Menyoal Konservatifme Media Massa pdf

Menyoal Konservatisme Agama di Media Massa:
Meneguhkan Peran Kritis Jurnalisme Kampus

Mohamad Abdun Nasir

Pendahuluan
Merebaknya penerbitan-penerbitan buku, tabloid dan majalah agama dan menjamurnya program-program
keagamaan di media massa memberi pengaruh yang tidak kecil terhadap model keberagamaan masyarakat. Di satu
sisi, fenomena ini akan memberikan alternative model keberagamaan yang beragam bagi masyarakat dengan memberi
peluang yang luas untuk memilih wacana agama yang ada sehingga terjadi proses dialogis antara media dan audien.
Partisipasi masyarakat dalam membangun dan membentuk wacana keagamaan mereka sendiri yang lepas dari kontrol
negara mendapat angin segar. Namun sangat disayangkan bahwa, di sisi lain, model keberagamaan yang diusung
tersebut tidak semuanya menyuarakan semangat keagamaan yang progresif dan toleran. Sebaliknya, tidak sedikit dari
media-media ini yang justru menjadi corong agenda gerakan kebangkitan agama yang cenderung sektarian dan
ekslusif. Sementara kelompok mayoritas tetap mendominasi dan kelompok minoritas tetap terpinggirkan dan kurang
terakomodir secara memadai, ada kelompok minoritas radikal yang mampu bersuara keras karena didukung oleh
sistem komunikasi dan media yang baik.

Media massa baik cetak maupun elektronik memiliki pengaruh yang besar terhadap konstruksi realitas sosial
dan pemaknaannya, termasuk dalam ranah agama. Agama bisa tampil dalam wajahnya yang beragam tergantung
bagaimana media merepresentasikannya. Edward Said menjelaskan bagaimana Barat selama ini memanggungkan Islam.

Menurutnya, dalam dasawarsa beberapa tahun belakangan, khususnya sejak revolusi Iran menarik perhatian Eropa dan
Amerika, media telah mengekspose Islam; mereka memperlakukannya, memberinya karakter, menganalisisnya, dan
dengan demikian membuatnya tampil sedemikian rupa.[1] Agama dapat pula dimunculkan di media massa dalam aura
yang absolut, rigid, kaku yang mensyaratkan penerimaan agama secara taken for granted. Dalam bingkai yang
demikian, agama dihadirkan sebagai kebenaran mutlak yang tidak menghendaki proses humanisasi dalam penerimaan
dan pelaksanaanya. Alhasil, agama kemudian tampil dalam wajahnya yang tunggal, monolitik dan anti pluralitas.
Sebaliknya, ajaran agama bisa hadir pula dalam arus media dalam bingkai yang lebih kontekstual, toleran, dan
interpretatif. Meski mengakui agama merupakan pesan dan nilai-nilai transendental, namun agama yang kontekstual
dan intepretatif tidak menolak proses rasionalisasi dan kontekstualisasi karena agama tidak hidup dan hadir dalam
ruang yang hampa. Kemungkinan agama tampil di media massa dalam dua wajah (rigid dan kontekstual) di atas sangat
tergantung pada bagaimana, dan oleh siapa, doktrin agama tersebut direpresentasikan atau disuguhkan kepada audien
dan pembaca. Oleh karena itu, ideologi agama, kepentingan politik dan ekonomi media massa sangat menentukan
karakter wacana agama yang disuguhkan.

1

Untuk mewujudkan pandangan agama yang progresif di media massa bukanlah hal yang gampang karena
suatu media, apa itu koran, tabloid, majalah ataupun televisi memiliki kepentingan yang berbeda antara satu dengan
yang lain dan menerapkan strategi yang berlainan dalam mengemas berita dan informasi untuk ditawarkan kepada
pembaca dan pemirsa secara lebih luas.[2] Pertimbangan pasar, oplah, rating atau untung-rugi turut memboncengi

kepentingan media massa. Tidak sedikit media massa yang demi mengejar oplah dan keuntungan secara tidak
langsung, sengaja atau tidak, terbawa arus wacana keagamaan mayoritas yang kadang konservatif karena dipandang
menguntungkan daripada mengekspose kelompok minoritas yang kurang memberikan kontribusi ekonomis bagi
industri media massa.

Di sinilah arti pentingya menghadirkan penerbitan yang lebih memihak kepada agenda –agenda pencerahan
dan toleransi keberagamaan. Dan salah satu agen sosial yang mampu memainkan peranan penting tersebut adalah
mahasiswa melalui jurnalisme kampus yang profesional dengan misi dan advokasi idialisme yang tinggi. Tulisan ini
dimaksudkan untuk menawarkan alternative pandangan tentang peran dan fungsi pers mahasiswa atau kampus
sebagai counter discourseatas merebaknya konservatisme agama di media massa.

