T1 Lampiran Institutional Repository | Satya Wacana Christian University: Strategi Komunikasi Komunitas Tlatah Bocah dalam Menjaring Anak Lereng Gunung Merapi dengan Menggunakan Kearifan Lokal: Studi pada Komunitas Tlatah Bocah di Muntilan

Lampiran 1. Hasil Wawancara Dengan Ketua Komunitas Tlatah Bocah (1)

  Identitas Informan

  Nama

  : Gunawan Julianto

  Pekerjaan

  : Pengangguran Usia : 48 tahun

  Jabatan

  : Ketua Komunitas Tlatah Bocah

  Jenis Kelamin

  : Laki-laki

  Lokasi Wawancara : Kantor Sekretariat Rumah Pelangi Tanggal Wawancara : 3 April 2017 Pukul

  : 09:55 – 11:58

  P

  : Selamat pagi pak, saya Andita Prasanti mahasiswa UKSW program studi Komunikasi. Maksud kedatangan saya adalah untuk mencari informasi mengenai Komunitas Tlatah Bocah untuk keperluan skripsi saya yang membahas mengenai strategi komunikasi Komunitas Tlatah Bocah.

  G : Oh.. ya silahkan mbak, tanya saja apa yang mau ditanyakan. Santai saja mbak, ndak usah tegang. Santai saja. Gimana?

  P

  : Kalau boleh tahu, nama lengkapnya pak Gun siapa, pak?

  G : Aku? Hmm... Gunawan Julianto, mbak.

  P

  : Maaf pak, pak Gun umurnya berapa?

  G : Waduh,,, umurku piro ya? Hmm.. sebentar.. 48 tahun.

  P

  : Pak Gun asli daerah sini?

  G : Iyo asli, aku seneng dolan neng daerah kene, kadang mrono neng dusun. (iya asli, saya suka main di daerah sini, terkadang ke dusun yang ada disana)

  P

  : Pak Gun pekerjaannya sebagai?

  G : hahaha... lhayo kene ki pengangguran wae to mbak. Nek aku kerja raono seng perhatike bocah-bocah. (lha ya saya itu pengangguran mbak. Kalau saya kerja tidak ada yang memberikan perhatian kepada anak-anak)

  P

  : Pak, Komunitas Tlatah Bocah itu ada sejak tahun berapa ya dan siapa pendirinya?

  G : Hmm.. Berdiri pada tahun 2004. Pada saat itu ada aku terus Gambir Wismantoko tapi dibantu karo (sama) mbak Desi Purjayanto. Pada awalnya Tlatah Bocah membuka perpustakaan untuk masyarakat terumata anak-anak G : Hmm.. Berdiri pada tahun 2004. Pada saat itu ada aku terus Gambir Wismantoko tapi dibantu karo (sama) mbak Desi Purjayanto. Pada awalnya Tlatah Bocah membuka perpustakaan untuk masyarakat terumata anak-anak

  P

  : Apa bedanya Rumah Pelangi dengan Tlatah Bocah pak? Apa itu Rumah Pelangi?

  G : Tlatah Bocah dan Rumah Pelangi pada dasarnya sama saja, mbak. Pada awal berdirinya komunitas bernama Rumah Pelangi dimana melakukan aktivitasnya dari tahun 2004-2007 dengan menyediakan layanan perpustakaan didusun kadirejo Muntilan yang berlaku juga sebagai sekretariat. Perpustakaan mini ini tidak jalan lagi itu ya kerena keterbatasan sumber daya yang mengelola dan pasokan buku yang terbatas mbak. Kan ora mungkin to bocah-bocah e mung kon moco buku seng kuwi-kuwi wae dan mesti nek bar do moco ki diselehke ngono dadine butuh tenaga seng iso ngatur bukune mbalek neng rak e meneh, kan buku yo ra mlaku dewe kan ngunu yo ra mbak? (Ya tidak mungkin anak-anak disuruh membaca buku yang itu-itu saja dan pasti setelah membaca buku, bukunya diletakkan begitu saja sehingga butuh tenaga yang bisa mengatur buku untuk disusun di rak buku. Tidak mungkin buku bisa berjalan sendiri kembali ke rak, iya apa tidak mbak?) Nah, peristiwa erupsi Merapi 2006 dan gempa Bantul di tahun yang sama ya mbak, itu merupakan periode yang sangat berharga bagi kami, karena saat itu Rumah Pelangi belajar dari banyak organisasi yang terlibat dalam agenda kemanusiaan dengan fokus yang beraneka ragam. Pada tahun 2007 saat dicanangkan festival seni anak-anak Merapi sebagai bentuk kampanye hak anak, mendapatkan pengetahuan bahwa kekayaan budaya Jawa bisa menjadi media untuk pencapaian visi. Berkaitan dengan ini muncul kata Tlatah Bocah, nuansa lokal, kena tepat langsung pada sasaran, lebih fokus gitu lho. Selain itu motto Bocah Dudu Dolanan, Bocah Kudu Dolanan layaknya Think Global, Act Local, muatan tersebut sangat pas untuk gerakan selanjutnya. Oleh karena itu semenjak 2007 mulai mengganti nama menjadi Tlatah Bocah.

  P

  : Di komunitas Tlatah Bocah, Pak Gun menjabat sebagai apa?

  G : Hmmm... aku ketuanyan mbak. Ya bukan ketua yang seperti pimpinan gitu ya, tapi kerjaanku ya santai aja gitu. Ya sederhana lah mbak. Tapi setiap acara biasanya pertanggungjawaban atas namaku karena aku menjamin.

  P

  : Apa visi dan misi komunitas Tlatah Bocah pak?

  G : Opo yo mbak? Wah ora apal aku, sek-sek koyone aku jeh nduwe file e (Apa ya mbak? Wah tidak hafal saya, sebentar aku masih punya dokumennya). Oh ini mbak ketemu, visinya itu tersedianya area ramah anak secara fisik dan psikologis selaras dengan karakter lokal. Kalau misinya itu satu, menginisiasi area ramah anak secara fisikpsikologis. Menginisiasi ki lebih ke meresmikan, menyediakan gitu ya mbak. Kedua, meningkatkan peran masyarakat dalam pendidikan anak berbasis tradisi. Ketiga, meningkatkan peran anak dalam pembangunan masyarakat. Mottone barang opo ra? (Mottonya juga apa tidak?)Mottonya itukeragaman memperkaya nurani, Bocah dudu Dolanan, Bocah Kudu Dolanan. Maksudnya anak-anak bukan mainan, anak-anak harus bermain.

  P

  : Bagaimana posisi Tlatah Bocah saat ini pak? Di bawah pemerintah atau dalam pengembangan mandiri?

  G : Begini mbak, Komunitas Tlatah Bocah dikembangkan untuk mandiri. Apabila hal ini terjadi akan mendapatkan dua manfaat besar, yakni yang pertama ya ketidaktergantungan pada pihak lain untuk melaksanakan program-programnya sehingga meminimalisir konflik kepentingan dengan pihak pemasuk sumber daya, dan independensi lebih terjaga sesuai visi kita tadi. Nah, yang kedua, pembelajaran pada para penggiat dan komunitas yang terlibat bahwa kemandirian akan selalu memberikan ritme untuk berusaha memberikan ide segar atas permasalahan untuk dapat bertahan hidup. Seperti itu. Nah, tapi mbak, kemandirian yang kita maksud tentu saja tidak lepas dari upaya bersama pihak lain karena bagaimanapun Tlatah Bocah tidak dapat berdiri sendiri. Dalam hal ini penyikapannya adalah dengan menjalin kemitraan dengan pihak lain melalui program-program yang sesuai dengan visi, bukan sekedar menjadi pelaksana atau tukang dari pihak lain yang mempunyai suatu program. Tlatah Bocah belum mencapai tataran kemandirian yang dimaksud, upaya-upaya usaha ekonomi belum menghasilkan keunrungan yang cukup memang, tapi kita sekali lagi tidak menggantungkan diri kepada pemerintah.

