PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA PELAKU DALAM TINDAK PIDANA KORUPSI (Studi Putusan Nomor: 31/Pid.B/TPK/2010/PN. JKT. PST.)

  

ABSTRAK

PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA PELAKU DALAM TINDAK

PIDANA KORUPSI

  (Studi Putusan Nomor: 31/Pid.B/TPK/2010/PN. JKT. PST.)

  

Oleh

Daniel Januara Napitupulu

  Skripsi ini membahas pertanggungjawaban pidana pelaku dalam tindak pidana korupsi yang terjadi di Kementerian Sosial atas Penggunaan Anggaran (PA), yaitu penggunaan dana anggran 2004 hingga 2006 untuk pengadaan mesin jahit dan sapi impor dalam program pengentasan kemiskinan di Indonesia sebesar Rp.

  

36.688.865.602,9 (tiga puluh enam milyar enam ratus delapan puluh delapan juta

delapan ratus enam puluh lima ribu enam ratus dua rupiah sembilan sen) . Serta

  untuk mengetahui Bagaimana pertanggungjawaban pidana pelaku dalam putusan tindak pidana korupsi Nomor 31/Pid.B/TPK/2010/PN JKT PST. Bagaimana dasar pertimbangan Hakim dalam menjatuhkan putusan pidana dan mengapa Hakim memberikan putusan ringan terhadap tindak pidana korupsi dalam perkara putusan pidana korupsi Nomor 31/Pid.B/TPK/2010/PN JKT PST. Inilah yang membuat saya tertarik untuk mengangakat kasus ini untuk dijadikan objek dalam skripsi saya, apakah pertanggungjawaban pidana dan dasar pertimbangan yang diberikan hakim terhadap terdakwa telah sesuai dengan undang-undang yang berlaku. Metode pendekatan masalah yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan menggunakan dua metode pendekatan, yaitu metode pendekatan yuridis normatif dan metode pendekatan yuridis empiris. Data yang digunakan adalah data primer yang diperoleh langsung dari lapangan atau tempat penenilitian dan data sekunder yang diperoleh dari dari hasil studi kepustakaan yang terdiri dari bahan hukum primer. Metode yang digunakan dalam penentuan sampel dalam skripsi ini adalah metode Purposive Sample, yang berarti sampel yang disesuaikan dengan tujuan yang hendak dicapai dan dianggap telah mewakili terhadap yang hendak digambarkan dan dicapai.

  Daniel Januara Napitupulu

  Berdasarkan Hasil penelitian dan pembahasan atas Pertanggungjawaban Pidana Pelaku Dalam Tindak Pidana Korupsi studi putusan 31/Pid.B/TPK/2010/PN. JKT. PST menyatakan bahwa terdakwa telah terbukti bersalah melakukan suatu tindak pidana korupsi secara bersama-sama dalam proyek pengadaan mesin jahit dan sapi impor yang telah merugikan keuangan ataupun perekonomian negara sebesar

  

Rp.36.688.865.602,9 (tiga puluh enam milyar enam ratus delapan puluh delapan

juta delapan ratus enam puluh lima ribu enam ratus dua rupiah sembilan sen),

pelaku harus mempertanggungjawabkan perbuatannya sesuai dengan prosedur

dalam mengikuti persidangan dan dalam hal menjatuhkan pidana terhadap kasus

korupsi ini, pertimbangan hakim dan pemberian pemidanaan, hakim mengacu

pada penerapan berat ringannya suatu pidana. Dengan pertimbangan tersebut

dalam persidangan hakim menjatuhkan pada terdakwa bahwa terdakwa terbukti

menyalahgunakan wewenang dan melakukan tindak pidana korupsi sebagaimana

yang diancam dalam Pasal 3 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang

Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah dengan Undang-

Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor

  

31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo. Pasal 55 ayat

(1) ke 1 KUHP, dengan pidana penjara selama 1 (satu) tahun 8 (delapan) bulan

atau selama 20 (dua puluh) bulan. Putusan hakim merupakan hasil dari

kewenangan mengadili suatu perkara dan didasari oleh sudut pandang yuridis

yang dilihat dari teori hakim dalam menajuhkan sanksi pidana, yang mana pada

kasus ini, hakim menggunakan teori keseimbangan dan menggunakan teori relatif

dalam pemidanaannya serta memperhatikan acara pidana yang mengacu pada

  pasal 183 dan 184 KUHAP dan surat dakwaan dan fakta dan bukti-bukti

  

persidangan dan dihubungkan pada penerapan dasar hukum yang jelas dalam

penerapan berat ringannya pemberian pidana penjara dan pidana denda serta dari

sudut pandang non yuridis yang dilihat dari hal yang memberatkan dan

meringankan terdakwa.

  

Saran yang diberikan dalam skripsi ini adalah pemberian pertanggungjawaban

pidana terhadap perbuatan pelaku untuk mempertanggungjawabkan apa yang

telah dilakukannya dipersidangan harus diberikan hukuman yang setimpal kepada

pelaku tindak pidana korupsi agar memberi efek jera. Serta putusan hakim dalam

menjatuhkan pidana untuk pertanggungjawaban pidana pelaku harus sesuai

dengan undang-undang yang berlaku tanpa tebang pilih dalam memvonis pelaku

dan harus tegas dalam menindak dan memberikan hukuman yang seberat-beratnya

kepada pelaku.

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang

  Masalah korupsi pada akhir-akhir ini semakin banyak mendapat perhatian dari berbagai kalangan, bukan saja dalam skala nasional, tetapi juga regional bahkan global, hal ini disebabkan karena pada kenyataannya korupsi semakin marak, seperti kasus korupsi yang terjadi di Jakarta, yaitu kasus korupsi di Kementerian Sosial yang terungkap di penghujung tahun 2009 dan kasus korupsi lainnya, seperti kasus korupsi wisma atlet dan sebagainya. Apalagi bila korupsi dikaitkan dengan dana-dana pembangunan, atau proyek pengadaan barang, tindakan korupsi bisa terjadi sewaktu-waktu, baik korupsi itu dilakukan secara tersendiri atau perorangan maupun yang dilakukan oleh suatu koorporasi atau perusahaan berbadan hukum ataupun yang bukan bebadan hukum (http://www.docstoc.com/docs/12723298/KORUPSI-DI-INDONESIA, diakses Selasa, 15 November 2011, pukul 21:30:15 wib).

