PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MELALUI PENDEKATAN KONTEKSTUAL PADA SISWA KELAS IV SD NEGERI 1 KAMPUNG KOTAAGUNG KABUPATEN TANGGAMUS TAHUN PELAJARAN 2012/2013

PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA
MELALUI PENDEKATAN KONTEKSTUAL PADA SISWA
KELAS IV SD NEGERI 1 KAMPUNG KOTAAGUNG
KABUPATEN TANGGAMUS TAHUN
PELAJARAN 2012/2013

Oleh :
Arnawita

Skripsi
Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Memperoleh Gelar
SARJANA PENDIDIKAN
Pada
Jurusan Ilmu Pendidikan

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
BANDAR LAMPUNG
2013

ABSTRAK
PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA
MELALUI PENDEKATAN KONTEKSTUAL PADA SISWA
KELAS IV SD NEGERI 1 KAMPUNG KOTAAGUNG
KABUPATEN TANGGAMUS TAHUN
PELAJARAN 2012/2013

Oleh,
Arnawita
Aktivitas dan hasil belajar matematika siswa kelas IV SDN 1 Kampung Kota Agung
Kabupaten Tanggamus Tahun Pelajaran 2012/2013 masih rendah. Tujuan penelitian ini
adalah untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar matematika melalui pendekatan
kontenkstual pada siswa kelas IV SDN 1 Kampung Kota Agung Kabupaten Tanggamus
Tahun Pelajaran 2012/2013.
Subjek penelitian yang digunakan adalah siswa kelas IV SD Negeri 1 Kampung Kota
Agung semester genap tahun pelajaran 2012/2013 yang berjumlah 24 siswa terdiri 12
siswa laki-laki dan 12 siswa perempuan. Dalam penelitian ini data yang diperoleh berupa
aktivitas kinerja guru serta aktivitas dan hasil belajar siswa. Aktivitas kinerja guru
diperoleh saat peneliti melaksanakan pembelajaran pada setiap siklus, aktivitas dan hasil
belajar siswa diperoleh berdasarkan hasil tes serta ketuntasan belajar pada masing-masing
siklus. Instrumen yang digunakan yaitu lembar aktivitas guru, lembar aktivitas siswa dan
LKS.
Hasil penelitian diketahui bahwa ada peningkatan aktivitas dan hasil belajar matematika
melalui pendekatan Kontekstual pada materi mengenal pecahan senilai dapat
dilaksanakan dengan baik sehingga dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa.
Hal ini dapat dilihat dari hasil penerapan pembelajaran Kontekstual. Persentase aktivitas
belajar siswa siklus I rata-rata 66,67% meningkat menjadi 87,5% pada siklus II. Nilai
hasil belajar siswa rata-rata siklus I 55,42 dengan ketuntasan belajar sebesar 37,5 %,
meningkat 82,50 pada siklus II dengan ketuntasan belajar 91,67 %. Hasil penelitian
menunjukkan ada perubahan aktivitas belajar siswa siklus I dan siklus II naik sebesar
20,83 % dan hasil belajar siklus I ke siklus II naik sebesar 27,08 ketuntasan hasil belajar
siklus I ke siklus II naik sebesar 54,17 %.
Berdasarkan data di atas diperoleh kesimpulan bahwa penerapan pembelajaran dengan
pendekatan Kontekstual dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar Matematika pada
siswa kelas IV SD Negeri 1 Kampung Kota Agung Kabupaten Tanggamus.

Kata Kunci : Aktivitas, Hasil belajar, Pendekatanan Kontekstual

DAFTAR ISI

DAFTAR TABEL .............................................................................................
DAFTAR GAMBAR ..........................................................................................
DAFTAR LAMPIRAN.......................................................................................

Halaman
xii
xiv
xv

BAB I PENDAHULUAN ................................................................................
I.1. Latar Belakang Masalah ...................................................................
I.2. Identifikasi Masalah .........................................................................
I.3. Rumusan Masalah ..........................................................................
I.4. Tujuan Penelitian ...........................................................................
I.5. Manfaat Penelitian ..........................................................................
I.6. Ruang Lingkup Penelitian ................................................................

1
1
5
5
6
6
7

BAB II KAJIAN PUSTAKA .........................................................................
II.1. Belajar dan Pembelajaran ...............................................................
II.2 . Aktivitas Belajar .............................................................................
II.3. Hasil Belajar ...................................................................................
II.4.Pendekatan Kontekstual ..................................................................
II.5.Hipotesis Tindakan .........................................................................

8
8
10
11
13
18

BAB III METODE PENELITIAN ................................................................
III.1. Subyek, Tempat, dan Waktu Penelitian ..........................................
III.2. Data Penenlitian .............................................................................
III.3.Teknik Pengumpulan Data .............................................................
III.4.Instrumen Penelitian ....................................................................
III.5.Teknik Analisis Data.......................................................................
III.6.Prosedur Peneltian ..........................................................................
III.7.Indikator Keberhasilan ...................................................................

19
19
20
20
21
22
24
27

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN….……......................
IV.1. Hasil Penelitian ..............................................................................
IV.1.1.Siklus I .........................................................................................
IV.1.1.1.Tahap Perencanaan .......................................................
IV.1.1.2.Tahap Pelaksaaan ..........................................................
IV.1.1.3.Tahap Pengamatan (Observasi) / Penilaian ..................
IV.1.1.4.Tahap Refleksi ..............................................................
IV.2.2.Siklus II .......................................................................................
IV.2.2.1.Tahap Perencanaan .......................................................
IV.2.2.2.Tahap Pelaksaaan .........................................................
IV.2.2.3.Tahap Pengamatan (Observasi) / Penilaian ..................
IV.2.2.4. Tahap Refleksi .............................................................
IV.3 Pembahasan .....................................................................................
IV.3.1. Aktivitas Siswa ....................................................................
IV.3.2. Kinerja Guru ........................................................................
IV.3.3. Hasil Belajar Siswa ..............................................................

28
28
28
28
28
29
36
36
37
37
37
44
45
45
47
50

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN ..........................................................
V.1. Kesimpulan ......................................................................................
V.2. Saran ................................................................................................

