PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA DENGAN MODEL INKUIRI SISWA KELAS IV SD KRISTEN 1 METRO PUSAT TAHUN PELAJARAN 2012/2013

PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA
DENGAN MODEL INKUIRI SISWA KELAS IV SD KRISTEN 1
METRO PUSAT TAHUN PELAJARAN 2012/2013
Oleh
SRI WAHYUNI
Skripsi

Sebagai Salah Satu Syarat untuk Mencapai Gelar
SARJANA PENDIDIKAN
Pada
Jurusan Ilmu Pendidikan
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Lampung

FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
BANDAR LAMPUNG
2013

ABSTRAK

PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA
DENGAN MODEL INKUIRI SISWA KELAS IV SD KRISTEN 1
METRO PUSAT TAHUN PELAJARAN 2012/2013

Oleh
SRI WAHYUNI

Berdasarkan data observasi awal yang diperoleh di SD Kristen 1 Metro Pusat
yaitu aktivitas dan hasil belajar siswa masih rendah khususnya mata pelajaran
matematika, sebanyak 9 siswa atau 28,23% siswa tuntas dan 23 siswa atau
71,78% siswa belum tuntas dengan nilai dibawah KKM (60), maka diperlukan
upaya untuk meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa tersebut. Berdasarkan
kenyataan di atas peneliti menerapkan model inkuiri yang bertujuan untuk
meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa pada pembelajaran matematika.
Metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dengan menggunakan dua siklus.
Masing-masing siklus terdiri dari empat tahap yaitu perencanaan, pelaksanaan,
observasi dan refleksi. Pengumpulan data dilakukan dengan lembar observasi
siswa serta tes hasil belajar disetiap siklusnya. Selanjutnya data dianalisis dengan
cara analisis kualitatif dan analisis kuantitatif.
Hasil Penelitian dengan menggunakan model inkuiri dapat meningkatkan
aktivitas dan hasil belajar siswa. Hal ini dapat dilihat dari persentase rata-rata
aktivitas siswa pada siklus I adalah 59,0 dan mengalami peningkatan pada siklus
II menjadi 72,7. Sedangkan nilai rata-rata hasil belajar siswa pada siklus I adalah
60,63 dan mengalami peningkatan pada siklus II menjadi 72,5. Ketuntasan siswa
pada siklus I hanya mencapai 62,5% (20 siswa) dan meningkat pada siklus II
menjadi 100% (32 siswa). Berdasarkan hasil Penelitan Tindakan Kelas yang
dilaksanakan dari siklus I sampai siklus II dapat disimpulkan bahwa penggunaan
model inkuiri dapat meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas IV SD
Kristen 1 Metro Pusat.

Kata Kunci: Aktivitas dan Hasil Belajar, Model Inkuiri

DAFTAR ISI
Halaman
DAFTAR TABEL .........................................................................................
DAFTAR GAMBAR .....................................................................................
DAFTAR LAMPIRAN .................................................................................

ix
x
xii

BAB I PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang ...................................................................................
1.2. Identifikasi Masalah ..........................................................................
1.3. Rumusan Masalah .............................................................................
1.4. Tujuan penelitian ..............................................................................
1.5. Manfaat penelitian ............................................................................

1
3
3
4
4

BAB II TINJAUAN PUSTAKA
2.1. Model Inkuiri .....................................................................................
2.2. Pengertian Belajar ...............................................................................
2.3. Aktivitas Belajar .................................................................................
2.4. Hasil Belajar .......................................................................................
2.5. Pengertian Matematika .......................................................................
2.6. Hipotesis Tindakan .............................................................................

6
9
10
11
13
14

BAB III METODE PENELITIAN
3.1. Metode Penelitian................................................................................
3.2. Setting Penelitian ...............................................................................
3.3. Subjek Penelitian.................................................................................
3.4. Teknik Pengumpulan Data ..................................................................
3.5. Alat Pengumpul Data .........................................................................
3.6. Teknik Analisis Data ...........................................................................
3.7. Urutan Tindakan..................................................................................
3.8. Indikator Keberhasilan .......................................................................

15
16
17
17
19
19
24
28

BAB IV HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
4.1. Profil SD Kristen 1 Metro Pusat ........................................................
4.2. Diskripsi Per Siklus .............................................................................
4.2.1. Siklus I .......................................................................................
4.2.2. Siklus II ......................................................................................
4.3. Pembahasan ........................................................................................

29
30
30
38
42

BAB V KESIMPULAN DAN SARAN
5.1. Kesimpulan .........................................................................................
5.2. Saran ...................................................................................................

47
47

DAFTAR PUSTAKA ....................................................................................

49

LAMPIRAN

BAB I
PENDAHULUAN

1.1. Latar Belakang
Proses pembelajaran merupakan kegiatan yang wajib diselenggarakan
di sekolah. Proses pembelajaran yang efektif dapat terwujud apabila seorang
guru melakukan tugasnya dengan baik. Salah satu tugas guru yang baik
adalah dapat menentukan model dan media yang tepat dalam pembelajaran,
sehingga siswa dapat memahami materi yang dipelajari.
Dalam Undang-Undang RI No 20 Tahun 2003 tentang sistem
pendidikan: “Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk
mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta
didik secara spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian,
kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya,
masyarakat, bangsa dan negara”.
Belajar merupakan suatu proses yang memerlukan aktivitas siswa.
Artinya siswa yang belajar ikut berperan aktif dalam proses pembelajaran,
sehingga proses pembelajaran yang berlangsung adalah serangkaian
kegiatan antara guru dan siswa atas dasar hubungan timbal balik yang
berlangsung untuk mencapai tujuan pembelajaran. Tercapai tidaknya tujuan
pembelajaran yang diharapkan dapat diketahui dari hasil belajar yang
diperoleh siswa antara lain pelajaran matematika.
Matematika merupakan ilmu dengan objek abstrak dan dengan
pengembangan melalui penalaran deduktif telah mampu mengembangkan
model yang menerapkan contoh dari sistem itu sendiri yang pada akhirnya
telah digunakan untuk memecahkan persoalan dalam kehidupan sehari-hari.

