Pernikahan dini dalam al Quran: studi kasus Alvin Faiz dan Larissa Chou.

(1)

PERNIKAHAN DINI DALAM ALQURAN

(STUDI KASUS ALVIN FAIZ DAN LARISSA CHOU)

Skripsi

Disusun untuk Memenuhi Tugas Akhir Guna Memperoleh Gelar Sarjana Strata Satu (S-1)

Oleh:

ALFIN NURI AZRIANI E73213112

PRODI ILMU ALQURAN DAN TAFSIR JURUSAN ALQURAN DAN HADIS FAKULTAS USHULUDDIN DAN FILSAFAT UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL

SURABAYA 2017


(2)

PERNIKAHAN DINI DALAM ALQURAN

(STUDI KASUS ALVIN FAIZ DAN LARISSA CHOU)

Skripsi

Diajukan kepada

Universitas Islam Negeri Sunan Ampel Surabaya Untuk Memenuhi Salah Satu Persyaratan Dalam Menyelesaikan Program Strata Satu (S-1)

Al-Qur’an dan Hadis/Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir

Oleh:

ALFIN NURI AZRIANI E73213112

PRODI ILMU ALQURAN DAN TAFSIR JURUSAN TAFSIR HADIS

FAKULTAS USHULUDDIN DAN FILSAFAT UNIVERSITAS ISLAM NEGERI SUNAN AMPEL

SURABAYA 2017


(3)

PERSETUJUAN

PEMBIMBING

Skripsi yang disusun oleh Alfin Nuri Azriani ini telah disetujui untuk diujikan.


(4)

PENGESAHAN

SKRIPSI

Skripsi oleh Alfin Nuri Azriani ini telah dipertahankan di depan Tim Penguji Skripsi

Surabaya, 13 April2017 Mengesahkan

Universitas Islam Negeri Sunan Ampel

Fakultas Ushuluddin dan Filsafat

993031002

.201409006

Penguji II,

>-Dr. Hi. Iffah. M.Ae


(5)

PERNYATAAN

KEASLIAN

Yang bertanda tangan di bawah ini, saya:

Nama

: Alfin Nuri Azriani

NIM :873213112

Jurusan/Prodi : Al-Qur'an dan Hadis/ Ilmu Al-Qur'an dan Tafsir

Dengan

ini menyatakan

bahwa skripsi

ini

secara keseluruhan adalah hasil

penelitianlkarya

saya

sendiri,

kecuali pada

bagian-bagian

yang

dirujuk sumbemya.

Surabaya, Apnl20l7


(6)

@)

KEMENTERIAII AGAMA

UNIVERSITAS

ISLAM NEGERI SUNAN

AMPEL

SURABAYA

PERPUSTAKAAN

Jl. Jend. A. Yani 117 Surabaya60237 Telp.031-8431972 Fax.03l-8413300 E-Mail : perpus@uinsby.ac. id

LEMBAR PERNYATAAN PERSETUJUAN PUBIIKASI

KARYA ILMIAH UNTUK KEPENTINGAN AKADEMIS

Sebagai sivitasa kadernika UIN Sunan Ampel Surabaya, yang bertandatangarl di bawah ini, saya: Nama

NIM

Fakultas/Jumsan E-mail address

: Alfin Nuri Azriani :E73273772

: Ushuluddin dan Filsafat

/

Iknu Al-Qur'an dan Tafsit

:

azryanee@,gmail.com

Demi pengembangan ilmu pengetahuan, menyetuiui untuk membedkan kepada Perpustakaan

UI).I Snrran Ampel Sutabaya, Hak Bebas Royalti Non-Eksklusifatas karyailmiah:

M

Sekdpsi E Tesis l-l Deserasi

E=

Lain-lain (...

...

...

..)

yang be{udul :

PERMKAHAN DINI DALAM ALOURAN (STUDI KASUS ALVIN TAIZ DAN LARISSA

CHOIJI

Beserta

perangkat

yang

diperlukan

(bilaada). DenganHakBebasRoyalti

Non-EkslusifiniPelpustakaan

UIN

Sunan

Ampel Surabaya

berhak menyimpan, mengalih-media/fornat-kan, mengelolanya dalam bentuk pangkalan data (database), mendistribusikannya, dan menampilkan/mempublikasikannya

di

Intemet atau media lain secara fuIltext untuk kepentingan akademis tanpa pedu meminta iiin dad saya selama tetap marcantumkan narna say^ sebagai penulis/pencipta dan atau penerbit yang bersangkutan.

Saya bersedia unnrk meflanggung secara pribadi, tanpa melibatkan pihak Perpustakaan UIN Sunan Ampel Surabaya, segala bentuk tuntutan hukurn yang timbul atas pelanggaran Hak Cipta dalam karya ilmiah saya ini.

Demikiafl pemyataan ini yang saya buat dengan sebenamya.

Surabaya,08 Mei 2017 Penulis


(7)

ABSTRAK

Skripsi yang berjudul “Pernikahan Dini dalam Alquran, Studi Kasus Alvin Faiz dan Larissa Chou” ini adalah hasil penelitian yang dilatarbelakangi dari munculnya kasus pernikahan dini oleh pasangan Alvin Faiz dan Larissa Chou. Kasus ini menjadi sangat marak karena berbeda dengan kasus pernikahan dini yang lainnya. Jika pada umumnya pernikahan dini terjadi pada perempuan yang masih berusia belia, namun pada kasus ini justru si kepala keluarga lah yang masih berusia belia.

Dalam Undang-Undang Perkawinan No 1 Tahun 1974 pasal 6 telah mengatur batas usia minimal menikah, yaitu 19 tahun bagi laki-laki dan 16 tahun bagi perempuan. Namun pada pasal selanjutnya menjelaskan aturan itu bisa dikompromi dengan pengantar dispensasi dari Pengadilan Agama setempat. Banyak golongan yang kemudian menganggap legal mengenai pernikahan dini atas dasar beberapa ayat dalam Alquran. Walaupun tidak secara jelas ayat Alquran menjelaskan kebolehan pernikahan dini ini, namun secara implisit ayat tersebut mengandung indikasi kebolehan pernikahan dini dari beberapa aspek. Dari latar belakang tersebut, penulis tertarik untuk meneliti mengenai beberapa pendapat para mufassir terhadap ayat tersebut dan kemudian direlevansikan dengan hukum pernikahan dini di Indonesia serta kasus Alvin Faiz dan Larissa Chou sebagai kasus riil di Indonesia.

Dalam penelitian ini penulis menggunakan metode kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan (library research). Adapun teknisnya yaitu dengan menghimpun data-data terkait kemudian dianalisis berdasarkan prosedur metode

maud}u>’i> dengan merujuk pada tafsir-tafsir Alquran dari berbagai sudut pandang. Pernikahan dini dalam Alquran meliputi dari tiga aspek, yaitu dari segi fisik/biologis, psikis, dan spiritual. Yang pertama pada surat Al T}ala>q ayat 4 yang menjelaskan mengenai ‘iddah perempuan-perempuan. Salah satunya terdapat lafad lam yah{id{na. Para ulama sepakat bahwa yang dimaksud adalah anak-anak kecil yang belum mengalami h}aid}. H}aid}atau menstruasi adalah darah yang keluar ketika sel telur tidak dibuahi. Sel telur akan berfungsi seiring dengan pertumbuhan fisik. satu bentuk tanda kedewasaan seseorang yang dilihat dari segi biologis.

Yang kedua yakni pada surat Al Nisa>’ ayat 3 yang menjelaskan aturan mengenai bagaimana seorang wali yang ingin menikahi anak yatim di bawah asuhannya. Sesuai pendapat para ulama, bahwa anak yatim adalah seorang anak yang ditinggal mati orang tuanya sebelum ia dewasa. Pada ayat selanjutnya dijelaskan bahwa anak yatim tersebut dikatakan sudah dewasa ketika sudah menguasai dua hal, yakni dalam pengelolaan harta dan keagamaan. Ini menandakan bahwa boleh menikahi anak yatim, namun ada aturannya. Dan ketika anak yatim tersebut dinikahi, berarti ada dua aspek yag menjadikan ia dikatakan belum ba>ligh,

yaitu dari segi psikis dan spiritual. Kata Kunci : Pernikahan Dini


(8)

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ... i

PERSETUJUAN PEMBIMBING ... ii

PENGESAHAN SKRIPSI ... iii

PERNYATAAN KEASLIAN ... iv

MOTTO ... v

PERSEMBAHAN ... vi

PEDOMAN TRANSLITERASI ... vii

KATA PENGANTAR ... ix

ABSTRAK ... xi

DAFTAR ISI ... xii

BAB I: PENDAHULUAN A. Latar Belakang ... 1

B. Identifikasi Masalah ... 7

C. Rumusan Masalah ... 8

D. Tujuan Penelitian ... 8

E. Kegunaan Penelitian ... 8

F. Kajian Pustaka ... 9

G. Metode Penelitian ... 11

H. Sistematika Pembahasan ... 14

BAB II: TINJAUAN UMUM TENTANG TAFSIR MAUD}U>’I> DAN


(9)

A. Tafsir Maud}u>’i ... 16

1. Pengertian Tafsir Maud}u>’i ... 16

2. Kelebihan dan Kekurangan Tafsir Maud}u>’i ... 18

B. Pernikahan Dini dalam Hukum Indonesia ... 20

1. Pengertian Pernikahan Dini ... 20

2. Tujuan dan Persyaratan Pernikahan ... 24

3. Hukum Perkawinan Indonesia ... 27

4. Budaya Pernikahan Dini di Indonesia dan Dampaknya .... 30

5. Pernikahan Dini Perspektif Psikologi ... 32

BAB III: TELAAH TENTANG PERNIKAHAN DINI DALAM ALQURAN A. Penafsiran Ayat-Ayat Tentang Pernikahan Dini ... 36

B. Ketentuan Pernikahan Dini dalam Hukum Indonesia ... 55

C. Kontekstualisasi Penafsiran Ayat Terhadap Hukum Indonesia (Kasus Alvin Faiz dan Larissa Chou) ... 57

BAB IV: PENUTUP A. Kesimpulan ... 64

B. Saran-Saran ... 65 DAFTAR PUSTAKA


(10)

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pernikahan adalah salah satu ibadah muamalah yang sangat dianjurkan oleh Islam. Bahkan di Alquran pun Allah telah menjamin rejeki untuk orang yang menikah, sebagaimana dalam surat An Nur ayat 32:

                              

Dan kawinkanlah orang-orang yang sedirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan. Jika mereka miskin Allah akan memampukan mereka dengan kurnia-Nya. dan Allah Maha Luas (pemberian-Nya) lagi Maha mengetahui.1

Dalam ayat tersebut Allah memerintahkan hamba-Nya untuk memperhatikan orang-orang di sekelilingnya yang belum menikah untuk segera dinikahkan. Hal itu dilakukan agar manusia terhindar dari perbuatan zina. Allah menyediakan kemudahan hidup yang terhormat bagi orang yang menikah dengan mendapat ridha Allah.2

Allah memerintahkan hamba-Nya untuk berbuat sesuatu pastinya mengandung tujuan. Salah satu tujuan diperintahkannya menikah yaitu untuk kelangsungan pembangunan bumi dan semesta ini, yang pada dasarnya tergantung

1

Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, (Bandung: PT. Sygma Examedia Arkanleema, 2009), 354.

