Pemerolehan Sintaksis Bahasa Indonesia Anak Usia Dua Tahun dan Tiga Tahun di Padang Bulan Medan

PEMEROLEHAN SINTAKSIS BAHASA INDONESIA ANAK USIA DUA TAHUN DAN TIGA TAHUN DI PADANG BULAN MEDAN
TESIS
OLEH ISMARINI HUTABARAT
097009029
SEKOLAH PASCASARJANA PROGRAM STUDI LINGUISTIK UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN 2011
Universitas Sumatera Utara

PEMEROLEHAN SINTAKSIS BAHASA INDONESIA ANAK USIA DUA TAHUN DAN TIGA TAHUN DI PADANG BULAN MEDAN
TESIS Diajukan Sebagai Salah Satu Syarat untuk Memperoleh Gelar Magister Humaniora pada Program Studi Linguistik Sekolah Pascasarjana
Universitas Sumatera Utara
OLEH ISMARINI HUTABARAT
097009029/LNG
SEKOLAH PASCASARJANA UNIVERSITAS SUMATERA UTARA
MEDAN 2011
Universitas Sumatera Utara

Judul Tesis
Nama Mahasiswa Nomor Pokok Program Studi

: PEMEROLEHAN SINTAKSIS BAHASA INDONESIA ANAK USIA DUA TAHUN DAN TIGA DI PADANG BULAN MEDAN : Ismarini Hutabarat : 097009029 : Linguistik

Menyetujui Komisi Pembimbing

(Prof. Mangantar Simanjuntak, Ph.D.) Ketua

(Dr. Gustianingsih, M.Hum) Anggota

Ketua Program Studi,

Direktur,

(Prof. T. Silvana Sinar, M.A., Ph.D.) (Prof. Dr. Ir. A. Rahim Matondang,MSIE) Tanggal Lulus: 15 Agustus 2011

Universitas Sumatera Utara

Telah diuji pada Tanggal: 15 Agustus 2011

PANITIA PENGUJI TESIS

Ketua

: Prof. Mangantar Simanjuntak, Ph.D.

Anggota : 1. Dr. Gustianingsih, M.Hum.

2. Prof. Amrin Saragih, M.A., Ph.D.

3. Dr. Drs. Eddy Setia, M.Ed. TESP.

Universitas Sumatera Utara

PRAKATA Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rahmat dan karunia-Nya sehingga tesis yang berjudul “Pemerolehan Sintaksis Bahasa Indonesia Anak Usia Dua Tahun dan Tiga Tahun di Padang Bulan Medan”, ini dapat diselesaikan dengan baik. Tesis ini disusun sebagai salah satu syarat untuk memperoleh gelar Master Humaniora pada Program Studi Linguistik, Sekolah Pasca Sarjana, Universitas Sumatera Utara. Saya menyadari bahwa tesis ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu saran dan kritik yang membangun sangat dibutuhkan guna kesempurnaan tesis ini dan penelitian yang akan datang.
Medan , 19 Agustus 2011 Penulis
Ismarini Hutabarat
Universitas Sumatera Utara

UCAPAN TERIMA KASIH
Pertama sekali saya ucapkan syukur yang sedalam-dalamnya kepada Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan saya berkat kesehatan, waktu dan kesempatan sehingga saya dapat menyelesaikan tesis ini dengan baik sesuai dengan waktu yang telah direncanakan. Hanya karena berkat dari-Nya lah maka semua dapat berjalan dengan baik.
Saya juga menyadari bahwa keberhasilan saya dalam menyelesaikan tesis ini tidak terlepas dari dukungan, baik moral maupun materi, dari berbagai pihak. Oleh karena itu, saya mengucapkan terima kasih yang sedalam-dalamnya kepada Rektor Universitas Sumatera Utara Prof. Dr. dr. Syahril Pasaribu, DTM&H, MSc(CTM). Sp.A(K), Direktur Sekolah Pascasarjana USU Prof. Dr. Ir. A. Rahim Matondang, MSIE, Ketua Program Studi Linguistik USU Prof. T. Silvana Sinar, M.A., Ph.D., dan Sekretaris Program Studi Linguistik USU Dr. Nurlela, M.Hum , atas kesempatan dan fasilitas yang diberikan kepada saya sehingga saya dapat menyelesaikan studi saya dengan baik.
Saya juga menghaturkan rasa hormat dan terima kasih saya kepada Prof. Mangantar Simanjuntak, Ph.D., dan Dr. Gustianingsih, M.Hum selaku pembimbing saya dan juga kepada Prof. Amrin Saragih, M.A., Ph.D., dan Dr. Drs. Eddy Setia, M.Ed. TESP., selaku penguji saya, yang telah membimbing serta memberi saran dan kritik yang membangun sehingga membantu saya untuk menyempurnakan tesis ini. Kepada seluruh dosen yang telah memberikan ilmu dan bimbingan yang sangat
Universitas Sumatera Utara

berharga selama saya menempuh studi, saya mengucapkan terima kasih dan penghargaan yang sebesar-besarnya.
Kepada Chelsi, Matthew, Samuel dan Trinito beserta orang tua dan keluarga, saya mengucapkan terima kasih kepada kalian semua karena tanpa kesediaan kalian untuk menjadi subjek dalam penelitian ini, saya tidak akan mampu menyelesaikan tesis ini.
Terima kasihku yang terdalam kepada suamiku tercinta, Riduan Leonardo Sinaga, yang selalu mencintai dan mendukung saya selama masa studi saya dan membantu saya dalam menyelesaikan tesis ini. Terima kasih kepada anak-anakku tersayang, Ekklesia Nathaniel Sinaga, Anastasia Uli Sinaga, dan Felisia Elle Sinaga, yang selalu menjadi sumber inspirasi terbesar buat saya.
Terima kasih kepada orang tua saya, N. br. Harahap dan MS. Hutabarat, serta mertua saya R. br. Manullang atas dukungan moral dan materil yang diberikan kepada saya. Kepada adik-adikku, Ade Ismiaty Ramadhona Hutabarat, Roy Isnan Hutabarat, dan M. Isman Hutabarat, terima kasih karena kalian selalu ada untuk saya. Kepada abang dan kakak, Monang Sinaga dan Minar Sihite, terima kasih atas segala bantuan dan doa yang diberikan untuk kelancaran studi saya. Kepada keluarga Sitio, eda dan amangbawo, saya ucapkan terima kasih atas segala dukungan dan doa yang diberikan. Begitu juga untuk adikku, Evalencia Manullang, terima kasih karena tanpa bantuanmu saya tidak akan mempunyai waktu untuk menyelesaikan semua tugas kuliah dan tesis ini.
Universitas Sumatera Utara

