PENERAPAN ILMU MANAJEMEN PEMASARAN DALAM

PENERAPAN ILMU MANAJEMEN PEMASARAN
DALAM MELIHAT PELUANG PASAR
Theresia Lindha Widya Sari / 13803241092
Pendidikan Akuntansi C
A. Pendahuluan
1. Latar Belakang Masalah
Di era modern seperti saat ini, bekerja kepada orang lain dan memperoleh penghasilan
atas pekerjaan tersebut bukan lagi hal yang menjanjikan keberlanjutannya. Orang dapat
kehilangan pekerjaannya sewaktu-waktu karena berbagai macam hal, misal karena
pemutusan hubungan kerja (PHK) dan perusahaan di mana orang tersebut bekerja gulung
tikar. Oleh karena itu, orang akan lebih memilih membuat pekerjaan dan menjadi bos bagi
diri mereka sendiri, yaitu dengan memiliki usaha sendiri agar dapat dikembangkan dan
dijalankan sesuai keinginan mereka.
Wirausahawan adalah orang yang berjiwa berani mengambil risiko untuk membuka
usaha dalam berbagai kesempatan (Kasmir, 2011: 19). Syarat untuk berwirausaha juga relatif
mudah. Hal utama yang harus dimilliki adalah kemauan baru kemudian kemampuan. Tidak
seperti bekerja kepada orang lain yang pasti diharuskan memenuhi syarat-syarat tertentu,
misal pendidikan terakhir harus S1, IPK minimal 3,5, dan lain sebagainya. Selain itu,
keuntungan yang akan diperoleh dari berwirausaha adalah harga diri, penghasilan, ide dan
motivasi, serta masa depan (Kasmir, 2011: 7). Oleh karena itu, pada zaman ini popularitas
dan minat untuk berwirausaha terus meningkat selaras dengan perubahan gaya hidup
(Poerwanto, 2006: 135).
Namun, dari semua kemudahan tersebut, ada beberapa hal yang dapat menjadi
kesulitan, terutama ketika akan mendirikan usaha baru untuk pertama kalinya. Banyak hal
yang harus dipertimbangkan dan direncanakan matang-matang agar usaha atau bisnis yang
akan dimulai tidak salah pelaksanaan.
Wirausahawan harus dapat melihat peluang pasar karena hal tersebut merupakan
kegiatan awal bisnis (Poerwanto, 2006: 139). Apabila wirausahawan sudah mampu melihat
peluang pasar yang ada, maka mudah untuk melakukan tindakan selanjutnya demi
keberlangsungan usaha, baik dari penyusunan strategi usaha, pelaksanaan usaha, hingga
evaluasi usaha.
Dalam melihat peluang pasar tersebut, wirausahawan perlu mempelajari ilmu
manajemen pemasaran agar dapat lebih memahami dan mengerti apa yang dimaksud peluang

pasar dan bagaimana mengelola serta mengembangkan peluang pasar tersebut. Oleh karena
itu, ilmu manajemen pemasaran sangat penting dalam upaya melihat peluang pasar sehingga
tujuan perusahaan untuk memperoleh keuntungan melalui kepuasan pelanggan dapat tercapai.
2. Perumusan Masalah
Rumusan masalah dari latar belakang tersebut adalah bagaimana penerapan ilmu
manajemen pemasaran dalam melihat peluang pasar.
B. Konsep Ilmu Manajemen Pemasaran
1. Pengertian Ilmu Manajemen Pemasaran
Definisi dari pemasaran dapat dikelompokkan menjadi dua kategori, yaitu klasik
(sempit) dan modern (luas). Dalam arti sempit, menurut Ralph S. Alexander (dalam Evans &
Berman, 1982: 6), pemasaran adalah aktivitas bisnis yang merupakan aliran barang dan jasa
dari produsen ke konsumen secara langsung. Sedangkan dalam buku yang sama, arti luas dari
pemasaran menurut Philip Kotler (1982: 6) adalah pertukaran yang terjadi antara kelompok
konsumen dan kelompok pemasok pada kegiatan manusia yang diarahkan pada kegiatan
memuaskan kebutuhan dan keinginan melalui proses pertukaran.
Pemasaran adalah proses perencanaan dan pelaksanaan konsepsi, penetapan harga,
promosi, serta distribusi atas gagasan, barang, dan jasa untuk menciptakan pertukaran yang
mampu memenuhi sasaran perseorangan dan organisasi (Griffin & Ebert, 2002: 276).
Perencanaan yang dimaksud adalah langkah penyusunan strategi untuk menjalankan bisnis,
mulai dari menentukan barang atau jasa apa yang akan diproduksi hingga bagaimana proses
produksinya,. Pelaksanaan konsepsi adalah proses pelaksanaan konsep yang sudah disusun
pada tahap sebelumnya, yaitu tahap perencanaan. Selain itu, yang termasuk dalam kegiatan
pemasaran adalah penetapan harga barang atau jasa yang diproduksi, cara mempromosikan
dan pendistribusian barang atau jasa agar konsumen yang menjadi sasaran dapat mengenal
barang atau jasa tersebut dan terpenuhi kebutuhan atau keinginannya.
Menurut

Philip

Kotler

dan

Kevin

Keller

(2009:

5),

pemasaran

adalah

pengidentifikasian dan pemenuhan kebutuhan manusia dan sosial. Artinya kegiatan
pemasaran merupakan langkah bagi perusahaan untuk mengetahui apa yang menjadi
kebutuhan konsumen sehingga nantinya perusahaan dapat berupaya semaksimal mungkin
untuk memenuhi kebutuhan konsumen.
Sedangkan arti dari manajemen pemasaran menurut Kotler dan Keller adalah seni dan
ilmu memilih pasar sasaran dan meraih, mempertahankan, serta menumbuhkan pelanggan