  P

  : Upaya-upaya pengembangan dalam bidang apa saja yang ada di Tlatah Bocah pak?

  G : Disini ada kesenian dan ekonomi. Kalau kesenian banyak ya mbak macamnya karena setiap dusun yang tergabung di Tlatah Bocah hampir sebagian dusun memiliki komunitas seni di dusunnya sehingga itu bisa menjadi salah satu cara kita untuk lebih mengembangkan seni tradisi lokal yang ada. Selain itu kita juga mengadakan workshop, ya banyaklah macemnya. Sedangkan kalau ekonomi kita ada bisnis sablon, nasi merah seperti itu. Sablon kuwi seng garap yo bocah-bocah dewe, akdewe mung G : Disini ada kesenian dan ekonomi. Kalau kesenian banyak ya mbak macamnya karena setiap dusun yang tergabung di Tlatah Bocah hampir sebagian dusun memiliki komunitas seni di dusunnya sehingga itu bisa menjadi salah satu cara kita untuk lebih mengembangkan seni tradisi lokal yang ada. Selain itu kita juga mengadakan workshop, ya banyaklah macemnya. Sedangkan kalau ekonomi kita ada bisnis sablon, nasi merah seperti itu. Sablon kuwi seng garap yo bocah-bocah dewe, akdewe mung

  P

  : Pengembangan ekonomi Tlatah Bocah berarti cuma ada sablon yang masih berkembang ya pak?

  G : Sablon, jualan telur ayam. Tapi ya itu masih pada tataran awal karena ada faktor-faktor yang belum bisa kita pecahkan. Terumata misalnya telur ayam, peminatnya banyak, berat barangnya, peminatnya ya banyak, tapi ternyata ngumpulinnya pegel juga. Orang-orang kampung yang ngumpulin telur tu masih sambil lalu gitu, ngga diterusin padahal peminatnya banyak banget.

  P

  : Bagaimana untuk mendapatkan sokongan dana apabila akan menyelenggarakan sebuah acara?

  G : Ya itu tadi mbak, kita banyak menjalin kemitraan di berbagai kota. Bahkan ada di negara lain. Dan ternyata setiap kita mau bikin acara ada saja yang mendonasi, ya ada yang berupa uang atau mungkin barang-barang yang disumbangkan, kadang keperluan kita juga diakomodir sama mereka. Selain itu biasanya kita juga jual baju, baju-baju bekas yang kita kumpulkan dari pendonasi kita jual lagi, keuntungannya untuk kita seperti itu. Dan pernah kalau kemitraan itu bantunya langsung ke masyarakatnya. Seperti halnya pasca erupsi, kemitraan yang kami jalin mengelola dana untuk 5700 KK (Kartu Keluarga) ke 8 desa dari 59 dusun, pada waktu itu di kecamatan salam, kecamatan dusun dan mana lagi ya saya lupa, banyak kok itu. Secara dusun dihitung 59 dusun, secara KK ada 5700 KK.

  P

  : Tlatah Bocah menjalin kemitraan dengan mana saja pak?

  G : Ohh, akeh (banyak). Tapi seng (yang) aku inget ada beberapa. Hmm.. Rebonds France, terus Polyglot Theatre Australia, nek iki (kalau ini) mitra pengadaan workshop tentang teater boneka tahun 2013 kemarin dari Australia. Apik iki mbak tenan (Bagus ini mbak). Barkui opo yo (Setelah itu apa ya)... Pappermoon Puppet Theatre ini ya sama tapi ini dari Yogyakarta, Plan Indonesia, kalau ini dulu mitra dalam bidang trauma healing saat gempa Bantul 2006-2008, Karina Indonesia, Save The Children, nah ini yang bantu kelola 5700 KK tadi di Merapi untuk kehidupan keluarga dan ekonomi pasca erupsi 2010, Yayasan Tunas Cendekia, International

  Chatholic Migration Commision terus lali (lupa) mbak. Mengko tak kei file

  e aku ono ok (nanti saya beri dokumennya, saya ada).

  P

  : Ada berapa dusun yang tergabung di Tlatah Bocah pak? Berapa jumlah anggotanya?

  G : Apabila diperhitungkan dengan aktivitas pasca gempa Bantul 2006 dan erupsi Merapi 2010, saat ini Tlatah Bocah bekerjasama dengan 8 dusun di desa Sitimulyo, kecamatan piyungan, Bantul selama 2 tahun. Itu kalau yang di Bantul. Kalau yang disini jumlah dusun yang tergabung saat ini ada sekitar ya duapuluhan, tapi program yang dilaksanakan berbeda-beda. Kadang satu dusun ada yang ikut beasiswa Merapi tapi tidak ikut program berdasarkan kesenian karena memang dusunnya tidak ada kesenian, di dusun yang lain ada yang hanya ikut kerena kelompok kesenian, lain dusun ada yang ikut beasiswa Merapi dan kesenian, dua-duanya. Tapi sebagai catatan, yang mengikuti beasiswa Merapi tercatat 16 dusun dengan anak yang telibat sekitar 350-an, sedangkan dusun yang punya kelompok kesenian anak sebanyak 10 dusun. Dalam keanggotaan kalau untuk kegiatan-kegiatan, Tlatah Bocah bersifat cair, ya maksudnya santai saja gitu, jadinya ya agak susah kalau dihitung jumlah pasti anggotanya. Karena tidak pernah ada sistem absen gitu mbak, kita kan terbuka aja, terbuka dalam artian sebentar muncul, sebentar ilang, ora model kudu absen ngono gak (tidak seperti harus absen gitu).

  P

  : Kisaran umur anggota yang ikut Tlatah Bocah berapa pak?

  G : Hmm ya hampir dari umur kelas 2 SD mungkin ya mbak sampai SMP. Karena mungkin yang SMA itu masih ada tapi juga turut serta membantu teknis apabila kita ada acara gitu.

  P

  : Bagaimana cara pengurus Tlatah Bocah dalam memperlakukan anggotanya sesuai umur anggotanya? Adakah cara khusus masing-masing segmentasi umur?

  G : Eee... ya anggapannya sama ya mbak, dalam arti gini, misal ada program beasiswa ayam, neng dusun ki kan ono seng sugeh, ono seng kere (di desa itu ada yang kaya dan ada yang miskin) ya lebih ke ayo belajar bareng- bareng. Pokoknya tidak pandang bulu dan hasilkan silahkan dinikmati sendiri, silahkan dirawat sendiri tapi mari kita sering-sering berdiskusi tentang bagaimana baiknya untuk mengembangbiakan dan lain sebagainya. Pada intinya tidak ada pembeda dari segi ekonomi maupun sosial, semua sama rata.

  P

  : Untuk mengelola Tlatah Bocah, pak Gun di bantu oleh siapa saja? Atau ada struktur kepengurusan pak?

  G : Hmm.. aku dibantu 6 orang yang masuk dalam struktur kepengurusan. Tapi dilapangan, ya banyak masyarakat juga yang bantu. Opo meneh jeneng

  e ndeso ngene ki mbak, wes pasti nek nduwe acara opo hajatan ngono kiwo e ndeso ngene ki mbak, wes pasti nek nduwe acara opo hajatan ngono kiwo

  P

  : Apa yang menjadi program unggulan Tlatah Bocah?

  G : Kalau program unggulan ya tetep kesenian. Cuma ada satu program yang memang itu jadi ciri khas kita. Namanya beasiswa Merapi.

  P

  : Itu seperti apa pak?

