Saran Umum IEEE 802.11 Secara Umum PacketGenerationRate PamvotisSimulator

96

5.2 Saran

Adapun saran dari Tugas Akhir ini adalah sebagai berikut : 1. Untuk penelitian selanjutnya dapat diamati untuk parameter kinerja jaringan yang berbeda. 2. Untuk penelitian selanjutnya dapat diamati untuk standar fisik IEEE 802.11 yang berbeda. 3. Untuk penelitian selanjutnya dapat diamati dengan menggunakan packet generation rate yang lebih bervariasi. 4. Agar didapat perbandingan dari hasil pengukuran yang berbeda, penelitian dilakukan dengan menggunakan simulator yang lain. Universitas Sumatera Utara 6

BAB II DASAR TEORI

2.1 Umum

Bab ini menjelaskan sekilas mengenai IEEE 802.11 secara umum, standar fisik IEEE 802.11, teknologi multiple access IEEE 802.11, pembangkitan trafik, parameter kinerja jaringan, dan simulator.

2.2 IEEE 802.11 Secara Umum

Standar WLAN mengacu pada IEEE 802.11 yang pertama kali dipublikasikan pada tahun 1997. IEEE Institute of Electrical and Electronics Engineers merupakan lembaga independen yang berfokus pada pengembangan inovasi teknologi dan perbaikan untuk kebaikan manusia [3]. Arsitektur dari standar IEEE 802.11 ditunjukkan oleh Gambar 2.1 [4]. Gambar 2.1 Arsitektur dari WLAN IEEE 802.11

2.3 Standar Fisik IEEE 802.11

Universitas Sumatera Utara 7 Ada berbagai macam jenis dari standar fisik IEEE 802.11, pada pembahasan kali ini hanya akan dibahas tentang IEEE 802.11a, IEEE 802.11b, dan IEEE 802.11g. Tiap – tiap standar IEEE 802.11 memiliki bermacam – macam data rate yang berpengaruh terhadap daya jangkau sinyal yang mampu dilaluinya, seperti yang ditunjukkan pada Gambar 2.2 [5]. Gambar 2.2 Perbandingan daya jangkau sinyal tiap standar IEEE 802.11

3.3.1 IEEE 802.11a

Standar IEEE 802.11a merupakan protokol jaringan WLAN yang dipublikasikan pada tahun 1999. Standar ini bekerja pada band frekuensi 5 GHz dengan pola OFDM Orthogonal Frequency Division Multiplexing menggunakan 52 sub carrier yang dimodulasi menggunakan teknik BPSK Binary Phase Shift Keying, QPSK Quardrature Phase Shift Keying, 16-QAM 16-Quadrature Amplitude Modulation, atau 64-QAM 64-Quadrature Amplitude Modulation. Universitas Sumatera Utara 8 Data rate pada IEEE 802.11a adalah 6 Mbps, 9 Mbps, 12 Mbps, 18 Mbps, 24 Mbps, 36 Mbps, 48 Mbps, dan hingga 54 Mbps [3].

3.3.2 IEEE 802.11b

Standar 802.11b memiliki data rate maksimum sebesar 11 Mbit s, Produk 802.11b muncul di pasaran pada awal tahun 2000. Standar IEEE 802.11b menggunakan perangkat yang berada dalam frekuensi 2,4 GHz seperti oven microwave, perangkat bluetooth, monitor bayi, telepon tanpa kabel, dan beberapa peralatan radio amatir [6].

3.3.3 IEEE 802.11g

Standar IEEE 802.11g mulai diciptakan pada bulan Juni 2003. Standar IEEE 802.11g bekerja pada frekuensi 2,4 GHZ sama seperti 802.11b, tetapi menggunakan skema berdasarkan OFDM sama seperti transmisi 802.11a [6].

2.4 Teknologi Multiple Access IEEE 802.11

Ada tiga jenis teknologi multiple access pada standar IEEE 802.11 yaitu mekanisme Basic Access, mekanisme RTS CTS, dan mekanisme CTS to Self.