  Di lain pihak tindak pidana korupsi merupakan salah satu aspek kriminalitas yang berhadapan dengan individu, bangsa dan negara yang dapat merugikan perekonomian ataupun keuangan negara, oleh karena itu diperlukan penerapan dan penegakan hukum secara tegas, lugas, dan tepat berdasarkan kepada nilai keadilan dan kebenanaran hukum yang berlaku untuk menangani kasus korupsi yang sedang terjadi di Indonesia. Hal ini sangat berperan dalam mewujudkan ketertiban, kepastian hukum dan kedamain dalam masyarakat. Dengan penarapan dan penegakkan hukum tersebut maka tindak pidana korupsi yang terjadi dapat diperoleh pertanggungjawaban pidana dari pelaku tindak pidana korupsi melalui suatu putusan hakim. Menurut Barda Nawawi Arief, menyatakan bahwa penjelasan undang-undang korupsi bahwa pengertian melawan hukum dalam tindak pidana korupsi dapat pula mencakup perbuatan yang tercela yang menurut perasaan keadilan masyarakat harus dituntut dan dipidana. Ini perbuatan melawan hukum tertuju pada perbuatan yang tercela yang juga berupa penyalahgunaan wewenang dan kedudukan (Barda Nawawi Arief, 2008: 45).

  Penanggulangan korupsi hanya dilakukan dengan penegakan hukum dengan wujud pidana yang berat. Dalam penjatuhan pidana yang berat terkandung penanggulangan yang bersifat preventif dan represif. Upaya preventif ditujukan untuk menanggulangi dan mencegah faktor-faktor penyebab terjadinya tindak pidana korupsi. Sehingga dengan penerapan upaya tersebut dapat meningkatkan

  

law enforcement dan berani bersikap tegas dengan menjerat para koruptor dengan

pidana yang tinggi.

  Terhadap perkara-perkara tindak pidana korupsi seringkali dalam pertimbangan hukumnya yang sampai pada putusan untuk memperoleh pertanggungjawaban pidana, seorang hakim memberikan suatu pertimbangan untuk memberikan pertanggungjawaban pidana terhadap pelaku tindak pidana. Sehingga melalui pidana dalam meminta pertanggungjawaban pelaku tindak pidana, penilaian masyarakat terhadap supremasi hukum khususnya tindak pidana korupsi menjadi lemah bahkan masyarakat juga tidak mempercayai sistem hukum yang berlaku. Hal tersebut disebabkan oleh berbagai faktor, kendala dan permasalahan yang mendasari pertimbangan hakim menjatuhkan putusan untuk memperoleh pertanggungjawaban pidana dalam praktek peradilan.

  Pasal 2 dan Pasal 3 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 jo. Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 dijelaskan bahwa salah satu unsur dari tindak pidana korupsi adalah merugikan keuangan ataupun perekonomian negara. Selain itu dalam Pasal 3 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 unsur lain yang terdapat dalam pasal tersebut adalah penyalahgunaan kekuasaan ataupun wewenang.

  Seperti dalam kasus tindak pidana korupsi yang dilakukan secara perbarengan yang berlanjut, yang mana korupsi tersebut terjadi di Kementerian Sosial yang berada di ibu kota kita, yaitu Jakarta. Terdakwa Bachtiar Chamsyah yang pernah menjabat sebagai Menteri Sosial dari tahun 2004 hingga 2009, menyalahgunakan wewenang dan kedudukannya sebagai Menteri Sosial. Terdakwa melakukan korupsi, berawal dari dana anggaran 2004 untuk pengadaan 6000 unit mesin jahit untuk program pengentasan kemiskinan, dan di tahun 2006, terdakwa Bachtiar Chamsyah kembali melakukan korupsi atas pengadaan sapi import, dana yang dikorupsi terdakwa merupakan anggaran untuk kesejahteraan sosial bagi masyarakat yang kurang mampu. Tindakan yang dilakukan oleh terdakwa Bachtiar Chamsyah tersebut adalah suatu perbuatan yang sangat merugikan perekonomian dan keuangan negara sebesar Rp 33,7 Milyar. Terdakwa Bachtiar mengayomi masyarakat dan memajukan kesejakteraan sosial masyarakat yang kurang mampu sesuai dengan jabatannya sebagai Menteri Sosial, menyalahgunakan kedudukan dan wewenangnya dengan melakukan korupsi terhadap dana anggaran untuk kepentingan masyarakat dan kalangan umum yang dalam perekonomiannya kurang mampu (http://kasus-mantan-mensos.kompas- Indonesia.com/hmtl, diakses Jumat, 7 Oktober 2011 pukul 14:03:40).

  Tindak pidana korupsi yang dilakukan oleh terdakwa tersebut melalui KPK dan Jaksa Penuntut Umum diproses dan diajukan ke pengadilan dengan tuntutan telah melakukan tindak pidana korupsi yang merugikan keuangan ataupun perekonomian negara sebesar 33,7 M. Selama proses perkara tersebut berjalan Jaksa Penuntut umum menuntut terdakwa dengan dakwaan Pasal 2 atau Pasal 3 Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana telah diubah menjadi Udang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo. Pasal 55 ayat (1) ke- 1 dengan pidana penjara atau kurungan selama 3 tahun dan membayar denda sebesar Rp 100 juta subsider tiga bulan kurungan. Jaksa Penuntut Umum memberikan pasal tersebut karena terdakwa Bachtiar Chamsyah terbukti telah melakukan penyalahgunaan kewenangan, memperkaya orang lain, dan penerimaan hadiah oleh penyelenggara negara dan terbukti turut serta dalam korupsi yang dilakukan oleh terdakwa dan rekan-rekannya.

  Pada proses persidangan akhir dari kasus korupsi di Pengadilan Tipikor dengan nomor putusan 31/Pid.B/TPK/2010/PN. JKT. PST, setelah mendengarkan saksi- saksi dan pembelaan terdakwa melalui penasehat hukumnya dan didasari oleh pertimbangan majelis hakim pengadilan negeri tindak pidana korupsi Jakarta Pusat, maka ditetapkan putusan terhadap pertanggungjawaban pidana pelaku tindak pidana korupsi atas nama Bachtiar Chamsyah yaitu dengan pidana penjara selama 20 bulan (1 (satu) tahun 8 (delapan) bulan) dengan pidana denda sebesar Rp 50.000.000,00 (lima puluh juta rupiah) dengan ketentuan apabila denda tidak di bayar, maka diganti dengan pidana kurungan selama 3 (tiga) bulan kurungan (http://kasus-mantan-mensos.Citra-Indonesia.com/hmtl, diakses Jumat, 7 Oktober 2011 pukul 14:38:30).

