Pengembangan Pemuda Budidaya Ayam Arab

POLA PEMBERDAYAAN PEMUDA DENGAN PELATIHAN
BUDIDAYA AYAM ARAB DI BPPLSP REGIONAL III JAWA TENGAH

SKRIPSI
Diajukan dalam rangka menyelesaikan Studi Strata I
Untuk menempuh gelar Sarjana Pendidikan

Oleh :

Nama

: SUCI ROHANIYAH

Nim

: 1201401017

Jurusan : Pendidikan Luar Sekolah

FAKULTAS ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS NEGERI SEMARANG
2005
i

HALAMAN PENGESAHAN

Skripsi ini telah dipertahankan di dalam Sidang Panitia Ujian Skripsi Jurusan
Pendidikan Luar Sekolah, Fakultas Ilmu Pendidikan, Universitas Negeri
Semarang, pada :
Hari

: Jumat

Tanggal

: 28 Oktober 2005

Panitia Ujian

Ketua

Penguji I

Drs. H. Siswanto, M.M

Drs. Utsman, M.Pd

NIP. 130515769

NIP.

Sekretaris

Penguji II

Drs. Achmad Rifai R.C M.Pd

Drs. K. Nurhalim, M.Pd

NIP. 131413302

NIP. 130870431

Penguji III

Drs. Sawa Suryana
NIP. 131431203
ii

MOTTO DAN PERSEMBAHAN

MOTTO
Dibalik kesukaran pasti ada kemudahan, maka bila usai suatu pekerjaan,
berusahalah menyelesaikan pekerjaan lainnya dan kepada Tuhanmulah
engkau berserah diri (Q.S. Al- Insyirah : 6-8)
Hidup adalah sebuah perjalanan panjang, yang selalu membutuhkan
perjuangan dan pengorbanan (Penulis)

PERSEMBAHAN
Skripsi ini kupersembahkan untuk :
1. Bapak dan ibu tercinta atas segala doa, kasih sayang serta pengorbanannya
2. Adik-adikku tersayang Dian, Andi, dan Akbar, kalianlah sumber semangat
dan inspirasi yang tiada pernah berhenti
3. Sutrisno ST, seseorang yang selalu menyemangati dan menyertaiku
4. Teman-teman seperjuangan PLS FIP UNNES 2001, serta rekan-rekan
kerja JEMEMA ISLAMIC SCHOOL
5. Almamaterku tercinta.

iii

PRAKATA
Puji syukur kehadirat Allah SWT atas rahmat, taufik dan hidayahnya,
sehingga penulis dapat menyelesaikan penyusunan skripsi ini sebagai persyaratan
guna memperoleh gelar Sarjana Strata I bidang Pendidikan Luar Sekolah pada
Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang.
Skripsi dengan judul “Pola Pemberdayaan Pemuda Dengan Pelatihan
Budidaya Ayam Arab di BPPLSP Regional III Jawa Tengah, semoga dapat
memberikan manfaat bagi penulis serta pihak-pihak yang ingin mengkaji lebih
dalam tentang permasalahan pemberdayaan pemuda yang diteliti oleh penulis.
Dengan segala keterbatasan, penulis menyadari bahwa sebagai karya
ilmiah penyusunan skripsi ini masih kurang sempurna. Oleh karenanya penulis
sangat berterima kasih kepada semua pihak yang dengan kerelaan hati bersedia
memberikan saran dan kritik membangun yang sangat diharapkan penulis.
Tanpa melupakan jasa kebaikan dukungan moril dan spirituil dari banyak
pihak yang telah membantu dalam menyelesaikan skripsi ini, dari hati yang tulus
penulis ingin menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada :
1. Drs. H. Siswanto, M.M, Dekan Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas
Negeri Semarang yang telah memberikan ijin penelitian.
2. Drs. Achmad Rifai RC, M.Pd, Ketua Jurusan Pendidikan Luar Sekolah
Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Negeri Semarang yang telah
memberikan pengesahan dan persetujuan terhadap judul skripsi yang
penulis ajukan.

iv

3. Drs. Khomsun Nurhalim, M.Pd, Dosen Pembimbing I yang telah dengan
kesabaran dan tanggung jawab telah memberi banyak pengarahan dan
bimbingan kepada penulis dalam menyusun skripsi ini.
4. Drs. Sawa Suryana, Dosen Pembimbing II yang telah dengan kesabaran
dan tanggung jawab juga telah memberi banyak pengarahan dan
bimbingan kepada penulis dalam menyusun skripsi ini.
5. Drs. Wartanto, MM, sebagai kepala Balai Pengembangan Pendidikan Luar
Sekolah dan Pemuda Regional III Jawa Tengah yang telah memberikan
ijin penelitian.
6. Drs. Kastum, M.Pd, sebagai kepala seksi program BPPLSP Regional III
Jawa Tengah yang telah memberikan bantuan dalam melengkapi data yang
penulis perlukan.
7. Para responden : Pihak penyelenggara, Tutor/nara sumber teknis dan
peseta/ warga belajar pelatihan budidaya ayam Arab di Sekunir
Gunungpati dan Beji Para’an Ungaran yang dengan keterbukaan hati
bersedia diwawancarai dan melengkapi data yang penulis perlukan.
8. Semua pihak yang tidak dapat disebutkan satu persatu, yang telah memberi
banyak dukungan, motivasi dan bantuan yang penulis butuhkan selama
proses penyusunan skripsi ini.
Semarang, Juli 2005
Penulis

Suci Rohaniyah
1201401017
v

DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL .......................................................................................

i

PENGESAHAN KELULUSAN ......................................................................

ii

MOTTO DAN PERSEMBAHAN ...................................................................

iii

PRAKATA.......................................................................................................

iv

DAFTAR ISI....................................................................................................

vi

ABSTRAK .......................................................................................................

vii

BAB I. PENDAHULUAN ...............................................................................

1

A.
B.
C.
D.
E.

Latar Belakang ...........................................................................................
Perumusan Masalah ...................................................................................
Tujuan Penelitian .......................................................................................
Manfaat Penelitian .....................................................................................
Penegasan Istilah........................................................................................

1
4
4
5
5

BAB II. TINJAUAN PUSTAKA.....................................................................
A. Pola Pemberdayaan ....................................................................................
B. Pendidikan Kecakapan Hidup ....................................................................
C. Pelatihan Budidaya ayam Arab..................................................................

8
8
16
20

BAB III. METODE PENELITIAN..................................................................
A. Pendekatan Penelitian ................................................................................
B. Penentuan Lokasi .......................................................................................
C. Fokus Penelitian .........................................................................................
D. Teknik Pengumpulan Data.........................................................................
E. Keabsahan Data..........................................................................................
F. Analisis Data ..............................................................................................

34
34
35
35
36
40
42

BAB IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ................................
A. Hasil Penelitian ..........................................................................................
B. Pembahasan................................................................................................
C. Faktor pendukung dan penghambat ...........................................................

45
45
63
71

BAB V. KESIMPULAN DAN SARAN..........................................................
A. Simpulan ....................................................................................................
B. Saran...........................................................................................................

72
72
74

DAFTAR PUSTAKA ......................................................................................

75

LAMPIRAN-LAMPIRAN...............................................................................