2

M. Quraish Shihab, Tafsir Al-Mishbah: Pesan, Kesan, dan Keserasian al-Qur’an Volume 8, (Jakarta: Lentera Hati, 2002), 535-536.


(11)

2

pada eksistensi manusia. Semakin banyak eksistensi manusia, maka akan semakin lebih mudah pula pembangunan dan pengaturan bumi bagi manusia itu sendiri. Sedangkan, eksistensi manusia sangat tergantung pada adanya pernikahan yang berimplikasi pada proses reproduksi.3

Untuk mencapai tujuan hakiki pernikahan, tentunya tidak semua orang bisa melakukannya begitu saja. Sebagaimana dalam Alquran surat Secara hukum Islam, salah satu syarat menikah yaitu seseorang yang telah mampu al ba’ah. Sebagaimana hadis riwayat At Tirmidzi:

4

Sungguh Nabi saw telah bersabda kepada kami, “Wahai sekalian pemuda, barangsiapa di antara kamu mampu al ba’ah maka hendaklah menikah, dan barangsiapa tidakmampu maka hendaklah berpuasa, sesungguhnya puasa itu menjadi perisai baginya.”

Dalam hadis ini dijelaskan bahwa seseorang yang sudah mampu al ba’ah

maka dianjurkan untuk menikah. Adapun arti kata al ba’ah ada dua pendapat, apabila dibaca panjang (al ba>’ah) maka maknanya kemampuan menanggung biaya menikah. Sedangkan apabila dibaca tanpa tanda panjang, maknanya adalah kemampuan untuk melakukan hubungan intim.5 Namun dalam hal ini tidak ada ketentuan yang jelas mengenai usia yang dimaksud.

3

Syekh Ali Ahmad al-Jarjawi, H{ikmah al tasyri>’ wa falsafatahu, terj. Faisal Saleh, dkk (Depok: Gema Insani, 1997), 307.

4Muh}ammad ibn ‘I>sa> Abu> ‘I<sa> al Tirmidhi> AlSalami>, al Ja>mi’u al s}ah}i>h sunan al Tirmizhi> Juz 4 (Beirut: Da>r Ih}ya’ al Turath Al ‘Arabi>, t.t), 359.

5Ibnu Hajar Al Asqalani, Fath al Ba>ri>: Syarhu shah{i>h{ al bukha>ri>

, terj. Abdul Aziz (Bekasi: Pustaka Azzam, 2009), 20.


(12)

3

Sebagai negara demokrasi, Indonesia mempunyai Undang-Undang yang salah satunya mengatur tentang hukum pernikahan di Indonesia. Pemerintah menetapkan dalam Undang-Undang No. 1 Tahun 1974, bahwa batas usia minimal menikah adalah 19 tahun untuk laki-laki dan 16 untuk perempuan. Pemerintah menetapkan hal tersebut salah satunya untuk mengatasi ledakan penduduk akibat pernikahan dini.

Perkembangan globalisasi yang begitu pesat sangat mempengaruhi peradaban dunia. Begitu pula dengan Indonesia. Teknologi yang semakin canggih membuat peradaban di luar Indonesia bisa diakses dengan mudah. Namun tidak semua peradaban luar berdampak positif untuk generasi Indonesia. Dampak negatif pun sangat memungkinkan untuk didapat. Dampak negatif yang paling mencolok antara lain yaitu kebebasan yang ada di luar negeri telah menjadi idola para generasi bangsa. Misalnya kebebasan seksual yang memang merupakan adat bangsa Barat dijadikan panutan oleh para generasi bangsa Indonesia sehingga pergaulan bebas merajalela di tengah-tengah generasi bangsa kita. Dalam rangka mengatasi hal tersebut, sekelompok masyarakat memilih untuk menikahkan anaknya lebih cepat dari ketentuan yang ada di Undang-Undang. Masyarakat pun menyebutnya dengan pernikahan dini.

Budaya pernikahan dini bukan suatu hal yang asing lagi di Indonesia. Banyak sekali praktik-praktik pernikahan dini di tengah masyarakat Indonesia. Hal ini menyebabkan populasi penduduk Indonesia semakin berkembang pesat. Namun perkembangan penduduk yang begitu pesat tersebut, tidak sedikit yang


(13)

4

tidak diimbangi dengan kemajuan pendidikan yang berimbas pada kemajuan intelektual bangsa.

Beberapa bulan yang lalu, telah terjadi pernikahan dini yang dilangsungkan oleh anak Arifin Ilham, Alvin Faiz dengan seorang muallaf bernama Larissa Chou. Alvin Faiz yang saat itu berusia 17 tahun memberanikan diri untuk menikah dengan wanita muallaf berusia 20 tahun dengan alasan untuk menghindari perbuatan zina. Tidak mudah ia menjalani persiapan menikah. Ia harus mengurus dispensasi ke Pengadilan Agama karena usianya belum mencapai batas usia minimal.

Pernikahan dini sebetulnya juga telah terjadi pada zaman Rasulullah saw. Pada waktu itu Rasulullah sendiri yang melangsungkan pernikahannya dengan seorang gadis kecil berusia 12 tahun bernama Aisyah. Aisyah adalah seorang putri dari sahabat Abu Bakar al Shiddiq. Rasulullah menikahi Aisyah bukanlah semata-mata untuk memenuhi hawa nafsunya, akan tetapi itu adalah perintah Allah swt, sebagaimana dalam hadis riwayat al Bukhari:

Dari Aisyah, dia berkata: Rasulullah saw bersabda, “Aku melihat dirimu dalam

mimpiku dua kali. Seorang laki-laki membawamu dalam kelambu sutra dan

berkata, “Inilah istrimu”. Aku menyingkapnya dan ternyata itu adalah engkau.

Maka aku berkata, “Jika ini berasal dari Allah niscaya Dia akan melangsungkannya.”6

6Al Asqalani, Fath al Ba>ri>, 63.


(14)

5

Dalam riwayat At Tirmidzi disebutkan bahwa seorang laki-laki yang datang kepada Nabi saw dengan membawa gambar Aisyah adalah malaikat Jibril.7 Sebagaimana yang diketahui bahwa malaikat Jibril bertugas menyampaikan wahyu dari Allah kepada Nabi saw. Ini artinya bahwa mimpi tersebut merupakan perintah Allah kepada Nabi untuk menikahi Aisyah.

Alquran sebagai pedoman hidup umat Islam, pastinya tidak lengah dari pembahasan yang seperti itu. Islam sangat memperhatikan pernikahan. Mulai dari syarat sahnya hingga hukum pernikahan seorang muslim dengan wanita non-muslim atau sebaliknya. Tidak terkecuali mengenai pernikahan dini ini.

Dalam memahami Alquran yang s{a>lih li kulli zama>nin wa maka>nin, tentunya tidak sekadar mengikuti pendapat atau tradisi lama tanpa suatu dasar. Manusia abad ke-20 serta generasi berikutnya dituntut pula untuk memahami Alquran sebagaimana tuntutan yang pernah ditujukan kepada masyarakat yang menyaksikan turunnya Alquran.8

Alquran turun secara berangsur-angsur selama dua puluh tiga tahun, tiga belas tahun di Makkah dan sepuluh tahun di Madinah.9 Salah satu hikmah diturunkannya berangsur-angsur yaitu untuk kesesuaian ayat dengan peristiwa-peristiwa dan pentahapan dalam penetapan hukum.10 Dengan begitu, ketika berbeda masa dan tempat turunnya tentu berbeda pula ayat yang turun. Seperti halnya larangan minum khamr yang awal turunnya yang menjelaskan bahwa

7

Ibid., 65. 8

M. Quraish Shihab, Membumikan Al-Qur’an, (Bandung: Mizan, 1994), 76-77.

9Manna’ Khali>l al Qat{t>a>n, Maba>h{i>th fi> ‘ulu>mi al Qur’a>n, terj. Mudzakir AS, (Bogor: Litera AntarNusa, 2013), 154.


(15)

6

madharatnya lebih besar daripada manfaatnya, kemudian larangan shalat dalam keadaan mabuk, hingga akhirnya turun ayat yang menyatakan bahwa khamr itu haram. Begitu pula dengan ayat pernikahan dini yang tidak hanya sekali dibahas dalam Alquran.

Banyak kata yang digunakan untuk mengistilahkan anak usia dini. Seperti halnya dalam ilmu fiqh dijelaskan bahwa batas seseorang dikatakan dewasa yaitu ketika sudah mengalami menstruasi (bagi perempuan) dan mengalami mimpi basah (bagi laki-laki). Sebagaimana dalam Alquran disebutkan dengan lafal al la<’i> lam yah{id{na yang artinya “perempuan-perempuan yang tidak/belum haid”.11

Selain itu dalam hukum islam terdapat kewajiban untuk menjaga harta anak yatim dan memberikannya kembali ketika ia sudah dewasa. Anak yatim ialah setiap anak yang ayahnya telah meninggal dunia dalam keadaan masih kecil (belum mencapai usia dewasa/ baligh). Hal ini dikarenakan seorang anak yang belum dewasa, masih dianggap lemah (mustad{‘afi>na mina al wilda>ni) dalam pengelolaan hartanya sendiri dengan baik. Dalam Alquran telah dijelaskan aturan memberlakukan harta anak yatim yang dinikahinya. Hal ini mengindikasikan bahwa adanya kebolehan menikahi seorang anak yang belum mencapai dewasa.12

Dalam penelitian ini, penulis akan menelusuri konsep makna istilah-istilah tersebut untuk menjelaskan pernikahan dini dan pendapat-pendapat para ahli terkait makna istilah tersebut.

11

Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Tafsirnya Jilid 10, (Jakarta: Departemen Agama RI, 2009), 181.

12


(16)

7

Seiring perkembangan penafsiran, tentunya banyak sekali perbedaan penafsiran, baik dari segi corak maupun kontekstualitas yang melatar belakangi penafsiran ulama klasik hingga kontemporer. Sehingga dalam penelitian ini penulis menghimpun pendapat-pendapat ulama dari berbagai sudut pandang. Hal ini dimaksudkan untuk memperoleh pemahaman yang jelas terkait pernikahan dini dalam Alquran.

B. Identifikasi dan Batasan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang di atas, maka dapat diidentifikasi berbagai masalah sebagai berikut:

1. Apa yang dimaksud dengan pernikahan dini? 2. Berapa batas usia minimal menikah?

3. Apa dampak dari pernikahan dini?

4. Bagaimana pernikahan dini menurut perspektif psikologi dan kesehatan? 5. Bagaimana budaya pernikahan dini yang ada di Indonesia?

6. Bagaimana Alquran membahas mengenai pernikahan dini?

7. Bagaimana mufassir menafsirkan ayat-ayat mengenai pernikahan dini? 8. Bagiamana hukum Indonesia menanggapi kasus pernikahan dini?

9. Bagaimana relevansi penafsiran ayat dengan kasus Alvin Faiz dan Larissa Chou?

Banyak masalah yang dapat ditemukan dari latar belakang di atas. Oleh karena itu, agar pembahasan fokus pada satu titik maka pembahasan dibatasi


(17)

8

hanya mengenai penafsiran Alquran dan relevansinya terhadap kasus Alvin Faiz dan Larissa Chou.

