PENINGKATAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI MATEMATIS SISWA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE THINK TALK WRITE

ABSTRAK

PENINGKATAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI MATEMATIS SISWA
MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF
TIPE THINK TALK WRITE

Oleh
Aan Pirta Wijaya

Penelitian ini adalah penelitian eksperimen semu yang bertujuan untuk mengetahui peningkatan kemampuan komunikasi matematis siswa menggunakan
model pembelajaran kooperatif tipe Think Talk Write. Populasi dalam penelitian
ini adalah seluruh siswa kelas X IPA MAN 1 Bandar Lampung Tahun Pelajaran
2013/2014.

Sampel dipilih dengan teknik Random Sampling.

Desain yang

digunakan adalah pretest-posttest control group design. Berdasarkan hasil dan
pembahasan diperoleh bahwa terdapat peningkatan kemampuan komunikasi
matematis siswa menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe TTW.

Berdasarkan analisis data diperoleh bahwa peningkatan kemampuan komunikasi
matematis siswa yang menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe TTW
lebih tinggi daripada siswa yang menggunakan pembelajaran konvensional.

Kata kunci : komunikasi matematis, think talk write.

RIWAYAT HIDUP

Penulis dilahirkan di Teratas Kembahang Liwa Lampung Barat pada tanggal 23
Februari 1992. Penulis merupakan anak pertama dari tiga bersaudara pasangan
Bapak Mukhtar dan Ibu Eryawati. Pendidikan formal yang ditempuh penulis
adalah SDN 1 Wates Lambar, dan lulus pada tahun 2004. Kemudian melanjutkan
di SMPN 1 Liwa dan lulus pada tahun 2007. Setelah itu, melanjutkan ke MAN 1
(Model) Bandar Lampung dan lulus pada tahun 2010.

Melalui jalur penerimaan Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri
(SNMPTN) pada tahun 2010, penulis diterima sebagai mahasiswa di Program
Studi Pendidikan Matematika, Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu
Pengetahuan Alam, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas
Lampung. Selama kuliah penulis aktif mengikuti organisasi yakni Mathematic

Education Forum Ukhuwah (Medfu) 2010-2012, Himpunan Mahasiswa
Pendidikan Eksakta (HIMASAKTA) 2011-2012, Forum Pembinaan dan
Pengkajian Islam (FPPI) FKIP Unila 2010-2013 dan Mahasiswa Pecinta Islam
(MPI) Lampung 2012-2014.

Penulis melaksanakan Program Pengalaman

Lapangan (PPL) di SMP Budi Dharma, Kec.

Way Kenanga, Kab.

Tulang

Bawang Barat dan mengikuti Kuliah Kerja Nyata Kependidikan Terintegerasi
(KKN-KT) Universitas Lampung di Desa Balam Jaya, Kec. Way Kenanga, Kab.
Tulang Bawang Barat pada tahun 2013.

Persembahan
Alhamdulillahirobbil ’Alamin…
Terucap syukur yang mendalam kepada Allah SWT,

ku persembahkan karya sederhana ini untuk orang-orang yang selalu berharga
dalam hidupku sebagai tanda cinta, kasih sayang dan baktiku
kepada :
Ayah dan Ibuku tercinta yang telah membesarkan, mendidik,
mencurahkan seluruh kasih sayangnya yang selalu mengadahkan
tangannya untuk mendoakanku dan salah satu tempatku mengadu baik
ketika senyuman pahit kurasa dan senyuman indah dipandang.
Allahumaghfirlii waliwa lidayya warhamhuma kama robbayani
shaghiraan.
Adik-adikku (Candra, Annisa dan Dita) dan saudara-saudaraku
(Maksu, Panggah, Ajong, Wo Linda dan Ngah Ris serta saudarasaudaraku yang tak mampu kusebutkan satu per satu) terima kasih atas
doa, motivasi dan dukungannya, hanya Allah yang mampu
membalasnya.
Para pendidik-pendidikku (Dosen, Guru, Asatid dan Tentor) yang telah
mengajar dengan penuh kesabaran.
Semua Sahabat yang begitu tulus menyayangiku dan menemaniku
dibumi Allah ini, semoga kita semua kelak Allah pertemukan di
jannahnya, Aamiin
dan
Almamater tercinta Universitas Lampung


SANWACANA

Alhamdulillahi Robbil ‘Alamin, puji syukur kehadirat Allah SWT yang telah
melimpahkan rahmat, hidayah dan karunia-Nya sehingga penyusunan skripsi ini
dapat diselesaikan. Sholawat serta salam semoga selalu tercurahkan kepada Nabi
Muhammad SAW, suritauladan bagi umat Islam, beserta keluarganya dan para
sahabatnya yang berjuang menegakkan kalimat tauhid.

Penulis menyadari bahwa selesainya penyusunan skripsi ini tidak terlepas dari
bantuan berbagai pihak. Oleh karena itu, penulis mengucapkan terima kasih yang
tulus ikhlas kepada:
1. Ibu Dra. Arnelis Djalil, M.Pd., selaku Pembimbing Akademik sekaligus
Pembimbing I atas kesediaannya memberikan bimbingan, ilmu yang berharga,
saran, motivasi dan kritik baik selama perkuliahan maupun selama penyusunan skripsi sehingga skripsi ini menjadi lebih baik.
2. Bpk Drs. M. Coesamin, M.Pd., selaku Dosen pembimbing II yang dengan tulus ikhlas meluangkan waktu dan mencurahkan pikirannya untuk memberikan
bimbingan, petunjuk, nasehat dan arahan pada penulisan skripsi ini.
3. Ibu Dra. Nurhanurawati, M.Pd., selaku pembahas dan Ketua Program Studi
Pendidikan Matematika yang telah memberikan kritik dan saran sehingga
skripsi ini menjadi lebih baik.


4. Bapak Dr. Caswita, M.Si., selaku Ketua Jurusan Pendidikan MIPA Universitas Lampung.
5. Bapak dan Ibu dosen pendidikan matematika di Fakultas Keguruan dan Ilmu
Pendidikan yang telah memberikan bekal ilmu pengetahuan kepada penulis.
6. Bapak Dr. H. Bujang Rahman, M.Si., selaku dekan FKIP Universitas
Lampung beserta staff dan jajarannya.
7. Bapak Prof. Dr. Ir. Sugeng P. Harianto, M.S., selaku Rektor Universitas Lampung beserta staff dan jajarannya.
8. Mr. Antoni, M. Ed., selaku kepala MAN 1 (Model) Bandar Lampung beserta
wakil-wakilnya, guru dan staff karyawan yang telah banyak membantu selama
penelitian.
9. Bapak Drs. H. Tri Sutanto, selaku guru mitra atas kesediaannya menjadi mitra
dalam penelitian di MAN 1 (Model) Bandar Lampung serta seluruh siswa
kelas X IPA-1 dan X IPA-2 yang telah memberikan bantuan dalam penelitian
ini.
10. Keluargaku tercinta: Ayah, Ibu dan adik-adikku serta keluarga besarku atas
semangat, kasih sayang dan doa yang tak pernah berhenti mengalir.
11. Sahabat-sahabatku (Yudi, Feri, Yusron, Tawag, Didi, Rohli, Rizky, Ibnu,
Rusdi, Tri, Novrian, Perdan, Nando dan kak Kiki) yang senantiasa
memberikan semangat, perhatian dan motivasi.
12. Teman-teman seperjuangan di Pendidikan Matematika 2010 kelas A: Novrian,

Arief, Beni, Rusdi, Tri F., Endang, Tri H., Sulis, Intan, Rini, Fertil, Nurul R.,
Utari, Imas, Qorri, Novi, Ria Aa., Nurul H., Yulisa, Dhea, Dian, Asih, Andri,
Iga, Rianita, Hesti, Cita, Ebta, Lia, Josua, Wira, Kismon, Alji, Dilla, Valenti

dan Aulia.

