KESADARAN HUKUM MASYARAKAT KAMPUNG MAHMUD UNTUK MEMILIKI SERTIFIKAT ATAS HAK ULAYAT: Studi Kasus di Kampung Adat Mahmud Desa Mekarrahayu Kecamatan Marga Asih Kabupaten Bandung.

(1)

KESADARAN HUKUM MASYARAKAT KAMPUNG MAHMUD UNTUK MEMILIKI SERTIFIKAT ATAS HAK ULAYAT

(Studi Kasus di Kampung Adat Mahmud Desa Mekarrahayu Kecamatan Marga Asih Kabupaten Bandung)

SKRIPSI

Diajukan untuk Memenuhi Sebagian dari Syarat untuk Memperoleh Gelar Sarjana Pendidikan

Jurusan Pendidikan Kewarganegaraan

Oleh

ANGKI AULIA MUHAMMAD 0907327

JURUSAN PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN FAKULTAS PENDIDIKAN ILMU PENGETAHUAN SOSIAL

UNIVERSITAS PENDIDIKAN INDONESIA BANDUNG


(2)

KESADARAN HUKUM MASYARAKAT

KAMPUNG MAHMUD UNTUK

MEMILIKI SERIFIKAT ATAS HAK

ULAYAT (Studi Kasus di Kampung

Adat Mahmud Desa Mekarrahayu

Kecamatan Marga Asih Kabupaten

Bandung)

Oleh

Angki Aulia Muhammad

Sebuah skripsi yang diajukan untuk memenuhi salah satu syarat memperoleh gelar Sarjana pada Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial

© Angki Aulia Muhammad 2013 Universitas Pendidikan Indonesia

April 2013

Hak Cipta dilindungi undang-undang.

Skripsi ini tidak boleh diperbanyak seluruhya atau sebagian, dengan dicetak ulang, difoto kopi, atau cara lainnya tanpa ijin dari penulis.


(3)

LEMBAR PENGESAHAN

KESADARAN HUKUM MASYARAKAT KAMPUNG MAHMUD UNTUK MEMILIKI SERTIFIKAT ATAS HAK ULAYAT

(Studi Kasus di Kampung Adat Mahmud Desa Mekarrahayu, Kecamatan Marga Asih Kabupaten Bandung)

Oleh: Angki Aulia M

0907327

Disetujui dan Disahkan Oleh:

Pembimbing I

Prof. Dr. Suwarma Al Muchtar, S.H., M.Pd. NIP. 19530211 197803 1 002

Pembimbing II

Dra. Hj. Dartim Nan Sati NPP. 13051477600

Mengetahui,

Ketua Jurusan Pendidikan Kewarganegaraan

Syaifullah, S.Pd., M.Si NIP. 19721112 199903 1 001


(4)

SKRIPSI INI TELAH DIUJI PADA TANGGAL 31 MEI 2013 PANITIA UJIAN SIDANG TERDIRI ATAS:

Ketua :

Prof. Dr. H. Karim Suryadi, M.Si NIP. 19700814 199402 1 002

Sekretaris :

Syaifullah, S.Pd., M.Si NIP. 19721112 199903 1 001

PENGUJI TERDIRI ATAS:

Penguji I :

Prof. Dr. Suwarma AM, S.H., M.Pd. NIP. 19530211 197803 1 002

Penguji II :

Dra. Hj. Dartim Nan Sati NPP. 13051477600

Penguji III :

Dr. Cecep Darmawan, S.Pd., S.IP., M.Si. NIP. 19690929 199402 1 001


(5)

ABSTRAK

Hidup manusia tidak dapat dilepaskan dari tanah, begitu pula membicarakan eksistensi masyarakat kampung adat. Tanah mempunyai kedudukan yang sangat penting dan essensial bagi masyarakat Kampung Mahmud. Masyarakat Kampung Mahmud telah tinggal lama di tanah adatnya (hak ulayat) tersebut. Untuk menjaga hak dan eksistensi tanah, secara yuridis formal dibutuhkan sertifikat sebagai alat pembuktian yang kuat atas tanah yang dimiliki masyarakat Kampung Mahmud. Sertifikat berfungsi sebagai alat bukti yang kuat atas tanah, sebagai media informasi mengenai tanah yang dimiliki, dan dengan memiliki sertifikat pemerintah dapat menjalankan tertib administrasi pertanahan sehingga memudahkan pemerintah memberikan kepastian hukum atas tanah yang bersertifikat. Namun masyarakat Kampung Mahmud belum menyadari benar pentingnya memiliki sertifikat tanah, terdapat banyak kendala dihadapi oleh masyarakat Kampung Mahmud untuk mensertifikasi tanah yang dimilikinya. Untuk memudahkan dalam memahami penelitian ini, dirumuskan dalam 3 rumusan masalah yaitu: 1) Bagaimana tingkat kesadaran hukum masyarakat Kampung Mahmud untuk kepemilikan sertifikat tanah atas hak ulayat?, 2) Apa saja faktor-faktor yang menjadi kendala dalam mengurus sertifikat tanah hak ulayat?, 3) Bagaimana cara-cara mengatasi kendala dalam mengurus sertifikat tanah?. Untuk mengetahui fenomena dalam penelitin ini, digunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Subjek dalam penelitian ini adalah masyarakat Kampung Mahmud yang memiliki tanah dan untuk menambah informasi yang didapatkan di Kampung Mahmud, penelitian juga dilaksanakan di Desa Mekarrahayu sebagai daerah administratif dari Kampung Mahmud dan di Kantor Pertanahan Kabupaten sebagai lembaga pemerintah yang mengurus tentang pertanahan di Kabupaten Bandung. Hasil dari penelitian ini adalah 1) Tingkat kesadaran hukum masyarakat Kampung Mahmud masih rendah dalam kepemilikan sertifikat tanah. 2) Kendala-kendala yang dihadapi masyarakat Kampung Mahmud dalam mengurus sertifikat tanah hak ulayat diantaranya masyarakat Kampung Mahmud tidak mengetahui prosedur dalam pendaftaran tanah sehingga kerap kali dimanfaatkan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab saat hendak mengurus Sertifikat Hak Milik. Warga Kampung Mahmud tidak mampu membayar biaya yang harus dikeluarkan dalam proses pelayanan sertifikasi tanahnya. Warga Kampung Mahmud malas mengurus Sertifikasi tanahnya. Perasaan masyarakat Kampung Mahmud yang menganggap tanah mereka merupakan tanah adat dan tidak perlu didaftarkan menjadi alasan mengapa warga tersebut tidak mendaftarkan tanahnya. 3) Kantor Pertanahan Kab. Bandung tidak memberatkan proses sertifikasi pendaftaran tanah adat yang dilakukan oleh warga Kampung Mahmud. Pemerintah bekerja sama dengan Kantor Pertanahan Kab. Bandung melakukan Prona untuk meningkatkan pendaftaran tanah bagi masyarakat yang tidak mampu. Terdapat program Larasita dan Yandu yang dilaksanakan secara rutin seminggu sekali secara bergilir di tiap kecamatan. Pihak desa Mekarrahayu pun tak pernah henti-hentinya mengingatkan warga untuk memiliki sertifikat tanah saat kunjungan kerja.


(6)

ABSTRACT

Human lives can not be separated from the land, as well as discuss the existence of the traditional village society. Land has a very important position and essential for Kampung Mahmud society. Kampung Mahmud community has long lived in their customary lands (communal rights) is. To keep the rights and existence of land, formal juridical required certificate as a proof of the strong over land owned by the village of Mahmud. Certificates serve as a strong evidence on the ground, as a medium of information about land owned, and the government can execute a certificate of land so as to facilitate the orderly administration of the government to provide legal certainty on land certified. However, Kampung Mahmud community has not yet realized the importance of the land certificate, there are many obstacles faced by Kampung Mahmud community to certify its land. To facilitate the understanding of this research, the researchers defined it in three formulation of the problem, namely: 1) How does the level legal awareness Kampung Mahmud land certificate for ownership over customary rights?, 2) What are the factors that become obstacles in taking care of land certificates of customary rights, 3) How does the ways to overcome obstacles in the taking care of the land certificate?. To find out the phenomenon in this research, researchers used a qualitative approach with case study method. Subjects in this research were Kampung Mahmud community owns the land and to supplement the information obtained in Kampung Mahmud, the research was also conducted in the village of Mekarrahayu as administrative areas of Kampung Mahmud and in the District Land Office as government agencies that take care of the land in Bandung district. The results of this study are 1) The level of public awareness is still low in Kampung Mahmud land ownership certificates. 2) The constraints faced by Kampung Mahmud community in the take care of such customary rights land certificate Kampung Mahmud community do not know the procedure in the registration of land so often be utilized by unscrupulous who are not responsible when they want to taking care of Certificate of Ownership. Residents of Kampung Mahmud can not afford the costs to be incurred in the process of land certification services. Residents of Kampung Mahmud are lazy with land certification. Kampung Mahmud community feeling who think their land is customary land and does not need to be listed as a reason why the residents do not register their land. 3) Bandung District Land Office does not burden the registration of customary land certification process is conducted by the residents of Kampung Mahmud. Government in collaboration with the District Land Office Bandung conduct Prona (National Agrarian Program) to improve land registration for people who can not afford. There are Laradisita and Yandu program held regularly once a week in rotation in each subdistrict. Mekarrahayu village party was never ceaselessly to remind residents to have a land certificate during a working visit.


(7)

DAFTAR ISI

LEMBAR PERNYATAAN ... Error! Bookmark not defined. KATA PENGANTAR ... Error! Bookmark not defined. UCAPAN TERIMA KASIH ... Error! Bookmark not defined. ABSTRAK ... Error! Bookmark not defined. DAFTAR ISI ... 1 DAFTAR TABEL ... Error! Bookmark not defined. DAFTAR GAMBAR ... Error! Bookmark not defined. DAFTAR LAMPIRAN ... Error! Bookmark not defined. BAB I PENDAHULUAN ... Error! Bookmark not defined. A. Latar Belakang Masalah ... Error! Bookmark not defined. B. Rumusan Masalah ... Error! Bookmark not defined. C. Tujuan Penelitian ... Error! Bookmark not defined. D. Manfaat Penelitian ... Error! Bookmark not defined. E. Sistematika Penulisan ... Error! Bookmark not defined. BAB II TINJAUAN PUSTAKA ... Error! Bookmark not defined. A. Tinjauan Umum Tentang Kesadaran Hukum ... Error! Bookmark not defined.

1. Pengertian Tentang Kesadaran Hukum ... Error! Bookmark not defined. 2. Indikator Tentang Kesadaran Hukum ... Error! Bookmark not defined. 3. Tingkat Kesadaran Hukum ... Error! Bookmark not defined. 4. Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Kesadaran Hukum .. Error! Bookmark

not defined.

5. PKn dan Kesadaran Hukum ... Error! Bookmark not defined. B. Tinjauan Umum Tentang Masyarakat Adat Kampung Mahmud ... Error! Bookmark not defined.

1. Pengertian Masyarakat Adat ... Error! Bookmark not defined. 2. Sistem Kekerabatan Masyarakat Hukum Adat ... Error! Bookmark not


(8)

3. Masyarakat Kampung Mahmud ... Error! Bookmark not defined. C. Tinjauan Tentang Sertifikat Tanah ... Error! Bookmark not defined. 1. Pengertian Sertifikat ... Error! Bookmark not defined. 2. Urgensi Sertifikat Tanah ... Error! Bookmark not defined. 3. Isi Sertifikat ... Error! Bookmark not defined. 4. Cara Memperoleh Sertifikat Tanah ... Error! Bookmark not defined. 5. Kegiatan Pendaftaran Tanah ... Error! Bookmark not defined. 6. Fungsi dan Tujuan Sertifikat Tanah ... Error! Bookmark not defined. D. Tinjauan Umum Tentang Hak Ulayat ... Error! Bookmark not defined. 1. Pengertian dan Pengaturan Hak Ulayat ... Error! Bookmark not defined. 2. Kedudukan dan Fungsi Hak Ulayat ... Error! Bookmark not defined. 3. Hubungan Hak Ulayat dengan Hak-Hak Perseorangan .. Error! Bookmark

not defined.

