Pengembangan Pemuda Budidaya Ayam Arab

POLA PEMBERDAYAAN PEMUDA DENGAN PELATIHAN BUDIDAYA AYAM ARAB DI BPPLSP REGIONAL III JAWA TENGAH

SKRIPSI Diajukan dalam rangka menyelesaikan Studi Strata I Untuk menempuh gelar Sarjana Pendidikan

Oleh :

Nama

: SUCI ROHANIYAH

Nim

: 1201401017 Jurusan : Pendidikan Luar Sekolah

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG 2005

HALAMAN PENGESAHAN

Skripsi ini telah dipertahankan di dalam Sidang Panitia Ujian Skripsi Jurusan Pendidikan Luar Sekolah, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri Semarang, pada : Hari

: Jumat Tanggal

: 28 Oktober 2005

Panitia Ujian

Ketua Penguji I

Drs. H. Siswanto, M.M Drs. Utsman, M.Pd NIP. 130515769

NIP.

Sekretaris Penguji II

Drs. Achmad Rifai R.C M.Pd Drs. K. Nurhalim, M.Pd NIP. 131413302

NIP. 130870431

Penguji III

Drs. Sawa Suryana NIP. 131431203

MOTTO DAN PERSEMBAHAN MOTTO

Dibalik kesukaran pasti ada kemudahan, maka bila usai suatu pekerjaan, berusahalah menyelesaikan pekerjaan lainnya dan kepada Tuhanmulah engkau berserah diri (Q.S. Al- Insyirah : 6-8) Hidup adalah sebuah perjalanan panjang, yang selalu membutuhkan perjuangan dan pengorbanan (Penulis)

PERSEMBAHAN

Skripsi ini kupersembahkan untuk :

1. Bapak dan ibu tercinta atas segala doa, kasih sayang serta pengorbanannya

2. Adik-adikku tersayang Dian, Andi, dan Akbar, kalianlah sumber semangat dan inspirasi yang tiada pernah berhenti

3. Sutrisno ST, seseorang yang selalu menyemangati dan menyertaiku

4. Teman-teman seperjuangan PLS FIP UNNES 2001, serta rekan-rekan kerja JEMEMA ISLAMIC SCHOOL

5. Almamaterku tercinta.

PRAKATA

Puji syukur kehadirat Allah SWT atas rahmat, taufik dan hidayahnya, sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi ini sebagai persyaratan guna memperoleh gelar Sarjana Strata I bidang Pendidikan Luar Sekolah pada Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang.

Skripsi dengan judul “Pola Pemberdayaan Pemuda Dengan Pelatihan Budidaya Ayam Arab di BPPLSP Regional III Jawa Tengah, semoga dapat memberikan manfaat bagi penulis serta pihak-pihak yang ingin mengkaji lebih dalam tentang permasalahan pemberdayaan pemuda yang diteliti oleh penulis.

Dengan segala keterbatasan, penulis menyadari bahwa sebagai karya ilmiah penyusunan skripsi ini masih kurang sempurna. Oleh karenanya penulis sangat berterima kasih kepada semua pihak yang dengan kerelaan hati bersedia memberikan saran dan kritik membangun yang sangat diharapkan penulis.

Tanpa melupakan jasa kebaikan dukungan moril dan spirituil dari banyak pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan skripsi ini, dari hati yang tulus penulis ingin menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :

1. Drs. H. Siswanto, M.M, Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang yang telah memberikan ijin penelitian.

2. Drs. Achmad Rifai RC, M.Pd, Ketua Jurusan Pendidikan Luar Sekolah Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang yang telah memberikan pengesahan dan persetujuan terhadap judul skripsi yang penulis ajukan.

3. Drs. Khomsun Nurhalim, M.Pd, Dosen Pembimbing I yang telah dengan kesabaran dan tanggung jawab telah memberi banyak pengarahan dan bimbingan kepada penulis dalam menyusun skripsi ini.

4. Drs. Sawa Suryana, Dosen Pembimbing II yang telah dengan kesabaran dan tanggung jawab juga telah memberi banyak pengarahan dan bimbingan kepada penulis dalam menyusun skripsi ini.

5. Drs. Wartanto, MM, sebagai kepala Balai Pengembangan Pendidikan Luar Sekolah dan Pemuda Regional III Jawa Tengah yang telah memberikan ijin penelitian.

6. Drs. Kastum, M.Pd, sebagai kepala seksi program BPPLSP Regional III Jawa Tengah yang telah memberikan bantuan dalam melengkapi data yang penulis perlukan.

7. Para responden : Pihak penyelenggara, Tutor/nara sumber teknis dan peseta/ warga belajar pelatihan budidaya ayam Arab di Sekunir Gunungpati dan Beji Para’an Ungaran yang dengan keterbukaan hati bersedia diwawancarai dan melengkapi data yang penulis perlukan.

8. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu, yang telah memberi banyak dukungan, motivasi dan bantuan yang penulis butuhkan selama proses penyusunan skripsi ini.

Semarang, Juli 2005 Penulis

Suci Rohaniyah 1201401017

ABSTRAK

Suci Rohaniyah, 2005. “Pola pemberdayaan pemuda dengan pelatihan budidaya ayam Arab di BPPLSP Regional III Jawa Tengah. Skripsi Jurusan Pendidikan Luar Sekolah, Universitas Negeri Semarang.

Permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimanakah pola pemberdayaan pemuda dengan pelatihan budidaya ayam Arab di BPPLSP Regional III Jawa Tengah, serta faktor pendukung dan penghambat pelaksanaan pola pemberdayaan pemuda tersebut.

Tujuan penelitian adalah untuk mendiskripsikan bagaimanakah pola pemberdayaan pemuda dengan pelatihan budidaya ayam Arab di BPPLSP Regional III Jawa Tengah, serta faktor pendukung dan penghambat pelaksanaan pola pemberdayaan pemuda tersebut.

Penelitian ini menggunakan pendekatan diskriptif kualitatif, pengumpulan data dilakukan dengan cara observasi, wawancara dan dokumentasi. Dalam pengumpulan data digunakan juga sumber-sumber non manusia berupa laporan pelaksanaan kegiatan pelatihan budidaya ayam Arab dan dokumen lainnya. Pengamatan diskriptif dilakukan untuk melihat kondisi umum Balai Pengembangan Pendidikan Luar Sekolah dan Pemuda Regional III Jawa Tengah, setelah itu dilakukan pengamatan yang terfokus pada objek yang akan diteliti. Proses selanjutnya dilakukan secara selektif untuk melihat sejauh mana sarana dan prasarana serta aspek pendampingan yang dapat mendukung proses pembinaan. Bersamaan dengan proses pengamatan tersebut dilakukan pula wawancara deskriptif dengan Kepala Seksi Program BPPLSP Ungaran untuk memperoleh gambaran secara umum tentang sejarah singkat, struktur organisasi, jumlah peserta/warga belajar, jumlah tutor dan fasilitator, serta gambaran situasi umum desa binaan Sekunir Gunung Pati dan Beji Para’an Ungaran. Selanjutnya untuk meyakinkan kebenaran dari informasi yang diperoleh dilakukan pengamatan dan wawancara dengan pihak yang berkaitan dengan masalah yang diteliti. Data yang digunakan pertama kali dalam proses wawancara terencana yang terfokus adalah pertanyaan dijukan secara tidak berstruktur tertentu akan tetapi selalu berpusat kepada satu pokok permasalahan yang akan diteliti dan kedua, menggunakan wawancara terstruktur.

