II. TINJAUAN PUSTAKA - Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Ekspor Crude Palm Oil (CPO) Indonesia ke Uni Eropa

II. TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Penelitian Terdahulu

  Penelitian Suherwin (2012), tentang harga Crude Palm Oil dengan menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi harga CPO dunia. Tujuan umum penelitian adalah untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi harga CPO dunia. Tujuan khusus penelitian menganalisis variabel-variabel seperti luas kebun kelapa sawit dunia time lag 5 tahun, biaya produksi CPO, produksi minyak kedelai dunia, harga minyak kedelai dunia, permintaan CPO dunia tahun sebelumnya, dan harga minyak bumi dunia terhadap harga CPO dunia baik secara langsung ataupun secara tidak langsung melalui intervening variabel.

  Studi Wardani (2008), tentang Dampak Kebijakan Perdagangan di Sektor Industri CPO terhadap Keseimbangan Pasar Minyak Goreng Sawit dalam Negeri bertujuan untuk: Pertama, mengkaji faktor-faktor apakah yang mempengaruhi ekspor CPO dan keseimbangan pasar minyak goreng sawit di Indonesia. Kedua, menganalisis keterkaitan antar keduanya. Ketiga, untuk mengetahui dampak pajak ekspor di sektor industri CPO terhadap keseimbangan pasar dan harga minyak goreng sawit dalam negeri. Untuk tujuan tersebut, beberapa variabel yang diteliti adalah ekspor CPO, produksi CPO, luas areal kelapa sawit, harga ekspor CPO, harga CPO domestik, pendapatan nasional Indonesia, jumlah penduduk Indonesia, pajak ekspor CPO, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika, harga dan produksi minyak goreng sawit dalam negeri, permintaan minyak goreng sawit dalam negeri, upah tenaga kerja di sektor industri, dummy krisis ekonomi, harga minyak goreng kelapa, impor minyak goreng sawit serta harga impor minyak goreng sawit.

  Penelitian tentang produksi dan ekspor CPO yang dilakukan oleh Hansen (2008), tentang Peramalan Produksi dan CPO Indonesia serta Implikasi Hasil Ramalan terhadap Kebijakan. Besarnya jumlah produksi untuk ekspor ternyata tidak hanya membawa pengaruh yang baik bagi kinerja perekonomian, tetapi berpotensi menimbulkan kelangkaan CPO dalam negeri. Hal ini terjadi karena produknya sebagai respon dari meningkatnya harga CPO dunia. Oleh karena itu, perlu kebijakan yang tepat dalam meredam laju ekspor dan mengimbanginya untuk pemenuhan kebutuhan dalam negeri. Salah satu bagian dari perencanaan tersebut menyangkut peramalan produksi dan ekspor yang akan terjadi di masa yang akan datang. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis data, mendapatkan model peramalan terbaik dan menerapkan hasil peramalan tersebut dalam kebijakan. Data pada penelitian diperoleh dari Sub Direktorat Tanaman Perkebunan BPS yang berupa data triwulan produksi dan ekspor CPO Indonesia dari tahun 1994 sampai 2007 yang kemudian diagregasi ke bentuk triwulan.

  Penelitian tentang produksi dan ekspor CPO yang dilakukan oleh Susila (2004), tentang Dampak Pajak CPO - Ekspor terhadap Beberapa Aspek Industri CPO Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk mengontrol pasokan CPO domestik, harga CPO dan harga minyak goreng. Pemerintah Indonesia telah memberlakukan pajak CPO - ekspor sejak Agustus 1994. Industri CPO memainkan peran penting dalam perekonomian Indonesia. Pemberlakuan pajak diharapkan memiliki dampak besar pada berbagai aspek industri, seperti pada investasi, produksi, perdagangan, pendapatan usaha tani dan distribusi kesejahteraan.

  Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menilai dampak tersebut menggunakan model ekonometrik industri. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa kebijakan pajak ekspor telah menghambat laju pertumbuhan investasi, produksi, ekspor dan pendapatan usaha tani. Di sisi lain, kebijakan ini telah menjadi instrumen yang efektif untuk mengendalikan CPO domestik dan mentransfer kesejahteraan substansial dari produsen ke konsumen dan pemerintah .

