ANALISIS PENERAPAN SANKSI PIDANA TERHADAP PELAKU RESIDIVIS TINDAK PIDANA PENYEBARAN PORNOGRAFI (Studi Putusan Nomor: 604/PID.B/2014/PN.TJK)

ABSTRAK
ANALISIS PENERAPAN SANKSI PIDANA TERHADAP PELAKU
RESIDIVIS TINDAK PIDANA PENYEBARAN PORNOGRAFI
(Studi Putusan Nomor: 604/PID.B/2014/PN.TJK)

Oleh
AGUNG PRIYANTO

Pemanfaatan Internet tidak hanya membawa dampak positif, tapi juga dampak
negatif. Salah satu dampak negatif dari pemanfaatan internet adalah penyebaran
informasi bermuatan pornografi yang menjadi perhatian serius dari Pemerintah di
berbagai Negara termasuk Indonesia. Media sosial telah memberikan andil yang
cukup besar terhadap tumbuh dan berkembangnya penyebarluasan pornografi di
masyarakat. kasus tersebarnya foto tanpa busana seorang polwan Polda Lampung
di media sosial facebook yang dilakukan bayu yang merupakan mantan
kekasihnya sendiri, akibat pebuatannya bayu dijatuhkan hukuman 3 tahun penjara
dan denda 100 juta subsideir 4 bulan kurungan, belum selesai menjalani hukuman
bayu kembali menjadi tersangka penyebaran foto bugil Polisi Wanita Mabes Polri
melalui media sosial BlackberryMasangger. Permasalahan dalam penelitian ini
adalah: (1) Apakah dasar pertimbangan hukum hakim dalam memutus perkara
pelaku residivis tindak pidana penyebaran pornografi melalui media sosial? dan
(2) Bagaimanakah penerapan sanksi pidana terhadap pelaku residivis perkara
tindak pidana penyebaran pornografi melalui media sosial?
Metode penelitian yang digunakan melalui pendekatan yuridis normatif dan
yuridis empiris. Pengumpulan data berdasarkan studi kepustakaan yang
mengambil data-data dari buku-buku, undang-undang, karya ilmiah serta literatur
dan studi lapangan, sedangkan pengolahan data dilakukan dengan metode editing,
sistematisasi, serta interpretasi.
Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan bahwa dalam pertimbangannya
hakim cenderung tidak menjatuhkan pidana maksimum terhadap pelaku karena
melihat kasus ini terjadinya hampir bersamaan, kemudian hakim melihat sikap
terdakwa yang mengakui terus terang perbuatannya, bersikap sopan dan
menyesali perbuatannya sehingga tidak mempersulit jalannya persidangan itu
menjadi hal-hal yang meringankan putusan. Dan untuk penerapan sanksi pidana
terdakwa telah terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah melanggar ketentuan
Pasal 27 Ayat (1) juncto Pasal 45 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang

Informasi dan Transaksi Elektronik karena telah memenuhi unsur obyektif dan
unsur subyektif yaitu terdakwa memiliki dokumen elektronik yang melanggar
kesusilaan dan terdakwa “dengan sengaja” mendistribusikan, mentransmisikan,
dan membuat dapat diaksesnya dokumen elektronik dalam hal ini yaitu gambar
yang memuat bentuk tubuh manusia tanpa busana yang melanggar kesusilaan
sehingga terdakwa dijatuhi pidana penjara selama 3 (tiga) tahun dan pidana denda
sebesar Rp 100.000.000,- (seratus juta rupiah) subsideir 4 (empat) bulan pidana
kurungan.
Adapun saran yang diberikan adalah semestinya, Jaksa yang diberikan
kewenangan dalam proses penuntutan terhadap terdakwa harus benar-benar teliti
agar tidak merugikan pihak yang berperkara dan Hakim dalam memutus suatu
perkara yang ditanganinya harus lebih berani untuk menghukum terdakwa jauh
lebih ringan atau lebih berat sesuai dengan perbuatan yang dilakukan agar tidak
terjadi kekeliruan dikemudian hari atas putusannya tersebut.

KATA KUNCI : Penerapan Pidana, Residivis, Penyebaran Pornografi.

ANALISIS PENERAPAN SANKSI PIDANA TERHADAP PELAKU
RESIDIVIS TINDAK PIDANA PENYEBARAN PORNOGRAFI
(Studi Putusan Nomor: 604/Pid.B/2014/PN.TJK)
( Skripsi )

Oleh
AGUNG PRIYANTO

FAKULTAS HUKUM
UNIVERSITAS LAMPUNG
BANDAR LAMPUNG
2014

DAFTAR ISI

I. PENDAHULUAN

Halaman

A. Latar Belakang Masalah ................................................................

1

B. Permasalahan dan Ruang Lingkup Penelitian ...............................

8

C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian ...................................................

9

D. Kerangka Teoritis dan Konseptual ................................................

10

E. Sistematika Penulisan ....................................................................

14

II. TINJAUAN PUSTAKA
A. Pengertian Sanksi Pidana ...................................................................

17

B. Pengertian Pelaku dan Residivis ........................................................

19

C. Ketentuan Tindak Pidana Penyebaran Pornografi Melalui Media
Sosial .................................................................................................

24

D. Dasar Pertimbangan Hakim dalam Menjatuhi Pidana .......................

27

III. METODE PENELITIAN
A. Pendekatan Masalah ...........................................................................

34

B. Sumber dan Jenis Data .......................................................................

35

C. Penentuan Responden .........................................................................

36

D. Prosedur Pengumpulan dan Pengolahan Data ....................................

36

E. Analisis Data.......................................................................................

38

IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
A. Karakteristik Responden ...................................................................

39

B. Gambaran Umum Putusan Nomor: 604/PID.B/2014/PN.TJK……...

41

C. Dasar pertimbangan hakim dalam memberikan putusan terhadap
Pelaku residivis penyebaran pornografi melalui media sosial………

44

D. Penerapan sanksi pidana terhadap pelaku residivis perkara
penyebaran pornografi melalui media sosial......................................

51

V. PENUTUP
A. Simpulan ...........................................................................................

62

B. Saran ..................................................................................................

63

DAFTAR PUSTAKA

MOTO

“MindSet Is Doa Perjuangan Adalah Seni”
(Ali Zainal Abidin)

“Kesuksesan Adalah Hasil dari Sebuah Proses”
(Penulis)

“Seorang pemenang akan terus belajar dan mencoba
hingga menjadi seorang JUARA”
(Penulis)

PERSEMBAHAN

Dengan mengucapkan puji syukur kepada Allah SWT, atas rahmat dan hidayatnya
maka dengan ketulusan dan kerendahan hati serta setiap perjuangan dan jerih
payahku aku persembahkan sebuah karya ini kepada:

Bapak dan (Almh) ibu yang kuhormati, kusayangi dan kucintai. Terima kasih
untuk semua pengorbanan, kesabaran, kasih sayang yang tulus serta do’anya demi
keberhasilan dan kesuksesanku.

Kakak-kakaku Sugeng Sutopo, Supriyadi,S.S.,dan Kartini,A.md yang selalu
mendukung dan senantiasa menemaniku dengan kecerian dan kasih sayang.

Almamaterku Tercinta
Fakultas Hukum Universitas Lampung

RIWAYAT HIDUP

Penulis bernama Agung Priyanto, dilahirkan di Bandar
lampung pada tanggal 6 Januari 1992, yang merupakan
anak keempat dari empat bersaudara pasangan dari Bapak
Yahdi dan Ibu Kamirah (Almh).

Penulis menempuh pendidikan pertama di TK YWKA Tanjung Karang selesai
pada tahun 1998, menyelesaikan pendidikan Sekolah Dasar (SD) Negeri 4
Sukajawa Bandarlampung pada tahun 2004, penulis melanjutkan studinya dan
menyelesaikan pendidikan di Sekolah Menengah Pertama (SMP) Negeri 4
Bandarlampung pada tahun 2007, dan selanjutnya penulis menyelesaikan Sekolah
Menengah Atas (SMA) Negeri 9 Bandarlampung pada tahun 2010.

