FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERATAAN LABA PADA PERUSAHAAN FOOD AND BEVERAGES PADA PERUSAHAAN FOOD AND BEVERAGES YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA.

(1)

SKRIPSI

Diajukan oleh: Selvis Kurniawati 0713010058/FE/EA

Kepada

FAKULTAS EKONOMI

UNIVERSITAS PEMBANGUNAN NASIONAL “VETERAN” JAWA TIMUR


(2)

SKRIPSI

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI KINERJA SISTEM INFORMASI AKUNTANSI PADA

PT. KARYA ANUGERAH MANDIRI SURABAYA Disusun Oleh :

ORIANA HAYU ANGGRAENI 0713010088/FE/EA

Telah Dipertahankan Dihadapan dan Diterima Oleh

Tim Penguji Skripsi Jurusan Akuntansi Fakultas Ekonomi Universitas Pembangunan nasional “Veteran” Jawa Timur

Pada Tanggal 24 Juni 2011 Pembimbing : Tim Penguji : Pembimbing Utama Ketua

Drs.Ec.EKO RIYADI. MAKS Drs.Ec.Munari.MM Sekretaris

Drs.Ec.Eko Riyadi. MAKS Anggota

Dra.Ec.Erna Sulistyowati.MM

Mengetahui

Dekan Fakultas Ekonomi

Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur

Dr. H. Dhani Ichsanuddin Nur, SE, MM NIP. 196309241989031001


(3)

Dengan memanjatkan puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala rahmat hidayah-Nya yang telah diberikan kepada peneliti, sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini yang berjudul : “ FAKTOR – FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERATAAN LABA PADA PERUSAHAAN FOOD AND BEVERAGES YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK INDONESIA“.

Penyusunan skripsi ini dimaksudkan untuk memenuhi sebagian persyaratan dalam memperoleh gelar Sarjana Ekonomi Jurusan Akuntansi pada Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur.

Dalam menulis skripsi ini, penulis menyadari sepenuhnya bahwa skripsi ini tidak dapat terselesaikan tanpa adanya bantuan, bimbingan serta saran – saran dari berbagai pihak, oleh karena itu pada kesempatan ini dengan segala kerendahan hati penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar – besarnya kepada yang terhormat :

1. Bapak Prof. Dr. Ir. Teguh Soedarto, MP, selaku Rektor Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur.

2. Bapak Dr. Dhani Ichsanuddin Nur, MM, selaku Dekan Fakultas Ekonomi Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur.


(4)

3. Bapak Drs. Rahman A. Suwaidi, MSi selaku Wakil Dekan I Fakultas Ekonomi Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur.

4. Ibu Dr. Sri Trisnaningsih, SE. MSi selaku Ketua Program Studi Akuntansi Fakultas Ekonomi UPN “Veteran” Jawa Timur.

5. Ibu Dra. Siti Sundari, MSi selaku Dosen Wali yang telah memberikan bimbingan selama menuntut ilmu di Universitas Pembangunan Nasional ”Veteran” Jawa Timur.

6. Bapak Drs. Ec. Eko Riyadi, MAKS, selaku dosen pembimbing yang telah memberikan petunjuk dan bimbingan serta pemikiran dalam penyusunan skripsi ini.

7. Buat Para Staf dan Karyawan PT. Bursa Efek Indonesia, yang telah memberika ijin untuk mengadakan penelitian dan memberikan data yang dibutuhkan untuk menyusun skripsi ini.

8. Segenap tenaga pengajar dan karyawan terutama Fakultas Ekonomi Universitas Pembangunan Nasional “Veteran” Jawa Timur.

9. Kepada Orang tua yang sangat saya cintai serta kakakku dan seluruh keluarga besar yang telah memberikan dukungan baik secara materiil dan spiritual. 10. Terima kasih kepada Pongki dan teman – teman seperjuangan yang telah

memberikan dukungan dan motivasi, serta semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu persatu.


(5)

Wassalamu’alaikum wr. wb.

Surabaya, Agustus 2011


(6)

DAFTAR ISI

Halaman

KATA PENGANTAR ... i

DAFTAR ISI ….... ... iv

DAFTAR TABEL ... ix

DAFTAR GAMBAR ... x

DAFTAR LAMPIRAN ... xi

ABSTRAKSI ………xii

BAB I : PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang... 1

1.2. Perumusan Masalah ... 8

1.3. Tujuan Penelitian ... 8

1.4 Manfaat Penelitian ... 8

BAB II : TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Hasil-hasil Penelitian Terdahulu ... 10


(7)

2.2.1.2. Karakteristik Kualitatif Laporan Keuangan ... 16

2.2.1.3. Keterbatasan Laporan Keuangan ... 17

2.2.1.4. Jenis-Jenis Laporan Keuangan ... 18

2.2.2. Kandungan Informasi Atas Laba ... 20

2.2.3. Laba …..…... 21

2.2.3.1. Pengertian Laba ... 21

2.2.3.2. Tujuan Laporan Laba-Rugi ………...……...22

2.2.4. Perataan Laba ... 23

2.2.4.1. Pengertian Perataan Laba ... 23

2.2.4.2. Tujuan Perataan Laba ... 24

2.2.4.3. Alasan Perataan Laba ... 25

2.2.4.4. Dimensi Perataan Laba ... 26

2.2.5. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Perataan Laba ...………..28


(8)

2.2.5.2. Pengaruh Profitabilitas Perusahaan Terhadap Perataan

Laba ………..31

2.2.5.3. Pengaruh Leverage Operasi Perusahaan Terhadap Perataan Laba …... 32

2.2.6. Pengaruh Variabel Ukuran Perusahaan, Profitabilitas Perusahaan, leverage Operasi Perusahaan Terhadap Perataan Laba………...33

2.2.7. Kerangkai Pikir ……….34

2.2.8. Hipotesis ………...36

BAB III : METODE PENELITIAN 3.1. Definisi Operasional dan pengukuran variabel ...37

3.1.1. Definisi Operasional ...37

3.1.2. Pengukuran Variabel...37

3.2. Teknik Penentuan Variabel ...41

3.3. Teknik Pengumpulan Data ...44


(9)

3.4. Teknik Analisis Data dan Uji Hipotesis ...45

3.4.1. Regresi Logistik ...45

3.4.2. Regresi Logistik Serentak ...46

3.4.3. Regresi Kesesuaian Model ...47

BAB IV : HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1. Deskripsi Obyek Penelitian ...48

4.1.1. Sejarah Singkat Perusahaan ...48

4.1.2. Sejarah Perusahaan Food and Beverages...50

4.2. Deskripsi Hasil Penelitian ...60

4.3. Analisis Model dan Pengujian Hipotesis...64

4.3.1. Analis Regresi Logistik...64

4.3.2. Tingkat Keakuratan Model ...69

4.4. Pembahasan dan Implikasi Hasil Penelitian ...70

4.4.1. Pembahasan ...70

4.4.2. Implikasi ...74

4.5. Perbedaan Penelitian Yang Dilakukan Sekarang Dengan Penelitian Terdahulu ...75


(10)

BAB V : KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan ...78 5.2. Saran … .. ...78 DAFTAR PUSTAKA


(11)

Beverages ... 6

Tabel 4.1.Deskripsi Hasil Penelitian Perusahaan Food And Beverages Tahun 2007 – 2009 ... 63

Tabel 4.2.Deskripsi Hasil Penelitian Perataan Laba dan Non Perataan Laba Perusahaan Food And Beverages Tahun 2007–2009 ... 64

Tabel 4.3. Persamaan Regresi Logistik ... 67

Tabel 4.4. Pengujian Model... 70

Tabel 4.5. Tingkat Keakuratan Model ... 72

Tabel 4.6. Perbedaan Penelitian Yang Dilakukan Terdahulu Dengan Penelitian Sekarang ... 78


(12)

DAFTAR GAMBAR


(13)

Selvis Kurniawati

ABSTRACT

The equality of profit is one of the ways to decrease the profit fluctuation and it is reported based on the targets that were already made by the management of the company. The target will be reached through artificially, accountancy method, and real. One of the factors to equalize the profit is analyzing the size of the company. The bigger of the company, it has much more alternative expanses of resources which can be chose and the debt is big as well. Another factor that influences the equality of profit is profitability. Thus, this research is made to know and analyze is there any influences between some factors, such as the size of the company, profitability, and leverage operation to the equality profit in Food and Beverages Company which registered in Indonesia stock exchange.

This research is using secondary data that is financial statement of Food and Beverages Company which registered in Indonesia stock exchange start from 2007 until 2009.The technique to analyze the data is using quantitative analysis technique with regression technique analysis as a method.

The result of this research showed that there is no influence from the size of the company, profitability, and leverage operation into the equality of profit in The Food and Beverages Company which is registered in Indonesia stock exchange.

Keywords : The size of the company, profitability, leverage operation, the equality of profit.


(14)

FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERATAAN LABA PADA PERUSAHAAN FOOD AND BEVERAGES YANG TERDAFTAR DI BURSA EFEK

INDONESIA

Selvis Kurniawati

ABSTRAK

Perataan laba merupakan cara yang digunakan oleh manajemen untuk mengurangi fluktuasi laba yang dilaporkan agar sesuai dengan target yang diinginkan baik secara artificial, yaitu melalui metode akuntansi, maupun secara riil. Salah satu faktor dalam melakukan perataan laba adalah faktor ukuran perusahaan, karena menentukan besar kecilnya perusahaan, maka semakin besar ukuran perusahaan, makin banyak alternative sumber pembelanjaan sumber daya yang dapat dipilih, dan utang yang dimilikinya cenderung makin besar. Faktor lain yang diduga berpengaruh terhadap perataan laba adalah faktor profitabilitas. Oleh karena itu dibuatlah penelitian ini dengan tujuan untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh ukuran perusahaan, profitabilitas, dan leverage operasi terhadap perataan laba pada perusahaan Food and Beverages yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

Penelitian ini menggunakan data sekunder berupa laporan keuangan (Financial Statement) peruahaan Food and Beverages yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia mulai tahun 2007-2009. Teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis kuantitatif dengan metode analisis regresi logistik.

Hasil penelitian ini menunjukkan tidak adanya pengaruh ukuran perusahaan, profitabilitas, dan leverage operasi terhadap perataan laba pada perusahaan Food and Beverages yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.


(15)

1.1. Latar Belakang Masalah

Dewasa ini perkembangan dunia usaha masa kini yang semakin maju pesat, kemajuan di bidang teknologi, persaingan yang semakin tajam antar perusahaan, dan situasi perekonomian negara yang tidak menentu, mendorong manajemen perusahaan untuk bekerja lebih efektif agar perusahaan mampu menjaga aktivitas operasinya tetap stabil dan perkembangan sekaligus meningkatkan kinerja manajemen untuk mendapatkan hasil yang optimal bagi perusahaan, sehingga dapat menumbuhkan kepercayaan bagi pihak luar, yaitu masyarakat dan investor. Manajemen merupakan pihak yang berkewajiban menyusun laporan keuangan karena mereka berada di dalam perusahaan dan merupakan pengelolah aktiva perusahaan secara langsung di lain pihak. (Jin and Machfoedz,1998:175).

Laporan keuangan merupakan produk dari akuntansi yang meyajikan data kuantitatif keuangan atas semua transaksi-transaksi yang telah dilaksanakan oleh suatu perusahaan untuk suatu periode tertentu (Yusuf and Soraya, 2004:100). Laporan keuangan itu sendiri terdiri dari neraca, laporan laba-rugi, laporan perubahan arus kas, laporan perubahan ekuitas, dan catatan


(16)

atas laporan keuangan, semua isi dari laporan keuangan bermanfaat bagi pemakainya, namum beberapa pihak seperti pemegang saham, investor, dan kreditur memberikan perhatian yang lebih pada besarnya laba akuntansi yang dibukukan perusahaan.

