PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MELALUI MODEL KOOPERATIF TIPE STAD SISWA KELAS V SD NEGERI 1 GUNUNG MAS TAHUN PELAJARAN 2012/2013

ABSTRAK

PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA
MELALUI MODEL KOOPERATIF TIPE STAD SISWA KELAS V SD
NEGERI 1 GUNUNG MAS TAHUN PELAJARAN 2012/2013
Oleh:
NURUL HIDAYAH

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan peningkatan aktivitas dan hasil
belajar matematika melalui model kooperatif tipe STAD siswa kelas V SD Negeri
1 Gunung Mas Kabupaten Lampung Timur.
Metode Penelitian dilakukan dalam penelitian tindakan kelas dengan 2 siklus.
Data dikumpulkan menggunakan lembar observasi data dianalisis dengan
deskriptif kuantitatif.
Kesimpulan penelitian aktivitas siswa pada siklus 1 52,83% pada siklus II
mengalami peningkatan 9,27%. Hasil belajar siswa pada siklus I belum tuntas
Pada siklus II siswa tuntas sebesar 78,26% dan yang tidak tuntas sebesar 21,73%.
peningkatan sebesar 21,74%.
Kata Kunci: pembelajaran kooperatif tipe STAD, aktivitas belajar, hasil belajar.

PENINGKATAN HASIL BELAJAR ILMU PENGETAHUAN SOSIAL
MELALUI MODEL KOOPERATIF TIPE STAD SISWA KELAS V SD
NEGERI 1 GUNUNG MAS TAHUN PELAJARAN 2013/2014

Oleh
NURUL HIDAYAH

Skripsi
Sebagai Salah Satu Syarat Untuk Mencapai Gelar
SARJANA PENDIDIKAN

Pada
Jurusan Ilmu Pendidikan
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Lampung

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN GURU SEKOLAH DASAR
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
BANDAR LAMPUNG
2015

DAFTAR GAMBAR

Gambar

Halaman

1. Siklus Kegiatan PTK ..............................................................................

29

2. Hasil Belajar Siklus I. .............................................................................

50

3

60

Hasil Belajar Siklus II. ............................................................................

5. Diagram Kenaikan Rata-rata Aktivitas Siswa Dalam Pembelajaran Model
Kooperatif Tipe STAD. .........................................................................

72

6. Diagram Kenaikan Rata-rata Kinerja Guru dalam Pembelajaran Model
Kooperatif Tipe STAD. .........................................................................

xv

74

DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR TABEL ........................................................................................... xiv
DAFTAR GAMBAR ...................................................................................... xv
DAFTAR LAMPIRAN ................................................................................... xvi

BAB I. PENDAHULUAN
A. Latar Belakang Masalah .................................................................... 1
B. Identifikasi Masalah. .......................................................................... 4
C. Rumuasan Masalah ............................................................................ 5
D. Tujuan Penelitian. .............................................................................. 5
E. Manfaat Penelitian.............................................................................. 5

BAB II KAJIAN PUSTAKA
A. Model Pembelajaran Kooperatif ......................................................... 7
B. Model Pembelajaran Kooperatif STAD. .............................................. 9
C. Pengertian Belajar. ............................................................................... 16
D. Aktivitas Belajar. ................................................................................. 18
E. Pengertian IPS. ..................................................................................... 20
F. Tujuan IPS. ........................................................................................... 22
G. Implementasi Model Kooperatif Tipe STAD dalam Pembelajaran
IPS di Kelas V SD Negeri 1 Gunung Mas Lampung Timur. ............... 23
H. Hipotesis Tindakan. ............................................................................. 25

BAB III METODE PENELITIAN
A. Rancangan Penelitian. ......................................................................... 28
B. Prosedur Penelitian .............................................................................. 28
C. Setting Penelitian.................................................................................. 31
D. Data dan Sumber Data. ........................................................................ 31
E. Instrumen Penelitian. ........................................................................... 32
F. Teknik Analisa Data. ........................................................................... 33
G. Indikator Keberhasilan Penelitian. ....................................................... 34

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Profil SD Negeri 1 Gunung Mas. ........................................................ 35
B. Prosedur penelitian ............................................................................... 35
C. Hasil Penelitian. ................................................................................... 38
1. Siklus I.............................................................................................. 39
2. Siklus II. ........................................................................................... 53
D. Pembahasan . ....................................................................................... 65

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
A. Kesimpulan. ........................................................................................ 73
B. Saran..................................................................................................... 73

DAFTAR PUSTAKA........................................................................................... 75
LAMPIRAN-LAMPIRAN

DAFTAR LAMPIRAN

Lampiran

Halaman

1. Surat Izin Penelitian ......................................................................... 77
2. Surat keterangan. ............................................................................... 78
3. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Siklus I ................................... 79
4. Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Siklus II ................................... 92
5. Lembar Observasi. ............................................................................ 132
6. Hasil Belajar Siswa . ......................................................................... 142
7. Dokumen Photo Penelitian. ............................................................... 156

DAFTAR TABEL

Tabel
1.1

Halaman
Nilai Tes Semester Ganjil Mata Pelajaran IPS Kelas V SD
Negeri 1 Gunung Mas Tahun Pelajaran 2013/2014............

2

4.1

Jadwal Kegiatan Penelitian Tindakan Kelas Tiap Siklus…

38

4.2

Aktivitas Siswa Siklus I......................................................

48

4.3

Kinerja Guru Siklus I……………………………………..

50

4.4

Hasil Belajar Siswa Siklus I................................................

51

4.5

Aktivitas Siswa Siklus II………………………………….

61

4.6

Kinerja Guru Siklus II…………………………………….

63

4.7

Hasil Belajar Siswa Siklus II……………………………...

64

4.8

Rekapitulasi Aktivitas Siswa……………………………...

66

4.9

Rekapitulasi Data Kinerja Guru…………………………...

68

4.10 Hasil Belajar Siswa Siklus I, dan II.....................................

70

MOTO

“Pendidikan merupakan perlengkapan paling baik di hari tua.”
“Manusia yang paling pandai adalah manusia yang bisa menguasai
dirinya sendiri.”

PERSEMBAHAN

Seiring

dengan

sujud

syukur

pada-Nya

karya

sederhana

ini

penulis

persembahkan kepada
1. Kedua orang tuaku Bapak Mursali dan Ibu Ngasiatun terima kasih atas
doa dan restumu,
2. Suamiku yang tercinta dan tersayang yang selalu memberi motivasi agar
dapat menyelesaikan skripsi ini,
3. Anak-anakku yang kusayangi yang selalu semangat agar dapat
menyelesaikan skripsi ini
4. Kepala sekolah dan rekan-rekan guru yang selalu mendukung
keberhasilanku, dan
5. Almamater Universitas Lampung kebanggaanku

RIWAYAT HIDUP

Peneliti dilahirkan di Bumi Jawa pada tanggal 15 Juni 1983. Anak ke-2 dari 2
bersaudara pasangan dari Bapak Mursali dan Ibu Ngasiatun. Peneliti pertama kali
mengenal pendidikan di SD Negeri Batu Badak lulus tahun 1995. Kemudian
melanjutkan pendidikan di MTs Penawaja Pugung Raharjo lulus tahun 1998.
Kemudian peneliti melanjutkan pendidikan di MA Negeri 1 Metro lulus tahun
2001. Peneliti diterima sebagai mahasiswa Program Studi S-1 PGSD Universitas
Lampung tahun 2010.