Terima kasih kepada teman-teman di Program Studi Linguistik USU; Hennilawati, Esto Tumanggor, Sinta Diana, Elfitriani, Dewina, Elva Yusanti, Prinsi dan teman-teman lain yang tidak dapat disebutkan namanya satu persatu. Semoga kebersamaan kita akan terus berlanjut ke masa yang akan datang.
Terima kasih kepada pihak-pihak lain yang tidak disebutkan. Semoga Tuhan Yang Maha Esa membalas semua amal baik yang telah dilakukan.
Ismarini Hutabarat
Universitas Sumatera Utara

DAFTAR RIWAYAT HIDUP

Nama NIM Program Studi Tempat/Tanggal Lahir Pekerjaan
Alamat Telepon

: Ismarini Hutabarat : 097009029 : Linguistik : P. Siantar/23 Januari 1979 : Dosen Kopertis dpk Universitas Darma
Agung Medan : Jl. Mesjid Syuhada Gg. Selamat No. 1A : 08192032636

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR ISI
PRAKATA ................................................................................................. i UCAPAN TERIMA KASIH ...................................................................... ii DAFTAR RIWAYAT HIDUP .................................................................. v DAFTAR ISI .............................................................................................. vi DAFTAR LAMPIRAN .............................................................................. xii DAFTAR TABEL ..................................................................................... xiii DAFTAR SINGKATAN ........................................................................... xiv ABSTRAK ................................................................................................. xv

BAB I

PENDAHULUAN………………………………………… 1 1.1 Latar Belakang Masalah ………………………… 1 1.2 Rumusan Masalah ………………………………… 7 1.3 Lingkup Masalah....................................................... 8 1.4 Tujuan Penelitian ………………………………… 8 1.5 Manfaat Penelitian ………………………………… 9
1.5.1 Manfaat Teoretis............................................ 9 1.5.2 Manfaat Praktis.............................................. 9

BAB II

KONSEP, LANDASAN TEORI DAN TINJAUAN PUSTAKA............................................................................11

Universitas Sumatera Utara

2.1 Konsep ......................................................................11 2.1.1 Pemerolehan Bahasa........................................11
2.2 Landasan Teori ........................................................ 15 2.2.1 Pemerolehan Bahasa Menurut Chomsky .....15 2.2.2 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pemerolehan Bahasa ……………………… 17 2.2.3 Karakteristik Anak Usia Dua Tahun dan Tiga Tahun ............................................................ 23 2.2.4 Teori Perkembangan Bahasa Chomsky......... 24 2.2.5 Sintaksis......................................................... 25 2.2.6 Pemerolehan Sintaksis................................... 26 2.2.7 Kalimat.......................................................... 27 2.2.8 Kalimat Berdasarkan Modusnya................... 29 2.2.8.1 Kalimat dalam Modus Deklaratif ..... 29 2.2.8.2 Kalimat dalam Modus Interogatif .... 31 2.2.8.3 Kalimat dalam Modus Imperatif....... 32 2.2.8.4 Kalimat dalam Modus Interjektif...... 32
2.3 Tinjauan Pustaka........................................................ 33

BAB III

METODE PENELITIAN...................................................... 38 3.1 Metode dan Teknik Penelitian.................................. 38 3.2 Sumber Data Penelitian............................................. 40

Universitas Sumatera Utara

3.3 Waktu dan Lokasi Penelitian..................................... 41 3.4 Teknik Pengumpulan Data........................................ 42 3.5 Metode dan Teknik Analisis Data............................. 43

BAB IV

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN................... 48 4.1 Pemerolehan Sintaksis Bahasa Indonesia Anak Usia
Dua Tahun dan Tiga................................................. 48 4.1.1 Pemerolehan Sintaksis Bahasa Indonesia Anak
Usia Dua Tahun ........................................... 49 4.1.1.1 AN1.................................................. 51 4.1.1.2 AN2.................................................. 58 4.1.1.3 AN3 ................................................. 63 4.1.2 Pemerolehan Sintaksis Bahasa Indonesia Anak Usia Tiga Tahun .......................................... 69 4.1.2.1 AN4................................................... 71 4.1.2.2 AN5 ............................................... 77 4.1.2.3 AN6................................................... 81 4.2 Perbedaan Pemerolehan Sintaksis Bahasa Indonesia Anak Usia Dua Tahun dan Tiga Tahun …………… 85 4.3 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Pemerolehan Sintaksis Bahasa Indonesia Anak Usia Dua Tahun dan Tiga Tahun …………………………………… 89

Universitas Sumatera Utara

4.3.1 Faktor Alamiah …………………… 91 4.3.1.1 AN1 ………………………………. 91 4.3.1.2 AN2 ………………………………. 92 4.3.1.3 AN3 ………………………………. 92 4.3.1.4 AN4 ………………………………. 93 4.3.1.5 AN5 ……………………………….. 93 4.3.1.6 AN6 ……………………………….. 94 4.3.2 Faktor Perkembangan Kognitif ………… 94 4.3.2.1 AN1 ………………………………. 94 4.3.2.2 AN2 ……………………………. 95 4.3.2.3 AN3 ……………………………..... 95 4.3.2.4 AN4 ………………………………. 96 4.3.2.5 AN5 ………………………………. 96 4.3.2.6 AN6 ………………………………. 97 4.3.3 Faktor Latar Belakang Sosial …………….. 97 4.3.3.1 AN1 ………………………………. 97 4.3.3.2 AN2 ………………………………. 98 4.3.3.3 AN3 ………………………………. 98 4.3.3.4 AN4 ………………………………. 99 4.3.3.5 AN5 ………………………………. 99 4.3.3.6 AN6 ………………………………. 100 4.3.4 Faktor Keturunan …………………………. 101
Universitas Sumatera Utara

4.3.4.1 AN1 ………………………………. 101 4.3.4.2 AN2 ………………………………. 101 4.3.4.3 AN3 ………………………………. 102 4.3.4.4 AN4 ………………………………. 102 4.3.4.5 AN5 ………………………………. 103 4.3.4.6 AN6 ………………………………. 103

BAB V

TEMUAN 5.1 Pemerolehan Sintaksis Bahasa Indonesia Anak Usia
Dua Tahun dan Tiga Tahun ..................................... 104 5.2 Perbedaan Pemerolehan Sintaksis Bahasa Indonesia
Anak Usia Dua Tahun dan Tiga Tahun ................... 106 5.3 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pemerolehan
Sintaksis Anak Usia Dua Tahun dan Tiga Tahun ... 109

BAB VI

SIMPULAN DAN SARAN...................................................111 6.1 Simpulan.................................................................... 111 6.2 Saran.......................................................................... 112

DAFTAR PUSTAKA .................................................................................. 114

Universitas Sumatera Utara

DAFTAR LAMPIRAN 1. Biodata Anak ................................................................................................. 1 2. Data-Data ...................................................................................................... 3
Universitas Sumatera Utara