2.4.1 Basic Access

Ada dua jenis protokol MAC yang didasari pada standar IEEE 802.11 yaitu Point Coordination Frame PCF dan Distributed Coordination Frame DCF. PCF adalah mode transmisi dengan pengiriman frame dalam Wireless LAN menggunakan mekanisme poling. Sementara DCF adalah metode akses yang diterapkan pada standar IEEE 802.11 dan digunakan untuk semua pemancar Universitas Sumatera Utara 9 wireless LAN untuk access dalam media transmisi RF menggunakan protokol CSMA CA Carrier Sense Multiple Access with Collision Avoidance. Jenis interframe space dari DCF yaitu DIFS DCF Inter Frame Space yang mempunyai inter frame spaceyang lebih panjang dan digunakan dalam pemancar IEEE 802.11 dan berfungsi sebagai pendistribusi. Berbeda dengan DIFS, SIFS Short Inter Frame Spacemerupakan space inter frame yang pendek serta digunakan sebelum dan sesudah semua tipe dari pesan telah terkirim. Jenis – jenis dari SIFS yaitu RTS Request to Send dan CTS Clear to Send. RTS digunakan untuk cadangan oleh pemancar sedangkan CTS digunakan untuk merespon access pointframe RTS yang berhubungan dengan pemancar. Salah satu dari jenis teknologi multiple access pada IEEE 802.11 yaitu basic access. Pada basic access, protokol yang digunakan hanya DCF. Arsitektur dari mekanisme basic access ditunjukkan oleh Gambar 2.3. Gambar 2.3 Arsitektur pada mekanisme Basic Access Prinsip kerja dari mekanisme basic accessyaitu ketika sebuah stasiun mengirimkan sebuah paket, maka stasiun tersebut harus menunggu channel menjadi idle. Ketika periode idle terdeteksi sama dengan DIFS, maka akan Universitas Sumatera Utara 10 menghasilkan sebuah nilai initial backoff time. Nilai ini menunjukkan periode bahwa stasiun harus menambah waktu tunda sebelum transmisi. Mekanisme backoff time paling penting digunakan dalam CSMA CA IEEE 802.11 untuk mencegah terjadinya collision. Backoff time dapat dirumuskan seperti persamaan 1[7]: ������� ���� = ������ � ������ 0,1�� ��������.............................2.1 Keterangan dari persamaan 2.1 yaitu : 1. Random 0,1 adalah nomor pseudo acak antara 0 dan 1 pada distribusi uniform. 2. CW adalah bilangan bulat dalam rentang nilai CWmin dan CWmax. Nilai CW = 2 x – 1 x dimulai dari sebuah integer didefenisikan oleh stasiun. CW Contention Window meningkat secara eksponensial untuk setiap pengiriman ulang. 3. Nilai dari durasi Slot Time tergantung dari nilai karakteristik physic. Slot Time digunakan untuk metode clock. Untuk utilisasi yang rendah, stasiun tidak dianjurkan untuk menunggu waktu yang lama sebelum mengirimkan frame. Jika utilisasi jaringan yang tinggi, stasiun akan menunggu untuk periode yang lebih lama agar meminimalkan kemungkinan stasiun melakukan transmisi pada saat yang sama. Selanjutnya backoff time kembali menurun ketika channel tersebut idlepada periode DIFS. Ketika mencapai waktu nol, paket data akan ditransmisikan [7]. Universitas Sumatera Utara 11

2.4.2 RTS CTS

Pada standar 802.11 terdapat fitur berupa mekanisme RTSCTSRequest to Send Clear to Send. Mekanisme RTSCTS ini dapat diaktifkan ataupun tidak diaktifkan. Tujuan dari penggunaan mekanisme RTSCTS adalah untuk mengatasi terjadinyaHidden Node Problem. Dimana tiap node dapat mendeteksi keadaan base station dan dapat didengar oleh base station, akan tetapi antara node tidak dapat saling mendeteksi. Hal ini dapat menyebabkan collision karena tiap node akan mengirimkan data ke base station. Dengan menggunakan mekanisme RTSCTS setiap node harus menunggu CTS dari base station sebelum melakukan transmisi [8]. Gambar 2.4 menjelaskan tentang prosedur pertukaran frame untuk mekanisme RTS CTS sebelum pengirim melakukan transmisi paket data. Ketika stasiun A ingin mengirim paket ke stasiun C, langkah awal yang dilakukan yaitu stasiun A harus mengirimkan frame RTS panah 1, yang diterima oleh stasiun B dan C panah berlabel 2 dan terletak pada cakupan pengirim. Stasiun B dan C lalu mengirim frameCTS panah diberi label 3 yang diterima oleh semua stasiun panah berlabel 4. Stasiun D, yang tersembunyi dari pengirim keluar dari jangkauan stasiun A, meskipun tidak dapat menerima frame RTS dari pengirim, tetapi stasiun D dapat menerima frame CTS dari stasiun C, sehingga akan menahan diri untuk melakukan transmisi. Setelah menerimaframe CTS, stasiun A akan memulai melakukan transmisi paket data [9]. Universitas Sumatera Utara 12 Gambar 2.4 Proses pertukaran frame pada mekanisme RTS CTS