Terima kasih atas persaudaraan, kebersamaan dan semangat

selama ini dan teman-teman angkatan 2010 kelas B: Sovian, Nando, Heru,
Imam, Clara, Zuma dan semuanya tetap semangat untuk menjadi guru yang
terbaik.
13. Sahabat-sahabatku pejuang dakwah di Mahasiswa Pecinta Islam (MPI)
Lampung, teruslah menebar dakwah di bumi Allah ini.
14. Kakak tingkat 2006 sampai 2009 dan adik tingkat 2011 sampai 2013.
Terimakasih atas kebersamaan kalian selama ini.
15. Keluarga KKN dan PPL Desa Balam Jaya Kecamatan Way Kenanga
Kabupaten Tulang Bawang Barat: Eka, Bambang, Ida, Riri, Mbak Ririn,
Rona, Devi, Ina, Ai dan Risa. Semoga kekeluargaan dan silaturahim kita akan
terus terjalin.
16. Pengurus Referensi P. MIPA dan Perpustakaan UNILA yang telah melayani

dalam peminjaman buku serta skripsi.
17. Pak Liyanto dan pak Mariman penjaga Gedung G, terima kasih atas bantuan
dan perhatiannya selama ini.
18. Semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan skripsi ini.

Semoga dengan bantuan dan dukungan yang diberikan mendapat balasan pahala
di sisi Allah SWT sebagai amal shalih.
Semoga skripsi ini dapat bermanfaat bagi siapa saja yang membacanya.
Bandar Lampung,
Penulis,

Aan Pirta Wijaya

Mei 2014

DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR TABEL ........................................................................................

xv


DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................ xvi
I.

II.

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah ...................................................................

1

B. Rumusan Masalah .............................................................................

6

C. Tujuan Penelitian ...............................................................................

6

D. Manfaat Penelitian .............................................................................


7

E. Ruang Lingkup Penelitian ..................................................................

7

TINJAUAN PUSTAKA
A. Kemampuan Komunikasi Matematis .................................................

9

B. Pembelajaran Kooperatif .................................................................... 12
C. Kooperatif Tipe Think Talk Write ...................................................... 15
E. Kerangka Pikir ................................................................................... 20
F. Anggapan Dasar .................................................................................. 22
G. Hipotesis ............................................................................................. 22
III. METODE PENELITIAN
A. Populasi dan Sampel .......................................................................... 24
B. Desain Penelitian ............................................................................... 24

C. Prosedur Pelaksanaan Penelitian ........................................................ 25
D. Data Penelitian ................................................................................... 26
E. Teknik Pengumpulan Data ................................................................. 27
F. Instrumen Penelitian ........................................................................... 27
G.Teknik Analisis Data ........................................................................... 33

IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Hasil Penelitian ................................................................................... 38
B. Pembahasan ......................................................................................... 40
V. SIMPULAN DAN SARAN
A. Simpulan ............................................................................................. 46
B. Saran .................................................................................................... 46
DAFTAR PUSTAKA
LAMPIRAN

DAFTAR TABEL

Tabel

Halaman


3.1

The Pretest-Postes Control Group Design ..........................................

25

3.2

Pedoman Penyekoran Kemampuan Komunikasi Matematis ...............

28

3.3

Interpretasi Daya Pembeda ..................................................................

31

3.4

Interpretasi Tingkat Kesukaran Butir Soal...........................................

32

3.5

Rekapitulasi Hasil Tes Uji Coba .........................................................

33

3.6

Interpretasi Indeks Gain ......................................................................

33

3.7

Rekapitulasi Uji Normalitas Data Indeks Skor Gain ...........................

35

3.8

Rekapitulasi Uji Homogenitas Data Skor Kemampuan Komunikasi
Matematis siswa ..................................................................................

36

4.1

Indeks Skor Gain Kemampuan Komunikasi Matematis Siswa ...........

38

4.2

Hasil Uji Hipotesis Data Indeks Gain ..................................................

39

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran

Halaman

A. Perangkat Pembelajaran
A.1 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Kelas Eksperimen ....

51

A.2 Lembar Kerja Siswa ......................................................................

83

A.3 Rencana Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) Kelas Kontrol ...........

113

B. Instrumen Penelitian
B.1 Silabus Kelas Eksperimen ...........................................................

145

B.2 Silabus Kelas Kontrol ..................................................................

148

B.3 Kisi-Kisi Soal Tes ........................................................................

151

B.4 Soal Tes .......................................................................................

153

B.5 Kunci Jawaban Soal Tes ..............................................................

155

B.6 Validitas Soal Tes ........................................................................

159

B.7 Pedoman Penyekoran ..................................................................

160

B.8 Lembar Pengamatan Tahapan Think Talk Write .........................

161

C. Analisis Data
C.1

Analisis Reliabilitas Hasil Tes Uji Coba ....................................

164

C.2

Analisis Daya Pembeda dan Tingkat Kesukaran Tes Uji Coba .

165

C.3

Data Skor Hasil Pretest dan Posttest Kelas Eksperimen .............

166

C.4

Data Skor Hasil Pretest dan Posttest Kelas Kontrol ...................

167

C.5

Data Perhitungan Gain Kelas Eksperimen .................................

168

C.6

Data Perhitungan Gain Kelas Kontrol .........................................

169

C.7

Uji Normalitas Gain Kelas Eksperimen ....................................

170

C.8

Uji Normalitas Gain Kelas Kontrol ............................................

174

C.9

Uji Homogenitas Varians Pretest Antara Kelas Eksperimen dan
Kelas Kontrol .............................................................................

178

C.10 Uji Kesamaan Dua Rata-rata (Uji Satu Pihak) Kelas Eksperimen
dan Kelas Kontrol .......................................................................

179

D. Lain-lain
D.1 Surat Izin Penelitian Pendahuluan ...............................................

181

D.2 Surat Izin Penelitian .....................................................................

182

D.3 Surat Keterangan Penelitian .........................................................

183

D.4 Daftar Hadir Seminar Proposal ....................................................

184

D.5 Daftar Hadir Seminar Hasil ..........................................................

187

D.6 Kartu Kendali Skripsi ...................................................................

189

xvii

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pada masa modern saat ini Ilmu Pengetahuan dan Teknolgi (IPTEK) sangat dibutuhkan di berbagai bidang.

Pendukung utama IPTEK ialah sumber daya

manusia berkualitas yang mampu memberikan dan menerima pendidikan.
Indonesia, belum mampu untuk selalu siap menyediakan sumber daya manusia
berkualitas yang mampu memberikan dan menerima pendidikan. Subandi (DHO,
2013) mengungkapkan bahwa indeks tingkat pendidikan Indonesia dinilai masih
rendah yaitu 14,6 persen, berbeda dengan Singapura dan Malaysia yang indeks
tingkat pendidikannya lebih baik yaitu 28 persen dan 33 persen.