C. Rumusan Masalah

Berdasarkan uraian latar belakang masalah di atas, maka permasalahan dirumuskan sebagai berikut:

1. Bagaimana pandangan Alquran terhadap pernikahan dini? 2. Bagaimana ketentuan pernikahan dini dalam hukum Indonesia?

3. Bagaimana kontekstualisasi penafsiran ayat terhadap kasus Alvin Faiz dan Larisa Chou?

D. Tujuan Penelitian

1. Menganalisa bagaimana Allah SWT menjelaskan dalam Alquran tentang pernikahan dini

2. Menganalisa ketentuan pernikahan dini yang berlaku dalam Hukum Indonesia 3. Memaparkan kontekstualisasi penafsiran ayat dengan kasus Alvin Faiz dan

Larisa Chou.

E. Kegunaan Penelitian

Dalam sebuah penelitian, sudah seyogyanya penelitian tersebut memberikan sumbangsih yang berguna untuk penelitian yang selanjutnya. Adapun kegunaan penelitian ini dapat berupa kegunaan teoritis dan kegunaan praktis.


(18)

9

1. Kegunaan Teoritis

Sumbangan wacana ilmiah kepada dunia pendidikan, khusunya pendidikan Islam dalam rangka memperkaya khazanah keilmuan tentang kajian tematik penafsiran ayat pernikahan dini.

2. Kegunaan Praktis

Motivasi dan sumbangan gagasan kepada penelitian selanjutnya yang akan meneliti penelitian yang serupa berhubungan pernikahan dini.

F. Telaah Pustaka

Pembahasan mengenai penikahan dini telah banyak dibahas oleh ilmuan-ilmuan fiqh dan sains dengan berbagai sudut pandang. Adapun referensi yang relevan dan menjadi telaah penelitian sebelumnya, sebagai berikut:

1. Dalam skripsi yang berjudul “Pernikahan Dini dan Pengaruhnya Terhadap Keharmonisan Keluarga (Studi Hukum Islam Terhadap Pandangan Kiai-Kiai

Pondok Pesantren Al Fatah Banjarnegara)” oleh Nurul Hasanah Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga Yogyakartamenyimpulkan bahwa ada beberapa pendapat mengenai definisi pernikahan dini, antara lain: pernikahan dini yaitu pernikahan yang dilakukan oleh perempuan di bawah usia 16 tahun dan laki-laki di bawah usia 19 tahun, menikah pada usia produktif mencari ilmu atau masih menggantungkan kepada orang tua dan di bawah usia 20 tahun. Adapun pengaruh pernikahan dini terhadap keharmonisan dalam keluarga, yakni keharmonisan bisa dicapai apabila laki-lakinya lebih dewasa.


(19)

10

2. Dalam skripsi berjudul “Tinjauan Hukum Islam terhadap Urgensi Pernikahan

Dini di Desa Labuhan Kecamatan Kreseh Kabupaten Sampang” oleh Alfian

Farisi Prodi Ahwalus Syakhsiyah Jurusan Hukum Islam Fakultas Syariah dan Hukum UIN Sunan Ampel Surabaya menjelaskan bahwa urgensi pernikahan dini adalah sanksi hukum yang diberikan kepada orang yang melanggar aturan-aturan yang telah ditetapkan oleh Desa Labuhan, sebagai solusi hukum untuk mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan, menjaga kehormatan masyarakat desa, dan untuk menghindari fitnah.

3. Dalam skripsi berjudul “Studi Komparatif Pemikiran Husein Muhammad dan Siti Musdah Mulia tentang Pernikahan Dini” oleh Syamsul Arifin menjelaskan bahwa keduanya sama-sama menolak adanya pernikahan dini. Namun masing-masing mempunyai landasan berpikir yang berbeda. Jika Husein Muhammad menolak pernikahan dini menggunakan landasan argumen-argumen kitab fiqh klasik dengan mempertimbangkan ada tidaknya resiko di dalamnya, Siti Musdah lebih mengedepankan HAM untuk menolak pernikahan dini. Menurutnya, terjadinya pernikahan dini dapat memutus pendidikan anak dan perlakuan tidak sama khususnya terhadap perempuan. 4. Moh. Ilyas memaparkan dalam skripsinya yang berjudul “Pernikahan Dini

dalam Al-Qur’an: Telaah Atas Penafsiran Lafad Wa al-La<’i> Lam Yah}id}n surat At T{ala>q ayat 4 Dalam Kitab Ja>mi’ al-Baya>n ‘An Ta’wi>l ‘Ay Al-Qur’a>n Li Ibn Jari>r al T}abari>” prodi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Sunan Ampel Surabaya, bahwasannya pada surat At T}ala>q ayat 4 mengandung indikasi adanya pernikahan dini dalam


(20)

11

Alquran yang didasarkan pada penafsiran Ibn Jari>r Al T}abari> terhadap lafad

lam yah{id{n dengan perempuan-perempuan yang belum dewasa.

5. Selain dari beberapa skripsi di atas, ditemukan pula artikel berjudul “Fiqh

Reproduksi Perempuan: Tinjauan Terhadap Aborsi dan Pernikahan Dini”

yang dimuat dalam jurnal oleh Rusli menyatakan bahwa pernikahan dini yang bermuara pada efek fisik dan psikis yang serius adalah terlarang berdasar prinsip sad al dhari’ah.

Dari beberapa penelitian yang telah ditelusuri, maka penulis tertarik untuk meneliti permasalahan-permasalahan pernikahan dini dari segala aspek dalam Alquran dengan bentuk penafsiran secara analisis. Dengan menjelaskan penafsiran ayat secara rinci, kemudian dibahas dan dianalisis tentang pernikahan dini menurut beberapa penafsiran dari para mufassir mulai dari klasik sampai modern dan kontemporer. Maksud dan tujuan memilih judul ini adalah untuk menambah wawasan penulis, khususnya dalam menampilkan beberapa penafsiran mengenai pernikahan dini serta kontekstualitasnya terhadap lingkungan Indonesia masa kini.

G. Metodologi Penelitian

1. Jenis Penelitian

Kajian penelitian ini berdasarkan atas kajian pustaka atau literatur atau disebut dengan kajian pustaka (library research), yaitu penelitian yang berusaha menghimpun data dari khazanah literatur berupa kitab-kitab, buku-buku kepustakaan, karya-karya tulis atau data-data lain dalam bentuk dokumentasi yang relevan dengan pokok masalah yang akan diteliti.


(21)

12

2. Metode Penelitian

Metode yang digunakan penulis dalam penelitian ini adalah dengan metode kualitatif. Metode ini disebut sebagai metode artistik karena proses penelitiannya bersifat seni (kurang terpola). Disebut juga metode

interpretative karena data hasil penelitiaanya lebih berkenaan dengan interpretasi terhadap data yang ditemukan di lapangan. Selain itu juga sering disebut sebagai metode naturalistik karena penelitiannya dilakukan pada kondisi yang alamiah.13

3. Sumber Penelitian

Data penelitian ini menggunakan data kualitatif yang dinyatakan dalam bentuk kata atau kalimat.14 Ada dua jenis data yaitu data primer dan sekunder. Data primer adalah rujukan utama yang digunakan dalam penelitian. Adapun sumber data primer yang dipakai adalah beberapa kitab tafsir untuk menafsirkan data materi dari berbagai aspek, mulai tafsir klasik hingga kontemporer. Beberapa kitab tafsir tersebut, antara lain yaitu:

1. Kitab Tafsi>r al-Qur’a>n al-‘Az}i>m karya Ibnu Kathi>r. Tafsir ini merupakan

salah satu kitab tafsir dengan corak bi al ma’thu>r, yaitu menafsirkan dengan menggunakan ayat-ayat yang lain serta riwayat dari Nabi saw dan sahabat. Ibnu Kathi>r lebih banyak mencantumkan hadis-hadis

13

Sugiyono, Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D, (Bandung: Alfabeta, 2011), 7-8.

14

Amirul Hadi & H. Haryono, Metodologi Penelitian Pendidikan, (Bandung: Pustaka Setia. 1998), 126.


(22)

13

sebagai penguat argumentasinya. Tidak jarang juga ia memberikan penjelasan mengenai kes}ah}ihan hadis tersebut.

2. Tafsir al Muni>r karya Wahbah al Zuh}ailiy. Tafsir ini disusun secara rapi

mulai dari ayat, makna mufrodat, asb>ab al nuzu>l, tafsi>r dan penjelasannya, serta hikmah yang bisa diambil dalam ayat tersebut.

3. Tafsir al Mishbah: Pesan , Kesan, dan Keserasian al Qur’an karya M.

Quraish Shihab. Tafsir ini menggunakan metode tah}li>li dengan corak

adabi ijtima>’i, yaitu penafsiran yang cenderung pada persoalan kemasyarakatan dan mengutamakan keindahan gaya bahasa.

4. Tafsir al Mara>ghi> karya Ah}mad Mus}t}afa> al Mara>ghi yang merupakan salah satu tafsir dengan metode tah}lili> yang mencakup penjelasan secara

ma’thu>r dan ra’yi.

5. Tafsir Mafa>tih} al Ghaib karya Fakhruddin al Ra>zi> merupakan tafsir

dengan metode tah}lili> bi al ra’yi yang bercorak lughawi/ijtima’i.

Sedangkan sumber sekundernya adalah buku-buku tentang

pernikahan, perkembangan psikologi, dokumentasi-dokumentasi mengenai Alvin Faiz dan Larissa Chou, dan buku-buku serta jurnal-jurnal yang relevan dengan pembahasan yang diteliti.

4. Teknik Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data dalam penulisan skripsi ini adalah dengan menggunakan metode dokumentasi. Dokumen merupakan catatan perisitiwa yang sudah berlalu, bisa berbentuk tulisan, gambar, atau karya-karya


(23)

14

monumental dari seseorang.15 Penulis mencari data mengenai hal-hal atau variabel berupa catatan, buku, kitab dan lain sebagainya yang berkaitan dengan kebutuhan materi tersebut. Melalui metode dokumentasi, diperoleh data yang berkaitan dengan penelitian berdasarkan konsep-konsep kerangka penulisan yang telah dipersiapkan sebelumnya.

5. Teknik Analisis Data

Analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan bahan-bahan lain, dengan cara mengorganisasikan data, menjabarkannya ke dalam unit-unit, melakukan sintesa, menyusun ke dalam pola, memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari, dan membuat kesimpulan yang dapat diceritakan kepada orang lain.16

Adapun teknik yang dipakai dalam penelitian ini adalah content analysis atau teknik analisis isi. Teknik ini merupakan analisis ilmiah tentang isi pesan atau komunikasi yang ada, terkait dengan data-data, kemudian dianalisis sesuai dengan materi yang dibahas.17 Dalam hal ini, penulis menguunakan kajian sejarah dan sosial untuk memahami kondisi obyektif dan kasus pernikahan dini pada masa turunnya Alquran.

15

Sugiyono, Metode Penelitian, 240. 16

Ibid., 244. 17

Noeng Muhadjir, Metodologi Penelitian Kualitatif Pendekatan Positivistik, Rasionalistik, Phenomenologik, dan Realisme Metaphisik Telaah Studi Teks dan Penelitian Agama, (Yogyakarta: Bayu Indra Grafika, 1989), 49.