Hasil penelitian yang diperoleh dalam penelitian ini, yaitu pola pemberdayaan pemuda dalam pembinaan kecakapan hidup/life skills di BPPLSP ungaran dibagi menjadi empat tahapan, meliputi : a) Penetapan tujuan pemberdayaan, b) Proses pelaksanaan kegiatan pemberdayaan, c) Hasil pelaksanaan kegiatan pemberdayaan, d) Evaluasi pelaksanaan kegiatan pemberdayaan. Faktor pendukung pelaksanaan pola pemberdayaan meliputi : lingkungan sosial masyarakat, sumber-sumber belajar yang meliputi sumber material maupun non material, serta nara sumber teknis/tutor yang berkompeten dibidangnya masing-masing. Sedangkan faktor penghambat pelaksanaan pola pemberdayaan meliputi : belum adanya nara sumber teknis dari pihak BPPLSP yang berkompeten dibidang peternakan dan budidaya ayam Arab sehingga masih bekerjasama dengan instansi lain, aspek pendampingan dalam kelompok binaan Hasil penelitian yang diperoleh dalam penelitian ini, yaitu pola pemberdayaan pemuda dalam pembinaan kecakapan hidup/life skills di BPPLSP ungaran dibagi menjadi empat tahapan, meliputi : a) Penetapan tujuan pemberdayaan, b) Proses pelaksanaan kegiatan pemberdayaan, c) Hasil pelaksanaan kegiatan pemberdayaan, d) Evaluasi pelaksanaan kegiatan pemberdayaan. Faktor pendukung pelaksanaan pola pemberdayaan meliputi : lingkungan sosial masyarakat, sumber-sumber belajar yang meliputi sumber material maupun non material, serta nara sumber teknis/tutor yang berkompeten dibidangnya masing-masing. Sedangkan faktor penghambat pelaksanaan pola pemberdayaan meliputi : belum adanya nara sumber teknis dari pihak BPPLSP yang berkompeten dibidang peternakan dan budidaya ayam Arab sehingga masih bekerjasama dengan instansi lain, aspek pendampingan dalam kelompok binaan

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

Jumlah penduduk Indonesia saat ini lebih dari 210 juta orang, dari jumlah tersebut kelompok yang dikategorikan generasi muda atau yang berusia diantara 15 sampai 35 tahun diperkirakan berjumlah sekitar 78 juta jiwa atau 37% dari jumlah penduduk seluruhnya sebagaian besar dari kelompok usia ini adalah tenaga kerja produktif yang akan mengisi berbagai bidang kehidupan. Pemuda akan menempati posisi penting dan strategis, sebagai pelaku-pelaku pembangunan maupun sebagai generasi muda yang berkiprah dimasa depan. Karena itu pemuda harus dipersiapkan dan diberdayakan agar mampu memiliki kualitas dan keunggulan daya saing guna menghadapi tuntutan, kebutuhan serta tantangan dan persaingan diera globalisasi.

Pembangunan dibidang kepemudaan merupakan mata rantai tak terpisahkan dari sasaran pembangunan manusia seutuhnya dan masyarakat Indonesia seluruhnya. Keberhasilan pembangunan pemuda sebagai sumber daya manusia yang berkualitas dan memiliki keunggulan daya saing, merupakan salah satu kunci untuk membuka peluang untuk keberhasilan diberbagai sektor pembangunan lainnya. Oleh karena pemuda sebagai bagian dari warga negara mempunyai hak yang sama untuk memperoleh pendidikan yang bermutu (dalam UU No.20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan Nasional pasal 5 ayat 1). Namun kenyataannya hanya sebagian penduduk saja yang dapat menggunakan kesempatan tersebut. Oleh sebab itu sebagai implikasinya maka lahirlah UU No. 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional, dimana jalur pendidikan terdiri atas pendidikan formal, nonformal, dan informal. Pendidikan nonformal diselenggarakan bagi warga masyarakat yang memerlukan layanan pendidikan yang berfungsi sebagai pengganti, penambah, dan atau pelengkap pendidikan formal dalam rangka mendukung pendidikan sepanjang hayat. Pendidikan nonformal sebagai pengganti berarti pendidikan nonformal dapat menggantikan peran pendidikan formal dalam memberikan layanan pendidikan kepada warga negara. Sebagai penambah pendidikan nonformal berfungsi memberikan materi tambahan bagi pendidikan formal, sedangkan pendidikan nonformal sebagai pelengkap pendidikan formal dapat memberikan kontribusi yang berarti dalam rangka pelaksanaan pendidikan sepanjang hayat.

Pendidikan nonformal diantaranya adalah pendidikan kecakapan hidup, pendidikan anak usia dini, pendidikan kepemudaan, pendidikan pemberdayaan perempuan, pendidikan keaksaraan, pendidikan ketrampilan dan pelatihan kerja, pendidikan kesetaraan, serta pendidikan lain yang ditujukan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik. Pendidikan kecakapan hidup (life skills) pada dasarnya merupakan suatu upaya pendidikan untuk meningkatkan kecakapan hidup tiap warga negara. Pengertian kecakapan hidup disini adalah kecakapan yang dimiliki oleh seseorang untuk berani menghadapi problema hidup dan kehidupan dengan wajar tanpa rasa tertekan, kemudian secara proaktif dan kreatif mencari serta menemukan solusi, sehingga akhirnya mampu mengatasinya, dan memungkinkan warga belajar dapat hidup mandiri.

BPPLSP (Balai Pengembangan Pendidikan Luar Sekolah dan Pemuda) Regional III Jawa Tengah merupakan lembaga yang berkewajiban melakukan pengembangan dan pengkajian dibidang pendidikan luar sekolah dan pemuda. Sebagai bentuk pengembangan dan pengkajian dibidang pendidikan luar sekolah dan pemuda, BPPLSP menyelenggarakan program-program pelatihan yang bertujuan untuk meningkatkan keterampilan, pengetahuan, dan sikap warga belajar dibidang pekerjaan atau usaha tertentu sesuai dengan bakat, minat, perkembangan fisik dan jiwanya, serta potensi lingkungannya sehingga mereka memiliki bekal kemampuan untuk bekerja atau berusaha mandiri yang dapat dijadikan bekal untuk meningkatkan kualitas hidupnya.

