Perbandingan Teknik Tegangan Tinggi (KV) Dengan Tegangan Standar (KV) Terhadap Nilai Ekspose Indeks Pada Pemeriksaan Thorax Dengan Menggunakan Computed Radiography ( CR )

PERBANDINGAN TEKNIK TEGANGAN TINGGI (KV) DENGAN TEKNIK TEGANGAN STANDAR (KV) TERHADAP NILAI EKSPOSE INDEKS PADA PEMERIKSAAN THORAX DENGAN MENGGUNAKAN
COMPUTED RADIOGRAPHY (CR)
SKRIPSI
NURIANI NAINGGOLAN 110821025
DEPARTEMEN FISIKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
UNIVERSITAS SUMATRA UTARA MEDAN 2013
Universitas Sumatera Utara

Judul

: PERBANDINGAN TEKNIK TEGANGAN TINGGI (KV) DENGAN TEKNIK TEGANGAN STANDAR (KV) TERHADAP NILAI EKSPOSE INDEKS PADA PEMERIKSAAN THORAX DENGAN MENGGUNAKAN COMPUTED RADIOGRAPHY (CR)

Kategori

: SKRIPSI

Nama

: NURIANI NAINGGOLAN

Nomor Induk Mahasiswa : 110821025

Program Studi

: SARJANA (S1) FISIKA MEDIK

Departemen

: FISIKA

Fakultas

: MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

Diketahui : Departemen Fisika FMIPA USU
Ketua

Disetujui oleh Pembimbing

(Dr. Marhaposan Situmorang) NIP : 19551030 199803 1 003

Drs. Syahrul Humaidi, M.Sc Nip. 19650517 199303 1 009

Universitas Sumatera Utara

PERNYATAAN PERBANDINGAN TEKNIK TEGANGAN TINGGI (KV) DENGAN TEKNIK TEGANGAN STANDAR (KV) TERHADAP NILAI EKSPOSE INDEKS PADA PEMERIKSAAN THORAX DENGAN MENGGUNAKAN
COMPUTED RADIOGRAPHY (CR)
SKRIPSI Saya mengakui bahwa skripsi ini adalah hasil kerja saya sendiri, kecuali beberapa kutipan dan ringkasan yang masing-masing disebut sumbenya.
Medan, Agustus 2013
NURIANI NAINGGOLAN NIM : 110821025
Universitas Sumatera Utara

KATA PENGANTAR
Puji dan syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa yang senantiasa memberikan sukacita, kekuatan dan hikmat kepada penulis dan hanya karna anugerahNya sajalah sehingga penulis dapat menyelesaikan tugas akhir ini.
Tugas akhir ini diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Sains Jurusan Fisika Medis pada Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universita Sumatera Utara.
Tugas akhir ini dapat terselesaikan berkat jasa-jasa orang hebat disekitar penulis, pada kesempatan ini penulis menyampaikan terimakasih yang setulustulusnya kepada:
1. Bapak Dr. Sutarman, M.Sc selaku Dekan FMIPA USU Medan. 2. Bapak Dr. Marhaposan Situmorang selaku Ketua Departemen Fisika USU
Medan. 3. Bapak Drs. Herli Ginting, MS selaku Koordinator Program Ekstensi Fisika
Medis USU Medan. 4. Bapak Drs. Syahrul Humaidi, M.Sc selaku Dosen Pembimbing yang telah
menyediakan waktu, tenaga, saran, dan bimbingan dalam penulisan skripsi ini. 5. Bapak Dr. Perdinan Sinuhaji MS, Drs. Aditia Warman MS, dan Ibu Dr. Susilawati MS selaku Penguji yang memberikan saran dan masukan berharga untuk perbaikan skripsi ini. 6. Bapak/Ibu Dosen serta seluruh staf Akademi Jurussn Fisika. 7. BapaK Dr. Robert Rumanang DMRD. (LOND), Sp.Rad selaku Kepala Instalasi RSU Materna. 8. Seluruh staf Radiografer RSU Materna 9. Teristimewa orangtua saya J.Nainggolan/ Restina Sitinjak serta Abang, Kakak, dan Adek-adekku yang selalu setia mendoakan dan memberikan semangat. 10. Sahabat-sahabatku Fisika Medis Ekstensi angkatan 2011/2012 ( sdr Gembira, sdr Kenca, sdr Doddy, sdr Ridho, sdri Harta, sdri Juliana, sdri
i
Universitas Sumatera Utara

Juwairiah, sdri Herlina, sdri Helmina dan sdri Juwita) kalian adalah teman seperjuangan yang selalu memberI semangat dan motivasi setiap hari . 11. Semua pihak yang ikut membantu dalam penyelesaian skripsi ini baik secara langsung maupun tidak langsung. Penulis berdoa kiranya Tuhan yang membalas segala kebaikan dan memberkati dengan berlimpah kepada semua pihak yang telah banyak membantu. Penulis menyadari keterbatasan dan juga kemampuan yang dimiliki penulis, penelitian ini masih jauh dari sempurna, maka dari itu penulis sangat mengharapkan saran, dan juga kritik yang membangun. Semoga skripsi ini membawa manfaat bagi pengembangan ilmu pengetahuan.
Medan, Agustus 2013 Penulis
ii
Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK PERBANDINGAN TEKNIK TEGANGAN TINGGI (KV) DENGAN TEGANGAN STANDAR (KV) TERHADAP NILAI EKSPOSE INDEKS
PADA PEMERIKSAAN THORAX DENGAN MENGGUNAKAN COMPUTED RADIOGRAPHY ( CR )
Telah dilakukan penelitian untuk mengetahui perbandingan teknik tegangan tinggi (kV) dengan tegangan standar (kV) pada pemeriksaan Radiografy Thorax Postero Anterior (PA). Pada penelitian ini reseptor yang digunakan adalah reseptor sistim komputer radiography merek Kodak. Penelitian ini dilakukan langsung pada objek pasien, untuk membandingkan hasil citra teknik tegangan tinggi (kV) menggunakan tegangan tabung 109 kV, beban tabung 2,2 mAs dan teknik tegangan standar (kV) menggunakan tegangan tabung 66 kV dan 85 kV dengan beban tabung 8 mAs dan 6,3 mAs. Hasil evaluasi gambar thorax PA dengan menggunakan teknik tegangan tinggi (kV) lebih baik dibandingkan dengan teknik tegangan standar (kV).
Kata kunci : Teknik Tegangan Tinggi (kV), Teknik Tegangan Standar (kV), Ekspose Indeks, Thorax, Computer Radiography.
iii
Universitas Sumatera Utara

ABSTRACT COMPARISON HIGH KV TECHNIQUE WITH STANDARD KV TECHNIQUE OF VALUE INDEX EXPOSURE ON EXAMINATION
THORAX BY USING COMPUTED RADIOGRAPHY ( CR ) Research has been conducted to compare the high kV technique with
the standard technique checks Radiography kV Thorax postero anterior (PA). In this study, the receptor is the receptor used Kodak radiography computer system. The research was carried out directly on the patient objects, to compare the results of the image of high kV technique using tube voltage 109 kV, 2.2 mAs tube load and use standard techniques kV tube voltage of 66 kV and 85 kV with load tube 8 mAs and 6.3 mAs. PA chest image evaluation results by using high kV technique is better than the standard kV technique.
Keywords : High kV Technique, Standard kV Technique, Ekspose Indeks, Thorax, Computed Radiography
iv
Universitas Sumatera Utara

DAFTAR ISI

HALAMAN PENGESAHAN PERNYATAAN KATA PENGANTAR................................................................................. ABSTRAK .............................................................................................. ABSTRACT ..............................................................................................
DAFTAR ISI .............................................................................................. DAFTAR TABEL ....................................................................................... DAFTAR GAMBAR................................................................................... DAFTAR LAMPIRAN ...............................................................................

i iii iv v vii viii ix

BAB I

PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang....................................................................... 1.2 Rumusan Masalah.................................................................. 1.3 Batasan Masalah .................................................................... 1.4 Tujuan Penelitian ................................................................... 1.5 Manfaat Penelitian ................................................................. 1.6 Sistematika Penulisan.............................................................