dengan menciptakan, menghantarkan, dan mengomunikasikan nilai pelanggan yang unggul
(2009: 5). Ketika kegiatan dari pemasaran seperti yang sudah diuraikan di atas terlaksana,
pemasaran tidak berhenti sampai di situ. Usaha yang sudah dicapai harus dipertahankan dan
dievaluasi agar bisnis perusahaan dapat berlangsung dalam jangka waktu yang panjang.
Dari beberapa definisi tersebut, apa yang dimaksud dengan pemasaran dipertegas oleh
Simon A. Burtonshaw-Gunn (2011: 103) bahwa pemasaran tidak hanya tentang tindakan
akhir penjualan tetapi lebih mempunyai implikasi bagi organisasi keseluruhan. Dalam buku
yang sama, Burtonshaw-Gunn juga menyebutkan bahwa di Inggris, Chattered Institute of
Marketing mendefinisikan manajemen pemasaran sebagai proses manajemen yang
bertanggung jawab untuk mengidentifikasi, mengantisipasi, dan memuaskan kebutuhan
kemampulabaan konsumen. Kegiatan pemasaran terus-menerus dilakukan oleh perusahaan
dan dikembangkan. Kesalahan-kesalahan yang ada pun dapat dianalisis hingga nantinya
dapat dilakukan perbaikan demi tercapainya tujuan perusahaan, yaitu memuaskan kebutuhan
konsumen dan mendapat keuntungan dari kegiatan usahanya. Maka, kegiatan pemasaran
tersebut benar bahwa bukan sekedar tindakan akhir penjualan barang atau jasa, tetapi juga
memberikan dampak bagi organisasi secara keseluruhan.
American Marketing Assosiation (AMA) juga memberikan pandangannya mengenai
pemasaran. Pemasaran adalah aktivitas, sekelompok peraturan, dan proses untuk membuat,
mengomunikasikan, memberikan, dan bertukar penawaran yang memiliki nilai bagi
pelanggan, klien, mitra, dan masyarakat pada umumnya (2013). Sedangkan arti dari
manajemen pemasaran menurut AMA dalam situs University Business adalah proses
perencanaan dan pelaksanaan konsepsi, penetapan harga, promosi, dan distribusi barang,
gagasan, dan jasa untuk menciptakan pertukaran yang memuaskan tujuan perseorangan dan
organisasi (Sevier, 2005).
Poerwanto (2006: 226) juga menambahkan bahwa pemasaran merupakan proses
pertukaran yang melibatkan orang-orang yang mempunyai kebutuhan dan keinginan untuk
puas dan memperoleh keuntungan dengan memanfaatkan sumber-sumber yang berada di
lingkungannya. Dari definisi tersebut mengandung dua unsur pokok, yaitu pasar dan
lingkungan. Pasar yang ditinjau dari pendekatan pemasaran dipahami sebagai kumpulan
orang yang mempunyai kebutuhan, keinginan, kemampuan, dan kemauan untuk berbelanja.
Sedangkan pendekatan lingkungan adalah elemen-elemen yang merupakan pihak-pihak
berkepentingan yang berkaitan dengan proses untuk memproduksi barang atau jasa, sepeti
sumber daya alam, pemerintah, sosial-budaya, dan internasionalisasi.

Dari pengertian tersebut semakin jelas bahwa pemasaran merupakan kegiatan
perusahaan yang kompleks, saling berurutan dan saling berhubungan antara kegiatan yang
satu dengan kegiatan yang lain. Maka, kegiatan-kegiatan tersebut harus benar-benar
dilaksanakan sebaik-baiknya agar tercipta pemenuhan kebutuhan konsumen sehingga
konsumen akan terpuaskan dan tujuan organisasi untuk mencapai kepuasan pelanggan dan
memperoleh laba atau profit tercapai.
Selain itu, dosen dari Universitas Negeri Jakarta, yaitu Thamrin Abdullah dan Francis
Tantri (2013: 2), menyebutkan bahwa pemasaran adalah suatu sisi total dari kegiatan bisnis
yang

dirancang

untuk

merencanakan,

menentukan

harga,

mempromosikan

dan

mendistribusikan barang yang dapat memuaskan keinginan dan jasa yang baik pada
konsumen saat ini maupun konsumen potensial. Mereka menerangkan bahwa kegiatan dalam
pemasaran tersebut mencakup kegiatan menyelidiki dan mengetahui apa yang diinginkan
konsumen, merencanakan dan mengembangkan produk atau jasa yang akan memenuhi
keinginan tersebut, dan memutuskan cara terbaik untuk menentukan harga, mempromosikan
produk atau jasa, serta mendistribusikan produk atau jasa tersebut.
Pemasaran terjadi karena komunikasi antara produsen dengan pelanggan (Poerwanto,
2006: 227). Dalam buku yang sama, disebutkan pendapat dari John A. Howard dari Columbia
University (1973) yang dituliskan oleh Ries dan Trout dalam buku Marketing Warfare
(1986),

bahwa

pemasaran

adalah

proses

mengidentifikasi

kebutuhan

pelanggan,

konseptualisasi kebutuhan tersebut dalam bentuk kapasitas perusahaan untuk memproduksi,
mengomunikasikan konseptualisasi tersebut pada hukum kekuatan yang sesuai dalam
perusahaan, mengeluarkan konseptualisasi dalam bentuk kebutuhan pelanggan yang telah
diidentifikasi, dan mengomunikasikan konseptualisasi tersebut ke pelanggan.
Dari definisi-definisi tersebut, dapat disimpulkan bahwa manajemen pemasaran
adalah proses analisis perencanaan, implementasi, dan pengendalian barang, jasa, dan
gagasan berdasarkan pertukaran dan bertujuan untuk memuaskan pihak yang terlibat.
2. Tujuan Manajemen Pemasaran
Kotler dan Keller (2009: 6) menyebutkan bahwa
…Selalu akan ada kebutuhan akan penjualan. Namun tujuan dari pemasaran adalah
membuat penjualan berlimpah. Tujuan pemasaran adalah mengetahui dan
memahami pelanggan dengan baik sehingga produk dan jasa dapat sesuai dengan
kebutuhannya sehingga terjual sendiri. Idealnya, pemasaran harus menghasilkan

seorang pelanggan yang siap untuk membeli. Dengan demikian yang dibutuhkan
hanyalah memastikan produk dan jasa tersedia.
Maka, dapat disimpulkan bahwa tujuan dari manajemen pemasaran adalah
meningkatkan penjualan produk, baik barang maupun jasa dari suatu perusahaan yang tepat
untuk konsumen agar konsumen yang menjadi sasaran tersebut terpenuhi kebutuhan dan
keinginannya, mengenal produk perusahaan, serta meningkatkan perolehan laba dari
kepuasan konsumen yang tercapai.
3. Konsep Inti Manajemen Pemasaran
Konsep inti manajemen pemasaran adalah:
a. Kebutuhan, keinginan, dan permintaan
Kebutuhan manusia (human needs) adalah keadaan ketidakberadaan kepuasan
dasar (Kotler, 1997: 8). Kebutuhan tidak diciptakan oleh masyarakat, namun sudah ada
dalam sifat kodrati manusia. Misalnya saja kebutuhan manusia akan sandang, pangan,
dan papan. Manusia membutuhkan ketiga hal tersebut bukan karena mereka diimingimingi oleh orang lain agar merasa membutuhkan, tetapi karena pada dasarnya manusia
memang membutuhkan hal tersebut.
Keinginan (wants) adalah hasrat akan pemuas yang spesifik dari kebutuhan
tersebut (Kotler, 1997: 9). Keinginan manusia dibentuk oleh kekuatan dan institusi
sosial, seperti gereja, sekolah, keluarga, dan perusahaan. Sebagai contoh manusia
memang membutuhkan pangan. Namun kebutuhan tersebut dapat terpuaskan jika
manusia tersebut makan nasi goreng karena manusia menginginkan nasi goreng sebagai
alat pemuas kebutuhannya.
Permintaan (demands) adalah keinginan akan sesuatu yang didukung dengan
kemampuan serta kesediaan membelinya (Abdullah & Tantri, 2012: 14). Keinginan
dapat menjadi permintaan apabila didukung dengan daya beli. Apabila manusia ingin
makan nasi goreng sebagai pemuas kebutuhannya dan manusia tersebut memiliki uang
yang cukup untuk membeli nasi goreng, maka tercipta permintaan akan nasi goreng.
Contoh lain adalah keinginan manusia untuk memiliki mobil. Salah satunya
adalah mobil Mercedez. Banyak yang menginginkan mobil tersebut namun hanya sedikit
yang mampu membeli. Oleh karena itu, perusahaan harus mampu mengukur, tidak
hanya seberapa banyak yang ingin membeli produk perusahaan tetapi yang lebih penting
adalah seberapa banyak yang benar-benar bersedia dan mampu membeli produk tersebut.

