Perancangan Media Informasi Mengenai Anak Penderita Autis

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

  Nama : Aang Nurgahandi Tempat, Tanggal Lahir : Bandung, 24 April 1986 Jenis Kelamin : Laki-laki Agama : Kristen Status Merital : Belum Menikah Alamat : Jl. Pasir Luyu no.127 Rt.03 - Rw.05 No Telepon : 02292858417 - 085261654548 Email : gabrielang2a@yahoo.co.id PENDIDIKAN Pendidikan Formal

  • SDN Bhakti Winaya 2 (Lulus tahun 1999)
  • SMP Taman Siswa (Lulus tahun 2002)
  • SMA Pasundan 1 Bandung (Lulus tahun 2004)
  • Fakultas Desain, Universitas Komputer Indonesia (Lulus tahun 2010)

  Seminar dan Pelatihan

  • Seminar 1001 Ide, Universitas Komputer Indonesia (2008)
  • Workshop Audio Visual, Universitas Komputer Indonesia (2009)
  • Smart & Fun with Microsoft, Universitas Komputer Indonesia (2010)

PENGALAMAN KERJA

  Museum Geologi Bandung (2009-2010) (Freelance Graphic Designer)

  KEAHLIAN & KEMAMPUAN

  Hand Drawing Adobe Photoshop Adobe Illustrator Adobe In Design Adobe After Effects Adobe Flash Adobe Premiere Adobe Dreamweaver Corel Draw

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang Masalah

  Keadaan anak-anak yang mengalami gangguan autis saat ini di masyarakat kelompok menengah kebawah sangat memprihatinkan. Selain itu fenomena saat ini banyak orangtua yang memiliki anak yang mengalami gangguan autis namun tidak menyadari bahwa anaknya mengalami gangguan autis. Menurut Leo Kanner (1943), istilah Autisme berasal dari kata "Autos" yang berarti diri sendiri dan "Isme" yang berarti suatu aliran, autis berarti suatu paham yang tertarik hanya pada dunianya sendiri. Autis juga berarti suatu keadaan dimana seseorang anak berbuat semaunya sendiri baik cara berfikir maupun berperilaku, keadaan ini biasanya terjadi sejak usia masih balita dan biasanya terjadi sekitar usia 2-3 tahun. Dimana biasanya pada usia tersebut anak sudah mulai belajar untuk bicara, tapi pada anak yang mengalami gangguan autis mengalami keterlambatan dalam hal interaksi sosial, masalah dalam bahasa yang digunakan dalam komunikasi sosial dan permainan simbolik atau imajinatif.

  Jika suatu keluarga memiliki anak yang mengalami gangguan autis seharusnya keluarga tersebut sesegera mungkin menangani gangguan autis tersebut sedini mungkin. Orang tua perlu mencurigai tanda-tanda jika terjadi keterlambatan dalam hal berkomunikasi dan gangguan dalam berinteraksi pada anak mereka, karena jika tidak ditangani secepatnya gangguan tersebut bisa mengakibatkan kesulitan berkomunikasi dalam melakukan kegiatan apapun. Dan, jika tidak dilakukan tindakan secepatnya dihawatirkan bisa mengganggu anak tersebut nantinya dalam hal pendidikan, melihat resiko ini dinilai bahwa penanganan autis harus diutamakan.

  Kondisi ideal mengenai gangguan autis perlu diketahui dan dimengerti oleh seluruh masyarakat, tanpa kecuali masyarakat menengah kebawah. Selain mengetahui gejala-gejala dari gangguan autis sendiri, mereka pun sebagai orangtua bisa mengetahui cara penanganannya dan cara mendidik anak- anak autis sendiri. Selain itu yang paling penting adalah tidak ada salah perlakuan, seperti perlakuan seolah-olah anak autis mengalami gangguan kejiwaan, sehingga diperlakukan tidak layak. Informasi saat ini mengenai autis dimasyarakat masih belum banyak dan belum mencakup seluruh lapisan masyarakat, bahkan banyak yang tidak mengerti apa itu gangguan autis. Informasi di masyarakat mengenai gangguan autis hanya diketahui golongan masyarakat menengah keatas. Sementara masyarakat golongan menengah kebawah masih banyak yang tidak mengerti gejala-gejala dari gangguan autis dan cara penaggulangannya. Banyak orangtua yang menganggap keterlambatan berkomunikasi dan interaksi yang terjadi pada anaknya tersebut adalah hal yang wajar atau tidak menganggap gangguan autis yang terjadi pada anak mereka merupakan gejala gangguan mental atau gangguan jiwa. Sehingga anak- anak yang mengalami gangguan autis ini diperlakukan tidak semestinya dengan kondisi yang menghawatirkan dan ini dapat memperburuk keadaan anak tersebut karena semakin terkucilkan bahkan dilingkungan keluarganya sendiri.

  Maka dari itu media informasi yang ada di masyarakat mengenai gangguan autis perlu dibuat lebih banyak.. Sehingga nantinya anak tersebut bisa kembali hidup normal, dapat mengenyam pendidikan, mampu hidup mandiri, berkomunikasi dan berinteraksi dengan sekitarnya.

1.2 Identifikasi Masalah

  Berdasarkan dari latar belakang diatas maka dapat diidentifikasi masalah sebagai berikut : Informasi yang ada dimasyarakat mengenai gangguan autis tidak diketahui oleh seluruh masyarakat dan hanya golongan tertentu saja. Informasi mengenai gangguan autis sendiri tidak terlalu banyak, bahkan sangat jarang. Dampak bagi anak-anak yang mengalami gangguan autis dari golongan menengah kebawah akan bertambah genting jika tidak cepat ditangani. Banyak masyarakat khususnya orangtua berpikir negatif dikarenkan kurangnya informasi mengenai gangguan autis. Orangtua tidak tahu harus membawa anaknya kemana ketika mengetahui anaknya mengalami gangguan autis. Gangguan autis tidak termasuk kedalam program pemerintah secara khusus.