DAFTAR TABEL 1. Tabel 1 .................................................................................................... 46 2. Tabel 2 .................................................................................................... 64 3. Tabel 3 .................................................................................................... 79 4. Tabel 4 ...................................................................................................104 5. Tabel 5 ...................................................................................................106 6. Tabel 6 ................................................................................................... 109
Universitas Sumatera Utara

DAFTAR SINGKATAN

LAD B1 FLA KFC IQ PPB TK MLU

: Language Acquisition Device : Bahasa Pertama : First Language Acquisition : Kentucky Fried Chicken : Intelligence Quotion : Piranti Pemeroleh Bahasa : Taman Kanak-Kanak : Mean Length of Utterance

Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK
Pada tahun pertama kehidupannya anak-anak mulai meniru kata-kata yang mereka dengar dari lingkungan sekitarnya dan dapat dikatakan pada saat itulah anak mulai menghasilkan “kata-kata pertama” mereka. Saat mereka berusia delapan belas bulan kata-kata yang mereka hasilkan semakin banyak dan berubah dari kalimat satu kata menjadi kalimat dua kata dan tiga kata. Penelitian ini dilakukan berdasarkan teori biologis-kognitif Chomsky yang menyatakan bahwa setiap anak dilahirkan dengan potensi biologis untuk bahasa dan pemerolehan dan perkembangan bahasa terjadi bukan karena potensi biologis tersebut saja tetapi juga karena adanya lingkungan bahasa yang mendukung. Untuk mengetahui pemerolehan sintaksis bahasa Indonesia anak usia dua tahun dan tiga tahun, tiga orang anak yang berusia dua tahun dan tiga orang anak yang berusia tiga tahun dijadikan subjek penelitian ini. Percakapan mereka dengan orang tua, saudara-saudara dan teman-teman mereka direkam dan kemudian percakapan yang direkam tersebut dianalisis untuk mengetahui kalimat-kalimat yang mereka hasilkan berdasarkan modus kalimat yaitu deklaratif, interogatif, imperatif dan interjektif. Kalimat-kalimat yang dihasilkan anak usia dua tahun dan tiga tahun tersebut kemudian dianalisis untuk mengetahui perbedaan kalimat yang dihasilkan. Akhirnya, faktor-faktor yang mempengaruhi pemerolehan sintaksis dianalisis. Ditemukan bahwa umumnya anak usia dua tahun menggunakan kalimat dalam modus deklaratif dalam percakapan mereka, meskipun mereka sudah mampu menghasilkan berbagai kalimat dalam berbagai modus. Sebaliknya, anak usia tiga tahun telah memiliki kompetensi yang baik dalam menghasilkan berbagai kalimat dalam semua modus. Anak usia tiga tahun juga sudah mampu berimprovisasi dengan kalimat yang mereka hasilkan. Kadang-kadang anak usia dua tahun meniru apa yang diucapkan orang lain jika mereka menemukan kesulitan untuk mengungkapkan sesuatu. Namun, anak usia tiga tahun telah memiliki kompetensi yang baik dalam menghasilkan kalimat yang merupakan hasil kreasi mereka sendiri. Pemerolehan sintaksis anak usia dua tahun dan tiga tahun dipengaruhi oleh empat faktor, yaitu faktor alamiah, faktor perkembangan kognitif, faktor latar belakang sosial, dan faktor keturunan; intelegensia dan gaya/cara pemerolehan bahasa.
Kata kunci: Pemerolehan Sintaksis, Modus, Faktor
Universitas Sumatera Utara

ABSTRACT
During the first years of their life children has started to imitate the words they hear from their surroundings and it can be said that it is the first time they produce their “first words”. At the eighteenth month of their life the words they produced multiply and change from one-word sentences to two-word or three-word sentences. This research is done based on the the cognitive-biological theory of Chomsky which says that every child is born with the biological potential for language and language acquisition and language development happen not only because of the biological potential and but also because of the supporting language environment. To know the acquisition of Indonesian language syntax of children in two and three years of age, three children aged two and three children aged three were chosen as the subjects of this research. Their conversations with their parents, brothers and sisters, and friends were recorded and then the recorded conversations were analyzed to know their production of sentences based on the moods of the sentences. The sentences produced by the two-year-old and the three-year-old children were then compared to find out the differences of the sentences produced. Finally the factors affecting their syntax acquisition were analyzed. It was found that generally children aged two used sentences in declarative mood in their conversations, although they had already been able to produce sentences in different moods. On the other hand, children aged three had already had good competence in producing sentences in all moods. Children aged three had also been able to improvise the sentences they produced. Sometimes, children aged two imitated what other people said when they had difficulties to express something, but children aged three had already had good competence in producing sentences created by themselves. The syntax acquisition of children in two and three years of age were affected by four factors which were natural factor, cognitive development factor, social background factor and heredity factor; intelligence and the style of language acquisition factor.
Keyword: Acquisition of Syntax, Moods, Factors
Universitas Sumatera Utara

ABSTRAK
Pada tahun pertama kehidupannya anak-anak mulai meniru kata-kata yang mereka dengar dari lingkungan sekitarnya dan dapat dikatakan pada saat itulah anak mulai menghasilkan “kata-kata pertama” mereka. Saat mereka berusia delapan belas bulan kata-kata yang mereka hasilkan semakin banyak dan berubah dari kalimat satu kata menjadi kalimat dua kata dan tiga kata. Penelitian ini dilakukan berdasarkan teori biologis-kognitif Chomsky yang menyatakan bahwa setiap anak dilahirkan dengan potensi biologis untuk bahasa dan pemerolehan dan perkembangan bahasa terjadi bukan karena potensi biologis tersebut saja tetapi juga karena adanya lingkungan bahasa yang mendukung. Untuk mengetahui pemerolehan sintaksis bahasa Indonesia anak usia dua tahun dan tiga tahun, tiga orang anak yang berusia dua tahun dan tiga orang anak yang berusia tiga tahun dijadikan subjek penelitian ini. Percakapan mereka dengan orang tua, saudara-saudara dan teman-teman mereka direkam dan kemudian percakapan yang direkam tersebut dianalisis untuk mengetahui kalimat-kalimat yang mereka hasilkan berdasarkan modus kalimat yaitu deklaratif, interogatif, imperatif dan interjektif. Kalimat-kalimat yang dihasilkan anak usia dua tahun dan tiga tahun tersebut kemudian dianalisis untuk mengetahui perbedaan kalimat yang dihasilkan. Akhirnya, faktor-faktor yang mempengaruhi pemerolehan sintaksis dianalisis. Ditemukan bahwa umumnya anak usia dua tahun menggunakan kalimat dalam modus deklaratif dalam percakapan mereka, meskipun mereka sudah mampu menghasilkan berbagai kalimat dalam berbagai modus. Sebaliknya, anak usia tiga tahun telah memiliki kompetensi yang baik dalam menghasilkan berbagai kalimat dalam semua modus. Anak usia tiga tahun juga sudah mampu berimprovisasi dengan kalimat yang mereka hasilkan. Kadang-kadang anak usia dua tahun meniru apa yang diucapkan orang lain jika mereka menemukan kesulitan untuk mengungkapkan sesuatu. Namun, anak usia tiga tahun telah memiliki kompetensi yang baik dalam menghasilkan kalimat yang merupakan hasil kreasi mereka sendiri. Pemerolehan sintaksis anak usia dua tahun dan tiga tahun dipengaruhi oleh empat faktor, yaitu faktor alamiah, faktor perkembangan kognitif, faktor latar belakang sosial, dan faktor keturunan; intelegensia dan gaya/cara pemerolehan bahasa.
Kata kunci: Pemerolehan Sintaksis, Modus, Faktor
Universitas Sumatera Utara

