Konstruksi Realitas Media Massa (Analisis Framing Pemberitaan Korupsi M. Nazaruddin di Harian Republika)

KONSTRUKSI REALITAS MEDIA MASSA
(Analisis Framing Pemberitaan Korupsi M. Nazaruddin
di Harian Republika)

SKRIPSI
Diajukan kepada Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi
Untuk Memenuhi Persyaratan Memperoleh Gelar Sarjana Ilmu Sosial Islam
(S.Kom.I)

Di Susun Oleh:
Ahmad Fauzi
108051000099

JURUSAN KOMUNIKASI DAN PENYIARAN ISLAM
FAKULTAS ILMU DAKWAH DAN ILMU KOMUNIKASI
UIN SYARIF HIDAYATULLAH
JAKARTA
2013 M/1434 H

LEMBAR PERNYATAAN

Dengan ini saya menyatakan bahwa:
1) Skripsi ini merupakan hasil karya asli saya yang diajukanuntuk memenuhi salah satu
persyaratan meraih gelar Strata 1 di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
2) Semua sumber yang saya gunakan dalam penulisan ini telah saya cantumkan sesuai
dengan ketentuan yang berlaku di Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
3) Jika dikemudian hari terbukti bahwa karya ini bukan hasil karya saya atau merupakan
jiplakan dari karya orang lain, maka saya bersedia nemerima sanksi yang berlaku di
Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.

Ciputat, 26 September 2013

AHMAD FAUZI
108051000099

i

ABSTRAK
Penelitian ini dimaksudkan untuk mengetahui bagaimana sikap Harian Umum
Republika dalam mengkonstruksi pembertiaan terhadap sebuah isu korupsi yang
belum memiliki status yang jelas di mata hukum. Kasus Nazaruddin dalam
keterlibatannya dalam korupsi Wisma Atlet di Pamlembang menjadi alasan yang
tepat bagi peneliti untuk meneliti ini lebih dalam.
Penelitian ini merupakan penelitian melalui pendekatan kualitatif dengan
menggunakan analisis framing sebagai metodenya. Pengumpulan data dalam
penelitian ini menggunakan metode observasi teks/document research. Observasi
teks dalam hal ini dibedakan menjadi dua bagian, yaitu teks berupa data primer dan
data sekunder. Data primer merupakan sasaran utama dalam analisis, sedangkan data
sekunder diperlukan guna mempertajam analisis data primer sekaligus dapat
dijadikan bahan pelengkap ataupun pembanding. Sedangkan teknik analisis data yang
digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan model framing Robert
N. Entman. Dalam model framing ini memiliki empat elemen untuk mengetahui
bagaimana sebuah media massa membingkai berita. Yakni define problem, dainose
causes, make moral judgment, dan treatment recommendation.
Pemilihan berita berdasarkan unsur kebaharuan. Karena kebaharuan di sini
bukan hanya fakta yang baru saja terjadi, melainkan juga fakta yang telah lama terjadi
namun terus terungkap kebenarannya. Pemberitaan ini menarik karena status
Nazaruddin yang belum menjadi tersangka dan juga dalam posisi sakit.
Penelitian ini menemukan titik lemah pada diri Harian Umum Republika. Ini dapat
terlihat dari bagaimana Republika memilih narasumber untuk dijadikan rujukan
dalam pemberitaan mengenai kasus Nazaruddin. Republika hanya mengedepankan
pendapat dari elit Partai Demokrat dan KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) dalam
membingkai berita ini. Mereka tidak bermain dari pendapat para pengamat maupun
ICW (Indonesian Corruption Watch) yang selalu menyuarakan ke kritisannya
terhadap isu ini. Alhasil, Republika memframe pemberitaan ini hanya datar saja tanpa
mampu membawa pemikiran pembaca ke ruang yang lebih dalam.
Harian Republika juga mengesampingkan proses eksternalisasi dan
objektifikasi dalam proses pembentukan sebuah berita. Proses tersebut dibatasi oleh
internalisasi yang dilakukan oleh Republika yang menganggap bahwa pemberitaan
korupsi ini jangan sampai menimbulkan polemik baru karena menyampaikan
informasi yang belum terkonfirmasi baik dari pelaku maupun pemberi informasi
tersebut. Pembentukan berita seperti ini berbenturan dengan kebebasan pekerja
medianya dalam mengkonstruk sebuah pemberitaan. Ini juga menempatkan mereka
kepada satu keberpihakan semu. Mereka mengajak pembaca untuk menganggap
korupsi adalah musuh bersama yang harus dilawan, namun dilain sisi mereka juga
bermain aman dalam memberitakan sebuah informasi kourpsi.
Keyword: Framing, Konstruksi Berita, dan Korupsi

ii

KATA PENGANTAR
Dengan menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang. Segala puji
dan syukur tercurah hanya kepada-Nya Tuhan semesta alam. Shalawat dan salam tercurahkan
kepada Nabi Muhamad SAW yang telah membimbing kita pada derajat kemanusiaan yang lebih
baik.
Alhamdulillah atas hidayah-Nya, penulis berhasil menyelesaikan tugas skripsi. Skripsi
yang diberi judul “Konstruksi Realitas Media Massa (Analisis Framing Pemberitaan Korupsi
M Nazaruddin di Harian Republika)” ini merupakan salah satu syarat yang harus dipenuhi
penulis untuk memperoleh gelar sarjana dalam bidang Komunikasi dan Penyiaran Islam pada
Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Jakarta.
Penulis menyadari dalam pembuatan skripsi ini telah mendapat bantuan, dukungan dan
dorongan dari berbagai pihak sehingga penulis dapat menyelesaikan dengan baik. Untuk itu
dengan segala kerendahan hati, perkenankanlah penulis mengungkapkan rasa terima kasih yang
setulus-tulusnya kepada:
1. Prof. Dr. Komarudin Hidayat selaku Rektor Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif
Hidayatullah Jakarta.
2. Dr. Arief Subhan, M.A selaku Dekan Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN
Syarif Hidayatullah Jakarta.
3. Drs. Jumroni M.Si dan Drs. Umi Musyarofah M.A. selaku Ketua dan Sekretaris Jurusan
Komunikasi dan Penyiaran Islam UIN Syarif Hidayatullah Jakarta.
4. Dr. Gun Gun Heryanto M. Si. selaku Dosen Pembimbing Skripsi. Terima kasih penulis
ucapkan karena telah bersabar dapat meluangkan waktunya untuk memberikan
iii