76

vi

ABSTRAK
Suci Rohaniyah, 2005. “Pola pemberdayaan pemuda dengan pelatihan budidaya
ayam Arab di BPPLSP Regional III Jawa Tengah. Skripsi Jurusan Pendidikan
Luar Sekolah, Universitas Negeri Semarang.
Permasalahan dalam penelitian ini adalah bagaimanakah pola
pemberdayaan pemuda dengan pelatihan budidaya ayam Arab di BPPLSP
Regional III Jawa Tengah, serta faktor pendukung dan penghambat pelaksanaan
pola pemberdayaan pemuda tersebut.
Tujuan penelitian adalah untuk mendiskripsikan bagaimanakah pola
pemberdayaan pemuda dengan pelatihan budidaya ayam Arab di BPPLSP
Regional III Jawa Tengah, serta faktor pendukung dan penghambat pelaksanaan
pola pemberdayaan pemuda tersebut.
Penelitian ini menggunakan pendekatan diskriptif kualitatif, pengumpulan
data dilakukan dengan cara observasi, wawancara dan dokumentasi. Dalam
pengumpulan data digunakan juga sumber-sumber non manusia berupa laporan
pelaksanaan kegiatan pelatihan budidaya ayam Arab dan dokumen lainnya.
Pengamatan diskriptif dilakukan untuk melihat kondisi umum Balai
Pengembangan Pendidikan Luar Sekolah dan Pemuda Regional III Jawa Tengah,
setelah itu dilakukan pengamatan yang terfokus pada objek yang akan diteliti.
Proses selanjutnya dilakukan secara selektif untuk melihat sejauh mana sarana dan
prasarana serta aspek pendampingan yang dapat mendukung proses pembinaan.
Bersamaan dengan proses pengamatan tersebut dilakukan pula wawancara
deskriptif dengan Kepala Seksi Program BPPLSP Ungaran untuk memperoleh
gambaran secara umum tentang sejarah singkat, struktur organisasi, jumlah
peserta/warga belajar, jumlah tutor dan fasilitator, serta gambaran situasi umum
desa binaan Sekunir Gunung Pati dan Beji Para’an Ungaran. Selanjutnya untuk
meyakinkan kebenaran dari informasi yang diperoleh dilakukan pengamatan dan
wawancara dengan pihak yang berkaitan dengan masalah yang diteliti. Data yang
digunakan pertama kali dalam proses wawancara terencana yang terfokus adalah
pertanyaan dijukan secara tidak berstruktur tertentu akan tetapi selalu berpusat
kepada satu pokok permasalahan yang akan diteliti dan kedua, menggunakan
wawancara terstruktur.
Hasil penelitian yang diperoleh dalam penelitian ini, yaitu pola
pemberdayaan pemuda dalam pembinaan kecakapan hidup/life skills di BPPLSP
ungaran dibagi menjadi empat tahapan, meliputi : a) Penetapan tujuan
pemberdayaan, b) Proses pelaksanaan kegiatan pemberdayaan, c) Hasil
pelaksanaan kegiatan pemberdayaan, d) Evaluasi pelaksanaan kegiatan
pemberdayaan. Faktor pendukung pelaksanaan pola pemberdayaan meliputi :
lingkungan sosial masyarakat, sumber-sumber belajar yang meliputi sumber
material maupun non material, serta nara sumber teknis/tutor yang berkompeten
dibidangnya masing-masing. Sedangkan faktor penghambat pelaksanaan pola
pemberdayaan meliputi : belum adanya nara sumber teknis dari pihak BPPLSP
yang berkompeten dibidang peternakan dan budidaya ayam Arab sehingga masih
bekerjasama dengan instansi lain, aspek pendampingan dalam kelompok binaan
vii

yang tidak berlanjut secara kontinyu, serta sikap dan mental dari sebagian warga
belajar yang tidak mau bekerja keras dan hanya menginginkan hasil yang cepat.
Dalam rangka peningkatan kegiatan pemberdayaan pemuda disarankan :
diadakannya aspek pendampingan teknis secara rutin kepada anggota kelompok
binaan agar desa binaan dapat berkembang secara maksimal, peningkatan jalinan
hubungan mitra kerja dengan berbagai lembaga terkait untuk memperluas daerah
pemasaran serta peningkatan kegiatan-kegiatan pemberdayaan pemuda dalam
pembinaan kecakapan hidup/life skills lainnya untuk mengaktualisasikan potensi
yang sudah dimiliki oleh masyarakat agar dapat hidup mandiri.