BAB III METODOLOGI PENELITIAN... Error! Bookmark not defined. A. Pendekatan dan Metode Penelitian ... Error! Bookmark not defined. 1. Pendekatan Penelitian ... Error! Bookmark not defined. 2. Metode Penelitian ... Error! Bookmark not defined. B. Teknik Pengumpulan Data ... Error! Bookmark not defined. 1. Observasi ... Error! Bookmark not defined. 2. Wawancara ... Error! Bookmark not defined. 3. Studi Dokumentasi ... Error! Bookmark not defined. 4. Studi Literatur ... Error! Bookmark not defined. C. Subjek dan Lokasi Penelitian ... Error! Bookmark not defined. 1. Subjek penelitian ... Error! Bookmark not defined. 2. Lokasi Penelitian ... Error! Bookmark not defined. D. Tahap-Tahap Penelitian ... Error! Bookmark not defined. 1. Tahap Pra Penelitian ... Error! Bookmark not defined. 2. Tahap Pelaksanaan Penelitian ... Error! Bookmark not defined. 3. Tahap Pengumpulan dan Pencatatan Data . Error! Bookmark not defined. 4. Tahap Analisis Data ... Error! Bookmark not defined. E. Teknik Analisis Data ... Error! Bookmark not defined.


(9)

1. Reduksi Data (Data Reduction) ... Error! Bookmark not defined. 2. Penyajian Data (Data Display) ... Error! Bookmark not defined. 3. Kesimpulan (Verification) ... Error! Bookmark not defined. BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN ... Error! Bookmark not defined.

A. Deskripsi Umum Lokasi Penelitian ... Error! Bookmark not defined. 1. Lokasi Kampung Mahmud Desa Mekarrahayu ... Error! Bookmark not

defined.

2. Pola Pemukiman ... Error! Bookmark not defined. 3. Kependudukan ... Error! Bookmark not defined. 4. Kehidupan Sosial Budaya ... Error! Bookmark not defined. 5. Sistem Religi ... Error! Bookmark not defined. 6. Tabu atau Pantangan di Kampung Mahmud ... Error! Bookmark not

defined.

7. Upacara Adat ... Error! Bookmark not defined. 8. Gambaran Umum Kesadaran Hukum Memiliki Sertifikat di Kampung

Mahmud ... Error! Bookmark not defined. B. Deskripsi Hasil Penelitian ... Error! Bookmark not defined. 1. Hasil Obsservasi ... Error! Bookmark not defined. 2. Hasil Wawancara ... Error! Bookmark not defined. C. Pembahasan Hasil Penelitian ... Error! Bookmark not defined.

1. Tingkat Kesadaran Hukum Masyarakat Kampung Mahmud untuk

Memiliki Sertifikat atas Hak Ulayat ... Error! Bookmark not defined. 2. Faktor-Faktor yang Menjadi Kendala dalam Mengurus Sertifikat Tanah

Hak Ulayat ... Error! Bookmark not defined. 3. Cara Mengatasi Kendala Untuk Memiliki Sertifikat Tanah ... Error!

Bookmark not defined.

BAB V KESIMPULAN DAN REKOMENDASI . Error! Bookmark not defined. A. Kesimpulan ... Error! Bookmark not defined. 1. Kesimpulan Umum ... Error! Bookmark not defined. 2. Kesimpulan Khusus ... Error! Bookmark not defined. B. Rekomendasi ... Error! Bookmark not defined.


(10)

1. Kepada Desa Mekarrahayu ... Error! Bookmark not defined. 2. Kepada Kantor Pertanahan Kabupaten Bandung ... Error! Bookmark not

defined.

3. Kepada Masyarakat Kampung Mahmud .... Error! Bookmark not defined. DAFTAR PUSTAKA ... 128


(11)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Hidup manusia tidak mungkin dilepaskan dari tanah, tiap membicarakan eksistensi manusia, sebenarnya secara tidak langsung kita juga berbicara tentang tanah. Begitupun membicarakan eksistensi masyarakat kampung adat, tentu tidak akan terlepas dari tanah. Dilihat dari faktanya, tanah menurut masyarakat kampung adat merupakan tempat tinggal dan memberikan kehidupan serta tempat bagi anggota persekutuan dikuburkan kelak setelah ia meninggal.

Masyarakat Kampung Mahmud sangat menjunjung tinggi hak ulayat-nya. Tanah mempunyai kedudukan yang sangat penting dan esensial bagi Masyarakat Kampung Mahmud. Bushar Muhammad dalam bukunya yang berjudul Pokok-Pokok Hukum Adat (1985: 103) mengutarakan:

Tanah mempunyai kedudukan yang sangat penting dalam hukum adat, karena merupakan satu-satunya benda kekayaan yang meskipun mengalami keadaan yang bagaimanapun akan tetap dalam keadaan semula, malah kadang-kadang menjadi lebih menguntungkan.

Dipandang dari segi ekonomis, tanah akan selalu ada dan bertahan walaupun diterjang oleh segala musibah, contoh musibah banjir maupun kebakaran yang menimpa bangunan di atas tanah tersebut. Setelah musibah banjir berakhir, tanah akan muncul kembali sebagai bidang tanah yang lebih subur dari semula; setelah api padam, tanah tetap bertahan dan tetap berwujud seperti semula.

Tanah yang ditempati oleh masyarakat Kampung Mahmud adalah merupakan tanah adat. Dalam masyarakat adat dikenal istilah hak ulayat, yaitu,

“seperangkaian wewenang–wewenang dan kewajiban-kewajiban suatu masyarakat hukum adat, yang berhubungan dengan tanah yang terletak dalam

lingkungan wilayahnya” (Harsono, Budi. 1994: 162). Hubungan yang erat dengan mempercayai hal-hal tentang agama yang bersifat gaib (religio magis), menyebabkan masyarakat hukum memperoleh hak untuk menguasai tanah tersebut, memanfaatkan tanah itu, memungut hasil dari tumbuh-tumbuhan yang


(12)

hidup di atas tanah itu, juga berburu terhadap binatang-binatang yang hidup di sana. Bushar Muhammad (1986: 103) menyebutkan, “di dalam hukum adat, maka antara masyarakat hukum sebagai kesatuan dengan tanah yang didudukinya, terdapat hubungan erat sekali; hubungan yang bersumber pada pandangan yang bersifat religio-magis”.

Pemegang hak ulayat adalah masyarakat hukum adat. Menurut Hugo

Grotius (Noor, Aslan. 2006: 48) menyebutkan, “semua benda pada mulanya

adalah res nullius”. Pada awalnya semua benda-benda tidak memiliki tuan, tetapi masyarakat membagi-bagi semua benda dengan dasar persetujuan. Dalam buku Pengantar Dan Asas-Asas Hukum Adat, mengenal tanah itu sebagai:

merupakan tempat tinggal persekutuan, memberikan penghidupan kepada persekutuan, merupakan tempat dimana para warga persekutuan yang meninggal dunia dikebumikan, merupakan pula tempat tinggal kepada dayang-dayang pelindung persekutuan dan roh para leluhur persekutuan. (Wignjodipoero, Soeroso: 1994: 197)

Dilihat dari fakta, masyarakat kampung Mahmud telah tinggal lama di tanahnya tersebut. Semenjak pendiri Kampung mahmud, Eyang Abdul Manaf menempati sebuah rawa di pinggir sungai Citarum (sekararang lokasi Kampung Mahmud). Masyarakat Kampung Mahmud memperoleh dan memenuhi kebutuhan kehidupannya dari hasil tanah adat tersebut. Bertani adalah mata pencaharian utama dari warga Kampung Mahmud hingga sekarang menjadi sebuah lokasi wisata rohani dengan adanya pemakaman Mahmud, yaitu sebuah pemakaman warga keturunan Eyang Abdul Manaf beserta makam sesepuh Kampung Mahmud.

Warga Kampung Mahmud diperbolehkan mengelola tanah yang mereka miliki berdasar hasil pembagiannya menurut hukum waris adat. Hukum waris adat sangat erat hubungannya dengan sifat-sifat kekeluargaan dari masyarakat hukum yang bersangkutan beserta pengaruhnya pada harta kekayaan yang ditinggalkan dan berada dalam masyarakat itu. Menurut Wulansari (2008: 75) menjelaskan, ”harta warisan dibagi-bagi dan dapat dimiliki secara perorangan

sebagai hak milik”. Dalam sistem parental yang dianut oleh suku Sunda yang dianut oleh Masyarakat Kampung Mahmud, setiap ahli waris berhak memakai,


(13)

mengolah, dan menikmati hasil dari tanah adat atau juga mentransaksikan terutama setelah pewaris wafat.

Dalam pelaksanaannya, warga Kampung Mahmud hanya menggunakan, mengolah dan memungut hasil dari tanah hak ulayatnya, tanpa pernah menjual

tanah tersebut. “Hak ulayat ini tidak dapat dilepaskan, dipindah tangankan, diasingkan untuk selama-lamanya. Sifat istimewa dari pada hak ulayat ini ialah terletak pada daya timbal balik dari pada hak itu terhadap hak-hak

orang-perorangan” (Darwis. 2008: 225). Warga Kampung Mahmud percaya, kehidupan yang mereka nikmati ini selama ini merupakan rejeki dari Allah swt melalui pengolahan tanah hak ulayat yang mereka diami. Oleh karena itu wajib bagi mereka untuk menjaga eksistensi tanah adat di Kampung Mahmud yang merupakan hak ulayat.

Didalam Konstitusi Negara Republik Indonesia, dalam Pasal 1 ayat (3)

UUD Negara Republik Indonesia disebutkan bahwa, “Negara Indonesia adalah Negara hukum”. Pasal 33 ayat (3) UUD 1945, meletakkan prinsip dasar pengelolaan pertanahan bahwa: “bumi dan air dan kekayaan alam yang terkandung di dalamnya dikuasai oleh Negara dan dipergunakan sebesar-besar

kemakmuran rakyat”. Dasar hukum nasional diatas menjelaskan bahwa sumber

daya alam yang terkandung di Negara Republik Indonesia termasuk di dalamanya tanah adat adalah milik negara dan dipergunakan sebaik-baiknya untuk memajukan dan mensejahterakan rakyat.

Dalam Undang-Undang No. 5 tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok-Pokok Agraria (UUPA), hak ulayat diatur dalam pasal 3 yang bunyinya sebagai berikut:

Dengan mengingat ketentuan-ketentuan dalam pasal 1 dan 2, pelakasanaan hak ulayat dan hak-hak yang serupa dari masyarakat-masyarakat hukum adat, sepanjang menurut kenyataannya masih ada, harus sedemikian rupa sehingga sesuai dengan kepentingan nasional dan negara, yang berdasar atas persatuan bangsa serta tidak boleh bertentangan dengan undang-undang dan peraturan lain yang lebih tinggi.

Terbitnya UUPA, mewajibkan masyarakat Indonesia pada umumnya dan masyarakat kampung adat pada khususnya untuk mendaftarkan tanahnya guna


(14)

memiliki sertifikat tanah sebagai alat bukti yang sah dari negara atas tanah yang dimiliki warga negara. Dalam Pasal 1 angka (1) PP No. 24 Tahun 1997 menjelaskan :

Pendaftaran tanah adalah rangkaian kegiatan yang dilakukan oleh Pemerintah secara terus menerus, berkesinambungan dan teratur, meliputi pengumpulan, pengolahan, pembukuan, dan penyajian serta pemeliharaan data fisik dan data yuridis, dalam bentuk peta dan daftar, mengenai bidang-bidang tanah dan satuan-satuan rumah susun, termasuk pemberian surat tanda bukti haknya bagi bidang-bidang tanah yang sudah ada haknya dan hak milik atas satuan rumah susun serta hak-hak tertentu yang membebaninya.