Konservatisme Agama dalam Arus Media Massa

Menurut Peter L. Berger, sekarang ini, berbeda dengan anggapan sebelumnya tentang mengecilnya peran
agama, terjadi apa yang disebut sebagai “de-sekularisasi” global yang ditandai dengan menguatnya gerakan-gerakan
keagamaan konservartif atau orthodox yang menolak aggiornamento(penyesuaian agama dengan persoalan
kontemporer dan modernitas).[3] Gejala ini bisa dilihat di hampir semua tradisi agama dunia, tak terkecuali Islam,
meskipun model gerakan mereka tidaklah tunggal. Lebih lanjut dia mengatakan bahwa setidaknya ada dua
kemungkinan pemicu kebangkitan konservatisme agama kontemporer. Pertama, modernitas cenderung meremehkan
kepastian-kepastian yang telah diterima secara bulat dan menjadi fondasi atau dasar sejarah manusia. Dengan

menawarkan pandangan yang pasti tentang kehidupan, maka seruan agama memiliki gaung yang kuat. Kedua,
pandangan yang murni sekuler atas realitas telah ditolak oleh kebanyakan manusia yang, meski bukan bagian dari
kelompok elit sekular tersebut, turut merasakan dampak pandangan sekular tersebut. Tidak mngherankan jika gerakan
agama anti sekularisme menarik banyak pengikut.[4] Yang perlu digarisbawahi dari pendapat Berger adalah common

feature yang nampak dalam gerakan-gerakan keagamaan, yaitu penolakan penyesuaian agama dengan modernitas.
Diantara nilai-nilai modernitas yang menonjol adalah adanya rasionalisasi dan sekularisasi dalam aspek kehidupan
manusia. Dua nilai tersebut banyak ditolak olah kelompok konservatif agama karena dianggap mengancam sakralitas
dan otentisitas agama. Respon yang muncul dari kalangan konservatif agama adalah menolak segala sesuatu yang
dianggap baru dalam agama seraya mempertegas pembelaan atas otentisitas dan originalitas agama.
Di Indonesia, merebak dan menjamurnya kelompok konservatif dan radikal agama justru terjadi setelah era-reformasi.
Apakah reformasi dengan demikian terlibat secara tidak langsung dalam melahirkan gerakan agama yang radikal,

2

ortodoks dan konservatif adalah pertanyaan yang menarik untuk dikaji lebih lanjut. Yang jelas, era keterbukaan dan
reformasi dalam tata kehidupan negara dan masyarakat telah membuka peluang semua bentuk garakan sosial dan
keagamaan. Berbagai gerakan seperti Front Pembela Islam, Majelis Mujahidin, dan Hizbut Tahrir, untuk menyebut
beberapa contoh, tumbuh dan berkembang dengan pesat pasca runtuhnya rezim otoriter Orde Baru. Disamping sebagai
sebuah gerakan, mereka juga memiliki sarana komunikasi dan media guna mensosialisasikan agenda mereka.[5] Begitu

pula penerbitan-penerbitan yang berafiliasi dengan garakan keagamaan atau lembaga pendidikan agama tertentu juga
muncul dengan pesat, seperti Hidayatullah, Suara Hidayatullah, dan Sabili. Pangsa pasarnya juga tidak kalah dengan
media nasional dan professional yang tidak berorientasi keagamaan. Dengan mudah misalnya masyarakat bisa
mendapatkan wacana keislaman yang sangat beragam, mulai dari yang tradisionalis, modernis, skripturalis,
propagandis maupun puritanis.[6]

Meski tidak serta-merta media dan penerbitan organisasi sosial keagamaan bersifat konservatif, namun
menyangkut persoalan tertentu, semisal Ahmadiyah, tidak ditemukan perbedaan wacana keagamaan yang signifikan
dan hampir semuanyanya menunjukkan identitas ideologi keagamaan yang konservatif. Yang terjadi kemudian adalah
semacam kensensus yang mengecam kelompok minoritas Islam tersebut dan menstigmatisasikan sebagai sesat,
melanggar akidah atau bahkan menodai keyakinan Islam. Akibatnya, tidak ada pembelaan atas Ahmadiyah, termasuk
dari negara karena keengganannya berhadap-hadap-an dengan mayoritas umat Islam. Dalam sebuah petisi yang
diajukan oleh perwakilan ormas Islam, termasuk di dalamnya NU, Muhammadiyah dan MUI, tentang rencana
amandemen UU Penodaan Agama tahun 1965 yang mereka tolak, salah seorang perwakilan menjelaskan posisi
mayoritas umat Islam mengenai Ahmadiyah. Dalam sebuah wawancara dengan media cetak nasional, dia mengatakan:
“Undang-undang Penodaan Agama masih diperlukan oleh masyarakat. Ada empat alasan. Pertama, secara sosiologis,
aturan hukum ini terbukti menciptakan perdamaian dalam masyarakat Indonesia dalam menjalankan kepercayannya.
Kedua, secara konstitusional, aturan hukum ini tidak bertentangan dengan UUD 1945 karena menjamin kebebasan
beragama. Ketiga, secara filosofis, kami di Muhammadiyah menafsirkan kebebasan beragama sebagai kebebasan yang
terbatas, sebab tanpa batas kebebasan beragama bisa mengganggu kebebasan beragama pihak lain. Keempat, secara

teologis, umat Islam berhak menjaga keyakinannya seperti yang diajarkan dalam al-Qur’an dan Sunnah Nabi. Misalnya,
Islam mengajarkan bahwa Nabi terakhir adalah Nabi Muhammad. Akan tetapi jika ada kelompok yang mengklaim
memiliki nabi setelah Nabi Muhammad, maka kami perlu melindungi keyakinan mayoritas yang sudah mapan ini
sehingga tidak terganggu. Oleh karena itu, jika UU Penodaan Agama dicabut, maka kami tidak memiliki landasan
hukum yang bisa dipakai untuk menghindari kepanikan sosial.”[7]

Konsensus sikap mayoritas ormas Islam atas Ahmadiyah membuktikan bahwa konservatisme bisa menimpa
semua ormas keagamaan meski sebenarnya mereka juga memiliki perbedaan-perbedaan ideologi dan orientasi
keagamaan yang cukup mendasar, bahkan bisa saling bertentangan dalam menyikapi isu tertentu. Meskipun
belakangan NU mengeluarkan statemen Ahmadiyah masih bagian dari Islam tapi bukan Ahlussunah wal Jamaah—