ABSTRACT
During the first years of their life children has started to imitate the words they hear from their surroundings and it can be said that it is the first time they produce their “first words”. At the eighteenth month of their life the words they produced multiply and change from one-word sentences to two-word or three-word sentences. This research is done based on the the cognitive-biological theory of Chomsky which says that every child is born with the biological potential for language and language acquisition and language development happen not only because of the biological potential and but also because of the supporting language environment. To know the acquisition of Indonesian language syntax of children in two and three years of age, three children aged two and three children aged three were chosen as the subjects of this research. Their conversations with their parents, brothers and sisters, and friends were recorded and then the recorded conversations were analyzed to know their production of sentences based on the moods of the sentences. The sentences produced by the two-year-old and the three-year-old children were then compared to find out the differences of the sentences produced. Finally the factors affecting their syntax acquisition were analyzed. It was found that generally children aged two used sentences in declarative mood in their conversations, although they had already been able to produce sentences in different moods. On the other hand, children aged three had already had good competence in producing sentences in all moods. Children aged three had also been able to improvise the sentences they produced. Sometimes, children aged two imitated what other people said when they had difficulties to express something, but children aged three had already had good competence in producing sentences created by themselves. The syntax acquisition of children in two and three years of age were affected by four factors which were natural factor, cognitive development factor, social background factor and heredity factor; intelligence and the style of language acquisition factor.
Keyword: Acquisition of Syntax, Moods, Factors
Universitas Sumatera Utara

BAB I PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah Proses pemerolehan dan penguasaan bahasa anak-anak merupakan satu hal
yang menakjubkan dan menarik dalam bidang linguistik. Dikatakan menakjubkan karena seorang anak dapat mengingat dan memahami suatu kata walaupun dia hanya mendengar kata tersebut satu kali saja. Maksudnya, ketika dia mendengar suatu kata untuk pertama kali, dia akan bertanya mengenai kata tersebut dan mengulang pengucapannya untuk mengingatnya. Namun, selanjutnya, dia sudah mampu mengucapkan dan menggunakan kata tersebut dengan benar sesuai dengan konteks kegunaan kata tersebut. Bahkan terkadang seorang anak menggunakan kata-kata baru yang seperti tiba-tiba diperolehnya tanpa diketahui dari mana dia memperolehnya. Hal ini membuat proses pemerolehan bahasa menarik untuk diteliti.
Bagaimana manusia memperoleh bahasa merupakan satu proses yang sangat mengagumkan. Pelbagai teori dari bidang disiplin yang berbeda telah dikemukakan oleh para ilmuwan untuk menjelaskan bagaimana proses ini berlaku pada anak-anak. Memang diakui, bahwa tanpa disadari atau tidak sistem-sistem linguistik telah dimiliki secara individu oleh anak-anak walaupun tidak secara formal. “…learning a first language is something every child does successfully, in a matter of a few years and without the need for formal lessons.” (http://users.ecs.soton.ac.uk/harnad/Papers/Py104/pinker.langacq.html), yang jika
Universitas Sumatera Utara

diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia: “…mempelajari bahasa pertama merupakan sesuatu yang dilakukan setiap anak dengan sangat baik, dalam hitungan beberapa tahun dan tanpa perlu pendidikan formal.”
Walaupun stimulant (rangsangan) bahasa yang diterima oleh anak-anak tidak teratur, namun mereka berupaya memahami sistem-sistem linguistik bahasa pertamanya sebelum menjelang usia lima tahun. Peristiwa yang menakjubkan ini telah berlaku dan terus berlaku dalam lingkungan masyarakat dan budaya.
Secara empiris, terdapat dua teori yang membicarakan pemerolehan bahasa, yaitu: Teori yang pertama, bahwa bahasa itu diperoleh manusia secara alamiah. Teori ini diperkenalkan dan dikembangkan oleh Noam Chomsky. Teori yang kedua, bahwa bahasa itu diperoleh manusia karena dipelajari. Teori ini dicetuskan untuk pertama kali oleh B. F Skinner (1957). Oleh karena itu, pemerolehan bahasa sering dikaitkan dengan cara-cara penguasaan bahasa anak-anak.
Brooks (1975) menganggap bahwa ‘kelahiran bahasa’ merupakan pemerolehan bahasa bagi tiap manusia. Bahasa diperoleh anak mulai dari bentuk yang paling sederhana hingga menuju kesempurnaan. Brooks mengutip Lenneberg bahwa anak akan mampu berbahasa menurut proses pematangan (maturation) dan tidak ada hubungan antara bahasa dan kebutuhan anak, jika seorang anak mencapai umur tertentu dia akan berbahasa. Proses tersebut berupa tahapan pemerolehan bahasa yang secara umum dialami oleh setiap anak di seluruh dunia. Ada dua pandangan yang bertentangan mengenai pemerolehan bahasa pada anak. Pandangan Behaviorisme menyatakan bahwa seorang anak mula-mula merupakan tabula rasa
Universitas Sumatera Utara

atau sesuatu yang kosong. Kekosongan itulah yang selanjutnya akan diisi oleh lingkungan.
Dalam hal ini, Skinner berpendapat bahwa pemerolehan bahasa, juga pengetahuan lain, didasarkan pada mekanisme stimulus-respon. Dalam hal ini, bahasa berkaitan dengan fungsi penguatan. Penguatan (reinforcement) diberikan lingkungan (orang tua) kepada anak pada usahanya untuk mengenal bahasa. Oleh karena itu, kemampuan berbahasa seorang anak bersifat nurture atau nature ditentukan alam lingkungannya (Dardjowidjojo, 2005:234). Pendapat itu disanggah oleh Chomsky dengan mengenalkan hipotesis Rene Descartes, hipotesis bawaan, yang menyatakan bahwa setiap anak telah dilengkapi ‘piranti’ untuk memperoleh bahasa (Language Acquisition Device (LAD)). Piranti ini bersifat universal dengan dibuktikan adanya kesamaan tahapan setiap anak dalam memperoleh kemampuan berbahasanya. Dengan demikian, pemerolehan bahasa pada anak bersifat alamiah atau didasarkan pada nature (Dardjowidjojo, 2005:235) atau dengan kata lain manusia telah diciptakan menjadi makhluk berbahasa, karena mereka telah diprogram dan dilengkapi dengan segala sesuatu (otak, alat ucap, dst.).
Seperti hipotesis yang ditemukan oleh psikolog dan linguis beberapa abad yang lalu, pemerolehan bahasa pertama maupun pemerolehan bahasa kedua, terjadi melalui beberapa proses sistematik. Pemerolehan bahasa pertama (disebut B1) terjadi ketika: anak-anak yang normal dengan pertumbuhan yang wajar, yang belum pernah belajar bahasa apa pun sejak ia mulai belajar bahasa untuk pertama kalinya.
Universitas Sumatera Utara