2.4.3 CTS to Self

Standar IEEE 802.11g mendefinisikan mekanismeCTS to Self sebagai alternatif padamekanisme RTS CTS untuk mengurangi overhead dalam sistem WLAN. Tidak seperti mekanismeRTS CTS, mekanisme CTS to Self tidak efisien untuk mengatasi terjadinyahidden terminal problem. Gambar 2.5 menjelaskan tentang prosedur pertukaran frame untuk mekanisme CTSto Self sebelum pengirim melakukan transmisi paket data. Ketika stasiun A ingin mengirim paket ke stasiun C, langkah awal yang dilakukan yaitu stasiun A mengirimkan sebuah frame CTS panah 1 yang diterima dari stasiun B dan C panah berlabel 2. Kedua stasiun akan menunda melakukan transmisi. Namun, stasiun D, yang keluar dari daerah cakupan pengirim, tidak akan menerima frame CTS dan tidak bisa mendeteksi transmisi A. Oleh karena itu, jika stasiun D melakukan transmisi, makaakan terjadi collision. Akibatnya, frame CTS to Selfhanya dapat mencegah terjadinya transmisi dua atau lebih stasiun pada slot yang sama. CTS to Self harus digunakan hanya ketika semua stasiun dapat saling mendeteksi sama lain [9]. Universitas Sumatera Utara 13 Gambar 2.5 Proses pertukaran framepada mekanisme CTS to Self

2.5 Pembangkitan Trafik

Ada beberapa jenis distribusi pembangkitan trafik, pada pembahasan kali ini hanya akan dibahas tentang pembangkitan trafik distribusi poisson dan pembangkitan trafik distribusi exponential.

2.5.1 Distribusi Poisson

Pada penelitian Tugas Akhir ini, distribusi poisson digunakan pada Packet Length Distribution pada bagian Packet Size yang terdapat pada Pamvotis Simulator. Beberapa asumsi untuk proses Poisson yaitu : 1. Peluang terjadi satu kedatangan antara waktu � dan � + ∆� adalah sama dengan λ∆� + �∆�. Dapat ditulis P {terjadi kedatangan antara � dan � + ∆�} = λ∆� + �∆�, dengan λ adalah suatu konstanta yang independent dari Nt, dengan Nt merupakan proses counting, ∆� adalah elemen penambah waktu, dan �∆�dinotasikan sebagai banyaknya Universitas Sumatera Utara 14 kedatangan yang bisa diabaikan jika dibandingkan dengan ∆� , dengan ∆�� , dinotasikan : lim ∆�→∞ �∆� ∆� = 0. 2. P{lebih dari satu kedatangan antara � dan � + ∆� } adalah sangat kecil atau bisa dikatakan diabaikan = �∆� 3. Jumlah kedatangan pada interval yang berurutan adalah tetap dan independen, yang berarti bahwa proses mempunyai penambahan bebas, yaitu jumlah kejadian yang muncul pada setiap interval waktu tidak bergantung pada interval waktunya [10].

2.5.2 Distribusi Exponential

Pada penelitian Tugas Akhir ini, distribusi exponential digunakan pada Packet Generation Rate Distribution pada bagian Packet Generation Rate yang terdapat pada Pamvotis Simulator. Variabel random kontinu X berdistribusi eksponensial dengan menggunakan parameter ϴ 0, jika mempunyai fungsi distribusi seperti pada persamaan 2.2 [10] : ��; ϴ = � 1 ϴ � � ϴ � 0 � ���� ������� .............................................................2.2 Dengan ϴ merupakan parameter skala. Sedangkan fungsi distribusi kumulatifnya ditunjukkan dalam persamaan 2.3 [10] : ��; ϴ = 1 − � −� ϴ , x 0..................................................................................2.3 Universitas Sumatera Utara 15

2.6 PacketGenerationRate

Packet Generation Rate merupakan suatu tingkatan perpindahan paket dalam tiap satu satuan waktu. Satuan dari packet generation rate yaitu paket per detik. Ketika packet generation ratekecil, jalur terpendek digunakan untuk menyampaikan paket ke tujuan, tetapi ketika packet generation rate besar, beban trafik pada node sentral dibagikan ke selain node sentral menggunakan metode routing[11].

