Usaha Kecil-Januari 2009

VOLUME VII JANUARI 2009

USAHA KECIL

Berkhas merupakan salah satu media Akatiga yang menyajikan kumpulan berita dari
berbagai macam surat kabar, majalah, serta sumber berita lainnya. Jika pada awal
penerbitannya kliping yang ditampilkan di Berkhas dilakukan secara konvensional, maka
saat ini kliping dilakukan secara elektronik, yaitu dengan men-download berita dari situssitus suratkabar, majalah, serta situs berita lainnya.
Bertujuan untuk menginformasikan isu aktual yang beredar di Indonesia, Berkhas
diharapkan dapat memberi kemudahan kepada pihak-pihak yang berkepentingan dalam
pencarian data atas isu-isu tertentu. Berkhas yang diterbitkan sebulan sekali ini setiap
penerbitannya terdiri dari isu Agraria, Buruh, dan Usaha Kecil.
Untuk memperluas area distribusi, Berkhas diterbitkan melalui 2 (dua) macam media
yaitu media cetakan (hardcopy) serta media online berupa pdf file yang dapat diakses
melalui situs web Akatiga (www.akatiga.or.id).

Daftar Isi
Produsen kecil jamu difasilitasi peroleh sertifikat--------------------------------------------------

1


Ekspor UKM andalkan produk kreatif -----------------------------------------------------------------

2

Pemberdayaan UMKM di Kalteng Dinilai Tidak Fokus-------------------------------------------

3

Anggaran pemasaran UKM naik 3 kali lipat---------------------------------------------------------

4

Aprindo: Kaji ulang Permendag Penataan Pasar -------------------------------------------------

5

IKM di Jambi tahan krisis---------------------------------------------------------------------------------

6


Aprindo tolak penyesuaian trading term -------------------------------------------------------------

7

Kredit UMKM anjlok----------------------------------------------------------------------------------------

8

Program UMKM kurang fokus --------------------------------------------------------------------------

9

UKM hadapi dampak lanjutan krisis global---------------------------------------------------------- 10
Regulasi Dinilai Belum Berpihak ke UKM ----------------------------------------------------------- 12
Perkuat Sektor Riil dan UKM Cegah PHK ----------------------------------------------------------- 13
UMKM Sabuk Pengaman Krisis ------------------------------------------------------------------------ 14
Draf awal RPP UKM disusun --------------------------------------------------------------------------- 16
Ekspor kerajinan Jatim tak terpengaruh krisis ------------------------------------------------------ 17
Pembangunan pasar perlu libatkan pedagang tradisional -------------------------------------- 19
Modal UKM capai target ---------------------------------------------------------------------------------- 20

Muamalat Fokus Pada Pembiayaan UMKM -------------------------------------------------------- 21
Akses pasar UKM ditingkatkan ------------------------------------------------------------------------- 23
Kemeneg Koperasi & UKM lanjutkan program Perkassa di 6 provinsi ---------------------- 24
Peritel dapat retur produk baru dalam 3 bulan ----------------------------------------------------- 25
UKM pupuk terancam tutup ----------------------------------------------------------------------------- 26
Pemkot Magelang Kucurkan Rp600 Juta Untuk UKM ------------------------------------------- 27
Pendaftaran hak cipta dan merek 125 UMKM difasilitasi --------------------------------------- 28
Jasa paten kecil buka di mal ---------------------------------------------------------------------------- 29
UKM Magelang raih Rp600 juta ------------------------------------------------------------------------ 30
Perajin Wajit Butuh Bantuan Modal ------------------------------------------------------------------- 31
Aturan pasar memungkinkan direvisi ----------------------------------------------------------------- 32
IKM di Mojokerto pasok polisi --------------------------------------------------------------------------- 34
Pangsa toko tradisional kian tergerus ---------------------------------------------------------------- 35
Kondisi Pasar Tradisional Memprihatinkan --------------------------------------------------------- 36
5 UKM dibidik raih ISO------------------------------------------------------------------------------------ 38

KJKS salurkan dana bergulir ---------------------------------------------------------------------------- 39
Modernisasi pasar tradisional terapkan sharing biaya ------------------------------------------- 40
'Program UKM tumpang tindih' ------------------------------------------------------------------------- 41
UKM optimistis bertumbuh pada 2009 --------------------------------------------------------------- 42

LPDB gandeng modal ventura-------------------------------------------------------------------------- 43
'Cegah ritel asing masuk pelosok daerah' ----------------------------------------------------------- 44
Jatim godok wirausaha baru ---------------------------------------------------------------------------- 46
Trading term 2008 capai 14 jenis ---------------------------------------------------------------------- 47
Kemenkop Dorong KUKM Miliki Sertifikat ISO 9001:2000-------------------------------------- 48
Usaha Kecil Terbelit Utang ------------------------------------------------------------------------------ 49
Babak baru persaingan antarperitel asing ----------------------------------------------------------- 50
Peritel terbelah soal trading term ---------------------------------------------------------------------- 52
Usaha kecil terbantu aturan bayar tunai ------------------------------------------------------------- 54
'Perbankan asing danai UKM' -------------------------------------------------------------------------- 55
Peritel dilarang sewakan rak pajang ------------------------------------------------------------------ 56
Peritel ikuti lelang komoditas ---------------------------------------------------------------------------- 58
UKM penjahit dapat 51 mesin -------------------------------------------------------------------------- 59
Bank-bank China Dukung Dana Bagi UKM Setempat ------------------------------------------- 60
BI Dorong Penyaluran KUR Mikro --------------------------------------------------------------------- 61
Kredit SUP-005 tersalur 76,13% ----------------------------------------------------------------------- 62
'Pemerintah jadi pemain memicu moral hazard' --------------------------------------------------- 63
Peritel ikuti lelang komoditas ---------------------------------------------------------------------------- 65
Waralaba lokal terancam gulung tikar ---------------------------------------------------------------- 66
Aprindo ancam tegur peritel yang tak kompak ----------------------------------------------------- 68

Gema PKM rancang arsitektur keuangan mikro --------------------------------------------------- 69

Bisnis I ndonesia

Jumat, 02 Januari 2009

Pr odu se n k e cil j a m u dif a silit a si pe r ole h se r t if ik a t
m utu
JAKARTA: Induk Koperasi Hasil Hutan Rempah dan Jamu (Inkojam) bersama Gabungan
Pengusaha Jamu (GP Jamu) memfasilitasi usaha kecil menengah produsen jamu untuk
mendapatkan sertifikat mutu dari Bandan Standardisasi Nasional (BSN).
Ketua Inkojam Herbeth Mindo Sitorus mengatakan langkah ini untuk menyikapi maraknya isu
penggunaan bahan kimia pada produk jamu yang dihasilkan produsen kecil jamu di Cilacap dan
Cirebon.
"Kami sepakat produk mereka dilengkapi dengan sertifikat BSN sebelum dijual ke pasar," ujar
Mindo Sitorus seusai rapat kerja nasional Inkojam, baru - baru ini.
Untuk itu, Inkojam bersama GP Jamu akan melakukan sosialisasi penggunaan sertifikat tersebut
kepada seluruh industri jamu, khususnya produsen dengan skala rumahan.
Keputusan rakernas Inkojam tersebut untuk menghadang masuknya produk jamu impor. Inkojam
juga berencana membubuhkan label induk koperasi itu pada produk sebagai legalisasi

tambahan.
Produk jamu anggota Inkojam sebelumnya dilengkapi izin dari Badan Pengawas Obat dan
Makanan (BPOM) Indonesia, tetapi dipandang perlu labelisasi tambahan untuk memberi rasa
aman kepada konsumen.
Ribuan produsen jamu skala kecil dari Kabupaten Cilacap dan Cirebon mulai merasakan dampak
isu penyertaan bahan kimia, karena konsumsi masyarakat terhadap jamu mulai menurun.
Beberapa perusahaan jamu skala besar selaku anggota Inkojam, seperti Perusahaan Jamu
Nonya Meneer, bersedia memasarkan produk jamu yang dihasilkan usaha kecil.
"Pemasaran direncakan dengan skala lebih luas dengan melibatkan beberapa perusahaan
strategis. Satu perusahaan BUMN yang sudah sepakat menjalin kerja sama dengan kami adalah
PT Angkasa Pura," papar Mindo.
Di Bandara Adi Sutjipto Yogyakarta jamu dipasarkan dengan target para pengunjung ataupun
penumpang pesawat terbang. Dengan strategi tersebut produk jamu lokal diharapkan mampu
bangkit kembali sekaligus menahan laju produk impor.
Pasar lain yang tengah rintis adalah hotel di sejumlah kota. Dengan menciptakan pemasaran
yang positif tersebut Mindo optimistis usaha kecil menengah jamu bisa menikmati kesejahteraan.
Konsumsi jamu juga mulai meningkat di beberapa daerah yang selama ini tidak diperhitungkan,
seperti Provinsi Papua, Riau dan Kalsel.
Oleh Mulia Ginting Munthe
Bisnis Indonesia


Bisnis I ndonesia

Jumat, 02 Januari 2009

Ek spor UKM a n da lk a n pr odu k k r e a t if
JAKARTA: Kementerian Negara Koperasi dan UKM pada tahun ini masih mengandalkan produk
kreatif, terutama furnitur, home furnishing, garmen, perhiasan, dan produk herbal, sebagai
komoditas unggulan untuk pasar luar negeri.
Ikhwan Asrin, Deputi Bidang Pemasaran dan Jaringan Usaha Kementerian Koperasi dan UKM,
mengatakan produk itu diandalkan karena memiliki pasar di beberapa negara Eropa, seperti
Bulgaria dan Polandia.
"Kami juga akan mengembangkan jaringan pemasaran ke Timur Tengah, terutama ke Dubai, Uni
Emirat Arab, melalui pameran pada Februari 2009," kata Ikhwan Asrin kepada Bisnis beberapa
hari lalu.
Tahun lalu Kementerian Ko-perasi merencanakan pemasaran produk itu ke Uni Emirat Arab,
tetapi tidak terealisasi. Tahun ini diakomodasi dengan menyertakan usaha kecil dalam pameran
internasional.
Ikhwan mengatakan Kementerian Koperasi belum menetapkan jumlah UKM yang akan difasilitasi
mengikuti pameran tersebut, tetapi bisa dipastikan akan membuka paviliun sebagai salah satu

metode promosi.
Deputi Ikhwan diketahui menandatangani surat pemberitahuan program fasilitasi promosi dan
pemasaran melalui pameran Dubai Global Village di Uni Emirat Arab kepada dinas yang
membidangi koperasi dan usaha kecil menengah provinsi.
Surat bernomor 371/Dep.4/ XI/2008 tersebut tertanggal 21 November 2008, dan batas waktu
usulan peserta pameran di Dubai tersebut paling lambat 21 November 2008.
Kementerian Negara Koperasi akan memfasilitas para pengusaha kecil untuk berpameran di
Malaysia, Bulgaria, Hong Kong, Tunisia, dan Vietnam. (tabel).
Ikhwan mengatakan program kerja Deputi Pemasaran dan Jaringan Usaha pada tahun ini
difokuskan pada kegiatan pameran dan sejumlah promosi, karena didukung anggaran yang
memadai.
Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada Peringatan Hari Ibu ke-80 di Jakarta 22 Desember
2008 mencanangkan tahun ini sebagai Tahun Indonesia Kreatif. Omzet industri kreatif pada 2008
diprediksi mencapai Rp112 triliun.
Selama 2002-2006, industri kreatif mampu menyumbangkan ekspor Rp69,5 miliar, atau tumbuh
2,6% per tahun. Staf ahli Menteri Perdagangan Bidang Promosi Pengembangan Ekspor Hesti
Indah Kresnarini mengatakan ekspor industri ini per tahun rata-rata 10,58%. Dengan kondisi
krisis saat ini, pertumbuhan pada 2009 diprediksi 10%.
Prediksi lebih berani disampaikan Deputi Menko Perekonomian Bidang Perdagangan dan
Perindustrian Edy Putra Irawady. Perlambatan ekspor tidak dapat dihindari pada tahun ini.

Kendati demikian, "Industri kreatif diproyeksi akan tumbuh 68% dan khusus untuk software dan
animasi bisa sampai 300%."
Oleh Mulia Ginting Munthe & Moh. Fatkhul Maskur

Bisnis Indonesia

Jurnal Nasional

Jumat, 02 Januari 2009

Ekonomi | Palangka Raya | Jum'at, 02 Jan 2009 18:52:49 WIB

Pe m be r da ya a n UM KM di Ka lt e n g D in ila i Tida k Fok u s
PROGRAM pemberdayaan ribuan unit koperasi dan usaha mikro kecil menengah (umkm) di
Kalimantan Tengah (Kalteng) sampai saat ini dinilai berjalan kurang fokus dan terarah.
"Pelaksanaan pemberdayaan itu belum efektif karena masih kurang fokus dengan banyaknya
koperasi dan UMKM yang menjadi sasaran," kata Kepala Dinas Koperasi dan Usaha Kecil
Menengah Provinsi Kalteng, Farid Yusran, di Palangka Raya, Jumat (2/1)
Pemberdayaan koperasi dan UMKM selama ini dilakukan oleh sejumlah satuan kerja perangkat
daerah (SKPD) lingkup pemerintah daerah, dan pihak lain yang peduli seperti BUMN, BUMD dan

kalangan swasta.
Menurut Farid, dengan daya dan dana dalam program pemberdayaan yang terbatas, hasilnya
belum dapat memberikan manfaat dan dampak signifikan untuk kemajuan pertumbuhan koperasi
dan UMKM.
Kondisi tersebut menjadi salah satu kendala utama yang dihadapi dalam akselerasi
perkembangan ekonomi daerah, terutama bidang koperasi dan UMKM.
Data Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi Kalteng menyebutkan, terdapat 2.061 unit koperasi
dengan jumlah anggota mencapai 194.659 orang se-Kalteng.
Sementara jumlah usaha mikro sebanyak 148.472 unit, usaha kecil 35.292 unit, dan usaha
menengah sebanyak 1.375 unit tersebar di 14 kabupaten/kota setempat.
Farid mengemukakan, pemerintah daerah telah berupaya mengatasi permasalahan itu, salah
satunya dengan pembuatan peraturan daerah tentang pemberdayaan koperasi dan UMKM yang
mengatur pelaksanaan dan koordinasi pemberdayaan, perlindungan, iklim usaha, kemitraan,
jaringan usaha, dan sanksi administratif.
"Payung hukum yang jelas akan memberikan suatu iklim yang lebih kondusif bagi pemberdayaan
koperasi dan UMKM di Kalteng dengan harapan tercipta pelaku ekonomi tangguh dan mandiri
serta berkesinambungan," katanya.(Ant)

Bisnis I ndonesia


Senin, 05 Januari 2009

Senin, 05/01/2009

An gga r a n pe m a sa r a n UKM n a ik 3 k a li lipa t
Ek spor pr odu k bu da ya da n k r e a t ivit a s didor on g
JAKARTA: Kementerian Negara Koperasi dan UKM pada tahun ini mengalokasikan anggaran
promosi dan pemasaran produk usaha kecil menengah tiga kali lebih besar dibandingkan dengan
realisasi 2008 menjadi Rp71,5 miliar.
Deputi Pemasaran dan Jaringan Usaha Kementerian Negara Koperasi dan UKM Ikhwan Asrin
mengatakan anggaran tersebut hampir seluruhnya untuk memasilitasi pemasaran dan promosi.
"Program kerja Deputi Pemasaran dan Jaringan Usaha pada tahun ini memang difokuskan untuk
kegiatan pameran dan sejumlah promosi, karena didukung anggaran yang memadai," ujar
Ikhwan, baru-baru ini.
Di dalam negeri, fasilitasi pameran dan promosi mencakup tujuh ragam kegiatan, yakni Smesco
Festival ke-7, partisipasi pameran selama Februari-Maret, pameran Smesco tematik, Pameran
Produk Budaya Indonesia (PPBI), dan Temu Karya Kerajinan. (lihat tabel)
Di samping itu, pemerintah juga akan memasilitasi promosi produk usaha kecil melalui katalog
penerbangan, dan promosi melalui jaringan dunia maya dengan sarana trading board.
Adapun kegiatan pameran di luar negeri yang akan mengikutsertakan pengusaha kecil, di
antaranya Dubai Global Village, Discover Indonesia Trade & Investment Fair (Malaysia),
International Consumer Goods & Technology Fair (Bulgaria), Malaysia International Food &
Beverage Trade Fair, Hong Kong Fashion Week for Spring/ Summer 2010, Tunisia International
Trade Exhibition, dan International Trade Fair (Vietnam).
Terkait dengan pembagian anggaran masing-masing kegiatan, Ikhwan mengatakan, "Belum
diumumkan angka pastinya. Sekitar 40% dari anggaran Deputi Bidang Pemasaran dan Jaringan
Usaha akan dialokasikan khusus untuk trading board."
Ikhwan menilai trading board melalui fasilitas jaringan dunia maya sejauh ini mendapat respons
cukup besar karena mampu meningkatkan promosi, baik dari dalam maupun luar negeri. Tercatat
sejumlah 400 UKM difasilitasi masuk jaringan tersebut.
Produk kreatif
Menurut dia, institusinya akan mendorong produk berbasis budaya dan kreativitas masyarakat
sebagai andalan ekspor usaha kecil, seperti mebel rumah tangga, garmen, perhiasan, dan
produk herbal.
Ikhwan mengatakan produk itu diandalkan karena memiliki pasar di beberapa negara Eropa,
seperti Bulgaria dan Polandia.
"Dengan produk andalan yang sama kami akan mengembangkan jaringan pemasaran ke
kawasan Timur Tengah, terutama ke Dubai, Uni Emirat Arab, melalui pameran pada Februari
2009." (ginting.munthe@bisnis.co.id/fatkhul.maskur@bisnis.co.id)
Oleh Mulia Ginting Munthe & Moh. Fatkhul Maskur
Bisnis Indonesia

Bisnis I ndonesia

Senin, 05 Januari 2009

Senin, 05/01/2009 12:21 WIB

Apr in do: Ka j i u la n g Pe r m e n da g Pe n a t a a n Pa sa r
JAKARTA (Bisnis.Com): Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) mendesak Departemen
Perdagangan untuk mengkaji ulang isi peraturan Menteri Perdagangan (Permendag) No.
53/2008.
Atas isi aturan yang diteken pada 12 Desember 2008 tersebut, Aprindo menyatakan
kekecewaan, keprihatinan dan keberatan mendalam terhadap Permendag tentang Pedoman
Penataan dan Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat Perbelanjaan dan Toko Modern itu.
Terkait kekecewaan itu, siaran pers yang diterima Bisnis siang ini menyebutkan Aprindo telah
melayangkan surat kepada Depdag, agar Permendag itu dikaji ulang dan memberi solusi untuk
kemajuan ritel nasional.
Dalam siarannya, Aprindo juga menegaskan seharusnya pemerintah lebih fokus kepada
pengaturan pasokan barang dan pemasok pasar tradisional, untuk memastikan adanya
kontinuitas pasokan barang kebutuhan konsumen. "Bukan senaliknya, malah mengeluarkan
peraturan tentang kesepakatan dagang antara pemasok dan ritel modern yang sudah berjalan
dan mencapai keseimbangan," tulis siaran pers itu.
Lebih lanjut Aprindo juga mengemukakan delapan dasar pertimbangan. Pertama, isi Permendag
bertentangan dengan Perpres No. 112/2007 sebagai payung hukumnya, yang mengharuskan
adanya azas kebebasan berkontrak.
Kedua, bertentangan dengan azas kebebasan berkontrak seperti diatur dalam pasal 1338, 1320,
1323 KUH Perdata. Ketiga, bersifat pemaksaan sepihak kepada Aprindo sebagai pihak yang
berkepentingan langsung dalam kesepakatan dagang sehingga merugikan asosiasi itu.
Keempat, bertentangan dengan kebijakan propasar. Kelima, bertentangan dengan azas
keterbukaan negosiasi. Keenam, berdampak pada peningkatan ekonomi biaya tinggi yang
akhirnya memicu kenaikan harga.
Ketujuh, permendag dinilai tidak akurat karena meniadakan klausul penting yang sudah dibahas.
Kedelapan, Aprindo mendukung sepenuhnya program pemerintah untuk UMKM.(er)

Bisnis I ndonesia

Senin, 05 Januari 2009

WIRA USAHA

I KM di Ja m bi t a h a n k r isis
JAMBI: Industri kecil dan menengah (IKM) yang menghasilkan produksi kerajinan tangan seperti
anyaman bambu, rotan, ukiran kayu, kain batik, serta makanan dan minuman belum banyak
terpengaruh terhadap krisis global.
Hampir sebagian besar produk industri kecil di Jambi masih memenuhi kebutuhan lokal, kata
Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Provinsi Jambi, Hasan Basri melalui
Kasubdin Perdagangan Luar Negeri, Zainal Abidin pekan lalu.
Menurut dia, usaha industri kecil di Jambi masih mampu bertahan di tengah krisis ekonomi
global, karena itu arah kebijakan pemerintah daerah saat ini akan meningkatkan pembinaan dan
bantuan modal melalui kredit perbankan untuk memperkuat ekonomi rakyat kecil. (Antara)

Bisnis I ndonesia

Selasa, 06 Januari 2009

Apr in do t ola k pe n ye su a ia n t r a din g t e r m
Pe r it e l w a j ib t a a t i Pe r m e n 5 3
JAKARTA: Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo) mengajukan delapan sikap keberatan
peritel modern atas isi Permendag No. 53/ 2008, dan berkukuh baru akan ada penyesuaian biaya
syarat perdagangan (trading term) 2009 setelah Mendag memberikan solusi.
Sekretaris Jenderal Aprindo Rudy Sumampouw mengatakan peritel modern menuntut janji
Mendag Mari Elka Pangestu untuk membuat aturan yang seimbang, setelah mendengar
masukan dari para peritel dan pemasok sewaktu menggodok juklak Perpres No. 112/2007
tersebut.
"Permendag No. 53/2008 [tentang Pedoman Penataan dan Pembinaan Pasar Tradisional, Pusat
Perbelanjaan dan Toko Modern] jika dilaksanakan banyak menimbulkan masalah. Kami tetap
minta Mendag memberi solusi," kata Rudy kemarin.
Aprindo, melalui siaran persnya, berharap Depdag mengkaji ulang dan memberikan solusi terbaik
demi kemajuan ritel dan ekonomi nasional.
Untuk itu Aprindo melayangkan surat ke Depdag untuk menyatakan keberatan dan kekecewaan
terhadap adanya pembatasan biaya syarat perdagangan dalam permendag, dari aspek yuridis
dan komersialnya.
Rudy mengatakan sesuai dengan pasal 24 permendag, apabila dipandang perlu, menteri dapat
membentuk forum komunikasi yang anggotanya terdiri dari wakil para pemangku kepentingan di
bidang pasar tradisional, pusat perbelanjaan dan toko modern yang masing-masing bertindak
atas nama pribadi secara profesional.
Permendag yang disahkan pada 12 Desember 2008 menjelaskan forum itu memberi
rekomendasi kepada menteri dalam rangka pembinaan dan pengembangan pasar tradisional,
pusat perbelanjaan, dan toko modern.
"Jika ada masalah maka bisa diselesaikan melalui forum komunikasi. Kami mendapat informasi
forum komunikasi akan dibentuk awal Januari," kata Rudy.
Terhadap permendag perihal aturan batasan kesepakatan dagang antara peritel dan pemasok,
Aprindo menyatakan kecewa, keprihatinan dan keberatan dengan mengajukan delapan
pertimbangan.
Harus taat
Gunaryo, Sekretaris Direk torat Jenderal Perdagangan Dalam Negeri Depdag, menegaskan
peitel modern harus mentaati isi aturan Permendag No. 53/ 2008. "Permendag harus
dipedomani. Saya tidak sependapat [mengkaji ulang permendag dan memberikan solusi],"
ujarnya tegas.
Permendag No.53/ 2008 mulai berlaku pada 12 Desember 1008. Permendag ini dibuat setelah
melalui pembahasan panjang dengan pemangku kepentingan, dan aturan yang dibuat memang
tidak akan memuaskan semua pihak.

"Kami minta semua pihak melaksanakan permendag. Siapa yang melanggar, akan kami lihat,"
kata Gunaryo. (linda.silitonga @bisnis. co.id)
Oleh Linda T. Silitonga
Bisnis Indonesia

Bisnis I ndonesia

Selasa, 06 Januari 2009

Kr e dit UM KM a n j lok
PALU: Kredit usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) di Sulawesi Tengah pada Oktober 2008
sebanyak Rp2,24 triliun, atau menyusut lebih dari 50% dibandingkan dengan bulan sebelumnya
Rp5,57 triliun.
Berdasarkan Statistik Ekonomi-Keuangan Daerah Sulteng, penurunan itu dari sektor lain-lain dari
Rp3,26 triliun menjadi Rp1,49 triliun, disusul perdagangan dari Rp1,66 triliun menjadi Rp534,38
miliar, dan sektor jasa Rp360,20 miliar menjadi Rp79,67 miliar.
"Perbankan perlu berhati-hati menyalurkan kredit, sebab krisis keuangan masih sangat terasa di
Indonesia hingga akhir 2009," kata ekonom Unversitas Tadulako Palu Muhamad Nofal Launa.
(Antara)

Bisnis I ndonesia

Selasa, 06 Januari 2009

WIRAUSAHA

Pr ogr a m UM KM k u r a n g f ok u s
PALANGKARAYA: Dinas Koperasi dan UMKM Kalimantan Tengah menilai
pemberdayaan koperasi dan usaha mikro kecil menengah berjalan kurang fokus.

program

"Pemberdayaan itu belum efektif karena banyaknya koperasi dan UMKM sasaran," kata Kepala
Dinas Koperasi dan UKM Kalteng Farid Yusran, pekan lalu.
Koperasi di Kalteng berjumlah 2.061 unit dengan anggota 194.659 orang. Adapun usaha mikro
148.472 unit, usaha kecil 35.292 unit, dan usaha menengah 1.375 unit.
Pemberdayaan koperasi dan UMKM selama ini dilakukan oleh sejumlah satuan kerja perangkat
daerah, dan pihak lain seperti BUMN, BUMD, dan kalangan swasta. (Antara)

Bisnis I ndonesia

Selasa, 06 Januari 2009

UKM h a da pi da m pa k la n j u t a n k r isis globa l
Ekses lanjutan krisis finansial di Amerika Serikat (AS) yang terjadi menjelang akhir 2008 belum
bisa dipastikan, terutama pengaruhnya terhadap sektor usaha kecil dan menengah di Indonesia.
Pelaku UKM memang tangguh menghadapi krisis 10 tahun lalu. Sektor ini mampu menempatkan
diri sebagai katup pengaman bagi perekonomian nasional.
Meski gejolak ekonomi tahun ini tidak di kawasan regional, dampaknya tetap sama. Krisis
memengaruhi kinerja UKM, terutama yang berorientasi ekspor.
UMKM yang mengandalkan sebagian bahan baku impor juga ikut merasai dampak krisis
keuangan global.
Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sofjan Wanandi memprediksi dampak krisis
global akan lebih berat dibandingkan dengan krisis moneter 1998. Perekonomian nasional
diperkirakan baru bisa pulih 2 tahun kemudian.
Jika perkiraan ini akurat, maka sendi perekonomian rakyat menjadi kunci pengaman, yakni
UMKM dan gerakan berbasis koperasi.
Sayangnya, saat sektor UKM dan koperasi bersikap optimistis, justru tak ditopang penguatan
modal memadai. Depkeu menunda pencairan dana bergulir Rp381 miliar.
Dampaknya, sekitar 3.200 koperasi gagal memperoleh penguatan modal rata-rata Rp100 juta.
Anggaran itu dari APBN melalui Kementerian Koperasi dan UKM.
Sebenarnya masih ada dua skema lain untuk pemberdayaan koperasi dan UMKM, yakni kredit
usaha rakyat (KUR) dan Program Nasional Pemberdayaan Masyarakat (PNPM) Mandiri.
Namun, penyaluran KUR masih terfokus kepada debitor baru. Debitor existing tidak diizinkan
mengakses kredit dengan penjaminan pemerintah. Padahal, tujuan KUR mengembangkan
wirausaha yang sudah menjalankan usaha tetapi belum bankable.
Secara logika, bank lebih percaya pada debitor lama karena memiliki track record dibandingkan
dengan debitor baru yang tentu memiliki risiko kredit macet.
Sejauh ini KUR menjangkau 1.567 juta debitor dengan total penyaluran Rp12 triliun, sehingga
pada tahun pertama paket ini diluncurkan dana tersisa hanya Rp2,5 triliun.
Adapun PNPM Mandiri di bawah koordinasi Menteri Koordinator Kesejahteraan Rakyat juga ikut
mendorong penciptaan wirausaha baru. Namun misinya dititikberatkan pada pemberdayaan
perekonomian masyarakat desa.
Pesan penting
Memasuki 2009, tidak ada pesan paling penting bagi pemerintah selain meningkatkan peran
kewirausahaan berbasis komoditas lokal. UMKM yang memiliki basis tersebut harus didorong
untuk menetralisasi gejolak ekonomi.

Presiden SBY juga telah menginstruksikan agar cinta produk Indonesia dijadikan program
nasional sekaligus metode menghadapi masa krisis global.

Bisnis I ndonesia

Selasa, 06 Januari 2009

Sejauh mana keinginan Presiden bisa diimplementasikan, sangat bergantung pada kebijakan
pemerintah pusat, termasuk penggunaan dana bergulir yang mulai tahun ini dimasukkan pada
mata anggaran belanja modal, dari sebelumnya belanja sosial.
Kebijakan inilah yang membuat fungsi pemberdayaan yang dimiliki kementerian pimpinan
Suryadharma Ali akan terganggu. Kementerian Negara Koperasi dan UKM bahkan terancam
dibubarkan berdasarkan UU No. 39 Tahun 2008.
Dalam situasi seperti ini, koperasi simpan pinjam sebagai entitas bisnis perlu mengantisipasi
dampak krisis global. Strateginya, tetap meneruskan dan meningkatkan pemberdayaan bagi
UMKM.
Suryadharma optimistis koperasi jasa keuangan mikro ini memiliki dana untuk membantu UMKM.
Dengan memperkuat sektor itu, dia optimistis UMKM kembali menjadi pengaman dari
peningkatan pengangguran.
Dan, program cinta produk dalam negeri bisa mendorong stabilitas UMKM akan tetap mendapat
pembeli ketika pasar internasional stagnan. (ginting.munthe@bisnis.co.id)
Oleh Mulia Ginting Munthe
Wartawan Bisnis Indonesia

Jurnal Nasional

Selasa, 06 Januari 2009

Ekonomi | Makassar | Selasa, 06 Jan 2009 14:18:40 WIB

Re gu la si Din ila i Be lu m Be r pih a k k e UKM
REGULASI yang ada saat ini belum berpihak secara penuh terhadap sektor Usaha Kecil
Menengah (UKM), padahal di tengah krisis ekonomi global, UKM mampu memperlihatkan
eksistensinya.
"Dua kali krisis yang terjadi, sektor UKM mampu memperlihatkan eksistensinya, karena itu
pemerintah sudah mutlak harus berpihak pada sektor UKM, bukan sekedar `lip service` saja,"
kata salah seorang pengamat ekonomi di Sulsel, Dr Bastian Lubis di Makassar, Selasa (6/1).
Mengenai proyeksi krisis ekonomi global untuk kedua kalinya ini setelah 1997 lalu, ia
mengatakan, diprediksi puncaknya pada Mei 2009. Imbas krisis tersebut tentu akan sangat
berpengaruh terhadap perputaran roda ekonomi Indonesia dan Sulsel pada khususnya.
Sementara upaya untuk menghidupkan UKM, lanjut Direktur Akademi Patria Artha ini, masih
harus melewati banyak prosedur untuk dapat mengakses modal perbankan. Pemerintah sendiri,
masih lebih cenderung memperhatikan kelangkaan atau penurunan aktivitas bursa saham atau
kurs rupiah yang anjlok terhadap dolar AS.
"Dalam hal ini, pihak BI lebih cepat mengambil tindakan untuk mengantisipasinya dari pada
mendorong sektor UKM yang nota bene akan mendorong ekonomi kerakyatan," katanya.
Karena itu, lanjutnya, dalam menghadapi krisis ekonomi global tahun ini, ia mengimbau, agar
pemerintah setempat mengalokasikan dana APBD nya lebih banyak ke sektor padat karya,
sehingga multiplier efeknya lebih banyak dirasakan oleh masyarakat, khususnya masyarakat
ekonomi lemah atau pelaku UKM.
Hal senada di kemukakan Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Sulsel, Latunreng.
Menurutnya, dalam memberikan pijaman kredit kepada pelaku UKM, regulasinya masih sama
dengan pengusaha besar.
"Contohnya, pelaku UKM yang ingin meminjam kredit Rp1 juta di bank, regulasinya sama saja
dengan peminjam kredit Rp5 miliar. Karena itu, jika pemerintah mau benar-benar mendukung
sektor UKM di negara ini, regulasinya harus diubah yakni regulasi yang berpihak ke UKM,"
ujarnya.
Dengan adanya regulasi yang memudahkan UKM, lanjutnya, maka kreativitas pelaku usaha
bermodal kecil dapat semakin terasah dan tingkat ketergantungan dengan negara lain akan
semakin kecil, karena mampu menghasilkan aneka produk sendiri.(Ant)

Jurnal Nasional

Sabtu, 10 Januari 2009

Nusantara | Manado | Sabtu, 10 Jan 2009 14:20:10 WIB

Pe r k u a t Se k t or Riil da n UKM Ce ga h PH K
GUBERNUR Sulawesi Utara (Sulut) SH Sarundajang mengatakan, salah satu solusi pencegahan
Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) besar-besaran akibat krisis ekonomi global, dengan
memperkuat sektor riil dan Usaha Mikro Kecil Menengah (UMKM).
Semua pemangku kepentingan (stakeholder) yang terlibat langsung dengan dunia usaha, untuk
terus menggalakkan sektor riil dan UMKM sebagai landasan ekonomi di daerah, kata Gubernur,
Sabtu (10/1) di Manado.
Dampak krisis ekonomi global belum terasa secara signifikan di Sulut, seiring stabilisasi ekonomi
kerakyatan masih berjalan normal, namun potensi krisis itu bisa terjadi tahun 2009.
Revitalisasi pertanian cukup dominan mengusai kegiatan ekonomi kerakyatan di daerah,
sehingga mampu menjaga ketahanan pangan ditengah masyarakat.
Sementara itu, Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Sulut, Nixon
Watung, tidak menampik jika ancaman PHK besar-besaran bakal terjadi di Sulut, seiring investasi
di daerah itu banyak juga dikuasai Penanaman Modal Asing (PMA).
Selain PMA, ada juga perusahaan dalam negeri yang kegiatan usahanya lebih banyak
melakukan perdagangan keluar negeri, sehingga tidak menutup kemungkinan ancaman PHK,
katanya.
Padahal Pemprop Sulut berhasil menekan angka pengangguran dari tahun 2006 lalu sekitar 14
persen menjadi 12 persen pada tahun 2008, dengan jumlah pendudukan Sulut sekitar 2,4 juta
jiwa.(Ant)

Kompas

Senin, 12 Januari 2009

UM KM Sa bu k Pe n ga m a n Kr isis
Pe r ba n k a n Ba r u M e n ya lu r k a n KUR Rp 7 Tr iliu n
Senin, 12 Januari 2009 | 14:40 WIB
BANDUNG, KOMPAS - Usaha mikro, kecil, dan menengah diharapkan menjadi sabuk pengaman
perekonomian nasional di tengah puncak krisis finansial global yang diperkirakan terjadi pada
2009. Pemerintah, perbankan, dan pelaku UKM harus melakukan kerja sama yang sinergis agar
peluang terciptanya lapangan pekerjaan baru semakin terbuka.
Ketua Jaringan Produktif Koperasi dan Usaha Kecil Menengah (KUKM) Jawa Barat Iwan
Gunawan mengatakan, UMKM seharusnya dapat diandalkan untuk menyerap ribuan tenaga
kerja yang telah ataupun terancam terkena pemutusan hubungan kerja (PHK). "Jika optimal,
setidaknya sektor UMKM dapat menyerap lebih dari 70 persen jumlah tenaga kerja yang diPHK," ungkapnya di Bandung, akhir pekan lalu.
Sejak November 2008, lebih dari 20.000 tenaga kerja di Jabar terkena PHK. Ancaman itu masih
berlanjut tahun 2009 dengan 15.000 pekerja berpotensi kehilangan pekerjaan.
Menurut Iwan, sumbangan UMKM terhadap produk domestik regional bruto (PDRB) di Jabar
tergolong besar, yaitu sekitar 60 persen setiap tahun. Tahun 2004, kontribusi UMKM terhadap
PDRB Rp 182 triliun, sedangkan tahun 2005 mencapai Rp 232 triliun dan tahun 2006 sekitar Rp
283 triliun.
Guna mewujudkan peran UKM dalam krisis, diperlukan dukungan nyata dari berbagai pihak,
termasuk pemerintah. Menurut Iwan, pemerintah harus mampu menjamin kepastian usaha mulai
distribusi, bahan baku, hingga pemasaran.
Selain itu, keberpihakan juga harus ditunjukkan dari sisi penguatan modal usaha. Sejauh ini,
Iwan menilai, UMKM tidak pernah terlepas dari kendala keterbatasan modal. Instrumen kredit
usaha rakyat (KUR) yang didesain pemerintah terbukti belum mampu menyentuh sebagian besar
pelaku usaha yang membutuhkan. Rp 7 triliun
Berdasarkan data Dinas KUKM Jabar, hingga akhir September 2008, penyaluran KUR melalui
perbankan baru sekitar Rp 7 triliun. Padahal, penyaluran dana kredit yang dibutuhkan semua
pelaku KUKM di Jabar mencapai Rp 25 triliun. Secara keseluruhan, hanya sekitar 14 persen dari
7,2 juta pelaku KUKM di Jabar yang tersentuh pembiayaan dari berbagai sektor, termasuk KUR.
Kendati demikian, sejak krisis melanda, perbankan mulai mengintensifkan penyaluran kredit ke
sektor UKM. Pemimpin Wilayah BRI Kantor Wilayah (Kanwil) Bandung Yasirin Ginting
menyatakan akan memprioritaskan penyaluran pembiayaan di sektor UKM, terutama bidang
agro.
Pada 2008, BRI Kanwil Bandung telah menyalurkan KUR lebih dari Rp 1 triliun kepada 220.394
debitor dan 99 persen di antaranya adalah debitor mikro. Kucuran KUR itu terdiri dari KUR mikro
sebesar Rp 841,38 miliar, KUR umum Rp 184,75 miliar, dan KUR linkage program yang
disalurkan kepada 51 debitor sebesar Rp 6,3 miliar.
Kepala Bidang Statistik Distribusi Badan Pusat Statistik Jabar Achmad Kurjatin mengatakan,
upaya pemerintah untuk meningkatkan pemberdayaan UKM dengan penyediaan dana khusus di
perbankan tampaknya belum dapat berjalan optimal. Kondisi itu berhubungan dengan lemahnya
akses UKM ke perbankan sebagai bentuk keterbatasan pengetahuan dan informasi pelakunya.

Kompas

Senin, 12 Januari 2009

Guru besar dari Fakultas Ekonomi Universitas Padjadjaran, Ina Primiana, mengatakan, kondisi
UKM terus berubah karena krisis global. Oleh karena itu, pemerintah kabupaten/kota diharapkan
senantiasa dapat memperbarui data yang diserahkan kepada provinsi. Data yang akurat tentang
UKM diperlukan untuk menangangi masalah sektor tersebut.
Kepala Bidang Monitoring dan Evaluasi Badan Perencanaan Daerah Jabar Feri Sofwan
mengatakan, guna menekan masalah permodalan, disediakan KUR dan Program Kemitraan Bina
Lingkungan dengan suku bunga yang tidak terlalu memberatkan. (gre/bay)

Bisnis I ndonesia

Selasa, 13 Januari 2009

D r a f a w a l RPP UKM disu su n
JAKARTA: Kementerian Negara Koperasi dan UKM tengah menyusun draf awal Rancangan
Peraturan Pemerintah (RPP) sebagai implementasi dari Undang-Undang No.20/2008 tentang
usaha mikro, kecil menengah (UMKM).
Draf RPP tersebut mencakup persyaratan dan tata cara permohonan izin usaha, tata cara dan
pengembangan, prioritas, intensitas dan jangka waktu pengembangan serta pola kemitraan,
koordinasi dan pengendalian pemberdayaan UMKM maupun pemberian sanksi administratif.
Peraturan yang berada di bawah pelaksana kerja Asisten Deputi Bidang Peraturan Perundangundangan ini ditetapkan menyusul telah disahkannya UU No.20 itu. (Bisnis/mgm)

Bisnis I ndonesia

Selasa, 13 Januari 2009

Ek spor k e r a j in a n Ja t im t a k t e r pe n ga r u h k r isis
SURABAYA: Kinerja ekspor produk kerajinan (handicraft) Jatim pada 2009 diperkirakan tidak
akan signifikan terpengaruh krisis global, mengingat komoditas tersebut memiliki posisi tawar
kuat dengan mengandalkan desain unik dan tingginya kandungan lokal.
Kendati 2 bulan terakhir terjadi krisis global, berdasarkan data di Disperindag Jatim ekspor
kerajinan provinsi ini pada 2008 masih tumbuh 15% dibandingkan dengan 2007. Sampai akhir
Desember 2008 nilai transaksi ekspor nonmigas tersebut tercatat Rp28,2 miliar. Sementara
tahun lalu hanya sekitar Rp23,97 miliar.
Kepala Badan Pelayanan Pendidikan dan Promosi Ekspor (BP3E) Jatim Liri L. Idham
mengatakan prospek pasar aneka kerajinan Jatim di luar negeri masih besar, khususnya untuk
produk berbahan baku kayu.
Hal ini karena produk itu dinilai bersifat alami dan tidak mengandung bahan kimia yang
berbahaya.
"Negara tujuan ekspor utama handicraft Jatim adalah Jepang, Prancis, dan Belanda, dengan
pesaing produk Vietnam. Dengan keunggulan desain dan kualitasnya, kerajinan Indonesia
memiliki peluang besar," kata Liri, yang juga mantan kasubdin perdagangan luar negeri
Disperindag Jatim.
Menurut dia, ada 7.000-10.000 UKM di Jatim yang mempunyai peluang ekspor cukup besar,
tetapi terhambat oleh minimnya pengetahuan mengenai strategi mengakses pasar internasional,
termasuk pengenalan teknologi informasi (TI).
"Kami berharap dalam tempo satu tahun 600 UKM bisa menjadi eksportir."
Itu sebabnya, lanjunya, perlu adanya kesadaran dari para perajin untuk meningkatkan kualitas
produknya. Adapun bagi pabrikan skala besar harus bisa mengikuti perkembangan tren di luar
negeri.
Semua pasar
Strategi itu dibutuhkan, lanjutnya, untuk menjangkau semua pasar, baik yang menyukai desain
etnik tradisional maupun modern, misalnya pada produk mebel, pernak pernik interior rumah,
atau hotel, dan sebagainya.
Apalagi sebagian besar eksportir kerajinan dari Jatim ini baru merupakan UKM.
"BP3E siap memfasilitasi kebutuhan pengusaha kerajinan, melalui program pelatihan untuk
meningkatkan daya saing dan memasarkan produk," paparnya.
Tahun ini, tambahnya, BP3E Jatim menyiapkan sedikitnya 24 program pelatihan bagi usaha kecil
dan menengah di bidang kerajinan, termasuk peningkatan kualitas SDM dan strategi pemasaran
produk.
"Selain adanya peningkatan kualitas, penting juga untuk mengetahui cara promosi untuk
pemasaran ekspor," katanya.

Dewan Penasihat Asosiasi Pengusaha dan Eksportir Rotan Indonesia (Asperi) Effendi Kusnadi
sebelumnya mengatakan pasokan rotan untuk industri mebel dan kerajinan di Jatim terus
menurun menyusul sepinya pesanan dari luar negeri.

Bisnis I ndonesia

Selasa, 13 Januari 2009

Sebagaimana diketahui sebagian besar produk mebel rotan Jatim diekspor ke Amerika Serikat
dan sejumlah negara di Eropa.
Menurut dia, gejala penurunan produksi mebel dan kerajinan rotan di Jatim ini sebenarnya sudah
terjadi beberapa bulan yang lalu.
"Namun, beberapa hari terakhir ini turunnya permintaanya cukup drastis karena tinggal 50%-an
dibandingkan dengan sebelum terjadi krisis global," papar Effendi.
Oleh Dwi Wahyuni
Bisnis Indonesia

Bisnis I ndonesia

Selasa, 13 Januari 2009

Pe m ba n gu n a n pa sa r pe r lu liba t k a n p e da ga n g
t r a dision a l
oleh : Nurudin Abdullah
JAKARTA (Bisnis.com): Pedagang pasar tradisional di Jakarta meminta agar dilibatkan dalam
setiap rencana pembangunan pasar, diberikan diskon harga tempat usaha hasil renovasi dan
statusnya sebagai strata title yang dapat diagunkan ke bank.
Ketua Umum Pusat Koperasi Pedagang Pasar (Puskoppas) DKI Jakarta Wirman Shahab
mengatakan permintaan para pedagang menjadi rekomendasi yang yang harus dilaksanakan
pada setiap pembangunan pasar yang bangunannya menyatu dengan rumah susun/apartemen,
perkantoran dan hotel.
“Kami harapkan rekomendasi kami dan Asosiasi Pedagang Pasar Seluruh Indonesia (APPSI)
Jakarta dapat dimasukkan dalam revisi Perda No.6/1992 tentang pengurusan pasar dalam
wilayah DKI yang sedang dibahas DPRD,” katanya hari ini.
Dia mengatakan para pedagang melalui perwakilannya yang sah harus dilibatkan dalam setiap
rencana pembangunan pasar yang konsep dibuat menyatu dengan bangunan tempat hunian dan
pusat niaga a.l. mencakup soal harga tempat usaha atau kios dan pembagian tempat sesuai
komoditas dagagang.
Selanjutnya kepada para pedagang, khususnya yang sudah puluhan tahun berjualan di pasar
trandisonal tersebut diberikan harga spesial dengan potongan harga minimal 20% dan status
tempat usahanya hak guna bangunan berupa strata title.
Senada dengan Wirman, Ketua Bidang Organisasi DPW APPSI Jakarta Asnawi mengatakan
penetapan status kepemilikan tempat usaha agar mengacu pada UU Pokok Agraria No.5/1960
dan peraturan perundangan rumah susun.
Sehingga, lanjutnya, tujuan untuk meningkatkan kesejahteraan para pedagang melalui
kepemilikan hak atas tempat usahanya dapat terwujud, terutama jika pembahasan draf revisi
Raperda No.6/1992 setuju sertifikat hak pakai tempat usaha berlaku 25 tahun.
“Sertifikat hak pakai tempat usaha sebagai bukti hak pemakaian tampat usaha yang berlaku
untuk jangka waktu paling lama 25 tahun yang dapat dijadikan agunan jika masa berlakunya
dapat diperpanjang,” katanya. (mmh)

Bisnis I ndonesia

Selasa, 13 Januari 2009

M oda l UKM ca pa i t a r ge t
TANGERANG: Kegiatan pembiayaan untuk penyertaan modal bagi Lembaga Pembiayaan dan
Pengembangan Usaha Mikro Kecil dan Menengah (LPP-UMKM) 2008 di Kabupaten Tangerang,
Provinsi Banten, melampaui target.
"Pencapaian target dan pengembaliannya mencapai 101,71%," kata Koordinator LPP UMKM
Kabupaten Tangerang, Komarudin Batubara, kemarin.
Pelaku ekonomi yang menjadi nasabah LPP UMKM yakni pemilik usaha warung dan industri
rumah tangga dengan jumlah nasabah mencapai 23.450 anggota yang direkrut sejak 2003.
(Antara)

Suara Pembaruan

Selasa, 13 Januari 2009

M u a m a la t Fok u s Pa da Pe m bia ya a n UM KM
[JAKARTA] Sesuai amanat pendiriannya, PT Bank Muamalat Indonesia Tbk (Bank Muamalat)
pada 2009 terus fokus mendorong pertumbuhan sektor usaha menengah kecil dan mikro
(UMKM) dengan alokasi pembiayaan 2009 sekitar Rp 1 triliun.
"Porsi pembiayaan UMKM 2009 sekitar 70 persen dari total target portofolio kredit 2009.
Alokasinya bisa mencapai Rp 1 triliun," kata Direktur Administration and Financing, Bank
Muamalat, Andi Buchari, pada silahturahmi wartawan, di Jakarta, Senin (12/1).
Adapun, sambung nya, target pertumbuhan kredit 2009 adalah 10 persen. Pada laporan
keuangan un-audited pertumbuhan pembiayaan 2008 mencapai 22 persen atau sebesar Rp
10,48 triliun dari Rp 8,62 tri- liun pada 2007.
Sementara, tingkat pembiayaan bermasa- lah (non performing financing/NPF) hingga akhir 2008,
di posisi 3,8 persen dengan rasio kredit terhadap simpanan (FDR) sebesar 104 persen. Sedang,
return on equity (RoE) dan return on asset (RoA), masing-masing tumbuh 40 persen dan 2,6
persen hingga akhir 2008.
Andi mengatakan, peningkatan NPF pada 2009 tidak terhindarkan. Untuk meredamnya, Bank
Muamalat telah mengklasifikasi debitornya.
"Mereka yang menerima pembiayaan terklasifikasi menjadi sensitif terhadap krisis, kurang
sensitif, dan tidak terpengaruh krisis. Terlihat, mereka lebih banyak yang tidak terpengaruh krisis,
seperti penerima pembiayaan di sektor infrastruktur, agrikultur, dan komoditi," tuturnya.
Untuk mengejar pertumbuhan kredit yang sebagian besar untuk UMKM, ujarnya, Bank Muamalat
terus mengoptimalkan pembiayaan langsung dan linkage program melalui Bank Perkreditan
Rakyat (BPR) Syariah, dan kerja sama dengan koperasi, serta lembaga keuangan mikro dan
syariah (LKM/S) lainnya.
"Kami juga akan menambah kantor cabang sebanyak 70 outlet pada 2009 sehingga total outlet
menjadi 350. Tahun kemarin kami telah menambah 33 kantor cabang, dimana 8 di anta-ranya
telah beroperasi," jelasnya.
Meningkat
Pada 2008, Bank Muamalat meraih laba dengan total Rp 304 miliar dari target Rp 277 miliar.
Pertumbuhan aset yang dicapai pada 2008, meningkat 20 persen dari Rp 10,57 triliun pada 2007
menjadi Rp 12,67 triliun.
Andi menjelaskan, pertumbuhan kredit dan penambahan porsi dana retail, yang akan didominasi
dana murah, seperti tabungan dan giro, merupakan fokus Bank Muamalat dalam mengejar
pertumbuhan aset sebesar 20 persen pada 2009. Komposisi dana pihak ketiga pada 2008 terdiri
dari deposito 53,55 persen, Giro 7,49 persen, dan tabungan 38,93 persen.
Terhadap kemungkinan bakal tergerusnya kecukupan modal (capital adequate ratio/CAR), kata
Direktur Compliance and Corporate Support, Bank Muamalat, M Hidayat, korporasi akan
melakukan penerbitan saham (right issue) yang direncanakan bakal terlaksana semester dua
2009.