Dari berbagai macam program-program pelatihan yang diselenggarakan oleh BPPLSP Regional III Jawa Tengah ini salah satunya adalah pelatihan dan budidaya ayam Arab, dimana ayam Arab sangat potensial untuk dijadikan perimadona baru dalam dunia peternakan ayam petelur. Pemeliharaan yang mudah, efektivitas telur yang tinggi , serta karakter telurnya yang menyerupai telur bukan ras (Buras;kampung), merupakan daya pikat tersendiri bagi masyarakat. Dengan keunggulan-keunggulan tersebut keuntungan yang diperoleh peternak ayam arab juga cukup tinggi oleh karena itu, wajar bila dalam waktu relatif singkat, populasi ayam Arab telah berkembang dengan pesat di Jawa Timur, Jawa Barat, Jawa Tengah dan daerah-daerah lain. Penyelenggaraan program kecakapan hidup (life skills) melalui pelatihan budidaya ayam Arab ini diarahkan pada upaya pengentasan kemiskinan dan upaya memecahkan masalah pengangguran yang semakin memprihatinkan. Walaupun sasaran dari setiap lembaga penyelenggaraan program-program pelatihan secara umum hampir sama, namun setiap lembaga yang menjadi penyelenggara program pelatihan, memiliki persyaratan, mekanisme pengusulan dan penetapan, serta karakteristik program yang berbeda-beda. Disamping itu juga masih berjalannya dua desa binaan yang berada di desa Sekunir Gunungpati dan desa Para’an Beji Ungaran. Situasi ini mendorong penulis untuk melakukan penelitian yang bermaksud mengidentifikasi dan mendiskripsikan pola pemberdayaan pemuda dengan pelatihan budidaya ayam Arab di BPPLSP Regional III Jawa Tengah.

B. Rumusan Masalah

Dari latar belakang masalah yang telah diuraikan diatas maka rumusan masalah dari penelitian ini adalah :

1. Bagaimanakah Pola pemberdayaan pemuda dengan pelatihan budidaya ayam Arab di BPPLSP Regional III Jawa Tengah ?

2. Apakah yang menjadi faktor pendukung dan penghambat pelaksanaan Pola pemberdayaan pemuda dengan pelatihan budidaya ayam Arab di BPPLSP Regional III Jawa Tengah ?

C. Tujuan Penelitian

Tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah :

1. Untuk mengetahui Pola pemberdayaan pemuda dengan pelatihan budidaya ayam Arab di BPPLSP Regional III Jawa Tengah.

2. Untuk mengetahui faktor pendukung dan penghambat pelaksanaan Pola pemberdayaan pemuda dengan pelatihan budidaya ayam Arab di BPPLSP Regional III Jawa Tengah.

D. Manfaat Penelitian

Dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut :

1. Manfaat teoritis Dapat menambah wacana pengetahuan tentang pola pemberdayaan pemuda dengan pelatihan budidaya ayam Arab pada khususnya, dan pengembangan pendidikan luar sekolah pada umumnya.

2. Manfaat praktis Temuan penelitian ini diharapkan dapat dijadikan acuan pihak BPPLSP untuk mengevaluasi program-program yang dilaksanakan, Bagi pemuda agar mereka mempunyai kemampuan untuk dapat diberdayakan, Bagi Dinas Pendidikan Luar Sekolah, Dinas Pertanian dan Peternakan, Dinas Pemberdayaan Masyarakat untuk mengambil kebijakan dimasa datang, serta pihak-pihak yang berkompeten lainnya.

E. Penegasan Istilah

Sehubungan dengan keterbatasan dan kemampuan penulis, untuk memperjelas judul skripsi ini, maka perlu ditegaskan beberapa istilah sebagai berikut :

1. Pola Pemberdayaan Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan bahwa Pola berarti model tau bentuk yang tetap. Adapun mengenai istilah pemberdayaan pemuda merupakan suatu upaya untuk mengaktualisasikan potensi yang sudah dimiliki oleh pemuda itu sendiri. Pemberdayaan pemuda ini diharapkan memberikan peranan kepada individu bukan sebagai obyek tetapi sebagai pelaku (aktor) yang menentukan hidup mereka (Moelyanto, 1999 dalam Ari Wahyono 2001 : 9)

2. Pemuda

Menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa, Pemuda mencakup anak- anak manusia dari umur 15 sampai dengan 24 tahun. Menurut Organisasi Pemuda, Pemuda dapat saja menjangkau semua orang muda yang menurut anggaran dasarnya dapat menjadi anggota, biasanya termasuk didalamnya semua muda-mudi yang berumur 15 sampai 40 tahun. Di dunia politik, budaya, ekonomi, dan keagamaan, kaum muda adalah mereka yang relatif belum lama bergerak atau berperan penting dalam bidang-bidang itu (Mangunharjana, 1996 : 11). Tangdilintin (1994 : 5) merumuskan pemuda sebagai berikut : kaum muda harus dilihat sebagai “pribadi” yang sedang berada pada taraf tertentu dalam perkembangan hidup seorang manusia, dengan kualitas dan ciri tertentu yang khas, dengan hak dan peranan serta kewajiban tertentu dengan potensi dan kebutuhan tertentu pula.

3. Kecakapan Hidup (Life Skills)

Menurut Broling (1989) Life Skills adalah interaksi berbagai pengetahuan dan kecakapan yang sangat penting dimiliki oleh seseorang sehingga mereka dapat mandiri. WHO (1997) memberikan pengertian bahwa kecakapan hidup adalah berbagai keterampilan atau kemampuan untuk dapat beradaptasi dan berperilaku positif, yang memungkinkan seseorang mampu menghadapi tuntutan dan tantangan dalam hidupnya sehari-hari secara efektif.

4. Pelatihan

Pelatihan adalah suatu tindakan sadar untuk mengembangkan bakat, pengetahuan, keterampilan dan kemampuan seseorang guna Pelatihan adalah suatu tindakan sadar untuk mengembangkan bakat, pengetahuan, keterampilan dan kemampuan seseorang guna

BAB II LANDASAN TEORI

A. Pola Pemberdayaan

1. Pengertian Pemberdayaan Dalam kajian teori ini akan disajikan beberapa pengertian Pemberdayaan atau sering disebut empowering, menurut Suzanne Kindervatter dalam bukunya yang berjudul Nonformal Education As an Empowering Process, menyatakan bahwa Empowering was defined as : People gaining an Understanding of and control over social, economic, and/ or political forces in order of improve their standing in society (Kindevatter, 1979 : 150). Berdasarkan pengertian ini dapat dikemukakan bahwa proses pemberian kekuatan atau daya adalah setiap upaya pendidikan yang bertujuan membangkitkan kesadaran, pengertian, dan kepekaan warga belajar terhadap perkembangan sosial, ekonomi dan atau politik sehingga akhirnya ia memiliki kemampuan untuk memperbaiki dan meningkatkan kedudukannya dalam masyarakat.