  Melihat dan mencermati putusan yang dijatuhkan terhadap pertanggungjawaban pelaku tindak pidana korupsi tersebut, penulis mempunyai kesan dan anggapan bahwa putusan begitu ringan dan oleh karena itu maka penulis tertarik untuk melakukan sebuah studi kasus terhadap putusan tersebut untuk meneliti pertanggungjawaban pidana dan dasar pertimbangan hakim dalam menetapkan putusan Nomor 31/Pid.B/TPK/2010/PN. JKT PST. Karena dengan melihat akibat perbuatan yang ditimbulkan oleh perbuatan tindak pidana korupsi sangat merugikan keuangan dan perekonomian negara, menghambat dan mengancam pembangunan untuk kesejahteraan masyarakat, bahkan dapat berakibat mengurangi partisipasi masyarakat dalam tugas pembangunan dan menurunkan kepercayaan masyarakat pada jajaran aparatur pemerintahan. Putusan Majelis Hakim terhadap pertanggungjawaban pidana terdakwa yang tersebut diatas dirasakan kurang memenuhi rasa keadilan. Akan tetapi dalam menetapkan putusan terhadap pertanggungjawaban pidana yang diberikan kepada terdakwa Bachtiar Chamsyah, hakim telah melakukan kewajibannya yang berpedoman pada Pasal 28 ayat (1) dan ayat (2) Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Kekuasaan Kehakiman yang menyatakan: (1).Hakim wajib menggali, mengikuti, dan memahami nilai-nilai hukum dan rasa keadilan yang hidup dalam masyarakat.

  (2).Dalam mempertimbangkan berat ringannya pidana, hakim wajib memperhatikan pula sifat yang baik dan yang jahat dari tertuduh.

  Terhadap pasal tersebut jelas bahwa hakim dalam menjatuhkan putusan untuk pertanggungjawaban pidana seorang terdakwa harus melihat kondisi riil yang ada dalam pandangan sosial masyarakat dan legalitas hukum serta harus peka terhadap perasaan hukum dan keadilan.

  Hal inilah yang menjadi latar belakang penulis membuat judul

  

“Pertanggungjawaban Pidana Pelaku Perbarengan (cocursus) Dalam Tindak

Pidana Korupsi (Studi Putusan Nomor 31/Pid.B/TPK/2010/PN JKT PST)”.

B. Permasalahan

  Agar masalah yang akan diteliti oleh penulis mempunyai penafsiran yang jelas, maka perlu dirumuskan secara sistimatis kedalam suatu rumusan masalah, dengan dapat dipecahkan secara sistimatis dan dapat memberikan gambaran yang jelas. Maka perumusan masalah dalam penelitian ini adalah sebagai berikut:

  1. Bagaimana pertanggungjawaban pidana pelaku dalam putusan tindak pidana korupsi Nomor 31/Pid.B/TPK/2010/PN JKT PST?

  2. Bagaimana dasar pertimbangan Hakim dalam menjatuhkan putusan pidana korupsi Nomor 31/Pid.B/TPK/2010/PN JKT PST?

  3. Mengapa Hakim memberikan putusan ringan terhadap tindak pidana korupsi dalam perkara korupsi dalam putusan Nomor 31/Pid.B/TPK/2010/PN JKT PST?

  C. Ruang Lingkup Penelitian

  1. Ruang Lingkup Bidang Ilmu Penelitian ini termasuk dalam ruang lingkup bidang hukum Pidana, khususnya hukum pidana khusus.

  2. Ruang Lingkup Kajian Ruang lingkup pembahasan materi skripsi ini dibatasi oleh penelitian pada analisis yuridis terhadap pertanggunjawaban pidana dan dasar pertimbangan hakim dalam menjatuhkan putusan pada tindak pidana korupsi Nomor 31/Pid.B/TPK/2010/PN JKT PST

  D. Tujuan dan Kegunaan Penulisan

  1. Tujuan Penelitian Sudah dapat dipastikan bahwa setiap usaha maupun kegiatan mempunyai tujuan yang hendak dicapai, karena tujuan akan dapat memberikan manfaat dan penyelesaian dari penelitian yang akan dilaksanakan. Adapun tujuan yang hendak dicapai adalah:

  1. Mengetahui pertanggungjawaban pidana pelaku dalam tindak pidana korupsi terhadap putusan Nomor 31/Pid.B/TPK/2010/PN JKT PST.

  2. Mengetahui dasar pertimbangan hakim dalam menjatuhkan putusan Nomor 31/Pid.B/TPK/2010/PN JKT PST.

  2. Kegunaan Penelitian Adapun kegunaan dari penelitian ini yaitu:

  1. Secara teoritis penelitian ini berguna sebagai pengembangan daya pikir dan nalar yang sesuai dengan displin ilmu pengetahuan yang dimiliki.

  2. Secara praktis penelitian ini berguna sebagai acuan atau referensi bagi pendidikan dan penelitian hukum lanjutan, serta memperluas wawasan cakrawala berfikir bagi penulis dalam menganalisis suatu permasalahan.

E. Kerangka Teoretis dan Konseptual

  1. Kerangka Teoretis Kerangka teori adalah konsep-konsep yang sebenar-benarnya merupakan abstraksi dari hasil pemikiran atau kerangka acuan yang pada dasarnya bertujuan untuk mengadakan kesimpulan terhadap dimensi-dimensi sosial yang dianggap relevan untuk penelitian (Soejono Soekanto, 1986: 23) Relevansi sebagai permasalahan yang dibahas dalam penelitian ini adalah mengenai pertanggungjawaban pidana dan dasar pertimbangan hakim dalam menjatuhkan putusan.

  “Istilah pertanggungjawaban pidana dalam bahasa Indonesia hanya ada satu, yaitu pertanggungjawaban. Sedangkan didalam bahasa Belanda ada 3

  toerekenbaar. Orangnya yang aansprakelijk atau verantwoordelijk,

  sedangkan toerekenbaar bukanlah orangnya, tetapi perbuatan yang dipertanggungjawabkan kepada orang” (Andi Hamzah, 2010: 139).

  Dalam KUHP masalah kemampuan bertanggung jawab ini terdapat dalam Pasal 44 ayat 1 yang berbunyi : “Barangsiapa melakukan perbuatan yang tidak dapat dipertanggung jawabkan kepadanya karena jiwanya cacat dalam pertumbuhan atau terganggu karena cacat, tidak dipidana”.

  “Orang tidak mungkin dipertanggungjawabkan (dijatuhi pidana) kalau dia tidak melakukan perbuatan pidana. Tetapi meskipun melakukan perbuatan pidana, tidak selalu dia dapat dipidana” (Moeljatno, 2009: 167).