1 2 3 3 3 4

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA 2.1 Produksi sinar-X .................................................................... 2.2 Spektrum sinar-X ................................................................... 2.3 Interaksi Sinar-X Terhadap Materi ......................................... 2.4 Dosimeter Diagnostik............................................................. 2.5 Pengukuran ESD.................................................................... 2.6 Computed Radiography ( CR ) ...............................................
2.6.1 Imaging Plate ................................................................ 2.6.2 Image Reader ................................................................ 2.6.3 Image Recorder ............................................................. 2.7 Fantom Leeds ........................................................................ 2.8 Anatomi Thorax..................................................................... 2.9 Radiografi Thorax Antero Posterior ( AP ) / Postero Anterior ( PA ) ..........................................................

5 6 8 8 9 9 10 11 12 13 13
15

BAB III METODOLOGI PENILITIAN 3.1 Tempat Penilitian .................................................................. 3.2 Alat dan Bahan ...................................................................... 3.2.1 Pesawat Sinar-X ........................................................... 3.2.2 Computed Radiography ................................................ 3.2.3 Dosimeter ..................................................................... 3.2.4 Thermo Luminescent Dosimeter ( TLD ) ...................... 3.2.5 Fatom Leeds ................................................................ 3.3 Alur Penelitian ....................................................................... 3.4 Uji Fungsi Pesawat ................................................................ 3.4.1 Uji Fungsi Pesawat Sinar-X...........................................

17 17 17 18 19 19 19 21 22 22

v
Universitas Sumatera Utara

3.4.2 Uji Fungsi Computed Radiography................................ 23 3.4.3 Pengambilan Data Citra Dan Dosis Pada Pasien ............ 27

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN 4.1 Hasil Uji Fungsi Pesawat Sinar-X .......................................... 4.2 Hasil Uji Fungsi Computed Radiography (CR) ...................... 4.3 Pengambilan Citra Thorax Dewasa ........................................ 4.4 Evaluasi Citra dan ESD Thorax PA........................................ 4.5 Evaluasi Fantom LEEDS TOR 18FG dan TOR CDR .............

29 29 34 36 38

BAB V PENUTUP 5.1 Kesimpulan............................................................................ 5.2 Saran......................................................................................

39 39

DAFTAR PUSTAKA

vi
Universitas Sumatera Utara

DAFTAR TABEL

Tabel 4.1. Hasil Pengukuran Pixel............................................................... Tabel 4.2 Hasil Pengukuran Dosis dan mAs ............................................... Table 4.3. Nilai Exposure Index dan Nilai Pixel .......................................... Tabel 4.4 Uji Kalibrasi Indikator Dosis ...................................................... Tabel 4.5. Uji Konsistensi Exposure Index.................................................. Table 4.7. Pengukuran ESD ........................................................................

30 30 31 33 34 37

vii
Universitas Sumatera Utara

DAFTAR GAMBAR

Gambar 2.1 Produksi Sinar-X.................................................................... Gambar 2.2 Sinar-X Bremsstrahlung......................................................... Gambar 2.3 Sinar-X Karakteristik ............................................................. Gambar 2.4 Efek fotolistrik ....................................................................... Gambar 2.5 Efek Compton........................................................................ Gambar 2.6 Lapisan Photostimulable Phosphor Imaging Plate .................. Gambar 2.7 Imaging Plate ......................................................................... Gambar 2.8 Image Reader ......................................................................... Gambar 2.9 Rongga Thorax ...................................................................... Gambar 3.1a Pesawat General Electric........................................................ Gambar 3.1b Kontrol panel Pesawat GE ..................................................... Gambar 3.1c Tabung Pesawat GE ............................................................... Gambar 3.2a Kodak CR 850 ....................................................................... Gambar 3.2b Kodak Dry View 8900 ........................................................... Gambar 3.3a Fantom CDR.......................................................................... Gambar 3.3b Fantom TOR 18FG ................................................................ Gambar 4 Alur Penelitian ....................................................................... Gambar 5.1 Hubungan Antara Dosis dengan Pixel .................................... Gambar 5.2 Hubungan Antara Eksposure Index dengan Pixel ................... Gambar 5.3 Hubungan Antara Dosis dengan Eksposure Index .................. Gambar 5.4 Citra Radiogarfi Thorax PA dengan Kondisi Eksposi 66kVp
8mAs ..................................................................................... Gambar 5.5 Citra Radiografi Thorax PA dengan Kondisi Eksposi 85kVp
6.3mA.................................................................................... Gambar 5.6 Citra Radiografi Thorax PA dengan Kondisi Eksposi 109kVp
2.2mAs ..................................................................................

6 7 8 11 11 12 14 15 16 17 18 18 18 18 20 20 21 31 32 32
35
35
36

viii
Universitas Sumatera Utara

DAFTAR LAMPIRAN

LAMPIRAN A
Tabel A.1 Uji Fungsi Akurasi Tegangan Pesawat Sinar – X ....................
Tabel A.2 Uji Kedapatulangan Pesawat Sinar-X .....................................
LAMPIRAN B Tabel B.1 Nilai kontras TOR 18 FG pada eksposi 66 kV,8 mAs, rentang
5 sampai 18 ............................................................................
Tabel B.2 Nilai Kontras untuk TOR 18 FG pada 109 kV, 2.2. mAs rentang 3 sampai 18................................................................
LAMPIRAN C Tabel C.1 Sensitifitas Kontras Rendah TOR CDR pada 66 kV, 8 mAs....
Tabel C.2 Sensitifitas Kontras Rendah TOR CDR pada 109 kV, 2.2 mAs........................................................................................
Tabel C.3 Sensitifitas Kontras Tinggi TOR CDR pada 66 kV, 8 mAs .....
Tabel C.4 Sensitifitas Kontras Tinggi TOR CDR pada 109 kV, 2.2 mAs