53
53
54

DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................
LAMPIRAN-LAMPIRAN ................................................................................

55
56

xii

1

BAB I
PENDAHULUAN

I.1. Latar Belakang
Penerapan Standar Nasional Pendidikan (SNP) telah dilaksanakan sejak
pemerintah berupaya

mengubah paradigma

penyelenggaraan sistem

pendidikan dengan memberikan otonomi pendidikan dan sistem sentralisasi
ke sistem desentralisasi. Kemajuan ilmu pengetahuan semakin pesat dan
makin menuntut sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas, untuk
meningkatkan SDM tersebut tentunya mutu pendidikan harus ditingkatkan.
Menyadari

pentingnya

amanat

tersebut

melalui

berbagai

usaha

pembangunan pendidikan yang lebih berkualitas.
Mutu pendidikan erat kaitannya dengan prestasi belajar, mutu pendidikan
dikatakan baik apabila prestasi belajar tinggi, untuk mencapai prestasi
belajar yang tinggi diperlukan proses belajar yang baik dan bermutu.
Selanjutnya agar mutu pendidikan dapat meningkat sebaiknya setiap sekolah
berusaha untuk dapat menyelenggarakan pendidikan yang bermutu.
Pendidikan yang bermutu tersebut memerlukan guru yang profesional karena
guru memegang peranan penting dan terlibat langsung dengan peserta didik.
Proses pendidikan telah mengalami perubahan menjadi proses pembelajaran,
atau perubahan paradigma belajar, karena belajar harus berpusat pada siswa,
dan pembelajaran dapat dilakukan dan berbagai sumber. Hal ini adalah salah

2

satu upaya dalam rangka memperbaiki mutu pendidikan, dimana guru
berperan untuk mengatur, mengelola, memfasilitasi dan membantu siswa,
sehingga

tercipta

kondisi

belajar

yang

kondusif

dalam

rangka

mengembangkan manusia seutuhnya.
Pendidikan Matematika layaknya pendidikan bidang nilai di berbagai
negara, terutama di negara-negara maju telah berkembang dengan cepat
disesuaikan dengan kebutuhan dan tantangan yang bernuansa kemajuan
teknologi. Terkait dengan pembelajaran Matematika, banyak kecenderungan
baru yang lahir dengan diikuti perkembangannya yang merupakan
perwujudan dari inovasi dan reformasi dari pada model pembelajaran yang
tentunya perubahan ini terjadi sebagai suatu jawaban atas tantangan
globalisasi. Pembelajaran matematika sangat penting dalam kehidupan
sehari-hari, oleh karena itu pelajaran matematika dimasukkan dalam
kurikulum sekolah.
Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa pembelajaran matematika
sangat penting dalam meningkatkan penalaran dan kecerdasan peserta didik.
Sedangkan penalaran yang tinggi merupakan salah satu indikator dalam
meningkatkan sumber daya manusia yang berkualitas. Kemampuan
penalaran dikembangkan melalui pembelajaran matematika diharapkan
kemampuan siswa dapat meningkat. Selain peningkatan penguasaan materi
pelajaran yang diberikan guru di sekolah.
Kenyataan yang ditunjukkan di lapangan, dari hasil ulangan semester yang
dilaksanakan pada pertengahan bulan Oktober 2012, diperoleh nilai rata-rata

3

kelas IV SDN 1 Kampung Kotaagung Kabupaten Tanggamus adalah 54
masih dibawah KKM (Kriteria ketuntasan minimal) adalah 60. Hal ini
berarti hasil belajar siswa tersebut masih rendah. Dari 24 orang siswa kelas
IV, yang tuntas hanya 7 orang atau 29,2 %.
Rendahnya nilai matemarika tersebut diduga disebabkan karena umumnya
siswa mengalami kesulitan dalam menyelesaikan soal-soal matematika. Hal
ini desebabkan karena siswa hanya mendengarkan penjelasan guru, siswa
kurang aktif mengajukan pertanyaan, bahkan siswa hanya bersedia
menjawab pertanyaan apabila dipaksa atau disuruh oleh guru, tidak pernah
mengemukakan pendapat atau gagasan sendiri, dan tidak mencatat apabila
tidak diminta oleh guru.
Jika ditelaah mengenai pembelajaran matematika kelas IV di SDN 1
Kampung Kotaagung Kabupaten Tanggamus dapat dikatakan bahwa
pembelajaran matematika menakutkan dan siswa masih beranggapan jika
pelajaran matematika adalah pelajaran momok (hantu) bagi siswa, dan
prestasi belajar siswa tergolong rendah. Kurangnya motivasi belajar siswa
selama mengikuti pembelajaran menyebabkan prestasi siswa rendah. Dalam
pembelajaran guru tidak mengaitkan mata pelajaran dengan kehidupan
siswa, maka dari itu diperlukan interaksi mengajar yang baik antara guru
dengan siswa dalam proses belajar mengajar. Adanya penggunaan model
pembelajaran kontekstual yang baik diharapkan mampu memberikan hasil
yang baik pula dalam bentuk prestasi belajar.

4

Agar terjalin komunikasi dan interaksi yang baik antara guru dengan siswa,
seorang guru harus memperhatikan kesiapan intelektual siswa serta
pemilihan metode dan pendekatan pembelajaran yang tepat dalam proses
belajar mengajar. Salah satu cara penyajian materi pelajaran yang
diharapkan

dapat

meningkatkan

prestasi

belajar

adalah

dengan

menggunakan model pembelajaran kontekstual.
Untuk mewujudkan tujuan pembelajaran sesuai KKM di sekolah tersebut,
maka diperlukan sebuah pembelajaran kontekstual yang menuntut pendidik
dapat mengeksplorasi dan mengkombinasi aneka sumber belajar yang ada di
sekitar peserta didik, baik itu di sekolah atau di rumah. Karena segala
sesuatu yang ada di sekitar mereka diyakini mampu memberi pengalaman
langsung, dengan begitu peserta didik dapat melihat dan terlibat langsung di
dalamnya.
Sehubunag dengan hal tersebut, maka diperlukan upaya-upaya untuk dicari
aternatif pembelajaran yang tepat dengan tingkat kemampuan berpikir siswa
dan strategi yang dapat membantu mengatasi kesulitannya dalam upaya
meningkatkan hasil belajar matematika agar kompetensi yang akan dicapai
dapat berhasil secara optimal.
Berdasarkan uraian di atas, maka perlu dilakukan penelitian tentang
penerapan pendekatan kontekstual dalam pembelajaran matematika di kelas
tersebut.

