama
sehingga diklasifikasikan sebagai kingdom Animalia, phylum Chordata atau hewan
bertulang belakang, class Mammalia atau hewan menyusui, ordo Artiodactyla atau
hewan berkuku genap, family Bovidae atau hewan memamah biak, genus Ovis,
spesies Ovis aries.
Jenis domba lokal antara lain domba garut dan domba ekor tipis. Menurut
Merkens dan Soemirat (1926) yang dicatat oleh Heriyadi (2002), bahwa asal usul
domba Priangan adalah merupakan perkawinan silang segi tiga, antara domba lokal
dengan domba Merino dan kemudian dengan domba Kaapstad dari Afrika. Menurut
Heryadi (2002) domba Priangan/Garut memiliki ciri-ciri morfologi yang meliputi:
(1). Kepala pendek, lebar dan dalam serta profilnya cembung. (2).Ekornya berbentuk
segitiga terbalik dengan timbunan lemak pada pangkal ekor dan mengecil pada
bagian bawah. (3). Telinga rumpung sampai ngadaun hiris (4 – 8 cm) (4). Domba
Priangan yang jantan bertanduk besar, kokoh dan melingkar sedangkan domba betina
tidak bertanduk, kalaupun bertanduk ukurannya kecil. (5). Domba jantan memiliki
bobot badan rata-rata 57,74 kg dan yang betina adalah 36,89 kg. (6). Warna bulu
pada domba Priangan adalah masih berkombinasi ada yang hitam, coklat dan putih.
Domba Priangan/Garut mencapai pubertas pada umur 7 – 10 bulan dengan
bobot badan rata-rata untuk jantan 16,8 – 24,0 kg dan betina 14,5 kg. Bobot badan
pada waktu pubertas berkisar antara 38 – 60% dari bobot badan dewasa. Jarak
kelahiran domba Priangan/Garut adalah 240 hari (8 bulan) atau dalam dua tahun
dapat melahirkan tiga kali. Hal ini disebabkan karena pada umumnya kegiatan
reproduksi domba-domba di Indonesia berlangsung sepanjang tahun (Toelihere,
1985).
Einstiana (2006) menyatakan bahwa jenis domba ekor tipis memiliki tubuh
yang kecil, sehingga disebut domba kacang atau biasa dikenal sebagai domba Jawa.
3

Ekor relatif kecil dan tipis, bulu badan berwarna putih, kadang-kadang berwarna lain,
belang-belang hitam di sekitar mata, hidung atau bagian tubuh lain. Domba betina
umumnya tidak memiliki tanduk, sedangkan pada jantan memiliki tanduk kecil dan
melingkar. Gatenby (1991) menyatakan bahwa domba ekor tipis jawa memiliki berat
sekitar 20 kg, tatepi terdapat variasi. Domba yang hidup di dataran tinggi memiliki
berat badan rata-rata sebesar 27 kg, sedangkan dataran rendah sebesar 16 kg. Domba
ekor tipis Jawa termasuk domba prolifik, dan secara umum mampu menghasilkan
dua sampai tiga anak dalam satu kelahiran.
Williamson dan Payne (1993) menyatakan bahwa domba lokal di daerah
tropik dapat kawin sepanjang tahun. Namun, hal ini memberikan dampak pada
persentase beranak cenderung rendah. Dewasa kelamin yang dicapai domba di
daerah tropik akan lebih lambat dibandingkan domba di daerah dingin. Perkawinan
yang baik biasanya dilakukan setelah 12 – 34 jam mengalami birahi yang merupakan
puncak birahi pada betina. Biasanya tingkat keberhasilannya 90% untuk
menghasilkan betina bunting dengan lama bunting 5 bulan. Data teknis reproduksi
ternak domba pada Tabel 1.
Tabel 1. Data Teknis Reproduksi Ternak Domba
Parameter

Jantan

Betina

Masak kelamin

6-8 bulan

6-8 bulan

Kawin pertama

>12bulan

12-15 bulan

Siklus birahi

-

Setiap 17 hari sekali

Lama birahi

-

30-40 jam

Lama bunting

-

5-6 bulan (144-152 hari)

Afkir

6-8 tahun

5 tahun

Sumber : Sudarmono dan Sugeng (2005)