3

sehingga memperlunak sikap terhadap Ahmadiyah yang banyak diposisikan sebagai keluar dari Islam—namun statemen
ini sepertinya terlambat karena baru keluar setelah rangkain kekerasan yang menimpa Jamaah Ahmadiyah. Sikap
konservatif umumnya terjadi ketika menghadapi isu-isu akidah atau keyakinan, sedang dalam isu lainnya menyangkut
penegakan hukum, pemberantasan korupsi atau terorisme sikap sebagian ormas Islam bisa dikategorikan kritis.[8]
Disamping majalah atau tabloid kegamaan, tidak kalah pentingya untuk disebut di sini adalah konservatisme media
dalam skala yang lebih kecil dan lokal, namun mampu menyuarakan visi agama jauh lebih nyaring, seperti sirkulasi
pamphlet atau bacaan ringan di masjid-masjid setiap hari Jum’at semisal al-Hujjah.[9]Dengan tanpa dipungut biaya

alias gratis dan ditulis dengan jumlah halaman yang pendek, yaitu empat (4) halaman, maka bulletin dakwah semacam
ini akan menjadi bacaan ringan, pendek dan menyampaikan ide-idenya secara to the point. Dengan jargon utama
sebagai jalan “Menuju Islam Hakiki” media ini menawarkan perspektif yang jelas-jelas menyuarakan Islam yang sesuai
dengan Al-Qur’an dan Sunnah, sebagaimana yang mereka pahami. Dengan diperkuat oleh kutipan teks suci al-Qur’an
dan hadis, argumen yang dibangun dalam setiap edisi sangat sederhana, mudah diserap dan
tidakcomplicated sehingga memudahkan penyampaian pesan kepada pembaca. Tidak heran, dalam waktu singkat
bulletin dakwah cepat habis dikonsumsi oleh jamaah.

Konservatisme agama bisa juga ditemukan dalam media “nasional” yang tidak berafiliasi dengan kelompok
maupun gerakan agama tertentu. Rubrik dan program-program yang mereka tawarkan tidak terkait hanya dengan
persoalan agama semata-mata, akan tetapi bervariasi. Meski begitu, bukan secara otomatis media nasional terbebas
dari persoalan konservatisme karena dalam berbagai kesempatan seringkali lebih mengakomodir wacana keagamaan
kelompok mayoritas yang hegemonik. Dalam program keagamaan atau pengajian di stasiun-stasiun televisi swasta
misalnya, sering ada penjelasn da’i atau ustadz yang masih bias jender atau terang-terangan menyebut kelompok
minoritas tertentu sesat. Namun perlu dicatat bahwa media-media nasional dalam jumlah yang terbatas juga memiliki
konsen atas persoalan agama dengan mempromosikan pemikiran keagamaan yang kritis dan progresif. Misalnya Jawa
Pos pernah bekerja sama dengan Kajian Islam Utan Kayu mengasuh rubrik Islam Liberal. Majalah Tempo yang
menyediakan rubrik keislaman yang diasuh oleh Cak Nur.[10] Di Jawa Tengah, harian Suara Merdeka memberi ruang
dialog bagi pembacanya menyangkut persoalan-persoalan hukum Islam kontemporer yang diasuh oleh KH. Sahal
Mahfudz.[11]


Meski demikian, sikap konservatif bisa muncul di kalangan audien ketika merespon sajian informasi atau
berita yang disuguhkan oleh media massa nasional and professional. Bukan berarti media-media tersebut memberi
peluang dalam rubric atau program keagamaan secara khusus bagi kelompok konservatif, akan tetapi liputan media
tentang isu tertentu bisa menimbulkan penafsiran yang boleh jadi beragam dari audiennya, mulai yang progressif
sampai yang konservatif, bahkan militant. Hal ini sangat mungkin karena ada proses dialogis antara teks (bacaan,
liputan, gambar, video) dengan audien (pembaca atau pemirsa). Teks yang sama bisa menimbulkan pemahaman dan
memantik feeling yang berbeda antara satu audien dengan audien yang lain. Dalam bahasa Hoover dan Lunday, “the

4

media can also be seen to be providing raw material for the intended and unintended constructions of religious
meanings among people in various context…Thus the media open up to religion both in the symbolic production
process—that is, in the symbols provided in media texts—and in the consumption and interpretation
processes”.[12] Jadi, infromasi dari media memberi peluang bagi perbedaan penyerapan pemahaman dan pemaknaan
bagi penerima. Inilah yang disebut sebagai teori “liminalitas”[13] antara teks and penerima pesan teks tersebut.
Jika mengikuti teori “liminalitas” dalam penyerapan teks media massa maka sikap konservatif bisa saja timbul dalam
pikiran pemirsa ketika melihat media elektronik menyiarkan secara langsung dan mem blow up peristiwa terorisme atau
bentuk kekerasan agama lainnya. Teori ini menegaskan bahwa film atau bentuk media lain akan menciptakan kondisi
liminalitas dimana penerima pesan (pemirsa/pembaca) akan tercerabut dari latarbelakangnya dan kemudian mengalami

transformasi diri.[14] Meski transformasi itu tidak mesti negatif, akan tetapi dalam konteks tertentu bisa bersifat
negatif. Misalnya, dengan publikasi yang berlebihan atas terorisme, para pelakunya bisa diuntungkan karena menjadi
terkenal dan aksi mereka telah dipertontonkan kepada khalayak secara lebih luas. Dus dengan begitu tujuan untuk
menciptakan pesan terror in the mind, menciptakan rasa takut dan ngeri dalam hati dan pikiran telah berhasil. Dan
pemberitaan tentang terorisme yang seringkali terjadi secara berlebihan dan cenderung mengekspose pelaku terror
justru bisa memunculkan simpati atau bahkan pujian di kalangan kelompok garis keras lainnya.