1.3 Rumusan Masalah

  Semakin meningkatnya anak yang menderita gangguan autis pada saat ini tidak berbanding lurus dengan pengetahuan atau informasi di masyarakat. Informasi yang diterima mereka sangat sedikit, bahkan bisa jadi tidak mengetahuinya sama sekali.

  “Bagaimana merancang sebuah media informasi mengenai Anak Penderita Autis ?”

  1.4 Batasan Masalah

  Dari rumusan masalah diatas maka batasan-batasan masalah hanya difokuskan pada : Pembatasan masalah ditekankan pada informasi penanganan bagi para orangtua yang memiliki anak yang mengalami gangguan autis dengan ekonomi sosial mengenah kebawah. Kawasan informasi difokuskan bagi masyarakat di kota Bandung. Informasi dibatasi pada informasi mengenai gejala-gejala awal gangguan autis dan penanganan anak autis didalam keluarga.

  1.5 Tujuan Perancangan

  Tujuannya agar masyarakat lebih mengerti gejala-gejala awal dari gangguan autis dan tindakan apa saja yang harus diambil. sehingga nantinya tidak salah dan memperburuk yang berpengaruh bagi perkembangan yang lebih lanjut bagi anak yang menderita gangguan autis itu sendiri.

  1.6 Manfaat Perancangan

  Adapun manfaat perancangan pembuatan media adalah : Membantu memberikan penjelasan mengenai gangguan autis kepada seluruh masyarakat.

  Memberikan pengetahuan gejala-gejala awal dari gangguan autis Memberikan pengetahuan penanganan dan penanggulangan yang bisa dilakukan oleh orangtua.

  Membantu menambah informasi media informasi mengenai gangguan autis.

1.7 Kata Kunci

  Berikut adalah kata-kata kunci yang digunakan : Informasi, Media , Autis.

BAB II INFORMASI GANGGUAN AUTIS

2.1 Definisi Informasi

  Informasi adalah ilmu pengetahuan yang didapatkan dari hasil belajar, pengalaman, atau instruksi. Namun informasi memiliki banyak arti bergantung pada konteksnya, dan secara umum berhubungan erat dengan konsep seperti informasi sendiri berasal dari kata Perancis kuno informacion (1387) yang diambil dari bahasa latin informationem yang berarti “garis besar, konsep, ide”.

  Informasi merupakan kata benda dari informare yang berarti aktivitas dalam “pengetahuan yang dikomunikasikan. Informasi merupakan fungsi penting untuk membantu mengurangi rasa cemas seseorang. Menurut Notoatmodjo (2008) bahwa semakin banyak informasi dapat mempengaruhi atau menambah pengetahuan seseorang dan dengan pengetahuan menimbulkan kesadaran yang akhirnya seseorang akan berperilaku sesuai dengan pengetahuan yang dimilikinya.

  Tujuan informasi: menurut Davis, Gordon (2002) dalam Rahmat blog (2009), tujuan utama informasi adalah menambah pengetahuan atau mengurangi ketidakpastian. Informasi berfungsi untuk memberikan gambaran tentang suatu permasalahan sehingga pengambil keputusan dapat menentukan keputusan secara lebih cepat. Selain itu informasi juga memberikan standar, aturan, maupun indikator bagi pengambil keputusan untuk menentukan keputusan secara lebih baik. tetapi informasi hanya dapat menyediakan sebagian sistem yang diperlukan dalam pengambilan keputusan.

  Manfaat informasi : informasi dapat memberikan pemahaman atau pengertian secara menyeluruh, menambah pengetahuan, Memberi standar, aturan-aturan, ukuran, dan keputusan - keputusan yang menentukan pencapaian sasaran atau tujuan.

2.2 Pengertian Umum Autis

  Autis berasal dari kata “autos” yang berarti sendiri, sehingga anak-anak yang mengalami gangguan autis seolah-olah hidup dalam dunianya sendiri. Sedangkan menurut istilah Autis/Autisme ini dikenalkan pertama kali pada tahun 1943 oleh Leo Kenner dalam widodo judarwanto (2008) sebagai sifat kekanak-kanakan merupakan gangguan yang terjadi pada pertumbuhan dan perkembangan anak.

  Autis bisa mengenai siapa saja baik dalam golongan sosial ekonomi mapan maupun kurang mapan, laki-laki maupun perempuan dan semua etnis. Gejala yang ditimbulkan mulai tampak sebelum anak berusia 2-3 tahun, Bahkan ada gangguan autis yang gejalanya sudah ada sejak lahir. Autis bukan suatu gejala penyakit tetapi berupa kumpulan gejala- gejala dimana terjadi suatu penyimpangan dalam perkembangan bersosial, kemampuan berbahasa yang kurang, dan kepedulian terhadap sekitar sehingga anak autis seperti hidup dalam dunianya sendiri.

  Penanganan autis perlu diutamakan lebih dahulu dibandingkan yang lainya sebelum para orangtua merencanakan pendidikan, karena masalah pemaknaan dan pemahaman tentang makna benda-benda, kejadian, dan orang-orang lain yang ada disekitar anak yang memiliki gangguan autis harus dimengerti terlebih dahulu. Bahkan ketika gangguan lainya ada (cacat mental, ketulian, kebutaan, dan lain-lain), masalah autis masalah yang perlu dipikirkan lebih dulu ketika merencanakan pendidikan (Theo Peeters, 2004).