Suharno dan Nazarudin (1994) mengatakan bahwa pakan domba dapat
dikelompokkan menjadi dua macam, yaitu hijauan sebagai makanan utama dan
konsentrat sebagai makanan tambahan. Jumlah pemberian konsentrat untuk induk
bunting tua adalah 0,5 kg/ekor/hari dimulai pada 1,5 bulan menjelang kelahiran.
Jumlah pemberian konsentrat untuk induk yang sedang menyusui disesuaikan dengan
4

jumlah anak yang disusuinya, induk yang memiliki 1 ekor anak, cukup diberi
konsentrat 0,9 kg/ekor/hari, induk yang beranak 2 ekor atau lebih diberi konsentrat
sebanyak 1,4 kg/ekor/hari dan pejantan yang sedang dipergunakan sebagai pemacek
perlu diberi konsentrat sebanyak 0,5-1,0 kg/ekor/hari. Hadiningrum (2006) dalam
penelitiannya menyatakan faktor nutrisi menjadi sangat penting artinya dalam usaha
menghasilkan daging yang berkualitas baik. Pakan yang bermutu tinggi, murah dan
tersedia sepanjang tahun merupakan criteria yang digunakan dalam pemilihan jenis
pakan. Jenis pakan yang digunakan pada usaha domba Tawakkal adalah hijauan
berupa rumput lapang dan ampas tahu. Pengadaan rumput lapang dilakukan setiap
hari dengan jumlah konsumsi per ekor per hari sekitar 2,25 kg. Rumput lapang yang
digunakan adalah rumput lapang yang tidak terlalu muda dan terlalu tua.
Usaha Ternak Domba
Peternakan merupakan salah satu subsektor pertanian. Pemeliharaan ternak
dianggap sebagai bagian dari pekerjaan bertani. Kondisi ini tercermin dari intregrasi
yang dilakukan oleh petani peternak dengan menggabungkan usaha pertanian dengan
pemeliharaan ternak (Suharno dan Nazaruddin, 1994). Usaha ternak domba sudah
lama dikembangkan di Indonesia namun pemeliharaannya masih bersifat tradisional
artinya usaha tersebit hanya memenuhi kebutuhan sendiri dan bersifat sambilan
(Sugeng, 2007). Beternak domba merupakan salah satu yang dapat diandalkan untuk
meningkatkan kehidupan peternak karena keunggulannya. Ternak domba di
Indonesia kebanyakan diusahakan oleh petani ternak di daerah pedesaan. Domba
yang diusahakan umumnya dalam jumlah kecil, 3-5 ekor per keluarga, dipelihara
secara tradisonal dan merupakan bagian dari usahatani sehingga tingkat pendapatan
yang diperolehpun kecil (Sugeng dan Sudarmono, 2005). Domba merupakan salah
satu jenis ternak potong kecil yang memberikan beberapa keuntungan, seperti : a)
mudah beradaptasi dengan lingkungan, b) cepat berkembang biak, c) memiliki sifat
hidup berkelompok, d) modal yang dibutuhkan kecil (Sugeng, 2007).
Potensi ekonomi lainnya yang dimiliki ternak domba diantaranya modal
usaha cepat berputar karena pemasaran yang mudah, proses perkembangbiakanya
dapat diatur, dan ternak domba suka bergerombol sehingga dalam hal tenaga kerja
yang melakukan sistem penggembalaan akan lebih efisien (Mulyono, 2005). Pasar
ternak domba masih terbuka (belum jenuh). Selera konsumen untuk menikmati
5