Oleh karena kebutuhan dapat dipenuhi dengan keinginan manusia, sering ada
yang menyebutkan bahwa pemasar menciptakan kebutuhan. Namun hal tersebut tidak
benar. Pemasar tidak dapat menciptakan kebutuhan karena kebutuhan sudah ada
sebelumnya. Pemasar hanya mampu memengaruhi keinginan konsumen sehingga
pemasar dapat memengaruhi permintaan dengan membuat produk yang cocok, menarik,
terjangkau, dan mudah didapatkan oleh konsumen yang dituju.
b. Produk (barang, jasa, dan gagasan)
Produk adalah sesuatu yang dapat ditawarkan untuk memenuhi kebutuhan atau
keinginan (Abdullah & Tantri, 2012: 15). Sedangkan menurut Poerwanto (2006: 237),
produk merupakan semua bentuk barang atau jasa yang ditawarkan ke pasar untuk
dikonsumsi dan memberikan kepuasan. Pengertian lain dari produk adalah sebuah model,
jenis, dan ukuran suatu produk secara spesifik (Evans & Berman, 1982: 222).
Produk harus dapat memberikan nilai bagi konsumen secara psikologis maupun
sosiologis. Secara psikologis, produk dapat memuaskan keinginan dan kebutuhan
konsumen. Sedangkan secara sosiologis, produk yang ada dapat digunakan konsumen
sebagai sarana pendukung untuk melakukan aktivitasnya.
Produk dibedakan menjadi tiga jenis, yaitu barang fisik, jasa, dan gagasan.
Sebagai contoh adalah restoran cepat saji. Restoran ini menyediakan barang fisik, seperti
hamburger, kentang goreng, dan minuman ringan. Selain itu juga menyediakan jasa,
seperti jasa memasak, layanan pembelian dan pesan antar, serta jasa penyediaan tempat
duduk dan menyediakan gagasan “menghemat waktu saya” terutama bagi orang-orang
yang sibuk dan tidak ingin menghabiskan banyak waktu hanya untuk makan.
Tingkat kepentingan produk fisik lebih tergantung pada jasa yang diberikan
perusahaan daripada kepemilikannya. Jadi produk fisik sebenarnya adalah sarana yang
memberikan jasa kepada konsumen. Konsumen akan menyukai produk yang
menawarkan mutu, kinerja, dan pelengkap inovatif terbaik sehingga perusahaan akan
memusatkan perhatian pada usaha untuk menghasilkan produk yang unggul dan terus
menyempurnakannya (Kotler, 1997: 16).
Kotler dan Armstrong (2008: 50), menjelaskan bahwa proses pembentukan dan
pengembangan produk terdiri dari delapan tahapan, yaitu: penggalian ide, penyeleksian
ide, pengembangan konsep produk, pengujian konsep, pengembangan strategi
pemasaran, analisis bisnis, pemasaran uji-coba, dan komersialisasi.

c. Nilai, biaya, dan kepuasan
Nilai (value) adalah perkiraan konsumen atas seluruh kemampuan suatu produk
untuk memenuhi kebutuhannya (Kotler, 1997: 10). Nilai setiap produk tergantung dari
seberapa jauh produk tersebut dapat mendekati produk ideal (Abdullah & Tantri, 2012:
16). Konsumen akan mengorbankan sesuatu yang dinamakan biaya peluang atau
opportunity cost untuk memperoleh suatu produk. Konsumen akan mempertimbangkan
nilai dan harga suatu produk sebelum menentukan pilihan. Selanjutnya, konsumen akan
memilih produk yang memberikan nilai tertinggi untuk harganya.
Kepuasan merupakan suatu indikator akan keberhasilan bisnis perusahaan, yang
mengukur bagaimana baiknya tanggapan pelanggan terhadap masa depan bisnis
perusahaan (Assauri, 2012: 11). Sedangkan menurut Thamrin Abdullah dan Francis
Tantri (2012: 38), kepuasan adalah tingkat perasaan seseorang setelah membandingkan
kinerja produk atau hasil yang dirasakan dengan harapannya.
Kepuasan mencerminkan penilaian seseorang dalam kaitannya dengan ekspektasi
(Kotler & Keller, 2009: 14). Apabila kinerja produk tidak memenuhi ekspektasi, maka
pelanggan akan kecewa atau tidak puas. Sebaliknya, apabila kinerja produk melebihi
ekspektasi, pelanggan akan senang dan merasa puas.
Pelanggan yang sudah sangat puas akan lebih sulit untuk diubah pilihannya
karena sudah ada kelekatan emosional antara pelanggan dengan produk dari merk suatu
perusahaan. Pelanggan tersebut akan menjadi lebih setia, mau membeli produk lebih
banyak jika perusahaan memperkenalkan produk baru dan menyempurnakan produk
yang sudah ada, memberikan komentar yang menguntungkan tentang perusahaan dan
produknya, kurang memberikan perhatian pada produk merk lain, memberikan gagasan
produk atau jasa pada perusahaan agar perusahaan menginovasikan produknya, dan
perusahaan hanya akan membutuhkan biaya pelanggan yang lebih kecil daripada
pelanggan baru karena transaksi sudah rutin dilaksanakan (Kotler, 1997: 19).
Jadi, pada intinya kepuasan adalah perasaan senang atau kecewa seseorang yang
berasal dari perbandingan antara kesannya terhadap kinerja atau hasil suatu produk dan
harapan-harapannya (Kotler, 1997: 36). Kotler (1997: 19) juga menyebutkan bahwa
kegiatan penjualan oleh suatu perusahaan selalu berasal dari dua kelompok, yaitu
pelanggan baru dan pelanggan setia. Pelanggan baru yang tertarik dapat menimbulkan
biaya lima kali lipat dari biaya menyenangkan pelanggan yang sudah ada. Sedangkan
biaya kehilangan pelanggan dapat mencapai enam belas kali lipat dari biaya menarik