Dalam praktek pengembangannya, sistem pendidikan Indonesia selalu mengalami
perubahan. Mulai dari kurikulum hingga standar nilai kelulusan yang digunakan.
Pemerintah membuat standar nilai kelulusan yang selalu meningkat bertujuan
untuk meningkatkan kualitas, akan tetapi masih sulit untuk dilakukan. Demikan
juga dengan kurikulum 2013 yang baru diterapkan. Diterapkannya kurikulum
2013, diharapkan mampu meningkatkan kompetensi masa depan siswa seperti
kemampuan berkomunikasi, berakhlak, berpikir kritis dan mampu bersaing di
tengah masyarakat global.

2

Pendidikan di sekolah sebagian besar dilaksanakan melalui pembelajaran di kelas,
salah satunya adalah pembelajaran matematika. Matematika adalah disiplin ilmu
yang memilki peranan penting dalam perkembangan ilmu pengetahuan dan
teknologi.

Tanpa peran dan sumbangan matematika, perkembangan ilmu

pengetahuan dan teknologi akan sangat lambat, bahkan bisa jadi akan berhenti
berkembang sama sekali.

Karena peran matematika begitu besar terhadap

perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, maka dikatakan bahwa
matematika adalah ratu dari ilmu pengetahuan.

Pada beberapa cabang ilmu, diantanya ilmu fisika, konsep limit, turunan dan
integral digunakan untuk menentukan hubungan antara jarak tempuh, kecepatan
dan percepatan suatu benda.

Pada ilmu ekonomi, konsep persamaan garis

digunakan untuk menentukan keseimbangan harga. Konsep turunan dan program
linear digunakan untuk menentukan keuntungan optimal yang dapat dicapai suatu
instansi/ perusahaan.

Karena konsep-konsep matematika banyak digunakan

diberbagai cabang ilmu, pemahaman konsep matematika yang baik dan benar
akan memberikan keuntungan bagi siswa, terutama siswa di jejang SMA.
Sehingga, angka harapan peningkatan prestasi siswa di sekolah akan menjadi
lebih tinggi.

Penguasaan konsep-konsep dalam matematika dapat dicapai oleh siswa apabila
guru telah mampu melaksanakan pembelajaran matematika sebagaimana
mestinya.

Oleh karena itu, menurut Daryanto (2013: 114) membelajarkan

matematika kepada peserta didik, apabila guru masih menggunakan paradigma
pembelajaran satu arah, yaitu umumnya dari guru ke peserta didik maka guru

3

akan lebih mendominasi pembelajaran.

Dalam NCTM (2000), pembelajaran

matematika seharusnya mampu membuat peserta didik agar mengerti terhadap apa
yang dipelajari, membelajarkan peserta didik dan memberikan dukungan kepada
peserta didik agar mampu belajar dengan baik.

Pada kenyataannya, pembelajaran matematika pada saat ini masih belum sesuai
dengan harapan. Hal ini sesuai dengan yang dinyatakan ELN yang dilansir dalam
internasional.kompas.com (2012) bahwa untuk bidang matematika, Indonesia berada di urutan ke-38 dengan skor 386 dari 42 negara yang siswanya dites di kelas
VIII. Skor Indonesia turun 11 poin dari penilaian tahun 2007. Selain itu, Wono
Setyabudhi, dosen matematika Institut Teknologi Bandung (ELN, 2012)
menyatakan sebagai berikut:
Pembelajaran matematika di Indonesia memang masih menekankan
menghapal rumus-rumus dan menghitung. Bahkan guru otoriter dengan
keyakinan pada rumus-rumus atau pengetahuan matematika yang sudah
ada. Padahal, belajar matematika itu harus mengembangkan logika,
pemikiran dan meyakinkan orang lain.
Salah satu penyebabnya ialah kualitas guru matematika yang rendah, kurang
varians dalam proses pembelajaran matematika sehingga pelajaran matematika
membosankan,

karena

guru

masih

sering

menggunakan

pembelajaran

konvensional sebagai senjata utama dalam menjelaskan materi.

Dalam

pembelajaran konvensional, guru mengatur dan mendominasi hampir seluruh
kegiatan pembelajaran. Tugas siswa hanyalah duduk manis mendengarkan guru
menjelaskan materi yang disampaikan. Dalam pembelajaran konvensional, siswa
diibaratkan sebagai gelas kosong yang siap diisi oleh gurunya.

4

Pembelajaran konvensional seringkali membuat siswa bosan. Hal ini disebabkan
siswa tidak dilibatkan secara aktif dalam kegiatan pembelajaran di kelas. Siswa
hanya diposisikan sebagai pendengar pasif yang baik dan harus merekam yang
mereka dengar dari gurunya dalam tulisan di buku serta berorientasi pada satu
jawaban yang benar.

Oleh karena itu, perlu diterapkan suatu model pembelajaran yang tidak hanya
menjadikan siswa sebagai pendengar pasif.

Tapi sebagai siswa yang diberi

kesempatan seluas-luasnya untuk memahami maksud dari sebuah tulisan,
menyampaikan pendapatnya dan didengar oleh guru dan rekan-rekannya. Belajar
mendengar dan menghargai pendapat rekannya, memberikan komentar atau
masukan atas pendapat rekannya, kemudian merangkum hasil diskusinya. Model
pembelajaran yang kiranya tepat untuk membuat siswa tidak sekedar menjadi
pendengar yang pasif dalam pembelajaran di kelas, dapat memfasilitasi siswa
untuk melatih dan meningkatkan kemampuan komunikasi matematis adalah
model pembelajaran kooperatif tipe Think Talk Write (TTW).

Iru dan Arihi (2012: 67-68) mengatakan bahwa Think Talk Write (TTW)
merupakan model pembelajaran kooperatif dimana perencanaan dari tindakan
yang cermat mengenai kegiatan pembelajaran yaitu lewat kegiatan berpikir
(think), berbicara/ berdiskusi, bertukar pendapat (talk) serta menulis hasil diskusi
(write) agar tujuan pembelajaran dan kompetensi yang diharapkan tercapai.
Sedangkan menurut Yamin dan Ansari (2012: 84) kooperatif tipe TTW ialah
suatu strategi pembelajaran yang diharapkan dapat menumbuhkembangkan
kemampuan pemahaman dan komunikasi matematis siswa.

5

Komunikasi

secara

umum

dapat

diartikan

sebagai

suatu

cara

untuk

menyampaikan suatu pesan dari pembawa pesan ke penerima pesan untuk
menginformasikan pendapat atau suatu informasi baik secara langsung maupun
tak langsung melalui tulisan atau media. Sedangkan komunikasi matematis dapat
diartikan sebagai suatu kemampuan siswa dalam menyampaikan sesuatu yang
diketahuinya melalui peristiwa dialog atau saling berhubungan yang terjadi di
lingkungan kelas, dimana terjadi pengalihan pesan. Pesan yang dialihkan berisi
tentang materi matematika yang dipelajari siswa, misal berupa konsep, rumus,
atau strategi pemecahan suatu masalah. Pihak yang terlibat dalam komunikasi
adalah guru dengan siswa dan siswa dengan siswa.

Dalam NCTM (2000: 348) bahwa hal yang paling mendasar dalam pembelajaran
matematika adalah komunikasi.