daging domba dalam bentuk sate atau gulai cukup besar. Dikatakan perkembangan
kota-kota besar dan ilmu pengetahuan serta perbaikan pendapatan mendorong
masyarakat untuk memenuhi gizi, khususnya protein hewani termasuk daging
domba. Hasil penelitian Winarso (2000), mengenai analisis pemasaran ternak domba
di Kabupaten Bogor mengungkapkan bahwa harga domba yang dipasarkan tidak
dipengaruhi oleh kualitas domba karena domba yang dipasarkan pada umumnya
adalah untuk ternak potong kecuali konsumen membeli domba untuk keperluan
tertentu, misalnya pembibitan atau acara keluarga. Kusumaningrum (2004) dalam
penelitiannya menjelaskan bahwa bangsa domba yang dipelihara peternak biasanya
adalah domba garut dan domba lokal. Domba tersebut dikelompokkan berdasarkan
tujuan pemeliharaan, yaitu untuk pembibitan, pembesaran dan penggemukkan.
Usaha Pembibitan Domba
Usaha ternak domba sudah lama dikembangkan di Indonesia, salah satu jenis
usaha ternak domba adalah usaha pembibitan. Pembibitan merupakan salah satu
usaha untuk menghasilkan bibit. Keberhasilan dalam usaha ternak domba sangat
ditentukan oleh bibit domba yang digunakan dalam usahaternak domba. Menurut
Blakely, J dan D. H. Bade (1991) mengemukakan cara seleksi seekor domba
bervariasi, tergantung pada tujuan pemanfaatan domba itu. Seleksi dilakukan dengan
menggunakan berbagai teknik yang dapat dibagi menjadi seleksi berdasarkan
penilaian (judging) individual, seleksi berdasarkan silsilah, seleksi berdasarkan
penampilans atau performans, serta seleksi berdasarkan pengujian atau test produksi.
Mulyono (2005) menyatakan bahwa syarat calon induk yaitu ukuran badan besar,
tetapi tidak terlalu gemuk, bentuk tubuh kompak, dada dalam dan lebar, garis
punggung dan pinggang lurus, bulu bersih dan mengkilap. Keempat kakinya lurus
dan terlihat kokoh serta tumit tinggi, tidak ada cacatdi bagian tubuhnya, bentuk dan
ukuran alat kelamin normal, umur lebih dari 1 tahun, jumlah gigi dipilih yang
lengkap dan berdasarkan buku catatan, domba yang dipilih yang lahir kembar atau
kelahiran tunggal yang berasal dari induk muda dan mempunyai pertumbuhan yang
baik.
Syarat calon pejantan yang baik adalah ukuran badan normal, tubuh panjang,
dan besar, bentuk perut normal, dada dalam dan lebar, kakinya kokoh, lurus, kuat
dan terlihat tonjolan tulang yang besar pada kaki serta mata tidak rabun atau buta.
6

Pertumbuhanya relative cepat, gerakanya lincah dan terlihat ganas, alat kelaminya
normal dan simetris serta sering terlihat ereksi, tidak pernah mengalami penyakit
yang serius, umurnya antara 15 bulan hingga 5 tahun dan calon pejantan berasal dari
kelahiran kembar dan berasal dari induk dengan jumlah anak lahir lebih dari dua.
Bila berasal dari kelahiran tunggal, pilih pejantan yang berasal dari induk dengan
jumlah anak satu (Mulyono, 2005). Pemilihan bibit harus memperhatikan usia ternak
yang masih muda dan tidak pernah terserang penyakit yang membahayakan
(Duldjaman dan Rahayu, 1996). Menurut Dinas Peternakan (1997), bibit ternak yang
baik juga harus berbulu bersih dan mengkilat serta mempunyai daya adaptasi tinggi
terhadap lingkungan.
Usaha Penggemukan Domba
Penggemukan domba adalah pemeliharaan domba yang bertujuan untuk
menghasilkan jumlah dan kualitas daging yang baik sebagai mana dikehendaki
konsumen (Sugeng, 2007). Hasil penelitian Hadiningrum (2006) mengatakan bahwa
bakalan yang digemukkan adalah domba ekor tipis dan domba garut. Pertambahan
bobot badan domba Tawakkal selama periode penggemukan dapat mencapai 9-10 kg
per ekor atau sekitar 110 gram ekor per hari. Cara penggemukan di usaha ternak
domba Tawakkal menggunakan sistem dry lot fattening.
Sugeng (2007) mengatakan bahwa dry lot fattening merupakan salah satu
cara penggemukan dimana domba-dombayang digemukkan tinggal di dalam
kandang terus-menerus. Domba-domba tersebut tidak digembalakan karena semua
kebutuhan pakan telah terpenuhi dan disediakan dalam kandang oleh kepala
kandang. Keuntungan sistem ini adalah domba cepat menjadi gemuk karena banyak
mendapat unsure protein, karbohidrat, dan lemak. Usaha penggemukan domba ekor
tipis akhir-akhir ini cukup diminati oleh masyarakat sebagai usaha ternak komersial
karena usaha ini dinilai lebih ekonomis, relative lebih cepat, rendah modal serta lebih
praktis (Yamin, 2001).
Strategi Pengembangan Usaha
Strategi adalah rencana yang disatukan, luas dan terintegrasi yang
menghubungkan keunggulan perusahaan dengan tantangan lingkungan, dan
dirancang untuk memastikan bahwa tujuan utama perusahaan dapat dicapai melalui
pelaksanaan yang tepat oleh organisasi (Jauch dan Glueck, 1995). Menurut Rangkuti
7