Pemerolehan suatu bahasa ini merupakan ‘bahasa pertama’, ‘bahasa asli’, ataupun ‘bahasa ibu’
Istilah ‘pemerolehan’ merupakan padanan kata acquisition. Istilah ini dipakai dalam proses penguasaan bahasa pertama sebagai salah satu perkembangan yang terjadi pada seorang manusia sejak lahir. Yang dimaksud dengan pemerolehan bahasa (language acquisition) di sini adalah proses-proses yang berlaku di pusat bahasa dalam otak seorang anak (bayi) pada waktu ia sedang memperoleh bahasa ibunya (Simanjuntak, 2009: 104). Secara alamiah anak akan mengenal bahasa sebagai cara berkomunikasi dengan orang di sekitarnya. Bahasa pertama yang dikenal dan selanjutnya dikuasai oleh seorang anak disebut bahasa ibu (native language). Penguasaan terhadap pemerolehan bahasa pertama bersifat ‘primer’ (pertama) dan ia (anak-anak) akan selalu menggunakannya selama hidup.
Bila anak-anak, yang pada mulanya tidak memiliki bahasa secara verbal, telah memperoleh satu bahasa dalam bahasa pertamanya, maka ia disebut ekabahasawan (monolingual first language acquisition). Namun, bila pada masa anak-anaknya ia memperoleh dua bahasa serentak dan menguasai dua bahasa itu sekaligus, maka ia disebut dwibahasawan (bilingual first language). Dalam pemerolehan bahasa yang ada di dunia, pemerolehan bahasa haruslah dipelajari. Tidak ada manusia yang langsung menguasai suatu bahasa saat dilahirkan. Dengan potensi yang dimiliki manusia sejak dalam kandungan hingga dilahirkan, anak-anak secara alami memperoleh prinsip-prinsip bahasa dari masyarakat bahasa yang ada di sekitarnya. Menurut Simanjuntak (1982), pemerolehan bahasa adalah penguasaan bahasa oleh
Universitas Sumatera Utara

seseorang secara tidak langsung dan dikatakan aktif berlaku dalam kalangan anakanak dalam lingkungan usia dua sampai enam tahun. Pemerolehan bahasa dikaitkan dengan penguasaan sesuatu bahasa tanpa disadari atau dipelajari secara langsung tanpa melalui pendidikan secara formal, namun memperoleh bahasa yang dituturkan oleh masyarakat di sekitarnya. Hal ini juga yang terjadi pada bahasa Indonesia. Bahasa Indonesia sebagai B1 merupakan media yang dapat digunakan seorang anak untuk memperoleh nilai-nilai yang terkandung dalam kehidupan masyarakat Indonesia.
Pada usia anak-anak, pemerolehan bahasa meliputi ucapan yang dihasilkan oleh bunyi-bunyi pilihan kata, bentukan, dan kalimat-kalimat yang dibuat dengan meniru orang dewasa. Seorang bayi sebenarnya sudah mulai menciptakan bahasa untuk berkomunikasi hingga usia satu tahun. Kemudian pertumbuhan sintaksis bermula pada waktu seseorang anak-anak mulai menerbitkan ujaran/ucapan yang terdiri atas dua kata atau lebih. Pada umumnya anak-anak mulai menggabungkan dua kata pada umur menjelang dua tahun. Hal ini terjadi saat anak-anak berkomunikasi dengan orang tua, keluarga di rumah dan atau di luar rumah menggunakan bahasa.
Susunan sintaksis paling awal terlihat pada usia kira-kira 18 bulan, walaupun pada beberapa anak terlihat pada usia satu tahun bahkan lebih dari dua tahun. Awalnya berupa kalimat dua kata. Rangkaian dua kata, berbeda dengan “kalimat satu kata” sebelumnya yang disebut holofrastis. Kalimat satu kata biasa ditafsirkan dengan mempertimbangkan konteks penggunaannya. Peralihan dari satu kata menjadi kalimat yang merupakan rangkaian kata terjadi secara bertahap. Pada waktu kalimat pertama
Universitas Sumatera Utara

terbentuk yaitu penggabungan dua kata menjadi kalimat, rangkaian kata tersebut berada pada jalinan intonasi. Jika kalimat dua kata tersebut memberi makna lebih dari satu, maka anak akan membedakannya dengan menggunakan pola intonasi yang berbeda. Perkembangan pemerolehan sintaksis meningkat dengan pesat pada waktu anak menjalani usia dua tahun dan mencapai puncaknya pada akhir usia dua tahun.
Walaupun secara umum pemerolehan bahasa anak usia dua tahun dan tiga tahun dianggap memiliki tahap-tahap tertentu yang sama bagi anak secara universal, namun kenyataan yang ditemukan di lapangan bisa saja menunjukkan hal yang berbeda. Misalnya, seorang anak yang berusia dua tahun belum memiliki kompetensi untuk menghasilkan kalimat dalam berbagai modus untuk mengungkapkan ide dan perasaannya, sehingga dia mengungkapkan ide dan perasaan melalui gumaman atau tangisan. Namun, seorang anak lain yang juga berusia dua tahun sudah memiliki kompetensi yang cukup untuk mengungkapkan ide dan perasaannya melalui kalimat dalam berbagai modus. Hal yang sama juga terjadi pada anak yang berusia tiga tahun. Seorang anak yang berusia tiga tahun hanya mampu menggunakan kalimat pernyataan dalam modus deklaratif dan interjektif, sementara anak lain dengan usia yang sama sudah mampu menggunakan kalimat pernyataan dalam modus deklaratif, imperatif dan interjektif. Pemerolehan anak dua tahun dan tiga tahun yang berbedabeda dalam menghasilkan kalimat dalam berbagai modus merupakan hal yang sangat menarik untuk dikaji.
Berdasarkan hal-hal yang dikemukakan di atas, penulis tertarik untuk meneliti pemerolehan sintaksis bahasa Indonesia anak usia dua tahun dan tiga tahun. Memang,
Universitas Sumatera Utara