bimbingan, pengarahan, dan motivasi hingga terselesaikannya skripsi ini. Semoga terus
menjadi dosen yang istimewa di hati mahasiswa. Selalu sederhana dan tetap membumi
walaupun terbang ke angkasa. Selalu mengajarkan kami (mahasiswa) untuk selalu
berproses menjadi orang hebat.
5. Segenap Dosen Fakultas Ilmu dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Syarif Hidayatullah
Jakarta yang telah banyak memberikan keilmuan serta berbagai wawasan dan
pengalamannya kepada penulis selama menuntut ilmu di jurusan Komunikasi dan
Penyiaran Islam. Semoga penulis dapat mengamalkan ilmu yang telah Bapak dan Ibu
berikan, Amin.
6. Seluruh staf dan karyawan Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi UIN Syarif
Hidayatullah Jakarta yang telah membantu penulis dalam urusan administrasi selama
perkuliahan danpenelitian skripsi ini.
7. Syahruddin El-Fikri (Wakil Redaktur Pelaksana Harian Umum Republika) selaku
narasumber yang telah meluangkan waktu kepada peneliti untuk melakukan penelitian.
Kebesaran hati beliau untuk selalu membantu orang lain semoga selalu di ridhai oleh
Allah SWT.
8. Terima kasih yang tak terhingga kepada Ayahanda SUAD dan Ibunda Hasanah yang
selalu mendukung langkah anak-anaknya dengan cara mereka sendiri untuk berproses
menjadi lebih baik lagi. Dengan kesederhanan kami diajarkan kehidupan.
9. Kakak-kakakku yang tersayang. Mulyati, M. Sidik, M. Idris SH, Umayyati, Nur Seha,
mereka luar biasa. Dengan pribadinya saya belajar kehidupan.
10. Keponakanku Habibi, Haidar, Nia yang selalu menjadi penghilang duka dan selalu
memberikan keceriaan.

v

11. Teman-teman mahasiswa seperjuangan KPI angkatan 2008, khususnya KPI C yang telah
memberikan banyak cerita, pengalaman, dan inspirasi untuk penulis. Ferdian, Saiful
Bahri, Nurul Iman, Ika Kurnia Utami, Gana Buana, Anisaturohmah, Aimatunisa, Herdina
Rosidi, Aris Budi Sismansyah, Ade Irfan Abdurrahman, Lala. Kita menjadi hebat dengan
saling memberikan kelengkapan diantara kekurangan masing-masing. Kita luar biasa.
12. Semua pihak yang telah memberikan konstribusi terhadap penyelesaian skripsi ini yang
tidak dapat peneliti sebutkan satu persatu, namun tidak mengurangi rasa hormat dan
ucapan terimakasih kepada semua pihak.

Ciputat, 16 Juli 2013

v

DAFTAR ISI

LEMBAR PERNYATAAN .............................................................................

i

ABSTRAK ........................................................................................................

ii

KATA PENGANTAR ...................................................................................... iii
DAFTAR ISI ..................................................................................................... vi
BAB I

BAB II

PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah ........................................................

1

B. Pembatasan dan Perumusan Masalah....................................

5

C. Tujuan dan Manfaat Penelitian .............................................

6

D. Kajian Pustaka ......................................................................

7

E. Metdeologi Penelitian ...........................................................

8

KAJIAN TEORITIS
A. Konseptualisasi Konstruksi Realitas Sosial ......................... 14
B. Konseptualisasi Analisis Framing ........................................ 22
C. Konseptualisasi Berita ......................................................... 28
1. Pengertian Berita ............................................................. 28
2. Syarat-syarat Berita ........................................................ 30
3. Nilai-nilai Berita ............................................................. 31
4. Jenis-jenis Berita ............................................................ 34
5. Sumber Primer dan Sumber Sekunder dalam Berita ...... 36
D. Konseptualisasi Media Massa .............................................. 37
1. Fungsi-fungsi Media Massa ........................................... 39

vi

BAB III

PROFIL MEDIA
A. Harian Republika .................................................................. 43
1. Sejarah Perusahaan ......................................................... 43
2. Visi dan Misi Harian Republika .................................... 47
3. Konsep Produk ............................................................... 49
4. Struktur Redaksi ............................................................. 51
5. Segmentasi Pembaca ....................................................... 53

BAB IV

TEMUAN DAN ANALISIS DATA
A. Konteks Kasus ...................................................................... 54
1. Paparan Singkat Objek Penelitian Republika ................ 57
B. Analisis Framing Pemberitaan Kasus M Nazaruddin di
Harian Umum Republika ..................................................... 58
1. Frame Harian Republika dengan Judul “KPK
Pastikan Panggil Nazaruddi” yang Terbit pada
Tanggal 3 Juni 2011 .................................................... 58
2. Frame Harian Republika dengan Judul “Langkah
Jemput Paksa Bergantung Status Nazaruddin” yang
Terbit pada Tanggal 6 Juni 2011 ................................. 62
3. Frame Harian Republika dengan Judul “Demokrat
Gagal Bawa Pulang Nazaruddin” yang Terbit pada
Tanggal 7 Juni 2011 .................................................... 65
4. Frame Harian Republika dengan Judul “KPK Resmi
Panggil Nazaruddin” yang Terbit pada Tanggal 9 Juni
2011 ............................................................................. 69
vii

5. Frame Harian Republika dengan Judul “Nazaruddin
Diduga Disembunyikan” yang Terbit pada Tanggal 10
Juni 2011 ...................................................................... 73
6. Frame Harian Republika dengan Judul “Nazaruddin
Mangkir” yang Terbit pada Tanggal 11 Juni 2011 ...... 76
7. Frame Harian Republika dengan Judul “Pemerintah
dan KPK Lamban” yang Terbit pada Tanggal 12 Juni
2011 ............................................................................. 80
8. Frame Harian Republika dengan Judul “KPK
Pastikan Panggil Paksa Nazaruddin” yang Terbit pada
Tanggal 16 Juni 2011 .................................................. 82
9. Frame Harian Republika dengan Judul “Demokrat
Respons Tudingan Nazar” yang Terbit pada Tanggal
18 Juni 2011 ................................................................. 85
10. Frame Harian Republika dengan Judul “KPK Segera
Panggil TPF Demokrat” yang Terbit pada Tanggal 21
Juni 2011 ...................................................................... 88
C. Pembahasan .......................................................................... 91
BAB V

PENUTUP
A. Kesimpulan ........................................................................... 99
B. Saran ...................................................................................... 100
1. Saran Akademisi ...................................................... 100
2. Saran Praktisi ........................................................... 101

DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................... 102
LAMPIRAN

viii

DAFTAR TABEL

Tabel 1

......................................................................................... 61

Tabel 2

......................................................................................... 64

Tabel 3

......................................................................................... 68

Tabel 4

......................................................................................... 72

Tabel 5

......................................................................................... 75

Tabel 6

......................................................................................... 79

Tabel 7

......................................................................................... 82

Tabel 8

......................................................................................... 85

Tabel 9

......................................................................................... 88