2.2.1 Penyebab Autis

  Penyebab autis sendiri sampai saat ini memang belum diketahui secara pasti, dan menurut beberapa dokter ahli menyebutkan autis disebabkan oleh beberapa faktor. Beberapa peneliti juga mengungkapkan terdapat gangguan biokimia, dokter ahli lain berpendapat bahwa autis disebabkan oleh gangguan jiwa. Ahli lainnya berpendapat bahwa autis disebabkan oleh karena kombinasi makanan yang salah atau lingkungan yang terkontaminasi zat-zat beracun yang mengakibatkan kerusakan pada usus besar yang mengakibatkan masalah dalam tingkah laku dan fisik termasuk autis. Berikut adalah faktor-faktor yang bisa menyebabkan terjadinya gangguan autis :

  • kadar mercury dalam darah
  • makanan laut atau seafood Vaksin yang dapat menyerap langsung pada tubuh - Gandum dan susu - Radiasi elektronik contohnya Hp - Faktor keturunan -

  Thimerasol (kandungan dalam alat suntik, tutup botol vaksin)

  • 2.2.2 Populasi anak yang mengalami gangguan autis

  Dari seminar yang diadakan our dream yaitu salah satu tempat pendidikan bagi anak-anak autis, Berikut adalah Negara-negara yang memiliki populasi anak yang mengalami gangguan autis terbesar hingga tahun 2010 didunia antara lain :

  China : 2.500.000 orang India : 2.000.000 orang Amerika : 1.200.000 orang Indonesia : 350.000 orang Jepang : 300.000 orang Philipina : 250.000 orang Vietnam : 200.000 orang Thailand : 150.000 orang Dari populasi diatas diketahui bahwa populasi terbesar adalah china namun dilihat dari perbandingan dari jumlah penduduknya Amerika memiliki perbandingan terbesar dari jumlah penduduknya 1 : 10.

2.2.3 Gejala-gejala gangguan Autis

  seorang anak yang mengalami gangguan autis ditandai dengan 3 gejala antara lain :

  1. Anak yang mengalami gangguan autis tidak mampu berinteraksi dengan orang-orang yang ada disekelilingnya, anak tersebut cenderung menolak menatap mata lawan bicaranya dan memilih melihat ke arah lain saat diajak berbicara. Saat merasa senang atau sedih, ekspresi wajahnya tetap sama dan tidak mengalami perubahan.

  2. Anak mengalami keterlambatan berbicara atau bahkan sama sekali tidak bisa berbicara. Batas usia yang diberikan para ahli untuk mentoleransi seorang anak mengucapkan kata pertamanya adalah 18 bulan. Pada perkembangannya diusia 2 tahun anak minimal dapat mengucapkan sebuah kalimat yang terdiri dari 2 kata, sesederhana apapun itu. Pada anak yang mengalami autis, sekalipun ia dapat berbicara, biasanya kata- katanya tidak jelas atau tidak sesuai dengan konteks pembicaraan.

  3. Anak tampak sering melakukan kebiasaan yang berulang atau sangat menyukai benda tertentu secara berlebihan. Contohnya anak yang mengalami gangguan autis juga tidak mau makan saat posisi piring, garpu, dan sendok tidak tertata secara simetris seperti biasanya. Selain memiliki pola kebiasaan yang sangat kaku, anak yang mengalami autis biasanya bermain secara aneh terus menerus. Kasus yang sering dijumpai adalah mereka senang sekali memutar roda mobil-mobilannya dalam waktu yang lama, berjam-jam melihat kipas angin yang berputar, atau menyusun mainannya dalam pola yang berulang.

  Gejala yang paling mudah dikenali dari autisme adalah kurangnya kontak mata anak terhadap lawan bicaranya. Gejala lain yang juga mudah dikenali adalah apabila anak mengalami keterlambatan bicara. Bagaimanapun, untuk gejala yang kedua ini, orang tua perlu berhati-hati. Tidak semua anak yang terlambat bicara pasti mengalami autis, namun terlambat bicara merupakan salah satu karakteristik autis.

2.2.4 Macam-macam gangguan Autis

  Karakteristik Penderita Autis dapat dilihat dari masalah/gangguan yang dialami oleh anak autis itu sendiri, sehingga gangguan autis dibedakan berdasarkan gangguannya (Handoyo, 2009), yaitu : a. Komunikasi Perkembangan bahasa lambat atau sama sekali tidak ada, anak tampak seperti tuli, sulit berbicara, atau pernah berbicara tapi kemudian sirna, Kadang kata-kata yang digunakan tidak sesuai artinya, Mengoceh tanpa arti berulang-ulang, dengan bahasa yang tak dapat dimengerti orang lain. Bicara tidak dipakai untuk alat berkomunikasi senang meniru atau membeo (echolalia), senang meniru, dapat hafal betul kata- kata atau nyanyian tanpa mengerti artinya. Sebagian dari anak ini tidak berbicara (non verbal) atau sedikit berbicara (kurang verbal) sampai usia dewasa, senang menarik-narik tangan orang lain untuk melakukan apa yang ia inginkan, misalnya bila ingin meminta sesuatu.

  b. Interaksi sosial Anak autis lebih suka menyendiri tidak ada atau sedikit kontak mata, atau menghindar untuk bertatapan tidak tertarik untuk bermain bersama teman bila diajak bermain, ia tidak mau dan menjauh.

  c. Gangguan sensoris Sangat sensistif terhadap sentuhan, mereka seperti tidak suka dipeluk bila mendengar suara keras langsung menutup telinga senang mencium-cium bau, menjilat mainan atau benda-benda, dan mereka tidak tidak sensitif terhadap rasa sakit dan rasa takut.

  d. Pola bermain anak- anak yang mengalami gangguan autis tidak dapat bermain seperti anak-anak yang lain pada umumnya, meraka tidak suka bermain dengan anak sebayanya, tidak kreatif, tidak imajinatif, tidak bermain sesuai fungsi mainan, contohnya: sepeda dibalik lalu rodanya diputar-putar, selain itu meraka senang akan benda- benda yang berputar, seperti kipas angin, roda sepeda, selain itu mereka dapat sangat menyukai benda-benda tertentu yang dipegang terus-menerus dan bisa dibawa kemana-mana.

  e. Perilaku Kebanyakan anak-anak yang mengalami gangguan autis berperilaku berlebihan/hiperaktif atau kekurangan/hipoaktif, memperlihatkan perilaku stimulasi diri seperti bergoyang-goyang, mengepakkan tangan seperti burung, berputar-putar, mendekatkan mata ke pesawat TV, lari/berjalan bolak balik, melakukan gerakan yang diulang-ulang tidak suka pada perubahan dapat pula duduk bengong dengan tatapan yang kosong.

  f. Emosi Karena mereka tidak bisa mengungkapkan apa yang mereka inginkan sehingga sering marah-marah tanpa alasan yang jelas, tertawa-tawa, menangis tanpa alasan temper tantrum (mengamuk tak terkendali) jika dilarang atau tidak diberikan keinginannya, kadang suka menyerang dan merusak, Kadang- kadang anak berperilaku yang menyakiti dirinya sendiri, tidak mempunyai empati dan tidak mengerti perasaan orang lain.