41 42
43 43 44 44 44 45

Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK PERBANDINGAN TEKNIK TEGANGAN TINGGI (KV) DENGAN TEGANGAN STANDAR (KV) TERHADAP NILAI EKSPOSE INDEKS
PADA PEMERIKSAAN THORAX DENGAN MENGGUNAKAN COMPUTED RADIOGRAPHY ( CR )
Telah dilakukan penelitian untuk mengetahui perbandingan teknik tegangan tinggi (kV) dengan tegangan standar (kV) pada pemeriksaan Radiografy Thorax Postero Anterior (PA). Pada penelitian ini reseptor yang digunakan adalah reseptor sistim komputer radiography merek Kodak. Penelitian ini dilakukan langsung pada objek pasien, untuk membandingkan hasil citra teknik tegangan tinggi (kV) menggunakan tegangan tabung 109 kV, beban tabung 2,2 mAs dan teknik tegangan standar (kV) menggunakan tegangan tabung 66 kV dan 85 kV dengan beban tabung 8 mAs dan 6,3 mAs. Hasil evaluasi gambar thorax PA dengan menggunakan teknik tegangan tinggi (kV) lebih baik dibandingkan dengan teknik tegangan standar (kV).
Kata kunci : Teknik Tegangan Tinggi (kV), Teknik Tegangan Standar (kV), Ekspose Indeks, Thorax, Computer Radiography.
iii
Universitas Sumatera Utara

ABSTRACT COMPARISON HIGH KV TECHNIQUE WITH STANDARD KV TECHNIQUE OF VALUE INDEX EXPOSURE ON EXAMINATION
THORAX BY USING COMPUTED RADIOGRAPHY ( CR ) Research has been conducted to compare the high kV technique with
the standard technique checks Radiography kV Thorax postero anterior (PA). In this study, the receptor is the receptor used Kodak radiography computer system. The research was carried out directly on the patient objects, to compare the results of the image of high kV technique using tube voltage 109 kV, 2.2 mAs tube load and use standard techniques kV tube voltage of 66 kV and 85 kV with load tube 8 mAs and 6.3 mAs. PA chest image evaluation results by using high kV technique is better than the standard kV technique.
Keywords : High kV Technique, Standard kV Technique, Ekspose Indeks, Thorax, Computed Radiography
iv
Universitas Sumatera Utara

1
BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Penemuan sinar-X merupakan suatu revolusi dalam dunia kedokteran karena
ternyata dengan hasil penemuan itu dapat diperiksa bagian-bagian tubuh manusia yang sebelumnya tidak pernah dapat dicapai dengan cara-cara konvesional. Perkembangan ilmu teknologi dibidang Radiologi berkembang begitu pesat, dengan perkembangannya teknologi imaging yang terbukti sangat membantu diagnosa berbagai macam penyakit, khususnya radiodiagnostik. Di Indonesia pemamfaatan radiasi untuk bidang kesehatan khususnya dibidang diagnostik menjadi semakin luas dan penting. Oleh karena itu berbagai jenis peralatan sinarX semakin hari semakin berkembang mulai dari pesawat yang konvesional sampai pesawat yang system komputerisasi yaitu seperti Computed Radiography (CR).
Sistem Computed Radiography (CR) memanfaatkan kemajuan teknologi dengan adanya Imaging Plate (IP) sebagai detector digital Photostimulable Phosphor (PSP) atau storage phosphor screen dalam menggantikan kombinasi system film Intensifying screen konvesional radiography untuk menghasilkan citra. Didukung aspek pengolahan citra dengan image reader dalam membaca Imaging Plate (IP) sehingga data dapat ditampilkan dalam Liquid Crystal Display (LCD) atau Cathoda Ray Tube (CRT), juga memiliki system pengolahan citra menggunakan metode dry processing yang merubah data digital menjadi data analog dengan hasil berupa film laser imaging. Penggunaan Photostimulable Phosphor (PSP) memungkinkan Imaging Plate (IP) untuk dapat dipakai berulang kali . Salah satu kelebihan citra digital system CR adalah citra soft copy yang dapat dimanipulasi terang gelap untuk menghasilkan kontras citra kualitas tinggi. Sedangkan pada penggunaan konvensional yang dikombinasikan dengan sistim film Intensifying Screen ( IS) tidak dapat dimanipulasi terang gelap (soft copy) sehingga penggunaan tegangan tinggi (kV) tidak dapat dilakukan. Karakteristik PSP yang memiliki rentang sensitivitas terhadap paparan sinar-X yang lebar dan
1
Universitas Sumatera Utara

2
aplikasi perangkat lunak memungkinkan penyesuaian hasil citra terhadap kondisi eksposi. (Seibert, J.A, 2006)
Suatu unit pesawat sinar-X yang dilengkapi system CR diantaranya harus mampu memproduksi sinar-X sesuai uji fungsi dan citra yang dihasilkannya dapat digunakan untuk menegakkan diagnose. Oleh karena itu , semua perangkat penghasil citra pesawat sinar-X dan system CR harus berfungsi sesuai standar yang diisyaratkan, sehingga kemampuan kerjanya akan menentukan apakah sinarX yang dikeluarkan dari pembangkitnya akan berguna untuk diagnosa suatu penyakit atau tidak. Jika tidak maka dapat mengakibatkan terjadinya penyinaran ulang yang berarti akan memberikan dosis yang tidak bermanfaat dan akan merugikan pihak terkait dalam pemeriksaan terutama pasien yang diperiksa. Dengan dasar ini peneliti melakukan pemeriksaan thorax dengan faktor eksposi yaitu teknik tegangan tinggi (kV) dan teknik tegangan standar (kV) dimana pesawat sinar-X yang dilengkapi dengan Computed Radiography harus mampu memproduksi sinar-X untuk menghasilkan kontras foto kualitas tinggi yang digunakan untuk menegakkan diagnosa.
Salah satu kuantitas radiasi yang sering digunakan dalam acuan batasan dosis adalah pengukuran dosis masuk permukaan atau yang lebih umum di kenal dengan ESD ( Entrance Surface Dose) yang dapat diperoleh melalui pengukuran langsung menggunakan TLD ( Thermoluminecence Dosimeter ) dan pengukuran tidak langsung. ( DeWerd, L.A, Bartol L., & Davis, S. (n.d). Thermoluninescence dosimetry.)
1.2 Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, rumusan masalah yang diteliti dapat dirumuskan sebagai berikut:
1. Bagaimana pengaruh teknik tegangan tinggi (kV) dan teknik tegangan standar (kV) terhadap nilai ekspose untuk menghasilkan kualitas citra yang tinggi pada pemeriksaan thorax yang digunakan untuk menegakkan diagnosa penyakit
Universitas Sumatera Utara