viii

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Jumlah penduduk Indonesia saat ini lebih dari 210 juta orang, dari jumlah tersebut kelompok yang
dikategorikan generasi muda atau yang berusia diantara 15 sampai 35 tahun diperkirakan berjumlah sekitar 78 juta jiwa
atau 37% dari jumlah penduduk seluruhnya sebagaian besar dari kelompok usia ini adalah tenaga kerja produktif yang akan
mengisi berbagai bidang kehidupan. Pemuda akan menempati posisi penting dan strategis, sebagai pelaku-pelaku
pembangunan maupun sebagai generasi muda yang berkiprah dimasa depan. Karena itu pemuda harus dipersiapkan dan
diberdayakan agar mampu memiliki kualitas dan keunggulan daya saing guna menghadapi tuntutan, kebutuhan serta
tantangan dan persaingan diera globalisasi.
Pembangunan dibidang kepemudaan merupakan mata rantai tak terpisahkan dari sasaran pembangunan manusia
seutuhnya dan masyarakat Indonesia seluruhnya. Keberhasilan pembangunan pemuda sebagai sumber daya manusia yang
berkualitas dan memiliki keunggulan daya saing, merupakan salah satu kunci untuk membuka peluang untuk keberhasilan
diberbagai sektor pembangunan lainnya. Oleh karena pemuda sebagai bagian dari warga negara mempunyai hak yang sama
untuk memperoleh pendidikan yang bermutu (dalam UU No.20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan Nasional pasal 5
ayat 1). Namun kenyataannya hanya sebagian penduduk saja yang dapat menggunakan kesempatan tersebut. Oleh sebab itu
sebagai implikasinya maka lahirlah UU No. 20 tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional, dimana jalur pendidikan
terdiri atas pendidikan formal, nonformal, dan informal. Pendidikan nonformal diselenggarakan bagi warga masyarakat
yang memerlukan layanan pendidikan yang berfungsi sebagai pengganti, penambah, dan atau pelengkap pendidikan formal
dalam rangka mendukung pendidikan sepanjang hayat. Pendidikan nonformal sebagai pengganti berarti pendidikan
nonformal dapat menggantikan peran pendidikan formal dalam memberikan layanan pendidikan kepada warga negara.
Sebagai penambah pendidikan nonformal berfungsi memberikan materi tambahan bagi pendidikan formal, sedangkan
pendidikan nonformal sebagai pelengkap pendidikan formal dapat memberikan kontribusi yang berarti dalam rangka
pelaksanaan pendidikan sepanjang hayat.
Pendidikan nonformal diantaranya adalah pendidikan kecakapan hidup, pendidikan anak usia dini, pendidikan
kepemudaan, pendidikan pemberdayaan perempuan, pendidikan keaksaraan, pendidikan ketrampilan dan pelatihan kerja,
pendidikan kesetaraan, serta pendidikan lain yang ditujukan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik. Pendidikan
kecakapan hidup (life skills) pada dasarnya merupakan suatu upaya pendidikan untuk meningkatkan kecakapan hidup tiap
warga negara. Pengertian kecakapan hidup disini adalah kecakapan yang dimiliki oleh seseorang untuk berani menghadapi
problema hidup dan kehidupan dengan wajar tanpa rasa tertekan, kemudian secara proaktif dan kreatif mencari serta
menemukan solusi, sehingga akhirnya mampu mengatasinya, dan memungkinkan warga belajar dapat hidup mandiri.
BPPLSP (Balai Pengembangan Pendidikan Luar Sekolah dan Pemuda) Regional III Jawa Tengah merupakan
lembaga yang berkewajiban melakukan pengembangan dan pengkajian dibidang pendidikan luar sekolah dan pemuda.
Sebagai bentuk pengembangan dan pengkajian dibidang pendidikan luar sekolah dan pemuda, BPPLSP menyelenggarakan
program-program pelatihan yang bertujuan untuk meningkatkan keterampilan, pengetahuan, dan sikap warga belajar
dibidang pekerjaan atau usaha tertentu sesuai dengan bakat, minat, perkembangan fisik dan jiwanya, serta potensi
lingkungannya sehingga mereka memiliki bekal kemampuan untuk bekerja atau berusaha mandiri yang dapat dijadikan
bekal untuk meningkatkan kualitas hidupnya.
Dari berbagai macam program-program pelatihan yang diselenggarakan oleh BPPLSP Regional III Jawa
Tengah ini salah satunya adalah pelatihan dan budidaya ayam Arab, dimana ayam Arab sangat potensial untuk dijadikan
perimadona baru dalam dunia peternakan ayam petelur. Pemeliharaan yang mudah, efektivitas telur yang tinggi , serta
karakter telurnya yang menyerupai telur bukan ras (Buras;kampung), merupakan daya pikat tersendiri bagi masyarakat.
Dengan keunggulan-keunggulan tersebut keuntungan yang diperoleh peternak ayam arab juga cukup tinggi oleh karena itu,
wajar bila dalam waktu relatif singkat, populasi ayam Arab telah berkembang dengan pesat di Jawa Timur, Jawa Barat,
Jawa Tengah dan daerah-daerah lain. Penyelenggaraan program kecakapan hidup (life skills) melalui pelatihan budidaya
ayam Arab ini diarahkan pada upaya pengentasan kemiskinan dan upaya memecahkan masalah pengangguran yang
semakin memprihatinkan. Walaupun sasaran dari setiap lembaga penyelenggaraan program-program pelatihan secara
umum hampir sama, namun setiap lembaga yang menjadi penyelenggara program pelatihan, memiliki persyaratan,
mekanisme pengusulan dan penetapan, serta karakteristik program yang berbeda-beda. Disamping itu juga masih
berjalannya dua desa binaan yang berada di desa Sekunir Gunungpati dan desa Para’an Beji Ungaran. Situasi ini
mendorong penulis untuk melakukan penelitian yang bermaksud mengidentifikasi dan mendiskripsikan pola
pemberdayaan pemuda dengan pelatihan budidaya ayam Arab di BPPLSP Regional III Jawa Tengah.

B. Rumusan Masalah

ix

Dari latar belakang masalah yang telah diuraikan diatas maka rumusan
masalah dari penelitian ini adalah :
1. Bagaimanakah Pola pemberdayaan pemuda dengan pelatihan budidaya
ayam Arab di BPPLSP Regional III Jawa Tengah ?
2. Apakah yang menjadi faktor pendukung dan penghambat pelaksanaan
Pola pemberdayaan pemuda dengan pelatihan budidaya ayam Arab di
BPPLSP Regional III Jawa Tengah ?

C. Tujuan Penelitian
Tujuan yang hendak dicapai dalam penelitian ini adalah :
1. Untuk mengetahui Pola pemberdayaan pemuda dengan pelatihan budidaya
ayam Arab di BPPLSP Regional III Jawa Tengah.
2. Untuk mengetahui faktor pendukung dan penghambat pelaksanaan Pola
pemberdayaan pemuda dengan pelatihan budidaya ayam Arab di BPPLSP
Regional III Jawa Tengah.

D. Manfaat Penelitian
Dari penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat sebagai berikut :
1. Manfaat teoritis
Dapat menambah wacana pengetahuan tentang pola pemberdayaan
pemuda dengan pelatihan budidaya ayam Arab pada khususnya, dan
pengembangan pendidikan luar sekolah pada umumnya.

x

2. Manfaat praktis
Temuan penelitian ini diharapkan dapat dijadikan acuan pihak
BPPLSP untuk mengevaluasi program-program yang dilaksanakan, Bagi
pemuda agar mereka mempunyai kemampuan untuk dapat diberdayakan,
Bagi Dinas Pendidikan Luar Sekolah, Dinas Pertanian dan Peternakan,
Dinas Pemberdayaan Masyarakat untuk mengambil kebijakan dimasa
datang, serta pihak-pihak yang berkompeten lainnya.

E. Penegasan Istilah
Sehubungan dengan keterbatasan dan kemampuan penulis, untuk
memperjelas judul skripsi ini, maka perlu ditegaskan beberapa istilah sebagai
berikut :
1. Pola Pemberdayaan
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia disebutkan bahwa Pola
berarti model tau bentuk yang tetap. Adapun mengenai istilah
pemberdayaan pemuda merupakan suatu upaya untuk mengaktualisasikan
potensi yang sudah dimiliki oleh pemuda itu sendiri. Pemberdayaan
pemuda ini diharapkan memberikan peranan kepada individu bukan
sebagai obyek tetapi sebagai pelaku (aktor) yang menentukan hidup
mereka (Moelyanto, 1999 dalam Ari Wahyono 2001 : 9)
2. Pemuda

xi

Menurut Perserikatan Bangsa-Bangsa, Pemuda mencakup anakanak manusia dari umur 15 sampai dengan 24 tahun. Menurut Organisasi
Pemuda, Pemuda dapat saja menjangkau semua orang muda yang menurut
anggaran dasarnya dapat menjadi anggota, biasanya termasuk didalamnya
semua muda-mudi yang berumur 15 sampai 40 tahun. Di dunia politik,
budaya, ekonomi, dan keagamaan, kaum muda adalah mereka yang relatif
belum lama bergerak atau berperan penting dalam bidang-bidang itu
(Mangunharjana, 1996 : 11). Tangdilintin (1994 : 5) merumuskan pemuda
sebagai berikut : kaum muda harus dilihat sebagai “pribadi” yang sedang
berada pada taraf tertentu dalam perkembangan hidup seorang manusia,
dengan kualitas dan ciri tertentu yang khas, dengan hak dan peranan serta
kewajiban tertentu dengan potensi dan kebutuhan tertentu pula.
3. Kecakapan Hidup (Life Skills)
Menurut Broling (1989) Life Skills adalah interaksi berbagai
pengetahuan dan kecakapan yang sangat penting dimiliki oleh seseorang
sehingga mereka dapat mandiri. WHO (1997) memberikan pengertian
bahwa kecakapan hidup adalah berbagai keterampilan atau kemampuan
untuk dapat beradaptasi dan berperilaku positif, yang memungkinkan
seseorang mampu menghadapi tuntutan dan tantangan dalam hidupnya
sehari-hari secara efektif.
4. Pelatihan
Pelatihan adalah suatu tindakan sadar untuk mengembangkan
bakat, pengetahuan, keterampilan dan kemampuan seseorang guna
xii

menyelesaikan pekerjaan tertentu. Pelatihan yang dimaksud dalam
penelitian ini adalah pelatihan dan budidaya ayam Arab yang diberikan
kepada pemuda putus sekolah atau tidak dapat melanjutkan ke jenjang
pendidikan yang lebih tinggi serta belum mempunyai pekerjaan tetap.