2

Sebagaimana yang terjadi bahwa matematika dianggap pelajaran yang
paling sulit dan menakutkan bagi siswa diantara pelajaran-pelajaran yang
lain sehingga siswa tidak begitu berminat untuk belajar matematika, siswa
hanya mengikuti pembelajarannya saja tetapi

tidak menanamkan dan

mempelajarinya dengan sungguh-sungguh sehingga aktivitas siswa tidak
nampak dalam proses pembelajaran dan hasil belajarnya pun relatif rendah.
Berdasarkan hasil observasi dan dokumen tentang pembelajaran
Matematika di kelas IV SD Kristen 1 Metro Pusat tahun pelajaran
2012/2013, diperoleh data bahwa dalam pembelajaran Matematika masih
banyak hasil belajar siswa yang belum mencapai nilai Kriteria Ketuntasan
Minimal (KKM) yang telah ditetapkan yaitu 60, terbukti dari nilai rata-rata
kelas yang hanya mencapai 52. Sementara itu dilihat dari ketuntasan nilai
individu berdasarkan KKM, diperoleh hasil bahwa dari 32 siswa hanya 9
siswa (28,23%) yang telah mencapai KKM, sedangkan 23 siswa (71,87%)
belum tuntas atau belum mencapai KKM. Aktivitas belajar siswa juga masih
rendah terlihat dari siswa yang cenderung ribut, banyak mengobrol dan
tidak menyimak materi yang disampaikan oleh guru, serta proses timbal
balik antara guru dengan siswa kurang terlihat.
Kondisi pembelajaran di kelas selama pelajaran matematika siswa
kurang memperhatikan guru saat menjelaskan materi, bahkan ada siswa
yang melamun. Siswa yang duduk belakang lebih banyak mengobrol dan
bermain dengan teman sebangkunya, bahkan ada yang mengganggu teman
dengan mengambil alat tulis sehingga terjadi perkelahian. Apabila ditanya
ulang mengenai materi yang baru saja disampaikan sebagian besar siswa

3

hanya diam. Saat guru memberi kesempatan bertanya mengenai kesulitan
siswa tidak ada yang bertanya bahkan cenderung diam.
Berdasarkan uraian di atas, maka penulis melaksanakan penelitian
tindakan kelas dengan mengambil judul “Peningkatan Aktivitas dan Hasil
Belajar Matematika dengan Model Inkuiri Siswa Kelas IV SD Kristen 1
Metro Pusat Tahun Pelajaran 2012/2013”.

1.2. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas dapat diidentifikasi
masalah sebagai berikut:
1. Aktivitas belajar siswa pada pembelajaran Matematika di kelas IV SD
Kristen 1 Metro Pusat masih rendah.
2. Hasil belajar siswa pada pembelajaran Matematika di kelas IV SD
Kristen 1 Metro Pusat masih rendah, dari 32 siswa hanya terdapat 9 siswa
(28,23%) yang mencapai nilai KKM yaitu 60
3. Pembelajaran di kelas IV SD Kristen 1 Metro Pusat masih bersifat
teacher center (berpusat pada guru).
4. Penggunaan waktu penyajian materi Matematika yang kurang efisien.
5. Siswa cenderung ribut dan tidak memperhatikan penjelasan materi yang
disampaikan oleh guru.
6. Masih terdapat siswa yang mengobrol ketika pembelajaran berlangsung.

1.3. Rumusan Masalah
Berdasarkan identifikasi masalah di atas, dalam penelitian ini perlu
dirumuskan permasalahan yang akan diteliti antara lain sebagai berikut:

4

1. Bagaimanakah penggunaan model inkuiri pada pembelajaran Matematika
di kelas IV SD Kristen 1 Metro Pusat dapat meningkatkan aktivitas
belajar siswa Tahun Pelajaran 2012/2013?
2. Bagaimanakah penggunaan model inkuiri pada pembelajaran Matematika
di kelas IV SD Kristen 1 Metro Pusat dapat meningkatkan hasil belajar
siswa Tahun Pelajaran 2012/2013?

1.4. Tujuan Penelitian
Berdasarkan latar belakang dan rumusan masalah di atas maka tujuan
penelitian ini adalah untuk:
1. Meningkatkan aktivitas belajar siswa pada pembelajaran Matematika di
kelas IV SD Kristen 1 Metro Pusat dengan menggunakan model inkuiri
Tahun Pelajaran 2012/2013.
2. Meningkatkan hasil belajar siswa pada pembelajaran Matematika di kelas
IV SD Kristen 1 Metro Pusat dengan menggunakan model inkuiri Tahun
Pelajaran 2012/2013.

1.5. Manfaat Penelitian
Adapun hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi:
1.

Siswa
a. Dapat meningkatkan aktivitas belajar siswa di kelas IV SD Kristen 1
Metro Pusat.
b. Dapat meningkatkan hasil belajar siswa di kelas IV SD Kristen 1
Metro Pusat.

5

2. Guru
Dapat memperluas wawasan dan pengetahuan guru mengenai
penggunaan

model

inkuiri,

serta

mengembangkan

kemampuan

profesional guru dan bahan masukan dalam meningkatkan kualitas
pembelajaran Matematika di kelasnya.
3. Sekolah
Dapat memberikan kontribusi yang berguna untuk meningkatkan
kualitas pendidikan di SD Kristen 1 Metro Pusat, sehingga memiliki
output yang berkualitas dan kompetitif.
4. Peneliti
Menambah pengetahuan serta wawasan peneliti dalam menerapkan
model inkuiri pada pembelajaran Matematika, serta dapat memecahkan
permasalahan yang terdapat di SD.

6

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

2.1. Model Inkuiri
Inkuiri merupakan model pembelajaran yang membimbing siswa
untuk memperoleh dan mendapatkan informasi serta mencari jawaban atau
memecahkan masalah terhadap pertanyaan yang dirumuskan. Dalam model
pembelajaran inkuiri siswa terlibat secara mental dan fisik untuk
memecahkan suatu permasalahan yang diberikan guru.
Kardi (2003: 3) mendefinisikan inkuiri adalah model pembelajaran
yang dirancang untuk membimbing siswa bagaimana meneliti masalah dan
pertanyaan berdasarkan fakta. Model inkuiri menekankan pada proses
mencari dan menemukan, peran siswa dalam model ini adalah mencari dan
menemukan sendiri pemecahan masalah dalam suatu materi pelajaran
sedangkan guru sebagai fasilitator dan pembimbing siswa untuk belajar.
Secara umum inkuiri merupakan proses yang bervariasi dan meliputi
kegiatan-kegiatan mengobservasi, merumuskan pertanyaan yang
relevan, mengevaluasi buku dan sumber informasi lain secara kritis,
merencanakan penyelidikan atau investigasi, mereview apa yang telah
diketahui, melaksanakan percobaan atau eksperimen dengan
menggunakan alat untuk memperoleh data, menganalisis dan
menginterpretasi
data,
serta
membuat
prediksi
dan
mengkomunikasikan hasilnya, Ibrahim (2007: 2).
Cleaf dalam Putrayasa (2009: 2) menyatakan bahwa inkuiri adalah
salah satu strategi yang digunakan dalam kelas yang berorientasi proses,
inkuiri merupakan sebuah strategi pengajaran yang berpusat pada siswa,

7

yang mendorong siswa untuk menyelidiki masalah dan menemukan
informasi.
Lebih lanjut Sagala (2006: 197) menyatakan ada lima tahapan yang
ditempuh dalam melaksanakan model inkuiri yaitu: (1) perumusan
masalah yang dipecahkan siswa, (2) menetapkan jawaban sementara
(hipotesis), (3) siswa mencari informasi, data fakta yang diperlukan
untuk menjawab permasalahan, (4) menarik kesimpulan jawaban atau
generalisasi, dan (5) mengaplikasikan kesimpulan atau generalisasi
dalam situasi baru.
Dari beberapa pendapat di atas penulis menyimpulkan bahwa model
inkuiri adalah model pembelajaran yang menekankan kepada siswa untuk
lebih aktif dalam pembelajaran, dimana siswa dapat menemukan atau
meneliti masalah berdasarkan fakta untuk memperoleh data, sedangkan guru
hanya sebagai fasilitator dan pembimbing siswa dalam belajar.

