INTERPRETASI TERHADAP PEMBERITAAN MEDIA MASSA MENGENAI KASUS PENYERBUAN TAHANAN DI LP CEBONGAN: SEBUAH ANALISIS FRAMING.

(1)

INTERPRETASI TERHADAP PEMBERITAAN MEDIA MASSA MENGENAI KASUS PENYERBUAN TAHANAN DI LP CEBONGAN

(SEBUAH ANALISIS FRAMING) Arus Surya Dilaga

NIM 1006734 ABSTRAK

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh adanya perbedaan media dalam menampilkan pemberitaan kasus penyerbuan tahanan di LP Cebongan. Perbedaan media dalam menampilkan kasus penyerbuan tahanan di LP Cebongan ini menimbulkan pro dan kontra di kalangan masyarakat, seperti dalam pemberitaan yang ditulis oleh surat kabar Kompas dan Media Indonesia. Terlebih lagi kasus kekerasan ini disangkut-pautkan dengan Kopassus atau instansi-instansi terkait. Hal ini menyebabkan pembingkaian yang dilakukan Kompas dan Media Indonesia berpengaruh terhadap pola pikir khalayak pembaca setelah membaca berita yang ditampilkan oleh kedua media massa tersebut. Penelitian ini menggunakan pendekatan analisis framing dengan model analisis yang diperkenalkan oleh Zhongdang Pan dan Gerald M. Kosicki. Penelitian ini dilakukan untuk memecahkan beberapa permasalahan, yaitu: (1) apa yang diberitakan oleh surat kabar Kompas dan Media Indonesia terkait kasus penyerbuan tahanan di LP Cebongan; (2) bagaimana konstruksi pemberitaan kasus penyerbuan tahanan di LP Cebongan ditinjau dari struktur sintaksis, skrip, dan tematik; (3) bagaimana keberpihakan surat kabar Kompas dan Media Indonesia terhadap pemberitaan kasus penyerbuan tahanan LP Cebongan yang ditinjau dari struktur sintaksis dan tematik yang dianalisis. Hasil penelitian ini menjelaskan dua hal sebagai berikut. Pertama, konstruksi pemberitaan terhadap Kasus penyerbuan tahanan di LP Cebongan ditinjau dari struktur sintaksis, tematik, dan skrip pada surat kabar Kompas dan Media Indonesia menunjukkan adanya ciri khas tersendiri di masing-masing media. Simpulan tersebut didasarkan pada bentuk konstruksi pada struktur wacana berita yang ditampilkan oleh surat kabar Kompas dan Media Indonesia. Kedua, keberpihakkan yang dilakukan surat kabar Kompas dan Media Indonesia terlihat dari konstruksi yang ditampilkan kedua media tersebut. Hal tersebut terjadi karena, struktur wacana yang ditampilkan oleh Kompas dan Media Indonesia merupakan ciri khas kedua media tersebut dalam memberikan informasi kepada khalayak pembaca. Selain itu, struktur wacana tersebut juga menunjukkan keberpihakkan masing-masing media dalam memberitakan kasus penyerbuan tahanan di LP Cebongan.


(2)

INTERPRETATION OF THE NEWS MEDIA IN CUSTODY PRISONERS RAID CASE IN CEBONGAN PENITENTIARY

(AN ANALYSIS OF FRAMING) Arus Surya Dilaga

NIM 1006734 ABSTRACT

This research is motivated by the different media in presenting the news in case of prisoners raid in the Cebongan penitentiary. Differences media in display prisoners raid cases in the Cebongan penitentiary raises the pros and cons in the communities, such as in the news written by the newspaper Kompas and Media Indonesia. Moreover, this violence implicated in Kopassus or related institutions. This led to the framing is done Kompas and Media Indonesia influence the mindset of an audience of readers after reading the news presented by the mass media. This study uses framing analysis approach to the analysis model introduced by Pan and Gerald M. Zhongdang Kosicki. This study was undertaken to solve some problems, namely: (1) what was reported by the newspaper Kompas and Media Indonesia -related cases of prisoners raid in the Cebongan penitentiary; (2) how the construction of reporting Cebongan penitentiary prisoners raid cases in terms of syntactic structure, scripts, and thematic; (3) how the alignments newspaper Kompas and Media Indonesia on reporting cases of prisoners raid in the Cebongan penitentiary were evaluated from syntactic structure and thematic analysis. The results of this study explains two things as follows. First, the construction of the news of the arrest raid case in the Cebongan terms of syntactic structure, thematic, and scripts in the newspaper Kompas and Media Indonesia showed the distinctive characteristics of each media. The conclusions are based on the form of construction on the structure of news discourse displayed by the newspaper Kompas and Media Indonesia. Second, alignments were performed newspapers Kompas and Media Indonesia seen from the construction shown both media. This happens because, discourse structure displayed by Kompas and Media Indonesia is a hallmark of both the media to inform the audience of readers. Moreover, the discourse structure also shows the alignments of each media in reporting cases of prisoners raid in the Cebongan penitentiary.


(3)

DAFTAR ISI

LEMBAR PENGESAHAN ...i

LEMBAR PERNYATAAN ...ii

LEMBAR PERSEMBAHAN ...iii

KATA PENGANTAR ...iv

UCAPAN TERIMA KASIH ...v

ABSTRAK ...vii

DAFTAR ISI ...ix

DAFTAR TABEL ...xii

BAB I PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah ... 1

B. Masalah Penelitian ... 4

1. Identifikasi Masalah ... 4

2. Batasan Masalah ... 5

3. Rumusan Masalah ... 5

C. Tujuan Penelitian ... 6

D. Manfaat Penelitian ... 6

E. Struktur Organisasi Penulisan ... 7

BAB II KAJIAN PUSTAKA, WACANA, BERITA, DAN ANALISIS FRAMING A. Kajian Pustaka ... 9

B. Wacana, Berita, dan Analisis Framing ... 11

1. Wacana ... 11

2. Berita ... 12

3. Analisis Framing ... 13

a. Model Analisis Zhongdang Pan dan Gerald M. Kosicki ... 15


(4)