Kemampuan komunikasi matematis sangat

penting bagi siswa, tanpa kemampuan komunikasi matematis yang memadai.
Siswa akan kesulitan untuk menyampaikan gagasan dan ide yang ada dalam
pikirannnya.

Namun Pada kenyataanya, berdasarkan hasil observasi di MAN 1 Bandar
Lampung, mayoritas siswa yang sulit mengerjakan soal-soal matematika
disebabkan kurang pahamnya mereka terhadap soal matematika dan cara
menuliskan jawabannya. Hal ini terjadi karena siswa hanya hafal dengan rumusrumus tanpa memahami konsep-konsepnya.

Fakta ini menunjukkan bahwa

kemampuan siswa menginterpretasikan suatu permasalahan ke dalam model
matematika yaitu berupa gambar maupun simbol matematika masih rendah.

6

Berdasarkan hal tersebut dapat disimpulkan bahwa kemampuan komunikasi
matematis siswa MAN 1 Bandar Lampung masih rendah.

Berdasarkan uraian-uraian di atas, maka perlu dilakukan suatu penelitian
eksperimen mengenai Peningkatan Kemampuan Komunikasi Matematis Siswa
Melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe TTW Pada Siswa MAN 1 Bandar
Lampung Kelas X IPA.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah yang telah dipaparkan di atas, rumusan
masalah dalam penelitian ini adalah: “Apakah penerapan model pembelajaran
kooperatif tipe TTW dapat meningkatkan kemampuan komunikasi matematis
siswa?”
Rumusan masalah di atas dapat dijabarkan pertanyaan penelitian:
“Apakah peningkatan kemampuan komunikasi matematis siswa menggunakan
model pembelajaran kooperatif tipe TTW lebih tinggi daripada siswa yang
menggunakan pembelajaran konvensional?”

C. Tujuan Penelitian

Sehubungan dengan rumusan masalah di atas, maka tujuan penelitian ini
dilakukan adalah untuk mengetahui apakah peningkatan kemampuan komunikasi
matematis siswa menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe TTW lebih
tinggi daripada siswa yang menggunakan pembelajaran konvensional.

7

D. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut:
1. Manfaat Teoritis
Penelitian ini diharapkan dapat memberi sumbangan pemikiran yang positif
dalam perkembangan ilmu pendidikan matematika berkaitan dengan model
pembelajaran kooperatif tipe TTW dan kemampuan komunikasi matematis
siswa.
2. Manfaat Praktis
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan masukan yang bermanfaat
bagi guru, calon guru dan peneliti lain untuk mengembangkan model
pembelajaran kooperatif tipe TTW.

E. Ruang lingkup Penelitian

Ruang lingkup dari penelitian ini adalah:
1. Model

pembelajaran

kooperatif

tipe

TTW

merupakan

suatu

model

pembelajaran yang terdiri dari tiga tahapan, yaitu:
a. Think : Siswa secara individu membaca, melengkapi dan memahami Lembar Kerja Siswa (LKS) serta menuliskannya dalam catatan kecil.
b. Talk : Siswa berdiskusi dalam kelompok untuk membahas catatan kecil, kegiatan berkelompok dan soal.
c. Write : Siswa menuliskan hasil dari diskusi kelompok pada lembar rangkuman yang ada di LKS secara individu.

8

2. Kemampuan komunikasi matematis
Kemampuan komunikasi matematis merupakan kemampuan siswa untuk menyampaikan ide-ide matematika secara tertulis.

Kemampuan komunikasi

matematis dalam penelitian ini diamati melalui:
a. Kemampuan menggambarkan situasi masalah dan menyatakan solusi
masalah menggunakan gambar, bagan, tabel dan secara aljabar.
b. Kemampuan menjelaskan ide, situasi dan relasi matematik secara tulisan.
c. Kemampuan menggunakan bahasa matematika dan simbol secara tepat.

II.

TINJAUAN PUSTAKA

A. Kemampuan Komunikasi Matematis
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (Depdiknas, 2005: 585) dituliskan bahwa
komunikasi merupakan pengiriman dan penerimaan pesan atau berita antara dua
orang atau lebih sehingga pesan yang dimaksud dapat dipahami penerima pesan.
Sanjaya (2012: 81) menyatakan bahwa komunikasi juga merupakan suatu proses
penyampaian pesan dari sumber (pembawa pesan) ke penerima pesan dengan
maksud untuk memengaruhi penerima pesan. Komunikasi dapat secara langsung
(lisan) dan tak langsung melalui media atau tulisan. Makna suatu komunikasi
adalah aktivitas untuk mencapai tujuan komunikasi itu sendiri. Dengan demikian
proses komunikasi tidak terjadi secara kebetulan melainkan dirancang dan
diarahkan kepada pencapaian tujuan. Sanjaya (2012: 80) menyatakan bahwa
kriteria keberhasilan komunikasi adalah penerima pesan bisa menangkap dan
memaknai pesan yang disampaikan sesuai dengan maksud sumber pesan.
Proses komunikasi pembelajaran akan berjalan efektif dalam arti pesan mudah
diterima dan dipahami oleh penerima pesan, manakala penyampai pesan mampu
menghilangkan

gangguan

yang

dapat

memengaruhi

proses

kelancaran

komunikasi. Jadi, dalam berinteraksi antara guru dan siswa maupun antara siswa
dengan siswa keduanya harus sama-sama menghilangkan gangguan yang dapat
memengaruhi kelancaran komunikasi. misalnya ada siswa lain yang gaduh, suara

10

pembawa pesan/ informasi terlalu lemah atau keras, tidak fokus, atau dalam
penulisan, tulisan tidak jelas, kecil dan tidak menggunakan aturan tata baca yang
baik dan benar.
Sanjaya (2012: 83) menyatakan bahwa komponen komunikasi terdiri atas: (1)
siapa komunikator/ pengirim pesan; (2) pesan apa yang disampaikan; (3) melalui
apa pesan itu disampaikan/ media; (4) siapa yang menerima pesan; (5) apa
dampak/ hasil komunikasi. Jika dikaitkan dengan kemampuan komunikasi matematis siswa maka kemampuan siswa dalam mengekspresikan pesan (gagasangagasan, ide-ide dan pemahamannya tentang konsep matematika) yang mereka
pelajari. Schunk (2012: 649) menyatakan bahwa anak harus didorong untuk
menggunakan kerangka tulisan dan gambar untuk membantu mereka menyusun
informasi. Selain itu menurut Eggen dan Kauchak (2012: 99) bahwa tugas guru
dalam menjelaskan materi atau memberikan informasi kepada siswa harus
menggunakan bahasa yang sistematis dan jelas.
Indikator komunikasi matematis menurut National Council of Teacher of
Mathematics (Puspaningtyas, 2012: 13) antara lain : (1) Kemampuan
mengekspresikan

ide-ide

matematis

melalui

lisan,

tulisan

dan

mendemonstrasikannya serta menggambarkannya secara visual; (2) Kemampuan
memahami, menginterpretasikan dan mengevaluasi ide-ide matematis baik secara
lisan, tulisan maupun dalam bentuk visual lainya; (3) Kemampuan dalam
menggunakan

notasi-notasi

matematika

dan

struktur-strukturnya

untuk

menyajikan ide-ide, menggambarkan hubungan-hubungan dengan model-model
situasi.