Langkah-Langkah Model Inkuiri
Sebelum melaksanakan kegiatan pembelajaran menggunakan model
pembelajaran inkuiri, siswa hendaknya memperhatikan langkah-langkah
kegiatan

pembelajaran

dengan

menggunakan

model

inkuiri

agar

pembelajaran dapat berjalan dengan maksimal dan sesuai dengan apa yang
diharapkan.
Menurut Sanjaya (2006 : 201) mengemukakan secara umum bahwa
proses pembelajaran yang menggunakan model inkuiri dapat
mengikuti langkah-langkah sebagai berikut :
1. Orientasi
Langkah orientasi adalah langkah untuk membina suasana atau
iklim pembelajaran yang responsif sehingga dapat merangsang dan
mengajak untuk berpikir memecahkan masalah.
2. Merumuskan masalah
Merumuskan masalah merupakan langkah membawa siswa pada
suatu persoalan yang mengandung teka teki.
3. Mengajukan hipotesis

8

Hipotesis adalah jawaban sementara dari suatu permasalahan yang
sedang di kaji. Sebagai jawaban sementara, hipotesis perlu di uji
kebenarannya.
4. Mengumpulkan data
Mengumpulkan data adalah aktifitas menjaring informasi yang
dibutuhkan untuk menguji hipotesis yang diajukan. Kegiatan
mengumpulkan data meliputi percodaan atau eksperimen.
1. Menguji hipotesis
Menguji hipotesis adalah proses menentukan jawaban yang
dianggap diterima sesuai dengan data atau informasi yang
diperoleh berdasarkan pengumpulan data.
6. Merumuskan kesimpulan
Merumuskan kesimpulan adalah proses mendeskripsikan temuan
yang diperoleh berdasarkan hasil pengujian hipotesis.

Kelebihan dan Kekurangan Model Inkuiri
Setiap

model

pembelajaran

mempunyai

kelebihan

dan

kekurangnnya masing-masing. Dengan adanya kelebihan dan kekurangan
tersebut dapat menjadi acuan guru untuk menyampaikan materi
pembelajaran. Adapun kelebihan dan kelemahan model pembelajaran
inkuiri adalah sebagai berikut:
Menurut Sanjaya (2006: 208) bahwa model inkuiri memiliki beberapa
kelebihan dan kekurangan, diantaranya :
Kelebihan
1. Model inkuiri merupakan model pembelajaran yang menekankan
kepada pengembangan aspek kognitif, afektif, dan psikomotor,
secara seimbang sehingga pembelajaran akan lebih bermakna.
2. Model inkuiri memberikan ruang kepada siswa untuk belajar sesuai
dengan gaya belajar meraka.
3. Model inkuiri merupakan model yang dianggap sesuai dengan
perkembangan psikologi belajar modern yang menganggap belajar
adalah proses perubahan tingkah laku.
4. Keuntungan lain adalah model pembelajaran ini dapat melayani
kebutuhan siswa yang memiliki kemampuan di atas rata-rata.
Artinya, siswa yang memiliki kemampuan belajar yang bagus tidak
akan terlambat oleh siswa yang lemah dalam belajar.
Kekurangan
1. Jika model inkuiri digunakan sebagai model pembelajaran, maka
akan sulit mengontrol kegiatan dan keberhasilan siswa.

9

2. Model ini sulit dalam merencanakan pembelajaran oleh karena
terbentur dengan kebiasaan siswa dalam belajar.
3. Dalam mengimplementasikannya, memerlukan waktu yang
panjang sehingga sering guru sulit menyesuaikannya dengan waktu
yang telah ditentukan.
4. Semua kriteria keberhasilan ditentukan oleh kemampuan siswa
menguasai materi pelajaran, maka model inkuiri akan sulit
diimplemintasikan oleh setiap guru.

2.2. Pengertian Belajar
Belajar

merupakan

suatu

proses

yang

berkelanjutan

untuk

mengembangkan potensi diri seseorang. Proses belajar diperlukan untuk
mengembangkan kemampuan seseorang secara optimal.
Menurut Rusffendi dalam Heruman (2007: 5) membagi belajar
menjadi dua macam yaitu belajar menghafal dan belajar bermakna.
Pada belajar menghafal, siswa dapat belajar dengan menghafalkan
apa yang sudah diperolehnya, sedangkan belajar bermakna adalah
belajar memahami apa yang sudah diperolehnya, dan dikaitkan
dengan dengan keadaan lain sehingga apa yang dipelajari akan lebih
dimengerti.
Sejalan dengan pendapat di atas, Skinner (dalam Dimyati dan
Mudjiono 2002: 9) berpendapat bahwa belajar adalah suatu perilaku, pada
saat belajar maka responnya menjadi baik, sebaiknya bila tidak belajar
responnya akan menurun.
Teori yang dikemukakan Gagne (dalam Dimyati dan Mudjiono
2002: 10) menyatakan bahwa belajar merupakan kegiatan yang kompleks,
setelah belajar orang memiliki keterampilan, pengetahuan, sikap dan nilai.
Dari beberapa pendapat para ahli di atas maka penulis simpulkan
bahwa belajar adalah suatu proses perubahan yang kompleks dari diri
seseorang dan berlangsung seumur hidup. Salah satu pertanda seseorang
telah belajar adalah adanya perubahan tingkah laku dalam dirinya.