Tindakan manajemen untuk melakukan perataan laba umumnya didasarkan atas berbagai alasan baik untuk memuaskan kepentingan pemilik perusahaan, seperti menaikkan nilai dari perusahaan, sehingga muncul anggapan bahwa perusahaan yang bersangkutan memiliki risiko yang rendah.

Berdasarkan pada pengaruh manipulasi terhadap laba Ilmanir (1993) dalam Jin dan Machfoedz (2000) menyatakan bahwa usaha manajemen dapat dibedakan menjadi dua, yaitu usaha untuk memaksimumkan atau meminimumkan laba dan usaha untuk mengurangi fluktuasi laba (perataan laba). Secara eksplisit, usaha untuk memaksimumkan atau meminimumkan laba merupakan hipotensis dalam berbagai penelitian mengenai konsekuensi ekonomi dari pilihan akuntansi. Sedangkan usaha untuk mengurangi fluktuasi laba adalah suatu bentuk manipulasi laba agar jumlah laba suatu periode tidak terlalu berbeda dengan jumlah laba periode sebelumnya.

Penelitian ini dilakukan peneliti terhadap tiga faktor yang dapat mempengaruhi perataan laba yaitu, ukuran perusahaan, profitabilitas perusahaan, dan leverage operasi perusahaan.


(17)

Perataan laba (income smoothing) dilakukan oleh manajemen perusahaan dimaksudkan untuk mencapai sesuatu yang diharapkan atas laba yang dilaporkan. Beidleman (1973) percaya bahwa manajemen melakukan perataan laba untuk menciptakan aliran laba yang stabil dan mengurangi covariance dan market return.

Praktik perataan laba oleh manajemen dianggap sebagai tindakan yang logis dan rasional. Menurut Barnea, Ronen dan Sadan (1981) dalam Jin dan Machfoedz (1998) menyatakan bahwa perataan laba dilakukan oleh para manajer untuk mengurangi fluktuasi dari laba yang dilaporkan dan meningkatkan kemampuan investor untuk meramalkan arus kas di masa datang.

Perataan laba pada intinya, diharapkan dapat memberikan pengaruh yang menguntungkan bagi nilai saham serta penilaian kinerja manejemen, namun demikian, perataan laba ini jika dilakukan dengan sengaja dan dibuat buat dapat menyebabkan pengungkapan laba yang tidak memadai atau menyesatkan, sebagai akibatnya, investor mungkin tidak memperoleh informasi yang akurat mengenai laba untuk mengevaluasi hasil dari portofolio mereka. Jin (1998) yang dikutip dari (Dwiatmini, 2001).


(18)

Ada banyak faktor yang mempengaruhi manajemen adalah melakukan perataan laba, diantaranya adalah faktor ukuran perusahaan, karena menentukan besar kecilnya perusahaan, maka semakin besar ukuran perusahaan, makin banyak alternative sumber pembelanjaan, sumber daya yang dapat dipilih, dan utang yang dimilikinya cenderung makin besar. Faktor lain yang diduga berpengaruh terhadap perataan laba adalah faktor profitabilitas. Praktik perataan laba cenderung dilakukan oleh perusahaan yang profitabilitasnya rendah dan dalam keadaan berisiko, karena ingin memperlihatkan bahwa laporan laba-rugi lebih baik dan tingkat fluktuasi tidak terlalu tinggi, sehingga dapat menarik investor. Dan Profitabilitas juga merupakan salah satu indikator yang penting untuk menilai suatu perusahaan profitabilitas selain digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba juga untuk mengetahui efektifitas perusahaan dalam mengelola sumber-sumber yang dimiliki.

Selain faktor profitabilitas dan ukuran perusahaan, variabel lain yang diduga sebagai pendorong terjadinya praktik perataan laba adalah leverage operasi. Leverage operasi dapat didefinisikan sebagai penggunaan aktiva untuk membayar beban tetap. Menurut Riyanto (1995:331), leverage operasi adalah rasio yang mengukur sampai seberapa jauh aktiva perusahaan dibiayai dengan utang. Biasanya, seorang kreditur tertarik pada perusahaan yang memiliki tingkat leverage operasi yang rendah dan menghasilkan leverage yang positif,


(19)

sebab kreditur memerlukan jaminan atas dana yang dipinjamkan. Dan Leverage Operasi adalah penggunaan utang yang berhasil dan akan digunakan untuk meningkatkan pendapatan pemilik perusahaan karena pengembalian dana dari ini melebihi bunga yang harus dibayar, dan menjadi hak pemilik, yang berarti menikatkan ekuitas pemilik.

Peneliti sebelumnya yang dilakukan oleh Martanto (2004) tidak berhasil membuktukan bahwa ukuran perusahaan berpengaruh terhadap praktik perataan laba. Ilmaninir dan Zuhroh (1993) dalam Jin dan Machfoedz (1998:178) juga tidak berhasil membuktikan bahwa ukuran perusahaan dapat dikaitkan dengan adanya praktik perataan laba. Juniarti (2005) tidak berhasil membuktikan bahwa besaran perusahaan dan profitabilitas adalah faktor pendorong dilakukannya praktik perataan laba, berbeda dengan penelitian yang dilakukan oleh Jin dan Machfoedz (1998) yang berhasil membuktikan bahwa leverage operasi merupakan faktor pendorong terjadinya praktik perataan laba, sedangkan faktor ukuran perusahaan, profitabilitas tidak berhasil dibuktikan sebagai faktor pendorong perataan laba.

Objek yang digunakan dalam penelitian ini adalah perusahaan food and beverages yang go Publik di BEI, alasan dipilihnya persahaan food and beverages sebagai objek penelitian dikarenakan perusahaan food and beverages sudah dikenal dikalangan masyarakat,dan selalu dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari dan mudah didapatkan. Sehingga perusahaan food and


(20)

beverages memiliki persaingan bisnis yang kuat dalam dunia kerja dan dapat menjamin usaha dimasa depan. Adanya alasan dipilihnya tahun 2007-2009 dikarenakan tahun ini, yang datanya update adalah tahun mulai dari 2007-2009. hal ini akan menimbulkan tingkat laba bersih perusahaan naik turun yang kemungkinan bisa memicu tindakan perataan laba. Berikut ini adalah perkembangan laba-rugi pada perusahaan Food and Beverages periode 2007-2009 (dalam jutaan rupiah) yang ditabulasikan sebagai berikut.

Tabel 1.1. Perkembangan laba bersih pada perusahaan food and beverages periode tahun 2007 – 2009.( Jutaan Rupiah )

Sumber : PT. Bursa Efek Indonesia.

No Nama Perusahaan 2007 2008 2009

1 PT. Delta Djakarta, Tbk 84.385 222.307 340.458 2 PT. Fast Food Indonesia, Tbk 102.537 125.268 181.997 3 PT. Indofood Sukses Makmur, Tbk 980.357 1.034.389 181.997 4 PT. Multi Bintang Indonesia, Tbk 84.385 222.307 340.458 5 PT. Mayora Indah, Tbk 141.589 196.230 372.158 6 PT. Sekar Laut, Tbk 5.741.581 4.271.024 12.802.528 7 PT. Smart, Tbk 988.944 1.046.389 748.495 8 PT. Siantar Top, Tbk 15.595 4.816 41.072 9 PT. Tiga Pilar Sejahtera, Tbk 15.760 28.690 37.790 10 PT. Ultrajaya Milk Industri &

Trading Compani, Tbk


(21)

Berdasarkan pada tabel 1.1. menunjukan bahwa : perkembangan laba perusahaan mengalami fluktuasi. Hal ini dapat dilihat dari Laba-Rugi tertinggi adalah PT Sekar Laut, Tbk pada tahun 2009 senilai 12.802.528,- yang disebabkan oleh naiknya tingkat pendapatan setiap periode sehingga mengakibatkan nilai laba bersih meningkat. Laba-Rugi terendah adalah PT. Siantar Top, Tbk pada tahun 2008 senilai Rp 4.816,- yang disebabkan oleh penghasilan bunga sehingga mengakibatkan nilai laba bersih menurun. Tingkat laba bersih perusahaan yang naik turun kemungkinan melakukan perataan laba. Hal ini dapat memberikan informasi yang relevan dalam melakukan prediksi terhadap laba dimasa mendatang, sehingga investor tidak menarik investasinya dari perusahaan tersebut.

Berdasarkan latar belakang masalah, maka akan diperoleh informasi yang dapat digunakan sebagai pertimbangan bagi pihak internal ataupun pihak eksternal perusahaan yang berkepentingan terhadap kinerja manajemen. berdasarkan hal-hal tersebut maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian mengenai perataan laba, dengan judul “ Faktor- Faktor yang Mempengaruhi Perataan Laba Pada Perusahaan Food and Beverages Yang Terdaftar Di Bursa Efek Indonesia”.


(22)

1.2. Perumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang permasalahan, maka dapat disusun suatu rumusan masalah yaitu Apakah ukuran perusahaan, profitabilitas, dan leverage operasi berpengaruh terhadap perataan laba pada perusahaan Food and Beverages yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia?

1.3. Tujuan Penelitian

Berdasarkan rumusan masalah, maka tujuan penelitian ini adalah Untuk mengetahui dan menganalisis Apakah ukuran perusahaan, profitabilitas, dan leverage operasi berpengaruh terhadap perataan laba pada perusahaan Food and Beverages yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

1.4 Manfaat Penelitian

Hasil penelitian yang dilakukan diharapkan dapat bermanfaat sebagai beriku: 1. Bagi perusahaan

Diharapkan kepada pihak manajemen perusahaan dapat mengatur keuangan perusahaannya dengan baik, sehingga pembagian perataan laba kepada para investor sama rata dengan investor lainnya.


(23)

2. Bagi Akademis

Digunakan sebagai bahan referensi penelitian lain dengan materi yang berhubungan dengan pengaruh perataan laba perusahaan yang Go Publik, serta sebagai Dharmaa Bakti terhadap UPN “Veteran” jawa timur pada umumnya dan Fakultas Ekonomi pada khususnya.

3. Bagi Peneliti

Dapat mengidentifikasi faktor-faktor yang berhubungan dengan perataan laba pada perusahaan–perusahaan food and beverages yang go publik di BEI.

4. Bagi Manajer

Untuk memberikan informasi bahwa dengan melakukan perataan laba dapat membuat arus penghasilan stabil dan mengurangi covarian return dengan pasar dan juga dapat mengurangi fluktuasi laba yang dilaporkan.


(24)

10  BAB II

KAJIAN PUSTAKA

2.1. Hasil-Hasil Peneliti Terdahulu 2.1.1. Jin dan Machfoedz (2000)

Judul : “Faktor – Faktor yang Mempengaruhi Praktik Prataan Laba pada perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta.”

Perumusan Masalah :

1. Apakah terdaftar Perataan Laba yang dilakukan oleh perusahaan yang menjual sahamnya di Bursa Efek Jakarta?

2. Apakah Ukuran Perusahaan, Profitabilitas Perusahaan, Sektor Industri, dan Leverage Operasi perusahaan mempengaruhi praktik Perataan Laba?

Hipotensis:

1. Diduga terdapat peratan laba yang dilakukan oleh perusahaan yang menjual sahamnya di Bursa Efek Jakarta.

2. Diduga perataan laba dipengaruhi oleh ukuran perusahaan. 3. Diduga perataan laba dipengaruhi oleh profitabilitas perusahaan.

4. Diduga perataan laba dipengaruhi oleh sektor industri.

5. Diduga perataan laba dipengaruhi oleh leverage operasi perusahaan.

Kesimpulan :

Terdapat praktik perataan laba pada perusahaan yang terdaftar di Bursa Efek Jakarta dengan melihat faktor–faktor yang dapat dikaitkan


(25)

dengan terjadinya praktik perataan laba tersebut. Adapun faktor–faktor yang diuji dalam penelitian ini adalah ukuran perusahaan, profitabilitas perusahaan, sektor industri serta leverage operasi perusahaan.