(1997), strategi merupakan alat untuk mencapai tujuan. Strategi menjelaskan
bagaimana perusahaan akan mencapai semua tujuan yang telah ditetapkan
berdasarkan misi yang telah ditentukan sebelumnya. Ada beberapa strategi
pengembangan penting yang perlu mendapat perhatian. Termasuk didalamnya tujuan
yang jelas dari pemeliharaan, pengembangan kesempatan berproduksi yang
berkelanjutan, penelitian berkelanjutan dan pengabsahan hasil-hasil penelitian
(Mastika et al., 1993).
Rangkuti (1997) mengatakan bahwa suatu perusahaan dapat mengembangkan
strategi untuk mengatasi ancaman eksternal dan merebut peluang yang ada. Proses
analisis, perumusan dan evaluasi strategi-strategi itu disebut perencanaan strategis.
Tujuan utama perencanaan strategis adalah agar perusahaan dapat melihat secara
obyektif kondisi-kondisi internal dan eksternal, sehingga perusahaan dapat
mengantisipasi perubahan lingkungan eksternal.
Rangkuti (1997) menyatakan bahwa pada perinsipnya strategi dapat
dikelompokkan bersadarkan tiga tipe strategi yaitu, strategi manajemen, strategi
investasi dan strategi bisnis. Strategi manajemen meliputi strategi yang dapat
dilakukan oleh manajemen dengan orientasi pengembangan strategi secara makro
misalnya, strategi pengembangan produk, strategi penerapan harga, strategi akuisisi,
strategi pengembangan pasar, strategi mengenai keuangan dan sebagainya. Strategi
investasi adalah kegiatan yang berorientasi pada investasi. Misalnya, apakah
perusahaan ingin melakukan strategi pertumbuhan yang agresif atau berusaha
mengadakan penetrasi pasar, strategi bertahan, strategi pembangunan kembali suatu
divisi baru atau strategi divestasi, dan sebagainya. Strategi bisnis ini berorientasi
pada fungsi-fungsi kegiatan manajemen, misalnya strategi pemasaran, strategi
produksi atau operasional, strategi distribusi, strategi organisasi, dan strategi-strategi
yang berhubungan dengan keuangan.
Analisis Lingkungan Internal
Lingkungan internal merupakan lingkungan organisasi yang berada di dalam
organisasi tersebut dan secara normal memiliki implikasi langsung dan khusus pada
perusahaan. Pearce dan Robinson (1997) mengungkapkan bahwa lingkungan internal
meliputi faktor- faktor internal perusahaan yang teridentifikasi sebagai kekuatan
(strengths) atau kelemahan (weaknesses) yang digunakan untuk mengembangkan
8

serangkaian langkah strategik bagi perusahaan. Tujuan analisis lingkungan internal
adalah untuk dapat menilai kekuatan dan kelemahan dalam mencapai tujuan
perusahaan. Identifikasi faktor yang menjadi kekuatan dan kelemahan adalah dalam
upaya untuk memanfaatkan peluang dan menghindari ancaman. David (2009)
membagi bidang fungsional bisnis menjadi beberapa variabel dalam analisis
lingkungan internal, yaitu :
1. Manajemen
Manajemen merupakan suatu tingkatan sastem pengaturan organisasi yang
mencakup sistem produksi, distribusi, pemasaran, pengelolaan sumber daya manusia,
dan keuangan. Fungsi manajemen terdiri atas lima aktivitas besar yaitu perencanaan
(planing), pengorganisasian (organizing), pelaksanaan (actuating), pengarahan
(leading), serta pengontrolan (controling).
2. Pemasaran
Pemasaran dapat diuraikan sebagai proses menetapkan, menciptaka, dan
memenuhi kebutuhan dan keinginan pelanggan akan produk. Ada tujuh fungsi dasar
pemasaran yaitu (a). analisis pelanggan, (b). menjual produk, (c). merencanakan
produk dan jasa, (d). menetapkan harga, (e). distribusi, (f). riset pemasaran, dan (g).
analisis peluang.
3. Keuangan
Kondisi keuangan sering dianggap ukuran tunggal terbaik dari posisi bersaing
perusahaan dan daya tarik bagi investor. Menetapkan kekuatan dan kelemahan
keuangan amat penting utnuk merumuskan strategi secara efektif.
4. Produksi dan Operasi
Fungsi produksi terdiri dari aktivitas mengubah masukan (input) menjadi
barang atau jasa (output). Manajemen produksi dan operasi menangani masukan,
pengubahan, dan keluaran yang bervariasi antar industri dan pasar..
5. Penelitian dan Pengembangan
Istilah penelitian dan pengembangan digunakan untuk menggambarkan
beragam kegiatan. Dalam beberapa institusi, para ilmuwan melakukan penelitian dan
pengembangan dasar di laboratorium dan berkonsentrasi pada masalah teoritis,

