PERBANDINGAN SISTEM PENDIDIKAN CIVICS ED

PERBANDINGAN SISTEM PENDIDIKAN (CIVICS EDUCATION)
BELANDA DAN JEPANG
Profil Belanda
Keadaan Alam
Sebagian besar wilayah negeri Belanda terdiri atas dataran rendah.
Daerah bagian tenggara negeri Belanda merupakan tanah turun (depresi
kontinental). Bagian daratan yang terendah adalah Alexander Pol.der (6 meter di
bawah permukaan laut). Letaknya di sebelah timur Rotterdam. Bagian daratan
yang tertinggi merupakan kaki Pegunungan Leisteen dengan puncaknya
Vaalserburg (± 321 m).
Beberapa sungai penting di negeri Belanda adalah Sungai Rijn, Sungai
Mass. dan Sungai Schelde. Di bagian utara negeri Belanda terdapat teluk yang
menjulur agak ke dalam yang disebut Zuiderzee. Kini teluk itu dipisahkan oleh
laut utara. Bentuk teluk itu berupa bendungan yang disebut Yosel. Di daerah
Belanda banyak terdapat bukit pasir yang terjadi karena pasir laut yang ditiup
angin dari laut.
Negeri Belanda beriklim laut. Akibat pengaruh arus teluk menjadikan
temperatur tahunan naik setinggi 10°C. Pada bulan Januari suhu udara4 turun
hingga 1°C. Pada bulan Juli (musim panas) suhu udara mencapai 19°C. Di negeri
Belanda hujan terjadi sepanjang tahun. Pada musim dingin hujan salju sering
turun.
Budaya
Negeri Belanda termasuk negara maju dalam bidang ilmu pengetahuan,
teknologi, dan seni. Negeri Belanda dikenal karena kemajuannya dalam bidang
filsafat, seni lukis, musik, sastra, sains, dan ekonomi.
Perekonomian
Kegiatan perekonomian negeri Belanda menyangkut bidang-bidang
sebagai berikut.
1) Pertanian

Pertanian Belanda dilaksanakan secara modern dan intensif. Pertanian diusahakan
di daerah bertanah liat antara Sungai Waal dan Sungai Rijn. Hasil pertanian utama
Belanda adalah kentang, gandum, gula bit, sayuran, dan buah-buahan.
2) Peternakan
Peternakan Belanda dilaksanakan secara intensif. Beberapa binatang ternak yang
ada, yaitu ayam. lembu, dan babi. Hasil sampingan peternakan Belanda adalah
keju dan susu.
3) Pertambangan dan Perindustrian
Hal-hal yang berhubungan dengan pertambangan dan perindustrian Belanda
adalah sebani berikut:


Hasil tambang terpenting Belanda adalah batu bara dan minyak bumi.
Tambang batu bara terdapat di daerah sebelah tenggara. Minyak bumi
ditambah di bagian timur laut



Pabrik mentega dalam kaleng dan keju terdapat di Trisland.



Pabrik pesawat terbang Fokker terdapat di Amsterdam.



Industri ractio dan bola lampu listrik terdapat di Eindhoven.



Industri galangan kapal terdapat di Rotterdam dan Amsterdam.



Industri tenun terdapat dl Twent, yaitu Enshede dan Amelo.



Industri mesin dan logam terutama terdapat di bagian barat.



Pabrik tepung terigu, kulit, dan sepatu terdapat di Hortogen.

Penduduk
Pada tahun 1993 jumlah penduduk Negeri Belanda mencapai 15.298.000
jiwa dan merupakan negara terpadat penduduknya di dunia. Kepadatan penduduk
negeri Belanda adalah 375/km2. Daerah terpadat penduduknya adalah Randstad
(Holland Utara), Holland Selatan, dan Utrecht. Sebagian besar penduduk Negeri
Belanda menganut agama Katolik Roma dan sebagian kecil beragama Kristen
Protestan. Bahasa yang digunakan penduduk Belanda adalah bahasa Belanda yang
termasuk keluarga bahasa Jerman dan bahasa Indo Eropa.