2.2. Landasan Teori

2.2.1 Perdagangan Internasional

  Pada dasarnya beberapa faktor yang mendorong timbulnya perdagangan internasional suatu negara dengan negara lainnya bersumber dari keinginan memperluas pasaran komoditi ekspor, memperbesar penerimaan devisa bagi kegiatan pembangunan, adanya perbedaan penawaran dan permintaan antar negara, serta akibat adanya perbedaan biaya relatif dalam menghasilkan komoditi tertentu. Dalam teori mengenai timbulnya perdagangan internasional, Heckser-

  

Ohlin menganggap bahwa suatu negara dicirikan oleh faktor bawaan yang

  berbeda, sedangkan fungsi produksi di semua negara adalah sama. Berdasarkan asumsi tersebut, dapat disimpulkan bahwa dengan fungsi produksi yang sama dan faktor bawaan yang berbeda antar negara. Suatu negara cenderung untuk mengekspor komoditi yang menggunakan faktor produksi yang lebih banyak dan secara relatif murah dan mengimpor barang-barang yang menggunakan faktor- faktor produksi yang relatif langka dan mahal (Salvatore, 1997).

  Secara teoritis, suatu negara (misal negara A) akan mengekspor suatu komoditi (misal CPO) ke negara lain (misal negara B) karena harga domestik di negara A lebih rendah jika dibandingkan dengan harga domestik di negara B. Struktur harga yang relatif rendah di negara A tersebut disebabkan adanya kelebihan penawaran (excess supply) yaitu produksi domestik yang melebihi konsumsi domestik. Dalam hal ini faktor produksi di negara A relatif berlimpah. Dengan demikian negara A mempunyai kesempatan menjual kelebihan

  Di pihak lain, negara B terjadi kekurangan penawaran karena konsumsi domestiknya melebihi produksi domestik (excess demand) sehingga harga menjadi tinggi. Dalam hal ini negara B berkeinginan untuk membeli komoditi negara lain yang harganya relatif lebih murah. Jika kemudian terjadi komunikasi antara negara A dan negara B, maka dapat terjadi perdagangan antara kedua negara tersebut dimana negara A akan mengekspor komoditi CPO ke negara B (Salvatore, 1997).

  Jumlah dan harga komoditas yang diekspor dapat ditentukan setelah diketahui kurva penawaran dan persediaan yang merupakan perangkat geometris utama. Secara lebih jelas dapat dilihat pada Gambar 1.

  Gambar 1. Keseimbangan Harga di Pasar Internasional

  Gambar 1. memperlihatkan sebelum terjadinya perdagangan internasional, harga di negara A sebesar A, sedangkan di negara B sebesar B. Penawaran di pasar internasional akan terjadi jika harga internasional lebih tinggi dari A sedangkan permintaan di pasar internasional akan terjadi jika harga internasional lebih rendah dari B. Pada saat harga internasional sama dengan A atau B maka tidak terjadi perdagangan internasional. Apabila harga internasional lebih besar dari A maka terjadi excess supply (ES) pada negara A dan apabila harga

  B. Dengan demikian, dari A dan B tersebut akan terbentuk kurva ES dan ED di pasar internasional, dimana perpotongan antara kurva ES dan ED akan menentukan harga yang terjadi di pasar internasional sebesar P.

  Jenis kebijakan perdagangan internasional terdiri atas : a. Kebijakan perdagangan bebas adalah kebijakan perdagangan yang menginginkan adanya kebebasan dalam perdagangan, sehingga tidak ada rintangan yang menghalangi arus produk dari dan ke luar negeri.

  Manfaat dari perdagangan bebas menurut Teori Klasik adalah sebagai berikut: Pertama dapat mendorong persaingan antar pengusaha, sehingga nantinya akan mendorong terjadinya efisiensi biaya (cost) sehingga mampu menghasilkan produk dengan harga yang mampu bersaing. Kedua, meningkatkan mobilitas modal, tenaga ahli dan investasi (faktor produksi) ke berbagai negara sehingga dapat mempercepat pertumbuhan ekonomi. Ketiga, meningkatkan perolehan laba sehingga memungkinkan para pengusaha berinvestasi lebih luas. Keempat konsumen dapat lebih bebas dalam menentukan variasi dan pilihan produk yang diinginkan. b.

  Kebijakan Perdagangan Proteksionis adalah kebijakan/ aturan perdagangan yang berfungsi melindungi produk-produk dalam negeri agar mampu bersaing dengan produk asing dengan melakukan cara membuat berbagai rintangan dan hambatan arus produksi dalam dan keluar negeri.

  Alasan dilakukan kebijakan proteksionis adalah: Pertama, hanya negara maju saja yang dapat diuntungkan, karena memiliki modal dan teknologi tinggi.

