PENGGUNAAN TEPUNG ONGGOK SINGKONG SEBAGAI BAHAN BAKU PAKAN IKAN NILA (Oreochromis niloticus)

PENGGUNAAN TEPUNG ONGGOK SINGKONG SEBAGAI BAHAN
BAKU PAKAN IKAN NILA (Oreochromis niloticus)

Oleh
DODI RAHMAD AFEBRATA

Skripsi

Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar
SARJANA PERIKANAN

Pada
Jurusan Budidaya Perairan
Fakultas Pertanian Universitas Lampung

FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
BANDAR LAMPUNG
2013

ABSTRAK

PENGGUNAAN TEPUNG ONGGOK SINGKONG SEBAGAI BAHAN
BAKU PAKAN IKAN NILA (Oreochromis niloticus)
Oleh

DODI RAHMAD AFEBRATA

Faktor penting dalam budidaya ikan nila (Oreochromis niloticus) adalah
ketersediaan pakan dalam jumlah yang memadai, namun kebutuhan tepung jagung
sebagai bahan baku pakan ikan masih diimpor. Dibutuhkan bahan pakan alternatif
untuk mengatasi masalah pengurangan impor tepung jagung ke Indonesia. Negara
Indonesia khususnya Provinsi Lampung merupakan daerah penghasil singkong
dengan hasil limbah tapioka berupa onggok singkong. Penelitian dilakukan untuk
mengetahui proporsi tepung onggok singkong dalam pakan ikan nila. Rancangan
acak lengkap dengan 6 perlakuan digunakan pada penelitian ini. Data yang
diperoleh dianalisis menggunakan analisis sidik ragam (ANOVA). Hasil
penelitian menunjukkan bahwa penggunaan onggok singkong dengan proporsi 5%
memberikan kandungan nutrisi dan laju pertumbuhan terbaik dibandingkan
perlakuan lain. Kandungan nutrisi yang dihasilkan adalah protein (31,51%), lemak
(12,83%), abu (11,86%), serat kasar (20,14%), BETN (23,66%), kadar air
(10,22%) dan laju pertumbuhan 12,45 g.

Kata kunci : Tepung onggok singkong, ikan nila, laju pertumbuhan

PERSEMBAHAN

Kupersembahkan karya tulis ilmiah ini sebagai
tanda bakti dan ucapan terima kasih ku kepada :

Ayah dan ibunda tercinta
“Do’a yang tak henti, dukungan moral dan
material yg tak ada batas t’lah diberikan
kepadaku serta curahan hati dan kasih sayang
sampai saat ini dan sampai akhir hayat nanti”

Adikku “Popy Rahmaniati” tersayang
“Motivasi dan kerja keras yg diberikan sangat
luar biasa, you is spirit for me”

Almamater Universitas Lampung
“Ilmu, Pengetahuan dan Keterampilan selama
pendidikan”

DAFTAR ISI

Halaman
DAFTAR TABEL ............................................................................................ III
DAFTAR GAMBAR ....................................................................................... IV
DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................... V
I.

PENDAHULUAN
1.1
1.2
1.3
1.4
1.5

Latar Belakang ...................................................................................
Kerangka Pemikiran ...........................................................................
Tujuan Penelitian ...............................................................................
Manfaat Penelitian .............................................................................
Hipotesis.............................................................................................

1
3
4
4
4

II. TINJAUAN PUSTAKA
2.1
2.2
2.3
2.4
2.5
2.6
2.7

Biologi Ikan Nila................................................................................
Kebutuhan Nutrisi Nila ......................................................................
Onggok Singkong ..............................................................................
Pertumbuhan ......................................................................................
Rasio Konversi Pakan ........................................................................
Kelangsungan Hidup ..........................................................................
Kualitas Air Media .............................................................................

5
8
9
11
13
14
15

III. METODE PENELITIAN
3.1 Waktu dan Tempat Penelitian ............................................................
3.2 Alat dan Bahan ....................................................................................
3.3 Metode Penelitian ...............................................................................
3.3.1Persiapan Penelitian ..................................................................
3.3.2 Penelitian Utama ......................................................................
3.4 Rancangan Penelitian .........................................................................
3.5 Analisis Data ......................................................................................
3.5.1 Kelangsungan Hidup ................................................................
3.5.2 Pertambahan Bobot ................................................................
3.5.3 Rasio Konversi Pakan ............................................................
3.5.4 Kualitas Air ............................................................................

17
17
18
18
18
19
21
21
21
22
22

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1 Uji Fisik Pakan ..................................................................................
4.1.1 Daya Tahan Pakan ..................................................................
4.2 Uji Kimia Pakan (Proksimat) ............................................................
4.3 Uji Biologi .........................................................................................
4.3.1 Kelangsungan Hidup Benih ikan Nila....................................
4.3.2 Pertumbuhan Berat Mutlak Benih Ikan Nila .........................

25
25
26
32
32
33

4.3.3
4.3.4

Pertumbuhan Berat Harian Benih Ikan Nila .......................... 35
Kualitas Air ............................................................................ 36

V. KESIMPULAN DAN PEMBAHASAN
5.1 Kesimpulan ......................................................................................... 38
5.2 Saran ................................................................................................... 38
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

I. PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang
Perkembangan budidaya ikan nila secara intensif di Indonesia belum
begitu menggembirakan karena beberapa faktor antara lain masih rendahnya
efisiensi produksi, harga ikan dipasaran masih murah, serta sulitnya pengadaan
benih dan induk yang bermutu. Seiring peningkatan produksi ikan nila di
Indonesia meningkat secara signifikan dari tahun ke tahun. Pada tahun 2010
jumlah produksi ikan nila mencapai 469.173 ton, tahun 2011 meningkat menjadi
639.300 ton, dan pada tahun 2012 mencapai 850.000 ton (KKP, 2013).
Salah satu permasalahan yang dihadapi dalam kegiatan budidaya ikan
nila yaitu ketersediaan pakan yang terbatas baik jumlah maupun kualitasnya, dan
penyediaan pakan buatan yang membutuhkan biaya relatif tinggi. Untuk
memenuhi kebutuhan nutrisi ikan nila, maka bahan baku pakan seperti tepung
ikan, tepung kedelai, tepung jagung, dan bahan lainnya masih harus diimpor.
Menurut Suprayudi (2010), syarat yang harus dipenuhi sebagai bahan baku adalah
mengandung nutrien yang dibutuhkan ikan untuk pertumbuhan, diutamakan dari
sumber nabati, tidak berkompetisi dengan kebutuhan pangan manusia, berbasis
limbah, dan jumlah tersedia melimpah.
Sebagai upaya pengurangan ketergantungan terhadap bahan baku pakan
impor, maka perlu diupayakan solusi yaitu dengan pemanfaatan salah satu bahan