5

I.2. Identitifaksi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah tersebut diatas maka identifikasi
masalah sebagai berikut :
I.2.1. Prestasi belajar matematika mayoritas masih dibawah KKM (60).
I.2.2. Pembelajaran matematika yang dilakukan masih bersifat konvensional,
yakni penyampaian materi dengan ceramah.
I.2.3. Pembelajaran belum mengaitkan materi matematika dengan kehidupan
sehari-hari.

I.3. Rumusan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah di atas,

maka dirumuskan masalah

penelitian sebagai berikut :
I.3.1. Bagaimanakah peningkatan aktivitas belajar matematika melalui
pembelajaran kontekstual pada siswa kelas IV SDN 1 Kampung
Kotaagung Kabupaten Tanggamus Tahun Pelajaran 2012/2013?
I.3.2. Bagaimanakah peningkatan hasil belajar matematika melalui
pembelajaran kontekstual pada siswa kelas IV SDN 1 Kampung
Kotaagung Kabupaten Tanggamus Tahun Pelajaran 2012/2013?

6

I.4. Tujuan Penelitian
I.4.1. Untuk meningkatkan aktivitas belajar matematika melalui
pembelajaran kontekstual pada siswa kelas IV SDN 1 Kampung
Kotaagung Kabupaten Tanggamus.
I.4.2. Untuk meningkatkan hasil belajar matematika melalui pembelajaran
kontekstual pada siswa kelas IV SDN 1 Kampung Kotaagung
Kabupaten Tanggamus.

I.5. Manfaat Penelitian
Penelitian ini diharapkan dapat bermanfaat :
I.5.1. Bagi siswa, dapat memberikan suasana baru dalam pembelajaran
matematika, diharapkan menumbuhkan sikap positif siswa terhadap
pemecahan masalah, lebih mudah memahami matematika, serta
meningkatkan semangat atau aktivitas siswa.
I.5.2. Bagi guru, menambah pengalaman dalam pembelajaran matematika
menggunakan pendekatan kontekstual.
I.5.3. Bagi sekolah sebagai bahan masukan atau input untuk dijadikan
bahan

pertimbangan

dalam

mengambil

kebijaksanaan

untuk

mendorong guru dalam menciptakan metode yang tepat untuk
menentukan keberhasilan pengelolaan pembelajaran di sekolah.

7

I.5.4. Bagi peneliti, penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sebagai bahan
referensi untuk melakukan penelitian berikutnya.

I.6. Ruang Lingkup Penelitian
Untuk

memperjelas

penelitian ini maka ruang lingkung penelitian ini

adalah :
I.6.1 Aktivitas belajar yaitu rangkaian kegiatan yang meliputi keaktifan
siswa dalam mengikuti pelajaran, bertanya hal-hal yang belum jelas,
mencatat, mendengar, berfikir, membaca, dan segala kegiatan yang
dilakukan yang dapat menunjang prestasi belajar.
I.6.2 Hasil belajar adalah hasil yang diperoleh siswa melalui proses
pembelajaran yang dapat diwujudkan dengan hasil tes akhir setiap
siklus.
I.6.3 Pendekatan kontekstual yaitu proses yang menekankan kepada siswa
untuk menemukan sendiri materi yang dipelajari dan menerapkan
dalam kehidupan sehari-hari.

8

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

II.1 Belajar dan Pembelajaran
II.1.1 Pengertian belajar
Menurut Slamento (1995:2), belajar adalah suatu proses usaha yang
dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang
baru secara keseluruhan sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi
dengan lingkungannya.
Belajar adalah suatu proses yang kompleks yang terjadi pada diri setiap
orang sepanjang hidupnya. Proses belajar itu terjadi karena adanya interaksi
antara seseorang dengan lingkungannya (Arsyad, 2004:1). Lebih lanjut
belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan individu untuk
memperoleh perubahan prilaku yang relatif dalam aspek kognitif, afektif,
maupun psikomotorik yang diperoleh melalui interaksi individu dengan
lingkungannya. Slamento dalam Kurnia dkk (2008:3), belajar adalah suatu
proses yang kompleks yang terjadi pada semua orang dan berlangsung
seumur hidup, sejak dia masih bayi hingga keliang lahat nanti (Sardiman
dkk, 2008:2).
Menurut Surakhmad (1987:67) belajar berarti mengalami dan menghayati
sesuatu yang akan menimbulkan respon-respon tertentu dari pihak siswa.

9

Berdasarkan beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa belajar
adalah suatu proses perubahan prilaku yang kompleks dalam aspek kognitif,
afektif, dan psikomotorik melalui interaksi individu dengan lingkungannya
yang dilakukan seumur hidup.

II.1.2 Pengertian Pembelajaran
Dalam mempelajari matematika terdapat banyak model pembelajaran. Yang
dimaksud dengan model pembelajaran adalah cara yang dilakukan dalam
pembelajaran yang didesain untuk mencapai tujuan pembelajaran tertentu.
Menurut Kemp dalam Sanjaya (2006:22) pengertian pembelajaran adalah
suatu kegiatan pembelajaran yang harus dikerjakan guru dan siswa agar
tujuan pembelajaran dapat dicapai secara efektif dan efesien.
Pembelajaran dapat diartikan sebagai kegiatan dimana guru (pengajar) dan
murid (pembelajar) berinteraksi, membicarakan suatu bahan atau melakukan
suatu aktivitas, guna mencapai tujuan yang dikehendaki. Pembelajaran tidak
hanya terbatas pada peristiwa-peristiwa yang dilakukan oleh guru, tetapi
mencakup semua peristiwa yang mempunyai pengaruh langsung pada proses
belajar yang meliputi : kegiatan-kegiatan yang diturunkan dari bahan-bahan
cetak, gambar, program, radio, televisi, film, slide, maupun kombinasi dari
bahan-bahan tersebut.
Soetomo (1993:68) mengemukakan bahwa pembelajaran adalah proses
pengelolaan lingkungan seseorang yang dengan sengaja dilakukan sehingga