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Sekolah dasar sebagai jenjang pendidikan formal pertama sistem
pendidikan di Indonesia mempunyai tujuan memberikan kemampuan dasar
baca, tulis, hitung, pengetahuan dan keterampilan dasar lainnya. Menurut
Hamalik (2001: 28), belajar adalah “Suatu proses perubahan tingkah laku
individu melalui interaksi dengan lingkungan”. Aspek tingkah laku tersebut
adalah:

pengetahuan,

pengertian,

kebiasaan,

keterampilan,

apresiasi,

emosional, hubungan sosial, jasmani, etis atau budi pekerti dan sikap.
Perolehan hasil belajar IPS SD Negeri 1 Gunung Mas di Kelas V
masih jauh dari hasil belajar yang diharapkan. Dari hasil pengamatan
langsung yang dilakukan terhadap perilaku siswa dalam mengikuti proses
belajar mengajar di kelas, masih terlihat siswa yang tidak memperlihatkan
penjelasan guru, malas-malasan dalam kegiatan belajar, kurangnya respon
siswa terhadap pertanyaan yang diberikan olah guru. Hal ini disebabkan
karena siswa merasakan kegiatan pembelajaran yang kurang menarik karena
kelas masih didominasi oleh guru sehingga siswa menjadi pasif. Dengan
demikian, penulis mencoba melakukan penelitian terhadap aktivitas dan hasil
belajar siswa pada siswa Kelas V SD Negeri 1 Gunung Mas.
Kurangnya aktivitas belajar IPS siswa dalam proses belajar mengajar
telah lama menjadi bahan pikiran setiap guru kelas sekolah dasar, hal ini

2

terlihat bahwa pada umumnya siswa menampakkan sikap yang kurang
bergairah, kurang bersemangat dan kurang siap dalam menerima pelajaran.
Kurang siapnya siswa dalam menerima pelajaran tersebut akan berpengaruh
dalam proses pembelajaran, karena akan mengakibatkan suasana kelas kurang
aktif dan interaksi timbal balik antara guru dan siswa kurang, serta antara
siswa dengan siswa tidak terjadi, sehingga siswa cenderung bersikap pasif dan
hanya menerima apa yang diberikan guru dan pada akhirnya hasil belajar
mereka rendah dan tidak memenuhi standar KKM yang telah ditetapkan.
Dilihat dari data prasurvei, yang dilakukan pada ulangan tengah
semester ganjil 2012 diketahui bahwa nilai hasil belajar IPS siswa Kelas V SD
Negeri 1 Gunung Mas masih rendah. Diperoleh data bahwa dalam
pembelajaran IPS masih banyak hasil belajar siswa yang belum mencapai nilai
Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) yang ditetapkan oleh Kelompok Kerja
Guru Kecamatan Marga Sekampung, yaitu 60.
Tabel 1.1 Nilai Tes Semester Ganjil Mata Pelajaran IPS Kelas V SD Negeri 1
Gunung Mas Tahun Pelajaran 2013/2014
No
1
2

Nilai
≥ 60
< 60
Jumlah

Kriteria
Tuntas
Tidak tuntas

Jumlah siswa
6
10
16

%
37,5%
62,5 %
100

Sumber: Buku Daftar Nilai Ulangan Semester Ganjil Kelas V SD Negeri 1
Gunung Mas Tahun Pelajaran 2013/2014 (berdasarkan KKM)

Berdasarkan tabel di atas nampak bahwa jumlah siswa yang tuntas
mencapai 6 siswa (37,5%) dan yang belum tuntas atau belum mencapai KKM
sebanyak 10 siswa (62,5%). Aktivitas belajar siswa juga masih rendah terlihat
dari siswa yang cenderung ribut, banyak mengobrol dan tidak menyimak

3

materi yang disampaikan oleh guru, serta proses interaksi antara guru dan
siswa kurang terlihat.
Faktor lain yang menyebabkan rendahnya hasil belajar siswa,
disebabkan karena belum optimal model pembelajaran oleh guru. Karena
selama ini pada umumnya guru lebih banyak menggunakan metode ceramah
sehingga mata pelajaran IPS menjadi tidak menarik. Belum digunakan model
kerja kelompok. Pembelajaran IPS lebih terfokus pada guru, sedangkan siswa
hanya menerima penjelasan dari guru adanya. Siswa kurang diberi
kesempatan untuk mencoba dan menemukan sendiri konsep secara langsung.
Oleh karena itu guru harus menata butir-butir pembelajaran dan proses
pembelajaran dengan baik sehingga menyebabkan rendahnya aktivitas dan
hasil belajar siswa di Kelas V SD Negeri 1 Gunung Mas Kecamatan Marga
Sekampung Lampung Timur pada pelajaran IPS.
Oleh karena itu, diperlukan model pembelajaran yang dapat
meningkatkan kreativitas dan keaktifan siswa di dalam proses pembelajaran
yang ditandai dengan aktivitas siswa yang meningkat, sehingga ketuntasan
belajar dapat tercapai.
Memahami berbagai masalah yang muncul di atas, maka peneliti
menerapkan solusi pembelajaran yang mana diharapkan dapat meningkatkan
hasil belajar siswa menjadi lebih baik dari sebelumnya. Metode pembelajaran
yang akan digunakan dalam pembelajaran IPS ini yaitu model pembelajaran
Kooperatif Tipe STAD. Dengan model pembelajaran STAD ini akan lebih
mendorong siswa untuk dapat memecahkan masalah IPS serta mendorong
siswa untuk dapat terlibat aktif dalam proses pembelajaran, sehingga siswa

4

akan lebih mudah memahami materi pelajaran IPS. Selanjutnya siswa akan
terlibat langsung dalam proses pembelajaran sehingga siswa lebih mampu
memahami dan dapat saling bekerja sama dengan kelompoknya sehingga ilmu
yang didapat lebih banyak dari hasil bertukar pikiran tersebut.
Berdasarkan hal tersebut di atas, maka penulis akan mengadakan
suatu penelitian dalam bentuk penelitian tindakan kelas yang berjudul
“Peningkatan Hasil Belajar IPS Melalui Model Pembelajaran Kooperatif Tipe
STAD Siswa Kelas V SD Negeri 1 Gunung Mas Tahun Pelajaran
2013/2014”.
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas perlu diidentifikasi permasalahan yang ada,
yaitu:
1. Rendahnya aktivitas belajar IPS siswa Kelas V SD Negeri 1 Gunung Mas
Lampung Timur.
2. Rendahnya hasil belajar IPS siswa Kelas V SD Negeri 1 Gunung Mas
Lampung Timur.
3. Kurangnya minat belajar IPS siswa Kelas V SD Negeri 1 Gunung Mas
Lampung Timur.
4. Guru belum menerapkan model pembelajaran Kooperatif Tipe STAD yang
tepat dalam kegiatan belajar mengajar di kelas.
C. Rumusan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah di atas penulis menyusun rumusan
rumusan masalah dalam penelitian tindakan kelas ini sebagai berikut:

5

1. Bagaimanakah peningkatan aktivitas belajar siswa melalui model
kooperatif tipe STAD siswa Kelas V SD Negeri 1 Gunung Mas Tahun
Pelajaran 2013/2014?
2. Bagaimanakah peningkatan hasil belajar siswa melalui model kooperatif
tipe STAD siswa Kelas V SD Negeri 1 Gunung Mas Tahun Pelajaran
2013/2014?
D. Tujuan Penelitian
Berdasarkan rumusan masalah Penelitian tindakan kelas ini bertujuan untuk
mendeskripsikan:
1. Peningkatan aktivitas belajar IPS melalui Model Kooperatif Tipe STAD
siswa Kelas V SD Negeri 1 Gunung Mas Lampung Timur.
2. Peningkatan hasil belajar IPS melalui Model Kooperatif Tipe STAD siswa
Kelas V SD Negeri 1 Gunung Mas Lampung Timur.
E. Manfaat Penelitian
Manfaat dari penelitian tindakan kelas melalui model Kooperatif Tipe STAD
dalam meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa dalam pembelajaran IPS
Kelas V SD Negeri 1 Gunung Mas Lampung Timur, sebagai berikut:
1. Bagi siswa yaitu :
Dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa dalam pembelajaran
IPS Kelas V SD Negeri 1 Gunung Mas Lampung Timur.
2. Bagi Guru yaitu :
Sebagai

bahan

masukan

dalam

meningkatkan

pengetahuan

dan

kemampuan guru bahwa model kooperatif tipe STAD merupakan salah
satu model pembelajaran yang efektif dan menyenangkan siswa, sehingga

6

dapat diterapkan dalam pembelajaran di sekolah, khususnya pada mata
pelajaran IPS.
3. Bagi Sekolah yaitu :
Sebagai bahan masukan untuk meningkatkan mutu proses, dan hasil belajar
siswa, dan sebagai pencapaian Visi Sekolah.
4. Bagi Peneliti
menambah wawasan dan pengetahuan peneliti dalam menerapkan modelmodel pembelajaran khususnya model Kooperatif Tipe STAD pada mata
pelajaran IPS.

BAB II
KAJIAN PUSTAKA

A. Model Pembelajaran Kooperatif
Menurut Davidson dan Warsham (dalam Isjoni, 2011: 28), “Pembelajaran
kooperatif adalah model pembelajaran yang mengelompokkan siswa untuk tujuan
menciptakan pendekatan pembelajaran yang berefektivitas yang mengintegrasikan
keterampilan sosial yang bermuatan akademik”.
Slavin (dalam Isjoni, 2011: 15) menyatakan bahwa “pembelajaran
kooperatif adalah suatu model pembelajaran dimana siswa belajar dan bekerja
sama dalam kelompok-kelompok kecil secara kolaboratif yang anggotanya terdiri
dari 4-6 orang dengan struktur kelompok heterogen”. Jadi dalam model
pembelajaran kooperatif ini, siswa bekerja sama dengan kelompoknya untuk
menyelesaikan suatu permasalahan. Dengan begitu siswa akan bertanggung jawab
atas belajarnya sendiri dan berusaha menemukan informasi untuk menjawab
pertanyaan-pertanyaan yang diberikan pada mereka.
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa model pembelajaran
kooperatif adalah model pembelajaran yang mengutamakan pembentukan
kelompok yang bertujuan untuk menciptakan pendekatan pembelajaran yang
efektif.
1. Tujuan Model Pembelajaran Kooperatif
Tujuan model pembelajaran kooperatif menurut Widyantini (2006: 4) adalah
“hasil belajar akademik siswa meningkat dan siswa dapat menerima berbagai

8

keragaman dari temannya serta pengembangan keterampilan sosial”. Johnson
& Johnson (dalam Trianto, 2010: 57) menyatakan bahwa tujuan pokok belajar
kooperatif adalah memaksimalkan belajar siswa untuk peningkatan prestasi
akademik dan pemahaman baik secara individu maupun secara kelompok.
Louisell dan Descamps (dalam Trianto, 2010: 57) juga menambahkan, karena
siswa bekerja dalam suatu tim, maka dengan sendirinya dapat dapat
memperbaiki hubungan diantara para siswa dari latar belakang etnis dan
kemampuan,

mengembangkan

keterampilan-keterampilan

proses

dan

pemecahan masalah. Jadi inti dari tujuan pembelajaran kooperatif adalah
untuk meningkatkan partisipasi siswa, memfasilitasi siswa, dan memberikan
kesempatan pada siswa untuk berinteraksi dan belajar bersama-sama siswa
lainnya.
2. Prinsip Dasar Model Pembelajaran Kooperatif
Menurut Nur (dalam Widyantini, 2006: 4), prinsip dasar dalam pembelajaran
kooperatif sebagai berikut:
a) Setiap anggota kelompok bertanggung jawab atas segala sesuatu yang
dikerjakan dalam kelompoknya dan berpikir bahwa semua anggota
kelompok memiliki tujuan yang sama.
b) Dalam kelompok terdapat pembagian tugas secara merata dan
dilakukan evaluasi setelahnya.
c) Saling membagi kepemimpinan antar anggota kelompok untuk belajar
bersama selama pembelajaran.
d) Setiap anggota kelompok bertanggungjawab atas semua pekerjaan
kelompok

9

3. Ciri-ciri model pembelajaran kooperatif
Menurut Nur (dalam Widyantini, 2006: 4) sebagai berikut:
a) Siswa dalam kelompok bekerja sama menyelesaikan materi belajar
sesuai kompetensi dasar yang akan dicapai.
b) Kelompok dibentuk secara heterogen.
c) Penghargaan lebih diberikan kepada kelompok, bukan kepada
individu

Pada model pembelajaran kooperatif memang ditonjolkan pada diskusi dan
kerjasama dalam kelompok. Kelompok dibentuk secara heterogen sehingga siswa
dapat berkomunikasi, saling berbagi ilmu, saling menyampaikan pendapat, dan
saling menghargai pendapat teman sekelompoknya.

B. Model Pembelajaran Student Teams Achievement Divisions (STAD)
Salah satu model pembelajaran kooperatif adalah STAD (Student teams
achievement divisions). Tipe STAD dikembangkan oleh Robert Salvin dan temantemannya

di

Universitas

John

Hopkin.

STAD

merupakan

pendekatan

pembelajaran kooperatif yang paling sederhana dalam pelaksanaannya siswa
dikelompokkan ke dalam 4- 5 orang tiap kelompoknya. Setiap kelompok harus
heterogen terdiri dari laki- laki dan perempuan, berasal dari berbagai, memiliki
kemampuan tinggi, sedang dan rendah. Setiap anggota kelompok saling membantu
satu sama lain untuk memahami materi pelajaran. Selanjutnya secara individual
setiap minggu atau dua minggu siswa diberi kuis.Hasil kuis diberi skor dan
dibandingkan dengan skor dasar untuk menentukan skor peningkatan individu dan
skor kelompok. Ada lima komponen utama dalam dalam pembelajaran kooperatif

10

tipe STAD (Student teams achievement divisions) yaitu presentasi kelas, kerja
kelompok, kuis, peningkatan nilai individu dan penghargaan kelompok. Dalam
laporan ini penulis mengambil salah satu dari kelima tipe tersebut yaitu kerja
kelompok.
Teknik

mengajar

Student

Teams Achievement

Divisions

(STAD)

dikembangkan oleh Aronson et. al. sebagai model Cooperative Learning. Teknik
ini dapat digunakan dalam pengajaran membaca, menulis, mendengarkan, ataupun
berbicara. Dalam teknik ini, guru memperhatikan skemata atau latar belakang
pengalaman siswa dan membantu siswa mengaktifkan skemata ini agar bahan
pelajaran menjadi lebih bermakna. Selain itu, siswa bekerja sama dengan sesama
siswa dalam suasana gotong royong dan mempunyai banyak kesempatan untuk
mengolah informasi dan meningkatkan keterampilan berkomunikasi.
Pembelajaran Student Teams Achievement Divisions (STAD) adalah suatu
tipe pembelajaran kooperatif yang terdiri dari beberapa anggota dalam satu
kelompok yang bertanggung jawab atas penguasaan bagian materi belajar dan
mampu mengajarkan materi tersebut kepada anggota lain dalam kelompoknya
(Arends 1997 : 111).
Student Teams Achievement Division (STAD) merupakan salah satu model
dalam pembelajaran kooperatif yang sederhana dan baik untuk guru yang baru
mulai menggunakan pendekatan kooperatif dalam kelas, STAD juga merupakan
suatu metode pembelajaran kooperatif yang efektif.
Student