(24)

15

H. Sistematika Penulisan

Untuk mempermudah pembahasan, skripsi ini dibagi menjadi empat bab sebagai berikut:

Bab I : Menjelaskan Pendahuluan yang meliputi Latar Belakang, Identifikasi Masalah dan Pembatasan Masalah, Rumusan Masalah, Tujuan dan Kegunaan Penelitian, Landasan Teori, Kajian Pustaka, Metode Penelitian, Sistematika Pembahasan, dan Outline.

Bab II : Menjelaskan tentang landasan teori meliputi metode tafsir dalam memahami ayat yang diteliti, definisi pernikahan dini, Hukum Perkawinan Indonesia, faktor adanya pernikahan dini, budaya pernikahan dini di Indonesia dan dampaknya, dan pernikahan dini ditinjau dari perspektif psikologi.

Bab III : Memaparkan pendapat-pendapat mufassir terhadap ayat-ayat pernikahan dini beserta analisis penulis terkait penafsiran yang ada, memaparkan ketentuan hukum Indonesia mengenai pernikahan dini, yang selanjutnya dikontekstualisasikan dengan kasus pernikahan dini Alvin Faiz dan Larissa Chou.

Bab IV : Menjelaskan penutup, yang meliputi kesimpulan dari keseluruhan pembahasan dan saran untuk penelitian selanjutnya demi kesempurnaan karya-karya selanjutnya.


(25)

BAB II

TINJAUAN UMUM

A.Tafsir Maud}u>’i>

Ada dua macam bentuk kajian tafsir maud}u>’i, antara lain yang pertama yakni pembahasan mengenai satu surat secara menyeluruh dan utuh dengan menjelaskan maksudnya yang bersifat umum dan khusus, menjelaskan korelasi antara berbagai masalah yang dikandungnya, sehingga surat itu tampak dalam bentuknya yang betul-betul utuh dan cermat. Sedangkan yang kedua adalah menghimpun sejumlah ayat dari berbagai surat yang sama-sama membicarakan satu masalah tertentu, ayat-ayat tersebut disusun sedemikian rupa dan diletakkan di bawah satu tema bahasan, dan selanjutnya ditafsirkan secara maud}u>’i.1

1. Pengertian Tafsir Maud}u>’i>

Adapun pengertiannya, ulama zaman sekarang lebih cenderung pada bentuk kajian yang kedua, yaitu membahas ayat-ayat Alquran sesuai dengan tema atau judul yang telah ditetapkan. Semua ayat yang berkaitan dihimpun dan dikaji secara mendalam dan tuntas dari berbagai aspek, yakni asba>b al nuzu>l, kosakata, dan sebagainya serta didukung oleh dalil-dalil atau fakta-fakta

yang dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah, baik argumen itu berasal dari Alquran, hadis, maupun pemikiran rasional.2

1Abd. al Hayy al Farmawi, Al Bida>yah fi> al Tafsi>r al Maud}u’i>, Terj. Suryan A. Jamrah

(Jakarta: RajaGrafindo Persada, 1994), 35-36.

2Nashruddin Baidan, Metodologi Penafsiran Al-Qur’an (Yogyakarta: Pustaka Pelajar,


(26)

17

Menurut Abd. al Hayy al Farmawi, Dr. Ali Khalil sebenarnya telah menunjukkan benih dan bibit pertama dari kajian metode tafsir maud}u>’i ini. Hal ini berdasarkan kesimpulannya mengenai komentar Dr. Ali Khalil tentang penafsiran Rasulullah terhadap kata z}ulmun dengan makna shirkun pada ayat lain. Ia menegaskan bahwa Rasulullah memberi pelajaran kepada para sahabat bahwa tindakan menghimpun sejumlah ayat mushtabiha>t itu dapat memperjelas pokok masalah dan akan melenyapkan keraguan atau kerancuan.3

Langkah-langkah yang perlu ditempuh oleh mufassir dalam menerapkan metode ini ialah dengan menghimpun ayat-ayat yang mengandung makna setema sesuai kronologis turunnya ayat tersebut. Hal ini diperlukan untuk mengetahui kemungkinan adanya ayat yang na>sikh maupun yang mansu>kh. Setelah itu menelusuri latar belakang turunnya ayat-ayat yang telah dihimpun agar dapat diketahui situasi dan kondisi ayat tersebut turun. Kemudian meneliti dengan cermat semua kata atau kalimat yang dipakai dalam ayat tersebut, terutama kosakata yang menjadi pokok permasalahan dalam ayat itu. Penelitian ini meliputi semua aspek yang berkaitan dengannya, seperti bahasa, budaya, sejarah, muna>sabah, pemakaian kata ganti (d}ami>r), dan sebagainya.4

Mempelajari ayat-ayat tersebut secara tematik dan menyeluruh dengan cara menghimpun ayat-ayat yang mengandung arti serupa, mengkompromikan antara pengertian ‘a>m dan kha>s}, antara mut}laq dan muqayyad, mensingkronkan

3al Farmawi, Al Bida>yah fi> al Tafsi>r, 38. 4


(27)

18

ayat-ayat yang lahirnya terlihat kontradiktif, menjelaskan ayat na>sikh dan mansu>kh, sehingga semua ayat tersebut bertemu pada satu muara, tanpa perbedaan dan kontradiksi atau tindakan pemaksaan terhadap sebagian ayat kepada makna yang kurang tepat.5

Adapun beberapa tafsir yang hampir mendekati kajian metode

maud}u’i anatara lain ialah: kitab al Baya>n fi> Aqsa>m al Qur’a>n karya Ibn Qayyim, Maja>z al Qur’a>n karya Abu ‘Ubaidah, Mufrada>t al Qur’a>n karya al Raghi>b al Asfahani, Ah}ka>m al Qur’a>n karya al Jas}s}a>s}, dan masih banyak yang lainnya.

2. Kelebihan dan Kekurangan Tafsir Metode Maud}u>’i

Dari semua usaha dalam metode maudhu>’i ini, tentunya tidak terlepas dari kelebihan dan kekurangan. Adapun kelebihan dari metode ini adalah sebagai berikut6:

a. Menjawab tantangan zaman. Karena hanya ini satu-satunya metode yang mengkaji semua ayat Alquran yang berbicara tentang kasus yang sedang dibahas secara tuntas dari berbagi aspeknya.

b. Selain itu, dengan menggunakan metode ini seseorang akan lebih mudah mendapatkan jawaban permasalahannyan secara efektif dan efisien. Karena metode disusun secara praktis dan sistematis dalam memcahkan permasalahan yang timbul, sehingga kondisi ini lebih cocok dengan kondisi

5Ibid., 48.


(28)

19

umat dengan mobilitas tinggi yang seakan-akan tidak punya waktu untuk membaca kitab-kitab tafsir yang besar.

c. Metode tematik membuat tafsir Alquran selalu dinamis sesuai dengan tuntutan zaman sehingga menimbulkan

d. Membuat pemahaman ayat-ayat Alquran secara utuh, karena semua ayat yang setema telah terhimpun dan dikaji seara tuntas.

Setelah memaparkan beberapa kelebihan metode maudhu>’i, bukan berarti metode ini terlepas dari kekurangan. Berikut pemaparan kekurangan dari metode ini antara lain7:

a. Memenggal ayat Alquran yang sebenarnya ayat tersebut mengandung banyak pembahasan, namun dalam metode ini hanya diambil satu pembahasan sesuai tema yang akan dibahas. Misalnya dalam ayat tersebut terdapat pembahasan mengenai shalat dan zakat, namun karena tema yang akan dibahas mengenai zakat sehingga pembhasan mengenai shalat perlu diabaikan terlebih dahulu agar tidak menggganggu analisis.

b. Dengan ditetapkannya judul penafsiran, maka pemahaman suatu ayat menjadi terbatas pada judul tersebut. Padahal tidak mustahil suatu ayat dapat ditinjau dari berbagai aspek sehingga terkesan kurang luas pemahamannya.

7Ibid., 168.


(29)

20

B.Pernikahan Dini dalam Hukum Indonesia

1. Pengertian Pernikahan Dini

Menikah merupakan salah satu ibadah yang penting dalam kehidupan. Banyak sekali yang perlu dipersiapkan sebelum menikah, baik dari segi mental, ekonomi, dan lain sebagainya. Namun, di samping itu terdapat istilah pernikahan dini yang mempunyai konotasi negatif pada sebagian orang.

Adapun istilah pernikahan dini tersusun dari dua kata, yakni pernikahan dan dini. Pernikahan berasal dari kata dasar nikah. Kata nikah merupakan bentuk serapan dari bahasa arab al nika>h{ (

حاكنلا

) yang secara bahasa berarti mengumpulkan, saling memasukkan, dan wathi’ atau bersetubuh. Sedangkan dalam bahasa Indonesia biasa disebut dengan perkawinan yang artinya membentuk keluarga dengan lawan jenis, melakukan hubungan kelamin, atau bersetubuh.8

Selain itu ada pula yang mengartikan kata nikah sebagai akad,

sebagaimana dalam surat An Nisa’ ayat 22:



 

  

  

 

 



 

 


(30)

21

“Dan janganlah kamu kawini wanita-wanita yang telah dikawini oleh ayahmu, terkecuali pada masa yang telah lampau. Sesungguhnya perbuatan itu Amat keji dan dibenci Allah dan seburuk-buruk jalan (yang ditempuh).9

Dalam ayat tersebut mengandung arti bahwa perempuan yang telah melangsungkan akad nikah dengan ayah itu haram dinikahi, meskipun di antara keduanya belum melakukan hubungan kelamin.10

Golongan ulama Syafi’iyah berpendapat bahwa kata nikah itu berarti

akad dalam arti yang sebenarnya. Sedangkan golongan Hanafiyah berpendapat bahwa kata nikah mengandung arti hubungan kelamin. Namun, sekiranya golongan Hanabilah yang lebih moderat, dengan pendapatnya bahwa kata nikah menunjukkan pada dua kemungkinan tersebut, yaitu akad dan hubungan kelamin.11

Dr. Ahmad Ghandur sebagai salah satu ulama kontemporer berpendapat mengenai definisi nikah adalah akad yang menimbulkan kebolehan bergaul antara laki-laki dan perempuan dalamtuntutan naluri kemanusiaan dalam kehidupan dan menjadikan untuk kedua pihak secara timbal balik dalamhak-hak dan kewajiban.12

Menurut Bachtiar (2004) pernikahan adalah pintu bagi bertemunya dua hati dalam naungan pergaulan hidup yang berlangsung dalam jangka

9Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya (Bandung: Sygma Examedia Arkanleema), 81.

10Amir Syarifuddin, Hukum Perkawinan Islam di Indonesia: Antara Fiqh Munakahat dan

Undang-Undang Perkawinan (Jakarta: Kencana, 2011), 36. 11Ibid., 37.


(31)

22

waktu yang lama, yang di dakamnya terdapat berbagai hak dan kewajiban yang harus dilaksanakan oleh masing-masing pihak untuk mendapatkan kehidupan yang layak, bahagia, harmonis, serta mendapat keturunan. Pernikahan itu merupakan ikatan yang kuat yang didasari oleh perasaan cinta yang sangat mendalam dari masing-masing pihak untuk hidup bergaul guna memelihara kelangsungan manusia di bumi.

