SERTIFIKASI BENIH PADI HIBRIDA DI BALAI PENGAWASAN DAN SERTIFIKASI BENIH JAWA TENGAH

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

SERTIF
FIKASI BE
ENIH PAD I HIBRIDA
A
DI BA
ALAI PENG
GAWASAN
N DAN SERTIFIKAS
SI BENIH
JAWA
A TENGAH
H

TUGA
AS AKHIR
Sebagian Persyarata
Untuk Memenuhi
M
P
n
Gu
una Memp eroleh Derrajat Ahli Madya
M
Perttanian
D i Fakultas Pertanian Universitaas Sebelas M
Maret

usan / Prog
gram Studi Agribisniss Hortikulttura Dan
Juru
Arsitektu r Pertaman
nan

Disussun Oleh :
DANIE
EL BAYU P
H 33308011

PROGRAM
P
M DIPLOM
MA III
AG
GRIBISNIS
S HORTIK
KULTURA DAN ARSIITEKTUR
R PERTAM
M ANAN
FAKULTA
F
S PERTAN
NIAN
UNIV
VERSITAS SEBELAS
S MARET
SURA
AKARTA
22011
PENG
GESAHAN

commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

Yang bertanda tangan di bawah ini telah membaca Laporan Tugas Akhir dengan
Judul :

SERTIFIKASI BENIH PADI HIBRIDA
DI BALAI PENGAWASAN DAN SERTIFIKASI BENIH
JAWA TENGAH

Yang dipersiapkan dan disusun oleh :
Daniel Bayu P
H 3308011

Telah dipertahankan di depan dosen penguji pada tanggal : ....................
Dan dinyatakan telah memenuhi syarat untuk diterima.

Penguji
Ketua

Anggota

Ir. Djoko Mursito, MP.

Drs. Sugijono. MP.

NIP.194812021978111001

NIP.194709161980031001

Surakarta,

Mei 2011

Universitas Sebelas Maret Surakarta
Fakultas Pertanian
Dekan,

Prof. Dr. Ir. Bambang Pujiasmanto, MS.
NIP. 195602251986011001

commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

KATA PENGANTAR

Syukur Alhamdulillah penulis panjatkan kehadirat Allah SWT karena atas
taufik dan hidayatNya penulis mampu menyelesaikan laporan Tugas Akhir ini.
Dalam menyelesaikan penulisan laporan Tugas Akhir ini tentunya tidaklah
lepas dari bantuan berbagai pihak, untuk itu penulis mengucapkan terima kasih
kepada :
1.

Dekan Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret Surakarta.

2.

Bapak Ir. Heru Irianto, MM selaku Ketua Program Studi DIII Agribisnis
Universitas Sebelas Maret Surakarta.

3.

Bapak Ir. Panut Sahari, MP selaku Ketua Minat Program Studi DIII Agribisnis
Universitas Sebelas Maret Surakarta.

4.

Bapak Ir. Djoko Mursito, MP selaku Dosen Pembimbing.

5.

Bapak Kepala Pimpinan Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih Jawa
Tengah.

6.

Ayah, Ibu serta semua keluarga yang ada di rumah, terima kasih atas semua
kasih sayang dan dorongan semangat yang telah diberikan.
Penulis menyadari bahwa laporan ini masih jauh dari kesempurnaan. Oleh

karena itu kritik dan saran yang menuju sempurnanya laporan ini senantiasa kami
harapkan. Akhir kata, penulis mohon maaf bila dalam laporan ini terdapat kata-kata
yang kurang berkenan. Harapan penulis, semoga laporan ini dapat bemanfaat bagi
penulis pada khususnya dan bagi pembaca semua pada umumnya.

Surakarta,

Penyusun

commit to user

Mei 2011

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL ..........................................................................

i

HALAMAN PENGESAHAN .............................................................

ii

KATA PENGANTAR ........................................................................

iii

DAFTAR ISI .....................................................................................

iv

DAFTAR TABEL ..............................................................................

vi

I. PENDAHULUAN .........................................................................

1

A. Latar Belakang .......................................................................

1

B. Tujuan ....................................................................................

2

1. Tujuan Umum ....................................................................

2

2. Tujuan Khusus ...................................................................

3

II. TINJAUAN PUSTAKA ................................................................

4

III. TATALAKSANA PELAKSANAAN ............................................

11

A. Tempat Dan Waktu Pelaksanaan ..............................................

11

1. Tempat Pelaksanaan Magang .............................................

11

2. Waktu Pelaksanaan Magang ...............................................

11

B. Cara Pelaksanaan ....................................................................

12

1. Metode Dasar ....................................................................

12

2. Metode Pengumpulan Data .................................................

12

3. Metode Analisis Data .........................................................

12

4. Metode Analisis Usaha Tani ...............................................

12

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN ......................................................

13

A. Kondisi Umum Lokasi ............................................................

13

1. Sejarah Berdirinya Lokasi ..................................................

14

2. Keadaan kebun dan Laboratorium ......................................

18

3. Administrasi dan Manajemen .............................................

20

B. Usaha Tani ..............................................................................

22

C. Pembahasan ............................................................................

24

V. KESIMPULAN DAN SARAN ......................................................

31

A. Kesimpulan .............................................................................

31

B. Saran ......................................................................................

32

DAFTAR PUSTAKA

commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

LAMPIRAN

commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Dewasa ini produksi benih padi berlangsung melalui sistem “Jalur Benih
Antar-Lapang dan Musim” atau lebih populer disebut Jabalsim. Dalam sistem
Jabalsim, produsen atau sumber benih adalah penangkar berskala usaha kecil yang
jumlahnya masih terbatas dan petani yang menanam padi hibrida untuk tujuan
konsumsi. Sistem Jabalsim berperan penting dalam penyediaan benih padi
mengingat benih yang diproduksi tidak perlu disimpan lama, sehingga resiko
menurunnya daya tumbuh benih dapat dihindari dan sumber benih dekat dengan
lokasi pengembangan padi.
Benih

yang

dihasilkan

tergantung

pada

kualitas

benih

dan

cara

penanamannya, serta keadaan alam. Biji yang terpilih untuk dijadikan benih
dijemur kembali menggunakan alas berupa tikar, terpal, atau plastik dengan
ketebalan benih 2-3cm, pada pukul 08.00-12.00 selama 2-3 hari hingga berkadar
air 9-10%. Benih dikemas dalam kantong plastik dengan ketebalan 0,08 mm dan
kapasitas 5 kg per kemasan. Benih kemudian disimpan pada ruangan yang kondusif
(tidak lembab, tidak bocor, aman dari gangguan hama). Di tempat penyimpanan,
kantong plastik yang berisi benih tersebut ditaruh pada balok kayu agar tidak
menyentuh lantai semen atau lantai tanah. Untuk skala besar, benih dapat disimpan
pada ruangan ber-AC, khususnya dalam pengeringan benih dengan sinar matahari
(Imran, 2002).
Ketersediaan benih yang bermutu dalam jumlah banyak, cepat dan seragam
merupakan langkah awal untuk menunjang pengembangan tanaman. Keberhasilan
pengembangan varietas unggul padi hibrida ditentukan oleh berbagai aspek,
terutama ketersediaan benih dan mutu benih itu sendiri. Penggunaan benih bermutu
tinggi merupakan prasyarat utama dalam budi daya padi hibrida. Oleh karena itu,
pengembangan varietas unggul menuntut penyediaan benih yang bermutu tinggi
dalam jumlah yang cukup dan tersedia tepat waktu (Anonim, 2004).
Persyaratan dan tata cara sertifikasi benih bina tanaman pangan merupakan
pedoman sertifikasi secara umum, dan sekaligus merupakan tindak lanjut
penerapan di lapangan terhadap ketentuan-ketentuan mengenai sertifikasi benih

commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

yang

tertuang

digilib.uns.ac.id

dalam

Peraturan

Menteri

Pertanian

Nomor

39/Permentan/OT.140/8/2006.
Sampai saat ini Indonesia masih mengimpor indukan benih hibrida dari
China dan India. Oleh karena itu benih padi hibrida sangat potensial untuk
dikembangkan, asal dikembangkan dengan berbasis pada teknologi petani dan
tetap mengacu pada ketentuan-ketentuan sertifikasi benih padi yang telah
ditentukan oleh pemerintah.
Berdasarkan uraian di atas, dalam penyusunan Laporan Tugas Akhir ini
penulis akan membahas yang berkaitan tentang benih padi hibrida dengan judul
“Sertifikasi Benih Padi Hibrida di Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih
Jawa Tengah”.

B. Tujuan
1. Tujuan Umum
a. Meningkatkan pengetahuan mahasiswa mengenai hubungan antara teori
dengan penerapannya di dunia kerja (lapangan) serta faktor-faktor yang
mempengaruhinya sehingga dapat merupakan bekal bagi mahasiswa setelah
terjun di masyarakat.
b. Meningkatkan ketrampilan dan pengalaman kerja di bidang agribisnis.
c. Meningkatkan wawasan mahasiswa tentang berbagai kegiatan agribisnis.
d. Meningkatkan

hubungan

antara

perguruan

tinggi

dengan

Instansi

pemerintah, perusahaan swasta dan masyarakat, dalam rangka meningkatkan
kualitas Tri Darma Perguruan Tinggi.
2. Tujuan Khusus
a. Mengetahui dan memahami secara langsung tentang sertifikasi benih Padi
Hibrida yang dilakukan di Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih Jawa
Tengah.
b. Memperoleh

pengalaman

kerja

secara

langsung

sehingga

dapat

membandingkan antara teori yang telah diperoleh dengan aplikasinya di
lapangan khususnya tentang sertifikasi benih padi hibrida.

commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian Sertifikasi Benih
Sertifikasi benih adalah suatu sistem atau mekanisme pengujian benih
berkala untuk mengarahkan, mengendalikan, dan mengorganisasi perbanyakan dan
produksi benih. Sertifikasi benih merupakan sistem berbadan resmi untuk
perbanyakan dan produksi benih yang terkontrol. Tujuannya adalah untuk
memelihara dan menyediakan benih serta bahan perbanyakan tanaman bermutu
tinggi dari varietas berdaya hasil tinggi bagi masyarakat sehingga dapat ditanam
dan didistribusikan dengan identitas genetik yang terjamin. Dengan kata lain,
tujuan sertifikasi benih adalah untuk memberikan jaminan bagi pembeli benih
(petani atau penangkar benih) tentang beberapa aspek mutu yang penting, yang
tidak dapat ditentukan dengan segera, dengan hanya memeriksa benihnya saja.
Penerimaan manfaat dari sertifikasi benih adalah perkembangan pertanian
karena sistem dan program sertifikasi benih yang efektif memungkinkan benih
bermutu tinggi tersedia bagi petani. Pedagang benih memperoleh manfaat karena
benih yang disertifikasi merupakan sumber pasokan benih yang otentik dan tinggi
mutunya.

Produsen

benih

memperoleh

manfaat

karena

sertifikasi

benih

memungkinkan tersedianya program pengendalian mutu yang ketat, yang lazimnya
di luar kemampuannya. Petani memperoleh manfaat karena dapat mengharapkan
bahwa benih bersertifikat yang dibelinya akan memiliki sifat-sifat varietas yang
diinginkan (Mugnisjah,1991).
Adapun kegiatan-kegiatan dalam proses sertifikasi benih yaitu cek plot,
pemeriksaan lapang pendahuluan, pemeriksaan lapang fase vegetatif, pemeriksaan
lapang fase berbunga/generatif, pemeriksaan lapang fase menjelang panen,
pengambilan contoh benih, dan pemeriksaan alat panen dan pengolahan.
Cek plot/perbandingan tanaman adalah suatu kegiatan percobaan lapangan
untuk membandingkan hasil pengujian di laboratorium dengan kenampakan fisik
tanaman di lapangan, dalam rangka menunjang operasional sertifikasi benih,
khususnya yang berkaitan dengan campuran varietas lain. Kegiatan ini dapat
dijadikan sebagai pembanding terhadap areal sertifikasi.
Benih Bersertifikat adalah benih yang proses produksinya melalui

commit to user
sertifikasi benih, sertifikasi sistem manajemen
mutu dan / atau sertifikasi produk.

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

Dalam peraturan yang tertuang dalam Peraturan Menteri Pertanian Nomor
39/Permentan/OT.140/8/2006 adalah sebagai berikut :
1. Benih Bina adalah benih dari varietas unggul yang telah dilepas, yang produksi
dan peredarannya diawasi.
2. Benih Tanaman yangs selanjutnya disebut benih adalah tanaman atau bagiannya
yang digunakan untuk memperbanyak dan /atau mengembang biakkan tanaman.
3. Benih Bersertifikat adalah benih yang proses produksinya melalui sertifikasi
benih, sertifikasi sistem manajemen mutu dan / atau sertifikasi produk.
4. Sertifikasi Benih adalah proses pemberian sertifikat benih tanaman setelah
melalui pemeriksaan lapangan dan atau pengujian, pengawasan serta memenuhi
semua persyaratan dan standar benih bina.
5. Sertifikat Benih Bina adalah dokumen yang menyatakan kesesuaian antara hasil
kegiatan sertifikasi benih bina dengan persyaratan dan standar mutu benih bina.
6. Produsen Benih Bina adalah perorangan, badan hukum atau instansi pemerintah
yang melakukan proses produksi benih bina.
7. Varietas adalah bagian dari suatu jenis yang ditandai oleh bentuk tanaman,
pertumbuhan, daun, bunga, buah, biji dan sifat-sifat lain yang dapat dibedakan
dalam jenis yang sama.
8. Varietas Lain adalah tanaman atau benih yang dapat dibedakan dari varietas
yang merupakan sifat-sifat dari varietas itu sebagaimana yang telah ditetapkan
dalam deskripsi.
9. Perbanyakan Vegetatif adalah perbanyakan tanaman tidak melalui perkawinan.
10. Perbanyakan Generatif adalah perbanyakan tanaman melalui perkawinan sel-sel
reproduksi.
11. Tipe Simpang adalah tanaman atau benih yang menyimpang dari sifat-sifat
suatu varietas sampai diluar batas kisaran yang telah ditetapkan oleh pemulia.
12. Segregan/Varian adalah benih atau turunan yang menunjukkan ciri-ciri berbeda
dari varietas, namun dari latar belakang genetisnya dapat diduga sebagai bagian
dari varietas yang telah dilepas sehingga varian tidak dianggap sebagai tipe
simpang.
13. Benih Penjenis (Breeder Seed) adalah benih yang diproduksi di bawah
pengawasan pemulia yang bersangkutan dengan prosedur baku yang memenuhi
sertifikasi sistem mutu sehingga tingkat kemurnian genetik varietas (true-to-

commit to user
type) terpelihara dengan sempurna.