Teams

Achievement

Divisions

(STAD)

didesain

untuk

meningkatkan rasa tanggung jawab siswa terhadap pembelajarannya sendiri dan

11

juga pembelajaran orang lain. Siswa tidak hanya mempelajari materi yang
diberikan, tetapi mereka juga harus siap memberikan dan mengajarkan materi
tersebut pada anggota kelompoknya yang lain. Dengan demikian, “siswa saling
tergantung satu dengan yang lain dan harus bekerja sama secara kooperatif untuk
mempelajari materi yang ditugaskan” (Lie, A. 1994 : 27).
Para anggota dari tim-tim yang berbeda dengan topik yang sama bertemu
untuk diskusi (tim ahli) saling membantu satu sama lain tentang topic
pembelajaran yang ditugaskan kepada mereka. Kemudian siswa-siswa itu kembali
pada tim / kelompok asal untuk menjelaskan kepada anggota kelompok yang lain
tentang apa yang telah mereka pelajari sebelumnya pada pertemuan tim ahli.
Pada model pembelajaran Student Teams Achievement Divisions (STAD),
terdapat kelompok asal dan kelompok ahli. Kelompok asal yaitu kelompok induk
siswa yang beranggotakan siswa dengan kemampuan, asal, dan latar belakang
keluarga yang beragam. Kelompok asal merupakan gabungan dari beberapa ahli.
Kelompok ahli yaitu kelompok siswa yang terdiri dari anggota kelompok asal
yang berbeda yang ditugaskan untuk mempelajari dan mendalami topik tertentu
dan menyelesaikan tugas-tugas yang berhubungan dengan topiknya untuk
kemudian dijelaskan kepada anggota kelompok asal.
Menurut Arends (1997: 115-117) lima komponen utama pembelajaran
kooperatif tipe STAD yaitu: 1) penyajian kelas, 2) belajar kelompok, 3) kuis, 4)
skor perkembangan, 5) penghargaan kelompok.
Berikut ini uraian selengkapnya dari pembelajaran kooperatif tipe
StudentTeams Achievement Division (STAD).

12

1. Pengajaran
Tujuan utama dari pengajaran ini adalah guru menyajikan materi pelajaran
sesuai dengan yang direncanakan. Setiap awal dalam pembelajaran kooperatif
tipe STAD selalu dimulai dengan penyajian kelas. Penyajian tersebut
mencakup pembukaan, pengembangan dan latihan terbimbing dari keseluruhan
pelajaran dengan penekanan dalam penyajian materi pelajaran.
a) Pembukaan
1) Menyampaikan pada siswa apa yang hendak mereka pelajari dan
mengapa hal itu penting. Timbulkan rasa ingin tahu siswa dengan
demonstrasi yang menimbulkan teka-teki, masalah kehidupan nyata,
atau cara lain.
2) Guru dapat menyuruh siswa bekerja dalam kelompok untuk
menemukan konsep atau merangsang keinginan mereka pada pelajaran
tersebut.
3) Ulangi secara singkat ketrampilan atau informasi yang merupakan
syarat mutlak.

b) Pengembangan
1) Kembangkan materi pembelajaran sesuai dengan apa yang akan
dipelajari siswa dalam kelompok.
2) Pembelajaran kooperatif menekankan, bahwa belajar adalah memahami
makna bukan hapalan.

13

3) Mengontrol pemahaman siswa sesering mungkin dengan memberikan
pertanyaan-pertanyaan.
4) Memberi penjelasan mengapa jawaban pertanyaan tersebut benar atau
salah.
5) Beralih pada konsep yang lain jika siswa telah memahami pokok
masalahnya.
c) Latihan Terbimbing
1) Menyuruh semua siswa mengerjakan soal atas pertanyaan yang
diberikan.
2) Memanggil siswa secara acak untuk menjawab atau menyelesaikan soal.
Hal ini bertujuan supaya semua siswa selalu mempersiapkan diri sebaik
mungkin.
3) Pemberian tugas kelas tidak boleh menyita waktu yang terlalu lama.
Sebaiknya siswa mengerjakan satu atau dua masalah (soal) dan
langsung diberikan umpan balik.
2. Belajar Kelompok
Selama belajar kelompok, tugas anggota kelompok adalah menguasai
materi yang diberikan guru dan membantu teman satu kelompok untuk
menguasai materi tersebut. Siswa diberi lembar kegiatan yang dapat
digunakan untuk melatih ketrampilan yang sedang diajarkan untuk
mengevaluasi diri mereka dan teman satu kelompok.

14

Pada saat pertama kali guru menggunakan pembelajaran kooperatif, guru
juga perlu memberikan bantuan dengan cara menjelaskan perintah,
mereview konsep atau menjawab pertanyaan.
Selanjutnya menurut Arends (1997: 118) langkah-langkah yang
dilakukan guru sebagai berikut:
1) Mintalah anggota kelompok memindahkan meja/bangku mereka bersamasama dan pindah kemeja kelompok.
2) Berilah waktu lebih kurang 10 menit untuk memilih nama kelompok.
3) Bagikan lembar kegiatan siswa.
4) Serahkan pada siswa untuk bekerja sama dalam pasangan, bertiga atau satu
kelompok utuh, tergantung pada tujuan yang sedang dipelajari. Jika
mereka mengerjakan soal, masing-masing siswa harus mengerjakan soal
sendiri dan kemudian dicocokkan dengan temannya. Jika salah satu tidak
dapat mengerjakan suatu pertanyaan, teman satu kelompok bertanggung
jawab menjelaskannya. Jika siswa mengerjakan dengan jawaban pendek,
maka mereka lebih sering bertanya dan kemudian antara teman saling
bergantian memegang lembar kegiatan dan berusaha menjawab pertanyaan
itu.
5) Tekankan pada siswa bahwa mereka belum selesai belajar sampai mereka
yakin teman-teman satu kelompok dapat mencapai nilai sampai 100 pada
kuis. Pastikan siswa mengerti bahwa lembar kegiatan tersebut untuk
belajar tidak hanya untuk diisi dan diserahkan. Jadi penting bagi siswa

15

mempunyai lembar kegiatan untuk mengecek diri mereka dan teman-teman
sekelompok mereka pada saat mereka belajar. Ingatkan siswa jika mereka
mempunyai

pertanyaan,

mereka

seharusnya

menanyakan

teman

sekelompoknya sebelum bertanya guru.
6) Sementara siswa bekerja dalam kelompok, guru berkeliling dalam kelas.
Guru sebaiknya memuji kelompok yang semua anggotanya bekerja dengan
baik, yang anggotanya duduk dalam kelompoknya untuk mendengarkan
bagaimana anggota yang lain bekerja dan sebagainya.
3. Kuis
Kuis dikerjakan siswa secara mandiri. Hal ini bertujuan untuk menunjukkan
apa saja yang telah diperoleh siswa selama belajar dalam kelompok. Hasil
kuis digunakan sebagai nilai perkembangan individu dan disumbangkan
dalam nilai perkembangan kelompok.
4. Penghargaan Kelompok
Langkah pertama yang harus dilakukan pada kegiatan ini adalah menghitung
nilai kelompok dan nilai perkembangan individu dan memberi sertifikat atau
penghargaan kelompok yang lain. Pemberian penghargaan kelompok
berdasarkan pada rata-rata nilai perkembangan individu dalam kelompoknya.