penelitian ini bukanlah penelitian pertama tentang pemerolehan bahasa Indonesia yang pernah dilakukan, namun penelitian ini mempunyai kelebihan karena membandingkan pemerolehan sintaksis yang dialami oleh anak-anak yang berusia dua tahun dan tiga tahun. Anak-anak yang menjadi subjek penelitian belum mendapatkan pendidikan formal di playgroup atau di taman kanak-kanak dan berasal dari keluarga yang memiliki latar belakang yang berbeda-beda.
1.2 Rumusan Masalah Pemerolehan bahasa pada seorang anak meliputi pemerolehan semantik,
fonologi, sintaksis, dan pragmatik. Penelitian ini hanya difokuskan pada pemerolehan sintaksis. Secara hierarkial satuan sintaksis dibedakan atas lima macam, yaitu kata, frase, klausa, kalimat dan wacana. Penelitian ini secara khusus memfokuskan analisis pemerolehan bahasa Indonesia anak usia dua tahun dan tiga tahun pada tingkat kalimat berdasarkan modusnya yang berupa kalimat deklaratif, interogatif, imperatif dan interjektif.
Yang menjadi masalah pada penelitian ini adalah: 1. Bagaimanakah pemerolehan bahasa Indonesia anak usia dua tahun dan tiga
tahun pada tingkat kalimat berdasarkan modusnya? 2. Perbedaan apakah yang ada pada pemerolehan bahasa Indonesia anak usia dua
tahun dan tiga tahun pada tingkat kalimat berdasarkan modusnya? 3. Faktor-faktor apakah yang mempengaruhi pemerolehan sintaksis bahasa
Indonesia anak usia dua tahun dan tiga tahun?
Universitas Sumatera Utara

1.3 Lingkup Masalah Dalam penelitian ini penulis hanya membatasi masalah yang diteliti pada
pemerolehan sintaksis bahasa Indonesia anak usia dua tahun dan tiga tahun yaitu pada tingkat kalimat berdasarkan modusnya yaitu kalimat deklaratif, imperatif, dan interjektif, dan faktor-faktor yang mempengaruhinya. Peneliti tidak akan membahas hal-hal lain di luar masalah-masalah yang telah disebutkan di atas.
1.4 Tujuan Penelitian Penelitian ini bertujuan untuk:
1. Mengetahui pemerolehan bahasa Indonesia anak usia dua tahun dan tiga tahun pada tingkat kalimat berdasarkan modusnya.
2. Mengetahui perbedaan pemerolehan bahasa Indonesia anak usia dua tahun dan tiga tahun pada tingkat kalimat berdasarkan modusnya.
3. Mengetahui faktor-faktor yang mempengaruhi pemerolehan sintaksis bahasa Indonesia anak usia dua tahun dan tiga tahun.
1.5 Manfaat Penelitian Manfaat yang diharapkan dari penelitian ini antara lain:
Universitas Sumatera Utara

1.5.1 Manfaat Teoretis 1. Penelitian ini diharapkan sebagai salah satu bahan informasi dalam hal
penelitian tentang pemerolehan sintaksis bahasa Indonesia anak usia dua tahun dan tiga tahun. 2. Penelitian diharapkan pula sebagai bahan masukan bagi penelitian yang relevan, khususnya dalam hal pemerolehan bahasa anak usia di bawah lima tahun. 1.5.2 Manfaat Praktis Penelitian ini diharapkan menjadi bahan masukan bagi para orang tua yang memiliki anak usia dini, khususnya yang berusia dua tahun dan tiga tahun agar mengetahui perkembangan sintaksis yang dialami anaknya, sehingga pada gilirannya dapat mengetahui apakah perkembangan bahasa anaknya berada pada tahap yang semestinya.
Universitas Sumatera Utara

BAB II KONSEP, LANDASAN TEORI, DAN TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Konsep 2.1.1 Pemerolehan Bahasa
Pemerolehan bahasa atau akuisisi bahasa adalah proses yang berlangsung di dalam otak anak-anak ketika dia memperoleh bahasa pertamanya atau bahasa ibunya. Pemerolehan bahasa biasanya dibedakan dengan pembelajaran bahasa. Pembelajaran bahasa berkaitan dengan proses-proses yang terjadi pada waktu seorang anak-anak mempelajari bahasa kedua setelah dia memperoleh bahasa pertamanya. Jadi, pemerolehan bahasa berkenaan dengan bahasa pertama, sedangkan pembelajaran bahasa berkenaan dengan bahasa kedua (Simanjuntak, 1986).
Schutz (2006:12) mengutip Krashen yang mendefenisikan pemerolehan bahasa sebagai "the product of a subconscious process very similar to the process children undergo when they acquire their first language. Dengan kata lain pemerolehan bahasa adalah proses bagaimana seseorang dapat berbahasa atau proses anak-anak pada umumnya memperoleh bahasa pertama.
Pemerolehan bahasa pada anak usia dua sampai tiga tahun terjadi secara alamiah. Pemeroleh bahasa biasanya secara natural artinya pemerolehan bahasa yang terjadi secara alamiah tanpa disadari bahwa seorang anak tengah memperoleh bahasa, tetapi hanya sadar akan kenyataan bahwa ia tengah menggunakan bahasa untuk berkomunikasi. Schutz menambahkan hasil dari pemerolehan bahasa yakni
Universitas Sumatera Utara

kompetensi yang diperoleh juga bersifat alamiah. Anak pada umumnya memperoleh bahasa secara alamiah dari lingkungannya tanpa proses belajar secara formal di bangku sekolah. Pemerolehan bahasa secara alamiah ini tidak dikaitkan secara ketat, tetapi pemerolehan bahasa itu diperoleh sesuai dengan perkembangan otak dan fisik anak itu sendiri.
Menurut Sigel dan Cocking (2000:5) pemerolehan bahasa merupakan proses yang digunakan oleh anak-anak untuk menyesuaikan serangkaian hipotesis dengan ucapan orang tua sampai dapat memilih kaidah tata bahasa yang paling baik dan sederhana dari bahasa yang bersangkutan.
Pemerolehan bahasa umumnya berlangsung di lingkungan masyarakat bahasa target dengan sifat alami dan informal serta lebih merujuk pada tuntutan komunikasi. Berbeda dengan belajar bahasa yang berlangsung secara formal dan artifisial serta merujuk pada tuntutan pembelajaran (Schutz, 2006:12), dan pemerolehan bahasa dibedakan menjadi pemerolehan bahasa pertama dan pemerolehan bahasa kedua. Pemerolehan bahasa pertama terjadi jika anak belum pernah belajar bahasa apapun, lalu memperoleh bahasa. Pemerolehan ini dapat satu bahasa atau monolingual FLA (First Language Acquisition), dapat juga dua bahasa secara bersamaan atau berurutan (bilingual FLA). Bahkan dapat lebih dari dua bahasa (multilingual FLA). Sedangkan pemerolehan bahasa kedua terjadi jika seseorang memperoleh bahasa setelah menguasai bahasa pertama atau merupakan proses seseorang mengembangkan keterampilan dalam bahasa kedua atau bahasa asing.
Universitas Sumatera Utara