Tabel 10

......................................................................................... 91

ix

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah
Isi media merupakan sebuah informasi yang dapat merubah sebuah persepsi
masyarakat terhadap apa yang disampaikan oleh media tersebut. Apalagi isu yang di
sampaikan mengenai sebuah pemberitaan mengenai pemerintahan. Ini merupakan isu
sangat sensitive bagi khalayak. Semakin gencarnya media dalam memberitakan isu
tentang boroknya pemerintahan kita maka akan semakin gencar juga focus khalayak
terhadap isu tersebut.
Selama ini berita yang disampaikan oleh media elektronik maupun media
cetak hanya dianggap sebagai sebuah representasi dari kenyataan. Kenyataan itu
ditulis kembali dan ditransformasikan lewat berita. Ia bisa mengesampingkan
keberpihakan dan pilihan moral sehingga apa yang diungkapkan murni fakta, bukan
penilaian individu.
Biasanya kita menilai berita hanya melihat, mendengar dan membacanya saja
tanpa adanya sebuah pengaruh yang memasuki benak kita dalam menilai sebuah fakta
yang di sampaikan oleh media tersebut. Dalam buku Jumroni (2006) Alex Sobur
mendefinisikan media massa sebagai “suatu alat untuk menyampaikan berita,
penilaian, atau gambaran umum tentang banyak hal, ia mempunyai kemampuan
untuk berperan sebagai institusi yang dapat membentuk opini public, antara lain,
karena media juga dapat berkembang menjadi kelompok penekan atas suatu ide atau

1

2

gagasan, dan bahkan suatu kepentingan atau citra yang ia representasikan untuk
diletakkan dalam konteks kehidupan yang lebih empiris”.1
Dari penjelasan diatas, dapat kita mengerti memang saat kita membaca,
mendengar, dan melihat sebuah informasi yang terjadi kita tidak hanya melakukan
kegiatan tersebut saja, tetapi kita telah terkonstruksi pemikiran kita terhadap isi
pemberitaan tersebut.
Dalam pandangan konstruksionis media bukanlah saluran yang bebas, ia juga
subjek yang mengkonstruksi realitas, lengkap dengan pandangan, bias, dan
pemihakannya. Di sini media di pandang sebagai agen konstruksi social yang
mendefinisikan realitas.
Setelah mereka memahami bahwa media bukan hanya menyampaikan berita
saja, lalu mereka menafsirkan isi berita tersebut melalui penafsiran mereka sendiri.
Setiap orang memiliki pengalaman, preferensi, pendidikan tertentu akan menafsirkan
realitas itu dengan konstruksinya masing-masing.2 Jadi, seseorang akan menafsirkan
isi berita sesuai dengan apa yang melekat pada dirinya, bisa berupa pengalaman,
pendidikan, dan preferensi yang pernah mereka alami sendiri.
Dalam pandangan konstruktivis wartawan tidak bisa menyembunyikan
keberpihakannya, karena ia merupakan bagian intrinsic dalam pembentukan berita. Di
sini wartawan bukan sebagai palapor yang hanya memindahkan realitas ke dalam
sebuah berita. Di dalam pemberitaan wartawan memang tidak hanya memindahkan

1

Jumroni dan Suhaimi, Metode-Metode Penelitian Komunikasi, (Jakarta: UIN Jakarta Press,
2006), h. 85
2
Eriyanto, Analisis Framing: Konstruksi, Ideologi dan Politik Media,( Yogyakarta: Lkis,
2002), h. 18

3

realitas yang terjadi di dalam masyarakat ke dalam sebuah berita, tetapi wartawan
juga menafsirkan realitas yang terjadi sesuai penafsiran mereka sendiri baru mereka
masukkan ke dalam berita. Hal ini terjadi karena pemberitaan berimbang sulit
bersaing dengan pemberitaan memihak, karena pembaca cenderung membaca apa
yang memang ingin dibacanya, bukan apa yang seharusnya dibaca.3
Kepemilikan media menjadi hal yang sangat dilematis dalam dinamika
industry media. Dalam hal ini, siapapun yang memiliki modal besar dan mempunyai
kepentingan akan berusaha menguasai media. Karena era perpolitikan Indonesia saat
ini telah memasuki fase politik pencitraan. Di mana media sebagai mediator paling
ampuh sebagai media pencitraan kepentingan mereka. Walaupun apa yang mereka
sampaikan hanya berupa pesan-pesan simbolik saja.4
Hal ini terjadi ketika sekarang banyak pengusaha yang memiliki kepentingan
di dunia politik menjadi pemilik sebuah media untuk alat pencitraan dirinya. Tentu
hal ini sangatlah menarik untuk lebih di teliti terhadap pemberitaan yang di
sampaikan oleh Koran Harian Republika. Dalam melihat konteks ini perlu kita teliti
bagaimana Republika memposisikan dirinya dalam menyampaikan pemberitaan.
Tentunya pengaruh yang diberikan oleh pemilik media dalam menyampaikan
berita dan juga perspektif wartawan yang dimasukkan dalam isi berita pun akan
sangat mempengaruhi para pembaca menafsirkan pemberitaan yang di sampaikan
Harian Republika. Atas dasar itulah penilitian ini sangat penting untuk dilaksanan.
3

Rivers, L. William. Jensen, W Jay & Peterson, Theodore, Media Massa dan Masyarakat
Modern, (Jakarta: Kencana, 2008) h. 12
4
Merujuk pada tulisan Gun Gun Heryanto ( SINAR HARAPAN, 9 February 2011 ) mengutip
pada tulisan Pamela J Shoemaker dan Stephen D Reese dalam bukunya Mediating the Message:
Theories of Influence on Mass Media Content

4

Kasus korupsi Nazaruddin ini sangat mengejutkan banyak pihak. Dan untuk
menyelesaikan kasus ini pun sesungguhnya membutuhkan waktu yang sangat lama.
Pernah muncul dipermukaan bahwa untuk menyelesaikan kasus yang melibatkan
mantan bendahara umum Partai Demokrat ini membutuhkan waktu seratus tahun.
Awal mula kasus ini adalah dari tertangkapnya Sesmenpora (Sekretaris
Menteri Pemuda dan Olahraga) Wafid Muaharram, bos PT Duta Graha Indah M El
Idris, dan seorang perantara Mindo Rosalina. Ketiganya ditangkap atas dugaan
penyuapan terkait proyek Wisma Atlet SEA Games 2011. Pengacara Rosalina,
Kamarudin Simanjuntak menyatakan kliennya sebagai bawahan Nazarudin.
Pernyatann ini terus bergulir di media massa dan menimbulkan dugaan keterlibatan
beberapa elit partai tersebut.
Tentu saja Nazarudin menolak pernyataan dari pengacara Rosalina tersebut.
Nazarudin membantah semua tuduhan yang dialamatkan kepadanya dan Partai
Demokrat. Pemberitaan yang tersu bergulir di media massa tentang kerterkaitannya
Nazarudin dengan kasus penyuapan tersebut memaksa Dewan Kehormatan Partai
Demokrat memecat Nazarudin dari jabatan Bendahar Umum. Pada tanggal 24 Mei
2011 KPK (Komisi Pemberantasan Korupsi) menerbitkan surat bepergian ke luar
negeri terhadap Nazarudin. Namun, Nazarudin telah terbang ke Singapura dengan
alasan berobat, bersamaan waktunya dengan pengumuman pemecatan dirinya dari
Demokrat.
Inilah awal mula pelarian Nazarudin di luar negeri. Pada 10 Juni 2011 Partai
Demokrat membentuk tim yang terdiri atas Sutan Bhatoegana, Jafar Hafsah dan