10

2.3. Aktivitas Belajar
Aktivitas belajar yang dimaksud adalah seluruh aktivitas siswa
dalam proses belajar, mulai dari kegiatan fisik sampai kegiatan psikis.
Aktivitas belajar dapat dikatakan sebagai kegiatan yang dilakukan seseorang
untuk mencapai tujuan pembelajaran yang diinginkan. Karena tanpa adanya
aktivitas, belajar itu tidak akan berjalan dengan baik.
Anak yang belajar selalu melakukan aktivitas. Aktivitas siswa
selama proses pembelajaran merupakan salah satu indikator adanya
keinginan siswa untuk belajar. Reber (Syah, 2003: 109) mengemukakan
bahwa aktivitas adalah proses yang berarti cara-cara atau langkah-langkah
khusus yang dengan beberapa perubahan ditimbulkan hingga tercapainya
hasil-hasil tertentu.
Menurut Kunandar (2010: 277), aktivitas belajar adalah keterlibatan
siswa dalam bentuk sikap, pikiran, perhatian, dan aktivitas dalam kegiatan
pembelajaran guna menunjang keberhasilan proses belajar mengajar dan
memperoleh manfaat dari kegiatan tersebut. Selanjutnya Sardiman (2010:
100) menyatakan: “aktivitas belajar adalah aktivitas yang bersifat fisik
maupun mental. Dalam kegiatan belajar kedua aktivitas itu harus selalu
berkait”.
Keaktifan siswa dalam kegiatan pembelajaran akan berdampak baik
pada hasil belajarnya. Seperti yang dikemukakan oleh Djamarah (2000: 67):
“Belajar sambil melakukan aktivitas lebih banyak mendatangkan hasil bagi
anak didik, sebab kesan yang didapatkan oleh anak didik lebih tahan lama
tersimpan di dalam benak anak didik”.

11

Jenis-jenis aktivitas belajar menurut Paul D. Dierich dalam Hamalik
(2008: 173) membagi kegiatan belajar dalam 8 kelompok sebagai
berikut:
1. Visual Activities (kegiatan visual), misalnya membaca,
memperhatikan gambar demonstrasi, percobaan, pekerjaaan orang
lain.
2. Oral Activities (kegiatan lisan), misalnya menyatakan,
merumuskan, bertanya, member saran, mengeluarkan pendapat,
mengadakan wawancara, diskusi.
3. Listening Activities (kegiatan mendengarkan), misalnya
mendengarkan uraian, percakapan, diskusi, music dan pidato.
4. Writing Activities (kegiatan menulis), misalnya menulis cerita,
karangan, laporan, angket, menyalin.
5. Drawing Activities (kegiatan menggambar), yaitu menggambar,
membuat grafik, peta dan diagram.
6. Motor Activities (kegiatan metrik), misalnya melakukan kegiatan,
membuat konsturksi, model, mereparasi, bermain, berkebun,
berernak.
7. Mental Activities (kegiatan mental), missal menanggapi,
mengingat, memecahkan soal, menganalisis, melihat hubungan,
mengambil keputusan.
8. Emotional Activities, misalnya menaruh minat, merasa bosan,
gembira, bersemangat, bergairah, berani, tenang dan gugup.
Dari uraian-uraian tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa aktivitas
merupakan hal yang sangat penting dalam peningkatan hasil belajar siswa,
karena didalam kegiatan pembelajaran tanpa adanya suatu keaktifan siswa,
maka belajar tidak akan mencapai hasil yang maksimal. Siswa yang aktif
dalam belajar akan mendapatkan prestasi yang baik dibandingkan dengan
siswa yang kurang aktif dalam belajar.

2.4

Hasil Belajar
Belajar merupakan proses mengadakan perubahan, salah satunya
perubahan pengetahuan. Ada tidaknya pengetahuan dalam diri siswa dapat
dilihat dari hasil belajar siswa. Melalui hasil belajar juga dapat diketahui
tingkat keberhasilan pembelajaran berdasarkan Taksonomi Bloom (dalam
Sudjana, 2010: 22) secara garis besar membagi hasil belajar menjadi tiga

12

ranah, yakni ranah kognitif, ranah afektif, dan ranah psikomotoris. Ranah
kognitif berkenaan dengan hasil belajar intelektual, ranah afektif berkenaan
dengan sikap, dan ranah psikomotoris berkenaan dengan hasil belajar
keterampilan dan kemapuan bertindak. Hasil belajar dipengaruhi oleh
adanya kesempatan yang diberikan kepada anak. Ini berarti bahwa guru
perlu

menyusun

rancangan

dan

pengelolaan

pembelajaran

yang

memungkinkan anak bebas untuk melakkukan eksplorasi terhadap
lingkungannya.
Soedijarto (Nashar, 2004: 79) mengemukakan bahwa hasil belajar
adalah tingkat penguasaan yang dicapai oleh siswa dalam mengikuti
program belajar dan mengajar sesuai yang ditetapkan. Hasil belajar ialah
suatu akibat dari proses belajar (Sudjana dalam Kunandar, 2010: 276).
Sedangkan Dimyati & Mudjiono (2006: 3) mengemukakan bahwa hasil
belajar merupakan hasil dari suatu interaksi tindak belajar dan tindak
mengajar.
Larasati (2005 : 11) mengemukakan bahwa prestasi belajar merupakan
hasil yang dicapai seseorang setelah melakukan suatu proses belajar. Hasil
belajar merupakan perubahan tingkah laku kognitif, tingkah laku afektif dan
tingkah laku psikomotorik. Dengan sumber yang sama prestasi belajar
merupakan suatu hal yang penting dalam kehidupan manusia. Manusia
selalu berusaha mengejar prestasi menurut bidang dan kemampuan masingmasing. Suatu prestasi belajar tidak hanya sebagai indikator, keberhasilan
dalam bidang studi tertentu, tetapi juga sebagai indikator kualitas institusi
pendidikan.

13

Berdasarkan beberapa pendapat di atas, penulis menyimpulkan bahwa
hasil belajar yaitu perubahan dalam diri siswa setelah memperoleh
pengalaman belajar terutama dalam aspek pengetahuan, sikap serta
keterampilan yang dimilikinya, dan hasil belajar tersebut didapat dari soal
tes yang diberikan oleh guru kepada siswa.

2.5

Pengertian Matematika
Istilah Matematika berasal dari bahasa Yunani “Mathematike” yang
berarti mempelajari, atau “Mathesis” yang berarti “relating to learning”
(pengetahuan atau ilmu). Perkataan Mathematike berhubungan erat dengan
sebuah kata lainnya yang serupa, yaitu “mathaein’ yang mengandung arti
ajaran atau belajar (berpikir) Ensiklopedia Indonesia dalam Tim MKPBM
UPI (2001: 17), jadi berdasarkan asal katanya, maka Matematika berarti
ilmu pengetahuan yang didapat dengan berpikir atau nalar (Erna, Tiurlina,
2006: 3). Matematika juga diartikan sebagai pengetahuan abstrak dan
deduktif, dimana kesimpulan tidak ditarik berdasarkan pengalaman
keindraan, tetapi atas kesimpulan yang ditarik dari kaidah–kaidah tertentu
melalui deduksi.
James dan James (1976) dalam kamus Matematika mengatakan bahwa
matematika adalah ilmu tentang logika, bentuk, susunan, besaran, dan
konsep-konsep yang berhubungan satu dengan yang lainnya dengan jumlah
yang banyak yang terbagi ke dalam tiga bidang yaitu, aljabar, analisis, dan
geometri (Tim MKPBM UPI, 2001: 17).
Russefendi dalam Erna, Tiurlina (2006: 4), menyatakan bahwa
Matematika terorganisasikan dari unsur-unsur yang tidak didefinisikan.