1

baku lokal yang banyak tersedia sebagai bahan baku pakan ikan, diantaranya
adalah onggok singkong. Onggok singkong merupakan limbah dari produksi
tapioka yang ketersediaannya terus meningkat sejalan dengan perkembangan
industri tapioka. Pemanfaatannya sebagai bahan baku pakan dibatasi oleh
rendahnya kandungan protein dan onggok hanya digunakan sebagai sumber
energi. Secara umum limbah pertanian seperti onggok singkong memiliki
kandungan nutrisi yang rendah seperti protein. Oleh karena itu untuk menciptakan
pakan dari bahan baku tepung onggok singkong yang dapat dimanfaatkan sebagai
pakan ikan diperlukan adanya penelitian yang mempelajari tentang pemanfaatan
tepung onggok singkong sebagai bahan baku pakan ikan nila.

1.2

Kerangka Pemikiran
Budidaya ikan nila secara intensif memerlukan pakan sebagai faktor

utama dalam pemeliharaan ikan nila. Hal ini dikarenakan ikan nila membutuhkan
pakan sebagai pertumbuhan bagi ikan. Pada saat ini pakan buatan yang
dimanfaatkan bagi ikan yaitu pakan yang memiliki kualitas nutrisi dan jumlah
yang mencukupi. Salah satu permasalahan yang dihadapi dalam kegiatan
budidaya ikan nila yaitu ketersediaan pakan yang terbatas baik jumlah maupun
kualitasnya, dan penyediaan pakan buatan yang membutuhkan biaya relatif tinggi.
Untuk memenuhi kebutuhan nutrisi ikan nila, maka bahan baku pakan seperti
tepung ikan, tepung kedelai, tepung jagung, dan bahan lainnya masih harus
diimpor.
Sebagai upaya pengurangan ketergantungan terhadap bahan baku pakan
impor, maka perlu diupayakan solusi yaitu dengan pemanfaatan salah satu bahan

2

baku lokal yang banyak tersedia sebagai bahan baku pakan ikan, diantaranya
adalah onggok singkong. Pemanfaatannya sebagai bahan baku pakan dibatasi oleh
rendahnya kandungan protein dan onggok hanya digunakan sebagai sumber
energi. Dari konsep kerangka pikir penelitian ini, untuk menciptakan pakan dari
bahan baku tepung onggok singkong yang dapat dimanfaatkan sebagai pakan ikan
diperlukan adanya penelitian yang mempelajari tentang pemanfaatan tepung
onggok singkong sebagai bahan baku pakan ikan nila.
Bahan Baku Pakan Import

Ketersediaan Bahan baku
yang butuh biaya relatif tinggi

Limbah pertanian sebagai
bahan baku pakan ikan

Ketersediaan melimpah
Tidak bersaing dengan
bahan pangan manusia
Berpotensi sebagai
sumber energi

Onggok
Singkong

Kandungan
Nutrisi
rendah
Serat kasar tinggi
Adanya zat antinutrisi
yaitu HCN

Bahan baku pakan ikan

3

1.3

Tujuan Penelitian
Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui proporsi tepung

onggok singkong dalam pakan ikan nila (Oreochromis niloticus).

1.4

Manfaat Penelitian
Manfaat dari penelitian ini adalah memberikan informasi kepada para

pembudidaya ikan bahwa tepung onggok singkong dapat digunakan sebagai
bahan baku pakan ikan nila (Oreochromis niloticus)

1.5

Hipotesis

Ho : τi

= 0

tidak ada pengaruh penggunaan tepung onggok singkong dalam
bahan baku pakan terhadap pertumbuhan ikan nila.

H1 : τi

≠0

minimal ada satu pengaruh penggunaan tepung onggok singkong
dalam bahan baku pakan terhadap pertumbuhan ikan nila.

4

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Biologi Ikan Nila
Ikan nila (Oreochromis niloticus) merupakan ikan air tawar yang
termasuk dalam famili Cichlidae dan merupakan ikan asal Afrika (Boyd, 2004).
Ikan ini merupakan jenis ikan yang di introduksi dari luar negeri, ikan tersebut
berasal dari Afrika bagian Timur di sungai Nil, danau Tangayika, dan Kenya lalu
dibawa ke Eropa, Amerika, Negara Timur Tengah dan Asia. Di Indonesia benih
ikan nila secara resmi didatangkan dari Taiwan oleh Balai Penelitian Perikanan
Air Tawar pada tahun 1969. Ikan ini merupakan spesies ikan yang berukuran
besar antara 200 - 400 gram, sifat omnivora sehingga bisa mengkonsumsi
makanan berupa hewan dan tumbuhan (Amri dan Khairuman, 2003).
Nila dapat tumbuh dan berkembang dengan baik pada lingkungan
perairan dengan kadar Dissolved Oxygen (DO) antara 2,0 - 2,5 mg/l. Secara umum
nilai pH air pada budidaya ikan nila antara 5 sampai 10 tetapi nilai pH optimum
adalah berkisar 6 - 9. Ikan nila umumnya hidup di perairan tawar, seperti sungai,
danau, waduk, rawa, sawah dan saluran irigasi, memiliki toleransi terhadap
salinitas sehingga ikan nila dapat hidup dan berkembang biak di perairan payau
dengan salinitas 20 - 25‰ (Setyo, 2006).