Berdasarkan Pasal 1 Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan, bahwa perkawinan adalah ikatan lahir dan batin antara seorang pria dan seorang wanita sebagai suami istri dengan tujuan membentuk suatu ikatan keluarga (rumah tangga) yang bahagia dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa.13

Menurut Kompilasi Hukum Islam Bab II Pasal 2 disebutkan bahwa perkawinan dalam hukum Islam adalah pernikahahan, yaitu akad yang sangat kuat atau mi>t}a>qan g}ali>z}an untuk menaati perintah Allah dan melaksanakannya merupakan ibadah.14

Walaupun ada bebrbagai definisi yang dikemukaan oleh para pakar, namun ada satu unsur yang merupakan kesamaan bahwa perkawinan merupakan suatu perjanjian antara laki-laki dan perempuan dalam kekeluargaan.15

13Undang-Undang Republik Indonesia No. 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan dan

Kompilasi Hukum Islam (Bandung: Citra Umbara, 2007), 2. 14Ibid., 228.

15Paul Scholten dalam Djaya S. Meliala, Masalah Perkawinan Antar Agama dan

Kepercayaan di Indonesia dalam Perspektif Hukum (Bandung: Vrama Vidya Dharma, 2006), 7.


(32)

23

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata dini berarti sebelum waktunya. Seseorang dikatakan masih mencapai usia dini yaitu ketika ia belum mencapai usia dewasa, atau bisa disebut dengan istilah anak. Anak adalah seseorang yang terbentuk sejak masa konsepsi hingga akhir remaja. Dalam UU Pemilu No. 10 Tahun 2008 pasal 19 ayat 1 dijelaskan bahwa batas seseorang dikatakan sebagai anak yaitu hingga usia 17 tahun.16

Para ahli mendefinisikan istilah pernikahan dini dengan sudut pandang yang berbeda-beda. Pernikahan dini menurut Islam sendiri adalah pernikahan yang dilakukan sebelum usia baligh. Karena dalam Alquran telah menentukan batas waktu minimal diperbolehkannya menikah yaitu ketika sudah baligh.

Menurut Najlah Naqiyah, pernikahan dini adalah pernikahan yang dilakukan oleh pasangan muda mudi di bawah usia 16 tahun. Lebih dari itu Nukman menambahkan bahwa pernikahan dini adalah pernikahan yang dilakukan di bawah usia yang seharusnya serta belum siap dan matang untuk melaksanakan dan menjalani kehidupan rumah tangga.17

Sedangkan menurut pemahaman penduduk Indonesia, pernikahan dini adalah pernikahan yang dilakukan oleh pasangan yang belum mencapai batas usia minimal yang telah ditetapkan dalam Undang-Undang.

16Eddy Fadlyana dan Shinta Larasaty, “Pernikahan Usia Dini dan Permasalahannya”, Sari

Pedlatri, Vol. 11 No. 2 (Agustus, 2009), 137.

17Definisi Menurut Para Ahli, “Pengertian Pernikahan Dini”,

http://www.definisimenurutparaahli.com/pengertian-pernikahan-dini (Senin, 06 Februari 2017, 11.10)


(33)

24

2. Tujuan dan Syarat Pernikahan

Secara sepintas, kebanyakan orang memahami tujuan perkawinan sebagai pemenuhan kebutuhan seks, dalam hal ini tujuan utamanya yaitu reproduksi. Dalam surat Al Baqarah ayat 187 Allah menjelaskan:

                                                                                                                     

Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan istri-istri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi ma'af kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan Makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, Yaitu fajar. kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka itu, sedang kamu beri'tikaf dalam mesjid. Itulah larangan Allah, Maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa.18

Berhubungan seks bukanlah sesuatu yang kotor atau najis sehingga perlu dihindari, karena tidak mungkin Allah memerintahkan dalam hukum-hukum yang berkaitan dengan seks. Berhubungan seks merupakan sesuatu yang bersih, sehingga harus dimulai dan dilakukan dalam suasana suci nan


(34)

25

bersih, karenanya Rasulullah saw mengajarkan umatnya untuk berdoa sebelum melakukan hubungan tersebut.19

Namun, bukan hanya itu saja tujuan pernikahan. Ada perbedaan ketika Allah membahas perkawinan makhluknya secara umum dengan perkawinan yang dilakukan oleh makhluknya yang berakal, yaitu manusia.20 Sebagaimana dalam surat Al Shu>ra> ayat 11:

                                   

(Dia) Pencipta langit dan bumi. Dia menjadikan bagi kamu dari jenis kamu sendiri pasangan-pasangan dan dari jenis binatang ternak pasangan- pasangan (pula), dijadikan-Nya kamu berkembang biak dengan jalan itu. tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha mendengar dan melihat.21

Ayat tersebut menjelaskan bahwasannya manusia diciptakan berpasang-pasangan, begitu pula binatang. Namun ayat tersebut tidak menjelaskan adanya mawaddah dan rahmah (cinta dan kasih) sebagaimana yang dijelaskan pada surat Ar Ru>m ayat 21 mengenai pernikahan manusia22:

                                

Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu istri-istri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya di antaramu rasa kasih dan sayang.

19M. Quraish Shihab, Wawasan Al-Qur’an: Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan Umat (Bandung: Mizan, 1998), 211.

20Ibid., 212.

21Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, 484. 22Shihab, Wawasan Al-Qur’an, 213.


(35)

26

Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.23

Cinta kasih yang Allah anugerahkan kepada sepasang suami istri adalah untuk satu tugas yang berat tetapi mulia. Bahkan malaikat pun ingin sekali mengemban tugas tersebut. Tugas tersebut tidak lain yaitu membangun peradaban dengan menjadi khalifah di muka bumi ini.

Selain itu menikah juga merupakan salah satu media umat Islam untuk berdakwah. Seorang laki-laki muslim diperbolehkan menikahi perempuan kristiani, katolik, maupun hindu. Namun, seorang muslimah tidak diperbolehkan. Hal ini karena pada umumnya laki-laki itu lebih kuat pendiriannya.24

Untuk mencapai tujuan tersebut, tentunya ada beberapa syarat yang perlu dipenuhi25, antara lain:

a. Jelas identitas kedua calon mempelai, baik menyangkut nama, jenis kelamin, keberadaan, dan hal-hal lainnya yang berkenaan dengan keduanya.

b. Keduanya sama-sama beragama Islam

c. Antara keduanya tidak terlarang melangsungkan perkawinan. Larangan perkawinan yang dimaksud adalah oarng-orang yang dilarang melakukan perkawinan, misalnya karena ada hubungan kekerabatan, hubungan

mushaharah, dan lain-lain.

23Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, 406.

24Slamet Abidin dan Aminuddin, Fiqih Munakahat 1 (Bandung: Pustaka Setia, 1999), 18. 25Ibid., 34-38.


(36)

27

d. Kedua belah pihak telah setuju untuk menikah dan setuju pula dengan siapa dia akan menikah. Dalam hadis Nabi dijelaskan:

َاَو َرَمْأَتْسُت ىََح ُمَِّأا ُحَكْنُ ت َا

اَهُ نْذمإ َفْيَكَو مىَا َلوُسَر اَي اوُلاَق .َنَذْأَتْسُت ىََح ُرْكمبْلا ُحَكْنُ ت

َتُكْسَت ْنَأ َلاَق

Perempuan yang sudah janda tidak boleh dikawinkan kecuali setelah ia minta dikawinkan dan perempuan yang masih perawan tidak boleh dikawinkan setelah ia dimintai izin. Mereka berkata: Ya Rasulullah, bagaimana bentuk izinnya? Nabi menjawab: Izinnya adalah diamnya.

e. Keduanya telah mencapai usia yang layak untuk melangsungkan perkawinan. Tentang batas usia perkawinan ini memang tidak dibicarakan dalam kitab-kitab fiqh. Bahkan dalam kitab-kitab fiqh memperbolehkan perkawinan antara laki-laki dan perempuan yang masih kecil.

f. Tidak dalam ikatan perkawinan dengan orang lain.

g. Suami istri yang telah cerai kawin lagi satu sama lain dan bercerai lagi untuk yang kedua kalinya, maka di antara mereka tidak boleh dilangsungkan perkawinan lagi.26

3. Hukum Perkawinan Indonesia

Secara umum, salah satu syarat pernikahan dalam Islam adalah berakal dan ba>ligh. Namun dengan beberapa pertimbangan dalam negara masing-masing, menuntut suatu negara untuk membuat kebijakan-kebijakan baru yang tertera dalam Undang-Undang.

Berbeda negara berbeda pula kebijakan hukumnya. Jika Undang Undang Turki tahun 1972, umur minimal seseorang yang akan menikah

26Undang-Undang Republik Indonesia No. 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan dan


(37)

28

adalah 18 tahun bagi laki-laki dan 17 tahun bagi perempuan27, berbeda dengan Undang-Undang Indonesia No. 1 Tahun 1974 tentang Perkawinan yang menjelaskan batas usia minimal seseorang untuk menikah adalah 19 tahun untuk laki-laki dan 16 tahun perempuan. Namun hal itu saja belum cukup, dalam implementasinya ada beberapa yang harus dipenuhi oleh calon pengantin, yaitu dalam Peraturan Menteri Agama No. 11 Tahun 2007 tentang Pencatatan Nikah Bab 4 No 7 yang memaparkan bahwa apabila calon mempelai belum mencapai usia 21, maka harus mendapat ijin tertulis kedua orangtua.28

Penentuan batasan minimal usia menikah dalam Undang Undang menyebutkan alasan dan tujuan diaturnya pembatasan ini secara otentik pada pasal 7 ayat 1. Alasan tersebut berkenaan dengan kepentingan yang bersangkutan dan kepentingan nasional yaitu pentingnya kedewasaan yang disebut dengan masak jiwa dan raga dalam perkawinan dan kecenderungan tingginya angka kelahiran nasional yang diakibatkan oleh perkawinan di bawah umur. Alasan tersebut berimplikasi pada maksud dan tujuan penetapan aturan pembatasan usia minimal untuk menikah yaitu mewujudkan perkawinan yang baik dan kekal, menjaga kesehatan suami istri, dan mendapat

27HM Atho’ Muzdhar dan Khairuddin Nasution, Hukum Keluarga di Dunia Islam

Modern (Jakarta: Ciputat Press, 2003), 36.