Bentuk Pemerintahan
Bentuk pemerintahan negeri Belanda adalah monarki konstitusional.
Kepala negara Belanda dijabat oleh ratu dari keturunan Dinasti Oranje. Kekuasaan
Fksekutif dipegang oleh kabinet. Parlemen negeri Belanda disebut Staaten
Generaal terdiri atas Majelis Rendah (Teede Kamer) dan Majelis Tinggi (Eerste
Kamer). Kedua anggota majelis tersebut dipilih oleh warga negara yang telah
berusia 23 tahun.
KURIKULUM DI NEGARA BELANDA
A. SISTEM PENDIDIKAN
Sistem pendidikan di Belanda sangat berbeda dengan sistem pendidikan
yang dikenal di Asia, Amerika, bahkan di sebagian besar wilayah Eropa. Di Eropa
sendiri, sistem pendidikan ala Belanda hanya dikenal oleh beberapa negara, antara
lain Jerman dan Swedia. Salah satu perbedaan sistem pendidikan di Belanda
adalah penjurusan yang sudah dimulai sejak pendidikan di tingkat dasar dengan
mempertimbangkan

minat

dan kemampuan

akademis

dari

siswa yang

bersangkutan. Secara umum, sistem penjurusan tersebut dapat dikategorikan
sebagai berikut:
1. Pendidikan tingkat dasar dan lanjutan (primary en secondary education)
2. Pendidikan tingkat menengah kejuruan (senior secondary vocational
education and training)
3. Pendidikan tingkat tinggi (higher education)

B.

BASISSCHOOL DAN RAPORT DI BELANDA
Raport siswa di Basisschool memuat 44 butir pendidikan. Banyaknya
items yang harus dinilai oleh Basisschool membuat pihak sekolah betul-betul
dapat mengenali bakat, mentalitas dan budaya para siswanya. Basisschool
bertugas menstimulir bakat, menggembleng mentalitas dan mengembangkan
budaya para siswanya dalam suasana demokratis dan sportif, sehingga tercipta
generasi penerus Belanda yang bukan cuma pandai, tapi juga berakhlak luhur. 44
butir pendidikan di Basisschool adalah:

Bahasa Belanda (11 butir):
1. Teknik membaca
2. Pemahaman teks
3. Entusiasme saat membaca
4. Perbendaharaan kata
5. Teknik mengeja
6.TataBahasa
7. PekerjaanRumah
8.Mengarang
9.Kemampuanberargumentasi
10.Kemahiran mengucap/berbicara
11. Menulis tebal tipis.
Presentasi (4 butir):
12. Referensi Buku
13. Guntingan Koran
14. Bercerita di depan kelas
15. Membuat skripsi kecil
World Orientation (5 butir):
16. Ilmu Bumi
17. Pengetahuan Sumber Daya Alam
18. Ilmu Sejarah
19. Ilmu Alam20. UU Lalu Lintas
Mentalitas Siswa (7 butir):
21. Konsentrasi dalam kelas
22. Kecepatan bekerja
23. Ketelitian bekerja
24. Upaya untuk mencapai prestasi
25. Kemandirian dalam bekerja
26. Kerjasama dengan sesama siswa
27. Penampilan
Ekspresi Siswa (4 butir):
28. Melukis
29. Pekerjaan tangan
30. Musik
31. Sandiwara
Olahraga (2 butir):
32. Permainan
33. Gerak badan
Kelakuan siswa (3 butir):
34. Kelakuan di kelompok sesama siswa

35. Kelakuan di luar kelas sesama siswa
36. Kelakuan terhadap pengajar
Pekerjaan Rumah (2 butir):
37. Belajar sendiri
38. Membuat tugas
Katekese (1 butir):
39. Partisipasi
Berhitung (5 butir):
40. Berhitung umum
41. Berhitung di luar kepala
42. Latihan berhitung
43. Menghitung
44.Penguasaan hitungan
44 butir penilaian yang ada di dalam Raport setiap siswa Basisschool di atas
masih ditambah dua materi ekstra kurikuler, yaitu Berenang dan Bersepeda.
C.