  Selain itu harga jual produk dari negara-negara maju dinilai terlalu tinggi berkembang. Kedua, untuk melindungi industri dalam negeri yang baru tumbuh.

  Ketiga, untuk membuka lapangan kerja. Untuk membuat proteksi maka industri dalam negeri dapat tetap hidup dan dengan demikian akan mampu membuka lapangan kerja bagi masyarakat. Keempat, untuk menyehatkan neraca pembayaran. Kelima untuk meningkatkan penerimaan negara santiida.blogspot.com/ 2011).

2.2.2 Faktor - Faktor yang Mempengaruhi Ekspor CPO Indonesia

2.2.2.1 Harga

  Harga adalah satuan nilai yang diberikan pada suatu komoditi sebagai informasi kontraprestasi dari produsen/ pemilik komoditi. Dalam teori ekonomi disebutkan bahwa harga suatu barang atau jasa yang pasarnya kompetitif, maka tinggi rendahnya harga ditentukan oleh permintaan dan penawaran pasar. Oleh karena itu dalam penelitian ini harga pasar CPO akan ditinjau dari sisi penawaran dan permintaan pasar (Wardani, 2008). Harga CPO di dalam negeri sangat ditentukan oleh harga CPO Internasional. Harga CPO dunia yang tinggi merupakan insentif yang besar bagi pengusaha CPO domestik untuk mengekspor CPO dan menghindarkan diri dari kewajibannya untuk memenuhi kebutuhan CPO dalam negeri. Ketika terjadi kenaikan harga CPO dunia, para produsen sawit akan lebih memilih memasarkan produknya di pasar internasional (Wardani, 2008).

  Ekspor merupakan kelebihan penawaran domestik yang tidak dikonsumsi oleh konsumen negara itu sendiri dan tidak disimpan dalam bentuk stok. Sehingga

  QX = Q – C – S ................................................................................... (1) t t t t-1

  Dimana: QX t = Jumlah yang diekspor Q t = Jumlah produksi Ct = Jumlah konsumsi S = Stok pada tahun t

  t-1

  Jumlah stok diasumsikan tetap dari tahun ke tahun, maka :

  

QXt = Q t – QDt ...................................................................................... (2)

  Dimana: QX t = Jumlah yang diekspor Q = Jumlah produksi

  t

  QDt = Jumlah penawaran domestik (Rahardja dan Manurung, 2002)

2.2.2.2 Elastisitas Permintaan

  Elastisitas harga permintaan mengukur seberapa banyak permintaan barang dan jasa (konsumsi) berubah ketika harganya berubah. Elastisitas permintaan mempengaruhi total penerimaan yang diterima oleh penjual ataupun produsen. Hubungan keduanya adalah sebagai berikut:

  1. Permintaan tidak elastis sempurna (=0), perubahan harga tidak mempengaruhi kuantitas yang diminta atas barang. Dengan demikian, kenaikan harga akan meningkatkan total penerimaan.

  2. Permintaan tidak elastis (< 1), persentase perubahan kuantitas yang diminta lebih kecil dari persentase perubahan harga. Oleh karena itu, kenaikan harga

  3. Permintaan uniter elastis (= 1), persentase perubahan kuantitas sama dengan persentase perubahan harga. Dengan demikian, tidak ada pengaruh terhadap total penerimaan.

  4. Permintaan elastis (> 1), persentase perubahan kuantitas yang diminta lebih besar dari persentase perubahan harga. Oleh karenanya, kenaikan harga akan menurunkan total penerimaan penjual/ produsen.

  5. Permintaan elastis sempurna (tak terhingga), kenaikan harga akan menyebabkan permintaan turun jadi 0. Oleh karenanya, kenaikan harga sekecil apapun akan menghilangkan total penerimaan. Sementara penurunan harga akan menurunkan total penerimaan.

  E = ∆Q x

  ∆P Q1 P1

  Keterangan: E = Elastisitas ∆Q = Perubahan jumlah barang ∆P = Perubahan harga P1 = Harga mula-mula

  Q1 = Jumlah barang mula-mula …………………………………………….. (3) Empat faktor utama dalam menentukan elastisitas permintaan: 1. Produk substitusi.

  Semakin banyak produk pengganti (substitusi), permintaan akan semakin elastis. Hal ini dikarenakan konsumen dapat dengan mudah berpindah ke produk substitusi jika terjadi kenaikan harga, sehingga permintaan akan produk akan sangat sensitif terhadap perubahan harga.

