Efek Antidiabetes dari Ekstrak Kelopak Bunga Rosela (Hibiscus sabdariffa L) terhadap Mencit yang Diinduksi Streptozotocin

TESIS EFEK ANTIDIABETES DARI EKSTRAK KELOPAK BUNGA
ROSELA (Hibiscus sabdariffa L.) TERHADAP MENCIT YANG DIINDUKSI STREPTOZOTOCIN
OLEH ROSEMARY YULIANA HUTAGAOL
NIM 097014017
PROGRAM STUDI MAGISTER FARMASI FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2012
Universitas Sumatera Utara

EFEK ANTIDIABETES DARI EKSTRAK KELOPAK BUNGA ROSELA (Hibiscus sabdariffa L.) TERHADAP MENCIT YANG DIINDUKSI STREPTOZOTOCIN
TESIS Diajukan sebagai salah satu syarat untuk memperoleh Gelar Magister dalam Ilmu Farmasi pada Fakultas Farmasi
Universitas Sumatera Utara
OLEH: ROSEMARY YULIANA HUTAGAOL
NIM 097014017
PROGRAM STUDI MAGISTER FARMASI FAKULTAS FARMASI
UNIVERSITAS SUMATERA UTARA MEDAN 2012
Universitas Sumatera Utara

LEMBAR PERSETUJUAN UJIAN TESIS PENELITIAN

Nama Mahasiswa : Rosemary Yuliana Hutagaol

No. Induk Mahasiswa : 097014017

Program Studi

: Magister Farmasi

Judul Tesis

: Efek Antidiabetes dari Ekstrak Kelopak Bunga Rosela .(Hibiscus sabdariffa L) terhadap Mencit yang Diinduksi .Streptozotocin

Tempat dan Tanggal Ujian Lisan Tesis : Medan, 25 Juli 2012

Menyetujui: Komisi Pembimbing Ketua,

Anggota,

Prof. Dr. Rosidah, M.Si., Apt. NIP 195103261978022001

Dr. Ginda Haro, M.Sc., Apt. NIP 195108161980031002

Ketua Program Studi,
Prof. Dr. Karsono, Apt. Apt. NIP 195409091982011001

Medan, September 2012 Dekan,
Prof. Dr. Sumadio Hadisahputra, NIP 195311281983031002

Universitas Sumatera Utara

PENGESAHAN TESIS

Nama Mahasiswa No. Induk Mahasiswa Program Studi Judul Tesis

: Rosemary Yuliana Hutagaol
: 097014017
: Magister Farmasi
: Efek Antidiabetes dari Ekstrak Kelopak Bunga .Rosela (Hibiscus sabdariffa L) terhadap Mencit .yang Diinduksi Streptozotocin

Telah diuji dan dinyatakan LULUS di depan Tim Penguji Tesis pada hari Sabtu, tanggal 25, bulan Juli, tahun 2012

Mengesahkan: Tim Penguji Tesis Ketua Tim Penguji Anggota Tim Penguji

: Prof. Dr. Rosidah, M.Si., Apt. : Prof. Dr. Sumadio Hadisahputra, Apt.
Dr. Ginda Haro, M.Sc., Apt. Dr. M. Pandapotan Nasution, MPS., Apt.

Universitas Sumatera Utara

KATA PENGANTAR
Puji syukur kehadirat Tuhan Yang maha Esa yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan penelitian dan penulisan tesis dengan judul “Efek Antidiabetes dari Ekstrak Kelopak Bunga Rosela (Hibiscus sabdariffa L.) Terhadap Mencit Yang Diinduksi Streptozotocin” yang merupakan salah satu syarat untuk memperoleh gelar Magister Sains dalam Ilmu Farmasi pada Fakultas Farmasi Universitas Sumatera Utara.
Selama menyelesaikan penelitian dan tesis ini penulis telah banyak mendapatkan bantuan dan dorongan dari berbagai pihak, baik moril maupun materil. Untuk itu penulis ingin menghaturkan penghargaan dan terima kasih yang tiada terhingga kepada :
1. Bapak Prof. Dr. dr. Syahril Pasaribu, DTM&H., M.Sc., (CTM)., Sp.A(K)., selaku Rektor Universitas Sumatera Utara, Medan, yang telah memberikan kesempatan dan fasilitas kepada penulis untuk mengikuti dan menyelesaikan Program Studi Magister Farmasi pada Fakultas Farmasi, Universitas Sumatera Utara, Medan.
2. Bapak Prof. Dr. Sumadio Hadisahputra, Apt., selaku Dekan Fakultas Farmasi, Universitas Sumatera Utara, Medan, yang telah menyediakan fasilitas dan kesempatan bagi penulis menjadi mahasiswa dan menyelesaikan Program Studi Magister Farmasi pada Fakultas Farmasi, Universitas Sumatera Utara, Medan.
3. Bapak Prof. Dr. Karsono, Apt., selaku Ketua Program Studi Magister dan Doktor Ilmu Farmasi pada Farmasi Fakultas Farmasi, Universitas Sumatera Utara, Medan, yang telah memberikan arahan dan bantuan bagi penulis untuk menyelesaikan Magister Farmasi pada Fakultas Farmasi, Universitas Sumatera Utara, Medan.
4. Ibu Prof. Dr. Rosidah, M.Si., Apt., dan Bapak Dr. Ginda Haro, M.Sc., Apt., sebagai komisi pembimbing yang telah banyak memberikan bimbingan, arahan, masukan, saran, dan dorongan dengan penuh kesabaran, tulus dan ikhlas bagi penulis dalam menjalani pendidikan, penelitian, dan penyelesaian tesis ini.
5. Bapak Prof. Dr. Sumadio Hadisahputra, Apt., dan Bapak Dr. M. Pandapotan Nasution, MPS., Apt., sebagai komisi penguji yang telah banyak memberikan saran dan masukan bagi penulis dalam penyelesaian tesis ini, sehingga tesis ini semakin baik.
6. Bapak Jimmy Sirait sebagai Ketua Pengurus Yayasan TP. Arjuna Laguboti yang telah banyak memberikan bantuan Beasiswa dan sarana penelitian bagi penulis guna kelancaran bagi penulis dalam menyelesaikan tesis ini.
7. Suami Arbaik Manurung, anak-anak Aurora, Devi, Audrin, sebagai keluarga tercinta penulis yang banyak memberikan bantuan baik dalam bentuk moril dan materil bagi penulis dalam menjalani pendidikan, penelitian, dan penyelesaian tesis ini.
8. Serta buat semua pihak yang tidak dapat penulis sebutkan satu per satu yang telah banyak membantu dalam penelitian tesis ini. Kiranya Tuhan Yang Maha
Universitas Sumatera Utara