xiii

BAB II
LANDASAN TEORI

A. Pola Pemberdayaan
1. Pengertian Pemberdayaan
Dalam kajian teori ini akan disajikan beberapa pengertian Pemberdayaan
atau sering disebut empowering, menurut Suzanne Kindervatter dalam bukunya
yang berjudul Nonformal Education As an Empowering Process, menyatakan
bahwa Empowering was defined as : People gaining an Understanding of and
control over social, economic, and/ or political forces in order of improve their
standing in society (Kindevatter, 1979 : 150). Berdasarkan pengertian ini dapat
dikemukakan bahwa proses pemberian kekuatan atau daya adalah setiap upaya
pendidikan yang bertujuan membangkitkan kesadaran, pengertian, dan kepekaan
warga belajar terhadap perkembangan sosial, ekonomi dan atau politik sehingga
akhirnya ia memiliki kemampuan untuk memperbaiki dan meningkatkan
kedudukannya dalam masyarakat.
Dalam Pembelajaran (Sudjana, 1993 : 63) proses pemberian kekuatan
tersebut mempunyai delapan pokok yaitu : (a) belajar dilakukan dalam kelompokkelompok kecil, (b) pemberian tanggung jawab yang lebih besar kepada warga
belajar selama kegiatan pembelajaran berlangsung, (c) kepemimpinan kelompok
diperankan oleh warga belajar, (d) sumber belajar bertindak selaku fasilitator, (e)
proses kegiatan belajar mengajar berlangsung secara demokratis, (f) adanya

xiv
8

kesatuan pandangan dan langkah dalam mencapai tujuan, (g) menggunakan
metode dan teknik pembelajaran yang dapat menimbulkan rasa percaya diri pada
warga belajar, dan (h) bertujuan akhir untuk meningkatkan status sosial, ekonomi,
dan atau politik warga belajar dalam masyarakat. Akhirnya Suzanne Kindervatter
(1979 : 157) menyimpulkan bahwa : Generally, NFE for empowering is an
educational approach which enable leaners to gain greater undersanding and of
control over social, economic, and/ or political forces trough : (1) Exercising a
high degree of control over all aspect of the learning proces; (2) Learning both
“content” and : process” skill responsive to their needs and problems ; and (3)
working collaborativery to solve mutual problems.
Kesimpulan diatas mengungkapkan bahwa Pendidikan Luar Sekolah
sebagai proses empowering adalah suatu pendekatan pendidikan yang bertujuan
untuk meningkatkan pengertian dan pengendalian warga belajar mampu untuk
meningkatkan pengertian dan pengendalian warga belajar terhadap kehidupan
sosial, ekonomi, dan atau politik sehingga warga belajar mampu untuk
meningkatkan taraf hidupnya dalam masyarakat, untuk itu proses yang perlu
ditempuh warga belajar adalah (1) melatih tingkat kepekaan yang tinggi terhadap
berbagai aspek perkembangan sosial, ekonomi dan politik selama proses
pembelajaran (2) mempelajari berbagai macam keterampilan untuk memenuhi
kebutuhan dan memecahkan masalah yang dihadapi bersama (Sudjana, 1993 : 63).
Pengertian pemberdayaan masyarakat sebenarnya mengacu kata “
empowerment” yaitu sebagai upaya untuk mengaktualisasikan potensi yang sudah
dimiliki masyarakat. Jadi, pendekatan pemberdayaan pemuda dalam pembinaan
xv

kecakapan hidup/life skills adalah penekanan pada pentingnya pemberdayaan
pemuda yang mandiri sebagai suatu sistem yang mengorganisir diri mereka
sendiri. Pemuda yang dapat mengikuti Pelatihan dan budi daya ayam Arab di
BBPLSP adalah pemuda yang menganggur atau tidak memiliki pekerjaan tetap,
belum memiliki ketrampilan atau kecakapan hidup yang dibutuhkan untuk bisa
berusaha atau bekerja, berpendidikan SMA tetapi tidak melanjutkan sampai ke
Perguruan Tinggi, berusia antara 16 sampai 44 tahun dengan prioritas 19 sampai
35 tahun dan memiliki kemauan untuk belajar dan bekerja. Pola pemberdayaan
pemuda dalam pembinaan kecakapan hidup (life skills) diselenggarakan
berdasarkan hasil identifikasi kebutuhan peserta pelatihan, menetapkan tujuan,
merancang kegiatan, menentukan nara sumber, menentukan peserta, menentukan
pelaksanaan, persipan pelatihan, penerapan atau pelaksanaan pelatihan, evaluasi
pelatihan dan dokumentasi pelatihan. Pendekatan pemberdayaan pemuda yang
demikian tentunya diharapkan memberikan peranan kepada individu bukan
sebagai obyek, tetapi sebagai pelaku (aktor) yang menentukan hidup mereka
(Moelyanto, 1999 dalam Ary Wahyono, 2001: 9).

2. Strategi Pemberdayaan
Strategi dasar dalam pemberdayaan (pendekatan pelayanan masyarakat/
community Service Approach) pada umumnya dilandasi pada upaya
mengoptimalkan fungsi manajemen Penddidikan Luar Sekolah.
Adapun Fungsi Manajemen Luar Sekolah dapat diuraikan sebagai berikut:

xvi

2.1 Perencanaan Program
Skidmore (1990 : 42-43) menyatakan bahwa suatu perencanaan
diperlukan oleh lembaga atas dasar beberapa alasan, yaitu :
a. Efisiensi (efficiency). Tujuan dasar dari suatu efisiensi adalah usaha untuk
mencapai tujuan dengan biaya dan upaya yang minimum tetapi
mendapatkan hasil yang sama baiknya. Skidmore menyakini bahwa hal ini
baru bisa terjadi bila dilakukan perencanaan secara seksama dan, juga
merupakan suatu proses antisipasi (anticipatory process) terhadap
berbagai masalah yang akan muncul.
b. Keefektifan (effectiveness). Lewiss (1985 :10) melihat bahwa keefektifan
diukur berdasarkan variabel-variabel kriteria (criterion variables) yang
diciptakan dalam hubungan dengan pencapaian tujuan. Berdasarkan
kriteria-kriteria ini petugas dapat menilai apakah program yang telah
mereka jalankan dapat dikategorikan sebagai berhasil ataukah tidak. Akan
tetapi, hasil yang diinginkan mungkin tidak dapat dicapai bila tidak
dilakukan perencanaan terlebih dahulu.
c. Akuntabilitas (accountability). Skidmore (1990 : 82-84), ada dua
akuntabilitas yang perlu diperhatikan yaitu akuntabilitas lembaga dan
akuntabilitas individu. Dimanapun akuntabilitas itu mengarah, suatu
perencanaan yang seksama dapat mengarahkan para tenaga profesional
untuk mengoperasionalisasikan pekerjaan mereka.
d. Morale (morale). Skidmore(1990:43) percaya bahwa perencanaan yang
dilakukan merupakan hal yang sangat penting untuk meningkatkan moral
xvii