Tahun 2010, penulis terdaftar sebagai mahasiswa Jurusan Hukum di Fakultas
Hukum Universitas Lampung melalui jalur Seleksi Nasional Mahasiswa
Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN). Pada tahun 2013 penulis mengikuti
Program Kuliah Kerja Nyata (KKN) yang diselenggarakan pada tanggal 17
Januari – 24 Februari 2013 di desa Umpu Kencana, Kecamatan Blambangan
Umpu, Kabupaten Waykanan.

SANWACANA

Segala puji syukur hanyalah milik Allah SWT, seluruh alam yang telah
memberikan rahmat, taufik dan hidayahnya sehingga penulis dapat menyelesaikan
skripsi ini sebagai salah satu syarat guna memperoleh gelar Sarjana Hukum
Universitas Lampung dengan judul: ANALISIS PENERAPAN SANKSI
PIDANA

TERHADAP

PELAKU

RESIDIVIS

TINDAK

PIDANA

PENYEBARAN PORNOGRAFI (studi putusan nomor 604/Pid.B/2014/PN.TJK).

Penulis menyadari selesainya skripsi ini tidak terlepas dari partisipasi, bimbingan
serta bantuan dari berbagai pihak baik secara langsung maupun tidak langsung.
Maka kesempatan ini penulis ingin menyampaikan ucapan terima kasih yang
setulus-tulusnya kepada:
1. Bapak Prof. Dr. Heryandi, S.H., M.S., selaku Dekan Fakultas Hukum
Universitas Lampung.
2. Ibu Diah Gustiniati Maulani, S.H., M.H., selaku Ketua Bagian Hukum Pidana
Fakultas Hukum Universitas Lampung.
3. Ibu Hj.Firganefi, S.H., M.H., selaku Pembimbing I dan Bapak Rinaldy
Amrullah, S.H., M.H., selaku Pembimbing II yang telah banyak membimbing
dan mengarahkan penulis selama menyelesaikan skripsi ini.

4. Ibu Dr. Erna Dewi, S.H., M.H., selaku Pembahas I dan Bapak Deni Achmad,
S.H., M.H., selaku Pembahas II yang telah banyak memberikan kritikan,
koreksi, dan masukan dalam menyelesaikan skripsi ini.
5. Ibu Marlia Eka Putri, S.H., M.H., selaku Pembimbing Akademik selama
penulis menjadi mahasiswa Fakultas Hukum Universitas Lampung.
6. Bapak Tri Wahyu Agus Pratekta, S.H., selaku responden Kejaksaan Negeri
Bandar lampung yang telah membantu penulis dalam mengumpulkan data.
7. Bapak Firza Andriyansyah, S.H. selaku responden dari Pengadilan Negeri
Tanjung Karang yang meluangkan waktunya untuk melakukan wawancara
demi penelitian skripsi ini.
8. Bapak Dr. Heni Siswanto, S.H., M.H., selaku responden akademisi yang telah
meluangkan waktunya untuk memberikan masukan demi penelitian skripsi ini.
9. Seluruh Staf Fakultas Hukum Universitas Lampung yang tak bisa disebutkan
satu persatu, yang telah membantu penulis dalam proses akademis dan
kemahasiswaan dan atas bantuannya selama penyusunan skripsi.
10. Bapak dan (almh) Ibu Tercinta yang telah merawat dan membesarkan aku
sampai sekarang atas motivasi dukungan dan semangat yang diberikan.
11. Kakak-kakakku, mas sugeng, mas supri, mbak tini dan kakak iparku mbak ita
dan mbak echy serta sepupu-sepupuku yang telah memberikan do’anya dan
banyak membantu sehingga penulis dapat menyelesaikan skripsi ini.
12. Teman-teman seperjuangan di komunitas Bombers, shan, angga, iduy, ari,
alex, vika, abi, kanda apri, yayan, bang dales atas kebersamaannya dan juga
sahabatku dewi yang sudah banyak membantu.

13. Teman-teman di Fakultas Hukum Universitas Lampung, Rian, Agam, Fikram,
Antoni, Fadil, Obaw, Aryo, Danji, Andrew, Morison, Bryan, Alhuda, Dico,
Yogi, Reydi, Dodi, Boeng, Deswandi, Angga, wahyu, Bang ari serta temanteman lain yang tidak bisa disebutkan satu persatu terima kasih banyak sudah
saling membantu selama kuliah.
14. Teman-teman KKN desa Umpukencana, Dani, Agoey, Ardi, Hamdan, Fendri,
Defri, Dian, Dini, Juni, Novri
15. Seluruh pihak yang telah membantu penulis dalam mengerjakan skripsi ini
yang tidak disebutkan satu persatu, semoga kebaikan, kasih dan sayang
menyertai mereka.
16. Almamaterku tercinta yang sudah memberikan banyak wawasan dan
pengalaman berharga.
Semoga skripsi ini dapat berguna dan bermanfaat bagi masyarakat, agama,
bangsa, dan Negara, para mahasiswa, akademisi, serta pihak-pihak lain yang
membutuhkan terutama bagi penulis. Kritik dan saran yang bersifat membangun
sangat diharapkan. Akhir kata penulis ucapkan terima kasih. Semoga Allah SWT
senantiasa memberikan perlindungan dan kebaikan bagi kita semua, amin.

Bandar Lampung, 24 Desember 2014
Penulis

Agung Priyanto

1

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah
Kemajuan Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) dan pemanfaatannya
dalam berbagai bidang kehidupan menandai perubahan peradaban manusia
menuju masyarakat informasi. Internet adalah produk TIK yang memudahkan
setiap orang memperoleh dan menyebarkan informasi dengan cepat, murah dan
menjangkau wilayah yang sangat luas. Pemanfaatan Internet tidak hanya
membawa dampak positif, tapi juga dampak negatif.
Perkembangan teknologi internet yang sangat cepat dan mudahnya cara
menggunakannya, memungkinkan siapa saja dapat menggunakan internet. Secara
sederhana internet didefinisikan sebagai jaringan global yang mengkoneksikan
jutaan computer. Melalui internet jutaan orang dapat saling berhubungan secara
sistematis dalam dunia maya, sehingga saat ini dunia maya tidak hanya sebatas
menghadirkan informasi, hiburan, dan pendidikan, tetapi sanggup memenuhi
sejumlah kebutuhan manusia seperti pertemanan, penghargaan dan cinta. Internet
ibarat perpustakaan yang di dalamnya menyimpan berbagai macam informasi
berupa teks, grafik, audio, gambar maupun animasi dalam bentuk media
elektronik.

2

Fenomena yang sangat berkembang dalam masyarakat dengan seiringnya
kemajuan pengetahuan dan teknologi adalah dengan banyaknya masyarakat yang
menggunakan teknologi jaringan internet dengan memanfaatkan media sosial
untuk berinteraksi sosial secara online dengan keluarga, saudara, teman dan
lainnya. Bisa dikatakan media sosial saat ini menjadi kebutuhan masyarakat untuk
berkomunikasi dengan yang lain tanpa harus saling bertemu sehinggga dianggap
cara berkomunikasi yang paling efektif. Adanya media sosial dengan
memanfaatkan teknologi internet yang ada merupakan suatu kebutuhan untuk
mempermudah dalam berkomunikasi.
Pemanfaatan teknologi informasi, media, dan komunikasi telah mengubah baik
perilaku masyarakat maupun peradaban manusia secara global. Perkembangan
teknologi informasi dan komunikasi telah pula menyebabkan hubungan dunia
menjadi tanpa batas (borderless) dan menyebabkan perubahan sosial, ekonomi,
dan budaya secara signifikan berlangsung demikian cepat. Teknologi Informasi
saat ini menjadi pedang bermata dua karena selain memberikan kontribusi bagi
peningkatan kesejahteraan, kemajuan, dan peradaban manusia, sekaligus menjadi
sarana efektif perbuatan melawan hukum.1
Meningkatnya kemudahan masyarakat untuk mengakses informasi dan banyaknya
kesempatan dalam mendapatkan berbagai peralatan canggih memberi efek yang
cukup mengkhawatirkan bagi moral dan etika kehidupan berbangsa dan bernegara
di bumi Indonesia ini. Salah satu dampak negatif dari pemanfaatan internet adalah