Pernyataan di atas masih berupa hipotesis yang perlu diuji kebenarannya melalui penelitian empiris. Namun,
penulis berasumsi bahwa sikap simpati dan empati kepada pelaku terror bukan hal yang tidak mungkin. Terbukti, sejak
terror Bom Bali I tahun 2002, terror bom serupa terus saja terjadi merata hampir di seluruh wilayah Nusantara.
Tindakan terorisme itu sendiri justru intensitasnya tidak berkurang, tapi malah meningkat dan dijalankan melalui
modus teror yang lebih kreatif, mulai teror bom buku, menakut-nakuti dengan mengirim bungkusan yang
mencurigakan, sampai membuat ancaman bom lewat telepon. Tayangan terorisme disamping dimaksudkan untuk
memojokkan pelaku, pada faktanya bisa pula menginspirasi pihak lain untuk meniru dan bersimpati. Dus, tayangan
tersebut sama juga artinya dengan menabur benih konservatisme. Contoh lainnya adalah yang belum lama ini terjadi di
Amerika. Seseorang pensiunan sangat kecewa dengan lembaga perpajakan negara karena dia anggap telah
membuatnya miskin dengan membebani pajak yang sangat tinggi. Kecewa dengan itu, dia lalu memakai pesawat udara
kecil menyerang gedung State Revenues di Texas, sebuah adegan mirip pola serangan 11 September. Meski banyak
teroris yang dikecam, dikutuk dan bahkan jasadnya ditolak dimakamkan di suatu tempat, Osama bin Laden yang
setelah serangan 11 September justru dianggap sebagai pahlawan oleh pengikutnya atau setidaknya tidak sedikit umat

Islam yang bersimpati kepadanya. Begitu pula, ketika jasad teroris Nurdin M. Top dibawa pulang ke kampung
halamannya di Malaysia, dia sholatkan dan dimakamkan oleh massa seperti biasa.

5

Membangun Jurnalisme Kritis

Ada dua hal menarik yang ingin dikemukakan setelah membedah realitas konservatisme di media
massa.Pertama, melihat kondisi yang demikian, dimana hampir semua media massa bisa dijangkiti oleh koservatisme
agama, baik langsung maupun tidak langsung, maka perlu digagas media yang mampu membendung arus tersebut.
Lebih tepatnya lagi, perlu diproyeksikan media kritis sebagai counter discourse konservatisme di media massa. Media
ini berfungsi secara spesifik sebagai kritik dan antithesis atas konservatisme di media lainnya. Salah satu alternative
media kritis adalah jurnalisme mahasiswa. Menurut Robert W. Hefner, keberhasilan proyek demokratisasi dan gerakan
civil society di negara-negara Muslim tidak lepas dari potensi internal atau social capital yang diberdayakan dalam
masyarakat setempat.[15] Diantara potensi itu adalah bahwa politik Islam secara kultural beragam dan munculnya kelas
sosial Muslim terdidik yang menawarkan pandangan yang menyatukan atau mendialogkan Islam dengan isu pluralisme
dan demokrasi.[16] Mahasiswa bisa dikategorikan sebagai kelas sosial terdidik dalam pernyataan Hefner. Selain itu ada
beberapa alasan mengapa mahasiswa dan aktivitasnya termasuk jurnalisme kampus berpotensi memainkan peran
strategis ini. Pertama, mahasiswa identik dengan dunia idialisme yang relatif independen. Independensi merupakan
harga mahal yang secara substansial membedakan satu orang atau lembaga dengan yang lain. Jika mahasiswa mampu

mengelola jurnalisme dengan baik dan mampu menjaga modal independensinya itu, maka mereka akan lebih kebal atas
penetrasi konservatisme karena struktur yang menuntunnya adalah idialisme, bukan struktur dan pola-pola produksi
berita dalam industri media massa.[17]

Kedua, jurnalisme kampus yang digawangi mahasiswa lebih berpeluang melakukan analisis data yang hendak
dipublikasikan dalam kerangka akademis dan kritis secara lebih akurat dan terarah. Suasana kampus, perpustakaan,
kecukupan referensi disertai dengan komunikasi yang intensif dengan para dosen pembina memungkinkan kemasan
informasi media kampus lebih berbobot dan analitik. Ketiga, pers kampus biasanya tidak terbit harian, akan tetapi
berkala, baik mingguan, bulanan atau kwarter. Ketersediaan waktu yang cukup bagi sebuah penerbitan memungkinkan
pemilihan berita dan pengangkatan isu-isu aktual dengan kupasan yang lebih mendetail. Berbeda dengan media harian
yang bekerja berkejaran dengan waktu karena tuntutan terbit setiap hari. Inilah modal awal yang sangat potensial bagi
penciptaan dan peningkatan kwalitas pers kampus sebagai pers yang kritis. Jurnalisme mahasiswa, dengan begitu, akan
menjadi salah satu alternative penguatan gerakan civil society yang mempromosikan nilai-nilai hak asasi manusia,
kesetaraan jender, demokrasi dan toleransi beragama yang boleh jadi belum tergarap secara maksimal dalam media
nasional dan professional lainnya, atau bahkan bisa jadi absent sama sekali dalam media-media konservatif.