pelanggan baru ke tingkat laba yang sama. Oleh karena itu, jelas bahwa upaya untuk
mempertahankan pelanggan lebih penting daripada menarik pelanggan.
d. Pertukaran dan transaksi
Ada empat cara mendapatkan suatu produk menurut Abdullah dan Tantri (2012:
17), yaitu:
1. Dengan menghasilkannya sendiri
Manusia yang lapar dapat memenuhi kebutuhan akan pangan dengan berburu,
meramu, atau memancing. Manusia tidak perlu berinteraksi dengan orang lain, dan
tidak ada pasar atau pemasaran pada cara ini.
2. Dengan memaksa
Manusia dapat merebut atau mencuri makanan dari orang lain untuk mendapatkan
makanan yang menjadi kebutuhannya.
3. Dengan meminta-minta
Manusia dapat mendekati orang lain dan mengemis untuk mendapatkan makanan.
Manusia tidak memiliki barang lain untuk ditawarkan selain ucapan terima kasih.
4. Dengan pertukaran
Manusia dapat menawarkan sumber daya sebagai imbalan atas makanan, seperti uang,
barang, atau jasa.
Pemasaran timbul pada saat orang memutuskan untuk memenuhi kebutuhan
serta keinginannya dengan pertukaran dan hal tersebut muncul dari cara yang terakhir
(Abdullah & Tantri, 2012: 16). Syarat yang harus dipenuhi agar terjadi pertukaran
adalah ada sekurang-kurangnya dua pihak, masing-masing pihak memiliki sesuatu
yang bernilai bagi pihak lainnya, masing-masing pihak dapat berkomunikasi dan
menyerahkan barang, masing-masing pihak bebas menerima atau menolak penawaran,
dan masing-masing pihak memang menginginkan dan bersedia berurusan dengan
pihak lainnya. Agar pertukaran dapat berhasil, pemasar menganalisa apa yang
diharapkan akan didapatkan dan diberikan oleh masing-masing pihak dari suatu
transaksi (Kotler, 1997: 11).
Pertukaran merupakan suatu proses, bukan kejadian sesaat. Masing-masing
pihak akan berunding dan mengarah pada suatu persetujuan. Apabila persetujuan
tercapai, maka terjadi transaksi. Jadi, transaksi adalah unit pertukaran terkecil. Dalam
transaksi terdapat aspek yaitu sedikitnya ada dua barang yang memiliki nilai, syaratsyarat yang disetujui, waktu persetujuan, dan tempat persetujuan.

e. Hubungan dan jaringan
Hal yang lebih besar daripada transaksi yaitu pemasaran berdasarkan hubungan
(Abdullah & Tantri, 2012: 18). Pemasar yang baik akan berusaha membangun hubungan
jangka panjang dan rasa saling percaya kepada para konsumennya. Hal tersebut dapat
dicapai dengan memberikan pelayanan dan kualitas produk yang baik serta harga yang
wajar kepada konsumennya.
Apabila pemasaran berdasarkan hubungan ini dijalankan secara terus-menerus
dan berkesinambungan, maka akan terbangun dengan sendirinya aset perusahaan berupa
jaringan pemasaran. Jaringan pemasaran terdiri dari perusahaan dan semua pihak
pendukung yang berkepentingan, yaitu pelanggan, pekerja, pemasok, penyalur, pengecer,
agen iklan, ilmuwan universitas, dan lain-lain yang bersama-sama dengan perusahaan
membangun hubungan bisnis yang saling menguntungkan (Kotler, 1997: 11). Jaringan
pemasaran ini akan sangat bermanfaat dalam usaha untuk memperluas pangsa pasar
perusahaan sehingga dapat meningkatkan keuntungan.
f. Pasar
Menurut Kotler & Keller (2009: 8), secara tradisional pasar adalah tempat fisik di
mana pembeli dan penjual berkumpul untuk membeli dan menjual barang. Pasar terdiri
dari semua pelanggan potensial yang memiliki kebutuhan atau keinginan tertentu serta
mau dan mampu turut dalam pertukaran untuk memenuhi kebutuhan atau keinginan
tersebut (Abdullah & Tantri, 2012: 19). Besarnya pasar tergantung dari jumlah orang
yang memiliki kebutuhan, memiliki sumber daya yang diminati orang lain, dan mau
menawarkan sumber daya tersebut untuk ditukar supaya dapat memenuhi keinginan
konsumen.
Ahli ekonomi menggunakan istilah pasar untuk menunjuk pada sejumlah pembeli
dan penjual yang melakukan transaksi. Pemasar melihat penjual sebagai industri dan
pembeli sebagai pasar. Hubungan antara industri dan pasar terlihat dari struktur aliran
dalam ekonomi pertukaran modern. Penjual dan pembeli dihubungkan oleh empat aliran.
Penjual mengirimkan barang dan jasa serta komunikasi ke pasar, sebagai imbalannya
penjual memperoleh uang dan informasi.
Pada dasarnya, perusahaan manufaktur pergi ke pasar sumber daya, seperti pasar
bahan baku, pasar tenaga kerja, pasar uang, dan lain sebagainya. Selanjutnya perusahaan
tersebut membeli sumber daya dan mengubahnya menjadi barang dan jasa kemudian
menjual produk jadi ke para perantara yang kemudian menjual lagi ke konsumen.

Sedangkan konsumen menjual tenaga mereka dan menerima uang yang akan digunakan
untuk membayar barang dan jasa yang dibeli.
Lain halnya dengan peran pemerintah. Pemerintah di suatu negara juga
menggunakan pendapatan dari pajak untuk membeli barang dari pasar sumber daya,
pasar perusahaan manufaktur, dan pasar perantara lalu menggunakan barang dan jasa
tersebut untuk memberi pelayanan pada masyarakat (Kotler, 1997: 12). Setiap
perekonomian negara dan perekonomian dunia secara keseluruhan terdiri dari kumpulan
pasar yang rumit dan saling berinteraksi yang dihubungkan melalui proses pertukaran.
g. Pemasaran dan pemasar
Pemasaran adalah kegiatan manusia dalam hubungannya dengan pasar.
Maksudnya bekerja dengan pasar untuk mewujudkan transaksi yang mungkin terjadi
guna memenuhi kebutuhan dan keinginan manusia (Kotler, 1997: 12). Jika satu pihak
lebih aktif mencari pertukaran daripada pihak lainn, maka pihak pertama tersebut disebut
sebagai pemasar dan pihak kedua adalah pembeli.
Pemasar adalah orang yang mencari sumber daya dari orang lain dan mau
menawarkan sesuatu yang bernilai untuk itu (Abdullah & Tantri, 2012: 20). Pemasar
juga merupakan suatu perusahaan yang melayani suatu pasar pemakai di tengah
kompetisi. Sedangkan menurut Kotler dan Keller (2009: 8), pemasar (marketer) adalah
seseorang yang mencari respon, seperti perhatian, pembelian, dukungan, dan sumbangan,
dari pihak lain yang disebut propek. Selain itu, menurut Philip Kotler (1997: 13),
pemasar adalah seseorang yang mencari satu atau lebih calon pembeli yang akan terlibat
dalam pertukaran nilai (value) dan calon pembeli adalah seseorang yang diidentifikasi
oleh pemasar sebagai orang yang mungkin bersedia dan mampu terlibat dalam
pertukaran nilai.
4. Proses Pemasaran
Proses pemasaran menurut Philip Kotler (1997: 8) adalah:
a. Menganalisa peluang pasar
Menganalisa peluang pasar jangka panjang merupakan langkah awal yang harus
dilakukan sebelum mulai melakukan bisnis untuk memperbaiki kinerjanya sebagai divisi
bisnis (Abdullah & Tantri, 2012: 49). Pada tahap ini, perusahaan harus mampu
mengetahui produk apa yang dibutuhkan oleh konsumen yang menjadi sasaran.