C. Pengertian Belajar
Belajar adalah perubahan yang relatif permanen dalam perilaku atau
potensi perilaku sebagai hasil dari pengalaman atau latihan yang diperkuat.
Belajar merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon. Menurut

16

Suryabrata, (2000: 252) belajar merupakan proses perbuatan yang dilakukan
dengan sengaja, yang kemudian menimbulkan perubahan, yang keadaannya
berbeda dari perubahan yang ditimbulkan oleh lainnya.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia Belajar (2002: 12) belajar adalah
berusaha memperoleh kepandaian atau ilmu, berlatih, berubah tingkah laku atau
tanggapan yang disebabkan oleh pengalaman. Menurut Djamarah (2000: 21)
belajar adalah proses dimana tingkah laku ditimbulkan atau diubah melalui latihan
atau pengalaman. Menurut Djamarah (2000: 22) belajar adalah suatu proses untuk
memperoleh motivasi dalam pengetahuan, ketrampilan, kebiasaan dan tingkah
laku.
Ciri-ciri belajar adalah sebagai berikut :
1. Adanya kemampuan baru atau perubahan. Perubahan tingkah laku bersifat
pengetahuan (kognitif), keterampilan (psikomotorik), maupun nilai dan sikap
(afektif).
2. Perubahan itu tidak berlangsung sesaat saja melainkan menetap atau dapat
disimpan.
3. Perubahan itu tidak terjadi begitu saja melainkan harus dengan usaha.
Perubahan terjadi akibat interaksi dengan lingkungan.
4. Perubahan

tidak

semata-mata

disebabkan

oleh

pertumbuhan

fisik/

kedewasaan, tidak karena kelelahan, penyakit atau pengaruh obat-obatan.
Berikut beberapa faktor pendorong mengapa manusia memiliki keinginan
untuk belajar:

17

1. Adanya dorongan rasa ingin tahu.
2. Adanya keinginan untuk menguasai Ilmu Pengetahuan dan Teknologi sebagai
tuntutan zaman dan lingkungan sekitarnya
3. Mengutip dari istilah Abraham Maslow bahwa segala aktivitas manusia
didasari atas kebutuhan yang harus dipenuhi dari kebutuhan biologis sampai
aktualisasi diri.
4. Untuk melakukan penyempurnaan dari apa yang telah diketahuinya.
5. Agar mampu bersosialisasi dan beradaptasi dengan lingkungannya.
6. Untuk meningkatkan intelektualitas dan mengembangkan potensi diri.
7. Untuk mencapai cita-cita yang diinginkan.
8. Untuk mengisi waktu luang.
Menurut analisis penulis, Belajar merupakan proses yang aktif untuk
memahami hal-hal baru dengan pengetahuan yang kita miliki. Di sini terjadi
penyesuaian dari pengetahuan yang sudah kita miliki dengan pengetahuan baru.
Dengan kata lain, ada tahap evaluasi terhadap informasi yang didapat, apakah
pengetahuan yang kita miliki masih relevan atau kita harus memperbarui
pengetahuan kita sesuai dengan perkembangan zaman.

18

D. Aktivitas Belajar
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, aktivitas artinya adalah
“kegiatan / keaktifan”. Poewadarminto menjelaskan aktivitas sebagai suatu
kegiatan atau kesibukan. S. Nasution menambahkan bahwa aktivitas merupakan
keaktifan jasmani dan rohani dan kedua-keduanya harus dihubungkan. belajar
menurut Dimyati dan Mudjiono (1999: 7) merupakan tindakan dan perilaku siswa
yang kompleks. Selanjutnya Sardiman (1994: 24) menyatakan: “Belajar sebagai
suatu proses interaksi antara diri manusia dengan lingkungannya yang mungkin
berwujud pribadi, fakta, konsep ataupun teori”.
Jadi, dapat disimpulkan bahwa aktivitas belajar adalah segala kegiatan
yang dilakukan dalam proses interaksi (guru dan siswa) dalam rangka mencapai
tujuan pembelajaran. Aktivitas yang dimaksudkan di sini penekanannya adalah
pada siswa, sebab dengan adanya aktivitas siswa dalam proses pembelajaran akan
berdampak terciptanya situasi belajar aktif.
Aktivitas belajar sendiri banyak sekali macamnya, sehingga para ahli
mengadakan klasifikasi. Sardiman (1994: 101) membuat suatu daftar yang berisi
177 macam kegiatan siswa yang digolongkan ke dalam 8 kelompok.
1. Visual Activities, meliputi kegiatan seperti membaca, memperhatikan
(gambar, demonstrasi, percobaan dan pekerjaan orang lain)
2. Oral Activities, seperti : menyatakan, merumuskan, bertanya, memberi
saran, mengeluarkan pendapat, mengadakan wawancara, diskusi, dan
interupsi.
3. Listening Activities, seperti : mendengarkan uraian, percakapan
diskusi, musik dan pidato.
4. Writting Activities, seperti : menulis cerita, menulis karangan, menulis
laporan, angket, menyalin, membuat rangkuman.
5. Drawing Activities, seperti ; menggambar, membuat grafik, peta,
diagram.

19

6. Motor Activities, seperti : melakukan percobaan, membuat konstruksi,
model, mereparasi, bermain dan berternak.
7. Mental Activities, seperti menanggapi, mengingat, memecahkan soal,
menganalisis, melihat hubungan dan mengambil keputusan.
8. Emotional Activities, seperti : menaruh minat, merasa bosan,
bergairah, berani, tenang dan gugup
Aktifnya siswa selama proses belajar mengajar merupakan salah satu
indikator adanya keinginan atau motivasi siswa untuk belajar. Siswa dikatakan
memiliki keaktifan apabila ditemukan ciri – ciri perilaku seperti : sering bertanya
kepada guru atau siswa lain, mau mengerjakan tugas yang diberikan oleh guru,
mampu menjawab pertanyaan, senang diberi tugas belajar, dan lain sebagainya.
Semua ciri perilaku tersebut pada dasarnya dapat ditinjau dari dua segi yaitu segi
proses dan dari segi hasil.
Indikator aktivitas belajar dalam penelitian ini adalah 1) mengajukan
pertanyaan, merespon aktif pertanyaan lisan dari guru, 2) melaksanakan
instruksi/perintah, 3) menampakkan keceriaan dan kegembiraan dalam belajar, 4)
antusias/semangat dalam mengikuti kegiatan pembelajaran, 5) Memotivasi untuk
dapat mengerjakan dengan cara sendiri, 6) Siswa berdiskusi dengan teman
lainnya dalam mengonstruksikan bahan, 7) Belajar berdasarkan fasilitas yang
disediakan oleh guru, 8) siswa merekonstruksikan. Kunandar (2010 : 296).
Menurut Hamalik (2001: 28), belajar adalah “Suatu proses perubahan
tingkah laku individu melalui interaksi dengan lingkungan”. Aspek tingkah laku
tersebut adalah: pengetahuan, pengertian, kebiasaan, keterampilan, apresiasi,
emosional, hubungan sosial, jasmani, etis atau budi pekerti dan sikap. Sedangkan,
Sardiman (1994: 22) menyatakan: “Belajar merupakan suatu proses interaksi