5

Adapun klasifikasi ikan nila (Sugiarto, 1988) adalah sebagai berikut :
Kingdom

: Animalia

Phylum

: Chordata

Class

: Osteichthyes

Sub Class

: Acanthoptherigii

Ordo

: Percomorphi

Sub Order

: Percoidea

Family

: Cichlidae

Genus

: Oreochromis

Species

: Oreochromis niloticus
Berdasarkan morfologinya, kelompok ikan Oreochromis memang

berbeda dengan kelompok tilapia. Secara umum, bentuk tubuh nila memanjang
dan ramping, dengan sisik berukuran besar. Bentuk matanya besar dan menonjol
dengan tepi berwarna putih. Gurat sisi (linea lateralis) terputus di bagian tengah
tubuh, kemudian berlanjut lagi, tetapi letaknya lebih ke bawah dibandingkan
dengan letak garis yang memanjang di atas sirip dada. jumlah sisik pada gurat sisi
34 buah. Sirip punggung, sirip perut, dan sirip duburnya memiliki jari-jari
D.XVII.13; V.15; P.15; A.III.10; dan C.18. Sirip punggung dan sirip dada
berwarna hitam. Pinggir sirip punggung berwarna abu-abu atau hitam.
Nila memiliki lima sirip, yaitu satu sirip punggung (dorsal fin), sepasang
sirip dada (pectoral fin), sepasang sirip perut (venteral fin), sepasang sirip anal
(anal fin), dan satu sirip ekor (caudal fin). Sirip punggungnya memanjang dari
bagian atas tutup ingsang sampai bagian atas sirip ekor. Terdapat juga sepasang
sirip dada dan sirip perut yang berukuran kecil dan sirip anus yang hanya satu

6

buah berbentuk agak panjang. Sementara itu, jumlah sirip ekornya hanya satu
buah dengan bentuk bulat. Morfologi ikan nila dapat dilihat pada Gambar 1.
Sirip Punggung
(Dorsal fin)
Lineal
Lateralis (LL)
Mata
Sirip ekor
(Caudal fin)

Mulut
Sirip Dada
(Pectoral fin)

Sirip Anus
(Anal fin)

Sirip Perut
(venteral fin)

Gambar 1. Morfologi ikan nila (Oreochromis niloticus)
Sumber : http://perikananindonesia.com (2013)

Ikan nila bersifat omnivora yang cenderung herbivora sehingga lebih
mudah beradaptasi dengan jenis pakan seperti plankton hewani, plankton nabati,
dan daun tumbuhan yang halus. Selain itu ikan nila dapat diberi pakan buatan
seperti pellet dan pakan tambahan seperti dedak halus, tepung bungkil sawit, dan
ampas kelapa (Sayed, 1999). Untuk pertumbuhan dan perkembangbiakan serta
kelangsungan hidupnya ikan memerlukan pakan yang cukup dari segi kualitas dan
kuantitas. Pakan yang bermutu baik, salah satunya ditentukan oleh kandungan gizi
(protein, karbohidrat, lemak, vitamin dan mineral) dalam komposisi yang tepat.

7

2.2 Kebutuhan Nutrisi Ikan Nila
Kebutuhan nutrisi yang dibutuhkan oleh ikan nila yaitu protein,
karbohidrat, dan lemak. Kandungan nutrisi yang tidak tepat dapat mempengaruhi
pertumbuhan seperti kurangnya protein yang menyebabkan ikan hanya
menggunakan sumber protein untuk kebutuhan dasar dan kekurangan untuk
pertumbuhan. Kandungan protein yang berlebih, menyebabkan protein akan
terbuang dan menyebabkan bertambahnya kandungan amoniak dalam perairan.
Kebutuhan nutrisi ikan akan terpenuhi dengan adannya protein dalam pakan.
Protein merupakan kompleks yang terdiri dari asam amino esensial yang
merupakan senyawa molekul mengandung gugus fungsional amino (-NH2)
maupun karboksil (-CO2H) dan non esensial (NRC, 1993).
Kandungan karbohidrat merupakan kelompok organik terbesar yang
terdapat pada tumbuhan, terdiri dari unsur Cn (H2O)n dan karbohidrat salah satu
komponen yang berperan sebagai sumber energi bagi ikan serta bersifat sparing
effect bagi protein. Karbohidrat lebih mudah larut dalam air dan dapat digunakan
sebagai perekat untuk memperbaiki stabilitas pakan. Kekurangan karbohidrat dan
lemak dapat menyebabkan pertumbuhan terhambat karena ikan menggunakan
protein sebagai sumber energi lemak dan karbohidrat yang seharusnya sebagai
sumber energi. Kebutuhan karbohidrat yang memiliki kecernaan tinggi dan aktitas
enzim amilase pada ikan nila akan mempengaruhi daya cerna karbohidrat yang
meningkat (Pascual, 2009).
Kandungan lemak merupakan senyawa organik yang mengandung unsur
karbon (C), hidrogen (H), dan oksigen (O) sebagai unsur utama. Beberapa di
antaranya ada yang mengandung nitrogen dan fosfor. Lemak berguna sebagai

8

sumber energi dalam beraktifitas dan membantu penyerapan mineral tertentu.
Lemak juga berperan dalam menjaga keseimbangan dan daya apung pakan dalam
air. Kandungan lemak pakan yang dibutuhkan ikan nila antara 3 - 6% dengan
energi dapat dicerna 85 - 95% (Mahyuddin, 2008).
Menurut BBAT (2005), ikan nila tumbuh maksimal pada pemberian
pakan dengan kadar protein 25 - 30%. Adapun kebutuhan nutrisi pakan yang
dibutuhkan untuk pertumbuhan ikan nila dapat dilihat pada Tabel 1.
Tabel 1. Kebutuhan nutrisi pada ikan nila
No

Kebutuhan Nutrisi

1

Protein

2

Asam amino
- Arginin
- Histidin
- Isoleusin
- Leusin
- Lysine
- Metionin + Cystin
- Phenilalanin
- Threonin
- Tritopan
- Valin
Lemak
Asam lemak essensial
Pospor
Karbohidrat
Digestibiliti energy

3
4
5
6
7

Umur

Nilai

Larva
Benih– konsumsi

35%
25 - 30%
4,2%
1,7%
3,1%
3,4%
5,1%
3,2% (Cys 0,5 )
5,5% (Tyr 1,8 )
3,8%
1,0%
2,8%
6 – 10%
0,5 % - 18:2n-6
< 0,9 %
25 %
2500 – 4300 Kkal/kg