10

memungkinkan dia belajar untuk melakukan atau mempertunjukkan tingkah
laku tertentu pula.
Pembelajaran yang efektif menurut Miarso (2007:46) adalah pembelajaran
yang menghasilkan belajar yang bermanfaat dan bertujuan bagi para siswa
melalui prosedur yang tepat. Ada tujuh indikator yang menunjukkan
pembelajaran yang efektif adalah pengorganosasian pembelajaran dengan
baik; komunikasi secara efektif; penguasaan dan antusiasme dalam
pembelajaran; sikap positif terhadap siswa; pemberian ujian dan nilai yang
adil; keluwesan dalam pendekatan pembelajaran dan hasil belajar siswa yang
baik.
Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa pengertian
pembelajaran adalah cara yang dilakukan oleh guru agar pembelajaran dapat
mencapai hasil yang maksimal.

II.2 Aktivitas Belajar
Sardiman (1994: 95) mengatakan bahwa dalam belajar sangat diperlukan
adanya aktivitas belajar. Tanpa adanya aktivitas, belajar itu tidak dapat
memungkinkan berlangsung dengan baik. Aktivitas dalam belajar mengajar
merupakan rangkaian kegiatan yang meliputi keaktifan siswa dalam
mengikuti pelajaran. Antara lain bertanya tentang apa yang belum jelas,
mencatat, mendengar, berpikir, membaca, dan segala kegiatan yang
dilakukan untuk menunjang prestasi belajar.

11

Diedrich yang dikutip oleh Sardiman (2001:95) membuat suatu daftar yang
bermacam-macam kegiatan siswa yang antara lain dapat digolongkan
sebagai berikut : (1) Visual activities, (2)oral activities, (3) Listening
activities, (4) writing acitivities, (5) Drawing activities, (6) motor activities.
Bila siswa menjadi partisipan yang aktif, maka ia akan memiliki
pemahaman yang lebih baik. Dalam kegiatan pembelajaran, perhatian
siswa merupakan kesadaran yang menyertai suatu aktivitas yang dilakukan.
Hamalik (2002:74) berpendapat bahwa kegiatan aktivitas siswa dalam
pembelajaran bermanfaat bagi siswa yaitu siswa memperoleh pengalaman
langsung, memupuk kerjasama, disiplin belajar, kemampuan berpikir kritis,
dan suasana pembelajaran di kelas menjadi hidup dan dinamis. Siswa
dikatakan aktif belajar jika dalam belajarnya mengerjakan yang sesuai
dengan tujuan belajarnya. Memberikan tanggapan terhadap suatu peristiwa
yang terjadi, dan mengalami atau turut merasakan sesuatu dalam proses
belajarnya. Untuk itu aktivitas siswa dalam pembelajaran perlu
diperhatikan.
Berdasarkan pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa aktivitas belajar
adalah merupakan rangkaian kegiatan yang meliputi aktivitas siswa dalam
mengikuti proses pembelajaran

II.3 Hasil Belajar
Syah (2003:141) menjelaskan bahwa : hasil belajar merupakan taraf
keberhasilan murid atau santri dalam mempelajari materi pelajaran di

12

sekolah atau pondok pesantren dinyatakan dalam bentuk skor yang
diperoleh dari hasil tes mengenai sejumlah materi pelajaran tertentu.
Perubahan sebagai hasil belajar bersifat menyeluruh. Menurut pandangan
ahli jiwa Gastalt, bahwa perubahan sebagai hasil belajar bersifat
menyeluruh baik perubahan pada perilaku maupun kepribadian secara
keseluruhan. Belajar bukan semata-mata kegiatan mekanis stimulus respon,
tetapi melibatkan seluruh fungsi organisasi yang mempunyai tujuan-tujuan
tertentu.
Menurut Winkel dalam Kosasih (2007:48) belajar merupakan suatu proses
psikis berlangsung dalam interaksi aktif subjek, dengan lingkungan dan
menghasilkan

perubahan-perubahan

dalam

pengetahuan-pemahaman

keterampilan nilai sikap yang bersifat konstan/menetap. Belajar yang
sering disebut sebagai metode perseptual, dan tingkah laku seseorang
ditentukan oleh persepsi serta pemahamannya tentang situasi yang
berhubungan

dengan

tujuan

belajar.

Beberapa

rumusan

belajar

menyimpulkan hal-hal pokok yang menyangkut belajar sebagai berikut :
II.2.1 Belajar membuat perubahan dalam arti perubahan prilaku aktual
maupun potensial.
II.2.2 Perubahan itu pada dasarnya didapat dari kecakapan baru.
II.2.3 Perubahan itu terjadi karena usaha dengan sengaja.
Dari beberapa pendapat di atas dapat disimpulkan bahwa hasil belajar
adalah hasil yang dicapai dari suatu kegiatan atau usaha yang dapat

13

memberikan kepuasan emosional, dan dapat diukur dengan alat atau tes
tertentu. Dalam proses pendidikan prestasi dapat diartikan sebagai hasil
dari proses belajar mengajar yakni ; penguasaan, perubahan emosional,
atau perubahan tingkah laku yang dapat diukur dengan tes tertentu. Dan
dapat pula didefenisikan bahwa, hasil belajar adalah kemampuan yang
dimiliki siswa setelah ia menerima pengalaman belajarnya. Hasil belajar
mempuyai peranan penting dalam proses pembelajaran. Proses penilaian
terhadap hasil belajar dapat memberikan informasi kepada guru tentang
kemajuan siswa dalam upaya mencapai tujuan-tujuan belajarnya melalui
kegiatan belajar.