BAB III METODOLOGI PENELITIAN

A. Metode Penelitian ... 19

B. Sumber Data dan Korpus ... 19

C. Teknik Pengumpulan Data ... 20

D. Teknik Pengolahan Data ... 20

E. Instrumen Penelitian ... 22

F. Definisi Operasional ... 23

BAB IV ANALISIS DATA DAN PEMBAHASAN A. Analisis Data ... 25

1. Pemberitaan Surat Kabar Kompas dan Media Indonesia Terkait Adanya Kasus Penyerbuan Tahanan di LP Cebongan ... 25

a. Pemberitaan Surat Kabar Kompas terhadap Kasus Kekerasan Militer di LP Cebongan ... 25

b. Pemberitaan Surat Kabar Media Indonesia terhadap Kasus Penyerbuan Tahanan di LP Cebongan ... 32

2. Konstruksi Pemberitaan Kasus Penyerbuan Tahanan di LP Cebongan pada Surat Kabar Kompas dan Media Indonesia ... 38

a. Konstruksi Pemberitaan Kasus Penyerbuan Tahanan di LP Cebongan pada Surat Kabar Kompas ... 38

b. Konstruksi Pemberitaan Kasus Penyerbuan Tahanan di LP Cebongan pada Surat Kabar Media Indonesia ...129

3. Keberpihakan Surat Kabar Kompas dan Media Indonesia terhadap Pemberitaan Kasus Penyerbuan Tahanan LP Cebongan ...194

a. Keberpihakan Surat Kabar Kompas terhadap Pemberitaan Kasus Penyerbuan Tahanan LP Cebongan ...194

b. Keberpihakan Surat Kabar Media Indonesia terhadap Pemberitaan Kasus Penyerbuan Tahanan LP Cebongan ...208


(5)

(6)

B. Pembahasan Analisis Data ...220

1. Pemberitaan Surat Kabar Kompas terhadap Kasus Kekerasan Militer di LP Cebongan ...220

2. Pemberitaan Surat Kabar Media Indonesia terhadap Kasus Kekerasan Militer di LP Cebongan ...222

BAB V SIMPULAN DAN SARAN A. Simpulan ... 225

B. Saran ... 229

DAFTAR PUSTAKA ... 230

LAMPIRAN ... 231


(7)

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Tidak ada kebenaran tunggal yang tersebar di masyarakat karena kebenaran bersifat relatif. Setiap individu dapat merangkai kebenaran sendiri sesuai dengan pengalaman empiris dan daya nalar masing-masing. Masalah akan muncul ketika setiap individu menganggap bahwa kebenaran yang dianggap benar memaksa individu lainnya untuk mengganggap kebenaran yang sama. Proses penyebaran kebenaran kepada individu lainnya dilakukan melalui media.

Banyak cara yang digunakan media untuk memberitakan suatu peristiwa baik melalui media massa maupun media elektronik. Peristiwa-peristiwa yang diberitakan media dapat dikemas dan diceritakan oleh para wartawan dengan cara pandang yang berbeda sesuai dengan ideologi masing-masing. Uniknya, setiap media memiliki ciri-ciri tersendiri yang berbeda dengan media lainnya dalam menampilkan fakta dan mengemasnya dalam sebuah berita, seperti halnya pemberitaan pada Kasus Penyerbuan Tahanan di LP Cebongan, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta.

Kasus Penyerbuan Tahanan di LP Cebongan ini sempat menjadi sorotan di seluruh media Indonesia, baik media elektronik maupun media cetak. Kasus ini muncul karena aksi para pelaku yang secara membabi buta menghabisi para tahanan di LP Cebongan. Terlebih lagi Kasus Penyerbuan Tahanan ini disangkut-pautkan dengan Kopassus atau instansi-instansi terkait. Akan tetapi, pihak Kopassus langsung membantah bahwa aksi tersebut dilakukan oleh anggotanya. Munculnya Kasus Penyerbuan Tahanan di LP Cebongan ini,


(8)

2

menimbulkan pro dan kontra di kalangan masyarakat. Hal tersebut terjadi karena adanya perbedaan media dalam menampilkan suatu berita, misalnya berita yang disajikan oleh surat kabar Kompas dan Media Indonesia.

Menurut berita yang disajikan surat kabar Kompas, tiga hari setelah penganiayaan yang menewaskan Serka Heru Santoso di Hugo’s Café, Yogyakarta, pada 19 Maret 2013, Serda Ucok Tigor Simbolon mengajak Serda Sugeng Sumaryanto dan Koptu Kodik untuk mencari pelaku pembunuh Heru Santoso dan Sertu Sriyono yang dianiaya sehari setelah pembunuhan Heru Santoso. Pada hari Jumat, 22 Maret 2013, Serda Ucok bertemu Tri Juwanto dan mengajak ikut serta mencari para pelaku penganiaya dan meminta Tri untuk mengajak teman-temannya yang lain. Sekitar pukul 00.00 WIB, gerombolan Koppasus yang terdiri dari 12 orang ini masuk ke area Lapas Cebongan. Sewaktu tiba di gerbang depan, Ucok menggedor pintu dan mengaku aparat dari Polda DIY yang ingin mengebom tahanan atas nama Deki dan kawan-kawan. Petugas sipir sempat curiga, namun akhirnya membuka pintu karena diancam dengan senjata api. Gerombolan Koppasus kemudian masuk ke dalam bangunan lapas dengan menggunakan kotak kunci yang diambil paksa dari kepala keamanan Lapas Cebongan. Di dalam lapas, Ucok menembak keempat tahanan yaitu Deki, Juan, Dedi, dan Ade. Seusai mengeksekusi keempat tahanan tersebut, Ucok dan gerombolannya keluar dari Lapas. Sebagian pulang ke markas Koppasus dan tiga lainnya kembali ke tenda latihan di Gunung Lawu.