Kedua, menegaskan pandangan kritis studi media massa bahwa realitas dalam media adalah hasil konstruksi dan
kreasi, bukan realitas obyektif. Dengan kata lain tidak ada realitas obyektif dalam media karena data telah diolah dan
disajikan kembali sehingga ada proses reduksi, penyempitan, penambahan dan seterusnya. Apa yang dipotret, ditulis,
dibaca oleh reporter adalah hasil rekaman atas realitas. Istilah obyektif yang mungkin lebih obyektif, bukan obyektif

murni atau sepenuhnya obyektif, untuk isi berita dan informasi media barangkali sebatas pada kronologi sebuah

6

peristiwa terutama jika ada bukti rekamannnya.

Akan tetapi, disamping itu pula, obyektifitas dalam menyampaikan

berita juga tidak selamanya berdampak positif bagi audien karena jika semua informasi diekspose apa adanya, maka
bisa memicu konflik. Atau juga tayangan yang eksesif atau berlebihan dalam rangka untuk menegaskan ke-akuratan
suatu peristiwa—dus dengan demikian ke-obyektifan-nya— bisa pula menyulut emosi, simpati dan kecaman. Artinya
banyak efek yang muncul dengan ekposes seperti itu baik yang negatif atau positif. Media yang kritis bukanlah media
yang obyektif, akan tetapi yang berpihak kepada keadilan dan membela yang terpinggirkan. Oleh karena itu, jika ingin
membangun media yang kritis, maka harus ada keberpihakan. Perlu ada politik keberpihakan sebagai paradigm kerja
media kritis dan jurnalisme mahasiswa/kampus. Tanpa itu, maka impian pers kritis mahasiswa adalah utopis.
Eriyanto berhasil memetakan dengan sangat baik perbedaan antara cara pandang pluralis/empiris (penulis cenderung
memakai istilah positivistik) dengan cara pandang kritis dalam studi media. Dalam memahami fakta, misalnya,
kelompok pertama menyebut bahwa ada fakta yang berjalan menurut hukum dan alurnya sendiri yang berlaku
universal. Sementara kelompok kritis melihat fakta sebagi konstruksi hasil pertarungan antara berbagai kekuatan, baik
ekonomi, politik dan sosial dalam masyarakat.[18] Bagi pendukung perspektif positivistik, media itu bebas dan netral,
sementara bagi perspektif kritis media adalah kepanjangan kepentingan kelompok dominan.[19] Sementara nilai
ideologi wartawan oleh perspektif positivistik harus dilepas dalam proses produksi berita, ideologi mereka tidak bisa
dipisakan dalam proses peliputan berita dalam kacamata kritis. Tidak mengherankan jika persepektif kritis melihat hasil
liputan berita selalu mencerminkan ideologi dan sarat dengan kepentingan sosial politik, sementara dalam kacamata
positivistik dianggap netral dan obyektif.[20] Pemetaan di atas bisa menjadi pijakan dalam memahami media massa
secara lebih komprehensif. Berdasarkan urian dalam bahasan arus konservatisme sebelumnya, tampak sekali bahwa isi
berita adalah cermin ideologi dan kepentingan media yang bersangkutan. Yang menjadi persoalan adalah apakah
kepentingan tersebut bersifat destruktif atau konstruktif, luas atau sempit, untuk kelompoknya sendiri, penguasa atau
kemanusiaan yang luas.

Lalu bagaimana kritisisme pers mahasiswa itu diwujudkan? Apa langkah-langkahnya dan persepktif apa yang
harus diadopsi? Setidaknya ada tiga hal yang bisa dilakukan, yaitu desakralisasi, kontekstualisasi dan reinterpretasi
agama. Fakta, realitas, ataupun informasi menyangkut persoalan agama yang hendak dikemas dalam pers mahasiswa
harus melewati tiga, atau salah satu dari, proses-proses tersebut jika ingin kritis. Dengan filter tersebut, maka pers
mahasiswa akan berperan banyak dalam mengkonstruk dan mensajikan data keagamaan secara kritis. Desakralisasi
bukan dimaksudkan untuk memandang agama sebagai bukan sakral, akan tetapi melihat doktrin, pemikiran atau
lembaga-lembaga agama sebagai bagian dari sejarah. Yang sering terjadi dalam mindsetpemikiran penganut agama
adalah bahwa agama beserta semua aspeknya adalah sakral, tidak boleh diubah dan harus diterima seperti apa adanya
tanpa syarat. Ada pula yang memandang pemikiran agama sebagai agama itu sendiri, sehingga sulit membedakan
mana yang asal dan mana yang hasil pemikiran. Akibatnya, jika ada kritik dan penolakan atas pemikiran atau lembaga
agama dianggap sama dengan menolak agama. Dalam contohnya yang riil dalam tradisi masyarakat Islam adalah
penyamaan fiqh dengan hukum Tuhan. Menolak fiqh dipandang sama artinya dengan menolak hukum Tuhan. Padahal

7

menolak fiqh bisa berarti menerima fiqh dari mazhab lain. Padahal fiqh juga adalah hasil ijtihad ahli hukum Islam dalam
menggali hukum dari nash atau dalil-dalil al-Qur’an dan hadis, sehingga menolak hasil ijtihad mereka sama sekali
tidak identik dengan menolak hukum Tuhan. Di sinilah perlunya studi komparatif karena selain memperkaya wawasan
juga membantu melihat aspek relativisme sebuah doktrin atau pemikiran. Studi komparasi hukum Islam misalnya akan
membantu mengurangi fanatisme dan taklid buta. Telaah sejarah dan studi komparatif menjadi prasyarat desakralisasi
(pemikiran dan institusi) agama.