  Kesalahan dalam arti yang seluas-luasnya, dapat disamakan dengan pengertian “pertanggungjawaban dalam hukum pidana”. Didalamnya terkandung makna dapat dicelanya si pembuat atas perbuatannya. Jadi apabila dikatakan bahwa orang itu bersalah melakukan sesuatu tindak pidana, maka itu berarti bahwa ia dapat dicela atas perbuatannya. Untuk dapat dicela atas perbuatannya, seseorang itu harus memenuhi unsur-unsur kesalahan sebagai berikut:

  a. Adanya kemampuan bertanggungjawab pada si pembuat. Artinya keadaan jiwa si pembuat harus normal.

  b. Adanya hubungan batin antara si pembuat dengan perbuatannya, yang berupa kesengajaan (dolus) atau kealpaan (culpa). Ini disebut bentuk-bentuk kessalahan.

  c. Tidak adanya alasan yang menghapus kesalahan atau tidak ada alasan pemaaf (Tri Andrisman, 2009: 95).

  Seorang aparat penegak hukum tidak dapat sewenang-wenang dalam menjatuhkan pidana pada setiap pelaku tindak pidana. Perlu ada dasar pertimbangan oleh hakim dalam segala putusannya. Apabila hakim menjatuhkan putusan pemidanaan, hakim telah yakin berdasarkan alat-alat bukti yang sah serta fakta-fakta di persidangan bahwa terdakwa melakukan perbuatan sebagaimana dalam surat dakwaan (Lihat Pasal 183 KUHAP).

  Selain itu, dalam penjatuhan pidana, jika terdakwa tidak dilakukan penahanan, dapat diperintahkan oleh hakim supaya terdakwa tersebut ditahan, apabila tindak pidana yang diancam dengan pidana penjara 5 tahun atau lebih, atau apabila tindak pidana itu termasuk yang diatur dalam ketentuan Pasal 21 ayat (4) huruf b KUHAP dan terdapat cukup alasan untuk itu. Dalam hal terdakwa dilakukan suatu penahanan, pengadilan dapat menetapkan terdakwa tersebut tetap berada dalam tahanan atau membebaskannya, apabila terdapat cukup alasan untuk itu (Lihat Pasal 193 ayat (2) KUHAP).

  Lamanya pidana, pembentuk undang-undang memberi kebebasan kepada hakim untuk menentukan antara pidana minimum sampai maksimum terhadap pasal yang terbukti dalam persidangan, walaupun pembentuk undang-undang memberi kebebasan menentukan batas maksimum dan minimum lama pidana yang harus dijalani terdakwa, bukan berarti hakim bisa seenaknya menjatuhkan pidana tanpa dasar pertimbangan yang lengkap.

  Penjatuhan pidana tersebut harus cukup dipertimbangkan dan putusan hakim yang kurang pertimbangan dapat dibatalkan oleh Mahkamah Agung RI. Adanya kesalahan terdakwa dibuktikan dengan minimal dua alat bukti dan hakim yakin akan kesalahan terdakwa berdasarkan alat bukti yang ada dan dengan adanya dua alat bukti dan keyakinan hakim, berarti pula syarat untuk menjatuhkan pidana telah terpenuhi (Lihat Pasal 183 KUHAP).

  Pengadilan menjatuhkan putusan yang mengandung pemidanaan, hakim harus mempertimbangkan hal-hal yang memberatkan dan meringankan terdakwa. Hal ini memang sudah ditentukan dalam Pasal 197 ayat (1) KUHAP yang menyebutkan putusan pemidanaan memuat keadaan yang memberatkan dan yang meringankan terdakwa.

  2. Konseptual Kerangka konseptual merupakan kerangka yang menghubungkan atau menggambarkan konsep-konsep khusus yang merupakan kumpulan dari arti yang berkaitan dengan istilah. (Soejono Soekanto, 1986: 32). Agar dapat memberikan penjelasan yang mudah untuk dipahami, maka akan dijabarkan beberapa pengertian mengenai istilah yang berkaitan dengan judul penulisan skripsi ini:

  a. Pertanggungjawaban pidana adalah keadaan seseorang wajib menanggung segala sesuatu yang ditentukan berdasar pada kesalahan pembuat (liability

  based on fault), dan bukan hanya dengan dipenuhinya seluruh unsur suatu tindak pidana atau akibat perbuatannya dapat dituntut, dipersalahkan, diperkarakan dan seagainya (Tolib Setiady, 2010: 146).

  b. Pelaku delik (auctor delicti/pleger) adalah orang yang melakukan perbuatan yang dilarang oleh undang- undang. (Prof. Dr. jur. Andi Hamzah, 2008:95) c. Tindak Pidana korupsi adalah tindak pidana yang berhubungan dengan perbuatan penyuapan dan manipulasi serta perbuatan-perbuatan lain yang merugikan atau dapat merugikan keuangan atau perekonomian negara. (Evi Hartanti, S.H., 2008:8)

  d. Putusan pengadilan adalah pernyataan hakim yang diucapkan dalam sidang pengadilan terbuka yang dapat berupa pemidanaan atau bebas atau lepas dari segala tuntutan hukum dalam hal serta menurut cara yang diatur dalam undang-undang ini (Pasal 1 ayat (11) KUHAP).

F. SISTEMATIKA PENULISAN

  Guna memudahkan pemahaman terhadap skripsi ini secara keseluruhan, maka disajikan sistematika penulisan sebagai berikut:

I. PENDAHULUAN

  Merupakan bab pendahuluan yang berisi latar belakang penulisan skripsi, permasalahan dan ruang lingkup penulisan skripsi, tujuan dan kegunaan penulisan, kerangka teoritis dan konseptual serta sistematika penulisan.

II. TINJAUAN PUSTAKA

  Merupakan bab tinjauan pustaka sebagai pengantar dalam memahami pengertian umum tentang pokok-pokok bahasan yang merupakan tinjauan yang bersifat teoritis, yang nantinya akan dipergunakan sebagai bahan studi perbandingan, teori dan praktek.

  III. METODE PENELITIAN

  Merupakan bab yang berisi uraian metode yang digunakan dalam skripsi ini yang meliputi pendekatan masalah, sumber dan jenis data, penentuan populasi dan sampel, prosedur pengumpulan dan pengolahan data serta analisis data.

  IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN

  Merupakan bab yang menjelaskan secara lebih terperinci tentang Pertanggungjawaban Pidana Pelaku Dalam Tindak Pidana Korupsi (Studi Putusan Nomor 31/Pid.B/TPK/2010/PN. JKT PST).

V. PENUTUP

  Merupakan bab yang berisi tentang kesimpulan dari hasil penelitian dan saran atas dasar hasil penelitian.