  G : Beasiswa Merapi itu ya... jangan berfikiran kalau beasiswa selalu uang ya mbak. Soalnya itu tidak mungkin kalau di Tlatah Bocah hahaha.. cari uang buat acara aja susah, gitu mau dikasih. Beasiswa Merapi ini berupa ajakan kemandirian dengan berternak ayam dengan anak-anak anggota Tlatah Bocah. Program yang lain juga tidak kalah mbak, seperti yang saya sebutkan tadi dukungan pada komunitas seni di dusun-dusun karena dengan dukungan ini diharapkan masyarakat tetap memelihara tradisinya.

  P

  : Apa maksud memberikan beasiswa berupa ayam?

  G : Beasiswa Merapi disatu sisi merupakan bentuk ajakan solidaritas atau gotong royong untuk kawan-kawan yang ingin berdonasi di sekitar Merapi. Donasi itu bukan dalam bentuk kasih materi yang sekali pakai aja, tapi yang apabila dirawat secara terus menerus bisa berkembang dan menghasilkan banyak keuntungan. Nah, kita ambil ayam sebagai bentuk beasiswa kita. Maksud pemberiannya pada anak-anak itu ya maunya, satu, anak-anak belajar tanggung jawab, kedua bisa bersosialisasi atau berorganisasi kan tentunya kita kasih ayamnya ke anak-anak di satu dusun dan mereka bisa saling merawat ayam bareng sebagai bentuk mereka bersosialisasi, terus belajar kemandirian, hmmm belajar ekonomi juga bisa, hasil ternaknya bisa dijual sebagai tambahan penghasilan dan juga pemenuhan gizi, kalau lagi pengen makan ayam kan bisa dibeleh (dipotong). Selain itu juga orang sini kan kalo ritual pakai ayam ya sekaligus juga melestarikan tradisi ritual selain diajak berkesenian mbak. Karena ayam itu ya emang sangat penting untuk wilayah sini mbak. Selain perlengkapan sesaji dan sayuran yang gampang di dapat dari ladang sendiri, ya kami para pengurus juga ingin mengajak pelestarian kearifan lokal dari ladang sendiri, ya kandang ayam yang dirawat itu tadi.

  P

  : Sumber ayamnya itu dari mana pak?

  G : Dari individu-individu yang mau donasi ayam mbak. Ya kita gethok tular (dari mulut ke mulut) biasanya, ayo seng meh nyumbang pitik (yang mau menyumbang ayam) gitu biasanya, atau karena kita kan sudah menjalin kemitraan tadi dengan berbagai individu jadi mudah. Ayo mendukung program ini, siapa yang minat gitu biasanya. Tapi terkadang beberapa ada yang memberikan dalam bentuk uang, semisal seko semarang, seko jakarta opo yo meh nggowo pitik tekan kene kan ora, mulane do transfer mengko aku seng mblanjakke mereka tompo buktine. Santai wae ngene ki (dari semarang, dari jakarta apa mau membawa ayam sampai sini kan tidak, sehingga mereka transfer uangnya nanti saya yang membelikan ayamnya mereka terima bukti saja. Santai saja kalau seperti ini).

  P

  : Menurut pak Gun, apa yang membedakan Tlatah Bocah dengan komunitas lain?

  G : Tlatah Bocah sebenarnya tidak berbeda ya mbak dengan komunitas lain, bahkan dalam pertumbuhannya bench mark dari komunitas lain. Karena berbasis kerelawanan dari dulu ada saja orang yang keluar masuk. Kepengurusan yang tercantum adalah kepengurusan yang terakhir setelah berganti beberapa kali karena sifatnya yang keluar masuk itu tadi. Anggota pengurus semuanya sudah beberapa tahun di Tlatah Bocah, pada awalnya masing-masing mengalami masa yunior. Mungkin untuk lingkungan Merapi, Tlatah Bocah salah satu yang sudah teruji selama 13 tahun mengemas kegiatan tentang anak dan kesenian. Juga yang menjadi keunikan adalah beasiswa Merapi dalam bentuk pemeliharaan ayam bagi anak-anak yang telibat. Pengemasannya pun juga disesuaikan bukan murni dari Tlatah Bocah saja karna kita harus melakukan banyak penyesuaian-penyesuaian.

  P

  : Bagaimana cara Tlatah Bocah menjaring minat anak lereng gunung Merapi selain melalui program beasiswa ayam?

  G : Ya dengan kesenian. Lingkungan lereng gunung Merapi dikenal sebagai penjaga tradisi. Hal ini dikarenakan keterbatasan akses komunikasi dan transportasi dengan kota. Tradisi identik dengan kesenian rakyat yang keduanya tidak terpisahkan. Adanya kesenian ini menjadi pintu masuk Tlatah Bocah untuk mengajak kalangan dewasa dan anak-anak melakukan kegiatan. Beda halnya jika TB membuat program dimana masyarakat merasa tidak mampu melaksanakan karena tidak memiliki pengalaman. Misal ya mbak, program kursus pelajaran sekolah, bahasa asing atau yang lain. Program seperti itu baik, memang baik adanya, namun kelemahannya adalah Tlatah Bocah akan sangat keteteran (kesusahan) karena akan menggunakan sumber dayanya sendiri, karena masyarakat merasa tidak mampu untuk membantu. Selain itu keberlangsungan patut dipertanyakan karena keterbatasan sumber daya Tlatah Bocah. Hal lain adalah jika itu dilaksanakan Tlatah Bocah akan sulit untuk mengajak partisipasi masyarakat untuk terlibat dan melebarkan kegiatan ke area lain. Nah cara jitunya adalah dengan seni tradisi itu tadi mbak.

  P

  : Kesulitan apa saja yang pernah dialami pak saat menjaring minat anggota baru?

  G : Kalau menjaring anak-anaknya gampang mbak. Tapi yo kuwi mau (ya itu tadi), yang susah adalah bagaimana meneruskan agenda-agenda itu. Karena kita kan sumber dayanya terbatas, butuh pasokan sumber daya yang banyak sebenernya. Ketika urusan ayam ya butuh pasokan uang untuk beli ayam, belum lagi bagaimana meningkatkan kemampuan kita, maksudnya apa ya mau monoton gitu terus, gitu-gitu aja dan juga endak (tidak). Kesulitannya lebih ke ada tidak orang baru yang mau terjun bertahan lama karena tidak ada janji keuangan kecuali janji surga hahahaa.....

  P

  : Kearifan lokal apa saja yang terdapat di sekitar lereng gunung Merapi?

  G : Ya,,, kebudayaan yang kita miliki tidak kalah sama kebudayaan asing. Kesenian lereng Merapi itu banyak mbak, cuma ada beberapa penyesuaian sekali lagi yang diyakini masyarakat sesuai tradisi disini. Ada merti desa yang diyakini sebagai syukuran atau ucapan syukur gitu dan meneruskan menjaga lingkungan sekitar, bersyukur karena mereka mendapat hasil bumi dan bagaimana supaya lingkungan tetap terjaga. Lebih ke penghormatan pada sesepuh, ya ucapan syukur itu tadi juga bisa. Terus ada tarian-tarian ya begitu tentang kesenian.

  P

  : Bagaimana cara Tlatah Bocah mengenalkan seni atau kearifan lokal yang ada?

  G : Hmm.. ya melalui festival itu.

  P

  : Bagaimana cara Tlatah Bocah mengenalkan seni atau kearifan lokal yang ada?

  G : Hmm.. ya melalui festival itu. Tahun ini kita sudah festival ke 11. Workshop tarian juga ada terkadang, ya menyebarkan informasi bersama gitu. Festival juga tidak melulu dibulan yang sama, kita mencari bulan yang semuanya bisa dan bebas. Dalam arti untuk anak-anak tidak dalam masa tes sekolah seperti itu, mungkin pas libur semester, tidak waktu puasa atau lebaran, supaya benar-benar semua bisa ikut berpartisipasi.