Esa memberikan balasan yang berlipat ganda atas kebaikan dan bantuan yang telah diberikan kepada penulis.
Penulis menyadari bahwa tesis ini masih jauh dari kesempurnaan, sehingga penulis mengharapkan kritik dan saran yang bersifat membangun dari semua pihak. Akhir kata semoga tulisan ini dapat menjadi sumbangan yang berarti bagi Ilmu Pengetahuan khususnya bagi bidang Farmasi.
Medan, Juli 2012 Penulis, (Rosemary Yuliana Hutagaol) NIM 097014017
Universitas Sumatera Utara

EFEK ANTIDIABETES DARI EKSTRAK KELOPAK BUNGA ROSELA (Hibiscus sabdariffa L.) TERHADAP MENCIT YANG DIINDUKSI STREPTOZOTOCIN
ABSTRAK
Diabetes mellitus merupakan gejala yang dapat dikarakterisasi melalui hiperglikemia kronis dan gangguan metabolisme karbohidrat, lemak dan protein yang berhubungan dengan terjadinya kekurangan sekresi insulin atau aksi insulin baik secara mutlak maupun relatif. Terapi dengan menggunakan obat-obat yang beredar di pasaran selain harganya relatif lebih mahal karena penggunaanya dalam jangka waktu lama juga memiliki efek samping yang cukup besar.
Penelitian-penelitian terdahulu membuktikan bahwa kelopak bunga rosela mempunyai aktivitas antidiabetes. Untuk itu telah dilakukan penelitian uji aktivitas antidiabetes ekstrak n-heksan, ekstrak etil asetat dan ekstrak etanol kelopak bunga rosela (Hibiscus sabdariffa L.) dalam rangka meningkatkan pemanfaatan antidiabetes alami dari tumbuhan dan menjadi informasi yang berguna dalam pengekstraksian kelopak bunga rosela sehingga diperoleh efek antidiabetes yang optimal.
Pembuatan ekstrak kelopak bunga rosela dilakukan secara perkolasi bertingkat menggunakan pelarut n-heksan dilanjutkan dengan pelarut etil asetat, terakhir dengan pelarut etanol, kemudian masing-masing maserat dipekatkan dengan penguap vakum putar. Selanjutnya dilakukan pengujian aktivitas antidiabetes yang terdiri dari 11 kelompok perlakuan, yaitu kelompok suspensi CMC 0,5% sebagai kontrol negatif; glibenklamid 0,65 mg/kg BB sebagai kontrol positif; ekstrak n-heksan dosis 200 mg/kg BB, 400 mg/kg BB dan 600 mg/kg BB; ekstrak etil asetat 200 mg/kg BB, 400 mg/kg BB dan 600 mg/kg BB; dan ekstrak etanol200 mg/kg BB, 400 mg/kg BB dan 600 mg/kg BB yang masing-masing diberikan secara peroral satu kali sehari selama 35 hari. Pengukuran kadar glukosa darah menggunakan glukometer Accu Chek dilakukan setiap tujuh hari, data yang diperoleh dianalisis secara analisis variansi kemudian dilanjutkan dengan metode Duncan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol kelopak bunga rosela terbukti dapat menurunkan KGD mencit diabetes sedangkan ekstrak n-heksan dan etil asetat tidak terbukti dapat menurunkan KGD mencit diabetes. Hasil uji statistik (α = 0,05) menunjukkan bahwa ekstrak n-heksan dan etil asetat memberikan perbedaan yang nyata dengan glibenklamid, sedangkan ekstrak etanol tidak memberikan perbedaan yang nyata dengan glibenklamid dalam menurunkan kadar glukosa darah mencit, yang artinya ekstrak etanol dapat menurunkan kadar glukosa darah mencit diabetes.
Kata kunci : Antidiabetes, Streptozotocin, Kadar glukosa darah, kelopak bunga
rosela (Hibiscus sabdariffa L.)
Universitas Sumatera Utara

ANTIDIABETIC EFFECT OF ROSELLE CALYCES EXTRACT (Hibiscus sabdariffa L.) IN STREPTOZOTOCIN INDUCED MICE
ABSTRACT
Diabetes mellitus is a symptom that can be characterized by chronic hyperglycemia and impaired metabolism of carbohydrates, fats and proteins associated with the lack of insulin secretion or insulin action both in absolute and relative terms. Treatment with drugs distributed on the market either relatively more expensive because of its use in the long term or have considerable side effects.
Previous studies show that roselle calyces have a potent antidiabetic activity. Therefore the research of antidiabetic activity of n-hexane, ethyl acetate and ethanol extracts of roselle calyces (Hibiscus sabdariffa L.) has been conducted in order to improve the utilization of herbs and natural antidiabetic and the information can be useful in extracting roselle calyces in order to obtain the optimal antidiabetic effect.
Roselle calyces extract was made by means of stratified percolation using n-hexane as solvent followed by ethyl acetate, and the last solvent is ethanol, then the macerate respectively was concentrated by rotary vacuum evaporator. Then the test of Antidiabetic activity was conducted consisting of 11 treatment groups, ie groups of CMC suspension 0.5% as a negative control; glibenclamide 0.65 mg/kg as a positive control; n-hexane extracts of roselle calyces dose of 200 mg/kg, 400 mg/kg and 600 mg/kg; ethyl acetate extracts of roselle calyces dose of 200 mg/kg, 400 mg/kg and 600 mg/kg; and ethanol extracts of roselle calyces dose of 200 mg/kg, 400 mg/kg and 600 mg/kg, which is respectively administered orally every day. Blood glucose levels were measured by glucometer Accu Chek every seven days, the data were analyzed by analysis of variance followed by Duncan's method.
The results showed that the ethanol extract of roselle calyces proven to reduce the blood glucose levels on diabetic mice, while the n-hexane and ethyl acetate extract were not proven to reduce the blood glucose levels on diabetic mice. The results of the statistical test (α = 0.05) showed that the extracts of nhexane and ethyl acetate perform a real mean of difference on glibenclamide, whereas the ethanol extract did not perform significant differences with glibenclamide in lowering blood glucose levels on mice, which means that the ethanol extract can lower blood glucose levels of diabetic mice.
Key words: antidiabetic, streptozotocin, blood glucose levels, roselle calyces (Hibiscus sabdariffa L.)
Universitas Sumatera Utara

DAFTAR ISI

Halaman

JUDUL .......................................................................................................

i

HALAMAN JUDUL ..................................................................................

ii

PERSETUJUAN TESIS ............................................................................

iii

PENGESAHAN TESIS .............................................................................

iv

KATA PENGANTAR ...............................................................................

v

ABSTRAK ................................................................................................. vii

ABSTRACT ............................................................................................... viii

DAFTAR ISI ..............................................................................................

ix

DAFTAR TABEL....................................................................................... xiii

DAFTAR GAMBAR ................................................................................. xv

DAFTAR LAMPIRAN .............................................................................. xvi

BAB I PENDAHULUAN .........................................................................

1

1.1 Latar Belakang ..............................................................................

1

1.2 Kerangka Pikir Penelitian .............................................................

4

1.3 Perumusan Masalah ......................................................................

5

1.4 Hipotesis .......................................................................................

5

1.5 Tujuan Penelitian ..........................................................................

6

1.6 Manfaat Penelitian ........................................................................

6

BAB II TINJAUAN PUSTAKA ................................................................

7

2.1 Uraian Tumbuhan .........................................................................

7

2.1.1 Sistematika tumbuhan ..........................................................

7

2.1.2 Nama lain (Sinonim) ...........................................................

8

Universitas Sumatera Utara

2.1.3 Kandungan kimia ................................................................. 2.1.3 Khasiat dan kegunaan .......................................................... 2.2 Ekstraksi ....................................................................................... 2.2.1 Metode ekstraksi .................................................................. 2.3 Glukosa Darah .............................................................................. 2.3.1 Kadar glukosa darah ............................................................ 2.3.2 Sumber glukosa darah ......................................................... 2.4 Pengaturan Kadar Glukosa Darah ................................................ 2.5 Faktor yang Mempengaruhi Kadar Glukosa Darah ...................... 2.6 Pengukuran Kadar Glukosa Darah ............................................... 2.7 Diabetes Melitus ............................................................................ 2.7.1 Defenisi ................................................................................ 2.7.2 Etiologi ................................................................................ 2.7.3 Diagnosis ............................................................................. 2.7.4 Klasifikasi etiologis DM ...................................................... 2.7.5 Komplikasi diabetes mellitus ............................................... 2.8 Insulin ........................................................................................... 2.9 Streptozotocin ............................................................................... 2.10 Terapi Farmakologi ..................................................................... 2.10.1 Terapi insulin ..................................................................... 2.10.2 Terapi dengan obat-obat hipoglikemik oral .......................
2.10.2.1 Golongan sulfonilurea .......................................... 2.10.2.2 Golongan biguanida .............................................. 2.10.2.3 Golongan penghambat α-glukosidase ..................

8 8 9 9 11 11 11 13 14 15 16 16 17 18 19 21 22 22 23 23 24 24 25 25

Universitas Sumatera Utara

BAB III METODE PENELITIAN ........................................................... 3.1 Alat-alat ........................................................................................ 3.2 Bahan-bahan ................................................................................. 3.3 Hewan Percobaan ......................................................................... 3.4 Pengumpulan dan Pembuatan Simplisia ....................................... 3.4.1 Pengumpulan bahan tumbuhan ............................................ 3.4.2 Pembuatan simplisia ............................................................ 3.4.3 Pembuatan Ekstrak .............................................................. 3.5 Penapisan Fitokimia Untuk Ekstrak ............................................. 3.5.1 Pemeriksaan alkaloid ........................................................... 3.5.2 Pemeriksaan flavonoid ........................................................ 3.5.3 Pemeriksaan saponin ........................................................... 3.5.4 Pemeriksaan steroid/triterpenoida ....................................... 3.5.5 Pemeriksaan tanin ................................................................ 3.5.6 Pemeriksaan glikosida ......................................................... 3.6 Pembuatan Bahan Uji ................................................................... 3.6.1 Pembuatan suspensi CMC 0,5% ........................................ 3.6.2 Pembuatan suspensi ekstrak ................................................ 3.6.3 Pembuatan suspensi glibenklamid....................................... 3.6.4 Pembuatan larutana streptozotocin (STZ) 1% dalam larutan NaCl 0,9% .............................................................. 3.7 Penggunaan Glukometer .............................................................. 3.7.1 Prosedur penggunaan ......................................................... 3.7.2 Prinsip pengukuran ............................................................ 3.8 Pengujian Kadar Glukosa Darah Mencit ......................................

27 27 27 28 28 28 28 29 29 29 30 30 30 31 31 32 32 32 33
33 34 34 34 35

Universitas Sumatera Utara

3.8.1 Pengujian kadar glukosa normal mencit ..............................
3.8.2 Penentuan kadar glukosa darah (KGD) ...............................
3.8.3 Uji toleransi glukosa oral .....................................................
3.8.4 Penginduksian diabetes ........................................................
3.8.5 Uji aktivitas ekstrak .............................................................
3.9 Analisis Data .................................................................................
BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN ...................................................
4.1 Hasil Ekstraksi .............................................................................
4.2 Hasil Skrining Fitokimia Ekstrak n-Heksan, Etil Asetat dan Etanol Kelopak Bunga Rosela ......................................................
4.3 Hasil Uji Farmakologi .................................................................
4.3.1 Hasil uji toleransi glukosa oral ............................................
4.3.2 Hasil Pengukuran KGD Mencit setelah Perlakuan dengan Pemberian Ekstrak n-heksan Kelopak Bunga Rosela ........
4.3.3 Hasil Pengukuran KGD Mencit setelah Perlakuan dengan Pemberian Ekstrak Etil Asetat Kelopak Bunga Rosela ......
4.3.4 Hasil Pengukuran KGD Mencit setelah Perlakuan dengan Pemberian Ekstrak Etanol Kelopak Bunga Rosela ............
4.4 .Hasil Pengukuran Aktivitas Ekstrak n-Heksan, Etil Asetat, dan Etanol Kelopak Bunga Rosela .....................................................
BAB V KESIMPULAN DAN SARAN .....................................................
5.1 Kesimpulan ...................................................................................
5.2 Saran .............................................................................................
DAFTAR PUSTAKA ................................................................................
LAMPIRAN ................................................................................................

35 35 35 36 36 37 38 38
38 39 41
42
48
52
58 72 72 72 73 77

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR TABEL

Tabel 4.1 Data Skrining Fitokimia Ekstrak n-heksan, Ekstrak Etil Asetat dan Ekstrak Etanol kelopak bunga rosella ...................

39

Tabel 4.2 Data Pengukuran KGD Normal dan KGD Setelah Penginduksian STZ Dosis 55 mg/Kg BB Mencit-mencit Percobaan ................................................................................

40

Tabel 4.3 Hasil uji toleransi glukosa oral................................................. 41

Tabel 4.4 Data pengukuran KGD setelah pemberian ekstrak n-heksan . 43

Tabel 4.5 Hasil uji beda rata-rata Duncan terhadap KGD mencit pada minggu I hingga minggu V setelah pemberian sediaan uji ekstrak n-heksan ......................................................................

45

Tabel 4.6 Data pengukuran KGD setelah pemberian ekstrak etil asetat

48

Tabel 4.7 Hasil uji beda rata-rata Duncan terhadap KGD mencit pada minggu I hingga minggu V setelah pemberian sediaan uji ekstrak etil asetat .....................................................................