14

Definisi-definisi, aksioma-aksioma, dan dalil-dalil di mana dalil-dalil
setelah dibuktikan kebenarannya berlaku secara umum, karena itulah
Matematika sering disebut ilmu deduktif.
Berdasarkan dari beberapa pendapat diatas maka dapat disimpulkan
matematika adalah ilmu pengetahuan yang didapat dengan berfikir
(bernalar), yang berfungsi mengembangkan kemampuan menghitung,
mengukur, menurunkan dan menggunakan rumus matematika sederhana
yang berguna untuk membantu manusia dalam memahami dan menguasai
permasalahan sosial dan ekonomi.

2.6

Hipotesis
Berdasarkan tinjauan pustaka di atas dirumuskan hipotesis penelitian
tindakan kelas sebagai berikut: “Apabila dalam pembelajaran Matematika
menggunakan model pembelajaran inkuiri secara tepat, maka akan dapat
meningkatkan aktivitas dan hasil belajar siswa kelas IV SD Kristen 1 Metro
Pusat Tahun Pelajaran 2012/2013”.

15

BAB III
METODE PENELITIAN

3.1.

Model Penelitian
Penelitian ini menggunakan model Penelitian Tindakan Kelas (PTK)
yang difokuskan pada situasi kelas yang lazim dikenal dengan Classroom
Action research, Wardhani, dkk. (2007: 1.3) mengungkapkan penelitian
tindakan kelas adalah penelitian yang dilakukan oleh guru di dalam
kelasnya sendiri melalui refleksi diri dengan tujuan untuk memperbaiki
kinerjanya sebagai guru, sehingga hasil belajar siswa menjadi meningkat.
Secara garis besar, terdapat empat tahapan yang lazim dilalui, yaitu (1)
perencanaan, (2) pelaksanaan, (3) pengamatan, dan (4) refleksi (Arikunto,
dkk., 2006: 16).
Pendapat yang tidak jauh berbeda juga diungkapkan oleh Kusumah,
dkk. (2009: 26) bahwa ada empat langkah utama dalam PTK yaitu,
perencanaan, pelaksanaan, observasi, dan refleksi. Dalam PTK siklus selalu
berulang. Setelah satu siklus selessai, mungkin guru akan menemukan
masalah baru atau masalah lama yang belum tuntas dipecahkan, maka
dilanjutkan ke siklus kedua dengan langkah yang sama seperti pada siklus
pertama.

16

Pelaksanaan

Perencanaan

SIKLUS I

Observasi

Refleksi

Pelaksanaan

SIKLUS II

Observasi

Perencanaan

Refleksi

Dst

Gambar 1. Alur Siklus Penelitian Tindakan Kelas
Sumber: Modifikasi dari Arikunto (2006: 16)

3.2. Setting Penelitian
1. Tempat Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan

di SD Kristen 1 Metro Pusat, yang

terletak di jalan Wijaya Kusuma Kota Metro Tahun Pelajaran 2012/2013.

2. Waktu Penelitian
Penelitian ini dilaksanakan pada semester genap tahun pelajaran
2012/2013, serta akan dilaksanakan dalam jangka waktu 5 bulan dimulai
dari bulan November 2012 sampai dengan bulan Maret 2013.

17

3.3. Subjek Penelitian
Penelitian tindakan kelas ini subjek penelitian adalah guru dan siswa
kelas IV SD Kristen 1 Metro Pusat, yang terdiri dari 32 siswa dengan
komposisi 17 siswa laki-laki dan 15 siswa perempuan. Peneliti sebagai guru
dan dibantu oleh kolaborator yang akan mengamati proses pembelajaran.

3.4. Teknik Pengumpulan Data
1. Teknik Tes
Teknik ini dilakukan untuk mengetahui tingkat ketercapaian hasil
belajar siswa terhadap materi yang telah diberikan oleh guru dengan
memberikan soal tes.

Tabel 3.1 Contoh Lembar Hasil Belajar Siswa Tiap Siklus
No

Nama Siswa

Nilai

Keterangan

1
2
3
4
...
Jumlah
Modus
Nilai Terendah
Nilai Tertinggi
Rata-rata

2. Teknik Non Tes
Teknik ini dilakukan untuk mengamati aktivitas belajar siswa saat
mengikuti pembelajaran dan saat mengikuti diskusi serta mengamati
kinerja

guru

selama

proses

menggunakan lembar observasi.

pembelajaran

berlangsung,

dengan

18

a. Data Aktivitas Siswa
Data aktivitas siswa diperoleh dari observasi selama pembelajaran
berlangsung. Pengamatan dilakukan dengan cara mengamati aktivitas
yang dilakukan siswa sesuai dengan deskriptor yang terdapat dalam
lembar observasi.
Tabel 3.2 Lembar Observasi Aktivitas Siswa
Aspek yang Diamati

No

Nama
Siswa

Aktivitas
siswa
dalam
kelompok

Partisip

Motivasi

asi

dan

siswa

semangat

Interaksi

Interaksi

antar

siswa

sesama

dengan

siswa

guru

Total
Skor

1
2
3
4
...

Sumber: dimodifikasi dari Poerwanto (2008:5.27)

b. Data Kinerja Guru dalam Pengelolaan Pembelajaran di Kelas
Data kinerja guru dilakukan selama pembelajaran berlangsung,
diadakan observasi untuk mengamati pengelolaan pembelajaran melalui
lembar observasi yeng disesuaikan dengan tahap-tahap pembelajaran
menggunakan model inkuiri. Data kinerja guru diperoleh dari
pengamatan langsung kinerja guru ketika melaksanakan pembelajaran
di kelas, dengan menggunakan lembar Instrumen Penelitian Kinerja
Guru 2 (IPKG 2). dianalisis dengan menggunakan persentase sebagai
berikut:

19

NP =

JS
MS

x 100 %

Keterangan:
NP

= Nilai persen yang dicari atau diharapkan

JS

= Jumlah skor yang diperoleh

SM

= Skor maksimum ideal dari aspek yang diamati

100

= Bilangan tetap
Diadopsi dari Aqib dkk. (2009: 41).