11

Ansari (Puspaningtiyas, 2012: 14-15) menyatakan bahwa:
Kemampuan komunikasi matematis siswa terbagi ke dalam tiga kelompok,
yaitu: (1) Menggambar/drawing, yaitu merefleksikan benda-benda nyata,
gambar dan diagram ke dalam ide-ide matematika. Atau sebaliknya, dari
ide-ide matematika ke dalam bentuk gambar atau diagram; (2) Ekspresi
matematika/mathematical expression, yaitu mengekspresikan konsep
matematika dengan menyatakan peristiwa sehari-hari dalam bahasa atau
simbol matematika; (3) Menulis/written texts, yaitu memberikan jawaban
dengan menggunakan bahasa sendiri, membuat model situasi atau
persoalan menggunakan bahasa lisan, tulisan, grafik, dan aljabar,
menjelaskan, dan membuat pertanyaan tentang matematika yang telah
dipelajari, mendengarkan, mendiskusikan, dan menulis tentang matematika, membuat konjektur, menyusun argumen, dan generalisasi.

Dari beberapa uraian di atas dapat disimpulkan bahwa, kemampuan komunikasi
matematika merupakan kemampuan yang dapat menyertakan dan memuat
berbagai alasan rasional terhadap suatu pernyataan, mengubah bentuk uraian kedalam model matematika dan mengilustrasikan ide-ide matematika ke dalam
bentuk uraian. Untuk mengetahui peningkatan kemampuan komunikasi matematika dilakukan observasi pada saat pembelajaran dan pemberian tes kemampuan komunikasi mtematika secara tertulis.

Pada penelitian ini, kemampuan komunikasi matematis yang akan diteliti adalah
kemampuan komunikasi matematis tertulis. Alasan peneliti mengambil komunikasi matematis tertulis karena peneliti dapat mengukur kemampuan siswa sesuai
indikator yang ada dan hemat dari segi waktu karena penilaian dapat dilakukan
secara bersamaan sehingga tidak menggangu proses pembelajaran di sekolah yang
kita lakukan penelitian, sedangkan pada komunikasi matematis lisan sulit
dilakukan karena keterbatasan waktu untuk melakukan penilaian terhadap masingmasing siswa.

12

Indikator kemampuan komunikasi tertulis meliputi

kemampuan menggambar

(drawing), ekspresi matematika (mathematical expression) dan menulis (written
texts) dengan indikator kemampuan komunikasi tertulis yang dikembangkan
sebagai berikut:
a.

Menggambarkan situasi masalah dan menyatakan solusi masalah menggunakan gambar, bagan, tabel dan secara aljabar.

b.

Menjelaskan ide, situasi dan relasi matematik secara tulisan.

c.

Menggunakan bahasa matematika dan simbol secara tepat.

B. Pembelajaran Kooperatif
Secara bahasa kooperatif berasal dari kata cooperative yang berarti bekerja sama.
Salah satu aktivitas sosial yang membutuhkan kemampuan untuk bekerja sama
dengan baik ialah kerja kelompok. Eggen dan Kauchak (2012: 171) menyatakan
bahwa kerja kelompok adalah suatu strategi yang dirancang untuk meningkatkan
keterlibatan siswa dengan interaksi antar siswa. Dalam pembelajaran ini akan
tercipta sebuah interaksi yang lebih luas, yaitu interaksi dan komunikasi yang
dilakukan antara guru dengan siswa, siswa dengan siswa dan siswa dengan guru.

Pembelajaran kooperatif merupakan salah satu bentuk pembelajaran yang
didasarkan pada paham konstruktivisme. Isjoni (2013: 15) menyatakan bahwa
pembelajaran kooperatif merupakan suatu model pembelajaran dimana sistem
belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif sehingga
merangsang siswa lebih bergairah dalam belajar. Komalasari (2013: 62) juga
mendefinisikan pembelajaran kooperatif adalah pembelajaran dimana siswa
belajar dan bekerja dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboartif yang

13

anggotanya terdiri dari 2 sampai 5 orang, dengan struktur kelompoknya yang
bersifat heterogen. Pembelajaran kooperatif mengarah pada pembelajaran dimana
siswa bekerjasama dalam kelompok kecil, saling membantu, bertukar informasi
untuk memahami suatu materi pelajaran, memeriksa dan memperbaiki jawaban
teman agar dapat mencapai sukses bersama secara akademik. Hal ini seperti yang
dinyatakan Eggen dan Kauchak (2012: 171) pembelajaran kooperatif adalah
sebuah kelompok strategi mengajar yang memberikan peran terstruktur bagi siswa
sambil menekankan interaksi siswa-siswa untuk mencapai tujuan bersama.
Pembelajaran kooperatif (Cooperative Learning) merupakan pondasi yang baik
untuk meningkatkan semangat belajar siswa sehingga mampu berprestasi. Hal ini
dikarenakan seperti yang dinyatakan Eggen dan Kauchak (2012: 171) bahwa guru
meminta siswa bertanggung jawab secara individu atas pemahaman mereka dan
siswa saling tergantung untuk mencapai tujuan bersama. Pembelajaran ini akan
memberi kesempatan siswa untuk mendiskusikan masalah, mendengar pendapat
rekannya, memacu siswa untuk bekerjasama dan saling membantu menyelesaikan
permasalahan. Secara tidak langsung mewujudkan kegiatan pembelajaran yang
berpusat pada siswa, terutama untuk mengatasi permasalahan yang ditemukan
guru dalam mengaktifkan siswa yang tidak dapat bekerja sama, siswa yang agresif
dan siswa yang tidak peduli pada siswa lain.

Hartono (2013: 100) mendefenisikan pembelajaran kooperatif atau gotong royong
adalah bentuk pengajaran siswa dalam beberapa kelompok kecil yang bekerjasama antara siswa satu dengan yang lain untuk memecahkan masalah.

Dalam

pembelajaran matematika menggunakan model pembelajaran kooperatif, siswa

14

dituntut untuk saling berkomunikasi aktif dengan anggota kelompoknya dalam
rangka menyelesaikan masalah matematika yang diberikan gurunya.

Dengan

bekerjasama maka siswa akan mengembangkan keterampilan berhubungan
dengan sesama manusia yang akan sangat bermanfaat bagi kehidupannya kelak di
luar pendidikan formal. Hal ini senada dengan apa yang disampaikan Hartono
(2013: 112) yang menyatakan:
Pembelajaran kooperatif menuntut siswa untuk bersikap partisipatif dalam
menyelesaikan tugas. Sikap partisipatif itu tak hanya untuk tugas semata,
tapi juga melatih siswa agar suatu saat kelak mampu berpartisiasi dalam
realitas kehidupan.

Dari uraian-uraian di atas dapat disimpulkan bahwa pembelajaran kooperatif
(cooperative learning) merupakan bentuk pembelajaran dengan cara belajar dan
bekerja dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya
terdiri dari tiga sampai lima orang dengan struktur yang bersifat heterogen dan
dapat merangsang siswa lebih bergairah dalam belajar sehingga tujuan
pembelajaran dapat tercapai.