II.4 Pendekatan Kontekstual
Sebagai perancang, fasilitator, dan motivator, guru sangat berperan dalam
meningkatkan mutu pembelajaran, baik di kelas maupun di luar kelas.
Dalam melaksanakan tugasnya seorang guru sanagat memerlukan wawasan
yang luas tentang pendekatan dalam menyajikan materi pembelajaran.
Melalui wawasan yang luas, guru dapat memilih dengan tepat pendekatan
yang dipakai untuk menyampaikan setiap topik materi pelajaran. Salah satu
pendekatan pembelajaran yang dipakai adalah pendekatan kontekstual.
Munculnya pembelajaran kontekstual di latar belakangi oleh rendahnya
mutu hasil pembelajaran yang ditandai dengan ketidak mampuan sebagian
besar siswa menghubungkan apa yang telah mereka pelajari dengan cara

14

pemanfaatan pengetahuan tersebut pada saat ini dan kemudian hari dalam
kehidupan siswa.
Menurut Sanjaya (2006:109), pendekatan kontekstual (constektual teaching
learning) adalah “suatu pendekatan pembelajaran yang menekankan kepada
proses keterlibatan siswa secara penuh untuk dapat menemukan materi yang
dipelajari dan menghubungkannya dengan situasi kehidupan nyata sehingga
mendorong siswa untuk dapat menerapkannya dalam kehidupan mereka”.
Hal ini berarti pembelajaran yang dilakukan lebih terpusat pada siswa bukan
pada guru. Guru bukan sebagai sumber ilmu, melainkan perancang,
fasilitator, dan motivator dalam pembelajaran.
Selanjutnya

Sabandar

(2003:2-3)

mengemukakan

bahwa

:”Dalam

pelaksanaannya, pembelajaran kontekstual tercermin dalam strategi-strategi
berikut ini :
II.4.1 Menenkankan pemecahan masalah
II.4.2 Pembelajaran terjadi dengan adanya konteks yang bervariasi,
misalnya : rumah, masyarakat, dan tempat orang-orang bekerja.
II.4.3 Siswa diajarkan untuk memantau dan mengarahkan belajar mereka
sendiri.
II.4.4 Guru mengajar dengan memanfaatkan konteks yang berbeda dalam
kehidupan siswa.
II.4.5 Mendorong siswa untuk berinteraksi, belajar dengan satu dari yang
lain.

15

II.4.6 Menerapkan assesmen autentik”.

Sabandar

(2003:5)

memberikan

penjabaran-penjabaran

dari

ketujuh

komponen utama tersebut. Penjabaran-penjabaran komponen utama tersebut
adalah sebagai berikut :
II.4.1 Konstruktivisme adalah suatu teori belajar yang mengklaim bahwa
individu membangun pengetahuannya dan pemahamannya dari
pengalaman-pengalaman baru berdasarkan pengetahuan yang telah
dimiliki dan pemahamannya tentang matematika.
II.4.2 Inkuiri merupakan suatu proses yang bermula dari pengamatan menuju
pehaman. Untuk itu diperlukan adanya pertanyaan-pertanyaan,
sehingga individu melakukan observasi-observasi. Jawaban-jawaban
terhadap pertanyaan itu dapat melalui suatu siklus yaitu membuat
prediksi menyusun hipotesis, menentukan cara menguji hipotesis,
melakukan pengamatan lanjutan, dan menyusun teori dan model
berdasarkan data dan pengetahuan yang telah ada.
II.4.3 Bertanya adalah kegiatan guru untuk menuntun siswa berfikir dan
menilai kemampuan siswa.
II.4.4 Masyarakat belajar adalah sekelompok orang yang terlibat dalam suatu
kegiatan belajar.
II.4.5 Pemodelan adalah suatu proses dimana kita memberikan contoh
tentang bagaimana kita ingin orang lain melakukannya.

16

II.4.6 Refleksi merupakan suatu aktivitas dimana dapat tercermin apa yang
telah kita lakukan, sedemikian sehingga kita dapat memahami apa
yang kita tahu. Refleksi dilakukan terhadap peristiwa, aktivitas apa
yang kita pelajari, apa yang dirasakan, dan bagaimana kita dapat
menggunakan pengetahuan yang baru kita pelajari.
II.4.7 Assesmen autentik adalah suatu penilaian untuk mengukur
pengetahuan dan keterampilan siswa secara keseluruhan dari kegiatan
belajar mengajar siswa.
Pembelajaran kontekstual dalam matematika merupakan suatu gagasan atau
konsep yang melibatkan dan menonjolkan faktor keterkaitan materi (konsep)
pelajaran matematika yang siswa pelajari di sekolah dengan konteks yang
berkaitan dengan isi matematika tersebut. Dengan adanya keterkaitan
diantara konteks yang relevan, maka proses belajar akan menjadi lebih
bermakna.
Dari penjelasan diatas, penerapan kontekstual sangatlah penting dalam
pembelajaran di sekolah. Jadi, pendekatan kontekstual adalah proses yang
menekankan kepada siswa untuk menemukan sendiri materi yang dipelajari
dan menerapkan dalam kehidupan sendiri.

17

II.4.1 Kelebihan Pendekatan Kontekstual
Kita ketahui setiap pendekatan yang kita perguanakan dalam pembelajaran
pasti ada kekurangan dan menurut Sabandar (2003:85 keunggulan dengan
pembelajaran CTL adalah real word learning. Mengutamakan pengalaman
nyata, berfikir tingkat tinggi, berpusat pada siswa aktif, kritis, dan keratif,
pengetahuan bermakana, dan kegiatannya lebih kepada pendidikan bukan
pembelajaran, sebagai pembentukan manusia, memecahkan masalah, siswa
aktif guru mengarahkan, dan hasil belajar diukur dengan berbagai alat ukur
tidak hanya tes saja.
II.4.2 Kelemahan Pendekatan Kontekstual
Pembelajaran dengan menggunakan pendekatan CTL juga memiliki
kelemahannya, hal ini dikemukakan oleh Sabandar (2003L105) yaitu
sebagai berikut : bagi guru kelas, guru harus memiliki kemampuan untuk
memahami secara mendalam dan komprehensif tentang (1) konsep
pembelajaran dengan menggunakan pendekatan CTL itu sendiri, (2) potensi
perbedaan individual siswa di kelas, (3) beberapa pendekatan dalam
pembelajaran yang berorentasi kepada siswa aktivitas siswa, dan (4) sarana,
media alat bantu serta kelengkapan pembelajaran yang menunjang aktivitas
siswa dalam belajar. Bagi siswa diperlukan antara lain : (1) insiatif dan
kreatifitas dalam belajar, (2) memiliki wawasan pengetahuan yang memadai
dari setiap mata pelajaran, (3) adanya perubahan sikap dalam menghadapi
persoalan, dan (4) memiliki tanggung jawab pribadi yang tinggi dalam
menyelesaikan tugas-tugasnya.