3
2. Bagaimana pengaruh teknik tegangan tinggi (kV) dan teknik tegangan standar (kV) terhadap dosis radiasi yang diterima pasien
1.3 Batasan Masalah
Untuk mendapatkan suatu hasil penelitian dari permasalahan yang ditentukan, maka perlu ada pembatasan masalah penelitian yaitu:
1. Kondisi eksposi untuk teknik tegangan tinggi (kV) hanya menggunakan 109 kV, 2.2 mAs sedangkan kondisi eksposi untuk teknik tegangan standar(kV) menggunakan 66kV, 8mAs dan 85kV 6.3 mAs
2. Evaluasi dosis yang diterima pasien dengan menggunakan Thermo Luminescent Dosimeter (TLD)
3. Reseptor yang digunakan adalah Computed Radiography Merk Kodak
1.4 Tujuan Penelitian
Tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian adalah : 1 Menentukan hubungan antara teknik tegangan tinggi (kV) dan tegangan standar (kV) dengan ekspose indeks untuk menghasilkan foto thorax yang berkualitas untuk mendapatkan diagnosa yang akurat. 2 Untuk mendapatkan dosis radiasi yang optimal dengan kualitas citra radiografi yang baik. 3 Melakukan evaluasi kualitas citra radiografi thorax dengan citra reseptor menggunakan CR Kodak.
1.5 Manfaat Penelitian
Penelitian ini dapat dijadikan sebagai acuan atau salah satu refrensi dalam penentuan kondisi eksposi foto thorax dengan reseptor Computed Radiography (CR) dalam tindakan diagnostik untuk mendapatkan dosis yang optimal dengan kualitas citra radiografi yang baik dalam upaya penegakan diagnosa.
Universitas Sumatera Utara

4
1.6 Sistematika Penulisan BAB I PENDAHULUAN
Bab ini berisi latar belakang permasalahan, perumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, batasan masalah, metode penelitian, dan sistematika penulisan. BAB II TINJAUAN PUSTAKA
Teori dasar berisi landasan teori sebagai hasil dari literature yang berhubungan dalam penelitian. BAB III METODOLOGI PENELITIAN
Bab ini menjelaskan alat dan bahan yang digunakan serata cara atau metode pengambilan datanya. BAB IV PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Bab ini ditampilkan hasil dari penelitian dan analisi dari data yang diperoleh dari penelitian. BAB V PENUTUP
Bab yang terakhir ini berisi kesimpulan dari analisis hasil pengukuran dan saran untuk pengembangan lebih lanjut dalam penelitian ini sehingga lebih bermanfaat.
Universitas Sumatera Utara

5
BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Produksi sinar-X Wilhelm Conrad Rontgen seorang ahli fisika di Universitas Wurzburg,
Jerman pertama kali menemukan sinar Rontgen pada tahun 1895, sewaktu melakukan eksperimen dengan sinar katoda saat itu dia melihat timbulnya sinar fluorosensi yang berasal Kristal barium platinosianida dalam tabung CrookesHittorf yang dialiri listrik. Kemudian dia melanjutkan penelitiannya dan menemukan sinar yang disebutnya sebagai sinar baru atau sinar-X. ( Rasad, 2005)
Sinar-X merupakan gelembong elektromegnetik, dimana dalam proses terjadinya memiliki energi yang berbeda-beda. Perbedaan tersebut didasarkan pada energi kinetik elektro. Sinar-X yang berbentuk ada yang memiliki energi sangat rendah sesuai dengan energi electron pada saat timbulnya sinar-X. juga ada yang berenergi tinggi, yakni berenergi sama dengan energi kinetik elektro pada saat menumbuk target anode.
Pada dasarnya pesawat sinar-X terdiri dari tiga bagian utama, yaitu tabung sinar-X , sumber tegangan tinggi yang mencatu tegangan listrik pada kedua elktrode dalam tabung sinar-X dan unit pengatur bagian pesawat sinar-X.
Proses terjadinya sinar-X adalah sebagai berikut Filamen pada katoda dipanaskan dengan pemberian arus generator sehingga terbentuk elektron elektron pada permukaan katoda. Dalam hal ini anoda bermuatan positif terhadap katoda. Ketrika diberikan beda potensial antara katoda dan anoda, maka elektron akan menumbuk anoda. Dari tumbukan inilah terbentuk sinar-X 1 % dan 99 % energi panas. ( Rasad,2005 )
5
Universitas Sumatera Utara

6
Gambar 2.1 Produksi Sinar-X
(Sumber : RTEC III, Bushong ch 8&9_Xray Production and Emission_WEB) 2.2 Spektrum sinar-X
Konversi energi kinetik elektron menjadi radiasi sinar-X. sinar-X Bremsstrahlung berasal dari elektron melintas mendekati inti atom ( nucleus ) target, gaya tarik coulomb yang kuat menyebabkan elektron mengalami pengereman dan arah elektron dibelokkan dari lintasan awal dimana hal ini berakibat hilangnya energi kinetik elektron berubah menjadi sinar-X dengan energi sebanding dengan energi kinetik yang hilang, sinar-X Bremsstrahlung dapat kita lihat pada Gambar 2.2.
Universitas Sumatera Utara

7
Gambar 2.2 Sinar-X Bremsstrahlung Terbentuknya sinar-X karakteristik pada Gambar 3.3 melalui tahapan :
1. Elektron datang berinteraksi dengan elektron kulit K 2. Elektron kulit K keluar dari kulit atom terjadi jka energi elektron yang
datang lebih besar dari energi ikat elektron kulit K meninggalkan kekosongan pada kulit K 3. Elektron atom dari tingkat energi yang lebih besar bertransisi mengisi kekosongan pada kulit K 4. Sinar-X karakteristik terpancar ketika elektron atom mengisi kekosongan kulit K, dengan energi yang sebanding dengan selisih energi ikat kedua atom.
Universitas Sumatera Utara

8
Gambar 2.3 Sinar-X Karakteristik 2.3 Interaksi Sinar-X Terhadap Materi
Sinar-X merupaka gelombang electromagnet yang tidak memiliki massa, muatan, dengan daya tembus yang cukup tinggi. Proses interaksi sinar-X dengan materi meliputi 5 kemungkinan yaitu, hamburan kohern atau hamburan klasik, efek fotolistrik, hamburan Compton, produksi pasangan dan desintegrasi fotonuklir. ( Harold Elford Johns and John Robert Cunningham, 1983 2.4 Dosimeter Diagnostik
Ada berbagai dosimeter yang dapat digunakan untuk mendapatkan nilai ESD radiografi. Untuk mendapatkan ESD pasien dengan metode langsung umumnya digunakan Thermoluminescence Dosemeter ( TLD ). TLD yang sering dipakai berbahan : LiF; Mg, Ti, LiF ; Mg, Cu, P dan Li2B407 : Mn. Sebelum digunakan TLD terlebih dahulu diannealing untuk menghapus signal yang tersisa.
Prinsip kerja dosimeter ini berdasarkan fenomena Thermoluminescence (TL). Pada saat radiasi pengion berinterkasi dengan Kristal TLD sebagian atau seluruh energy diberikan keatom-atom Kristal maka electron pada atom-atom Kristal akan melompat ketingkat energi yang lebih tinggi dan menyebabkan kekosongan ( hole ).
Universitas Sumatera Utara