20

antara diri manusia dengan lingkungannya yang mungkin berwujud pribadi,
fakta, konsep ataupun teori”
Dapat disimpulkan bahwa aktivitas belajar merupakan segala kegiatan
yang dilakukan dalam proses interaksi (guru dan siswa) dalam rangka mencapai
tujuan belajar. Aktivitas yang dimaksudkan di sini penekanannya adalah pada
siswa, sebab dengan adanya aktivitas siswa dalam proses pembelajaran
terciptalah situasi belajar aktif, seperti yang dikemukakan oleh Natawijaya dalam
Depdiknas (2006 : 31), belajar aktif adalah “Suatu sistem belajar mengajar yang
menekankan keaktifan siswa secara fisik, mental intelektual dan emosional guna
memperoleh hasil belajar berupa perpaduan antara aspek koqnitif, afektif dan
psikomotor”

E. Pengertian IPS
Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial berkenaan dengan manusia yang
melibatkan segala tingkah laku dan kebutuhannya. Baik kebutuhan untuk
memenuhi materi, budaya, memanfaatkan sumber daya alam di permukaan bumi,
dan mengatur kesejahteraan dalam rangka menjalankan kehidupan bermasyarakat.
Menurut Fajrina (2011), mengemukakan hakikat Ilmu Pengetahuan Sosial
adalah tela'ah tentang manusia dan dunianya. Misalnya manusia sebagai makhluk
sosial yang selalu hidup bersama orang lain dengan saling berkomunikasi sebagai
suatu interaksi sosial

21

Pendidikan IPS yang dikembangkan pada tingkat persekolahan berbeda
dengan pendidikan IPS yang dikembangkan di tingkat perguruan tinggi.
Pendidikan IPS yang dikembangkan di tingkat persekolahan memiliki tujuan
untuk membina peserta didik menjadi warga negara yang baik.
Permendiknas No.22 tahun 2006 tantang standar isi mengemukakan bahwa
Ilmu Pengetahuan Sosial merupakan salah satu mata pelajaran yang diberikan
mulai dari SD/MI sampai SMP/MTS. Ilmu Pengetahuan Sosial mengkaji
seperangkat peristiwa, fakta, konsep dan generalisasi yang berkaitan dengan
isu sosial. Pada jenjang SD/MI mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial
memuat materi geografi, Sejarah, Sosiologi, dan Ekonomi. Melalui mata
pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial peserta didik disiapkan dan diarahkan agar
mampu menjadi warga negara yang demokratis, dan bertanggung jawab serta
warga dunia yang cinta damai.
Sejalan dengan itu, hakekat pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial
sebagai mata pelajaran di tingkat sekolah dasar merupakan suatu integrasi utuh
dari disiplin ilmu IPS dan disiplin ilmu lain yang relevan untuk merealisasikan
tujuan pendidikan di tingkat persekolahan.
King (dalam http://techonlyl3's.wordpress.com, 2kl, diakses tanggal 26
Januari 2013 pukul 16.30 WIB) mengemukakan bahwa pengorganisasian
pengajaran IPS di Sekolah Dasar (SD) sumbernya dari berbagai ilmu sosial yang
diitegrasikan menjadi satu ke dalam mata pelajaran. Dengan demikian pengajaran
IPS di Sekolah Dasar merupakan bagian integrasi dari bidang studi. Winataputra,
dkk. (2008: 1.51) tentang kurikulum 1975 menampilkan empat profil yang
diantaranya adalah Pendidikan IPS terpadu untuk Sekolah Dasar (SD).
Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan bahwa IPS SD adalah suatu
mata pelajaran yang diajarkan secara terintegrasi utuh dari disiplin ilmu-ilmu IPS

22

dan ilmu-ilmu lain yang bertujuan membentuk peserta didik menjadi warga
masyarakat yang baik sesuai dengan tujuan pendidikan
F. Tujuan Belajar IPS
Tujuan pendidikan Ilmu Pengetahuan Sosial dikembangkan atas dasar
pemikiran bahwa Ilmu Pendidikan Sosial merupakan suatu disiplin ilmu.
Oleh karena itu, pendidikan Ilmu Pendidikan Sosial harus mengacu pada
tujuan pendidikan nasional.
Permendiknas No. 22 tahun 2006 tentang standar isi menyatakan
bahwa mata pelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial bertujuan agar siswa
mempunyai kemampuan sebagai berikut:
1) Mengenal konsep yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat dan
lingkungannya
2) Memiliki kemampuan dasar untuk berfikir logis dan kritis , rasa ingin
tahu, inkuiri, memecahkan masalah, dan keterampilan dalam kehidupan
sehari-hari.
3) Memiliki komitmen dan kesadaran terhadap nilai-nilai sosial dan
kemanusiaan.
4) Memiliki kemampuan berkomunikasi, bekerjasama, dan berkompetisi
dalam masyarakat yang majemuk, di tingkat lokal nasional dari global
Herms (dalam Winatraputra, dkk. 2008: 8.9) menyatakan bahwa
tujuan pengembangan IPS di persekolahan adalah sebagai berikut : 1) IPS
untuk memenuhi kebutuhan pribadi individu, 2) IPS untuk memecahkan
berbagai persoalan-persoalan kemasyarakatan masa kini, 3) IPS membantu
dalam memilih karir, 4) IPS mempersiapkan studi lanjutan.
Berdasarkan pendapat para ahli di atas, dapat disimpulkan bahwa tujuan
pembelajaran

Ilmu

Pengetahuan

Sosial

adalah

untuk

mengembangkan

kemampuan peserta didik untuk menguasai disiplin ilmu-ilmu sosial yang

23

nantinya akan bermanfaat bagi siswa dalam kehidupan individu, masyarakat, dan
dunia kerja.

G. Implementasi Model Kooperatif Tipe STAD dalam Pembelajaran IPS di
Kelas V SD Negeri 1 Gunung Mas Lampung Timur.
Model pembelajaran Cooperative Learning tipe STAD dikembangkan
oleh Robert E. Slavin dan teman-temannya di Universitas Jhon Hopkin, dan
merupakan tipe pembelajaran Cooperative Learning yang paling sederhana. Guru
yang menggunakan STAD mengacu kepada belajar kelompok siswa yang
menyajikan informasi akademik kepada siswa menggunakan presentasi verbal
atau teks. Pembelajaran Cooperative Learning tipe STAD membagi siswa dalam
kelompok-kelompok kecil yang terdiri dari 4 sampai 5 orang yang bersifat
heterogen. Komponen utama tipe STAD adalah presentasi kelas, kegiatan
kelompok, kuis/test, pemberian skor individu dan penghargaan kelompok (Asma,
2006: 51).
Berdasarkan keterangan di atas bahwasannya model pembelajaran
kooperatif tipe STAD dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa sebab
dalam proses pembelajarannya STAD menekankan keterlibatan siswa secara
aktif, sehingga mendorong siswa untuk mencari dan menemukan jawaban
berdasarkan pengalaman yang dialaminya selama proses pembelajaran. Hal inilah
yang mendorong munculnya aktivitas belajar yang mandiri serta meningkatkan
hasil belajar yang sesuai dengan apa yang diharapkan dan menjadi tujuan dapat
dilihat sebagai berikut:

24

1. Kegiatan Awal
a. Guru mengucapkan salam kepada siswa dan siswa menjawab salam guru
b. Guru membimbing siswa untuk berdo’a bersama sebelum sebelum proses
pembelajaran dimulai
c. Apersepsi
d. Guru mengkondisikan siswa untuk siap belajar dan mengecek kehadiran
siswa.
e. Guru mengembangkan pemikiran siswa untuk melakukan kegiatan belajar
secara lebih bermakna.