  P

  : Terima kasih Pak, untuk waktu dan kesempatannya melakukan wawancara.

  G : Iya sama-sama.

Lampiran 2. Hasil Wawancara Dengan Ketua Komunitas Tlatah Bocah (2)

  Identitas Informan

  Nama

  : Gunawan Julianto

  Pekerjaan

  : Pengangguran Usia : 48 tahun

  Jabatan

  : Ketua Komunitas Tlatah Bocah

  Jenis Kelamin

  : Laki-laki

  Lokasi Wawancara : Sanggar Bangun Budhoyo, Desa Sumber Tanggal Wawancara : 30 Mei 2017 Pukul

  : 09:50 – 12:06

  P

  : Selamat pagi Pak, terimakasih kembali untuk waktu yang diberikan kepada saya untuk melakukan wawancara guna melengkapi data skripsi saya yang masih kurang tentang Tlatah Bocah.

  G : Iya mbak, sama-sama. Santai saja sama aku tidak jadi masalah, wong yo aku ra ono gawean hahaha... (kebetulan saya juga tidak ada pekerjaan). Piye mbak? (Gimana mbak?)

  P

  : Pak dulu bagaimana ceritanya Pak Gun dan Mas Gambir mau menggagas tentang area bermain anak dengan mendirikan komunitas Tlatah Bocah ini?

  G : Ya dulu itu kan aku sama gambir lagi dolan neng kono kae dusun cedak e merapi persis opo ke jeneng e lali, pokok e nang kono kuwi. Lha kebetulan anak kecil dusun itu seneng main do dolanan tarian ngono kae. Lha pas aku moro neng kadus e crito-crito ngono ki yo intine mereka ki nduwe kelompok seni tapi nek meh tampil susah paling mung ngandalke nek ono panggilan tok. Ee terus aku dolan ro Gambir neng dusun sengi neng kono bocah e seneng ndelok kesenian ngono tapi mereka tidak bisa menyalurkan keinginannya itu. Ya berpotensi tetapi tidak ada sarana untuk itu, terus kita cerita ke berbagai dusun yang mempunyai kelompok kesenian ya mereka sama halnya agak susah mencari regenerasi yang mau berkesenian karena punya kesibukan, terbukti to seng dusun siji meh berkesenian bingung raono sarana, seng siji nduwe sarana tapi sitik peminate. Yawes terus tak bangun karo Gambir, terus ngajak konco-konco seng emang nduwe keprihatinan podo ro akdewe, lha sisanke pas akdewe nduwe perpus yo ra keurus kuwi terus masalah kesenian iki bersamaan kita nduwe mitra bar erupsi kae ya sudah kita fokuskan ke kesenian tradisi lokal untuk anak- anak.

  P

  : Apa kesulitan yang Pak Gun hadapi ketika membangun komunitas Tlatah Bocah ini?

  G : Kesulitan ya mbak? Hmmm... opo yo? (apa ya?). Ya.. mungkin pada awalnya kurang percaya diri ya mbak. Aku merasa apakah ada orang-orang yang mau bekerja untuk hal yang sama, bukan hanya melu ubyang-ubyung (ikut kesana-kemari) tapi hal itu dilakukan dengan rasa dan kenyataannya memang sedikit yang mau. Mungkin kalau hobi gitu lumayan banyak yang mau, meskipun sifatnya ya sama sih mereka membuang uang. Ya kita cariin uang untuk dibuang juga, tetapi itu untuk kegiatan. Ya memang yang patut dipikirkan itu, gimana caranya bertahan. Yo kuwi mau seng mesti kudu dipikirke piye carane nduwe usaha tenanan, keinginan seng podo ben iso mertahanke lahan go bocah-bocah dolanan. Ra kabeh gelem tibake (Ya itu tadi yang harus dipikirkan, gimana caranya punya usaha yang serius, keinginan yang sama supaya bisa mempertahankan area bermain untuk anak-anak. Ternyata tidak semuanya mau).

  P

  : Kira-kira hal itu kenapa Pak bisa terjadi?

  G : Ya mungkin karna kesibukan itu bisa atau memang sedang tidak ingin ya ada. Banyak faktor yang tidak semua orang mau mengerti mbak. Jadi kalau aku sih ya siapa yang mau ya ayo kita bersama-sama berusaha tanpa paksaan seperti itu. Ya semua itu rela ajalah kan kita juga basisnya kerelawanan, karna prihatin aja sama keadaan anak-anak makannya aku mau ngurusi (mengurus) ini banget mbak.

  P

  : Kedekatan masing-masing anggota dengan pengurus komunitas Tlatah Bocah bagaimana Pak?

  G : Ya akrab mbak. Sangat dekat. Wes koyo tunggal e dewe. Njaluk tulung yo dibantuni mesti kuwi. Ora mesti ora (sudah seperti keluarga sendiri. Meminta bantuan juga pasti selalu dibantu). Misalkan sama-sama anggota Tlatah Bocah gitu ya mbak, terus ee kebutulan kok lagi butuh banyak bantuan tenaga misalkan ya kita pasti bantuin. Atau dalam hal lain sedang mengalami musibah gitu pasti tanpa banyak mikir kita pasti langsung kesana. Masalahnya ya itu tadi, masa sama keluarga sendiri mau cuek kan ya piye.

  P

  : Kalau di Tlatah Bacah ada aturan khusus gitu pak?

  G : Hahaha koyo sekolah wae mbak ono aturanne barang (seperti sekolah aja mbak ada aturannya). Ndak ada mbak kalau aturan yang mengikat dan resmi gitu. Kan komunitas ini sifatnya terbuka ya jadi siapa aja boleh kalau mau gabung. Cuma di Tlatah Bocah ada kesepakatan untuk selalu beretika baik gitu mbak. Ya sopan lah, tau unggah-ungguh (sopan santun). Bisa lihat situasi siapa yang lagi diajak bicara gitu aja sih mbak ya meskipun senioritas disini sama sekali tidak diterapkan. Kalau sampai ada sanksi yang berlaku gitu ndak ada hehehe..

  P

  : Sudah ganti berapa kali perombakan struktur Pak?

  G : Ya.. kalo pergantian struktur leih kepada...tataran ora resmi ngono lho (tidak resmi begitu ya). Ra resmi istilahe lebih ke iki ra apik lek diganti ngono ora (tidak resmi itu maksudnya lebih pada orang yang satu tidak bagus kemudian diganti itu tidak seperti itu). Santai sih mbak kalo soal struktur. Mungkin terutama posisi visual ya, itu ada kemungkinan selalu diganti setiap ada acara festival tiap tahun. Tapi nek kepengurusan ki gantine iki ora terus lek tanggal iki ganti ngono ora, cuma luwih neng suwe kok ra ketok yowes ganti ngono wae. Selain kuwi karna mungkin yowes we aku ganti wae ngono yo ono. (Tapi kalau kepengurusan orang ini sebagai pengganti orang ini di tanggal segini ganti tidak seperti itu, hanya lebih pada lama tidak pernah terlihat ya sudah di ganti yang ada. Selain itu karena mungkin aku di ganti saja seperti itu ya ada). Terumata lebih ke keuangan itu jarang sekali ada pergantian mbak. Soalnya uang itu kan riskan to, jadine ya udah percaya satu orang untuk mengelola ya itu aja.

  P

  : Bagaimana dengan masyarakat lereng Gunung Merapi, Pak? Apakah Pak Gun sudah mengenali warga yang menjadi target komunikasi?