Sumber : BBAT Sukabumi (2005)

2.3 Onggok Singkong
Onggok merupakan limbah dari produksi tepung tapioka yang
ketersediaannya terus meningkat sejalan dengan perkembangan industri tapioka.
Pemanfaatannya sebagai bahan baku pakan dibatasi oleh rendahnya kandungan

9

protein. Onggok hanya dapat digunakan sebagai sumber energi dan karbohidrat.
Hal ini dikarenakan kandungan karbohidrat pada onggok singkong seperti serat
kasar dan bahan ekstrak tanpa nitrogen (BETN) memiliki nilai yang tinggi.
Produksi singkong di Lampung tercatat mencapai 8,3 juta ton yang
diolah sebagai keperluan pangan dan industri (BPS, 2012). Peningkatan potensi
limbah onggok sejalan dengan peningkatan produksi tapioka, hal ini dikarenakan
setiap 1.000 kg ubi kayu menghasilkan 250 kg (25%) tapioka, 114 kg (11,4%)
onggok, dan 636 kg (63,6%) Air. Dengan demikian potensi onggok di Provinsi
Lampung sebesar 946.200 ton/tahun atau 78.850 ton/bulan. Ketersediaan ubi kayu
pada tahun 2011 bila diakumulasi menjadi limbah onggok dapat mengganggu
lingkungan (Tabrani et,al. 2002). Onggok biasa dimanfaatkan sebagai pakan
ternak, bahan baku pembuatan saus, bioetanol, dan media pertumbuhan mikroba.
Menurut Fitriliyani (2010), onggok sebagai pakan ternak memiliki kadar
protein yang rendah, namun memiliki kadar karbohidrat yang cukup tinggi. Pati
yang tertinggal menyebabkan onggok memiliki kandungan karbohidrat yang
cukup tinggi yaitu 50 - 70%, sehingga dimanfaatkan sebagai media tumbuh
mikroba. Untuk lebih jelas onggok singkong dapat dilihat pada Gambar 2.

Gambar 2. Onggok singkong dan tepung onggok

10

Onggok sering dipergunakan sebagai substrat untuk produksi selulase,
amylase, dan amiloglukosidase. Kandungan zat yang dimiliki onggok singkong
adalah protein kasar 1,88%, serat kasar 15,62%, lemak kasar 0,25%, abu 1,15%,
Ca 0,31%, P 0,05% dan bahan ekstrak tanpa nitrogen (BETN) 81,10% (Wizna,
2008). Komposisi onggok memiliki kandungan asam sianida (HCN), kandungan
nutrisi onggok dapat dimanfaatkan sebagai pakan ikan nila. Untuk lebih jelas
kandungan nutrisi onggok dapat dilihat pada Tabel 2.
Tabel 2. Kandungan nutrisi pada onggok murni
No
1
2
3
4
5
6

Komponen
Protein
Lemak
Karbohidrat
Serat
Abu
Air

a
3,6
2,3
65,9
8,1
4,4
20,31

Kandungan nutrisi (%)
b
c
1,88
1,87
0,25
0,33
81,10
6,50
15,62
8,90
1,15
2,4
20
19,8

d
1,28
0,55
87,24
8,92
2,01
8,27

Sumber : Hasbullah (2002)
Keterangan : (a). Sutardi (2008)
(b). Wizna (2008)
(c). Deptan (2009)
(d). BPBAT (2013)

2.4 Pertumbuhan
Proses pertumbuhan pada budidaya ikan secara umum dipengaruhi oleh
jumlah pakan yang diberikan. Namun tidak semua energi pakan akan digunakan
untuk pertumbuhan. Pertambahan berat terjadi ketika ada kelebihan input energi
dan asam amino setelah kebutuhan dasar ikan dari pakan tersebut terpenuhi.
Kebutuhan dasar tersebut antara lain adalah untuk metabolisme, bergerak,
perkembangan organ seksual, dan perawatan sel tubuh untuk mengganti sel-sel
yang tua atau rusak. Adapun faktor-faktor yang menyebabkan tidak maksimalnya

11

pertumbuhan ikan budidaya yaitu faktor pakan yang diberikan, dan faktor
lingkungan yang mendukung seperti media tempat dan kualitas air.
Pakan sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan ikan. Pemberian pakan
yang kurang menyebabkan ikan mudah terserang penyakit dan bahkan tidak
mampu untuk memenuhi kebutuhan dasar ikan itu sendiri seperti untuk
metabolisme, akibatnya pertumbuhan terhambat dan bahkan bisa menyebabkan
penurunan pertumbuhan dan kematian. Pemberian pakan yang berlebihan akan
menyebabkan perairan menjadi kotor dan mengurangi nafsu makan ikan itu
sendiri sehingga pertumbuhan menjadi terhambat. Dalam hal kegiatan
pemeliharaan dan pemberian pakan yang tercampur dengan enzim akan dapat
dicerna dengan baik dan yang tidak dicerna akan dikeluarkan bersama kotoran.
Pakan yang diproses dalam tubuh ikan dan unsur-unsur nutrisi atau
gizinya akan diserap oleh tubuh ikan untuk membangun jaringan dan daging
sehingga pertumbuhan ikan akan terjamin. Laju pertumbuhan ikan dipengaruhi
oleh jenis dan kualitas pakan yang diberikan berkualitas baik, jumlahnya
mencukupi, kondisi lingkungan mendukung, dan dapat dipastikan laju
pertumbuhan ikan nila akan menjadi cepat sesuai dangan yang diharapkan
(Khairuman dan Amri, 2003).
Kemampuan mengkonsumsi pakan buatan juga dapat mempengaruhi laju
pertumbuhan. Dengan adaptasi terhadap pakan buatan dengan kandungan nutrisi
yang tinggi akan mengakibatkan laju pertumbuhannya semakin cepat dan ukuran
maksimum bertambah (Effendi, 2004).