Tanah adat atau yang biasa disebut hak ulayat sangat rentan oleh berbagai gangguan dan penyalahgunaan. Untuk menjaga eksistensi tanah adat tersebut, sekiranya warga kampung adat untuk mendaftarkan tanah mereka untuk mendapatkan sertifikat tanah.

Kesadaran penduduk Kampung Mahmud dalam mendaftarkan tanah ulayat yang mereka diami masih sangat minim, masih banyak warga Kampung Mahmud yang belum menyadari pentingnya sertipikat tanah sebagai alat bukti sah kepemilikan seorang atau kelompok atas tanah yang dimilikinya menurut Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA). Masyarakat Kampung Mahmud memiliki tanah dari warisan secara turun-menurun menyebabkan masyarakat Kampung Mahmud tidak mendaftarkan hak atas tanah mereka ke desa Mekar Rahayu.

Pada umumnya kita melihat adanya hubungan hukum yang didasarkan pada hubungan darah, a.l. antar orang tua dengan anak-anaknya. Juga bahwa pada umumnya ada akibat hukum yang berhubungan dengan keturunan, bergandengan dengan ketunggalan leluhur (Muhammad, Bushar. 1985: 3). Menurut masyarakat Kampung Adat Mahmud, tanah mereka adalah tanah ulayat yang sudah menjadi wewenang dan hak mereka yang telah diwariskan oleh leluhur mereka secara terus menerus kepada anak cucu untuk mengelola tanah adat itu dan tidak perlu untuk mendaftarkan tanah ulayat yang dimiliki oleh masing-masing individu. Mereka beranggapan mengurus pendaftaran tanah memerlukan proses birokrasi yang berbelit-belit, takut biaya yang akan


(15)

dikeluarkan sangat mahal dan takut jika sudah didaftarkan, tanah mereka akan dipergunakan oleh pemerintah untuk kepentingan umum.

Padahal telah jelas dipaparkan tujuan pendaftaran tanah untuk memiliki sertifikat tanah dalam pasal 19 ayat (1) UUPA, yaitu: “untuk menjamin kepastian hukum oleh pemerintah diadakan pendaftaran tanah diseluruh wilayah Republik Indonesia menurut ketentuan-ketentuan yang diatur dengan peraturan

pemerintah”.

Diterbitkannya PP. No. 24 tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah dalam pasal 3 merupakan penegasan atas UUPA, dijabarkan tujuan pemerintah dalam pendaftaran tanah, diantaranya yaitu:

1. untuk memberikan kepastian hukum dan perlindungan kepada pemegang hak atas suatu bidang tanah, satuan rumah susun dan hak-hak lain yang terdaftar agar dengan mudah dapat membuktikan dirinya sebagai pemegang hak yang bersangkutan.

2. Untuk menyediakan informasi kepada pihak-pihak yang berkepentingan termasuk pemerintah agar dengan mudah dapat memperoleh data yang diperlukan dalam mengadakan perbuatan-perbuatan hukum mengeni bidang-bidang tanah dan satuan-satuan rumah susun yang sudah terdaftar.

3. Untuk terselenggaranya tertib administrasi pertanahan.

Kepentingan sesuatu masyarakat hukum harus tunduk pada kepentingan nasional dan negara yang lebih luas dan hak ulayat-nya pun pelaksanaannya harus sesuai dengan kepentingan yang lebih luas. Tidaklah dapat dibenarkan jika di dalam alam bernegara dewasa ini masyarakat hukum masih mempertahankan isi dan pelaksanaan hak ulayatnya secara mutlak, seakan-akan terlepas dari hubungan dengan masyarakat-masyarakat hukum dan daerah daerah lainnya di dalam lingkungan negara sebagai kesatuan.

Dengan meningkatnya kebutuhan lahan pertanahan yang ada, diperkirakan akan berakibat pada peningkatan permasalahan yang menyangkut bidang pertanahan. Ini harus diantisipasi, walaupun pemerintah telah mengeluarkan peraturan yang mengatur tentang masalah tata cara pendaftaran tanah dan hak atas tanah. Melalui pasal 19 UUPA telah ditetapkan ketentuan dasar pendaftaran tanah, sebagai berikut:


(16)

1. Untuk menjamin kepastian hukum, oleh pemerintah diadakan pendaftaran tanah di seluruh wilayah Republik Indonesia, menurut ketentuan yang diatur dengan peraturan pemerintah.

2. Pendaftaran tanah tersebut pada ayat (1) meliputi: a. pengukuran, perpetaan dan pembukuan tanah;

b. pendaftaran hak-hak atas tanah dan peralihan hak-hak tersebut; c. pemberian surat-surat tanda bukti hak yang berlaku sebagai alat

pembuktian yang kuat.

Jika masyarakat adat Kampung Mahmud memahami pasal 19 UUPA ini, mereka akan dapat mencegah hal-hal buruk yang akan menimpa tanah ulayat

mereka. “Kepastian hukum yang meliputi kepastian obyek, kepastian hak, dan

kepastian subjek merupakan sasaran untuk mendapatkan perlindungan hukum atas pemilikan tanah yang telah bersertifikat” (Wahid, Muchtar. 2008: 70).

Muchtar Wahid (2008: 71) dalam bukunya Memaknai Kepastian Hukum

Hak Milik Atas Tanah mengutarakan, “Perlindungan hukum itu sendiri

merupakan upaya berdasarkan hukum, baik bersifat preventif maupun represif, agar sertifikat sebagai tanda bukti hak yang kuat dapat memperoleh perlindungan

hukum”. Hal-hal buruk yang mungkin akan menimpa tanah ulayat mereka bila tidak didaftarkan kepada pemerintah diantaranya pengakuan secara sepihak tanah-tanah tertentu oleh individu di luar masyarakat adat Kampung Mahmud. Pengggusuran sepihak atas hasil klaim yang dimenangkan oleh orang luar masyarakat Kampung Adat Mahmud dalam persidangan perdata.

Masyarakat Kampung Mahmud tampaknya belum memahami manfaat dari memiliki sertifikat tanah yang dimikinya secara turun menurun. Oleh karena itu penulis tertarik untuk mengadakan penelitin dengan masalah di atas, lewat judul penelitian: Kesadaran Hukum Masyarakat Kampung Mahmud Untuk Memiliki Sertifikat Atas Hak Ulayat (Studi Kasus di Kampung Adat Mahmud, Desa Mekarrahayu, Kecamatan Marga Asih, Kabupaten Bandung).


(17)

B. Rumusan Masalah

Rumusan masalah yang akan dikaji adalah tentang “bagaimana kesadaran

hukum masyarakat Kampung Mahmud untuk memiliki sertifikat tanah atas hak

ulayat.”

Untuk memudahkan pembahasan hasil penelitian masalah pokok tersebut, maka peneliti mengidentifikasikan dalam beberapa sub masalah, sebagai berikut: 1. Bagaimana tingkat kesadaran hukum masyarakat Kampung Mahmud untuk

kepemilikan sertifikat tanah hak ulayat?

2. Apa saja faktor-faktor yang menjadi kendala dalam mengurus sertifikat tanah hak ulayat?

3. Bagaimana cara mengatasi kendala untuk kepemilikan sertifikat tanah?

C. Tujuan Penelitian

Untuk memberikan penjelasan dari penelitian ini, maka dapat dirumuskan tujuan dari penelitian ini adalah sebagai berikut:

1. Untuk mengetahui tingkat kesadaran hukum masyarakat Kampung Mahmud untuk kepemilikan sertifikat tanah hak ulayat di Desa Mekarrahayu.

2. Untuk mengungkapkan faktor-faktor yang memengaruhi terkendalanya kepemilikan sertifikat tanah hak ulayat.

3. Untuk mengetahui cara-cara mengatasi kendala untuk kepemilikan tanah.

D. Manfaat Penelitian

Penelitian ini diharapkan memberi manfaat antara lain sebagai berikut: 1. Manfaat Teoritis

Secara keilmuan diharapkan agar memberikan kontribusi kepada pengembangan ilmu hukum agraria, hukum adat, dan PKn. Lebih spesifik diharapkan dapat bermanfaat bagi pengkajian bidang studi yang telah digeluti oleh penulis yaitu PKn, terutama yang berkenaan dengan pembentukan warga Negara yang baik (to be good citizenship).

2. Manfaat Praktis a. Bagi Penulis


(18)

Bagi penulis mampu memperdalam ilmu hukum bukan dari sekedar teori saja, namun yang paling penting adalah dalam praktek kehidupan sehari-hari di masyarakat berkenaan dengan penelitian ini yaitu untuk mengetahui status hukum hak ulayat.

b. Bagi Masyarakat Kampung Adat Mahmud dan Masyarakat Umum

Bagi Masyarakat Umum: Penelitian dapat dijadikan sebagai referensi untuk menambah wawassan keilmuan, sekaligus sebagai stimulus untuk meningkatkan kesadaran hukum dan penelitian ini dapat dijadikan pedoman dalam pengurusan sertifikat hak milik atas tanah, baik hak maupun kewajibannya.

c. Pemerintah Desa Mekarrahayu.

Bagi Pemerintah Desa Mekarrahayu: penelitian ini dapat menjadi pedoman untuk lebih aktif mensosialisasikan kepemilikan sertifikat tanah kepada Masyarakat Kampung Mahmud dan dapat digunakan untuk meningkatkan kinerja pelayanan pendaftaran tanah.

E. Sistematika Penulisan

Sistematika penulisan di dalam penyusunan skripsi ini meliputi lima bab, yaitu:

Sistematika penulisan didalam penyusunan skripsi ini meliputi : 1. Bab I Pendahuluan

Pendahuluan merupakan bagian awal skripsi yang berisi:

a. Latar belakang masalah, menjelaskan alasan mengapa masalah tersebut diteliti.

b. Rumusan masalah, berisi rumusan dan analisis masalah sekaligus identifikasi variabel-variabel penelitian beserta definisi operasionalnya. Rumusan masalah dinyatakan dalam bentuk kalimat tanya.

c. Tujuan penelitian, menyajikan hasil yang ingin dicapai setelah penelitian tersebut selesai dilakukan.

d. Manfaat penelitian, berisi tentang manfaat yang diperoleh biasanya dilihat dari salah satu atau beberapa aspek, misalnya manfaat teoritis dan manfaat praktis.


(19)

e. Struktur organisasi skripsi, berisi tentang urutan penulisan setiap bab dan bagian bab dalam skripsi mulai dari bab 1 sampai dengan bab terakhir.

2. Bab II Kajian Pustaka

Kajian Pustaka dimaksudkan sebagai landasan teoritik dalam analisis penelitian. Melalui kajian pustaka peneliti membandingkan dan memposisikan kedudukan masing-masing penelitian yang dikaji dikaitkan dengan masalah yang sedang diteliti.

3. Bab III Metode Penelitian

Dalam metode penelitian menjelaskan secara rinci tentang metodologi yang ingin digunakan dan jenis penelitian. Termasuk beberapa komponen seperti lokasi dan subjek penelitian, definisi operasional, instrumen penelitian, teknik pengumpulan data, dan analisis data.

4. Bab IV Hasil Penelitian dan Pembahasan

Pada bab ini memuat dua hal utama yaitu pengolahan atau analisis data atau analisis temuan. Pengolahan data dilakukan berdasarkan prosedur penelitian kualitatif. Bagian pembahasan atau analisis temuan yaitu mendiskusikan penelitian tersebut dikaitkan dengan dasar teoritik yang telah dibahas di Bab II 5. Bab V Kesimpulan dan Saran

Dalam Bab V disajikan penafsiran dan pemaknaan peneliti terhadap hasil analisis temuan penelitian yang disajikan dalam bentuk kesimpulan penelitian.