3.5 Alat Pengumpulan Data
1. Tes hasil belajar
Instrumen

ini

digunakan

untuk

menjaring

data

mengenai

peningkatan hasil belajar atau prestasi belajar siswa khususnya mengenai
penguasaan terhadap materi yang dibelajarkan dengan menggunakan
model inkuiri.
2. Lembar panduan observasi
Instrumen ini dirancang peneliti berkolaborasi dengan guru kelas
lain. Lembar observasi ini digunakan untuk mengumpulkan data mengenai
kinerja guru dan aktivitas belajar siswa selama penelitian tindakan kelas
dalam pembelajaran Matematika dengan menggunakan model inkuiri.

3.6. Teknik Analisis Data
1. Analisis Kualitatif
Analisis Kualitatif akan digunakan untuk menganalisis data yang
terdiri data aktivitas siswa dan kinerja guru selama pembelajaran
berlangsung. Data diperoleh dengan mengadakan pengamatan secara

20

langsung terhadap aktivitas siswa selama pembelajaran dilakukan
dengan menggunakan lembar observasi aktivitas siswa. Data aktivitas
diperoleh berdasarkan perilaku yang sesuai dan relevan dengan kegiatan
pembelajaran. Data nilai aktivitas siswa dari setiap siklus akan
dianalisis menggunakan rumus:

NP =

JS
X 100%
MS

Keterangan:
NP

= Nilai persen yang dicari atau diharapkan

JS

= Jumlah skor yang diperoleh

SM

= Skor maksimum ideal dari aspek yang diamati

100

= Bilangan tetap
Diadopsi dari Aqib dkk. (2009: 41).

Tabel 3.3 Penilaian Aktivitas Belajar Siswa
No
1
2
3
4
5

Skala
< 20
20 – 39
40 – 59
60 – 79
> 80

Kategori
Sangat Tidak Aktif
Kurang Aktif
Cukup Aktif
Aktif
Sangat Aktif

Tabel 3.4 Lembar observasi kinerja guru
No.

Aspek yang diamati

I

Pra pembelajaran
1. Kesiapan ruang, alat, dan media
pembelajaran
2. Memeriksa kesiapan siswa
Membuka pelajaran
1. Melakukan apersepsi
2. Menyampaikan kompetensi (tujuan) yang
akan dicapai dan rencana kegiatan

II

III

Kegiatan Inti Pembelajaran
A. Penugasan materi pembelajaran
1. Menunjukkan penguasaan materi

1

Skor Pengamatan
2
3
4

5

21

pembelajaran
2. Mengaitkan materi dengan
pengetahuan lain yang relevan
3. Menyampaikan materi sesuai dengan
hirarki belajar
4. Mengaitkan materi dengan realitas
kehidupan
B. Pendekatan / Strategi pembelajaran
1. Melaksanakan pembelajaran sesuai
dengan kompetensi (tujuan) yang akan
dicapai
2. Melaksanakan pembelajaran sesuai
dengan tingkat perkembangan dan
kebutuhan siswa
3. Melaksanakan pembelajaran secar
runtut
4.Menguasai kelas
5. Melaksanakan pembelajaran yang
bersifat kontekstual
6. Melaksanakan pembelajaran yang
memungkinkan tumbuhnya kebiasaan
positif
7. Melaksanakan pembelajaran sesuai
dengan waktu yang telah dialokasikan
C. Pemanfaatan media pembelajaran/sumber
belajar
1. Menunjukkan keterampilan dalam
penggunaan media
2. Menghasilkan pesan yang menarik
3. Menggunakan media gambar secara
efektif dan efisien
4. Melibatkan siswa dalam pemanfaatan
media
D.
D. Pembelajaran yang memicu dan
memelihara keterlibatan siswa
1. Menumbuhkan partisipasi aktif siswa
dalam pembelajaran
2. Merespon positif partisipasi siswa
3. Memfasilitasi terjadinya interaksi guru,
siswa, dan sumber belajar
4. Menunjukkan sikap terbuka terhadap
respon siswa
5. Menunjukkan hubungan antar pribadi
yang kondusif
6. Menumbuhkan keceriaan dan
antusiasme dalam belajar
E. Kemampuan khusus pembelajaran di SD
Matematika
1. Mengembangkan keterampilan dalam
penggunaan medi pada pembelajaran
matematika
2. Mengembangkan kemampuan
berkomunikasi atau menyampaikan
informasi (lisan, atau tertulis)
F. Penilaian proses dan hasil belajar
1. Memantau kemajuan belajar

22

IV

2. Melakukan penilaian akhir sesuai
dengan kompetensi (tujuan)
G. Penggunaan bahasa
1. Menggunakan bahasa lisan secara jelas
dan lancar
2. Menggunakan bahasa tulis yang baik
dan benar
3. Menyampaikan pesan dengan gaya
yang sesuai
Penutup
1. Melakukan refleksi pembelajaran dengan
melibatkan siswa
2. Menyusun rangkuman dengan melibatkan
siswa
3. Melaksanakan tindak lanjut
Jumlah Skor IPKG
Persentase

Keterangan :
1.Sangat Kurang 2. Kurang

3. Cukup

4. Baik

5. Sangat Baik

Analisis kualitatif pada lembar observasi kinerja guru di atas,
menggunakan teknik presentase:

%

NK=
Keterangan:
NK

= Nilai kinerja yang dicari atau diharapkan

JS

= Jumlah skor yang diperoleh

SM

= Skor maksimum ideal dari aspek yang diamati

100 = Bilangan tetap
Diadopsi dari Aqib dkk. (2009: 41).

Setelah diperoleh presentase mengenai kinerja guru dalam
melaksanakan pembelajaran, kemusian dikategorikan sesuai dengan
kualifikasi hasil observasi pada tabel berikut:

23

Tabel 3.5. Kriteria hasil observasi kinerja guru
Tingkat Keberhasilan (%)
> 80%

Arti
Sangat Baik

60-79%

Baik

40-59%

Cukup

20-39%

Kurang

60)
Ketuntasan klasikal: jika > 75% dari 32 siswa mencapai KKM (60)
(Sumber: Adaptasi Purwanto 2008:12)

24

3.7. Urutan Tindakan
Penelitian tindakan kelas ini terdiri atas dua siklus masing-masing
siklus melalui empat tahapan kegiatan, yaitu :
a. Perencanaan (plan)
b. Tindakan (act)
c. Pengamatan (observe)
d. Refleksi (reflect)
Siklus I
1. Tahap Perencanaan (Plan)
a. Menyiapkan perangkat pembelajaran seperti pemetaan, silabus, RPP,
lembar evaluasi yany terdiri dari soal dan kunci jawaban, sumber
belajar (buku paket), dan media pembelajaran yang akan digunakan
selama proses pembelajaran di kelas.
b. Menyusun

skenario

pembelajaran

yaitu

menyusun

Rencana

Pelaksanaan Pembelajaran (RPP) dengan materi pembelajarannya
adalah memahami sifat-sifat bangun datar.
c. Menyiapkan media yang akan digunakan.
d. Menyiapkan lembar observasi untuk mengamati kegiatan guru dan
aktivitas siswa selama pembelajaran berlangsung.