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Pertanggungjawaban Pidana

  1. Pengertian Pidana Menurut Roeslan Saleh, yang dimaksud dengan pidana adalah reaksi atas, dan ini berujud suatu nestapa yang dengan sengaja ditimpakan negara kepada pembuat delik (Muladi dan Barda Nawawi, 2010: 2) Defenisi diatas dapat disimpulkan bahwa pidana mengandung unsur-unsur atau ciri-ciri sebagai berikut: 1) pidana itu pada hakikatnya merupakan suatu pengenaan penderitaan atau nestapa atau akibat akibat lain yang tidak menyenangkan; 2) pidana itu diberikan dengan sengaja oleh orang atau badan yang mempunyai kekuasaan (oleh yang berwenang); 3) pidana itu dikenakan kepada seseorang yang telah melakukan tindak pidana menurut undang-undang (Muladi dan Barda Nawawi, 2010: 4) Dapat disimpulkan, hukum pidana dirumuskan sebagai keseluruhan ketentuan peraturan yang mengatur tentang:

  1. Perbuatan yang dilarang.

  2. Orang yang melanggar larangan tersebut.

  Penjabaran lebih lanjut dari kesimpulan pengertian hukum pidana diatas dapat dijelaskan bahwa “perbuatan yang dilarang” itu berkaitan dengan tindak pidana, “orang yang melanggar larangan” itu berkaitan dengan pertanggungjawaban pidana, yaitu syarat-syarat pengenaan pidana. Maksudnya sampai sejauhmana seseorang yang melakukan tindak pidana mempunyai kesadaran dan kemampuan menilai baik buruk perbuatannya tersebut; serta “pidana” itu berkaitan dengan sanksi atau hukuman yang dapat dijatuhkan kepada orang yang melakukan tindak pidana, yaitu hanya melalui putusan hakim yang telah bersifat tetap dan jenis pidana yang dapat dijatuhkan telah ditentukan dalam undang-undang. Dengan demikian dapat pula hukum pidana itu diartikan sebagai “keseluruhan peraturan yang mengatur tentang: 1) Tindak Pidana; 2) Pertanggungjawaban pidana; dan 3) Pidana” (Tri Andrisman, 2009: 8).

  2. Tujuan Pemidaan Pertumbuhan Pemikiran mengenai tujuan dan pemidanaan telah mendorong untuk menciptakan lembaga-lembaga pemidanaan. Lembaga-lembaga tersebut berupa lembaga penindak atau lembaga kebijasanaan baru yang sebelumnya tidak ada dalam praktek pemidanaan. Agar lembaga-lembaga baru tersebut dapat dipergunakan secara sah menurut hukum, maka lembaga-lembaga tersebut harus dituangkan terlebih dahulu dalam suatu perundang-undangan. Pemidanaan adalah hukuman, pada hakekatnya pidana merupakan pengenaan penderitaan terhadap pembuat delik dimana pidana tersebut diharapkan mempunyai pengaruh terhadap orng yang dikenai pidana tersebut. Pidana ini baru dapat dirasakan secara nyata oleh terpidana ketika putusan hakim dilaksanakan secara efektif. Pemidanaan adanya pemidaan, maka tujuan pemidanaan baru dapat tercapai (Pipin Syarifin, 2001 : 13) Tujuan pemidanaan yang ingin dicapai menurut Van Hamel dalam Widiada Gunakarya (suatu pidana dapat dibenarkan) yaitu apabila pidana tersebut: 1) Tujuannya adalah untuk menegakkan arti hukum; 2) Diputuskan dalam batas-batas kebutuhan; 3) Dapat mencegah kemungkinan dilakukannya kejahatan lain oleh pelakunya; 4) Dijatuhkan berdasarkan suatu penelitian yang dituntaskan menurut Criminal

  Etiology dan dengan menghormati kepentingan-kepentingan yang sifatnya

  hakiki dari terpidana (Pipin Syarifin, 2001 : 14) Adapun teori-teori tentang pidana dapat dibagi ke dalam 4 (empat) kelompok teori sebagai berikut: a. Teori Absolut (Teori Pembalasan/Retributif) Menurut teori absolut ini, dijatuhkannya Pidana pada orang yang melakukan kejahatan adalah sebagai konsekuensi logis dari dilakukannya kejahatan. Jadi siapa yang melakukan kejahatan, harus dibalas pula dengan penjatuhan penderitaan pada orang itu.

  b. Teori Relatif (Teori Tujuan/Utilitarian) Menurut teori ini, tujuan dari pidana itu terletak pada tujuan pidana itu sendiri.

  Disebut dengan teori tujuan, karena tujuan dari pidana itu sendiri untuk perlindungan masyarakat atau memberantas kejahatan. Jadi teori ini tidak semata- mata untuk pembalasan, tetapi untuk tujuan tertentu. Untuk mencapai tujuan dari pidana tersebut, yaitu mencegah kejahatan dibedakan antara istilah prevensi umum dan prevensi khusus, dimana prevensi umum dimaksudkan agar pengaruh pidana terhadap masyarakat umum untuk tidak melakukan tindak pidana lagi, sedangkan prevensi khusus dimaksudkan agar pengaruh pidana terhadap terpidana itu sendiri. Ini berarti pidana bertujuan agar si terpidana berubah menjadi orang yang lebih baik dan berguna bagi masyarakat.

  c. Teori Gabungan Teori ini ada dikarenakan untuk memuaskan semua penganut teori pembalasan maupun tujuan. Menurut teori ini, tujuan pemidanaan bersifat plural karena menghubungkan prinsip tujuan dan prinsip pembalasan dalam satu kesatuan. Dalam hal ini pidana dan pemidanaan terdiri dari proses kegiatan terhadap pelaku tindak pidana, yang dengan suatu cara tertentu diharapkan dapat mengasimilasikan kembali narapidana ke masyarakat.

  d. Teori integratif Teori ini diperkenalkan oleh Prof.Dr. Muladi, guru besar dari fakultas Hukum Universitas Diponegoro. Menurut beliau tujuan pidana maupun pemidanaan adalah untuk memperbaiki kerusakan individual dan sosial(individual and social

  damages) yang diakibatkan oleh tindak pidana (Tri Andrisman, 2009:30-35).

  3. Pengertian Pertanggungjawaban Pidana Pertanggung jawaban pidana dalam istilah asing tersebut juga dengan

  

teorekenbaardheid atau criminal responsibility yang menjurus kepada

  pemidanaan petindak dengan maksud untuk menentukan apakah seseorang terdakwa atau tersangka dipertanggung jawabkan atas suatu tindakan pidana yang terjadi atau tidak.