2.2.5 Terapi Autis

  Anak-anak yang mengalami gangguan autis dapat dilatih melalui terapi sesuai dengan kondisi dan gangguan yang dialaminya antara lain:

  Terapi Wicara : Untuk melatih suara dan melancarkan otot-otot mulut sehingga dapat melatih anak berbicara lebih baik.

  Contoh: memijat pipi, metode sikat khusus lidah, dan latihan suara.

  Terapi untuk melatih motorik halus: untuk melatih kepekaan tangan dan melatih otot tangan. Contoh : pemijatan tangan, memasukan campuran terigu dengan air kemudian anak dilatih untuk meremas campuran terigu tersebut. Terapi Bermain: untuk melatih mengajarkan kepekaan terhadap lingkungan sekitarnya, teman-teman, dan benda-benda disekelilingnya Contoh : melatih anak untuk menyebutkan nama tempat, nama teman-teman/orang-orang disekelilingnya dan memyebutkan nama-nama benda. Terapi medikamentosa/obat-obatan/drug therapy: untuk menenangkan anak melalui pemberian obat-obatan oleh dokter yang berwenang. Terapi Visual: Melatih anak mengingat benda-benda dalam bentuk gambar Contoh: terapi ini bisa dilakukan seperti bermain, jadi orangtua meperlihatkan suatu gambar lalu menyuruh anaknya untuk mengikutinya. Terapi melalui makan/diet therapy: untuk mencegah/mengurangi tingkat gangguan autis.

  Contoh : mengurangi makanan yang banyak mengandung bahan terigu, gula, coklat.

  Terapi melatih motorik kasar: untuk melatih kepekaan dan kordinasi daya indra anak autis seperti pendengaran, penglihatan, perabaan. Contoh : melatih anak untuk melompat, naik turun tangga dan berenang.

  Terapi pendengaran: untuk melatih kepekaan pendengaran anak agar lebih sempurna Contoh: terapi ini bisa dilakukan dengan menyebutkan kata- kata, dengan bantuan alat yang dipukul, atau dengan alat musik. Terapi pembuangan racun: untuk perbaikan dan kebugaran kondisi tubuh agar terlepas dari faktor-faktor yang merusak mulai dari keracunan logam berat (mercury), dan zat-zat dalam tubuh anak yang mengakibatkan anak mengalami gangguan autis. Terapi ini hanya dapat dilakukan oleh dokter dan pihak-pihak yang berwenang.

  Terapi dengan menggunakan air: membantu anak autis untuk melepaskan energi yang berlebihan pada diri anak melalui aktifitas diair Contoh: bermain dengan air seperti memindahkan air dari satu ember ke ember yang lainnya, atau mengajak anak sesekali untuk berenang.

  Terapi Musik: untuk melatih pendengaran anak, menekan emosi, melatih kontak mata dan konsentrasi dan mengingat nada-nadanya. Contoh: bermain piano, gitar atau alat musik lainnya.

  2.3 Analisis Media Informasi Autis

  What : Memberikan informasi kepada para orangtua yang memiliki anak dengan gangguan autis memberikan pemahaman dan cara penangannannya. Why : Kurangnya pengetahuan para orangtua tentang pemahaman gangguan autis dan cara penangannya.

  Who : Para orangtua yang khususnya memiliki anak dengan gangguan autis.

  When : Informasi dilakukan pada orang tua dilakukan selama enam bulan yaitu pada bulan Desember 2010 dan puncaknya pada pada bulan 4 April 2011saat hari autis sedunia Where : Informasi difokuskan untuk masyarakat di kota Bandung.

  How : Memberikan Informasi Tentang Gangguan autis, gejala- gejala gangguan autis, dan cara penanggulangan atau penangannnya melalui suatu media yang tepat.

  2.4 Khalayak sasaran

  Adapun target sasaran masyarakat yang ingin dicapai antara lain : Demografis

  Target primer : Pria dan wanita, 25

  • – 40 tahun, para orangtua yang memiliki anak dengan gangguan autis

  Psikologis Target primer : Orangtua yang memiliki anak dengan gangguan autis, awam, Kurang menetahui informasi, hidup sederhana. Target sekunder : Seluruh masyarakat yang ingin mengetahui dan perduli dengan gangguan autis.

  Target sekunder : Pria dan wanita, 18

  • – 45 tahun, seluruh orangtua dan masyarakat umum lainnya yang memiliki anak-anak dan perduli akan gangguan autis.

  Geografis Target primer : Daerah perkotaan dengan masyarakat yang padat dan memiliki angka kelahiran cukup besar.

  Target sekunder : Daerah perkotaan lain dan sub urban dimana masyarakatnya juga perlu informasi tentang gangguan autis.

BAB III STRATEGI PERANCANGAN DAN KONSEP VISUAL

3.1 Strategi perancangan

  3.1.1 Strategi Komunikasi

  Pesan Utama dari pembuatan media informasi gangguan autis adalah untuk memberikan informasi tentang gejala-gejala autis, penanganan anak yang mengalami gangguan autis dalam keluarga.

  Materi Pesan yang akan diberikan kepada masyarakat pertama akan dijelaskan mengenai gangguan autis itu sendiri, penyebab autis, kemudian menjelaskan gejala-gejala pada anak jika mengalami gangguan autis, dan cara penanganan dalam keluarga.