Adapun pemberitaan lain dari surat kabar Media Indonesia menunjukkan adanya keterlibatan Koppasus dalam Kasus Penyerbuan Tahanan ini. Hal ini dilatarbelakangi adanya aksi balas dendam terhadap keempat tersangka yang telah


(9)

3

Dari cara kedua media menampilkan suatu pemberitaan terlihat sekali perbedaan yang mendasar. Kompas terlihat sekali antusias dalam menampilkan pemberitaan LP Cebongan ini. Akan tetapi, pemberitaan yang dimunculkan terkait kasus LP Cebongan tersebut bertolak belakang dengan semboyan Kompas itu sendiri yang berbunyi “Amanat hati nurani rakyat”. Hal tersebut dapat dilihat dari keberpihakkan yang dilakukan oleh Kompas terhadap Kopassus.

Berbeda dengan Kompas, Media Indonesia terlihat tidak terlalu antusias dengan sedikitnya pemberitaan yang ditampilkan. Media Indonesia menunjukkan sikap pro rakyat dan memperlihatkan sikap anti pemerintahnya. Dari kedua perbedaan koran tersebut menunjukkan adanya perbedaan cara media dalam membingkai suatu berita dan menjadikan kasus LP Cebongan ini menjadi menarik untuk dianalisis. Oleh karena itu, analisis framing sangat tepat menjadi pisau analisis untuk mengungkap frame dan isi dalam berita. Hal ini dikarenakan untuk mengetahui bagaimana sebuah realitas (peristiwa, aktor, kelompok, atau apa saja) yang dibingkai oleh sebuah media melalui proses konstruksi peristiwa yang dipahami dengan bentukan tertentu (Eriyanto, 2005, hlm. 3).

Analisis framing telah banyak dilakukan oleh peneliti-peneliti sebelumnya. Adapun penelitian-penelitian sebelumnya yang berkaitan dengan analisis framing misalnya penelitian yang dilakukan oleh Octaviani (2009) dengan judul skripsinya ”Analisis Bingkai terhadap Pemberitaan Kenaikan Harga BBM pada Koran Tempo, Edisi Bulan Mei 2008”. Berikutnya penelitian yang dilakukan oleh Hestiani (2010) dengan judul skripsi “Konstruksi Berita dan Respons Pembaca

tentang Kasus Mafia Hukum Susno Duadji”. Analisis framing lainnya dilakukan

oleh Munfariah (2011) terhadap pemberitaan korupsi yang dilakukan oleh Gayus Halomoan Tambunan pada Tempo dan Media Indonesia. Selanjutnya, penelitian


(10)

4

yang dilakukan oleh Panggalih (2012) tentang aksi demokrasi mahasiswa yang menolak rencana kenaikan harga BBM. Penelitian tersebut dilakukan terhadap media online Krjogja.com dengan menggunakan model analasis Zhongdan Pan dan Kosicki yang memuat struktur sintaksis, skrip, tematik, dan retoris.

Dari penelitian-penelitian sebelumnya, penelitian yang dilakukan Octaviani (2009) memiliki kesamaan dengan penelitian ini dalam menganalisis berita yang menggunakan teori analisis framing Zhongdang Pan dan Gerald M. Kosicki. Berbeda dengan penelitian Octaviani (2009) yang dibatasi dengan analisis berdasarkan struktur sintaksis, struktur tematik, dan struktur retoris, penelitian yang akan dilakukan peneliti ini dibatasi dengan analisis berdasarkan struktur sintaksis, struktur skrip, dan struktur tematik. Selain itu, penelitian terhadap Kasus Penyerbuan Tahanan di LP Cebongan ini merupakan penelitian yang pertama mengingat kasus ini adalah kasus baru yang muncul di awal bulan April 2013 lalu. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan ilmu bahasa khususnya struktur sintaksis, skrip, dan tematik dalam melakukan analisis framing pada model analisis Zhongdang Pan dan Gerald M. Kosicki.

B. Masalah Penelitian

Masalah penelitian ini meliputi 1) identifikasi masalah, 2) batasan masalah, dan 3) rumusan masalah. Adapun uraiannya adalah sebagai berikut.

1. Identifikasi Masalah

Identifikasi masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.

1) Adanya perbedaan dalam membingkai Kasus Penyerbuan Tahanan di LP Cebongan oleh media massa yang menyebabkan perbedaan pandangan


(11)

5

masyarakat atau khalayak pembaca terhadap Kasus Penyerbuan Tahanan di LP Cebongan.

2) Ketidaktahuan masyarakat atau khalayak pembaca terhadap pembingkaian suatu berita oleh media massa menyebabkan terpengaruhnya masyarakat atau khalayak pembaca dengan apa yang ditampilkan oleh media massa.

2. Batasan Masalah

Masalah dalam penelitian ini dibatasi pada beberapa aspek berikut:

1) analisis framing dalam penelitian ini dilakukan untuk menganalisis pengkonstruksian berita pada pemberitaan Kasus Penyerbuan Tahanan di LP Cebongan;

2) surat kabar yang digunakan dalam penelitian ini adalah surat kabar Kompas dan Media Indonesia yang terbit pada tanggal 1-7 April 2013;

3) wacana yang dikaji dalam penelitian ini berupa teks;

4) penelitian ini dikaji menggunakan pisau analisis framing dengan teori model Zhongdang Pan dan Gerald M. Kosicki. Analisis yang dilakukan terdiri atas analisis struktur sintaksis (headline, lead, latar informasi, kutipan sumber, dan penutup), analisis struktur skrip (who, what, when, where, why, dan how), dan analisis struktur tematik (detail, koherensi, bentuk kalimat, dan kata ganti).

3. Rumusan Masalah

Rumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut.

1) Apa yang diberitakan oleh surat kabar Kompas dan Media Indonesia terkait adanya Kasus Penyerbuan Tahanan di LP Cebongan?


(12)

6

2) Bagaimana konstruksi pemberitaan Kasus Penyerbuan Tahanan di LP Cebongan, pada surat kabar Kompas dan Media Indonesia ditinjau dari struktur sintaksis, skrip, dan tematik?