1

Agus Raharjo, Cyber Crime Pemahaman dan Upaya Pencegahan Kejahatan Berteknologi,
Bandung, Citra Aditya Bakti, 2002, hlm.34

3

penyebaran informasi bermuatan pornografi yang menjadi perhatian serius dari
Pemerintah di berbagai Negara termasuk Indonesia.2
Melihat pada perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, khususnya di
bidang teknologi informasi dan komunikasi, media sosial telah memberikan andil
yang cukup besar terhadap tumbuh dan berkembangnya penyebarluasan
pornografi di masyarakat. Menjamurnya berbagai media sosial seperti facebook,
twitter, BBM, instagram, path, line dan masih banyak lainnya yang berisi gambar,
foto, tulisan, ilustrasi dan bentuk pesan lainnya yang secara eksplisit maupun
secara terang-terangan memuat kecabulan atau eksploitasi seksual dan melanggar
norma kesusilaan dalam masyarakat adalah sebab kenapa media sosial
mempunyai andil yang besar dalam penyebaran pornografi di masyarakat. Secara
signifikan, pornografi telah mewabah dan melanda seluruh umat manusia di muka
bumi ini.
Kemajuan teknologi ternyata memberikan ruang bagi penyebaran pornografi,
sebut saja penggunaan media sosial dengan teknologi internet yang sangat populer
dan digunakan oleh begitu banyak kalangan masyarakat yang bertujuan untuk
mempermudah dalam berkomunikasi dengan orang lain, ternyata dapat pula
dimanfaatkan untuk menyebarluaskan pornografi dalam bentuk informasi
elektronik berupa gambar, foto, kartun, gambar bergerak, dan bentuk lainnya.
Pembicaraan mengenai pornografi di internet saat ini sedang ramai, dan bahkan
akan terus menjadi bahan diskusi yang menarik mengingat masalah pornografi
disebut-sebut sama tuanya dengan peradaban manusia di muka bumi. Dari
2

Ridwan Sanjaya, Parenting Untuk Pornografi di Internet, Jakarta, Elex Media Computerindo,
2010, hlm.4

4

beberapa kasus yang mengemuka terkait dengan pemanfaatan teknologi informasi
dalam pornografi, isu ini mempunyai relasi kuat dengan kemudahan proses
produksi, manipulasi, penyebaran dan pemanfaatan TI sebagai sarana akses
pornografi, serta bagaimana kita menyikapinya.
Pencegahan dan pemberantasan dalam penyebaran pornografi lewat komputer dan
internet, Indonesia telah memiliki peraturan perundang-undangan yang memuat
larangan penyebaran pornografi dalam bentuk informasi elektronik yakni UndangUndang No. 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik dalam
Pasal 27 Ayat (1) menyatakan ”Setiap Orang dengan sengaja dan tanpa hak
mendistribusikan dan/atau mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya
Informasi Elektronik dan/atau Dokumen Elektronik yang memiliki muatan yang
melanggar kesusilaan”. Sanksi pidana akan dikenakan bagi setiap orang yang
melakukan perbuatan seperti dinyatakan dalam Pasal 27 Ayat (1) Undang-Undang
Nomor 11 Tahun 2008 Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik yakni pidana
penjara paling lama

6 (enam) tahun dan/atau denda paling

banyak

Rp1.000.000.000,00 (satu miliar rupiah).
Kasus tersebarnya foto tanpa busana seorang wanita cantik yang merupakan
anggota polisi di media jejaring sosial pertemanan Facebook beberapa waktu yang
lalu sempat mengebohkan masyarakat dan para pengguna media sosial. Diketahui
wanita tersebut bernama RS, seorang anggota Polisi Wanita (Polwan) Polda
Lampung yang menjadi asisten pribadi istri Kapolda Lampung.
Setelah dilakukan penyelidikan terungkap bahwa pelaku penyebaran foto syur
Polwan tersebut adalah mantan kekasih nya sendiri yang bernama BP. Diketahui,

5

Bayu Perdana yang merupakan warga Jalan Kopi Utara III No. 107,
Bandarlampung yang telah melakukan penyebaran foto syur polwan melaui
jejaring pertemanan facebook lantaran merasa sakit hati terhadap korban.3
Pada serangkaian persidangan, terungkap bahwa pada 3 Januari 2010, Briptu RS
berkenalan dengan Bayu melalui akun facebook dan mengaku sebagai anggota
polisi berpangkat Iptu. Lalu pada 21 Januari 2010, Bayu dan Briptu RS menjalin
hubungan asmara (pacaran). Pada kurun waktu 2011-2012, Bayu meminta briptu
RS

untuk

mengirimkan

foto

tanpa

busana

dan

berjanji

tidak

akan

menyebarluaskannya dan RS mengirimkan 3 fotonya tanpa busana. Belakangan
hukuman keduanya putus. Saat putus hubungan itulah pada

2013 Bayu

mengancam RS akan menyebarkan foto tersebut ke akun Facebook. Bayu
jengkel karena setiap dihubungi melalui telepon tidak pernah diangkat oleh RS.
Akibat perbuatannya tersebut dalam persidangan yang digelar di PN Kelas IA
Tanjungkarang, Majelis Hakim menyatakan warga Way Halim tersebut dianggap
bersalah melanggar Pasal 27 Ayat 1 jo Pasal 45 UU No 11 tahun 2008 tentang
Informasi dan Transaksi Elektronik. Majelis hakim yang diketuai Poltak Sitorus
menjatuhkan vonis 3 (tiga) tahun penjara dan denda Rp100 juta subsider 4
(empat) bulan penjara. Bayu terbukti secara sah dan meyakinkan bersalah
melanggar Pasal 27 Ayat 1, 4 jo Pasal 45 Undang-Undang RI Nomor 11 Tahun
2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Vonis ini lebih ringan dari
tuntutan jaksa penuntut umum (JPU), yaitu 5 (lima) tahun penjara dan denda
Rp100 juta subsider 6 (enam) bulan. Atas putusan ini, Bayu menyatakan
menerimanya ’’Putusan ini sudah dua per tiga dari tuntutan JPU, sesuai undang3

http://www.lampung-news.com/article/Kriminal/12239/

6

undang yang diterapkan”. Jadi, kami langsung menerimanya. Bayu kan memang
sudah mengakui dirinya yang menyebarkan foto tersebut, Diketahui, Bayu
didakwa dua pasal. Dalam dakwaan pertama Pasal 4 Ayat 1 jo Pasal 29 UU RI
No. 44 Tahun 2008 tentang Pornografi. Ia pun terancam pidana maksimal 12
tahun dan denda maksimal Rp 6 miliar. Lalu dalam dakwaan kedua, ia didakwa
melanggar Pasal 27 Ayat 1, 4 jo Pasal 45 UU RI No. 11/2008 tentang Informasi
dan Transaksi Elektronik.4
Belum selesai menjalani hukuman pidana penjara selama 3 (tiga) tahun atas kasus
penyebaran foto bugil milik Briptu RS (polwan Polda Lampung). Bayu Perdana
kembali menjadi terdakwa dalam kasus penyebaran foto syur milik FJ (polwan)
yang menjadi Asisten Pribadi istri Kakorlantas Mabes Polri. Bayu harus kembali
duduk di kursi pesakitan lantaran menyebarkan foto bugil Bripda FA. JPU
menjerat terdakwa dengan Pasal 29 jo Pasal 4 Ayat 1 huruf d UU RI No. 44/2008
tentang Pornografi. Jika lolos, JPU menyiapkan Pasal 45 Ayat 1 jo Pasal 27 Ayat
1 UU RI No. 11/2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. Berbeda
dengan Brigpol RS yang ia sebarkan lewat Facebook, foto bugil Bripda FA ini ia
jadikan Display Picture BlackBerry Messenger (DP BBM). Foto-foto seronok itu
ia pasang periode 3-20 Oktober 2013.
Jaksa penuntut umum (JPU) Tri Wahyu Agus Pratekta menjelaskan, Bayu
berkenalan dengan FA lewat Facebook pada Juli 2013. Terdakwa kemudian
berhubungan dengan korban melalui telepon, BBM, dan pesan singkat (SMS). Ia
juga pernah menemui korban dua kali dengan status saat itu sudah berpacaran.
Pertama di Foodcourt Kemang sekitar pukul 20.00 Wib. Kedua di Hotel
4

http://www.radarlampung.co.id/read/bandarlampung/hukum-a-kriminal/68223-divonis-tiga-tahun