  3.1.2 Strategi Kreatif

  Memberikan penjelasan mengenai autis, apa itu gangguan autis lalu apa saja yang bisa menyebabkan gangguan autis, memberikan pengetahuan negara-negara yang memiliki jumlah anak yang mengalami gangguan autis paling banyak, gejala

  • – gejala jika seorang anak mengalami gangguan autis, kemudian memberikan contoh terapi bagi para orangtua agar bisa melatih anak mereka di rumah, disini terdapat gambar ilustrasi yang bisa dijadikan contoh agar para orangtua bisa menirukan terapi tersebut. Untuk penggunaan bahasa, bahasa yang digunakan tidak formal agar para orang tua bisa lebih mengerti dan memahami informasi yang diberikan, selain itu diharapkan dengan penggunaan bahasa yang tidak terlalu formal para orang tua tidak akan bingung dengan bahasa-bahsa yang berat, dan sebisa mungkin menggunakan kata-
kata yang bisa dimengerti, dan memberikan penjelasan bila ada suatu kata yang kira-kira asing bagi para orang tua.

3.1.3 Strategi Media

  Agar penyampaian kepada masyarakat tepat dan tujuan dapat dicapai seperti yang diharapkan dengan pertimbangan dalam strategi komunikasi yang telah dibuat, maka media utama dan media-media pendukung komunikasi alternatif yang dapat digunakan untuk melakukan informasi mengenai gangguan autis bagi masyarakat yaitu:

  Media primer: Media yang diambil adalah brosur yang menjelaskan mengenai gangguan autis dan cara penanganan untuk anak yang mengalami autis. Brosur diambil sebagai media utama karena bisa sangat praktis, keunggulannya dapat menampung banyak informasi bersistem sederhana.

  Media sekunder :

  a. Billboard : Merupakan media luar yang jangkauan sasarannya luas.

  b. Spanduk : Media yang dapat bertahan dalam jangka waktu yang lama, selain itu dapat dilihat dari jarak dekat maupun jauh, sehingga pesan dapat sampai kepada sasaran yang sedang melakukan perjalanan.

  c. Stiker : Media yang dapat bertahan dalam jangka waktu yang lama.

  d. Poster : Media yang memiliki jangkauan sasaran banyak dan frekuensi yang tinggi, informasi yang dilakukan melalui poster dapat merangsang kepercayaan dan sikap. e. Stiker angkot : Merupakan media luar yang jangkauan sasarannya masyarakat yang berada dijalan.

  f. X-banner : Merupakan media yang dapat digunakan sebagai media di dalam dan luar ruangan tetapi fungsinya sama sebagai media informasi yang merangsang kepercayaan.

  g. Umbul-umbul : Media yang digantung sehingga menarik perhatian orang untuk melihat.

  h. Display Brosur : Fungsi sebagai tempat untuk meletakan media utama brosur,agar brosur tersebut tidak berantakan Gimmick : Gimmick merupakan pengaplikasian dari logo atau illustrasi dari informasi yang berisi pesan, berfungsi untuk menarik perhatian dan mengingatkan target sasaran terhadap gangguan autis, Berikut pengaplikasian gimmick digunakan pada :

  a. Pin : Bisa ditempel dimana saja bisa mengingatkan para orang tua dan masyarakat.

  b. Kalender : Kalender menjadi media yang dapat bertahan dalam jangka waktu yang lama.

  c. Topi : Mengingatkan setiap orang yang melihat bahwa disekitar masyarakat bahwa Autis ada disekitar mereka.

  d. Tas belanja : Bisa digunakan kemana saja, sehingga bisa memberikan informasi secara tidak langsung kepada semua orang yang melihat.

  e. Mug : Bisa digunakan oleh seluruh anggota keluarga sehingga mengingatkan untuk lebih berinteraksi dan berkomunikasi dengan anggota kelurganya yang mengalami gangguan autis.

  f. Jam dinding : Bisa dilihat kapan saja, sehingga bisa mengingatkan para orang tua untuk melakukan interaksi, komunikasi dan terapi dirumah.

  g. T-shirt : Bisa menjadi media infirmasi dimana bisa mengingatkan akan autis sendiri, dan memberikan informasi bahwa autis ada disekitar mereka.

  h. Amplop : Selain digunakan untuk kegiatan silaturahmi, amplop bisa digunakan untuk sarana informasi kepada penerima surat.

  3.1.4 Strategi Distribusi

  Distribusi dilakukan agar para orangtua dan masyarakat dapat memperoleh Brosur ini dengan mudah dan brosur didistribusikan ditempat-tempat publik sehingga ketika melihat ada anggota keluarga atau kerabatnya yang memiliki anak dengan gangguan autis bisa mengambil brosur tersebut. Selain itu pendistribusian melalui dinas kesehatan yang bekerjasama dengan lembaga budaya masyarakat (LSM) dan disebarkan ke seluruh pelosok dikota Bandung, tempat publik, dan desa-desa. Ini bertujuan agar pendistribusian lebih terorganisir dalam penempatan dan pemerataan. Penempatan media informasi dipasang daerah publik seperti di posyandu, di rumah sakit, klinik kesehatan, tempat praktek bidan/persalinan, jalan menuju rumah sakit, pasar. Jalur distribusi yang dilakukan menggunakan media yang terkoordinir oleh pemerintah daerah setempat yang kemudian bekerjasama dengan dinas kesehatan dan LSM. Pendistribusian dilakukan dari pusat melalui kantor daerah hingga ketempat-tempat yang sudah di tunjuk dan ditetapkan untuk daerah sasaran.

  3.1.5 Jadwal Penyebaran Media

  Berdasarkan target audiens yang berada di kota Bandung dan sekitarnya maka Jadwal penyebaran media dilakukan selama kurun waktu empat bulan yang dibagi menjadi dua tahap yaitu: Penyebaran media pada bulan Desember 2010 hingga bulan Januari 2011.