3) Bagaimana keberpihakan surat kabar Kompas dan Media Indonesia terhadap pemberitaan Kasus Penyerbuan Tahanan LP Cebongan, yang ditinjau dari struktur sintaksis dan tematik yang dianalisis?

C. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh gambaran sebagai berikut: 1) pemberitaan surat kabar Kompas dan Media Indonesia terkait adanya Kasus

Penyerbuan Tahanan di LP Cebongan;

2) konstruksi pemberitaan Kasus Penyerbuan Tahanan di LP Cebongan, pada surat kabar Kompas dan Media Indonesia ditinjau dari struktur sintaksis, skrip, dan tematik;

3) keberpihakan surat kabar Kompas dan Media Indonesia terhadap pemberitaan Kasus Penyerbuan Tahanan LP Cebongan, yang ditinjau dari struktur sintaksis, skrip, dan tematik.

D. Manfaat Penelitian

Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat, baik secara teoretis maupun praktis. Berikut manfaat yang didapatkan dari penelitian ini antara lain sebagai berikut.

1) Manfaat teoretis dalam penelitian ini yaitu dapat memberikan perkembangan bagi ilmu bahasa, khususnya pada penggunaan model analisis Zhongdang Pan dan Gerald M. Kosicki dalam melakukan analisis framing di surat kabar.


(13)

7

2) Manfaat Praktis

Manfaat praktis dari hasil penelitian ini antara lain sebagai berikut:

a) menjadi acuan bagi praktisi media dalam menciptakan pemberitaan yang lebih akurat, adil dan berimbang mengenai kasus-kasus yang terjadi di Indonesia;

b) menjadi sumber informasi bagi masyarakat atau khalayak pembaca untuk memahami dan mengetahui apa yang disampaikan seorang wartawan dalam membingkai sebuah berita, sehingga mereka tidak akan dengan mudah menerima begitu saja mengenai apa yang disampaikan media dalam suatu berita.

E. Struktur Organisasi

Skripsi ini disusun secara sistematis dari Bab I sampai Bab V. Hal ini dilakukan untuk memudahkan dalam mencapai tujuan yang telah direncanakan. Berikut ini diuraikan ihwal struktur organisasi skripsi.

Pada Bab I dijelaskan mengenai latar belakang dilakukannya penelitian yang berisi beberapa masalah dan alasan munculnya penelitian ini. Selanjutnya dijelaskan masalah penelitian yang meliputi identifikasi masalah, batasan masalah, dan rumusan masalah. Selain itu, dijelaskan mengenai tujuan dilakukannya penelitian serta manfaat teroretis dan praktis yang didapat dari hasil penelitian. Berikutnya dijelaskan mengenai struktur organisasi skripsi yang bertujuan agar memudahkan dalam penyajiannya.

Pada Bab II dijelaskan mengenai tinjauan pustaka dan landasan teoretis. Dalam tinjauan pustaka dijelaskan beberapa penelitian terdahulu yang berhubungan dengan penelitian ini. Landasan teoretis menguraikan beberapa teori


(14)

8

yang sesuai dengan kebutuhan penelitian, yaitu wacana, berita, dan analisis framing. Teori analisis framing melingkupi teori model analisis Zhongdang Pan dan Gerald M. Kosicki, serta perangkat framing.

Pada Bab III dijelaskan mengenai metodologi penelitian yang meliputi metode penelitian, sumber dan korpus, teknik pengumpulan data, teknik pengolahan data, dan instrumen penelitian. Pada Bab IV dijelaskan mengenai pengolahan dan analisis data yang didapat dari hasil penelitian. Pemaparan pada Bab IV ini disajikan untuk menjawab rumusan masalah yang telah dipaparkan pada Bab I. Pada Bab V disajikan kesimpulan dari hasil analisis bab sebelumnya serta saran atau rekomendasi yang dianggap perlu diperbaiki demi tercapainya kesempurnaan.


(15)

BAB V

SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan

Pemberitaan mengenai kasus penyerbuan tahanan LP Cebongan menjadi pilihan topik yang dibicarakan di berbagai media massa, seperti pada surat kabar Kompas dan Media Indonesia. Kompas dan Media Indonesia memilliki cara tersendiri dalam memberitakan suatu peristiwa termasuk kasus penyerbuan tahanan LP Cebongan ini. Oleh karena itu, dalam melakukan analisis wacana terhadap pemberitaan kasus penyerbuan tahanan LP Cebongan menggunakan analisis bingkai. Penggunaan analisis bingkai ini dapat mengetahui bagaimana Kompas dan Media Indonesia melakukan konstruksi terhadap sebuah berita, sehingga dapat diketahui bagaimana keberpihakan Kompas dan Media Indonesia dalam memberitakan informasi tersebut.

Kompas dan Media Indonesia membuat suatu pembingkaian terhadap pemberitaan suatu peristiwa yang disampaikannya kepada khalayak pembaca. Dalam Kompas dan Media Indonesia edisi 01 April 2013 sampai 07 April 2013 ini terdapat berita kasus penyerbuan tahanan LP Cebongan yang selalu disimpan pada halaman depan dan terdapat beberapa berita terkait kasus penyerbuan tahanan LP Cebongan di halaman-halaman berikutnya pada edisi-edisi tertentu.

Berdasarkan analisis framing atau analisis bingkai yang dilakukan oleh Kompas dan Media Indonesia tersebut dapat disimpulkan sebagai berikut.

1. Pemberitaan Surat Kabar Kompas dan Media Indonesia terhadap Kasus Penyerbuan Tahanan di LP Cebongan

Pemberitaan surat kabar Kompas dan Media Indonesia pada edisi 01 April 2013 sampai dengan edisi 07 April 2013 memuat kasus penyerbuan tahanan yang


(16)

226

terjadi di LP Cebongan. Masing-masing surat kabar memuat tujuh pemberitaan kasus penyerbuan tahanan di LP Cebongan. Kompas dan Media Indonesia sama-sama mengungkapkan kasus penyerbuan tahanan di LP Cebongan ini mulai pertama kali kasus tersebut terjadi hingga proses penyelidikan yang dilakukan oleh tim investigasi TNI AD dan Polri. Pemberitaan yang dilakukan oleh Kompas dan Media Indonesia memiliki ciri khas tersendiri yang merupakan strategi mereka dalam membingkai sebuah berita.