Sebagai contoh, strategi desakralisasi sangat tepat diterapkan untuk membendung konservatisme atau bahkan
radikalisme Islam politik yang masih setia mengusung isu khilafah. Dalam pandangan para pendukungnya, seperti
Hizbut Tahrir, khilafah dianggap sebagai tipe ideal sistem politik Islam yang harus diperjuangkan umat Islam. Menurut
mereka, khilafah mampu menyatukan umat Islam dalam satu komunitas global tanpa batas yang tunduk di bawah satu
komando khalifah. Gagasan seperti ini secara realistis jelas sekali absurd dan utopis karena munculnya konsep negarabangsa tidak memungkinkan lagi terciptanya tatanan masyarakat tanpa negara. Belum lagi menyangkut siapa yang
harus dipilih menjadi khalifah dan apakah mungkin atau bagaimana meyakinkan Sunni dan Syi’i untuk mau bersepakat
memilih satu pemimpin. Lagi pula sistem khilafah adalah kreasi sejarah pasca meninggalnya Nabi.[21]Jika ditilik lebih
mendalam lagi, maka khilafa tidak mencerminkan kesatuan dan keseragaman. Pola suksesi dari Nabi ke Khalifah Abu
Bakar, kemudian ke Umar, terus Usman dan Ali semua menunjukkan pola yang berbeda-beda. Lebih berbeda lagi ketika
memasuki era setelahnya, yaitu dinasti Bani Umayyah dan seterusnya dimana kepemimpinan tertinggi umat Islam tidak
dipilih secara terbuka melainkan melalui jalur geneologi yang tidak jarang menimbulkan perang saudara dan perebutan
kekuasaan. Pendeknya advokasi khilafah lebih merupakan bentuk glorifikasi dan sakralisasi masa lalu. Menyebut
khilafah sebagai sistem politik Islam adalah berlebihan karena Islam tidak berorientasi kepada penciptaan sistem sebab
sistem itu tidak abadi dan lekang oleh waktu. Islam lebih berorientasi pada nilai-nilai seperti keadilan dalam bernegara
sebab nilai lebih bersifat universal dan abadi. Soal bagaimana sebuah negara bisa merealisasikan keadilan adalah
persoalan teknis menyangkut sebuah sistem politik dan tata negara yang menjadi wilayah ijtihad manusia dan
karenanya tidak dijelaskan secara rinci dalam Islam karena sistem dan tata negara tersebut bisa berubah dan berbeda
dalam waktu dan konteks yang berlainan.

Strategi selanjutnya adalah kontekstualisasi agama yang dimaksudkan sebagai sebuah upaya yang secara
sadar dan realistis melihat latar sejarah dan sosial sebagai faktor penting dalam membentuk wacana dan praktik
keagamaan. Ketika agama hadir atau diperkenalkan di wilayah baru di luar konteks dimana agama itu hadir untuk
pertama kalinya di wilayah asalnya, maka agama akan berkenalan dengan berbagai unsur lokal. Dialektika agama
dengan lokalitas inilah yang kemudian melahirkan corak agama lokal. [22]Agama lokal bukan berarti terpisah sama
sekali dengan agama asal, akan tetapi telah mengalami konvergensi. Dengan semangat ini, maka tidak ada alasan
untuk menolak varian Islam lokal, Islam regional ataupun Islam Nusantara, karena Islam bisa terwujud dalam praktek
dan lembaga kesejarahan yang berbeda antara satu dengan yang lain. Memaksakan corak Islam versi Saudi Arabia

8

dengan semangat puritanisme di Nusantara, seperti yang diadvokasikan oleh Muslim salafi dan neo-salafi, sama artinya
dengan mengingkari sejarah dialektika penerimaan Islam di Indonesia. Jika konteks dipahami secara baik, maka tidak
ada alasan untuk memaksakan Islam a la Arab Saudi ke Indonesia. Masih banyak agenda gerakan Islam di tanah air
yang berhasrat untuk meng-Arabkan Islam Nusantara dengan dalih Islam Arab lebih murni daripada Islam non-Arab.
Padahal jika disingkap lebih jauh, Islam di Saudi Arabia ternyata warna-warni, sebab ada berbagai kelompok dan
mazhab hukum dan teologi yang hidup dan diakui. Hanya Islam versi penguasa Arab Saudi sajalah yang selama ini
berusaha disebarkan oelah gerakan salafi ke negara-negara Muslim lainnya. Dengan begitu, agenda gerakan salafi lebih
bermuatan politis daripada teologis, sebab hanya memilih madzab negara saja.

Usaha untuk mengkontekstualisasikan Islam dengan keindonesiaan bukanlah isu baru karena sudah menjadi
agenda besar para tokoh Islam Indonesia. Gagasan tentang perlunya warna Islam yang lebih membumi mendorong Gus
Dur melontarkan istilah “pribumisasi Islam” karena dianggap Islam masih bukan seperti anak pribumi, tapi “peranakan
asing”. Begitu pula dengan Hasbi As-Siddiqi yang resah dengan corak hukum Islam yang berlaku di masyarakat
Indonesia karena masih kental dengan nuansa Arabnya. Pemikirannya kemudian dituangkan dalam buku dengan
judulFiqh Indonesia.[23] Munawir Sadzali, mantan Menteri Agama tiga periode masa Orde Baru, ikut meramaikan
diskursus Islam keindonesiaan dengan mendorong upaya “reaktualisasi” karena banyak ketentuan hukum Islam yang
tidak lagi ditaati secara praktikal namun masih dipertahankan secara ideal. Akibatnya, ada ambiguitas resepsi hukum
Islam. Dia menganjurkan bagian anak perempuan sama dengan anak laki-laki dalam memperoleh harta warisan.
Pendapatnya didorong oleh kenyataan banyak masyarakat Muslim yang menyelesaikan perkara pembagian warisan ke
pengadilan negeri karena hukum yang dipakai adalah persamaan bagian anak laki-laki dan perempuan. Di samping itu
banyak pula masyarakat yang membagi harta warisan secara sama rata untuk anak-anak mereka sebelum meninggal
dunia. Praktik-praktis semacam ini tentu berbeda dengan ketentuan normative faraidl.