INSTITUSI PENDIDIKAN DI BELANDA
Di Belanda ada 2 macam institusi pendidikan tinggi. Yang pertama adalah
HBO atau hoger beroepsonderwijs, yang terjemahan bebasnya dalam bahasa
Indonesia “pendidikan kejuruan tinggi”, dan WO atau wetenschappelijk
onderwijsyang terjemahan bebasnya dalam bahasa Indonesia “pendidikan sains”.
Sistem pendidikan di Belanda sangat berbeda dengan sistem pendidikan
di Asia, Amerika, bahkan di sebagian besar wilayah Eropa. Adapun beberapa
negara yang menerapkan pendidikan yang hampir sama dengan Belanda adalah
Jerman dan Swedia. Salah satu perbedaan sistem pendidikan di Belanda adalah
penjurusan yang sudah dimulai sejak pendidikan di tingkat dasar dengan
mempertimbangkan minat dan kemampuan akademis siswa yang bersangkutan.
Akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20 di Belanda merupakan masa
mengkristalnya pola pengaruh dan kekuasaan menjadi dua, pertama garis politik
dan kedua garis agama.Pola inilah yang terefleksi dalam kehidupan sosial
masyarakat di Belanda.Kebebasan di bidang pendidikan telah digariskan dalam

Konstitusi Belanda dan ini tergambar dalam sistem pendidikan. Majelis atau
dewan pendidikan (school boards) diizinkan atas hak-hak sebagai berikut:
1. Kebebasan mendirikan, yaitu kebebasan mendirikan sekolah berdasarkan
ideologi atau keperluan masyarakat apa saja : ini berkaitan dengan
kriteria kuantitatif, bukan kualitatif.
2. Kebebasan ideologi, yaitu kebebasan bagi pejabat yang kompoten pada
sekolah yang diasuh oleh denominasi agama untuk menyelenggarakan
pendidikan berdasarkan prinsip penentuan sendiri jenis ideologi yang
dianut.
3. Kebebasan struktur, yaitu kebebasan bagi pejabat yang kompoten untuk
menentukan isi dan metode pendidikan. Kebebasan ini dibatasi oleh
negara dengan memberikan persyaratan-persyaratan kualitatif.
Kesamaan kesempatan berpendidikan, perbaikan kualitas pendidikan,
dan pengembangan tanggung jawab individu dan kewarganegaraan merupakan
tujuan umum politik pendidikan Belanda. Secara lebih khusus, sistem pendidikan
Belanda berusaha mencapai tujuan pendidikan sebagai berikut :
1. Melaksanakan keadilan terhadap berbagai ideology yang terdapat dalam
masyarakat,
2. Meningkatkan persamaan kesempatan belajar bagi berbagai kelompok
masyarakat yang berbeda-beda,
3. Meningkatkan pertukaran kultural,
4. Meningkatkan mobilitas dan integrasi sosial,
5. Mempertahankan dan mengembangkan kemakmuran dan kesejahteraan
masyarakat,
6. Mendidik ahli-ahli dan mengembangkan keahliannya pada level-level
yang berbeda,
7. Meningkatkan demokratisasi dan emansipasi,
8. Meningkatkan desentralisasi administrasi dan manajemen,
9. Meningkatkan inovasi budaya.

Anak-anak

yang

dijadikan

pusat

perhatian,

bukan

lagi

bahan

pelajaran.Bahan pelajaran tidak lagi ditetapkan untuk satu tahun pelajaran
tertentu.Menurut pengaturan ini tidak ada lagi anak-anak yang tinggal kelas,
walaupun begitu masih ada sekolah yang menerapkan sistem kenaikan kelas dan
tidak naik kelas. Pelajaran diberikan disekitar 4 obyek:
1. Kecakapan instrumental dan kebudayaan, yang mengutamakan pelajaran
bahasa, termasuk bahasa inggris, menulis dan berhitung.
2. Pengenalan dunia (sejarah, geografi, biologi, fisika, hygiene dan lalu
lintas).
3. Saluran-saluran berekspresi (kerajinan tangan, music, dan menggambar).
4. Olahraga.
Di Belanda pendidikan khusus tercatat 20 macam, mulai dari sekolah
bagi anak-anak yang mengalami ketidakmampuan belajar sampai pada anak-anak
dengan cacat ganda. Pendidikan khusus ini melayani anak-anak dari usia 3 tahun
yang membutuhkan pertolongan lebih banyak dari anak-anak biasa, baik yang
berada di sekolah dasar maupun di sekolah menengah. Pada prinsipnya, sekolah
khusus disediakan bagi anak-anak pada kelompok umur yang sama. Usia yang
dapat diterima pada sekolah khusus bervariasi tergantung pada jenis sekolah, dan
biasanya antara usia 3 dan 6 tahun. Pada sekolah menengah umur 12 tahun ke atas
dengan batas maksimum 20 tahun.Pengecualian hanya dilakukan terhadap kasuskasus luar biasa. Kira-kira 60% anak-anak yang tamat dari sekolah khusus
melanjutkan sekolahnya ke sekolah menengah, 6% masuk ke sekolah dasar, dan
selebihnya tidak meneruskan pendidikannya.
Bantuan untuk transisi dari sekolah khusus sampai mereka mendapatkan
pekerjaan dikelola pada tingkat lokal.Ada usaha yang sungguh-sungguh untuk
mengintegrasikan siswa-siswa cacat ke dalam kelas dan sekolah-sekolah biasa.
Struktur sekolah menengah umum dirombak seluruhnya melalui Undang-undang
tentang Pendidikan Menengah (Secondary Education Act) tahun 1968 yang
disebut "Mammoth Act". Semenjak itu, sekolah menengah umum terdiri dari empat
jenis sekolah, yaitu :