Menurut Vygotsky pemerolehan bahasa pertama diperoleh dari interaksi anak dengan lingkungannya, walaupun anak sudah memiliki potensi dasar atau piranti pemerolehan bahasa yang oleh Chomsky disebut language acquisition device (LAD), potensi itu akan berkembang secara maksimal setelah mendapat stimulus dari lingkungan.
Chomsky dalam Schutz (2006:1) tampaknya setuju dengan hakikat dasar masalah bahasa. Dalam analisis tentang pemerolehan bahasa, ia berpendapat bahwa misteri perbuatan belajar berasal dari dua fakta utama tentang penggunaan bahasa, yakni bahasa itu taat asas dan kreatif. Lanjut Chomsky, penutur yang mengetahui konstituen dan pola gramatikal dapat menuturkannya kendati belum mendengarnya, begitu juga pengamat tidak dapat berharap mampu membuat daftar konstituen, dan pola gramatikal itu karena kemungkinan kombinasinya itu tak terbatas.
Menurut Bloomfield, tata bahasa merupakan pemerian analog yang sesuai dengan suatu bahasa, dan belajar adalah seperangkat prosedur penemuan yang dengan cara itu seorang anak membentuk analogi-analogi. Pemerolehan bahasa berproses tanpa kompetensi tentang aturan-aturan bahasa, tetapi lebih memperhatikan pesan atau makna yang dipahami. Berbeda dengan belajar bahasa membutuhkan kompetensi bahasa sebagai modal bagi penggunaan bahasa yang dipelajari.
Selama pemerolehan bahasa pertama, Chomsky menyebutkan bahwa ada dua proses yang terjadi ketika seorang kanak-kanak memperoleh bahasa pertamanya. Proses yang dimaksud adalah proses kompetensi dan proses performansi. Kedua proses ini merupakan dua proses yang berlainan. Kompetensi adalah proses
Universitas Sumatera Utara

penguasaan tata bahasa (fonologi, morfologi, sintaksis, dan semantik) secara alamiah. Kompetensi ini dibawa oleh setiap anak sejak lahir. Meskipun dibawa sejak lahir, kompetensi memerlukan pembinaan sehingga anak-anak memiliki performansi dalam berbahasa. Performansi adalah kemampuan anak menggunakan bahasa untuk berkomunikasi. Performansi terdiri dari dua proses, yaitu proses pemahaman dan proses penerbitan kalimat-kalimat. Proses pemahaman melibatkan kemampuan mengamati atau mempersepsi kalimat-kalimat yang didengar, sedangkan proses penerbitan melibatkan kemampuan menghasilkan kalimat-kalimat sendiri (Simanjuntak, 1986).
Selanjutnya, Chomsky juga beranggapan bahwa pengguna bahasa mengerti struktur dari bahasanya yang membuat seseorang dapat mengkreasikan kalimatkalimat baru yang tidak terhitung jumlahnya dan membuat seseorang mengerti kalimat-kalimat tersebut. Jadi, kompetensi adalah pengetahuan intuitif yang dimiliki seorang individu mengenai bahasa ibunya (native languange). Intuisi linguistik ini tidak begitu saja ada, tetapi dikembangkan pada anak sejalan dengan pertumbuhannya, sedangkan performansi adalah sesuatu yang dihasilkan oleh kompetensi.
Hal yang patut dipertanyakan adalah bagaimana strategi anak dalam memperoleh bahasa pertamanya dan apakah setiap anak memiliki strategi yang sama dalam memperoleh bahasa pertamanya? Berkaitan dengan hal ini, Dardjowidjojo, (2005:243-244) menyebutkan bahwa pada umumnya kebanyakan ahli kini berpandangan bahwa anak di mana pun juga memperoleh bahasa pertamanya dengan
Universitas Sumatera Utara

memakai strategi yang sama. Kesamaan ini tidak hanya dilandasi oleh biologi dan neurologi manusia yang sama, tetapi juga oleh pandangan mentalistik yang menyatakan bahwa anak telah dibekali dengan bekal kodrati pada saat dilahirkan. Di samping itu, dalam bahasa juga terdapat konsep universal sehingga anak secara mental telah mengetahui kodrat-kodrat yang universal ini. Chomsky mengibaratkan anak sebagai entitas yang seluruh tubuhnya telah dipasang tombol serta kabel listrik: mana yang dipencet, itulah yang akan menyebabkan bola lampu tertentu menyala. Jadi, bahasa mana dan wujudnya seperti apa ditentukan oleh input sekitarnya.
2.2 Landasan Teori 2.2.1 Pemerolehan Bahasa Menurut Chomsky
Sebagai wujud dari reaksi keras atas Behaviorisme pada akhir era 1950-an, Chomsky yang merupakan seorang nativis menyerang teori Skinner yang menyatakan bahwa pemerolehan bahasa itu bersifat nurture atau dipengaruhi oleh lingkungan. Chomsky berpendapat bahwa pemerolehan bahasa itu berdasarkan pada nature karena menurutnya ketika anak dilahirkan ia telah dengan dibekali dengan sebuah alat tertentu yang membuatnya mampu mempelajari suatu bahasa. Alat tersebut disebut dengan Piranti Pemerolehan Bahasa (Language Acquisition Device) yang bersifat universal yang dibuktikan oleh adanya kesamaan pada anak-anak dalam proses pemerolehan bahasa mereka (Dardjowidjojo, 2005:235-236).
Noam Chomsky berpendapat bahwa seorang anak telah dilahirkan dengan kecakapan alami untuk menguasai bahasa apabila anak sudah sampai pada peringkat
Universitas Sumatera Utara

kematangan tertentu. Pada tiap-tiap peringkat kematangan, anak tersebut akan membentuk hipotesis-hipotesis terhadap aturan-aturan yang ada dalam bahasa yang digunakannya di dalam komunikasi sehari-hari dengan orang-orang di sekitarnya. Semua perbaikan atas kesalahan yang dibuatnya akan mempertegas lagi aturan-aturan bahasa yang tersimpan di dalam otaknya.
Jadi, pemerolehan bahasa bukan didasarkan pada nurture (pemerolehan itu ditentukan oleh alam lingkungan) tetapi pada nature. Artinya anak memperoleh bahasa seperti dia memperoleh kemampuan untuk berdiri dan berjalan. Anak tidak dilahirkan sebagai tabularasa, tetapi telah dibekali dengan Innate Properties (bekal kodrati) yaitu Faculties of the Mind (kapling minda) yang salah satu bagiannya khusus untk memperoleh bahasa, yaitu Language Acquisition Device. LAD ini dianggap sebagai bagian fisiologis dari otak yang khusus untuk mengolah masukan (input) dan menentukan apa yang dikuasai lebih dahulu seperti bunyi, kata, frasa, kalimat, dan seterusnya. Meskipun kita tidak tahu persis tepatnya dimana LAD itu berada karena sifatnya yang abstrak.
2.2.2 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pemerolehan Bahasa Anak dalam memperoleh bahasa pertama bervariasi, ada yang lambat, sedang,
bahkan ada yang cepat. Hal ini tentu sangat dipengaruhi oleh beberapa faktor seperti yang dikemukakan oleh Chomsky, Piaget, Lenneberg dan Slobin berikut ini:
Universitas Sumatera Utara