7

Maharaja, Jalan Tendean, Jakarta Selatan, pukul 21.00 Wib. Nah, pada pertemuan
terakhir terjadi pertengkaran hebat. Korban memutuskan hubungan dengan
terdakwa. Hal ini membuat Bayu marah. Ia mengambil paksa handphone korban
dan merampas memory card di dalamnya. Tak disangka, dalam memory card
berkapasitas 2 gigabyte itu, terdakwa menemukan foto-foto vulgar mantan
kekasihnya tersebut. Sakit hati karena diputuskan berubah menjadi dendam.
Terdakwa akhirnya menjadikan foto-foto tersebut Display Picture BBM-nya.
Pada persidangan untuk yang kedua kalinya dengan kasus serupa, Bayu dijerat
sanksi pidana terkait penyebaran foto tanpa busana polwan FJ yang merupakan
mantan sekretaris pribadi (Sespri) istri kepala Korps Lalu Lintas (Kakorlantas)
Mabes Polri. Majelis hakim Pengadilan Negeri (PN) Tanjungkarang mengganjar
Bayu dengan hukuman yang sama, yakni 3 (tiga) tahun penjara.
Bayu dinyatakan bersalah melanggar Pasal 4 Ayat (1) huruf d UU No 44 Tahun
2008 tentang Pornografi subsidair Pasal 45 Ayat (1) jo Pasal 27 Ayat (1) UU No
11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik. "Menyatakan
terdakwa Bayu Perdana secara sah dan meyakinkan bersalah. Menjatuhi pidana
penjara kepada terdakwa selama 3 (tiga) tahun," kata Ketua Majelis Hakim FX
Supriyadi. Selain pidana penjara selama 3 (tiga) tahun, Bayu juga dijatuhi denda
sebanyak Rp 100 juta dengan hukuman pengganti 4 (empat) bulan penjara.
Menurut majelis hakim, yang memberatkan putusan terhadap Bayu adalah karena
pernah dihukum dengan perkara yang sama. Putusan ini lebih ringan dari tuntutan
Jaksa Penuntut Umum (JPU) Tri Wahyu Agus Pratekta yang sebelumnya

8

menuntut terdakwa Bayu Perdana selama 5 (lima) tahun dan 10 bulan penjara
serta denda sebesar Rp 250 juta subsideir 6 (enam) bulan penjara.5
Berdasarkan uraian diatas, maka penulis tertarik untuk melakukan penelitian
dalam bentuk skripsi dengan judul: “Analisis penerapan sanksi pidana terhadap
pelaku residivis tindak pidana penyebaran pornografi (studi putusan nomor:
604/Pid.B/2014/PN.TJK).

B. Permasalahan dan Ruang Lingkup

1.

Permasalahan

Berdasarkan uraian pada latar belakang di atas, maka yang menjadi permasalahan
dalam penelitian ini adalah:
a.

Apakah dasar hukum pertimbangan hakim dalam memutus perkara pelaku
residivis tindak pidana penyebaran pornografi melalui media sosial ?

b.

Bagaimanakah penerapan sanksi pidana terhadap pelaku residivis perkara
tindak pidana penyebaran pornografi melalui media sosial ?

2.

Ruang Lingkup Penelitian

Untuk menjaga penulisan dari penelitian ini tidak menyimpang dan tetap sesuai
dengan permasalahan yang akan dibahas, maka peneliti menganggap perlu adanya
pembatasan masalah. Adapun yang menjadi ruang lingkup pembahasan dalam
penelitian ini adalah perimbangan hakim dalam memutus perkara pelaku residivis
5

http://lampung.tribunnews.com/2014/08/29/lagi-penyebaran-foto-bugil-polwan-divonis-tigatahun-bui

9

penyebaran pornografi melalui media sosial, dan mengenai sanksi pidana pelaku
residivis penyebaran pornografi melalui media sosial dengan ketentuan undangundang, teori-teori, atau pun pendapat para pakar hukum yang berhubungan
dengan masalah terkait, dengan lokasi penelitian dilaksanakan di Pengadilan
Negeri Kelas 1A Tanjung Karang.

C. Tujuan dan Kegunaan Penelitian

1.

Tujuan Penelitian

Sesuai dengan permasalahan di atas, maka tujuan penelitian dalam penulisan ini
adalah:
a. Untuk mengetahui dasar hukum pertimbangan hakim dalam memutus perkara
pelaku residivis tindak pidana penyebaran pornografi melalui media sosial.
b. Untuk dapat mengetahui penerapan sanksi pidana terhadap pelaku residivis
perkara tindak pidana penyebaran pornografi melalui media sosial.

2.

Kegunaan Penelitian

Adapun kegunaan dari penulisan ini adalah:
a. Kegunaan Teoritis
Keilmuan ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran dalam rangka
pengembangan hukum pidana khususnya tehadap pelaku tindak pidana pornografi
melaui media sosial serta dijadiakan acuan para penegak hukum dalam menangani
tindak pidana penyebaran pornografi melaui media sosial.

10

b. Kegunaan Praktis
Diharapkan memberikan sumbangan pemikiran dan wawasan pada pihak-pihak
terkait dalam rangka mencegah, memberantas, dan menangani tindak pidana
pornografi melalui media sosial dan dapat menggugah para mahasiswa khususnya
mahasiswa fakultas hukum untuk lebih menyikapi fenomena yang terjadi dalam
kehiduapan sehari-hari yang berkaitan dengan tindak pidana tersebut. Selain itu
sebagai fenomena dan tambahan kepustakaan bagi praktisi maupun akademisi.

D. Kerangka Teoritis dan Konseptual
1.

Kerangka Teoritis

Kerangka Teori adalah konsep-konsep yang merupakan abstrak dan hasil
pemikiran atau kerangka acuan yang pada dasarnya bertujuan untuk mengadakan
identifikasi terhadap dimensi-dimensi sosial yang dianggap relevan oleh peneliti.6
1. Dasar Pertimbangan Hakim dalam Penjatuhan Pidana Menurut Mackenzei,
ada beberapa teori atau pendekatan yang dapat dipergunakan oleh hakim
dalam mempertimbangkan penjatuhan pidana dalam suatu perkara, yaitu:7
a) Teori keseimbangan
Hakim melihat pada keseimbangan syarat-syarat yang berkaitan dengan
masyarakat, kepentingan terdakwa, dan kepentingan korban yang
berkaitan dengan perkara.

6

Soerjono Soekanto, Pengantar Penelitian Hukum, Jakarta, Universitas Indonesia Press, 1986.
hlm.123
7
Ahmad Rifai, Penemuan Hukum oleh Hakim dalam Perspektif Hukum Progresif, Jakarta, Sinar
Grafika, 2010, hlm.106

11

b) Teori pendekatan seni dan intuisi
Hakim melihat keadaan pidana yang wajar bagi pelaku tindak pidana,
pendekatan seni dalam penjatuhan putusan lebih oleh intuisi dari
pengetahuan hakim.
c) Teori pendekatan keilmuan
Hakim tidak boleh semata-mata atas dasar intuisi semata, tetapi hakim
harus memiliki wawasan keilmuan yang cukup untuk memutuskan suatu
perkara.
d) Teori Pendekatan Pengalaman
Hakim menggunakan pengalamannya untuk mengetahui dampak dari
putusan yang dijatuhkannya berkaitan dengan pelaku, korban maupun
masyarakat.
e) Teori Ratio Decidendi
Hakim dalam memutus perkara harus mencari peraturan perundangundangan yang relevan dengan pokok perkara yang disengketakan sebagai
dasar hukum dalam penjatuhan hukuman.