5

Jhonny Allen Marbun. Tim berhasil menemui Nazarudin di Singapura, namun gagal
membawa pulang Nazarudin ke tanah air. Keberadaan Nazarudin di Singapura karena
sedang berobat dan dalam keadaan sakit berdasarkan keterangan pers yang dilakukan
Partai Demokrat.
Selama pelariannya di luar negeri, Nazarudin selalu membeberkan informasi
tentang beberapa kader Partai Demokrat kepada para wartawan melalui blackberry
messanger. Sampai pada akhirnya tanggal 14 Agustus 2011 Nazarudin berhasil
dibawa pulang dari persembunyiannya di Cartagena, Kolombia.
B. Pembatasan dan Perumusan Masalah
1. Pembatasan Masalah
Agar pembahasan dalam penelitian ini lebih focus dan terarah serta tidak
terjebak pada pembahasan yang terlalu luas, peneliti membatasi masalah hanya dilihat
dari berita-berita yang berkaitan dengan kasus M. Nazaruddin Bendahara Partai
Demokrat yang disampaikan oleh Harian Republika. Lebih tepatnya lagi, pembatasan
masalah pada penelitian ini adalah pemilihan berita yang diterbitkan oleh Harian
Republika pada tanggal 3, 6, 7, 9, 10, 11, 12, 16, 18, 21 Juni 2011.
2. Perumusan Masalah
Dari penjelasan di dalam latar belakang masalah, fokus penelitian ini
mengarah lebih kepada untuk menguji apa yang dikatakan dalam pandangan
konstruksionis yang menyatakan bahwa media bukanlah saluran yang bebas, ia juga
subjek yang mengkonstruksi realitas, lengkap dengan pandangan, bias, dan

6

pemihakannya. Di sini media di pandang sebagai agen konstruksi sosial yang
mendefinisikan realitas.
Jika dilihat dari pandangan konstruksionis, sebenarnya pada saat ini media
yang sudah mengutamakan keuntungan dan pemilik media yang sudah memiliki
kepentingan di dunia perpolitikan. Peneliti ingin mengetahui apakah media dalam
mengkonstruksi realitas benar-benar berasal dari pandangan wartawan bukan dari
pemilik media. Apakah di harian ini sudah terdapat kebebasan jurnalistik dalam
mengkonstruk berita.
C. Tujuan dan Manfaat Penelitian
1. Tujuan Penelitian
Adapun tujuan yang ingin di capai dari penelitian ini adalah sebagai
berikut:
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui cara Harian Umum Republika
membingkai pemberitaan menengenai kasus M Nazaruddin.
2. Manfaat Penelitian
Adapun manfaat yang penulis harapkan dari adanya penelitian ini antara
lain sebagai berikut:
a. Secara akademisi dapat menjadi bahan rujukan dan menambah
khazanah ilmu pengetahuan untuk para aktivis dan para akademisi
Fakultas Ilmu Dakwah dan Ilmu Komunikasi.

7

b. Secara praktisi dapat dijadikan contoh dan menambah pengetahuan,
wawasan serta pedoman terhadap bagaimana media cetak mampu
mengkonstruksi pemikiran pembacanya.
D. Kajian Pustaka
Setelah peneliti malakukan pengamatan di perpustakaan Faklultas Dakwah
dan Perpustakaan Utama UIN Jakarta. Peneliti mendapatkan penelitian yang sama,
hanya saja penelitian yang sudah ada kebanyakan tentang pemberitaan keagamaan
saja jarang yang menyinggung politik.
Sedangkan penelitian tentang analisis framing terhadap pemberitaan di media
massa hanya ada satu penelitian yang dilakukan oleh Donie Kadewandana.
Donie Kadewandan melakukan penelitian dengan judul “ Konstruksi Realitas
di Media Massa (Analisis Framing Terhadap Pemberitaan Baitul Muslimin Indonesia
PDI-P di Harian Kompas dan Republika)”.
Perbedaan antara penelitian yang peneliti lakukan dengan penelitian saudara
Donie Kadewandana. Kalau peneliti sendiri meneliti tentang pemberitaan kasus
korupsi yang dilakukan oleh M. Nazzaruddin di harian Republika, sedangkan
penelitian yang dilakuakan oleh Donie adalah analisis framing pada kasus Baitul
Muslimin yang merupakan sayap islam dari PDI-P pada pemberitaan Harian Kompas
dan Republika. Disini terlihat jelas perbedaan antara peneliti dengan penelitian
terdahulu, yakni penelitian sekarang lebih berfokus terhadap kasus politik yang
melibatkan mantan bendahara Partai Demokrat sedangkan yang terdahu lebih

8

berfokus terhadap peranan organisasi sayap yang didirikan oleh Partai Demokrasi
Indonesia Perjuangan yaitu Baitul Muslimin.
Dari tinjauan pustaka ini, peneliti yakin apa yang akan di teliti belum pernah
ada sebelumnya. Maka dengan itulah peneliti yakin mengajukan penelitian teersebut
sebagai langkah awal untuk mengajukan skripsi.
E. Metodelogi Penelitian
1. Jenis Penelitian
Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan menggunakan
pendekatan kualitatif. Pendekatan kualitatif memusatkan perhatian pada prinsipprinsip umum yang mendasari perwujudan sebuah makna dari gejala-gejala sosial di
dalam masyarakat. Obyek analisis dalam pendektatan kualitatif adalah makna dari
gejala-gejala sosial dan budaya dengan menggunakan kebudayaan dari masyarakat
bersangkutan untuk memperoleh gambaran mengenai katagorisasi tertentu.5
Menurut Crasswell, beberapa asumsi dalam pendekatan kualitatif yaitu
pertama, peneliti kualitatif lebih mementingkan proses daripada hasil. Kedua, peneliti
kualitatif lebih memerhatikan interpretasi. Ketiga, peneliti kualitatif merupakan alat
utama dalam menumpulkan data dan analisis data serta peneliti kualitatif harus terjun
langsung ke lapangan, melakukan observasi partisipasi di lapangan. Keempat, peneliti
kualitatif menggambarkan bahwa peneliti terlibat dalam proses penelitian, interpretasi
data, dan pencapaian pemahaman melalui kata atau gambar.6

5

Burhan Bungin, Sosiologi komunikasi massa: ( teori, paradigma dan diskursus teknologi
komunikasi di masyarakat ) (Jakarta: Kencana, 2007) h. 306
6
Ibid, h. 307