2. Konstruksi Pemberitaan Kasus Penyerbuan Tahanan di LP Cebongan pada Surat Kabar Kompas dan Media Indonesia

Simpulan konstruksi pemberitaan kasus penyerbuan tahanan di LP Cebongan pada surat kabar Kompas dan Media Indonesia berdasarkan struktur sintaksis, tematik, dan skrip ini dapat dilihat sebagai berikut.

1) Struktur Sintaksis

Berdasarkan struktur sintaksisnya, Kompas cenderung menggunakan headline yang bersifat umum, tetapi penggunaan lead yang ditonjolkan cenderung menunjukkan keberpihakannya terhadap Kopassus. Sementara itu, penyampaian latar informasi dan kutipan sumber juga lebih memperlihatkan bahwa Kompas lebih mendukung Kopassus yang sudah secara jelas dinyatakan sebagai pelaku kasus penyerbuan tahanan LP Cebongan, namun patut diapresiasi karena telah berani secara terang-terangan mengakui kesalahannya tersebut. Selain itu, latar informasi dan kutipan sumber yang disampaikan Kompas yang terdapat pada pemberitaan kasus penyerbuan tahanan LP Cebongan ini menunjukkan bahwa Kompas ingin membuat suatu pembingkaian terhadap khalayak pembaca dengan didukung oleh pernyataan-pernyataan narasumber terkait kasus penyerbuan tahanan LP Cebongan. Hal tersebut dilakukan agar informasi yang disampaikan Kompas dapat dipertanggungjawabkan


(17)

227

keaslian, kejelasan, kebenaran, dan keakuratan beritanya, sehingga terhindar dari penilaian khalayak pembaca bahwa berita yang disampaikan Kompas penuh kebohongan.

Seperti halnya pada Kompas, Media Indonesia juga menggunakan headline yang bersifat umum, namun penulisan lead, latar informasi, dan kutipan sumbernya lebih menonjolkan bahwa Media Indonesia mendukung adanya tim investigasi yang dibentuk oleh Polri dan TNI AD. Media Indonesia menunjukkan dukungannya kepada tim investigasi yang telah berhasil mengusut kasus penyerbuan tahanan LP Cebongan. Hal tersebut juga dapat dilihat pada latar informasi dan kutipan sumber yang menunjukkan bahwa Media Indonesia menampilkan pernyataan-pernyataan narasumber terkait yang memang mengerti akan kasus penyerbuan tahanan LP Cebongan ini. Keterkaitan narasumber terhadap kasus penyerbuan tahanan LP Cebongan yang ditampilkan Media Indonesia dalam kutipan narasumbernya bertujuan agar informasi yang disampaikan Media Indonesia tersebut dapat dipertanggungjawabkan keasliannya, kejelasan, kebenaran, dan keakuratan berita, sehingga dinilai tidak membohongi khalayak pembaca.

2) Struktur Tematik

Berdasarkan struktur tematiknya, Kompas dan Media Indonesia selalu menggunakan bentuk kalimat deduktif dalam penulisan kalimat aktif. Penggunaan bentuk kalimat deduktif tersebut menunjukkan bahwa Kompas dan Media Indonesia selalu menjelaskan persoalan-persoalan umum yang menjadi topik pemberitaan pada masing-masing edisi. Setelah itu, Kompas dan Media Indonesia membahas persoalan-persoalan khusus terkait permasalahan yang disampaikannya sebagai tambahan berita yang diberikan. Dalam melakukan penyampaian tersebut, Kompas dan Media Indonesia menggunakan kalimat aktif yang bertujuan untuk memudahkan


(18)

228

pemahaman khalayak pembaca terhadap maksud pemberitaan yang ingin disampaikan kepada khalayak pembaca.

Dalam koherensi, hampir setiap edisi pemberitaan tentang kasus penyerbuan tahanan LP Cebongan menggunakan koherensi yang menunjukkan makna perlawanan untuk mempertegas informasi yang disampaikan, sehingga tidak menimbulkan pertanyaan bagi khalayak pembaca. Koherensi tersebut antara lain “meskipun”, “namun”, dan lain-lain. Selain itu, Kompas dan Media Indonesia juga menggunakan kata ganti orang untuk menandakan bahwa Kompas dan Media Indonesia melakukan suatu batasan kepada khalayak pembaca.

3) Struktur Skrip

Berdasarkan struktur skrip yang mengandung 5W+1H (What, Who, When, Wher, Why, dan How), Kompas dan Media Indonesia menampilkan pemberitaan kasus penyerbuan tahanan LP Cebongan ini dengan lengkap dan jelas, meskipun beberapa edisi tidak ditampilkan dengan lengkap dan jelas. Kelengkapan pemberitaan yang disampaikan oleh Kompas dan Media Indonesia bertujuan agar khalayak pembaca tidak mengalami kebingungan atau kekurangan informasi terkait kasus penyerbuan tahanan LP Cebongan.

3. Keberpihakan Kompas dan Media Indonesia

Keberpihakan Kompas dan Media Indonesia dalam pemberitaan kasus penyerbuan tahanan LP Cebongan dapat dilihat dari struktur wacana yang dikonstruksi dalam pemberitaan ini. Keberpihakan Kompas dan Media Indonesia dapat dilihat secara jelas dalam teks pemberitaan. Kompas cenderung mendukung Kopassus sebagai pelaku yang telah mengakui kesalahannya sehingga sikap Kopassus yang berjiwa besar tersebut patut diapresiasi. Berbeda dengan Kompas, Media Indonesia cenderung menampilkan dukungannya kepada tim investigasi yang


(19)

229

telah mengusut kasus penyerbuan tahanan LP Cebongan ini tanpa pandang bulu, sehingga Media Indonesia meminta tim investigasi untuk menyelidiki dan mengungkapkan lebih lanjut siapa yang ada dibalik kasus penyerbuan tahanan LP Cebongan ini. Keberpihakan Kompas dan Media Indonesia dapat terlihat dari kesatuan struktur wacana yang membangun teks pemberitaan kasus penyerbuan tahanan LP Cebongan.