50

Tabel 4.8 Data pengukuran KGD setelah pemberian ekstrak etanol ..... 53

Tabel 4.9 Hasil uji beda rata-rata Duncan terhadap KGD mencit pada minggu I hingga minggu V setelah pemberian sediaan uji ekstrak etanol ...........................................................................

55

Tabel 4.10 Data pengukuran KGD setelah pemberian ekstrak n-heksan, etil asetat dan etanol ............................................................... 58

Tabel 4.11 Hasil rata-rata KGD mencit minggu I setelah pemberian sediaan uji ............................................................................... 61

Tabel 4.12 Hasil uji beda rata-rata Duncan terhadap KGD mencit pada minggu I setelah pemberian sediaan uji ................................. 61

Tabel 4.13 Hasil rata-rata KGD mencit minggu II setelah pemberian sediaan uji................................................................................. 63

Tabel 4.14 Hasil uji beda rata-rata Duncan terhadap KGD mencit pada minggu II setelah pemberian sediaan uji.................................. 63

Tabel 4.15 Hasil rata-rata KGD mencit minggu III setelah pemberian .sediaan uji ............................................................................... 65

Universitas Sumatera Utara

Tabel 4.16 Hasil uji beda rata-rata Duncan terhadap KGD mencit pada .minggu III setelah pemberian sediaan uji ...............................
Tabel 4.17 Hasil rata-rata KGD mencit minggu IV setelah pemberian .sediaan uji ...............................................................................
Tabel 4.18 Hasil uji beda rata-rata Duncan terhadap KGD mencit pada .minggu IV setelah pemberian sediaan uji ..............................
Tabel 4.19 Hasil rata-rata KGD mencit minggu V setelah pemberian .sediaan uji ...............................................................................
Tabel 4.20 Hasil uji beda rata-rata Duncan terhadap KGD mencit pada .minggu V setelah pemberian sediaan uji ................................

65 67 67 69 69

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR GAMBAR

Gambar 1.1 Skema kerangka pikir penelitian ...........................................
Gambar 2.1 Rumus bangun Streptozotocin ..............................................
Gambar 3.1 Prinsip pengukuran glukosa darah dengan alat accu chek ....
Gambar 4.1 Grafik potensi hasil uji toleransi glukosa oral ......................
Gamabr 4.2 Grafik yang menunjukkan KGD setelah pemberian ekstrak n-heksan ................................................................................
Gambar 4.3 Diagram batang yang menunjukkan KGD setelah pemberian ekstrak n-heksan ...................................................................
Gambar 4.4 Grafik yang menunjukkan KGD setelah pemberian ekstrak etil asetat ...............................................................................
Gambar 4.5 Diagram batang yang menunjukkan KGD setelah pemberian ekstrak n-heksan ...................................................................
Gambar 4.6 Grafik yang menunjukkan KGD setelah pemberian ekstrak etanol .....................................................................................
Gambar 4.7 Diagram batang yang menunjukkan KGD setelah pemberian ekstrak etanol ........................................................................
Gambar 4.8 Grafik yang menunjukkan KGD setelah pemberian ekstrak n-heksan, ekstrak etil asetat dan ekstrak etanol ....................
Gambar 4.9 Diagram batang yang menunjukkan KGD setelah pemberian ekstrak n-heksan, ekstrak etil asetat dan ekstrak etanol ........

4 22 34 42 44 45 49 50 54 55 59 60

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR LAMPIRAN Lampiran 1 Surat keterangan strain mencit .............................................. Lampiran 2 Bagan alur pembuatan ekstrak .............................................. Lampiran 3 Bagan alur pengujian efek penurunan kadar glukosa darah . Lampiran 4 Bagan alur pengukuran kadar glukosa darah mencit ............ Lampiran 5 Contoh perhitungan dosis ..................................................... Lampiran 6 Alat pengukur kadar glukosa darah ...................................... Lampiran 7 Data hasil uji toleransi glukosa oral ...................................... Lampiran 8 Data kadar glukosa darah mencit selama penelitian (mg/dl) . Lampiran 9 Hasil SPSS ............................................................................ Lampiran 10 Surat persetujuan komisi etik ................................................

77 78 79 80 81 83 84 87 91 111

Universitas Sumatera Utara

EFEK ANTIDIABETES DARI EKSTRAK KELOPAK BUNGA ROSELA (Hibiscus sabdariffa L.) TERHADAP MENCIT YANG DIINDUKSI STREPTOZOTOCIN
ABSTRAK
Diabetes mellitus merupakan gejala yang dapat dikarakterisasi melalui hiperglikemia kronis dan gangguan metabolisme karbohidrat, lemak dan protein yang berhubungan dengan terjadinya kekurangan sekresi insulin atau aksi insulin baik secara mutlak maupun relatif. Terapi dengan menggunakan obat-obat yang beredar di pasaran selain harganya relatif lebih mahal karena penggunaanya dalam jangka waktu lama juga memiliki efek samping yang cukup besar.
Penelitian-penelitian terdahulu membuktikan bahwa kelopak bunga rosela mempunyai aktivitas antidiabetes. Untuk itu telah dilakukan penelitian uji aktivitas antidiabetes ekstrak n-heksan, ekstrak etil asetat dan ekstrak etanol kelopak bunga rosela (Hibiscus sabdariffa L.) dalam rangka meningkatkan pemanfaatan antidiabetes alami dari tumbuhan dan menjadi informasi yang berguna dalam pengekstraksian kelopak bunga rosela sehingga diperoleh efek antidiabetes yang optimal.
Pembuatan ekstrak kelopak bunga rosela dilakukan secara perkolasi bertingkat menggunakan pelarut n-heksan dilanjutkan dengan pelarut etil asetat, terakhir dengan pelarut etanol, kemudian masing-masing maserat dipekatkan dengan penguap vakum putar. Selanjutnya dilakukan pengujian aktivitas antidiabetes yang terdiri dari 11 kelompok perlakuan, yaitu kelompok suspensi CMC 0,5% sebagai kontrol negatif; glibenklamid 0,65 mg/kg BB sebagai kontrol positif; ekstrak n-heksan dosis 200 mg/kg BB, 400 mg/kg BB dan 600 mg/kg BB; ekstrak etil asetat 200 mg/kg BB, 400 mg/kg BB dan 600 mg/kg BB; dan ekstrak etanol200 mg/kg BB, 400 mg/kg BB dan 600 mg/kg BB yang masing-masing diberikan secara peroral satu kali sehari selama 35 hari. Pengukuran kadar glukosa darah menggunakan glukometer Accu Chek dilakukan setiap tujuh hari, data yang diperoleh dianalisis secara analisis variansi kemudian dilanjutkan dengan metode Duncan.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa ekstrak etanol kelopak bunga rosela terbukti dapat menurunkan KGD mencit diabetes sedangkan ekstrak n-heksan dan etil asetat tidak terbukti dapat menurunkan KGD mencit diabetes. Hasil uji statistik (α = 0,05) menunjukkan bahwa ekstrak n-heksan dan etil asetat memberikan perbedaan yang nyata dengan glibenklamid, sedangkan ekstrak etanol tidak memberikan perbedaan yang nyata dengan glibenklamid dalam menurunkan kadar glukosa darah mencit, yang artinya ekstrak etanol dapat menurunkan kadar glukosa darah mencit diabetes.
Kata kunci : Antidiabetes, Streptozotocin, Kadar glukosa darah, kelopak bunga
rosela (Hibiscus sabdariffa L.)
Universitas Sumatera Utara