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

14. Benih Dasar adalah keturunan pertama dari Benih Penjenis yang memenuhi
standar mutu kelas Benih Dasar.
15. Benih Pokok adalah keturunan pertama dari Benih Dasar atau Benih Penjenis
yang memenuhi standar mutu kelas Benih Pokok.
16. Benih Sebar adalah keturunan pertama dari Benih Pokok, Benih Dasar atau
Benih Penjenis yang memenuhi standar mutu kelas Benih Sebar.
17. Benih Hibrida adalah keturunan pertama (F1) yang dihasilkan dari persilangan
antara 2 (dua) atau lebih tetua pembentuknya dan/atau galur induk/non hibrida
homozigot.
18. Materi Induk adalah tanaman dan/atau bagiannya yang digunakan sebagai bahan
perbanyakan benih.
19. Galur adalah kelompok tanaman yang sudah seragam (homozigot).
20. Varietas Padi Non Hibrida (Bukan Hibrida) adalah varietas padi yang produksi
benihnya dilakukan melalui penyerbukan sendiri dan terjadi secara alami.
21. Galur Mandul Jantan atau CMS (Cytoplasmic Male Sterile) yang juga disebut
Galur A, adalah galur yang mempunyai tepungsari mandul sehingga tidak
mampu menyerbuk sendiri.
22. Galur Pelestari atau Maintainer yang juga disebut Galur B, adalah galur
pasangan galur A sebagai sumber tepungsari dalam produksi benih galur A.
23. Galur Pemulih Kesuburan atau Restorer yang juga disebut Galur R, adalah galur
yang mempunyai kemampuan memulihkan kesuburan (tepungsari) galur CMS,
sehingga digunakan sebagai sumber tepungsari dalam produksi benih padi
hibrida.
24. Galur Tetua adalah galur yang digunakan untuk memproduksi benih padi,
hibrida, terdiri dari galur A, galur B, dan galur R.
25. Pemeriksaan Lapangan Sistem Check Plot (Perbandingan Tanaman) adalah
suatu kegiatan untuk mengevaluasi keaslian dan kemurnian varietas dengan
menanam benih varietas tersebut dan membandingkannya dengan tanaman yang
berasal dari contoh benih otentik.
26. Standar Mutu adalah spesifikasi teknis benih bina yang baku mencakup mutu
fisik, genetik, fisiologis dan atau kesehatan benih
27. Label adalah keterangan tertulis yang diberikan pada benih atau benih yang
sudah dikemas yang memuat tempat asal benih, jenis, varietas, kelas benih, data

commit
to user
mutu bersih, akhir masa edar benih
dan atau
berat/jumlah benih.

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

28. Voluntir adalah tanaman yang tumbuh pada areal penangkaran benih, yang
berasal dari tanaman musim sebelumnya.
29. Asesmen adalah penilaian kesesuaian terhadap standar yang telah ditetapkan.
30. Survailen adalah suatu kegiatan untuk melakukan penilaian apakah sistem mutu
yang telah disetujui diterapkan secara berkesinambungan atau tidak.
31. Asesmen Ulang adalah kegiatan asesmen untuk perpanjangan Sertifikat
Sertifikasi Sistem Manajemen Mutu.

B. Pengertian Padi Hibrida
Hibrida adalah produk persilangan antara dua tetua padi yang berbeda
secara genetik. Apabila tetua-tetua diseleksi secara tepat, maka hibrida turunannya
akan memiliki vigor dan daya hasil yang lebih tinggi daripada kedua tetua tersebut.
Dalam biologi, hibrida memiliki tiga arti.
1. Hibrida merupakan keturunan (zuriat, progeni) dari dua varietas, subspesies,
spesies, atau dua genus yang berbeda. Untuk dua yang pertama, hibridanya
disebut hibrida intraspesifik, untuk yang ketiga disebut hibrida interspesifik,
dan yang terakhir disebut intergenerik.
2. Hibrida merupakan silangan antarpopulasi, antarkultivar, atau antargalur
hibrida dalam suatu spesies. Pengertian ini sering dipakai dalam pemuliaan
tanaman (artikel varietas hibrida).
3. Hibrida memiliki arti berbeda di bidang biologi molekular, lihat hibridisasi
(biologi molekular). Dalam pertanian, yang dimaksud dengan varietas hibrida
adalah tipe kultivar yang berupa keturunan langsung dari persilangan antara
dua atau lebih populasi pemuliaan. Populasi pemuliaan yang dipakai dapat
berupa varietas bersari bebas (baik sintetik maupun komposit) ataupun
galur/lini. Varietas hibrida dibuat untuk mengambil manfaat dari munculnya
kombinasi yang baik dari tetua yang dipakai. Jagung hibrida dan padi hibrida
memiliki daya tumbuh yang lebih tinggi, relatif lebih tahan penyakit, dan
potensi hasilnya lebih tinggi. Ini terjadi karena munculnya gejala heterosis
yang hanya dapat terjadi pada persilangan. Pada kelapa hibrida, gejala heterosis
tidak dimanfaatkan, tetapi dua sifat baik dari kedua tetua yangtergabung pada
keturunannya dimanfaatkan. Kelapa sawit yang dibudidayakan juga merupakan
hibrida dengan alasan yang sama.

commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

Pada prinsip rangkian proses produksi benih padi hibrida sama dengan
produksi benih padi bersetifikat. Perbedaan terdapat pada tahapan penyiapan galur
induk jantan dan betina yang berasal dari jenis yang berbeda sifat genetiknya.
Sebagai contoh adalah jantan mempunyai sifat genetik produksinya tinggi (diatas 5
ton per hektar) sedangkan induk betina mempunyai sifat genetik enak rasanya.
Pada umumnya persilangan kedua galur jantan dan betina ini sudah diuji berulang
kali melalui penelitian yang panjang. Teknologi produksi benih hibrida sangat
berbeda dari varietas non hibrida. Benih hibrida harus diproduksi setiap musim
tanam, dan dipertahankan kemurnian genetiknya hingga lebih dari 98% agar
dicapai hasil yang memuaskan. Sebagai contoh kasus produksi benih hibrida akan
disampaikan berdasarkan hasil penelitian IRRI (International Rice Research
Institute) yang berlokasi di Filipina yaitu varietas Magat (PSB Rc26H, lama
penanaman 110 hari dengan rata-rata produksi 5.6 ton/ha), Metsizo (PSB Rc72H
dengan waktu penanaman 123 hari dan rata-rata hasil 5.4 t/ha) dan Panay (PSB
Rc76H dengan waktu penanaman selama 106 hari dan hasil produksi rata-rata 4.8
t/ha). Benih padi hibrida dihasilkan ketika sel telur dari induk betina buahi oleh
serbuksari dari anther varietas yang berbeda atau galur yang digunakan sebagai
induk jantan. Hasil persilangan kedua induk tersebut disebut sebagai “First
Generation” atau turunan generasi pertama atau “first filial generation” dan
dikenal dengan istilah (F1) yang merupakan hasil penyilangan antara dua varietas
padi yang berbeda secara genetik. Padi hibrida pada umumnya memberi peluang
hasil produksi yang lebih tinggi, IRRI (2006)
Benih padi hibrida F1 menghasilkan keuntungannya sekitar 10-15%
dibandingkan dengan varietas yang dihasilkan melalui persilangan sendiri.
Menghadapi kondisi lahan budidaya padi yang semakin menyempit, maka
penggunaan varietas hibrida merupakan salah satu solusi yang tepat. Sebelum
melakukan serangkaian proses produksi benih padi hibrida, sebaiknya dianalis
terlebih dahulu standar benih padi hibrida yang telah ditetapkan. Penguasaan
informasi tentang standar kualitas benih dapat memudahkan pengelolaan proses
kegiatan di lapangan budidaya. Sebagai contoh untuk standar kemurnian benih
padi hibrida adalah 98%, artinya penangkar benih harus melakukan roguing dengan
sangat seksama jangan sampai ada varietas lain yang tumbuh selain 2 varietas
induk jantan dan induk betina yang direncanakan untuk disilangkan agar

commit to
user adalah tentang standar kadar air
menghasilkan benih padi hibrida. Contoh
kedua

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

maksimal 14%. Dengan adanya pengetahuan tentang informasi standar benih padi
tersebut, maka penangkar benih akan melakukan kegiatan pengeringan benih
sampai dengan kadar airnya ≤14%. 2.3.

commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

III. TATALAKSANA PELAKSANAAN

A. Tempat Dan Waktu Pelaksanaan
1. Tempat Pelaksanaan Magang
Pelaksanaan magang dilaksanakan di Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih (
BPSB ) Jawa Tengah Jl Solo-Jogja Km 15 Sraten-Gatak-Sukoharjo.
2. Waktu Pelaksanaan Magang
Pelaksanaan magang ini dilaksanakan selama 1 bulan yaitu bulan yaitu dimulai
pada tanggal 31 Januari 2011 sampai dengan tanggal 28 Pebruari 2011.

B. Cara Pelaksanaan
Adapun Metode yang digunakan dalam pelaksanaan magang ini yaitu :
1. Metode Dasar
Metode dasar yang digunakan dalam penyusunan laporan adalah metode
Deskriptif

Analitik,

yaitu

metode

penerapan

permasalahan

sehingga

memusatkan perhatian pada permasalahan yang ada pada masa sekarang dan
bertitik tolak dari data yang dikumpulkan, dianalisis dan disimpulkan dalam
konteks teori–teori yang ada dan dari penelitian terdahulu.
2. Metode Pengumpulan Data
Pengumpulan

data

dilakukan

melalui

teknik

wawancara

dengan

menggunakan daftar pertanyaan yang sudah dipersiapkan dan dengan
pencatatan yaitu mencatat data–data yang diperlukan dari sumber yang dapat
dipercaya.

3. Metode Analisis Data
Data

yang

tekumpul

dianalisis

dengan

menggunakan

tabulasi

representatif yaitu dengan menganalisa data yang telah terkumpul dengan
analisis

kualitatif.

Pada

kasus–kasus

tertentu

mahasiswa

dapat

pula

menjelaskan secara lebih mendalam berdasarkan teori-teori atau keterangan
yang relevan.

commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

IV. HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Kondisi Umum Lokasi
1. Sejarah Umum
Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih (BPSB) Jawa Tengah merupakan lembaga
instansi pemerintah yang bertugas sebagai pengawas dan mengurusi masalah pembenihan
diseluruh daerah Jawa Tengah. BPSB ini berdiri resmi pada tahun 2001 dan disyahkan oleh
Dinas Pertanian Propinsi Jawa Tengah. Untuk mendirikan lembaga atau instansi seperti
BPSB Jawa Tengah ini membutuhkan waktu dan biaya yang besar oleh karena itu disetiap
Propinsi hanya terdapat satu instansi saja.
Berikut tahapan-tahapan berdirinya BPSB Jawa Tengah.
Tabel 4.1 Tahapan berdirinya BPSB Jawa Tengah.
No

Tahap kegiatan tahunan

Keterangan

1

1971

Produksi benih bermutu

2

1978

Mulai membentuk seksi pengawasan mutu
dan menyatu dengan BBI

3

1982

Resmi berdiri sebagai BPSB untuk 13
Propinsi

4

1994

Perubahan

struktur

menjadi

Balai

Pengawasan Benih Tanaman Pangan dan
Hortikultura (BPSBTPH)
5

2001

Otonomi daerah menjadi BPSB Jawa
Tengah

Sumber : BPSB
Setelah terjadi otonomi daerah BPSB Jawa Tengah resmi berdiri sebagai satusatunya lembaga instansi pemerintah yang mengawasi dan menangani masalah perbenihan
diseluruh daerah Jawa Tengah. Seiring perkembangan teknologi BPSB Jawa Tengah bisa
menjalankan tugas dengan baik maka pada tahun 2005 mendapat penghargaan dari
pemerintah yaitu: Piagam Abdi Bakti Tani dan Piala Abdi Bakti Tani. Kantor BPSB Jawa
Tengah juga dilengkapi dengan laboratorium yang sudah diakreditasikan dan dipercaya
pemerintah sebagai salah satu instansi pemerintah yang menguji, mengawasi, dan menangani,
kegiatan perbenihan diseluruh daerah Jawa Tengah. Lokasi kantor BPSB Jawa Tengah sangat

commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

strategis yaitu berada tepat dipinggir jalan raya yang beralamatkan di “Jl.Raya Solo-Jogja Km
15 Sraten gatak Sukoharja”. Sehingga mudah dijangkau oleh kendaraan jalur darat. Dalam
menjalankan tugasnya BPSB Jawa Tengah dibagi menjadi beberapa bagian yaitu bagian
penerimaan benih, bagian sertifikasi, bagian kultivar, bagian laboratorium, bagian pemasaran,
dan bagian wilayah Surakarta.
2. Letak Geografis
Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih Jawa Tengah (BPSB) merupakan lembaga
instansi pemerintah yang bergerak dalam pengawasan dan sertifikasi benih tanaman pangan
dan tanaman holtikultura yang berada diseluruh daerah Jawa Tengah. Kantor BPSB terletak
Jl.Raya Solo-Jogja Km 15 Sraten gatak Sukoharja, daerah ini terletak diantara ketinggian 300
m dpl sehingga sangat strategis dijangkau oleh kendaraan darat.