2. Residivis dalam ilmu hukum diartikan sebagai pengulangan kejahatan yang
atas perbuatan sebelumnya sudah dijatuhi pidana oleh putusan pengadilan
yang memiliki kekuatan hukum tetap.8 Sehingga apabila seseorang kembali
mengulangi tindak pidana yang pernah dilakukannya, maka hukuman yang
akan dijatuhkan kepadanya dapat diperberat dengan ditambahkan sepertiga
dari hukuman maksimum yang diterimanya.

8

Teguh Prasetyo, Hukum Pidana, Jakarta, RajaGrafindo Persada, 2012, hlm.192

12

3. Tindak Pidana penyebaran pornografi melalui media sosial yang dalam hal ini
merupakan tindak pidana yang diatur dalam ketentuan Pasal-Pasal yakni:
Pasal 27 Ayat 1 juncto Pasal 45 Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008
Tentang Informasi dan Transaksi Elektronik, Pasal 4 Ayat 1 juncto Pasal 29
Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2008 Tentang Pornografi.
Berlaku ketentuan-ketentuan di bawah ini:
a) Pasal 27 (1) juncto Pasal 45 UU Nomor 11 Tahun 2008 tentang ITE
Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau
mentransmisikan dan membuat dapat diaksesnya Informasi Elektronik atau
dokumen Elektronik yang memiliki muatan yang melanggar kesusilaan
dipidana dengan pidana penjara paling lama 6 tahun atau denda paling banyak
Rp 1.000.000.000 (satu miliyar rupiah).

b) Pasal 4 (1) juncto Pasal 29 UU Nomor 44 Tahun 2008 tentang Pornografi
Setiap orang dilarang memproduksi, membuat, memperbanyak, menawarkan,
menggandakan, menyebarluaskan, menyiarkan, menyewakan, menyediakan
pornografi dipidana dengan pidana penjara paling singkat 6 bulan dan paling
lama 12 tahun atau pidana denda paling sedikit Rp 250.000.000 dan paling
banyak 6.000.000.000 (enam miliyar rupiah).

13

2. Konseptual

Konseptual adalah kerangka yang menggambarkan hubungan antara konsepkonsep khusus yang merupakan kumpulan arti-arti yang berkaitan dengan istilah
yang ingin atau akan di teliti.9
Untuk menghindari kesalahan pemahaman tentang pokok permasalahan
pembahasan dalam skripsi ini, maka dibawah ini ada beberapa konsep yang
bertujuan untuk menjelaskan istilah-istilah yang dapat dijadikan pegangan dalam
memahami skripsi ini. Konsep-konsep yang digunakan dalam penulisan ini adalah
sebagai berikut:
a. Analisis adalah penguraian suatu pokok atas berbagai bagiannya dan
penelaahan bagian itu sendiri serta hubungan antar bagian untuk memperoleh
pengertian yang tepat dan pemahaman arti keseluruhan.10
b. Penerapan adalah suatu perbuatan mempraktekan suatu teori, metode, dan hal
lain untuk mencapai tujuan tertentu.11
c. Sanksi Pidana adalah suatu hukuman sebab akibat, sebab adalah kasusunya
dan akibat adalah hukumnya, orang yang terkena akibat akan memperoleh
sanksi baik masuk penjara ataupun terkena hukuman lain dari pihak berwajib.
d. Pelaku adalah orang yang melakukan suatu perbuatan.12

9

Soejono Soekanto. Op. Cit., hlm.32
Tim Penyusun Kamus, Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Kamus Besar Bahasa
Indonesia, Jakarta: Balai Pustaka, 1997, hlm. 32
11
S.R. Sianturi, Asas-asas Hukum Pidana Indonesia dan Penerapannya, Jakarta, Alumni AhaemPeteheam,1996, hlm.245
12
Dani K, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Surabaya, Putra Harsa, 2002, hlm.392
10

14

e. Residivis adalah pengulangan tindak pidana berasal bahasa prancis yaitu re
dan cado. Re berarti lagi dan cado berarti jatuh, sehingga secara umum dapat
diartikan sebagai melakukan kembali perbuatan-perbuatan kriminal yang
sebelumnya bisa dilakukannya setelah dijatuhi penghukumannya.
f. Tindak Pidana adalah suatu perbuatan yang pelakunya dikenakan hukuman
pidana.13
g. Pornografi adalah gambar, sketsa, foto, tulisan, suara, bunyi, gambar gerak,
animasi, kartun, percakapan, gerak tubuh, atau bentuk pesan lainya melalui
berbagai bentuk media komunikasi dan/atau pertunjukan dimuka umum, yang
memuat kecabulan atau eksploitasi seksual yang melanggar norma kesusilaan
dalam masyarakat.

E. Sistematika Penulisan
Sistematika suatu penulisan skripsi bertujuan untuk memberikan suatu gambaran
yang jelas mengenai pembahasan skripsi yang dapat dilihat dari hubungan antara
satu bagian dengan bagian lain dari seluruh isi tulisan dari sebuah skripsi dan
untuk mengetahui serta untuk lebih memudahkan memahami materi yang ada
dalam skripsi ini, maka penulis menyajikan sistematika penulisan skripsi ini
sebagai berikut:

13

Wirjono Prodjodijoro, Asas-Asas hukum Pidana di Indonesia, Bandung, Eresco, 1989, hlm.55

15

I. PENDAHULUAN
Bab ini merupakan bab pendahuluan yang memuat tentang latar belakang
penulisan, perumusan permasalahan dan ruang lingkup, tujuan dan kegunaan
penulisan, kerangka teoritis dan konseptual serta sistematika penulisan. Dalam
uraian bab ini dijelaskan tentang latar belakang tindak pidana penyeberan
pornografi melalui media sosial.
II. TINJAUAN PUSTAKA
Bab ini merupakan pengantar pemahaman kedalam pengertian-pengertian umum
serta pokok bahasan. Dalam uraian bab ini lebih bersifat teoritis yang nantinya
digunakan sebagai bahan studi perbandingan antara teori yang berlaku dengan
kenyataannya yang berlaku dalam praktek.
III. METODE PENELITIAN
Bab ini menguraikan tentang metode penelitian yang akan digunakan dalam
penulisan skripsi ini yaitu menjelaskan tentang langkah-langkah yang digunakan
dalam penelitian yang memuat tentang pendekatan masalah, data dan sumber data,
penentuan responden dan narasumber, prosedur pengumpulan data dan
pengolahan data serta analisis data.
IV. HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN
Bab ini memuat pokok bahasan mengenai hasil penelitian, yang terdiri dari
karakteristik responden, dasar pertimbangan hakim dalam memberikan putusan
terhadap pelaku risidivis perkara penyebaran pornografi melalui media sosial dan
penerapan sanksi pidana terhadap pelaku residivis perkara penyebaran pornografi

16

melalui media sosial pada wilayah hukum Pengadilan Negeri Kelas 1A Tanjung
Karang.
V. PENUTUP
Merupakan bab penutup dari penulisan skripsi yang berisikan secara singkat hasil
pembahasan dari penelitian dan beberapa saran dari peneliti sehubungan dengan
masalah yang dibahas.