ANTIDIABETIC EFFECT OF ROSELLE CALYCES EXTRACT (Hibiscus sabdariffa L.) IN STREPTOZOTOCIN INDUCED MICE
ABSTRACT
Diabetes mellitus is a symptom that can be characterized by chronic hyperglycemia and impaired metabolism of carbohydrates, fats and proteins associated with the lack of insulin secretion or insulin action both in absolute and relative terms. Treatment with drugs distributed on the market either relatively more expensive because of its use in the long term or have considerable side effects.
Previous studies show that roselle calyces have a potent antidiabetic activity. Therefore the research of antidiabetic activity of n-hexane, ethyl acetate and ethanol extracts of roselle calyces (Hibiscus sabdariffa L.) has been conducted in order to improve the utilization of herbs and natural antidiabetic and the information can be useful in extracting roselle calyces in order to obtain the optimal antidiabetic effect.
Roselle calyces extract was made by means of stratified percolation using n-hexane as solvent followed by ethyl acetate, and the last solvent is ethanol, then the macerate respectively was concentrated by rotary vacuum evaporator. Then the test of Antidiabetic activity was conducted consisting of 11 treatment groups, ie groups of CMC suspension 0.5% as a negative control; glibenclamide 0.65 mg/kg as a positive control; n-hexane extracts of roselle calyces dose of 200 mg/kg, 400 mg/kg and 600 mg/kg; ethyl acetate extracts of roselle calyces dose of 200 mg/kg, 400 mg/kg and 600 mg/kg; and ethanol extracts of roselle calyces dose of 200 mg/kg, 400 mg/kg and 600 mg/kg, which is respectively administered orally every day. Blood glucose levels were measured by glucometer Accu Chek every seven days, the data were analyzed by analysis of variance followed by Duncan's method.
The results showed that the ethanol extract of roselle calyces proven to reduce the blood glucose levels on diabetic mice, while the n-hexane and ethyl acetate extract were not proven to reduce the blood glucose levels on diabetic mice. The results of the statistical test (α = 0.05) showed that the extracts of nhexane and ethyl acetate perform a real mean of difference on glibenclamide, whereas the ethanol extract did not perform significant differences with glibenclamide in lowering blood glucose levels on mice, which means that the ethanol extract can lower blood glucose levels of diabetic mice.
Key words: antidiabetic, streptozotocin, blood glucose levels, roselle calyces (Hibiscus sabdariffa L.)
Universitas Sumatera Utara

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Diabetes mellitus merupakan gejala yang dapat dikarakterisasi melalui
hiperglikemia kronis dan gangguan metabolisme karbohidrat, lemak dan protein yang berhubungan dengan terjadinya kekurangan sekresi insulin atau aksi insulin baik secara mutlak maupun relatif (Schoenfelder, et al., 2006). Terapi insulin dan obat-obat hipoglikemik oral menawarkan kontrol glikemik yang efektif, tetapi terapi insulin memiliki kelemahan seperti ketidakefektifan dengan pemberian secara oral, waktu paruhnya singkat, kebutuhan akan pendinginan secara langsung, dan dapat terjadi hipoglikemia yang fatal pada kasus kelebihan dosis (Anuradha, et al., 2001). Oleh karena itu diperlukan pencarian suatu senyawa yang memiliki aktivitas antidiabetes yang digunakan secara oral. Penggunaan antidiabetes oral terbatas karena efek samping yang merugikan termasuk reaksi hematologikal, kutan dan gastrointestinal, koma, hipoglikemik dan gangguan fungsi hati dan ginjal. Zat-zat tersebut juga tidak tepat digunakan selama kehamilan (Alarcon, et al., 2000).
Banyak tumbuh-tumbuhan dalam pengobatan herbal tradisional yang dipercaya mempunyai aktivitas hipoglikemik. Pustaka yang tersedia mengindikasikan bahwa terdapat lebih dari 800 spesies tumbuhan yang menunjukkan aktivitas hipoglikemik (Rajagopal, et al., 2008). Organisasi kesehatan dunia merekomendasikan pengujian aktivitas tumbuh-tumbuhan di mana pengobatan yang aman sulit didapatkan (WHO, 1980). Studi-studi terdahulu telah menunjukkan bahwa kandungan kimia yang diisolasi dari tumbuhan telah
Universitas Sumatera Utara

digunakan untuk pencegahan dan pengobatan kanker, penyakit jantung, diabetes mellitus, dan tekanan darah tinggi (Waltner, et al., 2002).
Rosela (Hibiscus sabdariffa L.) tumbuh di seluruh bagian dunia dan telah digunakan sebagai minuman kesehatan di banyak negara seperti Australia, India, Myanmar, Thailand, Senegal, Prancis, Gambia, Nigeria, Yunani, Saudi Arabia, Sudan, Amerika latin, Panama, Indonesia, Malaysia, Cina, dan lain-lain. Kandungan kimia yang bersifat antioksidatif dalam Hibiscus sabdariffa L. yang sangat tinggi yaitu antosianin, flavonoid dan polifenol memiliki efek kardioprotektif, mengurangi oksidasi LDL secara in vitro dan mengurangi kadar kolesterol serum darah mencit dan kelinci (Tzu, et al., 2007), mempunyai efek hipokolesterolemik (Chen, et al., 2003) serta efek anti-oksidatif dan hepatoprotektif (Dahiru, et al., 2003). Kadar antioksidan yang tinggi pada kelopak rosela dapat menghambat efek merusak radikal bebas. Beberapa penyakit kronis yang sering ditemui saat ini sebagian besar disebabkan oleh paparan terhadap radikal bebas yang berlebihan, diantaranya kerusakan ginjal, diabetes melitus, jantung koroner, hingga penyakit kanker (Babalola, 2001).
Penelitian yang dilakukan oleh Wang, et al., (2011) dan Omotuyi, et al., (2010) membuktikan bahwa rosela (Hibiscus sabdariffa L.) dapat menurunkan kadar glukosa darah kelinci diabetes yang diinduksi dengan streptozotocin di mana rosela meningkatkan aktivitas enzim katalase dan glutation. Dalam percobaan histologikal, rosela menyebabkan diuresis osmosis dalam tubulus renal proximal hewan diabetes (Wang, et al., 2011).
Penelitian tentang aktivitas ekstrak air dan ekstrak etanol kelopak bunga rosela sangat banyak dilakukan, hanya sedikit penelitian yang meneliti ekstrak n-
Universitas Sumatera Utara