12

2.5 Rasio Konversi Pakan
Untuk memperoleh rasio konversi pakan lebih rendah harus disesuaikan
dengan cara atau kebiasaan makan pada jenis ikan dan bentuk pakan. Rasio
konversi pakan adalah jumlah berat makanan yang dibutuhkan oleh ikan sebanyak
20 - 25% yang digunakan untuk tumbuh atau menambah bobot tubuh, selebihnya
digunakan untuk energi dan sebagian yang tidak dapat dicerna oleh ikan.
Makanan nabati faktor konversinya lebih besar dari pada makanan hewani. Ini
berarti untuk menambah berat 1 kg daging ikan dibutuhkan makanan nabati lebih
banyak dari pada makanan hewani. Konversi makanan dipengaruhi oleh jumlah
gizi dan cara pemberian makanan serta bobot dan umur ikan (Mujiman, 2004).
Pascual (2009), menjelaskan bahwa semakin rendah nilai konversi pakan,
semakin baik karena jumlah pakan yang dihabiskan untuk menghasilkan berat
tertentu adalah sedikit. Tinggi rendahnya nilai rasio konversi pakan dapat
dipengaruhi oleh beberapa faktor terutama kualitas dan jumlah pakan, spesies
ikan, ukuran ikan dan kualitas air.

2.6 Kelangsungan Hidup
Tingkat kelangsungan hidup akan menentukan produksi ikan yang
dipanen dan erat kaitannya dengan ukuran ikan yang dipelihara. Kelangsungan
hidup benih ikan nila ditentukan oleh kualitas induk, kualitas telur, kualitas air
maupun perbandingan antara jumlah pakan dan kepadatannya (Effendi, 2004).
Menurut Kafuku (1983), padat tebar yang tinggi dapat menjadi salah satu
penyebab rendahnya tingkat kelangsungan hidup suatu organisme. Hal ini
mengakibatkan adanya persaingan ruang gerak, oksigen dan makanan sehingga

13

akan mengalami mortalitas (kematian). Nilai tingkat kelangsungan hidup ikan
rata-rata yang baik berkisar antara 73,5 - 86,0 %. Kelangsungan hidup ikan
ditentukan beberapa faktor, diantaranya kualitas air meliputi suhu, oksigen terlarut
(DO), dan tingkat keasaman (pH) perairan.

2.7 Kualitas Air Media
Kualitas air merupakan salah satu faktor yang mendukung keberhasilan
budidaya ikan nila. Penurunan kualitas air akan menyebabkan timbulnya penyakit,
gangguan reproduksi pada ikan, pertumbuhan ikan terhambat, pengurangan rasio
konversi pakan bahkan dapat menyebabkan kematian. Adapun parameter kualitas
air yang biasa diamati yaitu kandungan oksigen terlarut, tingkat keasaman, suhu,
dan amoniak.
Kuantitas air merupakan jumlah air yang tersedia dari sumber air seperti :
sungai, saluran irigasi, bendungan, dan sumur bor untuk mengairi kolam.
Sementara itu, kualitas air meliputi sifat fisika, kimia dan biologi air. Sifat fisika
meliputi suhu, kecerahan air, kekeruhan, dan warna air. Sifat kimia air meliputi
derajat keasaman (pH), oksigen terlarut (O2), karbondioksida, amoniak, dan
alkalinitas. Sedangkan sifat biologi air meliputi plankton, benthos, dan tanaman
air. Variabel dalam kualitas air tersebut akan mempengaruhi pengelolaan,
kelangsungan hidup, dan perkembangbiakan ikan.
Ikan nila tidak terlalu membutuhkan debit air yang besar, seperti halnya
ikan mas dan ikan tawes. Sumber air untuk usaha pembenihan harus bersih dan
jernih. Biasanya air tersebut berasal dari air sumur baik dari sumur bor dengan
menggunakan pompa hisap maupun sumur galian biasa. Air yang tidak

14

memenuhi syarat dari segi kualitas air akan berakibat buruk terhadap
kelangsungan hidup ikan yang dibudidayakan. Adapun kualitas air yang dianggap
baik untuk kehidupan nila dapat dilihat di Tabel 3.
Tabel 3. Kualitas air untuk ikan nila
No
1
2
3
4
5
6
7
8
9

Parameter
Suhu
pH
Oksigen terlarut (O2)
Amonia total
Kekeruhan
Karbon dioksida (CO2)
Nitrit
Alkalinitas
Kesadahan total

Kandungan air yang dianjurkan
25-30 o C
6,5-8,5
> 3 mg/l
maksimum 1 (mg/l total amonia)
maksimum 50 NTU
maksimum 11 (mg/l)
minimum 0,1 (mg/l)
minimum 20 (mg/l CaCO3)
minimum 20 (mg/l CaCO3)

Sumber : Sunarso (2008)

Kualitas air untuk pemeliharaan ikan nila harus bersih, tidak terlalu keruh
dan tidak tercemar bahan-bahan kimia beracun, dan minyak atau limbah pabrik.
Kekeruhan air yang disebabkan oleh pelumpuran akan memperlambat
pertumbuhan ikan. Lain halnya bila kekeruhan air disebabkan oleh adanya
fitoplankton. Air yang kaya fitoplankton dapat berwarna hijau kekuningan dan
hijau kecokelatan. Sedangkan fitoplankton dari jenis alga biru (blue green algae)
kurang baik untuk pertumbuhan ikan. Tingkat kecerahan air karena fitoplankton
harus dikendalikan dan dapat diukur dengan alat yang disebut secchi disc.
Kecerahan air yang baik untuk kolam ataupun tambak adalah antara 20 - 35 cm
dari permukaan. Nilai tingkat keasaman (pH) air tempat hidup ikan nila berkisar
antara 6 - 8,5. Suhu air yang optimal berkisar antara 25 - 30 oC (Lestari, 1992).

15

Sementara itu, kualitas air meliputi sifat fisika, kimia dan biologi air.
Sifat fisika meliputi suhu, kecerahan air, kekeruhan, dan warna air. Sifat kimia air
meliputi derajat keasaman (pH), oksigen terlarut (O2), karbondioksida, amoniak,
dan alkalinitas. Sedangkan sifat biologi air meliputi plankton, benthos, dan
tanaman air. Variabel dalam kualitas air tersebut akan mempengaruhi
pengelolaan, kelangsungan hidup, dan perkembangbiakan ikan. Kelangsungan
hidup ikan ditentukan beberapa faktor, diantaranya kualitas air meliputi suhu,
oksigen terlarut (DO), dan tingkat keasaman (pH) perairan.