Terobosan penting lainnya misalnya dilakukan oleh kalangan ulama seperti KH. Sahal Mahfudz dan KH. Ali
Yafie yang mengintroduksi konsep “Fikih Sosial”, yakni fikih sebagi etika dan nilai sosial dan bukan sebagai doktrin
hukum yang kaku. Pola bermazdhab juga dirombak, dari mengikuti pendapat (bil qaul) beralih mengikuti ke metodologi
(bil manhaj).[24] Hazairin, tokoh hukum nasional menawarkan model kewarisan bilateral sebagai penengah antara
hukum waris Islam yang condong patrilineal.[25] Dengan konsep hukum waris bilateral, maka tradisi lokal
seperti gono-gini (harta bersama yang diperoleh selama masa perkawinan) yang tidak dikenal dalam fikih klasik bisa
diadopsi dalam hukum Islam Indonesia, yakni dalam Kompilasi Hukum Islam. Dengan melihat konteksnya agama, maka
berbagai tafsir yang kaya dan progressif akan berkembang sehingga (pemahaman) agama tidak kaku, tapi adaptif dan
fleksibel. Pers mahasiswa bisa mengadopsi berbagai perspektif di atas ketika mengulas dan menyajikan isu-isu
keagamaan.

9

Yang terakhir adalah reinterpretasi. Reinterpretasi berangkat dari tradisi dan teks sendiri namun dengan
pemaknaan ulang. Strategi reinterpretasi dipakai guna menghindari tuduhan non-orginal atas gagasan yang hendak
dipromosikan. Banyak agenda besar reformasi agama yang kandas karena dalam pelaksanannya meminjam konsep dari
luar tradisi agama yang bersangkutan sehingga muncul tuduhan sebagai kaki tangan pihak asing atau mengimpor
gagasan luar. Problem semacam ini bisa diatasi dengan cara memperdayakan potensi internal sembari menafsirkan
ulang guna menemukan maknanya yang lebih aktual dan relevan. Strategi sebagian kalangan aktivis Islam untuk
meninggalkan menggunakan kata “gender” ketika berbicara tentang kesetaraan pria dan wanita menunjukkan adanya
resistensi yang tinggi dengan istilah-istilah yang kurang familiar. Dengan memakai istilah “fikih perempuan”, maka ideide seputar gender bisa disosialisasikan dalam bahasa yang mudah diterima.

Reinterpretasi adalah keniscayaan dan tidak terelakkan. Pertama selain karena ada doktrin agama yang tidak
lagi relevan, perbedaan pendapat acapkali muncul dalam menyikapi suatu persoalan, baik itu ada dasarnya secara
kongkrit atau, apalagi jika, samar-samar atau bahkan tidak ada. Di sini akan dikemukanakn beberapa argument dan
contoh kasus yang menunjukkan bahwa re-interpretasi tidak bisa ditolak dalam pemikiran dan praktik Islam. Di dalam
al-Qur’an ada ayat-ayat tentang budak dan pembagain harta rampasan perang. Ayat-ayatnya cukup banyak dan jelas.
Akan tetapi jika ayat-ayat tersebut dimaknai apa adanya tanpa ada penafsiran baru atau reinterpretasi maka sulit
menjelaskan nilai dan relevansitas mereka. Dalam zaman kontemporer sekarang, persoalan perang dan pembagian
rampasan perang dari negara yang kalah telah diatur dalam konvensi internasioanl. Tidak ada lagi perang dimana pihak
yang menang secara manual akan membagi-bagikan hasil rampapsannya kepada pasukannya dengan ketentuan
seperlima untuk Tuhan (agama). Begitu pula dengan ayat-ayat budak. Apakah sekarang masih ada institusi perbudakan
seperti pada masa lalu dimana seorang manusia dihargai separo dengan manusia lainnya. Semua manusia menurut
UDHR 1948 adalah merdeka dengan hak-hak fundamental yang melekat pada dirinya dan semua orang diperlakukan
sama di depan hukum. Institusi perbudakan telah berakhir sejak lama, lalu apakah ayat-ayat tentang budak juga
berakhir masa berlakunya? Tanpa reinterpretasi, jelas ayat-ayat tersebut telah kehilangan relevansitasnya.
Ada preseden menarik yang terjadi ketika Ali bin Abi Thalib merespon sikap kelompok Khawarij yang bersikeras agar
semua keputusan hukum dikembalikan kepada hukum Allah dengan tanpa perlu penafsiran. Dalam satu kesempatan
orang Khawarij mengatakan bahwa Ali telah memutus perkara dengan mengikuti keputusan manusia, padahal hukum
milik Allah semata. Mendengar itu, lalu Ali mengumpulkan orang-orang dan mengangkat al-Qur’an serta berseru: “Hai
al-Qur’an bicaralah kepada manusia”.[26] Orang-orangpun kemudian mengerumuni Ali dan berseru: “Apa! Ali apakah
anda mengolok-olok atau bergurau kepada kami? Dia (al-Qur’an) tidak lain adalah kertas dan tinta dan adalah kita
yang berbicara atas-nya”. Sampai di sini Ali mengatakan: “Al-Qur’an ditulis dalam baris yang lurus diantara lembaran.
Dia tidak bisa bicara sendiri. Dia butuh penafsir dan penafsir adalah manusia”.[27]Dialog ini menggambarkan bahwa
meski merujuk kepada al-Qur’an bukan berarti menghindari tafsir dan penafsiran ulang atas teks suci tersebut. Sebab
teks suci adalah benda tak bergerak dan tidak bisa berbicara sendiri dan manusialah melalui penafsiran yang membuat

10

al-Qur’an itu berbunyi dan memiliki pengertian ini dan itu.