heksan dan sangat jarang meneliti ekstrak etil asetat kelopak bunga rosela. Oleh karena itu, dalam kesempatan ini peneliti tertarik meneliti kandungan ekstrak nheksan, etil asetat, dan ekstrak etanol yang diperoleh melalui teknik ekstraksi perkolasi bertingkat di mana kandungan dari kelopak bunga rosela dipisahkan menurut kelarutannya, kemudian dilakukan pengujian terhadap aktivitas masingmasing ekstrak dalam menurunkan kadar glukosa darah (KGD) mencit-mencit diabetes yang telah diinduksi dengan streptozotocin (STZ) dalam berbagai dosis pemberian ekstrak dan juga membandingkan aktivitas ketiga ekstrak tersebut dengan glibenklamid. Diharapkan penelitian ini dapat menjadi informasi yang berguna dalam pengekstraksian kelopak bunga rosela sehingga diperoleh efek antidiabetes yang optimal.
Universitas Sumatera Utara

1.2 Kerangka Pikir Penelitian Penelitian dilakukan terhadap mencit-mencit diabetes yang diinduksi oleh
streptozotocin (STZ). Pada penelitian ini terdapat dua variabel antara lain ekstrak yang diperoleh dari n-heksan, etil asetat, etanol kelopak bunga rosela (Hibiscus sabdariffa L.) dan glibenklamid sebagai variabel bebas dan kandungan kimia dan juga kadar glukosa darah mencit (mg/dl) sebagai variabel terikat seperti yang ditunjukkan pada Gambar 1.1.

Variabel Bebas

Variabel Terikat

Ekstrak n-heksan rosela
Ekstrak etil asetat rosel
Ekstrak etanol rosela

Streptozotocin Mencit

Mencit Diabetes

KGD (Kadar glukosa darah) mencit (mg/dl)

Glibenklamid Gambar 1.1 Skema kerangka pikir penelitian

Universitas Sumatera Utara

1.3 Perumusan Masalah Berdasarkan uraian pada latar belakang di atas, maka perumusan masalah
penelitian adalah: a. apakah ekstrak yang diperoleh dari n-heksan, etil asetat, dan etanol kelopak bunga rosela (Hibiscus sabdariffa L.) mempunyai efek antidiabetes terhadap mencit yang diinduksi streptozotocin (STZ)? b. apakah ada aktivitas yang signifikan antara ekstrak yang diperoleh dari nheksan, etil asetat, etanol kelopak bunga rosela (Hibiscus sabdariffa L.) dibandingkan dengan glibenklamid dalam menurunkan kadar glukosa darah mencit yang diinduksi streptozotocin (STZ)?
1.4 Hipotesis Berdasarkan perumusan masalah di atas, maka hipotesis penelitian adalah
sebagai berikut: a. ekstrak yang diperoleh dari n-heksan, etil asetat, dan etanol kelopak bunga rosela (Hibiscus sabdariffa L.) mempunyai efek antidiabetes terhadap mencit yang diinduksi streptozotocin (STZ). b. ada aktivitas yang signifikan antara ekstrak yang diperoleh dari n-heksan, etil asetat, etanol kelopak bunga rosela (Hibiscus sabdariffa L.) dibandingkan dengan glibenklamid dalam menurunkan kadar glukosa darah mencit yang diinduksi streptozotocin (STZ).
Universitas Sumatera Utara

1.5 Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini untuk:
a. mengetahui efek antidiabetes ekstrak yang diperoleh dari n-heksan, etil asetat, dan etanol kelopak bunga rosela (Hibiscus sabdariffa L.) terhadap mencit yang diinduksi streptozotocin (STZ).
b. mengetahui efek ekstrak yang diperoleh dari n-heksan, etil asetat, etanol kelopak bunga rosela (Hibiscus sabdariffa L.) dibandingkan dengan glibenklamid dalam menurunkan kadar glukosa darah mencit yang diinduksi streptozotocin (STZ).
1.6 Manfaat Penelitian Penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi ilmiah bahwa
ekstrak kelopak bunga rosela dapat digunakan sebagai antidiabetes dan sebagai panduan pemilihan pelarut yang paling sesuai agar diperoleh aktivitas hipoglikemik yang optimal. Penelitian ini diharapkan dapat dijadikan dasar bagi tahap penelitian lebih lanjut pada hewan yang tingkatannya lebih tinggi sehingga kedepannya diharapkan ekstrak kelopak bunga rosela dapat masuk kedalam golongan obat fitofarmaka.
Universitas Sumatera Utara

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Uraian Tumbuhan Rosela (Hibiscus sabdariffa L.) merupakan spesies dari Hibiskus alami
dunia tropis yang memiliki tiga jenis warna kelopak yaitu hijau, merah dan merah tua. Kelopak berwarna merah dan merah tua diekstraksi dan diberi pemanis untuk menghasilkan minuman penyegar, sedangkan kelopak dan daun yang berwarna hijau digunakan untuk membuat sup sayuran.
Rosela merupakan tumbuhan tahunan, herba semak dengan struktur berkayu, tinggi 2-2,5 m; daunnya berjari tiga sampai lima, dengan panjang 8-15 cm. Bunganya berdiameter 8-10 cm, putih hingga kuning pucat dengan noda merah pada dasar di setiap lembaran bunga, memiliki kelopak dan kelopak palsu (epikaliks) berdaging gemuk pada dasarnya; 1,5-2 cm lebarnya; tumbuh hingga 33,5 cm; berdaging dan merah terang seperti buah matang (Plotto, 2009).

2.1.1 Sistematika tumbuhan

Sistematika tumbuhan rosela:

Kingdom

: Plantae

Divisio

: Spermatophyta

Sub Divisio : Angiospermae

Kelas

: Dicotyledonae

Bangsa

: Malvales

Suku

: Malvaceae

Marga

: Hibiscus

Species

: Hibiscus sabdariffa L.

Universitas Sumatera Utara

2.1.2 Nama lain (Sinonim)

Sinonim

: Abelmoschus cruentus Bertol, Hibiscus digitatus Cav.,

..Hibiscus gossypiifolius Mill., Hibiscus sanguineus Griff.,

..Sabdariffa rubra Kostel

Nama umum : Rosela

Nama daerah : Asam Paya, Asam Kumbang atau Asam Susur (Melayu);

Merambos Hijau (Jawa tengah); Kesew Jawed dan Asam

Rejang (Sumatera Selatan); Asam Jarot (Padang).