17

II. TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian Sanksi Pidana

Sanksi Pidana adalah suatu hukuman sebab akibat, sebab adalah kasusnya dan
akibat adalah hukumnya, orang yang terkena akibat akan memperoleh sanksi baik
masuk penjara ataupun terkena hukuman lain dari pihak berwajib. Sanksi Pidana
merupakan suatu jenis sanksi yang bersifat nestapa yang diancamkan atau
dikenakan terhadap perbuatan atau pelaku perbuatan pidana atau tindak pidana
yang dapat menggangu atau membahayakan kepentingan hukum. Sanksi pidana
pada dasarnya merupakan suatu penjamin untuk merehabilitasi perilaku dari
pelaku kejahatan tersebut, namun tidak jarang bahwa sanksi pidana diciptakan
sebagai suatu ancaman dari kebebasan manusia itu sendiri.
Pidana adalah penderitaan atau nestapa yang sengaja dibebankan kepada orang
yang melakukan perbuatan yang memenuhi unsur syarat-syarat tertentu1,
sedangkan Roslan Saleh menegaskan bahwa pidana adalah reaksi atas delik, dan
ini berwujud suatu nestapa yang dengan sengaja dilimpahkan Negara kepada
pembuat delik.2

1

Tri Andrisman, Asas-Asas dan Dasar Aturan Hukum Pidana Indonesia, BandarLampung, Unila,
2009, hlm.8
2
Adami Chazawi, Pelajaran Hukum Pidana I, Jakarta, Raja Grafindo Persada, 2011, hlm. 81

18

Jenis-jenis Pidana sebagaimana telah diatur dalam Pasal 10 Kitab Undang-Undang
Hukum Pidana (KUHP):
Pidana terdiri atas:
A. Pidana Pokok
1. pidana mati;
2. pidana penjara;
3. pidana kurungan;
4. pidana denda;
5. pidana tutupan.( UU No.20/1946 )

B. Pidana Tambahan
1. pencabutan hak-hak tertentu;
2. perampasan barang-barang tertentu;
3. pengumuman putusan hakim.
Tujuan pemidanaan adalah mencegah dilakukannya kejahatan pada masa yang
akan datang, tujuan diadakannya pemidanaan diperlukan untuk mengetahui sifat
dasar hukum dari pidana. bahwa Dalam konteks dikatakan Hugo De Groot “malim
pasisionis propter malum actionis” yaitu penderitaan jahat menimpa dikarenakan
oleh perbuatan jahat. Berdasarkan pendapat tersebut, tampak adanya pertentangan
mengenai tujuan pemidanaan, yakni antara mereka yang berpandangan pidana
sebagai sarana pembalasan atau teori absolute dan mereka yang menyatakan

19

bahwa pidana mempunyai tujuan yang positif atau teori tujuan, serta pandangan
yang menggabungkan dua tujuan pemidanaan tersebut.
Muladi mengistilahkan teori tujuan sebagai teleological theories dan teori
gabungan disebut sebagai pandangan integratif di dalam tujuan pemidanaan yang
beranggapan bahwa pemidanaan mempunyai tujuan yang plural, yang merupakan
gabungan dari pandangan utilitarian yang menyatakan bahwa tujuan pemidanaan
harus menimbulkan konsekuensi bermanfaat yang dapat dibuktikan, keadilan
tidak boleh melalui pembebanan penderitaan yang patut diterima untuk tujuan
penderitaan itu sendiri, misalnya bahwa penderitaan pidana tersebut tidak boleh
melebihi ganjaran yang selayaknya diberikan pelaku tindak pidana.3

B. Pengertian Pelaku dan Residivis

Ketentuan Pasal 55 Ayat (1) KUHP dapat dirumuskan yang dimaksud dengan
pelaku ialah “mereka yang melakukan, yang menyuruh lakukan dan turut serta
melakukan perbuatan, dan mereka yang menganjurkan orang lain melakukan
perbuatan”. Dapat disimpulkan bahwa pelaku adalah setiap orang yang memenuhi
semua unsur yang terdapat dalam perumusan tindak pidana.
Dalam istilah hukum positif Pengertian pengulangan tindak pidana (residivis)
adalah dikerjakannya suatu tindak pidana oleh seseorang sesudah ia melakukan
tindak pidana lain yang telah mendapat keputusan akhir.4 Artinya, pemberatan

3
4

Muladi, Lembaga Pidana Bersyarat, Bandung, Alumni, 2008, hlm.25
R. Soenarto Suerodibroto, KUHP dan KUHAP, Jakarta, Raja Grafindo, 2004, hlm.310

20

pidana terhadap residivis dapat berlaku apabila ia telah mendapatkan keputusan
hukum yang tetap atas perbuatan yang sama.
Adapun sebab-sebab terjadinya pemberatan pidana adalah sebagai berikut:
1) Pelakunya adalah orang yang sama.
2) Terulangnya tindak pidana dan untuk tindak pidana terdahulu telah dijatuhi
pidana oleh suatu keputusan hakim
3) Si pelaku sudah pernah menjalani hukuman atau hukuman penjara yang
dijatuhkan terhadapnya.
4) Pengulangan terjadi dalam waktu tertentu.

Pengertian sehari-hari bahwa seorang residivis adalah seorang yang telah
melakukan beberapa kali kejahatan karena melakukan berbagai kejahatan.
Menurut Satochid Kartanegara residive adalah apabila seseorang melakukan
beberapa perbuatan, yang merupakan beberapa delik yang berdiri sendiri, akan
tetapi atas salah satu atau lebih perbuatan pidana tersebut telah dijatuhi hukuman.
Ada 2 (dua) arti residivis yaitu menurut masyarakat (sosial), dan dalam arti hukum
pidana.
Menurut arti yang pertama, masyarakat menganggap bahwa setiap orang yang
setelah dipidana, menjalaninya yang kemudian melakukan tindak pidana lagi,
disini ada pengulangan, tanpa memperhatikan syarat-syarat lainnya.
Tetapi residivis dalam arti hukum pidana, yang merupakan dasar pemberat pidana
ini, tidaklah cukup hanya melihat berulangnya melakukan tindak pidana, tetapi
dikaitkan pada syarat-syarat tertentu yang ditetapkan undang-undang. Pada

21

umumnya masyarakat tidak mengetahui bahwa residive tersebut masih dapat
digolongkan dalam beberapa bagian. Oleh karenanya apabila suatu tindak pidana
dilakukan oleh seseorang dan tindak pidana tersebut merupakan tindak pidana
pengulangan.
Pada dasarnya residive tersebut digolongkan kedalam 2 bagian, yaitu:
1. Residive umum (generale residive);
apabila seseorang melakukan kejahatan, terhadap kejahatan yang mana telah
dijatuhi hukuman, maka apabila ia kemudian melakukan kejahatan lagi yang dapat
merupakan bentuk kejahatan apapun, ini dapat dipergunakan sebagai alasan untuk
memperberat hukuman.
2. Residive khusus (special residive).
apabila seseorang melakukan kejahatan, dan terhadap kejahatan itu telah dijatuhi
hukuman oleh hakim, kemudian ia melakukan kejahatan lagi yang sama (sejenis)
dengan kejahatan yang pertama, maka persamaan kejahatan yang dilakukan
kemudian merupakan dasar untuk memperberat hukuman.
Mengingat pentingnya tujuan pidana sebagai pedoman dalam pemberian atau
menjatuhkan pidana dimuat dalam konsep Kitab Undang-Undang Hukum Pidana
(KUHP), di samping itu juga adanya perkembangan pemikiran mengenai teori
pemidanaan

mengakibatkan

tujuan

pemidanaan

yang

ideal.

Dalam

perkembangannya, pengulangan tindak pidana dapat dibagi menjadi beberapa
golongan.

22

Dari sudut ilmu pengetahuan hukum pidana, pengulangan tindak pidana
dibedakan atas 3 jenis, yaitu:
1. Pengulangan tindak pidana yang dibedakan berdasarkan cakupannya antara
lain:
Pengertian yang lebih luas yaitu bila meliputi orang-orang yang melakukan suatu
rangkaian tanpa yang diseiringi suatu penjatuhan pidana/ condemnation.
Pengertian yang lebih sempit yaitu bila si pelaku telah melakukan kejahatan yang
sejenis (homolugus recidivism) artinya ia menjalani suatu pidana tertentu dan ia
mengulangi perbuatan sejenis tadi dalam batas waktu tertentu misalnya 5 (lima)
tahun terhitung sejak terpidana menjalani sama sekali atau sebagian dari hukuman
yang telah dijatuhkan.