Dalam Pembelajaran (Sudjana, 1993 : 63) proses pemberian kekuatan tersebut mempunyai delapan pokok yaitu : (a) belajar dilakukan dalam kelompok- kelompok kecil, (b) pemberian tanggung jawab yang lebih besar kepada warga belajar selama kegiatan pembelajaran berlangsung, (c) kepemimpinan kelompok diperankan oleh warga belajar, (d) sumber belajar bertindak selaku fasilitator, (e) proses kegiatan belajar mengajar berlangsung secara demokratis, (f) adanya Dalam Pembelajaran (Sudjana, 1993 : 63) proses pemberian kekuatan tersebut mempunyai delapan pokok yaitu : (a) belajar dilakukan dalam kelompok- kelompok kecil, (b) pemberian tanggung jawab yang lebih besar kepada warga belajar selama kegiatan pembelajaran berlangsung, (c) kepemimpinan kelompok diperankan oleh warga belajar, (d) sumber belajar bertindak selaku fasilitator, (e) proses kegiatan belajar mengajar berlangsung secara demokratis, (f) adanya

Kesimpulan diatas mengungkapkan bahwa Pendidikan Luar Sekolah sebagai proses empowering adalah suatu pendekatan pendidikan yang bertujuan untuk meningkatkan pengertian dan pengendalian warga belajar mampu untuk meningkatkan pengertian dan pengendalian warga belajar terhadap kehidupan sosial, ekonomi, dan atau politik sehingga warga belajar mampu untuk meningkatkan taraf hidupnya dalam masyarakat, untuk itu proses yang perlu ditempuh warga belajar adalah (1) melatih tingkat kepekaan yang tinggi terhadap berbagai aspek perkembangan sosial, ekonomi dan politik selama proses pembelajaran (2) mempelajari berbagai macam keterampilan untuk memenuhi kebutuhan dan memecahkan masalah yang dihadapi bersama (Sudjana, 1993 : 63).

Pengertian pemberdayaan masyarakat sebenarnya mengacu kata “ empowerment ” yaitu sebagai upaya untuk mengaktualisasikan potensi yang sudah dimiliki masyarakat. Jadi, pendekatan pemberdayaan pemuda dalam pembinaan Pengertian pemberdayaan masyarakat sebenarnya mengacu kata “ empowerment ” yaitu sebagai upaya untuk mengaktualisasikan potensi yang sudah dimiliki masyarakat. Jadi, pendekatan pemberdayaan pemuda dalam pembinaan

35 tahun dan memiliki kemauan untuk belajar dan bekerja. Pola pemberdayaan pemuda dalam pembinaan kecakapan hidup (life skills) diselenggarakan berdasarkan hasil identifikasi kebutuhan peserta pelatihan, menetapkan tujuan, merancang kegiatan, menentukan nara sumber, menentukan peserta, menentukan pelaksanaan, persipan pelatihan, penerapan atau pelaksanaan pelatihan, evaluasi pelatihan dan dokumentasi pelatihan. Pendekatan pemberdayaan pemuda yang demikian tentunya diharapkan memberikan peranan kepada individu bukan sebagai obyek, tetapi sebagai pelaku (aktor) yang menentukan hidup mereka (Moelyanto, 1999 dalam Ary Wahyono, 2001: 9).

2. Strategi Pemberdayaan Strategi dasar dalam pemberdayaan (pendekatan pelayanan masyarakat/ community Service Approach ) pada umumnya dilandasi pada upaya mengoptimalkan fungsi manajemen Penddidikan Luar Sekolah.

Adapun Fungsi Manajemen Luar Sekolah dapat diuraikan sebagai berikut:

2.1 Perencanaan Program

Skidmore (1990 : 42-43) menyatakan bahwa suatu perencanaan diperlukan oleh lembaga atas dasar beberapa alasan, yaitu :

a. Efisiensi (efficiency). Tujuan dasar dari suatu efisiensi adalah usaha untuk mencapai tujuan dengan biaya dan upaya yang minimum tetapi mendapatkan hasil yang sama baiknya. Skidmore menyakini bahwa hal ini baru bisa terjadi bila dilakukan perencanaan secara seksama dan, juga merupakan suatu proses antisipasi (anticipatory process) terhadap berbagai masalah yang akan muncul.

b. Keefektifan (effectiveness). Lewiss (1985 :10) melihat bahwa keefektifan diukur berdasarkan variabel-variabel kriteria (criterion variables) yang diciptakan dalam hubungan dengan pencapaian tujuan. Berdasarkan kriteria-kriteria ini petugas dapat menilai apakah program yang telah mereka jalankan dapat dikategorikan sebagai berhasil ataukah tidak. Akan tetapi, hasil yang diinginkan mungkin tidak dapat dicapai bila tidak dilakukan perencanaan terlebih dahulu.

c. Akuntabilitas (accountability). Skidmore (1990 : 82-84), ada dua akuntabilitas yang perlu diperhatikan yaitu akuntabilitas lembaga dan akuntabilitas individu. Dimanapun akuntabilitas itu mengarah, suatu perencanaan yang seksama dapat mengarahkan para tenaga profesional untuk mengoperasionalisasikan pekerjaan mereka.

d. Morale (morale). Skidmore(1990:43) percaya bahwa perencanaan yang dilakukan merupakan hal yang sangat penting untuk meningkatkan moral d. Morale (morale). Skidmore(1990:43) percaya bahwa perencanaan yang dilakukan merupakan hal yang sangat penting untuk meningkatkan moral

2.2 Pelaksanaan Program

Kegiatan pelaksanaan program merupakan suatu proses yang dimulai dari implementasi awal atau pre-implementasi, implementasi dan implementasi akhir. Implementasi awal mencakup kegiatan-kegiatan persiapan sebelum program kegiatan dilakukan. Implementasi kegiatan merupakan semua aspek kegiatan teknis yang dilakukan pada sesi kegiatan termasuk koordinasi administratif, dokumentasi, dan dukungan finansial sedangkan implementasi akhir (post- implementation ) mencakup kegiatan-kegiatan administratif dan finansial yang diperlukan sesudah program dilaksanakan, termasuk kegiatan pelaporan, proses, dan hasil program kegiatan.

2.3 Evaluasi Program

Evaluasi menunjukkan suatu usaha untuk memperoleh informasi atau keterangan dari hasil suatu program dan menentukan nilai (value) dipandang dari sudut informasi tersebut. Evaluasi terhadap setiap kegiatan adalah penting, karena dalam evaluasi orang berusaha menentukan nilai atau manfaat dari pada kegiatan, dengan menggunakan informasi yang tersedia.

Setiap penyelenggaraan suatu program pelatihan biasanya diperlukan biaya yang cukup besar, agar biaya yang dikeluarkan tidak sia-sia dan pelatihan Setiap penyelenggaraan suatu program pelatihan biasanya diperlukan biaya yang cukup besar, agar biaya yang dikeluarkan tidak sia-sia dan pelatihan

Menurut Kirkpatrick rencana keseluruhan evaluasi pelatihan memberikan suatu kerangka untuk mengukur perubahan yang diinginkan pada tiap tingkat evaluasi, yakni perubahan pada tingkat belajar, tingkat perilaku dan tingkat hasil dengan menggunakan kriteria yang tepat.

2.4 Pengembangan

Pengembangan program pendidikan luar sekolah bertujuan untuk memperbaiki dan menyempurnakan pelaksanaan program serta memperluas jangkauan pelayanan program kepada masyarakaat sesuai dengan kebutuhan belajar yang diinginkan.