3. Struktur Organisasi BPSB
Struktur organisasi yang ada di Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih Propinsi
Jawa Tengah menggunakan sistem garis lurus dengan pembagian tugas dan pertanggung
jawaban yang jelas. Struktur organisasi di Balai Pengawan dan Sertifikasi Benih Propinsi
Jawa Tengan adalah sebagai berikut:
Kepala
BPSB Propinsi Jawa Tengah

commit to user
Kelompok fungsional

Subag TU

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

Gambar : 4.1 struktur organisasi Balai Pengawasan dan Sertifikasi Benih
Propinsi Jawa Tengah
Keterangan :

1.

Kepala BPSB
Mengkoordinasikan seluruh kegiatan di BPSB

2. Sub Bag. TU (Tata Usaha)
Mengurus seluruh kegiatan tata usaha di BPSB.
3. Kelompok Fungsional
Melaksanakan pengawasan mutu dan teknis benih.
4. Seksi Pelayanan Teknis
Melaksanakan kegiatan administrasi dan informasi teknis serta perencanaan dan
pengelolaan secara teknis.
5. Seksi Pengembangan dan Pengendalian Mutu
Melaksanakan pengembangan, pengendalian, pengawasan mutu benih dan sertifikasi
serta membuat aturan yang diusulkan ke pusat.

.

Pembagian Tugas :


SUB. BAGIAN TATA USAHA
Pelaksanaan, menyiapkan bahan rencana kerja dan pengelolaan administrasi
Kepegawaian, Keuangan, Dokumentasi, Perpustakaan,, perlengkapan dan
Rumah Tangga, Surat menyurat serta pelaporan Balai.



SEKSI PELAYANAN TEKNIS
Menyiapkan

bahan,

administrasi

dan

rencana

kebijakan

kegiatan
teknis

teknis

operasional,

commit to user

operasional,
pengelolaan

pelaksanaan
peralatan,

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

dokumentasi dan penyampaian informasi teknis, monitoring, evaluasi dan
pelaporan kegiatan pelayanan teknis.


SEKSI PENGEMBANGAN DAN PENGENDALIAN MUTU TEKNOLOGI
Menyiapkan

bahan,

rencana

kegiatan

teknis

operasional,

pelaksanaan

administrasi dan kebijakan teknis operasional , pengkajian, pengembangan,
pengamanan dan pengendalian pelaksanaan pengawasan mutu dan sertifikasi
benih, monitoring, evaluasi dan pelaporan kegiatan pengembangan dan
pengendalian mutu.

B. Hasil dan Pembahasan
Sertifikasi Benih Padi Hibrida
1. Benih yang ditanam
a. Benih Penjenis (BS) berasal dari :
1) Galur mandul jantan (CMS = A x galur pelestari = B) varietas padi tanpa
serbuk sari yang hidup dan berfungsi yang dianggap sebagai tetua betina
dan menerima serbuksari dari tetua jantan untuk menghasilkan benih
hibrida
2) Galur pelestari (Maintainer = B);
3) Galur pemulih kesuburan (restorer = R)
b. Benih Dasar (BD) berasal dari :
1) Galur pelestari (Maintainer = B);
2) Galur pemulih kesuburan (Restorer = R);

commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

c. Benih Sebar (BR) berasal dari hasil persilangan CMS (galur mandul jantan
= A) x Restorer (pemulih kesuburan = R)
2. Area sertifikasi benih
a. Areal sertifikasi benih adalah areal tanah yang harus dinyatakan dengan
jelas batas-batasnya baik berupa parit, pematang, jalan maupun tanda-tanda
yang jelas lainnya.
b. Suatu areal sertifikasi dapat terdiri dari suatu hamparan yang terdiri dari
beberapa petak atau beebrapa unit yang terpisah-pisah tetapi jarak antara
satu dan lain unit tidak lebih dari 10 meter dan tidak dipisahkan oleh
varietas/tanaman yang lain.
c. Dalam suatu areal sertifikasi hanya dapat diproduksi benih satu varietas dan
satu kelas benih.
d. Kisaran waktu tanam untuk setiap galur tertua dalam satu areal CMS 5 hari,
sedangkan kisaran waktu tanam untuk restorer disesuaikan dengan kondisi
daerah setempat. Sinkronisasi saat berbunga. Kedua tetua harus berbunga
pada saat yang sama. Oleh karena itu tanggal penanaman dari kedua tetua
seringkali harus bervariasi
3. Persyaratan dan prosedur sertifikasi benih
Persyaratan dan prosedur sertifikasi benih padi hibrida :
a. Persyaratan tanah untuk sertifikasi benih
Tanah yang akan digunakan untuk memproduksi benih pada hibrida
bersertifikat diusahakan bekas tanaman lain atau tanah bera. Apabila areal
yang digunakan bekas tanaman padi, maka produsen benih harus mampu
untuk membersihkan voluntir melalui tehnologi khusus dengan ketentuan :
1) Pihak produsen mau dan mampu mengerjakan pengolahan tanah dan
melakukan seleksi (roguing) secara intensif
2) Sistem tanam harus secara tandur jajar, agar memudahkan dalam
perawatan tanaman dan akan tampak rapi.
3) Persemaian dan pertanaman dilakukan pada areal yang bebas voluntir
b. Isolasi
1) Lahan produksi benih padi hibrida yang akan disertifikasi harus jelas
terpisah dari pertanaman varietas lainnya dengan jarak paling sedikit
500 meter untuk BS, 100 meter untuk BD dan 50 meter untuk BR

commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

2) Apabila isolasi jarak tidak bisa dipenuhi dapat menggunakan isolasi
waktu yaitu dengan mengatur tanggal tanam sedemikian rupa sehingga
saat pembungaan berbeda minimal 21 hari
3) Isolasi dapat juga menggunakan penghalang setinggi 2 meter
c. Permohonan sertifikasi benih
Permohonan sertifikasi benih diajukan kepada instansi penyelenggara
sertifikasi benih paling lambat 10 hari sebelum tabur/tanam. Pada
permohonan dilampirkan:
1) Label benih sumber yang akan ditanam
2) Sket peta lapangan
d. Pemberitahuan pemeriksaan lapangan
Pemberitahuan pemeriksaan lapangan harus sampai di Institusi yang
menangani Pengawasan Mutu dan Sertifikasi Benih selambat-lambatnya
satu minggu sebelum waktu pemeriksaan lapangan
e. Pemeliharaan tanaman sebelum pemeriksaan lapangan
1) Pada masa pertanaman aktif membentukanakan (phase vegetatif) harus
dibersihkan dari rerumputan dan dilakukan seleksi (roguing) terhadap
varietas lain, tipe simpang dan tanaman yang terserang hama dan
penyakit sebelum pemeriksaan lapangan dilaksanakan.
2) Pembersihan dan seleksi (reguing) pada waktu pertanaman berbunga
dilakukan pagi hari, setiap saat sebelum penyerbukan. Pemeriksaan
lapangan phase berbunga (kedua) dilakukan 3 kali.
3) Seleksi (roguing) harus dilakukan pula sebelum pemeriksaan lapangan
terakhir (phase masak).
4) Apabila pada pemeriksaan lapangan pertama dan ketiga tidak memenuhi
standar lapangan, maka kesempatan mengulang masing-masing hanya
dilakukan satu kali pada phase vegetatif dan masak, tetapi sebelum
pemeriksaan ulangan harus diroguing terlebih dahulu. Bilamana pada
pemeriksaan ulangan tidak memenuhi standar lapang, Misal dalam satu
area lahan 50% padi yang ditanam sudah mati atau rusak. maka
sertifikasi benih tidak bisa dilanjutkan.
5) Pada pemeriksaan phase berbunga (kedua) tidak diberi kesempatan
mengulang.

commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

6) Sebelum pemeriksaan phase masak, pertanaman restorer harus dipanen
lebih dahulu paling lambat 5 hari sebelum panen CMS.
7) Hal-hal yang perlu diperhatikan pada saat seleksi/roguing adalah tipe
pertumbuhan, kehalusan daun, warna helai daun, warna lidah daun,
warna tepi daun, warna pangkal batang, bentuk/tipe malai, bentuk gabah,
bulu pada ujung gabah, warna ujung gabah, warna gabah dan sudut daun
bendera, serta malai yang berisi penuh pada pertanaman CMS.
f. Pembersihan peralatan/perlengkapan
Alat penanam/penabur benih, gerobak, alat panen, lantai jemur, silo dan
lain-lain perlengkapan yang akan digunakan dalam memproduksi benih
harus bersih dan bebas dari kemungkinan campuran dengan varietas lain.
g. Pemeriksaan alat panen dan pengolahan
Benih yang akan disertifikasi harus dipanen dan diolah dengan peralatan
yang telah diperiksa dan disyahkan mengenai kebersihannya oleh Institusi
yang menangani Pengawasan Mutu dan Sertifikasi Benih.
h. Pengawasan panen dan pengolahan benih
Benih yang dipanen dan diolah diawasi oleh Institusi yang menangani
Pengawasan Mutu dan Sertifikasi Benih.
Sebelum panen CMS, restorer harus dipanen terlebih dahulu, pengawasan
panen dan pengolahan benih untuk menjamin bahwa benih yang dipanen
dan diolah tidak tercampur dengan Restorer atau tercampur varietas lain.
i. Syarat gudang
1) Pemeriksaan gudang atau tempat penyimpanan benih dilakukan sebelum
benih disimpan.
2) Produsen benih harus minta pemeriksaan gudang paling lambat satu
minggu sebelum penyimpanan benih kepada institusi yang menangani
pengawasan mutu benih.
3) Pemeriksaan tempat penyimpanan meliputi :
a) Cukup tersedianya tempat dan ruangan penyimpanan
b) Kebersihan gudang penyimpanan sebelum menyimpan benih
c) Sarana untuk melindungi benih dari hama/penyakit
d) Ruang penyimpanan tidak lembab atau bocor
e) Tersedia sarana untuk pengeringan ulangan dari benih yang
bersangkutan

commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

j. Contoh benih untuk pengujian di laboratorium
1) Contoh benih yang mewakili untuk diuji di laboratorium akan diambil
dari setiap kelompok benih yang telah selesai diolah guna sertifikasi
benih.
2) Contoh benih yang diambil dari bulk benih sebelum pengolahan hanya
diijinkan untuk pengujian daya tumbuh.
3) Pengawasan Benih Tanaman akan mengambil contoh benih resmi atas
permintaan produsen benih.
4) Kemasan conth benih yang dikirim ke laboratorium harus disegel.
k. Pengambilan contoh benih
1) Kelompok benih
a) Tiap kelompok benih tidak boleh lebih dari 30 ton
b) Wadah-wadah dari suatu kelompok benih harus disusun dalam satu
susunan sedemikian rupa sehingga jumlahnya dapat dihitung dengan
tepat, mempunyai kesempatan yang sama untuk diambil contoh
benihnya dan memudahkan pengambilan contoh benihnya

2) Pengambilan contoh
a) Pengambilan contoh benih dilakukan sesuai dengan pedoman
pengambilan contoh yang terdapat pada Pedoman Analisa Mutu
Benih yang berlaku
b) Dari tiap-tiap kelompok benih diambil paling sedikit 700 gram
l. Masa berlaku label
Masa berlakunya label diberikan paling lama 6 bulan sejak tanggal selesai
pengujian atau paling lama 9 bulan setelah tanggal panen. Benih dengan
perlakuan khusus (misal Cold storage) masa berlaku label paling lama 12
bulan dari tanggal selesai uji atau paling lama 15 bulan dari panen Selama
masa berlakunya label harus diadakan pengujian ulang untuk pengecekan.
Masa berlaku label ulang paling lama setengah dari masa berlaku pengujian
yang pertama dan bisa diperpanjang lagi selama masih memenuhi standar
mutu untuk kelas benih yang bersangkutan.
m. Pengawasan pemasangan label

commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

Label harus terpasang pada kemasan benih pada tempat yang mudah dilihat,
dan terpasang dibangian luar kemasan/menyatu dengan kemasan dan/atau
tersegel.
Pemasangan label diluar kemasan dimaksudkan agar memudahkan pada saat
pelabelan ulang label dapat diganti atau ditutup dengan label LU (lulus uji)
dan tidak merubah kemasan. Pengawasan pemasangan label dapat dilakukan
sewaktu-waktu atau terus menerus selama proses pemasangan label
berlangsung.
n. Standar mutu benih bersertifikat
1) Standar lapangan
No

Uraian

BS

BD

BR

1

Isolasi jarak (m)

500

100

50

2

Isolasi waktu (hari)

30

30

21

3

Isolasi tanaman lain/barier (min) tinggi

-

-

2

4

(m)
0,0

-

-

- CVL Maintainer (max)

-

-

0,0

- CVL Restorer (max) %

0,0

-

0,2

- CVL CMS (max) %

0,0

0,0

0,0

BS

BD

BR

CVL/tipe simpang (max) %

5

Gulma berbahaya (%)

2) Standar pengujian laboratorium
No

Uraian

1

Kadar air (max) %

13,0

13,0

13,0

2

Benih murni (min) %

99,0

99,0

98,0

3

Kotoran benih (max) %

1,0

1,0

2,0

4

Tanaman lain/benih gulma (max) %

0,0

0,0

0,0

5

CVL/tipe simpang (max) %

0,0

0,0

0,5

6

Daya berkecambah/daya tumbuh (min)