  Istilah pertanggungjawaban pidana dalam bahasa Indonesia hanya ada satu, yaitu pertanggungjawaban. Sedangkan didalam bahasa Belanda ada 3 kata yang sinonim menurut Pompe, aansprakelijk, verantwoordelijk dan toerekenbaar. Orangnya yang aansprakelijk atau verantwoordelijk, sedangkan toerekenbaar bukanlah orangnya, tetapi perbuatan yang dipertanggungjawabkan kepada orang (Andi Hamzah, 2010: 139). Menurut KUHP kita tidak ada, ketentuan tentang arti kemampuan bertanggung jawab. Yang berhubungan dengan itu ialah Pasal 44: Barang siapa melakukan perbuatan yang tidak dapat dipertanggung jawabkan kepadanya karena jiwanya cacat dalam tubuhnya atau jiwa yang terganggu karena penyakit. Kalau tidak dapat dipertanggungjawabkannya itu disebabkan karena hal lain, misalnya jiwanya tidak normal karena masih sangat muda atau lain-lain, pasal tersebut tidak dapat dipakai (Moeljatno, 2009: 178). Apabila yang melakukan perbuatan pidana itu tidak dapat dipertanggungjawabkan disebabkan karena pertumbuhan yang cacat atau adanya gangguan karena penyakit daripada jiwanya maka orang itu tidak dipidana. Jadi seseorang yang telah melakukan perbuatan pidana tetapi tidak dapat dipertanggungjawabkan karena hal-hal yang disebutkan dalam Pasal 44 KUHP, maka tidak dapat dipidana. Ketentuan dalam hukum positif ini sesuai dengan apa yang telah disebutkan dalam teori, dia dapat dicela oleh karenanya, sebab dianggap dapat berbuat lain, mampu bertanggung jawab. Orang yang tidak mampu bertanggungjawab tentu saja tidak sepantasnya dianggap dapat berbuat seperti yang diharapkan oleh hukum ataupun pikiran yang sehat (Tolib Setiady, 2010: 152) Kalau tidak dipertanggungjawabkan itu disebabkan hal lain, misalnya jiwanya tidak normal dikarenakan dia masih muda, maka pasal tersebut tidak dapat dikenakan, apabila hakim akan menjalankan Pasal 44 KUHP, maka sebelumnya harus memperhatikan apakah telah dipenuhi dua syarat sebagai berikut :

  1. Syarat Psychiartris yaitu pada terdakwa harus ada kurang sempurna akalnya atau sakit berubah akal, yaitu keadaan kegilaan (idiote), yang mungkin ada sejak kelahiran atau karena suatu penyakit jiwa dan keadaan ini harus terus menerus.

  2. Syarat Psychologis ialah gangguan jiwa itu harus pada waktu si pelaku melakukan perbuatan pidana, oleh sebab itu suatu gangguan jiwa yang timbul sesudah peristiwa tersebut, dengan sendirinya tidak dapat menjadi sebab terdakwa tidak dapat dikenai hukuman.

  Oleh karena kemampuan bertanggung jawab merupakan unsur kesalahan, maka untuk membuktikan adanya kesalahan unsur tadi harus dibuktikan lagi. Mengingat hal ini sukar untuk dibuktikan dan memerlukan waktu yang cukup lama, maka unsur kemampuan bertanggung jawab dianggap diam-diam selalu ada karena pada umumnya setiap orang normal batinnya dan mampu bertanggung jawab, kecuali kalau ada tanda-tanda yang menunjukkan bahwa terdakwa mungkin jiwanya tidak normal. Dalam hal ini, hakim memerintahkan pemeriksaan yang khusus terhadap keadaan jiwa terdakwa sekalipun tidak diminta oleh pihak terdakwa. Jika hasilnya masih meragukan hakim, itu berarti bahwa kemampuan bertanggung jawab tidak berhenti, sehingga kesalahan tidak ada dan pidana tidak dapat dijatuhkan berdasarkan asas tidak dipidana jika tidak ada kesalahan (http://saifudiendjsh.blogspot.com/2009/08/pertanggungjawaban- pidana.html,diakses tanggal 22 November, pada pukul 10.30 wib) Menurut Van Bemmelen, dapat dipertanggungjawabkan itu meliputi: 1. Kemungkinan menentukan tingkah lakunya dengan kemauannya.

  2. Mengerti tujuan nyata perbuatannya.

  3. Sadar bahwa perbuatan itu tidak diperkenankan oleh masyarakat (Andi Hamzah, 2010: 157)

  Kesalahan dalam arti seluas-luasnya dapat disamakan dengan pertanggungjawaban dalam hukum pidana, yang terkandung maka dapat dicelanya si pembuat atas perbuatannya. Untuk dapat dicela atas perbuatannya, seseorang itu harus memenuhi unsur-unsur kesalahan sebagai berikut: a. Adanya kemampuan bertanggungjawab pada si pembuat. Artinya keadaan jiwa si pembuat harus normal.

  b. Adanya hubungan batin antara si pembuat dengan perbuatannya, yang berupa kesengajaan (dolus) atau kealpaan (culpa). Ini disebut bentuk-bentuk kessalahan.

  c. Tidak adanya alasan yang menghapus kesalahan atau tidak ada alasan pemaaf (Tri Andrisman, 2009: 16-17).

  Kalau ketiga unsur tersebut ada, maka orang yang bersangkutan dapat dinyatakan dipidana. Disamping itu harus diingat pula bahwa untuk adanya kesalahan dalam arti seluas-luasnya (pertanggungjawaban pidana), orang yang bersangkutan harus dinyatakan lebih dulu bahwa perbuatannya bersifat melawan hukum. Oleh karena itu sangat penting untuk selalu menyadari akan dua hal dalam syarat-syarat pemidanaan, yaitu: a. Dapat dipidananya perbuatan (strafbaarheid van het feit).

  b. Dapat dipidananya orang atau pembuatnya (strafbaarheid van de persoon). Meskipun apa yang disebut dalam a dan b ada pada si pembuat, tetapi ada kemungkinan bahwa ada keadaan yang mempengaruhi si pembuat sehingga kesalahannya hapus, misal: dengan adanya kelampauan batas pembelaan terpaksa (Pasal 49 ayat (2) KUHP). Berkaitan dengan dapat dipidananya perbuatan, maka harus dibuktikan bahwa: (1) perbuatan itu harus memenuhi rumusan undang- undang; (2) perbuatan itu harus bersifat melawan hukum; dan (3) tidak ada alasan pembenar. Sedangkan berkaitan dengan dapat dipidananya orang, maka terhadap orang tersebut harus dibuktikan adanya 3 (tiga) hal sebagai berikut: (1) Adanya Kemampuan Bertanggungjawab; (2) Sengaja atau Alpa; dan (3) Tidak ada alasan pemaaf (Tri Andrisman, 2009: 17).