Preseden di atas juga mengisyaratkan bahwa jargon kembali kepada al-Quran dan hadis yang didengungkan
oleh kelompok konservatif dan puritanis menjadi rancu karena ketika kembali ke al-Qur’an pun umat Islam masih akan
melakukan pembacaan dan penafsiran ulang dan sebagai akibatnya perbedaan pendapat (ikhtilaf) tidak bisa dihindari.
Satu contoh lain yang memperkuat keniscayaan interpretasi dan pembacaan ulang adalah perbedaan pendapat fuqaha
dalam memahai ayat tentang wasiat. Dalam al-Qur’an Surat al-Baqarah (2: 128) disebutkan perintah kapada orangorang yang telah mendekati ajal dan mempunyai peninggalan untuk berwasiat kepada keluarga dan kerabat. Persoalan
yang muncul terletak pada dua poin, yaitu status “perintah berwasiat” dan cakupan makna “kerabat”. Meski ayat ini
memakai kata “kutiba” yang artinya diwajibkan, seperti penggunaan kata yang sama untuk perintah berpuasa, akan
tetapi para ulama berbeda pendapat. Ada yang mengatakan wajib ada pula yang sunnah. Kata “kerabat” juga diartikan
secara beragam oleh para ulama; ada yang mengartikan keluarga dari jalur ayah, bukan garis ibu, keluarga paling dekat
baik dari ayah atau ibu, dan anak yang ditinggal mati oleh orang tuanya yang masih punya orang tua
(kakek/nenek).[28] Fakta ini mestinya lebih menyadarkan dan membuat kita lebih realistis bahwa tanpa penafsiran dan
pembacaan ulang, mungkin pesan-pesan moral dan kosmopolitan Islam akan lenyap terkurung di balik struktur dan
gramatika kebahasaan yang dimiliknya.

Sebuah Agenda: Memotret Kehidupan Agama Keseharian dari Bawah

Ada banyak agenda yang bisa dilakukan oleh lembaga penerbitan kampus dan pers mahasiswa dalam
mengadvokasikan toleransi beragama, demokratisasi, kesamaan jender dan hak asasi manusia. Agendanya bisa dimulai
dengan pemuatan berita dan informasi hal-hal kecil yang selama ini belum terekspos akan tetapi memberikan inspirasi
yang tinggi bagi kehidupan agama yang harmonis. Yang belum banyak diungkap dalam media adalah potret kehidupan
beragama yang toleran dalam konteks lokalitas masyarakat. Seperti kegiatan keagamaan seperti tahlilan dan
pembacaan Surat Yasin di kompleks perumahan yang terkadang diikuti bukan saja oleh umat Islam, akan tetapi umat
lain semata karena mereka bertetangga. Potret semacam ini berpeluang mendorong terciptanya tata kehidupan yang
damai dan saling menghargai meski tetap berada dalam perbedaan. Narasi keseharian dari kehidupan warga biasa tapi
penuh prestasi misalnya bisa menjadi alat ampuh melawan dominasi narasi sejarah yang dijejali oleh kehidupan orang
besar, elit, berjenis kelamin dan jender laki-laki, seperti kritik sejarawan feminis.

Saatnya sejarah ditulis ulang dengan lebih banyak lagi merepresentasikan orang-orang atau aktor-aktor local
seperti perempuan, petani, pegiat seni dan musik dan seterusnya yang selama ini dimarjinalkan dalam mainstream
historiografi. Dalam konteks Lombok, sosok pekerja migrant perlu sesekali diliput beserta problematika yang
menggelayutinya mulai dari persoalan gaji, kekerasan fisik dan seksual sampai anak-anak yang dikandung sepulang
bekerja, terutama dari Timur Tengah. Beban kerja dan hidup perempuan single parent sebagai perajin tenun songket

11

Lombok Tengah yang semakin terpuruk usaha bisnisnya pasca Bom Bali bisa pula diangkat sebagai figure korban tidak
langsung terorisme; bahwa membunuh satu orang secara tidak adil dan tidak berdasar sama artinya dengan membunuh
dan menyusahkan banyak orang. Begitu pula, kegigihan perempuan single parent kepala keluarga yang tergabung
dalam kelompok Perempuan Kepala Keluarga (Pekka) yang dengan gigih berjuang mendapatkan keadilan jender perlu
diakomodasi dalam pers kampus. Nasib jamaah Ahmadiyah yang hidup terasing seperti dalam cosentration camps dan
terpenjara di negerinya sendiri.

Inilah sebagian agenda dan tema-tema yang bisa dilakoni dan digarap oleh pers kampus, sehingga jurnalisme
mahasiswa mampu menyuguhkan alternatif informasi yang berbeda, menarik dan kritis. Semoga bermanfaat!

**Dosen Fakultas Syariah IAIN Mataram yang sedang menyelesaikan studi S3 bidang agama di Universitas
Emory, Atlanta, AS. Makalah disampaikan dalam Seminar “Konservatisme Agama di Media Massa”, yang diselenggarakan
oleh LPM Ro’yuna, PPMI Mataram dan SEJUK Jakarta, Jumat 1 Juli 2011 di Auditorium IAIN Mataram.

12