2.1.3 Kandungan kimia Kelopak bunga rosela mengandung protein, serat, dan asam askorbat.
Kandungan mineral dari kelopak rosela antara lain kalsium, magnesium, kalium, natrium, besi dan seng (Babalola, 2001). Kandungan kimia rosela yang lain antara lain: Asam hidroksisitrat, asam hibiskus, asam klorogenik, mirisetin-3arabinogalaktosida, quersetin-3-sambubiosida, asam 5-O-kaffeoilshikimat, quersetin-3-rutinosida, quersetin-3-glukosida, kaempferol-3-O-rutinosida, Nferuloiltiramin, kaempferol-3-(p-koumarilglukosida), quersetin, delphinidin-3sambubiosida, sianidin-3-sambubinosida, 7-hidroksikumarin (Rodriguez, et al., 2009).

2.1.4 Khasiat dan kegunaan Kelopak bunga rosela dapat mengatasi berbagai macam penyakit, di
antaranya: antioksidatif, antimutagenik, antikanker, hipolipidemik, protektif hati (Tzu, et al., 2007), antihipertensif, retensi garam pada urin (Hussaini, 2004), hipokolesterolemik (Habibullah, 2007), pengobatan terhadap infeksi saluran kencing (Anonim, 2010).

Universitas Sumatera Utara

2.2 Ekstraksi Ekstraksi adalah penarikan kandungan kimia yang dapat larut sehingga
terpisah dari bahan yang tidak dapat larut dengan menggunakan pelarut cair. Senyawa aktif yang terdapat dalam berbagai simplisia dapat digolongkan kedalam golongan minyak atsiri, alkaloida, flavonoida dan lain-lain. Dengan diketahuinya senyawa aktif yang dikandung simplisia akan mempermudah pemilihan pelarut dengan cara ekstraksi yang tepat (Ditjen POM, 2000).
Ekstrak adalah sediaan kering, kental atau cair dibuat dengan menyari simplisia nabati atau hewani menurut cara yang cocok, diluar pengaruh matahari langsung (Ditjen POM, 1979).
2.2.1 Metode Ekstraksi Metode ekstraksi dapat dilakukan dengan beberapa cara:
a. Maserasi Maserasi adalah proses ekstraksi simplisia yang paling sederhana,
menggunakan pelarut yang cocok dengan beberapa kali pengadukan pada temperatur ruangan atau (kamar) (Depkes, 2000). Maserasi pada umumnya dilakukan dengan cara merendam 10 bagian serbuk simplisia dalam 75 bagian cairan penyari (pelarut) (Depkes, 1986). b. Perkolasi
Percolare berasal dari kata “colare”, artinya menyerkai dan “per” = through, artinya menembus (Syamsuni, 2006). Dengan demikian, perkolasi adalah suatu cara penarikan memakai alat yang disebut perkolator di mana simplisia terendam dalam cairan penyari, zat-zat akan terlarut dan larutan tersebut akan menetes secara beraturan (Syamsuni, 2006). Prosesnya terdiri dari tahapan
Universitas Sumatera Utara

pengembangan bahan, tahap perendaman antara, tahap perkolasi sebenarnya (penetesan/penampungan perkolat) sampai diperoleh ekstrak (Depkes, 2000).
Keuntungan dari metode perkolasi ini adalah proses penarikan zat berkhasiat dari tumbuhan lebih sempurna (Agoes, 2007). c. Refluks
Refluks adalah ekstraksi dengan pelarut pada temperatur titik didihnya, selama waktu tertentu dan jumlah pelarut relatif konstan dengan adanya pendingin balik (Depkes, 2000). d. Digesti
Digesti adalah maserasi kinetik (dengan pengadukan kontiniu) pada temperatur ruangan (kamar) yaitu secara umum dilakukan pada temperatur 4050oC. e. Infudasi
Infudasi adalah ekstraksi dengan pelarut air pada temperatur pemanasan air (bejana infus diatas penangas air mendidih), temperatur terukur (96-98oC) selama waktu tertentu (15-20 menit) (Depkes, 2000). f. Dekoktasi
Dekoktasi adalah ekstraksi dengan metode infus yang dilakukan selama 30 menit dengan temperatur titik didih air.
Universitas Sumatera Utara

2.3 Glukosa Darah 2.3.1 Kadar glukosa darah
Kadar glukosa darah merupakan parameter utama untuk menilai metabolisme karbohidrat. Contoh khas adalah penyakit diabetes melitus di mana terjadi gangguan metabolisme karbohidrat sehingga kadar glukosa meningkat melebihi ambang normal (Henry dan Howanitz, 1996).
2.3.2 Sumber glukosa darah a) Karbohidrat dalam makanan (glukosa, galaktosa, fruktosa)
Karbohidrat dalam makanan terdapat dalam bentuk polisakarida, disakarida, dan monosakarida. Karbohidrat dipecah oleh ptyalin dalam saliva di dalam mulut. Enzim ini bekerja optimum pada pH 6,7 sehingga akan dihambat oleh getah lambung ketika makanan sudah sampai di lambung. Dalam usus halus, amilase pankreas yang kuat juga bekerja atas polisakarida yang dimakan. Ptyalin saliva dan amilase pankreas menghidrolisis polisakarida menjadi hasil akhir berupa disakarida, laktosa, maltosa, sukrosa.
Laktosa akan diubah menjadi glukosa dan galaktosa dengan bantuan enzim laktase. Glukosa dan fruktosa dihasilkan dari pemecahan sukrosa oleh enzim sukrase. Sedangkan enzim maltase akan mengubah maltosa menjadi 2 molekul glukosa. Monosakarida akan masuk melalui sel mukosa dan kapiler darah untuk diabsorbsi di intestinum. Masuknya glukosa ke dalam epitel usus tergantung konsentrasi tinggi Na+ di atas permukaan mukosa sel.
Glukosa diangkut oleh mekanisme ko-transpor aktif natrium- glukosa di mana transpor aktif natrium menyediakan energi untuk mengabsorbsi glukosa melawan suatu perbedaan konsentrasi. Mekanisme di atas juga berlaku untuk
Universitas Sumatera Utara