B. Saran

Penelitian ini dapat memberikan gambaran tentang analisis sebuah media massa dengan menggunakan analisis framing model Zhongdang Pan dan Gerald M. Kosicki. Oleh karena itu, penelitian selanjutnya diharapkan dapat menjelaskan dengan lengkap dan jelas tentang suatu peristiwa tertentu pada objek dan media yang berbeda dari penelitian ini. Perbedaan tersebut dilakukan karena setiap media memiliki ciri khas sendiri dalam melakukan konstruksi terhadap suatu peristiwa.

Selain itu, dalam melakukan konstruksi berita yang menjadi ciri khas tersendiri suatu media, diharapkan untuk tidak menonjolkan keberpihakannya kepada suatu kalangan tertentu dan lebih baik dapat bersikap netral dalam memberitakan suatu peristiwa. Hal tersebut dilakukan tentu saja tanpa menghilangkan ciri khas yang dimiliki masing-masing media dalam melakukan suatu konstruksi pemberitaan untuk membangun suatu teks berita.

Hasil penelitian ini pun dapat dianjurkan kepada peneliti selanjutnya, khususnya dalam model analisis Zhongdang Pan dan Gerald M. Kosicki, untuk dapat menambahkan instrumen lainnya yang dapat digunakan untuk melakukan analisis framing dalam menganalisis wacana berita. Hal tersebut dapat mengisi rumpang yang terdapat pada penelitian ini.


(20)

230

DAFTAR PUSTAKA

Depdiknas. (2008). Kamus besar bahasa Indonesia. Edisi keempat. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Eriyanto. (2008). Analisis Wacana, Pengantar Analisis Teks Media. Yogyakarta: LkiS.

Hestiani, Y. (2010). Konstruksi Berita dan Respons Pembaca tentang Kasus Mafia Hukum Susno Duadji. (Skripsi). Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung.

Idris, N. S. (2012). Handout Perkuliahan Metode Penelitian Linguistik. (Handout Perkuliahan). Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung.

Kusumaningrat, H. & Kusumaningrat, P. (2009). Jurnalistik: Teori dan Praktik. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Munfariah, U. (2011). Konstruksi Bingkai (Framing) Pemberitaan Korupsi pada Tempo dan Media Indonesia. (Skripsi). Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung.

Octaviani, S. (2009). Analisis Bingkai terhadap Pemberitaan Kenaikan Harga BBM pada Koran Tempo, Edisi Bulan Mei 2008. (Skripsi). Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung.

Pan, Z. & Kosicki, G. M. (1993). Framing Analysis: An Approach to News Discourse. Dalam Jurnal Political Communication, Volume 10, pp. 55-75, 1993. United Kingdom: Taylor & Francis.

Panggalih, B. L. (2012). Aksi Demonstrasi Mahasiswa Menolak Rencana Kenaikan Harga BBM (Studi Analisis Framing Pemberitaan Aksi Demonstrasi Mahasiswa Menolak Rencana Kenaikan Harga BBM di Media Online Krjogja.com Tanggal 20 Maret - 30 Maret 2012). (Skripsi). Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Pembangunan Nasional Veteran, Yogyakarta.

Setiawati, E. (2009). Kasus Lumpur Lapindo dalam Berita Media Online (Analisis Berita Kasus Lumpur Lapindo di Detikcom). (Skripsi). Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga., Yogyakarta.

Sobur, A. (2001). Analisis Teks Media, Suatu Pengantar untuk Analisis Wacana, Analisis Semiotik, dan Analisis Framing. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Suhaebah, E. (2011). Kohesi dalam Tajuk Rencana. Yogyakarta: Almatera

Publishing.

Sumadiria, AS. H. (2011). Bahasa Jurnalistik: Panduan Praktis Penulis dan Jurnalis. Bandung: Simbiosa Rekatama Media.


(1)

Arus Surya Dilaga, 2014

INTERPRETASI TERHADAP PEMBERITAAN MEDIA MASSA MENGENAI KASUS PENYERBUAN TAHANANDI LP CEBONGAN (SEBUAH ANALISIS FRAMING)

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

BAB V

SIMPULAN DAN SARAN

A. Simpulan

Pemberitaan mengenai kasus penyerbuan tahanan LP Cebongan menjadi pilihan topik yang dibicarakan di berbagai media massa, seperti pada surat kabar

Kompas dan Media Indonesia. Kompas dan Media Indonesia memilliki cara

tersendiri dalam memberitakan suatu peristiwa termasuk kasus penyerbuan tahanan LP Cebongan ini. Oleh karena itu, dalam melakukan analisis wacana terhadap pemberitaan kasus penyerbuan tahanan LP Cebongan menggunakan analisis bingkai. Penggunaan analisis bingkai ini dapat mengetahui bagaimana Kompas dan Media

Indonesia melakukan konstruksi terhadap sebuah berita, sehingga dapat diketahui

bagaimana keberpihakan Kompas dan Media Indonesia dalam memberitakan informasi tersebut.

Kompas dan Media Indonesia membuat suatu pembingkaian terhadap

pemberitaan suatu peristiwa yang disampaikannya kepada khalayak pembaca. Dalam

Kompas dan Media Indonesia edisi 01 April 2013 sampai 07 April 2013 ini terdapat

berita kasus penyerbuan tahanan LP Cebongan yang selalu disimpan pada halaman depan dan terdapat beberapa berita terkait kasus penyerbuan tahanan LP Cebongan di halaman-halaman berikutnya pada edisi-edisi tertentu.

Berdasarkan analisis framing atau analisis bingkai yang dilakukan oleh

Kompas dan Media Indonesia tersebut dapat disimpulkan sebagai berikut.