2. Pengulangan tidak pidana yang dibedakan berdasarkan sifatnya antara lain:
Accidentale recidive yaitu apabila pengulangan tindak pidana yang dilakukan
merupakan akibat dari keadaan yang memaksa dan menjepitnya.
Habituele recidive yaitu pengulangan tindak pidana yang dilakukan karena si
pelaku memang sudah mempunyai inner criminal situation yaitu tabiat jahat
sehingga kejahatan merupakan perbuatan yang biasa baginya.

3. Selain kepada kedua bentuk di atas, pengulangan tindak pidana dapat juga
dibedakan atas:
Recidive umum, yaitu apabila seseorang melakukan kejahatan/ tindak pidana yang
telah dikenai hukuman, dan kemudian melakukan kejahatan/ tindak pidana dalam
bentuk apapun maka terhadapnya dikenakan pemberatan hukuman.

23

Recidive khusus, yaitu apabila seseorang melakukan perbuatan kejahatan/ tindak
pidana yang telah dikenai hukuman, dan kemudian ia melakukan kejahatan/ tindak
pidana yang sama (sejenis) maka kepadanya dapat dikenakan pemberatan
hukuman.

Persolalan tentang pengertian residivis dalam KUHP Indonesia belum secara jelas
tertulis tetapi yang ada hanyalah syarat umum yang mengatakan bahwa seorang
itu residivis kalau terhadap perbuatannya ada ancaman hukuman yang diperberat
atau ditambah dengan duapertiganya.
Materi yang diatur dalam Pasal 486. Pasal 487 dan Pasal 488 KUHP tersebut
adalah:
a. Pasal 486 KUHP adalah kejahatan-kejahatan ulangan yang menyangkut harta
kekayaan dan penipuan.
b. Pasal 487 KUHP adalah kejahatan-kejahatan ulangan terhadap pribadi.
c. Pasal 488 KUHP adalah kejahatan-kejahatan ulangan yang menyangkut
penghinaan.
Dari uraian tersebut dapat ditegaskan bahwa seorang dikatakan residive, karena
sudah ada putusan hakim terlebih dahulu. Putusan terlebih dahulu itu akan
menentukan berat ringannya hukuman yang diberikan dalam putusan baru ini,
apakah si penjahat telah menjadi residivis.

24

C. Ketentuan Tindak Pidana Penyebaran Pornografi Melalui Media Sosial

Istilah tindak pidana sebenarnya berasal dari istilah yang terdapat dalam Hukum
Belanda yaitu “Straafboar Feit” dan dari bahasa latin delicium atau delik. Para
ahli sering menggunakan istilah-istilah yang berbeda yang digunakan baik dalam
perundang-undangan dalam berbagai literature hukum sebagai terjemahan dari
Straafboar Feit tadi, istilah-istilah yang sering digunakan tersebut adalah :
1. Tindak pidana
2. Peristiwa hukum
3. Delik
4. Pelanggaran pidana
5. Perbuatan yang boleh dihukum
6. Perbuatan yang dapat dihukum
7. Perbuatan pidana5

Secara etimologis pornografi terbentuk dari dua kata yaitu “pornos” yaitu suatu
perbuatan asusila (dalam arti yang berhubungan dengan seksual) atau perbuatan
yang bersifat tidak senonoh atau cabul, sedangkan “graffiti” atau karya seni
lainnya dapat berupa patung, boneka, gambar, lukisan, puisi, tulisan, dan
sebagainya. Pengertian pornografi adalah penggambaran tingkah laku secara
erotis dengan lukisan atau tulisan untuk membangkitkan nafsu birahi, atau bahan
bacaan yang dengan sengaja dan semata-mata dirancang untuk membangkitkan
nafsu birahi.6

5
6

Adami Chazawi, Op. Cit., hlm.14
Neng Djubaedah, Undang-Undang Nomor 44 Tahun 2008 Tentang Pornografi : Perspektif
Negara Hukum, Jakarta, Sinar Grafika, 2011, hlm.3

25

Ketentuan Pasal 1 ketentuan UU Nomor 44 Tahun 2008 Tentang Pornografi
adalah gambar, ilustrasi, foto, suara, bunyi, gambar bergerak, animasi, kartun,
percakapan, gerak tubuh, atau bentuk pesan lainnya melalui berbagai bntuk media
komunikasi dan/atau pertunjukan di muka umum, yang memuat pencabulan atau
eksploitas yang melanggar norma kesusilaan dalam masyarakat .
Berdasarkan kedua definisi tersebut memberikan sebuah penekanan pada unsurunsur sebuah pornografi yaitu :
1. Penggambaran tingkah laku (melalui gambar, ilustrasi, foto, suara, bunyi,
gambar bergerak, animasi, kartun, percakapan, gerak tubuh, atau bentuk
pesan)
2. Yang memuat kecabulan atau eksploitasi seks
3. Melalui berbagai media komunikasi dan/atau disampaikan dimuka umum
4. Yang dirancang untuk membangkitkan nafsu birahi
Ketentuan Pidana dalam Undang-Undang Pornografi ini adalah sebagai berikut :
Pasal 29 menyatakan :
Setiap orang yang memproduksi, membuat, memperbanyak, menggandakan
menyebarluaskan,

menyiarkan,

mengimpor,

mengekspor,

menawarkan,

memperjual-belikan, menyewakan, atau menyediakan pornografi sebagaimana
dimaksud dalam pasal 4 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling singkat 6
(enam) bulan dan paling lama 12 (dua belas) tahun dan atau pidana denda paling
sedikit Rp250.000.000,00 (dua ratus lima puluh juta rupiah) dan paling banyak
Rp6.000.000.000,00 ( enam miliyar rupiah ) .

26

Media sosial terdiri dari dua kata yaitu media dan sosial, media adalah alat, sarana
komunikasi, perantara, atau penghubung sedangkan sosial artinya berkenaan
dengan masyarakat atau suka memperhatikan kepentingan umum. Sehingga
disimpulkan sebagai alat atau sarana komunikasi masyarakat untuk bergaul.
Media Sosial adalah sebuah media online berbasis internet dengan para
penggunannya bisa dengan mudah berpartisipasi dan berbagi.
Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik adalah ketentuan yang
berlaku untuk setiap orang yang melakukan perbuatan hukum sebagaiman diatur
dalam undang-undang ini, baik yang berada di wilayah hukum Indonesia maupun
di luar wilayah hukum Indonesia, yang memiliki akibat hukum di wilayah hukum
Indonesia dan/atau diluar wilayah hukum indonesia dan merugikan kepentingan
Indonesia.
Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi
Elektronik
Pasal 27 Ayat (1) menyatakan :
Setiap orang dengan sengaja dan tanpa hak mendistribusikan dan/atau
mentransmisikan dan/atau membuat dapat diaksesnya informasi Elektronik
dan/atau dokumen Eletronik yang memiliki muatan melanggar kesusilaan.
Dilanjutkan dalam Pasal 45 Ayat (1) menyatakan :
Setiap orang yang memenuhi unsur sebagaimana dimaksudkan dalam Pasal 27
Ayat (1), Ayat (2), Ayat (3), Ayat (4) dipidana dengan pidana penjara paling lama

27

6 (enam) tahun dan/atau denda paling banyak Rp1.000.000.000,00 (satu miliyar
rupiah)
Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik (UU ITE) mengatur berbagai
perlindungan hukum atas kegiatan yang memanfaatkan teknologi internet sebagai
medianya, baik transaksi maupun pemanfaatan informasinya. Pada UU ITE ini
juga diatur berbagai ancaman hukuman bagi kejahatan melalui internet. UU ITE
mengakomodir kebutuhan para pelaku bisnis di intenet dan masyarakat pada
umumnya agar mendapatkan kepastian hukum, dengan diakuinya bukti elektronik
dan tanda tangan digital sebagai bukti yang sah di pengadilan.