  Pada tahap pertama penyebaran media promosi awal. Sedangkan tahap kedua pada bulan Februari hingga bulan Maret 2011, promosi ini diperuntukkan untuk semua kalangan. Bulan April juga merupakan tahap ketiga dan merupakan tahap akhir dalam penyebaran informasi yang pada akhirnya mengingatkan masyarakat pada hari autis sedunia yang diperingati setiap tanggal 04 April.

  Jadwal penyebaran media Tabel : 3.1 Jadwal penyebaran media

3.2 Konsep Visual

  Konsep visual disini menggunakan dua visual yang pertama memperlihatkan sosok anak yang mengalami gangguan autis yang terlihat melakukan ekspresi wajah ceria, sedih dan marah. Selain itu satu lagi visualisasi yang digunakan menggambarkan seorang anak yang tidak menghiraukan sekelilingnya dan terlihat seperti sedang melamun.

  3.2.1 Layout

  Layout tulisan rapih diletakan sejajar dengan gambar yang memperlihatkan kegiatan terapi agar dapat dilihat lebih dimengerti oleh target sasaran, dan tata letak sedikit berubah-ubah agar menghilangkan kejenuhan dan kebosanan sewaktu melihat.

Gambar 3.1 Lay Out Brosur

  3.2.2 Tipografi

  Penggunaan huruf ini untuk memberi penjelasan dari ilustrasi yang ada, selain itu Huruf yang digunakan disesuaikan dengan bahasa yang tidak terlalu formal agar penyampaian informasi lebih dimengerti oleh para orang tua dan juga masyarakat, Huruf Kristen ITC : A B C D E F G H I J K L M N O P Q R S T U V W X Y Z A b c d e f g h i j k l m n o p q r s t u v w x y z 1 2 3 4 5 6 7 8 9 0 ` ~ ! @ $ # $ % ^ & * ( ) _ - + = | \

  { } [ ] : ; “ ” „ , .< > / ? Tag line 4 : Waspadai anak anda mengalami gangguan autis ?

  Sub judul 1 : Apakah anak anda tidak dapat berinteraksi dengan orang-orang disekelilingnya ? Sub judul 2 : Apakah anak anda kurang kontak mata dengan lawan bicaranya ? Sub judul 3 : Apakah anak anda mengalami keterlambatan dalam berbicara dan berinteraksi ? Sub judul 4 : Apakah anak anda selalu menyendiri ? Sub judul 5 :

  Apakah anak sering tak menghiraukan panggilan anda ? Sub judul 6 : Kenali gejala-gejala awal autis.

3.2.3 Ilustrasi

Gambar 3.2 Anak yang sedang menyendiri

  Elemen visual diambil dari seorang anak yang mengalami gangguan autis yang sendiri dan berada dibawah sinar lampu, dan terlihat seperti melamun.

Gambar 3.3 Anak yang tidak bisa bersosialisasi

  Elemen visual diambil dari seorang anak yang mengalami gangguan autis yang tidak dapat berinteraksi, bermain dengan teman-teman seumurnya.

Gambar 3.4 Anak kecil dengan mulut memakai plester

  Gambar diambil dari seorang anak yang mengalami gangguan autis yang menggunakan plester yang menandakan anak ini tidak dapat berinteraksi dan berkomunikasi.

Gambar 3.5 Anak kecil yang sedang menyendiri

  Gambar diambil dari seorang anak yang mengalami gangguan autis yang terlihat sendiri dan acuh tak acuh.

Gambar 3.6 Ibu dan anak yang sedang belajar musik

  Gambar diambil dari seorang anak yang mengalami gangguan autis dan seorang ibu yang sedang melakukan kegiatan terapi dengan menggunakan musik untuk melatih pendengaran anak yang mengalami autis tersebut.

Gambar 3.7 Ibu yang sedang memandikan anaknya

  Gambar diambil dari seorang anak yang mengalami gangguan autis dan seorang ibu yang sedang melakukan kegiatan memandikan anak tersebut sambil bermain yang bertujuan agar anak tersebut bisa menghilangkan stress dengan bermain air.

Gambar 3.8 Ibu yang sedang memijat anaknya

  Gambar di atas memperlihatkan seorang ibu yang melakukan terapi pijat wajah pada anaknya, yang bertujuan merangsang anak tersebut agar lancar dalam berbicara dan agar otot-otot pipi, bibir nya tidak kaku.

Gambar 3.9 Ibu yang sedang memberikan obat pada anaknya

  Gambar diatas memperlihatkan seorang ibu yang memberikan obat pada anaknya untuk menenangkan anak, pemberian obat disini diberikan oleh dokter berwenang.

Gambar 3.10 Ibu mengajarkan anaknya meremas campuran tepung dan air

  Visual diatas memperlihatkan kegiatan ibu dan anak yang mengalami gangguan autis yang sedang melakukan terapi dengan menggunakan terigu yang dicampur air, terapi ini berfungsi agar merangsang otot tangan anak tersebut agar tidak kaku Untuk melatih kepekaan tangan, kemudian anak dilatih untuk meremas campuran Terigu tersebut.

Gambar 3.11 Ibu yang mengajak anaknya bermain

  Terapi Bermain melatih kepekaan terhadap lingkungan sekitarnya,Teman-teman, dan benda-benda disekelilingnya terapi ini melatih anak untuk menyebutkan nama tempat, nama teman-teman/ orang disekelilingnya dan memyebutkan nama-nama benda.

Gambar 3.12 ibu yang sedang memandikan anaknya

  Gambar yang memperlihatkan kegiatan Melatih anak Mengingat Benda-benda dalam bentuk gambar,terapi ini bisa dilakukan seperti bermain. Jadi orang tua meperlihatkan suatu gambar lalu menyuruh anaknya untuk menyebutkannya benda yang dimaksud.

3.2.4 Warna

  Warna-warna dominan yang digunakan adalah: R= 117 G= 197 B= 240 C= 47 M= 11 Y= 3 K= 0 R= 231 G= 147 B= 221 C= 76 M= 30 Y= 3 K= 0

  Biru melambangkan nuansa dingin dan dalam seperti lautan, warna biru juga dapat memberikan respon psikologi kepercayaan, kebersihan, keteraturan. Respon kepercayaan ini yang diambil sebagai latar belakang media agar semua orang yang melihat informasi ini percaya dan diharapkan ada respon bagi anak-anak yang mengalami gangguan autis di lingkungannya.