28Undang-Undang Republik Indonesia No. 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan dan


(38)

29

keturunan yang baik dan sehat serta menekan lajunya angka kelahiran nasional.29

Namun, pemerintah tidak begitu juga menolak mentah-mentah untuk masyarakat yang akan melangsungkan pernikahan di luar ketentuan usia tersebut. Seorang calon suami yang belum mencapai usia 19 tahun dan calon istri belum mencapai usia 16 tahun harus mendapatkan dispensasi nikah dari Pengadilan Agama untuk bisa melangsungkan pernikahan yang sah menurut undang-undang. Setelah diperiksa dalam persidangan dan diyakini terdapat hal-hal yang memungkinkan untuk diberikan dispensasi, maka Pengadilan Agama akan memberikan suatu penetapan untuk memenuhi persyaratan melangsungkan pernikahan.30

Dalam mempertimbangkannya, hakim memutuskan memberikan dispensasi berdasarkan hukum Islam yakni menolak bahaya didahulukan atas mendatangkan kebaikan. Dan bahaya harus dihilangkan yang pada dasarnya setiap manusia tidak diizinkan mengadakan suatu yang membahayakan, baik berat maupun ringan terhadap dirinya sendiri maupun terhadap orang lain. Pada prinsipnya, kemadharatan harus dihilangkan. Dalam menghilangkan kemadharatan tersebut, tidak boleh sampai ada kemadharatan lain yang muncul. Namun, jika kemadharatan tersebut tidak dapat dihilangkan kecuali dengan menimbulkan kemadharatan yang lain, maka harus memilih madharat

29Salmah Fa’atin, “Tinjauan Terhadap Batas Minimal Usia Nikah Dalam UU No. 1/ 1974

dengan Multiperspektif”, Jurnal Pemikiran Hukum dan Hukum Islam Yudisia, Vol. 6 No. 2 (Desember, 2015), 437.

30Moh. Idris Ramulyo, Hukum Perkawinan Islam: Suatu Analisis dari Undang-Undang


(39)

30

yang relatif lebih ringan yang telah terjadi. Menurut persepsi hakim.madharatnya adalah ditakutkan bial tidak dinikahkan akan menambah dosa dan terjadi perkawinan di bawah tangan yang akan mengacaukan proses-proses hukumyang akan terjadi berikutnya atau mengacaukan hak-hak hukum anak yang dilahirkannya menurut undang-undang. 31

4. Budaya Pernikahan Dini di Indonesia dan Dampaknya

Tidak bisa dipungkiri lagi, bahwa budaya pernikahan dini yang dalam tiga puluh tahun terakhir telah berkurang, namun pada kenyataannya masih banyak dilakukan di sejumlah daerah terpencil. Walaupun Deklarasi Hak Asasi Manusia tahun 1954 secara eksplisit menentang pernikahan dini, namun ironisnya praktik pernikahan dini masih banyak berlangsung di seluruh belahan dunia, termasuk Indonesia.32

Jumlah kasus pernikahan dini di Indonesia mencapai 50 juta penduduk dengan rata-rata usia perkawinan 19,1 tahun dengan berbagai faktor. Adapun faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya pernikahan dini di Indonesia adalah sebagai berikut33:

a. Budaya perjodohan yang masih melekat kuat pada masyarakat adalah salah satu faktor terjadinya pernikahan dini. Bahkan mereka lebih memilih menjadi janda daripada perawan tua.

31Sri Ahyani, “Pertimbangan Pengadilan Agama Atas Dispensasi Pernikahan Usia Dini

Akibat Kehamilan di Luar Nikah”, Wawasan Hukum,Vol. 34 No. 1 (Februari, 2016), 42-43.

32Mariyatul Qibtiyah, “Faktor yang Mempengaruhi Perkawinan Muda Perempuan” (Skripsi tidak diterbitkan, Departemen Biostatistika dan Kependudukan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga, 2015), 50.


(40)

31

b. Sebagian besar anak yang menikah di usia dini adalah hasil paksaan orang tua yang tidak ingin menanggung lebih besar beban ekonomi, termasuk biaya pendidikan yang semakin mahal. Hal ini sering terjadi di tengah masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah.

c. Sesuai laporan eksekutif kesehatan Jawa Timur tahun yang menyebutkan bahwa 67,82 % dari seluruh perempuan yang menikah di bawah suia 17 tahun adalah yang bertempat tinggal di pedesaan.

d. Semakin rendah jenjang pendidikan yang ditempuh, maka semakin besar pula kemungkinan untuk menikah di usia yang lebih cepat. Hal ini terjadi karena motivasi belajar seseorang akan berkurang karena banyaknya tugas yang dilakukan seusai menikah.

Adanya kebijakan untuk meminimalisir pernikahan dini, tentunya ada dampak yang menjadi sebab perlunya tindakan kebijakan tersebut. Berikut beberapa dampak yang ditimbulkan karena adanya praktik pernikahan dini: a. Sebagaimana yang dinyatakan oleh Walgito dalam bukunya berjudul

Bimbingan Konseling Islam bahwa perkawinan yang masih terlalu muda banyak mengundang masalah yang tidak diharapkan karena segi psikologisnya belum matang seperti cemas dan stress.34

b. Ada beberapa keinginan yang ingin dicapai namun terhalang karena status pernikahan, seperti kerja dan kuliah.

34Bimo Walgito, Bimbingan dan Konseling Perkawinan (Yogyakarta: Yayasan Penerbitan Fakultas Psikologi UGM, 2000), 20.


(41)

32

c. Menurut beberapa penelitian para ahli, rata-rata penderita infeksi kandungan dan kanker mulut rahim adalah wanita yang hamil di bawah usia 19 tahun. Karena terjadinya peralihan sel anak-anak ke sel dewasa yang terlalu cepat.35

Walaupun begitu, ada beberapa dampak positif yang ditimbulkan karena adanya pernikahan dini, di antaranya:

a. Meringankan beban biaya orang tua.

b. Melatih mental seseorang untuk lebih cepat dewasa. Karena dengan menikah seseorang akan dituntut untuk lebih bertanggungjawab.

c. Menghindarkan anak dari perbuatan maksiat, seperti pacaran.

Sebagaimana dalam skripsi Alfian Farisi yang memaparkan hasil penelitiannya mengenai pentingnya pernikahan di desa Labuhan bahwa dengan pernikahan dini dapat mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan sehingga dapat menjaga kehormatan keluarga.36

5. Pernikahan Dini Perspektif Psikologi

Menurut ahli psikologi, masa kehidupan itu dibagi menjadi 4 masa yaitu masa anak-anak, masa remaja, masa dewasa, dan masa tua (menopause). Masa persiapan seorang anak menjadi seorang individu dewasa adalah masa remaja. Masa remaja adalah masa dimana seorang anak telah berkembang

35Riska Afriani dan Mufdlilah, “Analisis Dampak Pernikahan Dini PadaRemaja Putri di

Desa Sidoluhur Kecamatan Godean Yogyakarta”, dalam Rakernas Aipkema 2016 (Yogyakarta: Universitas Aisyiyah Yogyakarta, 2016), 237-239.

36Alfian Farisi, “Tinjauan Hukum Islam Terhadap Urgensi Pernikahan Dini di Desa

Labuhan Kecamatan Kreseh Kabupaten Sampang” (Skripsi tidak diterbitkan, Jurusan


(42)

33

fisik maupun psikisnya dengan mengalami pubertas. Adapun batasan usia remaja Indonesia menurut Singgih D. Gunarsa berkisar antara usia 12 – 22 tahun.37

Di sepanjang rentang masa remaja tersebut, para ahli membagi masa tersebut menjadi tiga yaitu masa remaja awal, remaja tengah, dan remaja akhir. Masa remaja yang paling mendekati kedewasaan adalah masa remaja akhir. Pola sikap, pola perasaan, pola pikir, dan pola perilaku pada masa ini sudah sangat berbeda dengan masa remaja awal. Masa remaja akhir ini ditandai dengan meningkatnya kestabilan dalam aspek-aspek fisik dan psikis. Seorang remaja akan lebih bisa mengadakan penyesuaian-penyesuaian dalam banyak aspek kehidupannya dibandingkan dengan masa-masa sebelumnya. Cara menghadapi masalah pun sudah terlihat berbeda. Jika pada masa remaja awal mereka bersikap bingung dan berperilaku tidak efektif, namun pada remaja akhir mereka cenderung lebih tenang, matang, dan realistis dalam menghadapi masalah tersebut.38 Masa remaja akhir ini terpaut pada usia 18-22 tahun.39

Setelah seseorang mengalami masa remaja ini, barulah ia memasuki masa dewasa. Pada masa ini, seseorang tidak lagi disebut sebagai masa tanggung, tetapi sudah tergolong sebagai seorang pribadi yang benar-benar dewasa. Penampilan fisiknya pun benar-benar telah matang sehingga siap

37Ny. Singgih D. Gunarsa dan Singgih D. Gunarsa, Psikologi Remaja (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2003), 15-16.

38Sarlito Wirawan Sarwono, Psikologi Remaja (Jakarta: Rajawali Pers, 2011), 36-39. 39H. Panut Panuju dan Ida Umami, Psikologi Remaja (Yogyakarta: Tiara Wacana Yogya, 1999), 8.


(43)

34

untuk melakukan tugas-tugas seperti orang dewasa lainnya, misalnya bekerja, menikah, dan mempunyai anak. Selain itu, menurut para ahli, kapasitas kognitif dewasa muda ini tergolong masa operasional formal, bahkan kadang-kadang mencapai masa post-operasi formal yang menyebabkan seorang pribadi dewasa mampu memecahkan masalah yang kompleks dengan kapasitas berpikir abstrak, logis, dan rasional.40

Pernikahan dini sebagaimana yang dijelaskan pada subbab sebelumnya, adalah pernikahan yang dilakukan oleh seorang yang belum dewasa. Jika ditinjau dari segi psikologis, pernikahan ini dapat menghambat proses belajar dan menimbulkan banyaknya perceraian karena kurang siapnya mental dari kedua belah pihak.

Namun tidak dengan Muhammad Faudzil Adhim dalam bukunya

berjudul “Indahnya Pernikahan Dini” yang menjelaskan bahwa pernikahan

bukanlah penghambat untuk meraih prestasi yang lebih cemerlang. Usia bukan ukuran dalam menentukan kesiapan mental dan kedewasaan seseorang. Bahkan menikah merupakan salah satu alternatif untuk mengatasi kenakalan remaja masa kini.41

Sebagaimana yang dikatakan Maslow, bahwasannya pernikahan yang sebenarnya dimuali padasaat menikah. Pernikahan akan mematangkan seseorang sekaligus memnuhi separuh dari kebutuhan-kebutuhan psikologis

40Agoes Dariyo, Psikologi Perkembangan Dewasa Muda (Jakarta: Gramedia Widiasarana

Indonesia, 2003), 4-5.

41Muhammad Fauzhil Adhim, Indahnya Pernikahan Dini (Jakarta: Gema Insani, 2002), 123.


(44)

35

manusia yang pada gilirannya akan menjadikan manusia mencapai puncak pertumbuhan kepribadian yang mengesankan.42

42Bety, “Hubungan Pernikahan Dini dengan Perceraian (Studi Kasus Pengadilan Agama

Bengkulu)” (Disertasi tidak diterbitkan, Fakultas Adab dan Budaya Islam IAIN Raden Fatah Palembang, 2013), 29.


(45)

BAB III

TELAAH TENTANG PERNIKAHAN DINI DALAM ALQURAN

A. Penafsiran Ayat Alquran Tentang Pernikahan Dini

Dalam Alquran tidak ada ayat yang secara jelas membahas mengenai pernikahan dini. Sebagaimana yang telah dijelaskan pada bab sebelumnya, bahwasannya pernikahan dini adalah istilah yang digunakan orang zaman sekarang dalam menyebut pernikahan anak.