1. Pendidikan prauniversitas (secondary grammar school)
2. Sekolah menengah kejuruan tingkat pertama dan tingkat atas
3. Akademi vokasional
4. Dan sekolah jenis lain, seperti kursus-kursus sosial bagi pekerjapekerja muda yang diselenggarakan baik secara paruh waktu atau
purna waktu. Yang terakhir ini sesungguhnya bukanlah pendidikan
nonvokasional, dan dimaksudkan bagi anak-anak muda yang
pendidikan wajibnya tidak dapat diselesaikan sepenuhnya.
Kelebihan Sistem Pendidikan di Belanda
Pendidikan di Belanda, terutama pendidikan tingginya telah diakui reputasinya di dunia. Penelitian menunjukkan bahwa mereka yang pernah studi di
universitas atau institusi pendidikan tinggi Belanda memiliki kinerja yang sangat
baik di manapun mereka berada. Untuk negara kecil seperti Belanda, orientasi
internasional, termasuk pendidikan dan pelatihan merupakan keha- rusan untuk
dapat bertahan di tengah arus dunia yang semakin internasional. Kelebihan sistem
pendidikan di Belanda :
1.

Masyarakat yang multikultur dan terbuka

2.

Lingkungan studi yang internasional

3.

Pendidikan dan riset yang berkualitas dan beraneka ragam

4.

Terletak di tengah Benua Eropa

5.

Biaya kuliah di Belanda relatif terjangkau

6.

Budaya Mahasiswa

7.

Beasiswa

8.

Program Pertukaran

Kelemahan Pendidikan Belanda
Kelemaha Dibanding Indonesia, tentu Belanda jauh lebih berpengalaman
dalam bidang

pendidikan. Bahkan pendidikan di Indonesia sedikit banyak

diwarnai oleh pola pendidikan Belanda, terutama saat negeri tersebut menjajah
Indonesia. Pada masa sekarang, tentu tidak bijaksana mengungkit-ungkit kisah