(20)

BAB III

METODOLOGI PENELITIAN

A. Pendekatan dan Metode Penelitian 1. Pendekatan Penelitian

Penulis dalam penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif, karena permasalahan berhubungan dengan manusia yang secara fundamental bergantung pada pengamatan. Menurut Moleong (2011: 6) bahwa:

Penelitian kualitatif adalah penelitian yang bermaksud untuk memahami fenomena tentang apa yang dialami oleh subjek penelitian misalnya perilaku, persepsi, motivasi, tindakan dan lain-lain secara holistik dan dengan cara deskripsi dalam bentuk kata-kata dan bahasa, pada suatu konteks khusus yang alamiah dan dengan memanfaatkan berbagai metode alamiah.

Sedangkan definisi pendekatan kualitatif menurut Sugiyono (2011: 9) bahwa:

Metode penelitian kualitatif adalah metode yang berdasarkan pada filsafat postpositivisme, sedangkan untuk meneliti pada objek alamiah, dimana peneliti adalah sebagai instrumen kunci, teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara triangulasi (gabungan). Analisis data bersifat induktif atau kualitatif, dan hasil penelitian lebih menekankan makna daripada generalisasi.

Berdasarkan dua pengertian di atas, dapat disimpulkan bahwa pendekatan kualitatif adalah pendekatan yang dilakukan secara utuh kepada subjek penelitian dimana terdapat sebuah peristiwa dimana peneliti menjadi instrumen kunci dalam penelitian, kemudian hasil pendekatan tersebut diuraikan dalam bentuk kata-kata yang tertulis data empiris yang telah diperoleh dan dalam pendekatan ini pun lebih menekankan makna daripada generalisasi.

Danial dan Nanan (2009: 60) mengemukakan pendekatan kualitatif bahwa: Pendekatan kualitatif berdasarkan penomenologis menuntut pendekatan yang holistik, artinya menyeluruh, mendudukkan suatu kajian dalam suatu konstruksi ganda. Melihat suatu objek dalam suatu konteks „natural‟ alamiah apa adanya bukan parsial.


(21)

Menurut Nasution (2003: 5) bahwa “Penelitian kualitatif pada hakikatnya ialah mengamati orang dalam lingkungan hidupnya, berinteraksi dengan mereka, berusaha memahami bahasa dan tafsiran mereka tentang dunia sekitarnya”.

Adanya dua definisi di atas menjelaskan bahwa pendekatan kualitatif yaitu pendekatan yang dilakukan dalam suatu obyek alamiah atau natural, melihat objek penelitian itu senatural mungkin, apa adanya dan menyeluruh. Sugiyono (2010: 15) mengatakan bahwa “Obyek yang alamiah adalah obyek yang berkembang apa adanya, tidak dimanipulasi oleh peneliti dan kehadiran peneliti tidak begitu mempengaruhi dinamika pada obyek tersebut”.

Nasution (2003: 18) mengemukakan bahwa:

Penelitian kualitatif disebut juga penelitian naturalistik. Disebut kualitatif karena sifat data yang dikumpulkan bercorak kualitatif, bukan kuantitatif, karena tidak menggunakan alat-alat pengukur. Disebut naturalistik karena situasi lapangan penelitian bersifat “natural” atau wajar, sebagaimana adanya, tanpa dimanipulasi, diatur dengan eksperimen atau test.

Pendapat Nasution di atas menjelaskan bahwa penelitian yang dilakukan dengan pendekatan kualitatif tidak menggunakan alat-alat pengukur. Selain itu, situasi penelitian bersifat natural dalam artian tidak ada manipulasi di dalamnya. Untuk mendapatkan hasil penelitian digunakan tes berupa instrumen penelitian.

Pada penelitian kualitatif yang menjadi instrumen utama adalah peneliti sendiri sehingga dapat menggali masalah yang ada dalam masyarakat. Penelitian berperan aktif dalam memuat rencana penelitian, proses, dan pelaksanaan penelitian, serta menjadi faktor penentu dari keseluruhan proses dan hasil penelitian. Sebagaimana yang dikemukakan oleh Nasution (2003: 54) bahwa:

“...dalam penelitian naturalistik peneliti sendirilah yang menjadi instrumen utama

yang terjun langsung kelapangan serta berusaha sendiri mengumpulkan informasi melalui observasi dan wawancara”.

Penelitian kualitatif digunakan untuk kepentingan yang berbeda bila dibandingkan dengan penelitian kuantitatif. Sugiyono (2010: 35-37) mengemukakan bahwa penelitian kualitatif dilakukan ketika:


(22)

1. Bila masalah penelitian belum jelas, masih remang-remang atau mungkin malah masih gelap.

2. Untuk memahami makna dibalik data yang tampak. 3. Untuk memahami interaksi sosial.

4. Untuk memahami perasaan orang. 5. Untuk mengambangkan teori. 6. Untuk memastikan kebenaran data. 7. Meneliti sejarah perkembangan.

Dengan berbagai pendapat para ahli diatas, penulis memandang bahwa penelitian kualitatif sangat tepat untuk digunakan dalam penelitian yang penulis lakukan. Karena penelitian ini sangat memungkinkan untuk meneliti fokus permasalahan yang akan penulis teliti secara mendalam.

2. Metode Penelitian

Sugiyono (2010: 3) mengemukakan bawa “metode penelitian diartikan sebagai cara ilmiah untuk mendapatkan data dengan tujuan dan kegunaan tertentu”. Metode penelitian merupakan cara yang digunakan untuk mendapatkan data sesuai dengan kebutuhan.

Metode penelitian yang penulis gunakan yaitu studi kasus, Surachman (1982: 143) mengungkapkan bahwa “studi kasus adalah pendekatan yang memusatkan pada suatu kasus intensif dan rinci”. Sedangkan menurut Fathoni (2006: 99) bahwa “studi kasus berarti penelitian terhadap suatu kejadian atau

peristiwa”. Berdasarkan dua definisi tersebut maka dapat disimpulkan bahwa studi

kasus merupakan metode yang mempelajari suatu masalah yang timbul akibat adanya gejala hidup yang tidak sewajarnya.

Mulyana (2010: 201) mengungkapkan “Studi kasus adalah uraian dan penjelasan komprehensif mengenai berbagai aspek seorang individu, suatu kelompok, suatu organisasi (komunitas), suatu program, atau suatu situasi sosial”. Dengan mempelajari semaksimal mungkin seorang individu, suatu kelompok atau suatu kejadian, peneliti bertujuan memberikan pandangan yang lengkap dan mendalam mengenai subjek yang diteliti.


(23)

Sebagai suatu metode kualitatif, studi kasus mempunyai beberapa keuntungan. Lincoln dan Guba (Mulyana. 2010: 201-202) mengemukakan keistimewaan studi kasus, yaitu:

Studi kasus merupakan sarana utama bagi penelitian emik, yakni menyajikan pandangan subjek yang diteliti.

Studi kasus menyajikan uraian menyeluruh yang mirip dengan apa yang dialami pembaca dalam kehidupan sehari-hari.

Studi kasus merupakan sarana efektif untuk menunjukkan hubungan antara peneliti dan responden.

Studi kasus memungkinkan pembaca untuk menemukan konsistensi internal yang tidak hanya merupakan konsistensi gaya dan konsistensi faktual tetapi juga keterpercayaan (trust-worthines).

Studi kasus memberikan “uraian tebal” yang diperlukan bagi penilaian

atas transferabilitas.

Studi kasus terbuka bagi penilaian atas konteks yang turut berperan bagi pemaknaan atas fenomenadalam konteks tersebut.

Melalui penjelasan di atas, dipilihnya metode penelitian studi kasus sangatlah tepat dalam meneliti kesadaran hukum masyarakat Kampung Mahmud untuk memiliki sertifikat tanah atas hak ulayat.

B. Teknik Pengumpulan Data

Christianingsih (2007: 89) mengungkapkan bahwa “Penelitian merupakan instrumen utama (key instrumen) untuk mengumpulkan dan menginterpretasi data

dalam penelitian kualitatif”. Teknik pengumpulan data merupakan langkah yang

paling utama dalam penelitian, karena tujuan utama dari penelitian ini adalah mendapatkan data. Oleh karena itu teknik penelitian yang penulis gunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:


(24)

1. Observasi

Nasution (Sugiyono, 2010: 310) menyatakan bahwa “observasi adalah dasar semua ilmu pengetahuan”. Para peneliti hanya dapat bekerja berdasarkan data, yaitu fakta mengenai dunia kenyataan yang diperoleh melalui observasi.

Adapun observasi menurut Sutrisno Hadi (Sugiyono, 2010: 203) mengemukakan bahwa “observasi merupakan suatu proses yang kompleks, suatu proses yang tersusun dari pelbagai proses biologis dan psikhologis”.

Berdasarkan dua definisi di atas, maka penulis dapat simpulkan bahwa observasi adalah pengamatan yang dilakukan oleh orang dengan sengaja dan sistematis untuk memeperoleh data yang selanjutnya akan diproses untuk kebutuhan penelitian penuls.

Nasution (2003: 56) mengatakan bahwa “Observasi adalah dasar semua

ilmu pengetahuan. Para ilmuwan hanya dapat bekerja berdasarkan data, yaitu fakta mengenai kenyataan yang diperoleh melalui observasi”. Bila penulis ingin mengenal dunia sosial, peneliti harusmemasuki dunia itu.peneliti harus hidup di kalangan manusia, mempelajari bahasanya, melihat dengan mata kepala sendiri apa yang terjadi, mendengarkan dengan telinga sendiri apa yang dikatakan orang. Lihat dan dengar. Catat apa yang dilihat dan didengar, catat apa yang mereka katakan, pikirkan dan rasakan.

Observasi digunakan agar peneliti untuk memperoleh fakta-fakta yang menunjang kesadaran hukum masyarakat Kampung Mahmud untuk memiliki sertifikat atas hak ulayat.

Observasi merupakan alat ilmiah untuk menguji suatu hipotesis, bahkan bisa memunculkan konsep dan teori baru seperti halnya kuesioner. Menurut Danial (2009: 77-79) jika dilihat dari pekerjaannya maka observasi dapat dikategorikan menjadi : observasi langsung, observasi partisipatif, dan observasi tidak langsung.

a. Observasi Langsung

Jenis observasi ini adalah pengamatan yang dilakukan langsung oleh pengamat (observer) pada objek yang diamati. Seperti penelitian ini, penulis mengamati langsung bagaimana kesadaran hukum masyarakat Kampung Mahmud


(25)

dalam memiliki sertifikat, sehingga ditemukannya masalah yang aktual dan penulis ingin mengkajinya secara mendalam. Dengan dilakukannya observasi langsung penulis bisa memperoleh data yang diperlukan sesuai dengan keadaan lapangan.

Hasil pengamatan bagi data kualitatif diperlukan kategorisasi, deskripsi terhadap fenomena yang diamati, dengan cara menyusun secara terperinci, kronologis, struktur, sehingga data itu menjadi suatu kesatuan/unit yang utuh apa adanya.

Dari pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa dengan observasi langsung peneliti bisa mengamati/melihat langsung masalah/objek yang akan diteliti sehingga bisa memperolah data yang sesuai dengan keadaan lapangan, dan hasil pengamatan data kualilatif diperlukan deskripsi terhadap fenomena yang diamati, sehingga untuk menyusun hasil pengamatannya lebih terperinci, dan terstruktur sesuai dengan data yang ada di lapangan.

b. Observasi Partisipatif

Pengamatan partisipatif adalah pengamatan yang langsung dan ikut berperan dalam perilaku yang diamati.

c. Observasi Tidak Langsung

Pengamatan tidak langsung adalah pengamatan yang dilakukan melalui media lain, seperti melalui alat elektronik; TV, Video, photo, cetak; gambar, peta, grafik, atau melalui orang; kelompok dan perorangan. Hasil pengamatan itu dicatat segala sesuatu hal yang berkenaan dengan masalah itu.