Rusman (2013: 206) menyatakan pembelajaran

kooperatif akan efektif digunakan apabila:
1) Guru menekankan pentingnya usaha bersama di samping usaha secara
individual; 2) guru menghendaki pemerataan perolehan hasil dalam
belajar; 3) guru ingin menanamkan tutor sebaya atau belajar melalui teman
sendiri; 4) guru menghendaki adanya partisipasi aktif siswa; 5) guru
menghendaki kemampuan siswa dalam memecahkan berbagai
permasalahan.
Iru dan Arihi (2012: 55) menyatakan bahwa aspek-aspek pembelajaran kooperatif
diantaranya: saling ketergantungan positif, interaksi dengan tatap muka,
kebersamaan, kepercayaan individu, mengembangkan keterampilan sosial dan
evaluasi kelompok. Salah satu model pembelajaran yang dapat meningkatkan

15

keterampilan-keterampilan dan aspek-aspek yang disampaikan di atas adalah
model pembelajaran kooperatif tipe Think Talk Write (TTW).

C. Kooperatif Tipe Think Talk Write (TTW)
Suatu model pembelajaran kooperatif yang diharapkan mampu meningkatkan
kemampuan komunikasi dan pemahaman siswa adalah model pembelajaran
kooperatif tipe TTW. Iru dan Arihi (2012: 67-68) mendefinisikan bahwa TTW
merupakan model pembelajaran kooperatif dimana perencanaan dari tindakan
yang cermat mengenai kegiatan pembelajaran yaitu melalui kegiatan berpikir
(think), berbicara/ berdiskusi, bertukar pendapat (talk) serta menulis hasil diskusi
(write) agar tujuan pembelajaran dan kompetensi yang diharapkan dapat tercapai.
TTW adalah model pembelajaran yang memfasilitasi latihan berbahasa secara
lisan dan menulis bahasa tersebut dalam bentuk tulisan.

Alur kemajuan

pembelajaran TTW dimulai dari keterlibatan siswa dalam berpikir atau berdialog
dengan dirinya sendiri setelah proses membaca, selanjutnya berbicara dan
membagi ide dengan temannya sebelum menulis.

Kegiatan ini lebih efektif

dilakukan dalam kelompok dengan anggota 3-5 siswa. Anggota kelompok diatur
secara heterogen dan dalam kelompok siswa diminta membaca, membuat catatan
kecil, menjelaskan, mendengarkan, menanggapi dan melengkapinya dengan
tulisan dalam suasana yang aktif dan menyenangkan.
Dalam kegiatan pembelajaran matematika ketika guru memberikan tugas kepada
siswa dalam bentuk tertulis, sering ditemui siswa langsung menulis jawaban yang
ia pahami.

Walaupun hal itu bukan sesuatu yang salah, namun akan lebih

16

bermakna jika siswa terlebih dahulu melakukan kegiatan berpikir, menyusun ideide, merefleksikan dan menguji ide-ide sebelum memulai menulis jawaban.
Ngalimun (2013: 170) menyatakan bahwa TTW merupakan pembelajaran yang
dimulai dengan berpikir melalui bacaan (menyimak, memahami dan alternative
solusi), hasil bacaannya dikomunikasikan dengan presentasi, diskusi dan
kemudian buat laporan hasil diskusi. Kegiatan berpikir, berbicara dan menulis
adalah kegiatan dalam pembelajaran matematika yang memberi peluang kepada
siswa untuk berpartisipasi aktif menyelesaikan suatu masalah. TTW memberikan
waktu kepada siswa untuk melakukan kegiatan tersebut (membaca, berpikir,
berdiskusi/ bertukar pendapat, saling melengkapi ide-ide sebelum menulisnya).
Berikut adalah tahapan-tahapan dalam model pembelajaran TTW yang harus
dikembangkan dalam pembelajaran matematika:
1.

Think (Berpikir)

Dalam tahap aktivitas berpikir (think) dapat dilihat dari proses membaca suatu
teks matematika kemudian membuat catatan dari apa yang dibaca.

Dalam

penelitian ini, siswa diberikan permasalahan dalam bentuk lembar kerja siswa
yang dilakukan secara individu. Tahap ini memungkinkan siswa secara individu
membaca, memikirkan, membuat catatan kecil tentang ide-ide yang terdapat pada
bacaan dan hal-hal yang tidak dipahaminya sesuai dengan bahasanya sendiri ini.
Yamin dan Ansari (2012: 85) mengungkapkan bahwa menulis setelah membaca
dapat merangsang aktivitas berpikir siswa, sehingga dapat meningkatkan daya
ingat, pengetahuan, keterampilan berpikir dan menulis siswa.

17

Selama aktivitas think berlangsung, guru hanya sebatas mengawasi untuk
memastikan bahwa setiap siswa sudah melakukan aktivitas think dengan baik.
Jika masih ada siswa yang belum melakukan aktivitas think yakni membaca dan
menuliskan pada catatan kecilnya maka guru berusaha memotivasi dan memberi
arahan tujuan tahap ini.
2.

Talk (Berbicara atau berdiskusi)

Tahap ini memberikan kesempatan kepada siswa untuk menyampaikan ide-ide
yang diperolehnya pada tahap write (berpikir mandiri) kepada anggota kelompoknya dimana dalam satu kelompok terdiri dari 3-5 orang siswa yang heterogen.
Pada tahap ini ada siswa sebagai siswa dan ada siswa sebagai guru. Sehingga
membantu siswa lain yang kemampuannya berbeda untuk menyelesaikan masalah
dan setiap siswa dilatih untuk dapat berkomunikasi dengan baik menggunakan
bahasa mereka sendiri.
Yamin dan Ansari (2012: 86) memberikan alasan mengapa “Talk (berbicara atau
berdiskusi) ” penting dalam matematika, yaitu (a) matematika adalah bahasa yang
spesial dibentuk untuk mengomunikasikan bahasa sehari-hari; (b) pemahaman
matematis dibangun melalui interaksi dan diskusi antar individu; (c) siswa
menggunakan bahasa sendiri untuk menyajikan ide kepada temannya, membangun teori bersama dan definisi; (d) pada fase talking terjadi pembentukan ide
yang dirumuskan maupun direvisi; dan (e) talking membantu guru mengetahui
tingkat

pemahaman

siswa

dalam

belajar

matematika

sehingga

mempersiapkan pembelajaran selanjutnya yang lebih ditekankan.

dapat

18

Pada tahap talk, tugas guru memberikan motivasi/ dorongan kepada siswa yang
kurang aktif dalam diskusi, merasa kurang percaya diri terhadap hasil
pekerjaannya atau kelompok siswa yang mendapatkan jalan buntu untuk
menemukan suatu jawaban. Guru harus meyakinkan siswa bahwa jawabannya
merupakan pemikiran yang hebat dan patut dibanggakan. Selain itu, tugas guru
yang disampaikan oleh Silver dan Smith (Yamin dan Ansari, 2012: 90) adalah
mengajukan pertanyaan, menantang setiap siswa untuk berpikir, mendengarkan
secara hati-hati ide siswa dan membimbing.
3.