memilukan di era penjajahan tersebut. Apa yang baik di Negara Belanda dan
dapat diambil untuk pengembangan system pendidikan di Indonesia tentu sangat
berharga. Tidak mudah mencari kekurangan/ kelema- han sistem/pola pendidikan
di Negara Belanda. Tentu ini disebabkan begitu lamanya pengalaman mengelola
pendidikan di Negara sendiri maupun Negara-negara jajahannya. Namun ada
beberapa hal yang perlu diperhatikan bagi siapapun yang ingin menggunakan
kesempatan belajar di Negara Belanda.
Gejala Post Modernisasi sangat terasa di Negara Belanda. Gejala post
modernisasi ditandai dengan sekularisasi yang salah satunya dalam bentuk
lunturnya nilai-nilai agama. Kecuali itu juga ditandai dengan liberalisasi pola pikir
yang sangat menekankan pada hak azasi tiap manusia untuk melakukan
kehendaknya sendiri. Belanda yang pada masa lalu mampu mengirimkan
misionaris-misionarisnya ke seluruh dunia, terutama Negara jajahannya, kini
justru membutuhkan misionaris-misionaris dari luar. Tidak dapat dipungkiri,
masyarakat Belanda masa kini adalah masyarakat yang individualistis, yang
memandang soal-soal agama sebagai urusan pribadi semata. Kegiatan kerohanian menjadi tidak menarik lagi. Gereja-gereja kosong, kaum muda tidak tertarik
melaksanakan kegiatan keagamaan. Aktualisasi kehidupan beriman orang Belanda
masa kini lebih ditekankan pada karya-karya humanistis. Namun gejala ini tidak
berlaku bagi kaum imigran.
Dari situasi tersebut muncul pula kebiasaan-kebiasaan yang sulit diterima
nalar, seperti: adanya hari bebas mengkonsumsi narkoba (Surya, 26 Mei 2010)!
Jika demikian tentu kebebasan dalam bidang lain, missal pergaulan, tentu
mendapat kelonggaran pula. Kecenderungan individualistis juga mem- perburuk
situasi pergaulan antar muda-mudi, bahkan antar pasangan sejenis. Pimpinan
Gereja Katolik pernah didemo masyarakat Belanda yang menuntut disahkannya
pernikahan sejenis!

SISTEM PENDIDIKAN DI JEPANG
Pendahuluan
Pendidikan kewarganegaraan di Jepang yang dikenal dalam terminologi social
studies, living experience and moral education (Kerr, 1999), berorientasi pada
pengalaman, pengetahuan, dan kemampuan warga negara berkaitan dengan upaya untuk
membangun bangsa Jepang. Dalam tulisan ini, kajian pendidikan kewarganegaraan di
Jepang akan memfokuskan diri kepada kajian tentang konteks kelahiran, landasan
pengembangan, kerangka sistemik, dan kurikulum dan bahan ajar pendidikan
kewarganegaraan di Jepang.
Konteks Kelahiran
Konteks kelahiran Pendidikan Kewarganegaraan di Jepang dapat ditelusuri,
terutama setelah Perang Dunia kedua (1945). Pada masa itu, perhatian pemerintah Jepang
terhadap pendidikan mulai menunjukkan peningkatan. Pendidikan menjadi pusat
perhatian pemerintah sebagaimana direncanakan sejak periode Meiji (abad ke-19) (Otsu,
1998:51; Ikeno, 2005:93). Periode setelah kekalahan Jepang ini, merupakan titik balik
yang sangat penting bagi pendidikan di Jepang. Pendidikan Jepang mengubah
orientasinya dari yang bersifat militer ke arah pendekatan yang lebih demokratis.
Demikian pula perubahan dirasakan dalam Pendidikan Kewarganegaraan, mata pelajaran
ini telah bergeser penekanannya dari pendidikan untuk para warganegara dan pengajaran
disiplin ilmu-ilmu sosial yang terkait dengan upaya untuk membangun bangsa Jepang, ke
arah Pendidikan Kewarganegaraan untuk semua warganegara (Ikeno, 2005:93).
Pendidikan Kewarganegaraan Jepang setelah Perang Dunia II dapat digambarkan dalam
tiga periode (Ikeno, 2005:93) sebagai berikut: “Pertama, periode tahun 1947-1955,
berorientasi pada pengalaman. Kedua, periode tahun 1955-1985, berorientasi pada
pengetahuan, dan ketiga, periode tahun 1985-sekarang, berorientasi pada kemampuan”.
Periode pertama, Pendidikan Kewarganegaraan sebagian besar diterapkan secara
integratif ke dalam studi sosial. Studi sosial mengadopsi metoda-metoda pemecahan
masalah, seperti penelitian dan diskusi, dan mengajarkan kehidupan sosial dan
masyarakat secara umum. Di dalam kelas, para guru dan anak-anak mempertimbangkan
permasalahan kehidupan sosial dan masyarakat melalui pengalaman sosial yang diperoleh
dengan pemecahan masalah. Mereka belajar tentang “masyarakat mereka sendiri” dan
mengembangkan “sikap dan keterampilan-keterampilan untuk berpartisipasi secara
positif untuk membangun masyarakat yang demokratis”.