9

2. Metode Penelitian
Metode yang di gunakan dalam penelitian ini adalah analisis framing. Analisis
framing adalah analisis yang di gunakan untuk mengetahui bagaimana realitas (aktor,
kelompok, atau apa saja) di konstruksi oleh media.7 Yang menjadi titik perhatian
bukan apakah media memberitakan negatif atau positif, melainkan bagaimana bingkai
yang dikembangkan oleh media. Sikap mendukung, positif, atau negatif hanyalah
efek dari bingkai yang dikembangkan oleh media.
3. Teknik Pengumpulan Data
Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan metode observasi
teks/document research. Observasi teks dalam hal ini dibedakan menjadi dua bagian,
yaitu teks berupa data primer dan data sekunder. Data primer merupakan sasaran
utama dalam analisis, sedangkan data sekunder diperlukan guna mempertajam
analisis data primer sekaligus dapat dijadikan bahan pelengkap ataupun pembanding.
a. Data primer (primary-sources), yaitu teks berita dari harian Republika.
b. Data sekunder (secondary-sources), yaitu berupa buku-buku, website,
literature-literatur lain yang ada relevansinya dengan materi penelitian untuk
selanjutnya dijadikan bahan argumentasi, untuk kemudian menjadi bahan
penelitian skripsi ini.
4. Unit Analisis
Unit analisis dari penelitian ini adalah teks berita yang dipakai dalam kasus
korupsi yang melibatkan bendahara umum Partai Demokrat M. Nazarudin pada
harian Republika.
7

Eriyanto, Analisis Framing,

10

5. Teknik Analisis Data
Analisis data merupakan cara yang dipakai untuk menganalisis, mempelajari,
serta mengoolaha kelompok data tertentu sehingga dapat diambil suatu kesimpulan
yang kongkrit tentang persoalan yang diteliti dan dibahas. Oleh karena yang digali
berupa data kualitatif, maka analisis yang digunakan adalah analisis kualitatif.
Mengikuti Bogdan dan Biklen, analisis data kualitatif adalah upaya yang dilakukan
dengan jalan bekerja dengan data, mengorganisasikan data, memilah-memilahnya
menjadi satuan yang dapat dikelola, mensintesiskannya, mencari, dan menemukan
pola menemukan apa yang penting, dan apa yang dipelajari, dan memutuskan apa
yang dapat diceritakan oleh orang lain.8
Analisis data dalam penelitian ini menggunakan model framing Robert N.
Entman. Konsep framing, oleh Entman, digunakan untuk “menggambarkan proses
seleksi dan menonjolkan aspek tertentu dari realitas oleh media”.9 Framing dapat
dipandang sebagai penempatan informasi dalam konteks yang khas sehingga isu
tertentu mendapatkan alokasi lebih besar daripada isu yang lain.
Framing memberi tekanan lebih pada bagaimana teks komunikasi ditampilkan
dan bagian mana yang ditonjolkan/dianggap penting oleh pembuat teks.10 Kata
penonjolan itu sendiri dapat didefinisikan: membuat informasi lebih terlihat jelas,
lebih bermakna, atau lebih mudah diingat khalayak, lebih terasa dan tersimpan dalam
memori dibandingkan dengan yang disajikan secara biasa.

8

Lexy. J. Moloeng, Metodelogi Penelitian Kualitatif, (Bandung: PT. Remaja Rosdakarya,
2006) h. 248
9
Eriyanto, Analisis Framing: Konstruksi, Ideologi, dan Politik Media, h. 220
10
Ibid, h. 220

11

Entman melihat framing dalam dua dimensi besar: seleksi isu dan penekanan
atau penonjolan aspek-aspek tertentu dari realitas/isu. Penonjolan adalah proses
membuat informasi menjadi lebih bermakna, lebih menarik, berarti, atau lebih diingat
oleh khalayak. Realitas yang disajikan secara menonjol atau mempunyai
kemungkinan lebih besar untuk diperhatikan dan mempengaruhi khalayak dalam
memahami suatu realitas.11
Dalam konsepsi Entman, framing pada dasarnya merujuk pada pemberian
definisi, penjelasan, evaluasi, dan rekomendasi dalam suatu wacana untuk
menekankan kerangka berpikir tertentu terhadap wacana yang diwacanakan.12
Frame berita timbul dalam dua level. Pertama, konsepsi mental yang
digunakan untuk memproses informasi dan sebagai karakterisitik dari teks berita.
Kedua, perangkat spesifik ari narasi berita yang dipakai untuk membangun pengertian
mengenai persitiwa. Frame berita dibentuk dari kata kuci, metafora, konsep, symbol,
citra yang ada dalam narasi berita. Karenanya, frame dapat dideteksi dan diselidiki
dari kata, citra dan gambar tertentu yang memberi makna tertentu dari teks berita.
Kosa kata dan gambar itu ditekankan dalam teks sehingga lebih menonjol
dibandingkan bagian lain dalam teks.13
Dalam model Entman, mem frame sebuah berita memiliki empat elemen:
1. Define problems (pendefinisian masalah) adalah elemen yang pertama kali
dapat kita lihat mengenai framing. Ini merupakan master frame/bingkai yang
paling utama. Ia menekankan bagaimana peristiwa dipahami oleh wartawan.
11

Ibid, h, 221
Ibid, h. 222
13
Ibid, h. 224
12

12

Ketika ada masalah atau peristiwa, bagaimana peristiwa atau isu tersebut
dipahami. Peristiwa yang sama bisa dipahami secara berbeda. Dan bingkai
yang berbeda ini menyebabkan realitas bentukan yang berbeda.14
2. Diagnose causes (memperkirakan penyebab masalaha), merupakan elemen
framing untuk membingkai siapa yang dianggap sebagai actor dari suatu
peristiwa. Penyebab di sini bisa berarti apa (what), tetapi bisa juga berarti
siapa (who). Bagaimana peristiwa dipahami, tentu saja menentukan apa dan
siapa yang dianggap sebagai sumber masalah. Karena itu, masalah yang
dipahami secara berbeda, penyebab masalah secara tidak langsung juga akan
dipahami secara berbeda pula.15
3. Make moral judgement (membuat pilihan moral) adalah elemen framing yang
dipakai untuk membenarkan/memberi argumentasi pada pendefinisian
masalah yang sudah dibuat. Ketika masalah sudah didefinisikan, penyebab
masalah sudah ditentukan, dibutuhkan sebuah argumentasi yang kuat untuk
mendukung gagasan tersebut. Gagasan yang dikutip berhubungan dengan
sesuatu yang familiar dan dikenal oleh khalayak.16
4. Treatment

recommendation

(menekankan

penyelesaian).

Elemen

ini

digunakan untuk menilai apa yang dikehendaki oleh wartawan. Jalan apa yang
dipilih untuk menyelesaikan masalah. Penyelesaian itu tentu saja sangat

14

Ibid, h. 225
Ibid, h. 225
16
Ibid, h. 226
15

13

tergantung bagaimana peristiwa itu dilihat dan siapa yang dipandang sebagai
penyebab masalah.17
Selanjutnya data diolah dengan penjelasan table-tabel yang merujuk pada
model Robert N. Entman, sehingga penyajian table serta teori itu akan tampak
bagaiamana Harian Republika mengangkat pemberitaan seputar korupsi yang
dilakukan M. Nazarudin.