2.1.2. Juniarti dan Corolina (2005)

Judul: “ Analisis Faktor–Faktor Yang Berpengaruh Terhadap Perataan Laba (Income Smoothing) pada Perusahaan–Perusahaan Go Publik.

Perumusan masalah:

1. Apakah terdapat perbedaan yang segnifikan antara perusahaan perataan laba dan perusahaan bukan perataan laba?

2. Apakah perataan laba dipengaruhi oleh ukuran perusahaan, profitabilitas, sektor industri perusahaan?

Hipotesis :

Berdasarkan hasil–hasil penelitian terdahulu, maka hipotensis null (Ho) yang diajukan pada penelitian ini adalah :

Hoi : Tidak terdapat perbedaan yang segnifikan antara besaran perusahaan profitabilitas, sektor industri perusahaan perataan laba dengan perusahaan bukan perataan laba.

Ho2 : Besaran perusahaan, profitabilitas, sector industry perusahaan tidak


(26)

12 

Kesimpulan :

Variabel profitabilitas (PRFT) memiliki perbedaan yang signifikan antaraperusahaan perataan laba dengan perusahaan bukan perataan laba sedangkan variabel total aktiva (TA) dan sector industri (DSI) tidak memiliki perbedaan yang segnifikan.

Faktor besaran perusahaan, profitabilitas, sector industry perusahaan tidak berpengaruh terhadap terjadinya tindakan perataan laba. Hasil pengujian pada hipotensis kedua (H02) diperkuat dengan hasil pengujian multivariate kedua dan multivariate ketiga yang menujukkan nilai signifikansi diatas 5%, berarti variabel independent TA, PRFT, DSI konsisten dengan pengujian multivariate yang pertama, yaitu tidak berpengaruh terhadap terjadinya tindakan perataan laba

2.1.3. Yusuf dan Soraya (2004)

Judul : “Faktor–Faktor Yang Mempengaruhi Praktik Perataan Laba Pada perusahaan asing dan non asing di indonesia.“

Perumusan masalah :

Apakah perusahaan asing dan non asing yang menjual sahamnya di Indonesia melakukan praktik perataan laba, dan apakah perataan laba dipengaruhi oleh ukuran perusahaan, profitabilitas perusahaan, leverage operasi perusahaan, serta status perusahaan (kategori investasi, asing maupun non asing )?


(27)

Ho1= Tidak terdapat perataan laba yang dilakukan oleh perusahaan asing dan non asing yang menjual sahamnya di Indonesia. Ho2= Perataan laba tidak dipegaruhi oleh ukuran perusahaan.

Ho3= Perataan laba tidak dipengaruhi oleh profitabilitas perusahaan. HO4= Perataan laba tidak dipengaruhi oleh leverage operasi

perusahaan.

HO5= Perataan laba tidak dipengaruhi oleh status perusahaan.

H a1= Terdapat perataan laba pada perusahaan asing dan non asing yang menjual sahamnya di Indonesia.

Ha2= Perataan laba dipengaruhi oleh ukuran perusahaan. Ha3= Perataan laba dipengaruhi oleh prifitabilitas perusahaan. Ha4= Perataan laba dipengaruhi oleh leverage operasi perusahaan. Ha5= Perataan laba dipengaruhi oleh status perusahaan.

Kesimpulan :

Diantara perusahaan asing dan non asing tersebut dapat dilihat bahwa perusahaan non asing lebih banyak melakukan praktik perataan laba dibandingkan perusahaan asing.

Praktik perataan laba tidak dipengaruhi oleh faktor ukuran perusahaan, profitabilitas perusahaan, dan status investasi perusahaaan, Sedangkan leverage operasi perusahaan merupakan faktor yang mempengaruhi praktik perataan laba.


(28)

14 

2.2.Kajian Teori

2.2.1. Laporan keuangan

Pada mulanya laporan keuangan bagi suatu perusahaan hanyalah sebagai “alat penguji” dari pekerjaan bagi pembukuan, tetapi selanjutnya laporan keuangan tidak hanya sebagai alat penguji saja tetapi juga sebagai dasar untuk dapat menentukan atau menilai posisi keuangan perusahaan tersebut, dimana dengan hasil analisa tersebut pihak-pihak yang berkepentingan mengambil suatu keputusan (Munawir:2002)

Menurut SAK (2007) yaitu, pengertian laporan keuangan adalah bagian dari proses pelaporan keuangan. Laporan keuangan yang lengkap biasanya meliputi neraca, laporan laba rugi, laporan perubahan posisi laporan keuangan (yang dapat disajikan dalam berbagai cara seperti misalnya, sebagai laporan arus kas atau laporan arus dana), catatan dan laporan lain serta materi penjelasan yang merupakan bagian integral dan laporan keuangan.

Laporan keuangan merupakan ringkasan dari suatu proses pencatatan, merupakan suatu ringkasan dari transaksi–transaksi keuangan yang selama tahun buku yang bersangkutan. Laporan keuangan dibuat oleh manajer dengan tujuan untuk mempertanggung-jawabkan tugas-tugas yang dibebankan kepada para pemilik perusahaan (Baridwan,: 17).


(29)

Laporan keuangan merupakan hasil dari informasi akuntansi yang berguna baik bagi pihak internal maupun pihak eksternal perusahaan. Karena laporan keuangan disusun dengan tujuan untuk menyediakan informasi yang menyangkut posisi keuangan, kinerja, dan perubahan posisi keuangan dalam suatu perusahaan sehingga dapat bermanfaat bagi sejumlah besar pemakai dalam pengambilan keputusan ekonomi.

Berdasarkan definisi-definisi tersebut, maka dapat diambil kesimpulan bahwa laporan keuangan merupakan informasi keuangan dari suatu perusahaan yang telah dicatat, digolongkan, dan diringkas secara tepat yang dapat digunakan untuk berbagai tujuan.

2.2.1.1. Tujuan Laporan Keuangan

Tujuan khusus dari laporan keuangan adalah menyajikan secara wajar dan sesuai prinsip akuntansi berterima umum, posisi keuangan.hasil operasi dan perubahan lain dalam posisi keuangan.

Tujuan laporan keuangan adalah untuk menyediakan informasi bagi pengambilan keputusan ekonomis, hal ini terlihat pada tujuan laporan keuangan yang diungkapkan menurut Standard Akuntasi keuangan adalah memberikan informasi tentang posisi keuangan, kinerja dan arus kas perusahaan yang bermanfaat bagi sebagian besar kalangan pengguna laporan dalam rangka membuat keputusan– keputusan ekonomi serta menujukkan pertanggung–jawaban


(30)

16 

(stewardship) manajemen atas penggunaan sumber-sumber daya yang dipertanyakan kepada mereka.

2.2.1.2. Karakteristik Kualitatif Laporan Keuangan

Karakteristik kualitatif laporan keuangan merupakan ciri khas yang membuat informasi dalam laporan keuangan tersebut berguna bagi para pemakai dalam mengambil keputusan ekonomi.

Menurut “Kerangka Dasar Penyusunan dan Penyajian Laporan Keuangan”(IAI,2002) yang terdapat dalam Sugiri dan Riyono, (2002:22), terdapat empat karakteristik kualitatif pokok laporan keuangan antara lain:

1. Dapat dipahami

Informasi yang dapat dipahami adalah informasi yang disajikan dalam bentuk dan bahasa teknis yang sesuai dengan tingkat pengertian penggunaanya.

2. Relevan

Informasi keuangan harus berpautan dengan tujuan pemanfaatannya.

3. Andal

Informasi dapat diandalkan pemakainya sebagai penyajian yang tulus dan jujur dari yang seharusnya disajikan atau secara wajar diharapkan dapat disajikan.


(31)

4. Dapat diperbandingkann Informasi

akuntansi harus dapat diperbandingkan dengan informasi akuntansi periode sebelumnya pada perusahaan yang sama.

2.2.1.3. Keterbatasan Laporan Keuangan

Meskipun laporan keuangan adalah merupakan sumber informasi akuntansi yang penting bagi para pemakainya, tetapi laporan keuangan juga memiliki keterbatasan yang disebabkan oleh karakteristik yang dimilikinya. Menurut Harahap (2007:247) sifat dan keterbatasan laporan keuangan adalah sebagai berikut:

a. laporan keuangan bersifat historis, yaitu merupakan laporan atas kejadian yang telah lewat. karenanya, laporan keuangan tidak dapat dianggap sebagai satu satunya sumber informasi dalam proses pengambilan keputusan ekonomi.

b. Laporan keuangan bersifat umum dan bukan dimaksudkan untuk memenuhi kebutuhan pihak tertentu.

c. Proses penyusunan laporan keuangan tidak luput dari penggunaan taksiran dan berbagai pertimbangan.

d. Laporan keuangan bersifat konservatif dalam menghadapi ketidakpastian bila terdapat beberapa kemungkinan kesimpulan yang tidak pasti mengenai suatu pos, lazimnya dipilih alternatif yang menghasilkan laba bersih atau nilai aktiva yang paling kecil.


(32)

18 

e. Laporan keuangan lebih menekankan pada makna ekonomis suatu peristiwa transaksi dari pada bentuk hukumnya (formalitas).

f. Laporan keuangan disusun dengan menggunakan istilah-istilah teknis dan pemakai laporan diasumsikan memahami bahasa teknis akuntansi dan sifat dari informasi yang dilaporkan.

g. Adanya berbagai alternatif metode akuntansi yang dapat digunakan menimbulkan variasi dalam pengukuran sumber-sumber ekonomis dan tingkat kesuksesan antar perusahaan

h. Informasi yang bersifat kualitatif dan fakta yang tidak dapat dikuantifikasikan umum diabaikan.

2.2.1.4. Jenis – Jenis Laporan Keuangan

Pernyataan Standar Akuntansi Keuangan (PSAK) No.1 (2004) pada paragraph 7 (tujuh) menyatakan bahwa laporan keuangan terdiri dari komponen sebagai berikut:

1. Neraca

Horngren (1997:22) neraca adalah daftar seluruh aktiva, kewajiban, dan ekuitas pemilik dari suatu entitas pada suatu tanggal tertentu, biasanya pada akhir bulan atau akhir tahun. Niswonger et. al (1999) menyatankan neraca adalah suatu daftar aktiva, kewajiban, dan ekuitas pemilik pada tanggal tertentu, biasanya pada akhir bulan atau akhir tahun.


(33)

2. Laporan laba-rugi

Niswonger (1999;18) menyatakan bahwa laporan laba rugi adalah melaporkan pendapatan dan beban selama periode waktu tertentu berdasarkan konsep penandingan.

Horngren (1997:22) laporan laba rugi adalah suatu iktisar pendapatan dan pengeluaran atau beban dari suatu entitas pada suatu jangka tertentu,misalanya untuk satu bulan atau satu tahun. Laporan laba rugi juga sebagai gambaran tentang operasi perusahaan selama periode tertentu sehingga mengandung informasi mengenai hasil usaha perusahaan.

3. Laporan perubahan ekuitas

Horngren (1997:22) menyatakan bahwa laporan perubahan ekuitas menyajikan ikhtisar perubahan yang terjadi dalam ekuitas pemilik pada suatu entitas untuk suatu jangka waktu tertentu, misalnya satu bulan atau satu tahun.

Niswonger (1999:18) laporan ekuitas merupakan laporan yang disiapkan setelah laporan laba rugi, karena laba bersih atau rugi bersih periode berjalan harus dilaporkan dalam laporan ini, demikian juga, laporan ekuitas pemilik dibuat sebelum mempersiapkan neraca, karena jumlah ekuitas pemilik pada akhir periode harus dilaporkan dineraca.


(34)

20 

4. Laporan arus kas

Horngren (1997:23) menyatakan bahwa laporan arus kas menggambarkan jumlah kas masuk penerimaan kas dan jumlah kas keluar pembayaran atau pengeluaran kas dalam suatu periode tertentu.