9

sementara di perusahaan para ahli melakukan pengembangan prodik dengan
berkonsentrasi pada peningkatan kualitas produk.
6. Sumber Daya Manusia
Sumber Daya Manusia merupakan aset utama bagi perusahaan. Strategi yang
terbaik sekalipun tidak akan menjadi berarti apabila sumber daya manusianya tidak
memiliki kemampuan yang memadai untuk menjalankan tugas-tugas tersebut.
Kualitas SDM sangat berpengaruh terhadap kinerja, kepuasan karyawan, maupun
keberlangsungan hidup perusahaan.
7. Sistem Informasi Manajemen
Sistem

infomasi

manajemen

bertujuan

untuk

meningkatkan

kinerja

perusahaan dengan cara meningkatkan kulitas keputusan manajerial. Sistem
informasi manajemen yang efektif berusaha mengumpulkan, memebri kode,
menyimpan, mensintesa emudian baru menyjikan informasi yang bernama database.
Dengan adanya database perusahaan dapat melaksanakan kegiatan operasional dan
menyusun strategi secara akurat.
Analisis Lingkungan Eksternal
David (2009) menjelaskan bahwa analisis terhadap lingkungan eksternal
bertujuan untuk mengidentifikasi peluang dan ancaman yang dihadapi suatu
perusahaan sehingga manajemen perusahaan memiliki kemampuan untuk dapat
merumuskan suatu strategi. Analisis lingkungan eksternal menekankan pada evaluasi
terhadap peristiwa di luar kendali sebuah perusahaan. Tujuan dari analisis
lingkungan eksternal adalah untuk mengembangkan daftar terbatas peluang yang
dapat dimanfaatkan perusahaan dan ancaman yang dihindari. Lingkungan eksternal
perusahaan merupakan lingkungan yang terdiri dari faktor-faktor yang dapat menjadi
peluang (opportunities) dan ancaman (threats) yang berada di luar pengawasan dan
kontrol pihak manajemen perusahaan (Pearce dan Robinson, 1997). Pearce dan
Robinson (1997) membagi lingkungan eksternal menjadi tiga sub kategori faktor
yang saling berkaitan yakni faktor-faktor dalam lingkungan jauh (remote), faktorfaktor dalam lingkungan industri, dan faktor-faktor dalam lingkungan operasional.
Faktor-faktor tersebut dijelaskan sebagai berikut:
1. Lingkungan Jauh
10

Lingkungan jauh perusahaan terdiri dari faktor- faktor yang pada dasarnya di
luar dan terlepas dari perusahaan. Menurut Pearce dan Robinson (1997), lingkungan
jauh adalah faktor- faktor yang bersumber dari luar, dan biasanya tidak berhubungan
dengan situasi operasional suatu perusahaan tertentu. Faktor- faktor tersebut meliputi
faktor politik, ekonomi, sosial, dan teknologi (PEST).
Faktor politik adalah peraturan-peraturan, undang-undang dan kebijaksanaan
pemerintah baik pada tingkat nasional, propinsi maupun daerah yang menentukan
beroperasinya suatu perusaha an. Arah, kebijakan, dan stabilitas politik pemerintah
menjadi faktor penting bagi para pengusaha untuk berusaha. Oleh karena itu, faktorfaktor politik, pemerintah, dan hukum dapat mencerminkan peluang atau ancaman
kunci untuk organisasi kecil dan besar (David, 2009).
Faktor ekonomi berkaitan dengans sifat dan arah sistem ekonomi tempat
suatu perusahaan beroperasi (Pearce dan Robinson, 1997). Beberapa faktor kunci
yang perlu diperhatikan dalam menganalisis faktor ekonomi adalah siklus bisnis,
ketersediaan energi, inflasi, suku bunga, investasi, harga-harga produk dan jasa,
produktivitas dan tenaga kerja (Umar, 2003).
Faktor sosial yang mempengaruhi suatu perusahaan adalah kepercayaan,
nilai, sikap, opini, dan gaya hidup orang-orang di lingkungan ekstern perusahaan.
Faktor-faktor tersebut biasanya dikembangkan dari kondisi kultural, ekologis,
demografis, religius, pendidikan dan etnis.
Faktor teknologi perlu diperhatikan untuk menghindari keusangan dan
mendorong inovasi karena dapat mempengaruhi industri. Adaptasi teknologi yang
kreatif dapat membuka kemungkinan terciptanya produk baru, penyempurna produk
yang sudah ada, atau penyempurnaan dalam teknik produksi dan pemasaran.
2. Lingkungan Industri
Struktur industri mempunyai pengaruh yang kuat dalam menentukan aturan
persaingan dan strategi yang secara potensial tersedia bagi perusahaan. Analisis
struktur industri merupakan penunjang fundamental untuk menentukan posisi relatif
perusahaan yang kemudian dapat digunakan untuk merumuskan strategi keunggulan
bersaing. Lingkungan industri terdiri dari hambatan masuk, kekuatan pemasok,
kekuatan pembeli, ketersediaan substitusi dan persaingan antar perusahaan.