9
Electron ini akan terperangkap oleh zat pengotor pada Kristal pemanasan TLD diperlukan pada saat pembacaan TLD, ketika TLD dipanasi menyebabkan electron pada Kristal kembali kekeadaan awal ( ground state ) sambil memancarkan energy dalam bentuk cahaya. Cahaya yang terpancar dihitung dengan menggunakan Photomultiplier ( PMT ) dan intensitas cahaya tersebut diubah menjadi sinyal elektrik dan dikuatkan. Proses pemancaran foton akibat pemanasan ini disebut Thermoliminisensi. ( Vienna : IAEA, 2007 )
2.5 Pengukuran ESD Didalam IAEA technical report series No. 457 memberikan penjelasan tentang
pengambilan nilai ESD pemeriksaan radiografi, dimana ESD dapat diperoleh dengan :
1. Metode langsung menggunakan TLD 2. Metode tidak langsung dengan perhitungan ( kalkulasi )
Pengukuran yang dilakukan dengan penelitian ini dilakukan hanya dengan metode langsung yakni menggunakan TLD. Metode langsung merupakan metode pengukuran ESD yang dilakukan dengan meletakkan thermoluminescence dosimeter pada central point ( titik pusat ) lapangan radiasi dan dosimeter akan merekam jumlah dosis permukaan pasien termasuk radiasi hamburan baik tubuh pasien.
2.6 Computed Radiography ( CR ) Computed Radiography (CR) merupakan suatu system atau proses untuk
mengubah system analog pada konvensional radiografi menjadi digital radiografi. Posisi film dan kaset sebagai reseptor pada radiografi konvensional pada CR digantikan oleh imaging plate. CR mempunyai kelebihan dalam proses lokalisasi objek yang akan diamati. Hal tersebut disebabkan dalam proses lokalisasi objek yang akan diamati. Hal tersebut disebabkan karena citra pada CR dapat diatur sesuai dengan keperluan. ( Vienna : IAEA, 2004 )
Universitas Sumatera Utara

10
CR mempunyai perlengkapan operasional terdiri dari : 2.6.1 Imaging Plate
Image Plate merupakan media pencatat sinar-X pada CR yang terbuat dari photosimulable phosphor tinggi, dengan Imaging Plate memungkinkan processor gambar untuk memodifikasi kontras. Image Plate berada dalam kaset imaging. Fungsi dari Image Plate adalah sebagai penangkap gambar dari objek yang sudah disinar ( ekspose). Prosesnya adalah pada saat terjadi penyinaran Image Plate akan menangkap energi dan disimpan oleh phosphor yang akan dirubah sinyal elektronik dengan laser scanner dalam image reader.
Imaging terdiri dari beberapa lapisan yang dirancang merekam dan meningkatkan transmisi gambar. Gambar berkas ionisasi (Gambar 2.4) terdiri dari:
a. Protective layer/ lapisan pelindung Lapisan ini berfungsi melindungi IP dari benturan kerusakan pada saat proses handling dan transfer, goresan, kontraksi, pecah akibat temperature dan kelembaban. ( Ballinger 2003)
b. Phosphor layer/ lapisan fosfor Lapisan yang paling aktif dalam IP. Lapisan fosfor IP adalah lapisan Kristal Europium-doped Barium Fluorohalide (BaFX;Eu2+) atau Photostimulable Phosphor. Saat menumbuk Kristal ini, BaFX:Eu2+berubah menjadi bentuk gambar laten. Standar resolusi spatial dari IP kira-kira 2.5lp/mm yang terdiri dari 150 nm lapisan BaFX:Eu2+.
c. Support layer/ lapisan penyokong Lapisan peyokong adalah lapisan dasar yang melapisi lapisan lain yang terbuat dari polyester.
d. Conductor layer/ lapisan konduktor Lapisan konduktor berfungsi mengeliminasi masalah-masalah elektrostatik dan menyerap cahaya untuk meningkatkan ketajaman.
e. Light shield layer / lapisan pelindung cahaya Lapisan ini berfungsi untuk mencegah cahaya masuk saat proses penghapusan data dari IP, kebocoran, dan menurunkan spasial.
Universitas Sumatera Utara

11
Gambar 2.4 Lapisan Photostimulable Phosphor Imaging Plate
Gambar 2.5 Imaging Plate 2.6.2 Image Reader
Image Reader (Gambar 2.6) berfungsi sebagai pembaca dan mengubah gambar yang diperoleh dari Image Plate (Gambar 2.5). Semakin besar kapasitas memorinya maka semakin cepat waktu yang diperlukan untuk proses Image Plate, dan mempunyai daya simpan yang besar. Waktu tercepat yang diperlukan untuk membaca Image Plate pada Image Reader yaitu selama 64 detik. Selain tempat dalam proses pembacaan, Image Reader mempunyai peranan yang sangat penting juga dalam proses pengolahan gambar, system transportasi Image Plate serta penghapusan data yang ada di Image Plate. Image Reader sudah dilengkapi
Universitas Sumatera Utara

12
dengan monitor yang berfungsi untuk menampilkan gambar yang sudah dibaca oleh Image Reader disebut Image Console.
Image Console berfungsi sebagai media pengolahan data, berupa computer khusus untuk medical imaging dengan touch screen monitor. Image Console dilengkapi oleh berbagai macam menu yang menunjang dalam proses editing dan pengolahan gambar sesuai dengan anatomi tubuh, seperti pada kondisi hasil gambaran organ tubuh, kondisi tulang dan kondisi jaringan lunak.
Gambar 2.6 Image Reader 2.6.3 Image Recorder
Image Recorder mempunyai fungsi sebagai proses akhir dari suatu pemeriksaan yaitu media pencetakan hasil gambaran yang sudah diproses dari awal penangkapan sinar-X oleh Image Plate kemudian dibaca Image Reader dan diolah oleh Image Console terus dikirim ke Image Recorder untuk dilakukan
Universitas Sumatera Utara

13
proses output dapat berupa media compact disc sebagai media penyimpanan atau dengan printer laser yang berupa laser Imaging Film.
2.7 Fantom Leeds Fantom leeds pertama kali dibuat pada tahun 1955, fantom leeds telah menjadi
terkenal didunia sebagai standar klinis untuk membangun kinerja operasional yang baik dari pesawat sinar-X. Fantom leeds adalah alat jaminan kualitan untuk perangkat pencitraan medis. Perangkat ini sebagian besar berkaitan dengan tehnik pencitraan sinar-X seperti fluoroscopy, radiografi digital, mamografi, dan computed tomografi (CT) walaupun leeds fantom juga biasa digunakan dalam Quality Ansurance radioterapi dan untuk tehnik lain seperti MRI. (http ://www.leedstestobjects.com/April 2013)
2.8 Anatomi Thorax Thorax atau rongga dada adalah rongga berbentuk kerucut, dimana pada sisi
bawah lebih lebar dari sisi atas dan bagian belakang lebih panjang dari bagian depan. Thorax pada bagian belakang terbentuk dari dua belas vertebra thorakalis ( tulang belakang thoracal ), pada bagian depan oleh tulang sternum, pada sisi samping terbentuk dari dua belas pasang iga, yang melengkapi badan mulai dari belakang dari tulang belakang thoracal sampai tulang sternum dibagian depan. Batas bawahnya terdapat diafragma yang membatasi dengan rongga abdomen (Gambar 2.7).
Rongga thorax terdiri dari dua bagian utama yaitu paru-paru dan mediastinum. Paru-paru merupakan bagian dari saluran pernafasan. Saluran pernafasan terdiri dari laring, trakea, bronkus, dan paru-paru mediastinum terletak diantara paru kiri dan kanan dan merupakan daerah tempat organ-organ penting seperti jantung, aorta, esofagus, duktus torasika, aorta descenden, vena cava superior, saraf fagus, fenikus dan sejumlah besar kelenjar limfe. (Ballinger, 1995)
Fungsi paru-paru adalah sebagai tempat dimana terjadinya pertukaran gas oksigen dan karbondioksida.
Universitas Sumatera Utara