Write (Menuliskan hasil diskusi)

Tahap menulis kembali hasil yang diperoleh siswa setelah melewati kedua tahap
di atas. Tahap menulis ini berarti mengonstruksi ide, dari kegiatan tahap pertama
dan kedua. Yamin dan Ansari (2012: 88) mengungkapkan bahwa aktifitas siswa
selama tahap ini (1) menulis solusi terhadap masalah/ pertanyaan yang diberikan;
(2)

mengorganisasikan

semua

pekerjaan

langkah

demi

langkah,

baik

penyelesaiannya menggunakan grafik, diagram, atau tabel agar mudah dibaca atau
ditindaklanjuti; (3) mengoreksi semua pekerjaan sehingga yakin tidak ada
pekerjaan ataupun perhitungan yang ketinggalan dan; (4) meyakini bahwa
pekerjaanya lengkap, mudah dibaca dan terjamin keasliannya.
Pada tahap write, guru mempunyai peran dan tugas memonitoring siswa, menilai
partisipasi siswa dan memotivasi kembali, membimbing siswa untuk melakukan
aktivitas tahap write. Berikut ini adalah desain model pembelajaran TTW yang
dimodifikasi dari Yamin dan Ansari (2012: 89):

19

Gambar 2.1. Desain Model Pembelajaran Tipe TTW

Pembelajaran matematika
melalui Think Talk Write

GURU

Dampak

Masalah

THINK

Siswa membaca LKS
dan membuat catatan
secara individu

TALK

Siswa berdiskusi secara
kelompok untuk
membahas isi catatan

WRITE

Secara individu siswa
mengonstruksi
pengetahuan dari hasil
diskusi

Siswa mampu
meningkatkan
kemampuan
komunikasi
matematis dalam
pembelajaran

Langkah-langkah pembelajaran yang diperkenalkan Huinker dan Laughlin ini
(Yamin dan Ansari, 2012: 90) adalah:

20

1.

guru membagi teks bacaan berupa lembaran aktivitas siswa siswa yang
memuat situasi masalah bersifat open-ended dan petunjuk serta prosedur
pelaksanaannya.

2.

siswa membaca teks dan membuat catatan dari hasil bacaan secara individual
(think), untuk dibawa ke forum diskusi.

3.

siswa berinteraksi dan berkolaborasi dengan teman untuk membahas isi
catatan (talk). Guru berperan sebagai mediator lingkungan belajar.

4.

siswa mengkonstruksi sendiri pengetahuan sebagai hasil kolaborasi (write).

D. Kerangka Pikir
Kemampuan komunikasi matematis dalam pembelajaran matematika adalah suatu
hal penting untuk digali oleh seorang guru matematika.

Oleh karena itu,

rendahnya kemampuan komunikasi matematis siswa merupakan permasalahan
yang harus mendapat perhatian serius.

Rendahnya kemampuan komunikasi

matematis terjadi karena pembelajaran yang berlangsung selama ini terpusat pada
guru sehingga selama pembelajaran matematika hanya terjadi komunikasi satu
arah.

Meningkatkan kemampuan komunikasi matematis siswa dapat dilakukan dengan
beberapa hal, salah satunya adalah memilih model pembelajaran yang tepat.
Model pembelajaran yang dipilih hendaklah yang dapat menciptakan suasana
pembelajaran siswa aktif, kreatif, menyenangkan dan dapat mempelajari
matematika dengan mudah. Karena dengan model pembelajaran yang tepat dapat
mewujudkan tercapainya tujuan pembelajaran.

21

Model pembelajaran kooperatif memberikan kesempatan kepada siswa untuk
bekerja dalam sebuah kelompok sehingga siswa berperan aktif dalam
pembelajaran.

Dengan bekerja dalam sebuah kelompok, siswa dapat

mengomunikasikan ide-ide matematisnya baik secara lisan maupun tulisan.
Dengan demikian, kemampuan komunikasi matematis siswa akan lebih tercapai
daripada siswa hanya mendengarkan penjelasan dari guru.
Model pembelajaran kooperatif tipe TTW adalah salah satu model pembelajaran
kooperatif yang membangun kemampuan berpikir, berbicara dan menulis siswa.
Model pembelajaran ini secara aktif menuntut siswa untuk menyelesaikan
masalah matematis secara bertahap. Tiga tahapan yang dilalui siswa adalah think
(berpikir), talk (berdiskusi) dan write (menulis hasil diskusi).
Tahap pertama yaitu think (berpikir) dapat dilihat dari proses membaca teks
matematika atau cerita matematika.

Siswa secara individu mencoba

menyelesaikan masalah tersebut dan membuat catatan kecil tentang hal-hal yang
tidak diketahuinya ataupun langkah penyelesaian masalah dengan bahasanya
sendiri.
Tahap kedua yaitu talk (berdiskusi), siswa menyampaikan apa yang diperolehnya
dalam tahap pertama. Siswa secara berkelompok menyampaikan ide-ide mereka
dan membahas langkah penyelesaian masalah. Guru berperan sebagai pemberi
motivasi agar semua siswa berperan aktif dalam kelompoknya. Pada tahap ini
siswa dilatih untuk mengembangkan kemampuan komunikasi dan bekerjasama
dalam kelompok. Tahap ini membantu siswa untuk memantapkan konsep yang
diperolehnya pada tahap think (berpikir).

22

Tahap ketiga adalah tahap write (menulis hasil diskusi). Karena pada tahap ini
mereka menuliskan hasil diskusi sebelumnya pada lembar kerja yang disediakan
dan dengan aktivitas menulis, meraka dituntut untuk mengkonstruksi ide setelah
berdiskusi dan mengungkapkan dalam bentuk tulisan.
Dengan penerapan model pembelajaran kooperatif tipe TTW diharapkan mampu
meningkatkan kemampuan komunikasi matematis siswa menjadi lebih tinggi
daripada pembelajaran konvensional.

Hal ini menyatakan bahwa model

pembelajaran kooperatif tipe TTW dapat meningkatkan kemampuan komunikasi
matematis siswa.
E. Anggapan Dasar

Penelitian ini mempunyai anggapan dasar sebagai berikut.
1. Semua siswa kelas X IPA semester genap MAN 1 Bandar Lampung tahun
pelajaran 2013/2014 memperoleh materi pelajaran matematika yang sama dan
sesuai dengan kurikulum yang berlaku.
2. Faktor lain yang mempengaruhi kemampuan komunikasi matematis siswa
selain model pembelajaran dianggap memberikan pengaruh yang sama.

F. Hipotesis
Berdasarkan kerangka berpikir di atas, maka hipotesis dalam penelitian ini adalah:
a. Hipotesis Umum :
Model pembelajaran kooperatif tipe TTW dapat meningkatkan kemampuan
komunikasi matematis siswa kelas X IPA MAN 1 Bandar Lampung.

23

b.

Hipotesis Kerja :
Peningkatan kemampuan komunikasi matematis siswa yang menggunakan
model pembelajaran kooperatif tipe TTW lebih tinggi daripada kemampuan
komunikasi matematis siswa yang menggunakan pembelajaran konvensional.

III. METODE PENELITIAN

A. Populasi dan Sampel

Penelitian dilaksanakan di MAN 1 Bandar Lampung dengan populasi seluruh
siswa kelas X IPA semester genap pada tahun pelajaran 2013/2014 yang terdiri
dari empat kelas yakni X IPA-1, X IPA-2, X IPA-3 dan X IPA-4. Dari populasi
yang terdiri dari empat kelas diambil dua kelas, yaitu sebagai kelas kontrol dan
sebagai kelas eksperimen. Penarikan sampel dilakukan dengan menggunakan
teknik random sampling karena berdasarkan wawancara dengan beberapa guru
matematika MAN 1 Bandar Lampung, setiap kelas di sekolah tersebut memiliki
rata-rata kemampuan matematis hampir sama dan tidak ada kelas unggulan.
Setelah dipilih sampel secara acak terhadap kelas X IPA, maka terpilihlah kelas X
IPA-1 sebagai kelas eksperimen dan kelas X IPA-2 sebagai kelas kontrol.