11

3. Lingkungan Operasional
Strategi dan tujuan perusahaan dipengaruhi oleh daya tarik industri dimana
mereka memilih untuk menjalankan bisnis dan posisi daya saingnya dalam industri
tersebut. Lingkungan operasional terdiri dari pesaing, pelanggan, kreditor, tenaga
kerja, dan pemasok.
Analisis SWOT
Rangkuti (1997) mengatakan bahwa analisis SWOT adalah indentifikasi
berbagai faktor secara sistematis untuk merumuskan strategi perusahaan. Analisis ini
didasarkan pada logika yang dapat memaksimalkan kekuatan (strengths) dan peluang
(opportunities), namun secara bersamaan

dapat

meminimalkan

kelemahan

(weakness) dan ancaman (threats). Proses pengambilan keputusan strategis selalu
berkaitan dengan pengembangan misi, tujuan, strategi, dan kebijakan perusahaan.
SWOT adalah singkatan dari lingkungan Internal Strengths dan Weaknesses serta
lingkungan eksternal Opportunities dan Threats yang dihadapi dunia bisnis. Analisis
SWOT membandingkan antara faktor eksternal peluang (opportunities) dan ancaman
(threats ) dengan faktor internal kekuatan (strengths) dan kelemahan (weakness).
Alat yang dipakai untuk menyusun faktor-faktor strategis perusahaan adalah
matrix SWOT. Matrix ini dapat menggambarkan secara jelas bagaimana peluang
dan ancaman eksternal yang dihadapi perusahaan dapat disesuaikan dengan kekuatan
dan kelemahan yang dimilikinya. Matrix ini dapat menghasilkan empat set
kemungkinan alternatif strategis. 1) Strategi S-O, strategi ini dibuat berdasarkan jalan
pikiran perusahaan, yaitu dengan memanfaatkan seluruh kekuatan untuk merebut dan
memanfaatkan peluang sebesar-besarnya; 2) Strategi W-O, strategi yang diterapkan
berdasarkan pemanfaatan peluang yang ada dengan cara meminimalkan kelemahan
yang ada; 3) Strategi S-T, strategi dalam menggunakan kekuatan yang dimiliki
perusahaan untuk mengatasi ancaman; dan 4) Strategi W-T, strategi yang didasarkan
pada kegiatan yang bersifat defensif dan berusaha meminimalkan kelemahan yang
ada serta menghindari ancaman.
Analisis ini dilakukan untuk melihat kelemahan, kekuatan, peluang dan
ancaman dalam merencanakan pengembangan usaha pembibitan domba di
Peternakan Tawakkal Farm. Beberapa faktor yang dianalisis adalah internal yang
meliputi kekuatan (strengths) dan kelemahan (weakness), serta faktor eksternal yaitu
12

peluang (opportunities) dan ancaman (threats). Dengan analisis SWOT dapat
diidentifikasi berbagai faktor secara sistematis untuk merumuskan suatu strategi
pengembangan. Analisis ini didasarkan pada logika yang dapat memaksimalkan
kekuatan dan peluang tapi secara bersamaan juga bisa meminimalkan kelemahan dan
ancaman.
Langkah-langkah yang dilakukan dalam menyusun matriks SWOT adalah
sebagai berikut :
1. Menentukan faktor-faktor peluang eksternal perusahaan
2. Menentukan faktor-faktor ancaman eksternal perusahaan
3. Menentukan faktor-faktor kekuatan internal perusahaan
4. Menetukan faktor-faktor kelemahan internal perusahaan
5. Menyesuaikan