14
Gambar 2.7 Rongga Thorax (Sumber : Akshanur Blog’s_Anatomi Paru-Paru_WEB) Dari gambaran radiografi rongga thorax memiliki kontras gambaran yang cukup tinggi dikarenakan perbedaan materi penyusun ataupun perbedaan nomor atom masing-masing penyususn organ di thorax. Pada paru-paru yang kaya akan oksigen dan karbondioksida akan memberikan gambaran radio paque ( densitas tinggi / hitam ), sedangkan pada daerah mediastinum akan memberikan gambaran radiolucent ( densitas rendah / putih ), lebih jelas anatomi Radiografi Thorax lihat pada Gambar 2.8.
Universitas Sumatera Utara

15
Gambar 2.8 Gambaran Radiografi Thorax (Sumber :Qucams_Teknik Radiografi Thorax_dan_Anatomi Paru-Paru_WEB) 2.9 Radiografi Thorax Antero Posterior ( AP ) / Postero Anterior ( PA ) Pemeriksaan radiografi thorax ditujukan untuk menilai terutama organ paruparu dan jantung. Untuk mendapatkan gambaran radiografi thorax dewasa secara baik dari segi kualitas gambaran maupun dosis yang dihasilkan maka perlu diperhatikan ( Ballinger, 1995)_Gambar 2.9 : 1. Posisi pasien berdiri posisi Postero Anterior terhadap bucky wall stand, kedua tangan rileks disamping tubuh 2. Mengatur tinggi kaset sehingga batas atas kaset bergerak 3-5 cm diatas shoulder. Posisikan Mid Sagital Plane ( MSP ) tubuh tepat pada garis tengah kaset. Posisikan pasien berdiri tegak lurus dengan berat tubuh tertumpuh pada kedua kaki dengan seimbang, menaikkan dagu pasien diatas bucky wall stand dan mengatur Mid Sagital Plane ( MSP ) kepala vertical 3. Mengatur kedua lengan pasien pada posisi prone, kemudian meletakkan punggung ( bagian belakang ) kedua tangan pada pinggul. Mengatur shoulder berada pada kedua bidang tranfersal yang sama, dorong dan rotasikan shoulder kedepan
Universitas Sumatera Utara

16 4. Instruksikan pasien untuk menarik nafas dalam dan kemudian menahan nafas
beberapa detik pada saat ekposi 5. Central ray diatur tegak lurus bidang kaset tepat pada pertengahan kaset
dengan central point pada vertebrae thoracal tujuh. 6. Batasi luas penyinaran sesuia dengan besarnya objek dengan menggunakan
kolimator 7. Menggunakan jarak fokus ke film ( FFD ) 150 cm
2.9. Gambar Proyeksi Radiografi Thorax PA
Universitas Sumatera Utara

17

BAB III METODOLOGI PENILITIAN

3.1 Tempat Penilitian Penilitian ini dilakukan di Instalasi Radiologi Rumah Sakit Umum
Materna Medan

3.2 Alat dan Bahan

3.2.1 Pesawat Sinar-X

Pesawat sinar-X dengan spesifikasi sebagai berikut :

- Nama Pesawat

: General Elektric (Gbr 3.1a, 3.1b, 3.1c)

- Pabrik Pembuat

: New York, U.S

- Max kV

: 150 kV

- Tahun Pemasangan

: Tahun 2009

- Model

: 5183243

- No. Seri

: 57720 HL5

Gambar 3.1a Pesawat General Electric
17
Universitas Sumatera Utara

18

Gambar 3.1b Kontrol panel Pesawat GE Gambar 3.1c Tabung Pesawat GE

3.2.2 Computed Radiography

Reseptor citra yang digunakan adalah Computed Radiography ( CR )

dengan spesifikasi sebagai berikut :

Nama Reseptor

: Kodak DirectView CR 850 (Gbr 3.2a)

Tahun Pemasangan

: Tahun 2007

Model

: Classic CR

Printing

: Kodak DryView 8900 (Gbr 3.2b)

Gambar 3.2a Kodak CR 850

Gambar 3.2b Kodak Dry View 8900

Universitas Sumatera Utara

19
3.2.3 Dosimeter Pengukuran pada uji pesawat sinar-X menggunakan dosimeter Unfors Xi.
Unfors Xi adalah salah satu merek multimeter keluaran Unfors Instrument Inc, yang digunakan untuk mengukur karakteristik dari suatu pesawat sinar-X mulai dari kV, mAs, waktu, dosis dan laju dosis.
3.2.4 Thermo Luminescent Dosimeter ( TLD ) Thermo Luminescent Dosimeter ( TLD ) yang digunakan dalam penelitian
ini adalah Thermo Luminescent Dosimeter terbuat dari lithium Fluoride : Magnesium, Copper, Phospor ( LiF : Mg, Cu, Ti ) yang memiliki nomor atom efektif 8.2 dan ukuran fisik 3,1 x 3,1 mm2 dengan ketebalan 0,9 mm. Thermo Luminescent Dosimeter ini dapat untuk mengukur dosis dalam ukuran 10 mGy hingga 10 Gy dengan respon dosis linear.
3.2.5 Fatom Leeds Fatom leeds yang digunakan dalam penelitian ini : a. TOR CDR Fantom ini terdiri dari disk ( cakram ) Perspex datar berisi 4 ( empat ) tipe dari test pattern, 1 ( satu ) untuk penilaian dengan pengukuran ( objective ) dan 3 ( tiga ) dengan tinjauan mata pembaca ( subjective ). Fantom digunakan dengan melakukan 2 ( dua ) kali penyinaran pertama dengan kondisi 66 kV, 8 mAs dan kondisi 109 kV, 2,2 mAs dengan penambahan 1 mm Cu sebagai filter tambahan (Gbr 3.3a) TOR CDR berfungsi untuk mengevaluasi pengukuran sensitifitas ( 10 test point details , berdiameter 5,6 mm ), batas resolusi ( 0,5 sampai 14,3 LP/mm ) dan mendeteksi low-contrast large-detail juga mendeteksi High Contras small detail.
Universitas Sumatera Utara

20
Gambar 3.3a Fantom CDR b. TOR 18 FG
TOR 18FG berfungsi untuk mengevaluasi penyesuaian level kontras ( highlight and low light details ), batas resolusi ( 0,5 sampai 14,3 LP/mm ) dan mendeteksi low contrast large – detail (Gbr 3.3b)
Gambar 3.3b Fantom TOR 18FG
Universitas Sumatera Utara