  Untuk adanya kesalahan hubungan antara keadaan batin dengan perbuatannya (atau dengan suatu keadaan yang menyertai perbuatan) yang menimbulkan celaan tadi harus berupa kesengajaan atau kealpaan. Dikatakan bahwa kesengajaan (dolus) dan kealpaan (culpa) adalah bentuk-bentuk kesalahan (schuldvormen). Diluar dua bentuk ini, KUHP kita (dan kiranya juga lain-lain negara) tidak mengenal macam kesalahan lain (Moeljatno, 2009: 174).

  Tidak mungkin ada kesalahan tanpa adanya melawan hukum. Tetapi seperti dikatakan oleh Vos, mungkin ada melawan hukum tanpa adanya kesalahan.

  Melawan hukum adalah mengenai perbuatan yang abnormal secara obyektif. Kalau perbuatan itu sendiri tidak melawan hukum berarti bukan perbuatan abnormal. Untuk hal ini tidak lagi diperlukan jawaban siapa pembuatnya. Kalau perbuatannya sendiri tidak melawan hukum berarti pembuatnya tidak bersalah. Dapat dikatakan bahwa ada kesalahan jika pembuat dapat dipertanggungjawabkan atas perbuatan. Perbuatannya dapat dicelakan terhadapnya. Celaan ini bukan celaan etis, tetapi celaan hukum. Beberapa perbuatan yang dibenarkan secara etis dapat dipidana. Peraturan hukum dapat memaksa keyakinan etis pribadi kita disingkirkan (Andi Hamzah, 2010: 138).

  Secara umum prinsip-prinsip tanggung jawab dalam hukum dapat dibedakan sebagai berikut: 1) Prinsip Tanggung Jawab berdasarkan Unsur Kesalahan

  Prinsip Tanggung jawab berdasarkan unsur kesalahan (fault liability atau

  liability based on fault) adalah prinsip yang cukup umum berlaku dalam

  hukum pidana dan perdata. Dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata (KUHPdt.), khususnya pasal 1365, 1366, dan 1367, prnsip ini dipegang secara teguh. Prinsip ini menyatakan, seseorang baru dapat dimintakan pertanggungjawabannya secara hukum jika ada unsur kesalahan yang dilakukannya. Pasal 1365 Kitab Undang-Undang Hukum Perdata yang lazim dikenal sebagai pasal tentang perbuatan melawan hukum, mengharuskan a) Adanya perbuatan;

  b) Adanya unsur kesalahan;

  c) Adanya kerugian yang diderita;

  d) Adanya hubungan kausalitas antara kesalahan dan kerugian Yang dimaksud kesalahan adalah unsur yang bertentangan dengan hukum.

  Pengertian hukum tidak hanya bertentangan dengan undang-undang tetapi juga kepatutan dan kesusilaan dalam masyarakat.

  2) Prinsip Praduga Untuk Selalu Bertanggung Jawab Prinsip ini menyatakan bahwa tergugat selalu dianggap bertanggung jawab (presumption of liability principle), sampai ia dapat membuktikan bahwa ia tidak bersalah, kata “dianggap” pada prinsip “presumption of liability” adalah penting, karena ada kemungkinan tergugat membebaskan diri dari tanggung jawab, yaitu dalam hal ia dapat membuktikan bahwa ia telah “mengambil” semua tindakan yang diperlukann untuk menghindarkan terjadinya kerugian. Dalam prinsip ini, beban pembuktiannya ada pada si tergugat. Dalam hal ini tampak beban pembuktian terbalik (omkering van bewijslast). Hal ini tentu bertentang dengan asas hukum praduga tidak bersalah (presumption of

  innocence). Namun jika diterapkan dalam kasus konsumen akan tampak asas

  demikian cukup relevan. Jika digunakan teori ini, maka yang berkewajiban untuk membuktikan kesalahan itu ada pada pihak pelaku usaha yang digugat.

  Tergugat harus menghadirkan bukti-bukti bahwa dirinya tidak bersalah.

  3) Prinsip Praduga Untuk Tidak Selalu Bertanggung Jawab Prinsip ini adalah kebalikan dari prinsip yang kedua, prinsip praduga untuk tidak selalu bertanggung jawab hanya dikenal dalam lingkup transaksi konsumen yang sangat terbatas. Contoh dari penerapan prinsip ini adalah pada hukum pengangkutan. Kehilangan atau kerusakan pada bagasi kabim atau bagasi tangan, yang biasa dibawa dan diawasi oleh penumpang (konsumen) adalah tanggung jawab dari penumpang. Dalam hal ini pengangkut (pelaku usaha) tidak dapat dimintakan pertanggungjawabannya.

  Pihak yang dibebankan untuk membuktikan kesalahan ada pada konsumen. 4) Prinsip Tanggung Jawab Mutlak

  Prinsip tanggung jawab mutlak (strict liability) sering diidentikan dengan prinsip tanggung jawab absolut (absolute liability) kendati demikian ada pula para ahli yang meedakan kedua termilogi di atas. Ada pendapat yang menyatakan, strict liability adalah prinsip tanggung jawab yang menetapkan kesalahan tidak sebagai faktor yang menentukan. Namun ada pengecualian- pengecualian yang memungkinkan untuk dibebaskan dari tanggung jawab, misalnya pada keadaan force majeure. Sebaliknya absolute liability, adalah prinsip tanggung jawab tanpa kesalahan dan tidak ada pengecualiannya.

  Menurut E. Suherman, strict liability disamakan dengan absolute liability, dalam prinsip ini tidak ada kemungkinan untuk membebaskan diri dari tanggung jawab, kecuali apabila kerugian yang timbul karena kesalahan pihak yang dirugikan sendiri. Tanggung jawab adalah mutlak.

  5) Prinsip Tanggung Jawab Dengan Pembatasan Prinsip tanggung jawab dengan pembatasan (limitation of liability principle) ini sangat disenangi oleh pelaku usaha untuk dicantumkan sebagai klausula eksonerasi dalam perjanjian standar yang dibuatnya.

B. Pengertian Tindak Pidana Korupsi

  Korupsi merupakan gejala masyarakat yang dapat dijumpai dimana-mana. Sejarah membuktikan bahwa hampir tiap negara dihadapkan pada masalah korupsi. Tidak berlebihan jika pengertian korupsi selalu berkembang dan berubah sesuai dengan perubahan zaman (Martiman Prodjohamidjojo, 2001: 7).