kekuatan

internal

dengan

peluang

eksternal

untuk

dengan

peluang

eksternal untuk

mendapatkan strategi S-O
6. Menyesuaikan kelemahan internal
mendapatkan strategi W-O
7. Menyesuaikan

kekuatan

internal

dengan

ancaman

eksternal

untuk

mendapatkan strategi S-T
8. Menyesuaikan kelemahan internal dengan ancaman eksternal untuk
mendapatkan strategi W-T
Pada dasarnya analisis SWOT haruslah membandingkan kondisi sama yang
dihadapi oleh pesaingnya berdasarkan kriteria subjektif ataupun objektif (skala
industri), sebab dengan membandingkan maka perusahaan yang berkepentingan
dapat menentukan rencana strategis untuk menghadapi persaingan tersebut. Akan
tetapi bila perusahaan yang dimaksud hingga pada saat dilakukan kajian situasi
ternyata tidak memiliki data tentang pesaing atau pesaingnya belum terpetakan baik
dalam skala industri (kumpulan perusahaan yang menghasilkan barang sama)
maupun gari inteligen perusahaan, sedangkan perusahaan mendesak sekali untuk
mempersiapkan rencana usaha strategis terutama dari
manajemen

organisasi,

maka

dengan

menggunakan

segi pemasaran dan
analisis

SWOT

yang

dimodifikasi sedemikian hingga menjadikan ia dapat digunakan oleh perusahaan
tanpa harus mengetahui skala industri atau data inteligen mengenai pesaingnya
(Putong, 2003).
13

MATERI DAN METODE
Lokasi dan Waktu
Penelitian ini telah dilaksanakan di Peternakan Domba Tawakkal yang
terletak di Jl. Raya Sukabumi Dusun Cimande Hilir No. 32 Kecamatan Caringin
Kabupaten Bogor, Jawa Barat. Penelitian ini dilaksanakan selama satu bulan yaitu
pada bulan Oktober-November 2011.
Materi
Materi yang digunakan adalah data primer dan data sekunder. Data primer
diperoleh melalui pengamatan langsung, wawancara, dan menggunakan kuisioner.
Data sekunder adalah data pelengkap dari data primer yang diperoleh dari literatur
perpustakaan, buku, jurnal, skripsi maupun data lainnya. Peralatan yang digunakan
adalah pulpen, pita ukur, kertas kuisioner, dan kamera.
Prosedur
Prosedur penelitian yang dilakukan adalah tahap pertama pengumpulan data.
Pada tahap ini data dapat dibedakan menjadi dua, yaitu data primer dan data
sekunder. Data primer diperoleh melalui pengamatan langsung dan wawancara
menggunakan kuisioner. Responden terdiri dari pemilik usaha peternakan domba
Tawakkal, kepala kandang, pekerja, dan masyarakat yang berada di peternakan
Tawakkal Farm yang berjumlah empat orang untuk pengisian bobot dan rating faktor
internal dan eksternal. Faktor-faktor yang diamati pada usaha pembibitan domba
terdiri dari faktor internal dan eksternal.
Faktor internal meliputi karakteristik bibit, lokasi peternakan, jumlah pekerja,
keterampilan pekerja, dan faktor internal lainnya yang ditemukan saat penelitian.
Faktor eksternal meliputi permintaan bibit domba, penerimaan masyarakat terhadap
usaha pembibitan domba, penyebaran penyakit, dukungan pemerintah, tingkat
kepercayaan konsumen, persaingan, dan faktor eksternal lainnya.
Data sekunder adalah data pelengkap dari data primer yang diperoleh dari
literatur perpustakaan, buku, jurnal, skripsi maupun data lainnya. Faktor-faktor
tersebut selanjutnya disusun dan dibuat kuisioner untuk melihat apakah faktor
tersebut masuk ke dalam kekuatan atau kelemahan untuk faktor internal sedangkan
faktor eksternal apakah termasuk ke dalam peluang atau ancaman. Setiap faktor
14

diberi bobot dan rating. Tahap kedua yaitu tahap analisis. Tahap analisis ini
menggunakan model matriks SWOT. Tahap ketiga yaitu tahap penyusunan strategi
pengembangan yang dapat diterapkan di Peternakan Domba Tawakkal.
Desain Penelitian
Penelitian ini dilakukan menggunakan metode studi kasus. Tujuan studi kasus
ini adalah memperoleh gambaran yang luas dan lengkap serta mengetahui keadaaan
atau kondisi di lokasi penelitian yaitu usaha pembibitan domba di Peternakan Domba
Tawakkal.
Rancangan dan Analisis Data
Data primer berasal dari kuisioner dan wawancara kepada pemilik
peternakan,