2. Kegiatan Inti
a. Siswa memeperhatikan penjelasan guru tentang menghargai peranan
tokoh pejuang dan masyarakat dalam mempersiapkan dan mempertahankan

Kemerdekaan

Indonesia

yang

dijadikan

model

pembelajaran kooperatif tipe STAD oleh guru.
b. Siswa diberikan pertanyaan tokoh pejuang dan masyarakat dalam
mempersiapkan dan mempertahankan Kemerdekaan Indonesia
c. Siswa bertanya tentang materi yang belum dipahaminya
d. Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok kecil
e. Siswa melakukan diskusi kelompok tentang bentuk pecahan dan nilai
pecahan dengan cara mengkonstruksi pengetahuan dan keterampilan baru
yang dimilikinya.

25

f. Siswa mengamati serta menyelidiki masalah yang diberikan guru
sehingga siswa menemukan jawabannya secara berkelompok
g. Siswa mencatat hasil diskusi serta melaporkannya kepada guru.
h. Siswa berbagi pengalaman kepada siswa lainnya, atau kelompok lainnya.
3. Kegiatan akhir
a. Guru bersama-sama siswa melakukan refleksi tentang kegiatan-kegiatan
pembelajaran yang telah dilakukan
b. Guru melakukan penilaian secara objektif kepada masing-masing
kelompok yang telah melakukan diskusi
c. Guru bertanya tentang kesan siswa selama melakukan kegiatan, dan saran
atau harapan siswa.

H. Hipotesis Tindakan
Berdasarkan kajian pustaka di atas dirumuskan hipotesis sebagai berikut:
“Apabila dalam pembelajaran IPS menggunakan model Kooperatif Tipe STAD
dengan memperhatikan langkah-langkah secara tepat, maka akan meningkatkan
hasil belajar IPS siswa Kelas V SD Negeri 1 Gunung Mas Lampung Timur.

BAB III
METODE PENELITIAN

A. Rancangan Penelitian
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah
metode penelitian tindakan kelas yang difokuskan pada situasi kelas yang
lazim dikenal classroom action research (Wardhani dkk, 2007: 13). Menurut
Suharsimi (2006: 58) yang dimaksud dengan Penelitian Tindakan Kelas
(PTK) adalah penelitian tindakan (action research) yang dilakukan dengan
tujuan memperbaiki mutu praktik pembelajaran dikelasnya. PTK berfokus
pada kelas atau pada proses belajar mengajar yang terjadi di kelas, bukan pada
input kelas (silabus, materi, dan lain-lain) ataupun output (hasil belajar). PTK
harus tertuju atau mengenai hal-hal yang terjadi di dalam kelas.

B. Prosedur Penelitian
Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian
tindakan kelas menurut Suharsimi (2006: 3) mengemukakan “Penelitian
tindakan kelas merupakan suatu pencermatan terhadap kegiatan belajar berupa
sebuah tindakan, yang sengaja dimunculkan dan terjadi dalam sebuah kelas
secara bersama”. Jadi PTK bisa dikatakan suatu tindakan yang disengaja
untuk mendapatkan kegiatan belajar mengajar dengan hasil yang maksimal
yang berfokus pada kegiatan pembelajaran.

27

Penelitian tindakan kelas juga harus adanya hubungan atau kerjasama
antara peneliti dengan guru baik dalam pembelajaran maupun dalam
menghadapi permasalahan yang nyata di kelas. Dalam hal ini Suharsimi
(2006:63) mengemukakan “Kerjasama (kolaborasi) antar guru dengan
peneliti menjadi hal yang sangat penting. Melalui kerjasama, mereka secara
bersama menggali dan mengkaji permasalahan yang dihadapi guru dan/atau
siswa di sekolah.
Prosedur

pelaksanaan

PTK

yang

meliputi

penetapan

fokus

permasalahan, perencanaan tindakan, pelaksanaan tindakan yang diikuti
dengan kegiatan observasi, interpretasi, dan analisis, serta refleksi. Apabila
diperlukan, pada tahap selanjutnya disusun rencana tindak lanjut. Upaya
tersebut dilakukan secara berdaur membentuk suatu siklus. Langkah-langkah
pokok yang ditempuh pada siklus pertama dan siklus-siklus berikutnya
adalah: 1) Penetapan fokus permasalahan, 2) Perencanaan tindakan, 3)
Pelaksanaan tindakan, 4) Pengumpulan data (pengamatan/observasi), 5)
Refleksi (analisis, dan interpretasi), dan 6) Perencanaan tindak lanjut.
Untuk lebih jelasnya, rangkaian kegiatan dari setiap siklus dapat
dilihat pada gambar berikut:

28

Permasalahan

Perencanaan
Tindakan - I

Pelaksanaan
Tindakan - I

Refleksi - I

Pengamatan/
Pengumpulan
Data - I

Perencanaan
Tindakan - II

Pelaksanaan
Tindakan - II

Refleksi
Refleksi -- II
I

Pengamatan/
Pengumpulan
Data - II

SIKLUS - I

Permasalahan
baru, hasil
Refleksi

SIKLUS - II

Bila Permasalahan
Belum
Terselesaikan

Dilanjutkan ke
Siklus Berikutnya

Gambar 1. Siklus Kegiatan PTK (Aidin, 2011: 19)

Setelah permasalahan ditetapkan, pelaksanaan PTK dimulai dengan
siklus pertama yang terdiri atas empat kegiatan. Apabila sudah diketahui
keberhasilan atau hambatan dalam tindakan yang dilaksanakan pada siklus
pertama, peneliti kemudian mengidentifikasi permasalahan baru untuk
menentukan rancangan siklus berikutnya. Kegiatan pada siklus kedua, dapat
berupa kegiatan yang sama dengan sebelumnya bila ditujukan untuk
mengulangi keberhasilan, untuk meyakinkan, atau untuk menguatkan hasil.
Pada umumnya kegiatan yang dilakukan dalam siklus kedua mempunyai

29

berbagai tambahan perbaikan dari tindakan sebelumnya yang ditunjukan
untuk mengatasi berbagai hambatan/ kesulitan yang ditemukan dalam siklus
sebelumnya
Penelitian tindakan kelas ini terdiri dari 2 siklus. Dalam penelitian
tindakan kelas ini menggunakan model spiral yang terdiri dari 4 tahap
meliputi perencanaan, pelaksanaan tindakan, observasi, refleksi dan
perbaikan rencana dalam setiap siklus.
a. Tahap Perencanaan
1) Identifikasi masalah dan penetapan alternatif pemecahan masalah.
2) Merencanakan pembelajaran yang akan diterapkan dalam proses belajar
mengajar.
3) Menetapkan standar kompetensi dan kompetensi dasar.
4) Memilih bahan pelajaran yang sesuai
5) Menentukan skenario pembelajaran dengan metode pemberian tugas.
6) Mempersiapkan sumber, bahan, dan alat bantu yang dibutuhkan.
7) Menyusun lembar kerja siswa
8) Mengembangkan format evaluasi
9) Mengembangkan format observasi pembelajaran.
b. Tahap Pelaksanaan/Tindakan
a) Sebelum materi diberikan, guru menginformasikan materi yang akan
dipelajari. Untuk memotivasi siswa dalam menerima pembelajaran yang
baru.
b) Siswa dikelompokkan ke dalam beberapa kelompok yang heterogen.