5. Catatan atas laporan keuangan

Menunjukan informasi tentang dasar penyusunan laporan keuangan dan kebijakan akuntansi yang dipilih dan ditetapkan terhadap periostiwa dan transaksi yang penting, menunjukan informasi yang diwajibkan dalam PSAK tetapi tidak disajikan di neraca, laporan laba rugi, laporan arus kas, dan laporan perubahan ekuitas serta menunjukan informasi tambahan yang tidak disajikan dalam laporan keuangan tetapi diperlukan dalam rangka penyajian secara wajar.

2.2.2. Kandungan Informasi Atas Laba

Penelitian ini yang dimaksud adalah mencakup laba (penghasilan positif) dan rugi (penghasilan negatif) sesuai dengan standart akuntansi yang berlaku pada praktik, hal ini akan berbeda dengan definisi penghasilan yang terdapat dalam standart akuntansi keuangan (SAK). Menurut Salno dan Baridwan (2000), Ikatan Akuntan Indonesia menterjermahkan income sebagai laba, yang meliputi pendapatan (revenues) dan keuntungan (gains).


(35)

Kirschenheiter dan Melumad (2000) dalam Juniarti dan Corolina (2005) menyatakan bahwa informasi tentang laba bertujuan untuk menilai kinerja manajemen, membantu mengestimasi kemampuan laba yang representatif dalam jangka panjang, dan menaksir risiko investasi atau meminjamkan dana.

2.2.3. Laba

2.2.3.1. Pengertian Laba

Laba (Gain) adalah kenaikan modal (aktiva bersih) yang berasal dari transaksi sampingan atau transaksi yang jarang terjadi dari suatu badan usaha, dan dari semua transaksi atau kejadian lain yang mempengaruhi badan usaha selama suatu periode kecuali yang timbul dari pendapatan (revenue) atau investasi olah pemilik (Baridwan, 1997:31).

Pengertian laba yang dianut oleh struktur akuntansi sekarang ini adalah perbedaan antara revenue yang direalisasikan yang timbul dari transaksi pada periode tertentu diharapkan dengan biaya biaya yang dikeluarkan pada periode tertentu. (Harahap, 2007:305).

Menurut Chariri dan Ghozali (2001:305), pengertian laba adalah laba akuntansi yang merupakan selisih pengukuran pendapatan dan biaya. Besar kecilnya laba sebagai pengukur kenaikan aktiva sangat tergantung pada ketepatan pengukuran pendapatan dan biaya.


(36)

22 

Standar akuntansi keuangan (SAK) (2007:56) menyatakan bahwa laba merupakan jumlah residu yang tertinggal setelah semua beban dikurangi pada penghasilan. Laba bersih mencerminkan semua pos laba-rugi selama satu periode kecuali untuk koreksi periode yang telah lalu, koreksi masa lalu disajikan sebagai penyesuaian atas saldo awal laba yang ditahan.

2.2.3.2. Tujuan Laporan Laba/Rugi

Laporan laba rugi adalah suatu laporan yang menunjukkan pendapatan – pendapatan dan biaya-biaya dari suatu unit usaha untuk suatu periode tertentu (Baridwan, 1997:30).

Tujuan utama pelaporan laba-rugi adalah untuk memberikan informasi yang berguna bagi mereka yang paling berkepentingan dengan laporan keuangan. Tujuan yang lebih khusus meliputi penggunaan laba sebagai pengukuran efesiensi manajemen, penggunaan angka laba historis untuk membantu meramalkan keadaan usaha dan distribusikan dividen dimasa yang akan datang, dan penggunaan laba sebagai pengukuran keberhasilan serta sebagai pedoman pengambilan keputusan manajerial di masa yang akan datang (Hendriksen, 1989).

Dari uraian di atas dapat dilihat pentingnya laporan rugi-laba yaitu sebagai alat untuk mengetahui kemajuan yang dicapai perusahaan dan juga mengetahui berapakah hasil bersih atau laba yang didapat dalam suatu periode. (Baridwan, 1997:30).


(37)

2.2.4. Perataan Laba

2.2.4.1. Pengertian Perataan Laba

Perataan laba didefinisikan sebagai cara yang digunakan oleh manajemen untuk mengurangi fluktuasi laba yang dilaporkan agar sesuai dengan target yang diinginkan baik secara artificial, yaitu melalui metode akuntansi, maupun secara riil, yaitu melalui transaksi (Koch,1981) dalam (Amini, 2000), dengan begitu maka para investor akan dapat dengan mudah meramalkan arus kas dari perusahaan di masa yang akan datang. Menurut Bornea, dan sadan (1976), perataan laba mempunyai dua tipe, yaitu perataan laba yang terjadi secara alami dan perataan laba yang dilakukan secara sengaja oleh manajemen. Perataan laba secara alami terjadi sebagai akibat dari proses menghasilkan laba dari suatu aliran laba yang rata, perataan laba yang disengaja dapat terjadi akibat teknik perataan rill/tenik perataan artificial (Atmini,2000).

Menurut Koch (1981) dalam Salno dan Baridwan (2000), perataan laba dapat didefinisikan sebagai cara yang dipakai oleh manajemen untuk mengurangi variabilitas laba diantara deretan laba yang dilaporkan. Usaha untuk mengurangi variabilitas laba itu timbul karena terdapat perbedaan antara jumlah laba yang seharusnya dilaporkan dengan laba yang diharapkan (laba normal). Usaha itu dapat berupa meningkatkan jumlah laba yang dilaporkan, jika laba yang seharusnya dilaporkan lebih kecil dari laba normal, atau menurunkan


(38)

24 

jumlah laba yang dilaporkan jika laba yang seharusnya dilaporkan lebih besar dari laba normal.

Belkaoui (2006:73) menyatakan bahwa perataan laba (income smoothing) dapat dipandang sebagai upaya yang sengaja dilakukan untuk menormalkan laba dalam rangka mencapai upaya yang disengaja dilakukan untuk menormalkan laba dalam rangka mencapai kecenderungan atau tingkat laba yang diinginkan.

Beberapa peryataan diatas dapat disimpulkan bahwa perataan laba (income smoothing) merupakan salah satu upaya para manajer perusahaan untuk mengurangi fluktuasi laba yang dilaporkan sehingga kinerja perusahaan terlihat stabil.

2.2.4.2. Tujuan Perataan Laba

Beberapa studi terdahulu telah ditemukan bukti adanya berbagai macam tujuan yang melatarbelakangi perusahaan–perusahaan melakukan perataan laba (income smoothing).

Beidelman (1973) dalam Assih dan Gudono (2000) percaya bahwa manajemen melakukan perataan laba untuk menciptakan suatu aliran laba yang stabil dan mengurangi covariance atas return dengan pasar, sedangkan Borneo (1976) dalam Assih dan Gudono (2000) menyatakan bahwa manajer melakukan perataan laba untuk mengurangi fluktuasi dalam laba yang dilaporkan dan meningkatkan kemampuan investor untuk memprediksi aliran kas di masa yang akan datang.


(39)

Lain pihak, menurut Dye (1988) dalam Jin dan Machfoedz (2000) menyatakan bahwa peneliti yang dilakukan ini bertujuan untuk menyelaskan kondisi yang diperlukan untuk melakukan manajemen laba, untuk mengidentifikasikan pengaruh dari permintaan internal dan ekternal atas manajemen laba pada kebijakan pengumuman laba perusahaan yang optimal serta manfaat dan kerugiaan bagi pemegang saham dari dilakukannyan manipulasi laba.

2.2.4.3. Alasan Perataan Laba

Alasan yang melatarbelakangi manajemen melakukan perataan laba dinyatakan oleh Juniarti dan Corolina (2005) yaitu dapat merubah kandungan informasi atas laba yang dihasilkan perusahaan. Hal ini perlu diwaspadai oleh pengguna laporan keuangan, karena informasi yang telah mengalami penambahan atau pengurangan tersebut dapat menyesatkan pengambilan keputusan yang akan diambil.

Alasan lain mengapa manajer melakukan praktik perataan laba dinyatakan oleh Gordon (1964) dalam Machfoedz (2000), yaitu perataan laba dapat mengurangi kesalahan dari pemengang saham dalam memahami penghasilan periode lalu untuk memprediksi penghasilan dimasa yang akan datang.

Hepwort (1953) dalam kumaladewi (2010) menyatakan bahwa manajemen memiliki alasan untuk melakukan praktik perataan laba. Pertama, rekayasa untuk mengurangi laba dan menaikkan biaya pada


(40)

26 

periode berjalan dapat mengurangi utang pajak. Kedua, tindakan perataan laba dapat meningkatkan kepercayaa investor karena mendukung kestabilan laba sesuai dengan keinginan. Ketiga, tindakan perataan laba dapat mempererat hubungan manajer dan karyawan karena dapat menghindari permintaan kenaikan upah oleh karyawan. Terakhir tindakan perataan laba memiliki dampak psikologis pada perekonomian sehingga kemajuan dan kemunduran dapat dibandingkan. Beberapa pernyataan diatas dapat disimpulkan bahwa motivasi/alasan adanya perataan laba adalah bagi manajer perusahaan, perataan laba dilakukan dengan tujuan agar kinerja perusahaan tersebut terlihat baik dan untuk mengurangi konflik di antara manajer dengan karyawan dan pemilik perusahaan, sedangkan bagi pemilik perusahaan adanya praktik perataan laba maka mereka akan lebih mudah untuk dapat memeperhitungkan risiko, return dan arus kas di masa depan perusahaan.

2.2.4.4. Dimensi Perataan Laba

Dimensi perataan laba pada dasarnya adalah alat yang digunakan untuk melakukan perataan angka income. Dascher dan Malcolm membedakan antara perataan laba riil dan perataan laba artifisial sebagai berikut: “ perataan laba riil merujuk pada transaksi aktual yang dilakukan atau tidak dilakukan atas dasar efek perataannya terhadap income, sedangkan perataan laba artificial merujuk pada


(41)

prosedur akuntansi yang diimplementasikan untuk memindahkan biaya atau pendapatan dari suatu periode ke periode yang lain”.

Barnet et. al dalam Belkaoui (2000;107) membedakan tiga dimensi perataan, sebagai berikut:

1. perataan melalui terjadinya peristiwa dan atau pengakuan

Manajemen dapat menentukan waktu terjadinya transaksi sedemikian rupa sehimngga efek transaksi tersebut terhadap perataan akan cenderung memperkecil variasinya dari waktu ke waktu. Waktu terjadinya peristiwa yang direncanakan (misalnya riset dan pengembangan) sebagaian besar akan merupakan fungsi dari aturan akuntansi terhadap peristiwa tersebut.

2. Perataan melalui alokasi dari waktu ke waktu

Berkaitan dengan terjadinya dan pengakuan suatu peristiwa, manajemen memiliki kebebasan yang lebih untuk mengendalikan penentuan periode yang dipengaruhi oleh kuantifikasi peristiwa tersebut.

3. Perataan melalui klasifikasi (sehingga disebut perataan klasifikatori),

Ketika statistik laporan perataan bersih merupakan obyek perataan, manajemen dapat mengklasifikasikan elemen-elemen dalam laporan perataan untuk mengurangi variasi dari waktu ke waktu dalam statistik tersebut.


(42)

28 

2.2.5. Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Perataan Laba

Perataan laba dapat dipengaruhi oleh beberapa faktor yang mendorong manajer untuk melakukan perataan laba. Secara rasional manajer melakukan perataan laba dengan alasan memperkecil tuntutan perusahaan. Beberapa faktor yang mendorong manajer untuk melakukan perataan laba adalah ukuran perusahaan, profitabilitas dan leverage operasi sebagai berikut:

1. Ukuran Perusahaan

Ukuran perusahaan adalah suatu skala, yaitu dapat diklasifikasikan besar kecilnya perusahaan menurut berbagai cara, antara lain total aktiva, log size, nilai pasar saham dan lain-lain. Ukuran perusahaan hanya terbagai dalam tiga kategori yaitu perusahaan besar, menengah dan kecil. Penentuan ukuran perusahaan ini didasarkan pada total assets perusahaan (Machfoedz, 1994) dalam (Suwito dan Herawaty, 2005).