Pelaksanaan pembelajaran studi sosial pada periode ini adalah melalui “yubingokko (playing the post)” dan “yamabiko-gakko (echo school)”. Dalam praktek ini, guru
mengorganisir suatu struktur yang berhubungan dengan kegiatan pos sebagai satu
aktivitas untuk anak-anak. Di yamabiko-gakko, guru mengorganisir aktivitas penyelidikan
sehingga anak-anak bisa membuat pertanyaan-pertanyaan melalui komposisi dan jawaban
bebas mereka.
Dalam situasi demikian, anak-anak itu melaksanakan aktivitas, sementara para
guru tidak mengambil peran yang besar untuk memimpin dalam proses pembelajaran
tersebut. Banyak orang mengkritik praktek pembelajaran ini, mereka berpendapat bahwa
dalam praktek pembelajaran tersebut, anak-anak hanya memperoleh pengetahuan biasa
yang dipelajari tanpa sengaja, dan mereka menuntut para guru studi sosial untuk
mengajar ilmu sosial secara sistematis.
Pada periode yang kedua, Pendidikan Kewarganegaraan didasarkan atas prinsip
intelektualisme yang berkembang dalam disiplin akademis. Kementerian Pendidikan
Jepang memisahkan Pendidikan Moral (dotoku) dari studi sosial. Studi sosial dipecah
menjadi Geografi, Sejarah, dan politik/ekonomy/kemasyarakatan.
Sasaran pengajaran Pendidikan Kewarganegara pada periode kedua ini terdiri
atas empat unsur (Ikeno, 2005:94), yaitu untuk mengembangkan:
1. pengetahuan dan pemahaman
2. keterampilan berpikir dan ketetapan
3. keterampilan dan kemampuan, dan
4. kemauan, minat, dan sikap warganegara
Pendidikan Kewarganegaraan dalam periode ketiga bertujuan mempersiapkan
setiap individu untuk dapat terlibat dalam secara aktif dalam masyarakat, dan
menggunakan budaya umum dalam setiap hal. Penekanan Pendidikan Kewarganegaraan
telah diubah dari mengutamakan pengetahuan umum tentang bangsa Jepang kepada
kemampuan itu untuk membangun masyarakat. Pada periode ketiga ini, pendidikan
Kewarganegaraan Jepang sebagian besar diterapkan sebagai “kewarganegaraan (civics)”
dalam sekolah tingkat atas, dan sebagai “studi sosial” dalam sekolah tingkat menengah
(Otsu, 1998:51).
Landasan Pengembangan
Landasan Pengembangan Pendidikan Kewarganegaraan di Jepangtidak dapat
dilepaskan dari konsep warganegara (komin, citizen) dan kewarganegaraan (citizenship).

Oleh karena itu, penting diketahui bagaimana konsep-konsep tersebut dikonstruksi.
Untuk menjelaskan hubungan antara citizen dan citizenship di Jepang, Otsu (1998:53)
mengemukakan sebagai berikut: “Related to the definition of ‘citizen’, ‘citizenship’ has a
much wider meaning and can be used differently in different contexts”. Berdasarkan
kutipan tersebut diketahui bahwa definisi antara citizen dan citizenship dapat memiliki
arti yang luas dan dapat digunakan dalam cara dan dalam konteks yang berbeda.
Lebih lanjut Otsu (1998:53) mengemukakan bahwa pada saat “studi sosial
(social studies)” dimulai sebagai mata pelajaran inti pada tahun 1948, Kementerian
Pendididikan menjelaskan bahwa ‘studi sosial tidak hanya membantu penduduk
mengikuti kebijakan pemerintah, tetapi setiap penduduk secara intens belajar tentang
masyarakat mereka dan untuk mengembangkan sikap dan keterampilan mereka untuk
berpartisipasi secara positif dalam masyarakat mereka untuk membangun masyarakat
yang demokratis.
Pada saat “kewarganegaraan (civics)” disiapkan sebagai suatu mata pelajaran
pada sekolah menengah pada tahun 1970, Kementerian Pendidikan menggambarkan
tujuan inti Pendidikan Kewarganegaraan sebagai berikut:
a. to develop an awareness and understanding of Japan as a nation and the
principle of sovereignty (Untuk mengembangkan kesadaran dan pemahaman
tentang Jepang sebagai sebuah negara dan prinsip kedaulatan)
b. to develop a concept of local community and the state and ways in which the
individual can contribute to the work of the community and the state (Untuk
mengembangkan suatu konsep tentang masyarakat lokal dan negara serta cara
bagaimana setiap individu dapat berkontribusi dalam satu pekerjaan di
masyarakat dan negara)
c. to appreciate rights and responsibilities and duties of the individual in the
community and wider society (Untuk menghargai hak dan tanggungjawab serta
tugas dari individu dalam suatu komunitas dan masyarakat yang lebih luas)
d. to develop an ability to act positively in relation to rights and duties (untuk
mengembangkan kemampuan untuk bertindak secara positif dalam hubungan
antara hak dan kewajiban)
Kerangka Sistemik
Kerangka sistemik yang dimaksud adalah “istilah teknis yang digunakan,
pendekatan yang dikembangkan, dan jumlah jam perminggu, baik untuk pendidikan dasar