Dari pernyataan di atas dapat disimpulkan bahwa dari ketiga observasi tersebut masing-masing memiliki kriteria. 1). Observasi langsung peneliti bisa mengamati objek dengan langsung sehingga bisa mendapatkan data sesuai yang dengan keadaan lapangan. 2). Observasi partisipatif hampir sama dengan observasi langsung hanya, dalam observasi partisipatif ini peneliti juga ikut berperan dalam perilaku yang diamati. 3). Dan observasi tidak langsung peneliti hanya melakukan pengamatan melalui media, dan hasil pengamatannya bisa dicatat yang berkenaan dengan masalah itu.


(26)

Teknik observasi digunakan dalam penelitian ini dengan tujuan untuk memperoleh suatu gambaran yang jelas dengan jalan pengamatan langsung terhadap objek penelitian. Tujuan teknik observasi ini senada dengan yang dikemukakan oleh Nasution (2003: 60) bahwa “Dengan berada secara pribadi dalam lapangan, peneliti memperoleh kesempatan mengumpulkan data yang lebih banyak, lebih terinci dan lebih cermat”.

2. Wawancara

a. Pengertian Wawancara

Moleong (2010: 186) mengungkapkan bahwa:

wawancara adalah percakapan dengan maksud tertentu percakapan itu dilakukan dengan dua belah pihak yaitu pewawancara (interviewer) yang mengajukan pertanyaan dan terwawancara (interviewee) yang memberikan jawaban atas pertanyaan itu.

Wawancara merupakan sebuah dialog yang dilakukan oleh pewawancara dengan memberikan pertanyaan yang berkaitan dengan masalah yang akan diteliti untuk memperoleh informasi dari responden yang di wawancara. Wawancara merupakan satu teknik pengumpulan data dengan cara lisan terhadap responden, dengan menggunakan pedoman wawancara yang telah disediakan.

Esterberg (Sugiyono, 2009: 72) memaparkan bahwa “a meeting of two

persons to exchange information and idea through question and responses, resulting in communication and joint construction of meaning about a particular topic”. Wawancara adalah merupakan pertemuan dua orang untuk bertukar informasi dan ide melalui tanya jawab, sehingga dapat dikonstruksikan makna dalam suatu topik tertentu.

Danial (2009: 71) mendefinisikan bahwa “wawancara adalah teknik mengumpul data dengan cara mengadakan dialog, tanya jawab antara peneliti dan responden secara sungguh-sungguh”.

Seperti yang diungkapkan Kelinger (Danial Endang 2009: 71) “the

interview is perhaps the most ubiquitous method of obtaining information from people”. Artinya interview mungkin metode yang ada dimana-mana digunakan untuk memperoleh informasi dari masyarakat.


(27)

Wawancara ini ditujukan kepada warga masyarakat setempat yang terdiri dari Kepala Desa, Perangkat Desa, Tokoh Masyarakat, dan beberapa orang masyarakat yang dipilih secara acak serta petugas Badan Pertanahan Tanah. Wawancara ini dimaksudkan untuk memperoleh data bagi penelitian. Penulis mengajukan beberapa pertanyaan dan menggali jawaban lebih lanjut yang diarahkan kepada fokus penelitian dan mencatatnya, kemudian data tersebut dianalisis, sehingga data tersebut menjadi suatu kajian. Maksud wawancara sebagai teknik penelitian dikemukakan oleh Nasution (2003: 73) bahwa “Tujuan wawancara untuk mengetahui apa yang terkandung dalam pikiran dan hati orang lain, bagaimana pandangannya tentang dunia yaitu hal-hal yang tidak dapat kita

ketahui melalui observasi”. Oleh karena itu, pertanyaan-pertanyaan yang diajukan

penulis berkisar pada fokus penelitian yang telah ditetapkan dan disusun meskipun wawancara dapat berlangsung secara informal.

b. Langkah-langkah Wawancara

Lincoln and Guba (Sugiyono. 2009: 76) mengemukakan ada tujuh langkah dalam penggunaan wawancara untuk mengumpulkan data dalam penelitian kualitatif, yaitu:

1.Menetapkan kepada siapa wawancara itu akan dilakukan

2.Menyiapkan pokok-pokok masalah yang akan menjadi bahan pembicaraan 3.Mengawali atau membuka alur wawancara

4.Melangsungkan alur wawancara

5.Mengkonfirmasikan ikhtisar hasil wawancara dan mengakhirinya 6.Menuliskan hasil wawancara ke dalam catatan lapangan

7.Mengidentifikasi tindak lanjut hasil wawancara yang telah diperoleh. 3. Studi Dokumentasi

Menurut Danial (2009: 79) bahwa:

studi dokumentasi adalah mengumpulkan sejumlah dokumen yang diperlukan sebagai bahan data informasi sesuai dengan masalah penelitian, seperti peta, data statistik, jumlah dan nama pegawai, data siswa, data penduduk; grafik, gambar, surat-surat, foto, akte, dsb.


(28)

Biasanya dikatakan data sekunder yaitu data yang telah dibuat dan dikumpulkan oleh orang atau lembaga lain. Informasi ini sangat penting untuk membantu melengkapi data yang dikumpulkan.

Dokumen merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu. Menurut

Sugiyono (2009: 82) bahwa “dokumen bisa berbentuk tulisan, gambar, atau karya

-karya monumental dari seseorang. Dokumen yang berbentuk tulisan misalnya catatan harian, sejarah kehidupan (life histories), ceritera, biografi, peraturan, kebijakan”. Dokumen yang berbentuk gambar, misalnya foto, gambar hidup, sketsa dan lain-lain. Dokumen yang berbentuk karya misalnya karya seni, yang dapat berupa gambar, patung, film, dan lain-lain. Studi dokumen merupakan pelengka p dari penggunaan dari metode observasi dan wawancara dalam penelitian kualitatif.

4. Studi Literatur

Danial dan Warsiah (2009: 80) menjelaskan “studi literatur adalah penelitian yang dilakukan oleh peneliti dengan mengumpulkan sejumlah buku-buku, majalah, liflet, yang berkenaan dengan masalah dan tujuan penelitian”. Teknik ini penulis gunakan dalam penelitian yang penulis lakukan dengan tujuan untuk mengungkapkan berbagai teori-teori yang relevan dengan permasalahan yang sedang dihadapi/diteliti sebagai bahan rujukan dalam pembahasan hasil penelitian.

Teknik ini dilakukan dengan cara membaca, memperoleh buku-buku, dan sebagainya yang ada hubungannya dengan masalah yang dibahas. Hal ini dimaksudkan untuk memperoleh data teoritis yang sekiranya dapat mendukung kebenaran data yang diperoleh melalui penelitian.

C. Subjek dan Lokasi Penelitian 1. Subjek penelitian

Penelitian kualitatif, informasi atau data diperoleh dari sumber yang dapat memberikan informasi yang dapat memberikan informasi yang sesuai dengan tujuan penelitian. Untuk itu harus ditentukan subjek penelitian dipilih secara


(29)

purpossive berkaitan dengan tujuan tertentu. Berdasarkan hal tersebut maka dalam penelitian ini tidak ada sampel acak tetapi sampel bertujuan (purposive sample). Seperti yang dikemukakan oleh Nasution (2003: 32) bahwa:

Penelitian kualitatif yang dijadikan sampel hanyalah sumber yang dapat memberikan informasi, sampel yang berupa hal, peristiwa, manusia, situasi yang diobservasi. Sering sampel yang dipilih secara purposive berkaitan dengan tujuan tertentu, sering juga responden diminta untuk menunjuk orang lain yang dapat memberikan informasi dan kemudian responden ini diminta pula untuk menunjuk orang lain dan seterusnya. Cara ini lazim

disebut “Snawball Sampling” yang dilakukan secara berurutan.

Jadi subjek penelitian dalam penelitian kualitatif adalah pihak-pihak yang menjadi sasaran penelitian atau sumber yang dapat memberikan informasi dipilih secara purposive bertalian dengan tujuan tertentu. Berdasarkan uraian di atas, maka yang dijadikan sujek penelitian dalam penelitian ini adalah:

1. Kepala Desa Mekarrahayu Kecamatan Marga Asih Kabupaten Bandung. Hal ini didasarkan bahwa Kepada Desa sebagai pemimpin di Desa sudah tentu mengetahui secara gamblang fenomena yang terjadi di masyarakat terutama mengenai usaha kepemilikan sertifikat masyarakat Kampung Mahmud.

2. Perangkat desa yang juga mitra Kepala Desa tentunya dapat memberikan informasi yang berkaitan dengan proses kepemilikan sertifikat tanah masyarakat Kampung Mahmud.

3. Pegawai Kantor Pertanahan Kabupaten Bandung dimana lembaga tersebut merupakan lembaga pemerintahan yang mengurus sertifikasi pertanahan di wilayah Kabupaten Bandung.

4. Tokoh masyarakat sebagai orang yang dituakan dan warga masyarakat desa sebagai subjek hukum yang merupakan hal terpenting karena warga masyarakat desa yang dapat menilai kinerja aparatur desa serta menjelaskan kendala yang dihadapi di lapangan.


(30)

2. Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian adalah tempat dimana dilakukannya penelitian. Lokasi yang dipilih penulis untuk penelitian adalah di Kampung Mahmud Desa Mekarrahayu Kecamatan Marga Asih Kabupaten Bandung.

D. Tahap-Tahap Penelitian

Tahap penelitian merupakan serangkaian proses penelitian dimana peneliti dari awal pengamatan masalah, sampai ke proses yang akan diteliti. Penelitian yang penulis laksanakan melalui berbagai tahapan, seperti tahapan persiapan yang matang demi terlaksananya penelitian ini dengan baik dan untuk mendapatkan data yang akurat. Untuk itu penulis melakukan persiapan-persiapan baik secara teknis maupun administratif. Adapun persiapan-persiapan yang penulis tempuh dibagi kedalam beberapa persiapan penelitian adalah sebagai berikut:

1. Tahap Pra Penelitian

Pada tahap ini, penulis mencoba menyusun rancangan penelitian terlebih dahulu yang tertuang dalam proposal penelitian dan berisikan tentang latar belakang masalah, permasalahan, tujuan penelitian, kegunaan penelitian, metode penelitian lokasi serta subjek penelitian. Setelah lapangan penelitian ditetapkan, selanjutnya penulis mengupayakan perizinan dari instansi yang terkait. Adapun prosedur perizinan yang ditempuh oleh peneliti adalah sebagai berikut:

a. Mengajukan surat permohonan izin penelitian yang ditandatangani oleh ketua jurusan PKn, untuk melakukan penelitian ke instansi yang dituju kemudian diteruskan dengan pengesahan surat penelitian oleh pembantu dekan FPIPS UPI untuk mendapatkan surat rekomendasi dari kepala BAAK UPI yang secara kelembagaan mengatur segala jenis urusan administrasi dan akademis.

b. Pembantu Rektor 1 atas nama rektor mengeluarkan surat permohonan izin penelitian untuk disampaikan kepada Kesbang dan Polinmas Kabupaten Bandung.


(31)

c. Kepala Kantor Kesbang dan Polinmas Kabupaten Bandung mengeluarkan surat izin penelitian untuk disampaikan kepada Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Bandung dan kepada Kades Desa Mekarrahayu..

d. Kepala Desa Mekarrahayu memberikan izin kepada penulis untuk mengadakan penelitian.

e. Kepala Kantor Pertanahan Kabupaten Bandung memberikan izin kepada penulis untuk mengadakan penelitian.