30

c) Bagian topik permasalahan diberikan kepada siswa yang pertama,
sedangkan siswa yang kedua menerima bagian topik yang kedua
demikian seterusnya dengan berupa soal latihan.
d) Siswa membaca dan mengerjakan bagian mereka masing-masing. Siswa
saling berinteraksi antara satu dengan yang lainnya.
e) Setelah selesai, siswa kelompok ahli kembali ke kelompok asal masingmasing untuk menjelaskan hasil kelompoknya mendiskusikannya sekelas
f) Guru memberi penghargaan kepada siswa atau kelompok yang telah
menyelesaikan tugas yang diberikan dengan baik.
c. Tahap Observasi
1) Observer

melakukan

pengamatan

terhadap

aktivitas

siswa

dan

pengamatan terhadap penelitian tindakan kelas ketika pembelajaran
berlangsung.
2) Menilai hasil tindakan dengan menggunakan format yang telah
disediakan.
d. Tahap Refleksi
Pada kegiatan ini peneliti menentukan, mengidentifikasikan permasalahan
yang ditemukan. Dari hasil refleksi guru merencanakan siklus selanjutnya
untuk memperbaiki kekurangan pada pembelajaran siklus sebelumnya.

31

C. Setting Penelitian
1. Waktu Penelitian
Penelitian dilaksanakan pada semester 2 (genap) tahun pelajaran
2013/2014 dimulai dari bulan Januari sampai dengan bulan April 2014.
2. Tempat penelitian
Penelitian ini dilakukan di SD Negeri 1 Gunung Mas Jalan Desa
Gunung Mas Kecamatan Marga Sekampung Kabupaten Lampung Timur.
3. Subjek Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan di Kelas SD Negeri 1 Gunung Mas
Tahun Pelajaran 2013/2014, V Semester genap, dengan jumlah siswa 16
orang, yang terdiri dari 10 orang laki-laki dan 6 orang perempuan.
D. Data dan Sumber Data
Sumber data dalam penelitian ini berupa data kualitatif dan
kuantitatif. Data kualitatif diperoleh dari hasil observasi. Sedangkan data
kuantitatif diperoleh dari hasil tes yang berbentuk skor (angka), yang terurai
sebagai berikut:
1. Dokumen catatan lapangan
Adalah dokumen catatan tentang kejadian-kejadian pada saat penelitian
tindakan kelas berlangsung.
2. Aktivitas belajar siswa.
Sumber data aktivitas belajar siswa adalah untuk menilai keaktipan
siswa dalam proses belajar, yang meliputi:

32

a. Kemampuan menyelesaikan tugas
b. Kemampuan bertanya kepada guru
c. Keaktipan menyelesaikan tugas
d. Bekerjasama dengan teman
e. memperhatikan petunjuk guru
f. Kemampuan memunculkan gagasan baru baik lisan maupun
tertulis
3. Hasil belajar siswa, sesuai dengan materi yang dibahas setiap siklus.

E. Instrumen Penelitian
Instrumen yang digunakan untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini
adalah lembar observasi, perangkat tes, dan catatan lapangan.
1. Lembar observasi dibuat oleh guru yang digunakan untuk menilai aktivitas
siswa dalam proses pembelajaran, lembar observasi aktivitas yang
mencakup:
a. Memperhatikan penjelasan guru
b. Bertanya atau menjawab pertanyaan guru
c. Berdiskusi antara siswa dengan siswa dalam kelompok
d. Mengerjakan LKS
e. Menanggapi hasil presentasi kelompok lain.
2. Perangkat tes dilakukan dengan cara tertulis yang berbentuk uraian sesuai
dengan kisi-kisi soal yang diberikan setiap akhir siklus.
3. Catatan lapangan berupa lembar pengayaan yang dibuat oleh guru dengan
mengumpulkan seluruh data berdasarkan observasi dan tes untuk

33

mengetahui setiap tingkat keberhasilan siswa dalam pembelajaran

F. Teknik Analisa Data
Dalam penelitian ini akan dianalisis hasil akhir dengan menggunakan analisis
kualitatif dan kuantitatif.
1. Analisis kualitatif akan digunakan untuk menganalisis data yang terdiri
atas : data aktivitas siswa selama kegiatan pembelajaran dan pendapat
siswa mengenai penerapan model STAD dengan menggunakan lembar
observasi. Data tersebut diperoleh berdasarkan perilaku yang sesuai dan
relevan dengan kegiatan pembelajaran (Modifikasi dari Kunandar 2010 :
296).
Dengan rumus data kualitatif :
PA =

AS
x100%
N

Ket :
PA

: Persentase siswa yang aktif

∑AS

: Jumlah siswa yang aktif

N

: Banyaknya siswa yang hadir

2. Analisis untuk data kuantitatif akan digunakan untuk mendeskripsikan
berbagai dinamika kualitas hasil belajar. Penelit menjumlahkan nilai yang
diperoleh siswa, selanjutnya dib

Dokumen yang terkait

PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW PADA MATA PELAJARAN MATEMATIKA SISWA KELAS V SD NEGERI 8 METRO SELATAN TAHUN PELAJARAN 2011/2012

0 6 47

PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR GAYA MELALUI MODEL KOOPERATIF STUDENT TEAM ACHIEVEMENT DEVISION (STAD) PADA SISWA KELAS IV SD NEGERI 1 GUNUNG SULAH TAHUN PELAJARAN 2012/2013

0 9 49

PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA SISWA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW DI KELAS V B SDN 1 SURABAYA KECAMATAN KEDATON KOTA BANDAR LAMPUNG TAHUN PELAJARAN 2012/2013

0 11 54

PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MELALUI MODEL KOOPERATIF TIPE STAD SISWA KELAS V SD NEGERI 1 GUNUNG MAS TAHUN PELAJARAN 2012/2013

0 3 53

PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MELALUI MODEL KOOPERATIF TIPE TEAM ASSISTED INDIVIDUALIZATION SISWA KELAS V SDN 1 SUMBERAGUNG LAMPUNG TIMUR TAHUN PELAJARAN 2013/2014

0 9 58

MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE JIGSAW SISWA KELAS IV SD NEGERI 1 GUNUNG RAYA TAHUN PELAJARAN 2014/2015

0 5 76

MENINGKATKAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD DALAM PELAJARAN MATEMATIKA KELAS V SDN 1 PRINGSEWU UTARA TAHUN PELAJARAN 2013/2014

0 27 82

PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD PADA SISWA KELAS IV SD NEGERI 4 METRO UTARA TAHUN PELAJARAN 2014/2015

0 5 66

PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MELALUI MODEL KOOPERATIF TIPE STAD SISWA KELAS V SD NEGERI 1 GUNUNG MAS TAHUN PELAJARAN 2012/2013

0 11 51

PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN MELALUI MODEL PEMBELAJARAN KOOPERATIF TIPE STAD PADA SISWA KELAS IV SD NEGERI BATU BADAK TAHUN PELAJARAN 2013/2014

0 5 53

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

119 3984 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 1057 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 945 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

21 632 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

28 790 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

60 1348 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

66 1253 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

20 825 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

32 1111 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

41 1350 23