  G : Lebih ke kenal masyarakat kampung itu. Oh ini warga Dusun Sumber, ini warga Dusun Tutup Ngisor. Ya kenal secara umum terutama sama beberapa kalangan dewasa. Misal Pak Kadus, warga dusun, pemuda, anak-anaknya beberapa tidak semuanya. Tapi kalo secara keadaan paham mbak, ya mudeng gitu lho. Óh dusun sini tu keadaannya begini latar belakangnya, yang dusun ini begini gitu. Kan masing-masing dusun berbeda. Kalo kita sedang main ke Dusun gitu juga ndak cuma main aja tapi juga tanya soal keadaan dusun bagaimana masyarakatnya nah kira-kira cocok apa tidak anak-anaknya untuk diajak berkesenian seperti itu.

  P

  : Memang keadaan Dusun yang seperti apa yang diingikan dari Pak Gun?

  G : Ya bukan dari aku tok ya mbak, tapi lebih untuk komunitas ini. Bisa ndak ya dusun A diajak berkesenian, diajak bertanggung jawab dalam artian menjalankan semua program. Kira-kira dusun ini cocoknya program yang mana dan warganya mau apa tidak kan begitu mbak.

  P

  : Jadi bukan karena keadaan dari segi perekonomian masing-masing kampung ya Pak?

  G : Kita ndak menilai dari segi ekonomi mbak. Menilai perekonomian masing- masing kampung sekarang susah mbak. Dibilang kaya ya ndak, dibilang miskin juga berkecukupan. Jadi bukan faktor itu yang kita pertimbangkan. Yang kita pikirkan kemampuan anak-anak dusun untuk mau berkesenian sama kita. Mereka punya bakat dan itu perlu untuk dikembangkan.

  P

  : Media apa yang digunakan untuk menyebarkan kegiatan Beasiswa Merapi ini ke dusun-dusun?

  G : Hmmm media ya mbak? Aku juga bingung kalo suruh ngomong soal media, masalahnya memang kita ngga pakai media khusus mbak. Ya.. paling lebih langsung ke Pak Kadus, ke orang tuanya. Kadang kita yo ngasih undangan ke orang tua anak yang jadi anggota Tlatah Bocah lewat kumpulan dusun-dusun gitu sekalian ikut sosialisasi terus bersamaan dengan hal itu kita sekalian bagi formulir untuk pendataan calon penerimaa ayam gitu aja sih mbak, ndak ada media khusus gitu. Kadang kita juga woro-woro (pengumuman) lewat Pak Kadus nanti beliau yang meneruskan, waktune yo menyesuaikan mbak kadang sore kadang dino (hari) minggu. Yo ra mesti sak isone dusune ben kabeh berpartisipasi (tidak pasti, kapan bisanya dusun tersebut supaya semua berpartisipasi).

  P

  : Adakah strategi khusus Pak untuk mejaring anak-anak lereng Gunung Merapi menjadi anggota Tlatah Bocah?

  G : Ya paling ngajak “ayo cah podo dolanan neng kene, melu kesenian, jogat- joget ben awet budhoyone” (ayo anak-anak pada main kesini, ikut berkesenina, menari biar awet budayanya) gitu sih mbak. Itu juga anak-anak kadang ngajak temennya otomatis dan kami tidak memaksa. Tapi kalo strategi ngumpulke gitu ndak, wong nek wes ono pengumuman sesuk ono acara ngono mesti teko kok mbak (kalau setiap ada pengumuman besuk akan ada acara pasti akan datang berkumpul kok mbak). Kalo strategi mungkin lebih ke strategi piye carane ben bertahan program e kuwi (gimana caranya supaya program itu bertahan) idenya itu.

  P

  : Tapi sampai sekarang program itu masih berjalan dengan baik Pak?

  G : Ya masih, syukur alhamdulillah ijek (masih) bertahan cuma memang belum bagus sampai sekarang. Belum baguse tu ya karna kita merasa yang

  15 dusun pertama itu lepas dari kontrol kita dari kendali kita karena mungkin waktu menyalurkan beasiswanya terlalu berdekatan. Bulan ini dusun ini, bulan ini dusun yang sana jadi ternyata itu juga menyulitkan kita untuk monitoring.

  P

  : Bentuk keinginan masyarakat lereng Merapi akan program tersebut bagaimana Pak?

  G : Ya banyak yang menanyakan mbak. Anakku kok raentuk (anakku kok tidak dapat ayamnya). Selalu ada mbak pertanyaan semacam itu.

  P

  : Bagaimana cara Pak Gun mempengaruhi atau meyakinkan mereka tentang Beasiswa ayam?

  G : Lebih ke “yo pitik e dirumat cah” (ayo ayamnya dirawat). Buat anak-anak kan aku dikasih ayam gimana caranya ayam itu tetap hidup dan berguna buat aku gitu. Yo mbok’o ayam e diopeni karo wong tuone barang tapi kan kuwi yo wes berupaya ngrumat ngono (ya meskipun ayamnya dirawat oleh orang tuanya juga tapi itu sudah merupakan upaya untuk merawat).

  P

  : Bagaimana cara pak Gun membangun kesadaran mereka untuk tetap merawat ayam pak?

  G : Ya ayam itu kan kalo untuk di daerah sini sangat penting mbak keberadaannya. Selain memang ayam itu bagus untuk kesehatan, tradisi lokal sini kan kalo ritual selalu ada ayam, ingkung itu to. Dan itu pasti. Lha daripada tuku pitik neng pasar aben meh ono acara nopo ora ngingu dewe nek butuh sewayah-wayah isi njuku kandang kan ngono. Lha mumpung iki ono pitik ayo rumaten, dikembangbiake ben dadi keh supoyone nek butuh kuwi golekanne gampang. Kan ayam neng pasar regone wes piro, lha nek butuh jukuk kandang e dewe kan ora usah bayar, ucul duit mbak. Ya itu juga jadi salah satu faktor kita kenapa beasiswa ini ayam, kenapa bukan uang, ya karena ayam itu sangat penting untuk lingkungan Merapi, terkhusus dari ayam kita juga bisa ikut melestarikan tradisi lokal selain dengan berkesenian.

  P

  : Apakah pernah Pak Gun mendapatkan penolakan dari masyarakat mengenai program beasiswa ini?

  G : Hehehe... yo nek nolak langsung ngono rung tau yo mbak. Tapi mungkin sakjane ono seng nolak tapi ra penak wae nolak e, mungkin lho yo. Biasane nek do dikei yo iyo-iyo wae ra ketung gampanganne neng mburi ngko dibeleh ngono yo iso (kalau menolak secara langsung belum pernah mbak. Tapi mungkin sebenarnya ada yang mau menolak tadi tidak enak. Biasanya kalau dikasih ya diterima saja, ya meskipun mungkin setelah dikasih tanpa sepengetahuan dipotong untuk konsumsi gitu juga bisa).

  P

  : Apa yang membuat Pak Gun memutuskan atau memilih dusun ini?

  G : Ya.. karena kedekatan dengan masyarakat dusunnya mbak, dan aku menilai bahwa anak-anak dusun ini bisa diandalkan untuk berkesenian seperti itu. Ya mereka cocok dan mampu. Secara gampang kalo ada dusun yang kita tidak kenal masyarakatnya ya kita ndak mau lah ya karena nantinya yang susah kita sendiri. Ketika kita lagi ngorbrol gitu kalo orangnya ndak jelas ya pasti kita juga jadi males. Tapi kalo warganya jelas, udah punya hubungan baik sama kita, kita paham, ada hubungan emosi gitu kan memudahkan kita juga untuk mengembangkan program dan mengajak mereka berpartisipasi dalam kegiatan komunitas.

  P

  : Bagaimana kriteria calon penerima Beasiswa Merapi pak?