2. Tahap Pelaksanaan Penelitian

Setelah tahap pra penelitian selesai, selanjutnya adalah tahap pelaksanaan penelitian. Berdasarkan surat izin penelitian dari pihak-pihak yang bersangkutan maka penelitian pun mulai dilakukan. Penulis melakukan wawancara terhadap subjek penelitian untuk memperoleh data atau informasi yang diperlukan dalam penelitian ini. Penelitian yang dilakukan melalui wawancara antara peneliti dengan responden berlangsung di Desa Mekarrahayu Kecamatan Marga Asih Kabupaten Bandung, antara lain wawancara dengan Kepala Desa, Perangkat Desa dan Para Tokoh serta Warga Kampung Mahmud serta petugas BPN Kabupaten Bandung. Dalam hal ini, peneliti mengajukan pertanyaan dengan tujuan mendapatkan informasi lebih lanjut diarahkan kepada fokus penelitian dan mencatatnya kedalam catatan lapangan dengan tujuan agar dapat mengungkapkan data secara mendetail, data yang diperoleh dalam hasil wawancara kemudian disusun dalam bentuk catatan lapangan lengkap setelah didukung oleh dokumen lainnya.

3. Tahap Pengumpulan dan Pencatatan Data

Setelah tahap pra penelitian selesai dan persiapan penelitian dianggap lengkap, penelitian dilaksanakan dalam bentuk wawancara (yang telah dipersiapkan dalam bentuk pedoman wawancara), studi dokumentasi dan studi literatur. Pedoman wawancara yang penulis siapkan terdiri dari pedoman wawancara untuk Kepala Desa, Perangkat Desa dan Para Tokoh serta Warga Kampung Mahmud serta petugas BPN Kabupaten Bandung.


(32)

4. Tahap Analisis Data

Sebuah data baru bermakna jika ditafsirkan atau dianalisis pada konteksnya, oleh karena itu data yang diperoleh melalui data hasil observasi, data hasil wawancara, dan data hasil dokumentasi perlu dianalisis secara akurat. Pengolahan dan analisis data merupakan suatu langkah penting dalam penelitian. Dalam penelitian ini, pengolahan data dan analisis data akan dilakukan melalui suatu proses yaitu menyusun, mengkategorikan data, mencari kaitan isi dari berbagai data yang diperoleh dengan maksud untuk mendapatkan maknanya dan dikembangkan menjadi teori.

E. Teknik Analisis Data

Sugiyono (2009: 89) menyatakan bahwa:

Analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan dokumentasi, dengan cara mengorganisasikan data ke dalam kategori, menjabarkan ke dalam unit-unit, melakukan sintesa, menyusun ke dalam pola, memilih mana yang penting dan yang akan dipelajari, dan membuat kesimpulan sehingga mudah difahami oleh diri sendiri maupun orang lain.

Analisis data dalam penelitian kualitatif dilakukan sejak sebelum memasuki lapangan, dan setelah selesai di lapangan. Dalam hal ini Nasution (Sugiyono.

2009: 89) menyatakan “Analisis telah mulai sejak merumuskan dan menjelaskan

masalah, sebelum terjun ke lapangan, dan berlangsung terus sampai penulisan hasil penelitian.

Sebelum melakukan penelitian ke lapangan, peneliti telah melakukan analisis data. “Analisis dilakukan terhadap data hasil studi pendahuluan, atau data sekunder, yang akan digunakan untuk menentukan fokus penelitian” (2009: 90). Namun demikian fokus penelitian ini masih bersifat sementara, dan akan berkembang setelah peneliti masuk dan selama di lapangan.

Teknik analisis data yang dilakukan dengan menggunakan teknik analisis data yang dikemukakan oleh Miles dan Huberman (Sugiyono, 2009: 91) yang mencakup reduksi data (data reduction), penyajian data (data display), dan kesimpulan atau verifikasi (conclusion drawing).


(33)

1. Reduksi Data (Data Reduction)

Menurut Sugiyono (2009: 92) “mereduksi data berarti merangkum, memilih hal-hal yang pokok, memfokuskan pada hal-hal yang penting, dicari tema dan polanya”.

Reduksi data pada penelitian ini bertujuan untuk mempemudah pemahaman peneliti terhadap data yang telah tekumpul dari hasil penelitian. Dalam hal ini, peneliti akan mengumpulkan informasi melalui wawancara dengan responden serta dari informasi lain mengenai kesadaran hukum masyarakat Kampung Mahmud untuk memiliki sertifikat atas hak ulayat agar dapat mengkaji penelitian secara detail. Dengan demikian data yang telah direduksi akan memberikan gambaran yang lebih jelas, dan mempermudah peneliti untuk melakukan pengumpulan data selanjutnya, dan mencarinya bila diperlukan.

2. Penyajian Data (Data Display)

Menurut Sugiyono (2009: 95) “dalam penelitian kualitatif, penyajian data bisa dilakukan dalam bentuk uraian singkat, bagan, hubungan antar kategori, flowchart dan sejenisnya”. Dengan mendisplay data maka akan memudahkan untuk memahami apa yang terjadi, merencanakan kerja selanjutnya berdasarkan apa yang telah dipahami tersebut karena metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah studi kasus, maka display data yang dilakukan lebih banyak dituangkan kedalam uraian.

3. Kesimpulan (Verification)

Menurut Sugiyono (2009: 99) bahwa:

kesimpulan dalam penelitian kualitatif mungkin dapat menjawab rumusan masalah yang dirumuskan sejak awal, tetapi mungkin juga tidak, karena masalah dan rumusan masalah dalam penelitian kualitatif masih bersifat sementara dan akan berkembang setelah peneliti berada di lapangan.

Kesimpulan atau verifikasi dalam penelitian ini merupakan hasil dari penelitian yang telah dilaksanakan dalam bentuk pernyataan singkat dan mudah dipahami sehingga dapat menyimpulkan bagaimana kesadaran hukum Masyarakat Kampung Mahmud untuk memiliki sertifikat tanah di Desa Mekarrahayu Kecamatan Marga Asih Kabupaten Bandung.


(34)

BAB V

KESIMPULAN DAN REKOMENDASI

Berdasarkan data dan fakta hasil penelitian yang telah dipaparkan di dalam bab IV, maka pada bab V ini akan dirumuskan kesimpulan dan rekomendasi. Kesimpulan dan rekomendasi diperlukan sebagai bahan pertimbangan dan masukan kepada pihak kepada yang membutuhkannya. Peneliti merumuskan beberapa kesimpulan dan rekomendasi dari penelitian yang telah dilaksanakan, yaitu sebagai berikut ini.

A. Kesimpulan

1. Kesimpulan Umum

Berdasarkan deskripsi dan analisis penelitian dapat ditarik kesimpulan bahwa tingkat kesadaran masyarakat Kampung Mahmud untuk memiliki sertifikat atas hak ulayat masih rendah atau kurang. Masyarakat Kampung Mahmud belum mengetahui dan memahami hukum formal yang mengatur tetang sertifikasi tanah yaitu Undang-Undang No. 5 Tahun 1960 tentang Peraturan Dasar Pokok Agraria dan Peraturan Pemerintah No. 24 Tahun 1997 tentang Pendaftran Tanah. Ini mengakibatkan masih sedikit warga Kampung Mahmud yang telah memiliki Sertifikat Hak Milik (SHM) atas tanahnya.

Faktor-Faktor yang menjadi kendala dalam mengurus sertifikat tanah hak ulayat diantaranya masyarakat Kampung Mahmud tidak mengetahui prosedur yang benar dalam mengurus sertifikasi tanah yang dimilikinya. Biaya yang harus dikeluarkan ketika proses pelayanan-pelayanan dalam sertifikasi tanah dirasakan oleh masyarakat Kampung Mahmud terlalu mahal.

Berbagai upaya telah dilakukan oleh lembaga-lembaga yang berhubungan dengan pertanahan di Kampung Mahmud yaitu oleh Kantor Pertanahan Kabupaten Bandung dan Desa Mekarrahayu.

2. Kesimpulan Khusus

Secara khusus, dari hasil penelitian ini dapat dirumuskan beberapa kesimpulan sebagai berikut:


(35)

a. Tingkat kesadaran hukum masyarakat Kampung Mahmud untuk memiliki sertifikat atas hak ulayat masih sangat kurang atau rendah. Masyarakat Kampung Mahmud belum mengetahui dan belum memahami hukum formal yang mengatur permasalahan tanah di Indonsesia khususnya mengenai sertifikasi tanah adat yaitu Undang-Undang No. 5 Tahun 1960 dan PP No. 24 Tahun 1997. Akibat tidak mengetahui dan memahami aturan hukum formal mengenai pertanahan di Indonesia menyebabkan masyarakat Kampung Mahmud sangat jarang ada yang mendaftarkan tanahnya ke Kantor Pertanahan Kabupaten Bandung. Kemudian masih sedikitnya masyarakat Kampung Mahmud yang mengetahui fungsi dari Sertifikat Hak Milik (SHM). b. Terungkap beberapa faktor-faktor yang menjadi kendala dalam mengurus

sertifikat tanah hak ulayat di masyarakat Kampung Mahmud yaitu masyarakat Kampung Mahmud tidak mengetahui prosedur dalam pendaftaran tanah sebagai implementasi dari PP No. 24 Tahun 1997 sehingga kerap kali dimanfaatkan oleh oknum yang tidak bertanggung jawab saat hendak mengurus Sertifikat Hak Milik (SHM). Warga Kampung Mahmud tidak mampu membayar biaya yang harus dikeluarkan dalam proses pelayanan sertifikasi tanahnya. Dua hal tersebut menyebabkan masyarakat Kampung Mahmud menjadi malas untuk mensertifikasi tanah adatnya. Kemudian perasaan masyarakat Kampung Mahmud yang menganggap tanah mereka merupakan tanah adat dan tidak perlu didaftarkan menjadi alasan warga Kampung Mahmud tidak mendaftarkan tanahnya.

c. Upaya-upaya yang dilakukan sebagai usaha mengatasi kendala untuk memiliki sertifikat atas hak ulayat diantaranya Kantor Pertanahan Kabupaten tidak memberatkan proses sertifikasi pendaftaran tanah adat yang dilakukan oleh warga Kampung Mahmud. Pemerintah bekerjasama dengan Kantor Pertanahan Kabupaten melaksanakan PRONA (Program Nasional Agraria) untuk meningkatkan pendaftaran tanah bagi masyarakat tidak mampu. Kantor Pertanahan Kabupaten Bandung menyelenggarakan program LARASITA (Layanan Rakyat Untuk Sertifikat Tanah) dan YANDU (Pelayanan Terpadu) yaitu suatu pelayanan publik mengenai sertifikasi dan penyuluhan sertifikasi


(36)

tanah yang diselenggarakan tiap minggu secara bergiliran di tiap-tiap kecamatan wilayah Kabupaten Bandung. Pemerintah Desa Mekarrahayu memang belum memiliki program khusus mengenai pertanahan, namun dalam setiap kunjungan kerja ke setiap RW di wilayah Desa Mekarrahayu, Kepala Desa beserta jajarannya selalu mengingatkan warganya untuk mengurus sertifikasi tanah yang dimilikinya.

B. Rekomendasi

Berdasarkan kesimpulan yang didapat dari hasil penelitian di lapangan, maka penulis mengajukan beberapa rekomendasi berupa saran pada pihak-pihak yang berkepentingan yang kiranya dapat menjadi masukan untuk meningkatkan kesadaran masyarakat Kampung Mahmud untuk memiliki sertifikat atas hak ulayat.