  Carl J. Friesrich, mengatakan bahwa pola korupsi dapat dikatakan ada apabila seseorang memegang kekuasaan yang berwenang untuk melakukan hal-hal tertentu seseorang pejabat bertanggung jawab melalui uang atau semacam hadiah lainnya yang tidak diperbolehkan oleh undang-undang; membujuk untuk mengambil langkah yang menolong siapa saja yang menyediakan hadiah dan dengan demikian benar-benar membahayakan kepentingan umum (Martiman Prodjohamidjojo, 2001: 9). Menurut Fockema Andrea kata korupsi berasal dari bahasa latin corruption atau

  

corruptus (Webster Student Dictionary:1960). Selanjutnya disebutkan bahwa

corruption itu berasal pula dari kata asal corrumpere, suatu kata Latin yang lebih

  tua.

  Menurut bahasa Latin itulah turun ke banyak bahasa Eropa seperti Inggris, yaitu

  

corruption, corrupt; Prancis, yaitu corruption; Belanda, yaitu corruptie

  (korruptie) dan dari bahasa Belanda inilah kata itu turun ke bahasa Indonesia, yaitu “korupsi” (Andi Hamzah, 2007: 4).

  Ensiklopedia Indonesia menyebutkan bahwa “korupsi” (dari bahasa Latin:

  

corruption = penyuapan; corruptore = merusak) gejala dimana para pejabat,

  badan-badan negara menyalahgunakan wewenang dengan terjadinya penyuapan, pemalsuan serta ketidakberesan lainnya.

  Secara harfiah korupsi merupakan sesuatu yang busuk, jahat, dan merusak. Jika membicarakan tentang korupsi memang akan menemukan kenyataan semacam itu karena korupsi menyangkut segi-segi moral, sifat dan keadaan yang busuk, jabatan dalam instansi atau aparatur pemerintah, penyelewengan kekuasaan dalam jabatan karena pemberian, faktor ekonomi dan politik, serta penempatan keluarga atau golongan ke dalam kedinasan di bawah kekuasaan jabatannya. Dengan demikian, secara harafiah dapat ditarik kesimpulan bahwa sesungguhnya istilah korupsi memiliki arti yang sangat luas.

  1. Korupsi, penyelewengan atau penggelapan (uang negara atau perusahaan dan sebagainya) untuk kepentingan pribadi dan orang lain.

  2. Korupsi : busuk; rusak; suka memakai barang atau uang yang dipercayakan kepadanya; dapat disogok (melalui kekuasaannya untuk kepentingan pribadi).

  Adapun menurut Subekti dan Tjitrosoedibio dalam Kamus Hukum, yang dimaksud curruptie adalah korupsi; perbuatan curang; tindak pidana yang

  Baharuddin Lopa mengutip pendapat dari David M. Chalmers, menguraikan arti istilah korupsi dalam berbagai bidang, yakni yang menyangkut masalah penyuapan, yang berhubungan dengan manipulasi di bidang ekonomi, dan yang menyangkut bidang kepentingan umum. Kesimpulan ini diambil dari defenisi yang dikemukakan antara lain berbunyi, financial manipulations and deliction

  

injurious to the economy are often labeled corrupt (manipulasi dan keputusan

  mengenai keuangan yang membahayakan perekonomian sering dikategorikan perbuatan korupsi). Selanjutnya ia menjelaskan the term is often applied also to

  

misjudgements by officials in the public economies (istilah ini sering juga

  digunakan terhadap kesalahan ketetapan oleh pejabat yang menyangkut bidang perekonomian umum).

  Dikatakan pula, disguised payment in the form og gifts, legal fees, employment,

  

favors to relatives, social influence, or any relationship that sacrifices the public

and welfare, with or without the implied payment of money, is usually considered

corrupt (pembayaran terselubung dalam bentuk pemberian hadiah, ongkos

  administrasi, pelayanan, pemberian hadiah kepada sanak keluarga, pengaruh kedudukan social, atau hubungan apa saja yang merugikan kepentingan dan kesejahteraan umum, dengan atau tanpa pembayaran uang, biasanya dianggap sebagai perbuatan korupsi). Ia menguraikan pula bentuk korupsi yang lain, yang diistilahkan political corruption (korupsi politik) adalah electoral corruption


Dokumen yang terkait

PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA PELAKU DALAM TINDAK PIDANA KORUPSI (Studi Putusan Nomor: 31/Pid.B/TPK/2010/PN. JKT. PST.)

0 9 69

PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA PELAKU TINDAK PIDANA PENGGELAPAN UANG PERUSAHAAN (Studi Putusan Pengadilan Negeri Tanjung Karang Perkara Nomor: 167/Pid.B/2011/PN.TK)

4 12 77

ANALISIS PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA TERHADAP PELAKU TINDAK PIDANA KORUPSI (Studi Kasus Putusan Pengadilan Negeri No.06/PID.TPK/2011/PN.TK )

0 9 60

PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA PELAKU TINDAK PIDANA PEMBUNUHAN YANG DILAKUKAN OLEH ANAK (Studi Putusan Nomor: 791/Pid.A/2012/PN.TK)

2 25 62

ANALISIS PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA TERHADAP PELAKU TINDAK PIDANA KORUPSI TENDER PERBAIKAN JALAN (Studi Putusan Nomor : 07/PID.TPK/2011/PN.TK)

0 4 49

PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA TERHADAP PEGAWAI PDAM WAY RILAU BANDAR LAMPUNG YANG MELAKUKAN TINDAK PIDANA KORUPSI PENGADAAN SOLAR (Studi Putusan Nomor: 21/PID/TPK/2012.PN.TK)

3 32 65

PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA PELAKU TINDAK PIDANA KORUPSI KEDELAI BERSUBSIDI (StudiPutusanPengadilanNegeriTanjungKarang No.26/Pid.TPK/2012/PN.TK)

0 6 56

ANALISIS PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA PELAKU TINDAK PIDANA PERBANKAN (Studi Putusan Nomor: 483/Pid.Sus./2013/PN.TK)

2 39 70

ANALISIS PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA TERHADAP PELAKU TINDAK PIDANA KORUPSI DANA TILANG PENERIMAAN NEGARA BUKAN PAJAK (Studi Putusan Nomor: 32/Pid.TPK/2014/PN.TJK)

0 9 53

ANALISIS DASAR PERTIMBANGAN HAKIM DALAM MENJATUHKAN PIDANA TERHADAP PELAKU TINDAK PIDANA KORUPSI PAJAK KENDARAAN BERMOTOR (Studi Putusan Nomor: 18/Pid.Sus-TPK/2016/PN.Tjk)

0 1 15

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

85 2203 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

31 567 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

30 488 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

12 317 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

22 437 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

36 699 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

31 612 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

11 390 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

16 572 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

27 698 23