16

III. METODE PENELITIAN

3.1 Waktu dan Tempat Penelitian
Penelitian dilaksanakan mulai tanggal 10 Mei – 30 Juni 2013 selama 50
hari di Balai Benih Ikan (BBI) Natar, Kabupaten Lampung Selatan. Pembuatan
pakan dilakukan di Laboratorium Basah Jurusan Budidaya Perairan, Fakultas
Pertanian, Universitas Lampung, sedangkan analisis proksimat dilakukan di
Laboratotium Balai Penelitian dan Budidaya Air Tawar, Bogor.

3.2 Alat dan Bahan
Alat yang digunakan dalam penelitian ini yaitu : akuarium berukuran
50 x 30 x 40 cm3 sebanyak 18 buah, aerator, selang aerasi, serokan, ember
plastik, timbangan analitik multi purpose merek Hanna (Made in Taiwan) High
accuracy 1/5000. Alat pengukur kualitas air thermometer air raksa (Made in
Indonesia), DO meter digital merek Hanna (Made in Taiwan), dan pH meter
merek Hanna (Made In Taiwan).
Bahan – bahan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu : Tepung
onggok singkong, tepung ikan, tepung kedelai, tepung jagung, premix/vitamin,
minyak ikan, tepung terigu, air, dan benih ikan nila ukuran 2 - 3 cm (20 ekor).

17

3.3 Metode Penelitian
3.3.1 Persiapan Penelitian
Tahapan penelitian meliputi pengadaan bahan tepung onggok singkong
yang telah dilakukan pembuatan pakan ikan dengan proporsi onggok singkong
yang berbeda-beda, dan analisis uji proksimat protein, serat kasar, lemak, kadar
air dan abu pada pakan yang memiliki bahan baku onggok dengan proporsi yang
berbeda.

3.3.2

Penelitian Utama
Proses penelitian utama meliputi persiapan tempat pemeliharaan yang

meliputi persiapan wadah akuarium berukuran 50 x 30 x 40 cm3 dilengkapi aerasi
sebagai suplai oksigen dalam air yang telah di isi 20 - 30 liter. Kemudian di isi
bibit ikan nila ukuran 2 – 3 cm sebanyak 20 ekor/akuarium.
Tahap pemberian pakan dilakukan dua kali dalam satu hari yaitu pagi
hari pukul 08.00 wib dan sore hari pukul 16.00 WIB, pakan diberikan 5% dari
bobot tubuh ikan. Selama masa penelitian pemeliharaan ikan nila perlu
diperhatikan kualitas air dengan cara disiphon kotoran atau sisa pakan
menggunakan selang. Pergantian penambahan air baru agar kondisi lingkungan
tetap normal, dan pengukuran kualitas air dilakukan 5 hari sekali. Pengukuran
pada proses penelitian ini meliputi pengukuran terhadap pertumbuhan berat bobot
ikan nila menggunakan timbangan analitik, kelangsungan hidup dengan
penghitungan secara visual dan kualitas air dengan alat pengukur kualitas air yang
dapat dilakukan 10 hari sekali.

18

3.4 Rancangan Penelitian
Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap
(RAL) dengan enam perlakuan dan tiga ulangan. Pada penelitian ini dilakukan
penggunaan tepung onggok singkong dengan proporsi yang berbeda. Penempatan
akuarium dilakukan secara acak. Presentase penambahan onggok yang dilakukan
yaitu 0%, 5%, 10%, 15%, 20% dan 25%. Adapun perlakuan yang digunakan
adalah sebagai berikut :
Perlakuan A : Pakan buatan tanpa onggok (kontrol)
Perlakuan B : Pakan buatan dengan proporsi onggok 5%.
Perlakuan C : Pakan buatan dengan proporsi onggok 10%.
Perlakuan D : Pakan buatan dengan proporsi onggok 15%.
Perlakuan E : Pakan buatan dengan proporsi onggok 20%.
Perlakuan F : Pakan buatan dengan proporsi onggok 25%.
Pada proses pembuatan pakan buatan, formulasi pakan ditentukan
berdasarkan bahan baku pakan dan hasil analisis proksimat bahan dasar pakan.
Adapun komposisi bahan baku pakan dapat dilihat pada Tabel 4.
Tabel 4. Komposisi bahan baku pakan
No
1
2
3
4
5
6
7

Bahan Baku Pakan
Tepung Ikan
Tepung Kedelai
Tepung Jagung
Tepung Onggok
Vitamin/Premix
Minyak Ikan
Tepung Terigu
Total

Perlakuan
A
35 %
30 %
25 %
0%
2%
3%
5%
100 %

Perlakuan
B
35 %
30 %
20 %
5%
2%
3%
5%
100 %

Perlakuan
C
35 %
30 %
15 %
10 %
2%
3%
5%
100 %

Perlakuan
D
35 %
30 %
10 %
15 %
2%
3%
5%
100 %

Perlakuan
E
35 %
30 %
5%
20 %
2%
3%
5%
100 %

Perlakuan
F
35 %
30 %
0%
25 %
2%
3%
5%
100 %

19

Sumber protein hewani dari bahan baku pakan yaitu tepung ikan dan
tepung kedelai dengan proposi bahan baku yang sama, sedangkan sumber protein
nabati berasal dari tepung onggok dan tepung jagung.
Adapun model rancangan penelitian yang digunakan adalah sebagai berikut :
Yij = µ + τi + εij

I

= Perlakuan A, B, C, D, dan E

j

= Ulangan 1, 2, dan 3

Yij = Nilai pengamatan dari pengaruh pemberian pakan dengan proporsi
onggok singkong yang berbeda ke – i dan ulangan ke – j
µ

= Nilai tengah pengamatan

τi

= Pengaruh pemberian pakan dengan proporsi onggok singkong yang
berbeda ke – i terhadap pertumbuhan, rasio konversi pakan, dan
kelangsungan hidup benih ikan nila ke – j

εij

= Pengaruh galat percobaan dari pengaruh pemberian pakan dengan proporsi

onggok yang berbeda ke – i dan ulangan ke – j.
Untuk menguji perbedaan perlakuan digunakan uji F pada taraf
kepercayaan 95%. Apabila berbeda nyata maka akan dilanjutkan dengan uji beda
nyata terkecil (BNT) (Steel and Torrie, 1991).