pekerja

dan

masyarakat

yang berjumlah empat

orang untuk

mengidentifikasi faktor-faktor internal dan eksternal pada usaha pembibitan di
Peternakan Domba Tawakkal. Putong (2003) menyatakan bahwa setiap faktor diberi
bobot mulai dari skala 4 (sangat penting), 3 (penting), 2 (kurang penting) dan 1
(tidak penting). Setiap faktor diberi peringkat atau rating mulai dari skala 4 (sangat
tinggi), 3 (tinggi), 2 (sedang), dan 1 (rendah). Fakor-faktor yang telah didapatkan
yang diperolah dari hasil kuisioner dan wawancara kepada narasumber kemudian
dikelompokkan menjadi faktor internal terdiri dari kekuatan dan kelemahan,
sedangkan faktor eksternal terdiri dari peluang dan ancaman. Bobot pada tabel IFE
(Internal Factor Evaluation) dan EFE (External Factor Evaluation) untuk setiap
faktornya merupakan hasil dari bobot tiap faktor dibagi dengan jumlah total bobot
setiap tabel IFE dan EFE sedangkan rating pada tabel IFE dan EFE untuk setiap
faktor dengan meratakan-ratakan rating yang diperoleh jumlah rating yang
didapatkan (Tabel 2 dan Tabel 3). Skor pembobotan diperoleh dengan cara
mengalikan bobot dengan rating sehingga diperoleh hasil kombinasi antara beberapa
situasi pada matriks SWOT yang terdiri atas empat kuadran (Rangkuti, 1997), seperti
yang ditunjukkan Gambar 1.

15

Tabel 2. Matriks Internal Factor Evaluation (IFE)
Faktor internal

Bobot

Peringkat

Bobot x

(A)

(B)

Peringkat

Kekuatan :

Kelemahan :

Total
Tabel 3. Matriks Eksternal Factor Evaluation (EFE)
Faktor Strategis Eksternal

Bobot

Rating

Bobot x

(A)

(B)

Peringkat

Peluang :

Ancaman :

Total
Analisis Matriks Strengths-Weaknesses-Opportunities-Threaths (SWOT)
Matriks SWOT merupakan salah satu tahap dalam teknik perumusan strategi.
Hasil yang diperoleh dari matriks SWOT adalah berupa alternatif strategi yang layak
dipakai dalam strategi usaha. Matriks ini dapat menghasilkan empat sel kemungkinan
alternatif strategi, yaitu S-O (Strengths-Opportunities), strategi W-O (WeaknessesOpportunities), strategi W-T (Weaknesses-Threaths), dan strategi S-T (StrengthsThreaths) (Rangkuti, 1997).
16

Internal
eksternal

Opportunies (O)
*Peluang eksternal

Treaths (T)
*Ancaman eksternal

Strengths (S)

Weaknesses (W)

*kelemahan internal

*kekuatan internal

Strategi SO

Strategi WO

Ciptakan strategi uang Ciptakan
strategi
yang
menggunakan
kekuatan meminimalkan
kelemahan
untuk
memanfaatkan untuk memanfaatkan peluang
peluang
Strategi ST

Strategi WT

Ciptakan strategi yang Ciptakan
strategi
yang
menggunakan
kekuatan meminimalkan
kelemahan
untuk mengatasi ancaman dan menghindari ancaman
Gambar 1. Matriks Analisis SWOT
(Rangkuti, 1997)

17

HASIL DAN PEMBAHASAN
Kondisi Umum Usaha Pembibitan Domba Tawakkal
Lokasi Usaha
Peternakan domba Tawakkal terletak di Jl. Raya Sukabumi Dusun Cimande
Hilir No.32 Kecamatan Caringin Kabupaten Bogor. Usaha ternak yang berjarak
sekitar 2 m dari pemukiman penduduk menempati lahan 5100 m2 yangberbatasan
langsung dengan Dusun Lemah Duhur di sebelah Barat, Desa

Dokumen yang terkait

Strategi Pengembangan Usaha Pembibitan Domba (Studi Kasus pada Peternakan Tawakkal, Desa Cimande, Kecamatan Caringin, Kabupaten Bogor)