Agar pengembangan program pendidikan luar sekolah dapat tercapai perlu adanya kontroling/ monitoring yang berfungsi sebagai berikut :

a. Menghentikan kesalahan, penyimpangan, pemborosan, hambatan yang mengakibatkan ketidakefektifan program.

b. Mencegah terulangnya kembali kesalahan-kesalahan yang menghambat program.

c. Mencari cara-cara yang lebih baik atau membina yang lebih baik untuk tujuan pencapaian program.

3. Teknik Pemberdayaan Pengembangan masyarakat yang dilaakukan pada beberapa organisasi pelayanan masyarakat yang satu dengan yang lain memang tampak ada beberapa 3. Teknik Pemberdayaan Pengembangan masyarakat yang dilaakukan pada beberapa organisasi pelayanan masyarakat yang satu dengan yang lain memang tampak ada beberapa

3.1 Tahap Persiapan.

Tahap persiapan ini didalamnya terdapat tahap penyiapan petugas untuk menyampaikan persepsi antar anggota tim agen perubah (change agent) mengenai pendekatan apa yang akan dipilih dalam melakukan pengembangan masyarakat. Dan penyiapan lapangan, petugas (community worker) pada awalnya melakukan studi kelayakan terhadap daerah yang akan dijadikan sasaran, baik dilakukan secara informal maupun formal.

3.2 Tahap Assesment

Proses assessment yang dilakukan disini dilakukan dengan mengidentifikasi masalah dan sumber daya yang dimiliki klien. Dalam proses penilian (assessment) dapat digunakan teknik SWOT, dengan melihat kekuatan (streangth), kelemahan (Weaknesses), kesempatan (opportunities) dan ancaman (threatment). Dalam proses assessment masyarakat dilibatkan secara aktif agar mereka dapat merasakan bahwa permasalahan yang sedang dibicarakan benar- benar permasalahan yang keluar dari pandangan mereka sendiri.

3.3 Tahap Perencanaan Alternatif Program atau Kegiatan.

Pada tahap ini petugas (community worker) secara partisipatif mencoba melibatkan warga untuk berfikir tentang masalah yang mereka hadapi dan bagaimana cara mengatasinya. Dalam upaya mengatasi permasalahan yang ada, Pada tahap ini petugas (community worker) secara partisipatif mencoba melibatkan warga untuk berfikir tentang masalah yang mereka hadapi dan bagaimana cara mengatasinya. Dalam upaya mengatasi permasalahan yang ada,

3.4 Tahap Pemformulasian Rencana Aksi

Pada tahap ini agen perubahan (community worker) membantu masing- masing kelompok masyarakat untuk memformulasikan gagasan mereka dalam bentuk tertulis, terutama bila ada kaitannya dengan pembuatan proposal kepada pihak penyandang dana. Dalam tahap pemformulasian rencana aksi ini, diharapkan community worker dan masyarakat sudah dapat membayangkan dan menuliskan tujuan jangka pendek apa yang akan mereka capai dan bagaimana cara mencapai tujuan tersebut.

3.5 Tahap Pelaksanaan (Implementasi) Program atau Kegiatan

Tahap pelaksanaan ini merupakan salah satu tahap yang paling krusial (penting) dalam proses pengembangan masyarakat, karena sesuatu yang sudah direncanakan dengan baik akan dapat melenceng dalam pelaksanaan di lapangan bila tidak ada kerja sama antara petugas dan warga masyarakat, maupun kerja sama antar warga.

3.6 Tahap Evaluasi

Evaluasi sebagai sebagai proses pengawasan dari warga dan petugas terhadap program yang sedang berjalan pada pengembangan masyarakat sebaiknya dilakukan dengan melibatkan warga. Dengan keterlibatan warga pada tahap ini diharapkan akan berbentuk suatu sistem dalam komunitas untuk melakukan pengawasan secara internal.

3.7 Tahap Terminasi

Tahap ini merupakan tahap ‘pemutusan’ hubungan secara formal dengan komunitas sasaran. Terminasi dilakukan seringkali bukan karena masyarakat sudah dapat dianggap ‘mandiri’, tetapi tidak jarang terjadi karena proyek sudah harus dihentikan karena sudah melebihi jangka waktu yang ditetapkan sebelumnya, atau karena anggaran sudah selesai dan tidak ada penyandang dana yang dapat dan mau meneruskan. Meskipun demikian, tidak jarang community worker tetap melakukan kontak meskipun tidak secara rutin. Apalagi bila petugas (community worker) merasa bahwa tugasnya belum diselesaikan dengan baik.

B. Pendidikan kecakapan hidup/life skills

1. Pengertian Pendidikan kecakapan hidup

Menurut Broling (1989) life skills adalah interaksi berbagai pengetahuan dan kecakapan yang sangat penting dimiliki oleh seseorang sehingga mereka dapat hidup mandiri. Broling mengelompokkan life skills ke dalam tiga kelompok kecakapan yaitu : kecakapan hidup sehari-hari (daily living skill), kecakapan hidup pribadi/sosial (personal/social skill) dan kecakapan hidup bekerja (occupational skill).

WHO (1997) memberikan pengertian bahwa kecakapan hidup adalah berbagai keterampilan atau kemampuan untuk dapat beradaptasi dan berperilaku positif, yang memungkinkan seseorang mampu menghadapi tuntutan dan tantangan dalam hidupnya sehari-hari secara efektif. WHO mengelompokkan WHO (1997) memberikan pengertian bahwa kecakapan hidup adalah berbagai keterampilan atau kemampuan untuk dapat beradaptasi dan berperilaku positif, yang memungkinkan seseorang mampu menghadapi tuntutan dan tantangan dalam hidupnya sehari-hari secara efektif. WHO mengelompokkan

Dari uraian diatas dapat dirumuskan bahwa hakikat pendidikan kecakapan hidup dalam pendidikan nonformal adalah merupakan upaya untuk meningkatkan keterampilan, pengetahuan, sikap, dan kemampuan yang memungkinkan warga belajar dapat hidup mandiri. Dalam penyelenggaraan pendidikan kecakapan hidup didasarkan atas prinsip empat Pilar Pendidikan, yaitu : “learning to know” (belajar untuk memperoleh pengetahuan yang diikuti oleh “learning to learn” yaitu belajar untuk tahu cara belajar), “learnig to do” (belajar untuk dapat berbuat/melakukan pekerjaan),”learning to be” (belajar agar dapat menjadi orang yang berguna sesuai dengan bakat, minat, dan potensi diri) dan “learning to live together” (belajar untuk dapat hidup bersama dengan orang lain).

Pendidikan kecakapan hidup pada dasarnya merupakan suatu upaya pendidikan untuk meningkatkan kecakapan hidup setiap warga negara. Pengertian kecakapan hidup adalah kecakapan yang dimiliki oleh seseorang untuk berani menghadapi problema hidup dan kehidupan dengan wajar tanpa merasa tertekan, kemudian secara proaktif dan kreatif mencari serta menemukan solusi, sehingga akhirnya mampu mengatasinya.