maupun pendidikan menengah” (Kerr, 1999; Winataputra, 2007). Pada tabel berikut ini
disajikan pengorganisasian Civic Education di Jepang pada pendidikan dasar dan
pendidikan lanjutan pertama dan tingkat atas.
Tabel 1. Organisation of Citizenship Education in Primary Phase
Country
Japan

Terminology
Approach
Social studies, living Statutory

Hors per weeks
core 175 x 45 minutes

experiences

and per year

and separate

moral education

integrated

Kerr, (1999:18)
Tabel

di

atas

dapat

menggambarkan

kerangka

sistemik

pendidikan

kewarganegaraan pada tingkat pendidikan dasar. Terminologi yang digunakan untuk mata
pelajaran Pendidikan Kewarganegaraan adalah “Social studies, living experiences and
moral education”. Kedudukan dalam program pendidikan bersifat wajib yang dikemas
sebagai materi inti yang terintegrasi atau secara berdiri sendiri. Beban belajar perminggu
adalah 175 x 45 menit per tahun.
Sementara itu, Pendidikan Kewarganegaraan untuk tingkat pendidikan lanjutan pertama
dan tingkat atas dapat dilihat dalam tabel berikut:
Tabel 2. Organisation of Citizenship Education in the Lower and Upper
Secondary Phase
Country
japan

Terminology
Approach
Social studies, living Statutory

Hors per weeks
core 175 x 45 minutes

experiences

and per year

moral education

and separate
integrated

140 x 50 minutes
per year (grade 9)
140 x 50 minutes
per

year

secondary)
Kerr, (1999:19)

(upper

Kurikulum dan Bahan Belajar
Dalam uraian Otsu (1998:) Pendidikan Kewarganegaraan dalam sekolah dasar
diimplementasikan sebagai “life and environmental studies” pada tingkat 1-2, dan “social
studies” pada tingkat 3-6 untuk tiga jam pelajaran (1 jam pelajaran = 45 menit) per
minggu. Di sekolah menengah, studi sosial terdiri atas tiga mata pelajaran, Geografi (4
jam per minggu pada tingkat 1 dan 2, 1 jam = 50 menit), Sejarah (dengan proporsi yang
sama dengan geografi), dan Kewarganegaraan (2-3 jam per minggu pada tingkat 3).
Isi (kurikulum) Kewarganegaraan pada sekolah menengah terdiri atas:
1. contemporary social life (Kehidupan sosial kontemporer)
2. Improvement of national life and economy (Perbaikan kehidupan nasional dan
ekonomi)
3. democratic government and international community (Pemerintahan demokratis
dan masyarakat internasional) (Otsu, 1998:54)

Pada sekolah menengah, para siswa belajar Kewarganegaraan pada tahun
terakhir, pelajaran Kewarganegaraan tingkat tiga cenderung diarahkan sebagai pusat
pengetahuan dan ditekankan terhadap hapalan (memorization), karena banyak siswa dan
guru berkonsentrasi untuk ujian masuk ke tingkat sekolah menengah atas.
Kurikulum sekolah menengah atas terdiri atas bidang mata pelajaran dan sub
mata pelajaran yang spesifik. Para siswa diharuskan mengambil empat kredit dari mata
pelajaran Kewarganegaraan yang terdiri atas: masyarakat kontemporer (4 jam, 1 jam = 50
menit), etika (2 jam), dan politik/ekonomi (2 jam).
Isi dari kajian tentang masyarakat kontemporer adalah sebagai berikut:
1. the individual and culture in contemporary society (individu dan budaya dalam
masyarakat kontemporer)
2. environment and human life (lingkungan dan kehidupan manusia)
3. contemporary politics and economy and the individual (politik dan ekonomi
kontemporer dan individual)
4. international community and global issues (organisasi internasional dan isu-isu
global) (Otsu, 1998:54)