Ukuran perusahaan menunjukkan besar kecilnya perusahaan yang dapat dilihat dari tingkat penjualan, jumlah tenaga kerja atau jumlah aktiva yang dimiliki perusahaan. Besar kecilnya perusahaan akan mempengaruhi kemampuannya dalam menanggung resiko yang mungkin timbul akibat berbagai situasi yang dihadapin perusahaan yang berkaita dengan operasinya. Ukuran perusahaan akan berpengaruh terhadap kemampuannya dalam memperoleh dana yang dibutuhkan. Ukuran besarnya suatu


(43)

perusahaan menggambarkan kondisi tingkat kekayaan yang dimiliki oleh perusahaan tersebut. Kemampuan perusahaan untuk melakukan kegiatan operasional, baik yang rutin maupun yang tidak rutin, sangat dipengaruhi oleh jumlah kekayaan yang dimilikinya. Pada penelitian ini ukuran perusahaan diukur dengan jumlah nilai kekayaan yang dimiliki suatu perusahaan (total aktiva) menurut (Yusuf dan soraya, 2004:105).

2. Profitabilitas Perusahaan

Profitabilitas merupakan salah satu indikator yang penting untuk menilai suatu perusahaan. Profitabilitas selain digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba juga untuk mengetahui efektifitas perusahaan dalam mengelola sumber–sumber yang dimilikinya. Sehingga profitabilitas diduga dapat mempengaruhi laba, karena secara logis merupakan instrumen yang terkait langsung dengan objek perataan laba. Hasil empiris penelitian sebelumnya Ashari (1994) dan White (1970), dalam Jin dan Machfoedz (2000) menghasilkan bukti bahwa perusahaan yang profitabilitas yang rendah atau sedang menurun lebih cenderung untuk melakukan perataan laba. 3. Leverage Operasi perusahaan

Leverage dapat didefinisikan sebagai pengguna aktiva atau dana di mana untuk penggunaan perusahaan harus menutup biaya tetap atau membayar beban tetap (Riyanto, 1995:375). Resiko


(44)

30 

leverage digunakan untuk mengukur sejauh mana aktiva perusahaan dibiayai dengan hutang. Perusahaan dengan rasio leverage yang tinggi mempunyai risiko rugi lebih besar, tetapi juga memiliki kesempatan untuk memperoleh laba yang tinggi, sedangkan perusahaan dengan rasio leverage yang rendah memiliki resiko rugi yang lebih kecil jika kondisi ekonomi yang sedang menurun, tetapi juga memiliki hasil pengembalian yang lebih rendah jika kondisi ekonomia membaik.

2.2.5.1. Pengaruh Ukuran Perusahaan Terhadap Perataan Laba

Untuk mengetahui ukuran perusahaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah nilai aktiva perusahaan, nilai aktiva dipakai sebagai ukuran perusahaan karena salama ini masik terdapat compounding effect yang timbul karena perusahaan yang besar selalu diidentikan dengan nilai aktiva yang besar pula. Keadaan ini membuat manajer termotivasi untuk melakukan perataan laba, karena manajer percaya bahwa para pemakai laporan keuangan masik mendasarkan salah satu penilaiannya mengenai perusahaan pada angka nilai aktiva.

Teori signaling theory (teori sinyal), teori ini berkaitan dengan asimetri teori yang dapat terjadi bila salah satu pihak yang mempunyai sinyal informasi yang lebih lengkap dari pada pihak lain (Brigham, 2006:38).


(45)

Ukuran perusahaan diduga mempengaruhi perataan laba karena sesuai dengan teori sinyal diatas, pihak manajemen tidak menyampaikan semua informasi yang dimilikinya secara penuh sehingga terjadi asimetri informasi dipasar modal. Disamping itu adanya anggapan manajer selama ini masih percaya bahwa para pemakai laporan keuangan masih mendasarkan penilainnya mengenai perusahaan pada total nilai aktiva. Konsisten dengan hal tersebut maka para manajer yang mengelola suatu perusahaan capital intensive (padat modal) yang nyatanya memang mempunyai struktur aktiva yang lebih besar nilainya bila dibandingkan dengan perusahaan labour intensive (padat karya) akan termotivasi untuk melakukan tindakan tersebut dengan tujuan untuk menimbulkan yang lebih baik mengenai perusahaannya kepada para pemakai laporannya.

2.2.5.2. Pengaruh Profitabilitas Perusahaan Terhadap Perataan Laba

Profitabilitas merupakan indikator yang penting untuk menilai suatu perusahaan salain itu digunakan untuk mengukur kemampuan perusahaan dalam menghasilkan laba juga untuk mengetahui efektivitas perusahaan dalam mengelola sumber – sumber yang dimilikinya sehingga profitabilitas diduga dapat mempengaruhi laba, karena secara logis merupakan instrument yang terkait langsung dalam obyek perataan laba karena informasi laba pada umumnya merupakan perhatian utama dalam menaksir kinerja atau pertanggung jawaban manajemen dan


(46)

32 

informasi laba membantu pemilik atau pihak lain melakukan penaksiran atas earning power perusahaan di masa yang akan datang.

Teori pengharapan, Teori ini menyatakan bahwa individu mengubah perilaku mereka berdasarkan hasil yang diharapkan dari suatu kejadian. Manfaat yang diturunkan dari suatu hasil yang diharapkan mengarah pada pencapaian balas jasa yang diinginkan.(Supriyono, 1999:140).

Profitabilitas diduga mempengaruhi perataan laba (income smoothing), karena sesui dengan teori penghargaan dalam pihak manajemen berusaha menampilkan suatu tingkat profitabilitas yang tinggi dan kinerja manajemen terlihat baik.

2.2.5.3. Pengaruh Leverage Operasi Perusahaan Terhadap Perataan Laba

Leverage operasi juga mempengaruhi praktik perataan laba. Perusahaan dengan levegare operasi rendah memiliki kecenderungan lebih besar untuk melakukan praktik perataan laba. Levegare operasi timbul pada saat perusahaan menggunakan aktiva yang menimbulkan biaya tetap (Atmini,2000). Manajer ingin perusahaannya memiliki leverage operasi rendah karena resikonya rendah. Di samping itu perusahaan yang leverage operasinya rendah berarti memiliki proporsi biaya tetap yang rendah dan proposi biaya variabel yang tinggi, Kondisi ini member peluang bagi manajer untuk melakukan perataan laba.


(47)

Sehingga mendorong pemilik perusahaan untuk meminta manajer melaporkan bahwa perusahaan mempunyai leverage operasi yang menguntungkan berdasarkan situasi perekonomian yang ada, dan tuntunan pemilik ini seringkali memaksa manajer untuk melakukan tindakan perataan laba, minimal untuk mengurangi tuntunan tersebut. Teori pertukaran leverange. Menurut teori pertukaran leverage yaitu, dimana perusahaan menukarkan keuntungan–keutungan pendanaan melalui utang (perilakuan pajak perusahaan yang menguntungkan) dengan tingkat suku bunga dan biaya kebangkrutan yang lebih tinggi (Brigham, 2006:36). Rasio Leverage yaitu rasio - rasio yang dimaksudkan untuk mengukur sampai berapa jauh aktiva perusahaan dibiayai dengan utang (Riyanto, 1995:331).

2.2.5.7. Pengaruh Variabel Ukuran Perusahaan (X1), Profitabilitas

Perusahaan (X2), Leverage Operasi Perusahaan (X3), terhadap

Perataan Laba (Y).

Hubungan antara ukuran perusahaan dengan perataan laba menurut Ashari (1994) dalam Juniarti dan Corolina (2005) menyebutkan bahwa perusahaan yang berukuran kecil akan lebih cenderung untuk melakukan praktik perataan laba dibandingkan dengan perusahaan besar, karena perusahaan besar cenderung mendapatkan perhatian yang lebih besar dari analis dan investor dibandingkan perusahaan kecil. Sebaliknya perusahaan yang memiliki aktiva besar


(48)

34 

yang kemudian dikategorikan sebagai perusahaan besar umumnya akan mendapatlebih banyak perhatiaan dari sebagai pihak seperti, para analis, investor, maupun pemerintah.

Hubungan antara profitabilitas dengan perataan laba Zuhroh (1998) dalam Jin dan Machfoedz,(1998) menyatakan bahwa tindakan perataan laba cenderung dilakukan oleh perusahaan yang tingkat profitabilitasnya rendah, hal ini dapat terjadi dikarenakan perataan laba merupakan suatu fenomena umum yang bertujuan untuk mengurangi variabilitas atas laba perusahaan. Selain itu menurut Gordon (1964) dalam Jin dan Machfoedz (1998), menjelaskan bahwa kepuasan dalam pemengang saham meningkat dengan adanya penghasilan perusahaan yang stabil dari tahun ke tahun.

Rasio Leverage yaitu rasio-rasio yang dimaksudkan untuk mengukur sampai berapa jauh aktiva perusahaan dibiayai dengan utang (Riyanto,1995:331). Perusahaan dengan leverage operasi yang tinggi mempunyai resiko menderita kerugian yang lebih besar, akan tetapi jika mempunyai kesempatan yang lebih besar untuk memperoleh laba, meskipun terdapat kemungkinan memperoleh laba yang lebih besar, tetapi pada umumnya investor juga enggan menghadapi resiko.

2.2.6. Kerangkai Pikir

Sebelum menentukan kerangkai pikir dalam penelitian ini, ada beberapa premis yang dikemukaka oleh beberapa penelitian terdahulu


(49)

dan landasan teori diatas yang menjadi landasan pemikiran, sementara dalam penelitian ini,yaitu :

 Premis 1

Profitabilitas dan ukuran perusahaan merupakan faktor pendorong dilakukan tindakan perataan laba. Ashari dkk (1998) dalam Jin dan Machfoedz,(1998:188).

 Premis 2

Diduga bahwa perusahaan-perusahaan yang berukuran kecil cenderung melakukan praktik perataan laba dibandingkan dengan perusahaan besar (Ashari, 1994 dalam Juniarti, dan Corolin, 2005).

 Premis 3

Terdapat indikasi tindakan perataan laba cenderung dilakukan oleh perusahaan yang profitabilitasnya rendah atau menurun (Juniarti dan Corolina 2005).

 Premis 4

Leverage operasi berpengaruh terhadap perataan laba (Jin dan Machfoedz, 1998).

Dari beberapa premis diatas, disusun suatu alur pemikiran yang merupakan formulasi hubungan secara sistematis antar konsep atau variabel penelitian dalam upaya pemecahan masalah yang dapat disajikan dalam bentuk diagram sebagai berikut :


(50)

36 

Uji Regresi Logistik

Disini diasumsikan bahwa ukuran perusahaan, profitabilitas perusahaan, leverage operasi perusahaan sebagai variabel bebas (independent variabel) dapat mempengaruhi perataan laba sebagai variabel terikat (Dependent variabel).

2.2.9. Hipotesis

Berdasarkan kerangkai pikir yang telah diuraikan diatas, maka hipotensis dalam peneliti ini dapat dirumuskan sebagai berikut :

 Diduga Ukuran Perusahaan, Profitabilitas, dan Leverage Operasi, berpengaruh secara parsial dan simultan terhadap perataan laba perusahaan Food And Beverages yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.

Ukuran Perusahaan (X1)

Profitabilitas Perusahaan (X2)

Leverage Operasi Perusahaan (X3)


(51)

37 

 

BAB III

METODE PENELITIAN

3.1. Definisi Operasional dan Pengukuran Variabel. 3.1.1. Definisi Operasional

Definisi operasional adalah suatu definisi yang diberikan kepada suatu variabel dengan cara memberikan arti atau menspesifikasikan kegiatan ataupun memberikan suatu operasional yang diperlukan untuk mengukur variabel tersebut (Nazir, 2005:126).