80

80

80

%

Catatan : BS untuk standar CMS
BD untuk standar Maintainer dan Restorer

commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

BR untuk produksi F1
4. Pemeriksaan lapangan
a. Tujuan
1) Menilai kemurnian genetik
2) Menilai sumber-sumber kontaminasi yang terdiri dari varietas lain dan
tipe simpang
3) Menilai kesehatan benih dan hama penyakit yang dapat ditularkan
melalui benih
4) Memberikan rekomendasi untuk mencapai persyaratan produksi benih
bersertifikat
b. Pemeriksaan lapangan
Pemeriksaan lapangan dilakukan oleh Pengawas Benih Tanaman
Pemeriksaan lapangan dilakukan dengan cara sistem check plot atau sistem
sampling.
1) Pemeriksaan lapangan sistem check plot
Dilaksanakan pada pertanaman CMS untuk menilai campuran varietas lain
dan tingkat kemurnian CMS.
Dilakukan pada setiap kelompok benih materi induk CMS dengan cara :
a) Menanam benih dari sampel yang diperiksa sejumlah 2 x 500 tanaman
tanpa pertanaman Restorer
b) Evaluasi

terhadap

pertanaman

dilakukan

secara

berkala

selama

pertumbuhan dengan perhitungan varietas lain sebagai berikut
Persentase CVL =

Jumlah CVL (Ulangan 1 + Ulangan 2)
x 100 %
1.000 tanaman

Dengan pengertian :
CVL adalah campuan varietas lain
c) Evaluasi

terhadap

pertanaman

dilakukan

secara

berkala

selama

pertumbuhan dengan perhitungan sterilitas CMS sebagai berikut
Persentase sterilitas CMS =

Jumlah gabah hampa 100 malai (Ulangan 1 + Ulangan 2
x 100%
Jumlah gabah 100 malai (isi + hampa)

Kriteria steril
(1) Steril penuh : 100 %
(2) Sangat steril : 99,00 – 99,99 %
(3) Steril

commit
: 95,00 – 98,99
% to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

Standar sterilitas :
Sterilitas CMS untuk produksi CMS = Standar minimal 98 %
Sterilitas CMS untuk produksi benih F1 = Standar minimal 95 %
2) Pemeriksaan lapangan dengan sistem sampling
a) Waktu pemeriksaan lapangan
Oleh karena timbulnya faktor-faktor yang mempengaruhi mutu benih
tidak serempak, maka pemeriksaan lapangan dilakukan minimal 4
(empat) kali, yaitu :
(1) Pemeriksaan lapangan pendahuluan
(a) Dilakukan sebelum tanah untuk pertanaman diolah
(b) Supaya lebih intensif, pemeriksaan tersebut dapat dilanjutkan
sampai sebelum tanam
(2) Pemeriksaan lapangan pertama
(a) Dilakukan pada phase vegetatif, yakni pemeriksaan dilakukan ±
20 – 50 hari setelah tanam
(b) Pemeriksaan ulangan hanya dilakukan bila dianggap perlu dengan
ketentuan
-

Phase vegetatif belum berakhir

-

Waktunya ditentukan bersama oleh pengawas benih dan
penangkar/produsen benih

-

Paling lambat dilakukan 1 (satu) minggu setelah pemeriksaan
lapangan pertama

-

Hanya diberikan mengulang 1 (satu) kali

(3) Pemeriksaan lapangan kedua/phase berbunga
(a) Dilakukan sebanyak 3 kali, yakni pada waktu ;
-

Awal berbunga sebelum bunga mekar, sebelum sekam
mahkota mulai terbuka dan benang sari tampak memutih

-

Pertengahan berbunga

-

Akhir berbunga

(b) Pemeriksaan lapangan berbunga dilakukan 3 kali dengan selang
waktu 3 – 4 hari dan tidak ada pemeriksaan ulangan pada
pemeriksaan phase berbunga
(4) Pemeriksaan lapangan ketiga

commit
to user
(a) Dilaksanakan setelah
restorer
dipanen

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

(b) Dilakukan pada phase masak, yakni pada waktu :
-

Tanaman sudah mulai menguning

-

Isi gabah sudah keras, tetapi mudah pecah dengan kaku

-

Paling lambat 5 hari sebelum panen

-

Dapat dilakukan pemeriksaan lapangan ulangan 1 kali

b) Pemeriksaan persyaratan
(1) Pemeriksaan persyaratan
(a) Kebenaran nama dan alamat pemohon
(b) Letak dan situasi areal (keadaan pengairan, hama/penyakit dan
lain-lain), yang akan dipergunakan sebagai areal sertifikasi benih
(c) Sejarah penggunaan tanah sebelumnya. Tanaman-tanaman yang
tumbuh pada waktu pemeriksaan tersebut (voluntir) dapat
dipergunakan

sebagai

petunjuk

untuk

mengetahui

jenis

tanaman/varietas tanaman musim sebelumnya pada areal tanah
tersebut
(d) Kebenaran batas-batas areal yang akan dipergunakan untuk areal
sertifikasi benih. Data tersebut dicocokkan dengan sket/peta
lapangan yang telah dilampirkan pada permohonan. Pada
pemeriksaan ini sekaligus dapat diketahui keadaan isolasi areal
tersebut
(e) Kebenaran varietas, sumber dan kelas benih yang akan ditanam
dan kelas benih yang akan dihasilkan
(2) Hasil pemeriksaan dan rekomendasi
Hasil pemeriksaan disampaikan kepada pemohon dan instansi yang
menangani pengawasan mutu dan sertifikasi benih kemungkinan
dapat :
(a) Memenuhi syarat,a tau
(b) Tidak memenuhi syarat, atau
(c) Memenuhi syarat dengan anjuran, misalnya : pengerjaan tanah
yang lebih intensif karena ternyata masih terdapat voluntir.
Pengawas Benih Tanaman perlu mengadakan pemeriksaan
kembali apakah anjurannya dilaksanakan atau tidak
c) Pelaksanaan pemeriksaan lapangan pertama, kedua dan ketiga
(1) Persiapan

commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

(a) Pemeriksaan persyaratan
-

Bukti lulus pemeriksaan lapangan sebelumnya

-

Letak, lulus dan tanggal tanam areal pertanaman yang akan
diperiksa

(b) Membuat sket/peta areal dan penentuan blok
(c) Pelaksanaan pemeriksaan
-

Sistem sampling adalah dengan menghitung jumlah contoh
pemeriksaan yang diperlukan menurut ketentuan yang berlaku

-

Untuk luas areal pertanaman sampai dengan 2 ha, diperlukan
minimum 5 contoh pemeriksaan

-

Selanjutnya untuk setiap penambahan areal sampai dengan 2
ha, jumlah contoh pemeriksaan ditambah satu

-

Rumus : X =

Y+8
2

X = jumlah contoh yang diperlukan (dibulatkan keatas)
Y = luas areal pertanaman yang akan diperiksa (ha)
(d) Menentukan letak areal contoh pemeriksaan secara acak pada
sket/peta areal pertanaman yang jumlahnya sesuai dengan
perhitungan tersebut di atas
(2) Pemeriksaan global
Mengelilingi pertanaman untuk memeriksa :
(a) Isolasi jarak
Isolasi jarak untuk masing-masing kelas benih sebagai berikut :
(a.1)

Antara

dua

areal

sertifikasi

benih

dengan

Maintainer/Restorer tidak diperlukan isolasi jarak
(a.2)