a. Faktor Alamiah. Yang dimaksudkan di sini adalah setiap anak lahir dengan seperangkat
prosedur dan aturan bahasa yang dinamakan oleh Chomsky Language Acquisition Divice (LAD). Potensi dasar itu akan berkembang secara maksimal setelah mendapat stimulus dari lingkungan. Proses pemerolehan melalui piranti ini sifatnya alamiah. Karena sifatnya alamiah, maka kendatipun anak tidak dirangsang untuk mendapatkan bahasa, anak tersebut akan mampu menerima apa yang terjadi di sekitarnya. Slobin mengatakan bahwa yang dibawa lahir ini bukanlah pengetahuan seperangkat kategori linguistik yang semesta, seperti dikatakan oleh Chomsky. Prosedur-prosedur dan aturan-aturan yang dibawa sejak lahir itulah yang memungkinkan seorang anak untuk mengolah data linguistik.
b. Faktor Perkembangan Kognitif. Perkembangan bahasa seseorang seiring dengan perkembangan kognitifnya.
Keduanya memiliki hubungan yang komplementer. Pemerolehan bahasa dalam prosesnya dibantu oleh perkembangan kognitif, sebaliknya kemampuan kognitif akan berkembang dengan bantuan bahasa. Keduanya berkembang dalam lingkup interaksi sosial.
Piaget dalam Brainerd seperti dikutip Ginn (2006) mengartikan kognitif sebagai sesuatu yang berkaitan dengan pengenalan berdasarkan intelektual dan merupakan sarana pengungkapan pikiran, ide, dan gagasan. Termasuk, kegiatan kognitif; aktivitas mental, mengingat, memberi simbol, mengkategorikan atau
Universitas Sumatera Utara

mengelompokkan, memecahkan masalah, menciptakan, dan berimajinasi. Hubungannnya dengan mempelajari bahasa, kognitif memiliki keterkaitan dengan pemerolehan bahasa seseorang.
Menurut Lenneberg (1967), dalam usia dua tahun (kematangan kognitif) hingga usia pubertas, otak manusia itu masih sangat lentur yang memungkinkan seorang anak untuk memperoleh bahasa pertama dengan mudah dan cepat. Lanjut Lenneberg, pemerolehan bahasa secara alamiah sesudah pubertas akan terhambat oleh selesainya fungsi-fungsi otak tertentu, khususnya fungsi verbal di bagian otak sebelah kiri.
Piaget (1955) memandang anak dan akalnya sebagai agen yang aktif dan konstruktif yang secara perlahan-lahan maju dalam kegiatan usaha sendiri yang terus menerus. Anak-anak sewaktu bergerak menjadi dewasa memperoleh tingkat pemikiran yang secara kualitatif berbeda, yaitu menjadi meningkat lebih kuat. Piaget berpendapat bahwa kemampuan merepresentasikan pengetahuan itu adalah proses konstruktif yang mensyaratkan serangkaian langkah perbuatan yang lama terhadap lingkungan.
Menurut Slobin (1977), perkembangan umum kognitif dan mental anak adalah faktor penentu pemerolehan bahasa. Seorang anak belajar atau memperoleh bahasa pertama dengan mengenal dan mengetahui cukup banyak struktur dan fungsi bahasa, dan secara aktif ia berusaha untuk mengembangkan batas-batas pengetahuannya mengenai dunia sekelilingnya, serta mengembangkan keterampilanketerampilan berbahasanya menurut strategi-strategi persepsi yang dimilikinya.
Universitas Sumatera Utara

Lanjut Slobin, pemerolehan linguistik anak sudah diselesaikannya pada usia kira-kira 3-4 tahun, dan perkembangan bahasa selanjutnya dapat mencerminkan pertumbuhan kognitif umum anak itu.
c. Faktor Latar Belakang Sosial. Latar belakang sosial mencakup struktur keluarga, afiliasi kelompok sosial,
dan lingkungan budaya memungkinkan terjadinya perbedaan serius dalam pemerolehan bahasa anak (Vygotsky, 1978). Semakin tinggi tingkat interaksi sosial sebuah keluarga, semakin besar peluang anggota keluarga (anak) memperoleh bahasa. Sebaliknya semakin rendah tingkat interaksi sosial sebuah keluarga, semakin kecil pula peluang anggota keluarga (anak) memperoleh bahasa. Hal lain yang turut berpengaruh adalah status sosial. Anak yang berasal dari golongan status sosial ekonomi rendah rnenunjukkan perkembangan kosakatanya lebih sedikit sesuai dengan keadaan keluarganya. Misalnya, seorang anak yang berasal dari keluarga yang sederhana hanya mengenal lepat, ubi, radio, sawah, cangkul, kapak, atau pisau karena benda-benda tersebut merupakan benda-benda yang biasa ditemukannya dalam kehidupannya sehari-hari. Sedangkan anak yang berasal dari keluarga yang memiliki status ekonomi yang lebih tinggi akan memahami kosakata seperti mobil, televisi, komputer, internet, dvd player, laptop, game, facebook, ataupun KFC, karena benda-benda tersebut merupakan benda-benda yang biasa ditemukannya dalam kehidupannya sehari-hari.
Universitas Sumatera Utara

Perbedaan dalam pemerolehan bahasa menunjukkan bahwa kelompok menengah lebih dapat mengeksplorasi dan menggunakan bahasa yang eksplisit dibandingkan dengan anak-anak golongan bawah, terutama pada dialek mereka. Kemampuan anak berinteraksi dengan orang lain dengan cara yang dapat dipahami penting intinya untuk menjadi anggota kelompok. Anak yang mampu berkomunikasi dengan baik akan diterima lebih baik oleh kelompok sosial dan mempunyai kesempatan yang lebih baik untuk memerankan kepemimpinannya ketimbang anak yang kurang mampu berkomunikasi atau takut menggunakannya.
d. Faktor Keturunan. Faktor keturunan meliputi:
1. Intelegensia. Pemerolehan bahasa anak turut juga dipengaruhi oleh intelegensia yang
dimiliki anak. Ini berkaitan dengan ka