21

3.3 Alur Penelitian

M ulai

Pesaw at sinar-X

Uji Fungsi Pesaw at

Comput ed Radiography ( CR )
Uji Fungsi CR

Radiografi Thorax PA

Teknik kV tinggi Nilai Ekspose indeks
Hasil Pengamatan

Teknik kV standar Nilai Ekspose Indeks
Hasil Pengamatan

Ko nt r as
Se

Sensi t if i t as

Dosis Radiasi

Kon t r as

Sensitifitas Dosis Radiasi

Kriteria foto

Selesai
Gambar 4. Alur Penelitian

Universitas Sumatera Utara

22

3.4 Uji Fungsi Pesawat 3.4.1 Uji Fungsi Pesawat Sinar-X
Sebelum pengambilan data ESD, maka terlebih dahulu dilakukan uji fungsi pesawat sinar-X. Tujuan dari uji fungsi pesawat sinar-X ini agar diperoleh kepastian bahwa pesawat sinar-X berfungsi sesuai dengan spesifikasi, menentukan pesawat sinar-X benar-benar layak dipakai dan telah memenuhu standar yang telah di tetapkan. Pengujian dilakukan dengan menggunakan formulir dari NSW EPA dan dosimeter Unfors Xi.
Uji fungsi pesawat radiografi dilakukan dengan mengacu pada standar dari Radiation Safety Act 1975, Workbook 3 Diagnostic X-Ray Equitment Compliace Testing dari Radiation Council of Western Australia yang prinsipnya sama dengan AAPM report No. 74.
a. Uji keakurasian tegangan kerja Tujuan uji keakurasian ini untuk mengetahui kebenaran dan konsistensi tegangan pesawat sinar-X. standar RCWA menyatakan bahwa error maximum kV yang diperbolehkan untuk pesawat radiografi adalah dibawah 5,5,%. Error maximum adalah selisih antara setting dengan kV terbaca dibagi setting kV. Error maximum ini menjadi tolak ukur dalam keakurasian kV.

Error max =

. 100%

Dalam uji keakurasian tegangan kerja pesawat sinar-X diagnostic ini tabung pesawar diposisikan tidak menggunakan filter, dosimeter unfors Xi diletakkan pada jarak 100 cm dari kolimator pesawat dan berkas penyinaran kolimator oada posisi dosimeter Unfors Xi. Dosimeter Unfors Xi di papari dengan tegangan sekitar 40 kV– 125 kV dan 5 mAs b. Uji akurasi waktu Tujuannya untuk mengetahui kebenaran dan konsistensi waktu pada pesawat sinar-X.

Universitas Sumatera Utara

23
c. Uji Kedapatulangan Kedapatulangan atau reprodccibility adalah kemampuan untuk mendapatkan nilai yang sama atau mendekati sama ketika dilakukan pengujian pada factor ekposi yang sama. Tahan uji kedapatulangan adalah untuk mengetahui kV dapat bernilai sama dari satu paparan ke paparan berikutnya. Dalam uji kedapatulangan pesawat sinar-X , tabung pesawat diposisikan tidak menggunaklan filter, dosimeter Unfors Xi diletakkan pada jarak 100 cm dari kolimator pesawat dan berkas penyinaran tepat pada posisi dosimeter Unfors Xi. Memapari dosimeter Unfors Xi dengan tegangan 70 kV dengan 10 mAs, paparan dilakukan sebanyak 5x.
3.4.2 Uji Fungsi Computed Radiography Uji fungsi CR ini dimaksudkan agar di peroleh kepastian bahwa CR berfungsi
sesuai dengan spesifikasi, CR layak dipakai dan telah memenuhi standar yang ditetapkan, dengan melihat hasil uji kaset CR dan kinerja Reader CR. Tes dimaksudkan untuk melihat artifact dan kualitas citra dan sensitifitas. Pengujian dilakukan dengan mengacu pada standar dari Leeds Test Object CR dan DDR.
a. Dark Noise Tujuan pengukuran Dark Noise adalah untuk menilai tingkat Noise
dalam system. Uji Dark Noise untuk menilai Exposure CR Kodak dari kaset dilakukan dengan prosedur sebagai berikut : kaset CR dihapus terlebih dahulu tanpa memberikan paparan radiasi pada kaset kemudian kaset di scan dengan Imaging Processing Mode Pattern, mengevaluasi citra untuk melihat ada tidaknya ketidak seragaman, mencatat nilai exposure index dan nilai rata-rata pixel dengan menggunakan Region Of Interest ( ROI). Toleransi nilai exposure CR Kodak yang kurang dari 80, untuk kaset General Purpose ( GP )
b. Dosimetri Tujuan pengukuran dosimetri adalah untuk mengukur penerimaan
dosis yang dibutuhkan untuk test Linearitas dan system Transfer, Kalibrasi
Universitas Sumatera Utara

24
indicator dosis pada reseptor ( Exposure Index ), konsistensi detector indicator dosis ( Exposure Index ) dan ketidakseragaman Uji dosimetri dimulai dengan memposisiskan Unfors Xi pada jarak 1.2 m dari focus dan 30 cm berada diatas meja. Nilai mAs yg tepat dicari agar mendapatkan reseptor entrance airkerma 10 Gy, dengan menyinari 0.5 mm Cu pada tabung sinar-X, selanjutnya mencari nilai mAs untuk mendapatkan nilai receptor entrance 5 µGy, 12 µGy, 20 µGy, dan 50µGy. c. Linearitas dan Sistem Transfer
Tujuan pengukuran adalah membuat hubungan antara dosis reseptor dan nilai pixel, sehingga hubungan ini dapat dikoreksi dalam tes efisiensi siklus penghapusan dan ketidakseragaman dan juga membuktikan bahwa exposure indek linear terhadap kenaikan dosis. Dilakukan dengan cara menyiapkan kaset 24cmx30cm dan meletakkannya pada jarak 150 cm dari focus, atur lapangan penyinaran seluas kaset . kemudian untuk mendapatkan dosis 5µGy kaset disinari dengan 81 kV 1 mAs. Setelah 5 menit, kaset di scan dengan mode image processing pattern. Catat nilai Exposure index, nilai pixel pada tengah-tengah citra. Kemudian di ulangi dengan kondisi penyinaran 81 kV dengan variasi mAs masing-masing kaset 2.5 mAs, 4mAs dan 10mAs. Grafik hubungan antara nilai pixel dengan dosis reseptor, di buat untuk mencari persamaan Sistem Transfer Properties ( STP ) yang nantinya digunakan untuk mengoreksi uji efisiensi siklus Penghapusan dan Keseragaman. Toleransi yang diperkenankan untuk semua citra rasio k, indicator penyinaran ke penyinaran tidak bole lebih besar dari ± 10% dari nilai ratarata k. Nilai R2 pada perhitungan excel lebih besar dari 0,95. Persamaan STP tidak ada toleransi, grafik hubungan antara nilai pixel dan dosis merupakan persamaan logaritma. d. Efisiensi Siklus Penghapusan
Tujuan pengukuran efisiensi siklus penghapusan adalah untuk melihat minimal sisa sinyal pada kaset setelah proses penghapusan dan
Universitas Sumatera Utara