  Jumlah pendapatan yang dibelanjakan.

  Semakin tinggi bagian pendapatan yang digunakan untuk membelanjakan produk tersebut, maka permintaan semakin elastis. Produk yang harganya mahal akan membebani konsumen ketika harganya naik, sehingga konsumen akan mengurangi permintaannya. Sebaliknya pada produk yang harganya murah.

  3. Produk mewah versus kebutuhan.

  Permintaan akan produk kebutuhan cenderung tidak elastis, dimana konsumen sangat membutuhkan produk tersebut dan mungkin sulit mencari substitusinya. Akibatnya, kenaikan harga cenderung tidak menurunkan permintaan. Sebaliknya, permintaan akan produk mewah cenderung elastis, dimana barang mewah bukanlah sebuah kebutuhan dan substitusinya lebih mudah dicari. Akibatnya, kenaikan harga akan menurunkan permintaan.

  4. Jangka waktu permintaan dianalisis. Semakin lama jangka waktu permintaan dianalisis, semakin elastis permintaan akan suatu produk. Dalam jangka pendek, kenaikan harga yang terjadi di pasar mungkin belum disadari oleh konsumen, sehingga mereka tetap membeli produk yang biasa dikonsumsi. Dalam jangka panjang, konsumen telah menyadari kenaikan harga, sehingga mereka akan pindah ke produk substitusi yang tersedia. Selain itu, dalam jangka panjang kualitas dan desain produk juga berubah, sehingga lebih mudah menyebabkan konsumen pindah ke produk lain (yasinta.wordpress.com, 2008).

2.2.2.3 Produk Domestik Bruto

  Menurut Lipsey (1995), Gross Domestic Product (GDP) atau disebut juga dengan Produk Domestik Bruto (PDB) adalah pendapatan nasional yang diukur dari sisi pengeluaran yaitu jumlah pengeluaran konsumsi, investasi, pengeluaran pemerintah dan ekspor-impor. PDB dikategorikan menjadi dua, yaitu nominal dan riil. Dikatakan PDB nominal, apabila PDB total yang dinilai pada harga-harga sekarang. Sedangkan PDB yang dinilai pada harga periode dasarnya disebut PDB riil sering disebut sebagai pendapatan nasional riil. Pendapatan nasional dapat dihitung berdasarkan dua harga yang telah ditetapkan pasar, yaitu PDB harga berlaku dan PDB harga konstan.

  Pendapatan nasional pada harga berlaku adalah nilai barang-barang dan jasa yang dihasilkan oleh suatu negara dalam periode tertentu menurut/ berdasarkan harga yang berlaku pada periode tersebut. Pendapatan nasional pada harga konstan adalah nilai barang-barang dan jasa yang dihasilkan oleh suatu negara dalam periode tertentu, berdasarkan harga yang berlaku pada suatu tahun tertentu yang dipergunakan seterusnya dalam menilai barang-barang dan jasa yang dihasilkan pada periode/ tahun berikutnya. (Lipsey, et al. 1995).

2.2.2.4 Teori Konsumsi 1.

  Teori konsumsi Keynes terdiri dari konsep yaitu kecenderungan mengkonsumsi marjinal (marginal propersity to consume), rasio konsumsi terhadap pendapatan dan pendapatan sebagai determinan konsumsi yang penting.

  2. Teori konsumsi Kuznet menolak asumsi Keynes tentang kecenderungan konsumsi rata-rata menurun saat pendapatan naik. Menurutnya rasio antara telah terjadi kenaikan pendapatan.

3. Teori konsumsi berdasar hipotesis siklus hidup yang dikemukakan oleh Ando,

  Brumberg dan Modigliani membagi konsumsi seseorang berdasarkan tiga bagian yaitu bagian I adalah umur 0 sampai dengan t seseorang mengalami

  1

  dissaving, bagian II adalah umur t

  1 sampai dengan t 2 seseorang mengalami

  saving, dan bagian III adalah umur t dimana orang kembali melakukan

  2 dissaving.

  4. Teori konsumsi pendapatan permanen oleh Friedman berasumsi konsumsi seharusnya tergantung pada pendapatan permanen karena konsumen menggunakan tabungan dan pinjaman untuk melancarkan konsumsi dalam menanggapi perubahan pendapatan sementara.