lembaga. Para staf organisasi membutuhkan penyaluran kreatifitas,
perasaan dapat mencapai sesuatu (being of achievement), dan kepuasan
dalam upaya meningkatkan kinerja mereka.
2.2 Pelaksanaan Program
Kegiatan pelaksanaan program merupakan suatu proses yang dimulai dari
implementasi awal atau pre-implementasi, implementasi dan implementasi akhir.
Implementasi awal mencakup kegiatan-kegiatan persiapan sebelum program
kegiatan dilakukan. Implementasi kegiatan merupakan semua aspek kegiatan
teknis yang dilakukan pada sesi kegiatan termasuk koordinasi administratif,
dokumentasi, dan dukungan finansial sedangkan implementasi akhir (postimplementation) mencakup kegiatan-kegiatan administratif dan finansial yang
diperlukan sesudah program dilaksanakan, termasuk kegiatan pelaporan, proses,
dan hasil program kegiatan.

2.3 Evaluasi Program
Evaluasi menunjukkan suatu usaha untuk memperoleh informasi atau
keterangan dari hasil suatu program dan menentukan nilai (value) dipandang dari
sudut informasi tersebut. Evaluasi terhadap setiap kegiatan adalah penting, karena
dalam evaluasi orang berusaha menentukan nilai atau manfaat dari pada kegiatan,
dengan menggunakan informasi yang tersedia.
Setiap penyelenggaraan suatu program pelatihan biasanya diperlukan
biaya yang cukup besar, agar biaya yang dikeluarkan tidak sia-sia dan pelatihan

xviii

yang diselenggarakan itu dapat mencapai sasarannya, maka pelatihan perlu dinilai
atau dievaluasi.
Menurut Kirkpatrick rencana keseluruhan evaluasi pelatihan memberikan
suatu kerangka untuk mengukur perubahan yang diinginkan pada tiap tingkat
evaluasi, yakni perubahan pada tingkat belajar, tingkat perilaku dan tingkat hasil
dengan menggunakan kriteria yang tepat.
2.4 Pengembangan
Pengembangan program pendidikan luar sekolah bertujuan untuk
memperbaiki dan menyempurnakan pelaksanaan program serta memperluas
jangkauan pelayanan program kepada masyarakaat sesuai dengan kebutuhan
belajar yang diinginkan.
Agar pengembangan program pendidikan luar sekolah dapat tercapai perlu
adanya kontroling/ monitoring yang berfungsi sebagai berikut :
a. Menghentikan kesalahan, penyimpangan, pemborosan, hambatan yang
mengakibatkan ketidakefektifan program.
b. Mencegah terulangnya kembali kesalahan-kesalahan yang menghambat
program.
c. Mencari cara-cara yang lebih baik atau membina yang lebih baik untuk
tujuan pencapaian program.

3. Teknik Pemberdayaan
Pengembangan masyarakat yang dilaakukan pada beberapa organisasi
pelayanan masyarakat yang satu dengan yang lain memang tampak ada beberapa
xix

perbedaan dan kesamaan. Tetapi pada dasarnya tahapan yang dilakukan
mencakup beberapa tahapan dibawah ini :
3.1 Tahap Persiapan.
Tahap persiapan ini didalamnya terdapat tahap penyiapan petugas untuk
menyampaikan persepsi antar anggota tim agen perubah (change agent) mengenai
pendekatan apa yang akan dipilih dalam melakukan pengembangan masyarakat.
Dan penyiapan lapangan, petugas (community worker) pada awalnya melakukan
studi kelayakan terhadap daerah yang akan dijadikan sasaran, baik dilakukan
secara informal maupun formal.
3.2 Tahap Assesment
Proses assessment yang dilakukan disini dilakukan dengan
mengidentifikasi masalah dan sumber daya yang dimiliki klien. Dalam proses
penilian (assessment) dapat digunakan teknik SWOT, dengan melihat kekuatan
(streangth), kelemahan (Weaknesses), kesempatan (opportunities) dan ancaman
(threatment). Dalam proses assessment masyarakat dilibatkan secara aktif agar
mereka dapat merasakan bahwa permasalahan yang sedang dibicarakan benarbenar permasalahan yang keluar dari pandangan mereka sendiri.
3.3 Tahap Perencanaan Alternatif Program atau Kegiatan.
Pada tahap ini petugas (community worker) secara partisipatif mencoba
melibatkan warga untuk berfikir tentang masalah yang mereka hadapi dan
bagaimana cara mengatasinya. Dalam upaya mengatasi permasalahan yang ada,

xx

masyarakat diharapkan dapat memikirkan beberapa alternatif program dan
kegiatan yang dapat mereka lakukan.
3.4 Tahap Pemformulasian Rencana Aksi
Pada tahap ini agen perubahan (community worker) membantu masingmasing kelompok masyarakat untuk memformulasikan gagasan mereka dalam
bentuk tertulis, terutama bila ada kaitannya dengan pembuatan proposal kepada
pihak penyandang dana. Dalam tahap pemformulasian rencana aksi ini,
diharapkan community worker dan masyarakat sudah dapat membayangkan dan
menuliskan tujuan jangka pendek apa yang akan mereka capai dan bagaimana
cara mencapai tujuan tersebut.
3.5 Tahap Pelaksanaan (Implementasi) Program atau Kegiatan
Tahap pelaksanaan ini merupakan salah satu tahap yang paling krusial
(penting) dalam proses pengembangan masyarakat, karena sesuatu yang sudah
direncanakan dengan baik akan dapat melenceng dalam pelaksanaan di lapangan
bila tidak ada kerja sama antara petugas dan warga masyarakat, maupun kerja
sama antar warga.
3.6 Tahap Evaluasi
Evaluasi sebagai sebagai proses pengawasan dari warga dan petugas
terhadap program yang sedang berjalan pada pengembangan masyarakat
sebaiknya dilakukan dengan melibatkan warga. Dengan keterlibatan warga pada
tahap ini diharapkan akan berbentuk suatu sistem dalam komunitas untuk
melakukan pengawasan secara internal.

xxi

3.7 Tahap Terminasi
Tahap ini merupakan tahap ‘pemutusan’ hubungan secara formal dengan
komunitas sasaran. Terminasi dilakukan seringkali bukan karena masyarakat
sudah dapat dianggap ‘mandiri’, tetapi tidak jarang terjadi karena proyek sudah
harus dihentikan karena sudah melebihi jangka waktu yang ditetapkan
sebelumnya, atau karena anggaran sudah selesai dan tidak ada penyandang dana
yang dapat dan mau meneruskan. Meskipun demikian, tidak jarang community
worker tetap melakukan kontak meskipun tidak secara rutin. Apalagi bila petugas
(community worker) merasa bahwa tugasnya belum diselesaikan dengan baik.