Untuk memperjelas konsep yang akan diteliti serta menghindari kesalahan persepsi terhadap variabel yang digunakan dalam penelitian ini, maka akan diperjelaskan definisi operasional dan cara pengukuran variabel sebagai berikut:

3.1.2. Pengukuran Variabel

a.Ukuran Perusahaan, (X1)

Ukuran perusahaan merupakan ukuran dari kondisi perusahaan dengan melihat besar atau kecilnya suatu perusahaan yang digunakan dalam penelitian ini. Variabel ini diukur dari total aktiva perusahaan yang dihitung melalui menstransformasikan total aktiva selama tiga tahun (tahun 2007, 2008, 2009), Dengan mengunakan rumus :


(52)

38 

 

Size = Log Total Aktiva

( Jin dan Machfoedz, 1998)

Satuan pengukuran variabel ukuran perusahaan adalah angka dan skala pengukuran yang digunakan adalah skala rasio.

b. Profitabilitas Perusahaan (X2)

Profitabilitas perusahaan merupakan pengukuran efektifitas manajemen dilihat dari laba yang dilaporkan. Laba itu sendiri merupakan instrument yang terkait dengan objek perataan laba. Profitabilitas juga penting untuk menilai sehat atau tidaknya perusahaan yang mempengaruhi investor untuk membuat keputusan. Dengan rumus sebagai berikut :

Profitabilitas = laba bersih setelah pajak x100% Total Penjualan

(Suwito dan Herawaty, 2005)

Satuan pengukuran variabel profitabilitas perusahaan adalah prosentase (%) dan skala pengukuran yang digunakan adalah skala rasio.


(53)

c. Leverage Operasi Perusahaan (X3)

Leverage operasi pengukuran hingga sejauh mana aktiva perusahaan didanai dari hutang pengukuran variabelnya adalah rasio aktiva total hutang dengan total aktiva selama tiga tahun (2007, 2008, 2009). Dengan rumus:

Leverage Operasi = Total hutang x100% Total aktiva

(Riyanto,1995:333)

Satuan pengukuran variabel leverage operasi perusahaan adalah prosentase (%) dan skala pengukuran yang digunakan adalah skala rasio.

d. Perataan Laba (Y1)

Uji ini diukur dalam bentuk indeks Eckel, dengan kriteria bahwa perusahaan dianggap telah melakukan tindakan perataan laba bila :

rumus CV I / CV S

(Yusuf & Soraya 2004: 105)

I = perubahan penghasilan bersih/ laba dalam satu periode

S = perubahan penjualan dalam suatu periode

CV = koefisien variasi dari variabel, yaitu standar deviasi dibagi dengan nilai yang diharapkan.


(54)

40 

 

CV I = koefisien varian untuk perubahan penghasilan bersih atau laba dalam satu periode

CV S = koefisien varian untuk perubahaan penjualan dalam satu periode

Dimana CV S dan CV I dapat dihitung sebagai berikut :

CV S atau CV I = Variance

Expected value

CV S atau CV I = ∑ ( x - x ) 2 : X n-1

(Juniarti dan Corolina 2005:152)

x = perubahan penjualan (S) atau laba operation (1) antara tahun n dengan n-1

x = rata-rata perubahan penjualan (S) atau perubahan laba operation (I) antara tahun n dengan tahun n-1

n = banyaknya tahun yang diamati.

Setelah CV diketahui, terhadap masing-masing perusahaan akan diberi status.untuk perusahaan dengan CV S > CV I berarti perusahaan tersebut telah melakukan perataan laba, sebaliknya, perusahaan dengan CV S < CV I berarti perusahaan tersebut tidak melakukan perataan


(55)

laba. Berdasarkan rumus Indeks Eckel yang disimpulkan bahwa IC < 1 atau CV S > CV I berarti perusahaan tersebut telah melakukan perataan laba, sebaliknya,perusahaan dengan CV S < CV I berarti perusahaan tersebut tidak melakukan perataan laba.

Satuan pengukuran variabel perataan laba adalah desimal dan skala pengukuran yang digunakan adalah skala nominal.

(Juniarti dan Corolina, 2005)

3.2. Teknik Penentuan Variabel 1. Populasi

Populasi adalah kelompok subjek atau objek yang memiliki ciri–ciri atau karakteristik yang berbeda dengan kelompok subjek atau objek lain (Sumarsono, 2004:44). Populasi yang digunakan dalam penelitian ini adalah laporan keuangan (financial statement) perusahaan food and beverages dari tahun 2007 – 2009 ,karena data yang diperoleh dari Bursa Efek Indonesia adalah laporan keuangan dengan tahun periode 2007-2009. Dari data Bursa Efek Indonesia terdapat sebanyak 18 perusahaan food and beverages yang dijadikan populasi dalam penelitian ini yaitu:

1. PT. Ades Waters Indonesia. Tbk 2. PT. Tiga Pilar Sejahtera Food, Tbk 3. PT. Aqua Golden Mississippi, Tbk


(56)

42 

 

4. PT. Cahaya Kalbar, Tbk 5. PT. Davomas Abadi, Tbk 6. PT. Delta Djakarta, Tbk

7. PT. Indofood Sukses Makmur, Tbk 8. PT. Multi Bintang Indonesia, Tbk 9. PT. Mayora Indah, Tbk

10. PT. Prasidha Aneka Niaga, Tbk

11. PT. Pioneerindo Gourmet Internasional, Tbk 12. PT. Sekar Laut, Tbk

13. PT. Sinarmas Agro Recources and Tehnologi, Tbk 14. PT. Siantar Top, Tbk

15. PT.Sekar Bumi, Tbk

16. PT. Tunas Baru Lampung, Tbk 17. PT. Fast Food Indonesia, Tbk

18. PT. Ultrajaya Milk Industri & Trading Compani, Tbk 2. Sampel

Sampel adalah bagian dari sebuah populasi, yang mempunyai ciri dan karakteristik yang sama dengan populasi tersebut, karena itu sebuah sampel harus representative dari sebuah populasi (Sumarsono, 2004, 45-46). Teknik penentuan sampelnya menggunakan teknik purposive sampling yaitu pengambilan sampel dengan mengunakan kriteria–kriteria tertentu. Kriteria yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah :


(57)

1. Perusahaan food and beverages yang memiliki data yang lengkap terutama data penjualan dan penghasilan bersih (dalam bulanan). 2. Perusahaan food and beverages yang menerbitkan laporan keuangan

per 31 desember mulai dari tahun 2007 sampai dengan tahun 2009. 3. Perusahaan food and beverages yang terdaftar di BEI sudah di audit

oleh KAP terbaik.

4. Perusahaan food and beverages yang memiliki laba bersih positif mulai dari tahun 2007 sampai dengan tahun 2009.

5. Berdasarkan rumusan Indeks Eckel, maka perusahaan Food and beverages yang disajikan sampel penelitian diutamakan perusahaan yang memiliki penjualan lebih besar dari pada labanya atau diuji secara statistic bahwa perusahaan tersebut melakukan perataan laba.

Berdasarkan kriteria – kriteria yang telah ditetapkan di atas maka sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah 10 perusahaan Food and Beverages yang Go Publik di Bursa Efek Indonesia, antara lain :

1. PT. Delta Djakarta, Tbk 2. PT. Fast Food Indonesia, Tbk 3. PT. Multi Bintang Indonesia, Tbk 4. PT. Mayora Indah, Tbk

5. PT .Sari Husada, Tbk

6. PT. Sekar Laut, Tbk

7. PT. Smart, Tbk


(58)

44 

 

9. PT. Tiga Pilar Sejahtera, Tbk

10. PT. Ultrajaya Milk Industri & Trading Compani, Tbk

3.3. Teknik Pengumpulan Data 3.3.1. Jenis Data

Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis data sekunder yaitu data yang diperoleh dalam bentuk yang sudah jadi, sudah dikumpulkan dan diolah oleh pihak lain biasanya sudah dalam bentuk publikasi. (Supranto, 1999:199). Data sekunder dalam penelitian ini adalah berupah laporan keuangan (Financial Statement) peruahaan Food

and Beverages yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia mulai tahun 2007-2009.

3.3.2. Sumber Data

Sumber data yang diperoleh guna terlaksananya penelitian ini diperoleh dari Indonesia Capital Market Directory tahun 2007-2009, juga dari BEI pusat.

3.3.3. Pengumpulan Data

Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan metode dokumentasi. Pengumpulan data dilakukan dengan jalan mencatat dan mengcopy data sekunder yang


(59)

diperoleh dari Bursa Efek Indonesia, selanjutnya diolah dengan kebutuhan penelitian.

3.4. Teknik Analisis Data dan Uji Hipotensis 3.4.1. Regresi Logistik

Metode regresi logistik digunakan untuk mencari pengaruh satu atau lebih variabel bebas (Ukuran Perusahaan, Profitabilitas, Leverage Operasi) yang berskala rasio terhadap variabel terikat (perataan laba) yang berskala nominal.

Bentuk model regresi logistik adalah sebagai berikut :

p

Ln = b0+b1X1 + b2 X2 + ……+ bk Xk 1-

p

p

Dimana : Odds (S | X1,X2, …..., X3) =

1 – P

P : profitabilitas X1 : ukuran perusahaan X2 : profitabilitas X3 : leverage operasi


(60)

46 

 

3.4.2. Regresi Logistik Serentak

Beberapa langka dalam uji regresi multivariate adalah sebagai berikut : 1. Uji Serentak

Regresi logistic serentak digunakan untuk menguji pengaruh variabel ukuran perusahaan, rasio profitabilitas, rasio leverages operasi secara serentak terhadap perataan laba, dan hipotesa pengujiannya adalah :

Hipotensi :

Ho : β0 = β1 =………..= βk = 0

Hi : paling sedikit ada satu β1yang tidak sama dengan nol. Statistik uji :

(likelihoodwithoutthe variable)

G = -2 In

likelihoodwith variabel

n

G =2

[ yi 1n(π ) + (1-yi) In(1- π) ] - [n1 1n(n1) + n0 1n(n0)n1n(n)] i=1

Daerah kritis :

Tolak H0 jika tingkat signifikansi (p-value) lebih kecil a (5%) artinya bahwa paling tidak terdapat satu atau lebih variabel bebas (ukuran perusahaan, rasio profitabilitas, rasio leverages operasi) yang berpengaruh terhadap variabel terikat (perataan laba).


(61)

3.4.3. Uji Kesesuaian Model

Uji Kesesuaian Model dilakukan dengan tujuan mengetahui apakah tidak ada perbedaan antara hasil observasi dengan kemungkinan hasil prediksi model.

Hipotensis :

Ho : Model sesuai (tidak ada perbedaan antara hasil observasi dengan kemungkinan prediksi model)

Hi : Model tidak sesuai (ada perbedaan antara hasil observasi dengan kemungkinan prediksi model)

Statistik Uji :

(

n

ij -

μ

ij )2

X2=

μ

ij Daerah Kritis

Tolak H0 jika signifikansi (p-value) lebih kecil a (5%) yang

artinya model tidak Sesuai (ada perbedaan antara hasil observasi dengan kemungkinan dengan kemungkinan prediksi model).


(62)

48 

 

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

4.1. Deskripsi Obyek Penelitian

4.1.1. Sejarah PT. Bursa Efek Indonesia (BEI)

Penggabungan PT Bursa Efek Surabaya (BES) ke dalam PT Bursa Efek Jakarta (BEJ) yang kemudian menjadi PT Bursa Efek Indonesia (BEI), telah efektif mulai tanggal 30 November 2007. Bursa hasil merger tersebut telah memulai operasional pertamanya pada tanggal 3 Desember 2007. Bursa saat ini memfasilitasi perdagangan ekuiti, surat utang, dan perdagangan derivatif. Dengan penggabungan, kapitalisasi pasar Bursa Efek Indonesia meningkat menjadi Rp 2.538 triliun yang terdiri dari Rp 1.982 triliun kapitalisasi ekuiti, Rp 79,065 triliun obligasi korporasi, dan Rp 477 triliun Surat Utang Negara (SUN)*. Hadirnya Bursa Efek tunggal ini diharapkan akan meningkatkan efisiensi industri Pasar Modal di Indonesia dan menambah daya tarik masyarakat untuk berinvestasi. Sinergi merger ini diharapkan akan semakin meningkatkan pertumbuhan Pasar Modal kita, baik dalam kapitalisasi pasar, jumlah emiten, dan jumlah investor baik lokal maupun asing. Harapan kedepan Pasar Modal Indonesia akan menjadi salah satu pilar utama pertumbuhan ekonomi nasional.