  5. Dalam jangka panjang teori konsumsi dengan hipotesis pendapatan relatif yaitu kenaikan penghasilan masyarakat secara keseluruhan tidak akan mengubah distribusi penghasilan seluruh masyarakat. Untuk jangka pendek besarnya konsumsi seseorang dipengaruhi oleh besarnya penghasilan tertinggi yang pernah diperoleh (Mankiw, 2000).

2.2.2.5 Teori Eksternalitas

  Dalam suatu perekonomian modern, setiap aktivitas mempunyai keterkaitan dengan aktivitas lainnya. Apabila semua keterkaitan antara suatu kegiatan dengan kegiatan lainnya dilaksanakan melalui mekanisme pasar atau melalui suatu sistem, maka keterkaitan antar berbagai aktivitas tersebut tidak menimbulkan masalah. Akan tetapi banyak pula keterkaitan antar kegiatan yang tidak melalui mekanisme pasar sehingga timbul berbagai macam masalah. pasar adalah apa yang disebut dengan eksternalitas (Ferry, 2010).

  Eksternalitas adalah suatu efek samping dari suatu tindakan pihak tertentu terhadap pihak lain, baik dampak yang menguntungkan maupun yang merugikan.

  Eksternalitas digambarkan sebagai efek yang dirasakan oleh seseorang yang ditimbulkan oleh tindakan orang lain. Definisi eksternalitas secara implisit membedakan antara dua kategori yaitu eksternalitas dalam hal hubungan laba dan eksternalitas konsumsi setiap kali tingkat utilitas terpengaruh.

  Eksternalitas jika ditinjau dari segi pihak-pihak yang melakukan dan pihak yang menerima akibat dari eksternalitas dapat dibagi menjadi empat yaitu:

  1. Eksternalitas produsen terhadap produsen Eksternalitas produsen terhadap produsen terjadi ketika output dan input yang digunakan oleh suatu perusahaan mempengaruhi output dan input yang digunakan oleh perusahaan lain.

  2. Eksternalitas produsen terhadap konsumen Dalam kasus eksternalitas produsen terhadap konsumen eksternalitas terjadi ketika fungsi utilitas konsumen tergantung pada output dari produsen.

  3. Eksternalitas konsumen terhadap produsen Jenis eksternalitas konsumen terhadap produsen jarang terjadi didalam praktek. Eksternalitas konsumen terhadap produsen meliputi efek dari kegiatan konsumen terhadap output perusahaan.

  4. Eksternalitas konsumen terhadap konsumen Eksternalitas konsumen terhadap konsumen terjadi ketika kegiatan suatu konsumen mempengaruhi utilitas konsumen lain.

  1. Eksternalitas uang/Pecuniary externalities Menurut Dagupta dan Pearce, eksternalitas berupa uang merujuk pada pengaruh produksi atau utilitas pada pihak ketiga karena perubahan permintaan. Eksternalitas negatif berupa uang dapat terjadi ketika peningkatan produksi suatu industri menyebabkan peningkatan harga input yang digunakan oleh industri lain. Eksternalitas berupa uang juga mempengaruhi penawaran pasar dan kondisi permintaan. Intinya eksternalitas uang hanya mempengaruhi harga tanpa mempengaruhi kemungkinan teknis produksi atau komsumsi.

  2. Eksternalitas teknikal/Technical Eksternalities Eksternalitas teknikal mengacu pada efek dimana fungsi produksi atau fungsi utilitas terpengaruh. Eksternalitas teknikal mengacu pada eksternalitas yang secara langsung mempengaruhi produksi perusahaan dalam fungsi utilitas individu. Jadi eksternalitas teknikal adalah tindakan seseorang dalam konsumsi maupun produksi akan mempengaruhi tindakan konsumsi atau produksi orang lain tanpa adanya konpensasi (Ferry, 2010).

2.2.2.6 RSPO

  Dilatarbelakangi oleh anggapan bahwasannya perkebunan kelapa sawit berasal dari konversi hutan dan merusak lingkungan, maka munculah kebijakan

  

Roundtable on Sustainable Palm Oil (RSPO). RSPO bertujuan untuk

  mempromosikan pengembangan dan penggunaan minyak kelapa sawit yang berkelanjutan dengan kerjasama di antara mata rantai penyedia produksi. Sebagai bukti penerapan RSPO, dilakukan audit dan sertifikasi oleh pihak ketiga yang

  Certified Sustainable Palm Oil (CSPO) adalah kelanjutan daripada sistem

  RSPO pada tahun 2004 adalah dimulainya perdagangan CSPO dimulai pada Bulan September 2008. Adapun negara yang berkomitmen terhadap penggunaan 100 % minyak sawit berkelanjutan bersertifikat RSPO adalah Jerman, Inggris, Belanda, Perancis dan Belgia (RSPO, 2013).