2. Jenis-jenis Kecakapan Hidup/Life Skills Secara operasional, program kecakapan hidup dalam pendidikan

nonformal dipilah menjadi empat jenis yaitu : (1) Kecakapan pribadi (personal nonformal dipilah menjadi empat jenis yaitu : (1) Kecakapan pribadi (personal

Kecakapan kesadaran diri itu pada dasarnya merupakan penghayatan diri sebagai mahluk Tuhan Yang Maha Esa, anggota masyarakat dan warga negara, serta menyadari dan mensyukuri kelebihan dan kekurangan yang dimiliki, sekaligus menjadikannya sebagai modal dalam meningkatkan dirinya sebagai individu yang bermanfaat bagi dirinya sendiri dan lingkungannya. Kecakapan berfikir rasional mencakup antara lain kecakapan menggali dan menemukan informasi (information searching), kecakapan mengolah informasi dan mengambil keputusan (information processing and decision making skills), serta kecakapan memecahkan masalah secara kreatif (creative problem solving skill). Skema tentang Kecakapan Hidup dapat diuraikan sebagai berikut :

Kecakapan Personal (PS)

Kecakapan Hidup Generik (GLS)

Kecakapan Sosial (SS)

Kecakapan

kecakapan Akedemik (AS)

Hidup (LS) Kecakapan Hidup Spesifik (SLS)

Kecakapan Vokational (VS)

Kecakapan sosial atau kecakapan antar personal (interpersonal skills) mencakup antara lain kecakapan komunikasi dengan empati (communication skill) dan kecakapan bekerjasama (collaboration skill). Empati, sikap penuh pengertian dan seni komunikasi dua arah, perlu ditekankan karena yang dimaksud berkomunikasi di sini bukan sekedar menyampaikan pesan, tetapi isi dan sampainya pesan disertai dengan kesan baik yang akan menumbuhkan hubungan harmonis.kecakapan bekerjasama sangat diperlukan karena sebagai mahluk sosial, dalam kehidupan sehari-hari manusia akan selalu bekerjasama dengan manusia lain. Kerjasama bukan sekedar “kerja bersama” tetapi kerja yang disertai dengan saling pengertian, saling menghargai dan saling membantu. Dua kecakapan hidup yang diuraikan diatas (kecakapan personal dan kecakapan sosial) biasanya disebut sebagai kecakapan hidup yang bersifat umum atau kecakapan hidup generic (general life skill/GLS). Kecakapan hidup tersebut diperlukan oleh siapapun, baik mereka yang bekerja dan mereka yang sedang menempuh pendidikan.

Kecakapan hidup yang bersifat spesifik (specific life skill/SLS) deperlukanseseorang untuk menghadapi probelema “mobil yang mogok” tentu diperlukan kecakapan khusus tentang mesin mobil. Untuk memecahkan masalah

dagangan yang tidak laku, tentu diperlukan kecakapan pemasaran. Untuk mampu melakukan pengembangan biologi molekuler tentunya diperlukan keahlian di bidang bio-teknologi. Kecakapan hidup yang bersifat khusus biasanya disebut juga sebagai kompetensi teknis (technical competencies) yang terkait dengan materi mata pelajaran atau materi diklat tertentu dan pendekatan pembelajarannya. Spesific Life Skill (SLS) mencakup kecakapan pengembangan akademik (academik skill) dan kecakapan vocasional yang terkait dengan pekerjaan tertentu. Kecakapan akademik (academic skill/AS) yang seringkali juga disebut kemampuan berfikir ilmiah pada dasarnya merupakan pengembangan dari kecakapan berfikir rasional pada GLS. Jika kecakapan berfikir rasional masih bersifat umum, kecakapan akademik sudah lebih mengarah kepada kegiatan yang bersifat akademik/keilmuan. Kecakapan akademik mencakup antara lain kecakapan melakukan identifikasi variabel dan menjelaskan hubungan pada suatu fenomena tertentu (identifying variables and describing relationship among them ), merumuskan hipotesis terhadap suatu rangkaian kejadian (constructing hypotheses ), serta merancang dan melaksanakan penelitian untuk membuktikan suatu gagasan atau keingintahuan (designing and implementing a research). Kecakapan vocasional (vocational skill/VS) seringkali disebut pula dengan “kecakapan kejuruan”, artinya kecakapan yang dikaitkan dengan bidang tertentu yang terdapat di masyarakat.

Dalam kehidupan nyata, antara general life skill (GLS) dan specific life skill (SLS) yaitu antara kecakapan mengenal diri, kecakapan berfikir rasional, kecakapan sosial, dan kecakapan akademik serta kecakapan vocational tidak berfungsi secara terpisah-pisah, atau tidak terpisah secara ekslusif. Hal yang Dalam kehidupan nyata, antara general life skill (GLS) dan specific life skill (SLS) yaitu antara kecakapan mengenal diri, kecakapan berfikir rasional, kecakapan sosial, dan kecakapan akademik serta kecakapan vocational tidak berfungsi secara terpisah-pisah, atau tidak terpisah secara ekslusif. Hal yang

C. Pelatihan Budi Daya Ayam Arab

1. Pengertian Pelatihan Pelatihan adalah pembelajaran untuk merubah kinerja (Performance) dari

seseorang dalam kaitannya dengan tugasnya (Jobs). Dalam hal ini ada empat hal penting untuk diperhatikan yaitu :

1) Pembelajaran (Learning) merupakan upaya untuk merubah atau

meningkatkan kinerja seseorang dalam hubungannya dengan tugas- tugasnya dalam suatu organisasi. Pembelajaran biasanya mengacu kepada perubahan sesuatu kepada si beajar (Learners) dan perubahan itu biasanya mencakup psychomotoric, cognitive, affective, connative.

2) Kinerja (Performance) biasanya terkait dengan pekerjaan atau tugas- tugas

(Jobs), artinya bagaimana kemampuan seseorang dalam menjalankan tugas yang terkait dengan pekerjaan.

3) Sasaran (People) yang dimaksud dalam kegiatan training biasanya adalah terkait dengan orang dewasa (Adults) yang professional. Dengan demikian berarti dalam proses pelatihan kita harus memperhatikan prinsip-prinsip belajar orang dewasa yang telah memiliki pengetahuan, ketrampilan, dan sikap-sikap tertentu dalam menghadapi pekerjaannya. Menurut Ernesto (1991) dalam pelatihan terhadap orang dewasa tidak hanya memperhatikan tehadap tujuan dalam melakukan pelatihan, namun juga keterampilan-keterampilan yang telah dimiliki oleh orang dewasa selama proses pelatihan perlu diperhatikan. Perspektif, pengalaman, kebutuhan, dan orientasi perlu mendapat perhatian dalam pelatihan.