(63)

   

Bursa Efek Indonesia sangat memahami peran Surabaya sebagai salah satu basis utama penggerak perekonomian di wilayah Indonesia Timur. BEI kemudian melalui Sentra Informasi dan Edukasi (SIE) di Surabaya akan semakin meningkatkan kegiatan sosialisasinya mengenai Pasar Modal sebagai alternatif investasi bagi masyarakat umum, dan alternatif pendanaan bagi perusahaan. Harapan BEI, sosialisasi tersebut akan menyumbang peningkatan jumlah investor dan perusahaan tercatat (emiten) baik dari Jawa Timur maupun dari wilayah sekitarnya. Bagi daerah sendiri, peningkatan jumlah perusahaan tercatat akan mampu menyokong pertumbuhan perekonomian daerah, melalui peningkatan pendapatan daerah, penciptaan lapangan kerja, peningkatan pelaksanaan good corporate governance di perusahaan, dan sebagainya.

Dengan mempertimbangkan pertumbuhan industri Pasar Modal Indonesia beberapa tahun terakhir yang sedemikian pesat, Bursa Efek Indonesia (BEI) berencana melakukan pemutakhiran sistem Jakarta Automated Trading System (JATS) yang telah beroperasi selama 13 tahun terakhir, dengan sistem baru yang akan mampu menangani semua produk finansial (saham, obligasi dan derivatif) dalam satu platform.


(64)

50 

 

   

4.1.2. Sejarah PT. Delta Djakarta, Tbk

Pabrik ”Anker bir” didirikan pada tahun 1932 dengan nama Archipel Browerji. Dalam perkembangnnya, kepemilikan dari pabrik ini telah mengalami beberapa kali perubahan sehingga berbentuk PT. Delta Djakarta pada tahun 1970.

Delta Djakarta Tbk, (Perusahaan) didirikan dalam rangka Undang–Undang Penanaman Modal Asing No. 1 tahun 1967 yang telah diubah dengan Undang-Undang No.11 tahun 1967 berdasarkan akta No.35 tanggal 15 Juni 1970 dari Abdul Latief, S.H, notaris di Jakarta. Akta pendirian ini disahkan oleh Menteri Kehakiman Republik Indonesia dalam Surat Keputusannya No.J.A.5/75/9 tanggal 26 April 1971. Perusahaan dan pabriknya berlokasi di jalan inspeksi Tarum Barat, Bekasi Timur-Jawa Barat.

Ruang lingkup kegiatan perusahaan yaitu terutama untuk memproduksi dan menjual bir pilsener dan bir hitam dengan merek ”Anker”, ”Carlsberg”, ”San Miguel”, ”Kuda Putih”, dan ”San Mig Light”. Perusahaan juga memproduksi dan menjual produk minuman non-alkohol dengan merek ”Sodaku” dan ”Soda Ice”. Hasil produksi perusahaan dipasarkan di dalam dan di luar negeri. Perusahaan mulai beroperasi sejak tahun 1933.


(65)

   

4.1.3. Sejarah PT. Fast Food Indonesia, Tbk

PT. Fastfood Indonesia Tbk adalah pemilik tunggal waralaba

KFC di Indonesia, didirikan oleh Gelael Group pada tahun 1978 sebagai pihak pertama yang memperoleh waralaba KFC untuk Indonesia. Perseroan mengawali operasi restoran pertamanya pada bulan Oktober 1979 di Jalan Melawai, Jakarta, dan sukses outlet ini kemudian diikuti dengan pembukaan outlet-outlet selanjutnya di Jakarta dan perluasan area cakupan hingga ke kota-kota besar lain di Indonesia antara lain Bandung, Semarang, Surabaya, Medan, Makassar, dan Manado. Keberhasilan yang terus diraih dalam pengembangan merek menjadikan KFC sebagai bisnis waralaba cepat saji yang dikenal luas dan dominan di Indonesia.

Bergabungnya Salim Group sebagai pemegang saham utama telah meningkatkan pengembangan Perseroan pada tahun 1990, dan pada tahun 1993 terdaftar sebagai emiten di Bursa Efek Jakarta sebagai langkah untuk semakin mendorong pertumbuhannya.

Memasuki 28 tahun keberhasilan Perseroan dalam membangun pertumbuhannya, posisi KFC sebagai pemimpin pasar restoran cepat saji tidak diragukan lagi. Untuk mempertahankan kepemimpinan, Perseroan terus memperluas area cakupan restorannya dan hadir di berbagai kota kabupaten tanpa mengabaikan persaingan ketat di kota-kota metropolitan. Perseroan baru saja meresmikan pembukaan outlet KFC yang ke 300 di


(66)

52 

 

   

Cireundeu pada bulan Oktober 2007, bertepatan pada bulan yang sama ulang tahun KFC Indonesia yang ke 28. Perseroan mengakhiri tahun 2007 dengan total 307 outlet termasuk mobile catering, yang tersebar di 78 kota di seluruh Indonesia, mempekerjakan total 11.835 karyawan dengan hasil penjualan tahunan di atas Rp. 1,590 triliun.

4.1.4. Sejarah PT. Indofood Sukses Makmur, Tbk

PT. Indofoos Sukses Makmur Tbk didirikan pada tanggal 14

Agustus 1990, dengan berdasarkan Akta Notaris No.228 yang dibuat dihadapkan Benny Kristanto, S.H.

PT Indofood Sukses Makmur Tbk (“ISM”) (BEI:INDF) adalah perusahaan Total Food Solutions yang terkemuka dengan kegiatan operasi yang mencakup seluruh tahapan proses produksi makanan, mulai dari produksi dan pengolahan bahan baku hingga menjadi produk akhir yang tersedia di rak para pedagang eceran.

Perseroan bergerak dalam bidang produksi mie, penggilingan tepung terigu, kemasan, jasa manajemen, serta penelitian dan pengembangan. Saat ini terutama perusahaan bergerak dibidang pembuatan mie, penggilingan tepung terigu, dengan Kantor Pusat yang Berkedudukan di gedung Arlobimo sentral Lantai 12, di Jl.H.R Rasuna Said X-2, Jakarta. Sedangkan lokasi pabrik berada di Jawa, Sumatera, Kalimantan, Sulawesi, dan perseroan memulai kegiatan operasi secara komersial pada tahun 1990.


(67)

   

ISM mengoperasikan empat Kelompok Usaha Strategis (Grup) yang saling melengkapi: Produk Konsumen Bermerek (CBP), kegiatan usaha grup ini dilaksanakan oleh PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk (“ICBP”), tercatat di Bursa Efek Indonesia sejak tanggal 7 Oktober 2010. ICBP merupakan salah satu produsen makanan dalam kemasan yang terkemuka di Indonesia yang memiliki berbagai jenis produk makanan dalam kemasan. Berbagai merek ICBP merupakan merek-merek yang terkemuka dan dikenal di Indonesia untuk makanan dalam kemasan.

4.1.5. Sejarah PT. Multi Bintang Indonesia, Tbk

Perseroan didirikan pada tanggal 3 Juni 1929 berdasarkan akta notaris Dijikstra, notaris di Medan, dengan nama N.V. Nederlandsch. Perseroan berdomosili di Indonesia dengan kantor pusat berlokasi di Ra Plasa Building lantai 24, Jl. Jendral Sudirman Kav. 9, Jakarta 10270, dan pabrik berlokasi di Jl. Daan Mogot KM. 19 Tanggerang 15122 dan Jl. Raya Mojosari-Pacet KM.50, sampang Agung, Jawa Timur. Perseroan adalah bagian dalam kelompok Heineken, diamana pemegang saham utama adalah Heineken Internasional B.V. Transaksi dan saldo signifikan dengan pihak – pihka yang mempunyai hubungan istimewa disajikan dalam catatan 20 atas laporan keuangan konsolidasi.


(68)

54 

 

   

PT Multi Bintang Indonesia dan resmi menjadi perusahaan publik di tahun 1981 dan mengalihkan domisilinya dari Surabaya ke Jakarta. Saham-sahamnya diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia. Kini, PT Multi Bintang Indonesia Tbk telah menjadi produsen bir terkemuka di Indonesia. Perseroan memproduksi dan memasarkan serangkaian produk-produk ternama seperti Bir Bintang, Heineken, Guinness, Bintang Zero, dan Green Sands.

Perseroan beroperasi dalam indutri bir dan minuman lainnya. Untuk mencapai tujuan usahanya, perseroan dapat melakukan aktivitasnya sebagai berikut::

a. Produksi bir dan minuman lainnya dan produk–produk lain yang relevan. b. Pemasaran produk–produk, pada pasar lokal dan internasional.

c. Impor dan bahan–bahan promosi yang relevan dengan produk – produk.

4.1.6. Sejarah PT. Mayora Indah, Tbk

PT. Mayora Indah Tbk (Perusahaan) didirikan dengan akta No. 204 tanggal 17 Februari 1997 dari Notaris Ridwan Suselo S.H. akta pendirian ini telah mendapat pengesahan dari Menteri Kehakiman Republik Indonesia dalam Surat Keputusan No. Y.A.5/5/14 tanggal 3 Januari 1978 dan telah didaftarkan pada Kantor Kepaniteraan Pengadilan Negeri Tanggerang No.2/PNTNG/1978 tanggal 10 Januari 1978.


(69)

   

Perusahaan berdomisili di Tanggerang dan Bekasi. Kantor pusat Perusahaan beralamt di Gedung Mayora, Jl.Tomang Raya No.21-23, Jakarta. Ruang lingkup kegiatan perusahaan adalah menjalankan usaha dalam bidang industri, perdagangan serta/perwakilan. Saat ini perusahaan menjalankan bidang usaha industri makanan, kembang gula dan biscuit. Perusahaan mulai beroperasi secara komersial pada bulan Mei 1978.

4.1.7. Sejarah PT.Sekar Laut, Tbk

Lokasi berkantor pusat dan pabrik perusahaan adalah di Jl. Jenggolo II/17 Sidoarjo, Jawa Timur dan kantor cabangnya terletak di Jl. Raya Darmo 23-25 Surabaya, produk utama perusahaan adalah krupuk dengan merek finna. Perusahaan mempunyai distributor tunggal yakni PT. Pangan Lestari, perusahaan termasuk dalam group Sekar laut.

Kunci kesuksesan PT. Sekar Laut, Tbk. Adalah jiwa entrepreneur yang memiliki yang dimiliki oleh para perintis, perfeksionisme dalam kualitas produk dan sinergi kemampuan pemasar dan distribusi. Itulah yang terus mendorong perusahaan untuk terus mengembangkan kapasitas dan ragam produknya dalam rangka menyongsong tantangan masa depan. PT. Sekar Laut, Tbk. Melopori mekanisme moderen pada proses pengolahan krupuk yang tadinya dilakukan secara tradisional sekarang proses produksinya menggunakan mesin-mesin dan peralatan modern dikombinasikan dengan sumber daya manusia yang terampil, memastikan


(70)

56 

 

   

konsistensi produk yang berkualitas tinggi. Metode produksi higienis mengghasilkan rasa alami dan nutrisi yang terjaga. Pengawasan kualitas yang ketat dilaksanakan disetiap tahap. Pengepakan dilakukan sesuai dengan jumlah ukuran pemesanan dari pembeli.

Dengan lisensi merek FINNA, PT. Sekar Laut Tbk. Telah Menghasilkan berbagai macam variasi krupuk dan produksi makanan lain.