  Warna-warna lain yang digunakan adalah: R= 255 G= 255 B= 255 C= 0 M= 0 Y= 0 K= 0 R= 224 G= 245 B= 200 C= 3 M= 1 Y= 26 K= 0 R= 243 G= 232 B= 042 C= 8 M= 1 Y= 94 K= 0 R= 041 G= 039 B= 040 C= 70 M= 66 Y= 63 K= 68 R= 183 G= 213 B= 123 C= 31 M= 1 Y= 67 K= 0 R= 226 G= 156 B= 180 C= 8 M= 45 Y= 11 K= 0

  R= 209 G= 174 B= 152 C= 85 M= 17 Y= 100 K= 3 R= 183 G= 180 B= 207 C= 27 M= 26 Y= 6 K= 0

  R= 143 G= 132 B= 184 C= 48 M= 49 Y= 4 K= 0 R= 212 G= 049 B= 042 C= 0 M= 0 Y= 0 K= 0 R= 231 G= 120 B= 023 C= 9 M= 63 Y= 69 K= 1 R= 192 G= 193 B= 198 C= 24 M= 19 Y= 16 K= 0 R= 209 G= 174 B= 152 C= 18 M= 31 Y= 390 K= 0

BAB IV MEDIA DAN TEKNIS PRODUKSI

4.1 Media primer

4.1.1 Brosur

  Media yang diambil adalah brosur yang menjelaskan mengenai gangguan autis dan cara penanganan untuk anak yang mengalami autis.

Gambar 4.1 Brosur tampak depanGambar 4.2 Brosur tampak belakang Ukuran : 10 cm x 21 cm Material : Art Paper Teknik Produksi : Cetak Separasi Ilustrasi : wajah anak kecil, anak yang mengalami gangguan autis yang tidak bisa berinteraksi dengan siapapun dilingkungannya. Isi Pesan : Memberi informasi gambaran tentang anak yang mengalami gangguan autis yang sering berubah-ubah, dan memberikan dari terapi yang dapat dilaukan dirumah.

4.2 Media Sekunder

4.2.1 Billboard Billboard Merupakan media luar yang jangkauan sasarannya luas.

Gambar 4.3 Billboard

  Ukuran : 400 x 300 cm

  Material : rangka baja, fiber / outdoor material printing Teknik Produksi : Digital Printing Ilustrasi : Mengikuti poster 1 Isi Pesan : Memberi informasi kepada para pengguna jalan agar mewaspadai gejala-gejala dari gangguan autis yang bias saja di alami oleh anggota keluarganya dan masarakat yang ada disekitar mereka.

4.2.2 Poster

  Poster merupakan media yang memiliki jangkauan sasaran banyak dan frekuensi yang tinggi, informasi yang dilakukan melalui poster dapat merangsang kepercayaan dan sikap .

Gambar 4.4 Poster 1Gambar 4.5 Poster 2Gambar 4.6 Poster 3Gambar 4.7 Poster 4Gambar 4.8 Poster 5

  Ukuran : A2 (42 cm x 59.4 cm) Material : Art Paper Teknik Produksi : Cetak Separasi Ilustrasi : Poster 1. Illustrasi dari anak autis yang sedang diberi sebuah mainan oleh ibunya namun anak tersebut terlihat acuh tak acuh. Poster 2. Illustrasi dari seorang anak yang mengalami gangguan autis yang tidak dapat berinteraksi dengan teman-teman seumurnya Poster 3. Illustrasi dari seorang anak yang mengalami gangguan autis yang menggunakan plester yang menandakan anak ini tidak dapat berinteraksi dan berkomunikasi.

  Poster 4. Illustrasi diambil dari seorang anak yang mengalami gangguan autis yang sendiri dan berada dibawah sinar lampu, dan terlihat seperti melamun.

  Poster 5. Illustrasi dari anak autis yang sedang diberi makan oleh ibunya namun anak tersebut terlihat acuh tak acuh. Isi Pesan : Memberi informasi faktor-faktor gangguan autis tersebut biasa terjadi.

4.2.3 Spanduk

  Spanduk merupakan media yang dapat bertahan dalam jangka waktu yang lama, selain itu dapat dilihat dari jarak dekat maupun jauh, sehingga pesan dapat sampai kepada sasaran yang sedang melakukan perjalanan.

Gambar 4.9 Spanduk

  Ukuran : 300 cm x 100 cm Material : Flexi Teknik Produksi : Digital Printing

  Ilustrasi : Mengikuti poster 4 Isi Pesan : Memberi informasi kepada para pengguna jalan agar mewaspadai gejala-gejala dari gangguan autis yang bias saja dialami oleh anggota keluarganya dan masarakat yang ada disekitar mereka.

4.2.4 Stiker angkot

  Stiker angkutan umum merupakan media luar yang jangkauan sasarannya masyarakat yang berada di jalan.

Gambar 4.10 Stiker angkot

  Ukuran : Disesuaikan Material : Oneway, stiker cutting Teknik Produksi : Digital Printing

  Ilustrasi : Mengikuti poster 3 Isi Pesan : Memberi informasi kepada para pengguna jalan agar mewaspadai gejala-gejala dari gangguan autis yang biasa saja dialami oleh anggota keluarganya dan masyarakat yang ada di sekitar mereka.

4.2.5 Stiker

  Stiker merupakan media yang dapat bertahan dalam jangka waktu yang lama.

Gambar 4.11 Stiker 1Gambar 4.12 Stiker 2Gambar 4.13 Stiker 3

  Ukuran : 12 cm x 10 cm Material : kertas stiker glossy

  Teknik Produksi : Cetak Separasi Ilustrasi : Mengikuti poster 1,2,5

  4.2.6 X-banner Merupakan media yang dapat digunakan sebagai media di dalam dan luar ruangan tetapi fungsinya sama sebagai media informasi yang merangsang kepercayaan.