4) Pekerjaan atau Tugas (Jobs) yang dimaksud adalah tugas-tugas khusus yang dilakukan oleh sasaran sehari-hari. Dalam kaitannya dengan menjalankan tugas-tugas tersebut sasaran (Learners) perlu mendapat peningkatan melalui pelatihan. Pada umumnya pelatihan dilakukan terhadap sasaan (Learners) karena sering kali kita jumpai di sekitar kita, bahwa institusi institusi atau organisasi melakukan pelatihan kepada karyawan atau pegawai tidak didasarkan pada rasionalitas yang dapat dipertanggung jawabkan, namun lebih didasarkan pada kepentingan “proyek’’, sehingga tidak sedikit biaya, waktu, tenaga yang terbuang tanpa ada kemanfaatan yang berarti. Dalam program pelatihan menurut Taylor and Lippit (1984), bahwa program pelatihan pada sasaran (Learners) hendaknya didasarkan pada alasan-alasan tertentu diantaranya adalah tidak semua orang percaya bahwa pelatihan akan mendatangkan efektivitas dan 4) Pekerjaan atau Tugas (Jobs) yang dimaksud adalah tugas-tugas khusus yang dilakukan oleh sasaran sehari-hari. Dalam kaitannya dengan menjalankan tugas-tugas tersebut sasaran (Learners) perlu mendapat peningkatan melalui pelatihan. Pada umumnya pelatihan dilakukan terhadap sasaan (Learners) karena sering kali kita jumpai di sekitar kita, bahwa institusi institusi atau organisasi melakukan pelatihan kepada karyawan atau pegawai tidak didasarkan pada rasionalitas yang dapat dipertanggung jawabkan, namun lebih didasarkan pada kepentingan “proyek’’, sehingga tidak sedikit biaya, waktu, tenaga yang terbuang tanpa ada kemanfaatan yang berarti. Dalam program pelatihan menurut Taylor and Lippit (1984), bahwa program pelatihan pada sasaran (Learners) hendaknya didasarkan pada alasan-alasan tertentu diantaranya adalah tidak semua orang percaya bahwa pelatihan akan mendatangkan efektivitas dan

1) Pelatihan tidak menyentuh substansi yang sebenarnya (no real subtance ).

2) Pelatih bukan orang yang memiliki spesifikasi bidang pelatihan yang dilakukan, dan akibatnya pelatih cenderung bersifat akademik (tend to

be academic ).

3) Banyak pimpinan yang tidak meyakini tentang kegunaan pelatihan, karena dianggap hanya bersifat akademik, terlalu teoritis, menghabiskan biaya, dan tidak memberikan dampak yang berarti.

4) Umumnya pelatihan dilakukan dalam waktu yang pendek dan akibatnya sering tidak membawa perubahan yang berarti bagi sasaran (learners).

5) Pelatihan hanya dianggap penting bagi pegawai menengah dan bawah dan tidak penting bagi pimpinan (thinking it good only middle or low middle managers and not to senior )

6) Pelatihan terlalu akademik dan para manager tidak memiliki kesempatan untuk mengikutinya.

7) Pelatih sendiri cenderung tidak efektif menjalankan kegiatannya, dan akibatnya seringkali problem tidak dipecahkan melalui kegiatan pelatihan. Namun lebih banyak ditentukan oleh perubahan kebijakan, 7) Pelatih sendiri cenderung tidak efektif menjalankan kegiatannya, dan akibatnya seringkali problem tidak dipecahkan melalui kegiatan pelatihan. Namun lebih banyak ditentukan oleh perubahan kebijakan,

8) Pelatih sering menggunakan metode yang tradisional (traditional methods ) akibatnya peserta menjadi bosan, padahal sasaran ingin memperoleh pengalaman yang banyak.

9) Pelatih memiliki keterbatasan dalam penggunaan audio-visual dan teknologi komunikasi modern.

10) Pelatih cenderung menggunakan pendekatan Paedagogy dan kurang memahami pendekatan Andragogy.

11) Pelatih hanya memiliki latar belakang bidang keahlian karena hanyalah seorang manager. Pelatihan tidak selamanya berjalan secara lancar pada setiap kesempatan. Banyak faktor yang menjadi kendala dalam pelaksanaan kegiatan pelatihan, dan faktor-faktor itu adalah :

1) Teori dengan praktek tidak sejalan, artinya teorinya teori yang diberikan tidak bisa dipraktekkan pada saat menjalankan tugas-tugas yang dilakukan.

2) Kondisi lingkungan tidak kondusif untuk dimanfaatkan dalam pelatihan dan tidak bisa menunjang kinerja behaviors yang diperlukan dalam pelatihan.

3) Perubahan perilaku tidak bisa diukur (unmeasurable) secara pasti karena materi yang diberikan tidak memenuhi standard.

4) Sasaran (learners) tidak memiliki motivasi untuk mencapai kinerja yang diharapkan serta tidak mempunyai kemampuan untuk mengikuti materi pelatihan yang diberikan.

5) Pengembangan organisasi dianggap bisa dilakukan melalui kegiatan non-pelatihan, misalnya perubahan kebijakan dan pengembangan proyek-proyek tertentu.

6) Sumber-sumber yang diperlukan dalam kegiatan pelatihan tidak memadai, baik sumber finansial, manusia, fisik dan teknologi. Pelatihan (training) lebih menekankan pengajaran, disiplin atau driil. Pelatihan besifat jangka pendek, lebih spesifik, dan hal-hal penting. Pengetahuan, keterampilan, orientasi, pengalaman, dan perspektif yang diberikan lebih terkait dengan pekerjaan sehari-hari, tugas-tugas khusus, proyek, atau kebutuhan- kebutuhan organisasi. Dalam pelatihan Ernesto (1991) lebih menekankan pada perception, experiences, attitudes, knowledge, and skills (PEAKS). Pelatihan dan budidaya ayam arab di BPPLSP Regional III Jawa Tengah ini dilaksanakan salah satunya adalah dikarenakan keunggulan ayam Arab itu sendiri sebagai ayam petelur telah memikat hati banyak peternak ayam, sebagai primadona baru ayam buras, kehadiran ayam arab ini mampu memberikan gairah baru bagi peternak. Dalam waktu singkat, telah muncul ratusan peternak ayam baru yang menguntungkan pada jenis ayam Arab ini. Dalam pengelolaan peternakan ayam arab ini diperlukan teknik budidaya ayam Arab, yang biasa didapat dengan cara magang pada peternak ayam yang telah berpengalaman, bisa juga melalui kursus atau pelatihan, maupun referensi bacaan. Berbekal pengetahuan ini akan sangat 6) Sumber-sumber yang diperlukan dalam kegiatan pelatihan tidak memadai, baik sumber finansial, manusia, fisik dan teknologi. Pelatihan (training) lebih menekankan pengajaran, disiplin atau driil. Pelatihan besifat jangka pendek, lebih spesifik, dan hal-hal penting. Pengetahuan, keterampilan, orientasi, pengalaman, dan perspektif yang diberikan lebih terkait dengan pekerjaan sehari-hari, tugas-tugas khusus, proyek, atau kebutuhan- kebutuhan organisasi. Dalam pelatihan Ernesto (1991) lebih menekankan pada perception, experiences, attitudes, knowledge, and skills (PEAKS). Pelatihan dan budidaya ayam arab di BPPLSP Regional III Jawa Tengah ini dilaksanakan salah satunya adalah dikarenakan keunggulan ayam Arab itu sendiri sebagai ayam petelur telah memikat hati banyak peternak ayam, sebagai primadona baru ayam buras, kehadiran ayam arab ini mampu memberikan gairah baru bagi peternak. Dalam waktu singkat, telah muncul ratusan peternak ayam baru yang menguntungkan pada jenis ayam Arab ini. Dalam pengelolaan peternakan ayam arab ini diperlukan teknik budidaya ayam Arab, yang biasa didapat dengan cara magang pada peternak ayam yang telah berpengalaman, bisa juga melalui kursus atau pelatihan, maupun referensi bacaan. Berbekal pengetahuan ini akan sangat

1. Pemilihan bibit

Pemilihan bibit akan mempengaruhi produktivitas ayam Arab dalam menghasilkan telur. Bibit yang baik biasanya juga menghasilkan anakan yang baik dan memiliki sifat yang mirip dengan induknya. Berikut ini adalah beberapa hal yang perlu diketahui sebagai indikator bibit yang baik. (a) Tanda DOC yang berkualitas baik; sehat, lincah, mata bulat, tidak mengantuk, tidak cacat kaki, sayap lengka, bentuk paruh normal, bulu tubuh kering. (b) Tanda ayam dara (pullet) yang siap bertelur; sehat, tidak cacat, kuku pendek, bobot minimal 1,2 kg pada umur 5 bulan. (c) Tanda calon induk petelur yang baik; sehat, tidak cacat, kuku relatif pendek, mata bulat cerah, bulu mengkilap, bentuk badan bulat letter U.

2. Kandang yang sehat Setelah mendapatkan bibit baik yang terseleksi, hal selanjutnya yang perlu diperhatikan adalah kandang. Ayam akan tetap sehat apabila ditempatkan pada kandang yang nyaman, yang memenuhi syarat sebagai berikut : (a) Longgar, tidak terlalu sempit (b) Cukup memperoleh sinar matahari pagi (c) Tanah padat dan berpasir, kering, bersih (d) Dapat melindungi ayam dari terik sinar matahari, hujan, kencangnya angin malam (e) Jauh dari keramaian.

3. Pakan

Kualitas dan kuantitas pakan juga sangat menentukan produktivitas telur ayam Arab serta perkembanagan tubuh ayam itu sendiri. Sebaiknya pakan dibuat sendiri dengan pertimbangan utama adalah dapat diusahakan secara ekonomis. Beberapa hal yang harus diperhitungkan dalam pembutan pakan ini antara lain : (a) Mudah didapat, selalu tersedia, murah (b) Tidak bersaing dengan kebutuhan manusia (c) Disukai oleh ayam (d) Tidak mengganngu kesehatan ayam. Disamping itu perlu diberikan pula ramuan tradisional untuk mengoptimalkan produksi telur ayam Arab ini.

4. Pengendalian penyakit Dalam usaha peternakan ayam Arab, penyakit merupakan salah satu resiko yang kadang-kadang harus dihadapi. Oleh karena itu mengenai gejala masing- masing penyakit, mengetahui sumber penyebabnya dan dapat melakukan pencegahan penyakit merupakan salah satu hal yang perlu diperhatikan oleh peternak ayam Arab untuk suksesnya usaha ternak ayam Arab petelur ini. Ayam Arab relatif lebih tahan terhadap penyakit dibandingkan dengan ayam ras. Namun perlu diketahui bahwa penyakit yang mungkin mengenai ayam Arab ini sama seperti ayam ras lainnya, dan dapat juga menular. Oleh sebab itu perlu dilakukan upaya pencegahannya, karena pada ayam yang telah berproduksi, secara langsung akan berpengaruh terhadap produktivitasnya. Pada prinsipnya ada dua faktor penyebab penyakit ini yaitu : internal dan eksternal. Secara umum ada beberapa hal yang dapat menyebabkan berjangkitnya penyakit ini, antara lain : (a) Cuaca seperti ; suhu, kelembaban, hujan terus menerus, musim kering yang panjang, berpengaruh terhadap kondisi ayam, misalnya gangguan pernafasan. (b) Kandang 4. Pengendalian penyakit Dalam usaha peternakan ayam Arab, penyakit merupakan salah satu resiko yang kadang-kadang harus dihadapi. Oleh karena itu mengenai gejala masing- masing penyakit, mengetahui sumber penyebabnya dan dapat melakukan pencegahan penyakit merupakan salah satu hal yang perlu diperhatikan oleh peternak ayam Arab untuk suksesnya usaha ternak ayam Arab petelur ini. Ayam Arab relatif lebih tahan terhadap penyakit dibandingkan dengan ayam ras. Namun perlu diketahui bahwa penyakit yang mungkin mengenai ayam Arab ini sama seperti ayam ras lainnya, dan dapat juga menular. Oleh sebab itu perlu dilakukan upaya pencegahannya, karena pada ayam yang telah berproduksi, secara langsung akan berpengaruh terhadap produktivitasnya. Pada prinsipnya ada dua faktor penyebab penyakit ini yaitu : internal dan eksternal. Secara umum ada beberapa hal yang dapat menyebabkan berjangkitnya penyakit ini, antara lain : (a) Cuaca seperti ; suhu, kelembaban, hujan terus menerus, musim kering yang panjang, berpengaruh terhadap kondisi ayam, misalnya gangguan pernafasan. (b) Kandang

2. Model Pelatihan

Beberapa unsur yang terintegrasi dalam model siklus pelatihan adalah:

a. Analisis yang meliputi identifikasi masalah, identifikasi kebutuhan, pengembangan kinerja yang standar, identifikasi sasaran (learners), pengembangan kriteria pelatihan, pekiraan biaya, dan perkiraan keuntungan dibandingkan dengan biaya yang dikeluarkan.

b. Pengembangan, pada tahap ini merupakan esensi dari rancangan pelatihan, karena pada tahap ini akan bisa memantapkan kita untuk bisa atau tidak melakukan pelatihan. Untuk itu, ada beberapa hal yang perlu dipertanyakan, antara lain : masukan, urutan kegiatan, logistik, sumber-sumber, finansial yang diperlukan, dan kriteria keberhasilan.

c. Penerapan, bagaimana pun baiknya rancangan pelatihan dibuat, peluang ketidak berhasilan tetap ada jika tidak diimplementasikan dan dikoordinir secara baik. Oleh karena itu peran kegiatan administratif dalam tahap ini sangat penting bagi terlaksananya kegiatan pelatihan. Kegiatan-kegiatan c. Penerapan, bagaimana pun baiknya rancangan pelatihan dibuat, peluang ketidak berhasilan tetap ada jika tidak diimplementasikan dan dikoordinir secara baik. Oleh karena itu peran kegiatan administratif dalam tahap ini sangat penting bagi terlaksananya kegiatan pelatihan. Kegiatan-kegiatan

d. Evaluasi, pada tahap ini harus ditetapkan perilaku apa yang hendak dicapai dari pelatihan, baik selama proses pelatihan, sesudah pelatihan, maupun tindak lanjut dari pelatihan. Untuk maksud ini perlu dirumuskan kriteria yang jelas dan terukur sehingga dapat diketahui bahwa perubahan perilaku tersebut akibat dari pelatihan.

Lanjutkan membaca

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

56 1234 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

21 346 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

19 285 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

4 197 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

16 268 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

21 363 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

16 331 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

6 190 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

10 343 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

16 385 23