20

3.5 Analisis Data
Parameter penelitian yang diamati yaitu uji fisik pakan (Water stability),
uji kimia (Proksimat), dan uji biologi meliputi: tingkat kelangsungan hidup,
pertambahan bobot tubuh, rasio konversi pakan, dan kualitas air media.

3.5.1

Kelangsungan Hidup
Kelangsungan hidup dihitung berdasarkan rasio jumlah ikan hidup pada

akhir pemeliharaan dan jumlah ikan yang ditebar awal pemeliharaan dengan
menggunakan rumus Effendi (2004) :
SR = (Nt/No) x 100%

Keterangan :
SR = Tingkat kelangsungan hidup ikan
Nt = Jumlah ikan akhir pemeliharaan
No = Jumlah ikan awal penebaran

3.5.2

Pertambahan bobot
Pertumbuhan benih ikan nila meliputi pengukuran bobot tubuh ikan dan

panjang ikan nila. Proses pengukuran dilakukan dengan timbangan analitik selama
sepuluh hari sekali. Berdasarkan data tersebut dilakukan penghitungan
pertambahan bobot dengan rumus Effendi (2004) sebagai berikut :

21

Wm = Wt – Wo
Keterangan :
Wm = Pertambahan bobot (g)
Wt

= Bobot rata-rata akhir (g)

Wo = Bobot rata-rata awal (g)

3.5.3

Rasio Konversi Pakan
Rasio konversi pakan adalah jumlah pakan yang dibutuhkan untuk

menghasilkan satu kilogram daging. Menurut Djarijah (1995), rumus untuk
menghitung konversi pakan (FCR) sebagai berikut.

Keterangan :
F

= Jumlah Pakan yang diberikan selama pemeliharaan

Wo = Berat total ikan saat awal penebaran
Wt

= Berat total ikan saat panen

22

3.5.4 Kualitas Air
Pengukuran kualitas air meliputi yaitu :
(1) Suhu
Pengukuran suhu media air dilakukan menggunakan alat termometer.
Proses pengukuran dimasukkan ke dalam air media dan dapat dilihat titik derajat
calcius. Standar pengukuran suhu pada ikan nila berkisar antara 25 – 30oC.
Pengukuran suhu dilakukan setiap 5 hari sekali pada pukul 09.00 pagi hari dan
15.00 sore hari.
(2) DO (Dysolved oxygen)
Pengukuran oksigen terlarut dalam media pemeliharaan ikan nila
dilakukan menggunakan DO meter. Proses pengukuran dilakukan dengan cara
memasukkan alat ke dalam air kemudian akan terlihat angka satuan DO secara
otomatis. Standar DO pada ikan nila > 3 mg/l. Pengukuran DO akan dilakukan
setiap 5 hari sekali pada pukul 09.00 pagi hari dan 15.00 sore hari.
(3) pH
Pengukuran pH dalam media pemeliharaan ikan nila dilakukan
menggunakan alat pH meter atau kertas lakmus. Proses pengukuran dengan cara
memasukkan alat atau kertas lakmus ke dalam air kemudian akan terlihat angka
satuan pH secara otomatis atau warna pada kertas lakmus. Standar pH pada ikan
nila 6,5 - 8,5. Pengukuran pH akan dilakukan setiap 5 hari sekali sebanyak dua
kali pada pukul 09.00 pagi hari dan 15.00 sore hari.

23

PERSIAPAN PENELITIAN

PELAKSANAAN PENELITIAN

PEMBUATAN PAKAN
a. Onggok singkong yang telah dijemur lalu dikukus selama 30 menit
b. Onggok digiling hingga menjadi tepung onggok
c. Pencampuran bahan baku pakan disesuaikan dengan perlakuan sebagai berikut :
A = Pakan acuan (tanpa onggok)
B = Pakan + onggok 5 %
C = Pakan + onggok 10 %
D = Pakan + onggok 15 %
E = Pakan + onggok 20 %
F = Pakan + onggok 25 %
d. Pencetakan pakan
e. Pengeringan pakan dan pembentukan pakan
f. Pengujian nutrisi pakan

PERSIAPAN WADAH DAN MEDIA
a. Pembersihan akuarium
b. Pengisian air dan aerasi
c. Air diendapkan didalam tandon dan aerasi selama 2-3 hari

PEMELIHARAAN IKAN
a. Pemeliharaan ikan dilakukan selama 50 hari
b. Pemberian pakan dilakukan 3 kali dalam sehari pukul 08.00, 13.00,
dan 17.00 WIB dengan feeding rate 5 % dari bobot ikan
c. Penyiponan dan pergantian air 20 % dari total volume air
pemeliharaan

PARAMETER PENGAMATAN
a. Analisis nutrisi pakan uji
b. Pertumbuhan berat mutlak
c. Pertumbuhan spesifik
d. Kelangsungan hidup (SR)
e. Kualitas air

Analisis data dengan uji sidik ragam

PERSIAPAN IKAN UJI
a. Ikan Nila (Oreochromis niloticus)
b. Ikan uji berasal dari Balai Benih Ikan, Natar (Lampung Selatan)
c. Ukuran 2-3 cm
d. Padat tebar 20 ekor/akuarium

Penyusunan Laporan

Gambar 3. Road Map Penelitian
24
17

V. KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 KESIMPULAN
Berdasarkan hasil penelitian penggunaan tepung onggok singkong
sebagai bahan baku pakan ikan nila dapat disimpulkan bahwa penggunaan tepung
onggok singkong dengan proporsi 5% sebagai bahan baku pakan memberikan
pengaruh terbaik untuk pertumbuhan, kelangsungan hidup, dan efisiensi pakan
pada ikan nila.

5.2 SARAN
Penelitian ini dapat dilanjutkan dan dikembangkan kembali mengenai
penggunaan tepung onggok singkong sebagai bahan baku pakan ikan.