B. Pendidikan kecakapan hidup/life skills
1. Pengertian Pendidikan kecakapan hidup
Menurut Broling (1989) life skills adalah interaksi berbagai pengetahuan
dan kecakapan yang sangat penting dimiliki oleh seseorang sehingga mereka
dapat hidup mandiri. Broling mengelompokkan life skills ke dalam tiga kelompok
kecakapan yaitu : kecakapan hidup sehari-hari (daily living skill), kecakapan
hidup pribadi/sosial (personal/social skill) dan kecakapan hidup bekerja
(occupational skill).
WHO (1997) memberikan pengertian bahwa kecakapan hidup adalah
berbagai keterampilan atau kemampuan untuk dapat beradaptasi dan berperilaku
positif, yang memungkinkan seseorang mampu menghadapi tuntutan dan
tantangan dalam hidupnya sehari-hari secara efektif. WHO mengelompokkan

xxii

kecakapan hidup kedalam lima kelompok yaitu : (1) kecakapan mengenal diri (self
awareness) atau kecakapan pribadi (personal skill), (2) kecakapan sosial (social
skill), (3) kecakapan berpikir (thinking skill), (4) kecakapan akademik (academic
skill) dan (5) kecakapan kejuruan (vocational skill).
Dari uraian diatas dapat dirumuskan bahwa hakikat pendidikan kecakapan
hidup dalam pendidikan nonformal adalah merupakan upaya untuk meningkatkan
keterampilan, pengetahuan, sikap, dan kemampuan yang memungkinkan warga
belajar dapat hidup mandiri. Dalam penyelenggaraan pendidikan kecakapan hidup
didasarkan atas prinsip empat Pilar Pendidikan, yaitu : “learning to know” (belajar
untuk memperoleh pengetahuan yang diikuti oleh “learning to learn” yaitu belajar
untuk tahu cara belajar), “learnig to do” (belajar untuk dapat berbuat/melakukan
pekerjaan),”learning to be” (belajar agar dapat menjadi orang yang berguna sesuai
dengan bakat, minat, dan potensi diri) dan “learning to live together” (belajar
untuk dapat hidup bersama dengan orang lain).
Pendidikan kecakapan hidup pada dasarnya merupakan suatu upaya
pendidikan untuk meningkatkan kecakapan hidup setiap warga negara. Pengertian
kecakapan hidup adalah kecakapan yang dimiliki oleh seseorang untuk berani
menghadapi problema hidup dan kehidupan dengan wajar tanpa merasa tertekan,
kemudian secara proaktif dan kreatif mencari serta menemukan solusi, sehingga
akhirnya mampu mengatasinya.
2. Jenis-jenis Kecakapan Hidup/Life Skills
Secara operasional, program kecakapan hidup dalam pendidikan
nonformal dipilah menjadi empat jenis yaitu : (1) Kecakapan pribadi (personal

xxiii

skill), yang mencakup kecakapan mengenal diri sendiri (self awareness), dan
kecakapan berpikir rasional (thinking skill). (2) Kecakapan sosial (social skill),
seperti kecakapan melakukan kerjasama, bertenggang rasa, dan tanggung jawab
sosial. (3) Kecakapan akademik (academic skill), seperti kecakapan dalam berfikir
secara alamiah, melakukan penelitian, dan percobaan-percobaan dengan
pendekatan ilmiah. (4) Kecakapan vokasional (vocational skill) adalah kecakapan
yang dikaitkan dengan bidang pekerjaan tertentu yang terdapat di masyarakat.
Seperti di bidang jasa (perbengkelan, jahit menjahit), dan produksi barang tertentu
(peternakan, pertanian, perkebunan).
Kecakapan kesadaran diri itu pada dasarnya merupakan penghayatan diri
sebagai mahluk Tuhan Yang Maha Esa, anggota masyarakat dan warga negara,
serta menyadari dan mensyukuri kelebihan dan kekurangan yang dimiliki,
sekaligus menjadikannya sebagai modal dalam meningkatkan dirinya sebagai
individu yang bermanfaat bagi dirinya sendiri dan lingkungannya. Kecakapan
berfikir rasional mencakup antara lain kecakapan menggali dan menemukan
informasi (information searching), kecakapan mengolah informasi dan
mengambil keputusan (information processing and decision making skills), serta
kecakapan memecahkan masalah secara kreatif (creative problem solving skill).
Skema tentang Kecakapan Hidup dapat diuraikan sebagai berikut :

Kecakapan Personal (PS)

Kecakapan
Hidup
Generik (GLS)

xxiv

Kecakapan Sosial (SS)
Kecakapan
Hidup (LS)

kecakapan Akedemik (AS)
Kecakapan
Hidup
Spesifik (SLS)
Kecakapan Vokational (VS)

Kecakapan sosial atau kecakapan antar personal (interpersonal skills)
mencakup antara lain kecakapan komunikasi dengan empati (communication skill)
dan kecakapan bekerjasama (collaboration skill). Empati, sikap penuh pengertian
dan seni komunikasi dua arah, perlu ditekankan karena yang dimaksud
berkomunikasi di sini bukan sekedar menyampaikan pesan, tetapi isi dan
sampainya pesan disertai dengan kesan baik yang akan menumbuhkan hubungan
harmonis.kecakapan bekerjasama sangat diperlukan karena sebagai mahluk sosial,
dalam kehidupan sehari-hari manusia akan selalu bekerjasama dengan manusia
lain. Kerjasama bukan sekedar “kerja bersama” tetapi kerja yang disertai dengan
saling pengertian, saling menghargai dan saling membantu. Dua kecakapan hidup
yang diuraikan diatas (kecakapan personal dan kecakapan sosial) biasanya disebut
sebagai kecakapan hidup yang bersifat umum atau kecakapan hidup generic
(general life skill/GLS). Kecakapan hidup tersebut diperlukan oleh siapapun, baik
mereka yang bekerja dan mereka yang sedang menempuh pendidikan.
Kecakapan hidup yang bersifat spesifik (specific life skill/SLS)
deperlukanseseorang untuk menghadapi probelema “mobil yang mogok” tentu
diperlukan kecakapan khusus tentang mesin mobil. Untuk memecahkan masalah