18

II.5. Hipotesis Tindakan
Hipotesis dalam penelitian ini adalah “jika pembelajaran matematika
dilakasanakan dengan pendekatan kontekstual, maka dapat meningkatkan
aktivitas dan hasil belajar matematika kelas IV SD Negeri 1 Kampung
Kota Agung Kabupaten Tanggamus Tahun Pelajaran 2012/2013.

19

BAB III
METODE PENELITIAN

III.1. Subyek, Tempat, dan Waktu Penelitian

III.1.1. Subyek Penelitian
Subyek dalam penelitian ini adalah siswa kelas IV SD Negeri 1
Kampung Kota Agung Kabupaten Tanggamus. Sebanyak 24
orang, yang terdiri dari 12 laki-laki dan 12 perempuan

III.1.2. Tempat Penelitian
Penelitian ini bertempat di SD Negeri 1 Kampung Kota Agung
Kelas IV Kabupaten Tanggamus Tahun Pelajaran 2012/2013

III.1.3. Waktu Penelitian
Waktu penelitian adalah waktu berlangsungnya penelitian atau
saat penelitian ini dilangsungkan. Penelitian ini dilaksanakan pada
bulan Januari sampai dengan bulan Maret 2013.

20

III.2 Data Penelitian
Data yang diteliti dalam penelitian ini adalah data aktivitas dan hasil
belajar siswa. Hasil belajar dalam penelitian ini dinyatakan sebagai hasil
tes yang diperoleh pada akhir siklus.

III.3 Teknik Pengumpulan Data
Teknik pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah
sebagai berikut :
III.3.1 Observasi
Observasi adalah kegiatan pengumpulan data yang dilakukan dengan cara
mengamati dan mencatat secara sistematik gejala-gejala yang diselidiki.
Observasi dilakukan untuk mengamatai aktivitas kinerja guru dan aktivitas
belajar siswa selama proses pembelajaran berlangsung dengan cara
memberi tanda ceklis (√) pada lembar observasi yang telah disediakan
peneliti, dengan demikian dapat mengetahui kesesuaian suatu perencanaan
dan pelaksanaan.
III.3.2. Tes
Tes ini digunakan untuk memperoleh data tentang ketercapaian hasil
belajar

siswa

setelah

melaksanakan

pembelajaran

menggunakan

pendekatan kontekstual. Bentuk tes yang digunakan adalah isian.
III.3.3. Tolak Ukur
Untuk mengukur tingkat keberhasilan siswa dalam mengikuti pembelajaran
Matematika selama penelitian tindakan kelas ini berlangsung, maka pada

21

setiap akhir pembelajaran pada setiap siklus, akan selalu diadakan post test.
Untuk mengetahui tingkat keberhasilan siswa dengan tolok ukur penilaian
di bawah ini.
Tabel 3.1. Tolak Ukur Penilaian
No
Rentang Skor
1.
85 – 100
2.
75 – 84
3.
60 – 74
4.
40 – 59
5.
0 – 39
(Nurgiantoro, 2001:399)

Tingkat Kemampuan
Sangat baik
Baik
Cukup
Kurang
Sangat Kurang

III.4. Instrumen Penelitian
Instrumen yang digunakan dalam penelitian adalah :
III.4.1 Lembar observasi, untuk memperoleh data tentang kondisi
pelaksanaan model pembelajaran kontekstual, seperti berikut :
Tabel 3.1. Instrumen Observasi Aktivitas Kinerja Guru
No

Aspek Kinerja Guru

I. Pra Pembelajaran
1. Persiapan skenario pembelajaran (RPP)
2. Kesiapan model yang akan ditampilkan
II. Kegiatan Pendahuluan
1. Membentuk kelompok yang anggotanya 4 orang
secara heterogen
2. Menjelaskan pada siswa tentang arti kerjasama dalam
kelompok
3. Menjelaskan beberapa aturan kelompok yang harus
dipatuhi
III. Kegiatan Inti
1. Menyajikan / mempresentasikan materi pelajaran
dengan bahasa yang mudah dimengerti siswa
2. Memberi tugas kepada kelompok untuk dikerjakan
oleh anggota kelompok
3. Membimbing setiap anggota kelompok dalam
mempelajari dan mendiskusikan LKS.

Skor
1

2

22

No

Aspek Kinerja Guru

Skor
1

4. Mengarahkan siswa dalam saling membantu antara
anggota jika ada yang mengalami kesulitan
5. Mengarahkan siswa dalam saling mengalami kesulitan
untuk bertanya pada teman sekelompok sebelum
bertanya pada guru.
6. Mengingatkan dan menekankan pada setiap kelompok
agar melakukan yang terbaik untuk kelompoknya.
7. Memberi kuis / pertanyaan kepada seluruh siswa
IV. Kegiatan Penutup
1. Memberikan penghargaan pada kelompok yang
skornya melebihi rata-rata kriteria tertentu
2. Melakukan refleksi pembelajaran dengan melibatkan
siswa
3. Menyusun rangkuman dengan melibatkan siswa
4. Melaksanakan tindak lanjut
5. memberi evaluasi kepada semua siswa
Jumlah Skor Kinerja Guru
Persentase Kinerja Guru
Katagori Kinerja Guru

III.4.2 Perangkat tes, perangkat tes yang diguanakan untuk mengukur
tingkat pemahaman siswa tantang materi, dan untuk melihat
peningkatan hasil belajar siswa.
III.4.3 Catatan lapangan, untuk mencatat hal-hal yang tidak terangkum
dalam lembar observasi.