Sebelum membahas lebih dalam mengenai pernikahan dini dalam Alquran, akan dibahas mengenai usia menikah sebagai tolok ukur batasan minimal usia dianjurkannya untuk menikah. Dalam Alquran surat Al Nisa’ ayat 6:

                                                                   

Dan ujilah anak yatim itu sampai mereka cukup umur untuk kawin. kemudian jika menurut pendapatmu mereka telah cerdas (pandai memelihara harta), Maka serahkanlah kepada mereka harta-hartanya. dan janganlah kamu Makan harta anak yatim lebih dari batas kepatutan dan (janganlah kamu) tergesa-gesa (membelanjakannya) sebelum mereka dewasa. barang siapa (di antara pemelihara itu) mampu, Maka hendaklah ia menahan diri (dari memakan harta anak yatim itu) dan Barangsiapa yang miskin, Maka bolehlah ia Makan harta itu menurut yang patut. kemudian apabila kamu menyerahkan harta kepada mereka, Maka hendaklah kamu adakan saksi-saksi (tentang penyerahan itu) bagi mereka. dan cukuplah Allah sebagai Pengawas (atas persaksian itu).1

1

Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya (Bandung: Sygma Examedia Arkanleema), 77


(46)

37

Dalam kitab Anwa>ru al tanzi>l wa asra>ru al ta’wi>l li al Baid}awi, dijelaskan bahwasannya seseorang dikatakan mencapai usia menikah apabila ia telah mencapai usia dewasa dengan dialaminya ih}tila>m atau telah sempurna mencapai usia 15 tahun. 2 Sebagaimana dalam hadis Rasulullah saw:

ِ إِ ذ

ِ ساِا

ِ تِ ك

ِ مِ ل

ِِ لا

ِ وِ لِ د

ِ

ِ خ

ِ س

ِِ ع

ِ شِ ر

ِ ةِ

ِ سِ

ِ ةِِ

ِ كِ ت

ِ ب

ِِ م

ِ لِا

ِ هِِ و

ِ م

ِ عِا

ِ لِ يِ ه

ِِ و

ِ تميقأ

ِِ عِ ل

ِ يِ هِ

ِ لا

ِ دِ و

ِ د

Dalam hadis tersebut menjelaskan, bahwasannya seorang anak yang mencapai usia 15 tahun, maka diwajibkan untuk menyeahkan hartanya dan menegakkan hukum atasnya.

Al Ra>zi berpendapat bahwa menguji anak yatim ini dilakukan ketika belum baligh. Ujian yang dilakukan ini berupa kecakapan seorang anak dalam membelanjakan harta.3 Ketika ia telah dinilai cakap dalam hal tersebut, maka

dapat diindikasikan kesempurnaan akalnya. Kedewasaan akal adalah

sempurnanya akal dan kuatnya seseorang dalam hal perasaan dan tingkah lakunya.4

Menurut Al Mara>ghi, bulu>ghu al nika>h{ adalah sampainya seseorang pada usia yang siap untuk menikah dan dia dalam keadaan sudah mencapai

ih}tila>m.5

2Al Baid}a>wi, Anwa>ru al tanzi>l wa asra>ru al ta’wi>l li al baid}a>wi Juz 1 (Beirut: Da>r al Fikr, tt), 148.

3Fakhruddin Muh}ammad ibn ‘Umar al Tami>mi> al Ra>zi> al Sha>fi’i>, Al Tafsi>r al Kabi>r au Mafa>tih}u al Ghaib Juz 9 (Beirut: Da>r al Kutub al ‘Ilmiyah, 2000), 153.

4Fakhruddin Muh}ammad ibn ‘Umar al Tami>mi> al Ra>zi> al Sha>fi’i>, Al Tafsi>r al Kabi>r au Mafa>tih}u al Ghaib Juz 20 (Beirut: Da>r al Kutub al ‘Ilmiyah, 2000), 164.

5Ah}mad Mus}t}afa> al Mara>ghi, Tafsi>r al Mara>ghi Juz 4 (Kairo: Mus}t}afa>al Ba>bi> al Khalbi>, t.t.), 188.


(47)

38

Al Qurt}ubi> berpendapat bahwa balaghu al nika>h adalah h}ulm. Sebagaimana dalam ayat

ِ م ل لاِ م ك مِ لا ف ط ْاِ غ ل بِا ذ إ و

(Dan ketika seorang anak

dari kalian mencapai h}ulm).6

Dari beberapa penafsiran tersebut, maka setidaknya dapat diketahui batas usia minimal seseorang dianjurkan untuk menikah, yaitu ketika sudah ba>ligh (dewasa) dan dapat mengelola harta dengan baik.

Berikut beberapa penafsiran ayat mengenai adanya pernikahan dini: 1. Dini Secara Fisik dan Biologis

Dewasa ini, banyak sekali golongan yang melegalkan pernikahan dini menurut Islam dengan dalil surat Al T}ala>q ayat 4:

                                                 

Dan perempuan-perempuan yang tidak haid lagi (monopause) di antara perempuan-perempuanmu jika kamu ragu-ragu (tentang masa iddahnya), Maka masa iddah mereka adalah tiga bulan; dan begitu (pula) perempuan-perempuan yang tidak haid. dan perempuan-perempuan yang hamil, waktu iddah mereka itu ialah sampai mereka melahirkan kandungannya. dan barang -siapa yang bertakwa kepada Allah, niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya.7

Pada ayat sebelumnya menjelaskan tentang ‘iddah dan tuntunan kepada suami agar berpikir panjang sebelum menjatuhkan talak serta menguraikan apa saja yang harus dilakukan suami. Kemudian dalam surat Al

6Abu ‘Abdullah Muh}ammad ibn Ah}mad al Ansha>ri> al Qurt}ubi>, Tafsi>r al Qurt}ubi> Juz 5 (Kairo: Da>r al Sya’bi, 2009), 34.

7


(48)

39

T}ala>q ayat 4 ini menjelaskan tentang beberapa macam ‘iddah perempuan yang

dicerai sesuai dengan kondisinya ketika dicerai. Antara lain, ’iddah seorang wanita yang menopause dan benar-benar telah berhenti masa h}aid} nya pada usia 55 atau 60 tahun maka ‘íddahnya adalah tiga bulan. Begitu pula dengan anak kecil yang belum mencapai usia h}aid} maka ‘iddah nya adalah sama dengan wanita yang menopause, yakni tiga bulan.8

Sebagaimana yang diriwayatkan oleh Ibnu Jari>r, Ish}a>q ibn Rawahaih,

al H}a>kim, dan yang lainnya yang bersumber dari Ubay ibn Ka’b bahwa ketika

turun ayat tentang ‘iddah wanita di surat Al Baqarah 226-237 para sahabat

berkata: “Masih ada masalah ‘iddah wanita yang belum disebut di dalam, yaitu ‘iddah wanita muda (yang belum h}aid}), yang sudah tua (tidak h}aid} lagi),

dan yang hamil.” Maka turunlah ayat ini yang menegaskan bahwa masa ‘iddah

bagi mereka ialah tiga bulan, dan bagi yang hamil apabila telah melahirkan.9

Menurut Ibnu Kathi>r mengenai makna lam yah}id}na pada ayat tersebut berarti perempuan yang belum ba>ligh. Terlihat dari penafsirannya yang menyatakan bahwa Allah telah berfirman secara jelas mengenai ‘iddahnya perempuan yang telah berhenti h}aid} karena tua yaitu selama 3 bulan. Begitu juga anak kecil yang belum mencapai usia h}aid} bahwa sesungguhnya

‘iddahnya seperti ‘iddahnya perempuan tua yang telah berhenti h}aid}nya.10

8al Zuh}aili>y, Al Tafsi>r al Muni>r Juz 28., 280.

9Mudjab Mahali, Asbabun Nuzul: Studi Pendalaman Al-Qur’an Surat Al-Baqarah-An

Nas, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2002), 827.

10Ima>m Jali>l al Ha>fiz} ‘Ima>du al di>n Abi> al Fida’ Isma>’i>l ibn Kathi>r al Qurshi al Dimashqi>,


(49)

40

Hal serupa juga disampaikan al Zuh}aili dalam tafsirnya bahwa ayat tersebut memunculkan hukum ‘iddah pada tiga golongan perempuan, yaitu perempuan-perempuan kecil yang belum berusia h}aid}, perempuan yang berhenti dari h}aid} karena masa tuanya, dan perempuan yang hamil. Dalam

ayat ini khusus membicarakan ‘iddah perempuan yang berhubungan dengan

kemungkinan tidak adanya masa h}aid}nya.11

Sedikit berbeda dengan Abu> H}ayyan yang menyatakan ada dua kemungkinan dalam memaknai lam yah{id{na yaitu perempuan yang memang belum mencapai usia h{aid{ dan perempuan yang tidak pernah mengalami h}aid

sama sekali}, dan ini memang ada bahkan sampai ia meninggal pun tidak

pernah mengalami h}aid}.12

Al Razi dalam tafsirannya mengenai ayat ini, mengutip cerita

seorang laki-laki yang bertanya tentang ‘iddahnya anak kecil yang belum

haid}. Maka turunlah ayat tersebut yang menyatakan bahwa anak yang belum

h}aid}, maka ‘iddahnya sama dengan wanita yang sudah mengalami

menopause.13 Artinya, dalam hal ini al Razi berpendapat bahwa lam yah}id}na

dimaknai dengan anak-anak kecil.

Begitu pula al Mara>ghi> yang menjelaskan ayat tersebut dengan

menyebutkan ‘iddah nya wanita yang mencapai usia menopause (berhenti

11Wahbah ibn Mus}t}afa al Zuh}aili>y, Al Tafsi>r al Muni>r fi al ‘Aqi>dah wa al shari>’ah wa al Manhaj Juz 2 (Beirut: Da>r al Fikr al Ma’a>s}ir, 1996), 319.

12Muh}ammad ibn Yu>suf al Shahi}r bi abi> H}ayyan al Andalusiy, Tafsi>r al Bah}r al Muh}i>t} (Beirut: Da}r al Kutub al ‘Ilmiyah, 2001), 280.

13Fakhruddin Muh}ammad ibn ‘Umar al Tami>mi> al Ra>zi> al Sha>fi’i>, Al Tafsi>r al Kabi>r au


(50)

41

masa h}aid}nya) karena tua atau mencapai usia 55 tahun ke atas, maka masa ‘iddahnya adalah tiga bulan. Begitu pula anak kecil yang belum h}aid}.14

Pada ayat ini menunjukkan bahwa adanya pernikahan dini atau pernikahan yang dilakukan oleh perempuan belum ba>ligh, karena h}aid} adalah salah satu ciri seseorang dikatakan ba>ligh. Sebagaimana yang dinyatakan dalam surat Al Nu>r ayat 59 bahwa salah satu indikasi seorang anak telah tumbuh menjadi ba>ligh yaitu dengan dialaminya ih}tila>m.

                                     

Dan apabila anak-anakmu telah sampai umur baligh, Maka hendaklah mereka meminta izin, seperti orang-orang yang sebelum mereka meminta izin. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayat-Nya. dan Allah Maha Mengetahui lagi Maha Bijaksana.15

Ayat ini melukiskan seorang anak tumbuh menjadi dewasa dengan kata h}ulm yang berarti mimpi. Mimpi yang dimaksud di sini adalah mimpi berhubungan seks atau pengantarnya yang mengakibatkan keluarnya mani bagi anak laki-laki dan haid atau hamil bagi anak perempuan. Sehingga ketika seorang anak yang telah mengalami hal tersebut harus melakukan apa yang harus dilakukan orang dewasa.16

14Ah}mad Mus}t}afa> al Mara>ghi, Tafsi>r al Mara>ghi Juz 28 (Kairo: Mus}t}afa>al Ba>bi> al Khalbi>,

t.t.), 143. 15

Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya,358.