2.7 Parameter Kinerja Jaringan

Parameter kinerja jaringan menunjukkan kemampuan sebuah jaringan dalam menyediakan layanan yang lebih baik bagi trafik yang melewatinya. Beberapa parameter kinerja jaringan yaitu throughput, utilization, media access delay, queuing delay, total packet delay, dan jitter.

2.6.1 Throughput

Throughput menunjukkan jumlah bit yang diterima dengan sukses perdetik melalui sebuah sistem atau media komunikasi dalam selang waktu tertentu yang pada umumnya dilihat dalam satuan bits [3]. Universitas Sumatera Utara 16

2.6.2 Utilization

Utilization adalah persentase kapasitas channel node diduduki. Utilization merupakan throughput node dalam bits untuk setiap kecepatan data node. Persamaan 2.4 menunjukkan formula untuk menghitung utilization [9]. ����������� = �ℎ���� ℎ��� ���� ��� ��������� ���� ���� ...................................................................2.4

2.6.3 Media Access Delay

Media access delay menunjukkan nilai total delay akibat antrian dan contention paket data yang diterima oleh MAC WLAN dari layer yang lebih tinggi. Delay dari media akses dihitung untuk tiap paket dikirimkan ke physical layer pada waktu tertentu [3].

2.6.4 Queuing Delay

Queuing Delay merupakan delay dari dibangkitkannya sebuah paket sampai transmittermelakukan transmisi. Queuing Delay relatif terhadap packet generation rate dari media access delay [9].

2.6.5 Total Packet Delay

Total Packet Delay merupakan jumlah dari media access delay dan queuing delay. Total Packet Delay adalah total delay dari dibangkitkannya sebuah paket sampai diterimanya paket olehreceiver [9]. Universitas Sumatera Utara 17

2.6.6 Jitter

Jitter adalah variasi dari nilai delay antar paket yang dikirimkan. Jitter diakibatkan oleh antrian yang terjadi di jaringan. Jitter dapat menyebabkan sampling disisi penerima menjadi tidak tepat sasaran sehingga informasi menjadi rusak. Ukuran paket juga mempengaruhi nilai jitter tersebut dimana semakin besar ukuran paket maka proses penerimaan paket tersebut juga menjadi semakin lama sehingga jitter yang dihasilkan menjadi besar [12].

2.8 PamvotisSimulator

Pamvotis simulator adalah sebuah simulator WLAN untuk semua standar fisik dari IEEE 802.11 seperti IEEE 802.11a, IEEE 802.11b, dan IEEE 802.11g. Versi saat ini adalah Pamvotis 1.1. Fitur dasar dari Pamvotis Simulatoryaitu : 1. Mendukung kemampuan data rate. Ini berarti bahwa setiap node dapat bekerja pada data rate sendiri, tergantung pada jarak dari penerima. 2. Mendukunghidden terminal problem. Node dapat dikonfigurasi untuk berada di LOS atau NLOS, agar hidden terminal problem dapat diselidiki. 3. Mendukung berbagai sumber trafik yang berbeda. 4. Mendukungmekanisme CTS to Self. 5. Mendukung semua lapisan fisik baru dari spesifikasi IEEE 802.11g yang meliputi: ERP-DSSS CCK, ERP-OFDM, ERP-PBCC, dan DSSS-OFDM. 6. Mendukung fungsi 802.11e EDCA IEEE untuk Quality of Service QoS dan Layanan Diferensiasi pada IEEE 802.11 WLAN. Universitas Sumatera Utara 18 7. Mendukung banyak hasil statistik seperti throughput dalam bit dan paket per detik, utilization, media access delay, queuing delay, total packet delay, delay jitter, packet length dan retransmission attempts. 8. Mendukungkemampuan untuk simulasi waktu yang sangat panjang, hingga 50.737 abad. 9. User interface yang ramah, yang memungkinkan konfigurasi simulasi cepat dan mudah [9]. Universitas Sumatera Utara 1

BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang