Pengaruh Penerapan Manajemen Kesetan dan Kesehatan Kerja Terhadap Perilaku kesetan Karyawan PT PDSI Rantau Aceh Tamiang Tahun 2014

(1)

BAB 1 PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang

Tindakan tidak aman merupakan salah satu faktor penyumbang terbesar kecelakaan kerja, yang merupakan cerminan dari perilaku pekerja terhadap keselamatan kerja. Tindakan tidak aman ini dapat dianggap sebagai hasil dari kesalahan yang dilakukan baik oleh pekerja yang terlibat secara langsung maupun kesalahan yang dilakukan oleh organisasi yaitu pihak manajemen. Suatu tindakan tidak aman yang merupakan pelanggaran dari peraturan atau standar yang dilakukan oleh pekerja bisa secara sadar maupun tidak sadar, memungkinkan sebagai penyebab terjadinya suatu kecelakaan. Dengan meningkatkan perilaku pekerja dan memfokuskan pada pengurangan tindakan tidak aman terhadap keselamatan kerja dapat mencegah atau mengurangi timbulnya kecelakaan kerja (Prasetiyo, 2011).

Menurut data International Labour Organization (ILO), setiap tahun terjadi 1,1 juta kematian yang disebabkan oleh karena penyakit atau kecelakaan akibat hubungan pekerjaan. Sekitar 300.000 kematian terjadi dari 250 juta kecelakaan dan sisanya adalah kematian karena penyakit akibat hubungan pekerjaan, dimana diperkirakan terjadi 160 juta penyakit akibat hubungan pekerjaan baru setiap tahunnya (Depnakertrans RI, 2010). Setiap jamnya, sedikitnya terjadi satu kasus kecelakaan kerja di Indonesia. Data Departemen Tenaga Kerja dan Transmigrasi menyebutkan bahwa pada tahun 2010 sedikitnya terjadi 65.000 kasus kecelakaan


(2)

kerja dimana jumlah ini telah mengalami penurunan bila dibandingkan tahun 2009 sebanyak 96.314 kasus kecelakaan kerja. Walaupun demikian, kasus kecelakaan kerja di Indonesia masih relatif tinggi bila dibandingkan dengan negara lain. Berdasarkan hasil penelitian yang diadakan ILO mengenai standar kecelakaan kerja, Indonesia menempati urutan ke-152 dari 153 negara yang diteliti (Depnakertrans RI, 2010).

Sebesar 80-85% kecelakaan kerja disebabkan oleh kelalaian manusia. Selain kelalaian saat bekerja faktor manusia yang lain yaitu perilaku penggunaan Alat Pelindung Diri (APD). Tenaga kerja sebagai sumber daya manusia mempunyai peran yang penting dalam rangka mengembangkan dan memajukan suatu industri. Oleh sebab itu pekerja harus diberi perlindungan melalui usaha-usaha peningkatan dan pencegahan, sehingga semua industri baik formal maupun informal diharapkan dapat menerapkan K3 di lingkungan kerjanya (Dianingtyas, 2012).

Keberhasilan pelaksanaan peraturan Keselamatan dan Kesehatan Kerja (K3) di perusahaan tidak lepas dari sikap kepatuhan personal baik dari pihak karyawan maupun pihak manajerial dalam melaksanaan peraturan dan kebijakan K3. Menurut Saifuddin dalam Wardani (2009) kepatuhan merupakan sikap seseorang untuk bersedia mentaati dan mengikuti spesifikasi, standar atau aturan yang telah diatur dengan jelas, dimana aturan tersebut diterbitkan oleh perusahaan yang bersangkutan dan lembaga lain yang berwenang. Dalam hal ini peraturan tersebut bersifat spesifik dan tertuang dalam safety policy statement serta buku pedoman K3 (Occupation of Health and Safety Handbook). Prasetyo dan Haris (2011) dalam penelitiannya menyatakan bahwa faktor yang paling berpengaruh


(3)

terhadap perilaku keselamatan kerja di Semarang adalah komitmen manajerial. Sejalan dengan penelitian Prasetyo dan Haris (2011), sementara Basri (2013) dalam penelitiannya menyatakan bahwa ternyata manajemen K3 berhubungan dengan terjadinya kecelakaan kerja di Laboratorium patologi klinik Rumah Sakit Umum Daerah Dr. H. Moh. Anwar Sumenep.

Keselamatan Kesehatan Kerja (K3) merupakan salah satu aspek perlindungan tenaga kerja sekaligus melindungi aset perusahaan. Hal ini tercermin dalam pokok-pokok pikiran dan pertimbangan dikeluarkannya Undang- undang No. 1 Tahun 1970 tentang Keselamatan Kerja yaitu bahwa setiap tenaga kerja berhak mendapat perlindungan atas keselamatan dalam melakukan pekerjaan, dan setiap orang lainnya yang berada di tempat kerja perlu terjamin pula keselamatannya serta setiap sumber produksi perlu dipakai secara aman dan efisien, sehingga proses produksi berjalan lancar (Anizar, 2009). Hal lain yang dapat mendukung adanya keselamatan kerja adalah sifat dari para pekerja. Apabila seorang pekerja ternyata tidak mempunyai sifat atau kesadaran untuk melakukan usaha keselamatan kerja dan ternyata pihak pengusaha sudah berupaya untuk melakukan keselamatan bagi para pekerjanya, sangatlah sulit mewujudkan adanya keselamatan kerja tersebut.

Untuk meningkatkan kinerja agar lebih baik perlu ditunjang dengan adanya lingkungan kerja yang mendukung. Lingkungan yang menyenangkan dan memberikan kepuasan serta rasa aman memiliki kecenderungan mempengaruhi peningkatan kinerja, karena karyawan tidak merasa terganggu dalam melaksanakan tugas-tugasnya, sehingga mereka lebih tenang, aktif, tekun dan serius menghadapi


(4)

tugas-tugasnya. Zainun (2004) mengatakan bahwa kinerja pegawai ditentukan pula oleh faktor-faktor lingkungan luar dan iklim kerja organisasi. Bahkan kemampuan kerja dan motivasi itu pun ditentukan pula oleh faktor-faktor lingkungan organisasi itu. Sedangkan Hendiana dalam Ishak dan Tanjung (2004) mengatakan faktor motivasi yang berhubungan nyata terhadap kondisi pemberdayaan pegawai di antaranya yaitu kondisi lingkungan kerja baik secara fisik maupun non fisik. Berdasarkan kedua pendapat di atas dapat dikatakan bahwa lingkungan kerja berperan penting dalam meningkatkan kinerja yang lebih baik. Jika lingkungan kerja menyenangkan, maka karyawan akan bekerja dengan bergairah dan lebih serius.

Lingkungan kerja yang kurang mendapat perhatian akan membawa dampak negatif dan menurunkan semangat kerja, hal ini disebabkan pegawai dalam melaksanakan tugas mengalami gangguan, sehingga kurang semangat dan kurang mencurahkan tenaga dan pikirannya terhadap tugasnya. Penciptaan iklim yang menyenangkan, antara lain dengan adanya pengaturan penerangan, pengontrolan terhadap suara-suara yang mengganggu dan perlu adanya penerangan yang sesuai dengan kebutuhan dan sirkulasi udara dalam ruangan yang menyegarkan serta perlunya kebersihan lingkungan yang menimbulkan rasa nyaman. Diyahrini (2010) mengatakan penciptaan lingkungan kerja yang sehat untuk menjaga kesehatan para karyawan dari gangguan-gangguan penglihatan, pendengaran, kelelahan dan lain-lain. Purnomo (2008) dalam penelitiannya mengenai kepemimpinan, motivasi kerja, dan lingkungan kerja, terhadap kinerja karyawan menunjukkan hasil yang signifikan.


(5)

Dimana variabel motivasi kerja dan lingkungan yang mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap kinerja karyawan.

Selain faktor motivasi kerja, lingkungan kerja tempat karyawan tersebut bekerja juga tidak kalah pentingnya didalam meningkatkan kinerja karyawan. Lingkungan Kerja adalah kondisi - kondisi material dan psikologis yang ada dalam organisasi. Maka dari itu organisasi harus menyediakan lingkungan kerja yang memadai seperti lingkungan fisik (tata ruang kantor yang nyaman, lingkungan yang bersih, pertukaran udara yang baik, warna, penerangan yang cukup maupun musik yang merdu), serta lingkungan non fisik (suasana kerja karyawan, kesejahteraan karyawan, hubungan antar sesama karyawan, hubungan antar karyawan dengan pimpinan, serta tempat ibadah). Lingkungan kerja yang baik dapat mendukung pelaksanaan kerja sehingga karyawan memiliki semangat bekerja dan meningkatkan kinerja karyawan (

Interaksi antara individu dengan lingkungan menimbulkan persepsi yang berbeda-beda dari masing-masing individu. Persepsi merupakan salah satu fungsi kognitif yang dimiliki oleh setiap individu. Persepsi terhadap lingkungan kerja fisik, menurut Bechtel dan Chruchman (2002), dapat dievaluasi melalui perilaku keselamatan kerja. Hal serupa juga diungkapkan Mcloy (2002), dimana lingkungan kerja fisik dapat dievaluasi sebagai adaptasi, kelelahan, stres, keselamatan dan keamanan.

Diyahrini 2010).

Pencegahan dan pengurangan kecelakaan serta penyakit akibat kerja dapat dilakukan dengan menerapkan sistem manajemen keselamatan dan kesehatan kerja


(6)

(SMK3). Hal ini disebabkan oleh kecelakaan kerja selama ini sebagian besar disebabkan oleh faktor manajemen, di samping faktor manusia dan teknis (Institut K3 Indonesia, 1998). Sastrohadiwiryo (2005) menyatakan bahwa tujuan dan sistem manajemen K3 adalah menciptakan suatu sistem dengan tujuan untuk mencegah dan mengurangi kecelakaan serta penyakit yang dikibatkan oleh pekerjaan, menciptakan lingkungan kerja yang aman, efisien, dan produktif, dimana program ini merupakan suatu sistem keselamatan dan kesatuan kerja yang melibatkan unsur manajemen, tenaga kerja, kondisi, dan lingkungan yang terintegrasi.

Penelitian Amin (2011) dengan judul “Pengaruh Penerapan Manajemen Keselamatan dan kesehatan Kerja (K3) terhadap Produktivitas Karyawan Melalui Pencapaian zero accident (Studi pada PT Pertamina Depot Malang)” meneliti variabel K3, produktivitas karyawan dan pencapaian zero accident, dengan menggunakan teknik analisis jalur (Path Analysis). Hasil penelitian menunjukkan terdapat pengaruh secara langsung dan signifikan antara variable K3 terhadap pencapaian zero accident dan produktivitas karyawan, terdapat pengaruh secara tidak langsung terhadap produktivitas karyawan melalui pencapaian zero accident, dan terdapat pengaruh secara tidak langsung kesehatan kerja terhadap produktivitas karyawan melalui pencapaian zero accident.

Hofman dan Moregson (dalam Freaney, 2011) mendefinisikan perilaku keselamatan adalah sikap kepatuhan terhadap prosedur dan praktek-praktek keselamatan yang ditetapkan. Selain itu perilaku keselamatan juga dapat diartikan sebagai tindakan atau kegiatan yang berhubungan dengan faktor keselamatan kerja.


(7)

Penelitiaan Cooper dan Philips (2004) menunjukkan adanya hubungan antara persepsi iklim keselamatan dengan perilaku keselamatan. Sementara Arezes dan Miguel (2008), serta Larsson, Pousette dan Torner (2008), mengemukakan salah satu dimensi iklim keselamatan adalah lingkungan kerja fisik. Hal ini menggambarkan hubungan antara persepsi lingkungan kerja fisik dengan perilaku keselamatan kerja.

Perilaku Keselamatan (safety performance) adalah perilaku kerja yang relevan dengan keselamatan dapat dikonseptualisasikan dengan cara yang sama dengan perilaku-perilaku kerja lain yang membentuk perilaku kerja. Perilaku keselamatan merupakan aplikasi dari perilaku petugas yang ada di tempat kerja (Griffin dan Neal, 2000). Perilaku keselamatan adalah perilaku tugas dan perilaku kontekstual, Borman dan Motowidlo, (1993) dalam (Griffin dan Neal, 2000) yaitu pematuhan dan partisipasi individu pada aktivitas-aktivitas pemeliharaan keselamataan di tempat kerja. Sebagai umpan balik maka karyawan hendaknya menyadari arti pentingnya keselamatan bagi dirinya maupun bagi perusahaan tempat bekerja.

Rahaidi (2011) dalam penelitiannya menunjukkan bahwa para karyawan mempersepsikan lingkungan kerja fisik mereka memiliki suhu udara yang panas dan berdebu, kondisi tersebut menjadi keluhan utama para karyawan yang ada disana, kenyataannya penggunaan alat pelindung diri sebagai upaya teknis mencegah terjadinya kecelakaan masih belum dilaksanakan sebagaimanamestinya. Hal ini menunjukkan anggapan karyawan terhadap risiko di lingkungan kerja masih belum tampak dalam perilaku keselamatan karyawan, sehingga menunjukkan masih rendahnya perilaku keselamatan kerja karyawan di perusahaan tersebut.


(8)

PT PDSI Rantau Aceh Tamiang merupakan anak perusahaan PT Pertamina (Persero) yang berdiri sejak tahun 2007 yang bergerak dalam bidang jasa pengeboran Minyak Bumi dan Gas. PT PDSI Rantau Aceh Tamiang mempunyai karyawan sebanyak 416 orang yang tersebar di enam Rig pengeboran. Sebagian besar karyawan bekerja di lapangan dimana risiko untuk terjadi kecelakaan akibat kerja sangat besar karena proses pengeboran yang memerlukan ketelitian dan kehati-hatian dalam melakukan pekerjaan dan kondisi lingkungan yang tidak aman. Manajemen PT Pertamina Drilling Serivices Indonesia (PDSI) mempunyai visi kepemimpinan serta komitmen yang kuat, dan memastikan bahwa komitmen tersebut telah diterjemahkan dalam bentuk keperdulian terhadap sumber daya, untuk perkembangan, pengoperasian dan memelihara sistem aspek Kesehatan, Keselamatan Kerja dan Lindungan Lingkungan (K3LL) dan untuk mencapai tujuan dari kebijakan K3LL yang telah disepakati. Manajemen memastikan untuk bertanggung jawab atas kebijakan yang telah disepakati dan akan mendukung penuh terhadap perlindungan K3LL.

Pimpinan Drilling area Nad - Sumbagut secara berkala setidaknya satu bulan sekali melakukan inspeksi dari pelaksanaan K3LL, menghadiri rapat K3LL yang dihadiri oleh seluruh pekerja di lingkungan proyek untuk memantau penerapan K3LL di lokasi pekerjaan pada proyek Pengeboran dan KUPL di lapangan PT PERTAMINA EP Field Rantau. Tim manajemen Proyek berkewajiban: menyediakan sumber daya yang cukup untuk K3LL; berpartisipasi dalam program audit K3 dan program pengidentifikasian, penilaian dan pengendalian bahaya; mengunjungi semua


(9)

area dalam pengontrolan vendor dan harus sangat terlibat dalam rencana ini; bertindak secara benar dan secepatnya dengan semua yang tidak sesuai dengan aturan-aturan K3LL; berpartisipasi dalam penyelidikan kecelakaan dan meneliti laporan kecelakaan dan menentukan dan melaksanakan cara-cara perbaikannya; yakin bahwa vendor dan pemasok sadar dan menuruti K3LL Plan dan sasaran-sasarannya dan memonitor pelaksanaan K3LL semua seksi yang dikontrolnya. Dari laporan management K3LL PT PDSI Rantau Aceh Tamiang tersebut juga terlihat bahwa pihak manajemen telah mengadakan pemantauan kondisi lingkungan fisik setiap tahun.

Dari laporan pengukuran kualitas udara di tempat kerja yang dilakukan oleh pihak manajemen PT PDSI pada tanggal 9 Januari tahun 2014, di tempat Rig H35 UY6 lokasi 6B-22 terdapat dua lokasi yang tidak memenuhi persyaratan untuk suhu (180 C-280 C) yaitu pada portcamp opr.Crane 290 C dan portcamp driver 29,90 C. Pemantauan tingkat pencahayaan yang dilakukan pada tanggal 15 Januari 2014 untuk tempat Rig H35 UY6 lokasi 6B-22 dari 8 titik pengukuran terdapat 2 titik pengukuran dengan hasil kurang baik; di tempat CWKT 210B No.24/41 lokasi RNT-S2 16 terdapat 5 titik pengukuran kurang baik dari 12 titik pengukuran; di tempat IH30FD/23 lokasi PT-10 dari 13 titik pengukuran terdapat 5 titik pengukuran yang tidak baik; tempat SKYTOP RR 650 lokasi P-252 TW dari 8 titik pengukuran terdapat 2 titik pengukuran kurang baik; di tempat LTO 300/37 lokasi R-071 dari 8 titik pengukuran terdapat 1 titik pengukuran kurang baik dan untuk tempat kantor, semua titik pengukuran memenuhi persyaratan yang baik.


(10)

Sementara dari hasil pengukuran kebisingan yang dilakukan pada tanggal 9 Januari tahun 2014, di tempat Rig H35 UY6 lokasi 6B-22 dari 8 titik pengetesan terdapat 4 titik yang direkomendasikan harus menggunakan ear plug; di tempat CWKT 210B No.24/41 lokasi RNT-S2 16 dari 9 titik pengetesan terdapat 4 titik yang direkomendasikan harus menggunakan ear plug ; di tempat IH30FD/23 lokasi PT-10 dari 6 titik pengetesan terdapat 1 titik yang direkomendasikan harus menggunakan

ear plug; tempat SKYTOP RR 650 lokasi P-252 TW dari 8 titik pengetesan terdapat 1 titik yang direkomendasikan harus menggunakan ear plug dan di tempat LTO 300/37 lokasi R-071 dari 8 titik pengetesan terdapat 3 titik yang direkomendasikan harus menggunakan ear plug.

Penerapan manajemen K3 oleh PT PDSI Rantau Aceh Tamiang belum dapat

mencapai zero accident. Hal ini dapat dilihat dari laporan investigasi yang dibuat oleh manajemen K3LL PT PDSI Rantau Aceh Tamiang pada tahun 2009 ditemukan 2 kasus kecelakaan pada pekerja, yaitu 1 orang meninggal karena perdarahan akibat terbentur patahan Skid saat hendak memindahkan Mud Tank I ke Trailer menggunakan Crane. 1 orang lagi cidera pada jari kelingking dan jari manis sebelah kanan saat memindahkan air winch dari Matting ke hoist dengan menggunakan Mobile Crane Cmeh. Data kecelakaan tahun 2010, kecelakaan kerja terjadi pada 5 orang pekerja, 1 orang cidera pada jari telunjuk kanan akibat terjepit dan 4 orang cidera karena terjatuh dari Mobile Crane Cmeh (betis kaki kiri mengalami memar, luka ibu jari sebelah kanan, luka pada pelipis mata kiri dan luka robek 1 cm pada jari manis tangan kiri).


(11)

Data kecelakaan tahun 2011, terjadi 5 kecelakaan pada pekerja, yaitu 2 orang cidera karena jatuh dari atas Genset saat memperbaiki Sling Crane dan tertimpa Boom Crane saat menurunkan Mud Pump Pz-9 dari kenderaan OFT-24 dilokasi RNT-IA6, kebakaran 1 orang dan cidera 2 orang. Sementara pada tahun 2012, terjadi kecelakaan tambang pada 2 orang pekerja, dan pada tahun 2013, jumlah kecelakaan 3 orang, 2 orang pada bulan Pebruari dan 1 orang pada bulan Desember.

Wawancara yang dilakukan peneliti dengan pihak manajemen pada waktu melakukan survei awal ke PT PDSI Rantau Aceh Tamiang menyatakan bahwa masih ada karyawan yang bekerja tidak berdasarkan SOP yang telah ditetapkan. Perilaku keselamatan dalam keselamatan kerja berhubungan langsung dengan perilaku karyawan dalam bekerja demi keselamatan individu dan sangat berhubungan erat dengan iklim keselamatan kerja dan sikap pengetahuan keselamatan kerja, karena dengan keadaan iklim keselamatan kerja ada dalam perusahaan mempengaruhi tingkat kesehatan karyawan dan dengan adanya pengetahuan keselamatan kerja, maka karyawan mampu mengerti dan memahami arti keselamatan kerja. Dari hasil survei awal di atas, penulis tertarik mengadakan penelitian untuk mengetahui bagaimana pengaruh penerapan manajemen keselamatan dan kesehatan kerja dan kondisi lingkungan kerja terhadap perilaku keselamatan kerja di PT PDSI Rantau Aceh Tamiang tahun 2014.


(12)

1.2. Masalah Penelitian

Penerapan manajemen keselamatan dan kesehatan kerja yang telah dilakukan oleh PT PDSI Rantau Aceh Tamiang belum dapat mencapai zero accident, sehingga menjadi pertanyaan penelitian yaitu bagaimanakah pengaruh penerapan manajemen keselamatan dan kesehatan kerja dan kondisi lingkungan kerja terhadap perilaku keselamatan karyawan PT PDSI Rantau Aceh Tamiang tahun 2014.

1.3. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah:

1. Untuk mengetahui pengaruh penerapan manajemen K3 terhadap perilaku keselamatan karyawan PT PDSI Rantau Aceh Tamiang tahun 2014.

2. Untuk mengetahui pengaruh kondisi lingkungan kerja terhadap perilaku keselamatan karyawan PT PDSI Rantau Aceh Tamiang tahun 2014.

1.4. Hipotesis

Hipotesis dalam penelitian ini adalah :

1. Terdapat pengaruh pelaksanaan manajemen keselamatan dan kesehatan kerja (komitmen dan kebijakan K3, perencanaan K3, pelaksanaan K3, pemeriksaan dan tindakan perbaikan K3 dan kaji ulang manajemen K3) terhadap perilaku keselamatan karyawan (Pengetahuan, sikap dan tindakan) PT PDSI Rantau Aceh Tamiang tahun 2014.


(13)

2. Terdapat pengaruh kondisi lingkungan kerja (lingkungan fisik dan lingkungan non fisik/sosial) terhadap perilaku keselamatan karyawan (pengetahuan, sikap dan tindakan) PT PDSI Rantau Aceh Tamiang tahun 2014.

1.5. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat :

1. Sebagai bahan masukan bagi manajemen PT PDSI Rantau Aceh Tamiang dalam membuat program untuk meningkatkan keselamatan dan kesehatan pekerja.

2. Bagi dunia ilmu pengetahuan diharapkan dapat menambah informasi yang ada tentang pengaruh penerapan manajemen K3 dan kondisi lingkungan kerja terhadap perilaku keselamatan kerja, serta hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi peneliti lanjutan sebagai informasi atau masukan mengenai pengaruh penerapan manajemen keselamatan dan kesehatan kerja dan kondisi lingkungan kerja terhadap perilaku keselamatan kerja.


(1)

PT PDSI Rantau Aceh Tamiang merupakan anak perusahaan PT Pertamina (Persero) yang berdiri sejak tahun 2007 yang bergerak dalam bidang jasa pengeboran Minyak Bumi dan Gas. PT PDSI Rantau Aceh Tamiang mempunyai karyawan sebanyak 416 orang yang tersebar di enam Rig pengeboran. Sebagian besar karyawan bekerja di lapangan dimana risiko untuk terjadi kecelakaan akibat kerja sangat besar karena proses pengeboran yang memerlukan ketelitian dan kehati-hatian dalam melakukan pekerjaan dan kondisi lingkungan yang tidak aman. Manajemen PT Pertamina Drilling Serivices Indonesia (PDSI) mempunyai visi kepemimpinan serta komitmen yang kuat, dan memastikan bahwa komitmen tersebut telah diterjemahkan dalam bentuk keperdulian terhadap sumber daya, untuk perkembangan, pengoperasian dan memelihara sistem aspek Kesehatan, Keselamatan Kerja dan Lindungan Lingkungan (K3LL) dan untuk mencapai tujuan dari kebijakan K3LL yang telah disepakati. Manajemen memastikan untuk bertanggung jawab atas kebijakan yang telah disepakati dan akan mendukung penuh terhadap perlindungan K3LL.

Pimpinan Drilling area Nad - Sumbagut secara berkala setidaknya satu bulan sekali melakukan inspeksi dari pelaksanaan K3LL, menghadiri rapat K3LL yang dihadiri oleh seluruh pekerja di lingkungan proyek untuk memantau penerapan K3LL di lokasi pekerjaan pada proyek Pengeboran dan KUPL di lapangan PT PERTAMINA EP Field Rantau. Tim manajemen Proyek berkewajiban: menyediakan sumber daya yang cukup untuk K3LL; berpartisipasi dalam program audit K3 dan program pengidentifikasian, penilaian dan pengendalian bahaya; mengunjungi semua


(2)

area dalam pengontrolan vendor dan harus sangat terlibat dalam rencana ini; bertindak secara benar dan secepatnya dengan semua yang tidak sesuai dengan aturan-aturan K3LL; berpartisipasi dalam penyelidikan kecelakaan dan meneliti laporan kecelakaan dan menentukan dan melaksanakan cara-cara perbaikannya; yakin bahwa vendor dan pemasok sadar dan menuruti K3LL Plan dan sasaran-sasarannya dan memonitor pelaksanaan K3LL semua seksi yang dikontrolnya. Dari laporan management K3LL PT PDSI Rantau Aceh Tamiang tersebut juga terlihat bahwa pihak manajemen telah mengadakan pemantauan kondisi lingkungan fisik setiap tahun.

Dari laporan pengukuran kualitas udara di tempat kerja yang dilakukan oleh pihak manajemen PT PDSI pada tanggal 9 Januari tahun 2014, di tempat Rig H35 UY6 lokasi 6B-22 terdapat dua lokasi yang tidak memenuhi persyaratan untuk suhu (180 C-280 C) yaitu pada portcamp opr.Crane 290 C dan portcamp driver 29,90 C. Pemantauan tingkat pencahayaan yang dilakukan pada tanggal 15 Januari 2014 untuk tempat Rig H35 UY6 lokasi 6B-22 dari 8 titik pengukuran terdapat 2 titik pengukuran dengan hasil kurang baik; di tempat CWKT 210B No.24/41 lokasi RNT-S2 16 terdapat 5 titik pengukuran kurang baik dari 12 titik pengukuran; di tempat IH30FD/23 lokasi PT-10 dari 13 titik pengukuran terdapat 5 titik pengukuran yang tidak baik; tempat SKYTOP RR 650 lokasi P-252 TW dari 8 titik pengukuran terdapat 2 titik pengukuran kurang baik; di tempat LTO 300/37 lokasi R-071 dari 8 titik pengukuran terdapat 1 titik pengukuran kurang baik dan untuk tempat kantor, semua titik pengukuran memenuhi persyaratan yang baik.


(3)

Sementara dari hasil pengukuran kebisingan yang dilakukan pada tanggal 9 Januari tahun 2014, di tempat Rig H35 UY6 lokasi 6B-22 dari 8 titik pengetesan terdapat 4 titik yang direkomendasikan harus menggunakan ear plug; di tempat CWKT 210B No.24/41 lokasi RNT-S2 16 dari 9 titik pengetesan terdapat 4 titik yang direkomendasikan harus menggunakan ear plug ; di tempat IH30FD/23 lokasi PT-10 dari 6 titik pengetesan terdapat 1 titik yang direkomendasikan harus menggunakan ear plug; tempat SKYTOP RR 650 lokasi P-252 TW dari 8 titik pengetesan terdapat 1 titik yang direkomendasikan harus menggunakan ear plug dan di tempat LTO 300/37 lokasi R-071 dari 8 titik pengetesan terdapat 3 titik yang direkomendasikan harus menggunakan ear plug.

Penerapan manajemen K3 oleh PT PDSI Rantau Aceh Tamiang belum dapat mencapai zero accident. Hal ini dapat dilihat dari laporan investigasi yang dibuat oleh manajemen K3LL PT PDSI Rantau Aceh Tamiang pada tahun 2009 ditemukan 2 kasus kecelakaan pada pekerja, yaitu 1 orang meninggal karena perdarahan akibat terbentur patahan Skid saat hendak memindahkan Mud Tank I ke Trailer menggunakan Crane. 1 orang lagi cidera pada jari kelingking dan jari manis sebelah kanan saat memindahkan air winch dari Matting ke hoist dengan menggunakan Mobile Crane Cmeh. Data kecelakaan tahun 2010, kecelakaan kerja terjadi pada 5 orang pekerja, 1 orang cidera pada jari telunjuk kanan akibat terjepit dan 4 orang cidera karena terjatuh dari Mobile Crane Cmeh (betis kaki kiri mengalami memar, luka ibu jari sebelah kanan, luka pada pelipis mata kiri dan luka robek 1 cm pada jari manis tangan kiri).


(4)

Data kecelakaan tahun 2011, terjadi 5 kecelakaan pada pekerja, yaitu 2 orang cidera karena jatuh dari atas Genset saat memperbaiki Sling Crane dan tertimpa Boom Crane saat menurunkan Mud Pump Pz-9 dari kenderaan OFT-24 dilokasi RNT-IA6, kebakaran 1 orang dan cidera 2 orang. Sementara pada tahun 2012, terjadi kecelakaan tambang pada 2 orang pekerja, dan pada tahun 2013, jumlah kecelakaan 3 orang, 2 orang pada bulan Pebruari dan 1 orang pada bulan Desember.

Wawancara yang dilakukan peneliti dengan pihak manajemen pada waktu melakukan survei awal ke PT PDSI Rantau Aceh Tamiang menyatakan bahwa masih ada karyawan yang bekerja tidak berdasarkan SOP yang telah ditetapkan. Perilaku keselamatan dalam keselamatan kerja berhubungan langsung dengan perilaku karyawan dalam bekerja demi keselamatan individu dan sangat berhubungan erat dengan iklim keselamatan kerja dan sikap pengetahuan keselamatan kerja, karena dengan keadaan iklim keselamatan kerja ada dalam perusahaan mempengaruhi tingkat kesehatan karyawan dan dengan adanya pengetahuan keselamatan kerja, maka karyawan mampu mengerti dan memahami arti keselamatan kerja. Dari hasil survei awal di atas, penulis tertarik mengadakan penelitian untuk mengetahui bagaimana pengaruh penerapan manajemen keselamatan dan kesehatan kerja dan kondisi lingkungan kerja terhadap perilaku keselamatan kerja di PT PDSI Rantau Aceh Tamiang tahun 2014.


(5)

1.2. Masalah Penelitian

Penerapan manajemen keselamatan dan kesehatan kerja yang telah dilakukan oleh PT PDSI Rantau Aceh Tamiang belum dapat mencapai zero accident, sehingga menjadi pertanyaan penelitian yaitu bagaimanakah pengaruh penerapan manajemen keselamatan dan kesehatan kerja dan kondisi lingkungan kerja terhadap perilaku keselamatan karyawan PT PDSI Rantau Aceh Tamiang tahun 2014.

1.3. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah:

1. Untuk mengetahui pengaruh penerapan manajemen K3 terhadap perilaku keselamatan karyawan PT PDSI Rantau Aceh Tamiang tahun 2014.

2. Untuk mengetahui pengaruh kondisi lingkungan kerja terhadap perilaku keselamatan karyawan PT PDSI Rantau Aceh Tamiang tahun 2014.

1.4. Hipotesis

Hipotesis dalam penelitian ini adalah :

1. Terdapat pengaruh pelaksanaan manajemen keselamatan dan kesehatan kerja (komitmen dan kebijakan K3, perencanaan K3, pelaksanaan K3, pemeriksaan dan tindakan perbaikan K3 dan kaji ulang manajemen K3) terhadap perilaku keselamatan karyawan (Pengetahuan, sikap dan tindakan) PT PDSI Rantau Aceh Tamiang tahun 2014.


(6)

2. Terdapat pengaruh kondisi lingkungan kerja (lingkungan fisik dan lingkungan non fisik/sosial) terhadap perilaku keselamatan karyawan (pengetahuan, sikap dan tindakan) PT PDSI Rantau Aceh Tamiang tahun 2014.

1.5. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat :

1. Sebagai bahan masukan bagi manajemen PT PDSI Rantau Aceh Tamiang dalam membuat program untuk meningkatkan keselamatan dan kesehatan pekerja.

2. Bagi dunia ilmu pengetahuan diharapkan dapat menambah informasi yang ada tentang pengaruh penerapan manajemen K3 dan kondisi lingkungan kerja terhadap perilaku keselamatan kerja, serta hasil penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat bagi peneliti lanjutan sebagai informasi atau masukan mengenai pengaruh penerapan manajemen keselamatan dan kesehatan kerja dan kondisi lingkungan kerja terhadap perilaku keselamatan kerja.