17

Ibid, h. 227

BAB II
KAJIAN TEORI
A. Konseptualisasi Konstruksi Realitas Sosial
Bagi banyak orang media merupakan sumber untuk mengetahui suatu
kenyataan atau realitas yang terjadi, bagi masyarakat biasa, pesan dari sebuah media
akan dinilai apa adanya. Apa kata media dan bagaimana penggambaran mengenai
sesuatu, begitulah realitas yang mereka tangkap.1
Berita dari sebuah media bagi masyarakat umum dipandang sebagai barang
suci yang penuh obyektifitas. Namun berbeda dengan kalangan tertentu yang
memahami betul gerak pers. Mereka akan menilai lebih dalam terhadap pemberitaan,
yaitu dalam setiap penulisan berita ternyata menyimpan subjektivitas seorang penulis.
Seorang penulis pasti akan memasukkan ide-ide mereka dalam analisis data-data
yang diperoleh di lapangan.
Kenyataan ini seperti mengamini bahwa media berhasil dalam tugasnya
merekonstruksi realitas dari peristiwa itu sendiri, sehingga pembaca terpengaruh dan
memiliki pandangan seperti yang diinginkan media dalam menilai suatu peristiwa.
Isi media adalah hasil konstruksi realitas dengan ideologi, kepentingan,
keberpihakan media dalam memandang sebuah berita, apalagi bila berita tersebut
memiliki akibat yang mungkin menguntungkan atau merugikan media berkaitan
dengan pihak-pihak berpengaruh terhadap pemberitaan peristiwa itu.

1

Zulkarnaen Nasution, Sosiologi Komunikasi Massa. (Jakarta: Pusat Penerbitan Universitas
Terbuka Departemen Pendidikan Nasional, 2004), h. 10

14

15

Isi media adalah hasil konstruksi realitas dengan bahasa sebagai dasarnya,
sedangkan bahasa bukan saja alat mempresentasikan realitas, tetapi juga menentukan
relief seperti apa yang hendak diciptakan bahasa tentang realitas tersebut. Akibatnya
media massa mempunyai peluang yang sangat besar untuk mempengaruhi makna dan
gambaran yang dihasilkan dari realitas yang dikonstruksinya.2
Istilah konstruksi atas realitas sosial (social construction of reality) menjadi
terkenal sejak diperkenalkan oleh Peter L. Berger dan Thomas Luckmann melalui
bukunya yang berjudul The Social Construction of Reality: A Treatise in the
Sociological of Knowledge (1966). Ia menggambarkan proses sosial melalui tindakan
dan interaksinya, di mana individu menciptakan secara terus menerus suatu realitas
yang dimilki dan dialami bersama secara subyektif.3
Konstruksi realitas sosial adalah sebuah teori yang diciptakan oleh Peter L.
Berger dan Thomas Luckmann. Dalam teori ini berpandangan bahwa realitas
memiliki dimensi subjektif dan objektif. Manusia merupakan instrumen dalam
menciptakan realitas yang objektif melalui proses eksternalisasi, sebagaimana ia
memengaruhinya melalui proses internalisasi yang mencerminkan realitas yang
subjektif. Dengan demikian, masyarakat sebagai produk manusia, dan manusia
sebagai produk masyarakat, yang keduanya berlangsug secara dialektis: tesis,
antitesis dan sintesis. Kedialektisan itu sekaligus menandakan bahwa masyarakat
tidak pernah sebagai produk akhir, tetapi sebagai proses yang sedang terbentuk.

2

Ibnu Hamad, dkk., Kabar-kabar Kebencian. (Jakarta: Institute Studi Arus Informasi. PT.
sembrani Aksara Nusantara, 2001) h. 74-74.
3
Burhan Bungin, Konstruksi Sosial Media Massa, ( Jakarta: Kencana Prenada Media Group,
2008) h. 13

16

Manusia sebagai individu sosial pun tidak pernah stagnan selama ia hidup ditengah
masyarakatnya.
Asal mula konstruksi sosial dari filsafat konstruktivisme, yang dimulai dari
gagasan-gagasan konstruktif kognitif. Menurut von Glasersfeld, pengertian
konstruktif kognitif muncul pada abad ini.4
Sejauh ini ada tiga macam konstruktivisme:5
1. Konstruktivisme radikal; konstruktivisme radikal hanya dapat mengakui
apa yang dapat dibentuk oleh pikiran kita. Bentuk ini tidak selalu
representasi

dunia

nyata.

Kaum

konstruktivisme

radikal

mengesampingkan hubungan antara pengetahuan dan kenyataan sebagai
suatu kriteria kebenaran. Pengetahaun bagi mereka tidak merefleksi suatu
realitas ontologis obyektif, namun sebuah realitas yang dibentuk oleh
pengalaman seseorang.
Bentuk ini biasanya hanya mengakui apa yang dihasilkan oleh pikiran
kita. Mereka tidak menganggap pengetahuan sebagai sebuah realitas.
Karena realitas adalah sesuatu yang dibentuk oleh pengalaman seseorang.
Misalnya adalah, orang Barat akan menilai Islam sebagai sebuah agama
yang mengajarkan kekerasan. Ini karena mereka melihat realitas yang
terjadi selama ini dalam sisi islam begitu banyaknya aksi-aksi kekerasan
yang melibatkan umat islam dalam menegakan amar ma’ruf nahi
mungkar.
4

Burhan Bungin, Sosiologi Komunikasi (Teori, Paradigma, dan Diskursus Teknologi
Komunikasi di Masyarakat), (Jakarta: Kencana 2006), h. 193
5
Burhan Bungin, Konstruksi Sosial Media Massa, h. 14

17

2. Realisme hipotesis; dalam pandangan realisme hipotesis, pengetahuan
adalah sebuah hipotesis dari struktur realitas yang mendekati realitas dan
menuju kepada pengetahuan yang hakiki.
Dalam bentuk ini mereka mengakui pengetahuan sebagai sebuah
hipotesis, lalu mereka membandingkannya dengan segala hipotesis yang
melibatkan sebuah relaitas sehingga meneguhkan diri mereka menuju
pengetahuan yang hakiki. Misalnya islam belum tentu benar walaupun AlQur‟an menuliskan keagungang kebenarannya, selama realitas dari umat
islam itu sendiri tidak menunjukkan kebenaran dalam Al-Qur‟an. Bentuk
ini akan terus melakukan dugaan-dugaan terkait kebenaran pengetahuan
dan juga realitas yang terjadi dalam lingkungan social.
3. Konstruktivisme

biasa;

konstruktivisme

biasa

mengambil

semua

konsekuensi konstruktivisme dan memahami pengetahuan sebagai sebuah
gambaran dari realitas itu. Kemudian pengetahuan individu dipandang
sebagai suatu gambaran yang dibentuk dari realitas objek dalam dirinya
sendiri.
Antara pengetahuan dan pengalaman seseorang mampu menjadi sebuah
realitas dari seseorang. Lebih tepatnya pengetahuan seseorang dipengaruhi
oleh pengalaman seseorang dalam realitas tersebut yang mamou
membentuk dirinya dalam sebuah lingkungan.
Menurut Mufid (2007), Berger dan Luckmann menilai proses mengkonstruksi
melalui interaksi sosial yang dialektis dari tiga bentuk realitas, yakni symbolic reality,
objective reality, dan subjective reality yang berlangsung dalam suatu proses dalam