  G : Kriteria khusus gitu ndak ada mbak, cuma paling yang kita ajak untuk mengikuti program ini anak-anak kelas 4 SD – 3 SMP yang sudah mengikuti kegiatan Festival sebanyak 7 festival berturut-turut. Mungkin itu bisa dibagi kategori tapi waktunya yang lebih bisa yang kelas 4-6 SD untuk kita ajak berkesenian. Menurutku anak SD itu masih suka main dan gampang buat diajak, ra isinan ngono lho tapi nek cah SMP kok moso dijak ngomongke pitik luwih angel gek jamane golek jatidiri (tidak mudah malu, G : Kriteria khusus gitu ndak ada mbak, cuma paling yang kita ajak untuk mengikuti program ini anak-anak kelas 4 SD – 3 SMP yang sudah mengikuti kegiatan Festival sebanyak 7 festival berturut-turut. Mungkin itu bisa dibagi kategori tapi waktunya yang lebih bisa yang kelas 4-6 SD untuk kita ajak berkesenian. Menurutku anak SD itu masih suka main dan gampang buat diajak, ra isinan ngono lho tapi nek cah SMP kok moso dijak ngomongke pitik luwih angel gek jamane golek jatidiri (tidak mudah malu,

  P

  : Kenapa harus 7 kali dulu pak?

  G : Ya sebener raono artian khusus mbak, mung yo itu sebagai penghargaan untuk mereka yang konsisten ikut melestarikan dan mengembangkan seni budaya. Ya ndak banyak aja yang bisa sampai berturut-turut itu. Nah, jeneng e bocah kan seneng nek dikei hadiah to mbak yo kuwi ben tambah semangat wae le berkesenian ben opo pemacune. Mbok o mung pitik yo hahaha dewek e nompone yo mbek nggya-nggyu, tapi yo seneng sajak e

  P

  : Setelah pak Gun memberikan ayamnya, aksi apa yang diharapkan Pak Gun setelah mereka menerimanya?

  G : Ya tentunya dipelihara dengan cara yang lebih baik, ora mung diculke ngono wae (tidak hanya di lepas begitu saja).

  P

  : Bagaimana dengan hasil ayamnya Pak? Dinikmati sendiri atau bagaimana?

  G : Hasil ayamnya dinikmati sendiri mbak biasanya. Kan itu kita beri sebagai beasiswa itu kan melatih mereka bertanggung jawab nah hasilnya silahkan dinikmati namun mereka berkesenian bersama kami begitu. Dulu ada yang cerita kalo hasil dari ayamnya bisa buat beli sepatu terus bisa buat tambah- tambah sangu sekolah.

  P

  : Berarti hasilnya tidak ada yang dikirim ke komunitas ya Pak?

  G : O endak mbak. Mereka ke komunitas memberikan kontribusi mereka aja sih untuk nguri-uri (melestarikan) seni tradisi lokal yang ada disini.

  P

  : Nah untuk komunitas sendiri, seberapa sering Pak mengadakan rapat?

  G : Oh kalo rapat tu ya ndak sering-sering banget. Lebih sering ke kumpul santai aja. Kalo rapat formal gitu biasanya kalo lagi mau ada acara besar seperti festival itu atau ada kemitraan yang mau berinteraksi dengan anak- anak gitu aja sih mbak. Ndak cuma acara sih tapi ada ide apa untuk kegiatan anak-anak selanjutnya biar anak-anak itu ndak bosen gimana carane dibuatke acara yang seru asik gitu mbak. Kalo sering-sering rapat yang mau dibahas apa kan bingung, wong yo punya urusan masing-masing. Kebetulan juga pengurus Tlatah Bocah itu aktif di kampungnya juga jadi ya kita menyesuaikan saja kalo mau mengadakan rapat.

  P

  : Tlatah Bocah itu tepatnya sudah menggelar berapa kali Festival Seni Tradisi Pak?

  G : Hmmm.. kalo dihitung besok September itu yang ke 11 mbak.

  P

  : Itu acaranya ngapain aja sih Pak?

  G : Ya itu kan acaranya itu sebenernya mewadahi semua dusun-dusun yang ada di Lereng Gunung Merapi untuk berkesenian. Jadi di acara itu kita G : Ya itu kan acaranya itu sebenernya mewadahi semua dusun-dusun yang ada di Lereng Gunung Merapi untuk berkesenian. Jadi di acara itu kita

  P

  : Sampai Festival ke 11, dusun mana saja yang selalu ikut berpartisipasi pak?

  G : Banyak sih mbak karena setiap festival kadang dusun ini ikut, festival berikutnya absen dulu karna kelompok komunitasnya sedang off gitu. Tapi yang sering ikut berturut-turut dari Dusun Sumber sini, Tutup Ngisor, Gowok Pos, Mbraman, Andong itu mereka ikut dari Festival pertama.

  P

  : Kesenian yang ditampilkan masing-masing dusun berbeda Pak?

  G : Iya mbak. Pasti itu biar variatif. Masing-masing dusun punya ciri khas seninya sendiri mbak meskipun jenis seninya sama tapi pengemasan dan jalan cerita yang disuguhkan pasti berbeda. Coba aja mbak besok dateng kesini ya.

  P

  : Tempat diadakan Festival selalu sama atau berpindah juga pak?

  G : Berpindah mbak. Termasuk tema festival juga selalu berubah. Supaya selalu ada peningkatan gitu ya mbak.

  P

  : Bagaimana cara Pak Gun membangun kesadaran anak-anak Tlatah Bocah untuk berkesenian?

  G : Ya memang kesadaran yang penting ya mbak. Ya paling aku bilang “yo podo-podo nguri-uri tradisine dewe ben ora ilang opo dijupuk wong” nah dari situ pasti juga mereka berpikir “oh iyo sopo meneh nak ora akdewe” Ya rasa memiliki tradisi itu memang harus selalu ditanamkan sih mbak supaya kepemilikan akan tradisi tidak pudar gitu. Selalu sebelum atau pas acara aku bilang gitu

  P

  : Oh ya sudah Pak, mungkin cukup sudah datanya. Nanti kalau masih kurang saya boleh menghubungi pak Gun atau kesini lagi mungkin pak hehehe ...

  G : Iya mbak boleh. Siap-siap, lak yo nduwe nomerku to telfon wae nek rung ono wektu mrene. Aku yo selo ok (kan punya nomer saya ya telfon saja kalau belum ada waktu untuk kesini. Saya juga senggang, ada waktu kok).

  P

  : Oke baik Pak, Terima kasih Pak Gun.

  G : Iya mbak, sama-sama.

Lampiran 3. Hasil Wawancara Dengan Pengurus Bagian Keuangan Komunitas Tlatah Bocah

  Identitas Informan

  Nama

  : Sunantoro (Tanto)

  Pekerjaan

  : Pengangguran Usia : 28 tahun

  Jabatan

  : Kepala Keuangan Komunitas Tlatah Bocah

  Jenis Kelamin

  : Laki-laki

  Lokasi Wawancara : Sanggar Bangun Budhoyo, Desa Sumber Tanggal Wawancara : 30 Mei 2017 Pukul

  : 12:10 – 13:00

  P

  : Selamat siang mas, saya Andita. Saya disini ingin mencari data untuk keperluan skripsi saya yang berkaitan dengan Komunitas Tlatah Bocah. Kalau boleh tahu, masnya namanya siapa?

  T

  : Sunantoro. Biasa dipanggil Tanto.

  P

  : Mas Tanto asli dusun Sumber?

  T

  : Iya. Rumahku bawah situ.

  P

  : Sudah berapa lama tinggal di Dusun sini Mas?

  T

  : Dah lama mbak. Dari aku lahir orang tuaku dah disini.

  P

  : Berapa tahun Mas?

  T

  : kalo aku 28 tahun.