4.1.8. Sejarah PT. Smart, Tbk

PT SMART Tbk (SMART) adalah salah satu perusahaan produsen

barang konsumen berbasis kelapa sawit yang tercatat dibursa dan salah satu yang terbesar di Indonesia, yang berkomitmen atas produksi minyak kelapa sawit yang lestari.

Didirikan pada tahun 1962, SMART saat ini memiliki perkebunan kelapa sawit dengan total luasan lahan sebesar lebih kurang 135.000 hektar (termasuk perkebunan plasma). SMART juga mengoperasikan 15 mills, 4 kernel crushing plants and 3 refineries. SMART mencatatkan sahamnya dalam Bursa Efek Indonesia pada tahun 1992.

Kegiatan usaha utama SMART terdiri dari pembudidayaan dan permanenan tanaman kelapa sawit, pemrosesan tandan buah segar menjadi minyak kelapa sawit mentah (“CPO”) dan palm kernel, serta rafinasi CPO


(71)

   

menjadi produk dengan nilai tambah seperti minyak goreng, margin dan shortening.

Selain memproduksi minyak curah dan industrial, produk hasil rafinasi SMART adalah anak perusahaan Golden Agri-Resoursces (GAR), salah satu perusahaan berbasis kelapa sawit terbesar di dunia yang juga tercatat di Singapura. SMART juga mengelola seluruh perkebunan kelapa sawit GAR dengan total area perkebunan di Indonesia seluas 430.200 hektar (termasuk perkebunan plasma) pada 31 Maret 2010.

Hubungan dengan GAR memberikan keuntungan bagi SMART denganskala ekonomisnya dalam hal manajemen perkebunan, teknologi informasi, penelitian dan pengembangan, pembelian bahan baku, dan akses terhadap jaringan pemasaran yang luas, baik domestik maupun internasional.

4.1.9. Sejarah PT. Siantar Top, Tbk

PT. Siantar Top Tbk (perusahaan) didirikan berdasarkan akta No. 45 tanggal 12 Mei 1987 dari Ny. Endang Widjajanti, S.H, notaris di Sidoarjo dan akta perubahannya No. 64 tanggal 24 Maret 1988 dari notaris yang sama. Akta pendirian dan perubahan tersebut telah disahkan oleh menteri Kehakiman Republik Indonesia dalam Surat Keputusannya No. C2-5873.HT.Th.88 tanggal 11 Juli 1988 serta diumumkan dalam Berita


(72)

58 

 

   

Negara Republik Indonesia No. 104 tanggal 28 Desember 1993, tambahan No. 6226.

Ruang lingkup kegiatan perusahaan terutama bergerak dalam bidang industri makanan ringan, yaitu mie (snang gck noodle), kerupuk (crackers) dan kembang gula (candy). Perusahaan berdomisili di Sidoarjo, Jawa Timur dengan pabrik berlokasi di Sidoarjo (Jawa Timur), Medan (Sumatera Utara), dan Bekasi (Jawa Barat). Kantor pusat perusahaan beralamat di Jl. Tambak Sawah No. 21-23 Waru, Sidoarjo. Perusahaan mulai beroperasi secara komersial pada bulan September 1989. Hasil produksi perusahaan dipasarkan di dalam dan di luar negeri, khususnya Asia.

4.1.10. Sejarah Singkat PT.Tiga Pilar Sejahtera Food, Tbk

PT Tiga Pilar Sejahterah Food Tbk (Perusahaan) didirikan pada tanggal 26 januari 1990 berdasarkan akta No. 143 yang dibuat dihadapan Winanto Wiryomartani, S.H., Notaris dijakarta dengan nama PT Asia Intiselera. Akta pendirian ini disahkan oleh menteri kehakiman Republik Indonesia dalam surat Keputusannya No. C2-1827.HT.01.01.Th.91 tanggal 31 Mei 1991 serta diumumkan dalam berita negara Republik Indonesia No. 65, Tambahan No. 2504 tanggal 13 agustus 1991.


(1)

DAFTAR PUSAKA

Anonim,

2003,

Pendoman Penyusun Penelitian dan Skripsi Jurusan Akuntansi,

FE UPN “ Veteran ” Jawa Timur, Surabaya.

Ahmad Riani. Belkaoui. 2000,

Teori Akuntansi

. Edisi Pertama. Jakarta : Penerbit

Salemba

Empat.

Anis Chariri dan Imam Ghozali, 2001.

Teori Akuntansi.

Edisi Pertama. Semarang

: Penerbit Universitas Diponegoro.

Belkaoui, Ahmed, Riahi, 2006,

Accounting Theory

, Buku 2, Edisi 5, Penerbit

Salembah

Empat.

Eugene, F Brigham, 2006,

Dasar Dasar Manajemen Keuangan,

Edisi 10, Buku

2, Penerbit Salemba Empat.

Harahap, Sofyan, Syafri, 2007,

Teori Akuntansi,

Edisi Revisi, Penerbit PT Raja

Grafindo

Persada.

Horngren, et. al, 1997

, Akuntansi di Indonesia,

Buku 1, Penerbit Salemba Empat,

Jakarta.

Ikatan Akuntansi Indonesia, 2004

, Standar Akuntansi Keuangan,

Penerbit

Salemba Empat, Jakarta.

Ikatan Akuntansi Indonesia. 1985.

Prinsip Akuntansi Indonesia

, 1984. Edisi

Revisi, Jakarta : Penerbit : Rireka Cipta.

Niswonger, et. al, 1999,

Prinsip – Prinsip Akuntansi

, Edisi Kesembilan belas,

Jilid 1, Penerbit ERLANGGA, Jakarta.


(2)

Umar, Husein, 2007,

Metode Penelitian Untuk Skripsi dan Thesis Bisnis

,

Penerbit PT Raja Grafindo Persada, Jakarta.

Wild, John J, 2005,

Analisis Laporan Keuangan,

Edisi 8, Penerbit Salemba

Empat,

Jakarta.

2009,

Indonesia Capital Market Direktory

. IDX.

Assih & Gudono, 2000,

“ Hubungan Tindakan Perataan Laba Dengan Reaksi

Pasar Atas Pengumuman Informasi Laba Perusahaan Yang Terdaftar

Di Bursa Efek Jakarta ”,

Jurnal Akuntansi Dan Keuangan, Vol. 3 No. 1,

November.

Juniarti & Corolina, 2005,

“ Analisis Faktor – Faktor Yang Berpengaruhi

Terhadap Perataan Laba ( Income Smoothing ) Pada Perusahaan -

Perusahaan Go Public “,

Jurnal Akuntansi Dan Keuangan, Vol. 7 No.

2, November. Hal 148 - 162.

Jin & Machfoedz, 2000,

Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Praktik

Perataan Laba Pada Perusahaan Yang Terdaftar di Bursa Efek

Jakarta ”,

Jurnal Riset Akuntansi Indonesia, Vol. 1 No. 2, Juli.

Yusuf & Soraya, 2004

,

“ Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Praktik

Perataan Laba Pada Perusahaan Asing dan Non Asing di Indonesia ”,

Jurnal Akuntansi dan Auditing Indonesia, Vol. 8 No. 1, Juni.


(3)

Lampiran 3. Analisis Regresi Logistik

Descriptive Statistics

30 .000 1.000 .633 .490

30 5.262 7.606 6.180 .640

30 .771 22.289 7.453 5.582

30 21.147 89.396 48.678 17.047 30

Perataan Laba (Y) Ukuran Perusahaan (X1) Profitabilitas Perusahaan (X2) Leverage Operasi Perusahaan (X3)

Valid N (listwise)

N Minimum Maximum Mean Std. Deviation

Descriptive Statistics

11 5.26 7.61 6.3965 11 2.42 12.24 5.5029 11 26.28 63.26 48.1157 11

19 5.30 7.60 6.0541 19 .77 22.29 8.5823 19 21.15 89.40 49.0042 19

Ukuran Perusahaan (X1) Profitabilitas

Perusahaan (X2) Leverage Operasi Perusahaan (X3) Valid N (listwise) Ukuran Perusahaan (X1) Profitabilitas

Perusahaan (X2) Leverage Operasi Perusahaan (X3) Valid N (listwise) Perataan Laba (Y)

Tidak melakukan perataan laba

Melakukan perataan laba

N Minimum Maximum Mean

Case Processing Summary

30 100.0

0 .0

30 100.0

0 .0

30 100.0 Unweighted Cases a

Included in Analysis Missing Cases Total

Selected Cases

Unselected Cases Total

N Percent

If weight is in effect, see classification table for the total number of cases.

a.

Dependent Variable Encoding

0 1 Original Value

Tidak melakukan perataan laba

Melakukan perataan laba


(4)

Block 0: Beginning Block

Iteration Historya,b,c

39.431 .533 39.429 .547 39.429 .547 Iteration

1 2 3 Step 0

-2 Log

likelihood Constant Coefficients

Constant is included in the model. a.

Initial -2 Log Likelihood: 39.429 b.

Estimation terminated at iteration number 3 because parameter estimates changed by less than .001. c.

Classification Tablea,b

0 11 .0

0 19 100.0

63.3 Observed

Tidak melakukan perataan laba

Melakukan perataan laba Perataan Laba (Y)

Overall Percentage Step 0

Tidak melakukan perataan laba

Melakukan perataan laba Perataan Laba (Y)

Percentage Correct Predicted

Constant is included in the model. a.

The cut value is .500 b.

Variables in the Equation

.547 .379 2.081 1 .149 1.727

Constant Step 0

B S.E. Wald df Sig. Exp(B)

Variables not in the Equation

2.066 1 .151

2.193 1 .139

.020 1 .889

4.486 3 .214

x1 x2 x3 Variables

Overall Statistics Step

0


(5)

Block 1: Method = Enter

Iteration Historya,b,c,d

34.740 4.727 -.895 .091 .013

34.314 5.109 -1.060 .134 .023

34.296 5.157 -1.096 .145 .025

34.295 5.159 -1.098 .146 .025

34.295 5.159 -1.098 .146 .025

Iteration 1 2 3 4 5 Step 1

-2 Log

likelihood Constant x1 x2 x3

Coefficients

Method: Enter a.

Constant is included in the model. b.

Initial -2 Log Likelihood: 39.429 c.

Estimation terminated at iteration number 5 because parameter estimates changed by less than .001.

d.

Omnibus Tests of Model Coefficients

5.134 3 .162

5.134 3 .162

5.134 3 .162

Step Block Model Step 1

Chi-square df Sig.

Model Summary

34.295a .157 .215

Step 1

-2 Log likelihood

Cox & Snell R Square

Nagelkerke R Square Estimation terminated at iteration number 5 because parameter estimates changed by less than .001. a.

Hosmer and Lemeshow Test

2.829 8 .945

Step 1

Chi-square df Sig.

Classification Tablea

Perataan Laba (Y) Predicted


(6)

Variables in the Equation

-1.098 .722 2.308 1 .129 .334

.146 .105 1.929 1 .165 1.157

.025 .033 .609 1 .435 1.026

5.159 4.042 1.629 1 .202 174.071

x1 x2 x3 Constant Step

1a

B S.E. Wald df Sig. Exp(B)

Variable(s) entered on step 1: x1, x2, x3. a.

Step number: 1

Observed Groups and Predicted Probabilities

4       F   R 3  M  E  M  Q  M  U  M  E 2  M M M M M  N  M M M M M  C  M M M M M  Y  M M M M M  1  M TT TM TM MT T MTT MT TT MM MM MM M   M TT TM TM MT T MTT MT TT MM MM MM M   M TT TM TM MT T MTT MT TT MM MM MM M   M TT TM TM MT T MTT MT TT MM MM MM M  Predicted

 

Prob: 0 .25 .5 .75 1 Group: TTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTTMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMMM Predicted Probability is of Membership for Melakukan perataan laba The Cut Value is .50

Symbols: T - Tidak melakukan perataan laba M - Melakukan perataan laba Each Symbol Represents .25 Cases.