Gambar 4.14 X-banner

  Ukuran : 60 cm x 160 cm Material : Albatros Teknik Produksi : Digital Printing Ilustrasi : Mengikuti poster 1 Isi Pesan : Memberi informasi deteksi dini gangguan autis.

4.2.7 Umbul-umbul

  Media informasi yang digantung sehingga menarik perhatian orang untuk melihat.

Gambar 4.15 Umbul-umbul

  Ukuran : 30 cm x 30 cm Material : Art Paper , Teknik Produksi : Cetak Separasi Ilustrasi : Mengikuti poster 4 Isi Pesan : Memberi informasi deteksi dini gangguan autis.

4.2.8 Display Brosur Fungsi selain sebagai tempat untuk meletakan media utama brosur.

  agar brosur tersebut tidak berantakan.

Gambar 4.16 Display Brosur

  Ukuran : A2 (42 cm x 59.4 cm) Material : Art Paper

  Teknik Produksi : Cetak Separasi Ilustrasi : Mengikuti poster 1 Isi Pesan : Memberi informasi faktor-faktor gangguan autis tersebut bias terjadi.

  4.5 Gimmick

  4.31 Kalender

Gambar 4.17 Kalender

  Ukuran : 16.8 cm x 22 cm Material : Art Paper , Karton Teknik Produksi : Cetak Separasi Ilustrasi : Mengikuti poster 4 Isi Pesan : Tagline

4.3.2 Notebook

Gambar 4.18 Notebook

  Ukuran : A6 (10.5 cm x 14.8 cm) Material : Art Paper, Plain Paper Teknik Produksi : Cetak Separasi Ilustrasi : Mengikuti poster 5 Isi Pesan : Tagline

4.5.3 Shopping Bag

Gambar 4.19 Shopping Bag

  Ukuran : 24 cm x 35 cm Material : Art Paper

  Teknik Produksi : Cetak Separasi Ilustrasi : Mengikuti poster 5 Isi Pesan : Memberi informasi deteksi dini gangguan autis.

  4.5.4 Topi

Gambar 4.20 Topi

  Ukuran : Disesuaikan Material : Kain Teknik Produksi : Cetak Sablon Ilustrasi : Mengikuti poster 3 Isi Pesan : Tagline

  4.5.5 T-shirt

Gambar 4.21 T-shirt tampak depanGambar 4.22 T-shirt tampak Belakang

  Ukuran : Disesuaikan Material : Kain Teknik Produksi : Cetak Sablon Ilustrasi : Mengikuti poster 3 Isi Pesan : Tagline

4.5.6 Amplop

Gambar 4.23 Amplop tampak depanGambar 4.24 Amplop tampak belakang

  Ukuran : 18 cm x 10 cm Material : kertas Art paper Teknik Produksi : Cetak Separasi

  Ilustrasi : Mengikuti poster 4 Isi Pesan : Tagline

  4.5.7 Jam Dinding

Gambar 4.25 Jam dinding

  Ukuran : Disesuaikan Material : Art Paper , Teknik Produksi : Cetak Separasi Ilustrasi : Mengikuti poster 4 Isi Pesan : Memberi informasi deteksi dini gangguan autis.

  4.5.8 Pin & Gantungan Kunci

Gambar 4.26 Gantungan kunci 1Gambar 4.27 Gantungan kunci 2Gambar 4.28 Pin 1Gambar 4.29 Pin 2Gambar 4.30 pin 3

  Ukuran : 5.8 cm Material : Pin Teknik Produksi : Cetak Separasi Ilustrasi : Mengikuti poster 1, 2, 3, 4, 5 Isi Pesan : Tagline

4.5.9 Pembatas buku

Gambar 4.31 Pembatas Buku 1Gambar 4.32 Pembatas Buku 2

  Gambar 4.33Pembatas Buku 3

Gambar 4.34 Pembatas Buku 4Gambar 4.35 Pembatas Buku 5

  Ukuran : 5 cm x 10 cm Material : Art Paper Teknik Produksi : Cetak Separasi Ilustrasi : Mengikuti poster 1, 2, 3, 4, 5 Isi Pesan : Tagline

4.5.10 Mug

Gambar 4.36 Mug 1Gambar 4.37 Mug 2Gambar 4.38 Mug 3

  Ukuran : 20 cm x 9 cm Material : Transfer Paper Teknik Produksi : Digital Printing Ilustrasi : Mengikuti poster 3, 4, 5

  Isi Pesan : Tagline

4.5.11 Payung

Gambar 4.39 Payung

  Ukuran : Disesuaikan Material : Parasit Teknik Produksi : Cetak Separasi Ilustrasi : Mengikuti poster 5 Isi Pesan : Tagline Laporan Pengantar Proyek Tugas Akhir

  

PERANCANGAN MEDIA INFORMASI MENGENAI

ANAK PENDERITA AUTIS

  DK 38315 Tugas Akhir Semester II 2009/2010 Oleh :

  Aang Nurgahandi NIM 51906115 Program Studi Desain Komunikasi Visual FAKULTAS DESAIN UNIVERSITAS KOMPUTER INDONESIA BANDUNG 2010

  

DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN KATA PENGANTAR .............................................................................. i DAFTAR ISI ··························································································· ii DAFTAR GAMBAR················································································ vi DAFTAR TABEL ···················································································· vii

  2.2.2 Populasi anak yang mengalami gangguan autis ···· 8

  3.1.3 Strategi Media ························································ 18

  3.1.2 Strategi Kreatif ······················································· 17

  3.1.1 Strategi Komunikasi ··············································· 17

  2.4 Khalayak sasaran ····························································· 15

  2.3 Analisis Media Informasi Autis ·········································· 15

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

117 3877 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 1031 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 925 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

20 622 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

26 774 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

60 1322 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

65 1215 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

20 805 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

31 1086 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

41 1320 23