b. Pengembangan strategi pemasaran
Setelah menganalisa peluang pasar, perusahaan mulai menyusun strategi
pemasaran. Strategi ini disusun dari konsep-konsep yang sudah dimiliki perusahaan.
Perusahaan perlu memperkirakan ukuran pasar keseluruhan, pertumbuhannya, tingkat
laba dan risikonya (Abdullah & Tantri, 2012: 50). Pengukuran dan perkiraan pasar
tersebut menjadi masukan utama untuk menentukan pasar dan produk baru manakah
yang harus diperhatikan.
Namun,

dalam

menyusun

strategi

pemasaran

itu

sendiri

harus

mempertimbangkan situasi, keadaan, dan posisi perusahaan, baik keadaan intern
perusahaan itu sendiri atau lingkungan mikro perusahaan, maupun keadaan ekstern
perusahaan atau yang dikenal dengan lingkungan makro perusahaan (Lubis, 2004).
Perusahaan yang besar dapat menerapkan stretegi tertentu yang jelas tidak bisa dilakukan
oleh perusahaan kecil. Demikian pula sebaliknya, bukanlah menjadi sesuatu hal yang
jarang terjadi bahwa perusahaan kecil dengan strateginya sendiri mampu menghasilkan
tingkat keuntungan yang sama atau bahkan lebih baik daripada perusahaan besar.
Dengan memperhatikan dan mempertimbangkan semua hal di atas, maka dapat
dipastikan perusahaan akan dapat menentukan dengan baik strategi pemasarannya serta
strategi bersaingnya untuk tetap maju dan berkembang di tengah-tengah persaingannya.
c. Perencanaan program pemasaran
Langkah selanjutnya ada menyusun rencana program pemasaran yang paling
efektif dan efisien. Program pemasaran ini dilakukan agar produk yang nanti akan
diperjualbelikan dapat dikenal oleh konsumen yang menjadi target utama bisnis.
Program pemasaran ini dapat dilakukan dengan berbagai macam cara promosi,
seperti dengan memasang iklan di surat kabar, radio, atau televisi, menyebarkan brosur
atau flyer, hingga memberi sampel gratis bagi calon pembeli. Selain itu, perusahaan juga
harus memperhatikan gerak dan posisi perusahaan pesaing. Hal tersebut akan sangat
membantu perusahaan dalam menentukan langkah promosi produk yang tepat, penentuan
harga yang bersaing, dan pemberian ciri atau identitas yang khas dari produk perusahaan
sehingga akan lebih mudah dikenali dan diingat oleh konsumen.
d. Pengelolaan usaha pemasaran
Apabila usaha pemasaran tersebut sudah terlaksana, langkah selanjutnya adalah
perusahaan mulai memproduksi barang atau jasanya. Namun, bukan berarti kegiatan

pemasaran selesai begitu saja. Kegiatan pemasaran tetap dilakukan agar penjualan
produk perusahaan terus meningkat dan tujuan perusahaan dapat tercapai.
C. Konsep Peluang Pasar
Peluang pasar seperti dikutip dari ejournal.uajy.ac.id adalah peluang yang menarik
dan dapat dimanfatkan oleh suatu perusahaan, dikaitkan dengan sumber daya dan tujuan
perusahaan tersebut (Ardianto, 2013). Peluang yang menarik bagi perusahaan adalah peluang
yang dapat dimanfaatkan perusahaan, dikaitkan dengan sumber daya dan tujuannya.
Perusahaan dapat mencari peluang pasar yang baru secara sistematis, seperti dengan
hanya memasang telinga dan membuka mata terhadap perubahan pasar. Perusahaan juga
dapat menggunakan metode informal, misal dengan membaca surat kabar, menghadiri
pameran dagang, meneliti produk pesaing untuk memperoleh gagasan dalam peluang pasar
yang dapat diambil. Selain itu, perusahaan juga dapat menggunakan metode formal untuk
mengidentifikasi pasar.
Peluang pasar adalah suatu bidang kebutuhan di mana perusahaan dapat
memenuhinya secara menguntungkan (Abdullah & Tantri, 2012: 68). Peluang pasar juga
dapat diartikan sebagai situasi di mana perusahaan dapat memenuhi pelanggan yang tidak
terpuaskan kebutuhan-kebutuhan sebelumnya oleh perusahaan pesaing

(Collins English

Dictionary, 2008). Artinya, perusahaan dapat mencari celah dari ketidakpuasan yang
dirasakan oleh pelanggan tersebut karena perusahaan pesaing belum dapat menciptakan
produk yang sesuai untuk kebutuhan pelanggan. Selain itu, ada pengertian menurut situs
businessdictionary.com (2007) bahwa peluang pasar adalah identifikasi terbaru dari
kebutuhan, keinginan, atau permintaan konsumen yang dapat dieksploitasi perusahaan
karena belum dimanfaatkan oleh perusahaan pesaing.
Menurut Pearce dan Robinson (2000: 230), peluang pasar adalah situasi penting yang
paling menguntungkan dalam lingkungan perusahaan. Sedangkan menurut Kotler (1997:
118), peluang pasar adalah batas yang didekati oleh permintaan ketika pengeluaran
pemasaran industri mendekati tak terhingga untuk lingkungan yang telah ditentukan.
Peluang pasar dapat tersembunyi dalam berbagai wujud. Maka, pemasar harus benarbenar mampu menemukan wujud tersebut (Kotler & Keller, 2009: 53). Hal-hal yang harus
diperhatikan antara lain:
1. Perusahaan dapat mengambil manfaat dari pemenuhan tren industri dan memperkenalkan
produk baru bagi pasar.

Sebagai contoh, saat ini setidaknya lima produsen telepon seluler besar meluncurkan
telepon dengan kemampuan foto digital karena telepon seluler dengan kemampuan
tersebut memang sedang menjadi tren.
2. Perusahaan dapat membuat proses pembelian lebih nyaman atau efisien.
Misal pembelian dapat dilakukan melalui sistem online agar lebih cepat dilakukan tanpa
harus bertemu dengan produsen. Pencarian produk yang diinginkan oleh konsumen pun
lebih mudah karena tinggal melakukan beberapa klik.
3. Perusahaan dapat memenuhi kebutuhan akan lebih banyak informasi dan nasihat. Pada era
modern ini, sudah banyak situs-situs yang dapat memberikan informasi tambahan dan
dapat diakses di mana saja.
4. Perusahaan dapat menyesuaikan produk yang sebelumnya hanya ditawarkan dengan
bentuk yang standar.
Konsumen dapat memesan produk yang ditawarkan secara online dan menambahkan halhal lain pada produk pesanannya sesuai dengan keinginan mereka.
5. Perusahaan dapat memperkenalkan kemampuan baru.
Kini konsumen dapat menambahkan lokasinya dalam foto atau status yang akan dibagikan
dalam situs Facebook yang sebelumnya belum ada.
6. Perusahaan mampu menghantarkan produk dengan lebih cepat.
Sebagai contoh, FedEx dapat menemukan cara yang lebih cepat dalam mengirimkan surat
atau paket dibandingkan Kantor Pos Amerika Serikat.
7. Perusahaan dapat menawarkan produk dengan harga yang jauh lebih murah.
Saat ini, perusahaan farmasi telah mampu menciptakan versi genetik dari obat-obat
bermerk sehingga harganya jauh lebih murah.
Membaca peluang pasar adalah hal yang penting karena perusahaan perlu mengetahui
seberapa besar peluang yang tersedia dalam memasarkan produk dan dapat menetapkan
apakah suatu pasar cukup besar untuk mendukung produk lain dan masih dapat memberikan
laba. Hal tersebut dilakukan untuk membuat keputusan apakah perusahaan akan terus
menjalankan kegiatannya dengan meningkatkan produktivitas atau harus keluar dari pasar.
D. Penerapan Ilmu Manajemen Pemasaran Dalam Melihat Peluang Pasar
Manajemen pemasaran memiliki fokus atau tujuan utama yaitu pada pelanggan dan
produk. Produk apa yang menjadi kebutuhan konsumen yang nantinya akan diproduksi harus

diketahui sebelum memulai suatu usaha. Maka, perlu dilakukan pencarian peluang pasar.
Salah satu cara untuk mengetahui peluang pasar adalah dengan melakukan riset pemasaran.
Riset pemasaran adalah salah satu cara untuk menemukan peluang pemasaran. Riset
pemasaran adalah kegiatan perancangan, pengumpulan, analisis, dan pelaporan data
sistematis serta temuan yang relevan terhadap situasi pemasaran tertentu yang dihadapi
perusahaan (Kotler & Keller, 2009: 100). Sedangkan riset pemasaran menurut Griffin (2002:
285) adalah studi mengenai kebutuhan dan keinginan konsumen serta bagaimana mencari
cara-cara terbaik agar penjual dapat memenuhi kebutuhan tersebut.
Riset pemasaran juga dapat dilakukan dengan cara lain. Berikut adalah langkahlangkah menuju produksi strategi pemasaran menurut Simon A. Burtonshaw-Gunn (2011:
105) :
1.

Analisis konsumen
a.

Produk apa yang dapat diproduksi atau dipasarkan?
Perusahaan harus membaca produk apa yang sekiranya menjadi kebutuhan dan
merupakan keinginan dari konsumen yang menjadi sasarannya.

b.

Siapa yang membeli?
Perusahaan perlu menentukan siapa yang akan membeli produk yang akan
dibuat oleh perusahaan tersebut. Hal ini dilakukan untuk mengetahui seberapa luas
pangsa pasar atas produk yang akan dihasilkan.

c.

Bagaimana proses pembeliannya?
Proses pembelian produk perlu dipertimbangkan sebelumnya. Hal tersebut
dapat ditentukan dengan memperhatikan jenis produk apa yang ditawarkan oleh
perusahaan, apakah produknya mudah rusak atau tidak, apakah kegiatan jual-beli
produk tersebut memiliki risiko yang cukup tinggi atau tidak, dan kira-kira seberapa
sering intensitas pembelian produk tersebut. Dengan mempertimbangkan karakteristik
produk tersebut, perusahaan dapat menentukan bagaimana proses pembelian
produknya. Proses pembelian produk tersebut dapat dilakukan dengan beberapa cara,
yaitu: personal selling, mass selling, promosi penjualan, public relations, dan direct
marketing.

d.

Siapa yang memberi pengaruh?
Dalam memilih suatu produk, perilaku konsumen dapat dipengaruhi oleh
faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal berupa motivasi, persepsi,
pembentukan sikap, dan integritas.
Faktor eksternal dapat berupa: faktor sosial, seperti grup, pengaruh keluarga,
serta peran dan status seseorang; faktor personal, seperti situasi ekonomi, gaya hidup,
kepribadian dan konsep diri, umur dan tahap siklus hidup, dan pekerjaan; faktor
kebudayaan, seperti subkultur dan kelas sosial.

e.

Seberapa penting produk ini bagi pelanggan?
Seberapa penting produk tersebut bagi konsumen yang menggunakan
produknya perlu diketahui untuk menentukan berapa banyak produk yang akan
diproduksi dan dapat dibeli seluruhnya oleh konsumen yang menjadi sasaran. Misal
toko alat tulis mengetahui bahwa pulpen menjadi barang yang sangat penting bagi
pelajar atau mahasiswa, namun akan dirasa kurang penting bagi para petani karena
petani jarang melakukan kegiatan tulis-menulis. Sehingga toko akan menyediakan
cukup banyak pulpen jika toko tersebut berada di wilayah sekolahan.

2.

Analisis pasar
a. Bagaimana sifat-sifat pasar?
Ukuran pasar, segmen pertumbuhan, dan kondisi geografi harus diperhatikan.
Seberapa luas pasar yang akan dijangkau diperhitungkan untuk menentukan
bagaimana teknis pemasaran produk perusahaan. Segmen pertumbuhan perusahaan
juga digunakan sebagai pertimbangan untuk menentukan cara promosi produk
perusahaan yang disesuaikan dengan posisi perusahaan. Sedangkan kondisi geografi
perlu

diperhatikan

karena

teknis

pemasaran

produk

perusahaan

perlu

mempertimbangkan kondisi geografi di mana perusahaan tersebut berada dan lokasi
pasar yang akan dituju.
b. Bagaimana faktor persaingannya?
Suatu perusahaan pasti memiliki pesaing yang dapat merebut pangsa pasarnya.
Oleh karena itu, untuk memenangkan persaingan tersebut, kualitas dan harga produk,
serta jasa yang diberikan oleh perusahaan harus ditingkatkan agar konsumen yang
menjadi sasaran mau memilih produk perusahaan tersebut.

Kualitas adalah salah satu alat penting bagi pemasar untuk menetapkan posisi
(Abdullah & Tantri, 2012: 159). Kualitas produk, termasuk di dalamnya keawetan,
keandalan, ketepatan, kemudaha dipergunakan dan diperbaiki, serta atribut bernilai
lain, harus dioptimalkan karena konsumen tidak akan memilih produk dengan harga
tertentu namun kualitasnya rendah. Kualitas produk harus ditingkatkan dan
dipertahankan agar konsumen yang sudah puas dengan produk perusahaan tidak akan
berpindah hati.
Penetapan harga dapat menjadi masalah ketika perusahaan harus menentukan
harga untuk pertama kali. Perusahaan harus mempertimbangkan faktor dalam
menyusun kebijakan menetapkan harganya (Abdullah & Tantri, 2012: 171). Ada
enam langkah yang dapat dilakukan untuk menetapkan harga, yaitu:
1. Memilih sasaran harga
Perusahaan pertama-tama harus memutuskan apa yang ingin dicapai dari
produknya. Jika perusahaan telah memilih pasar sasaran dan menentukan posisi
pasar dengan cermat, maka strategi pemasaran termasuk penentuan harganya
akan mudah dilakukan. Jadi, strategi penentuan harga sangat ditentukan oleh
keputusan yang menyangkut penempatan posisi pasar.
2. Menentukan permintaan
Setiap harga yang ditentukan oleh perusahaan akan menentukan tingkat
permintaan yang berbeda terhadap sasaran pemasarannya. Tingkat permintaan
tersebut disusun oleh perusahaan untuk menggambarkan jumlah unit yang akan
dibeli oleh pasar pada periode waktu tertentu atas alternatif harga yang mungkin
ditetapkan pada periode tersebut.
3. Memperkirakan harga
Permintaan umumnya membatasi harga tertinggi yang dapat ditentukan
perusahaan bagi produknya dan perusahaan menetapkan biaya terendah.
Perusahaan ingin menetapkan harga yang dapat menutupi biaya dalam
menghasilkan, mendistribusikan, dan menjual produk, termasuk pendapatan yang
wajar atas usaha dan risiko yang dihadapi perusahaan. Maka, perusahaan
menjumlahkan seluruh biaya yang dikeluarkan untuk selanjutnya digunakan
untuk memperkirakan harga produknya.

4. Menganalisis harga dan penawaran pesaing
Sementara permintaan pasar membentuk harga tertinggi dan biaya
merupakan harga terendah yang ditetapkan, harga produk pesaing dan
kemungkinan reaksinya dapat membantu perusahaan dalam menentukan berapa
harga yang mungkin layak ditetapkan untuk produknya. Namun, perusahaan
harus terlebih dulu mempelajari harga dan mutu setiap penawaran pesaing. Hal
tersebut dapat dilakukan dengan mengirimkan pembelanja palsu untuk
mengetahui dan membandingkan penawaran pesaing, memperoleh daftar harga
pesaing dan membeli peralatan pesaing lalu memisah-misahkannya, atau dengan
menanyakan kepada pembeli bagaimana pendapat mereka terhadap harga dan
kualitas setiap produk yang ditawarkan oleh pesaing.
5. Memilih metode penetapan harga
Setelah melakukan perkiraan permintaan konsumen dan harga pesaing,
perusahaan siap untuk memilih suatu harga. Harga akan berada pada suatu tempat
antara yang satu terlalu rendah untuk menghasilkan keuntungan dan satu yang
terlalu tinggi untuk menghasilkan permintaan.
Perusahaan memecahkan permasalahan harga tersebut dengan memilih
metode yang paling tepat. Metode penetapan harga tersebut antara lain:
a. Harga markup
Metode harga markup adalah metode penerapan harga yang paling mendasar
dengan menambahkan penambahan (markup) standar dari biaya produksi.
b. Penetapan harga sasaran pengembalian
Dengan metode ini, perusahaan akan menentukan harga yang akan
menghasilkan sasaran tingkat pengembalian atas investasinya.
c. Harga yang sedang berlaku
Dalam metode ini, perusahaan akan menentukan harganya berdasarkan harga
para pesaing. Perusahaan akan menetapkan harga yang sama, lebih tinggi, atau
lebih rendah daripada harga produk pesaing. Hal ini menunjukkan kurangnya
perhatian pada biaya atau permintaan produknya sendiri.
d. Harga tawaran tertutup
Penetapan harga dengan metode ini berorientasi pada persaingan di mana
perusahaan nberusaha mendapatkan pelayanan melalui tender. Perusahaan
mendasarkan harganya dengan harapan bagaimana pesaing akan menetapkan

harga, bukan sekedar pada hubungan yang kaku antara biaya dan permintaan
perusahaan itu sendiri.
6. Memilih harga akhir
Setelah cakupan harga dipersempit dengan metode penetapan harga,
perusahaan masih perlu mempertimbangkan faktor lain sebelum benar-benar
memilih harga akhir, yaitu faktor harga psikogis, pengaruh elemen bauran
pemasaran lain terhadap harga, kebijakan penetapan harga perusahaan, dan
pengaruh harga kepada pihak lain.
Jasa yang diberikan oleh perusahaan juga harus dioptimalkan karena
konsumen cenderung akan kembali membeli produk dari suatu perusahaan jika jasa
yang diberikan sangat memuaskan.
c. Bagaimana trennya?
Untuk menentukan produk yang akan diproduksi, perusahaan perlu
mempertimbangkan tren yang sedang booming di pasar. Konsumen cenderung akan
memilih produk yang sedang menjadi tren karena terkesan lebih up to date.
3.

Analisis pesaing
a. Apa saja keahlian dan kelemahan perusahaan pesaing?
Perusahaan perlu mencari tahu apa saja keahlian perusahaan pesaing agar
perusahaan dapat mengantisipasi langkah-langkah yang kemungkinan akan diambil
oleh pesaing tersebut berdasarkan keahlian yang sudah dianalisis. Selain itu,
perusahaan juga perlu mengetahui kelemahan pesaingnya. Jika kelemahan pesaing
sudah diketahui, perusahaan dapat mengambil langkah yang paling tepat agar dapat
mengungguli pesaing dengan mengalahkan dari titik lemahnya.
b. Bagaimana posisi perusahaan di pasar?
Seberapa luas ukuran perusahaan, reputasi saham perusahaan, dan seberapa
baik kinerja historis perusahaan tersebut dapat mempengaruhi pemasaran produk
perusahaan. Pemasaran produk akan meningkat apabila reputasi saham dan kinerja
historis perusahaan baik sehingga akan memperluas ukuran perusahaan.

4.

Analisis aliran distribusi
Aliran distribusi disebut juga saluran distribusi, diartikan oleh Stern dan ElAnsary (dalam Abdullah & Tantri, 2012: 207) sebagai sekumpulan organisasi yang
saling tergantung satu sama lainnya yang terlibat dalam proses penyediaan sebuah
produk atau pelayanan untuk digunakan atau dikonsumsi. Selain itu, kegiatan
pendistribusian ini dapat juga diartikan sebagai kegiatan pemasaran yang berusaha
memperlancar dan mempermudah penyampaian barang dan jasa dari produsen kepada
konsumen, sehingga penggunaannya sesuai dengan yang diperlukan (Tjiptono, 2010:
185). Pihak-pihak yang terlibat dalam saluran distribusi ini antara lain:
a. Pedagang besar
Pedagang besar (wholesaler) adalah pihak yang membeli produk dari perusahaan
dalam jumlah yang besar untuk kemudian dijual kembali atau untuk pemakaian bisnis.
b. Distributor
Distributor adalah pihak yang berperan sebagai penyalur produk dari suatu perusahaan
ke pedagang besar atau langsung ke pedagang kecil. Distributor ini dapat juga disebut
sebagai agen.
c. Pengecer
Pengecer atau pedagang kecil (retailer) adalah pihak yang menjual produk suatu
perusahaan langsung kepada konsumen akhir atau pemakai.

5.

Menyusun bauran pemasaran
Bauran pemasaran (marketing mix) adalah salah satu konsep kunci dalam teori
pemasaran modern. Menurut Thamrin Abdullah dan Francis Tantri, bauran pemasaran
adalah kiat pemasaran yang digunakan perusahaan untuk mencapai sasaran
pemasarannya dalam pasar sasaran (Abdullah & Tantri, 2012: 53). Bauran pemasaran ini
juga sebagai suatu alat dan selalu menjadi alat pendemonstrasian prinsip inti atau dasar
dari pemasaran (Assauri, 2012: 117).
Pada penyusunan bauran pemasaran ini, ada beberapa hal yang perlu dijawab,
yaitu:
a. Siapa targetnya?
Sebelum perusahaan mulai memproduksi produknya, perusahaan perlu
menentukan terlebih dahulu siapa yang menjadi target konsumennya, seberapa tinggi
kemampuan daya beli konsumen tersebut, dan seberapa luas jangkauan pemasaran
yang dapat dilakukan perusahaan dengan target konsumen yang seperti itu.

Dengan mengetahui kondisi pasar seperti itu, akan memudahkan perusahaan
untuk mengembangan strategi target pasarnya. Pengembangan strategi target pasar
menurut Joel R. Evans dan Barry Berman (1982: 171) ada tiga macam, yaitu:
1. Mass marketing (pemasaran massa)
Pengembangan strategi pemasaran ini dilakukan dengan melaksanakan kegiatan
pemasaran untuk menarik perhatian seluruh konsumen.
2. Market segmentation (segmentasi pasar)
Kegiatan pemasaran ini dilakukan untuk mencari satu segmen konsumen.
3. Multiple segmentation (multi segmentasi)
Kegiatan pemasaran ini dilakukan untuk mencari konsumen yang bermacammacam.
b. Produk
Dalam

mengembangkan

strategi

pemasaran,

perusahaan

dapat

mengembangkan klasifikasi produknya menjadi dua kelas besar berdasarkan jenis
konsumen yang menggunakannya, yaitu:
1. Produk konsumen
Produk konsumen adalah apa yang dibeli oleh konsumen akhir untuk
konsumen pribadi (Abdullah & Tantri, 2012: 155). Produk sehari-hari, produk
shopping, dan produk khusus merupakan jenis produk yang tergolong dalam
produk konsumen ini.
2. Produk industri
Produk insutri adalah barang yang dibeli untuk diproses lebih lanjut atau
dipergunakan dalam menjalankan bisnis. Menurut Thamrin Abdullah dan Francis
Tantri (2012: 157), ada tiga jenis produk industri, yaitu: bahan dan suku cadang,
barang modal, serta perlengkapan dan jasa.
c. Tempat
Perusahaan perlu mempertimbangkan tempat atau wilayah di mana suatu
perusahaan berdiri. Selain itu, wilayah di mana perusahaan akan memasarkan
produknya juga harus diperhatikan agar tidak salah teknik pemasarannya.

d. Promosi
Setelah memutuskan produk apa yang akan dihasilkan, perusahaan juga harus
merencanakan bagaimana strategi promosi produknya. Hal ini dilakukan agar
konsumen sasaran mengetahui akan adanya produk perusahaan dan akhirnya tertarik
untuk membeli produk tersebut.
e. Harga
Penentuan harga pertama atas suatu produk perlu ditentukan dengan langkah yang
tepat. Hal ini dilakukan agar harga yang ditetapkan merupakan harga yang layak
bersaing dengan harga produk pesaing, sesuai dengan kualitas atau mutu produk, dan
menjadikan keuntungan bagi perusahaan karena harganya mampu menutup biaya
yang dikeluarkan untuk memproduksi produk tersebut.
6.

Menentukan ekonomi
a. Menghubungkan titik impas (break-even) dengan pasar yang relevan
Setelah harga atas produk perusahaan tersebut ditetapkan, perlu dibandingkan
dengan total biaya yang dikeluarkan untuk menghasilkan produk tersebut. Hal ini
dilakukan agar dapat diketahui perusahaan perlu memproduksi berapa banyak produk
agar tercapai titik impasnya. Apabila titik impasnya sudah diketahui, maka perusahaan
akan dapat menentukan berapa laba yang kemungkinan akan diperoleh.
b. Apakah sasaran dapat dicapai?
Setelah mengetahui berapa jumlah produk yang harus dihasilkan agar dapat
diperoleh laba, perusahaan nantinya dapat memperkirakan sendiri apakah sasaran
perusahaan yang sudah ditetapkan dapat dicapai atau tidak jika ditilik dari
kemampuan perusahaan pada suatu periode. Perkiraan ini akan membantu perusahaan
dalam mengambil keputusan apabila ternyata sasaran yang ditargetkan tidak dapat
dicapai.

7.

Meninjau ulang dan perbaikan
Setelah semua kegiatan pemasaran dilakukan, perlu dilakukan peninjauan ulang
untuk menemukan letak kesalahan atau kekurangan perusahaan agar dapat dilakukan
perbaikan atau evaluasi.

E. Kesimpulan
Di era modern seperti saat ini, orang dituntut untuk menjadi lebih kreatif dan berjiwa
kewirausahaan agar dapat memiliki jaminan hidup dari usaha atau bisnis yang dimiliki
daripada mengandalkan gaji dari bekerja kepada orang lain. Untuk memiliki bisnis yang
dimulai dari nol, wirausahawan perlu mempelajari ilmu manajemen pemasaran yang dapat
membantu dalam mendirikan suatu bisnis. Salah satunya adalah dengan menganalisis
peluang pasar.
Wirausahawan perlu menganalisis peluang pasar tersebut agar dapat mengetahui
produk apa yang sebaiknya diproduksi, apa yang menjadi kebutuhan dan keinginan
konsumen, siapa yang akan menjadi target pasar perusahaan, dan lain sebagainya. Oleh
karena itu, jelas bahwa ilmu manajemen pemasaran berperan penting dalam membantu
wirausahawan untuk melihat peluang pasar.
Daftar Pustaka
Abdullah, Thamrin dan Francis Tantri. 2013. Manajemen Pemasaran. Jakarta: PT
RajaGrafindo Persada.
Ardianto, Y. A. 2013. UAJY's Library. http://e-journal.uajy.ac.id/1736/3/2EM16009.pdf
05/04/14
Assauri, Sofjan. 2012. Strategic Marketing: Sustaining Lifetime Customer Value. Jakarta: PT
RajaGrafindo Persada.
Burtonshaw-Gunn, S. A. 2011. Alat dan Teknik Analisis Manajemen. Jakarta Barat: Indeks.
Business Dictionary. 2007. Business Dictionary.
http://www.businessdictionary.com/definiton/market-opportunity.html 24/05/14
Collins English Dictionary. 2008. Collins English Dictionary.
http://www.collinsdictionary.com/dictionary/english/market-opportunity.html
24/05/14
Evans, J. R., dan Barry Berman. 1982. Marketing. New York: Macmillan Publishing.
Griffin, R. W., dan R. J. Ebert. 2002. Bisnis. Jakarta: Erlangga.
Kasmir. 2011. Kewirausahaan. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.
Kotler, Philip. 1997. Manajemen Pemasaran. Jakarta: PT Prenhallindo.
Kotler, Philip dan Gary Armstrong. 2008. Prinsip-Prinsip Pemasaran. Jakarta: Erlangga.

Kotler, Philip dan K. L. Keller. 2009. Manajemen Pemasaran, Edisi Kedua Belas. Jakarta:
Erlangga.
Lubis, A. N. 2004.”Strategi Pemasaran dalam Persaingan Bisnis”. Makalah Proyek
Pengembangan USU. Sumatera Utara: Jurusan Ilmu Manajemen, Fakultas Ekonomi
Universitas Sumatera Utara.
Pearce, J. A. dan R. B. Robinson. 2000. Strategic Management: Formulation,
Implementation, and Control. New York: McGraw-Hill / Irwin.
Poerwanto. 2006. New Business Administration (Paradigma Baru Pengelolaan Bisnis dalam
Era Dunia Tanpa Batas: Teori dan Aplikasi). Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Publishing, AMA. 2013. American Marketing Assosiation: https://archive.ama.org/Archive/
AboutAMA/Pages/DefinitionofMarketing.aspx 05/04/14
Sevier, R. A. 2005. University Business: http://www.universitybusiness.com/article/newdefinition-marketing 05/04/14
Tjiptono, Fandy. 2010. Strategi Pemasaran edisi 3. Yogyakarta: Andi.


Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

69 1648 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

26 427 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

27 386 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

8 239 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

19 349 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

28 493 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

22 441 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

9 279 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

13 449 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

23 520 23