D. Dasar Pertimbangan Hakim dalam Menjatuhi Pidana

Hakim sebagai pejabat yang diberikan wewenang untuk memeriksa serta
memutuskan suatu perkara mempunyai kedudukan yang istemewa, karena hakim
selain sebagai pegawai negeri, diangkat dan diberhentikan oleh Presiden. Hakim
sebagai pegawai negeri digaji oleh pemerintah, akan tetapi ia tidak menjalankan
perintah dari pemerintah, bahkan hakim dapat menghukum pemerintah apabila
pemerintah melakukan perbuatan yang melanggar hukum.
Kekuasaan kehakiman merupakan badan yang menentukan dan kekuatan kaidahkaidah hukum positif dalam konkretisasi oleh hakim melalui putusan-putusannya.
Sebagai pelaksana dari kekuasaan kehakiman adalah hakim, yang mempunyai

28

kewenangan dalam peraturan perundang-undangan yang berlaku, dan hal ini
dilakukan oleh hakim melalui putusannya.7
Undang-Undang Nomor 48 Tahun 2009 tentang Pokok Kekuasaan Kehakiman,
menyebutkan:
Ketentuan Pasal 4 menyebutkan bahwa:
1. Pengadilan mengadili menurut hukum dengan tidak membeda-bedakan orang.
2. Pengadilan membantu pencari keadilan dan berusaha mengatasi segala
hambatan dari rintangan untuk dapat tercapainya peradilan yang sederhana,
cepat, dan biaya ringan.
Ketentuan Pasal 6 menjelaskan bahwa:
1. Tidak seorang pun dapat dihadapkan di depan pengadilan, kecuali undangundang menentukan lain.
2. Tidak seorang pun dapat dijatuhi pidana, kecuali apabila pengadilan karena
alat pembuktian yang sah menurut undang-undang, mendapat keyakinan
bahwa seseorang yang dianggap dapat bertanggungjawab, telah bersalah atas
perbuatan yang didakwakan atas dirinya.
Ketentuan Pasal 7 menjelaskan bahwa:
“Tidak seorang pun dapat dikenakan penangkapan, penahanan, penggeledahan,
dan penyitaan, kecuali atas perintah tertulis dari kekuasaan yang sah dalam hal
dan menurut cara yang diatur dalam undang-undang.”

7

Ahmad Rifai. Op. Cit., hlm.102

29

Ketentuan Pasal 8 menjelaskan bahwa:
1. Setiap orang yang disangka, ditangkap, ditahan, dituntut, atau dihadapkan di
depan pengadilan wajib dianggap tidak bersalah sebelum ada putusan
pengadilan yang menyatakan kesalahannya dan telah memperoleh kekuatan
hukum tetap.
2. Dalam

mempertimbangkan

berat

ringannya

pidana,

hakim

wajib

memperhatikan pula sifat yang baik dan jahat dari terdakwa.
Ada beberapa teori atau pendekatan yang dapat dipergunakan oleh hakim dalam
mempertimbangkan penjatuhan putusan dalam suatu perkara, yaitu:
1. Teori keseimbangan
Yang dimaksud dengan keseimbangan adalah keseimbangan antara syarat-syarat
yang ditentukan oleh undang-undang dan kepentingan pihak-pihak yang
tersangkut atau berkaitan dengan perkara, yaitu antara lain seperti adanya
keseimbangan yang berkaitan dengan masyarakat, kepentingan terdakwa dan
kepentingan korban.
2. Teori pendekatan seni dan intuisi
Penjatuhan putusan oleh hakim merupakan diskresi atau kewenangan dari hakim.
Sebagai diskresi, dalam penjatuhan putusan hakim menyesuaikan dengan keadaan
dan pidana yang wajar bagi setiap pelaku tindak pidana, hakim akan melihat
keadaan pihak terdakwa atau penuntut umum dalam perkara pidana. Pendekatan
seni dipergunakan oleh hakim dalam penjatuhan suatu putusan, lebih ditentukan
oleh intuisi dari pada pengetahuan dari hakim.

30

3. Teori pendekatan keilmuan
Titik tolak dari teori ini adalah pemikiran bahwa proses penjatuhan pidana harus
dilakukan secara sistematik dan penuh kehati-hatian khususnya dalam kaitannya
dengan putusan-putus

Dokumen yang terkait

ANALISIS YURIDIS PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA TERHADAP PELAKU TINDAK PIDANA PENYEBARAN PORNOGRAFI MELALUI SITUS JEJARING SOSIAL FACEBOOK

0 12 17

ANALISIS YURIDIS PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA TERHADAP PELAKU TINDAK PIDANA PENYEBARAN PORNOGRAFI MELALUI SITUS JEJARING SOSIAL FACEBOOK

0 10 17

PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA PELAKU DALAM TINDAK PIDANA KORUPSI (Studi Putusan Nomor: 31/Pid.B/TPK/2010/PN. JKT. PST.)

0 9 69

ANALISIS YURIDIS PENERAPAN SANKSI PIDANA TERHADAP PELAKU TINDAK PIDANA PERDAGANGAN ORANG BERDASARKAN HUKUM POSITIF INDONESIA

2 19 21

PENERAPAN SANKSI PIDANA BAGI PELAKU TINDAK PIDANA PENGANIAYAAN YANG DILAKUKAN OLEH ANAK BERDASARKAN UNDANG-UNDANG NOMOR 11 TAHUN 2012 TENTANG SISTEM PERADILAN PIDANA ANAK (Studi Putusan Nomor: 43/Pid.B.(A)/2012/PN.GS)

1 6 70

ANALISIS PENERAPAN SANKSI PIDANA TERHADAP PELAKU RESIDIVIS TINDAK PIDANA PENYEBARAN PORNOGRAFI (Studi Putusan Nomor: 604/PID.B/2014/PN.TJK)

1 10 58

ANALISIS PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA PELAKU TINDAK PIDANA PERBANKAN (Studi Putusan Nomor: 483/Pid.Sus./2013/PN.TK)

2 39 70

ANALISIS PERTANGGUNGJAWABAN PIDANA TERHADAP PELAKU TINDAK PIDANA KORUPSI DANA TILANG PENERIMAAN NEGARA BUKAN PAJAK (Studi Putusan Nomor: 32/Pid.TPK/2014/PN.TJK)

0 9 53

ANALISIS DASAR PERTIMBANGAN HAKIM DALAM PENJATUHAN PIDANA MINIMUM TERHADAP PELAKU TINDAK PIDANA PERDAGANGAN ORANG (Studi Putusan Nomor: 1218PID.SUS2016PN.TJK) (Jurnal)

0 1 13

ANALISIS PENERAPAN SANKSI PIDANA TERHADAP PELAKU RESIDIVIS TINDAK PIDANA PENYEBARAN PORNOGRAFI (Studi Putusan Nomor: 604/Pid.B/2014/PN.TJK)

0 0 11

Dokumen baru

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

69 1655 16

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

26 429 43

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

27 393 23

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

8 241 24

PENGARUH PENERAPAN MODEL DISKUSI TERHADAP KEMAMPUAN TES LISAN SISWA PADA MATA PELAJARAN ALQUR’AN HADIS DI MADRASAH TSANAWIYAH NEGERI TUNGGANGRI KALIDAWIR TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

19 351 23

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

28 502 14

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

22 444 50

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

9 284 17

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

13 453 30

KREATIVITAS GURU DALAM MENGGUNAKAN SUMBER BELAJAR UNTUK MENINGKATKAN KUALITAS PEMBELAJARAN PENDIDIKAN AGAMA ISLAM DI SMPN 2 NGANTRU TULUNGAGUNG Institutional Repository of IAIN Tulungagung

23 524 23