2. Tahap Pelaksanaan (Act)
a. Pendahuluan
Guru

melakukan

apersepsi

guna

membangkitkan

motivasi

dan

memfokuskan perhatian peserta didik untuk berpartisipasi aktif dalam

25

proses pembelajaran, mengadakan post test dan menyampaikan tujuan
pembelajaran
b. Pelaksanaan
Melaksanakan pembelajaran menggunakan media gambar yang sesuai
secara interakrtif, inspiratif, menyenangkan, sehingga memotivasi peserta
didik untuk berpartisipasi aktif dalam menggunakan media yang telah
tersedia. Dalam kegiatan ini siswa melakukan pengamatan agar mereka
nantinya dapat menarik kesimpulan atas percobaan yang telah mereka
lakukan.
c. Penutup
Merupakan kegiatan yang dilakukan untuk mengakhiri aktivitas
pembelajaran dengan membuat rangkuman atau kesimpulan dari materi
pembelajaran yang telah dilakukan secara bersama-sama antara siswa
dan guru, kemudian malakukan tes formatif guna mendapatkan nilai dan
refleksi, umpan balik dan tindak lanjut.
3.

Tahap Observasi
Dalam kegiatan observasi kegiatan yang dilakukan antara lain:
a) Mengamati keadaan siswa untuk mempertimbangkan kesulitankesulitan yang dihadapi dalam proses pembelajaran.
b) Melakukan pengamatan terhadap penggunaan model inkuiri dalam
pembelajaran Matematika.
c) Mencatat pada lembar observasi setiap kegiatan dan perubahan yang
terjadi selama proses pembelajaran

26

4.

Tahap Analisis dan Refleksi
Peneliti menganalisis hasil pengamatan terhadap aktivitas siswa
dan hasil belajar siswa. Analisis yang dilakukan pada siklus I adalah
untuk mengetahui sejauh mana proses pembelajaran berlangsung. Bila
terdapat kekurangan pada siklus I tentunya akan dilakukan tindakan pada
siklus II, sehingga kekurangan dalam siklus I bisa terselessaikan, begitu
pula dengan kelebihannya harus dipertahankan dan dikembangkan agar
dapat berjalan terus-menerus pada siklus-siklus selanjutnya.

Siklus II
1. Perencanaan
a. Mendata masalah dan kendala yang dihadapi dalam proses pembelajaran
yang telah dilaksanakan pada siklus I
b. Merencanakan perbaikan untuk pembelajaran pada siklus II berdasarkan
refleksi dari siklus I.
c Menyiapkan perangkat pembelajaran seperti silabus, RPP, lembar evaluasi
yany terdiri dari soal dan kunci jawaban, sumber belajar (buku paket), dan
media pembelajaran yang akan digunakan selama proses pembelajaran di
kelas.
d. Menyusun skenario pembelajaran yaitu menyusun Rencana Pelaksanaan
Pembelajaran (RPP) dengan materi pembelajarannya adalah memahami
sifat-sifat bangun datar.
e. Menyiapkan media yang akan digunakan.
f. Menyiapkan lembar observasi untuk mengamati kegiatan guru dan
aktivitas siswa selama pembelajaran berlangsung.

27

1. Tahap Pelaksanaan
Pada tahap pelaksanaan pada siklus II masih sama dengan tahap
pelaksanaan siklus I. Tahap ini merupakan pelaksanaan dari skenario
pembelajaran dengan menggunakan media gambar yang telah dibuat pada
tahap perencanaan sesuai dengan hasil refleksi padan siklus I.
2. Observasi
Observasi dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan tindakan dengan
menggunakan lembar observasi. Data yang didapat akan diolah, agar diperoleh
kesimpulan yang akurat dari semua kekurangan dan kelebihan siklus yang telah
dilaksanakan, sehingga dapat direfleksikan perbaikan baik teknik, cara
penyampaian, atau hal apa pun yang mempengaruhi jalannya proses
pembelajaran dalam pelaksanaan siklus yang telah direncanakan dan
dilaksanakan.

3. Analisis dan Refleksi
Pada akhir siklus, dilakukan refleksi agar pada pelaksanaan siklus yang
baru, perencanaan yang matang pun dapat dilaksanakan dengan maksimal
melalui observasi dan analisis oleh peneliti dan guru guna mendapatkan hasil
dan tujuan yang ingin dicapai serta harapan dari penelitian ini. Hasil analisis
data yang dilaksanakan dalam tahap ini akan digunakan sebagai acuan untuk
merencanakan siklus berikutnya.

3.8. Indikator Keberhasilan
Pembelajaran dengan menerapkan model inkuiri dikatakan berhasil
apabila:

28

a. Adanya peningkatan aktivitas dan hasil belajar siswa pada setiap
siklusnya.
b. Pada akhir penelitian adanya peningkatakan hasil belajar siswa secara
klasikal mencapai ≥ 75% dari seluruh siswa mencapai KKM (60)

49

BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan
Kesimpulan yang diperoleh dari kegiatan perbaikan pembelajaran ini
adalah:
1.

Penggunaan model inkuiri pada pembelajaran matematika dapat
meningkatkan aktivitas belajar siswa yang ditunjukkan dari peningkatan
nilai rata-rata serta aktivitas siswa dalam mengikuti pelajaran. Pada
siklus I rata-rata aktivitas siswa adalah 59,0%

dan pada siklus II

aktivitas siswa meningkat menjadi 72,7%.
2.

Penggunaan model inkuiri pada pembelajaran matematika dapat
meningkatkan hasil belajar siswa yang ditunjukkan dari peningkatan
nilai rata-rata serta aktivitas siswa dalam mengikuti pelajaran. Pada
siklus I ketuntasan belajar siswa hanya mencapai 62,5% dan pada
siklus II ketuntasan belajar siswa meningkat menjadi 100%

5.2. Saran
1. Bagi peserta didik, agar senantiasa membiasakan untuk belajar dan bekerja
sama dengan peserta didik lain, guna memperkaya ilmu pengetahuan dan
informasi yang maksimal agar memperoleh hasil belajar yang lebih baik.
2. Bagi guru, upayakan untuk menggunakan variasi dalam pembelajaran
untuk mencegah kejenuhan peserta didik dalam menerima ilmu, karena
dengan adanya variasi atau hal baru yang tepat maka peserta didik akan

50

lebih antusias dan terpancing untuk aktif dalam mengikuti pembelajaran.
Selain itu, variasi dalam pembelajaran membuat kita lebih kreatif dan
berpikiran luas.
3. Bagi Sekolah, agar dapat melengkapi sarana dan prasarana yang dapat
mendukung pembelajaran guna peningkatan prestasi peserta didik dan
sekolah.
4. Bagi peneliti, model pembelajaran inkuiri dapat diterapkan dalam mata
pelajaran dan kelas lain agar prestasi belajar siswa lebih meningkat.