Bagian ini merupakan bentuk pertanggungjawaban peneliti setelah melaksanakan penelitian untuk turut memberikan kontribusi berupa saran pada pihak-pihak yang berkepentingan. Adapun saran yang dapat diajukan peneliti adalah sebagai berikut:

1. Kepada Desa Mekarrahayu

a. Sehubungan dengan masih banyaknya warga Kampung Mahmud yang belum memiliki Sertifikat Hak Milik (SHM) tanah, pihak desa Mekarrahayu dapat membuat program sosialisasi khusus mengenai kewajiban memiliki Sertifikat Hak Milik (SHM) atas tanah adat.

b. Pihak Desa Mekarrahayu sebaiknya mengajukan program-program yang berhubungan dengan pertanahan kepada pemerintah melalui lembaga-lembaga pemerintahan, dalam hal ini kepada Kantor Pertanahan Kabupaten Bandung. Prona adalah program yang efektif yang dapat diajukan pihak Desa Mekarrahayu untuk membantu sertifikasi tanah bagi warga yang tidak mampu di wilayah Desa Mekarrahayu khususnya di Kampung Mahmud. Pihak Desa Mekarrahayu pun sebaiknya meminta bantuan penyuluhan mengenai sertifikasi tanah dan biayanya kepada Kantor Pertanahan Kabupaten Bandung


(37)

c. Aparatur Desa Mekarrahayu dapat membantu masyarakatnya untuk memiliki Sertifikat Hak Milik (SHM), yaitu aparatur desa dapat membantu melengkapi dokumen warkah sehingga Kepala Desa Mekarrahayu dapat menandatangani warkah tersebut. Diperlukan pengawasan yang menyeluruh yang dilakukan oleh Kepala Desa sehingga tidak lagi muncul oknum-oknum yang mengambil keuntungan dari proses sertifikasi tanah dengan menggunakan biaya jasa yang tinggi baik yang dilaksanakan secara mandiri oleh masyarakat seperti pengurusan warkah maupun masyarakat yang meminta bantuan aparatur desa dalam proses sertifikasi tanahnya secara menyeluruh.

d. Sehubungan dengan masih adanya warga belum mengetahui program-program yang diselenggarakan Kantor Pertanahan, pihak Desa Mekarrahayu sebaiknya lebih aktif mencari informasi mengenai sertifikasi tanah dan menyampaikan informasi tersebut kepada masyarakat Desa Mekarrahayu. e. Memiliki kerjasama dan koordinasi yang baik dengan lembaga terkait dalam

rangka mengoptimalkan pendaftaran tanah untuk memiliki sertifikat tanah, sehingga pemohon akan lebih mudah dalam mengatasi permasalahan yang dihadapi berkaitan dengan kewajibannya untuk memiliki sertifikat tanah. 2. Kepada Kantor Pertanahan Kabupaten Bandung

a. Senantiasa mengingatkan masyarakat akan kewajiban memiliki sertifikat tanah serta mensosialisasikan manfaat yang didapatkan secara pribadi dan manfaat untuk kepentingan umum dari memiliki sertifikat, sehingga tingkat kesadaran masyarakat yang masih kurang berangsur-angsur akan semakin meningkat.

b. Dikarenakan banyak faktor yang menghambat masyarakat untuk memiliki Sertifikat Hak Milik (SHM), diharapkan Kantor Pertanahan melakukan pelayanan mobile service tidak hanya sampai kecamatan dalam melaksanakan penyuluhan dan proses sertifikasi tanahnya. Kantor Pertanahan Kabupaten Bandung harus lebih sering menyambangi desa-desa untuk melakukan penyuluhan dan pelayanan sertifikasi tanah.


(38)

3. Kepada Masyarakat Kampung Mahmud

a. Mengingat tingkat kesadaran dan pengetahuan mengenai sertifikasi tanah yang masih rendah, diharapkan warga Kampung Mahmud dapat memperkaya pengetahuan dengan aktif mencari informasi mengenai pertanahan khususnya mengenai sertifikasi tanah dengan memahami hukum-hukum formal pertanahan yang berlaku nasional.

b. Dalam proses sertifikasi tanah adatnya, masyarakat Kampung Mahmud sebaiknya mengurus sendiri proses pendaftaran tanahnya secara mandiri dengan tidak meminta bantuan pihak ketiga dalam proses sertifikasinya. Dengan cara ini, biaya yang dikeluarkan dalam pelayanan sertifikasi tanah tidak akan sebesar ketika meminta bantuan pihak ketiga.


(39)

DAFTAR PUSTAKA

A. SUMBER BUKU

Danial, Endang dan Nanan Wasriah. (2009). Metode Penulisan Karya Ilmiah. Bandung: Laboratorium Pendidikan Kewarganegaraan.

Darwis, Ranidar. (2003). Pendidikan Hukum dalam Konteks Sosial Budaya bagi Pembinaan Kesadaran Hukum Warga Negara. Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar Tetap dalam bidang Pendidikan Hukum dan Kewarganegaraan pada Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial Universitas Pendidikan Indonesia: Tidak diterbitkan.

_____________. (2008). Hukum Adat. Bandung: Laboratorium PKn-FPIPS Universitas Pendidikan Indonesia.

Djahiri, Achmad Kosasih. (1985). Strategi Pengajaran Afektif Nilai-Nilai Moral VCT dan Game dalam VCT. Bandung: Jurusan Pendidikan Moral Pancasila dan Kewargaan Negara, FPIPS, IKIP.

Fathoni, A. (2006). Metode Penelitian & Teknik Penyusunan Skripsi. Jakarta: PT. Rineka Cipta.

Harsono, Boedi. (1994). Hukum Agraria Indonesia. Jakarta: Djambatan.

Hermit, Herman. (2004). Cara Memperoleh Sertifikat Tanah Hak Milik, Tanah Negara, dan Tanah Pemda. Bandung: Mandar Maju.

Kansil, C.S.T. 1986. Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Koentjaraningrat. (1990). Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Aksara Baru. ______________. (2009). Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: PT. Rineka

Cipta.

Maftuh, Bunyamin dan Sapriya. (2005). Jurnal Civicus: Pembelajaran PKn Melalui Pemetaan Konsep. Bandung: Jurusan PKn FPIPS UPI.

Mertokusumo, Sudikno. (1984). Meningkatkan Kesadaran Hukum Masyarakat. Jakarta: Liberty.

Moleong, Lexy J. (2010). Metodologi Penelitian Kualitatif (Edisi Revisi). Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

________________. (2011). Metodologi Penelitian Kualitatif (Edisi Revisi). Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.


(40)

Muhammad, Bushar. (1985). Pokok-Pokok Hukum Adat. Jakarta: Pradnya Paramita.

_________________. (2002). Azaz-Azas Hukum Adat (Suatu Pengantar). Jakarta: PT. Pradnya Paramita.

Mulyana, D. (2010). Metodologi Penelitian Kualitatif, Paradigma Baru Ilmu Komunikasi, Dan Ilmu Sosial Lainnya. Bandung. PT. Remaja Rosdakarya. Nasution, S. (1996). Metode Penelitian Naturalistik Kualitatif. Bandung: Tarsito. _________. (2003). Metode Penelitian Naturalistik Kualitatif. Bandung. Tarsito. Noor, Aslan. (2006). Konsep Hak Milik Atas Tanah Bagi Bangsa Indonesia

Ditinjau dari Ajaran Hak Asasi Manusia. Bandung: CV. Mandar Maju. Parlidungan, A.P. (2009). Pendaftaran Tanah di Indonesia. Bandung: CV.

Mandar Maju.

Purbacaraka, Purnadi dan Soerjono Soekanto. (1985). Perihal Kaidah Hukum. Bandung: Alumni.

Rahardjo, S. (1975). Persoalan-persoalan Hukum dalam Masa Transisi. Simposium Kesadaran Hukum Masyarakat dalam Masa Transisi. Jakarta. Bina Cipta.

Rusnandar, Nandang. (2000). Arsitektur Adata Tradisional Kampung Mahmud. Bandung: BPNST.

Salman, Otje. (1989). Beberapa Aspek Sosiologi Hukum. Bandung: Alumni. ___________. (1993). Kesadaran Hukum Masyarakat Terjadap Hukum Waris.

Bandung: Alumni.

Sanusi, Achmad. (1984). Masalah Kesadaran Hukum dalam Masyarakat Indonesia Dewasa ini. Dalam “Seminar Hukum Nasional ke-4 Tahun 1979, Buku III”. Jakarta: Bina Cipta.

______________. (2002). Pengantar Ilmu Hukum dan Pengantar Tata Hukum Indonesia. Bandung: Tarsito.

Sangsun, Florianus S.P. (2007). Tata Cara Mengurus Sertifikat Tanah. Jakarta: Visimedia.

Saragih, Djaren. (1996). Pengantar Hukum Adat Indonesia. Bandung: Tarsito. Soedarsono. (1995). Kenakalan Remaja. Jakarta: Rineka Cipta.

Soedjono, D. (1982). Pokok-Pokok Sosiologi sebagai Penumpang Studi Hukum. Bandung: Alumni.


(41)

Soekanto, Soerjono. (1982). Kesadaran Hukum dan Kepatuhan Hukum. Jakarta: CV. Rajawali.

_______________. (1983). Pengantar tentang Psikologi Hukum. Bandung: Alumni.

Somantri, N. (2001). Menggagas Pembaharuan Pendidikan IPS. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Surachman. (1982). Pengantar Penelitian Ilmiah. Bandung: Tarsito.

Sugiyono. (2009). Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta.

________. (2010). Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta.

________. (2011). Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta.

Syaodih, N dan Moh Surya. (1978). Pengantar Psikologi Publikasi Perumusan Bimbingan dan Penyuluhan. Bandung: IKIP Bandung.

Wahid, Muchtar. (2008). Memaknai Kepastian Hukum Hak Milik Atas Tanah. Jakarta: Republika.

Widjaya. (1984). Kesadaran Hukum Manusia dan Manusia Pancasila. Jakarta: Era Swasta.

Wignjodipoero, Soerojo. (1994). Pengantar dan Asas-Asas Hukum Adat (cetakan keduabelas). Jakarta: CV. Haji Masagung.

Winataputra dan Budimansyah (2007). Civic Education Konteks, Landasan, Bahan Ajar, dan Kultur Kelas. Bandung: Program Studi Pendidikan Kewarganegaraan Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia. Wulansari, C.D. (2010). Hukum Adat Indonesia Suatu Pengantar. Bandung:

Refika Aditama.

B. SUMBER SKRIPSI DAN TESIS

Amahorseya, Ronald. (2008). Penyelesaian Sengketa Tanah Hak Ulayat di Kabupaten Nabire Provinsi Papua (Studi Kasus Sengketa Tanah Bandar Udara Nabire). Tesis Magister Konatariatan pada Program Pasca Sarjana UNDIP. Semarang: Tidak diterbitkan.

Christianingsih (2007). Kajian Tentang Kesadaran Hukum Masyarakat (Studi Kasus dalam proses penyelesaian sertipikat ganda hak milik atas tanah


(42)

adat dan tanah negara pada masyarakat Desa Panjalin Kidul Kecamatan Sumberjaya Kabupaten Majelengka). Skripsi Sarjana pada Jurusan Pendidikan Kewarganegaraan FPIPS UPI. Bandung: Tidak diterbitkan. Gumilar, Robi Gugum. (2011). Studi Tentang Kesadaran Hukum Berlalu Lintas

Siswa (Studi Kasus Terhadap Siswa Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Cipatat Kabupaten Bandung Barat). Skripsi Sarjana pada Jurusan Pendidikan Kewarganegaraan FPIPS UPI. Bandung: Tidak diterbitkan. Mulyadi, Tri. (2010). Jual Beli Tanah Hak Ulayat Dengan Pelepasan Adat

Sebagai Syarat Pendaftaran Tanah Pada Suku Tobatdji Enj’ros Di Kota Jayapura Papua. Tesis Magister Konatariatan pada Program Pasca Sarjana UNDIP. Semarang: Tidak diterbitkan.

Nurmalasari. (2011). Pelaksanaan tugas pejabat pembuat akta tanah menurut PP No. 24 tahun 1997 tentang pendaftaran tanah (Analisa Kasus No. 362/PDT.G/2006/PN.JKT.PST). Skripsi Sarjana pada Jurusan Hukum UPN Veteran. Jakarta: Tidak diterbitkan.