25

scan.penilaian uji efisiensi siklus penghapusan adalah dengan melihat ada tidaknya sisa sinyal dari citra yang diperoleh dengan melakukan penyinaran pada kaset yang diletakkan diatas meja dengan jarak 150 cm dari focus, dengan lapangan penyinaran 14cm x 14 cm dan meletakkan material attenuasi pada tengah-tengah kaset CR dengan kondisi 80 kV, 25 mAs tanpa penambahan filter pada tabung, kemudia kaset di scan. Pada kaset yang sama dilakukan penyinaran dengan luas lapangan penyinaran 8cm x 8cm dengan kondisi penyinaran 80 kV, 0,5 mAs tanpa filter. Kemudian kaset di scan dengan mode processing pattern. Dengan mengatur windows sedimikian sempit, kemudian citra di evaluasi apakah ada sisa gambaran dari penyinaran yang pertama. Hasil uji dinyatakan lulus jika tidak terdapat gambaran bayangan, tetapi jika masih terdapat gambaran bayangan di perlukan analisa ROI. Sisa gambaran harus lebih kecil dari 1% antara koreksi STP nilai pixel pada area bayangan dan area sekitarnya. e. Kalibrasi Indikator Dosis Pada Reseptor ( Exposure Index )
Tujuannya adalah untuk menilai ke akurasian perhitungan nilai eksposi kaset dengan menggunakan indicator ekposi. Langkah-langkah yang dilakukan adalah meletakkan kaset 24 cm x 30 cm dengan jarak 150 cm dari focus, lapangan penyinaran diatur seluas kaset. Kemudian menyinari kaset dengan kondisi ekposi 81 kV dengan 3,2 mAs. Setelah 15 menit penyinaran kaset di scan dengan processing image mode pattern. Penyinaran dilakukan sebanyak dua kali, untuk mendapatkan nilai-nilai rata-rata exposure index. Exposure index pengukuran dibandingkan dengan hasil perhitungan ekposi indicator dengan persamaan : Ekodak = 8.7 x 10n

Dimana

n=

Universitas Sumatera Utara

26
Uji kalibrasi indicator dosis pada reseptor dinyatakan lulus jika nilai indicator ekposi dari Kodak ( Ekodak ) senilai dengan nilai eksposi hasil pengukuran, dengan toleransi penyimpangan tidak lebih dari 20%. f. Konsistensi Detektor Indikator Dosis ( exposure index )
Tujuannya adalah untuk menilai variasi sensitivitas antar kaset dan membuat baseline untuk memonitor system sensitivitas pada QA mendatang. Untuk mengetahui konsistensi detector indicator dosis dilakukan dengan cara membandingkan variasi hasil perhitungan exposure index masing-masing kaset, dengan toleransi variasi perhitungan exposure index harus tidak lebih besar dari 20% antar kaset. Kaset yang digunakan ukuran 18 cm x 24 cm, 24 cm x 30cm, 35 cm x 35 cm, 35cm x 43 cm. kaset secara bergantian diletakkan dengan jarak 150 cm dari focus, dan lapangan penyinaran seluas kaset dan kemudian menyinari kaset dengan kondisi 81 kV dengan 3, 2 mAs agar di dapatkan dosis 10 µGy. Kemudian kaset di scan dengan processing image mode pattern setelah menunggu 5 menit setelah penyinaran. g. Keseragaman
Tujuannya adalah untuk menilai keseragaman sinyal yang terrekam dari kaset yang terpapar seragam. Respon yang tidak seragam dapat mempengaruhi klinis kualitas citra. Keseragaman di peroleh dengan membandingkan nilai rata- rata pixel pada 5 area ROI. Toleransi yang diperbolehkan yaitu rasio standar deviasi dari ke lima ROI dengan perhitungan menggunakan persamaan STP tidak lebih dari 9%. Area dari ROI paling sedikit harus 10000 pixel dan di peroleh dengan mengukur lima area dari kaset 24 cm x 30 cm yang telah disinari dengan kondisi penyinaran 81 kV, 1,6mAs dengan jarak 150 cm dari fokus. Dari penyinaran posisi pertama dilakukan penyinaran ulang dengan tujuan menyiadakan ketidakseragaman di karenakan adanya anoda heal effect. Setelah lima menit penyinaran kaset di scan dengan mode image processing pattern.
Universitas Sumatera Utara

27
h. Kekaburan ( Blurring ) Tujuannya adalah untuk melihat ada tidaknya distorsi atau
kekaburan dari citra. Uji kekaburan dilakukan dengan menilai dan memeriksa ada tidaknya gambaran distorsi pada citra.
3.4.3 Pengambilan Data Citra Dan Dosis Pada Pasien 1. Melakukan pengambilan data radiografi dengan objek thorax dewasa. Image radiografi thorax diperoleh dengan menggunakan dua kondisi penyinaran yang berbeda. Kondisi pertama menggunakan teknik radiografi standar dengan menggunakan tengangan tabung 66 kV, beban arus 8 mAs dan 85 kV, 6,3 mAs. Kondisi kedua menggunakan teknik tegangan kV tinggi dengan tegangan tabung 109 kV, beban arus 2,2 mAs. Penentuan tegangan tabung standar(kV) berdasarkan refrensi nilai eksposure indeks dari Kodak. Sedangkan pada tegangan tabung tinggi (kV) berdasarkan kondisi rutin untuk pemeriksaan Thorax dewasa dengan menggunakan Automatic Exposure Control (AEC) yaitu 109 kV dan 2.2 mAs. 2. Pada saat pengambilan citra, dilakukan juga pengambilan dosis ESD pada objek, dengan cara menempalkan TLD di tengah lapangan radiasi pada permukaan objek. TLD yang sudah terpapari radiasi kemudian di baca menggunakan TLD Reader dan didapatkan nilai dalam satuan nanoCoulomb, yang kemudian dikonversikan dalam satuan dosis ( mGy ). FFD ( Focus Film Distance ) diatur sejauh 150 cm, fungsi film disini digantikan oleh image reseptor sedangkan FOD ( Focus Objec Distance ) merupakan jarak sumber sampai dengan permukaan objek. 3. Evaluasi citra dengan menggunakan standar quality criteria yang tercatat pada European Commission EUR 16260 EN ( 1996 ). European Guidelines On Quality Criteria For Diagnostic Radiographic Image dengan parameter :
Universitas Sumatera Utara

28
Kriteria Citra Thorax :  Eksposi saat inspirasi penuh dan tahan nafas  Thorax tergambar secara simetris ditandai dengan posisi processus
spinosus ditengah-tengah kedua clavikula.  Gambaran tepi medial scapula tidak menutupi paru-paru.  Seluruh tulang iga tergambar diafragma  Tergambar jelas gambaran paru-paru terutama peripheral vessel.  Terlihat gambaran tajam dari trachea dan proksimal bronkus  Batas jantung dan aorta jelas  Diafragma dan tepi lateral sudu costeoprenicus  Terlihat gambaran retrocardiac paru-paru dan mediastinum  Terlihat gambaran tulang belakang ( vertebrae thoracal ) melalui
bayangan jantung. 4. Evaluasi dosis permukaan yang diterima pada objek 5. Evaluasi dengan menggunakan fantom LEEDS TOR CDR dan TOR 18FG
untuk melihat detail kontras, resolusi. 6.

Dokumen yang terkait

Dokumen baru