1. Pemberitaan Surat Kabar Kompas dan Media Indonesia terhadap Kasus Penyerbuan Tahanan di LP Cebongan

Pemberitaan surat kabar Kompas dan Media Indonesia pada edisi 01 April 2013 sampai dengan edisi 07 April 2013 memuat kasus penyerbuan tahanan yang


(2)

Arus Surya Dilaga, 2014

INTERPRETASI TERHADAP PEMBERITAAN MEDIA MASSA MENGENAI KASUS PENYERBUAN TAHANANDI LP CEBONGAN (SEBUAH ANALISIS FRAMING)

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

terjadi di LP Cebongan. Masing-masing surat kabar memuat tujuh pemberitaan kasus penyerbuan tahanan di LP Cebongan. Kompas dan Media Indonesia sama-sama mengungkapkan kasus penyerbuan tahanan di LP Cebongan ini mulai pertama kali kasus tersebut terjadi hingga proses penyelidikan yang dilakukan oleh tim investigasi TNI AD dan Polri. Pemberitaan yang dilakukan oleh Kompas dan Media Indonesia memiliki ciri khas tersendiri yang merupakan strategi mereka dalam membingkai sebuah berita.

2. Konstruksi Pemberitaan Kasus Penyerbuan Tahanan di LP Cebongan pada Surat Kabar Kompas dan Media Indonesia

Simpulan konstruksi pemberitaan kasus penyerbuan tahanan di LP Cebongan pada surat kabar Kompas dan Media Indonesia berdasarkan struktur sintaksis, tematik, dan skrip ini dapat dilihat sebagai berikut.

1) Struktur Sintaksis

Berdasarkan struktur sintaksisnya, Kompas cenderung menggunakan headline yang bersifat umum, tetapi penggunaan lead yang ditonjolkan cenderung menunjukkan keberpihakannya terhadap Kopassus. Sementara itu, penyampaian latar informasi dan kutipan sumber juga lebih memperlihatkan bahwa Kompas lebih mendukung Kopassus yang sudah secara jelas dinyatakan sebagai pelaku kasus penyerbuan tahanan LP Cebongan, namun patut diapresiasi karena telah berani secara terang-terangan mengakui kesalahannya tersebut. Selain itu, latar informasi dan kutipan sumber yang disampaikan Kompas yang terdapat pada pemberitaan kasus penyerbuan tahanan LP Cebongan ini menunjukkan bahwa Kompas ingin membuat suatu pembingkaian terhadap khalayak pembaca dengan didukung oleh pernyataan-pernyataan narasumber terkait kasus penyerbuan tahanan LP Cebongan. Hal tersebut dilakukan agar informasi yang disampaikan Kompas dapat dipertanggungjawabkan


(3)

Arus Surya Dilaga, 2014

INTERPRETASI TERHADAP PEMBERITAAN MEDIA MASSA MENGENAI KASUS PENYERBUAN TAHANANDI LP CEBONGAN (SEBUAH ANALISIS FRAMING)

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

keaslian, kejelasan, kebenaran, dan keakuratan beritanya, sehingga terhindar dari penilaian khalayak pembaca bahwa berita yang disampaikan Kompas penuh kebohongan.

Seperti halnya pada Kompas, Media Indonesia juga menggunakan headline yang bersifat umum, namun penulisan lead, latar informasi, dan kutipan sumbernya lebih menonjolkan bahwa Media Indonesia mendukung adanya tim investigasi yang dibentuk oleh Polri dan TNI AD. Media Indonesia menunjukkan dukungannya kepada tim investigasi yang telah berhasil mengusut kasus penyerbuan tahanan LP Cebongan. Hal tersebut juga dapat dilihat pada latar informasi dan kutipan sumber yang menunjukkan bahwa Media Indonesia menampilkan pernyataan-pernyataan narasumber terkait yang memang mengerti akan kasus penyerbuan tahanan LP Cebongan ini. Keterkaitan narasumber terhadap kasus penyerbuan tahanan LP Cebongan yang ditampilkan Media Indonesia dalam kutipan narasumbernya bertujuan agar informasi yang disampaikan Media Indonesia tersebut dapat dipertanggungjawabkan keasliannya, kejelasan, kebenaran, dan keakuratan berita, sehingga dinilai tidak membohongi khalayak pembaca.

2) Struktur Tematik

Berdasarkan struktur tematiknya, Kompas dan Media Indonesia selalu menggunakan bentuk kalimat deduktif dalam penulisan kalimat aktif. Penggunaan bentuk kalimat deduktif tersebut menunjukkan bahwa Kompas dan Media Indonesia selalu menjelaskan persoalan-persoalan umum yang menjadi topik pemberitaan pada masing-masing edisi. Setelah itu, Kompas dan Media Indonesia membahas persoalan-persoalan khusus terkait permasalahan yang disampaikannya sebagai tambahan berita yang diberikan. Dalam melakukan penyampaian tersebut, Kompas dan Media


(4)

Arus Surya Dilaga, 2014

INTERPRETASI TERHADAP PEMBERITAAN MEDIA MASSA MENGENAI KASUS PENYERBUAN TAHANANDI LP CEBONGAN (SEBUAH ANALISIS FRAMING)

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

pemahaman khalayak pembaca terhadap maksud pemberitaan yang ingin disampaikan kepada khalayak pembaca.

Dalam koherensi, hampir setiap edisi pemberitaan tentang kasus penyerbuan tahanan LP Cebongan menggunakan koherensi yang menunjukkan makna perlawanan untuk mempertegas informasi yang disampaikan, sehingga tidak menimbulkan pertanyaan bagi khalayak pembaca. Koherensi tersebut antara lain “meskipun”, “namun”, dan lain-lain. Selain itu, Kompas dan Media Indonesia juga menggunakan kata ganti orang untuk menandakan bahwa Kompas dan Media

Indonesia melakukan suatu batasan kepada khalayak pembaca.