C. SUMBER DARI INTERNET

Rahmawati (2012). Mengenal Masyarakat Sunda. [Online]. Tersedia: http://blog.uin-malang.ac.id/rena/2012/12/21/mengenal-masyarakat-sunda/. [25 Januari 2013].

Syafril. (2012). Fungsi Sertifikat Hak Milik atas Tanah. [Online]. Tersedia: http://marunggai.wordpress.com/2009/04/27/fungsi-sertifikat-hak-milik-atas-tanah/. [10 Oktober 2012].

D. SUMBER PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN

Undang-Undang Dasar 1945

Undang-Undang No. 5 Tahun 1960 tentang Undang-Undang Pokok Agraria Undang-Undang No. 7 tahun 2004 tentang Sumber Daya Air

Peraturan Pemerintah No. 24 tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah

Peraturan Pemerintah No 13 Tahun 2010 tentang Jenis dan Tarif atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak yang Berlaku pada BPN.


(43)

Peraturan Menteri Negara Agraria/ kepala Badan Pertanahan Nasional No. 3 Tahun 1997 tentang Ketentuan Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997Tentang Pendaftaran Tanah

Peraturan Menteri Negara Agraria/ kepala Badan Pertanahan Nasional No. 5 Tahun 1999 tentang Pedoman Penyelesaian Masalah Hak Ulayat Masyarakat Hukum Adat.


(1)

3. Kepada Masyarakat Kampung Mahmud

a. Mengingat tingkat kesadaran dan pengetahuan mengenai sertifikasi tanah yang masih rendah, diharapkan warga Kampung Mahmud dapat memperkaya pengetahuan dengan aktif mencari informasi mengenai pertanahan khususnya mengenai sertifikasi tanah dengan memahami hukum-hukum formal pertanahan yang berlaku nasional.

b. Dalam proses sertifikasi tanah adatnya, masyarakat Kampung Mahmud sebaiknya mengurus sendiri proses pendaftaran tanahnya secara mandiri dengan tidak meminta bantuan pihak ketiga dalam proses sertifikasinya. Dengan cara ini, biaya yang dikeluarkan dalam pelayanan sertifikasi tanah tidak akan sebesar ketika meminta bantuan pihak ketiga.


(2)

DAFTAR PUSTAKA A. SUMBER BUKU

Danial, Endang dan Nanan Wasriah. (2009). Metode Penulisan Karya Ilmiah.

Bandung: Laboratorium Pendidikan Kewarganegaraan.

Darwis, Ranidar. (2003). Pendidikan Hukum dalam Konteks Sosial Budaya bagi Pembinaan Kesadaran Hukum Warga Negara. Pidato Pengukuhan Jabatan Guru Besar Tetap dalam bidang Pendidikan Hukum dan Kewarganegaraan pada Fakultas Pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial Universitas Pendidikan Indonesia: Tidak diterbitkan.

_____________. (2008). Hukum Adat. Bandung: Laboratorium PKn-FPIPS Universitas Pendidikan Indonesia.

Djahiri, Achmad Kosasih. (1985). Strategi Pengajaran Afektif Nilai-Nilai Moral VCT dan Game dalam VCT. Bandung: Jurusan Pendidikan Moral Pancasila dan Kewargaan Negara, FPIPS, IKIP.

Fathoni, A. (2006). Metode Penelitian & Teknik Penyusunan Skripsi. Jakarta: PT. Rineka Cipta.

Harsono, Boedi. (1994). Hukum Agraria Indonesia. Jakarta: Djambatan.

Hermit, Herman. (2004). Cara Memperoleh Sertifikat Tanah Hak Milik, Tanah Negara, dan Tanah Pemda. Bandung: Mandar Maju.

Kansil, C.S.T. 1986. Pengantar Ilmu Hukum dan Tata Hukum Indonesia. Jakarta: Balai Pustaka.

Koentjaraningrat. (1990). Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: Aksara Baru. ______________. (2009). Pengantar Ilmu Antropologi. Jakarta: PT. Rineka

Cipta.

Maftuh, Bunyamin dan Sapriya. (2005). Jurnal Civicus: Pembelajaran PKn Melalui Pemetaan Konsep. Bandung: Jurusan PKn FPIPS UPI.

Mertokusumo, Sudikno. (1984). Meningkatkan Kesadaran Hukum Masyarakat.

Jakarta: Liberty.

Moleong, Lexy J. (2010). Metodologi Penelitian Kualitatif (Edisi Revisi). Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

________________. (2011). Metodologi Penelitian Kualitatif (Edisi Revisi). Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.


(3)

Muhammad, Bushar. (1985). Pokok-Pokok Hukum Adat. Jakarta: Pradnya Paramita.

_________________. (2002). Azaz-Azas Hukum Adat (Suatu Pengantar). Jakarta: PT. Pradnya Paramita.

Mulyana, D. (2010). Metodologi Penelitian Kualitatif, Paradigma Baru Ilmu Komunikasi, Dan Ilmu Sosial Lainnya. Bandung. PT. Remaja Rosdakarya.

Nasution, S. (1996). Metode Penelitian Naturalistik Kualitatif. Bandung: Tarsito. _________. (2003). Metode Penelitian Naturalistik Kualitatif. Bandung. Tarsito. Noor, Aslan. (2006). Konsep Hak Milik Atas Tanah Bagi Bangsa Indonesia

Ditinjau dari Ajaran Hak Asasi Manusia. Bandung: CV. Mandar Maju.

Parlidungan, A.P. (2009). Pendaftaran Tanah di Indonesia. Bandung: CV. Mandar Maju.

Purbacaraka, Purnadi dan Soerjono Soekanto. (1985). Perihal Kaidah Hukum.

Bandung: Alumni.

Rahardjo, S. (1975). Persoalan-persoalan Hukum dalam Masa Transisi. Simposium Kesadaran Hukum Masyarakat dalam Masa Transisi. Jakarta. Bina Cipta.

Rusnandar, Nandang. (2000). Arsitektur Adata Tradisional Kampung Mahmud.

Bandung: BPNST.

Salman, Otje. (1989). Beberapa Aspek Sosiologi Hukum. Bandung: Alumni. ___________. (1993). Kesadaran Hukum Masyarakat Terjadap Hukum Waris.

Bandung: Alumni.

Sanusi, Achmad. (1984). Masalah Kesadaran Hukum dalam Masyarakat Indonesia Dewasa ini. Dalam “Seminar Hukum Nasional ke-4 Tahun 1979,

Buku III”. Jakarta: Bina Cipta.

______________. (2002). Pengantar Ilmu Hukum dan Pengantar Tata Hukum Indonesia. Bandung: Tarsito.

Sangsun, Florianus S.P. (2007). Tata Cara Mengurus Sertifikat Tanah. Jakarta: Visimedia.

Saragih, Djaren. (1996). Pengantar Hukum Adat Indonesia. Bandung: Tarsito. Soedarsono. (1995). Kenakalan Remaja. Jakarta: Rineka Cipta.

Soedjono, D. (1982). Pokok-Pokok Sosiologi sebagai Penumpang Studi Hukum.


(4)

Soekanto, Soerjono. (1982). Kesadaran Hukum dan Kepatuhan Hukum. Jakarta: CV. Rajawali.

_______________. (1983). Pengantar tentang Psikologi Hukum. Bandung: Alumni.

Somantri, N. (2001). Menggagas Pembaharuan Pendidikan IPS. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Surachman. (1982). Pengantar Penelitian Ilmiah. Bandung: Tarsito.

Sugiyono. (2009). Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta.

________. (2010). Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta.

________. (2011). Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta.

Syaodih, N dan Moh Surya. (1978). Pengantar Psikologi Publikasi Perumusan Bimbingan dan Penyuluhan. Bandung: IKIP Bandung.

Wahid, Muchtar. (2008). Memaknai Kepastian Hukum Hak Milik Atas Tanah.

Jakarta: Republika.

Widjaya. (1984). Kesadaran Hukum Manusia dan Manusia Pancasila. Jakarta: Era Swasta.

Wignjodipoero, Soerojo. (1994). Pengantar dan Asas-Asas Hukum Adat (cetakan keduabelas). Jakarta: CV. Haji Masagung.

Winataputra dan Budimansyah (2007). Civic Education Konteks, Landasan, Bahan Ajar, dan Kultur Kelas. Bandung: Program Studi Pendidikan Kewarganegaraan Sekolah Pascasarjana Universitas Pendidikan Indonesia. Wulansari, C.D. (2010). Hukum Adat Indonesia Suatu Pengantar. Bandung:

Refika Aditama.

B. SUMBER SKRIPSI DAN TESIS

Amahorseya, Ronald. (2008). Penyelesaian Sengketa Tanah Hak Ulayat di Kabupaten Nabire Provinsi Papua (Studi Kasus Sengketa Tanah Bandar Udara Nabire). Tesis Magister Konatariatan pada Program Pasca Sarjana UNDIP. Semarang: Tidak diterbitkan.

Christianingsih (2007). Kajian Tentang Kesadaran Hukum Masyarakat (Studi Kasus dalam proses penyelesaian sertipikat ganda hak milik atas tanah


(5)

adat dan tanah negara pada masyarakat Desa Panjalin Kidul Kecamatan Sumberjaya Kabupaten Majelengka). Skripsi Sarjana pada Jurusan Pendidikan Kewarganegaraan FPIPS UPI. Bandung: Tidak diterbitkan.

Gumilar, Robi Gugum. (2011). Studi Tentang Kesadaran Hukum Berlalu Lintas Siswa (Studi Kasus Terhadap Siswa Sekolah Menengah Atas Negeri 1 Cipatat Kabupaten Bandung Barat). Skripsi Sarjana pada Jurusan Pendidikan Kewarganegaraan FPIPS UPI. Bandung: Tidak diterbitkan.

Mulyadi, Tri. (2010). Jual Beli Tanah Hak Ulayat Dengan Pelepasan Adat

Sebagai Syarat Pendaftaran Tanah Pada Suku Tobatdji Enj’ros Di Kota

Jayapura Papua. Tesis Magister Konatariatan pada Program Pasca Sarjana UNDIP. Semarang: Tidak diterbitkan.

Nurmalasari. (2011). Pelaksanaan tugas pejabat pembuat akta tanah menurut PP No. 24 tahun 1997 tentang pendaftaran tanah (Analisa Kasus No. 362/PDT.G/2006/PN.JKT.PST). Skripsi Sarjana pada Jurusan Hukum UPN Veteran. Jakarta: Tidak diterbitkan.

C. SUMBER DARI INTERNET

Rahmawati (2012). Mengenal Masyarakat Sunda. [Online]. Tersedia: http://blog.uin-malang.ac.id/rena/2012/12/21/mengenal-masyarakat-sunda/. [25 Januari 2013].

Syafril. (2012). Fungsi Sertifikat Hak Milik atas Tanah. [Online]. Tersedia: http://marunggai.wordpress.com/2009/04/27/fungsi-sertifikat-hak-milik-atas-tanah/. [10 Oktober 2012].

D. SUMBER PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN

Undang-Undang Dasar 1945

Undang-Undang No. 5 Tahun 1960 tentang Undang-Undang Pokok Agraria Undang-Undang No. 7 tahun 2004 tentang Sumber Daya Air

Peraturan Pemerintah No. 24 tahun 1997 tentang Pendaftaran Tanah

Peraturan Pemerintah No 13 Tahun 2010 tentang Jenis dan Tarif atas Jenis Penerimaan Negara Bukan Pajak yang Berlaku pada BPN.


(6)

Peraturan Menteri Negara Agraria/ kepala Badan Pertanahan Nasional No. 3 Tahun 1997 tentang Ketentuan Pelaksanaan Peraturan Pemerintah Nomor 24 Tahun 1997Tentang Pendaftaran Tanah

Peraturan Menteri Negara Agraria/ kepala Badan Pertanahan Nasional No. 5 Tahun 1999 tentang Pedoman Penyelesaian Masalah Hak Ulayat Masyarakat Hukum Adat.