galaktosa. Pengangkutan fruktosa menggunakan mekanisme yang berbeda yaitu dengan mekanisme difusi fasilitasi (Ganong, 2003). Unsur-unsur gizi tersebut diangkut ke dalam hepar lewat vena porta hati. Galaktosa dan fruktosa segera dikonversi menjadi glukosa di dalam hepar (Murray, et al., 2003). b) Glukoneogenesis
Glukoneogenesis merupakan istilah yang digunakan untuk semua mekanisme dan lintasan yang bertanggung jawab atas perubahan senyawa non karbohidrat menjadi glukosa atau glikogen. Proses ini memenuhi kebutuhan tubuh atas glukosa pada saat karbohidrat tidak tersedia dengan jumlah yang cukup di dalam makanan. Substrat utama bagi glukoneogenesis adalah asam amino glukogenik, laktat, gliserol, dan propionat. Hepar dan ginjal merupakan jaringan utama yang terlibat karena kedua organ tersebut mengandung komplemen lengkap enzim-enzim yang diperlukan (Murray, et al., 2003). c) Glikogenolisis
Mekanisme penguraian glikogen menjadi glukosa yang dikatalisasi oleh enzim fosforilase dikenal sebagai glikogenolisis. Glikogen yang mengalami glikogenolisis terutama simpanan di hati, sedang glikogen otot akan mengalami deplesi yang berarti setelah seseorang melakukan olahraga yang berat dan lama. Di hepar dan ginjal (tetapi tidak di dalam otot) terdapat enzim glukosa 6-fosfatase, yang membuang gugus fosfat dari glukosa 6-fosfat sehingga memudahkan glukosa untuk dibentuk dan berdifusi dari sel ke dalam darah (Murray, et al., 2003).
Universitas Sumatera Utara

2.4 Pengaturan Kadar Glukosa Darah Pengaturan kadar glukosa darah yang stabil dalam darah adalah
mekanisme homeostatik yang merupakan kesatuan proses metabolisme berupa produksi insulin dari sel ß pankreas dan kerja hepar dalam proses glikogenesis, glukoneogenesis, dan glikolisis (Guyton dan Hall, 1997).
Insulin ialah suatu polipeptida dengan BM kira-kira 6000, terdiri 51 asam amino, dan tersusun dalam 2 rantai, rantai A dan rantai B yang dihubungkan jembatan disulfida (Tony dan Suharto, 2005). Insulin disintesis oleh sel ßpankreas. Kontrol utama atas sekresi insulin adalah sistem umpan balik negatif langsung antara sel ß-pankreas dengan konsentrasi glukosa dalam darah. Peningkatan kadar glukosa darah seperti yang terjadi setelah penyerapan makanan secara langsung merangsang sintesis dan pengeluaran insulin oleh sel ß pankreas (Sherwood, 1996).
Insulin akan menurunkan kadar gula darah dengan cara membantu uptake glukosa ke dalam otot dan jaringan lemak, penyimpanan glukosa sebagai glikogen dalam hati, dan menghambat sintesis glukosa (glukoneogenesis) di hati (Sheidel, 2001). Efek hormon insulin secara keseluruhan adalah mendorong penyimpanan energi dan meningkatkan pemakaian glukosa (Sacher dan Mc Phernon, 2004).
Fungsi hati dalam pengaturan kadar glukosa darah tidak lepas dari pengaruh insulin. Fungsi hati dalam metabolisme karbohidrat yaitu:
- Mengubah fruktosa dan galaktosa menjadi glukosa - Menyimpan glukosa dalam bentuk glikogen pada saat tubuh mengalami
kelebihan glukosa
Universitas Sumatera Utara

- Mengubah glikogen menjadi glukosa untuk dibebaskan ke dalam darah pada saat tubuh mengalami kekurangan glukosa
- Melakukan proses glukoneogenesis (mengubah asam amino dan gliserol menjadi glukosa) pada saat glikogen yang tersimpan sudah habis dan kadar gula darah menurun
- Mengubah glukosa menjadi lemak untuk disimpan
2.5 Faktor yang Mempengaruhi Kadar Glukosa Darah - Enzim Glukokinase penting dalam pengaturan glukosa darah setelah makan (Murray, et al., 2003). - Hormon Insulin bersifat menurunkan kadar glukosa darah. Glukagon, GH, ACTH, glukokortikoid, epinefrin, dan hormon tiroid cenderung menaikkan kadar gula darah, dengan demikian mengantagonis kerja insulin (Murray, et al., 2003). - Sistem gastrointestinal Gangguan pada sistem gastrointestinal dapat mengurangi absorbsi karbohidrat di usus dan menurunkan glukosa darah (Sherwood, 1996). - Stres Hampir semua jenis stres akan meningkatkan sekresi ACTH oleh kelenjar hipofise anterior. ACTH merangsang korteks adrenal untuk mengeluarkan kortisol. Kortisol ini yang akan meningkatkan pembentukan glukosa (Guyton dan Hall, 1997).
Universitas Sumatera Utara

- Asupan karbohidrat Penurunan dan peningkatan asupan karbohidrat (pati) mempengaruhi kadar gula dalam darah (Sherwood, 1996).
2.6 Pengukuran Kadar Glukosa Darah Glukosa darah dapat ditentukan dengan berbagai cara, baik secara kimiawi
maupun secara enzimatik. Prinsip penentuannya didasari pada kemampuan glukosa untuk mereduksi ion anorganik seperti Cu2+ atau Fe(CN). Secara umum glukosa darah dapat ditentukan dengan beberapa cara, yaitu: 1) Metode Kondensasi Gugus Amin
Prinsip: aldosa dikondensasi dengan orto toluidin dalam suasana asam akan menghasilkan larutan berwarna hijau setelah dipanaskan. Kadar glukosa darah ditentukan sesuai dengan intensitas warna yang terjadi, diukur secara spektrofotometri (Widowati, dkk., 1997). 2) Metode enzimatik
Glukosa dapat ditentukan secara enzimatik, misalnya dengan penambahan enzim glukosa oksidase (GOD). Dengan adanya oksigen atau udara, glukosa dioksidasi oleh enzim menjadi asam glukoronat disertai pembentukan H2O2. Dengan adanya enzim peroksidase (POD), H2O2 akan membebaskan O2 yang mengoksidasi akseptor kromogen yang sesuai serta memberikan warna yang sesuai pula. Kadar glukosa darah ditentukan berdasarkan intensitas warna yang terjadi, diukur secara spektrofotometri (Lucie, dkk., 1997). 3) Metode Reduksi
Prinsip: kadar glukosa darah ditentukan secara reduksi dengan menggunakan suatu oksidan ferisianida yang direduksi menjadi ferosianida oleh
Universitas Sumatera Utara

glukosa dalam suasana basa dengan pemanasan. Kemudian kelebihan garam feri dititrasi secara indometri (Widowati, dkk., 1997).
Penentuan glukosa secara reaksi reduksi kurang spesifik dibanding cara enzimatik, terutama bila dalam darah terdapat bahan yang dapat mer

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

119 3984 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 1057 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

40 945 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

21 632 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

28 790 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

60 1348 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

66 1253 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

20 825 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

32 1111 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

41 1350 23