18

tiga momen simultan: eksternalisasi, objektivasi, dan internalisasi. 6 Objective reality,
merupakan suatu kompleksitas definisi realitas (termasuk ideologi dan keyakinan)
serta rutinitas tindakan dan tingkahlaku yang telah mapan terpola (tercakup di
dalamnya adalah berbagai institusi sosial dalam pasar), yang kesemuanya dihayati
oleh individu secara umum sebagai fakta. Symbolic reality, merupakan semua
ekspresi simbolik dari apa yang dihayati sebagai „objectiver reality‟, termasuk di
dalamnya teks industry media, representasi pasar, kapitalisme dan sebagainya dalam
media. Sedangkan objective reality merupakan konstruksi definisi realitas (dalam hal
ini misalnya media, pasar, dan seterusnya) yang dimiliki individu dan di konstruksi
melalui proses internalisasi.
Adapun dalam pandangan Peter L. Berger tiga tahapan yang dimaksud di sini
adalah7:
1. Eksternalisasi, yaitu usaha pencurahan atau ekspresi diri manusia ke
dalam dunia, baik dalam kegiatan mental maupun fisik. Ini sudah menjadi
sifat dasar manusia, ia akan selalu mencurahkan diri ke tempat dimana dia
berada.
Proses ini berawal dari latar belakang seseorang dalam melakukan
pencurahan dirinya kedalam sebuah realitas. Proses ini dapat dilihat dari
latar belakang pendidikan, sosial, ekonomi dan lain sebagainya. Latar
belakang akan mempengaruhi seseorang dalam melihat realitas.

6

Muhammad Mufid, Komunikasi dan Regulasi penyiaran,( Jakarta: Kencana Prenada Media
Group, 2007), h. 92
7
Eriyanto, Analisis Framing: Konstruksi, Ideologi dan Politik Media (Yogyakarta: LKiS,
2002), h. 16

19

2. Objektivikasi, yaitu hasil yang telah dicapai, baik mental maupun fisik dari
kegiatan eksternalisasi manusia tersebut. Hasil itu menghasilkan realitas
objektif yang bisa jadi akan menghadapi si penghasil itu sendiri sebagai
suatu faktisitas yang berada di luar dan berlainan dari manusia yang
menghasilkannya.
Setelah manusia mencurahkan dirinya ke dalam sebuah realitas, maka
mereka akan menghasilkan sebuah pemaknaan pada dirinya terkait dengan
realitas sekitarnya. Seorang yang berlatar belakang Muslim radikal
misalnya akan melihat perjuangan Front Pembela Islam (FPI) sebagai
tindakan yang wajar dalam melakukan kekerasan untuk menegekan amar
ma’ruf nahi mungkar. Sedangkan bagi seorang Muslim Moderat
perbuatan tersebut dinilai sebagai sebuah tindakan yang melanggar
hukum. Karena akan mengganggu kerukunan umat beragama, selain itu
mereka juga akan menganggap FPI sebagai sebuah organisasi liar yang
melakukan penertiban iman. Latar belakang seseorang akan menghasilkan
realitas yang berbeda dalam melihat kondisi social.
3. Internalisasi, proses ini lebih merupakan penyerapan kembali dunia
objektif ke dalam kesadaran sedemikian rupa sehingga subjektif individu
dipengaruhi oleh struktur dunia sosial. Berbagai macam unsur dari dunia
yang telah terobjektifkan tersebut akan ditangkap sebagai gejala realitas di
luar kesadarannya, sekaligus sebagai gejala internal bagi kesadaran.
Malalui internalisasi, manusia menjadi hasil dari masyarakat.

20

Dalam tahap ini adalah bagaimana manusia kembali merefleksikan apa
yang telah ia hasilkan melalui pencurahan dirinya ke dalam sebuah realitas
dan melihat apa yang dipersepsikan oleh lingkungan sekitar terhadap
realitas yang sama. Misalnya, sebagai pekerja media, seorang wartawan
tidak akan mungkin menuliskan hasil pencurahan dirinya dalam sebuah
realitas untuk dijadikan sebuah berita. Biasanya mereka dibatasi oleh
pengertian-pengertian yang dihasilkan oleh rapat redaksi dalam membuat
realitas dalam sebuah pemberitaan. Dan ini terjadi pada tubuh media
manapun.
Bagi Berger, realitas itu tidak dibentuk secara ilmiah, tidak juga sesuatu yang
diturunkan oleh Tuhan. Tetapi sebaliknya, ia dibentuk dan dikonstruksi.8

Dari

pernyataan seperti itu, berarti realitas tidak pernah memiliki wajah aslinya, akan
selalu ada perbedaan. Setiap orang akan memiliki tafsiran sendiri dalam menghadapi
realitas. Pengalaman, preferensi, pendidikan, dan lingkungan pergaulan akan
menafsirkan sebuah realitas sosial dengan konstruksinya masing-masing.
Ada tiga hal penting dalam penyiapan materi konstruksi sosial yaitu:9
1. Keberpihakan media massa kepada kapitalisme. Sebagaimana diketahui
saat ini hampir tidak ada lagi media massa yang tidak dimiliki oleh
kapitalis. Dengan demikian, media massa tidak bedanya dengan super
market. Semua elemen media massa, termasuk orang-orang media massa

8
9

Ibid, h. 18
Burhan Bungin, Sosiologi Komunikasi, h. 209-210

21

berpikir untuk melayani kapitalisnya, ideologi mereka adalah membuat
media massa yang laku di masyarakat.
2. Keberpihakan semu kepada masyarakat. Bentuk dari keberpihakan ini
adalah dalam bentuk empati, simpati dan berbagai partisipasi kepada
masyarakat, namun ujung-ujungnya adalah untuk “menjual berita” dan
menaikan rating untuk kepentingan kapitalis.
3. Keberpihakan kepada kepentingan umum. Bentuk keberpihakan kepada
kepentingan umum dalam arti sesungguhnya sebenarnya adalah visi setiap
media massa, namun akhir-akhir ini visi tersebut tidak pernah
menunjukkan jati dirinya, namun slogan-slogan tentang visi ini tetap
terdengar.
Jadi, dalam menyiapkan materi konstruksi, media massa memosisikan diri
pada tiga hal tersebut di atas, namun pada umumnya keberpihakan kepada
kepentingan kapitalis menjadi sangat dominan mengingat media massa adalah mesin
produksi kapitalis yang mau apaupun tidak harus menghasilkan keuntungan.
Tidak jarang dalam menyiapkan sebuah materi pemberitaan, terjadi
pertukaran kepentingan di antara pihak-pihak yang berkepentingan, seperti pihakpihak yang berkepentingan dengan sebuah kepentingan

pemberitaan, membeli

halaman-halaman tertentu atau jam-jam siaran tertentu dengan imbalan pertukaran,
bukan saja uang dan materi lain, akan tetapi bisa menjadi blow up terhadap pencitraan
terhadap pihak-pihak yang membeli pemberitaan itu.