xxv

dagangan yang tidak laku, tentu diperlukan kecakapan pemasaran. Untuk mampu
melakukan pengembangan biologi molekuler tentunya diperlukan keahlian di
bidang bio-teknologi. Kecakapan hidup yang bersifat khusus biasanya disebut
juga sebagai kompetensi teknis (technical competencies) yang terkait dengan
materi mata pelajaran atau materi diklat tertentu dan pendekatan pembelajarannya.
Spesific Life Skill (SLS) mencakup kecakapan pengembangan akademik
(academik skill) dan kecakapan vocasional yang terkait dengan pekerjaan tertentu.
Kecakapan akademik (academic skill/AS) yang seringkali juga disebut
kemampuan berfikir ilmiah pada dasarnya merupakan pengembangan dari
kecakapan berfikir rasional pada GLS. Jika kecakapan berfikir rasional masih
bersifat umum, kecakapan akademik sudah lebih mengarah kepada kegiatan yang
bersifat akademik/keilmuan. Kecakapan akademik mencakup antara lain
kecakapan melakukan identifikasi variabel dan menjelaskan hubungan pada suatu
fenomena tertentu (identifying variables and describing relationship among
them), merumuskan hipotesis terhadap suatu rangkaian kejadian (constructing
hypotheses), serta merancang dan melaksanakan penelitian untuk membuktikan
suatu gagasan atau keingintahuan (designing and implementing a research).
Kecakapan vocasional (vocational skill/VS) seringkali disebut pula dengan
“kecakapan kejuruan”, artinya kecakapan yang dikaitkan dengan bidang tertentu
yang terdapat di masyarakat.
Dalam kehidupan nyata, antara general life skill (GLS) dan specific life
skill (SLS) yaitu antara kecakapan mengenal diri, kecakapan berfikir rasional,
kecakapan sosial, dan kecakapan akademik serta kecakapan vocational tidak
berfungsi secara terpisah-pisah, atau tidak terpisah secara ekslusif. Hal yang

xxvi

terjadi adalah peleburan kecakapan-kecakapan tersebut, sehingga menyatu sebagai
sebuah tindakan individu yang melibatkan aspek fisik, mental, emosional, dan
intelektual. Keempat jenis kecakapan hidup diatas, dilandasi oleh kecakapan
spiritual, yakni : keimanam, ketaqwaan, moral, etika dan budi pekerti yang luhur
sebagai salah satu pengamalan dari sila pertama pancasila. Dengan demikian,
pendidikan kecakapan hidup diarahkan pada pembentukan manusia yang
berakhlak mulia, cerdas, terampil, sehat, mandiri serta memiliki produktivitas dan
etos kerja yang tinggi.

C. Pelatihan Budi Daya Ayam Arab
1. Pengertian Pelatihan
Pelatihan adalah pembelajaran untuk merubah kinerja (Performance) dari
seseorang dalam kaitannya dengan tugasnya (Jobs). Dalam hal ini ada empat hal
penting untuk diperhatikan yaitu :
1)

Pembelajaran

(Learning) merupakan

upaya

untuk

merubah atau

meningkatkan kinerja seseorang dalam hubungannya dengan tugastugasnya dalam suatu organisasi. Pembelajaran biasanya mengacu kepada
perubahan sesuatu kepada si beajar (Learners) dan perubahan itu biasanya
mencakup psychomotoric, cognitive, affective, connative.
2)

Kinerja (Performance) biasanya terkait dengan pekerjaan atau tugas- tugas
(Jobs), artinya bagaimana kemampuan seseorang dalam menjalankan tugas
yang terkait dengan pekerjaan.

xxvii

3)

Sasaran (People) yang dimaksud dalam kegiatan training biasanya adalah
terkait dengan orang dewasa (Adults) yang professional. Dengan demikian
berarti dalam proses pelatihan kita harus memperhatikan prinsip-prinsip
belajar orang dewasa yang telah memiliki pengetahuan, ketrampilan, dan
sikap-sikap tertentu dalam menghadapi pekerjaannya. Menurut Ernesto
(1991)

dalam

pelatihan

terhadap

orang

dewasa

tidak

hanya

memperhatikan tehadap tujuan dalam melakukan pelatihan, namun juga
keterampilan-keterampilan yang telah dimiliki oleh orang dewasa selama
proses pelatihan perlu diperhatikan. Perspektif, pengalaman, kebutuhan,
dan orientasi perlu mendapat perhatian dalam pelatihan.
4)

Pekerjaan atau Tugas (Jobs) yang dimaksud adalah tugas-tugas khusus
yang dilakukan oleh sasaran sehari-hari. Dalam kaitannya dengan
menjalankan tugas-tugas tersebut sasaran (Learners) perlu mendapat
peningkatan melalui pelatihan. Pada umumnya pelatihan dilakukan
terhadap sasaan (Learners) karena sering kali kita jumpai di sekitar kita,
bahwa institusi institusi atau organisasi melakukan pelatihan kepada
karyawan atau pegawai tidak didasarkan pada rasionalitas yang dapat
dipertanggung jawabkan, namun lebih didasarkan pada kepentingan
“proyek’’, sehingga tidak sedikit biaya, waktu, tenaga yang terbuang tanpa
ada kemanfaatan yang berarti. Dalam program pelatihan menurut Taylor
and Lippit (1984), bahwa program pelatihan pada sasaran (Learners)
hendaknya didasarkan pada alasan-alasan tertentu diantaranya adalah tidak
semua orang percaya bahwa pelatihan akan mendatangkan efektivitas dan

xxviii

efisiensi. Banyak orang justru bersikap skeptis terhadap program-program
pelatihan. Kenyataan ini terjadi karena menurut para ahli, diantarannya
menurut (Jhon and Jeff, 1977) adalah karena:
1) Pelatihan tidak menyentuh substansi yang sebenarnya (no real
subtance).
2) Pelatih bukan orang yang memiliki spesifikasi bidang pelatihan yang
dilakukan, dan akibatnya pelatih cenderung bersifat akademik (tend to
be academic).
3) Banyak pimpinan yang tidak meyakini tentang kegunaan pelatihan,
karena

dianggap

hanya

bersifat

akademik,

terlalu

teoritis,

menghabiskan biaya, dan tidak memberikan dampak yang berarti.
4) Umumnya pelatihan dilakukan dalam waktu yang pendek dan
akibatnya sering tidak membawa perubahan yang berarti bagi sasaran
(learners).
5) Pelatihan hanya dianggap penting bagi pegawai menengah dan bawah
dan tidak penting bagi pimpinan (thinking it good only middle or low
middle managers and not to senior)
6) Pelatihan terlalu akademik dan para manager tidak memiliki
kesempatan untuk mengikutinya.
7) Pelatih sendiri cenderung tidak efektif menjalankan kegiatannya, dan
akibatnya seringkali problem tidak dipecahkan melalui kegiatan
pelatihan. Namun lebih banyak ditentukan oleh perubahan kebijakan,

xxix

prioritas-prioritas, sistem, produser, tanggung jawab, dan dukungan
finansial (financing).
8) Pelatih sering menggunakan metode yang tradisional (traditional
methods) akibatnya peserta menjadi bosan, padahal sasaran ingin
memperoleh pengalaman yang banyak.
9) Pelatih memiliki keterbatasan dalam penggunaan audio-visual dan
teknologi komunikasi modern.
10) Pelatih cenderung menggunakan pendekatan Paedagogy dan kurang
memahami pendekatan Andragogy.
11) Pelatih hanya memiliki latar belakang bidang keahlian karena
hanyalah seorang manager.
Pelatihan tidak selamanya berjalan secara lancar pada setiap kesempatan.
Banyak faktor yang menjadi kendala dalam pelaksanaan kegiatan pelatihan, dan
faktor-faktor itu adalah :
1) Teori dengan praktek tidak sejalan, artinya teorinya teori yang
diberikan tidak bisa dipraktekkan pada saat menjalankan tugas-tugas
yang dilakukan.
2) Kondisi lingkungan tidak kondusif untuk dimanfaatkan dalam
pelatihan dan tidak bisa menunjang kinerja behaviors yang diperlukan
dalam pelatihan.
3) Perubahan perilaku tidak bisa diukur (unmeasurable) secara pasti
karena materi yang diberikan tidak memenuhi standard.