1

DAFTAR PUSTAKA

Aqib, Zainal, dkk. 2009. Penelitian Tindakan Kelas untuk Guru SD, SLB & TK.
Yrama Widya. Bandung.
Arikunto, Suharsimi dkk. 2006. Penelitian Tindakan Kelas. Bumi Aksara.
Jakarta.
Dimyati & Mudjiono. 2002. Belajar dan Pembelajaran. Rineka Cipta. Jakarta.
---------. 2006. Belajar dan Pembelajaran. Rineka Cipta. Jakarta.
Djamarah, Saiful, Bahri dan Zain. 2000. Strategi Belajar Mengajar. Rieneka
Cipta. Jakarta.
Erna,

Tiurlina
2006.
Mengajar
dan
Menyayangi
Matematika.
http://www.pikiran_rakyat.com/ diakses pada 18 Desember pukul 11.45
WIB.

Hamalik, Oemar. 2004. Belajar dan Pembelajaran. Jakarta: Rineka Cipta.
Heruman. 2007. Model Pembelajaran Matematika Sekolah Dasar. PT. Remaja
Rosdakarya. Bandung.
. 2008. Proses Belajar Mengajar. Jakarta: Bumi Aksara.
Ibrahim. 2007. Model Pembelajaran Inkuiri. http://azisgr.blogspot.com. Diakses
22 Mei 2012. Pukul 20.00 WIB).
Kardi, Soeparman. 2003. Merancang Pembelajaran Menggunakan Model Inkuiri.
UNS. Surabaya.
Kunandar. 2010. Langkah Mudah Penelitian Tindakan Kelas
Pengembangan Profesi Guru. Rajawali Pers. Jakarta.

sebagai

Kusumah, Wijaya dkk. 2009. Mengenal Penelitian Tindakan Kelas. Malta
Printindo. Jakarta.
Larasati, Riska. 2005. Analisis model pembelajaran Kooperatif tipe STAD dan
pengaruhnya terhadap upaya peningkatan hasil belajar Akutansi pada
pokok bahasan pencatatan transaksi perusahaan dagang mata pelajaran

2

Akutansi pada siswa kelas II semester I SMU Negeri 7 Purworejo,
Universitas Negeri Semarang. Semarang.
Nashar. 2004. Peranan Motivasi dan Kemampuan Awal. Delia Press. Jakarta.
Purwanto, Ngalim. 2008. Prinsip-prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran. PT
Remaja Rosdakarya. Bandung.
____. 2010. Pengertian Aktivitas Belajar. http://syacom.blogspot.com. Diakses 22
Mei 2012. Pukul 13.00 WIB.
Putrayasa, 2009. Model Pembelajaran Inkuiri. http://ipotes.wordpress.com.
Diakses 16 November 2012. Pukul 15.57 WIB).
Sagala, Syaiful. 2006. Konsep dan Makna Pembelajaran. Bandung: Alfabeta.
Sanjaya. 2006. Pengertian Model Inkuiri. http://fkippgsd.wordpress.com. Diakses
03 Desember 2012. Pukul 21.00 WIB.
Sardiman. 2010. Interaksi & Motivasi Belajar Mengajar. Rajawali Pers. Jakarta.
Sriyono. 2010. Hakikat Belajar, Prestasi Belajar, dan Aktivitas Belajar.
http://susilofy.wordpress.com. Diakses 7 Desember 2011. Pukul 00.15
WIB.
Sudjana, Nana, 2010. Penilaian Hasil Proses Belajar Mengajar. Remaja
Rosdakarya. Bandung.
Tim MKPBM UPI. 2001. Strategi Pembelajaran Matematika Kontemporer.
Bandung: UPI Press.
Wardhani, IGAK dkk. 2007. Penelitian Tindakan Kelas. Universitas terbuka.
Jakarta.

Dokumen yang terkait

PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA DENGAN MENGGUNAKAN MEDIA BANGUN RUANG SISWA KELAS V SEKOLAH DASAR NEGERI 10 METRO PUSAT TAHUN PELAJARAN 2012/2013

0 6 52

PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA DENGAN MENGGUNAKAN KARTU BERGAMBAR BAGI SISWA KELAS II SD NEGERI 5 METRO PUSAT TAHUN PELAJARAN 2012/2013

0 15 46

PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA DENGAN MENGGUNAKAN MODEL COOPERATIVE LEARNING TIPE THINK PAIR SHARE (TPS) PADA SISWA KELAS IV SD NEGERI 4 METRO UTARA TAHUN PELAJARAN 2012/2013

0 7 64

PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MELALUI PENDEKATAN KONTEKSTUAL PADA SISWA KELAS IV SD NEGERI 1 KAMPUNG KOTAAGUNG KABUPATEN TANGGAMUS TAHUN PELAJARAN 2012/2013

0 5 34

PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA MENGGUNAKAN METODE DISKUSI KELOMPOK PADA MATA PELAJARAN MATEMATIKA KELAS V SD NEGERI 3 METRO PUSAT TAHUN PELAJARAN 2012/2013

1 8 41

PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA DENGAN MODEL INKUIRI SISWA KELAS IV SD KRISTEN 1 METRO PUSAT TAHUN PELAJARAN 2012/2013

1 12 37

PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR SISWA MENGGUNAKAN MODEL COOPERATIVE LEARNING TIPE GROUP INVESTIGATION (GI) PADA MATA PELAJARAN PKn KELAS IV SD KRISTEN 1 METRO PUSAT TAHUN PELAJARAN 2013-2014

0 2 42

PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MELALUI MODEL KOOPERATIF TIPE STAD SISWA KELAS V SD NEGERI 1 GUNUNG MAS TAHUN PELAJARAN 2012/2013

0 3 53

PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MELALUI MODEL KOOPERATIF TIPE STAD SISWA KELAS V SD NEGERI 1 GUNUNG MAS TAHUN PELAJARAN 2012/2013

0 11 51

PENINGKATAN AKTIVITAS DAN HASIL BELAJAR MATEMATIKA MELALUI MODEL COOPERATIVE LEARNING TIPE THINK PAIR SHARE (TPS) SISWA KELAS VB SD NEGERI 3 METRO PUSAT TAHUN PELAJARAN 2012/2013

0 3 47

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

117 3874 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 1030 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 925 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

20 622 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

26 774 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

60 1322 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

65 1215 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

20 805 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

31 1086 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

41 1320 23