22

a. Media dan Berita dilihat Dari Paradigma Konstruksionis
Pendekatan konstruksionis memiliki penilaian sendiri bagaimana media,
wartawan, dan berita dilihat. Fakta atau peristiwa adalah hasil konstruksi. Bagi kaum
konstruksionis, realitas itu bersifat subjektif.10 Realitas itu hadir, karena dihadirkan
oleh konsep subjektif wartawan. Realitas tercipta atas konstruksi, sudut pandang
tertentu dari pandangan wartawan. Disini tidak ada realitas yang bersifat objektif,
karena realitas itu tercipta lewat konstruksi dan pandangan tertentu.
Pertanyaan utama dalam pandangan konstruksionis adalah fakta berupa
kenyataan itu sendiri bukan suatu yang terberi melainkan ada dalam benak kita yang
melihat fakta tersebut. Kitalah yang memberi definisi dan menentukan fakta tersebut
sebagai kenyataan. Fakta ada dalam konsepsi pemikiran orang. Kitalah yang secara
aktif mendefinisikan peristiwa tersebut sebagai peristiwa kriminalitas politik.
B. Konseptualisasi Analisis Framing
Analisis framing adalah salah satu metode analisis teks yang berada dalam
kategori penelitian konstruksionis. Paradigma ini memandang realitas kehidupan
social bukanlah realitas yang natural, tetapi hasil dari konstruksi. Karenanya,
konsentrasi analisis pada paradigma konstruksionis adalah menemukan bagaimana
peristiwa atau realitas tersebut dikonstruksi, dengan cara apa konstruksi itu dibentuk.
Dalam studi komunikasi, paradigma konstruksionis ini seringkali disebut sebagai
paradigm produksi dan pertukaran makna.11

10
11

Eriyanto, Analisis Framing: Konstruksi, Ideologi dan Politik Media, h. 22
Ibid, h. 43

23

Pada dasarnya, analisis framing adalah versi terbaru dari pendekatan analisis
wacana, khususnya untuk menganalisis teks media. Gagasan menegani framing,
pertama kali dilontarkan oleh Beterson tahun 1995. Mulanya, frame dimaknai sebagai
struktur konseptual atau perangkat kepercayaan yang mengorganisir pandangan
politik, kebijkan dan wacana saerta menyediakan kategori-kategori standar untuk
mengapresiasi realitas. Konsep ini kemudian dikembangkan lebih jauh oleh Goffman
pada tahun 1974, yang mengandaikan frame sebagai kepingan-kepingan perilaku
(strips of behavior) yang membimbing individu dalam membaca realitas.12
Dalam konsep komunikasi, framing digunakan untuk membedah sebuah
berita yang ditampilkan oleh media massa dengan melihat isu-isu apa saja yang
ditonjolkan dan isu-isu yang dibuang. Dengan cara itu, kita dapat mengetahui
keberpihakan media massa dalam menyampaikan berita.
Dalam perspektif komunikasi, analisis framing dipakai untuk mebedah caracara atau ideologi media saat mengkonstruksi fakta. Analisis ini mencermati stategi
seleksi, penonjolan, dan pertautan fakta ke dalam berita agar lebih bermakna, lebih
menarik, lebih berarti atau diingat, untuk menggiring interpretasi khalayak sesuai
perspektifnya. Dengan kata lain, framing adalah pendekatan untuk mengetahui
bagaimana perspektif atau cara pandang yang digunakan oleh wartawan ketika
menyeleksi isu dan menulis berita.13
Framing adalah pendekatan untuk melihat bagaimana realitas itu dibentuk dan
dikonstruksi oleh media. Proses pembentukan dan konstruksi realitas itu, hasil
12

Alex Sobur, Analisis Teks Media: Suatu Pengantar Untuk Analisis Wacana, Analisis
Semiotik, dan Analisis Framing. (Bandung: PT. Remaja Rosadakarya, 2006), h. 162
13
Ibid, h. 162

24

akhirnya adalah adanya bagian tertentu dari realitas yang lebih menonjol dan lebih
mudah dikenal. Akibatnya, khalayak lebih mudah mengingat aspek-aspek tertentu
yang disajikan secara menonjol oleh media. aspek-aspek yang tidak disajikan secara
menonjol, bahkan tidak diberitakan, menjadi terlupakan dan sama sekali tidak
diperhatikan oleh khalayak.14
Analisis framing adalah salah satu metode analisa media. Seperti halnya
analisis isi dan semiotik. Framing secara sederhana adalah membingkai sebuah
peristiwa. Sobur mengatakan bahwa analisis framing digunakan untuk mengetahui
bagaimana perspektif atau cara pandang yang digunakan wartawan ketika menyeleksi
isu dan menulis berita.15 Cara pandang dan perspektif itu pada akhirnya menentukan
fakta apa yang diambil, bagian mana yang ditonjolkan dan dihilangkan serta hendak
dibawa kemana berita tersebut.
Framing adalah metode penyajian realitas dimana kebenaran tentang suatu
realitas tidak diingkari secara total, melainkan dibelokkan secara halus, dengan
memberikan sorotan terhadap aspek-aspek tertentu saja, dengan menggunakan istilahistilah yang mempunyai koneksi tertentu, dan dengan bantuan foto, karikatur dan alat
ilustrasi lainnya, dengan kata lain dibingkai, dikonstruksi dan dimaknai oleh media.16
Framing juga dapat dimaknai sebagai tindakan penyeleksi aspek-aspek realitas yang
tergambar dalam teks komunikasinya dan membuatnya lebih menonjol dari aspekaspek yang lain, sambil memperkenalkan definisi problem tertentu, interpretasi
kausal, dan rekomendasi penanganan terhadap masalah yang dibicarakan.
14

Eriyanto, Analisis Framing. h. 76-77
Rachmat Kriyanto, “Teknik Praktik: Riset Komunikasi”, (Jakarta : Kencana, 2006), h. 253
16
Ibid, h. 253

15

25

Penonjolan merupakan proses agar membuat informasi lebih bermakna.
Sebuah realitas yang disajikan secara menonjol akan membuat pembaca memiliki
sebuah perhatian yang lebih terhadap informasi tersebut. Dalam praktiknya, framing
dijalankan oleh sebuah media massa dengan menyeleksi isu tertentu dan
mengabaikan isu lain; serta menonjolkan aspek isu tersebut dengan menggunakan
pelbagai strategi wacana-penempatan yang mencolok (menempatkan di headline,
halaman depan, atau bagian belakang), pengulangan, pemakaian grafis untuk
mendukung dan memperkuat penonjolan, pemakaian label tertentu ketika
menggambarkan orang atau peristiwa yang diberitakan.17
Kata penonjolan (salience) didefinisikan sebagai membuat sebuah informasi
lebih diperhatikan, bermakna, dan berkesan. Suatu peningkatan dalam penonjolan
mempertinggi probabilitas penerima akan lebih memahami informasi, melihat makna
lebih tajam, lalu memprosesnya dan menyimpannya dalam ingatan, bagian informasi
dari teks dapat dibuat lebih menonjol dengan cara penempatannya atau pengulangan
atau mengasosiasikan dengan simbol-simbol bud

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

119 3984 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 1057 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 945 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

21 632 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

28 790 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

60 1348 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

66 1253 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

20 825 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

32 1111 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

41 1350 23