Dalam kajian tentang masyarakat kontemporer, berbagai inovasi pembelajaran
telah dihasilkan. Untuk mengembangkan keterampilan dan sikap pembelajar seperti

pengetahuan, beberapa guru menciptakan inovasi pembelajaran dengan mengambil isuisu kontemporer dengan menggunakan pendekatan yang komprehensif dan aktifitas yang
bervariasi, seperti diskusi, games dan simulasi. Meskipun studi sosial dalam sekolah
menengah atas dicitrakan sebagai pelajaran hapalan dalam waktu yang lama, namun studi
tentang masyarakat kontemporer telah mengubah citra (image) studi sosial sampai taraf
tertentu. Pembelajaran kreatif pada masyarakat kontemporer dipublikasikan dan memiliki
pengaruh yang mendukung guru-guru lintas bangsa.
Kajian

tentang etika dan politik/ekonomi merupakan

kajian

penting

untuk

Pendidikan Kewarganegaraan. Tetapi mata pelajaran ini cenderung berfokus pada
pengajaran tentang struktur dan metode setiap disiplin ilmu-ilmu sosial. Sejak
kajian masyarakat kontemporer diubah dari pelajaran wajib menjadi satu pilihan,
Pendidikan Kewarganegaraan secara umum telah mengakhiri kehilangan statusnya. Hal
ini berarti, pada saat yang sama Pendidikan Kewaranegaraan di sekolah menengah
pertama dan sekolah menengah atas menjadi hal penting bagi setiap siswa yang akan
menjadi pemilih dan bekerja dalam masyarakat segera setelah kelulusan mereka.

DAFTAR REFERENSI
Ikeno, N. (2005). “Citizenship Education in Japan After World War II”. In
Citized. International Journal of Citizenship and Teacher Education. Vol 1,
No. 2 December 2005.
Cogan, J.J. and Ray Derricott (ed). (1998). Citizenship Education for the 21st
Century: An International Perspective on Education. London: Kogan Page.
Otsu, K. (1998). “Japan”. In Cogan J.J. and Ray Derricott (ed). Citizenship
Education for the 21st Century: An International Perspective on Education.
London: Kogan Page.
Kerr, D. (1999). Citizenship Education: An International Comparrison. England:
nfer, QCA.
———–. (1999). Citizenship Education in The Curriculum: An International
Review. England:nfer, QCA.
"Gini coefficient of equivalised disposable income (source: SILC)" (dalam Inggris).
Eurostat Data Explorer. Diakses tanggal 2017-05-13.
"North

Sea" [Laut Utara] (dalam
tanggal 2012-03-06.

Inggris).

Kementerian

Pertahanan.

Diakses

Misi Tetap Belanda untuk PBB. "General Information" [Informasi Umum] (dalam
Inggris). Diakses tanggal 2017-05-13.
"Milieurekeningen 2008" [Data Lingkungan Tahun 2008] (PDF) (dalam Belanda). Biro
Pusat Statistik Belanda. Diakses tanggal 2017-05-13.
"Netherlands Guide – Interesting facts about the Netherlands" [Panduan Belanda - Fakta
menarik tentang Belanda] (dalam Inggris). Eupedia. 1994-04-19. Diakses
tanggal 2017-05-13.
van Krieken, Peter J.; David McKay (2005). The Hague: Legal Capital of the
World [Den Haag: Ibu Kota Hukum Dunia] (dalam Inggris). Cambridge
University Press. ISBN 90-6704-185-8. , khususnya, "Pada dasawarsa 1990-an,
ketika menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-Bangsa,
Boutros Boutros-Ghali mulai menjuluki Den Haag sebagai ibu kota hukum
dunia."
Netherlands, Indeks Kebebasan Ekonomi. heritage.org

Dokumen yang terkait

Dokumen baru