Antara suatu areal sertifikasi dengan yang bukan

sertifikasi diisolasi dengan ketentuan sebagai berikut :
-

Perbanyakan CMS paling sedikit 500 meter untuk BS dan
100 meter untuk BD pada perbanyakan Maintainer dan
Restorer

-

Benih hibrida (BR) paling sedikit 50 meter

(b) Isolasi waktu

commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

Perbedaan tanggal tanam dari dua varietas yang berbeda dan
bloknya berdampingan diatur sedemikian rupa sehingga saat
berbunga berbeda minimal 21 hari.
(c) Isolasi penghalang minimal 2 meter
(d) Keadaan pertanaman dan kebersihan lapangan
- Bilamana 1/3 luas areal pertanaman yang disertifikasi ternyata
rebah sehingga mempersulit pemeriksaan, maka areal tersebut
dapat ditolak
- Apabila dari tanaman yang rebah terdapat sebagian tanaman
masih berdiri dan mengelompok pada phase berbunga/masak,
maka dapat dilakukan pemeriksaan atas sisa areal yang tidak
rebah
- Apabila campuran varietas lain dijumpai secara mengelompok,
pada phase berbunga/masak maka areal tersebut sebagian dapat
ditolak dan dikeluarkan dari areal sertifikasi
(3) Jumlah rumpun yang akan diperiksa terdiri dari :
(a) Perbanyakan benih padi hibrida (F1) dan CMS
- Cytoplasmic Male Sterile (CMS = A) = 400 rumpun per contoh
pemeriksaan
- Restorer (R) = 400 rumpun per contoh pemeriksaan
(b) Perbanyakan benih CMS (antara CMS/Maintainer) cara sama
dengan perbanyakan benih F1
(c) Perbanyakan Restorer = 400 rumpun per contoh pemeriksaan
(sama dengan sertifikasi padi non hibrida)
(d) Perbanyakan

Maintainer

(B)

=

400

rumpun

per

contoh

pemeriksaan (sama dengan sertifikasi padi non hibrida)
(4) Penentuan populasi dan penyebaran contoh pemeirksaan di lapangan
(a) Mengambil jumlah contoh pemeriksaan sesuai dengan hasil
perhitungan pada rumus tersebut di atas
(b) Letak masing-masing contoh pemeriksaan sesuai dengan rumus di
atas, dan diberi tanda yang jelas untuk memudahkan pemeriksaan
(5) Pemeriksaan tiap areal contoh pemeriksaan
(a) Memeriksa dengan teliti semua individu tanaman yang terdapat

commit to user
pada contoh pemeriksaan

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

(b) Menghitung semua varietas lain dan tipe simpang
(c) Menghitung semua anakan/malai yang diserang hama/ penyakit
yang dapat ditularkan melalui benih sesuai dengan peraturan yang
berlaku
(6) Faktor-faktor yang diperiksa seperti pada tabel di bawah ini :
Phase vegetatif

Phase berbunga

Phase masak

1. Tipe pertumbuhan

1. Bentuk/tipe malai

1. Bentuk/tipe malai

2. Kehalusan daun

2. Leher malai

2. Leher malai

3. Warna helai daun

3. Bentuk gabah

3. Bentuk gabah

4. Warna lidah daun

4. Bulu

5. Warna telinga daun

pada

ujung 4. Warna gabah
5. Warna ujung gabah

gabah

6. Warna leher daun

5. Warna ujung gabah

7. Warna daun

6. Warna gabah

8. Lebar daun

7. Warna polen

9. Warna

6. Bulu

ujung

gabah
7. Sudut daun bendera

pangkal 8. Polen fertil/steril

8. Gabah hampa/gabah
isi permalai

9. Sudut daun bendera

batang

pada

(7) Cara menghitung persentase campuran varietas lain (CVL) dan tipe
simpang
Menghitung jumlah campuran varietas lain dan tipe simpang dari
hasil pemeriksaan seluruh areal contoh pemeriksaan :
Jumlah campuran varietas lain dan tipe simpang (rumpun)
1
x
x 100 %
Jumlah contoh pemeriksaan
400

d) Hasil pemeriksaan lapangan
(1) Hasil pemeriksaan lapangan dimasukkan ke dalam formulir yang
sudah disediakan oleh instansi yang menangani Pengawasan
Mutu dan Sertifikasi Benih untuk setiap pemeriksaan lapangan
(2) Hasil tersebut dikirim kepada penangkar benih yang bersangkutan
selambat-lambatnya

satu

minggu

pemeriksaan lapangan

commit to user

setelah

pelaksanaan

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

V. KESIMPULAN DAN SARAN

A. Kesimpulan
Dari hasil magang yang telah dilakukan, penulis dapat menyimpulkan bahwa
:
Sertifikasi benih adalah suatu sistem atau mekanisme pengujian benih
berkala untuk mengarahkan, mengendalikan, dan mengorganisasi perbanyakan dan
produksi benih. Sertifikasi benih merupakan sistem bersanksi resmi untuk
perbanyakan dan produksi benih yang terkontrol. Untuk memelihara dan
menyediakan benih serta bahan perbanyakan tanaman bermutu tinggi dari varietas
berdaya hasil tinggi bagi masyarakat sehingga dapat ditanam dan didistribusikan
dengan identitas genetik yang terjamin.
Sertifikasi benih adalah untuk memberikan jaminan bagi pembeli benih
(petani atau penangkar benih) tentang beberapa aspek mutu yang penting, yang
tidak dapat ditentukan dengan segera, dengan hanya memeriksa benihnya saja.
Dengan demikian sertifikasi benih padi hibrida sangat penting dan menentukan
bagi perkembangan kesejahteraan perekonomian khususnya para petani.
Adapun acuan dari sertifikasi benih padi hibrida yaitu mengacu pada
ketentuan-ketentuan mengenai sertifikasi benih yang tertuang dalam Peraturan
Menteri Pertanian Nomor 39/Permentan/ OT.140/8/2006.
B. Saran
Dari kesimpulan yang telah diperoleh maka saran yang dapat disampaikan
yaitu :
Penggunaan benih padi hibrida yang bersertifikat harus lebih ditingkatkan.
Sejalan dengan tujuan pembangunan pertanian yang lebih memfokuskan kepada
peningkatan pendapatan dan kesejahteraan petani, maka program intensifikasi padi
sudah selayaknya mendapat perbaikan dan penyempurnaan dari berbagai aspek.
Padi hibrida berperan untuk meningkatkan produksi. Teknologi

pengembangan

padi hibrida yang diterapkan secara intensif, keberhasilan penanaman padi hibrida
secara intensif menunjukkan bahwa varietas padi hibrida merupakan teknologi
yang praktis dalam peningkatan produksi padi dan tetap berpegang pada standar
sertifikasi yang telah ditetapkan.

commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

commit to user

perpustakaan.uns.ac.id

digilib.uns.ac.id

commit to user

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

98 2764 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

36 715 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

32 603 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

15 397 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

23 537 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

45 911 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

44 821 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

13 503 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

19 746 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

30 900 23