  P

  : Apakah mas Tanto tahu tentang Komunitas Tlatah Bocah?

  T

  : Sedikit banyak tahu mbak.

  P

  : Apa itu komunitas Tlatah Bocah Mas?

  T

  : Ya komunitas ini merupakan komunitas yang fokus pada anak-anak dimana di komunitas ini anak-anak bisa berkembang. Dalam artian mereka bisa mengembangkan kreatifitas mereka untuk berkesenian, tidak hanya berkesenian mungkin mereka juga bisa mengasah kemampuan mereka untuk menggali kemampuan yang mereka miliki. Kan di komunitas ini ndak cuma jogat-joget (menari) aja tapi juga diajari bikin mainan dari bahan- bahan yang sederhana gitu. Jadi mereka bisa menyalurkan hobi main mereka ke hal yang lebih positif.

  P

  : Mas Tanto ikut keanggotaan Komunitas Tlatah Bocah?

  T

  : Hmmm.. aku pengurusnya mbak kebetulan. Aku megang bagian keuangan sama temenku satu, Purnomo namane.

  P

  : Sudah berapa lama mas Tanto bergabung di pengurusan Komunitas Tlatah Bocah?

  T

  : Aku gabung di komunitas ini udah dari tahun 2010 sampai sekarang mbak. Dulunya kan aku cuma ikut dikampung sini, tapi karena seneng bantu ya udah langsung masuk struktur.

  P

  : Mas Tanto di bagian itu kerjaannya ngapain aja Mas?

  T

  : Hmmm kalo keuangan lebih anu ya. Hmmm.. bukan keuangan yang ribet gitu, sederhana sih sebenernya. Ya mengelola uang gitu aja. Mengelola keluar masuknya yang buat acara Tlatah Bocah. Kalo biasanya keuangan kan bikin laporan ya, tapi kalo disini laporannya yang secara rinci gitu enggak, ya cuma laporan lisan. Misalkan terus ada pendapatan sekian, pengeluarannya sekian, buat apa aja, ya cuma laporan itu. Ada program ini terus dapetnya segini gitu.

  P

  : Jadi bukan laporan yang resmi gitu ya mas? Seperti pemberitahuan aja gitu ya?

  T

  : Iya mbak.

  P

  : Tadi Mas Tanto bilang kalau dibagian keuangan ada 2 orang, berarti bukan hanya Mas Tanto ya yang megang uang?

  T

  : Ya lihat situasi sih mbak. Kita saling bantu aja. Kalo aku ndak bisa ya Mas Purnomo yang pegang.

  P

  : Berarti sudah 7 tahun ya Mas Tanto di posisi keuangan?

  T

  : Iya mbak.

  P

  : Selama 7 tahun masuk dalam struktur Tlatah Bocah, pernah ada pergantian pengurus Mas?

  T

  : Hmm.. kalau bagian keuangan terakhir di posisi aku sama Mas Purnomo mbak. Tapi kalo posisi bagian lain pernah ada pergantian tapi pergantiannya juga disesuaikan sama kondisi.

  P

  : Maksud disesuaikan sama kondisi Mas?

  T

  : Ya semisal bagian ekonomi, sekarang kan ada bambang mbak panggilannya Bagor, nah kalo yang lalu itu kan dipegang sama siapa gitu aku lupa namanya dari dusun sana mbak. Itu diganti karena dia dapet kerjaan diluar daerah sini jadi ndak mungkin kalo tidak diganti.

  P

  : Oh berarti sampai saat ini pergantian pengurus masih tetap ya?

  T

  : Kalau keuangan tetap, tapi kalo posisi yang lain terakhir bagian itu yang diganti.

  P

  : Mas Tanto tahu sejarah berdirinya Tlatah Bocah?

  T

  : Hahaha.. kalo sejarah pastinya aku ndak begitu tahu ceritanya ya mbak. Masalahnya dulu pas komunitas ini berdiri aku cuma orang yang datang terus ngilang gitu mbak. Dulu cuma tahu beberapa temenku suka main ke Rumah Pelangi, kan dulu namane itu mbak. Mereka suka baca-baca disini. Tempate jauh sama rumahku mbak jadi aku males. Tapi pas di dusun sini juga gabung ya aku bantu-bantu gitu. Bantu ya bantu tapi ndak terusan. Yang aku tahu cuma Tlatah Bocah itu komunitas yang suka bikin acara buat jadi tempat dusun-dusun lain pamer seni versi mereka gitu sih mbak. Sama ada program juga.

  P

  : Siapa yang mendirikan Tlatah Bocah Mas?

  T

  : Pak Gun sama Mas Gambir kalo yang aku tahu. Penggagasnya dua orang itu.

  P

  : Tadi Mas Tanto bilang ada program, nah program apa aja yang ada di Tlatah Bocah?

  T

  : Ada kesenian sama ekonomi kreatif mbak, terus ada beasiswa juga tapi bukan berupa uang. Kalo keseniannya itu ya seni yang ada disini mbak, tari- tarian, ritual adat gitu. Kalo ekonomi kreatif Tlatah Bocah itu punya bisnis sablon tapi sekarang lagi nggak nyablon soal e gak ada orderan hahaha...

  P

  : Kalau yang beasiswa tadi seperti apa Mas kan katanya tidak berupa uang?

  T

  : Oh iyaa, lupa. Beasiswa versi Tlatah Bocah itu berupa ayam mbak.

  : Iya mbak. Jadi kita kasih ayam ke anak-anak dusun anggota Tlatah Bocah gitu.

  P

  : Kenapa ayam mas?

  T

  : Ya menurut kita ayam itu sangat penting buat masyarakat sini mbak. Apalagi untuk ritual adat itu pasti ayam, ingkung tu mbak namanya. Nah daripada mereka butuh ayam terus beli makannya kita manfaatkan aja ayam untuk dikasih ke meraka. Kalo uang juga ndak mungkin mbak. Soalnya kita aja juga susah cari duit (uang) buat acara.

  P

  : Terus dapat ayamnya darimana Mas?

  T

  : Aku sama temen-temen cari donatur ayam mbak. Ya biasanya kita woro- woro ke temen-temen kita ngajakin mereka untuk bedonasi ayam gitu sih mbak. Kita enggak minta lho ya, tapi kita ngajak mereka untuk berdonasi, kalo mau ya syukur kalo enggak kita juga ndak masalah.

  P

  : Sampai sekarang masih berjalan Mas Program beasiswa itu?

  T

  : Terakhir tahun kemarin mbak, 2016. Itu di dusun Gowok Pos sebelah sana atas.

  P

  : Tanggapan masyarakat tentang beasiswa ayam itu gimana mas?

  T

  : Hmmm ya seneng sih mbak.

  P

  : Menurut Mas Tanto beasiswa ayam itu bagaimana?

  T

  : Kalo dari aku sih secara program itu bagus, artinya program beasiswa ayam itu kan unik, secara tidak langsung mengajarkan anak untuk tanggung jawab. Ya walaupun cuma ayam kalo dikelola dengan baik kan bisa menghasilkan juga. Terus plus-minusnya masih ada sih. Eeee... temen- temen pengurus itu yang kurang untuk mengontrol. Itu yang jadi kendala setiap kali kita ingin mendata. Susah dan belum maksimal gitu lho mbak. Karna kan untuk kegiatan ini sama sekali kegiatan sosial, maksudnya tidak ada fee dari kegiatan lain, sementara kita juga masih ada kegiatan yang lain dikampungnya sendiri atau kegiatan dengan orang lain belum nanti ee... kegiatan pribadi. Ya mungkin itu, karena kita kan juga cuma beberapa orang saja tapi kan kegiatannya tu kan banyak jadi agak kesusahan.

  P

  : Sejauh ini kalau susah dalam pendataan terus bagaimana Mas?