2.3 Kerangka Pemikiran

  Berdasarkan landasan teori yang telah dibahas dan hasil penelitian terdahulu ada beberapa variabel yang dimasukkan dalam skema kerangka pemikiran yaitu Harga CPO dunia, harga minyak rapeseed dunia, harga minyak kedelai dunia, PDB Uni Eropa, kebijakan perdagangan CSPO dan konsumsi Uni Eropa.

  Harga CPO yang semakin tinggi di pasar dunia dan belum terpenuhinya kebutuhan dunia akan CPO menjadi salah satu variabel yang berpengaruh terhadap volume ekspor CPO di Indonesia. Semakin tinggi harga CPO dunia akan berdampak terhadap penurunan ekspor CPO Indonesia ke Uni Eropa.

  Harga minyak rapeseed dan minyak kedelai akan berpengaruh terhadap volume ekspor Indonesia karena minyak rapeseed dan minyak kedelai merupakan jenis minyak nabati yang fungsinya dapat menggantikan fungsi minyak CPO yaitu sebagai bahan bakar biodiesel. Sebagai barang subtitusi pengaruh dari perubahan harga minyak rapeseed dan minyak kedelai adalah semakin tinggi harga minyak rapeseed dan minyak kedelai akan berdampak terhadap tingginya ekspor CPO Indonesia ke Uni Eropa. dayang diproduksi dalam masyarakat akan bertambah. Terdapat hubungan antara pertumbuhan ekonomi dengan kesejahteraan masyarakat, apabila pertumbuhan ekonomi baik maka tingkat pendapatan masyarakat juga akan meningkat. Semakin tinggi PDB Uni Eropa maka akan berpengaruh terhadap meningkatnya volume ekspor CPO Indonesia ke Uni Eropa.

  Minyak sawit berkelanjutan bersertifikat yang berskala dunia yang akan berpengaruh terhadap pendapatan jumlah petani sawit independen dan plasma.

  Kebijakan perdagangan CSPO dapat dijadikan sebagai salah satu variabel yang berpengaruh terhadap besarnya volume ekspor Indonesia dengan menggunakan sistem dummy. Volume ekspor CPO Indonesia diukur dengan menggunakan penilaian sebelum adanya kebijakan CSPO tahun 2002 – Agustus 2008 dan sesudah diberlakukannya kebijakan CSPO di Indonesia dari September 2008 – Desember 2012. Dengan adanya kebijakan perdagangan CSPO, maka perkebunan-perkebunan pemerintah maupun swasta yang menjalankan CSPO dapat meningkatkan volume ekspor CPO Indonesia ke Uni Eropa.

  Konsumsi menjadi salah satu variabel yang digunakan untuk melihat jumlah volume ekspor CPO di Indonesia ke Uni Eropa. Berapa besar jumlah konsumsi CPO Uni Eropa akan sangat berpengaruh terhadap besarnya jumlah permintaan CPO Uni Eropa terhadap Indonesia. Semakin besar konsumsi CPO Uni Eropa maka akan semakin tinggi volume ekspor CPO Indonesia ke Uni Eropa.

  Untuk lebih jelasnya faktor-faktor yang mempengaruhi volume ekspor pada pada Gambar 2.

  Harga CPO Harga Minyak Rapeseed Harga Minyak Kedelai Ekspor CPO Indonesia ke Uni Eropa PDB Uni Eropa Kebijakan Perdagangan CSPO Konsumsi Uni Eropa

  

Gambar 2. Skema Kerangka Pemikiran

2.4 Hipotesis Penelitian 1.

  Harga CPO berpengaruh negatif dan tidak nyata terhadap volume ekspor CPO Indonesia ke Uni Eropa. Harga minyak rapeseed, harga minyak kedelai, PDB Uni Eropa berpengaruh positif dan tidak nyata terhadap volume ekspor CPO Indonesia ke Uni Eropa. Sementara kebijakan perdagangan CSPO dan konsumsi CPO Uni Eropa berpengaruh positif dan nyata terhadap volume ekspor CPO Indonesia ke Uni Eropa. Harga CPO, harga minyak rapeseed, harga minyak kedelai, kebijakan perdagangan CSPO dan konsumsi CPO Uni Eropa bersifat inelastis.

  Sementara PDB Uni Eropa bersifat elastis.