3) Struktur Skrip

Berdasarkan struktur skrip yang mengandung 5W+1H (What, Who, When,

Wher, Why, dan How), Kompas dan Media Indonesia menampilkan pemberitaan

kasus penyerbuan tahanan LP Cebongan ini dengan lengkap dan jelas, meskipun beberapa edisi tidak ditampilkan dengan lengkap dan jelas. Kelengkapan pemberitaan yang disampaikan oleh Kompas dan Media Indonesia bertujuan agar khalayak pembaca tidak mengalami kebingungan atau kekurangan informasi terkait kasus penyerbuan tahanan LP Cebongan.

3. Keberpihakan Kompas dan Media Indonesia

Keberpihakan Kompas dan Media Indonesia dalam pemberitaan kasus penyerbuan tahanan LP Cebongan dapat dilihat dari struktur wacana yang dikonstruksi dalam pemberitaan ini. Keberpihakan Kompas dan Media Indonesia dapat dilihat secara jelas dalam teks pemberitaan. Kompas cenderung mendukung Kopassus sebagai pelaku yang telah mengakui kesalahannya sehingga sikap Kopassus yang berjiwa besar tersebut patut diapresiasi. Berbeda dengan Kompas,


(5)

Arus Surya Dilaga, 2014

INTERPRETASI TERHADAP PEMBERITAAN MEDIA MASSA MENGENAI KASUS PENYERBUAN TAHANANDI LP CEBONGAN (SEBUAH ANALISIS FRAMING)

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

telah mengusut kasus penyerbuan tahanan LP Cebongan ini tanpa pandang bulu, sehingga Media Indonesia meminta tim investigasi untuk menyelidiki dan mengungkapkan lebih lanjut siapa yang ada dibalik kasus penyerbuan tahanan LP Cebongan ini. Keberpihakan Kompas dan Media Indonesia dapat terlihat dari kesatuan struktur wacana yang membangun teks pemberitaan kasus penyerbuan tahanan LP Cebongan.

B. Saran

Penelitian ini dapat memberikan gambaran tentang analisis sebuah media massa dengan menggunakan analisis framing model Zhongdang Pan dan Gerald M. Kosicki. Oleh karena itu, penelitian selanjutnya diharapkan dapat menjelaskan dengan lengkap dan jelas tentang suatu peristiwa tertentu pada objek dan media yang berbeda dari penelitian ini. Perbedaan tersebut dilakukan karena setiap media memiliki ciri khas sendiri dalam melakukan konstruksi terhadap suatu peristiwa.

Selain itu, dalam melakukan konstruksi berita yang menjadi ciri khas tersendiri suatu media, diharapkan untuk tidak menonjolkan keberpihakannya kepada suatu kalangan tertentu dan lebih baik dapat bersikap netral dalam memberitakan suatu peristiwa. Hal tersebut dilakukan tentu saja tanpa menghilangkan ciri khas yang dimiliki masing-masing media dalam melakukan suatu konstruksi pemberitaan untuk membangun suatu teks berita.

Hasil penelitian ini pun dapat dianjurkan kepada peneliti selanjutnya, khususnya dalam model analisis Zhongdang Pan dan Gerald M. Kosicki, untuk dapat menambahkan instrumen lainnya yang dapat digunakan untuk melakukan analisis

framing dalam menganalisis wacana berita. Hal tersebut dapat mengisi rumpang yang


(6)

230 Arus Surya Dilaga, 2014

INTERPRETASI TERHADAP PEMBERITAAN MEDIA MASSA MENGENAI KASUS PENYERBUAN TAHANANDI LP CEBONGAN (SEBUAH ANALISIS FRAMING)

Universitas Pendidikan Indonesia | repository.upi.edu | perpustakaan.upi.edu

DAFTAR PUSTAKA

Depdiknas. (2008). Kamus besar bahasa Indonesia. Edisi keempat. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.

Eriyanto. (2008). Analisis Wacana, Pengantar Analisis Teks Media. Yogyakarta: LkiS.

Hestiani, Y. (2010). Konstruksi Berita dan Respons Pembaca tentang Kasus

Mafia Hukum Susno Duadji. (Skripsi). Universitas Pendidikan Indonesia,

Bandung.

Idris, N. S. (2012). Handout Perkuliahan Metode Penelitian Linguistik. (Handout Perkuliahan). Universitas Pendidikan Indonesia, Bandung.

Kusumaningrat, H. & Kusumaningrat, P. (2009). Jurnalistik: Teori dan Praktik. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.

Munfariah, U. (2011). Konstruksi Bingkai (Framing) Pemberitaan Korupsi pada

Tempo dan Media Indonesia. (Skripsi). Universitas Pendidikan Indonesia,

Bandung.

Octaviani, S. (2009). Analisis Bingkai terhadap Pemberitaan Kenaikan Harga

BBM pada Koran Tempo, Edisi Bulan Mei 2008. (Skripsi). Universitas

Pendidikan Indonesia, Bandung.

Pan, Z. & Kosicki, G. M. (1993). Framing Analysis: An Approach to News

Discourse. Dalam Jurnal Political Communication, Volume 10, pp. 55-75,

1993. United Kingdom: Taylor & Francis.

Panggalih, B. L. (2012). Aksi Demonstrasi Mahasiswa Menolak Rencana

Kenaikan Harga BBM (Studi Analisis Framing Pemberitaan Aksi Demonstrasi Mahasiswa Menolak Rencana Kenaikan Harga BBM di Media Online Krjogja.com Tanggal 20 Maret - 30 Maret 2012). (Skripsi). Fakultas

Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Pembangunan Nasional Veteran, Yogyakarta.

Setiawati, E. (2009). Kasus Lumpur Lapindo dalam Berita Media Online (Analisis

Berita Kasus Lumpur Lapindo di Detikcom). (Skripsi). Universitas Islam

Negeri Sunan Kalijaga., Yogyakarta.

Sobur, A. (2001). Analisis Teks Media, Suatu Pengantar untuk Analisis Wacana,

Analisis Semiotik, dan Analisis Framing. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.

Suhaebah, E. (2011). Kohesi dalam Tajuk Rencana. Yogyakarta: Almatera Publishing.

Sumadiria, AS. H. (2011). Bahasa Jurnalistik: Panduan Praktis Penulis dan