  T

  : Ya kita tetap mendata tapi dengan menerima laporan dari masing-masing individu aja mbak.

  P

  : Kriteria penerima beasiswa ayam itu seperti apa Mas?

  T

  : Anak-anak anggota Tlatah Bocah yang masih sekolah mbak sekitar kelas 4-6 SD yang sudah ikut festival sebanyak 7 festival berturut-turut.

  P

  : Awalnya bagaimana Mas mau bagi-bagi ayam ke dusun-dusun? Bisa diceritakan.

  T

  : Ya kita misalnya mau kasih ke dusun A, sebelumnya kita udah main dulu ke dusun A jauh-jauh hari. Mungkin misalkan setahun, setahun yang lalu pendekatan gitu. Itu kan juga lihat keadaan kondisinya seperti apa, misalkan kalo masyarakatnya enak terus pemudanya srawung (akrab) gampang diajak kerjasama gitu bisa diajak untuk berkesenian juga gitu. Kalo misalkan sulit kan kita juga yang repot. Istilahnya ya seperti timbal balik gitu lho untuk ikut berkesenian sama kita gitu.

  P

  : Cara menyebarkan berita kalau mau ada pembagian ayamnya bagaimana Mas?

  T

  : Biasanya dari omongan mbak. Ya kita kan datang ke Kadus dulu kasih tahu kalau tanggal segini mau ada pembagian ayam jam segini ditempat sini, nah nanti Pak Kadusnya yang menyebarkan, lewat cara Pak Kadus sendiri atau lewat toa masjid setempat atau pengumuman lewat pengeras suara balai warga gitu. Biasanya kalau di Dusun Sumber sini Pak Kadus : Biasanya dari omongan mbak. Ya kita kan datang ke Kadus dulu kasih tahu kalau tanggal segini mau ada pembagian ayam jam segini ditempat sini, nah nanti Pak Kadusnya yang menyebarkan, lewat cara Pak Kadus sendiri atau lewat toa masjid setempat atau pengumuman lewat pengeras suara balai warga gitu. Biasanya kalau di Dusun Sumber sini Pak Kadus

  P

  : Cara pendekatannya seperti apa Mas?

  T

  : Ya biasanya kami pengurus inti gitu dateng ke rumah pak Kadus misal dusun Gowok Pos misalnya ya bilang “pak niki rencang-rencang Tlatah Bocah ajeng nganakke program beasiswa merapi teng dusun mriki kagem adik-adik kang saget lan mpun nderek kesenian teng mriki. Acaranipun rencanane tanggal sementen kanggonanne teng mriki, menowo bapak saget mbantuni woro-woro teng wargo Gowok Pos” gitu mbak.

  P

  : Terus ketika sampai harinya pembagian langsung pada berebut gitu mas?

  T

  : Iya mbak, kan pada antusias gitu ya mereka. “aku mas aku, aku gelem pitik

  e seng werno iki” (saya mas saya, saya mau ayam yang warna ini) begitu mbak. Dan ramai sekali itu suasanya. Seru mbak.

  P

  : Kalau sekarang anggota Komunitas Tlatah Bocah sudah berapa banyak Mas?

  T

  : Wahh mbak, kalau berapa banyak anggota aku ndak tahu ek mbak. Soalnya aku gak pernah bawa data jumlah anggota. Mungkin tanya ke Pak Gun langsung aja yang lebih tahu data pastinya.

  P

  : Di Komunitas Tlatah Bocah ini anggotanya banyak anak-anak atau remaja mas?

  T

  : Banyak anak-anaknya sih mbak, kan menurut kita anak-anak lebih bisa diajak. Mereka masih suka bermain jadi lebih mudah kalau ngajak buat berkesenian apalagi mereka itu suka tarian adat gitu mbak. Seneng banget malahan kalo pas gak ada acara latihan suka nanyain kapan latihan mas gitu.

  P

  : Kira-kira yang ikut itu latar belakangnya darimana saja Mas?

  T

  : Ada anak SD, yang masih sekolah gitu. Ada juga yang belum sekolah. Macem-macem mbak hehehehe ....

  P

  : Kalau untuk anak remaja, itu gimana Mas ngajaknya?

  T

  : Kalau udah remaja susah ya mbak, harus ditawarin dulu gitu. Kan mungkin mereka juga punya kesibukan sendiri. Masih mau ngikuti maunya sendiri. Kalo anak-anak masih gampang sih.

  P

  : Mas Tanto dulu berminat ikut berpartisipasi bantu-bantu jadi pengurus Tlatah Bocah karena apa?

  T

  : Ya karena memang disini tradisinya kan gotong royong mbak, jadinya ya aku kalo bantu-bantu ya murni mau bantu aja mbak. Soalnya kan ndak enak : Ya karena memang disini tradisinya kan gotong royong mbak, jadinya ya aku kalo bantu-bantu ya murni mau bantu aja mbak. Soalnya kan ndak enak

  P

  : Mas untuk waktu dekat ini Komunitas Tlatah Bocah ada acara Mas?

  T

  : Kalo yang kemarin habis workshop sih mbak. Tapi kalo yang akan datang nanti bulan September acara andalan Komunitas Tlatah Bocah mbak, tanggalnya masih mau dirapatkan lagi biar semua bisa berpastisipasi.

  P

  : Itu acara Festival itu Mas?

  T

  : Iya mbak.

  P

  : Ini festival ke berapa Mas?

  T

Dokumen yang terkait

FREKUENSI KEMUNCULAN TOKOH KARAKTER ANTAGONIS DAN PROTAGONIS PADA SINETRON (Analisis Isi Pada Sinetron Munajah Cinta di RCTI dan Sinetron Cinta Fitri di SCTV)

27 310 2

DEKONSTRUKSI HOST DALAM TALK SHOW DI TELEVISI (Analisis Semiotik Talk Show Empat Mata di Trans 7)

21 290 1

MANAJEMEN PEMROGRAMAN PADA STASIUN RADIO SWASTA (Studi Deskriptif Program Acara Garus di Radio VIS FM Banyuwangi)

29 282 2

PENILAIAN MASYARAKAT TENTANG FILM LASKAR PELANGI Studi Pada Penonton Film Laskar Pelangi Di Studio 21 Malang Town Squere

17 165 2

FREKWENSI PESAN PEMELIHARAAN KESEHATAN DALAM IKLAN LAYANAN MASYARAKAT Analisis Isi pada Empat Versi ILM Televisi Tanggap Flu Burung Milik Komnas FBPI

10 189 3

SENSUALITAS DALAM FILM HOROR DI INDONESIA(Analisis Isi pada Film Tali Pocong Perawan karya Arie Azis)

33 290 2

MOTIF MAHASISWA BANYUMASAN MENYAKSIKAN TAYANGAN POJOK KAMPUNG DI JAWA POS TELEVISI (JTV)Studi Pada Anggota Paguyuban Mahasiswa Banyumasan di Malang

20 244 2

PERANAN ELIT INFORMAL DALAM PENGEMBANGAN HOME INDUSTRI TAPE (Studi di Desa Sumber Kalong Kecamatan Wonosari Kabupaten Bondowoso)

38 240 2

Analisis Sistem Pengendalian Mutu dan Perencanaan Penugasan Audit pada Kantor Akuntan Publik. (Suatu Studi Kasus pada Kantor Akuntan Publik Jamaludin, Aria, Sukimto dan Rekan)

136 695 18

PENERAPAN MEDIA LITERASI DI KALANGAN JURNALIS KAMPUS (Studi pada Jurnalis Unit Aktivitas Pers Kampus Mahasiswa (UKPM) Kavling 10, Koran Bestari, dan Unit Kegitan Pers Mahasiswa (UKPM) Civitas)

105 442 24