B. Desain Penelitian

Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen semu (quasi experiment)
menggunakan desain the pretest-postest control group design.

Penelitian ini

melibatkan dua kelompok yang terdiri dari kelompok eksperimen dan kelompok
kontrol. Perlakuan yang diberikan pada kelompok eksperimen yang disebut kelas
eksperimen adalah menggunakan pembelajaran kooperatif tipe TTW sedangkan

25

pada kelompok kontrol yang disebut kelas kontrol menggunakan pembelajaran
konvensional.

Desain penelitian pretest-posttest control group design di-

modifikasi dari Furchan (1982: 356) adalah sebagai berikut:
Tabel 3.1 The Pretest-Postest Control Group Design
Kelompok
A
B

Pretest
Y1
Y1

Perlakuan
X
K

Posttest
Y2
Y2

Keterangan :
A : kelas eksperimen
B : kelas kontrol
X : perlakuan pada kelas eksperimen dengan menggunakan model pembelajaran
kooperatif tipe TTW
K : perlakuan pada kelas kontrol dengan menggunakan pembelajaran
konvensional
Y1 : tes awal (pretest) sebelum diberikan perlakuan
Y2 : tes akhir (posttest) setelah diberikan perlakuan

C.

Prosedur Pelaksanaan Penelitian

Tahap-tahap dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Tahap Persiapan Penelitian
Tahap-tahap persiapan penelitian ini adalah :
a. Mengidentifikasi masalah yang terjadi dalam pembelajaran matematika di
MAN 1 Bandar Lampung.
b. Pemilihan populasi penelitian yang dapat mewakili kondisi kemampuan
komunikasi matematis siswa MAN 1 Bandar Lampung, yaitu seluruh siswa
kelas X IPA MAN 1 Bandar Lampung tahun pelajaran 2013/2014.
c. Menyusun proposal penelitian.
d. Membuat perangkat pembelajaran untuk kelas eksperimen dan kelas kontrol
e. Membuat instrumen yang akan digunakan dalam penelitian.

26

f. Mengonsultasikan perangkat pembelajaran dan instrumen dengan dosen
pembimbing.
g. Melakukan ujicoba instrumen penelitian.
h. Merevisi instrumen penelitian jika diperlukan.
2. Tahap Pelaksanaan Penelitian
Tahap-tahap pelaksanaan penelitian ini adalah :
a. Melaksanakan pretest pada kelas kontrol dan eksperimen.
b. Memberikan perlakuan pada kelas kontrol dan eksperimen. Untuk kelas
eksperimen menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe TTW.
Sedangkan, untuk kelas kontrol menggunakan pembelajaran konvensional.
c. Mengadakan posttest pada kelas kontrol dan eksperimen.
3. Tahap Analisis Data
Tahap-tahap analisis data penelitian ini adalah :
a. Mengumpulkan data kuantitatif.
b. Menganalisis data hasil penelitian.
c. Menyusun hasil penelitian.
d. Menyimpulkan hasil penelitian.

D. Data Penelitian

Data dalam penelitian ini merupakan data kuantitatif kemampuan komunikasi
matematis siswa. Data pada penelitian ini diperoleh melalui tes yang dilakukan
pada awal pembelajaran (pretest) dan akhir pembelajaran (posttest) baik pada
kelas eksperimen maupun pada kelas kontrol.

27

E. Teknik Pengumpulan Data
Data dalam penelitian ini dikumpulkan menggunakan tes. Tes diberikan sebelum
pembelajaran (pretest) dan sesudah pembelajaran (posttest) pada kelas eksperimen
dan kelas kontrol. Tes yang diberikan bertujuan untuk mengetahui peningkatan
kemampuan komunikasi matematis siswa setelah mengikuti pembelajaran
matematika menggunakan model pembelajaran kooperatif tipe TTW pada kelas
eksperimen dan pembelajaran konvensional pada kelas kontrol.

F. Instrumen Penelitian

Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah perangkat tes. Bentuk tes
dalam penelitian ini berbentuk esai. Tes yang diberikan pada kelas pretest dan
posttest sama.

Sebelum penyusunan tes kemampuan komunikasi matematis,

terlebih dahulu dibuat kisi-kisi soal tes kemampuan komunikasi matematis.
Setiap soal memiliki satu atau lebih indikator kemampuan komunikasi matematis.
Penyusunan perangkat tes dilakukan dengan indikator sebagai berikut:
1. Kompetensi dasar dan indikator yang akan diukur sesuai dengan materi dan
tujuan kurikulum yang berlaku pada populasi.
2. Pedoman penyekoran tes kemampuan komunikasi matematis siswa yang
dimodifikasi dari Puspaningtyas (2012) dapat dilihat pada tabel 3.2.

28

Tabel 3.2 Pedoman Penyekoran Kemampuan Komunikasi Matematis
Skor

0
1

2

3

Ekspresi Matematika
Menulis
(Mathematical
(Written Texts)
Expression)
Tidak ada jawaban, kalaupun ada hanya memperlihatkan tidak memahami
konsep sehingga informasi yang diberikan

Dokumen yang terkait

PENGARUH PENERAPAN STRATEGI PEMBELAJARAN THINK-TALK-WRITE (TTW) TERHADAP KEMAMPUAN MENGANALISIS CERPEN

3 21 111

Perbedaan hasil belajar ekonomi siswa dengan menggunakan metode pembelajaran TTW (Think Talk Write) dan model pembelajaran terbalik (reciprocal teaching) di SMA Nusa Putra Tangerang

1 6 154

EFEKTIVITAS PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE THINK TALK WRITE DITINJAU DARI KEMAMPUAN REPRESENTASI MATEMATIS SISWA

5 41 61

PERBEDAAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI MATEMATIS SISWA YANG BELAJAR DENGAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE THINK-TALK-WRITE DAN TIPE THINK-PAIR-SHARE DI MAN 1 MEDAN.

0 4 29

PENINGKATAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI DAN SIKAP TERHADAP MATEMATIKA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE THINK-TALK-WRITE PADA SISWA SMA.

0 1 37

PENINGKATAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI MATEMATIS DAN KECERDASAN EMOSIONAL SISWA SMP DENGAN MENGGUNAKAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE THINK-TALK-WRITE (TTW).

0 0 53

PENINGKATAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI MATEMATIS DAN KECERDASAN EMOSIONAL MELALUI PEMBELAJARAN THINK-TALK-WRITE.

0 3 15

PENINGKATAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI DAN PEMECAHAN MASALAH MATEMATIS SISWA SMP DENGAN MENGGUNAKAN PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE TTW (THINK TALK WRITE).

0 1 42

PENERAPAN MODEL KOOPERATIF TIPE THINK TALK WRITE (TTW) DALAM PEMBELAJARAN MATEMATIKA UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN KOMUNIKASI MATEMATIS SISWA SMP.

0 2 32

Peningkatan Kemampuan Komunikasi Matematis: Pengembangan Lembar Kerja Siswa Berbasis Model Pembelajaran Kooperatif Tipe Think Talk Write untuk Siswa Sekolah Menengah Pertama

0 0 12