III.5 Teknik Analisis Data
III.5.1 Teknik analisis data aktivitas siswa
Analisis data kualitatif pada penelitian ini, menggunakan analisis deskriptif
kualitatif yaitu, suatu metode penelitian yang bersifat menggambarkan
kenyataan atau fakta sesuai dengan data yang diperoleh dengan tujuan

2

23

untuk mengetahui aktivitas belejar siswa setiap siklus menggunakan
lembar observasi.
Penentuan presentase aktivitas siswa menggunakan rumus sebagai berikut :

PAS =

JSA
x100%
JS

Keterangan :
PAS

: Presentase Aktivitas Siswa

JSA

: Jumlah Siswa Aktif

JS

: Jumlah Siswa

100

: Bilangan tetap

III.5.2 Teknik Tes data hail belajar
Untuk mengetahui hasil belajar siswa setelah diterapkan pembelajaran
menggunakan pendekatan kontekstual, diambil dari rata-rata tes yang
diperoleh setiap akhir siklus.

X=

X
N

Keterangan :
X

: Nilai Rata-rata

X

: Jumlah semua nilai siswa

N

: Jumlah Siswa

24

III.5.3 Penilaian ketuntasan belajar

p

 Siswa yang tuntas belajar x100%
 Siswa

Selanjutnya seluruh data yang telah dipresentase, dianalisis dan dibuat
abtraksi rangkuman inti hasil analisis. Kemudian presentase yang diperoleh
diinterprestasikan dengan menghubungkan antar aspek dalam bentuk
deskripsi ringkas untuk tiap-tiap tindakan, kemudian dikatagorikan, siswa
dapat dikatakan tuntas apabila hasil belajar mencapai rata-rata lebih dari
60.

III.6.Prosedur Penelitian
Penelitian tindakan kelas ini direncanakan dalam dua siklus. Tiap siklus
terdiri dari atas satu kali pertemuan, tiap-tiap pertemuan terdiri dari empat
tahapan yaitu, perencanaan, pelaksanaan, pengamatan dan refleksi.
III.6.1 Tahap Perencanaan
a. Membuat

pemetaan,

silabus

dan

Rencana

Perbaikan

Pembelajaran (RPP) pembelajaran Matematika pada materi
mengenal

pecahan

sederhana

dengan

menggunakan

pembelajaran konstektual
b. Menyiapkan alat peraga berupa contoh-contoh pecahan
sederhana.
c. Membuat lembar observasi untuk melihat bagimana proses
belajar mengajar di kelas berlangsung.

25

III.6.2 Tahap Pelaksanaan
Pelaksanaan Tindakan akan dilakukan untuk beberapa siklus sesuai
dengan yang diharapkan.
1. Pra pembelajaran
a. Mengawali pelajaran dengan pendahuluan yaitu
memberikan motivasi dan apersepsi.
b. Membentuk kelompok yang anggotanya 4 siswa sehingga
terbentuk “masyarakat belajar”.
c. Menjelaskan pada siswa tentang arti kerjasama dalam
kelompok
d. Menjelaskan beberapa aturan kelompok yang harus dipatuhi
2. Inti pembelajaran
a. menyajikan / mempresentasikan materi pelajaran dengan
bahasa yang mudah dimengerti siswa
b. memberi tugas kepada kelompok untuk dikerjakan oleh
anggota kelompok
c. membimbing setiap anggota kelompok dalam mempelajari
dan mendiskusikan LKS.
d. Mengarahkan siswa dalam saling membantu antara anggota
jika ada yang mengalami kesulitan
e. Mengarahkan siswa dalam saling mengalami kesulitan untuk
bertanya pada teman sekelompok sebelum bertanya pada
guru.

26

f. Mengingatkan dan menekankan pada setiap kelompok agar
melakukan yang terbaik untuk kelompoknya.
g. memberi kuis / pertanyaan kepada seluruh siswa
3. Penutup pembelajaran
a. Memberikan penghargaan pada kelompok yang skornya
melebihi rata-rata kriteria tertentu.
b. Memberi evaluasi kepada semua siswa.

III.6.3 Tahap Pengamatan
Pengamatan dalam penelitian tindakan kelas ini dilakukan oleh
penulis dan satu orang guru sebagai teman sejawat atau
kolaborator.
Pada tahap observasi ini kegiatan yang dilaksanakan yaitu
mengobservasi

terhadap

pelaksanaan

tindakan

dengan

menggunakan lembar observasi yang telah dipersiapkan yaitu
lembar kegiatan aktivitas siswa dan lembar kegiatan aktivitas
guru.
III.6.4 Tahap Refleksi
Refleksi merupakan kegiatan menganalisis, mencermati, dan
megkaji secara mendalam dan meyeluruh tindakan yang telah
dilakukan berdasarkan data yang telah dikumpulkan. Kemudian
dilakukan evaluasi oleh guru untuk menyempurnakan tindakan
berikutnya.

27

Setelah siklus I dilaksanakan, peneliti mengevaluasi kelebihan dan
kekurangan yang ditemukan selama kegiatan pembelajaran
berlangsung. Dari kekurangan yang didapatkan pada siklus I,
peneliti merencanakan untuk melakukan perbaikan kembali
dengan menentukan rencana perbaikan untuk siklus II.

III.7 Indikator Keberhasilan
III.7.1 Presentase aktivitas siswa dalam pembelajaran sekurang-kurangnya
80 %.
III.7.2 Rata-rata hasil belajar siswa serendah-rendahnya 60.
III.7.3 Banyaknya siswa yang tuntas sekurang-kurangnya 75 %.