Diharapkan, penambahan modal dari proses tersebut, bisa mencapai Rp 1 triliun dan akan
diutamakan para pemegang saham lama, seperti Islamic Development Bank (IDB), Boubyan
Bank Kuwait , dan Atwill Holdings Limited.

Suara Pembaruan

Selasa, 13 Januari 2009

"Tingkat FDR 104 persen merupakan konsekuensi ekspansi bisnis tahun lalu. Untuk mendukung
pertumbuhan, kami akan mengadakan capital rising dari proses right issue. Selain itu, kami akan
menyisihkan laba ditahan sebesar 60 persen, sehingga CAR bisa di atas 12 persen," ucapnya.
[RRS/M-6]

Bisnis I ndonesia

Rabu, 14 Januari 2009

WIRA USAHA

Ak se s pa sa r UKM dit in gk a t k a n
JAKARTA: Pemerintah telah melakukan peningkatan akses pasar dan daya saing produk
terhadap koperasi dan usaha mikro, kecil menengah (KUMKM) sedikitnya kepada 2.143 pelaku
usaha sepanjang 2008.
Peningkatan akses pasar dan daya saing produk tersebut dilakukan Kementerian Negara
Koperasi dan UKM melalui temu karya bagi 100 perajin UMKM yang bergerak di bisnis kerajinan
(handicraft). (Bisnis/mgm)

Bisnis I ndonesia

Rabu, 14 Januari 2009

Ke m e n e g Kope r a si & UKM la n j u t k a n
pr ogr a m Pe r k a ssa di 6 pr ovin si
JAKARTA: Kementerian Negara Koperasi dan UKM pada tahun ini meneruskan program
pembentukan koperasi berbasis SDM wanita, yakni perempuan keluarga dan sehat sejahtera
(Perkassa) di enam provinsi.
Alfaini Kosim, Asisten Deputi Keanggotaan Koperasi dan UKM Kementerian Koperasi dan UKM,
menjelaskan sosialisasi pembentukan koperasi Perkassa itu difokuskan di Kalimantan Barat,
Kepulauan Riau, Sulawesi Utara Sumatra Selatan dan Banten.
"Kami tidak hanya menyosialisasikan pembentukan koperasi wanita (Kopwan) Perkassa oleh
masyarakat umum, tapi juga mencakup pembentukan koperasi dari kelompok usaha masyarakat
binaan instansi terkait," katanya kemarin.
Tahun lalu Kementerian Koperasi dan UKM juga melakukan sosialisasi di empat provinsi, yakni
Sumatra Utara, Sumatra Barat, Sulawesi Selatan dan Kalimantan Tengah. Secara keseluruhan di
semua provinsi terbentuk 345 koperasi Perkassa.
Selain itu kegiatan sosialisasi di Provinsi Riau, Bangka Belitung, Kalimantan Barat dan Sulawesi
Barat juga berhasil melahirkan koperasi dari kelompok usaha binaan instansi terkait dan
organisasi masyarakat.
Menurut Alfaini, kegiatan tersebut dimaksudkan untuk meningkatkan kapasitas kelompok usaha
masyarakat berbasis wanita, terutama yang sudah memiliki usaha produktif menjadi lembaga
berbentuk koperasi.
Prioritasnya diarahkan pada pembentukan koperasi yang dikelola wanita (Kopwan) dan
selanjutnya diberdayakan melalui program Perkassa. Kementerian Koperasi dan UKM memberi
pinjaman untuk penguatan modal masing-masing sebesar Rp100 juta.
Dari kegiatan sosialisasi program Perkassa di delapan provinsi pada 2008, terbentuk sejumlah 59
koperasi atau hanya 36% dari target awal, yakni 150 Kopwan. Pada tahun ini Kementerian
Koperasi dan UKM menargetkan pertumbuhan Perkassa.
"Mestinya pada tahun ini ada peningkatan pertumbuhan karena pada umumnya sudah banyak
kelompok berkoperasi. Kami hanya akan memperkuat kelompok itu dari sisi legalitasnya saja."
Menurut Alafaini, Perkassa memang program Kementerian Negara Koperasi dan UKM, tetapi
perlu dukungan dari pemerintah daerah. Sebagai contoh di Pekan Baru, Riau, Pemda setempat
memberi modal kepada setiap kelompok sebesar Rp10 juta untuk membentuk koperasi.
Dengan dukungan dari pemda setempat, dia optimistis program Perkassa tahun ini bisa
meningkat dibandingkan dengan tahun sebelumnya.
"Pada tahun ini Pemda NTT sudah mengajukan permohonan agar Kementerian Koperasi dan
UKM memfasilitasi pendirian Kopwan melalui sosialisasi."
Oleh Mulia Ginting Munthe
Bisnis Indonesia

Bisnis I ndonesia

Rabu, 14 Januari 2009

Pe r it e l da pa t r e t u r pr odu k ba r u da la m 3 bu la n
Pr om osi pr odu k t a k k e n a bia ya t a m ba h a n
JAKARTA: Departemen Perdagangan menetapkan toko modern dapat mengembalikan produk
baru kepada pemasok tanpa pengenaan sanksi, apabila setelah dievaluasi selama 3 bulan tidak
memiliki prospek penjualan.
Aturan yang tertuang dalam Permendag No. 53/2008 yang diinisiasi Depdag itu juga
menegaskan tidak ada tambahan biaya yang dikeluarkan pemasok untuk promosi produk baru,
karena sudah termasuk dalam kontrak biaya syarat perdagangan (trading term) yang sudah
ditandatangani sebelumnya.
Baik Asosiasi Pengusaha Pemasok Pasar Modern Indonesia (AP3MI) maupun Gabungan
Pengusaha Makanan dan Minuman Seluruh Indonesia (Gapmmi) mengharapkan aturan yang
mengizinkan retur barang baru yang tidak laku, jangan sampai merugikan pihak industri.
"Sebelum Permendag No. 53 keluar, biasanya peritel modern melakukan evaluasi penjualan
produk baru selama satu tahun, karena kami membayar listing fee [biaya administrasi pedaftaran
barang] dan biaya promosi tambahan yang disebut on top yang cukup besar," kata Ketua Umum
AP3MI Susanto kepada Bisnis, kemarin.
Dia mengatakan sebelum dikeluarkannya permendag, besarnya biaya yang harus dikeluarkan
untuk bisa menjual produk baru di toko modern menjadi salah satu kendala pemasok atau
industri.
Hal ini karena toko modern menetapkan biaya syarat perdagangan baru kepada pemasok bila
ada produk baru, terutama untuk perincian biaya promosi yang harus ditanggung pemasok,
sebagai tambahan biaya yang telah ditetapkan dalam kontrak syarat perdagangan.
Susanto mengakui aturan baru terkait dengan penjualan produk baru di toko modern
meringankan pemasok dalam jumlah biaya yang dikeluarkan untuk listing fee dan promosi,
sebaliknya tenggang waktu yang terbatas untuk evaluasi penjualan cukup menghawatirkan.
Jumlah wajar
Ketua Umum Gapmmi Thomas Darmawan m