xxx

4) Sasaran (learners) tidak memiliki motivasi untuk mencapai kinerja
yang diharapkan serta tidak mempunyai kemampuan untuk mengikuti
materi pelatihan yang diberikan.
5) Pengembangan organisasi dianggap bisa dilakukan melalui kegiatan
non-pelatihan, misalnya perubahan kebijakan dan pengembangan
proyek-proyek tertentu.
6) Sumber-sumber yang diperlukan dalam kegiatan pelatihan tidak
memadai, baik sumber finansial, manusia, fisik dan teknologi.
Pelatihan (training) lebih menekankan pengajaran, disiplin atau driil.
Pelatihan besifat jangka pendek, lebih spesifik, dan hal-hal penting. Pengetahuan,
keterampilan, orientasi, pengalaman, dan perspektif yang diberikan lebih terkait
dengan pekerjaan sehari-hari, tugas-tugas khusus, proyek, atau kebutuhankebutuhan organisasi. Dalam pelatihan Ernesto (1991) lebih menekankan pada
perception, experiences, attitudes, knowledge, and skills (PEAKS). Pelatihan dan
budidaya ayam arab di BPPLSP Regional III Jawa Tengah ini dilaksanakan salah
satunya adalah dikarenakan keunggulan ayam Arab itu sendiri sebagai ayam
petelur telah memikat hati banyak peternak ayam, sebagai primadona baru ayam
buras, kehadiran ayam arab ini mampu memberikan gairah baru bagi peternak.
Dalam waktu singkat, telah muncul ratusan peternak ayam baru yang
menguntungkan pada jenis ayam Arab ini. Dalam pengelolaan peternakan ayam
arab ini diperlukan teknik budidaya ayam Arab, yang biasa didapat dengan cara
magang pada peternak ayam yang telah berpengalaman, bisa juga melalui kursus
atau pelatihan, maupun referensi bacaan. Berbekal pengetahuan ini akan sangat

xxxi

bermanfaat bagi peternak pemula yang menginginkan keberhasilan usaha
peternakannya. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam usaha peningkatan
produktivitas telur ayam Arab antara lain : pemilihan bibit, kandang yang sehat,
pemberian pakan yang tepat, serta pengendalian penyakit.
1. Pemilihan bibit
Pemilihan bibit akan mempengaruhi produktivitas ayam Arab dalam
menghasilkan telur. Bibit yang baik biasanya juga menghasilkan anakan yang baik
dan memiliki sifat yang mirip dengan induknya. Berikut ini adalah beberapa hal
yang perlu diketahui sebagai indikator bibit yang baik. (a) Tanda DOC yang
berkualitas baik; sehat, lincah, mata bulat, tidak mengantuk, tidak cacat kaki,
sayap lengka, bentuk paruh normal, bulu tubuh kering. (b) Tanda ayam dara
(pullet) yang siap bertelur; sehat, tidak cacat, kuku pendek, bobot minimal 1,2 kg
pada umur 5 bulan. (c) Tanda calon induk petelur yang baik; sehat, tidak cacat,
kuku relatif pendek, mata bulat cerah, bulu mengkilap, bentuk badan bulat letter
U.
2. Kandang yang sehat
Setelah mendapatkan bibit baik yang terseleksi, hal selanjutnya yang perlu
diperhatikan adalah kandang. Ayam akan tetap sehat apabila ditempatkan pada
kandang yang nyaman, yang memenuhi syarat sebagai berikut : (a) Longgar, tidak
terlalu sempit (b) Cukup memperoleh sinar matahari pagi (c) Tanah padat dan
berpasir, kering, bersih (d) Dapat melindungi ayam dari terik sinar matahari,
hujan, kencangnya angin malam (e) Jauh dari keramaian.
3. Pakan
xxxii

Kualitas dan kuantitas pakan juga sangat menentukan produktivitas telur
ayam Arab serta perkembanagan tubuh ayam itu sendiri. Sebaiknya pakan dibuat
sendiri dengan pertimbangan utama adalah dapat diusahakan secara ekonomis.
Beberapa hal yang harus diperhitungkan dalam pembutan pakan ini antara lain :
(a) Mudah didapat, selalu tersedia, murah (b) Tidak bersaing dengan kebutuhan
manusia (c) Disukai oleh ayam (d) Tidak mengganngu kesehatan ayam.
Disamping itu perlu diberikan pula ramuan tradisional untuk mengoptimalkan
produksi telur ayam Arab ini.
4. Pengendalian penyakit
Dalam usaha peternakan ayam Arab, penyakit merupakan salah satu resiko
yang kadang-kadang harus dihadapi. Oleh karena itu mengenai gejala masingmasing penyakit, mengetahui sumber penyebabnya dan dapat melakukan
pencegahan penyakit merupakan salah satu hal yang perlu diperhatikan oleh
peternak ayam Arab untuk suksesnya usaha ternak ayam Arab petelur ini. Ayam
Arab relatif lebih tahan terhadap penyakit dibandingkan dengan ayam ras. Namun
perlu diketahui bahwa penyakit yang mungkin mengenai ayam Arab ini sama
seperti ayam ras lainnya, dan dapat juga menular. Oleh sebab itu perlu dilakukan
upaya pencegahannya, karena pada ayam yang telah berproduksi, secara langsung
akan berpengaruh terhadap produktivitasnya. Pada prinsipnya ada dua faktor
penyebab penyakit ini yaitu : internal dan eksternal. Secara umum ada beberapa
hal yang dapat menyebabkan berjangkitnya penyakit ini, antara lain : (a) Cuaca
seperti ; suhu, kelembaban, hujan terus menerus, musim kering yang panjang,
berpengaruh terhadap kondisi ayam, misalnya gangguan pernafasan. (b) Kandang

xxxiii

dan peralatan ; harus senantiasa terjaga kenyamanan dan kebersihannya (c)
Lingkungan sekitar kandang ; lingkunagan yang kotor dan tanaman yang terlalu
rimbun mudah untuk berkembangnya suatu penyakit (d) Pakan dan air minum ;
apabila kurang bergizi akan menurunkan kondisi tubuh ayam sehingga ayam
menjadi lemah dan mudah terserang penyakit (e) Kondisi individual ayam (f)
Bibit yang tercemar penyakit.

2. Model Pelatihan
Beberapa unsur yang terintegrasi dalam model siklus pelatihan adalah:
a. Analisis yang meliputi

identifikasi masalah, identifikasi kebutuhan,

pengembangan kinerja yang standar, identifikasi sasaran (learners),
pengembangan kriteria pelatihan, pekiraan biaya, dan perkiraan keuntungan
dibandingkan dengan biaya yang dikeluarkan.
b. Pengembangan, pada tahap ini merupakan esensi dari rancangan pelatihan,
karena pada tahap ini akan bisa memantapkan kita un

Dokumen yang terkait

Dokumen baru