DAFTAR PUSTAKA

Amri, K. dan Khairuman. 2003. Membuat pakan ikan konsumsi. Agromedia
pustaka. Tanggerang. 45 hal
Badan Pusat Statistik. 2012. Produksi Tanaman Ubi Kayu Seluruh Provinsi.
Diakses pada tanggal 5 Maret 2013. 34 hal
Badan Standardisasi Nasional. 1999. SNI01-6138-1999 (Induk Ikan Nila Hitam,
Oreochromis Niloticus Bleeker Kelas Induk Pokok). Jakarta. 10 hal
Badan Standardisasi Nasional. 1999. SNI01-6140-1999 (Induk Ikan Nila Hitam,
Oreochromis Niloticus Bleeker Kelas Induk Pokok). Jakarta. 10 hal
BBAT Sukabumi. 2005. Kandungan Nutrisi Ikan Nila. SNI02-3151-2005.
Sukabumi. Jawa Barat. 77 hal
Boyd. 2004. SNI 01-6139-1999 (Produksi induk ikan nila hitam, Oreochromis
niloticus). Jakarta 4 hal
Deptan. 2009. Kandungan Nutrisi singkong bio etanol. Sumber : www.Deptan.
go.id (27 Februari 2013). 2 hal
Djarijah, 1995. Onggok Untuk Bahan Pakan. Jurnal Poultry Indonesia. Jakarta. 56
hal
Effendi. 2004. Biologi Ikan Nila. Yayasan Pustaka Nusatama. Jakarta. 54 hal
Fitriliyani, L. 2010. Evaluasi nilai nutrisi onggok singkong terhidrolisis
dengan ekstrak enzim cairan remen domba (Ovis aries) terhadap
kinerja pertumbuhan ikan nila (Oreochromis niloticus). Jurnal Akuakultur
Indonesia, 9(1): 30-37 hal
Furuichi, M. 1988. Dietary Activity of Carbohydrates. In Fish nutrition and
mariculture. Wantanabe. Departement of aquatic Biosciences Tokyo
University of Fishes, Pp. 1-77 hal. Tokyo.
Gustiano, R., O.Z. Arifin, A. Widiyanti, L. Winarlin. 2003. Pertumbuhan jantan
dan betina 24 famili ikan nila (Oreochromis niloticus ) pada umur 6
bulan. Balai Riset Perikanan Budidaya Air Tawar, Bogor. 32 hal

Hardjamulia, A. 1978. Budidaya Ikan Gurame, Tambakan, Sepat siam, dan Nila.
SUPM Budidaya. Bogor. 32 hal
Hariadi, B. A. Haryono, U. Susilo. 2005. Evalusai efisiensi pakan dan efisiensi
protein pada ikan nila (Oreochromis niloticus) yang diberi pakan
dengan kadar karbohidrat dan energi yang berbeda. Jurnal Ichtyos,
4(2): 88-92 hal
Hepher, B. 1988. Nutrition of pond fishes. Agromedia pustaka. Tanggerang. 54
hal
Hertrampt and Pescual, D.R.T, 2000. Tilapia Culture : Hatchery methods for
Oreochromis mossambicus and O. niloticus. Institute of Aquaculture,
University of Stirling. Scotland. 154 pp
Kafuku, T. 1983. Modern Methods of Aquaculture Tilapia in Japan. Kodansha
Ltd. Tokyo. 45-46 hal
Kementerian Kelautan dan Perikanan. 2013. Data Informasi Peningkatan
Budidaya Ikan Nila Di Indonesia. Sumber : www.KKP.go.id (20 Februari
2013).
Lestari. 1992. Tilapia Culture Management methods for Oreochromis
mossambicus. University of Fishes, Pp. 1-77. Jakarta.
Mahyuddin, 2008. Mengolah Limbah Singkong Menjadi Pakan Ternak bergizi.
Sumber:http://peluangusaha.kontan.co.id/v2/read/1298616362/59930/Men
golah-limbah-singkong-menjadi-pakan-ternak-bergizi
Mudjiman, A. 2004. Pakan Ikan. Penebar Swadaya. Jakarta. 192 hal
NRC. 1993. Aquaculture Tilapia Management. Proceedings word congress of
food science and technology. 25-28. Oreochromis sp. World Aquaculture
Society, 1: 61-70 hal
Pascual, S. 2009. Nutrition and feeding of fish. Van nostrand Reinhold, p.11-91,
New York.
Sayed, A. 1999. Onggok bahan baku pakan ternak. Sumber:http://peluangusaha.
kontan.co.id/v2/read/1298616362/59930/Mengolah-limbah-singkongmenjadi- pakan-ternak-bergizi
Setyo , S. 2006. Fisiologi Nila (Oreochromis niloticus). Kanisius. Jakarta. 64 hal
Steel, R.G.D dan J.H. Torrie. 1991. Prinsip dan Prosedur statistika. PT. Gramedia
pustaka Utama. Jakarta. 198 hal

Sugiarto. 1988. Tekhnik Pembenihan Ikan Mujair dan Nila. CV. Simplex. Bogor.
74 hal
Sunarso. 2008. Manajemen Kualitas Air. http:// pdf Water
.com/manajemen Kualitas Air.pdf. [Senin, 1 Juli 2013].

Engineer

Suprayudi,T. 2010. Ikhtisar Ruminologi. Departemen Ilmu dan Makanan Ternak
Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor, Bogor. 42 hal
Sutardi. 2008. Potensi Limbah Tapioka sebagai Pakan Ternak. Departemen Ilmu
dan Makanan Ternak Fakultas Peternakan Institut Pertanian Bogor, Bogor.
35 hal
Tabrani. 2002. Sulfonasi onggok sebagai superabsoerben. Institut Pertanian
Bogor. 32 hal
Wanatanabe, A. 1988. Protein enrichment of cassava solid waste by ssf. Trends in
food biotechology. Proceedings word congress of food science and
technology. 25-28 hal
Wizna. 2008. Limbah untuk pakan ternak. Trubus Agrisana, Surabaya. 28 hal
Zonneveld, N., E.A. Huisman, J.H. Boom. 2010. Prinsip-prinsip budidaya ikan.
Gramedia Pustaka Utama, Jakarta. 54 hal

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

98 2961 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

36 756 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

34 653 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

15 424 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

24 579 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

49 972 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

49 888 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

14 539 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

21 797 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

33 959 23