16M. Quraish Shihab, Tafsir Al Mishbah Pesan, Kesan, dan Keserasian Al-Qur’an


(1)

BAB IV

PENUTUP

A. Kesimpulan

1. Allah menjelaskan seorang anak yatim harus diuji sampai ia mencapai usia

menikah. Dari penafsiran mengenai usia menikah tersebut dapat diketahui batasan

usia menikah menurut Alquran. Sehingga ketika seseorang menikah sebelum

waktu yang telah ditentukan tersbut, sama halnya dengan menikah di usia dini.

Dalam Alquran dijelaskan ada pernikahan dini secara fisik/biologis, mental, dan

spiritual.

2. Hukum Indonesia memang telah menentukan batas usia minimal menikah.

Namun hukum tersebut juga memberikan dispensasi bagi seseorang yang ingin

menikah di usia kurang dari minimal usia yang ditentukan. Dispensasi tersebut

harus diperoleh oleh pihak yang bersangkutan dari Pengadilan Agama dengan

beberapa pertimbangan hakim yang dilihat dari segi manfaat dan bahayanya.

3. Usia Alvin dan Larissa sudah mencapai usia dewasa secara biologis. Sperma dan

sel telur mereka di usia tersebut sudah berfungsi dengan baik. Dari segi psikis,

Alvin belum bisa dikatakan sudah matang secara sempurna. Namun upaya-upaya

yang diusahakan sudah menunjukkan bahwa ia sudah mulai terlatih untuk masuk

masa dewasa, walaupun dalam tahapan persiapan menuju kematangan. Akan

tetapi hal tersebut dapat diimbangi dengan psikis istrinya yang lebih tua. Dari segi


(2)

65

pernikahan. Sedikit banyak, kecerdasannya dalam bidang keagamaan telah dinilai

dapat menjadi bekal untuk melaksanakan kewajibannya untuk membimbing

pendidikan agama kepada istrinya. Apalagi istrinya yang termasuk muallaf masih

perlu banyak mendapatkan pendidikan keagamaan agar nantinya bisa

menanamkan nilai keagamaan kepada anak-anaknya kelak.

B. Saran-Saran

1. Penulis sadar akan kurangnya kesempurnaan dalam penelitian dan penulisan

skripsi ini. Sehingga penulis berharap akan ada penelitian yang melanjutkan atau

pengkajian ulang yang lebih teliti, kritis dan mendetail guna menambah wawasan

dan pengetahuan masyarakat.

2. Penelitian yang jauh dari unsur kefanatikan sangat diperlukan untuk

menyempurnakan hasil penelitian ini sehingga nilai-nilai objektifitas terpenuhi.

3. Data-data langsung dari pelaku kasus yang diteliti sebenarnya sangat diperlukan,

sehingga penulis berharap penelitian yang akan datang lebih dapat menggali


(3)

DAFTAR PUSTAKA

Abidin, Slamet dan Aminuddin. Fiqih Munakahat 1. Bandung: Pustaka Setia, 1999.

Adhim, Muhammad Fauzhil. Indahnya Pernikahan Dini. Jakarta: Gema Insani, 2002.

Agama RI, Departemen. Al-Qur’an dan Terjemahnya. Bandung: PT. Sygma

Examedia Arkanleema, 2009.

al Asqalani, Ibnu Hajar. Fath al Ba>ri>: Syarhu shah{i>h{ al bukha>ri>, terj. Abdul Aziz. Bekasi: Pustaka Azzam, 2009.

Baidan, Nashruddin. Metodologi Penafsiran Al-Qur’an. Yogyakarta: Pustaka Pelajar,

2012.

al Baid}a>wi. Anwa>ru al tanzi>l wa asra>ru al ta’wi>l li al baid}a>wi Juz 1. Beirut: Da>r al Fikr, tt.

Bety. “Hubungan Pernikahan Dini dengan Perceraian (Studi Kasus Pengadilan Agama Bengkulu)” Disertasi tidak diterbitkan. (Fakultas Adab dan Budaya

Islam IAIN Raden Fatah Palembang, 2013).

Dariyo, Agoes. Psikologi Perkembangan Dewasa Muda. Jakarta: Gramedia

Widiasarana Indonesia, 2003.

Fadlyana, Eddy dan Shinta Larasaty. “Pernikahan Usia Dini dan Permasalahannya”.

Sari Pedlatri. Vol. 11 No. 2. Agustus, 2009.

al Farmawi, Abd. al Hayy. Al Bida>yah fi> al Tafsi>r al Maud}u’i>, terj. Suryan A. Jamrah. Jakarta: RajaGrafindo Persada, 1994.

Ghozali, Abdul Rahman. Fiqh Munakahat 1.Jakarta: Prenada Media Group, 2003.

Gunarsa, Ny. Singgih D. dan Singgih D. Gunarsa. Psikologi Remaja. Jakarta: BPK

Gunung Mulia, 2003.

Hadi, Amirul dan H. Haryono. Metodologi Penelitian Pendidikan. Bandung: Pustaka


(4)

al Jarjawi, Syekh Ali Ahmad. H{ikmah al tasyri>’ wa falsafatahu, terj. Faisal Saleh,

dkk. Depok: Gema Insani, 1997.

al Mara>ghi, Ah}mad Mus}t}afa>. Tafsi>r al Mara>ghi Juz 4. Kairo: Mus}t}afa>al Ba>bi> al Khalbi>, t.t.

Meliala, Djaya S. Masalah Perkawinan Antar Agama dan Kepercayaan di Indonesia

dalam Perspektif Hukum. Bandung: Vrama Vidya Dharma, 2006.

Muhadjir, Noeng. Metodologi Penelitian Kualitatif Pendekatan Positivistik,

Rasionalistik, Phenomenologik, dan Realisme Metaphisik Telaah Studi Teks dan Penelitian Agama. Yogyakarta: Bayu Indra Grafika, 1989.

Munawwir, Ahmad Warson. Al Munawwir Kamus Arab-Indonesia. Surabaya:

Pustaka Progresif, 1997.

Mustaqim, Abdul. Dinamika Sejarah Tafsir Al-Qur’an. Yogyakarta: Adab Press,

2014.

Muzdhar, HM Atho’ dan Khairuddin Nasution. Hukum Keluarga di Dunia Islam

Modern. Jakarta: Ciputat Press, 2003.

Panuju, H. Panut dan Ida Umami. Psikologi Remaja. Yogyakarta: Tiara Wacana

Yogya, 1999.

al Qat{t>a>n, Manna’ Khali>l. Maba>h{i>th fi> ‘ulu>mi al Qur’a>n. terj. Mudzakir AS. Bogor: Litera AntarNusa, 2013.

Qibtiyah, Mariyatul. “Faktor yang Mempengaruhi Perkawinan Muda Perempuan”,

Skripsi tidak diterbitkan (Departemen Biostatistika dan Kependudukan

Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga, 2015).

al Qurt}ubi>, Abu ‘Abdullah Muh}ammad ibn Ah}mad al Ansha>ri.> Tafsi>r al Qurt}ubi> Juz 5. Kairo: Da>r al Sya’bi, 2009.

Ramulyo, Moh. Idris. Hukum Perkawinan Islam: Suatu Analisis dari

Undang-Undang No. 1 Tahun 1974 dan Kompilasi Hukum Islam. Jakarta: Bumi Aksara, 1996.


(5)

Salmah Fa’atin, “Tinjauan Terhadap Batas Minimal Usia Nikah Dalam UU No. 1/

1974 dengan Multiperspektif”, Jurnal Pemikiran Hukum dan Hukum Islam

Yudisia, Vol. 6 No. 2 (Desember, 2015)

Sarwono, Sarlito Wirawan. Psikologi Remaja. Jakarta: Rajawali Pers, 2011.

Shihab, M. Quraish. Membumikan Al-Qur’an. Bandung: Mizan, 1994.

... Wawasan Al-Qur’an: Tafsir Maudhu’i atas Pelbagai Persoalan

Umat. Bandung: Mizan, 1998.

... Tafsir Al-Mishbah: Pesan, Kesan, dan Keserasian al-Qur’an.

Jakarta: Lentera Hati, 2002.

al Sha>fi’i>, Fakhruddin Muh}ammad ibn ‘Umar al Tami>mi> al Ra>zi>. Al Tafsi>r al Kabi>r au Mafa>tih}u al Ghaib Juz 9. Beirut: Da>r al Kutub al ‘Ilmiyah, 2000.

... Al Tafsi>r al Kabi>r au Mafa>tih}u al Ghaib Juz 20. Beirut: Da>r al Kutub al ‘Ilmiyah, 2000.

al Shirbas}i, Ahmad. Sejarah Tafsir al-Quran, terj. Tim Pustaka Firdaus. t.k.: Pustaka Firdaus, 1994.

Sugiyono. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta,

2011.

Syarifuddin, Amir. Hukum Perkawinan Islam di Indonesia: Antara Fiqh Munakahat

dan Undang-Undang Perkawinan.Jakarta: Kencana, 2011.

Undang-Undang Republik Indonesia No. 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan dan

Kompilasi Hukum Islam (Bandung: Citra Umbara, 2007)

Walgito, Bimo. Bimbingan dan Konseling Perkawinan. Yogyakarta: Yayasan

Penerbitan Fakultas Psikologi UGM, 2000.

Zakariyya, Abi> al H}usain Ah}mad ibn Fa>ris ibn. Maqa>yis al Lughah juz al Ra>bi’. Kairo: Mus}t}afa> al Ba>bi al H}alabi, 1970.

Commontags,

http://commontags.com/biodata-muhammad-alvin-faiz-putra-ustad-arifin-ilham “Biodata Muhammad Alvin Faiz, Putra Ustad Arifin Ilham”


(6)

Muhammad Nurdin Fathurrohman,

https://biografi-tokoh-

ternama.blogspot.in/2016/08/profil-larissa-chou-isteri-muhammad-alvin-faiz.html “Profil Larissa Chou – Isteri Muhammad Alvin Faiz (Putra Pertama

Ustaz Arifin Ilham” (Kamis, 26 Januari 2017)

Tribun Jateng, http://jateng.tribunnews.com/2016/08/08/awalnya-kalah-debat-alasan-larissa-chou-jadi-mualaf-ayah-dan-neneknya-juga-ikut-memeluk-islam

“Awalnya Kalah Debat, Alasan Larissa Chou Jadi Mualaf. Ayah dan

Neneknya Juga Ikut Memeluk Islam” (Kamis, 26 Januari 2017)

Unik6news, http://unik6.blogspot.in/2016/08/larissa.choun.html “Foto Cantik dan

Biodata Larissa Chou Cewek Cina Mualaf Istri Alvin Faiz” (Kamis, 26

Januari 2017)

Wikipedia, https://id.m.wikipedia.org/wiki/Muhammad_Arifin_Ilham “Biodata