53

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

V.1. Kesimpulan
Berdasarkan penelitian tindakan kelas yang dilaksanakan di SD Negeri 1 Kampung Kota
Agung dalam pembelajaran matematika dengan pendekatan Kontekstual dapat
disimpulkan sebagai berikut :
V.1.1. Penggunaan pendekatan Kontekstual dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa
kelas IV SDN 1 Kampung Kota Agung dalam materi pecahan senilai. Hal ini
terbukti dari rata-rata persentase aktivitas yang diperoleh, dimana dari siklus I ke
siklus II mengalami peningkatan. Siklus I persentase aktivitas mencapai 66,67 %
dan siklus II menjadi 87,5%. Dari siklus I ke siklus II meningkat sebesar 20.83 %.
V.1.2. Penggunaan pendekatan Kontekstual dapat meningkatan hasil belajar kelas IV
SDN 1 Kampung Kota Agung dalam materi pecahan senilai rata-rata hasil belajar
pada siklus I sebesar 55,42 dan siklus II menjadi 82,50, meningkat sebesar 27,08.
Demikian juga dengan persentase ketuntasan belajar siswa, pada siklus I
persentase ketuntasan hanya 37,5 % dan siklus II meningkat menjadi 91,67 %.
Naik sebesar 54,17 %.

54

V.2. Saran
Dari pembahasan dan hasil kesimpulan, ada beberapa saran yang penulis sampaikan,
diantaranya sebagai berikut :
V.2.1. Bagi Guru
V.2.1.1. Guru senantiasa menciptakan suasana belajar yang lebih konkrit dengan
cara pemberian tugas atau latihan-latihan sehingga potensi dan
kemampuan siswa dapat tergali dan tersalurkan dengan baik.
V.2.1.2. Guru hendaknya menerapkan pembelajaran kontekstual dalam
pembelajaran Matematika secara efektif sehingga diharapkan dapat
memotivasi dalam belajar dan menumbuhkan keinginan siswa untuk
berprestasi lebih baik.

V.2.3. Bagi Sekolah
Bagi sekolah untuk meningkatkan kualitas peserta didik perlu dibuat media atau
sumber belajar yang cukup, misal LKS, alat peraga, atau buku panduan siswa
untuk belajar sehingga bisa memberikan bantuan lebih kepada siswa yang
mempunyai permasalahan dalam belajar, terutama pelajaran Matematika.

V.2.3. Bagi Peneliti
Peneliti perlu pemahaman konsep yang lebih mendalam mengenai pembelajaran
dengan pendekatan konstektual sehingga perlu adanya penelitian selanjutnya.

55

DAFTAR PUSTAKA
Arsyad. A 2004. Media Pembelajaran. Raja Grafindo Persada.Jakarta.
Hamalik, 2002. Proses Belajar Mengajar. Jakarta. Bumi Akasara.
Kurnia. 2008. Perkembangan Belajar Peserta Didik.. Jakarta . Direktorat Jendral
Pendidikan Tinggi Depdiknas.
Kosasih, A dan Angkowo. R. 2007. Optimalisasi Media Pembelajaran. Grasindo. Jakarta
Miarso, Yusufhadi. 2007. Menyemai Benih Teknologi Pendidikan. Prenada Media.
Jakarta.
Sabandar. 2003. Pendekatan Kontekstual Dalam Pembelajaran Matematika. Jakarta.
Universitas Pendidikan Indonesia.
Sardiman. 1994. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. PT Raja Grafindo Persada.
Jakarta
________. 2008. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. PT Raja Grafindo Persada.
Jakarta
________. 2001. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. PT Raja Grafindo Persada.
Jakarta
Sanjaya, Wina. 2006. Strategi Pembelajaran Berorentasi Standar Proses Pendidikan.
Jakarta: Kencana.
Syah, Muhibin. 2003. Psikologi Belajar. PT. Raja Grasindo Persada. Jakarta.
Slameto. 1995. Belajar dan Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Mengajar. Jakarta :
Rineka Cipta.
Universitas Lampung. 2011.Format Penulisan Karya Ilmiah. Universita Lampung,
Bandar Lampung


Dokumen yang terkait

PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR ILMU PENGETAHUAN ALAM PADA POKOK BAHASAN PERUBAHAN WUJUD ZAT MELALUI PENDEKATAN KONTEKSTUAL PADA SISWA DI KELAS IV SD NEGERI 2 MARGODADI KECAMATAN AMBARAWA KABUPATEN PRINGSEWU TAHUN PELAJARAN 2012/2013

1 11 55

PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA DENGAN MENGGUNAKAN PENDEKATAN KONTEKSTUAL PADA SISWA KELAS V SD NEGERI 2 REJOSARI KECAMATAN PRINGSEWU TAHUN PELAJARAN 2012/2013

0 4 52

PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA PADA PEMBELAJARAN IPA MELALUI METODE DEMONSTRASI KELAS IV SD NEGERI 2 REJOSARI TAHUN PELAJARAN 2012/2013

0 4 42

PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MELALUI PENDEKATAN KONTEKSTUAL PADA SISWA KELAS IV SD NEGERI 1 KAMPUNG KOTAAGUNG KABUPATEN TANGGAMUS TAHUN PELAJARAN 2012/2013

0 5 34

PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA DENGAN MODEL INKUIRI SISWA KELAS IV SD KRISTEN 1 METRO PUSAT TAHUN PELAJARAN 2012/2013

1 9 37

PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MELALUI MODEL KOOPERATIF TIPE STAD SISWA KELAS V SD NEGERI 1 GUNUNG MAS TAHUN PELAJARAN 2012/2013

0 2 53

PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MELALUI MODEL KOOPERATIF TIPE STAD SISWA KELAS V SD NEGERI 1 GUNUNG MAS TAHUN PELAJARAN 2012/2013

0 11 51

PENINGKATAN AKTIVITAS DAN PRESTASI BELAJAR MATEMATIKA MELALUI PENDEKATAN KONTEKSTUAL PADA SISWA KELAS VI SD NEGERI 1 SUSUNAN BARU BANDARLAMPUNG

0 5 44

PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MELALUI PENDEKATAN SCIENTIFIC DAN MEDIA GRAFIS SISWA KELAS IV A SD NEGERI 1 TOTOKATON

0 6 66

PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR ILMU PENGETAHUAN SOSIAL MELALUI PENDEKATAN KONTEKSTUAL SISWA KELAS IV SD NEGERI 7 METRO BARAT

0 4 76

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

85 2182 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

31 561 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

30 484 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

12 313 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

22 434 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

36 691 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

31 599 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

11 386 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

16 568 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

27 688 23